Anda di halaman 1dari 6

Tugas V Lab.

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

NAMA: Annisa Rahma


NIM : 042543904

1. Sebutkanlah perbedaan dari administrasi pajak dalam arti sempit dan administrasi pajak dalam
arti luas yang saudara ketahui, dan buatlah rangkumannya dengan jelas, tepat dan sederhana !

Jawab:

a. Administrasi pajak dalam arti sempit


Penatausahaan dan pelayanan terhadap kewajiban-kewajiban dan hak-hak wajibpajak, baik
penatausahaan dan pelayanan tersebut dilakukan di kantor fiskus maupun dikantor wajib pajak.
Yang termasuk dalam kegiatan penatausahaan (clerical works) adala pencatatan (recording),
penggolongan (classifying) dan penyimpanan (filing).
Pengertian Administrasi Pajak dalam Arti Sempit menurut Pohan (2014:93), adalah
“Pelayanan dan kegiatan-kegiatan ketatausahaan mencakup kegiatan catat- mencatat dn
pembukuan ringan (recording), korespondensi (correspondance), kesekretariatan (secretariate),
penyusun laporan (reporting), dan kearsipan (filling) terhadap kewajiban-kewajiban hak-hak Wajib
Pajak.
b. Administrasi pajak dalam arti luas
a. Sebagai fungsi, administrasi pajak sebagai fungsi meliputi fungsi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan.
1) Fungsi perencanaan, sebagai bagian dari administrasi publik merupkaan dan melakukan
juga fungsi perencanaan, yakni merencanakan apa yang akan dicapai fiskus, baik untuk
jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.
2) Fungsi pengorganisasian, dalam bentuk pengelompokan tugas, tanggung jawab,
wewenang, dan para petugas (Sumber Daya Manusia) sedemikian rupa sehinggatujuan yang
telah ditetapkan dapat tercapai secara efisien.
3) Fungsi penggerakan, dalam bentuk kegiatan mempengaruhi pegawai untuk menjalankan
tugasnya sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
perencanaan. Fungsi penggerakan menduduki tempat yang strategis karena fungsi inilah
yang sangat berhubungan erat dengan sumber dayamanusia, meliputi pemberian movitasi
kerja kepada pegawai sedemikian rupa supaya mereka bekerja dengan semangt yang tinggi
untuk mencapai tujuan organisasi.
4) Fungsi pengawasan, suatu proses mengamati dan mengupayakan supaya apa yang
dilanjutkan sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Jika terjadipenyimpngan maka
perlu tindakan koreksi atau pembetulan.
b. Sebagai sistem
Administrasi pajak sebagai suatu sistem adalah seperangkat unsur yang saling berkaitan yang
berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan
suatu tugas tertentu. Jika ditinjau dari kenyataan yang ada, seperangkat unsur dalamadministrasi
pajak adalah :
1) Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya;
2) Orang-orang atau para pegawai DJP;
3) Gedung, mesin;
4) Masyarakat Wajib Pajak.
Apabila semua unsur diatas melakukan fungsi masing-masing secara bersama- sama maka
akan tercapai tujuan bersama, yakni pemasukan pajak ke dalam kas negara. Administrasi pajak
sebagai suatu sistem merupakan suatu subsisten dari keuangan negara. Selanjutnya, keuangan
negar hanya merupakan suatu subsistem dari administrasi negara.
c. Sebagai lembaga, administrasi pajak dapat dilihat sebagai suatu lembaga yaitu sebagai salah
satu Direktorat Jenderal pada Kementerian Keuangan yang terwujud pada adanya kantor-kantor
mulai dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta, Kantor Wilayah, Kantor Pelayanan
Pajak, Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, Kantor Penyuluhan dan Pengamatan
Potensi Pepajajakan, Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak yang telah di atas.
d. Manajemen publik, administrasi pajak yang terdiri dari pimpinan, staf, peralatan,pengetahuan,
dan sistem yang ada, pada tataran makro pada hakikatnya adalah manajemen publik yang
merupakan pertautan antara manajemen, politik, dan hukum.Administrasi pajak pada tataran ini
menurut manajemen tax bureau untuk mengelola, memanfaatkan dan menciptakan pengetahuan
di antara sumber daya yang ada untuk mencapai berbagai inovasi, antara lain dengan cara
mengubah organisasi yang hierarkis menjadi suatu organisasi pembelajaran (learning
organization).

2. Administrasi pajak dalam arti luas mempunyai arti yaitu sebagai fungsi, Jelaskan
pengertian dari fungsi dan berikanlah contoh dari masing-masing fungsi tersebut !

