Anda di halaman 1dari 72

Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.

com

Hoa Hoa Pa 1
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

HOA HOA PA
[SI MATJAN TUTUL]

Oleh:
Kiang Hong Hoey & Kiang Hiap Hoen

Dituturkan oleh :
BOE BENG SAN DJIN

Djilid : 1

Gambar-gambar oleh :
Bong Tiong Hiap

Penerbit:
“BOE HIAP"
TASIKMALAJA.

Convert, edit & pdf : Goldy Senior

Pertj. “Soekapoera" Tasikmalaja.

Hoa Hoa Pa 2
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

KABAR PENERBIT

Pada nomor jang lalu, tjeritera “SAM TEK HO SIANG"


telah sampai pada achirnya, sunggupun kami merasa girang
sekali, bahwa tjerita jang baru dimuat tamat itu telah dapatkan
sambutan hangat dari para pembatjanja, maka untuk mana, tak
lupa kamipun mengutjap banjak terima kaslh.
Banjak pembatja menanjakan, apakah tjerita Sam Tek Ho
Siang itu masih ada sambungannja ataukah tidak? Maka
dengan ini kami djelaskan, bahwa tjerita tersebut memang
masih ada sambungannya, berupa tjerita “Ang Hie Koan Tay
Lo Go Bie San”.
Tjerita ini, sebenarnya akan kami muatkan sesudahnja
tjerita Sam Tek Hosiang berachir, akan retapi karena' belum
lengkapnja copy tjerita tersebut pada kami, maka terpaksa
kami muatkan tjerita selingan berupa tjerita “HOA HOA PA''.
Hendaknja para pembatja jang berkepentingan mendapat
maklum adanja.
Dan pula, karena tidak keburunja membuat Klise untuk
tjerita jang dimuat ini, maka terpaksa kami pergunakan pula
Klise darurat, harap para pembatja dapat maklum dan maafkan
adanja.

Penerbit.

Hoa Hoa Pa 3
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

HOA HOA PA
oleh:
Kiang Hong Hoey & Kiang Hiap Hoen
Dituturkan oleh :
BOE BENG SAN DJIN

DJILID KE 2
–––––––––––

KEMUDIAN ia menundjuk pada Giok Djie .


“Inilah puteriku, Poei giok djie, jang pada baru-baru ini
memperoleh sebuah gelar, jaitu Hoa hoa pa atau si Matjan

Hoa Hoa Pa 4
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tutul." katanja, “Kami ajah-anak dengan keluarga Kang tidak


mempunyai sangkutan apa-apa, tetapi Yo hong ini adalah
murid dari Soeteeku, dan dia mentjari sesuap nasi dengan
djalan bekerdja sebagai pelindung gedung keluarga Kang.
Tidak dikira Tjiongwie Hohan telah meutjulik Keng pek
ban kerempat ini, dengan demikian, bukankah mangok nasi
Soetitku mendjadi petjah oleh perbuatan Tjongwie itu? oleh
karena itu djuga, maka loohoe sengadja datang mengundjungi
kesini dan sudilah kiranja Tjengwie Hohan memandang pada
mukaku jang tipis dan menjerahkan kembali Pang pek ban
kepada Yo hong, kemudian kita mengikat persahabatan sebaik-
baiknja. Entah pikiran Tjongwie bagaimana?”
Toa tjeetjoe Soe boen liong ketika mendengar gadis itu
bukan lain daripada Hoa hoa pa jang namanja sangat
dimashjuri orang, apalagi Poei tjie tong mengaku sebagai
Siang ek houw jang pada tahun dahulu namanja sangat
dimashjuri orang, maka diam-diam ia djadi terkejut.
Waktu ia hendak madju buat berbitjara, Siauw lie tjoan
Koei poet peng jang beradat berangasan ketika mendengar
omongan Poei tjie tong jang begitu rupa, seolah-olah tidak
memandang mata sama sekali terhadap mereka, maka ia djadi
sangat gusar.
Dengan suara keras ia berkata: “Sobat dari kalangan Kang-
ouw harus mengenal aturan sebagaimana mestinja! Orang
seperti engkau jang sudah dekat masuk kedalam peti mati,
tetapi masih hendak berlaku sombong karena mengandal
bahwa dirimu sudah kawakan? Sungguh engkau sangat tak
tahu malu! Ajuh lekas mari sini! Kamu hendak bersobat
dengan kamipun tidak apa. mari kita bertarung dahulu barang
beberapa ratus gebrakan, apabila kamu dapat mengalahkan

Hoa Hoa Pa 5
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

kami, baru kamu boleh membawa si tua bangka she Kang


pulang dengan tak usah membajar tebusan apa-apa!”
Setelah berkata begitu, siang-siang ia sudah berlompat ke
tengah lapangan jang letaknja disebelah ruangan Tiong gie
tong itu sambil menghunus goloknja.
Giok djiepun mendjadi gusar sekali, “srett” golok Tay
hoan to-nja terus ditjabut keluar dari sarungnja dan dengan
mempergunakan djurus “burung walet menerobosi hutan” ia
terus melesat keluar Tiong Gie tong dengan kecepatan dan
keentengan badan seolah-olah burung terbang.
“Bangsat! Engkau djangan sombong! kenalkan Hoa hoa pa
disini!” ia membentak dengan suara njaring.
Kemudian ia memutar goloknja begitu kentjang seolah-
olah kitiran, terus menjerbu ke djurusan Koei poet peng.
Koei poet peng buru-buru mundur dua tindak kesebelah
belakang dan menangkis serangan itu dengan golok Pokto-nja.
Tetapi Poei giok djie tak memberikan kesempatan barang
sedikit kepada pendjahat jang sombong itu, ia terus sadja
merangsek dengan serunja. Dengan bajangan goloknja seolah-
olah menjambar dari segala djurusan.
Tak berseleng beberapa lama, maka Koei poet penglihatan
mendjahat kabur dan permainan gololrnja mendjadi kalut, dan
perlahan-lanan ia terdesak mundur.
Melihat kawannja segera akan kena dikalahkan, maka Mo
tay houw djadi sangat guguup, tjepat ia membuka djubah
luarnja, dengan tangan menghunus golok, tjepat ia lontjat
kedalam kalangan pertempuran, terus menjabet Giok djie
dengan goloknja melalui tiga djurusan.

Hoa Hoa Pa 6
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tetapi Giok djie dengan enteng sadja mengendjotkan


kedua kakinja keatas, sekedjap sadja ia sudah berd:ri tegak
dengan sebelah kaki dipidjakkan dipunrjak tiang beudera
didepan mu lut pintu ruangan Tiong gie tong ini.
Poei tile tong ketika melihat demikian djadi sangat gusar.
"Dua orang laki-laki hendak mangerubuti seorang
perempuan?! Sekarang aku hendek mengedja kamu berkenalan
dengan sobat jang sudah dekat masuk kedalam peti mati ini,
apakah kalah atau tidak djika dibandingkan dengan kamu!" ia
berseru.
Setelah berseru begitu, sambil menenteng goloknja ia
berdjalan keluar dari Tiong gie tong dan menudingkan
goloknja kedjurusan Mo tay houw.
“Aku mengetahui kamu mempergunahm golok Pokro,
sedangkan akupun mempergunakan golok seperti itu diuga,
maka sekarang marilah kita menetapkan siapa jang lebih
unggul dalam permainan ini?!” katanja,
“Djangan baniak batjot ! Makanlah golokku?''
Mo tay houw membentak, sembari berbareng terus
menebaes batang leher Poei tjie tong.
Poei Tjie tong tjepat memiringkan kepalanja sambil
berdjongkok sedikit, kemudian dengan ketjepatan luar biasa ia
terus membatjok pinggang Mo tay houw.
Mo toy houw tjepat mempergunakan goloknja
mengibassan serangan itu, sambil meneruskan goloknja
memapas dengkul kaki Poei Tiie tong.
Empe she Poei itu tjepat mentjolot keudara dan turun
sebelah belakang lawannja, sambil berbareng mempergunakan

Hoa Hoa Pa 7
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

belakang goloknja mengetuk dengan pelahan belakang tekukan


kaki saug lawan, maka Mo tay houw tak dapat berdiri tetap.
terus djatuh meloso dan bertelungkup diatas tanah.
Waktu Phoei tong hendak meninggalkan lawannja jang
sudah dirobobkaonja itu, tiba-tiba si mata satu Koei poet peng
dari sebelah belakangnja menjabet pinggangnja dengan
goloknja, Tije tong tjepat berkelit sambil terus mengirim
sebuah tendangan jang telah mengenakan betis kaki si mata
satu itu, maka tak ampun lagi Koei poet pengpun djatuh
terguling diatas tanah.
Poei giok djie dari puntjak tiang bendera ketika melihat
demikian, segera djuga tertawa besar sambil menepuk nepuk
tangan, sehingga mengedja Mo tay huow dan Koei poet peng
djadi sangat malu sehingga selebar mukanja berubah merah.
Diusrru mereka tak dapat tjepat-tjepat bangun, maka Poei
tjie tong dengan tertawa berkakakan tjepat mengangkat kedua
orang itu berbangkit, dan memimpin kedua orang jang djalan
terpintjang-pintjang itu.
Giok djie kemudian tjepat berlompat turun dari puntiak
tiang bendera, sedangkan Soe beng Hong lantas mengundang
mereka ajah anak berdua masuk lagi kedalam ruangan Tiong
gie tong.
Mo tay houw dan Keei poet peng dengan kemalu-maluan
terns masuk kedalam dengan tak tertampak lagi.
Yo hong dari samping jang melihat kedjadian barusan,
tidak terasa lagi hatinja djadi sangat girang.
Diam-diam ia memudii kepandaian silat Poei giok djie dan
Poet tjie tong terutama ilmu mengentengkan badannja,

Hoa Hoa Pa 8
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

sungguh tidak malu mereka mendapat gelar “Simatjan tutul"


dan “Simatjan bersajap."

Soei boen liong tjepat menjilakan kedua tamunja


berduduk, kemudian Tjie tong jang mulai berkata : Teetjoe
bernama apa?"
“Lo enghiong!" sahut Soe boen liong, "Nama siauwtee Soe
boen liong! Dan orang dikalangan Kang-ouw memberi aku
gelar It tiauw pian, sedangkan jang bermata satu tadi adalah
djieteku jang bergelar “Lie tjoan (Lie tjoe seng) ketjil”
bernama Koei poet peng. Jang satunja adalah Mo tay houw dan
ada lagi seorang Sieteeku seorang she Pek jang sedang
bepergian ketempat lain dan belum pulang. Perbuatan kedua
adikku jang ceroboh itu terhadap Loenghiong dan lengay
berdua, sungguh membuat siauwtee mendjadi teramat malu,
maka siauwtee sekarang berharap supaya Lo-enghiong supaya
suka memberi maaf kepada mereka.”
Tjie tong tjepat berkata sambil tertawa ; “Apabila tidak
berkelahi tentulah kita tidak kenal. Memang Hoaan dikalangan
Kang-ouw mesti main golok dahulu, barulah bisa mendjadi
sobat! Buat perbuatanku jang tjeroboh tadi, akupun memohon
Tjee tjoe supaja djangan menaruh hati terhadap itu. hanya
Kang pek ban itu, haraplah Tjeetjoe suka memandang muka
Lohoe jang tipis, lepaskanlah ia pulang. Apabila diwaktu
menghadapi tahun baru ini tjetjoe mengalami kesukaran apa-
apa, biar nanti Lohoe damaikan dengan tuan Kang. Dan
sekarang marilah kita mengikat persobatan. Bagaimana pikiran
Tjeetjoe?”
Soe been liong sudah tentu sadja tak berani membantah
apa-apa, dan berulang-ulang ia menjatakan baik.

Hoa Hoa Pa 9
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Kemudian ia terus memerintahkan thauwbaknja


memimpin Kang pek ban keluar dari tempat tahanannja.
Tjie tong lalu mengewasi orang hartawan she Kang itu,
jang ternjta sudah kurang lebih berumur enam puluh tahun,
Tubuhnja gemuk, tetapi kulitnja putih bersih, itulah memang
roman jang biasa dari seorang hartawan.
Ketika tiba didepan Soe boen liong, Kang pek ban segera
memanggil “Tay ong" dan membeei hormat.
Soe boen liong tjepat menjilakan Kmg pek ban berduduk
disitu.
Sementara itu, Yo hong segera berdjalan menghampiri
sambil memanggil “Tong-ong” kepada madjikannja itu.
Melihat Yo hong ada disitu, Keng pek ban diam-diam
djadi girang. Segera ia berkata: “Yo hong ko, engkau bekerdja
dirumahku sudah tjukup lama bukan? Tentu engkau sydah
mengetahui sampai baik bagaimana keadaan rumah tanggaku,
betul tidak? aku hanja diluaran sadja termashjur banjak uang,
padahal didalam kosong melompong, tak mempunjai barang
berharga barang sedikit, benarkan? Maka Tay-ong ini hendak
menjuruh aku menulis surat buat meminta uang ke rumahku,
bukankah seolah-olah orang memeras ampas buat memperoleh
minjak! Tjobalah (sambil menoleh pada Soe bun liong) Tay-
ong tanjakan kepada orang she Yo ini, tentu Tay-ong bisa
lantas mengetahui bahwa Lohan bukannja berlagak miskin
didepan Tay-ong!”
Soe bun liong hanya bersenjum-senjum, sambil melirik
pada Poei tjie tong.
Tjie tong tjepat berkata pada Kang pek ban:

Hoa Hoa Pa 10
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Lo sianseng, aku karena memandang muka Soeteeku. Yo


hong, maka sengadja aku dan putriku datang kesini, dengan
sangat telah memobon kepada tjeetjoe disini supaja engkau Lo-
sianseng di idjiokan pulang kerumah. Untung tjeetjoe
memandang djuga muka Lahoe jang tipis, maka dia sudah
melulusi buat melepeskan Lo sian seng pulang.''
Mendengar demikian, Kang pek ban sudah tentu sadja
kegirangannja bukan main besarnja, buru-buru ia
menghaturkan terima kasih kepade Poet tjoe tong ajah dan
putri.
Tjoe tong tjepat berkata lagi: “Tetapi Lo sian-seng setelah
datang ketempat ini. maka djangan pulang dengan tangan
kosong sadja! Sedikit banjak engkau mesti mengeluarkan
“uang kopi" para liauwlo ditempat ini, agar dihari kemudian
kita bisa berhubungan kesegala fihak dengan keadaan baik dan
damai. Bagaimana pikiran Lo sian seng?"
Tetapi Kang pek ban tak meladeni omongan itu, sebaliknja
ia terus bertanja : “Siapakah tuan?''
“Lo hoe adalah sobat Lim soe beng dari Lim-kee po, jang
sekarang mendjadi Kauwsoe dikampung itu. Lohoe she Poei
bernama Tjie tong.'' sahut Tjie tong. “Adapun guru Yo hong
mendjadi Soeteeku. Oleh karena dia adalah murid saudara
seperguruanku sendiri, maka bagaimana dia sedang kesusahan
aku hendak datang membantunja. Sekarang segala perkara
sudah beres, maka aku harap supaia Lo sianseng suka berlaku
murah hati sedikit, supaja djangan menjukarkan Lohoe
terhadap tjeetjoe di gunung ini.”
Kang pek beng ketika mendengar dirinja mau dlsuruh
menceluarkan uang, ia hanja menundukkan kepalanja sadja,
dengan tak mengutjapkan barang sepatah kata.

