Anda di halaman 1dari 4

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS TERBUKA
Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan 15418
Telepon: 021-7490941 (Hunting)
Faksimile: 021-7490147 (Bagian Umum), 021 – 7434290 (Sekertaris Rektor)
Laman: www.ut.ac.id

TUGAS II
Nama : Kholif Setiasih
Jurusan : S1 Manajemen
Nim : 031122203
UPBJJ : Malang
Kode/Mata Kuliah : EKMA4500 / TUGAS AKHIR PROGRAM (TAP)

PT. BOUSSEE INDONESIA

PT. BOUSSEE COMPANY merupakan perusahaan sepatu raksasa yang berpusat di kota Cekoslowakia dan
telah beroperasi sejak tahun 1894. Perusahaan sepatu raksasa keluarga ini mengoperasikan empat unit
bisnis internasional yaitu Boussee Eropa, Boussee Asia Pasifik-Afrika, Boussee Amerika Latin, dan
Boussee Amerika Utara. Produk perusahaan ini hadir di lebih dari 50 negara dan memiliki fasilitas
produksi di 26 negara. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah menjual sebanyak 14 miliar pasang
sepatu.
Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Boussee dijalankan oleh PT. Sepatu Boussee, Tbk. Pabrik
perusahaan ini pertama kali berdiri pada tahun 1939, dan saat ini berada di dua tempat, yaitu Semarang
dan Medan. Keduanya menghasilkan 7 juta pasang alas kaki setahun yang terdiri dari 400 model sepatu,
sepatu sandal, dan sandal baik yang dibuat dari kulit, karet, maupun dan plastik. Sebelum tahun 1978,
status Boussee di Indonesia adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA), sehingga dilarang
menjual langsung ke pasar. Boussee menjual melalui para penyalur khusus (depot) dengan sistem
konsinyasi. Namun, sistem penjualan tersebut diubah pada 1 Januari 1978, yaitu ketika PT Sepatu
Boussee menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Dengan demikian, distribusi
produk-produk perusahaan dari pabrik dilakukan dengan melibatkan langsung toko-toko pengecer yang
akan menjual produk langsung kepada konsumen.

Posisi PT Boussee sebagai pemimpin pasar mengharuskan perusahaan untuk selalu mempertahankan
posisinya menjadi yang terdepan dalam market share. Untuk itu, perusahaan selalu berusaha untuk
memperbaiki proses produksi di segala lini fungsional, baik dari sisi pemasaran, manajemen sumber
daya manusia, keuangan, dan operasi. Perbaikan-perbaikan tersebut antara lain adalah keinginan
perusahaan untuk membeli satu mesin produksi baru yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas
produksi. Harga mesin tersebut adalah Rp650.000.000,00 dengan taksiran umur ekonomis selama 4
tahun dengan nilai sisa sebesar Rp50.000.000,00 pada akhir tahun umur ekonomis berdasarkan
perhitungan metode penyusutan garis lurus. Mesin ini diharapkan mampu memberikan laba setelah
pajak sebesar Rp200.000.000,00 per tahun selama empat tahun. Pihak manajemen harus menentukan
apakah pembelian mesin tersebut menguntungkan atau tidak bagi perusahaan dengan tingkat bunga
yang relevan adalah 16%.

Seiring dengan rencana pembelian mesin baru tersebut, perusahaan juga harus mempersiapkan tenaga
kerja yang akan menangani operasional mesin. Perusahaan merencanakan untuk melakukan rekruitmen
dengan mencari tenaga kerja dari dalam perusahaan pada level yang sama dengan persyaratan utama
memiliki kinerja yang baik selama ini. Selain itu, tingkat pendidikan, usia, dan tingkat produk gagal
menjadi pertimbangan utama untuk pemilihan posisi baru tersebut. Tingkat pendidikan yang dibutuhkan
adalah minimal SMA atau sederajat, usia maksimal 30 tahun, dan tingkat produk gagal maksimal 10%.
Penanganan mesin baru ini memerlukan tenaga yang terampil karena mesin akan dilakukan berdasarkan
perintah komputer. Untuk mempersiapkan operator mesin tersebut, maka operator mesin baru akan
dilatih terlebih dahulu dalam hal pemrograman komputer agar mesin mampu bekerja secara otomatis.
Dengan demikian, keterampilan mereka akan ditingkatkan agar mampu menangani mesin yang bekerja
secara otomatis. Selain loyalitas mereka sudah teruji, perusahaan menilai bahwa tenaga kerja yang
sudah ada saat ini sudah mengetahui filosofi dan tujuan perusahaan, sehingga akan lebih mudah untuk
memberi pelatihan-pelatihan baru.

