Anda di halaman 1dari 70

Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.

com

Hoa Hoa Pa 1
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

HOA HOA PA
[SI MATJAN TUTUL]

Oleh:
Kiang Hong Hoey & Kiang Hiap Hoen

Dituturkan oleh :
BOE BENG SAN DJIN

Djilid : 1

Gambar-gambar oleh :
Bong Tiong Hiap

Penerbit:
“BOE HIAP"
TASIKMALAJA.

Convert, edit & pdf : Goldy Senior

Pertj. “Soekapoera" Tasikmalaja.

Hoa Hoa Pa 2
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

KABAR PENERBIT

Pada nomor jang lalu, tjeritera “SAM TEK HO SIANG"


telah sampai pada achirnya, sunggupun kami merasa girang
sekali, bahwa tjerita jang baru dimuat tamat itu telah dapatkan
sambutan hangat dari para pembatjanja, maka untuk mana, tak
lupa kamipun mengutjap banjak terima kaslh.
Banjak pembatja menanjakan, apakah tjerita Sam Tek Ho
Siang itu masih ada sambungannja ataukah tidak? Maka
dengan ini kami djelaskan, bahwa tjerita tersebut memang
masih ada sambungannya, berupa tjerita “Ang Hie Koan Tay
Lo Go Bie San”.
Tjerita ini, sebenarnya akan kami muatkan sesudahnja
tjerita Sam Tek Hosiang berachir, akan retapi karena' belum
lengkapnja copy tjerita tersebut pada kami, maka terpaksa
kami muatkan tjerita selingan berupa tjerita “HOA HOA PA''.
Hendaknja para pembatja jang berkepentingan mendapat
maklum adanja.
Dan pula, karena tidak keburunja membuat Klise untuk
tjerita jang dimuat ini, maka terpaksa kami pergunakan pula
Klise darurat, harap para pembatja dapat maklum dan maafkan
adanja.

Penerbit.

Hoa Hoa Pa 3
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

HOA HOA PA
oleh:
Kiang Hong Hoey & Kiang Hiap Hoen
Dituturkan oleh :
BOE BENG SAN DJIN

DJILID KE 1
–––––––––––

DI BARAT LAUT distrik Peng-yang di propinsi Shoasay


adalah daerah pergunungan jang berbukit-bukit. Diantara salah
sebuah bukit itu, pada kaki bukit terdapat sebuah kampung
besar jang dinamakan Lim kee po.

Hoa Hoa Pa 4
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Penduduk kampung terdiri kira-kira dari 200 kekeluarga


lebih, tetapi hampir semua adalah orang she Lim.
Pada tjeritera ini, akan dituturkan pada djaman keradjaan
Tjeng almarhum, semasa Kaisar Kong Hie memerintah di
Tiongkok.
Pada waktu itu, keadaan dimana-mana aman dan damai.
rakjat menuntut penghidupannja dengan penuh kebabagiaan,
Diantara penduduk dari Lim kee po ini, boleh dikatakan 90
persen adalah orang jang menuntut kehidupan tani, sedangkan
jang keturunan orang terpeladjar, hampir boleh dikatakaa
seperti tanduk Kilin atau bulu burung Hong langkanja dan jang
mendjabat pengkat negeri lebih-lebih 1agi tidak terdapat
barang seorangpun;
Tetapi sebagaimana kata pepatah ; “Delam rombongan
ajam ada djuga seekor bango, diantara bintang-bintang ada
diuga sebuah bulan," maka diantara keluarga-keluarga ketjil
penduduk tani dikampung itu, ada pula sebuah keluarga jang
termasuk tingkatan atas", jang rumahnja adalah sebuah gedung
jang muntjul diaatara hutan kaju.
Setiap kali pintu besar pekarangan gedung dibuka, maka
tertampaklah banjak budak-budak jang keluar.
Keadaan disekitarnja enak dan nyaman. pemandangan
alampun indah, segala apa serba ketjukupan, hingga sukar
ditjari bandingannya ditempat lain.
Kepala keluarga itu dengan tak usah kita katakan lagi,
sudah tentu sadja djuga orang she Lim. Namanja adalah Soe
beng.
Memandang pada namanja, maka teranglah orang itu
sedikituja djuga keturunan orang berpangkat didjaman Beng.

Hoa Hoa Pa 5
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Lim soe beng itu adalah seorang terpeladjar, tetapi Ia tidak


suka buat menjusahkan diri buat beladjar terus sampai
ketingkat tinggi buat mendapat nama atau geleran kosong,
hanja berdiam didalam kampungnja jang hampir terpentjil dari
dunja luar, buat melewati hari tuanja dengan penah babagia.
Berkat dari peninggalan orang tuanja, maka ia mempunjai
beberepa ratus bau sawah jang diusahakannja dengan
memanggil beberapa puluh orang pepawai,
Penghasilan dari sawab sadja, sudah lebih dari tjukup buat
ia hidup dalam kesenangan.
lsterinya, Tjoe sie hampir bersamaan usianja dengan dia,
sudah 40 tahun lebih.
Mereka hanja memperoleh seorang putra. jang dinamakan
Yoe beng jang pada masa itu usianja sudah 18 tahun,
Pemuda itu beroman tjakap dan tingkah lakunja sopan
santun, apalagi dia adalah anak tunggal, maka sudah tentu
sadja disajangnja bukan main oleh kedua orang tuanja dan
mereke merasa berat buat menyuruh anaknja pergi ketempat
lain buat mejakinkan peladjaran jang lebih dalam, hanja
dibiarkan sadja beladjar didalam rumah dengan diundangkan
seorang tua kampung terpeladjar buat mengadjarnja.
Tetapi ternjata ketjerdikan Yoe beng hanja dapat dikatakan
dari tingkat pertengahan sadja, sebab dalam beladjarnja kendati
ia bisa, tetapi tidaklah begitu pandai, maka kendati ia sudah
dewasa tetapi masib termasuk tingkat Tongseng, djadi belum
sampai pada tingkat Sioetjaypun.
Itulah jang menjebabkan Lim soe beng kerap kali suka
djadi kesal, karena memikirkan peladja ran anaknja.

Hoa Hoa Pa 6
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tjoe sie adalah seorang jang pertjaja agama Buddha, dan


sudah banjak tahun dia tidak pernah memakan barang berdiiwa
lagi (tjiatjay), dan sore pagi tentu mesti membatja kitab sutji.
Oleh karena ia melihat anaknja kurang pintar, maka ia
selalu menjesalkan dirinya jang mendjadi orang tua, jang
waktu pendielmaannja jang dulu, tentu kurang berbuat
kebaikan terhadap umum, maka itu, setiap hari sebabis makan,
tentulah dia merundingkan hal itu dengan suaminja, dan saban-
saban selalu la menasehati suamiaja, supaja dia melakukan
banjak perkara kebaikan terbadap umum, untuk menghasilkan
keberuntungan bagi anak tjutju mereka dihari kemudian.
Soe beng djuga djadi tergerak hatinya. Maka semendjak
itu, ia tidak sajang menghamburkan harta kekajaannja buat
menolong kepada orang-orang jaag sedang kesusahau, dengan
tidak pernah berlaku pelit sedikit djuga, maka itulah ia
meadapat sebutan “orang baik" oleh orang.
Nama „Lim soe beng‟ dari Lim kee po sudah mendjadi
sangat termashjur sekali, sehingga didalam seluruh distrik
Pengyang, hampir tidak ada orang jang tidak mengetahuinya.
Orang-orang kampung Lim kee po lebih lagi menganggap
dia sebagai seorang orang jang paling pantas dihormati, maka
itulah segala perkara, baik ketjil maupun besar jang terdjadi
didalam kampung itu, semua lantas dapat diputuskan begitu
Lim soe beng mengeluarkan perkataan,
Pada musim rontok tahun itu, oleh karena hawa udara
kadang-kadang berubah tak berketentuan, maka dipropinsi
Shoasay berdjangkit penjakit menular. Terutama di daerah
distrik Pangyang, berdjangkitnja penjakit menular sangat
hebat, sehingga boleh dikatakan jang ketularan penjakit
diwaktu pagi lantas mati diwaktu sore.

Hoa Hoa Pa 7
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tidak berselang beberapa hari, perlahan-lahan penjakit


menular itu mendjalar kekampung Lim kee po, sehingga
petani-petani banyak jang paginja masih bekerdja disawah.
malamnya sudah pada djengker dan sehari jang mati sampai
beberapa gotongan.
Lim soe beng suami isteri ketika melihat bentjana itu
menimpa kampungnja, mereka sangat berdukatjita, maka tjepat
mereka memerintahkan pegawainja membeli obat keibu kota
distrik. dan dibagi-bagikannya, dengan tak usah membajar apa-
apa kepada seluruh penduduk kampung ditempat itu, hingga
penduduk kampung jang sudah sakit tetapi keburu memperoleh
pertolongan tak terbitung djumlahnya.
Pada permulaan musim rontok, hawa udara masih sangat
panas, dan setelah makan tengahari keadaan masih tetap bukan
main panasnja.

Lim soe beng sedangnja mengipas dikamar buku sambil


mengobrol dengan guru jang mengadjarkan anaknya ilmu
kesusteraan, mendadak seorang pegawainja jang bernama A
Houw dengan napas tersengal-sengal berlari lari masuk
kedalam sambil berkata, "Loya! Ada orang mati didepan
rumah kita!"
"Bitjara biar terang!" Soe beng membentak, “Mengapa
mesti begitu kesusu!"
A Houw berdiam sebentar buat menetapkan djalan
napasnja, baru kemudian ia membongkokkan tubuhnja dan
berkata lagi, "Loya, disebelah luar pintu besar kita menggletak
dua majat orang, jang satu seorang empe, jang satunya seorang
gadis. Oleh karena aku terlalu kaget, maka datang terburu-buru
buat melaporkan kepada Loya,''

Hoa Hoa Pa 8
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Soe beng dan sinshe analrnja djadi kaget, tjepat mereka


bersama-sama berdjalan keluar dari kamar buku itu.
Setelah mereka meliwati pekarangan, dan melalui pintu
pekarengan lapis dalam, dan berdjalan lagi dipekaraugan
depan, barulah mereka keluar ke pintu besar.
Temjata disitu memang benar tertampak dua orang
menggletak diatas tanah, jang ketika ditegasi, ternjata memang
benar jang seorang adalah seorang empe, sedangkan jang
seorang lagi adalah seoraeg anak gadis.
Tertindih dibawah pundak mereka masiog-masing terdapat
sebuah buntalan dari kain berkembang-kembang.
Soe beng tjepat berdongkok, terlebib dahulu ia rabah dada
si empe dan ternjata terasa jantungnja masih berkedutan
dengan perlahan dan ketika ditandelkan djeridji tangan didepan
lobang hidungnya, terasa pula napasnja jang perlahan lahan.
Lalu ia menaruh tangann'a didepan dada sigadis, dan terasa
olehnja, bahwa diapun seperti djuga siempe keadaannja,
Soe beng setelah memeriksa sebentar, timbulah peresaan
kasiannja terhadap kedua orang jang tak dikenal itu, maka
tjepat ia menjuruh pegawainja masuk kedalam buat
mengambilkan obat mustadjab.
Setelah obat jang diinginkan sudah dibawa datang, Soe
beng terlebih dahulu meniupkan obat bubuk melalui lobang-
lobang hidung kedua orang, kemudian dua butir pil
dihantiurkan dalam mangkuk air matang, ditjekokan kepada
kedua orang itu.
Setdah berselang kira-kira ada bebrapa waktu lamanja.
Tiba-tiba kedua orang tertampak berbangkis, dan kaki

Hoa Hoa Pa 9
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

tangannjapun perlahan lahan bergerak sedikit-sedikit dan


keringat panas keluar di muka mereka.
Soe Beng djadi merasa girang sekali, tjepat ia dan dua
orang pegawainya mengangkat kedua orang itu dengan
perlahan lahan.
Ternjata kini kedua orang sudah terdengar mengeluarkan
suara rintihan.
Kedua oreng itu kemudian dibawa masuk kedalam
ruangan depan, dan direbahkan diatas kursi malas.
Tjoe sie jang mengetahui hal itu segera mengambil minjak
gosok dan alat pengerik dari logam, terus mengerik sendiri
pundak dan leher kedua orang yang malang itu.
Serelah berselang bebrapa saat lamanja, kedua orang
itupun perlahan lahan balik kembali ingatannja, dan membuka
kedua matanja.
Mereka memandang pada orang banjak disekitar mereka,
dan segera mereka menundjukkan roman heran,
Mereka hendak berbangkit, tetapi sekudjur badannja
berasa lemas tak bertenaga sedikttpun, maka mereka
mengeluarkan suara jang tidak tegas dari mulutnja, seolah olah
hendak mengatakan omongan apa-apa.
Tetapi See beng tjepat mentjegahnja. seraja berkata:
“Diangan, diangan bitjara dahulu, istirahatkan sadja badan
kamu baik-baik, sampai keadaannja mendjadi sehat betul-
betul!''
Maka kedua orang itupun memedjamkan kembali matanja,
dan mengaso.
Soe beng lalu mengawasi kedua orang itu.

Hoa Hoa Pa 10
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Siempe ternjata berusta kira-kira 50 rahun, bermuka lebar,


mulut besar, beralis tebal dan dikedua pipinja tumbuh bewok
jang menurun kebawah, tampaknja ia garang sekali.
Sigadis berusia kira-kira 20 tahun, berkulit halus dan putih
bersih, alisnja kereng, dan beroman tjantik.
Seperti ajahnja, diapun berpakai pakaian biru kehidjau-
hidjauan dan mengendong sebuah bungkusan dari kain.
Pada waktu itu dari mukanya penuh keringat jang mengalir
turun dari kedua djidatnja, sehingga menjiarkan bebauan jang
berharum kembaug.
Dilihat dari dandanan mereka, teranglah mereka adalah
orang-orang jang biasa berpetualangan di kalangan Kang ouw,
tetapi entah bagaimana, mereka bisa datang ke Lim kee po dan
terserang penyakit berbahaja, sehingga roboh didepan pintu
rumahnja.
Sedang Lim soe beng berpikir pikir-pikir, isterinya Tjoe
sie, dengan membawa dua manguk bubur katjang hidjau telah
berdjalan menghampiri.
Dua orang budak perempuan terus dipanggil datang buat
menjuapi kedua orang itu bubur katjang hidjau.
Serelah mendapat makanan itu, kedua orang itu pun
mendjadi lebih bertenaga dan bersemangat.
Dengan tak dapat ditjegah lagi mereka terus turun kemuka
bumi. dan berlutut dihadapan Lim soe beng suami isteri sambil
kouwtouw tidak henti-hentinja.
Soe beng berdua tjepat mengangkat mereka bangun dan
meminta mereka rebahan kembali, sedangkan ia sendiri djuga

Hoa Hoa Pa 11
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

duduk diatas sebuah kursi, sedang Tioe sie berdjalan masuk


kedalam.
“Loheng rupanja orang dari lain tempat," kata Lim soe
beng, “Entah mengapa, maka engkau menderita sakit dan
roboh didepan rumahku?"
“Apakah tuan adalah Lim see beng dari Lim kee po?"
siempe berbalik menanja.
“Benar, itulah hengtee,'" sahut Soe beng.
“Aku she Poei hernama Tjie tong. berasal dari Thaygoan,
isteriku sudah lama meninggal dunja, dan hanja melahirkan
seorang putri ini, jang bernama Giok djie jang kini usianja
sudah 18 tahun." siempe menerangkan, “Kami ajah anak
berdua paham djuga ilmu silat sedikit, dan penghidupan kami
setiap hari tak lain daripada mengadakan pertundiukan silat
kemana-mana, dan tak mempunjai tempat kediaman jang
tertentu. Hari ini setelah kami melalui gunung, sebenarnja
kami bertudjuan kekota Pengyang, entah bagaimana, setelah
kami berdjalan tidak sampai dua lie djauhnja, tiba-tiba kepala
berasa pusing, mata berkunang kunang, dan kaki tangao kami
lemas. Aku djadi gugup sekali, kemudian aku ingat pada nama
tuan jang termeshjur, maka kami datang kesini dengan niatan
hendak meminta obat kepada tuan. Tidak dinjana, baru kami
berdjalan sampai disebelah luar pintu pekarangan gedung tuan,
dengan tak terasa lagi kami telah roboh diatas tanah. Rupanja
penjakit kami telah menghebat. Untung tuan telah berlaku
begitu murah hati, menolong kami ajah anak sampai bisa hidup
kembali. Maka budi pertolongan ini, sampai aku mati tak akan
kulupakan. Tuan ternjata orang baik sedjati, dan nama tuan
ternjata bukan nama kosong sadja. Terimalah pemberian
hormatku sekali lagi kepada tuan.''