Hoa Hoa Pa 11
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Achirnja Giok djie djadi sangat marah, tiba-tiba ia bangkit


dari tempat duduknja, dan terus menieret Tjie tong berlalu
sambil menggerutu dengan suara keras: “Iblis kikir sematjam
begitu sebenarnja pantas diberikan persenan golok tadjam!
Thia-thia, marilah kita pulang sadja, djangan mempedulikan
lagi urusannja!”
Yo hong ketika melihat hal itu, telah mendjadi sangat
terkedjut, buru-buru ia menahan kepergian kedua orang itu,
kemudian sambil meringis-ringis ia berkata dengan separo
meratap kepada Kang pek ban : “Oh, Tong-ongku jang baik!
berlakulah murah hati sekali ini! supekku dan Soemoayku buat
guna engkau telah bertarung sampai setengah hari lamanja
dengan Djie tjeetoe dan Samtjeetoe! Entah berapa banjak
keringat jang mereka keluarkan buat guna engkau! Maka
mengapakah engkau tidak mengenal gelagat barang sedikit?
Sehingga mengedja Soemoayky mendjadi gusar? Habis
bagaimana aku bisa merasa enak hati terhadap mereka?”
Kang pek ban ketika melihat Yo hong sudah mendjadi
begitu gugup sehingga hampir menangis, maka terpaksa
“sepotong daging” nja mesti dikerat sedikit.
Setelah ia berpikir-pikir lagi sampai lama sekali, barulah ia
menjatakan bahwa ia suka mengeluarkan uang sebanjak
seratus tail perak jang nanti akan disuruh hantarkan oleh Yo
hong, setelah ia (Kang pek boan) sudah dilepaskan pulang.
Tjie tong segera tertawa berkakakan.
“Lo sianseng! Engkau sungguh “budiman” sekali, memang
kalau seratus tail perak ditukarkan dengan uang tembaga
semua mungkin seorang orang pun tak kuat mengangkatnja!”
katanja dengan menjindir.

Hoa Hoa Pa 12
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Apabila Lo sianseng tidak suka mengeluarkan uang,


boleh kau katakan sadja terus terang! Sebab aku mengetahui
sampai baik bahwa hohan dari kalangan liok-lim, pasti tidak
memandang sebelah mata, uang sebanjak seratus tail perak itu!
dan sekarang, oleh karena Toa tjeetjoe sudah mengatakan
sendiri buat melepaskan engkau pulang, maka, maka taro kata
engkau tak keluar uang barang sepeserpun tidak nanti engkau
ditahan terus! tetapi, lain kali apabila terdjadi lagi kesusahan
apa-apa jang menimpa pada dirimu, aku kuatir tidak bakal ada
orang jang sudi membudakkan diri lagi untuk kepentinganmu!
Mungkin nanti engkau bakal merasakan putihnja golok badja
buat dibandingkan dengan enaknya rasa uang emas dan perak!
Hahahaha! Sungguh tidak kunjana di dunia ini ada manusia
dogol jang lebih mengutamakan uang daripada djiwa sendiri!
Yo hong hiantit! Pergilah engkau kawani Lo sianseng!”
Kemudian ia menjodja kepada Soe boen liong dan berkata:
“Tjeetjoe, segala sesuatu jang terdjasi dihari ini, harap tjeetjoe
suka memandang muka Lohoe. Nanti sadja lain kali kita
berdjumpa kembali.”
Soe boen liong djuga tjepat membalas menjodja sambil
berkata: “Lo-enghiong! Aku hari ini dapat berdjumpa dengan
o-enghiong, itulah merupakan suatu keberuntungan jang sangat
besar bagiku! Segala pesan Lo-enghiong tentu akan siauwtee
turuti semua! Dan sekarang siauwtee menjilakan Yo hong
menghantarkan Kong Lodjin pulang kerumahnja.”
Poei tjie tong tjepat menghaturkan terima kasih, kemudian
ia menjuruh Giok djie membawa goloknja sendiri terus
berpamitan pulang.
Kang pek ban dan Yo hong djuga buru-buru mengikuti
turun gunung.

Hoa Hoa Pa 13
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Soe boen liong terus mengantarkan sampai keluar dari


pintu pendjagaan jang dipasang ditengah perdjalanan, baru
kemudian ia balik lagi ke ruangan Tiong gie tong dan disitu ia
melihat Koei poet peng dan Mo tay houw dengan roman murka
dan uring-uringan sedang berduduk diatas kursi.
Ketika melihat Soe boen liong balik lagi, Mo tay houw
dengan suara keras terus berkata: “Toako! Mengapa engkau
menonton sadja kami berkelahi, dan bukannja membantui
dengan sendjata pianmu? Apakah sebabnja?”
Soe boen liong tersenjum.
“Hiantee, kamu djangan marah, dengarkan dahulu
omonganku ini,” katanja dengan roman sabar. “Orang she Poie
jang bergelar “Siang-ek-houw” itu, waktu kanda masih ketjil,
sudah pernah mendengar namanja jang sangat termashjur
dikalangan Kang-ouw dan Boegenja lihay sekali. apabila sietee
ada disini, baru kita boleh bertanding dengan mereka. Tetapi
kalau hanja kita sadja, taro kata kanda membantu djiewie
hiantee berkelahi djuga, tentu kita bakal mengalami kekalahan!
Oleh karena itu, maka kanda lantas mengarti gelagat, dan
biarpun hati mendongkol, tetapi perasaan itu tinggal kanda
tahan sadja didalam hati. Djiewie tadi melakukan perbuatan
jang sangat tjeroboh! Tjoba kamu pikir sadja, kanda sendiri
tidak berani bertanding dengan mereka, engkau berlaku begitu
tjeroboh, hingga seolah-olah engkau mentjari malu sendiri!”
Kedua orang ketika mendengar omongan itu, djadi sangat
gusar sekali.
––––––––

Hoa Hoa Pa 14
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

BAB V

DENGAN mata masing-masing dideletkan besar-besar.


kedua duanja lalu berkata dengan suara jang hampir berbareng:
“Toako! mengapakah engkau meninggi-ninggikan deradiat
orang lain, sebaliknja menghinakan fihak kita sendiri, dan kau
angkat-angkat situa-bangka she Phoei itu sempai keawang
awang, sedangkan saudara sendiri kau tidak pandang barang
sepeser! Sungguh menggelikan sekali, engkau membiarkan
sadja Kang pek ban pulang dengan tak mau ditjabut barang
selembar bulunjapun, oleh karena ketakutau terhadap
tuabangka she Poei?! Toako! apakah kita masih ada muka buat
bersarang lebih lama dipuntjak gunung ini? Apakah djika hal
ini ketahuan oleh sobat-sobat dari kalangan Kang-ouw tak
membikin mereka tertawa sampai giginja tjopor?”
Soe been liong menghela napas.
"Hiantee, aku barap engkau djangan menjesalkan kanda!”
katanja, “Bukankah pepatah kuno ada jang berbunji begini :
“Siapa-siapa jang mengetahui kekuatan di fihak seudiri dan
dtfihak musuh, pasti bakal menang dalam setiap kali
pertempuran, apabila kita pintar melihat gelagat?" Maka itu,
sebelum berrempur kita sudah mesti, mengira-ngira dahulu
berapa tingginja kemampuan kita sendiri, dan apakah kita
menaksir atau tidak buat bisa mengalahkan orang lain? Apabila
orang lain kepandaiannja lebih tinggi daripada aku, buat apa
aku mesti turun taugan djuga, jang akibatnja tentu bakal
memalukan diriku seudiri! Diangan kata baru Kang pek ban
jang mereka bawa, malah taro kata mereka mengamuk dan

Hoa Hoa Pa 15
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

membakar pesanggrahan kita disini dan membunuh-bunuhi


kita, toch kita tak dapat berbuat apa-apa buat melawannja!
Maka itu, Hiantee, kamu mesti mengerti orang jang pandai
melihat gelegat barulah dapat dikatakan orang tjerdik, Tjoba
djika kanda berbuat seperti kamu djuga, bagaimaoa akibatnja
nanti?”
“Tetapi, apakah kita mesti membiarkan sadja sakit hati itu
tak terbalas?” Koei poet peng bertanja dengan hati tetap
mendongkol,
“Sudah tentu kita mesti berdaja perlehan-lahan,: kata Soe
boen liong. “Dan kita mesti menantikan lebih dahulu pulangnja
Sietee, baru kita mentjari daja lebih djauh. Sekarang aku
menasehati djiewie hiantee, supaja sekali-kali djangan berkalu
tjeroboh, agar tidak samoai menerbitkan kekeliruan sekali lagi!
Sabarlah sedikit dalam urusan ini!”
Setelah berkata begitu, barulah kedua orang tak berkata-
kata lagi.
––––––––

Sekarang kita menilik Kang pek bao jang meninggalkan


“mulut matjan" itu.
Dalam hati hartawan muris itu bukan main girangnja,
karena ia dilepaskan dengan begitu sadja. dengan tanpa ia
mesti keluar uang barang sepeserpun.
Dengan dipimpin oleh Yo hong, setindak demi setindak ia
berdjalan turun kebawah gunung.
Poei tjie tong dan Giok djie berdjalan dengan perlahan-
lahan disebelah belakang, sambil melihat lihat pemaudangan

Hoa Hoa Pa 16
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

disepandjang djalan untuk menjenangkan hati mereka jang


penuh kemendongkolan.

Setelah mereka melalui beberapa buah bukit ketjil, tibalah


mereka sudah pada djalan jang bertjagak tiga.
Poei tjie toog ajah anak adalah mengambil djalan jang ke
Utara, sedangkan Kang pek ban dan Yo hong mengambil
djalan jang menudju ke Selatan.
Yo hong tjepat mewakili Kang pek ban mengutjapkan
terima kasih sampai berulang-ulang kepada Poei tjie tong ajah
anak, baru kemudian mereka berpisahan.
Poei tjie tong berdua setelah berpisah dengan kedua orang
segera mereka mempertjepat tindakan kakinja dan seolah-olah
terbang tjepatnja mereka berdjalan ke djurusan Lim kee po.
Ketika mereka tiba di kelenteng leluhur tempat tinggalnja,
hari masih belum gelap.
Dilain pihak Kang pek ban jang biasa hidup senang, dan
pekerdjaannja tak lain terlentang sadja setiap hari diatas kursi
malas, sudah tentu sadia tak dapat berdjalan tjepat-tjepat, maka
tidak heran bersama sama Yo hong mereka baru tiba dirumah
sesudah kentongaa pertama dibunjikan.
Pendjaga pintu ketika melihat madjikannja pulang, seolah
olah terbang tjepatuja terus melaporkan kabar girang itu
kenada orang sedalam rumah, maka sekedjap sadja dalam
gedung mendjadi terang temerang dengan lampu teng jang
besar-besar.
Istri dan gundik-gundik Kang pek ban. beserta putrinja
jang bernama Kang khim hoa. begitu djuga segenap budak-

Hoa Hoa Pa 17
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

budaknja laki-laki dan perempuan segera berlomba-lombaan


keluar mengerumuni Kang pek ban, dan terus mengiringkannja
masuk.
Yo hong sendiri terus pulang kekamarnja buat mentjutji
muka dan tjutji kaki.
Setelah ia bersantap malam, ia segera berpikir, bahwa hal
ini apabila ia tidak meminta pertolongan kepada sang Soepek
dan Soemoay tentulah sang tjoedjin tak bakal bisa pulang,
maka sudah sepantasnja sang tjoedjin menghantarkan barang
hadiah untuk mereka jang sudah membuang banjak tenaga buat
menolongnja.
Tetapi ketika ia ingat pada madjikannja jang begitu pelit
luar biasa, hingga kata jang bobong “tak mau diminta selembar
rambutnjapun”, ia segera mendjadi djengkel sekali.
“Biarlah sebentar lagi aku tjoba sadja, bagaimana sikapnja
nanti?” begitu Yo hong achirnya berkata seorang diri dalam
hatinja.
Maka setelah ia mengaso sebentar, ia terus keluar dari
kamarnja, dan setelah mendapat keterangan bahwa sang
madjikan sekarang ada didalam kamar Toa nay-nay, oleh
karena Yo hong adalah terhitung orang kepertjajaan Kang pek
ban dan sudah biasa keluar masuk dalam kamar-kamar
diseluruh gedung itu, maka Yo hong pun berdjalan terus
kedalam.
Setibanja dikamar dalam, kebetulan Toa nay-nay seddang
pergi keluar buat membuatkan Djin-som-thung untuk Kang
pek ban minum, maka dalam kamar hanja ada kang pek ban
seorang diri jang sedang berduduk sambil menghadapi
perapian.

Hoa Hoa Pa 18
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Melihat pegawainja datang, Kang pek ban lalu menyuruh


Yo hong duduk disisi perapian dan sesudah duduk, Yo hong
segera berkata: Tong ong! Supekku dan Sumoayku itu jang
sudah keluar tenaga begitu banjak buat menolong Tong ong
hendak memberikan hadiah apa kepada mereka, sebagai tanda
terima kasih Tong ong?”
Kang pek ban tertjengang.
“Bukankah mereka engkau sendiri jang mengundangnja?
Mengapakah mesti aku jang mengeluarkan hadiah untuk
mereka?” ia balik bertanja.
Yo hong melongo ketika madjikan muris itu bertanja
begitu.
“Tong ong mengapa engkau berkata begitu? Apakah kau
kira djika tidak aku jang mengundang, mereka mau menolong
engkau dari sarang matjan?” katanja dengan perasaan
mendongkol.
“Apa katamu?? Habis aku mempekerdjakan engkau disini,
buat apakah gunanja? sampaipun seorang orangpun tak dapat
kaulindungi? Apakah engkau tak malu sebagai seorang Boesoe
begitu tak berguna? Tentang Soepekmu itu, aku dengan dia
sama sekali tidek kenal, maka siapa suruh dia mau menoloog
kepada aku? Kapan dia dengan engkau mempunyai
perhubungan baik, maka memandang pada mukamu, pasti dia
tidak mengingini engkau keluar uang barang sepeser! Pergiah
kau pulang kekamarmu buat tidur! Jangan memusingkan lagi
soal ini!”
Dengan uring-uringan Yo hong berbangkit dan berdjalan
keluar balik lagi kedalam kamarnja sendiri.

