Anda di halaman 1dari 6

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

A. Judul Modul : Perkembangan Pesrta Didik


B. Kegiatan Belajar : 3

C. Refleksi

NO BUTIR REFLEKSI RESPON/JAWABAN


1 Peta Konsep (Beberapa 1. Pengertian Perkembangan Emosi, Sosial dan Spiritual
istilah dan definisi) di modul
bidang studi Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri individu.
Pondasi perkembangan psikososial mencakup emosi dan
pengalaman awal anak bersama dengan orang tua.

Fungsi emosi terhadap perkembangan anaka antara lain


(Darmiah 2020):
a. Merupakan bentuk komunikasi
b. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan
penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya

Sedangkan perkembangan sosial merupakan perolehan


kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan
sosial (Hurlock 2012). Perkembangan sosial ini fokus pada
relasi antara peserta didik dengan orang lain.

Perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika


anak berinteraksi dengan orang lain.

Adapun spiritualis merupakan aspek yang lebih banyak


melihat lubuk hati, riak getaran hati nurani pribadi, dan
sikap personal

Pijakan utama pendidikan berbasis spiritual adalah Al


Qur’an dan hadis. Al Qur’an memuat nilai dan ketentuan
lengkap dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini posisi
hadis menempati sumber kedua yang berperan sebagai
penjelas terhadap isyarat dan nilai yang terdapat dalam Al
Qur’an.

Al-Ghazali menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam


adalah untuk mewujudkan kebahagiaan peserta didik baik
dunia maupun akhirat (Arif 2002)

2. Karakteristik Perkembangan Emosi, Sosial, dan Spiritual

Lewis dan Rosenblam (Stewart, 1985) mengutarakan


proses terjadinya emosi atau mekanisme emosi melalui
lima tahapan (Alison Clarke-Stewart, Susan Friedman, and
Joanna Barbara Koch 1985), yaitu:
a. Elicitors, yaitu dorongan berupa situasi atau peristiwa,
b. Receptor, yaitu aktivitas dipusat sistem syaraf,
c. Sate, yautu perubahan spesifik yang terjadi dalam
aspek fisiologi,
d. Expression, yaitu terjadinya perubahan pada daerah
yang diamati, dan
e. Experience, yaitu persepsi dan interpretasi individu
pada kondisi emosionalnya.

Salah satu tokoh psikologi perkembangan yang


merumuskan teori perkembangan sosial peserta didik
adalah Erik Erikson. Erikson berpendapat bahwa
sepanjang sejarah hidup manusia, setiap orang mengalami
tahapan perkembangan dari bayi sampai dengan usia
lanjut (Krismawati 2014, 49). Adapun tahapan
perkembangannya sebagai berikut:
a. 0-1 tahun, fase Trust vs Mistrust, yaitu tahap
pengembangan rasa percaya diri kepada orang lain.
b. 2-3 tahun, fase Autonomy vs Shame, disebut masa
pemberontakan anak
c. 4-5 tahun, fase Inisiative vs Guilt, mereka banyak
bertanya dalam segala hal
d. 6-11 tahun, fase Indusstry vs Inferiority, mereka sudah
bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah dan termotivasi
untuk belajar.
e. 12-18/20 tahun, fase Ego-identity vs Role on fusion,
tahap ini manusia ingin mencari identitas dirinya.
f. 18/19-30, fase Intimacy vs Isolation, manusia sudah
mulai siap menjalani hubungan intim dengan orang lain.
g. 31-60 tahun, fase Generation vs Stagnation, ditandai
dengan munculnya kepedulian yang tulus terhadap
sesama.
h. > 60 tahun, fase Ego Integrity vs putus asa, yaitu masa
dimana manusia mulai mengembangkan integritas
dirinya.

Adapun perkembangan spiritual keagamaan dibagi menjadi


tiga tingkatan, yaitu:
a. The fairy tale stage (tingkat dongeng), dimulai 3-6 tahu.
Konsep ketuhanan dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
b. The realistic stage (tingkat kenyataan), dimulai 7-12
tahun.
c. The individual stage, terjadi pada usia remaja simana
pada masa ini situasi jiwa mendukung untuk mampu
berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya.