Hoa Hoa Pa 12
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah berkata begitu, lantas dia pay lagi.


Lim soe beng tjepat mengangkat bangun Poei tjie tong .
“Poei heng, barap engkau djangan berbuat demikian," kata
ia, “Apakah tidak selajaknja kita sebagaimana sesama manusia
menolong pada orang jang sedang berada dalam bahaja? Kamu
ajah anak makanya bisa datang ketempatku ini, tentunja pada
zaman dahulunja kita memang sudah berdjodo. Kini penjakit
Poei heng berdua baru sadja sembuh, maka djangan sekali-kali
banyak bergerak ataupun bergelandangan lagi kesegala tempat.
Tinggal sadja dahulu dirumahku barang bebereps hari. nanti
setelah keseharan badanmu sudah kembali lagi, baru
mengambil keputusau terlebih djauh. Bagaimana pikiran Poei
heng?''
Poet tjie tong merasa bersukur sekali, maka tjepat ia
mengutjapkan terima kasih sambil mengatakan, “Menerima
budi kebaikan dari tuan jang begitu besar, bagaimana aku
dapat membalasnja?”
“Poei heng djangan berkata begitu!" kata Lim soe beng.
“Apakah Poei heng tidak ingat dengan pepatah: “Orang dari
empat pendjuru lautan, semua saudara sendiri? Aku pasti tidak
akan mendjadi kurang senang karena ketumpangan oleh kalian
berdua."
Setelah berkata begitu, ia terus menjuruh A Houw
menjediakan air mandi, kemudian ia undang mereka buat
masuk kekamar mandi buat mandi dan tukar pakaian.
Ketika mereka sudah selesai bersiram, Tjoe sie siang-siang
sudah menjediakan nasi dan sajur-majurnja diatas medja
ditengah ruangan.
Kedua orang terus diundang makan.

Hoa Hoa Pa 13
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tengah orang sedang makan, Tjoe sie diam-diam


memperhatikan Giok djie.
Ternyata rambut sigadis jang hitam dan bagus kini disisir
rapi, muka jang berbentuk bulat telur berkulit putih kemerah-
merahan, sepasang alisnja kereng, dan matanja jang djeli
seolah-olah mengandung tjahaja air jang djernih, hingga sangat
menarik hati.
Lagipula hidungnja bangir dan bibirnja bersemu merah,
sehingga menambahkan ketjantikannja sadja.
Pada waktu itu. dia sudah menukar pakaian dengan
pakaian terbuat dari sutra Gweepe, hingga kulit tubuhnja
tampak mendjadi semakin putih bersih, dengan pinggangnja
jang langsing.
Sepaseng kakinja jang tak diikat, memakai sepasang
sepatu sutra bersulam bunga.
Nyatalah patung mesti terbuat dari emas, baru mentereng,
sedangkan orang mesti berdandanan rapi barulah dapat
menarik hati orang.
Sigadis itu, sekedjap sadja telah bersalin rupa : Kalau tadi
waktu digotong masuk, dia sudah setengah mati, dan mukanja
penuh dengan debu dan pasir, tidak dinjana setelah bersiram
dan tukar pakaian, lantas seolah-olah kembang teratai segar
jang baru sadja muntjul kemuka air.
Tioe sie diam-diam djadi merasa girang didalam hatinja.
Phoei tjie tong dan Giok diie setelah selesai bersantap,
tiba-tiba Grok djie mengeluarkan seruan
“Thia-thia! Alat-alat keperluan kita mentjari sesuap nasi
mungkin telah hilang!" kata gadis itu.

Hoa Hoa Pa 14
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Omongan itu menjedarkan pikiran Phoet tjie tong.


sehingga iapun mendjadi terkedjut djuga.
“Oh, ija!" katanja, “Buntalan golokku entah djatuh
dimana??''
Kemudian ia menoleh pada Lim soe beng dan bertanja,
“Menumpang tanja pada tuan Lim, waktu menggotong kami
masuk kedalam, apakah kamu melihat sebuah buntalan golok
jang terbuat daripada kain biru?"
Lim soei beng menggelengkan kepalanja,
"Waktu pegawaiku, A Houw masuk melaporkan, dan aku
keluar buat menlong kamu, aku hanja melihat kamu masing-
masing menggemblok sebueh buntalan kain jang berkembang,
tetapi aku tidak melihat buatalan golok. Mungkin buntalan itu
terdjatuh ditengah djalan," demikian sahutnja •
“Tetapi tidak apa! Apabila djatuhnja didaerah kampung
ini, pasti tidak ada orang jang mengambilnja! Dengan
sedjudjumia kukatakan kepada Poei heng. bahwa kami orang
she Lim, semua sangat mengerri peraruran, dan taro kata ada
jang memungut golok itupun, tentu mereka nanti datang
melaporkan kepada aku, supaja aku bisa mendajakan buat
mentjari pemiliknja jang kehilangan. Tjobalah Poei heng pikir-
pikir dimana kira-kiranja buntalan golokmu itu djatuh?"
Poei tjie tong berpikir sebentar, kemudian ia merasa bahwa
buntalan golok itu memang mungkin djatuh didalam kampung
Lim kee po, maka hatinjapun djadi merasa lega.
Tjepat ia meajodja sambil berkata ; “Tuan Ling aku ingat
waktu aku sedang menuruni gunung, buntalan golok itu masih
ku pegang kentjang dan setelah masuk kedalam kampung ini,
barulah penjakitku perlahan-lahan mendjadi berat, maka

Hoa Hoa Pa 15
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

buntalan pedang itu, tentulah djatuh pada saat itu. Biarlah nanti
aku pergi mentjarinja."
Setelah berkata begitu, dia terus menjatakan makaudnja
buat pergi mentjari buntalan goloknja.
Sae beng tjepat menjuruh A Houw pergi menemaninja
supaja Phoi tjie tong djangan sampai kesasar djalan.
Poet tjie tong dengan mengutjapkan terima kasih lalu
berdialan pergi bersama sama A Houw.
Tjoe sie tampaknja menjukai Giok djie, maka setelah maka
setelah melihat Si empe she Poei sudah pergi, iapun terus
mununtun tangan Giok djie, diadjak masuk kekamar dalam dan
disitu ia menanjakan pandjang pendek perihal riwajat si gadis.
Soe beng djuga bersama sama sinshe anaknja berdjalan
lagi kedalam kamar buku.
Setelah mereka berduduk dengan menghela napas See
beng berkata; “Sianseng, tjobalah kau lihat, betapa lihaynja
penyakit menular jang berdjangkit dimasa ini! sampaipun
orang perdjalanan bisa roboh dua-duanja, untung ajah anak
berdua tadi robohnja didepan rumahku, sehingga dia lantas
bisa ditolong sehingga mendjadi sembuh kembaliu, tjoba djika
ditegalan, bukankah kedua duanja sudah tewas?" •
Tong ong [thaukee] suami istri benar-benar orang jang
sangat bermurah hati dan sukar ditjri bandingannja dimana
mana! tjoba djika bukan Toog ong, siapa lagi jang mau
menolong orang jang sedang kesusahan? kata pepatah kuno: ..
Menolong djiwa seorang manusia, lebih besar artinja dari pada
berbuat kebaikan sampai tudjuh turunan. Maka djika melihat
dari arti kata pepatah itu dan djiwa orang-orang jang sudah
ditolong Tong ong, entah sudah berapa besarnja Tong ong

Hoa Hoa Pa 16
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

membuat kebadjikan terhadap sesama manusia!” kata sinshe


itu.
“Hanja heng tee hendak bertanja kepada Tong ong, bahwa
kedua orang itu setelah Tong ong tolong dan suruh tinggal
dtsini, memang akupun mengetahui makaud Tong ong jang
baik, tetapi sobat-sobat dari kalangan Kang ouw tenrulah Toog
ong djuga dapat memaklumi sendiri, bahwa mereka biasa
hidup setjara kasar dan bergelandangen kian kemari, maka
mana dia mau menuntut penghidupan baik ditempat ini? Entah
bagaimana pendapat Tong ong?"
“Tuan!" kata Soe heng, “Engkau djangan memendang
rendah sobatsobat dari kalangan Kang ouw! Mereka umumuja
adalah pendekar-pendekar atau sedikit-dikitnja biarpun
mendjadi peudjahat, tetapi adalah sebagai pendjabat jang
budiman! Harap Sianseng djangan salah mengertikannja! Heng
tee kendati orang dari kalangan Boen, tetapi sangat suka
bersobat dengan kawan-kawan dari kalangan Bu. Karena
sobat-sobat dari golongan itu, apabila kita sedang mengalami
kesusahan, biarpun mesti menempuh bahaja besar, tentu
mereka tidak akan mundur buat menoloug kita! Si empe itu
biarpun katanya hanja mengerti sedikit sadja ilmu silat, tetapi
siapakah jang bisa mengetahui kepandaian sesungguhnja?
Apabila ternjata ilmu silatnja bagus, diustru aku ingin
mengangkat mereka ajah-anak mendjadi kauwthauw buat
mengadjar pemuda-pemuda kampung kita disibi, supaja semua
pandai silat dan tak mudah dhinakan orang lain!"
“M.emang makaud Tong ong dapat kuselami artinja!'' kata
sang sinshe sambil bersenjum, “Dan siauwtee sangat
mengagumi. Akan tetapi siauwtee hendak mengutjapkan
beberapa kata-kata jang kurang baik, harap Tong ong suka
memikirkan baik-baik!"

Hoa Hoa Pa 17
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Aatara aku dan engkau toch hampir tidak berbeda seperti


orang sendiri, maka kata-kata jang baik ataupun tidak baik
apakah halangannja kau katakan dengan segera?" kata Soen
beng.
“Bukannya Sianwtee banjak mulut atau hendak
menghapuskan kegembiraan Tong ong buat menolong orang !"
kata sinshe itu. “Aku lihat empe she Poei itu, memang betul
selikit djuga tidak: menundjukkan sifat-sidat seperti orang
djahat, hanyalah puterinja itu, setelah habis mandi dan
menukar segera berubah mendjadi sangat tjantik dan
menggerakkan hati orang! Djika tjantik sadja masih tidak
mengapa, tetapi menurut pendapatku, ada djuga sifat-sifat
genit! Tjoba Tong ong pikir sadja, seorang gadis tjantik hendak
disurub mendjadi tukang mengadjar silat. Apakah nanti tidak
akan terdjadi keributan apaapa? Maka itulah jang kata
Siauwtee kurang baik."
Soe beng djadi tertawa.
“Biarpun nona muda itu terlalu tjanttk, asal dia berlaku
pantas dan sopan, mana bisa terdjadi keonaran?'' kata Soe-
beng, apalagi dia ada di bawah pengawasan ajahnja! Masakah
mereka ajah-anak jang sudah biasa bergelandang di kalangan
Kang ouw, tidak mempunjai pengalaman luas? Masakah
puterinja bisa djadi salah mata dan bisa menudju kepada
beberapa pemuda kampung di kampung kita ini? Waah
sianseng, kekuatiranmu itu benar-benar tek beralasan sama
sekali!”
“Omongan Tong ong memang betul djuga, tetapi segala
perkara apabila pada waktu permulaaunja orang tidak berhati-
hati, tentulah di hari kemudiannja orang bakal menjesal

Hoa Hoa Pa 18
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

sendir!," kata lagi sang sinshe, “Siauwtee jang sudah


bersekolah lamanja sepuluh tahun, sudah tjukup rnengerti
djuga hal ilmu melihat keadaan sesuatu orang. Gadis itu
kendati sangat tjantik! Stauwtee hendak mengatakannja, tetapi
takut nanti djadi kurang baik untuk semua fihak, apalagi orang
adalah masih gadis jang belum pernah kawin, maka bagaimana
Siauwtee dapat mengatakannja?"
“Omongao itu akan keluar dari mulut sianseng dan masuk
kedalam telingaku! Asal tidak kita bitjarakan kepada orang
ketiga, pasti tidak akan mendjadi apa-apa!" kata Lim soe beng
jang hatinja djadi merasa penasaran dan heran, "Siaoheng,
tjobalah kaukatakan, bagian mana jang kurang baik baginja?
kau katakan sadia!"
“Tong ong, kita adalah orang jang mengutamakan
kebadjikan, maka setelah Stauweee menerangkan, harap Tong
ong djangan megatakan lagi kepada orang lain! Sebab gadis itu
nanti akan dikawinkan!''
Dengan rupa kurang sabar Lim-soe-beng berkata:
“Sianseng, bukankah sudah kukatakan supaja engkau djangan
ragu-ragu lagi?”
“Begini,” kata sinshe itu, “Tong ong! bukankah pada muka
orang jang paling penting adalah sepasang mata? Dalam buku
ilmu penangan telah diterangkan. bahwa apabila kita hendak
mengetahui tabiat seseorang, kita mesti melihat terlebih dulu
sepasang matanya? Orang jang sombong atau angkuh. matanja
biasanja memandang keatas. sedangkan orang jang rendah hati
matanja selalu memandang kebawah, sedangkan jang hatinja
tak lurus matanja bukan sadja memandang kebawah sadja,
bahkan selalu menjamping kekiri kanan –melirik-lirik–
Adapun seorang koeotjoe adalah orang jang pandangan
matanja lurus kedepan. Tetapi orang jang tjabul bukan sadja