Hoa Hoa Pa 19
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Sambil menelentangkan diri diatas pembaringan, ia


berpikir terus dengan perasaan mendongkol sekali.
Setelah ia berpikir-pikir beberapa saat alamanja, tiba-tiba
ia menepuk pahanja sendiri dengan keras dan terlihatlah ia
bersenjum-senjum tak lama kemudian iapun tidur pulas.
Pada esok paginja, segera ia pergi menghadap Sam nay-
nay buat mengadukan hal ini.
Ternjata Sam nay-nay tak senang dengan perbuatan Kang
pek ban jang terlalu muris itu, maka tjepat ia menjuruh budak
perempuannja mengundang Kang pek ban datang kekamarnja.
Mendengar Sam nay-nay mengundang dirinja, maka Kang
pek ban tampaknja girang hatinja.
Ternjata Sam nay-nay itu baru berusia duapuluh dua tahun
dan romannja cantik sekali sehingga seolah-olah bunga sedang
mekar.
Sebenarnja ia berasal dari perempuan latjur, tetapi Kang
pek ban biarpun bukan main pelitnja, tetapi iapun mempunjai
sematjam tabiat istimewa jaitu gemar sekali dengan paras elok
dan memandang pada perempuan jang ia cintai, biarpun
menghamburrkan emas perak, seolah-olah tanah, ia tidak
merasa sajang.
Pada dua tahun jang lalu, ketika hartawan pelit itu
mengundjungi rumah hina dikota radja, ia telah berdjumpa
dengan perempuan pelatjur jang bernama Say gin hoa.
Kang pek ban ternjata sangat tertarik sekali hatinja oleh
ketjantikan nona pelatjur itu, maka iapun mengeluarkan banjak
uang buat membeli nona itu, terus dibawa pulang kerumahnja
dan didjadikan sebagai Sam nay-nay.

Hoa Hoa Pa 20
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Kabarnja Naynay bekas pelatjur itu bukan sadja sangat


tjantik, tetapi diuga kependaiannja diatas randjang sangat luar
biasa, sehingga Kang pek ban mendjadi sangat takluk dan
menjajang ke pada nay-nay itu!

Sam naynay ketik a melihat Kang pek ban begitu menjintai


dirinja, maka ia pun mendjadi sangat aleman dan pandai
“menahan harga" sehingga Kang pek ban didalam segala hal
selalu menuruti sadja keinginao Sam naynay.
Asal sadja Sam naynay jang membuka mulut, kata jang
bohong biarpun sepotong daging Kang pek ban diminta
sekerat, tentu orang she Kang itu akan meluluskannja dengan
tak bersangsi sangsi lagi.
Oleh karena Yo hong masih muda dan kuat, maka Sam
naynay memperlakukan Yo hong baik sekali, kadang-kadang
ia suka adjak bertjanda Yo hong.
Apa mau, Yo hong karepa orang jang berhati “tak
mengenal perempuan”, maka djika djadiak bertjanda ia tinggal
berdiam sadja berlaga bodoh, hingga Sam naynay djuga karena
takut perbuatannja ketahuan oleh para budak, maka tak berani
berlaku terlalu menjolok mata.
Oleh karena Yo hong mengetabui sampai baik bahwa
madjikannja jang pelit itu hanja sangat takluk kepada Sam
naynay seorang, maka pagi-pagi sekali ia sudah datang
kekamar Sam naynay buat meminta pertolongan,
Sam naynay memang sedang mentjari djalan buat melepas
budi kebaikan kepada Yo hong, supaja lama kelamasn orang
she Yo itu djatuh hati terbadap dia, maka ia lantas diwaktu itu

Hoa Hoa Pa 21
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

djuga menjuruh budak perempuannja mengundang Kang pek


ban datang.
Kang pek banpun segera berdjalan dengan tjepat kedalam
kamar Sam nayaay dengaa hati sangat girang.
Sam naynay lalu menjilahkan Kang pek ban berduduk.

Dengan tjengar tjengir hartawan pelit itu berkata: "Aku


baru pulang dari sarang pendjahat, untung tidak menderita
kerugian sedikitpun! Kemarin semalam karena aku ditahan
oleh Toa nay nay, maka terpaksa aku bermalam dikamarnya.
Tetapi semalam-malaman aku tak dapat tidur. Barusan
sebenarnja aku sudah hendak datang menengok engkau, tetapi
engkau sudah mengundang aku datang, maka hatiku giranag
bukan main.
Sam naynay mendjebikan bibirnja.
“Suuggub loya jang sangat berbudi!'' katanja. “Kionghie,
loya, setelah engkau ditangkap pendjahat tetapi bisa pulang
lagi dengan selamat: Terapi siapakah jang meaolong engkau
sampat bisa pulang ini?"
Itulah seoeang tua she Poei, dan seoranp puterinja jang
orang sebut Hoa hoa pa, jang menolong kepada aku ." sahut
Kang pek ban.
“Orang tua she Poei Hu dan Hoa hoa pa tentu tidak kenal
dengan dikau, maka bagaimana mereka kesudian menolong
kepadamu?” Sam nay-nay bertanja.
“Orang tua she Poei itu adalah Soepek Yo hong, ketika
aku ditjulik, Yo hong telah pergi ke Lim kee po dan meminta

Hoa Hoa Pa 22
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

penolongan kepada oraug she Poei itu ajah anak, maka mereka
datang menolong aku," Pek ban menerangkan.
“Orang lain sudah menolong engkau dari udjung golok,
habis engkau mempergunakan barang apa buat mengbaturkan
terima kasihmu reehadap budi pertoioogan orang orang lain
itu?"
Kang pek ban tertawa.

“Kamu orang perempuan sesungguhnje djuga tidak


mempunjai pengertian ! Orang sbe Poet itu adalah Soepek Yo
hong, dan hanja Yo hong sendiri jang mempunjai perhubungan
baik dengan mereka, maka apakah sangkutannja dengan aku?
Mengapa engkau mau menjuruh aku memberi apa-apa sebagai
tanda terima kasih kepada mereka? Aku rasa didunia tak ada
aturan sematjam ini!”
Sam naynay tertampak mendjadi gusar.
“Orang lain dengan benjak susah membelakan dirimu,
sebingga djiwamu dapat tertoloog dari bahaja besar, tetapi
bagaimana engkau setelah menerima budi orang tak mau
membalasnja, sebaliknja mengatakan bahwa Soepek Yo hong
tak ada sangkutannja dengan dikau? Masakah engkau hendak
menjuruh Yo hong sendiri jang mengeluarkan barang hadiah
buat Soepeknja? Berapa hasil pendapatan Yo hong dengan
bekerdja pada dikau disini? Sungguh tidak kunjana didunia ini
ada orang jang berhati buruk seperti engkau! Pertjuma sadja
harta kekajaanmu bertimbun-timbun sampai begitu banjak,
tetapi segala perbuatan tak lain daripada perbuatan iblis muris!
akar bahar! masih djuga kau katakan aku tak berpengertian!
Melihat pada perbuatanmu ini, aku kuatir pada suatu hari
kepalamu bakal berpisah dari batang lehermu! Nah diwaktu

Hoa Hoa Pa 23
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

itu, aku hendak melihat, apakah engkau bisa membawa semua


atau tidak harta kekajaanmu itu kedalam peti mati!”
Sam nay-nay semakin lama mendjadi semakin gusar, maka
dengan tak kepalang tanggung lagi ia membanting-banting
kakinja sambil memaki-maki dengan suara keras.
Kang pek ban djadi sakit sekali batinya dan keder ketika
melihat naynaynya jang paling disajang marah sampai begitu
rupa, maka buru-buru ia berbangkir, dan mendjura kekiri
kanan ia sambil berkata! “Oh, naynay jang balk! naynayku
jang baik! Sudahlah! djanganlah engkau marah! sebab apabila
aku melihat engkau marah, hatiku rasanya seperti diuga diiris-
iris pisau! Benar, dalam hal ini memang aku jang bersalah!
Nanti aku suruh sediakan hadiah besar buat di hantarkan
kepada orang she Poei itu! Asal nay nay jang mengatakan,
masa aku berani berbantahan? Barang apa jang mesti
kuhantarkan kau katakan sadja sekarang, dan ini hari djuga
akan kusuruh Yo hong pergi mengbantarkan kesana!”
Melihat Kang pek ban sudah mau meluluskan, Sam
nayney barulah tertawa Girang, dan melirikan matanja jang
tadjam kepada orang she Kang itu, sehingga Wangwee pelit itu
djadi merasakan sekudiur badannja lemas, dan hatinja seolah-
telah tjopot.
Buru-buru ia bertanja : “Naynayku jang baik, habis kita
mesti menghaturkan apa? Lekaslah kauterangkan, supaja bisa
ku selesaikau sekarang djuga!”
"Menumt pikiraaku lebih baik engkau menjediakan uang
sebanjas 500 tail perak, dan bahan pakaian untuk dua orang,
terus kausuruh Yo hong pergi mengantarkannja, agar orang
memudji kepadamu. Bukankah itu sangat baik?” demikian kata
Sam nay-nay.

Hoa Hoa Pa 24
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Kang pek ban djadi sangat girang. demgan tak merasa


sajang lagi ia tjepat menjuruh seorang budak perempuan pergi
kekamar kasir buat menjediakan segala keperiuan itu, dan
lantas menjuruh Yo hong pergi menghantarkannja ke Lim kee
po.
Yo hong siang-siang sudah menunggu didalam kamarnja,
menanti-nantikan kabar.

Kira-kira tidak sampai tengahari, terlihatlah seorang budak


ketjil dari dalam kasir datang membawa uang dan baban
pakaian, diserahkan kepada Yo hong, dengan mengatakan
bahwa dia disuruh oleh madjikannja buat menjerahkan baraag
dan uang itu, buat kemudian dihantarkan oleh Yo hong ke Lim
kee po.
Yo hong barulah hatinja mendjadi Girang sekali, tjepat ia
memakai pakaian, terus ia meninggalkan gedung Kang pek ban
dan berangkat ke Lim kee po dengan membawa barang hadiah
itu.
Kira-kira djam empat sore ia telah tiba ditempat
tudjuannja.
Poei tjie tong lalu menjambut dia masuk kedalam.
Yo hog tjepat-tjepat mempersembahkan barang-barang
hadiah itu sambil berkata: “Tong ong-ku, Kang pek ban
menjuruh siauwtit mengirim hormatnja kepada Soepek dan
Soemoay jang sudah mengeluarkan banjak tenaga untuk
keselamatannja. Maka sebagai tanda terima kasihnja dia
mempersembahkan dua matjam barang bingkisan jang tak
berharga ini untuk soepek berdua, harap Soepek suka
menerimanja.”

Hoa Hoa Pa 25
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Tidak usah Tong ongmu mengeluarkan uang untukku.


Sebenarnja lebih perlu dia menghantarkan sedikit ke Bwee hoa
hong, agar Lohoe djadi tidak measa tidak enak terhadap sobat
dari kalangan Kang-ouw, karena tidak ada aturan orang
tjulikan dilepaskan dengan begitu dadja,” kata Poei tjie tong.
“Siauwtit djuga berpikiran begitu,” kata Yo hong. “Tetapi
Tong ongku sekali-kali tidak mau memberikan uangnja kepada
pendjahat, maka lebih baik kita tidak mempedulikannja,
biarkan sadja nanti apabila terdjadi keonaran lagi, bagaimana
ia akan mengambil keputusannja! Tetapi barang hadiah ini
mesti Soepek terima, djika tidak, tentu aku bakal dimarahi
madjikanku.”
Karena didesak dengan sangat, maka Poei tjie tong,
terpaksa dia menyuruh Giok djie menjimpan dua matjam
bingkisan itu, tetapi dari bingkisan uang ia mengeluarkan
duaratus tail perak diserahkan kepada Yo hong sendiri.
Yo hong tak dapat menolaknja, maka terpaksa iapun
menerimanja sambil mengutjapkan terima kasih.
Giok djie lalu memeriksa bahan pakaian itu, ternjata jang
selembar adalah kain sutera biru muda untuk orang-orang
perempuan, sedangkan jang sematjam lagi adalah kain dari
sutera biru tua untukorang laki-laki.
Ia sangat suka dengan bahan pakaian itu, hingga hatinja
sangat girang.
Tjie tong segera menyuruh budak ketjil menjediakan nasi,
arak dan sajur majur untuk Yo hong makan.
Setelah kenang makan, maka Yo hong pun berpamitan
pulang.

Hoa Hoa Pa 26
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah Tjie tong mengantarkan Yo hong sampai dimulut


pintu kelenteng dan balik lagi kedalam, Gion djie kelihatan
tertawa sambil berkata:
“Thia-thia, sungguh mengherankan sekali, orang tua she
Kang itu ketika di Bwee hoa hong, pelitnja bukan buatan,
maka aku sungguh merasa heran sekali, mengapa sisetan muris
itu mau menjuruh Yo soeheng menghantarkan barang hadiah
kepada kita? Sungguh mengimpi djuga aku tidak pernah!”
“Ja, itu memang benar sangat mengherankan,” kata Tjie
tong. “Tetapi kita ketika sudah endapat kebaikan orang,
kitapun mesti berbuat kebaikan djuga terhadap orang lain. Aku
menduga bahwa Hohan dari Bwee hoa hong itu, pasti tidak
mau sudah begitu sadja. Mungkin mereka akan
memperdajakan hartawan she Kang itu. tetapi kita tunggu
sadja sampao Yo hong datang lagi buat kedua kalinja meminta
pertolongan pada kita!”
Giok djie menganggukkan kepalanja, tak berkata apa-apa.
––––––––

Sementara itu Yo hong jang mendapat persen uang dari


Poei tjie tong sebanjak duaratus tail perak, hatinta girang
bukan main. maka waktu berdjalan pun kedua kakinja djadi
bersemangat sekali.
Dengan tidak mengaso-ngaso barang sedikit, ia berdjalan
terus kegedung Kang pek ban, biarpun hari sudah malam.
Kira-kira sudah kentongan pertama, terlebih dulu ia masuk
kekamarnja sendiri buat menjimpan uang itu, kemdian ia pergi
kekamar kasir buat memberitahukan kepergiannja barusan.

Hoa Hoa Pa 27
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tidak lama kemudian, hari sudah tengah malam, dan iapun


sudah merasa lelah sekali, maka ia terus masuk kedalam
kamarnja dan naik tidur.
Tidak kira, karena ia baru pernah mempunjai uang
sebanjak itu, maka karena terlalu girang, maka ia hanja gulak-
gelik. sadja diatas pembaringan tak bisa tidur pulas, sedangkan
orang lain sudah pada tidur semua sebingga keadaan sunji
senjap.

Sedangn]a Yo hong merasa djengkel, karena ia tidak diuga


bisa pules, tiba-tiba ia mendengar disebelah atas ruangan
belakang dengan samar-samar mendengar suara tindakan kaki
orang!
Yo hong djadi terkedjut sekali, buru-buru ia berlompat
turun dari pembaringan, sambil memasang telinga lebih teliti,
ternjata memang tak usah disangsikan lebih lama, itu memang
benar suara orang berdjalan diatas genteng.
Yo Hong tjepat meringkaskan pakaiannja, sambil perlahan
lahan membuka pintu kamar, dengan tangan mengbunus golok.
Hawa dingin segera berkesiur menjampok kedjurusannja.
sehingga ia bergidik saking dinginnja.
Tjepat ia memandang kedjurusan atap rumah.
Waktu itu rembulan bukan main terangnja, maka keadaan
diatas rumah dapat dilihat dengan tegas sekali.
Ternjata jamg tertampak diatas genting itu adalah bukan
lain dari seekor kuting jang sedang berdjalan.