James Flower (dalam Desmita 2010) merumuskan theory


of faith didasarkan pada teori perkembangan psikososial
Erikson yang mengacu pada tahapan kehidupan yang
terdiri dari 7 tahap perkembangan agama, yaitu:
a. Tahap prima faith
Tahapan kepercayaan ini terjadi pada usia 0-2 tahun
yang ditandai dengan rasa percaya dan setia anak
pada pengasuhnya.
b. Tahap intuitive-projective
Tahapan yang berlangsung antara 2-7 tahun. Pada
saat ini kepercayaan bersifat menurun.
c. Tahap mythic-literal faith
Dimulai dari usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, sesuai
dengan tahap kognitifnya, mulai mengambil makna dari
tradisi masyarakatnya.
d. Tahap synthetic conventional faith
Tahap yang terjadi pada usia 12-akhir masa remaja
atau awal masa dewasa. Ditandai dengan kesadaran
terhadap simbolisme dan memiliki lebih dari satu cara
untuk mengetahui kebenaran.
e. Tahap individuative-reflective faith
Tahapan ini terjadi pada usia 19 tahun atau pada masa
dewasa awal, pada tahap ini mulai muncul sintesis
kepercayaan dan tanggung jawab individual terhadap
kepercayaan tersebut
f. Tahap conjuctive-faith
Tahap yang dimulai usia 30 tahun sampai masa
dewasa akhir. Tahap ini ditandai dengan perasaan
terintegrasi dengan simbol-simbol ritual-ritual dan
keyakinan agama.
g. Tahap universalizing faith
Tahapan yang berkembang pada masa usia lanjut.
Perkembangan agama pada masi ini ditandai dengan
munculnya transcendental untuk mencapai perasaan
ketuhanan, serta adanya desentralisasi diri dan
pengosongan diri.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi, Sosial,


dan Spiritual Peserta Didik

a. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi


Dari berbagai sumber (Setiawan 1995; Susanto 2011;
Tirtayani dan Asril 2014) dapat disimpulkan terdapat
sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan
emosi anak, yakni:
(1) Pengaruh Keadaan Individu Sendiri
Ada lima jenis kegiatan belajar yang turut
menunjang pola perkembangan emosi anak, yaitu:
- Belajar secara coba dan ralat (trial and error
learning)
- Belajar dengan cara meniru (learning by
imitation)
- Belajar dengan cara mempersamakan diri
(learning by identification)
- Belajar melalui pengkondisian (conditioning)
- Pelatihan (training)
(2) Konflik-konflik dalam proses perkembangan
(3) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan ini terbagi menjadi tiga, yakni:
- Lingkungan keluarga
- Lingkungan tempat tinggal
- Lingkungan sekolah

b. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial


Sama dengan perkembangan emosi, perkembangan
sosial peserta didik juga dipengaruhi beberapa faktor
(Mayar 2013; Tirtayani and Asril 2014), yaitu:
(1) Faktor individu
Faktor individu termasuk kematangan
bersosialisasi, kemampuan berpikir, dan faktor
agama dan moral
(2) Faktor lingkungan keluarga
Perkembangan sosial dilingkungan keluarga juga
dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
- Status anak dalam keluarga
- Keutuhan keluarga
- Sikap dan kebiasaan orang tua
(3) Faktor dari luar rumah
Faktor dari luar rumah meliputi pengaruh dari teman
sebaya dan media massa
(4) Faktor Pengaruh Pengalaman Sosial Anak
Dalam pembelajaran ini anak melalui interaksi
sosial baik dengan orang dewasa maupun dengan
teman sebaya yang ada dilingkungannya. Salah
satu cara anak belajar adalah dengan cara
mengamati, meniru, dan melakukan.

c. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual


Adapun faktor yang berpengaruh terhadap
perkembangan moral dan spiritual individu mencakup
aspek psikologis, sosial, budaya, dan fisik kebendaan,
baik yang terdapat dalam lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat.

