Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TINDAKAN KEPERAWATAN

PEMBERIAN OKSIGENASI NASAL KANUL PADA NY. D


DI RUANG IBS RS PERMATA BUNDA PURWODADI

DISUSUN OLEH :
DELLA AYU SASMITA
72020040388

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
2021
Nama Mahasiswa : Della Ayu Sasmita
Hari/ Tannggal : Rabu/ 2 Juni 2021
NPM : 72020040388
Judul Jurnal : Pemberian Oksigenasi Nasal Kanul

1. Identitas Klien
Nama : Ny. D
Umur : 28 Tahun
Alamat : Tengaran Rt/Rw 04/03 Brati
Jenias Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Suku/bangsa : Jawa
Status perkawinan : Menikah
Tanggal MRS : 2 Juni 2021
No. RM : 249873
Diagnosa Medis : Chepalopelvic Disproportion (CPD)

2. Pengkajian
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis E4 M6 V5
- DS : Pasien mengatakan ingin mengejan
- DO : Pasien tampak kesakitan
TD : 120/80 mmHg
N : 96 x/menit
RR : 22 x/menit
S : 36,5 ℃
SpO2 : 97%

3. Tindakan
Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan oksigen di atmosfer (lingkungan). Di atas permukaan
laut, konsentrasi oksigen dalam udara ruangan adalah 21% (Muttaqin, 2018).
Terapi oksigen terbagi atas dua yaitu sistem aliran rendah dan sistem aliran
tinggi. Terapi oksigen aliran rendah diantaranya adalah pemberian oksigen dengan
nasal kanul dan sungkup muka non rebreathing (Suciati, 2016).
Nasal kanul adalah alat sederhana yang sering digunakan untuk
menghantarkan oksigen. Pemberian O2 sistem aliran rendah ini ditujukan untuk klien
yang memerlukan O2 tetapi masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal,
misalnya klien dengan volume tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16-20
x/menit dengan kecepatan aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 22-24%, dengan
cara memasukkan selang yang terbuat dari plastik ke dalam hidung hanya berkisar
0,6-1,3 cm dan mengaitkannya dibelakang telinga (Kusnanto, 2016).

SOP Pemberian Oksigen Nasal Kanul


Merupakan alat sederhana yang dimaksukkan ke dalam lubang
Pengertian hidung untuk pemberian terapi O2 dan yang memungkinkan
pasien untuk bernafas melalui mulut dan hidung
a. Mengatasi hipoksemia/hipoksia
Tujuan b. Sebagai tindakan pengobatan
c. Untuk mempertahankan dan memnuhi kebutuhan oksigen
a. Tabung oksigen (oksigen dinding) berisi oksigen lengkap
dengan flowmeter dan humidifier yang berisi aquades hingga
Persiapan Alat batas pengisian.
b. Selang Kanul binasal
c. Plester
a. Pasien diberitahu tentang tujuan dan prosedur tindakan yang
Persiapan Pasien akan dilaukan.
b. Pasien diatur dalam posisi aman dan nyaman
a. Mengkaji data/ informasi mengenai kekurangan oksigen
(sesak nafas, cuping hidung, penggunaan otot pernafasan
Persiapan Perawat
tambahan, takkikardi, gelisah, bimbang, sianosis)
b. Mencuci tangan
Prosedur Kerja a. Siapkan alat yang diperlukan
b. Hubungkan antara kanul nasal dengan tabung oksigen
c. Cek fungsi dan atur konsentrasi O2 serta mengamati adanya
gelembung udara dalam humidifier
d. Cek aliran O2 dengan mendekatkan pada punggung tangan
perawat
e. Pasang kanul pada pasien
f. Pastikan kanul terpasang dengan aman
g. Alirkan O2 sesuai dengan program terapi yang ditentukan
h. Merapikan alat dan mencuci tangan
Respon pasien selama 15 menit setelah dilakukan tindakan
Evaluasi
pemasangan terapi oksigenasi
Dokumentasi Catat semua tindakan

4. Analisa
Tindakan pemberian oksigen merupakan tindakan kolaborasi medis yang
bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan oksigen serta mencegah atau
mengatasi hipoksia sehingga pasien lebih nyaman ketika pre dan post operasi.
Keadaan pasien setelah dilakukan pemberian oksigen :
- DS
Pasien mengatakan lebih nyaman
- DO
Pasien tampak rileks
TD : 130/80 mmHg
N : 96 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,5 ℃
SpO2 : 99%

Peranan oksigenasi dalam metabolism memproduksi energi utama untuk


berlangsungnya kehidupan sangat tergantung pada fungsi paru yang menghantarkan
oksigen sampai berdifusi lewat alveoli kekapiler dan fungsi sirkulasi sebagai transport
oksigen kejaringan. Disamping sebagai bahan bakar pembentukan energy oksigen
dapat juga dipakai sebagai terapi berbagai kondisi tertentu, termasuk pada pasien
dalam keadaan terpengaruh obat obat anestesi.
Terapi oksigen bertujuan untuk mempertahankan oksigenasi jaringan yang
adekuat. Sehingga metabolisme intra seluler berjalan lancar untuk memproduksi
fosfat berenergi tinggi sebagai motor kehidupan disamping untuk terapi beberapa
keadaan tertentu. Terapi oksigen pada pasien dengan pengaruh anestesi mencegah
terjadinya hipoksia dan hiperkarbia.
Penggunaan anestesi spinal dapat menyebabkan beberapa komplikasi yaitu
yang bersifat akut,yaitu hipotensi karena dilatasi pembuluh darah maksimal,
bradikardi terlalu tinggi, hipoventilasi. Maka pemberian terapi oksigenasi sangat
diperlukan mencegah terjadinya hipoksia dan hiperkarbia yang ditandai dengan sesak
nafas dan sukar bernafas sebagai gejala utamanya.
Terapi oksigen adalah dasar dari terapi,pemberian oksigen 30-60% oksigen
biasanya cukup untuk mencegah terjadinya hipoksia dengan hipoventilasi sedang.
Terapi oksigen sebaiknya dipandu dengan memonitor SPO2.
Terapi oksigen dalam anestesi spinal tidak cukup hanya memberikan O2 tapi
harus dikoreksi latar belakang terjadinya hipoksia dan didukung pengetahuan yang
cukup mengenai faal respirasi, sirkulasi, dan sifat dari oksigen itu sendiri. Oksigen
sebagai terapi haruslah dianggap sebagai obat sehingga dalam penggunaanya harus
tepatdosis, indikasi, cara pemberian, dan cara mencegah atau mengatasi efek
sampingnya. Dalam pemberian oksigen dosis tinggi jangan lupa selalu dipantau PaO2.

5. Penggunaan Referensi Terbaru


Kusnanto. (2016). Modul Pembelajaran Pemenuhan Kebutuhan Oksigen.
Surabaya: Universitas Airlangga.
Muttaqin, A. (2018). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.
Oca, Yuli dkk. (2018). Kumpulan SOP Keperawatan Medikal Bedah I Tingkat 2B.
Blora : Poltekkes Semarang.
Suciati, N L. (2016). Oxygen Therapy. Karangasem: Nursing Community PPNI
Karangasem.