Hoa Hoa Pa 28
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Yo hong djadi meludah, dan dengan perasaan ketjewa dan


mendongkol ia terus masuk lagi kedalam kamarnja dan naik
tidur dengan tak membuka pakaian lagi.
Tak lama kemudian iapun tidurlah dengan njenjaknja,
Ketika la mendusin kembali, dari luar djendela sudah
teetampak tjahaja putih jang remang-remang, maka ia
mengetahui tentulah sang waktu sudah hampir siang.
Tiba-tiba la merasa dahaga, maka ia menuangkan
setjangkir air teh buat duninumnja.
Tidak kira, pada saat itu sekonjong-konjong dari sebelah
luar djendela terdengar suara “berrrrrrr", dibarengi dengan
terbang lewatnja satu bajangan orang.
Yo Hong terkedjut sekali, buru-buru ia melepaskan
tjangkir tehnja. dan menjebat golok Pokro, terus menulakkan
djendela dan berlompat keluar
Waktu itu, baiangan orang itu tertampak sudah berada
diatas wuwungan ruangao depan. Yo hong tjepat melompat
keatas rumah, tetapi orang itu seolah-olah terbang tjepatnja
siang-siang sudah melajang turun disebelah luar gedung.
Yo hong sudah tentu sadja tidak mau malepaskan orang itu
begitu sadja, buru-buru iapun lompat turun kesebelah luar
gedung.
Tetapi orang itu seolah-olah terbang tjepatnja sudah
melarikan diri.
Yo hong membentak dengan suara keras, seraja
mengedjar dengan kentjang dari sebelah belakang,

Hoa Hoa Pa 29
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah mengedjar kira-kira ada setengab lie djauhnja dan


orang jang dikedjar itu sudah hampir tersusul. Toba-tiba orang
itu menghentikan tindakan kakinja dan memutar tubuhnja.
Dengan menghunus pedangnja lang mengkredep kredep,
orang itu kedengaran membentak : “Hai! Kamu mengapa
mengediar sadja Loyamu? Djngan tjoba mentjari kematian
diudjang pedang loya! Ajuh lekas balik lagi !"
Yo hong ketika melihat dipundak orang itu menggendong
sebuah bungkusan besar, ia mengarti dia itu seorang pentjuri
dan barang-barang dalam buntalan itu tentu barang-barang
thauwkeenja.
Dan ia mengetahui, djika hari sudah keburu siang dan sang
madjikan mengetahui dirumahnja tleh terdjadi entjurian, tentu
dirinja bakal disesali lagi sebagai orang jang tak berguna,
karena ada pentjuri datang, ia tak mengetahui.
Maka berpikir sampai disini. ia djadi sangat gugup, segera
ia menjabetkan golok Poktonja ke djurusan bangsat itu.
Tetapi sibangsat irupun segera mempergunakan pedangnja
meaangkis serangan itu.
Segera djuga kedua orang itu bertarung dengan serunya.
Kira-kira berkelahi ada duapuluh djurus, Yo hong
perlahan-lahan merasakan urat-urat dan tulang belulangnja
lemas.
Untung pendjahat itu kurang leluasa gerak geriknja, karena
menggendong buntalan itu. maka setelah ia melihat permainan
golok Yo hong sudah kalut, iapun tidak mau mentjelakakan
orang she Yo itu, hanja segera menarik pulang pedangnja, dan
melarikan diri lagi.

Hoa Hoa Pa 30
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tinggallah Yo hong jang berdiri disitu melihati bangsat itu


pergi dengan melongo sadja tak dapat berbuat apa-apa.
Setelah bangsat itu sudah tak tampak lagi bajangannja,
barulah dengan roman lesu ia berdjalan pulang, dan tetap
masuk kedalam dengan melalui wuwungan rumah.
Setibanja kekamarnja sendiri, ia sudah kepingin mati
karena djengkelnja.
Tetapi ia tinggal diam sadja, berpura-pura tak mengetahui
apa-apa, ia tinggal menannkan medjikannja akan memasrahkan
dia bagaimana.
Sesudah hari terang, Yo hong berdiam sadja didalam
kamarnya, tak keluar-keluar dengan hati berdebar-debar
menantikan panggilan sang madjikan, jang tentunja akan
memaki-maki dirinja.
Tetapi tidak kira keedaan didalam gedung biasa sadja
seperti sehari-hari, tidak terdjadi kegaduban apa-apa.
Diam-diam Yo hong djadi heran sekali, karena terang-
terang pentjuri jang semalam telah datang mentjuri digedung
ini, tetapi mengapakah madjikannja belum mengetahui.
“Mungkin bangsat itu bukan memjuri disini" Yo houg
berpikir lagi. “Tetapi apakah maksudnja ia dataug kesini?"
Sesungguhaja hatinja bingung bukan main
Setelah hampir tengah hari, ia tak dapat menahan sabar
lagi terus pergi kedepan kamar Sam nay-nay, karena ia
mengetahui malam itu madjikannja tidur dikamar itu.
Tetapi ternjata pintu kamat masih terkuntji rapat-rapat.
Ia tjepat mengetuk-ngetuk pintu, tetapi tak mendapat
djawaban dari dalam, maka ia segera mengerti gelagat kurang

Hoa Hoa Pa 31
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

baik, tjepat ia memutar ke djurusan djendela, dan ternjata daun


djendela hanja dirapatkan sadja tak dikuntji dari dalam, maka
segera ia melompat masuk kedalam kamar.
Ia melihat sang madjikan dan Sam naynay masih sadja
rebah diatas pembaringan seolah-olah orang mati, sedangkan
didalam kamar dengan samar-samar masih tertjium sematjam
bebauan harum.
Ia mengerti madjikannja berdua tentu telah terkena Boen
hio pentjuri jang semalam, maka tjepat ia membukakan pintu
kamar, dan menjuruh budak perempuan mengambil
semangkok air dingin terus disemburkan kemuka kedua orang
tersebut.
Maka tak lama kemudian kedua-duaniapun mendusinlah.
––––––––

BAB VI

KANG PEK BAN berdua tiba-tiba mendjadi kaget, ketika


mereka mengetahui mereka basah dengan air dingin, tjepat
mereka berbangkit.
“Kapan engkau masuk kesini?” ia bertanja kepada Yo
Hong.
“Baru sadja barusan!” sahut Yo-hong. “Oleh karena aku
melihat Tjoe-djin berdua terkena Boen hio bangsat, maka aku
mentjeburkan kamu air dingin supaja mendusin.
Kang pek ban djadi terkedjut sekali.

Hoa Hoa Pa 32
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Aja! Kalau begitu semalam dikamar ini kedatangan


bangsat?” Tentulah harta benda didalam kamar itu ditjuri
bangsat itu! Sam nay-nay! Lekaslah kau periksa barang sesuatu
dikamar ini, apakah ada jang telah hilang atau tidak?” katanja
dengan gugup.
Sam naynay segera membuka peti koper, membongkar-
bongkar isi lemari dan lain2.
Setelah dtperiksa dengan teliti, ternjata memang benar
banjak barang berharga jang hilang, terhitung djuga barang-
barang perhiasan Sam naynay, maka Sam naynay terus
menangis sesenggukan.

Kang pek ban menarik napas pandjang peadek dan


menjesalkan Yo hong jang diwaktu malam tidak berhati-hati,
sehingga ada pendjahat menjelundup masuk kedalam rumahnja
dan meatjuri banjak barang berharga.
Ia mengomel terus pandjang pendek, sampai achirnja Yo
hong dengan tak tahan lagi terus berkaia: “Tong ong, engklau
djangan meejalahkan aku! aku toch bukan orang jang
berkepala tiga bertangan enam! Mana aku bisa menandingi
pendjahat-pendjahat dari segala matjam golongan? Dikalangan
Kang ouw jang biasa mempergunakan Boen hio, biasanja
tentulah pendjahatpendjahat jang pandai berlompat pergi
datang diatas rumah, maka taro kata aku dapat mengetahuinja
djuga, tentu bukan tandingannja, Maka apabila Tong ong ingin
selamat engkau mesti mengundang lagi beberapa Enghiong
jang Boegeenja tinggi, buat melindungi gedungmu ini, sebab
aku orang she Yo, tak mempunjai kepandaian ini!''
Waktu Kang pek Ban hendak mengomel lagi, dengan rupa
gusar Sam naynay berkata : “Mengapa engkau menjalahkan

Hoa Hoa Pa 33
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

orang she Yo itu! Itulah karena salahmu sendtri sari-sari jang.


begitu pelit, sehingga orang djadi tertarik kepada engkau, maka
datang keslni buat mentjabut beberapa lembar rambutmu!
Sekarang segala apa jang sudah lewat buat apa diributkan lagi?
Anggap sadja kita baru babis menderita sakit jang enteng!''
Kang pek ban melihat Sam naynay sudah marah, maka ia
tidak berani mentjomel Yo hong lagi, hanja ia pesan supaja Yo
hong lain kali djangan berlaku teledor.
Yo hong mengangguk-anggukkan kepalanja, terus pulang
kekamarnja sendiri.

Sam nayney setelah melihat Yo hong sudah pergi lalu


berkata pada Kang pek ban! “Loya engkaupun djangan lalai,
semalam ketika ada pendjahat datang kesini, kekamar jang
lainpun mesti kau periksa djuga, apakah ada jang kehilangan
atau tidak.
Kang pek ban menjatakan baik. segera ia berlalu. Terlebih
dahulu ia datang kekamar Toa naynay, tetapi tidak terdjadi
kebilangan barang apa-apa disitu, maka ia terus pergi kekamar
putrinja, Khim Hoa, tetapi djuga aman-aman sadja, achirnja ia
menudju kekamar Djie naynay, ternjata Djie naynay sedang
asik memakan barang makanan dengan roman berseri-seri,
maka njata pada Kang pek Ban, bahwa dikamar itupun tak
terdjadi perkara apa-apa.
Malam ini, Kang pek ban menginap dikamar Djie nay nay.
Sam naynay setelah makan malam, ia mengetahui Kang
pek ban malam itu menginap dikamar Djie naynay, oleh kareua
ia sendiri sangat lelah, maka ia menjuruh budak perempuannja

Hoa Hoa Pa 34
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

jang bernama Siauw-bwee pergi keluar kamar, terus ia


menguntjikan pintu, dan membuka pakaiannya terus naik tidur.
Sambil memeramkan kedua matanja ia mengingat-ingat
kedjadian kemarin malam.
Ia ingat terang sekali, semalam ketika ia baru sadja selesai
bersedap-sedapan dengao loyanja, tiba ia melihat seorang
pemuda berlompat masuk dari luar djendela, berbareng
hidungnja terus mentjium sematjam bebauan harum jang luar
biasa.
Tahu-tahu ketika ia merasakan mukanja basah oleh air
dingin, seorang pemuda tjakap sudah memeluki dirinja…..

Ia ingat pada waktu itu, ia seadiri djuga memeluk kentjang


pemuda itu dengan segan buat melepaskannja, sebab kendati ia
meagetahui pemuda itu seorang bangsat, tetapi ia sangat
menjukal pemuda itu, dan dengan Kang pek ban belum pernah
ia mendapat kesenangan seperti itu.
Hauja jang kasian adalah Kang pek ban, jang memimpi
djuga tentu tidak, bahwa gundiknja jang aling disajang itu bisa
diperrnainkan pentjuri persis disisinja, dengan tanpa
mengetahui barang sedikit.
Sam naynay berpikir sampai disini, ia tidak mengetahui,
apakah ia sebenarnya menjesal, gemas, girang atau sedih.
tetapi hatinja berdebar debar keras, dan napsu birahinja
berkobar keras.
la sangat gemas pentjuri muda jang tjakap itn, tidak seperti
kemarin malam, melompat masuk lagi melalui djendela

Hoa Hoa Pa 35
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Sedangnja Sam naynay gulak gulik diatas pembaringan


dengan tak dapat tidur pulas, tiba-tiba daun djendela terdengar
berbunji, berbareng pentjuri jang semalam, seolah-olah burung
kapinis entengnja, sudah melajang turun didalam kamar.
Sam naynay didalam pembaringan, hatinya djadi berdebar
debar keras.
Ia mentjuri lihat keluar kelambu, ternjata orang itu
memang bukan lain dari pentjuri muda jang semalam …..
Setelah lewat kentrongan keempat, kedna orang berpakai
pakaian dengan tjepat. Sedangkan Sam naynay buru-buru
membuntalkan barang-barang sehingga sebuntalan besar jang
lantas digendong oleh pendjahat itu, kemudian dia mengempit
Sam nayoay, dibawa melajang keluar djendela, terus
menghilang ditempat gelap.

Malam itu Yo hong tidur dengan njenjak sekali, sehingga


matahari sudah naik tinggi, barulah dia berbangkit dari
pembaringan.
Waktu ia sedang mentjutji muka dan bersisir, tiba-tiba
Siauw bwee dengan bertjutjuran air mata lari mendatangi
dengan tergopoh gopoh.
“Yoya, tjelaka ! Sam naynayku dttjulik pendjahat entah
dibawa kemana. Sekarang Loya sedang kebingungan bukan
main, maka engkau dipanggil buat lekas-lekas datang kesana
buat bitjara dengao Loya katanja.
Yo hong djadi terkedjut sekali, tjepat ia berlari-lari
mengikuti Siauw bwee menudju kekamar Sam naynay.

Hoa Hoa Pa 36
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Disitu ia melihat Kang pek ban sedang kebingungan


seolah-olah orang kehilangan semaugat.
Ketika melihat Yo hong datang, dengan rupa gugup sekali
Kang pe ban berkata : “Yo soehoe! Sam naynayku hilang
Lekaslah engkau tolong mentjarikannya!”
Yo hong tjepat memeriksa tanda sepatu dimulut djendela,
maka ia sepera mengetahui tentulah itu kembali perbuatan
pendjahat pada dua malam jang sudah, tetapi ia merasa tidak
baik buat berkata apa-apa, maka ia tinggal mengawasi sadja
madjikaonja, tidak mengeluarkan barang sepatah kata.
“Habis bagaimaoatah baiknya? Bagaimana baiknja? Sam
oaynay adalah orang jang paling kutjintai!" katanja Kang pek
ban dengan gelisah sekall. “Yo Soehoe! Lekaslah engkau
tolong mendajakannja! Djika perlu pakai uang, boleh kau bawa
sebanjak-banyaknja!"
K etika melihat majikannja sudah mendjadi begitu gugup,
maka Yo Hong tjepat ia menghiburnja dengan berkata: “Tong
ong, djanganlah gugup! Menurut penglihatanku, bangsat jang
semalam tentulah bangsat jang kemarin dahulu malam djuga,
jang mempergunakan Boen-hio. Apabila Tong-ong ingin
mengetahui asal-usulnja, tidak ada lain djalan lagi, aku merti
meminta pertolongan lagi kepada supekku ajah anak. Tetapi
uang memang perlu kubawa lwbih banjak.
Kang pek ban berulang-ulang menjatakan „baik‟ dan buru-
buru ia memanggil kasir datang dan menjuruh kasir itu
menjerahkan sedjumlah uang kepada Yo-hong.
Dengan membekal uang itu, Yo hong terus berkemas dan
membawa djuga alat sendjatanja terus meninggalkan Keng kee
tjhung, dengan tak henti-hentinja ia berdjalan terus sampai
kekelenteng leluhur di Lim kee po.

