Anda di halaman 1dari 15

MODUL

PRAKTIKUM
UJI KUALITAS AIR

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah subhanahuwata’ala karena penulis berhasil menyelesaikan


panduan praktikum analisa kebisingan untuk edisi tahun 2017 sebagai panduan praktikum.

Penyusun dalam menyusun materi ajar ini berpedoman pada Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor : KEPMENLH Nomor 15 tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan
Status Mutu Air dan beberapa jurnal yang berkaitan dengan pengujian kebisingan. Tak lupa
pula bahwa panduan praktikum ini hanya dipakai dikalangan sendiri.

Panduan praktikum ini merupakan buku pegangan mahasiswa dalam menunjang kegiatan
praktikum “Uji Kualitas Air”. Panduan ini berisi tentang tujuan dari praktikum, panduan
pelaksanaan praktium dan aturan-aturan lain yang berhubungan dengan praktikum Uji
Kualitas Air. Dan dengan disusunnya panduan praktikum ini, penulis berharap agar bisa
memudahkan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan praktikum nantinya.

Kami penyusun memohon maaf apabila dalam menyusun materi ajar ini ada kekeliruan
dalam mengadopsi kedalam panduan praktikum ini.

Dan tak lupa penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terkait
dalam penyusunan panduan praktikum ini

Kendari, Mei 2017

Tim Penyusun

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
ANALISA KUALITAS AIR

A. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum uji kualitas air adalah:
1. Menentukan nilai pH, suhu, salinitas, konduktivitas, TSS, TDS, BOD, dan DO dari
sampel yang diuji.
2. Menentukan status mutu air berdasarkan KEPMENLH Nomor 15 tahun 2003 tentang
Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
3. Mengetahui kondisi air sungai dan membandingkannya dengan aliran – aliran sungai
lainnya yang menjadi sempel pengujian.

B. Teori Singkat

Air adalah satu dari sedikit zat yang wujud cairnya lebih rapat daripada wujud
padatnya. Kalau benda lain mengerut ketika dipadatkan, es malah mengembang. Pada
suhu di atsa 4oC, air bersifat seperti cairan pada umumnya, mengembang ketika panas,
dan mengerut ketika dingin. Air mulai membeku ketika molekul-molekulnya mulai
bergerak lambat sehingga tidak mampu memutuskan ikatan hidrogen (Campbell 2004).

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja Perkantoran
dan industri terhadap pengertian mengenai air bersih yaitu air yang dipergunakan untuk
keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila
dimasak. Parameter kualitas air bersih yang ditetapkan dalam PERMENKES 416/1990
terdiri atas persyaratan fisik, persyaratan kimiawi, dan persyaratan mikrobiologis. Berikut
ini adal persyaratan air layak dikonsumsi:
1. Persyaratan fisik
Persyaratan fisik yang harus dipenuhi pada air minum yaitu harus jernih, tidak
berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Sementara suhunya sebaiknya sejuk dan
tidak panas. Selain itu air minum tidak menimbulkan endapan. Jika air yang kita
konsumsi menyimpang dari hal ini, maka sangat mungkin air telah tercemar (Pelezar,
2005)

2. Persyaratan kimia
Dari aspek kimiawi, bahan air minum tidak boleh mengandung partikel terlarut
dalam jumlah tinggi serta logam berat (Misalnya Hg, Ni, Pb, Zn, dan Ag), ataupun zat
beracun berarti senyawa hidrokarbon dan detergen. Ion logam dapat mendenaturasi
protein, disamping itu, logam berat dapat bereaksi dengan gugus fungsi lainnya dalam
LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
biomolekul karena sebagian akan tertimbun di berbagai organ terutama saluran cerna,
hati dan ginjal, maka organ-organ inilah yang terutama dirusak. (Dwidjoseputro, 1998).