Jawab:

Sebagai fungsi, administrasi pajak sebagai fungsi meliputi fungsi perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan.
a. Fungsi perencanaan, merencanakan apa yang akan dicapai fiskus, baik untuk jangka pendek, jangka
menengah, maupun jangka panjang. Praktik fungsi perencanaan ini terlihat dari pasal-pasal dalam
UUD 1945, amanat dalam GBHN, undang-undang dan rencana penerimaan pajak di dalam
REPELITA, PROPENAS, dan RAPBN. Fungsi perencanaan meliputi pengajuan alternatif-
alternatif dan pengambilan keputusan terhadap apa yang akan dicapai, dengan cara apa, siapa, dan
bagaimana.
b. Fungsi pengorganisasian, dalam bentuk pengelompokan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan
para petugas (Sumber Daya Manusia) sedemikian rupa sehingga tujuanyang telah ditetapkan dapat
tercapai secara efisien. Pengorganisasian dalam perspektif postmodern adalah menjadikan
organisasi sebagai organisasi pembelajar (learning organization) dengan sasaran untuk mendapat
inovasi. Direktorat Jenderal Pajak yang dipimpin ole DJP terdiri dari organisasi pada tingkat pusat
dan organisasi pada tingkat
wilayah. Direktorat Jenderal Pajak pada hakikatnya adalah tax bureau yang mengadministrasikan
penerimaan negara yang berasal dari pajak.
c. Fungsi penggerakan, dalam bentuk kegiatan mempengaruhi pegawai untuk menjalankantugasnya
sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Fungsi
penggerakan menduduki tempat yang strategis karena fungsi inilahyang sangat berhubungan erat
dengan sumber daya manusia. Fungsi penggerakan meliputi pemberian motivasi kerja kepada
pegawai sedemikian rupa supaya mereka bekerja dengan semangat tinggi untuk mencapai tujuan
organisasi.
d. Fungsi pengawasan, suatu proses mengamati dan mengupayakan supaya apa yang dilanjutkan
sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Jika terjadi penyimpangan maka perlu tindakan
koreksi atau pembetulan. Fungsi ini dilaksanakan ole setiap unsur pimpinan pada jajaran organisasi
Direktorat Jenderal Pajak.

3. Mengapa administrasi perpajakan harus dikembangkan dari tahun ketahun, sebutkanlah


contoh yang diterapkan dari administrasi perpajakan yang sekarang adadi Indonesia !

Jawab:

Semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi tentunya mengakibatkan


pemerintah mengikuti arus perkembangan zaman. Disektor pertumbuhan ekonomi menyebabkan sitem
perpajakan di negeri ini harus disesuaikan. Modernisasi sistem administrasi perpajakan bertujuan
meningkatkn potensi penerimaan pajak yang tersedia. Melalui modernisasi tersebut diharapkan dapat
menjadi fundamental penerimaan yang baik dan berkesinambungan.
Luasnya wilayah, banyaknya penduduk, serta dinamisnya aktivitas ekonomi merupakan suatu
tantangan tersendiri dalam menegakkan perpajakan di Indonesia. Ketidaksesuaian rasio antara puluhan
ribu pegawai pajak dengan jutaan Wajib Pajak (WP) mengakibatkan kurang optimalnya implementasi
perpajakan di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya administrasi perpajakan yang
sederhana, cepat, dan mudah dilakukan agar pajak dapat secara optimal menjangkau jutaan penduduk,
ribuan entitas badan, serta para ekspatriat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Reformasi perpajakan adalah sebuah proses mengubah cara pengumpulan pajak dengan cara
melakukan pembenahan asministrasi perpajakan, perbaikan regulasi perpajakan dan peningkatan basis
pajak. Pihak yang terkena dampak dari reformasi perpajakan adalah Wajib Pajak, Pegawai Pajak,
Lembaga terkait dan masyarakat. Menurut Direktorat Jenderal Pajak, terdapat 5 alasan mengapa
Reformasi perpajakan perlu dilakukan.
a. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak yang masih rendah
b. Target penerimaan pajak setiap tahun meningkat
c. Jumlah SDM tidak sebanding dengan penambahan jumlah Wajib Pajak. Kesulitan dalam
pengawasan dan penegakan hukum
d. Perkembangan ekonomi digital dan kemajuan teknologi sangat pesat
e. Aturan yang mengantisipasi perkembangan transaksi perdagangan
Menyimpulkan alasan-alasan diatas dapat dikatakan bahwa reformasi perpajakan dilakukan
karena seperti layaknya peraturan pada umumnya diberlakukan, peraturan perpajakan merupakan
sebuah landasan atau fondasi yang sangat berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan pemerintah
dalam perpajakan.
Dengan adanya landasan yang kuat, yang berupa data dan informasi basis pajak yang handal serta
pemetaan kepatuhan pajak, diharapkan peraturan perpajakan tersebut dapat meningkatkan kepatuhan
pajak. Karena landasan tersebut merupakan modal utama untuk menentukan arah masa depan strategi
perpajakan.
Luasnya wilayah, banyaknya penduduk, serta dinamisnya aktivitas ekonomi merupakan suatu
tantangan tersendiri dalam menegakkan perpajakan di Indonesia. Ketidaksesuaian rasio antara puluhan
ribu pegawai pajak dengan jutaan Wajib Pajak (WP) mengakibatkan kurang optimalnya implementasi
perpajakan di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya administrasi perpajakan yang
sederhana, cepat, dan mudah dilakukan agar pajak dapat secara optimal menjangkau jutaan penduduk,
ribuan entitas badan, serta para ekspatriat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah satu bentuk reformasi perpajakan yang digalakkan adalah modernisasi administrasi
pelayanan pajak melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Tentunya administrasi
perpajakan sudah tidak relevan lagi menggunakan teknologi era pita kaset untuk dapat mendapatkan
hasil optimal di era digital ini. Hal tersebut penting dilakukanagar WP merasakan kemudahan dalam
mematuhi kewajiban perpajakannya. Salah satu penyebab dari minimnya kepatuhan WP adalah proses
administrasi yang sulit, tidak efektif, dan tidak efisien sehingga menimbulkan biaya kepatuhan yang
tidak sedikit. Tulisan ini akanmembahas beberapa reformasi administrasi pajak yang telah dilakukan
oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yaitu di antaranya e-registration, e-filing, e-billing.
a. e-Registration. Berbagai langkah telah dibuat oleh DJP sebagai garda terdepan dalam memberikan
pelayanan pada wajib pajak. Pada tahun 2013 pemanfaatan teknologiinformasi dan komunikasi
dimulai dengan diterapkannya e-registration atau sistem pendaftaran WP secara online. Sistem ini
memungkinkan subjek pajak untuk mendaftarkan dirinya sebagai WP tanpa perlu datang ke Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) tempat ia berdomisili. Hal tersebut dapat memudahkan WP yang tidak
memiliki cukup waktu untuk hadir ke KPP guna membuat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Dalam proses e-registration, WP hanya perlu mengisi formulir sesuai dengan petunjuk yang
diberikan dan melakukan scan Kartu Tanpa Penduduk (KTP) asli secara online. Setelah melakukan
semua prosedur tersebut, WP cukup menunggu kartu NPWP tersebut selesaidibuat dan dikirimkan
ke alamat yang didaftarkan oleh WP. Namun demikian, sistem ini masih memiliki beberapa
kelemahan, di antaranya yaitu ketidakpastian waktu pengirimankartu NPWP.
b. eFilling Pajak. Efilling pajak merupakan bentuk modernisasi administrasi dari DJP sebagaisarana
penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara online melalui melalui situs jejaring efiling pajak
dari DJP atau penyedia jasa aplikasi yang ditunjuk DJP. Hal ini bertujuan agar WP tidak perlu lagi
melakukan pengisian SPT secara manual dan datang ke KPP untuk menyampaikan SPT-nya dengan
antrean panjang yang memakan banyak waktu. Dengan demikian, compliance cost WP dapat
berkurang. Proses pelaporan SPT Online melalui sistem ini dimulai dengan dengan mengajukan
permohonan pembuatan
Electronic Filing Identification Number (EFIN) dengan mendatangi KPP terdekat. Setelah
mendapatkan EFIN, WP dapat mendaftarkan diri dan melakukan efiling di sistem efiling pajak.
Dengan terdaftarnya WP di sistem efiling pajak, WP dapat mengisi SPT secara online maupun
membuatnya secara offline terlebih dahulu melalui aplikasi e-SPT lalu mengunggah file csv sebagai
output-nya ke sistem efiling pajak.
Kelebihan dari sistem ini adalah compliance cost yang lebih hemat. Hal ini disebabkan WP tidak
perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk pergi dan antre di KPP. Sepanjangterhubung dengan
internet, WP bisa lapor dari mana saja dan kapan saja. Terlebih lagi, efilling pajak sangat murah
dan ramah lingkungan, itulah konsep e-filling dengan semangat juang go green yang dalam
pelaporannya tidak sama sekali menggunakan berkas fisik berupa kertas dokumen. Namun
demikian, WP tetap harus menyiapkan dokumen pelengkap karena sewaktu-waktu dokumen
tersebut dapat diminta oleh Account Representative (AR). Lebih lanjut, sistem efilling pajak
memudahkan WP menghitung besarnya pajak terutang secara otomatis dan WP tinggal memasukan
data yang dibutuhkan melalui antarmuka yang user-friendly. Tampilan efiliing pajak dibuat
menarik dan dapat diisi dengan mudah melalui mode wizard atau WP dapat memilih mode manual.
WP juga tidak perlu khawatir akan kelengkapan data yang disampaikan karena sistem akan
melakukan validasi dari pengisian SPT tersebut.
Di sisi lain, efilling pajak masih memiliki kelemahan yaitu masih terbatasnya akses internet di
Indonesia dan kapasitas server DJP. Masalah tersebut sangat terasa ketika mendekatibatas waktu
pelaporan SPT. Mayoritas WP cenderung mengakses efiling pajak saat mendekati batas waktu
sehingga server tidak mampu melayani permintaan WP dan pada akhirnya mengakibatkan situs
jejaring sulit diakses dan terhambatnya mendapatkan bukti pelaporan pajak. Hal tersebut
mengakibatkan ketidakpastian dan kekhawatiran bagi WP,terutama karena ancaman sanksi akibat
melewati tenggat waktu penyampaian SPT.
c. e-Billing merupakan metode pembayaran pajak secara elektronik dengan menggunakan kode
billing atau ID billing sebagai cara untuk membayar pajak. Billing System adalah sistem yang
menerbitkan kode billing untuk pembayaran atau penyetoran penerimaan negara secara elektronik,
tanpa perlu membuat Surat Setoran (SSP, SSBP, SSPB) manual, yang digunakan e-Billing DJP. e-
Billing berbasis MPN-G2 memfasilitasi wajib pajak untuk membayarkan pajaknya dengan lebih
mudah, lebih cepat dan lebih akurat. Dengan menggunakan e-Billing Pajak, banyak manfaat yang
bisa didapatkan, antara lain
(1) membayar pajak jadi lebih mudah. Dengan membuat ID Billing, Anda dapat membayarpajak di
mana saja dan kapan saja; (2) menghindari kesalahan dari pencatatan transaksi.Terkadang dalam
pembayaran secara manual terdapat beberapa kesalahan pencatatan yang mungkin terjadi. e-Billing
bisa meminimalkan terjadinya kesalahan dalam pencatatan transaksi yang bisa saja terjadi pada
pembayaran manual; (3) transaksi real time. Data dan hasil transaksi akan langsung tersimpan di
sistem DJP sehingga mengurangi risiko kehilangan data akibat kelalaian dan penyebab lainnya.