Hoa Hoa Pa 37
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Ia melihat supeknja Poei tjie tong sedang berduduk diatas


kursi dipinggir tjimtjee, njata ia kembali sedang berdjemur
dibawah matahari.
Sementara itu Soemoaynja Hoa-hoa pa Poei Giok djie
terlihat sedang mengadu silat tangan kosong dengan seorang
pemuda.
Hoa-hoa pa waktu itu memakai ikat kepala warna biru, dan
berpakai pakaian jang berkembang-kembang sehingga
menambah ketjantikannja.
Ternjata pakaian baru jang dipakainja itu adalah
pemberian dari isteri Lim soe beng jaitu Tjoe sie.
Pemuda jang sedang bermain-main silat dengan Hoa-hoa
pa berusia kira-kira duapuluh tahun, diapun beroman tjakap
dan berkulit putih bersih.
Ternjata kepandaian pemuda itu sudah tjukup lumajan
djuga.
Yo hong semula berdiam sadja disamping buat menonton,
belakangan dia terlihat oeh Poei Tjie tong, maka dia lantas
memanggilnja: “Hiantit? Mengapa engkau datang lagi?”
Giok djie djuga ketika mendengar suara ajahnja barulah
engetahui ada Yo hong datang, maka tjepat ia berhenti bersilat,
terus berdjalan menghampiri sambil memanggil Soeheng!”
Pemuda itupun turut memanggil Soeheng kepada Yo hong.
“Yo hiantit, inilah murid Loohoe jang mendjadi
kemenakan Lim soe beng sianseng. Namanja Lim tiong tiok.”
kata Poei tjie tong pada Yo hong, sambil menundjuk ke
djurusan pemuda itu. “Aku merasa senang dengan dia tjukup

Hoa Hoa Pa 38
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

tjerdik karena dia beladjar dengan aku belum ada setengah


tahun, boegenja sudah lumajan djuga.”
Kemudian ia menundjuk Yo Hong dan memperkenalkan
pada Tiong tiok: “Tiong tiok! Inilah murid Soeteeku. Namanja
Yo hong. Kamu boleh dikata saudara seperguruah sendiri!”
Yo hong dan Liem tiong tiok tjepat saling mendjalankan
peradatan dan berdiri disamping.
“Yo hiaatit! Rupanja kedatanganmu sekarang karena
terdjadi lagi keributan bukan?" Tjie tong terus bertanja.
Yo hong tjepat mengadjak Tjie tong masuk ke dalam
kamar, sedangkan Hoa hoa pa djuga turut masuk kedalam,
tetapi Lim tiong tiek terus pulaag kerumahoja sendiri.
“Dugaan Soepek memang tak salah sedikit djua." kata Yo
hong, setelah mereka berada didalam kamar. “Di rumah Kang
pek ban semalam kembali terdjadi perkara hebat, maka
Siauwtee buru-buru datang kemari buat berunding lagi dengan
Soepek.”
“Perkara hebat apa?” Poei giok djie tjepat bertanja.
Yo hong segera menerangkan bagaimana kemarin dahulu
malam ia mengedjar pentjuri dan kemarin malam Sam nay-nay
telah ditjulik pendjahat, satu persatu ia tuturkan dengan djelas
sekali.
Dengan kaget Poei tjie tong berkata: “Sungguh pendjahat
itu sangat liehay dan bernjali besar! Bagaimana seorang
manusia dapat djuga dipondong olehnja dan dibawa kabur
dengan tiada orang jang mengethuinja! Habis Hiantit datang
mentjari kesini hendak mengapa?”

Hoa Hoa Pa 39
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Sam nay-nai itu adalah orang jang paling ditjintai oleh


Tong ongku, maka Tong ong ku sekarang ketika melihat Sam
nay-nay ditjulik orang, gelisahnja bukan main, berulang-ulang
ia mendesak aku buat mentjari kembali gundiknja jang tertjinta
itu, maka Siauwtit djadi tak berdaja, terpaksa kukatakan sadja
kami mesti menta pertolongan Soepek berdua, supaja
barangkali sadja bisa menjelidiki Sam nay-nay djuga bangsat
itu. dengan tak bersangsi lagi Tong-ongku berani
mengeluarkan uang banjak, menjuruh aku datang kesini
bertemu supek dan sekali lagi memohon pertolongan Soepek
buat bantu mentjari pendjahat itu,” demikian kata Yo hong.
“Hiantit dasar orang muda, maka dalam segala hal selalu
dilakukan dengan kurang pikir!” katanja. “Sebenarnja
pekerdjaan buat menjelidiki perkara pentjurian dan pentjulikan
mesti diserahkan kedalam tangan opas-opas didalam kota.
Sebab perkara jang tak ketahuan asal-usulnja itu, bagaimana
Loohoe bisa mengurusnja?”
“Omongan Soepek memang betul djuga,” kata Yo hong.
“Tetapi tentang bangsat itu, menurut pemikiran Siauwtit,
banjakan pendjahat jang segerombolan dengan pendjahat di
puntjjak Bwe hoa hong, maka dari itu dalam halini tidak ada
lain djalan dari meminta pertolongan Soepek buat pergi sekali
lagi ke Bwee hoa hong.”
“Bagaimana engkau lantas bisa menduga itu pendjahat
jang sekelompok dengan pendjahar Bwee hoa hong?” Tjie tong
bertanja.
“Karena di Bwee hoa hong itu, selainnja tiga kepala
pendjahat, ada lagi satu jang bernama pek giok song. Gelar
pendajahat itu adalah Tjay hoa hong (kumbang penghisap
madu). Tentulah pendjahat itu adalah seorang bangsat jang
gemar melakukan perbuatan tidak senonoh kepada orang

Hoa Hoa Pa 40
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

perempuan. Maka itu, perkara jang terdjadi di rumah Tong


ongku, selain perbuatan dia, tentu bukan perbuatan orang lain
lagi. Maka aku memohon dengan sangat supaja sekali lagi
Soepek suka menolong kesusahan Siauwtit.”
Setelah berkata begitu, Yo hong terus mengeluarkan
bungkusan uang jang ia bawa dan berkata lagi: “Inilah Tong-
ongku jang menjuruh siauwtit membawa kesini sebagai tanda
penghormatan kepada Soepek. Harap Soepek suka menerima!”
Poei tiie tong segera djuga djadi ingat pada bingkisan
berharga pada beberapa hari jang lalu, maka ia lantas berkata :
“Hiantit, lekaslah kau simpan kembali uang tersebut. Blarlah
Lohoe nanti tolong mewakilkan engkau pergi ke Bwee hoa
hong.
Sekarang kau boleh pulang besok kau boleh datang lagi
kesini untuk mendengar kabar dari aku.”
Yo hong buru-buru mengutjapkan terima kasih, tetapi
uang itu ia tinggalkan sadja disitu, tidak mau dibawa pulang
lagi.
Sesudah Yo hong berlalu, Giok djie lalu bertanja kepada
sang ajah: “Aku sungguh merasa heran sekali dengan omongan
Soeheng tadi. Mengapa pendjahat mentjuri Sam nay-nay dari
keluarga Kang, buat ddiapakan Sam nay-nay itu? apakah
barangkali hendak dimintakan uang tebusan? Kalau demikian,
baik ajah bawa sadja uang ini ke Bwe hoa hong dan tebus
pulang Sam nay-nay, bukankah begitu sangat baik?”
“Ja, omongan anak memang betul sekali,” kata Tjie tong.
“Sebungkus uang ini djuga barangkali ada 2.300 tail perak.
Biar nanti aku bawa semua kesana, supaja djangan
mengganggu kerukunan dengan mereka.”

Hoa Hoa Pa 41
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah berkata begitu, karena ia lihat sang waktu masih


belum lewat terlalu lama dari tengah hari, lagipula hawa udara
tidak begitu dingin, maka Poei tjie tong terus menukar pakaian
dan dengan tidak membekal barang sepotong sendjata tadjam
ia hendak terus berangkat pergi.
Tetapi Hoa hoa pa tjepat berkata: “Thia-thia, engkau pergi
ke sarang pendjahat, mengapa pergi bukan berpakaian ringkes,
djuga tak membawa barang sepotong alat sendjata? Habis djika
terdjadi pertempuran, bagaimana Thia-thia dapat melawan
musuh?”
“Pendjahat djuga toch manusia djuga, maka apabila kau
bitjara dengan setjara sangat seedji terhadap mereka,
bagaimana dia hendak berkelahi dengan aku? taruh kata
terdjadi perkelahian djuga, aku tidak takut menghadapi tiga
empat orang seperti mereka,” kata Tjie tong. “Aku tidak ada
dirumah, engkau djangan pergi ketempat lain, kau diam sadja
didalam kamar buat menjulam dan sebagainja. Barangkali
sebentar malam aku balik lagi.”
Setelah berkata begitu, iapun terus berangkat pergi.
Sesudah ajahnja pergi, maka Hoa hoa papun menuruti
omongan ajahnja, lalu ia membuat sulaman bunga-bunga pada
sepatunja dengan penuh kesabaran.
Ketiga Hohan dari Bwe hoa hong, semendjak melepaskan
Kang pek ban turun gunung, pada malam itu djuga kira-kira
kentongan kedua, Sie tay ong Tjay hoa hong Pek giok song
telah pulang ke gunung.
Dengan tidak menunggu banjak tempo lagi Siauw lie tjoan
Koei poet peng dan Tin shoa tang Mo tay houw terus
menuturkan bagaimana mereka telah mentjulik Kang pek ban,
kemudian datang seorang she Poei, ajah dan anak

Hoa Hoa Pa 42
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

menundjukkan keangkerannja diatas gunung itu, dan


membawa Kang pek ban pulang dengan tanpa mereka dapat
berbuat apa-apa, sehingga keangkeran mereka sekarang
mendjadi lenjap sama sekali.
Pek giok song djadi sangat gusar.
Malam itu dia mengaso dahulu sehari, kemudian apada
hari kedua sore ia segera turun gunung seorang diri. Ia
menantikan sampai sang waktu sudah tengah malam, lalu ia
menjatroni rumah Kang pek ban.
Sesudah ia “memetik kembang” dikamar Sam nay-nay dan
menggondol hasil pentjuriannja, terus ia pulang kegunungnja
dan menjerahkan barang-barang hasil pentjuriannja itu kepada
sang Toako Sow boen liong buat didjadikan barang kepunjaan
bersama.
Apa mau karena memang tabiatnja sangat tjabul, maka
belum hari gelap, nafsunja sudah berkobar lagi, karena teringat
kepada Sam nay-nay, maka segera djuga ia memberi alasan
begini kepada Soe boen liong: “Kang pek ban itu sangat kaja!
Emas perak bertumpuk-tumpuk seolah-oleh gunung didalam
gedung, maka Siauwtee bersedia buat mentjuri setiap malam
kerumahnja barang delapan sepuluh kali, dengan begitu, segala
kebutuhan kita tidak usah kita ibuki lagi!”
Soe boen liong sudah tentu sadja mendjadi dangat girang
ketika sang Soetee berkata begitu.
Tidak kira setelah dia turun gunung, sampai hari keduanja,
masih djuga tak terlihat dia balik pulang lagi, maka Soe boen
liong bertiga djadi sangat kuatir terdjadinja hal-hal jang tak
diinginkan.

Hoa Hoa Pa 43
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Maka mereka sudah berunding-runding bahwa apabila


sampai magrib Pek giok song belum djuga pulang, maka Soe
boen liong sendiri bersiap buat pergi ke Kang kee tjhung buat
menjelidiki diri Pek giok song.
Ternjata Pek giok song itu kendati tjabulnja luar biasa,
tetapi terhadap Toakonja, Soe boen ling, ia sangat takut dan
menaruh hormat.
Soe boen liong sangat bentji pada tabiat sang Sietee itu
jang seringkali melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap
orang perempuan, maka sudah berkali-kali ia menegurnja dari
halus sampai keras.
Sementara Pek giok song sudah pernah bersumpah
didepan Soe boen liong bahwa selandjutnja ia pasti akan
mengubah kelakuannja dan tidak akan melakukan perbuatan
tak patut lagi.
Tidak dinjana ketika melihat Sam nay-nay jang begitu
tjantik, tabiat tjabulnja telah kambuh kembali. Maka pada
malam keduanja, dengan tak kepalang tanggung lagi, Sam nay-
nay djuga terus ditjurinja dari gedung Kang pek ban.
Oleh karena ia tidak ada muka buat mendjumpai Toakonja,
maka ia tak mau pulang kegunungnja, hanja dengan menukar
dandanannja sebagai orang biasa ia terus pergi ke suatu tempat
dengan Sam nay-nay.
Soe boen liong ketika bersiap-siap hendak turun gunung,
tiba-tiba liauwlonja datang melaporkan bahwa orang tua she
Poe telah datang lagi.
Oleh karena Soe boen liong adalah orang tjerdik, maka
segera ia mengerti bahwa kedatangan Poei tjie tong itu tentu

Hoa Hoa Pa 44
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

ada sangkut pautnja dengan perkara Pek giok song, maka tjepat
ia menjilakan tamu itu masuk kedalam ruangan Tiong gie tong.
Sesudah mereka pada beerduduk, Tjie tong lalu
menurunkan buntalan uang jang digendong dibelakangnja
seraja berkata: “Pada beberapa hari jang lalu untuk kebaikan
tuan jang suka memandang muka Lohoe jang tipis dan
melepaskan Kang pek ban, sesungguhnja Lohoe merasa sangat
bersjukur dan malu hati, maka sekarang Lohoe sengadja
membawa sedikit bigkisan jang berharga untuk membuktikan
ketulusan hati Lohoe. Harap tuan suka menerimanja!”
Setelah berkata begitu, ia terus menghaturkan uang perak
jang ia bawa itu diatas medja.
Soe koen liong tertawa.
“Loe enghiong, djangan berlaku begitu! Orang disekeliling
djagat semua dalah saudara sendiri, maka terhadap sobat
sendiri, mengapa Lo enghiong medti berbuat begitu?” katanja.
“Apalagi Lo nenghiong adalah pernah tua. Lekaslah simpan
uang ini, djangan membikin siauetee mendjadi malu!”
“Teapi Lohoe masih ada omongan jang hendak
dibitjarakan, tetapi apabila sedikit bingkisan jang tak berharga
ini tidak tuan terima, terpaksa Lohoe djadi pulang lagi,” kata
Tjie tong.
“Kalau begitu, kau mesti mengutjapkan banjak-banjak
terima kasih buat kebaikan Lo enghiong!” kata Soe boen liong,
sambil kemudian bertanja, “Entah Lo enghiong hendak
memberikan pengadjaran pa akepadaku?”
“Lohoe mendengar kabar, Sie tjetjoe Pek djin heng sudah
balik ke pesanggrahan, oleh karena Lohoe sudah sangat lama
mangagumi namanja, tetapi sajang tak ada kesempatan buat

Hoa Hoa Pa 45
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

berdjumpa dengan dia maka sekarang Lohoe mohon minta


bertemu dengan dia buat berkenalan.”
Mendengar omongan begitu, Soe boen liong djadi
melengak.
“Lo enghiong,” katanja “Soeteeku itu sedang turun
gunung, dan belum balik pulang. Maka apa Lo enghiong
hendak mendjumpai dia, lebih baik engkau tinggal sadja untuk
beberapa hari lamanja dirumahku. Mungkin esok lusa ia akan
sudah pulang kembali.”
“Pergi kemanakah dia? Apakah tuan mengetahuinja?” Tjie
tong bertanja.
“Dia adalah seolah-olah kuda binal jang tak terkendali!
Sebentar ada dibarat, sebentar ada di timur!” kata Soe boen
Liong. “Siauwtee sesungguhnja tak mengetahui kemana
sekarang dia perginja. Lo enghiong tampaknja begitu ngin
bertemu dengan dia, apakah barangkali Lo enghing ada
mempunjai urusan apa-apa jang menjangkut saudaraku jang
keempat itu? kapan kita ada sobat baik, aku harap Lo enghiong
suka menerangkan sedjelas-djelasnja kepadaku!”
Dengan bersenjum Poei tjie tong berkata, “Soei heng!
Harap engkau djangan berkuatir! Pekk djin hong itu bukankah
digelari orang sebagai Tjay hoa hong?”
Soe boen liong menganggukkan kepalanja.
“Benar!” sahutnja. “Itulah gelar dari kalangan Kang-ouw
sama seperti gelar Siang ek houw dari Lo enghiong.”
“Tetapi gelaran itu tak berkesuaian dengan hal jang
sebenarnja, sedangkan Pek djin heng itu, aku kuatir gelarnja itu
mentjotjoki dengan tabiatnja! Maka Lohoe mana bisa
dimabdingkan dengan dia?”