Secara keseluruhan, dalam usaha membentuk tingkah


laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu,
banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya yaitu:
(1) Lingkungan keluarga
(2) Lingkungan sekolah
(3) Lingkungan pergaulan
(4) Lingkungan masyarakat
(5) Faktor genetis atau pengaruh sifat-sifat bawaan
(hereditas)
(6) Tingkat penalaran
(7) Teknologi

4. Implikasi Perkembangan Emosi, Sosial dan Spiritual


Peserta Didik
Menurut Golemen (1995) terdapat cara-cara yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kecerdasan emosi, yakni
belajr mengembangkan kesadaran diri, belajar mengambil
keputusan pribadi, belajar mengelola perasaan, belajar
menangani sterss, belajar berempati, belajar
berkomunikasi, belajar membuka diri, belajar
mengembangkan pemahaman, belajar menerima diri
sendiri, belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi,
belajar mengembangkan ketegasan, mempelajari dinamika
kelompok, serta belajar menyelesaikan konflik.

Diperlukan strategi untuk menangani perkembangan emosi


peserta didik, yaitu:
a. Guru dan orang tua tidak boleh membuat jarak sosial,
tetapi harus lebih dekat dengan peserta didik.
b. Guru atau orang tua harus terampil dalam
mengobservasi berbagai karakter emosi dan perilaku
sosial anak.
c. Guru dan orang tua harus memiliki kemampuan dan
keterampilan dalam merekam, mencatat dan membuat
prediksi tentang perbuatan apa yang akan menyertai
peserta didik.

Para guru perlu menerapkan berbagai strategi dalam


membantu peserta didik memperoleh tingkah laku
interpersonal yang efektif, yaitu:
a. Mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial dan
strategi pemecahan masalah sosial.
b. Menggunakan strategi pembelajaran kooperatif
c. Memberikan label perilaku yang pantas
d. Meminta siswa untuk memikirkan dampak dari perilaku-
perilaku yang mereka miliki.
e. Mengembangkan program mediasi teman sebaya.

Guru diharapkan mempu memberikan ruang belajar yang


sensitif terhadap perkembangan spiritual peserta didik,
dengan cara:
a. Menjadikan pendidikan wahana kondusif bagi peserta
didik untuk menghayati agamanya.
b. Membantu peserta didik mengembangkan rasa
ketuhanan melalui pendekatan spiritual parenting.
c. Materi yang disampaikan guru dalam kelas adalah
materi yang secara langsung dapat menyentuh
permasalahan keagamaan yang dialami peserta didik.
d. Menanamkan nilai-nilai Islam yang terkait dengan
masalah ibadah dilakukan dengan memaparkan hikmah
yang terkandung dari sebuah pelaksanaan ibadah.
1. Pemahaman tentang mekanisme emosi yang terdapat
Daftar materi bidang studi
dalam lima tahapan, yaitu: elicitor, receptors, state,
2 yang sulit dipahami pada
expression, dan experience.
modul

1. Terdapat jenis belajar yang dapat menunjang


perkembangan emosi anak, diantaranya trial adn error
learning atau coba dan ralat, dimana kesalahan yang
dilakukan dalam proses pembelajaran bukan semata-mata
merupakan hal yang perlu dikeluhkan orang tua atau
Daftar materi yang sering pendidik. Namun masih terkadang masih ada orang tua
3 mengalami miskonsepsi yang menyikapi kesalahan yang dilakukan anak adalah titik
dalam pembelajaran akhir dari pembelajaran, mereka cenderung menyalahkan
anak. Padahal sebagai orang tua dan pendidik bisa
mengarahkan kesalahan itu sebagai media pembelajaran
untuk melakukan yang lebih baik lagi dengan tetap
memberi dukungan dan bimbingan kepada peserta didik

Anda mungkin juga menyukai