3. Persyaratan Mikrobiologis
Bakteri patogen yang tercantum dalam KepMenKes yaitu eschericia colli,
clostridium Perfringens, Salmonella. Bakteri patogen tersebut dapat membentuk toksin
(racun) setelah periode laten yang singkat atau beberapa jam. Keberadaan bakteri
coliform (E.coli) yang banyak ditemui di kotoran manusia dan hewan menunjukkan
kualitas sanitasi yang rendah dalam proses pengadaan air. Makin tinggi tingkat
kontaminasi bakteri coliform, makin tinggi pula resiko kehadiran bakteri patogen,
seperti bakteri shigella (penyebab muntaber), S. Typhri (penyebab Typhus), kolera,
dan disentri (Suriawiria, 1995).

C. Metode Pengujian
1) Pengukuran kadar pH, salinitas, dan Konduktivitas menggunakan Jenco Model
6350 (Portable Meter)

Derajat keasaman (pH) adalah derajat keasaman yang digunakan untuk


menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia
didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien
aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya
didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat
relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan
persetujuan internasional (Riadi, 2009).

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah bahan padat yang terkandung dalam tiap
kilogram air laut, yang dinyatakan dalam gram per-kilogram atau perseribu (Sutika,
1989). Salinitas penting artinya bagi kelangsungan hidup organism, hampir semua
organisme laut hanya dapat hidup pada daerah yang mempunyai perubahan salinitas
yang kecil (Hutabarat dan Evans, 2001).

Konduktivitas menunjukkan kemampuan air untuk menghantarkan aliran listrik.


Konduktivitas air tergantung dari konsentrasi ion dan suhu air, oleh karena itu
kenaikan padatan terlarut akan mempengaruhi kenaikan Konduktivitas. Konduktivitas
adalah bilangan yang menyatakan kemampuan larutan cair untuk menghantarkan
arus listrik. Kemampuan ini tergantung keberadaan ion, total konsentrasi ion, valensi
konsentrasi relatif ion dan suhu saat pengukuran. Biasanya makin tinggi konduktivitas
dalam air, maka air akan terasa payau sampai asin (Wardhani, 2002).

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
a. Alat
 Jenco Model 6350 (Portable Meter)

8
1
9
7
2

6
3
5
4

10

Keterangan gambar:
1. Tombol ON/OFF : Menyalakan/mematikan alat
2. Tombol CAL : Mengkalibrasi alat
3. Tombol STAND : Selama kalibrasi pH, tombol ini akan memulai
kalibrasi offset dari elektroda pH.
4. Tombol SLOPE : Mengkalibrasi alat
5. Tombol ENTER : Selama pengoperasian normal, menekan tombol ini
selama sekitar 2 detik akan menyimpan semua
pembacaan.
6. Tombol : Menurunkan / mengubah kalibrasi konduktifitas,
koefisien temperatur dan temperatur referensi.
7. Tombol : Menaikkan / mengubah kalibrasi konduktifitas,
koefisien temperatur dan temperatur referensi.
8. Tombol MODE : Selama pengoperasian normal, tombol ini akan
mengubah dari parameter satu ke parameter yang
lain.
9. Sensor pH.
10. Sensor Konduktifitas dan Salinitas.

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
 Gelas ukur, digunakan sebagai wadah sampel air

b. Bahan
Bahan yang digunakan adalah sampel air.

c. Prosedur Percobaan
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Masukkan sampel air ke dalam gelas ukur.
3. Aktifkan portable meter dengan menekan tombol “ON”.
4. Masukkan batang sensor yang berwarna hijau untuk melakukan pembacaan
nilai pH, kemudian catat.
5. Sambungkan konektor untuk batang sensor berwarna kuning dan masukkan
bersamaan dengan batang sensor berwarna hijau. Pada saat melakukan
pembacaan, tekan MODE untuk melihat nilai parameter salinitas dan
konduktivitas.
6. Salinitas ditandai dengan huruf ‘ppt” pada layar.
7. Konduktivitas ditandai dengan huruf “mS” pada layar dan dibaca untuk simbol
°C yang tidak berkedip.