Hoa Hoa Pa 46
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Kesan bagaimana yang Lo enghiong dapatkan, maka Lo


enghioeng berkata begitu?” Soe boen liong bertanja.
“Sam nay-nay dari keluarga Kang telah ditjuri kabur
olehnja, apakah tuan mengetahui atau tidak?”
Soe boen liong tampaknja kaget sekali.
“Bagaimana Lo enghiong mengetahui bahwa orang jang
mentjuri Sam nay-nay dari Kang kee tjhung adalah Soeteeku?”
ia bertanja.
“Karena dikamar Sam nay-nay dia meninggalkan surat
jang bertuliskan kata :‟Jang mentjulik orang,adalah Tjay hoa
hong Pek giok song‟. Dia benar-benar seorang Enghiong jang
Lohoe harus pudji, karena sesudah mentjulik orang, dia berani
meninggalkan surat maka itulah Lohoe datang kesini buat
menemui dia!”
Soe boen liong ketika mendengar demikian ia djadi
djengkel dan gemas sekali kepada Pek giok song jang kembali
melakukan perbuatan tjabul, tetapi hal saudara angkatnja itu
meninggalkan surat, ia sedikit kurang pertjaja, djuga ia tak
mengetahui sang Soetee sekarang ada dimana, maka ia
sengadja berkata buat menjelidiki: “Lo enghiong harap
djangan mendjadi geli, apapun adikku itu, memang paling
gemar orang perampuan. Siauwtee sudah berkali-kali
memperingatkan dia buat mengubah kelakuannja, sehingga
beberapa waktu kemarin tampaknja dia sudah dapat djuga
mengubah kelakuannja, tetapi tidak kunjana kini penjakit
lamanja kembali telah timbul! Sesungguhnja Siauwtee tak
menduga sama skali! Tetapi Lo enghiong mengapa mengetahui
sampai sebegitu teliti? Apakah engkau di Kang kee tjhung
sudah pernah berkelahi dengan Sieteeku?”

Hoa Hoa Pa 47
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Mengapa aku mesti pergi ke Kang kee tjhung?” kata Tjie


tong, “Itu hanjalan Soetitku. Yo hong jang karena sesudah Sam
nay-nay ditjuri oleh Pek Djinheng, maka Kang pek ban djadi
kekrupukan, mendesak dia buat buru-buru menrjari sampai
dapat kembali, maka Soetitku terpaksa mengundang Lohoe
mengundjungi tuan disini buat mentjari keterangan. Apakah
Pek djinheng sudah pulang kegunung, aku harap tuan suka
mengundang dia keluar sadja untuk menemui aku, agar aku
pulang djuga sudah mendapat kepastian!”
Soe boen liong setelah mendengar Poei tjie tong tak
pernah datang ke Kang kee Tjhung maka barulah kekuatirannja
hilang separuh.
Sebabnja ia takut Poei tjie tong siang-siang sudah
menangkap Pek giok song di rumah Kang pek ban tetapi dia
sengadja datang kesitu buat menjudahkan dirinja. Tetapi kini
kendatii Pek giok song belum pulang tetapi ia girang, karena
Pek giok song tentu tak kurang suatu apa.
Maka ia segera berkata pada Poei tjie tong: “Lo enghiong
harap djangan bertjuriga! Siauwtee seumur hidup belum
pernah berdusta! Pek Sietee sesungguhnja belum pulang. Djika
Lo enghiong tidak pertjaja ketulusan hatiku, boleh tinggal
disini barang beberapa hari, nanti bila dia pulang, tentu akan
kusuruh menemui Lo enghiong. Tidak tahu apakah Lo
enghiong sudi tinggal dahulu barang beberapa hari disini?”
Tjie tong karena melihat sang waktupun sudah gelap,
maka ia tidak menampik.
“Kalau demikian, biarlah Lohoe menunggu semalam
ditempat tuan,” katanja.

Hoa Hoa Pa 48
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Soe boen liong djadi girang, tjepat ia menjuruh para


thauwbak dan liauwlo menjediakan medja perdjamuan buat
mendjamu tamu itu.
Soe boen liong djadi orang sesungguhnja berhati tulus dan
mengerti tjenglie, tetapi Koei poet peng dan Mo tay how
kedua-duanja jang berhati sempit dan berbeda djauh sekali
djika dibandingkan dengan Toakonja.
Mereka itu ketika melihat Poei tjie tong mau menginap
disitu, oleh karena ingat pad permusuhan tempo hari, maka
mereka segera bermufakat buat membalas sakit hati atas
kekalahan mereka tempo hari itu.
Oleh karena mereka mengetahui dengan djalan berterang
mereka tak ada harapan bisa mengalahkan Poei tjie tong, maka
dengan djalan menggelap jang akan dipergunakan mereka.
Diluar tahu Soe boen liong, kedua orang itu diam-diam
lalu menaruhkan Bong han yo dalam arak buat orana tua she
Poei itu.
Malam-malam tengah perdjamuan, kedua oangpun datang
menemani dan berpura-pura berlaku manis, membudjuk-
budjuki Poei tjie tong supaja meminum banjak arak.
Poei tjie tong sudah tentu sadja tak menduga sama sekali,
dia bakal diperdajakan setjara menggelap, maka tidak heran,
belum beberapa tjawan arak jang diminumnja, segera ia
merasa kepalanja pusing, seolah-olah langit dan bumi berputar,
kemudian ia roboh dari tempat duduknja.
Soe boen liong djadi terkedjut sekali. tetapi Koei poet
peng dan Mo tay houw sebaliknja tertawa gelak-gelak sambil
menepuk-nepuk tangan.

Hoa Hoa Pa 49
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Soei boen liong barulah mengetahui, mereka


mempergunakan tipu daja setjara menggelap dengan djalan
menaruh obat pulas dalam arak, maka ia djadi sangat kurang
senang dan lantas hendak menolong Poei tjie tong supaja
mendusin kembali.
Tetapi Djietee dan Samteenja mana mau membiarkan dia
berbuat begitu, maka mereka terus bertengkar dengan sengit
sekali.
Belakangan karena saking gusarnja, maka Soe boen liong
terus membawa uang dan pian badjanja, malam-malam djuga
terus turun gunung buat mentjari Pek giok song.
Kedua orang itu ketika melihat Toakonja sudah pergi,
sudah tentu sadja mereka djadi semakin berani, tjepat
menjuruh orang mengambil tambang idjuk jang besar sekali
buat meringkus Poei tjie tong dengan kentjang sekali, terus
orang tawanan itu digotong kebelakang pesanggrahan dan
disembur air dingin supajamendusin, terus mereka mentjari
batang-batang pohon Lioe jang dipergunakan untuk memetjuti
dan menggebugi Poei tjie tong untuk melampiaskan sakit hati
mereka.
––––––––

VII.

DIANTARA beberapa puluh murid-murid Poet Tjie tong


di Lim kee po hanja Lim tiong tiok seorang jang boleh
dlketakan sebagal muridnja jang paling djempol.

Hoa Hoa Pa 50
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Pertama dia orangnja beroman tjakap, kedua gerak-


geriknja sangat sebat, ketiga ia sangat radjin beladjarnja,
sehingga Lim tiong bweepun terkalahkan olehnja.
Maka itulah jang menjebabkan Poei tjie tong sangat
menyajang kepada muridnja itu, dan ia ada mempunyai niatan
buat mendjodohkah Giok djie kepada sang murid itu, hanja
maksud itu tidak pernah diutarakannja dimulut.

Adapun Lim tiong tiok itu semendjak ketjil sudah


ditinggal mati ajahnya, dan dirumahnja hanjalah tinggal ibunja
seorang diri jang sudah mendjadi djanda, dan hidup dengan
susah pajah buat merawat dia sampai mendjadi besar.
Kendati mereka memiliki 7-8 bauw sawah pegunungan,
tetapi karena Lim tiong tok hanja menggemari ilmu silat, dan
tak begitu mengopeni pekerdjaan disawah, ladang mereka
harus ditanami oleh pegawai-pegawai jang mereka sewa
sendiri, maka penghidupan mereka sangat miskin.
Tetapi Lim soe beng sangat menjukai kemenakannja itu,
dan kerapkali dia mengeluarkan uang ataupun beras buat
memhantu-bantu Lim tiong tok anak dan ibu, maka mereka -
sudah tentu sadja sacgat bersjukur kepada Soe beng.
Lim tiong tiok semendjak berguru pada Poet tjie tong,
selainnja ilmu silat, jang ia paling senang adalah berdekatan
dengaa Phoet giok djie,
Usia Tiong tiok baru 19 tahun, lebih tua setahun sadja
deripada Giok djie, memang sudah lumrah, pemuda pemudi
bila sudah mentjapal usta 18-19, tabiat anak-anaknya perlahan-
lahan mendjadi hilang, dendaman asmara dalam hati mereka
mulai bersemi.

Hoa Hoa Pa 51
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Sepasang mata Giok djie jang oleh Lie Sinshe dari rumah
Lim soe beng dikatakan sebagai mata “Tho hoa gan” ternjata
memang sesungguhnya mempunjai daja penarik jang sangat
hebat dan kuat.
Tidak heran Lim tiong tiok setiap kali kena lirikan mata
Giok djie, sekudjur badannja seolah-olah tiba-tiba meudjadi
lemas.
Ia merasa sangat gemas pada dirinja sendiri, tidak bisa
lantas menelan Giok djie bulat-bulat kedalam perutnja.
Tetapi Giok djie sendiri sekali-kali tak menjangka bahwa
lirikan sepasang matanja bisa menerbitkan perasaan rindu
orang.
Tetapi Lim tiong tiok djuga sangat paadai berpura-pura.
Didepan sang guru dan putri gurunja tidak pernah ia berani
menundjukkau sikap kurang adjar atau kurang sopan
sedikitpun, tetapi hatinja selalu merindukan sadja Poei giok
djie.
Pada barl itu. dasar mesti terdjadi perkara, maka Poei tjie
tong meninggalkan kelenting tempat kediamannja, sampai
malam belum druga pulang.
Lim tiong tiok memang mengetahui bahwa gurunja itu
sedang pergi ke Bwee hoa hong, maka setelah ia makan malam
dirumahnja sendiri, diam-diam ia berdoa kepada Tuhan, supaja
pendjahat-pendjahat menahan gurunja menginap diatas gunung
agar ia mempunjai kesemparan buat menjampaikan maksudnja
terhadap Giok djie.
Lalu ia menunggu sampai kira-kira kentongan kesatu, ia
lalu membesarkan njalinja. Diam-diam ia lalu keluar dari
dalam rumahnja dan dibawah penerangan tjahaja rembulan,

Hoa Hoa Pa 52
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

seolah-olah terbang tjepatnja ia lari menudju ke djurusan


kelenteng leluhur tempat kediaman gurunja.
Ia segera melompat masuk kedalam pekarangan kelenteng
melalui tembok, kemudian ia berdjalan menudju kedalam
tjimtjee sambil mengawasi kedua kamar gurunja. Ternjata
kamar Poei tjie tong keadaannja gelap sadja, maka ia menduga
gurunja tentu tak pulang, maka dengan berindap-indap ia lalu
mengintip ke djurusan dalam kamar melalui mulut djendela.
Oleh karena tjahaja rembulan menyorot sangat terangnja
kedalam kamar, maka melihat sekelebatan sadja ia lantas bisa
mengetahui bahwa kamar itu memang betul-betul kosong.
Kegirangannja bukan alang kepalang besarnja, buru-buru
ia menghampiri kesebelah luar djendela kamar Giok djie,

Ternjata tjahaja lampu dalam kamar itu sangat terang


benderang, sehingga garis-garis kertas penutup daun djendela
tertampak tegas sekali.
Tiong tiok buru-buru dengan perlahan membuat sebuah
lubang dengan djalan memetjahkan kertas djendela dengan
udjung lidahuja, sambil terus buru-buru mengintip kedalam,
Ternjata Giok djie sudah merebahkan diri di atas
pembaringan.
Sebush selimut sutera menutupi tubuh sebelah bawahnja,
sedangkao tubuh sebelah atasnja berada diluar selimut,
sehingga tertanpak sepasang bahu tangannya jang putih seolah-
olah saldju, dan kutang merah sutera jang disulami kembang-
kembang jang dipakai didepan dadanja.