Hoa Hoa Pa 19
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

matanja djika hendak melihat apa-apa selalu bermiring miring


kesamping, malah seolah-olah meagandung djuga sematjam
bajangan jang seperti air, jang dapat mengedja orang jang
terlihat olehnya, djadi timbul pikiran jang bukanbukan. Itulah
jang dinamakan Tho hoa gan. Dan orang jang mempunjai mata
Tho hoa gan itu, tidak perduli orang laki-laki maupun orang
perempuan, semua sangat tjabul, Orang laki-laki jang
memounjai mata itu, tentu biar memandjat ketembok rumah
orang djuga dilakoni diuga asal bisa memperoleh orang
perempuan; sedangkan jang perempuan bila mempunjai mata
tersebut pasti gilanja bukan main, dan setiap orang laki-laki
diterimanja buat mendjadi suaminja!
Ada pun tjatjat jang paling besar dari orang she Poei itu,
adalah sepesang matanja itu adalah sepasang mata Tho-hoa-
gan, maka sangat kukuatirkan dia nanti seolah-olah madu
digerumuti semut atau bunga mekar digerumuti tawon atau
kupu-kupu, bakal menimbulkan keonaran besar jang tak babis-
habisnja! Bukankah Tong ong mengetahui sendiri bahwa
semendjak dahulu kala, orang perempuanlah jang biasanja
mendjadi gara-gara dari sesuatu bentjana! Harap Toog ong
djangan berlaku gegabah!"
Soe beng berpikir-pikir sebentar kemudian ia lantas
mengarti.
Diam-diam ia djadi ingat betapa tjantiknya si gadis itu
setelah dia bersiram dan menukar pakaian dan sebenarnja Ia
(Sae beng) sendiri bukan sekali-kali orang jang gemar dengan
paras eilok, tetapi entah bagaimana ketik a ia kena dilirik oleh
kedua mata si gadis, tiba-tiba hatinja djadi bergontjang
beberapa kali!
Pada waktu itu, ia kira itu hanjalah perkara kebetulan
sadja, tetapi sekarang setelah diterangkan oleh sinshe itu,

Hoa Hoa Pa 20
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

barulah ia mengetahui bahwa itu karena pengaruh sepasang


mata jang dinamai „Tho hoa gan‟.
Ia merasa heran sekali, mengapa mata itu bisa mempuajai
daja penarik jang begitu kuat? tjoba apabila pemuda-pemuda
jang biasa gila perempuan jang kena dilirik begitu, bukankah
bisa menimbulkan djuga hal-hal jang tak patut?
Maka ia pikir-pikir, lantas ia beranggapan omongan sinshe
itu memaag tjukup beralasan.
Segera ia menjodja dan berkata : "Omoagan sianseng
sesungguhnja sangat berbarga dan sekarang heng-tee sudah
dapat mengertikannja. Biarlah nanti heng-tee tunggu dulu
sampai kesehatan mereka sudah balik kembali sebagaimana
asalnja, baru akan meajuruh mereka pergi."
“Tong ong hendak berbuat perkara kebaikan, bukanlah
siauwtee sengadja hendak menggagalkannja, tetapi
sesunggunjalah perempuan itu sangat menguatirkan, maka
dalam hal ini boleh Tong ong pikir lebih djauh sampai matang
betul!" kata sang sinsbe.
Soe beng menjatakan baik, kemudian sinsbe itupun terus
mengadjar Yoe beng dan Sae beng sendiripun berdjalan keluar
dan pergi kedalam kamar tamu.
––––––––
Ternjata Poei tjie tong sudah dapat mentjari buntalan
goloknja jang ditemukaonya diatas sebuah kuburan tua
didalam kampung itu.
Tjoe sie jang sangat menjukai Giok djie, maka ia
mengadjak si gadis bersantap malam didalam kamarnja

Hoa Hoa Pa 21
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah makan malam, Soe beng menjuruh A Houw


membersihkan kamar tamu dan menjediakan dua pembaringan
dan Poei tjie tong ajah dan putri terus disilahkannja tidur.
Soe beng sendlri masuk kekamar dalam.
Oleh karena omougan-omongan sang sinhe tadi, maka Soe
beng semasuknja kedalam kamar iapun tinggal diam sadja,
tidak berkata apa-apa.
Tidak kira, Tjoe sie tampaknja sangat gembira. Ketika
melihat suaminja masuk kedalam kamar. Ia tidak berhentinja
tertawa berseri-seri, kemudian sambil bersenjum, ia berkata
kepada sang suami:
“Hari ini kita melakukan perkara kebaikan, apabila aku
pikir-pikir, sesungguhnya bagiku sangat girang sekali, Tetapi,
loya mengapakah engkau berdiam sadia, seolah olah hatimu
sedang menghadapi keruwetan apa-apa?"
Soe beng menghela napas.
Nay-nayku, engkau ten tu tidak mengetabui bahwa ketika
aku mendengar mereka ajah anak pandai Boegee, kegirangan
hatiku mendjadi lebih besar," katanja, “Dan makaudku ialah
hendak memberi mereka tinggal menetap disini, supaja
pemuda-pemuda seluruh kampung bisa beladjar silat kepada
mereka, Hanja jang perempuan itu jang mengedja aku djadi
suka sekali mengurusnja, hingga hatiku djadi djengket"
“Masa kareaa adanja seorang perempuan sadja engkau
djadi kebinguagan? Katanja.
"Begini,” kata lagi Soe beng, “Oleh karena perempuan itu
terlalu tjantik, maka aku takut dia ekan menerbitkan keonaran
dihari kemudian.

Hoa Hoa Pa 22
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Aih, mengapa engkau berkara begitu?” kata Tjoe sie


dengan rupa kurang senang. “Djustru jang menjebabkaa aku
hari ini saagat gembira adalah karena gadis itu jang bukan
sadja parasnja begitu tjantik, tetapi djuga pandai boegee,
pandai menjenangkan hatiku, apalagi dia masih anak dara,
hingga apabila kupikir-pikir, dia tidak berbeda seperti djuga
dikirim oleh Tuhan buat mendjadi mantu kita? Djadi menurut
katamu itu orang jang berparas tjantik itu tidak baik? Habis
apakah nanti engkau hendak menikahkan anak kita dengan
seorang nona mantu jang djelek?'"
“Bukannja begitu." kata Soe beng sambil tjepat tertawa,
“Hanjalah karena Lie hakkioe mengatakan bahwa Giok djie itu
kendati berparas sangat tjantik, hanja sajang mempunjai mata
Tho-hoa-gan, maka dia kuatir gadis itu bukan perempuan jang
bidjaksana. Maka itulah jang menjebabkan aku djadi
djengkel."
Itulah tentu obrolan kosong Lie sianseng!" keta Tjoe sie
sambil tertawa. “Orang terpeladjar ketika melihat orang lain
berbuat perkara kebaikan, sepantasnja memberi andjuran jang
baik, bagaimana sebaliknja dia merusakkan nama baik gadis
orang? Perempuan tjantik dikolong langit, siapa jang tidak
bagus pada matanja? Apakah jang disebut mata Thoa hoa gan
itu? Apakah Tho hoa gan bisa sebagus mata gadis itu?
Sungguh Lie sianseng bitjara terlalu sembarangan! suugguh
berdosa dia! Lie sianseng toch orang terpeladiar, mengapa dia
begitu mudab mengiri? Setelah ia sudah ada pencaharian
tertentu, sebenarnja tidak seharusnja dia mengiri kepada orang
lain jang akan diberikan pekerdjaan! Orang lain toch orang
jang sedang berada dalam kesusahan, maka bukannja dia
membantu menolong orang, sebaliknja diluar tahu orang,
membusuk-busukkan nama orang! O mi to hud! Lie sianseng,

Hoa Hoa Pa 23
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

apabila tidak buru-buru mengubah kelakuannja dan buru-buru


mengumpulkan kebaikan, nanti apabila dia meninggal dunja,
aku kuatir dia nanti masuk kedalam neraka! O mi to hoed!
Lam hoe, O mi to hoed…..!”
Tjoe sie berturut- turut beberapa kali menjebut-njebut O-
mi-to-hoed.
Soe Beng mengetahui tabiat aneh dari isterinja, maka
setelah meudengar omongan itu iapun merasa tjukup beralasan,
maka hatinya jang tadinja sudah dingin, kini kembali mendjadi
hangat.
Sesudah Tjoe sie selesai menjebut Hoed, dengan tertawa,
Soe beng berkata: “Omongan Naynay memang betul sekali!
Aku sendiri djuga tidak mengerti, sebenarnja apa jang disebut
Tho-hoa gan itu?! Taro kata gadis itu betul-betul mempunjai
mata Tho hoa gan djuga, asal dia memang keturunan orang
baik-baik, dan kita djaga sebaik-baiknja, tentu tidak bakal
terdjadi keonaran apa-apa! Nay-nay! hatiku sekaraug sudah
tetap, dan pasti aku akan menahan mereka tinggal menetap
disini, buat terlebih dahulu menjuruh mereka mengadiar silat
dulu kepada pemuda-pemuda kampung kita, sambil dengan
perlahan-lahan, kits selidiki bagaimana kelakuan gadis itu.
nanti baru kita bitjarakan soal perkawinan! Nay-nay, tjobalah
kau pikirkan, apakah pikiranku inii baik atau tidak?”
“Loya, itulah memang djalan jang paling baik!” kata Tjoe
sie dengan girang. “Itulah djalan jang dikatakan orang
„menolong orang sampai diachirnja‟! Kita mesti mengambil
keputusan sendiri, djangan mendengarkan omongan tak karuan
dari orang lain!”
Pembitjaraanpun diputuska sampai disitu.

Hoa Hoa Pa 24
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Pada hari kedua, Lim soe beng lalu menuturkan


makaudnja kepada Poei tjie tong ajah-anak.
Poei tjie tong dan Giok djie karena mengetahui hidup
bergelandangan dikalangaan Kang-ouw tidak sebaik hidup
dengan mempunjai tempat tinggal menetap, apalagi dengen
meluluskan undangan Lim soe beng buat mengadiar silat pada
pemuda-pemuda kampung itu, berarti membalas djuga sedikit
budi kebaikan orang jang begitu besar, maka sudah tentu sadja
mereka haras meluluskan.
Soe beng djadi girang bukan main, dan ia menjilakan
mereka memelibara badan sampai beberapa hari lagi.
Kemudian Lim soe beng memilih suatu hari baik, dan
mengumpulkan orang-orang seluruh kampungnja baik jang tua
maupun jang muda buat mengadakan rapat didalam ruangan
besar kelenting lelubur bersama mereka.
Setelah mereka beramai-ramai berlutut dan dan pay
didepan medja abu leluhur mereka, barulah jang berusia tua-
tua berduduk, sedangkan jang tingkatan muda pada berdiri
disebejah belakang.
Soe beng segera membuka rapat, dan memulai berkata:
“Sekalian paman, saudara-saudara dan kemenakan-
kemenakan! Kita dari kaum keluarga Lim, karena berkah dari
leluhur kita, maka dapatlah kita hidup bersama-sama dengan
penuh kebahagiaan dikampung ini, sampai sudah berlangsung
100 tahun lebib, dengan beranak tjutju makmur! T'etapi kata
pribahasa kuno : “Setelah mendapat kesenangan, pikirkanlah
bahaja dihari kemudian", maka itulah jang sekarang hendak
dirundingkan.

Hoa Hoa Pa 25
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Adapun keadaan pada waktu sekarang, kendati aman,


tetapi di daerah Shoasay kita ini memang banjiak penjamun-
penjamun jang tak bertanggung djawab, dan segala
perampokan, seringkali terdengar. Djusrru kampung kita ini
letaknja dibawah bukit, maka siapa jang bakal mengetahui,
pada suatu wakru tidak bakal ada pendjahat jang akan
mengganggu ketenteraman kampung kita jang sudah berdjalan
lama ini? Jang sangat kukuatirkan adalah apabtla terdjadt apa-
apa jang diluar dugaan kita, maka pemuda-pemuda karnpung
kita jang boleh dikata seluruhnja tak pandai Boegee mana bisa
mengbadapi bahaja itu! Sedangken aku hendak mengundang
beberapa guru silat, djustru selalu tidak ada kesempatan. Tidak
kira, Tuhan ternyata menuruti kemauan orang, maka beberapa
hari jang lalu didepan rumahku aku telah menolong seorang
Enghiong tua dan seorang gadisnja! Jang sangat
menggirangkan hatiku adalah mereka kedua-duanja pandai
Boegee. maka aku sekarang menahan mereka tinggal disini,
dan mengundaug mereka supaja mendjadi guru silat pemuda-
pemuda seluruh kampung kita. Mereka memandang pada
mukaaku. maka sudah lantas meluluskan. Kini aku
mengundang Tjiongwie mengadakan rapat dsini, makaudku
tidak lain adalah hendak mendapat persetudjuan Tjiongwie,
sambil sekalian hendak menetapkan suatu hari baik, buat
memulai beladjar ilmu silat itu. Bagaimana pikiran
Tjiongwie?"
Para hadirio semua segara mendjadi girang. Orang jang
tertua dari kampung mereka, jang bernama Lim siong swat
segera bangkit dari tempat duduknja dan berkata:
“Soe Beng tee jang begitu djiatsim dan dalam segala hal
selalu berusaha buat kebaikan kaum kita, maka usulnja pantas
kita sokong! Anak-anak sekalian setiap hari sesudah lewat

Hoa Hoa Pa 26
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

waktu bekerdja memang pantas melakukan gerak badan!


Apalagi ilmu silat, selain buat mendjaga diri, djuga untuk
mendjaga kampung kita djuga, maka itulah perkara penting!
Sekarang hal ini boleh Soe Beng tee pimpin sendiri, dan segala
biaja ditanggung oleh penghasilan dari milik kelenting leluhur
kita!”
Orang banjak segera bertepuk tangan dengan riuhnja.
––––––––

II

PEMUDA-PEMUD kampung Lim-kee po itu jang


penghidupannja biasa bekerdja keras, sudah tentu sadja
tubuhnja sebat-sehat dan kuat-kuat.
Waktu senggang mereka seringkali berkumpul dipelataran
kelenting lelubur mereka buat main pukulan,
Sudah tentu sadja permainan itu tak dapat di masukkan
kedalam bagian ilmu silat jang matjam bagaimanapun, haaja
rada mirip dengan permainan anak wajaag dipanggung
sandtwara.
Beberapa antaranja jang lebih tjerdik memang sangat
mengharap-harap bisa beladjar silat barang beberapa tahun
lamanja, tetapi karena didesa pegunungngan itu tidak ada
orang jang mengepalai buat mengemukakan keinginan mereka,
sedangkan guru silat ditempat tempat jang berdekatan tidak
ada, maka bagaimana mereka bisa beladjar?