2) Pengukuran kadar suhu menggunakan Fluke Thermometer

Temperatur atau suhu merupakan faktor penting dalam keberlangsungan proses


biologi dan kimia yang terjadi didalam air, seperti kehidupan dan perkembangbiakkan
organisme air. Suhu juga mempengaruhi kandungan oksigen di dalam air, proses
fotosintesis tumbuhan air, laju metabolism organisme air dan kepekaan organisme
terhadap polusi, parasite dan penyait. Pada kondisi air yang hangat, kapasitas
oksigen terlarutnya kurang. Oleh karena itu, pengukuran oksigen terlarut harus
dilakukan pada tempat yang sama dengan pengukuran suhu (Sawyer, 1978).

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
Tabel A.1 Standar Mutu Air berdasarkan Temperatur

Parameter/ Standar
Keterangan standar dalam
Suhu Suhu udara
Mempersyaratkan
3 °C Untuk jenis air minum
Untuk persyaratan jenis air limbah
38 °C
Temperatu industri Golongan I
r 40 °C Jenis air limbah industri Golongan II
Suhu Persyaratan untuk air sumur
1 – 3 °C Air sumur
30 °C Standar untuk air buangan
Sumber: Menkes /SK/VII/2002

a. Alat
Alat yang digunakan untuk pengukuran suhu adalah Fluke Thermometer dengan
fungsi – fungsi sebagai berikut.

2
1 3

11
6
4
5 8

7
9 10

1. Menyalakan atau mematikan alat.


2. Fungsi Shift
3. Menyalakan atau mematikan cahaya layar.
4. Melakukan pembacaan maksimum, minimum, dan rata – rata.
5. Mengkonversi suhu dari Celsius (°C), Fahrenheit (°F), dan Kelvin (K).
6. Menahan atau melepaskan pembacaan yang tampil di layar.
7. Memulai atau menghentikan Setup.
8. Menggulir opsi Setup atau menaikkan pengaturan layar.
9. Menggulir opsi Setup atau menurunkan pengaturan layar.
10. Masuk ke opsi Setup atau menyimpan pengaturan layar.
11. Probe temperatur.

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
b. Bahan
Bahan yang digunakan adalah sampel air.

c. Prosedur Percobaan
1. Siapkan alat dan bahan
2. Masukkan probe thermometer ke badan sungai. Gunakan pengukuran suhu
dengan menggunakan derajat Celcius.
3. Catat nilai suhu yang tertera pada layar.

3) Pengukuran kadar Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid
(TDS) menggunakan metode Gravimetri

Total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari
padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau
lebih besar dari ukuran partikel koloid. TSS menyebabkan kekeruhan pada air akibat
padatan tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. TSS terdiri dari partikel-
partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah liat,
bahan-bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme, dan sebagainya (Nasution,
2008).
Total Dissolve Solid (TDS) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun
anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat
terlarut dalam part per million (ppm) atau sama dengan milligram per liter (mg/L).
Umumnya berdasarkan definisi diatas seharusnya zat yang terlarut dalam air
(larutan) harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 micrometer (2×10 -6
meter). Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan pada
pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan air
mineral, dan lain-lain (Misnani, 2010).
a. Alat
Alat yang digunakan untuk pengujian TSS dan TDS antara lain sebagai berikut.
1. Kertas saring 5. Pinset
2. Cawan petri 6. Timbangan
3. Desikator 7. Corong
4. Oven 8. Dua gelas ukur

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
1 2 3

4 5 6

7 8

b. Bahan
Bahan yang digunakan adalah sampel air.

c. Prosedur Percobaan
1. Masukkan cawan dan kertas saring kedalam oven selama 1 jam dengan suhu
105˚C.
2. Setelah dioven, mengambil cawan dan kertas saring menggunakan pinset dan
kemudian masukkan kedalam desikator selama ± 20 menit.
3. Setelah dari desikator, timbang cawan dan kertas saring dan catat nilai yang
dihasilkan.
4. Melipat kertas mengikuti bentuk corong lalu tempatkannya kedalam gelas
ukur.
5. Masukkan sampel air kedalam gelas ukur (untuk sungai jernih sebesar 100
ml, untuk sungai kabur sebanyak 50 ml).
6. Menyaring air menggunakan kertas saring dan tunggu hingga air benar –
benar berhenti menetes. Residu yang tertahan dikertas saring adalah TSS
dan yang terlewatkan kedalam gelas ukur adalah TDS.