Hoa Hoa Pa 53
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Disisi pembaringan terdapat sebuah perapian jang baranja


masib menjala-nyala.
Rupanja Giok djie tadinya sedang rebahan sadja sambil
menghangatkan tubub didepan perapian, tetapi ia kepulesan,
sebiagian kulit mukanja jang putih mendjadi bersemu merah
seolah-olah bunga Tho sedang bersenjum.
Melihat pemandangan begitu hati Lim tiong tiok djadi
berdebar-debar keras, dan sekudjur badaarja mendjadi .
kesemutan.
Tak tertahan lagi ia terus memanggil, "Lie soehoe! Apakah
engkau sudah tidur atau belum?"
Giok djie sebenarnja sedang menantikan pulangnja sang
ajah, dan maksudnja belum mau tidur, tetapi ia kepulesan,
maka ketika ia mendeagar suara orang memanggil, tjepet ia
lompat turun pembaringan, dan memakai pakaian kulitnja,
seraja bertanja ; “Siapakah jang memanggil aku?'"
“Lie soehoe! inilah aku!" sahet Tiong tiok.
“Aja. kiranja Tioog tiok!” kata Giok djie. “Tengah malam
buta, engkau hendak mengapa datang kesini?”
“Aku mempunjai suatu urusan penting jang hendak
dibitjarakan dengan Lie soehoe!" kata Tiong tiok. “Bukakanlah
aku pintu, nanti aku katakan kepadamu!"
“Perkara apa?" Giok djie bertanja lagi.
“Kau katakan sadja dari luar! Thia thiaku tak ada dirumah,
maka tengah malam buta mana boleh sembarangan membuka
pintu !”
Lim tiong tiok gugup sekali.

Hoa Hoa Pa 54
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

“Oh, Soehoe jang baik! ajoh lekas bukakan sadja pintu!


karena aku ada urusan jang sangat penting! djika terlarnbat
sedikit, aku kuatur urusan bakal kapiran!”
Giok djie ketika mendengar suara Lim tiong tiok berkata
sampai begitu gugup, ia kira dia itu betul-betul ada urusan
penting. maka ia segera keluar dari kamar dalam dan menudju
kekamar luar tempat ajahnja tidur dan membukakan pintu.
Dengan kegirangan sekali Lim tiong tiok terus masuk
kedalam kamar luar itu, sambil terus menguntjikan pintu
kamar itu.
“Ada urusan apa? tjobalah terangkan!'' kata Giok djie.
“Djangan gugup!'' kata Tiong tiok .
“Disini keadaan gelap gulita, maka bagaimanakah boleh
dituturkan disini, nanti kita masuk ke kamar dalam dahulu.
baru kita bitjara sambil berduduk ...
“Tidak usah," kata Giok djie,
“Kau tunggu sadja dikamar luar, nanti aku akan
mengambilkan lampu kesini!"
Setelah berkata begitu, Giok djie terus masuk kekamar
dalam buat mengambil lampu.
Tidak kira, Lim tiong tiok sudah mengikuti masuk
kedalam kamar, sambil dengan dalam sekali ia terus
membungkukkan badannya memberi hormat.
Karuan sadja paras muka Giok djie djadi berubah merah.
“Setan! mengapa engkau berlaku tak karuan?'' ia
meatjomel.

Hoa Hoa Pa 55
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Lim tiong tiok djuga dengan berubah merah mukanya


tjepat berkata: “Soehoe jang baik! Tolonglah aku .... muridmu
ini!”
“Siapakah jang merugikan dikau maka engkau datang
kesini dan meminta pertolongan kepadaku?” Giok djie
bertanja.
Lim tiong tiok bermesem-mesem, kemudian ia berkata
dengan suara perlahan: “Aku kena dirugikan oleh engkau
sendiri, Lie soehoe! Maka aku mau supaja engkau menolong
kepadaku !"
“Hus! kapankah aku pemah merugikan dikau? Dan
bagaimana aku dapat menolongnja?" kata sigadis sambil
terheran-heran dan tjuriga.

“Oleh karena paras Lie soehoe terlalu tjantik, lebih lagi


sepasang mati soeuoe seolah-olah mempunjai daja penarik
jang membetot njawaku maka siang malam aku rasanja terbang
sadja diatas badanmu! Oh, soehoe jang baik, berlakulah murah
hati sekali ini. Malam ini sedangnja Lo soehoe tak ada disini,
kita mengikat perdjodohan untuk seumur hidup!” kara Tiong
tiok dengan separuh meratap.
Dan setelah berkata begitu, segera ia madju mendekati dan
mengelus sepasang buah dada Giok djie.
Sakiag kagetnja, hati Giok djie memukul keras sekali,
Tetapl biar bagaimana gagahpun djuga adanja, Giok djie,
toch dia manusia biasa bukannya dewa atau malaikat. Lagipula
dia sudah gadis jang berusia 18 tahun, maka bagaimana dia
bisa tahan godaan begitu rupa dari seorang laki-laki muda jang
tjakap??

Hoa Hoa Pa 56
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

––––––––

Setelah matahari sudah naik tinggi, mereka masih sadja


belum ingat bangun, sehingga ketika Lo matjoe dari luar
memaaggil manggil barulah mereka kaget dan mendusin dari
tidurnja.
Kedua orang buru-buru turun dari pembaringan.
Semenraea Giok djie buru-buru menjuruh Lim tiong tiok
bersembunji dalam kamar dalam, sedaagkan ia sendiri tegesa-
gesa menudju kekamar luar dan membuka pintu.
Lo matjoe segere mengbantarkan dan mengatur air buat
tjutji muka dan makanan pagi diatas medja.

Setelah Giok diie tjutji muka dan kekumur, sewaktu ia


lihat tidak ada orang, diam-diam ia lalu menjuruh Lim tiong
tiok buru-buru keluar, dan memesan dia supaja tengahari
datang lagi.
Dengan hati berbunga-bunga, Lim tiong tiok berdjalan
pulang.
Ingat pada perkara semalam hati Giok djie djadi girang
bertjampurtakut. Girangnja ternjata Lim tiong tiok itu sangat
menjenangkan hatinya, sedangkaa takutnja adalah kuatir
perbuataunja nanti ketahuan oleh ajahnja, maka dia tentu bakal
dimarahi.
Sedangnja ia berduduk bengong sambil berpikir-pikrr tak
henti-hentinya, tiba-tiba ia mendjadi terkedjut.
“Aja! Thia-thia pergi ke Bwee hoa hong mengapakah pada
waktu ini masih belum djuga pulang? Djangao-djangan dia

Hoa Hoa Pa 57
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

menelan kerugian dari orang lain! Biar nantii kutunggu sampai


rengah hari, apabila thia-thia masih belum djuga pulang, aku
mesti berangkat kesana buat menolongnja."
Berpikir sampai disitu, ia ingat lagi pada perkaranja, maka
ia djadi sangat djengkel.
Pada saat itu, tiba-tiba Yo hong datang. Meaampak Giok
djie, dia lantas bertanja: “Soemoey! Soepek kemarin apakah
pergi ke Bwee boa hong atau tidak?”
Gick djie tjepat menjilahkan Yo hong berduduk, sambil
mendjawab: “Ja, thia-thiaku kemarin sore pergi, tetapi entah
mengapa, sampai waktu ini dia belum djuga pulang! Soeheng,
lebih baik kau makan nasi sadja disini, nanti sesudah makan,
bersama sama Moay-tjoe mentjari ke sana."

Yo hong djadi saugat bingung dan kesel, maka iapun


menunggu disitu, dan makan tengah hari bersama-sama
Soemoaynja.
Setelah bersantap, Giok djiepun masuk kekamar dalam
buat tukar pakaian serba ringkas sambil menggendong golok
Tay boan tonya dan membekal kantong jang berisikan piauw.
Setelah berdandan selesai, Iapun berdjalan dari kamar
dalamm ke kamar luar.
Diluar ia dapatkan Lim tiong tiok sudah sedang berbitjara
dengan Yo hoog.
Melihat Tioog tiok, maka tak terasa lagi paras muka Giok
djie mendjadi berubah merah. begitu djuga Tiong tiok
tampaknja kemalu maluan, hingga Yo hong mendjadi tjuriga.
dan menduga tudjuh delapan bagian.

Hoa Hoa Pa 58
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Se1dah menetapkan batinja, Giok djie lalu berkata pada


Tiong tiok, “Aku dan Yo soeheng hendak naik ke Bwe hoa
hong buat melihat Thia-thiaku, mungkin kami akan berkelahi
buat mengadu djiwa! Apakah engkau mempunjai keberanian
buat turut kami pergi kesana?”
“Sudah tentu!” sahut Lom tiong tiok dengan gembira dan
tak mau menundjukkan kelemahan. “Djika aku takut pada
pendjahat, masakah aku mendjadi laki-laki? Aku djuga akan
pergi kesana! Tetapi tunggu aku pulang dahulu karena aku
akan mengambil golokku dirumah!”
“Tidak usah pulang lagi! Golok pokto Thia-thiaku sadja
kau pindjam dahulu!” kata Giok djie.
Kemudian ia masuk kedalam kamar dan menjerahkan
golok pokto ajahnja itu kepada Tiong-tiok.
Tiong tiok menjambuti golok itu dengan gembira sambil
meringkaskan pakaiannja.
“Dan engkau Soeheng, apakah membawa sendjata?” Giok
djie kemudian beranja kepada Yo hong.
Yo hong mengeluarkan golok tantonja dari dalam badju
dalamnja seraja berkata, “Ja, aku membawa."
Giok djie djadi girang, tjepat ia memanggil Lo matjoe, dan
membentahukan tempat kepergiannja seraja menjuruh dia
mendjaga tempat itu dengao hati-hati.
Kemudian berangkarlah ketiga orang itu menudju ke Bwee
hoa bong.
––––––––

Hoa Hoa Pa 59
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Poei tjie tong kendati sudah berusia tua, tetapi badannja


masib tjukup kuat, maka biarpun ia dipetjuti dan digebuki oleh
Koei poet peng dan Mo tay bouw, tetapi ia tinggal
memeramkan sadja matanja, menahan segala penderitaan
dengan tidak pernah mendjerit ataupun mengaluh.
Kedua pendjahat itu setelah menggebugi Poei tjie tong
sampai pada kentrongan keempat, sehingga amarah merekapun
sudah hiang separuh, maka mereka lantas berhenti memukul,
dan sesudah mereka menambabkan lagi ikatan Tiie tong
dengan sebuah dadung besar, dan menjuruh beberapa
thauwbak jang boleh dipertjaja buat mendjaga, barulah
masing-masing pulang kekamarnja dan tidur.

Ketika melihat kedua orang itu sudah pergi, maka Poei tjie
tong hendak berusaha melepaskan dirinja dari belengguan,
terapi kareaa tambang idjuk besar dan dadung jang dipakai
mengikat sengat kuatnja, maka Ia tak dapat memutuskannja,
dan tak ada lain djalan ia hanja menjerahkan nasibnja kepada
Tuban.
Pada hari keduanja, Koei poet peng dan Mo Tay houw
begitu bangun tidur, lantas pergi ke pesanggerahan belakang
buat memeriksa.
Kerika mereka melihat Poei tjie tong sedang tidur pules
diatas tanah, dengan mengeros njaring seolah olah napas
kerbau, kedua orang itu tak terasa lagi djadi tertawa
berkakakan, kemudian mereka balik ke ruang Tiong gie tong.
dan memesan mereka supaja berhati-hati mendjaga pintu jang
dipasang ditengah perdjalanan buat naik ke atas puntjak
gunung, supaja diangan sampai Hoa-hoa pa dapat menerobos
naik.

Hoa Hoa Pa 60
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Para thauwbak segera menudju ketempat pendjagaan itu


dan menjediakan menguotjikan pintu rapat-rapat, seraja
mengumpulkan batu-batu besar buat digelundungkan kebawah,
apabila Hoa hoa pa datatig.
–––––––
Poei giok djie jang mengadjak Yo hong dan Lim tiong tiok
menudju ke Bwee hoa sao, setelah meadaki puntjak gunung itu
dan berdjalan kira-kira setengah lie. mereka sudah dapat
mendengar suara gemumhnja pendjahat-pendjahat diatas
gunung.

Giok djie jang bermata tadjarn, siang-siang sudah dapat


melihat pintu jang dibuatkan ditengah djalan buat menudju
kegunung telah dikuntjikan, sedangkan disebelah dalam piatu
telah ditumpukkan batu-batu besar ketjil jang tak terhitung
banjaknja.
Giok djie tjepat merandek dan menoleh pada Yo hong,
“Soeheng! tjoba kau lihat! diatas itu orang sudah menjediakan
batu! apabila mereke melempari batu-batu itu pada kita,
bagaimana kita dapat menjingkir? maka itu, engkau lebih baik
menunggu dibawah gunung sadja, sedangkan aku dan Lim
tioog tiok berdua akan naik terus. Apa bila mereka
melemparkan batu-batu itu kami akan menjingkir kehutan dan
mendaki gunung terus!”
Yo hong teepaksa turun lagi kebawah.
Giok djie dan Lim tiong tiok segera meneruskan
perdjalanan mereka keatas guilung.
Setelah mereka berdjalan kira-kira setengah lie lagi, para
tbauwbak jang mendiaga disebelah dalam lingkungan pintu

Hoa Hoa Pa 61
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

besarpun telah melihat mereka, maka dengan mengeluarkan


teriakan-teriakan mereka terus melempari kedua orang itu
batu-batu jang sudah disediakan mereka.
Tetapi Giok die buru-buru melesat masuk kedalam hutan
disisi djalan dan perbuatan itu diturut djuga oleh Lim tiong
tiok.
Para thauwbak jang mendjaga diatas, ketika melihat tadi
ada dua orang, tetapi begitu dilempari batu terus tak kelihatan
lagi, pada sangka mereka, kedua orang itu tentunja sudah kena
timpukan mereka, dan pada menggelinding kebawah, maka
hati mereka girang sekali.

Giok djie dan Tiong tiok berdjalan terus dan, menjusur


hutan-hutan disisi djalan sampai kira-kira tinggal beberapa
belas tindak lagi dari pintu pendjagaan dan merekapun hanja
terhalang oleh 2 - 3 baris pohon-pohon sadja.
Setelah hutan itu babis dilewati, ternjata disitu ada sebuah
solokan jang lebar dan dalam, hingga Lim tiong tiok djadi
keder .
Tetapi Giok djie ketika melihat begitu djadi tertawa, terus
sadia Tiong tiok dikempit dibawah ketiaknja, sambil berseru
dengao suara keras:
“Hoa hoa pa datang!” ia terus melompat keseberang, terus
melepaskan Tioog tiok dan mentjabut golokaja mengamuk
para tbauwbak jang mendjaga pintu besar itu, bingga para
rhauwbak jang masih hidup lari kutjar katjir keatas gunuag,
melaporkan ke:djadian itu kepada tay ong mereka.
Mendengar Hoa hoa pa telah naik keatas guoung, maka
Koei poet peng dan Mo tay bouw tjepat menjembat sendjatanja

Hoa Hoa Pa 62
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

masing-masing, dan dengan berlari lari mereka terus memburu


buat menjambut seraagan musuhnja.
Giok djie dan Tioag tiok tjepat meninggalkan para
thauwbak, terus memburu djuga keatas gunung dan berpapasan
dengan Mo thay houw berdua.
“Berandal bangsat!” Giok djie memaki, “Lekas hantarkan
thiathiaku keluar! Bila engkau banjak bantahan, sarang
rampokmu akan kuubrak abrik!"
Mo tay houw tertawa berkakakan.

“Sungguh sombong sekali engkau! Ajuh lekas mari sini!"