Hoa Hoa Pa 27
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Hari ini mereka dipanggil oleh Lim soe beng buat berapat
dikelenting leluhur mereka, sekali-kali mereka tidak menduga
bahwa makaud Lim soe beng adalah hendak menjuruh mereka
beladiar silat, dan sudah mengundang dua orang guru silat,
hingga tidak berbeda seolah-olah dari langit tiba-tiba djatuh
benda wasiat jang sangat berharga kedepan mereka,
kegirangan mereka bukan main besarnja.
Apalagi setelah Lim soe beng mengeluarlran
pengumuman, Lim siong swat sudah mendalui menjatakan
setudju, dan biajanja djuga sudah ditetapkan, maka sudah tentu
sadja mereka djadi bertambah
Lim soe beng ketika melihat keadaan mendjadi gaduh.
tjepat ia memberi tanda dengan tangannya, supaja mereka
diam kembali, kemudian ia berkata lagi : "Tjiongwie Hiantit!
Kamu djangan begitu bergirang! Harus kamu ingat baik-baik
bahwa orang beladjar silat harus mempunjai keuletan jang
besar! Djaagan ada kepala tak ada buntut! Djangan pula
beladjar kepalang tanggung! Kerena hasilnja tentu tak bakal
berguna apa-apa! Dan djangan lupa, pertama-tama. Tjiongwie
beladjar silat harus mendengarkan apa jang guru adjarkan dan
berlatih dengan sungguh-sungguh! Dengan demikian, barulah
tidak menjia-njiakan pengbarapan kami!”
Kemudian sesudah Lim soe beng berunding lagi dengan
orang tua-tua lain, barulah mereka pada bubaran.
Sebaliknja kerumah, Lim soe beng lalu mengundang Poei
tjie tong datang kekamar tamu.
Setelah mereka berduduk Lim soe beng terus berkata:
“Poei heng! Kionghie! paras mukamu sekarang tampaknja
sudah mendjadi lebih segar dan kesehetan badanmu sekaraag
sudah mendjadi bertambah baik!"

Hoa Hoa Pa 28
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Poei tjie tong tjepat mendjura.


“Lohoe jang boleh dikata sudah mati tetapi dihidupkan
kembali oleh sianseng, maka biar lohoe ajah anak mendjelma
mendjadi kerbau atau kuda pun sukar membalas budi kebaikan
sianseng!” katanja,
“Harap Poei heng djangan berlaku seedji!” kata Lim soe
beng, “Kendati heng tee orang dari kalangan Boen. tetapi
sangat suka mengangkat persaudaran dan bergaul dengan
kawan-kawan dari kalangan Kang ouw jang hampir semua
adalah orang-orang berhati lurus dan sangat mengenal Giekhi!
Heng tee kini bisa berkenalan dengan Poei beng, itulah
merupakan satu keberuntungan besar bagiku! Poei beng!
Urusan jang kita bitjarakan pada beberapa hari jarig telah lalu,
setelah mendapat persetudjuan Poei beng, sesungguhnja hati
hengtee sangat girang sekali! Barusan hengtee mengadakan
rapat merundingkan urusan itu dengan sekalian lotiang dan
kemenakan-kemenakan dikampung ini, dan temjata mereka
semua saagat bergirang hati dan tak seorang pun jang tak
setudju! Kini hengtee sudah berunding selesai dengan tong
heng Lim siong swat dan lain-lain, dan sudah mendapat
ketetapan buat mempergunakau pelataran kelenteng leluhur
sebagai tempat mengadjar silat dan berlatih.
Didalam kelenring leluhur itu terdapat tidak sedikit kamar-
kamar bersih, dan hengtee sudah mengirirn orang buat
menjediakan segela keperluan didua kamar buat tempat tinggal
kamu ajah anak, dan akan mengirim lagi seoraag nenek buat
meladeni keperluan gadismu, dau seorang budak laki-laki buat
kau suruh-suruh dan mendjadi tukang masak den sebagainja.
Gadji setiap bulan tentu akan kukirimkan kepada Phoei heng.
Harap Phoei beng suka mengadjar mereka dengan

Hoa Hoa Pa 29
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

sesungguhnya hati, supaja hengtee djuga mendapat nama


baik."
Mendengar omongan itu, Phoei tjie tong segera djadi
bersemangat. Dengan melembungkan dada buru-buru ia
menjodja sambil berkata: “Lim sianseng engkau benar-benar
orang satu-satunja jang dapat mengenal diriku! Menerima
budimu jang sangat besar itu, dan penghargaanmu buat
mengangkat Lohoe pada pekerdjaan itu. maka sudah pasti
Lohoe nanti akan mengadjar dengan segenap tenaga dan tidak
akan membikin kapiran kesusahau hati Sianseng! Tetapi
kapankah pekerdjaan itu kami mulai? Supaja kami ajah anak
bisa lantas pindah ke kelenting leluhur tuan buat tinggal
disana, agar tidak mengganggu sadja ditempat tinggal tuan
disini, jang mengedja hati Lohoe selalu berasa kurang enak."
"Hari ini tanggal 13, lusa adalah pertengahan bulan, maka
aku pilih lusa pagi sadja! Dan nanti selewatnja djam tiga lohor
pada hari itu diuga, jaitu pada saatnja para murid selesai
bertjotjok tanam disawah ladangnya, boleh Poei heng memulai
mengadjar," kata Soe beng.
Poei tjie toog tjepat menganggukkan kepalanja dan
berkata: “Baik !"
Lim soe beng djadi girang, tjepat ia mengirim beberapa
pegawainja, buat menjampaikan berita itu kepada setiap rumah
seluruh kampung itu.
“Lim sianseng benar-benar seolah-olah ajah-bunda kita
sendiri…..” kata Poe tjie tong sekembalinja kedalam kamarnja,
berkata kepada anaknja.
Lalu ia menuturkan apa jang barusen ia dengar dari
penuturan Lim soe beng seraja menambahkan, "Tempat jang
begini baik, biarpun kita bergelandangen kesekellling djagat.

Hoa Hoa Pa 30
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

tidak nanti kita bakal dapat menemukannja lagi! terapi kita


mesti mengadjar dengan bersemangat, supaja djangan menjia-
njiakan kebaikan Lim Sianseng.
“Beberapa hari jang lalu, ketika aku mendengar Lim
Sianseng mengatakan hal itu, aku kira dia hanja bitjara iseng-
iseng sadia." kata Giok djie dengan rupa girang. “Tidak kira,
ternjata kita benar-benar hendak didjadikannja guru silat! Thia-
thia! kita hidup bergelandangan sadja dikalangan Kang-ouw
memang tidak ada karuan djuntrungannja, maka sengat baik
sekali kita disini menerima beberapa orang murid dan
mengadjarkan mereka kepandaian silat jang kita miliki, supaja
bisa tersiar keluar dan kita djuga djadi memperoleh nama
baik.”
“Aja!" tiba-tiba Giok djie mengeluarkan seruan kaget.
"Setelah menderita sakit ini, sudah lama aku tidak melatih diri
lagi dalam ilmu silatku, maka aku takut nanti, Boegeeku lama
kelamaan mendjadi hilang. Thia thia, esok pagi-pagi sekali
baik kita bangun dan thia thia menernani aku. berlatih, supaja
nanti diwaktu mendjadi guru tidak menerbitkan buah tertawaan
orang!''
“Omonganmu memang benar sekali, esok pagi-pagi
bangun buat berlatih barang beberapa djurus buat melemaskan
urat-urat,” sahut sang ajah.
Pada hari esoknja begitu ajam djago berkokok
menandakan bahwa sang waktu sudah dekat siang Poei tjie
tong segera berlompat rurun dari atas pembaringannja dan
berpakai pakaian.
Ketlka ia melongok kepembaringaa putrinya, ternjata sang
putri masih sedang njenyaknya tidur. Maka, tjepat ia
menggoyaagkan pundak sang anak dan, berkata ; “Hai. Giok

Hoa Hoa Pa 31
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

djie, lekas bangun! hari sudah hampir terang! mari kita


jakinkan ilmu silat kita!"
Giok djie mengutjak-ngutjak matanya jang masih sepet,
sambil buru-buru turun dari pembaringaanja.
Poei tjie tong berdjalan keluar terlebib dulu menaotikan
anaknja diluar dan Giok djie setelah berpakai pakaian, dan
tukar sepatu, segera iapun berlompat keluar kamar.
Ketika ia melongok, ternjata sang ajah sudah ada ditengah
pelataran, dan sedang asik bersilat dengan tangan kosong,
sehingga menerbitkan suara angin jang menduru-deru.
Dengan suara njaring Giok djie berseru: “Ajah! Engkau
djangan terlalu bangga! Anak djuga datang!”
Sambil separoh berlari separoh berlontjat, seolah-olah
kupu-kupu ia sudah memburu ketengab pelataran sambil
mengajunkan sepasang kepalannja memusul kedjurusan
ajahnja.
“Bagus!" teriak Poei tjie tong melihat sepasang kepalan
anaknja menjambar kedjurusannja. Tjepat ia mempergunakan
tipu „membalikkan badan dalam ombak‟ menjingkirkan
serangan itu, sambil terus berbareng menjerang,
Kemudian mereka saling serang dengan berganti ganti
kepalan, dengkul, kaki, sikut, dan lain-lain menjamber pergi
datang dengan serunja,
Pada saat itu, A Houw jang sedang berdjongkok dibawah
sebuah pohon lioe besar, telah mendjadi kesengsem ketika
melihat permainan silat kedua orang itu,
Hampir ia bersorak-sorak karena gembiranja. Tiba-tiba
tertampak olehnja Giok djie dalam repotnja tiba-tiba ikat

Hoa Hoa Pa 32
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

pinggingnja terlepas, hingga. serangan Giok djie djadi kendor


sedikit, dan Tjie tong tidak membuang tempo lagi terus
menondjok.
Tetapi Giok djie dengan gesitnja tiba-tiba memiringkan
tububnya kesamping, berbareng ketika suara angin menduru
terdengar, tahu-tahu Giok djie sudah terbang keatas pohon
Lioe besar itu dengan gerakan seolah-olah monjet atau matjan
tutul, dengan kedua kaki mengindjak dahan pohon jang
bertjagak. sedangkan kedua tangannja memegang tjabang-
tjabang ketjil pohon tersebut.
Betul pohon itu besar, tetapi karena orang tiba-tiba
meloatjat keatasnja, maka dahannja berikut batang pohon djadi
bergontjang, dan dua ekor burung besar jang menginap diatas
pohon itu, dengan mengeluarkan bunji-bunjian kaget terus
terbang ke udara,
Poei tjie tong ketika melihat putrinya kabur ke atas pohon,
tidak terasa lagi ia djadi tertawa berkakakan.
Ternyata disebelah bawah pohon lioe besar itu adalah
sebuahkakus jang tertutup, dan A Houw djustru sedang
berdjongkok disitu, membuang air, dan karena kakus itu
dilingkungi oleh pagar, maka Poei tjie tong ajah-anak berdua
tidak mengetabui disitu ada orang,
A Houw jang sedang berdjongkok itu tiba-tiba melihat
Giok Djie belajang kesebelah atasnja, maka saking kagetnja ia
sampai mengeluarkan keringat dingin.
Belakangao setelah mendengar siempe she Poei tertawa
besar, barulah ia mengetahui behwa mereka ajah-anak sedang
bermain-main silat.

Hoa Hoa Pa 33
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tjepat ia berdongak keatas buat memaodang Giok djie


jang berdiri diatas pohon Lioe besar itu, djustru pada waktu itu
terbit angin, dan karena ikat pinggang Giok djie telah terlepas.
maka badiu tipisnja jang dibuat dari sutra putih itu djadi
melambai-lambai tertiup angin, sehingga sekudjuur badan
sebelah atasnja jang putih kena terlihati oleh A Houw,
sebingga A Houw sampai merasakan semangatnya melajang-
lajang ke awang-awang!
Apamau Giok djie setelah berdiam diatas pohhon, tidak
lekas-lekas turun 1agi, siedangkan matahari merah perlahan-
lahan sudah menjorot sampai keatas pohon, sehingga
membikin iler A Houw hampir sadja meleleh keluar melihat
pemandangan diatas itu jang seumur hidupnja belum pernah ia
menjaksikan.
Ia mengawasi tak bosan-bosannya dan dengan mata tak
berkedip. Tiba-tiba terlihat olehnja kulit badan Giok djie jang
digambari bunga-bunga warna hidjau dan merah, maka A
Houw diam-diam djadi merasa ketjewa, karena sitjantik itu
kiranja adalah seekor siluman matjan tutul!
Sedang ia berpikir-pikir, tiba-tiba Phoei tjie tong
tertampak mengulapkan tangannja dan memanggil, “Giok djie!
Kendati kamu baru sembuh dari sakit, tetapi sungguh
menggirangkan, karena ternjata kepandaianmu masih tetap
seperti dahulu! Lihatlah matahari sudah naik, ayo lekas turun!
Nanti apabila terlihat oleh Lim sianseng, tentu engkau bakal
ditertawakan olehnja!”
Seolah-olah burugg kapinis entengnya, Giok djie sudah
melajang turun lagi ke tengah pelataran, sehingga A Houw
betulang-ulang meleletkan lidahnja.

Hoa Hoa Pa 34
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah memungut kembali ikat pinggangnya, dan


mengebut ngebut pakaiannja, Giok djie terus berdjalan masuk
bersama sama ajahnya.
A Houw setelah melihat mereka sudah berlalu, barulah ia
keluar dari kakus, dan dengan terburu-buru ia terus pergi ke
dapur buat mengambil kue besar dan makan sampai kenjang,
terus ia mengambil alat-alat pertanian dan dengan tergesa-gesa
ia terus pergi ke ladang.
Disana ia melihat pemuda-pemuda kampung sudah banyak
djuga jang sedang bekerdja disitu, sambil bernyanji dan
mentjabuti rumput.
A Houw tjepat melepaskan alat pertanian jang dibawanja,
dan dengan suara keras ia berkata :
“Saudara-saudara, hari ini adalah tanggal empat belas dan
esok pertengahan bulan! Mulai dari hari esok. Kamu sekalian
musti berladjar Boegee!”
Seorang pemuda jang bernama Lim A Mo lalu berdiri dan
berenanja: “A Houw ko! Apakah engkau djuga turut beladjar?”
“Aku adalah orang bernasib djelek, dan makan nasi
mengandal pada orang lain, maka mana aku ada
keberuntungan itu buat turut beladjar bersama-sama kau?” kata
A Houw.
“Apakah kedua Soehoe tinggal dlrumahmu?” A Mo
bertanja.
“Ja. betul," sahut A Houw, “Tetapi pagi esok mereka akan
pindah tinggal ketempat kelenting leluhur,"

Hoa Hoa Pa 35
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Katanja mereka ajah-anak sangat pandai ilmu silatnja,


apakah A Houw ko sudah pernah melihat Boegeenja atau
belum?"
A Houw mengatjungkan djempol tangannja sambil berkata
dengan suara bangga dan njaring:
“Wah! A Mo tee! esok pagi apabila melihat mereka
bersilat, aku tanggung kau bakal berkunang-kunang kedua
matamu sekalian! Apalagi soehoe perempuan itu, bisa terbang
keatas pohon! Dan sekudjur badannja…..? wah! Ha ha ha!”
A Houw berkata sampai disitu maka dengan berbareng
mereka terus pada berhenti mentjabuti rumput dan berdiri
mengawesi A Houw buat memasang kuping, mendengarkan
penuturan lebih djauh.
A Houw ko! Sekudjur badan Soehoe perempuan
bagaimana matjamnja?”A Mo bertanja dengan hati sangat
tertarik, “Tjobalah lekas kaukatakan!”
A Houw segera berhenti tertawa dan dengan roman
sungguh-sungguh la berkata: Sekudjur badan Soehoe
perempuan itu, jang putih seolah olah dari batu Giok putih,
jang merah seolah olah bunga Thohoa mekar dan jang hidjau
seolah-olah bening atau gelas warna hidjau bertutul-tutul,
merah ada, putih ada, hidjau djuga ada, hingga tampaknja tidak
berbeda seolah-olah Kim tjhi hoa hoa pa (matjan tutul).
Seorang antaranja dari para pemuda jang ada disitu terus
tertawa berkakakan.
“Sudah sering kukatakan, bahwa A Houw ko itu tukang
membohong, kini ternjata terbukti omonganku itu!” katanja.
“Sekudjur badan Soehoe perempuan bagaimana bisa terlihat
olehmu?”