Adapun yang kita alami terkait perubahan administrasi perpajakan yaitu pelaporan SPTdengan
sistem online melalui e-filling. Kemudian kemudahan pembayaran pajak menggunakan Billing yang
telah terintegrasi dengan sistem perbankan sehingga kita dapat melakukan tanpa harus ke Bank dan
Pajak langsung masuk keKas Negara.
Administrasi pajak merupakan kunci keberhasilan dalam suatu kebijakan pajak. Reformasi
administrasi pajak idealnya merupakan instrumen untuk meningkatkan kepatuhan sukarela WP,
meningkatkan kepercayaan masyarakat (trust), dan meningkatkan integritas aparat pajak. Kepatuhan
pajak Indonesia masih terbilang rendah, yang tergambarkan dalamstagnasi tax ratio yang masih berada
di bawah negara lain pada kisaran 12-13 persen. Melaluisistem e-registration, ebilling dan efiling pajak,
diharapkan sistem administrasi perpajakan Indonesia menjadi lebih efisien.

Terima Kasih

Sumber :
Buku Modul ADBI4330 Administrasi Perpajakan Universitas Terbuka.

https://www.cermati.com/artikel/e-billing-pajak-cara-bayar-pajak-secara-online-yang-praktis

https://www.online-pajak.com/tentang-efiling/modernisasi-administrasi-perpajakan-upaya-
penyempurnaan-pelayanan-pajak-bagian-1-1

Anda mungkin juga menyukai