Setelah berkata begitu, segera ia membatjok Giok djie,
Giok djle tjepat mempergunakan Tay hoan tonja
menjambuti serangao itu, maka mereka bertarung seru sekali
diatas guoung itu.
Lim tioog tiok karena baru pernah menjaksikan
pertempuran sesungguhnja, maka hatinya sedikit keder, maka
itu ia tinggal berdrri sadja disamping menonton Giok djie
berkelahi dengan Mo tay houw.
Sedang ia enak-enak menonton, tiba-tiba Koei poet peng
madju memburu sambil menjabet kepala Tioeg tiok dengan
golok Poktonja.
Lim tiong tiok buru-buru menangkis, maka pertempuran
jang terdiri dari empat orang dan terbagi djadi dua rombongan
telah terdjadi.
Setelah bertarung lama djuga, Giok djie karena takut
Tioog tiok jang baru pernah bertempur, mengalami kerugian,

Hoa Hoa Pa 63
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

maka tidak djarang ia melirik kedjurusan Tiong tiok jang


menghadapi Koe poet peng itu.
Ternjata betul sadja, lama kelamaan Tiong tiok perlahan-
lahan mendjadi keteter, dan headak melarikan diri, tetapi Koei
poet peng mendesak terus dengan keras sehiogga Tioog tiok
tak mempunjai barang sedikit kesempatan buat lari, sehingga
paras mukanya sudah berubah merah semua.
Melihat djiwa Tiong tiok sudah berada dalam bahaja,
maka Giok djie djuga djadi sangat gugup, dan dengan tak
banjak rewel lagi ia terus menjambitkan goloknja sendiri
kedjurusan Koei poet peng, jang mengenai djitu bahu tangan
sebelah kanan dari musuh jang dimaksud sehingga darah
segera mengalir keluar tak henti-hentinja, dan terus ia djatuh
robob karena sakitnja.
Mo tay houw ketika melihat Giok djie sekarang bertangan
kosong sadia, maka ia terus madju mendesek dengan keras,
sambil berulang-ulang membatjok lawannja itu.
Tetapi Giok djie biarpue tak bersendjata apa-apa, dengan
gesitnja berkelit kesana kemari, kadang-kadang 1a meleset
keatas, dan berkali-kali menondjok tubuh Mo tay houw. begitu
ia mendapat kesempatan.
Mo tay houw mengeluarkan seluruh tipu permainan golok
Poktonja, tetapi toch ia tak dapat merobohkan Giok djie,
sebaliknya si nona Poei itu sudah berkali-kali “mentjetol''
tububnja dengan kepelannja dan berputar putar kesana kemari
seolah olah kupu-kupu berterbangan diaotara bunga-bunga,
sebentar dikiri, sebentar dikanan, sebentar lagi di belakang,
kemudian didepan, sebingga sekudjur badan Mo tay houw
djadi mengeluarkan keringat panas.

Hoa Hoa Pa 64
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Lama kelamaan ia djadi gugup dan ketjapean, maka


permaiuan goloknja mendjadi kendor dan kalut.
Glok djie ketika melihat ada kesempatan baik segera
berseru: “Pergilah!” sambil terus mengirim sebuah tendangan.
sehingga orang she Mo itu djatuh terlentang diatas tanah.
Tiong tiok segera memburu dan mengirim sebuah
batjokan.
Mo tay houw mengeluarkan satu djeritan terus ia tewas.
Koei poet peng ketika melihat kedjadian begitu, saking
takutnja, ia tak mempedulikan lagi rasa sakit jang bebat pada
bahu tangannja dengan segera ia mengangkat langkah seribu,
untuk meno long djiwanja.

Giok djie tjepat menangkap seorang thauwbak dan


menanjakan keterangan tentang ajahnja.
Thauwbak itu manerangkan sedjelasnja,
Maka Giok diie setelah mendjumput kembali golok Tay
boan tonja, segera menjuruh thauwbak Itu mendjadi penundjuk
djalan dan bersama-sama Lim tiong tiok, ia terus beedjalan ke
pesanggrahao belakang,
Terajata disitu benar Tjie tong tertampak diringkus dengan
tambang idjuk besar dan tambang dadung.
Melihat putrinja dan sang murid datang, Tjie tong djadi
girang sekali.
“Giok djie, lekas bukakan tambaag ikatan ajah!" katanja.
Melihat demiktan, hati Giok djie mendjad pilu, maka
deagan mengembeng air mata ia terus membukakan ikatan itu.

Hoa Hoa Pa 65
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Dengan tertawa Poei tjie tong berkata, “Aku sudah hidup


sampai begini tua, tidak kunjana, aku kena dipedajai orang
dengan Bong han ya jang ditjampurkan dalam arak! Sunguh
menggelikan sekali! Anakku, apakah engkau telah
mengalahkan semua pendjahat?"
Giok djie menganggukkan kepalanja, seraja menuturkan
kedjadian jang barusan.
Tjie tong djadi girang sekali.
Tiong tiok tjepat mengadjak mereka turun gunung.

“Tetapi, Soehoe masih ada lagi seorang kepala bangsat


jang bermata satu! Dia itu belum dibunuh mati!" kata Tiong
tiok.
“Biarkan sadja sudah!" saut Tjie tong, "Kabarnja Soe boen
liong siang-siang sudah tak ada disini. Dan orang she Soe itu
sungguhnja djuga adalah seorang kawan jang boleh kita hargai
maka aku memaodang pada muka orang she Soe, biarlah kita
jangan mempedulikao lagi pada pendjahat jang bermata satu
itu. Kini sang waktu sudah tak terlalu siang lagi, marilah kita
turun gunung!"
Giok djie sambil membimbing ajahnja, lalu berdjalan
turun gunung bersama sama Lim tiong tiok.
Sesampainja dikaki gunung, mereka bertemu dengao Yo
hong jang menantikan mereka disitu, maka mereka bersama-
sama terus pulang ke Lim kee tjung.
Ketika mereka tiba disitu, sang waktu sudah kentongan
pertama.

Hoa Hoa Pa 66
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Keempat orang jang beedjalan masuk kedalam pekarangan


kelenteng dan mengetuk pintu depan, maka budak ketjil jang
mendengar ketukan itu, segera membukakan pintu, kemudian
mereka bersama sama masuk kedalam kamar, dan menaruh
alat sendjatanja masing-masing.
Budak ketjil dan Lo matjoe tjepat menghantarkan air dan
nasi.
Sesudah tjutji muka, maka merekapun makanlah.
Setelah makan, Lim tiong tiok terus berpamitan pulang
kerumahnja.

Tetapt Yo Hong ditahan oleh Poei tjie tong, seraja ia


menerangkan dengan djelas tentang pertemuannja dengan Soe
boen liong kemarin di Bwee hoa hong, dan pembitjaraannya
dengan orang she Soe itu mengenai Tjay hoan hoog Pek Giok
Sang.
Menurut keterangan orang she Soe itu," Tjie tong
menambahkan. “Orang she Pek itu memang sesungguhnya ada
orang jang gemar sekali paras elok! Tetapi dia tak tahu menahu
hal pentjulikan Sam naynay itu. Ketika Lo hoe sengadja
membohonginja dengan mengataltan bahwa Pek giok hong
meninggalkan tulisan di Kang kee tjhung, nampaknja dia
gemas. Memang Soe boen liong itu kendati orang dari
golongan Lioklim, tetapi sangat mengerti aturan. Ketika dia
melihat aku dikedja mabok oleh Mo tay houw berdua dengan
Bong han yo jang ditjampurkan dalam arak, lantas dia
mendjadi gusar dan meninggalkan gunungnya. Maka dari situ
njata, bahwa dia itu mempunjai Giekhi jang dalam. Hanja Sam
naynay itu dibawa kemana oleh pendjabat tjabul she Pek itu,
untuk waktu jang singkat mungkin tak mudah kita selidiki. Yo

Hoa Hoa Pa 67
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Hiantir, lebih baik esok pagi setelah engkau pulang,


kauterangkan sadja sedjelasnja kepada Kang pek ban, dan
minta supaja dia djangan gugup. Nanti kita mengambil
tindakan dengan perlahan-lahan buat menjeli diki lebib djauh.”
Yo hong djadi mengerutkan halisnja.
“Tetapi aku kira usul Soepek itu tak dapat di didjalankan,
sebab Tong ongku itu dengan kehilangan Sam naynaynja itu,
tidak berbeda seolah-olah orang jang kebilangan sematjam
popwee jang sangat luar biasa. Maka apabila aku pulang, tentu
dia bakal menjusahkan aku lagi. Maka sesungguhnja diuga aku
sangat takut untuk menemui dia lagi!" katanja.

"Kalau begitu," kata Tjie tong. “Sepulangnja engkau dari


sini dan mendjumpai dia, kau usulkan sadja dia supaja pergi
kekota Peng yang buat melaporkan kedjadian itu pada
pembesar negeri, supaja pembesar negeri jang nanti akan
menguruskan perkara itu,"
Yo Hong menjatakan “Baik!”
Waktu itu sudah kentongan kedua, maka Yo Hong pun
malam itu menginap di kelenting leluhur tempat tinggal
soepekja itu.
––––––––
Lim Tiong tiok jang kemarin malam berseddap-sedapan
dengan sang guru (Poei giok djie) sampai semalaman, maka
pada hari esoknja pagi-pagi, ketika ia pulang ke rumah ibunja,
Ong sie, menanjakan dengan melit dimana semalam ia
menginap.

Hoa Hoa Pa 68
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Tiong tiok lantas berbohong bahwa dia tidur bersama-


sama gurunja, Poei tjie tong.
Ong sie pertjaja sadja keterangan dusta dari anaknja.
Tidak kira, Tiong tiok merasakan celana dalamnja basah
dan lengket, maka ia lantas menguntji pintu kamarnja dan
menukar tjelana dalamnya dengan terburu-buru, sedangkan
tjelana kotornja disesapkan kedalam tumpukan selimut.
Dan sesudah makan tengahari, lantas ia mengatakan
kepada ibunja, bahwa ia hendak pergi keruman gurunja, dan
terus meninggalkan rumahnja.
Melihat kelakuan anaknja jang begitu mentjurigakan,
sudah tentu sadja Ong sie mendjadi tjuriga, buru-buru ia pergi
kedalam kamar anaknja, dan setelah ia mentjari-tjari, segera ia
dapat melihat tjelana dalam sang putra itu.
Melihat apa jang terdapat pada tjelana dalam sang anak
itu, Ong sie sebagai seorang perempuan jang sudah berusia
empat puluh tahun, bagaimanakah tidak lantas mengerti?
“Wah, itu anak binatang, tentu semalam melakukan
perbuatan sebagai binatang! Hanja sungguh kasihan anak gadis
orang mendjadi korban perbuatan binatangnja! Djika Poei lo
soehoe sampai mengetahui perbuatan anak binatang itu,
bagaimana aku merasa enak hati terhadap dia jang sudah
mengadjar begitu baik puteraku! Aih! Tidak kunjana sama
sekali, didunia ini bisa ada binatang jang begitu besar
njalinja!”
Semakin dipikir, Oog sie mendjadi semakin djengkel,
maka achirnje ia menangis sediri tak henti-hentinya.

Hoa Hoa Pa 69
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

Setelah Lim tiong tiok makan malam ditempat gurunya.


dan pulang kerumah, tiba-tiba ia melihat ibunja sedang
menangis, maka tak terasa lagi ia djadi sangat terkedjut.
“Ibu! mengapa engkau menangis? Apakah ada orang jang
menghinakan dikau? ia bertanja dengan tjepat.
Menampak putranja pulang, amarah Ong sie segera djadi
meluap.
“Keteplok!'' ia terus menampar muka anaknja, sehingga
Tioag tiok djadi melongo, dengan mata mendelong dan mulut
menganga, tak dapat berkata barang sepatah kata.
“Binatang!!" Ong sie memak, “Ibumu dengan susah pajah
merawati engkau sampai mendjadi begiui besar, maka aku
mengharap supaja engkau bisa mendjadi orang baik-baik!
Tidak kira perbuatan mu ternjata tak berbeda dengan seekor
binatang! Pertjuma sadja ibumu memelihara pada engkau
semendjak angkau masih merah! Sia-sia semua kesusah
pajahan aku dalam segala-galanja jang kutumplekkan untuk
kepentingan engkau! Maka bagaimana bila aku pikir-pikir tak
mendjadi sedih?"
Setelah berkata begitu, Ong sie benar-benar menangis
semakin sedih.
Lim tiong tiok sudah tentu sadja mendjadi sangat bingung.
“lbu. anak sebenarnja telah menerbirkan kesalahan apa?
Maka ibu sampai mendjadi begitu marah?" katanja sambil
membanting banting kakinja karena kedjengkelan, “Apabila
anak mengetahui sebab-sebabnja, tentu anak bisa buru-buru
meminta ampun kepada ibu, dan memperbaikan kesalahan
itu!"
Ong sie mengawasi muka anaknja.

Hoa Hoa Pa 70
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

"Sekarang aku hendak bertanya, kemarin malam engkau


sesungguhnja menginap dirumah siapa?” ia bertanja,
Mendengar pertanjaan jang tak disangka sangka itu, maka
Tiong tiok tak terasa lagi djadi berobah merah selebar
mukanya.
Ia berdiam sampai seketika lamanja, barulah la mendiawab
dengan suara serak. “Bukantab anak waktu siang sudah
memberitahukan kepada ibu, bahwa aku menginap dirumah
Poei Lo soehoe?”
“Engkau membobongi aku, bahwa enckau tidur bersama
sama Poei Lo soehoe! betul tidak!” Ong sie bertanja lagi
dengan gusar.
“Sekarang aku hendak bertanja, Noda darah ditjelana
dalammu dari mana datangnja?”
Pertanjaan itu mengedja Tiong liok djadi terdiam sehingga
tak dapat mengatakan apa-apa.
Ia hanja menundukkan kepala sadja, tak mendjawab
pertanyaan itu.
“Binatang! bagus ja perbuatanmu!” ia memaki dengan
gusar.
"Gadis orang jang sedang kesusahan, jang sangat
dibanggakan tinggi oleh Soe beng sioksiok, aku hendak
melihat bagaimana engkau mendjadi orang? apakah engkau
sudah lupa dengan budi kebijikan Soe beng sioksiok jang
begitu besar terbadap kita? nanti apabila ibumu dimaki-maki
dikatakan sebagai orang jang tak betjus mengadjar anak,
bukantah nama kebaikan ibumu buat seumur hidup mendjadi
ternoda. Binatang! binatang! orang hidup didunia jang paling
terutama adalah tidak ada nodanja! semendjak ajahmu

Hoa Hoa Pa 71
Koleksi Goldy Senior hup://lontaremas.blogspot.com

meninggal dunja, apakah engkau pernah melihat ibumu


mentjoba main gila dengan orang lain? sungguh tidak kunjana,
mengapa aku bisa mengeluarkan orang seperti engkau jang
begitu durhaka!"
Sedangnja Ong sie memaki-maki anaknja dengan sengitnja
itu, tidak kira Hong seng pekpek jang tmggal dirumah
sebelahnja mendjadi bangun dari pembaringannja.
––––––––

(Bersambung ke Djilid 3)

Hoa Hoa Pa 72