Pertanyaan:
Berdasarkan kasus PT. Boussee Indonesia, maka analisislah pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Tentukan apakah mesin baru tersebut sebaiknya dibeli atau tidak dengan menggunakan metode NPV
dengan tingkat bunga yang relevan adalah 16% per tahun! Uraikan jawaban Saudara!
Jawab :
Dik : harga perolehan = Rp.650.000.000
Nilai sisa = Rp. 50.000.000
Usia ekonomis = 4 tahun

Dita : NPV .......?


Jawab :
(harga perolehan−nilai sisa)
Pertahun =
usia ekonomis
(650.000 .000−50.000 .000)
=
4
= Rp. 150.000.000
Maka kas masuk bersih tahun 1 – tahun 4 = Rp. 200.000.000 + Rp. 150.000.000 = Rp. 350.000.000
PV
Tahun 1 masuk kas = 350.000.000 /(1+0,16)1
= 301.724.137
Tahun 2 masuk kas = 350.000.000 /(1+0,16)2
= 260.107.015,4
Tahun 3 masuk kas = 350.000.000 /(1+0,16)3
= 224.230.185,7
Tahun 4 masuk kas = 350.000.000 /(1+0,16)4
= 193.301.884,3
Jumlah = Rp. 979.363.222,4

50.000.000
Pv nilai sisa tahun 4 = = 27.614.554,9
(1+ 0,16 ) 4

NPV = kas keluar + Pv kas masuk + PV nilai sisa


= -650.000.000 + 979.363.222,4 + 27.614.554,9
= + 356.977.777,3

Dengan demikian, karena NPV bernilai positif, maka berarti mesin baru tersebut menguntungkan
sehingga keputusannya adalah dibeli.

2. a. Jelaskan jenis sumber karyawan yang digunakan oleh PT. Boussee untuk rekruitmen operator mesin
baru! Jelaskan jawaban Saudara!
Jawab :

Termasuk dalam Jenis sumber karyawan Eksternal PT. Boussee, karena mencari tenaga kerja dari
dalam perusahaan pada level yang sama dengan persyaratan utama memiliki kinerja yang baik
selama ini. Selain itu, tingkat pendidikan, usia, dan tingkat produk gagal menjadi pertimbangan
utama untuk pemilihan posisi baru tersebut. Tingkat pendidikan yang dibutuhkan adalah minimal
SMA atau sederajat, usia maksimal 30 tahun, dan tingkat produk gagal maksimal 10%.

b. Jelaskan metode/cara yang digunakan dalam rekrutmen operator mesin baru tersebut sesuai
jawaban Anda pada poin a.
Jawab :
Termasuk dalam Metode rekrutmen Eksternal “Evaluasi Kualitas Sumber Perekrutan”, karena PT.
Boussee memerlukan tenaga yang terampil untuk Penanganan mesin yang dilakukan berdasarkan
perintah komputer. Untuk mempersiapkan operator mesin tersebut, maka operator mesin baru akan
dilatih terlebih dahulu dalam hal pemrograman komputer agar mesin mampu bekerja secara
otomatis. Dengan demikian, keterampilan mereka akan ditingkatkan agar mampu menangani mesin
yang bekerja secara otomatis. Selain loyalitas mereka sudah teruji, perusahaan menilai bahwa tenaga
kerja yang sudah ada saat ini sudah mengetahui filosofi dan tujuan perusahaan, sehingga akan lebih
mudah untuk memberi pelatihan-pelatihan baru. Hal ini membuat perusahaan memiliki calon
karyawan yang berkualitas.

Sumber :

ISWANTO,Yun.2018. Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi ke-2 Cetakan ke-12) Tangerang selatan:
Universitas Terbuka ( BMP EKMA4214/Modul 5 KB 2 Hal: 5.29 – 5.32)

Husnan, Suad. 2020. Manajemen Keuangan. (Edisi ke-3. Cetakan ke-2) Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka. (BMP EKMA4213/Modul 4 KB 1 Hal : 4.10)

Anda mungkin juga menyukai