Hoa Hoa Pa 36
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Melihat orang tidak mau pertjaja omongannja, A Houw


tampaknja djadi sangat djengkel dan sengit.
“Oh, aku mengetahuinja!” kata seorang lain, “Tentulah A
Houw ko main gila dengan Soehoe perempuan, betul tidak? Ha
ha ha ha! awas ja A Houw ko! Nanti engkau akan kuadukan
kepada paman Soe Beng!!
A Houw djadi sangat djengkel dan gugup dengan
membanting-banting kakinja ia berkata ; "A Liong ko! dengar
dulu omonganku! orang lain begitu sopan santun dan beroman
begitu tjantik seolah-olah kembang hendak mekar, bagaimana
dia bisa tertarik hatinja kepada aku! seorang kuli! dengan
sesungguhnja kukatakan kepada kamu bahwa hari ini, waktu
aku bangun tidur. hari masih agak gelap perutku mulas, maka
aku lari kekakus jang letaknja dibawah sebuah pohon Lioe
besar di pinggir lapangan. Diustru Lo-soehoe terus
tertampak berlari lari keluar dan main silat ditengah pelataran.
kemudian Soehoe perempuan djuga keluar djuga, dan mereka
rerus bertarung dengan serunja!
Pada waktu sedang hebatnja mereka bertarung, tiba-tiba
ikat pinggang Soehoe perempuaa terlepas dan djatuh keatas
tanah, maka gerakan Soehoe perempuan djadi lambat sedikit
dan kepalan Lo-soehoe jang besar dan kuat dengan ketjepatan
luar biasa sudah menjambar, tjoba kamu pikir sadja, tubuh
Soehoe perempuan jang begitu muda dan halus bagaimana bisa
tahan kena pukulan itu? apakah dia tidak bakal roboh keatas
tanah dan utus njawanja seketika itu djuga? Pada saat itu,
saking gugupnja, aku sampai mengeluarkan keringat dingin
disekudjur badanku…..!”
“Apa! “ kata orang banjak dengan berbareng.

Hoa Hoa Pa 37
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Habis bagaimana achirnja? Dan A Houw ko, engkau


seharusnja buru-buru lari keluar dari kakus buat menolong
djiwa Soehoe perempuan!”
Tetapi A Houw dengan menepuk tangannja berkata lagi:
“Masa perlu aku buat menolongnja? Ternjata Soehoe
perempuan itu bukan main pandainja dan ternjata bukan
pukulan dan tendangannja jang sangat hebat seolah-olah kilat,
malah tubuhnja djuga begitu enteng, seolah-olah burung walet
terbang! Ketika kepalan Lo-soehoe sudah hampir dekat, tiba-
tiba Soehoe perempuan melontjat keudara, „Berrr!‟ tahu tahu
dia sudah terbang keatas kepalaku.”
Meedengar sampai disini, orang banjak djadi ketawa
gelak-gelak.
“A Houw ko!” demikian kata mereka, “Engkau kembali
berdusta! Engkau berada dibawah pohon, bagaima Soehoe
perempuan bisa terbang keatas kepalamu?! Batok kepalamu itu
teoh bukan medja. bukan pula kursi! Bagaimanakah Soehoe
perempuan dapat berdiri diatas kepalamu! Dan dia toch orang
jang paling sedikit djuga beratnja tentu hampir seratus kati dan
bukannja tjapung, kupu-kupu atau lalat! Maka bagaimana
engkau tak dapat luka, sedangkan rambut kepalamu tak kurang
selembarpun! Ha ha ha ha! aws A Houw ko! Engkau keenakan
berdusta nanti tergelintjir dalam selokan!”
A Houw mukanja djadi berubah merah!
“Biar lidahku tumbuh bisul besar!'' katanja sambil
sesumbar, “Oleh karena aku berdjongkok dibawah pohon lioe,
sedangkan Hoa hoa pa (si matjao tutul) terbang keatas pohon.
bukankah dia ada diatas kepalaku?”

Hoa Hoa Pa 38
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Orang banyak kembali tertawa.


“Siedang membitjarakan Soehoe perempuan dari mana
datangnja segala Hoa hoa pa jang terbang keatas pohon! Aku
rasa A Houw ko pasti bakal berwudjud sumpahnja, dan biarlah
bisul dilidahnja akan mengalir darah terus-menerus siang dan
malam!' demiklan kata mereka.
“Bagaimana engkau mendengar penuturan orang bukannja
biar betul?'' kata A Houw dengao djengkel, “Itu waktu gerak-
gerik Soehoe perem puan diatas pohon. tidak berbeda seperti
seekor matjan tutul, apalagi pakaiannja tiba-tiba melambai-
lambai tertiup angin, hingga sekudjur badannja tertampak
dengan tegas dan ternjata selainnja kulit badannja jang putih
bersih. banjak pule gambaran berkembang kembang warna
merah dan hidjau! Habis kalau dia bukan Hoa hoa pa apa lagi?
Apabila kamu tidak pertjaja, tjobalah kamu lihat dihari esok,
waktu dia mengadjar silat. Nanti tentu kamu bakal dapat
melihatnja dengan teas, dan aku tanggung kamu bakal bersorak
dan setudju dengan omonganku bahwa dia adalah seekor
matjan tutul!”
Orang banjak barulah mengerti, mereka pada berdjingkrak
kegirangan. karena sang Soehoe perampuan katanja
menjerupai matjan tutul, dan kaki merekapun lantas berasa
pada gatal-gatal, maka mereka tjepat menjimpan alat-alat
pertaniannja, dan buru-buru pada puiang kekampung buat
menjiarkan pada orang-orang disetiap rumah, bahwa bakal
guru peremouan mereka adalah Hoa hoa pa atau matjan tutul.
Para pemuda lainnjapun tidak satu jang tak gembira, maka
sekedjap sadja kabar itu tersiar keseluruh kampung, sehingga
banjak diuga orang-orang perempuan jang ingin melihat
bagaimama matjamnja „matjan tutul‟ itu.

Hoa Hoa Pa 39
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Sementara itu. Isteri Lim soe beng, Tjoe sie, ketika sedang
mengatur sajur-majur didapur, tiba-tiba Lo ma tjoe (budak
perempuan tua) dengan perlahan-lahan lalu berkata sambil
menghampiri: “Nay-nay, kini orang-orang diseluruh kampung
pada gaduh membitjarakan bahwa nona Giok djie jang timggal
dirumah kita ini, bukannya orang, tetapi siluman!”
“Ah, engkau djangan main gila!” kata Tjoe sie dengan
kaget, “Bagaimana gadis orang boleh kau katakan siluman?”
“Kata orang-orang di kampung, semua mengatakan bahwa
Nona Giok djie adalah seekor siluman Hoa hoa pa!” kata lagi
Lo ma tjoe. “Nay nay, hati-hati! Nanti dia membakar rumah
kita! Dan katanya matjan tutul gemar memakan binatang
piaraan ! Maka segala babi, kambiog, itik, dan sebagainja jang
kita piara dirumah kita, mesti kita djaga baik-baik! Untung
tidak ada anak ketjil tjoba djika ada. anak ketjilpun mendjadi
santapan biasa dari matjao tutul!"
“Lo ma tjoe! Apakah engkau gila, maka engkau mengatjo
belo tak karuan? Apakah engkau tak takut nanti disamber
gledek tudjuh kali, karena menuduh sembarangan anak dara
orang?" Tjoe sie membentak dengan gusar!.
“Sungguh mati, Nay-nay!” kata Lo ma tjoe dengan gugup,
“ Aku toch sudah berusia begini tua, maka apakah sebabnja
aku mesti menuduh orang setjara tak karuan? Tjoba kalau Nay-
nay tak pertjaja, nanti setelah makan malam, nay-nay pangil
nona Giok djie masuk kedalam kamar, dan periksa badanja!
Pasti Nay-nay bakal menemukan banjak tutul-tutul dari matjan
tutul!''

Hoa Hoa Pa 40
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Seluruh bulu badan Tjoe sie tak terasa lagi djadi berdiri,
dan ia beagong sampai beberapa saat lamanya.

_ "Lo ma tjoe!" katanja achir-achirnja “Apabila memang


betul begitu, nanti sesudah makan malam, boleh engkau temani
dia datang kekamarku! Biar nanti aku jang hendak melihat
sendiri tutul-tutul di badannja.”
Lo ma-tjoe menganggukkan kepalanja perlahan dan
menjatakan “baik.”

Setelah makan malam, Tjoe sie dengan seorang diri sudah


berdiarn didalam kamarnja, menantikan kedatangen Lo ma tjoe
jang akan menghantarkan Giok djie kesitu.

Lampu penerangan sengadja dipasang seterang-terangnja.


Tidak berselang beberapa lama, ketika daun berkerejot, Lo
ma-tjoe tertampak berdjalan masuk menghantarkan Giok djie.
Tjoe sie tjepat berbangkit dan menjilakan Giok djie
berduduk, kemudian ia memberi tanda dengan tangannja,
menjuruh Lo Ma-tjoe keluar lagi, kemudian Tjoe sie terus
menguntji pintu dan menuangkan setjangkir teh, menjilakan
Giok djie meminumnja.
Giok djie tjepat menghaturkan terima kasih dan bertanja :
“Menumpang tanja, Nay-nay menjuruh Lo ma-tjoe memanggil
aku kesini ada urusan apakah?"
Tjoe sie bersenjum.

Hoa Hoa Pa 41
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Tidak apa-apa, hanja karena nona mulai hari esok akan


mendjadi guru dan nona tidak tinggal disini lagi, aku hendak
mengobrol sedikit dengan nona sambil sekalian mohon melihat
badanmu.” katanja.
Giok djie dradi tertjengang.
“Nay-nay hendak melihat badanku?” ia bertanja.
“Aku ada suatu sebab, nanti setelah aku selesai melihat,
baru akan kuterangkan sebab-sebab itu kepada nona," kata
Tjoe sie.
Grok djie dengan terheran-heran, terpaksa berbangkit dari
tempat duduknja dan berdiri tegak menghadapi lampu buat
diawasi oleh Tjoe sie.
Tjoe sie lalu mengawasi dengao teliti dibawah penerangan
lampu itu, dari atas sampai kebawah, kemudian ia memudji:
“Nona, engkau sungguh tjantik sekali! dan dibawah penerang
tjahaja lampu, tampaknja mendjadi lebih elok!"
Mendengar dirinja dipudji pudji, Giok djie djadi sangat
girang.
Tetapi sebelum kegirangannya habis, tiba-tiba Tjoe sie
kedengaran berkata lagi: “Nona, engkau jang begitu tjantik
elok, tentunja kulit sekudjur badanmu lebih menarik hati lagi!
Nona jang baik, kita semua adalah sesama orang perempuan
maka aku barap supaja nona suka membuka pakaianmu, agar
aku bisa melihat kulit sekudjur badanmu jang putih bersib itu!”
Giok djie kembali djadi tertjengang dan paras mukanja
djadi berubah merah.
Dengao menundukkan kepalanja Ia berpikir:

Hoa Hoa Pa 42
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Apakah Nay-nay malam ini sudah gila? mengapa dia mau


melihat badanku? djika aku luluskan permintaannja, tentu aku
djadi djengah sendirinja, tetapi djustru ia adalah penolongku,
maka aku tak baik pula untuk menolaknya habis bagaimanakah
baiknja!"
Maka itu ia djadi gugup dan mukanya mendjadi semakin
merah.
Ia tinggal bengong sadja, tak mengutjapkan barang sepatah
perkataan.
Tjoe sie sendiri djuga sangat gelisah, karena Ia ingin buru-
buru membuktikan betul tidaknja omongan Lo ma tjoe tadi
siang dan apabila Giok djie ternjata betul djedjadian atau
siluman, ia segera akan menungkupkan kitab sutji Kim kong
keng jang sudah ia sediakan semendjak tadi, kepada embun-
embunan Giok djie, supaja siluman itu mendjadi musnah oleh
kekuatan Buddha itu.
Apa mau, Giok djie menundukkan kepala sadja dan tak
mau berkata apa-apa, maka diam-diam Tjoe sie berpikir dalam
barinja ; “Melihat gelagat begini, bahwa perempuan ini tak
berani memperliharkan tubuhnja, djangan-djangan dia benar-
benar adalah seekor matjan tutul siluman!
Apabila bulunja jang tutul-tutul sudah tampak dan dia
berubah kepada roman asalnja. siluman biasanja mana ingat
pada budi kebaikan orang, maka sekali dia marah, tentulah aku
jang pertama-tama akan mendjadi santapan siluman ini! Aja
tjelaka! Kalau kulihat begini gelagatnja, teranglah keadaan
sudah sangat berbahaja! Baik buru-buru aku siapkan “popwee''
supala djangan sampai keburu mentjelakakan diriku!”
Setelah berpik1r begitu, buru-buru kitab Kim kong keng ia
pegang ditangannja, dan dengan kedua mata didelikkan besar-

Hoa Hoa Pa 43
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

besar mengawasi Giok djie, ia terus membatja doa kuat-kuat,


“Diundang datang Kim kong penjapu bentjana! diundang
datang Kimkong penjapu ratjun! diundang datang Kimkoog
penaklukkan siluman! diundang datang …….. "
Tjoe sie terus sadja mengotjeh memanggil-manggil
bermatjam-matjam Kimkong "
Giok djie mengangkat kepalanya, mengawasi Tjoe sie.
kemudian ia tertawa tjekikikan.
––––––––

III
“NAY-NAY, engkau sedang membatjakan doa apa!" Giok
djie bertanja dengan hati geli.
"Mengapa dalam batjaanmu itu banjak sekali Kim-kong?”
Dengan suara gemetar karena takut bertjampur marah,
Tjoe sie berkata , “Engkau ..… engkau ….. apabila tidak djuga
mau memperlihatkan tubuhmu kepadaku, terpaksa aku mesti
memanggili sekalian Kimkong buat memperlihatkan
kesaktiannja, membasmi dan memusnakan segala djedjadian
atau siluman! Djika engkau mengenal gelagat, ajoh lekas beri
aku lihat tubuhmu kepadaku agar seorang nona muda tjantik
seperti engkau tak mendjadi tewas dibawah kitab sutji Kim-
kong-keng ini!”
Giok djie sudah tentu sadja mendjadi semakin tidak
mengerti, dan terpaksa ia membuka kantjing pakaiannja.
Ketika bebauan harum berkesiur, tubuh sebelah atas Giok
djie sudah tak tertutupi apa-apa lagi. Tjoe sie tjepat mendekari

Hoa Hoa Pa 44
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

sambil mengangkat tinggi kitab Kim kong keng, lalu ia


mengawasi dengan teliti tubub Giok djie sebelah atas.
Njatalah kulit badan itu sangat halus dan putih bersih
seolah-olah batu pualam putih dengan ditaburi oleh gambar
bunga-bunga mawar merah dan hidjau, jang karena sorotan
lampu jang sangat terang itu. tampaknja mendjadi sangat
menarik hati.
Tetapi ternjata tidak selembar bulu binatang jang
kedapatan disitu.
Tjoe sie waktu masih ketjil djuga sering melihat beberapa
orang perempuan dikampungnja memanggil tukang
menggambarkan gambaran bunga-bunga dibadan, kini ketika
ia mehbat gambar2 bunga dibadan Gtok djie itu, Ia segera
djadi ingat dengan kedjadian dulu. maka tidak terasa lagi ia
djadi tertawa geli, dan menjuruh Giok djie tjepat-tjepat
mengantjingkan kembali pakaiannja, dan tetap menjilakan
Giok djie duduk kembali ketempat duduknja.

“Nona, maafkan daku! Mengedja engkau letih sadja


berdiri lama-lama!” katanja.
“Sebenarnja mengapa Nay-nay hendak melihat tubuhku?"
Giok djie bertanja dengan paras muka berubah merah, sambil
mengantjingkan badjunja, dan duduk bersandar pada kursi
tempat duduknya.
Tjoe sie mengbela napas.
“Orang-orang kampung benar-benar sangat bodoh,"
katanja, “Entah kapan nona telah menjebabkan gambaran
bunga-bunga dibadanmu itu terlihat orang, sehingga diseluruh
kampung mendjadi gempar dengan berita jang mengatakan

Hoa Hoa Pa 45
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

bahwa engkeu adalah seekor Hoa hoa pa, Sedangkan Lo


matjoe dirumahku lebih-lebih lagi sangat gobloknja, dan
menganggap engkau adalah seekor matjan tutul siluman jang
telah mendjadi manusia, sehingga otakkupun mendjadi turut
keruh dan menjebabkan nona barusan mendjadi penasaran dan
kaget, hingga sungguh mengedja aku djadi malu sekali."
Giok djie djadi kaget dan geli.
“Nay-nay harap djangan menertawakan daku!" katanja,
“Gambaran kembang dibadanku ini, adalah ibuku sendin jang
menggambarkan semasa dia masih hidup. Tidak kira sekarang
gambaran ini jang menjebabkan buah tertawaan orang
kampung nay-nay. Untung aku adalah orang jang biasa
berdjalan dikalangan kang-ouw dan dikalangan kang-ouw
orang-orang jang mempunjai gelar sangat banjak, maka karena
mereka menjebut aku Hoa hoa pa. biarlah Hoa hoa pa itu
mendjadi gelaranku, pasti aku tidak akan marah kepada
mereka. Taro kata Nay-nay sendiri djuga menjebut aku
beberapa kali. Hoa hoa pa, tentu aku tidak marah kepadamu,
"Nona, ketulusan hatimu itu benar-benar boleh dibuat
kagum." kata Tjoe sie dengan girang, “Omongan melantur
diluaran harap nona djangan menaruh hati. Esok kamu akan
pindah kekelenting leluhur bukan? Maka nona baik siang-siang
tidur, sebab loyaku djuga sudah hampir datang.”
Giok djie menyatakan „baik‟, terus ia berpamitan.
Setibanja di kamar sendiri, ternjata Poei tjie tong masih
belum tidur dan empe she poei itu ketika melihat anaknja
masuk kekamar, segera ia bertanja: “Giok djie, Nay-nay
memanggil engkau ada urusan apakah?”
“Tjobalah thia-thia tebak sendiri!” demikian sahutnja.

Hoa Hoa Pa 46
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Aku toch bukan dewa ataupun malaikat! bagaimana aku


bisa menebak!” kata Poei tjie tong.
Maka Giok djie lalu menerangkan: “Kata nay-nay, orang-
orang kampung pada memberikan anak gelar, “Hoa hoa pa"
atau “simatjan tutul" katanja! Sungguh itulah satu gelar jang
menarik hati!"
“Anak goblok! Orang lain memojokkan engkau,
bagaimana kau katakan menarik hati? djadi seorang gadis
harus berlaku sopan santun, djangan berkelakuan jang kurang
pantas!” kata Tjie tong.
“Ja, ajah memang enak sadja bitjara! Orang-orang
dikalangan kang-ouw bukankah semua ada gelarnya? Dan
ajah! engkau sendiri bukantah dipodjoki orang “Siang ek
bouw" (matjan bersajap)?" kata Giok djie.
Poei tjie tong djadi merengut terus ia merebahkan diri
diatas pembaringan. Tak bijara apa-apa lagi.
Pada hari esoknja setelah bersantap pagi, Lim soe beng
terus menjuruh A Houw mengangkut lebih dulu buntalan-
buntalan dan golok Poei tjie tong ajah anak ke kelenteng
leluhur, kemudian ia sendiri dengan menemani Poei tjie tong
berdua berdjalan belakangan.
Setelah mereka melalui djalan gunung jang di kiri-kananja
diapit oleh pohon-pohon bunga, tibalah mereka disehelah luar
kelenting leluhur itu.
Ternyata disekelihng tempat itu ditumbuhi pohon-pohon
besar jang sebesar besar pelukan orang.

Hoa Hoa Pa 47
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Disebelah luar mulut pintu kelenting dibuatkan sebuah


djalan besar, dan dipelatarannja terdapat sebuah lapangan jang
luasnja kira-kira 3-5 bouw
Lapangan itu ditumbuhi rumput-rumput hidjau kekuning-
kuningan jang pendek dan rata.
Lim soe beng lalu menundjuk seraja berkata:
“Poei soehoe, itulah kelenting leluhur kami, nah kaulihat
sendiri tuh, pintu besarnja sudah dibukakan besar-besar!
Ajolah kita masuk kedalam!”
Kemudian ia mengundang mereka berdjalan lebih dahulu,
sedangkan ia mengiringi disebelah belakang.
Setelah mereka tiba didalam, tertampaklah Lim siong swat
dengan roman berseri-seri lalu berdjalan keluar menjambut
mereka sambil menjodja.
“Soe Beng tee, apakah ini adalah Poei kauw soe dan Poei
giok djie siotjia?" ia bertanja kepada Lim soe beng.
Soe beng menganggukkan kepalanja seraja
memperkenalkan mereka satu dengan jang lain.
Kemudian ia berkara pada Poei tjie tong :
“Poei soehoe, Poei kauwsoe, inilah tong heng aku jang
bernama Siong swat. Jang kemarin dahulu sudah kukatakan,
inilah dia orangnja. Harap Poei heng suka berduduk duduk
dalam kamar,"
Tjie tong tjepat menjodja sambil bersenjum. Mereka lalu
menudju kekamar sisi sebelah barat. Disitu mereka
mendapatkan dari antara kamar-kamar, dua buah antaranja
jang mengbadapi tjimtjee telah dibersihkan dan segala

Hoa Hoa Pa 48
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

perabotan buat orang tinggal sudah diatur selengkap-


lengkapnja dan serapi-rapinja.
Sue beng melihatnja djadi senang, maka berulang-ulang ia
berkata: “Baik sekali, inilah mengandal keradjinan Siong Swat
ko!”
“Semendjak putus mupakat dengan hiantee, aku segera
menjuruh orang mengatur segala galanja dalam dua buah
kamar ini." kata Siong swat. “Jang disebelah dalam untuk
tempat tidur Phoei kauw soe sendiri,"
Kemudian ia menjilakan ketiga orang berduduk berbareng
seorang budak ketjil terus menjuguhkan mereka empat tjangkir
teh.
Sesudah menjilakan meminum teh kepada ketiga orang.
Lim siong swat terus mengobrol kebarat-ketimur dengan
mereka, hanja Giok djie seorang jang duduk diam tak turut
bitjara apa-apa.
“Hari ini diwaktu lohor, sesudah djam tiga, murid-murid
sudah kupesan supaja pada datang kesini semua buat
mendjumpai guru mereka. Apakah upatjara buat mengangkat
guru sudah tong heng siapkan atau belum?" Soe beng berkata.
“Segala galanja sudah sele sai!" sahut Siong swat. “Dan
Hian tee sekalian aku undang buat makan disini sadja."
Poei tjie tong kemudian melongok kedalam kedua buah
kamar itu, dan ketika ia melihat keadaan didalam sangat
menjenangkan, maka hatinjapun diam-diam amat girang.
Oleh karena ia melihat dua buntalan barang-barangnja dan
goloknja masih diletakkan diatas medja, maka ia menjuruh
Giok djie masuk buat membereskannja.

Hoa Hoa Pa 49
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Memang Giok djie sedang djengkel karena tidak ada


kawan untuk diedjak bitjara hingga ia mesti berduduk diam
sadja seolah-olah patung, maka ketika ia mendengar sang ajah
menjuruh begitu, tjepat ia berdjalan masuk kedalam kamar itu.
Kemudian Tjie tong mengutiapkan terima kasihnja kepada
kedua orang jang sudah menjusahkan diri buat mengatur
sehingga keadaan dalam kamar jang disediakan untuknja
mendjadi begitu baik.
Kedua orang tjepat merendah.
Giok-djie ketika melihat ketiga orang berdjalan keluar,
barulah pakaian jang ada dalam buntalan sestel demi sestel
dikeluarkannja dan dimasukkan lagi kedalam lemari pakaian.
Kedua golok badja jang ada didalam buntelan golokpun
dikeluarkannja djuga dan dikelebat-kelebaikan dibawah tjahaja
matahari pagi dimulut djendela kamar sehingga tertampak
sorot tjahaja jang mengkredep kredep.
Lalu golok itu digantungkan kedua duanja di atas paku
didindmg tembok.
Dldalam kedua kamar itu, masing-masing terdapat sebuah
pembaringgan, selimut sutera berbunga, bantal bersulam,
terdapat pula tak gantungan pakaian dan lain-lain perabotan
lagi dengan lengkap antaranja thekoan, cangkir teh dan
sebagainja.
Giok djie diam-diam djadi merasa girang atas ketertiban
orang jang mengatur kamar tersebut.
Tidak lama. budak ketjil tertampak membawa sepenampan
penuh berisi nasi putih, arak dan sajur majur, ditaruh dikamar
sebelah luar, kemudian dia keluar dan tak lama lagi, Soe beng
bertigapun tampaklah berdjalan masuk buat makan.

Hoa Hoa Pa 50
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Siong swat menjilahakan Poei tjie tong berduduk dibagian


atas, tempat-tempat jang kedua diserahkan kepada Giok djie,
biarpun tadinja si gadis menolak keres, sedangkan tempat
ketiga diambil oleh Soe beng dan Siong swat sendiri
mengambil tempat duduk sebagai tuan rumah.
Setelah mereka bersantap, tidak lama kemudian, pemuda-
pemuda kampungpun dengan berturut-turut terdiri dari
rombongan-rombongan tiga sampai lima orang pada datang
kesitu. dan tidak sampai tengahari sudah duaratus tigapuluh
orang jang berkumpul disitu.
Soe beng menjuruh mereka menunggu dengan berbaris
dikedua samping ruangan besar, dan menantikan dahulu
sampai semua pemuda kampung sudah pada datang, maka
Siong swat terus menjuruh budak ketjil menjulut sepasang lilin
merah besar diatas medja sembahjang, dan ia seudiri
memasang hio dahulu kepada lelubur.
Diatas medja diletakkan dua bungkusan merah.
Para pemuda kampung disitu memang paling menaruh
endah dan tunduk terhadap Soe beng dan Song swat berdua,
maka dalam upatjara pengangkatan guru itu, dengan adanja
kedua orang itu, sudah tentu sadja mereka tidak berani berlaku
sembarangan ataupun bitjara jang tidak karuan, semua pada
berdiri tegak dengan laku hormat dan tak seorangpun jang
mengeluarkan suara apa-apa.
See beng lalu mengundang Poe1 tjie tong berdua naik
keatas buat menerima kehormatan dari murid-muridnja.
Setelah segala upatjara selesai. Soe beng terus berkata
kepada orang banjak: “Sekalian saudara-saudara dan

Hoa Hoa Pa 51
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

kemenakan-kemenakan! Guru adalah hampir sama djuga


dengan ajah, maka setelah kamu mengangkat guru kepada Poei
soehoe berdua, maka kamu harus mentaati apa jang mereka
katakan dan adjarkan, seolah-olah mentaati perintah ajah-
bunda sendiri! Dan beladjar dengan giat! Diantara kamu
apabila ada jang sudah pernah beladjar silat dan sudah
mempunjai kepandaian apa-apa, boleh diterangkan didepan
Soehoe, djangan disimpan sadja dalam hati! agar supaja
gurumu djadi bisa mengetahui keadaan kamu, dan dapat
mengadjar berlainan sedikit!”
Orang banjak setelah mendengar begitu segera mendorong
keluar dua pemuda jang kata mereka sudah pernah beladjar
beberapa matjam ilmu pukulan.
Soe beng mengenali kedua orang pemuda itu bukan lain
dari kemenakan mintongnja sendiri, jaitu Lim tiong tiok dan
Lim tiong bwee.
Iapun ingat mereka itu memang benar pernah beladjar
sedikit pada pendjual obat di kota.
Kemudian kedua saudara itu madju beberapa tindak
kesebelah depan dan menudju kepada Poei tjie tong.
“Soehoe,” kata mereka. “Kami berdua kendati bisa
beberapa macam ilmu pukul, tetapi sama sekali tak ada
gunanja, maka kami mohon pengadjaran soehoe jang lebih
tinggi!”
“Kalau begitu, tentunja kamu sudah mengetahui djuga
pokoknja orang beladjar silat, bukan? Djadi djika kuadjar nanti
tentu akan lebih mudah.” katanja sambil tertawa kepada kedua
orang itu, kemudian ia melandjutkan omongannja kepada
orang banjak: “Apakah jang lainnja belum pernah beladjar
silat?”