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
7. Masukkan sampel TDS sebanyak 20 ml kedalam cawan petri.
8. Ambil kertas saring menggunakan pinset dan masukkan kedalam oven
bersamaan dengan cawan berisi sampel TDS selama ± 1,5 jam dengan suhu
105˚C.
9. Ambil cawan dan kertas saring menggunakan pinset dan masukkan kembali
kedalam desikator selama ± 20 menit.
10. Timbang cawan dan kertas saring serta kemudian catat nilai yang dihasilkan.

d. Analisa Data

 Menghitung konsentrasi TSS


B -A
TSS=
V

Keterangan:
B = berat kertas saring + residu kering (gr)
A = berat kertas saring (gr)
V = volume sampel (ml)

 Menghitung konsentrasi TSS


B -A
TDS=
V

Keterangan:
B = berat cawan petri + sampel(gr)
A = berat cawan petri (gr)
V = volume sampel (ml)

 Menghitung indeks pencemaran


Cij
Pij =
Lij

Keterangan:
Pij = indeks pencemaran

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
Cij = konsentrasi parameter kualitas air yang diperoleh dari analisis
cuplikan air pada suatu lokasi pengambilan (i)
Lij = konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam baku
mutu suatu peruntukan air (j)

4) Pengukuran kadar Dissolves Oxygen (DO) dan Biological Oxygen Demand


(BOD) menggunakan metode Titrasi

Dissolved oxygen atau Oksigen terlarut (DO) sangat penting dan dibutuhkan oleh
organisme perairan dan sangat mempengaruhi kehidupan organisme baik langsung
maupun tidak langsung. Oksigen terlarut dalam air diperoleh langsung dari udara
yaitu dengan difusi langsung dari udara dan melalui pergerakan air yang teratur juga
dihasilkan dari fotosintesis tanaman yang berklorofil (Sutika, 1989).

Tabel A.2 Tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai DO

Sumber: Wirosarjono (1974)

BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang


menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh bebrapa mikroorganisme
(biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam
kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh,
bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang
siap terdekomposisi (Boyd, 1990).

Tabel A.3 Tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai BOD

Sumber: Wirosarjono (1974)

a. Alat
Alat yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sebagai berikut.

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
1. Botol DO dan BOD
2. Gelas ukur 500 ml
3. Erlenmeyer 250 ml
4. Pipet tetes
5. Buret

1 2 3

4 5

b. Bahan
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Larutan MnSO4
2. Larutan Natrium azida
3. Larutan H2SO4
4. Larutan kanji
5. Larutan tiosulfat 0,025 N
6. Sampel air

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
c. Prosedur Percobaan
1) Pengukuran kadar DO

Adapun prosedur percobaan dari pengukuran ini adalah sebagai berikut:


1. Ambil sampel air dengan botol DO (tidak boleh ada gelembung udara
sedikitpun).
2. Tambahkan berturut – turut 2 ml larutan MnSO4 dan larutan alkali Natrium
Azida kedalam sampel air.
3. Tutup botol dengan perlahan sehingga tidak terdapat gelembung udara,
kemudian kocok hingga beberapa saat, lalu diamkan sampai terjadi
pengendapan sempurna.
4. Setelah larutan mengendap sempurna, kemudian tambahkan larutan H 2SO4
sebanyak 1 ml ke dalam sampel air hingga berubah warna menjadi orange.
5. Masukkan sampel dari botol Do ke dalam Erlenmeyer.
6. Tambahkan 1-2 tetes larutan kanji hingga berubah warna menjadi biru tua,
kemudian dititrasi dengan Natrium Tiosulfat dengan buret hingga sampel
berubah warna dari biru tua sampai menjadi bening. Kemudian catat volume
larutan tiosulfat yang digunakan (Tidak boleh melebihi 2 ml).

2) Pengukuran kadar BOD

Adapun prosedur percobaan dari pengukuran ini adalah sebagai berikut.