Hoa Hoa Pa 52
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Orang banjak pada menggelengkan kepalanja dan


meniatakan belum.
“Beladjar silat bukanjah bisa berbasil dalam satu dua hari,"
kata Poei tiie tong kepada Lim soe beng, “Sekali-kali orang
ttdak boleh tidak sabar. Diantara sekalian murid itu, hanjalah
dua orang sadja jang sudah pernah mendapat peladjaran pokok
ilmu silat. sedangkan jang lainnja mesti beladjar dari
permulaan. Tetapi sianseng djangan kuatir, aku pasti akan
mengadiar mereka dengan sesungguhnja hati, sehingga mereka
pandai betul. Apabila ada apa-apa jang kurang sempurna,
harap Sianseng dan tuan Siong swat suka memberi petunjuk!”
“Segala perkara itu aku pertjaja penuh kepada Soehoe,”
sahut Soe beng.
Oleh karena melihat sang waktu masih cukup siang, maka
Poei tjie tong terus menjuruh anak-anak menudju ke lapangan.
Maka mereka dengan bererot-rerot menudju kesana.
Poei tjie tong terlebih dahulu meminta diri kepada Soe
beng buat masuk dulu ke kamarnja bersama-sama Giok djie
akan meringkaskan pakaiannja, kemudian ajah-anak itu
seorang didepan seorang dibelakang berdjalan keluar
kelenting.
Ketika itu tertampakleh para murid-murid sudah berbaris
ditengah lapangan, sedangkan disisi sekitar lapangan di bawah
pohon jang daunnja rindang telah penuh dengan orang-orang
tua muda, besar ketjil, laki-laki dan perempuan dari seluruh
kampung, jang semua pada memandjangkan lebernja hendak
melihat Poei Kauwsoe ajah anak.
Tidak lama, terlampaklah Poet tjie tong dengan
membusungkan dada berdjalan masuk ketengah lapangan,

Hoa Hoa Pa 53
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

sedangkan dilsebelah belakangnja diikuti oleh seorang gadis


jang sangat tjantik, jang oleh orang banjak lantas diketahui,
bahwa si gadis tentulah bukan lain dari pada soehoe
perempuan Hoa hoa pa, maka diam-diam mereka djadi
memudji ketjantikan lie soehoe itu.
Poei tjie tong terlebih dahulu memberi ltfie tClc~ terlz:bib
tlaklu memberi hormat kepada para penonoton itu. kemudian
dengan suara njaring ia berkata kepada sekalian muridnja:
"Sekalian adik-adik! Aku lihat kamu masing-masing jang
paling muda djuga tentu sudah 16 17 tahun dan jang paling tua
kira-kira 20 tahun. Oleh karena kamu hidup didaerah
pegunungan jang berhutan ini, maka tentunja kamu sudah
biasa berdjalan turun naik gunung bukan?
Tetapi buat dldaerah jang seperti ini, jang paling penting
adalah ilmu buat bergerak tjepat dan melompat tinggi, supaja
waktu mendaki gunung atau menuruni lembah dan melalui
pohon-pohon jang merintangi perdjalanan dengan mudah dapat
dilewati.
Hingga dengan dapat dipeladjarinja ilmu itu sampai paham
betul, lantas boleh dipergunakan buat menangkap pendjahat,
buat dipakai menjingkirkan diri dari bahaja, boleh untuk
mendjaga keselamatan seluruh kampung! maka itu, sekarang
Lohoe akan mengadjarkan kamu lebih dahulu ilmu melompat
tinggi! nanti sesudah ilmu itu kamu pandai, baru akan
kuadjarkan ilmu lainnja!”
Berarus-ratus orang jang ada didalam lapangan segera
bersorak dengan riuhnja!
Sebabnja kedatangan mereka itu memang sebagian besar
bermakaud ingin melihat kepandaian Hoa hoa pa memandjat

Hoa Hoa Pa 54
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

keatas pohon, jang menurut kabar tjerita jang sangat


menggemparkan itu, bukan main luar biasanja.
Djustru Poei tjie tong berkata begitu, maka bagaimana
orang banjak tidak mendjadi girang bukan main?
Poei tiie tong dan putrinja menantikan sampai orang jang
bersorak-sorak sudah pada berhenti, barulah mereka
mengangkat kepala, mengawasi kian kemari.
Diustru disekeliling lapangan memang dilingkungi oleh
pohon-pohon besar jang lebat dan tinggi, sedangkan pada
waktu itu, matahari sudah dojong kesebelah barat, dan karena
waktu itu sudah hampir mulai musim rontok, maka hawa
udaranja djauh lebih njaman daripada waktu sore dimusim
panas.
Poei 1jie tong kemudian tertampak berkata dengan suara
pelahan kepada putrinja. kemudian Giok djie berdongko, dan
mengentjangkan kembali tali sepatunja, dan mengentjangkan
ikat pinggangnja, sehingga pinggangnja tampaknja mendjadi
semakin langsing sadja,
“Ajah, aku hendak pergi!" kata Giok djie dengan tiba-tiba.
Kemudian ia menggoyangkan pinggangnja, maka tubuhnja
segera djuga mentjolot keatas, dan setibanja diudara, dengan
mempergunakan gerakan “burung walet menerobosi hutan"
“berrrr” tahutahu dia sudah tiba diatas puntjak sebuah pohon
besar jang tertinggi.
Pada waktu kakinja mengindjak tjabang pohon, tiba-tiba ia
terpeleset, dan djatuh kedjurusan bawah, sehingga para
penonton mengeluarkan seruan kaget dan mengeluarkan
keringat dingin.

Hoa Hoa Pa 55
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tetapi tidak dinjana, kiranja Giok djie sudah


menjangkutkan kedua kakinja diatas tjabang pohon itu, dan
dengan kedua kaki diatas dan badan dibawah, dia terus
berputar-putar diatas tjabang pohon itu, sehingga
mengeluarkan suara angin jang menderu-deru.
Sudah tentu sadja orang banjak djadi pada melongo.
Tiba-tiba pada saat itu kedengaran Poei tjie berteriak:
“Awas! Aku djuga datang!"
Dan sebelum utjapannja habis, Poei tjie tong siang-siang
sudah mempergunakan djurus “mentjabut bawang ditanah
kering” melontjat keatas wuwungan kelenting.
Orang banjak sekarang menudjukan perhatian kedjurusan
atas wuwungan itu.
Dengan tjepat sekali, Poei tjie tong melajang merata
kedjurusan atas pohon tempat Giok djie menggantungkan
badannja.
Ketika orang banjak memandang lagi kediurusan itu, entah
kapan Giok djie sudah tak terlihat lagi bajangannja dan jang
bergantung datas pohon, dengan tak disangka-sangka sudah
berganti mendjadi lo soehoe Poei tjie tong.
Keadaan disitu segera mendjadi gegap gempita oleh suara
teriakan-teriakan orang jang memudji dan tepukan tangan.
Belum kegaduhan itu mendjadi reda kembali, tiba-tiba dari
sebuah pohon besar disebelah barat, terdengar suara orang
bertertak dengan suara njaring: “Hai, thta thia! Anak: ada
disini!"

Hoa Hoa Pa 56
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Orang banjak buru-buru memindahkan lagi perhatiannja


kedjurusan sana, dan ternjata Poei giok djie benar-benar sudah
berduduk diatas pohon sebelah barat itu, entah kapan dia
terbangnya ketempat itu.
"Serrr!” bajangan orang itu tertampak berklebat lagi keatas
wuwungan kelenting dan setelah kakinja ditotolkan sedikit
keatas wuwungan itu, siang-siang dia sudah meluntjur turun ke
tengah lapangan.
Ternjata orang itu bukan lain adalah Poei tjie tong sendiri,
sedangkan Giok djie sudah dikempit olehnja dan dibawa
melajang turun, kemudian mereka tetap berdiri tegak di tengah
lapangan.
Pertundjukan mana kembali menjebabkan orang banjak
mendjadi pada mengeluarkan seruan-seruan memudji dan
bersorak-sorak.
Paea murid lantas sadja buru-buru pada pay sambil berkata
dengan suara hampir berbareng:
Kpandaian Djiewte soehoe benar-benar bukan main luar
biasanja! Touwtee sekalian semendjak terlahir dari perut ibu,
belum pernah menjaksikan orang jang paham ilmu jang begilu
luar biasa! harap soehoe mengadjarkan murid ilmu matjam
demikian dan murid pasti akan beladjar dengan seradjin
radjinnya!"
Poei tjie tong djadi girang sekali, tjepat ia menjuruh para
muridnja bangun. kemudian ia berkata : “Hari sudah hampir
gelap, harap Tjiong Wie pulang pulang dahulu, hari toch masih
pandjang. nanti mulai hari esok, Lohoe tentu akan
mengadjarkan kamu perlahanlahan ilmu itu!”

Hoa Hoa Pa 57
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Orang-orang jang ada didalam dan diluar lapangan setelah


mendengar demikian, barulah dengan merasa berat pada
tubuhnja dan pulang kerumahnja masing-masing.
Setelah orang banjak pada bubar Poei tjie tong bersama
sama Lim siong swat dan Lim see beng sekalian lalu balik
kedalam kelenting.
Sioag swat dan See beng ketika melihar Poei tjie tong
ajah-anak mempunjai kepandaian begitu luar biasa, sudah tentu
sadja mereka djadi sangat kagum dan menghormatinya
Poei tj1e tong menjilakan kedua orang berduduk
sedangkan Giok djie masuk kedalam kamarnja sendiri buar
menukar pekaian.
Kemud1an Soe beng dari dalam kantongnja mengeluarkan
dua bungkusan uang perak jang dibungkus deagan kertas
merah dan dengan laku hormat ia serahkan kepada Poei tjie
tong sebagai tanda hadiah untuk guru baru itu.
Pod tjie tong bermula menolak keras, terapi karena Soe
beng memaksa terus dengan roman sungguh-sungguh, maka
terpaksa ia menjimpannya.
Sedjak hari itu, maka Poei tjie tong ajah anak mulailah
mengadjarkan pemuda-pemuda kampung Lim kee po itu ilmu
silat.
––––––––
Sang waktu berdjalan sangat tjepat, sebentar sadja sudah
tak terasa lagi sudah mulai musim dingin.
Didaerah Utara itu hawa udara siang-siang sudah mendjadi
sangat dingin. dan saldjupun mulai turun,

Hoa Hoa Pa 58
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Pada saat itu, Boegee Lim tiong tiok dan Lim tioog bwee
berdua sudah tjukup lumajan djuga, malah jang lainlainnja pun
sudah paham sedikit-sedikit ilmu pukulan dan tendangan,
hingga buat dua tiga orang biasa sadja, seorang-seorang dapat
mengalahkannja dengan mudah.
Tetapi djustru jang mendjadi termashjur bukannja. Siang
ek houw Poei tjie tong tetapi sebaliknja adalah putrinja, jang
didjuluki orang "Hoa hoa pa".
Nama “Hoa hoa pa" itu dengan tjepatnja sudah diketahui
hampir diseluruh distrik Pengyang.
Orang-orang jang tidak mengetahui bermula mengira
nama “Hoa hoa pa" itu adalah seorang begal dari kalangan
Liok lim, tetapi lama kelamaan orangpun mengetahui bahwa
dia itu adalah seorang gadis jang sangat tjantik.
Tetapi karena itulah maka orang-orang dari tempat djauh
djadi banjak jang datang buat mengundjungi dan berkenalan
dengan Poei rjie tong ajah anak.

Terhadap sesuatu orang jang mengundjungi mereka, Poei


tjie tong sdalu melajani dengan manis dan sabar, selamanja ia
tidak pernah menerbitkan perasaan kurang senang orang, maka
itulah nama mereka mendjadi semakin termasjhur.
––––––––

Disebelah selatan Lim kee po, setelah melalui sebuah


tandjakan gunung tinggi, adalah pegunungan jang sambung-
menjambung.

Hoa Hoa Pa 59
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Dibagian tenggara pegunungan itu terdapat sebuah puntjak


gunung jang merupakan puntjak tertinggi dari puntjak-puntjak
lainnja, sehingga merupakan radjanja dari sekalian puntjak
disekitarnja.
Adapun puntjak gunung itu dimamakan orang Bwee hoa
hong.
Dibawah puntjak gunung itu banjak selokan-selokan
gunung jang mengalirkan air djernih.
Djarek antara puntjak itu dengan kampung Lim kee po,
hanjalah kira-kira duapuluh lie sadja djauhnja.
Sebenarnja disekttar pegunungan itu, semendiak berpuluh-
puluh tahun adalah tempat jang sangat aman, sampaipun
bangsat ketjil tukang menjergap orang djalanpun tidak pernah
ada, tetapi entah darimana asalnja telah datang serombongan
Eng-hiong dari kalangan Lioklim iang mempergunakan
puntjak Bwee hoa hong itu sebagai pangkalannja.
Dengan datangnja rombongan penjamun itu, maka
mulailah terdjadinja perkara-perkara perampokan dan
pembegalan.
Malah beberapa buah rumah orang hartawan di pinggir-
pinggir kota Pengyang sendiri berani disatroni oleh pendjahat-
pendjahat itu, hingga orang seluruh distrik mendjadi gempar.
Penduduk hendak meminta kepada Tikoan supaja
mengirimkan balarentara negeri buat menjapu bersih kawanan
penjamun itu, tetapi karena mereka masing-masing
mengetahui, bahwa biaja pasukan balatentara itu lebih besar
daripada djumlah uang jang bisa digarong pendjahat, maka
mereka mengurungkan makaudnja.

Hoa Hoa Pa 60
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tidak kira, kawanan pendjabat itu semakin lama mendjadi


semakin berani melakukan kedjahatan. sehingga achirnja ada
orang jang datang mengundang Hoa hoa pa dan ajahnja buat
memperlihatkan kepandaiannya terbadap para pendjahat itu.
––––––––

IV.

PADA waktu itu hawa udara sangat dingin, air sungai-


sungai jang sedikit dangkal siang-siang sudah pada membeku,
Oleh karena sudah dekat achir tahun, maka senap rumah
dikampung Lim kee po dengan tak ada terketjualinja sudah
pada bersiap-siap buat menghadapi tahun baru, dan sudah pada
menunda dahulu peladjaran Boegeenja.
Phoel tjie toug ajah-anak djadi mempunjai banjak tempo
jang terluang.
Maka kadang-kadang mereka berdiam sadja didalam
kamar menghadapi perapian buat menghangatkan badan,
kadang-kadang mereka berdjalan-djalan ditanah jang bersaldju
buat melihat lihat bunga Bwee mekar.
Lain daripada itu, mereka tidak ada pekerdjaan apa-apa
lagi.
Pada suatu hari, ketika waktu saldju turun sudah lewat dan
hari pertama sudah lewat, dan hari pertama dari muntjulnja lagi
matahari semendjak berlama-lama itu, ketika mereka sedang
duduk-duduk sambil mendjemur diri dibawah tjahaja matahari
sambil mengobrol, tiba-tiba budak ketjil mereka berdjalan
masuk dengan mengantarkan seorang tamu.

Hoa Hoa Pa 61
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Soehoe" kata dia, "ada tamu jang mengundjungimu!”


Poet tjie tong tjepat mengangkat kepalanja mengawasi,
ternjata orang itu berusia kira-kira duapuluh tudjuh duapuluh
delapan tahun, dan dari dandanannja dan tindakan kakinja,
tampaknja dia itu orang jang paham Boegee. dan rasanja ia
kenal pada orang itu, tetapi untuk sementara waktu ia lupa.
Orang itu ketika melihat Poet tjie tong tjepat madju
setindak kesebelah depan sambil memanggil, "Soepek!" dan
terus pay.
Tjie tong tjepet mengangkatnja bangun, dan keuka ia
memperhatikan lebih teliti muka orang itu, segera ia
mengeluarkan suara "Aja, kiranja engkau Yo hong Hiantit?
Angin apakah jang meniup engkau datang kesini? Dan
bagaimana engkau mengetahui aku tinggal disini?"
“Ja, Siauwtit benar Yo hong." sahut orang itu. “Oleh
karena aku mendapat kabar bahwa soepek tinggal disini, maka
aku sengadja datang mengundjungi."
Giok djie mengambilkan sebuah bangku, dan menjuruh
Yo hong berduduk djuga disitu buat mendjemur badan
dibawah sinar matahari itu.
“Apakah ini Soemoay, jang disebut orang Hoa hoa pa?"
Yo Hong bertanja ketika melihat Giok djie.
Giok djie djadi berubah merah paras mukanja,
Tetapi Poei tjie tong sendiri menghela napas. "Aku
sebenarnya paling takut ada orang jang iseng memberi gelar
kepada orang lain," katanja, Giok djie mengikut aku tinggal
disini, ia hanja pandai beberapa matjam ilmu melontjat tinggi
sadja, orang sudah lantas memberi dia gelar Hoa hoa pa.
sehingga membikin telinga telinga djadi kurang enak

Hoa Hoa Pa 62
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

mendengarnja. Terapi djustru kita tak bisa berbuat apa-apa


buat melaraag orang berbuat begitu, sungguh mengedja aku
djadi djengkel sendiri,"
“Tetapi itu baik sekali," kata Yo hong sambil tertawa, ..
Untung ada gelar Soemoay jang sangat bagus itu, jang
termasjhur diseluruh daerah Pang yang, maka Siauw tit
sesudah mentjari keterangan lantas menduga bahwa itu tentu
Soepek ajah-anak berdua, maka Siauwtit sengadja melalui
gunung datang kesini buat mengundjungi Soepek dan
Soemoay.”
“Melihat roman Hiantit waktu masuk kesini, rupanja
engkau ada mempunjai urusan apa-apa jang hendak
dibirjarakan dengan Lohoe, betul tidak?" kata Tjie tong.
“Soepek: benar-benar sangat teliti! belum apa-apa sudah
lantas bisa mengetahui makaud hati siauwtit." kata Yo Hong,
“Memang kedatangan siauwtit ini karena ada suatu hal jang
sulit, maka aku datang buat memohon bantuan Soepek. Maka
harap. Soepek suka memandang pada muka guruku almarhum,
bantulah Siauwtlt sekali ini, dan djangan sekali- kali menolak."
“Urusan apakah?' Tjie tong bertanja, "Dan apabila jang
dapat kuurus, masakah aku tak mau membantu kepada
engkau?"
“Begini.'' kata Yo Hong sambil mengbela napas,
“Semendjak Soehoe meninggal dunia, Siauwtit terus datang ke
distrik ini dan bekerdja sebagai pelindung gedung dari seorang
hartawan di sebelah luar pintu kota Pengyang sebelah utara.
Nama hartawan itu Kang pek ban.
Dia memperlakuken Siauwtit tjukup baik, maka Siauwtit
telah bekerdja terus sampai sudah tiga tahun dengan tak pernah
terdjadi perkara apa-apa. Tidak kira pada beberapa bulan ini

Hoa Hoa Pa 63
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

dipuntjak Bwee hoa hong telah bersarang segerombolan


pendjabat jang setiap bulan dua tiga kali tentu turun gunung
buat melakukan perampokan. Pada tiga hari jang lalu, tibalah
giliran mereka pada rumah keluarga Keng. Djika harta benda
jang dirampok, masih tidak mengapa, tetapi djustru jang paling
menggemaskan edalah madjikanku, Kang pek ban telah
ditjulik oleh mereka.
Siauwtit pada waktu itu karena tjuma sendirian sadja,
maka sudah tentu sadja kewalahan meladeni pendjahat jang
berdjumlah banyak itu. Apa mau, orang-orang dari keluarga
Kang, dari njonja rumah sampai sekalian budak-budak,
bukannja mejalahkan madjikanku jang mendjadi sangat
termashjur karena kekajaannja sehingga seolah-olah
memanggil pendjahat datang, sebaliknja pada menjalahkan
Siauwtit, dikatakan tidak berguna, Dengan sebentar-sebentar
menjindir, mereka mengatakan bahwa Siauwtit mendjadi
pelindung tjuma bisa gegares dan menerima gadji buta,
sedangkan madjikan sadja tidak sanggup Siauwtit lindungi.
Oleh karena itu hati Siauwtit djadi sangat tidak enak, dan
setelah berpikir-pikir, Siauwtit mengetahui bahwa perkara ini
selain meminta bantuan kepada Soepek dan Soemoay. Tetapi
Siauwtit tadinya tidak mengetahui tempat kediaman Soepek,
belakangan setelah mentjari- tjari keterangan dan mengetahui
Hoa hoa pa adalah seorang perempuan she Poet, jang mendjadi
Kauwsoe di Lim kee po. bersama seorang ajabnya, maka
Siauwtit datang kesini, dan makaudku tidak lain ialah
memohon supaja Soepek tolong mendajakan untuk menolong
Kang pek ban dari sarang pendjahat. agar Stauwtit bisa sedildt
mendjaga miuka.”

Hoa Hoa Pa 64
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Ob, kiranja begitu," kata Tjie tong. “Tetepi siapakah


kepala pendjahat di Bwee hoa hong itu, apakah engkau sudah
mengetabui atau belum
Yo Hong menganggukkan kepalanja.
"Sudah," sahutnja. .Jang memdjadi pemimpin pertama
adalah See been Hong bergelar It tiauw pian, jang mendjadi
pemimpin kedua bernama Koei poet peng bergelar Siauw lie
tjoan, jang ke tiga Mo tay hong bergelar Tia shoa tang,
sedangkan jang keempat Tjay hoa hong Pek giok song. Jang
mentjulik Kang pek ban adalah Tio shea tang Mo tay bouw itu.
Bangsat itu pandai sekah menggunakao golok Pokro dan
Siauwtit dikalahkan olehnja, sehingga hampir sadja djiwa
Siauweit tiwas. Apakah Soepek kenal salah seorang dari
mereka!”
“Orang-orang dari golongan belakaugan mana aku bisa
kenal?" sahut Tjie. tong.
"Soepek jang baik,” kata Yo hong.
“Asal engkau mau membantu Siauwtit dengan mengandal
pada gelarmu “Si matjan bersajap" dan gelar Soemoay “Si
matjan tutul" Jang sudah sangat termasjhur ke mana-mana, aku
tanggung mereka akan pada ketakutan! maka aku mengharap
sekali bantuan Soepek dan Soemoay dan mobon kamu sudi
naik kepuntjak Bwee hoa bong itu bersama sama Siauwnt buat
mendjumpakan para pendjabat tersebut."
Kemudian ia terns meadjura,
Tjie tong tiepat mengangkatnya bangun.
“Kita adaleh orang sendiri, tidak usah Hiantit berlaku
seedji." katanja.

Hoa Hoa Pa 65
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Gtok djie jang dari setadian mendengari penuturan,


tangannja djadi merasa gatal sekali dan ingin mentjoba
kepandaiaanja terhadap para pendjahat dan oleh karena kuatir
ajahnya tak mau meluluskan permintaan soehengnya, maka
tjepat ia mentjampur bitjara; “Soeheng, engkau djangan
berlaku seedji! Thia thia adalah orang jang. paling mengenal
giekhi. Djangan kata engkau, orang sendiri malah orang lain
jang tak dikenal djuga, apabila ada kesusahan apa-apa dan
meminta pertolongan kepadanya. ia tentu akan
meluluskannja.”
Kemudian ia menyambungi omongannja kepada Sang ajah
"Thia thia, hari ini udara saugat baik, marilah kita lekas-lekas
naik ke Bwee hoa hong buat mendjumpai para bangsat itu dan
mengukur tenaga dengan mereka!”
Tjie tong ketika melihat putrinja sudah berkata begitu,
sudah tentu sadja ia tak bisa menolak lagi permintaan Yo hong,
maka ia lantas berkata; "Hiantit dari sini ke Bwee hoa hong
benya 20 lie perdjalanan gunung. Sebentar sadja kita bisa tiba
disana, maka baik kita makan tegahari dahulu bersama-sama
disini, nanti sesudah mengaso. kita boleh berangkat, dan tidak
sampai djam 3 tentu kita sudah tiba ditempat tudjuan kita.”
Yo hong djadi merasa girang sekali,
Tjie tong terus menjuruh Giok djie menjiapkan alat-alat
sendjata jang biasa dipergunakannja.
Dengen gembira sekah Giok djie rerus berlari-lari masuk
kedalam kamar, untuk menjeka berulang-ulang golok Pokto
ajahnja dan golok Tay bwan to jang ia sendiri biasa memakai,
kemudian dari buntalan golok ia mengambil kantong piauw,
dan memilih beberapa batang piauw jang paling baik, terus ia

Hoa Hoa Pa 66
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

berdandan dengan pakaian jang ringkas, dan menukar sepasang


sepatujang biasa dipakai untuk berdjalaa didaerah pegunungan.
Setelah segala apa selesai, mereka tinggal menunggu
waktu buat makan, buat kemudian berangkat sesudah makan
itu.
Adapun beberapa Hohan dari Bwee hoa hong itu asalnja
adalah turunan segala bangsa begal didjaman achir keradjaan
Beng. Leluhur mereka asalnja memang pendjahat, ajah mereka
pendjahat djuga maka mereka semua telah mendjadi pendjahat
turun temurun, hingga boleh dikatakan bahwa mereka itu
ahlinya daripada sekalian pendjahat.
Soe boen liong, Koei poet peng, Mo tay houw dan Pek
giok song, berempat orang adalah saudara angkat. Ajah mereka
dahulunja djuga saudara angkat djuga, begitupun leluhur
mereka.
Seperti djuga leluhurnja, merekapun semendjak dilahirkan
sampai mendjadi besar selalu tinggal bersama sama dengan
penuh keakuran.
Mereka sebenarnja tadinja mendjadi penjamun di
Shoatang, tetapi karena sarang mereka dipropinsi tersebut telah
berkali-kali diubrak-abrik oleh tentara negeri jang dipimpin
oleh seorang pandai, maka mereka terpaksa melarikan diri ke
Shoasay, dan menduduki puntjak Bwee hoa hong itu didistrik
Pengyang dan mendjadikaunja puntjak gunung tersebut
sebagai sarangnja jang baru.
Liauwlo-liauwlo jang dibawa mereka beserta orang-orang
jang mengikut dari sepandiang djalan jang djauh itu,
seluruhnja berdjumlah lima ratusan orang.

Hoa Hoa Pa 67
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tetapi karena baru sekali datang ketempat itu maka sudah


tentu sadja mereka sangat kekurangan uang buat membiajai
segala kebutuhan mereka sehari-hari, sedangkan buat masuk
kedalam kota, mereka tidak berani, maka terpaksa mereka
hanja merampok dikampung-kampung sadja dan beberapa
tempat dipinggir kota.
Telah beberapa bulan mereka mendjalankan
kedjahataonja, dengan hasil jang tjukup memuaskan maka
mereka sudah dapat mendirikan bangunan-bangunan dipuntjak
gunung itu.
Hanja rumah papan jang beratapkan alang-alang sadja
sudah ada 5 - 60 buah, sedangkan dibagian pusatnja didirikan
sebuah ruangan jang dinamakan “Tiong gie tong"' jang
dibuatnja sangat besar dan mentereng, dan didjalan djalan jang
penting buat naik keatas puntjak gunnng itu dibuatkan pagar
dan pintu jang kokoh dengan didjagai oleh para tbauwbak jang
berkepandaian silat lumajan.
Kang pek ban jang mereka tjulik beberapa hari jang lalu
itu, mereka perlakukan sebaik baiknja dengan diberikan arak
dan daging jang enak, karena mereka menghendaki Kang pek
ban menulis seputjuk surat untuk orang keluarganja, supaja
mereka mau mengeluarkan uang jang berdjumlah besar buat
menebus dirinja.
Tidak dikira, Kang pek ban itu bukan main pelitnja dan
djika orang menginginkan uangnja, lebih sukar lagi daripada
menginginkan sepotong dagingnja sendiri.
Tidak perdah Soe boen liong sekalian mempergunakan
tipu muslihat apa djuga, Kang pek ban tetap membantab
dengan tak mempedulikan keselamatan djiwanja sendiri, tak
mau menulis surat buat menjuruh orang menebus dirinja.

Hoa Hoa Pa 68
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Hingga menemui orang jang sematjam dia itu, para


pendjahat djadi pada tidak berdaja.
Terpaksa Kang pek ban dikeram sadja untuk sementara
waktu, sembari dilain fihak mereka hendak mengirim lagi Mo
tay houw buat menggertak famili Kang pek ban.
Tetapi ketika makaud itu masih dalam perundingan, tiba-
tiba datang liauwlo jang melaporkan kedatangaonja tiga orang
jang ingin berdjumpa dengan Tjeetjee.
Soe boen liong menduga bahwa mereka itu tentunja orang-
orang pesuruh dari famili Kang pek ban, maka ia djadi sangat
girang sekali, tjepat ia menjuruh liauwlo-liauwlo buat
mengundang ketiga orang itu masuk kedalam, sedangkan ia
sendiri terus kekamarnja sendiri buat menukar pakaian.
Kemudian mereka menantikan kedatangan ketiga orang itu
diruangan Tiong gie tong dengan berpakai pakaian serba
ringkas dan membekal alat sendjatanja masing-masing.
Ketika ketiga orang tamu itu menindak mesuk kedalam
ruangan Tiong gie tong, Mo tay bouw jang bermata tadjam
segera mengenali diantara ketiga orang itu, seorang antaranja
adalah seorang “kawan lama" jang sudah pernah bertanding
dengan dia, ketika ia sedang merampok dirumah Kang pek
ban.
Oleh karena melihat seorang orang tua dan seorang gadis
tjaotik jang turut serta lawan itu pada ikat pinggengnja masing-
masing tergantung sebuah golok, maka ia segera mengerti
mereka masing-masing tentu pandai ilmu silat, sebab djika
tidak demikian pasti mereka tidak berani datang kesitu, maka
iapun tidak berani memandang rendah kepada orang-orang itu,
tjepat ia madju kesebelah depan sambil menjodja kedjurusan
ketiga orang itu sebagai tanda pemberian hormatnja.

Hoa Hoa Pa 69
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Kawan! apakah engkau hendak menengoki Kang lodji?"


ia bertenja kepada Yo hong.
“Betul!” sahut Yo hong sambil menganggukkan kepalanja.
“Hendak menengoki Kang lodji, toch tjukup engkau
seorang, mengapa engkau mengadjak djuga dua orang itu?
apakah mereka familie keluarga Kang?" ia bertanja lagi.
Mendingar Mo tay houw bertanja demikian, Poei tjie tong
tiba-tiba membuka mulut : “Siapakah nama sobat?"
Mo tay houw bersenjum.
Aku? Jang orang sebut Tin shoa tang Mo tay houw, itulah
bukan lain daripada aku sendiri!” demikian djawabnja.
Tjie tong tertawa gelak-gelak.
“Tuan benar-benar seorang Hohan! Djagoan dari Shoatang
sekarang hendak mendjagoi di Shoasay! Sungguh orang-orang
muda boleh dibuat kagum! Lohoe ternjata sudah sangat tidak
berguna, sehingga ada mata tak bisa mengenali tuan!” katanja.
“Siapa nama tuan?" Mo tay houw bertanja,
“Aku, situa bangka jang sudah tidak berguna ini she Poei
bernama Tjie tong," sabut Tjie tong
“Pada bebrapa puluh tahun jang lalu, namaku dikalangan
Kang ouw diketahui djuga dan mempunjai sebuah gelar, jaitu
Siang ek houw atau Harimau bersajap",
––––––––

(bersambung ke Djilid 2)

Hoa Hoa Pa 70