1. Mengambil sampel air secara hati-hati dengan botol BOD (tidak boleh ada
gelembung udara sedikitpun).
2. Masukkan sampel air dari botol BOD sebanyak 125 ml ke dalam gelas ukur
500 ml kemudian campurkan larutan pengencer ke dalam gelas ukur hingga
sampel air terisi sebanyak 500 ml.
3. Pindahkan sampel air dari gelas ukur kedalam botol DO dan botol BOD
sampai terisi penuh.
4. Mengukur DO awal (DO0) dari botol DO dengan metode Titrasi, seperti pada
percobaan DO sebelumnya.
5. Menginkubasi sampel air pada botol BOD selama 5 hari pada suhu 19 atau
20 ˚C.
6. Setelah proses inkubasi, ukur kadar DO5 seperti tahapan pengukuran DO0.
7. Hitung kadar BOD yang dihasilkan.
LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
d. Analisa Data
 Pengukuran Kadar DO
1). Menghitung Faktor Tio (F1)
Ntio
F1 =
0,025

2). Faktor Koreksi (F2)


50×Vsampel
Konsentrasi F2 =
Vsampel - 4
Konsentrasi F2
F2 =
50

3). Oksigen Terlarut (DO)


DO = F1 x F2 x 4 x V tio1

 Pengukuran Kadar BOD

1). Oksigen Terlarut (DO0) setelah proses pengenceran


DO0 = F1 x F2 x 4 x V tio1

2). Oksigen terlarut (DO5) setelah proses inkubasi


DO5 = F1 x F2 x 4 x V tio2

Sehingga diperoleh :
BOD = DO0 - DO5

D. Evaluasi Terhadap Nilai Pi

Pengolahan kualitas air yang diperoleh dari indeks pencemar ini dapat memberi
masukan pada pengambilan keputusan agar dapat menilai kulitas kadar air untuk suatu
peruntukan serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan
kualitas akibat kehadiran zat pencemar. Evaluasi terhadap nilai indeks pencemar adalah
sebagai berikut (Boyd, 1990):

0 < p,4 < 1,0 = memenuhi baku mutu (kondisi baik)


1,0< p,4 < 5.0 = cemar ringan
5,0< p,4 < 10 = cemar sedang
P,4> 10 = cemar berat

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
E. Tata Tertib Selama Praktikum

Dalam melaksanakan praktikum, demi kelancaran selama praktikum dapat


tercapai, beberapa peraturan yang wajib diikuti oleh setiap praktikan:

1) Selama proses praktikum berlangsung mulai sejak technical meeting sampai


pengumpulan laporan, semua praktikan WAJIB dating tepat waktu sesuai jadwal
yang telah ditentukan.
2) Semua alat laboratorium yang digunakan selama praktikum menjadi tanggung
jawab SEMUA praktikan pada kelompok yang bersangkutan, dan jika terjadi
kerusakan pada alat tersebut, maka kelompok yang merusak WAJIB mengganti
alat yang rusak dengan alat yang memiliki spesifikasi yang sama.
3) Praktikan yang tidak hadir pada saat praktikum dilapangan tanpa keterangan
(keterangan dokter bagi yang sakit) dianggap MUNDUR dan secara otomatis
TIDAK LULUS.
4) Praktikan yang tidak melakukan asistensi 1 (satu) minggu setelah praktikum
selesai dianggap MUNDUR dan secara otomatis TIDAK LULUS.
5) Jumlah asistensi minimum selama pengerjaan laporan adalah 6 kali, dengan
waktu dan tempat asistensi ditentukan oleh asisten yang bersangkutan.
6) Praktikan yang tidak mengikuti salah satu rangkaian praktikum tanpa keterangan
(keterangan dokter bagi yang sakit) dianggap MUNDUR dan secara otomatis
TIDAK LULUS.
7) Aturan-aturan lain yang berguna bagi kelancaran praktikum bisa
ditambahkan/dikurangi oleh asisten yang bersangkutan sewaktu-waktu.

LABORATORIUM PENYEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO