Anda di halaman 1dari 8

BAB II

KONSEP-KONSEP POLITIK

1.      Teori Politik

Teori adalah generalisasi yang abstrak mengenai beberapa fenomena. Dalam

menyusun generalisasi, teori selalu menggunakan konsep-konsep. Konsep adalah

abstrak dari atau mencerminkan ppersepsi-persepsi mengenai realitas, atas dasar kosep

atau seperangkat konsep dapat disusun atau dirumuskan generalisasi. Generalisasi

adalah proses melalui mana suatu observasi mengenai satu fenomena tertentu

berkembang menjadi suatu observasi mengenai lebih dari satu fenomena. Teori politik

adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena yang bersifat politik. Ada teori non-

valutional adapula teori valuanational.

Menurut Thomas P. Jenkin dalam The Study of Political Theory, teori politik

dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. Norms for political behavior, yaitu teori-teori yang mempunyai dasar moril dan

norma-norma politik. Teori ini dinamakan valuational (mengandung nilai). Yang

termasuk golongan antara lain filsafat politk, teori politik sistematis, ideologi, dan

sebagainya.

b. Teori-teori politik yang menggambarkan dan membahas phenomena dan fakta-fakta

politk dengan tidak mempersoalkan norma-norma atau nilai (non valuational), atau

biasa dipakai istilah “value free” (bebas nilai). Biasanya bersifat deskriptif dan

berusaha membahas fakta-fakta politk sedemikian rupa sehingga dapat

disistematisir dan disimpulkan dalam generalisasi-generalisasi. Teori-teori

kelompok (a) dibagi menjadi tiga golongan :


1. Filsafat politik (political philosophy), yaitu mencari penjelasan berdasarkan

ratio. Pokok pikiran dari filsafat politik ialah persoalan-persoalan yang

menyangkut alam semesta seperti metafisika dan epistemologi harus dipecahkan

dulu sebelum persoalan-persoalan politik yang kita alami sehari-hari dapat

ditanggulangi.

2. Teori politik sistematis (systematic political theory), yaitu mendasarkan diri atas

pandangan-pandangan yang sudah lazim diterima pada masanya. Dengan kata

lain teori ini hanya mencoba merealisasikan norma-norma dalam suatu program

politik, teori politik sistematis tidak menjelaskan asal usul atau caralahirnya

norma-norma, tetapi hanya mencoba untuk merealisasikan norma-norma itu

dalam suatu program politik.

3. Ideologi politik (political ideology), yaitu himpunan nilai-nilai, ide, norma,

kepercayaan dan keyakinan, yang dimiliki seorang atau sekelompok orang, atas

dasar mana dia menentukan sikapnya terhadap kejadian dan problema politk

yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah lakunya.

2.      Masyarakat

Manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama orang lain secara bergotong-

royong. Manusia memilih jalan untuk mengorganisir bermacam-macam kelompok dan

asosiasi untuk memenuhi keperluan dan kepentingan-kepentingan fisik maupun mental

yang sukar dipenuhi sendiri. Dan dalam kehidupan berkelompok ini, pada dasarnya

manusia menginginkan nilai-nilai.

Dalam mengamati masyarakat, khususnya masyarakat Barat, Harold Laswell

memperinci delapan nilai, yaitu :


1. Kekuasaan

2. Pendidikan/Penerangan (enlightenment)

3. Kekayaan (wealth)

4. Kesehatan (Well-being)

5. Keterampilan (Skill)

6. Kasih Sayang (affection)

7. Kejujuran (rectitude) dan Keadilan (rechtschapenheid)

8. Keseganan (respect).

Masyarakat, menurut Robert Maciver, adalah suatu system hubungan-

hubungan yang ditertibkan (Society means a system of ordered relations). Menurut

Harold J. Laski dari London School of Economics and Political Science, masyarakat

adalah sekelompok manusia yang hidup bersama dan bekerjasama untuk mencapai

keinginan-keinginan mereka bersama (A society is a group of human beings living

together and working together for the satisfaction of their mutual wants).

Masyarakat adalah keseluruhan antara hubungan-hubungan antar manusia.

Manusia mempunyai naluri untuk hidup sebagai anggota kelompok. Di dalam

kehidupan beerkelompok dan falam hubungannya dengan manusia lainya, pada

dasarnya manusia menginginkan beberapa nilai. Dengan adanya nilai dan kebutuhan

yang harus dilayani itu, maka manusia menjadi beberapa anggota dari beberapa

kelompok.

3.      Negara

Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan

kekuasaanya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainya dan menetapkan
tujuan dari kehidupan bersama itu. Negara adalah integrasi dari kekuasaan politik, dan

merupakan organisasi pokok dari kekuasaan politik. Boleh dikatakan Negara

mempunyai dua tugas :

1. Mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang asosial, yakni yang

bertentangan satu sama lain, suapaya tidak menjadi antagonisme yang

membahayakan.

2. Mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan-golongan

kea rah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat seluruhnya. Negara

menentukan bagaimana kegiatan asosiasi-asosiasi kemasyarakatan disesuaikan

satu sama lain dan diarahkan kepada tujuan nasinal.

         Definisi Mengenai Negara

Definisi-definisi mengenai Negara, antara lain adalah :

1. Roger H. Soltau, “Negara adalah alat (agency atau wewenang (authority) yang

mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas masyarakat

(The state is an agency or authority managing or controlling these (common)

affairs on behalf of and in the name of the community).

2. Harold J. Laski, “Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena

mempunyai wewenang yang bersifat memaksa yang secara sah lebih agung

daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu

(The state is a society which is integrated by possessing a coercive authority

legally supreme over any individual or group which is part of the society).

3. Max Weber, “Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli

dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah (The state is a
human society that (successfully) claims the monopoly of the legitimate use of

physical force within a given territory)

4. Robert M. Maciver, “Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan

penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan

sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud

tersebut diberi kekuasaan memaksa (The sate is an association which, acting

through law as promulgated by a government endowed to this end with coercive

power, maintains within a community territorially demarcated the external

conditions of oreder).

         Sifat-Sifat Negara

Setiap negara umumnya mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Sifat memaksa. Dalam arti mempunyai kekuasaan untuk memakai kekerasan

fisik secara legal.

2. Sifat memonopoli. Negara mempunyai monopoli dalam menetapkan tujuan

bersama dari masyarakat.

3. Sifat mencakup semua. Semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk

semua orang tanpa terkecuali.

         Unsur-Unsur Negara

1. Wilayah. Kekuasaan negara mencakup seluruh wilayah, tidak hanya tanah

tetapi juga laut di sekelilingnya dan angkasa di atasnya.

2. Penduduk. Semua negara pasti memiliki penduduk dan kekuasaan negara

menjangkau semua penduduk di dalam wilayahnya.


3. Pemerintah. Setiap negara mempunyai organisasi yang berwenang untuk

memutuskan dan merumuskan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang

mengikat bagi seluruh penduduk di dalamnya.

4. Kedaulatan. Adalah kekuasaan tertinggi untuk membuat undang-undang dan

melaksanakannya dengan segala cara yang tersedia.

 Tujuan dan fungsi Negara

Tujuan Negara R.I sebagai tercantum dalam UUD 1945 : Untuk membentuk

suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan

seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Terlepas dari ideologinya, Negara menyelenggarakan beberapa minimum fungsi

yang mutlak perlu, yaitu :

1. Melaksanakan penertiban (law and order)

2. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

3. Pertahanan

4. Menegakkan keadilan

Charles E. Merriam menyebutkan lima fungsi Negara, yaitu : Keamanan ekstern,

Ketertiban intern, Keadilan, Kesejahteraan umum, dan Kebebasan.

         Istilah Negara dan Istilah Sistem Politik

Pada dasarnya konsep sistem politik dipakai untuk keperluan analisa, dimana

suatu sistem bersifat abstrak pula. Umumnya dalam sistem politik terdaat 4 variabel:
1. Kekuasaan

2. Kepentingan

3. Kebijaksanaan

4. Budaya politik

4.      Konsep Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi suatu kelompok

untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau kelomppok lain, sesuai dengan keinginan

para pelaku. Sumber kekuasaan dapat berupa kedudukan, kekayaan, atau kepercayaan.

Ada beberapa istilah mengenai kekuasaan. Seperti legitimasi dan otoritas atau

wewenang. Wewenang adalah kekuasaan yang bersifat formal. Legitimasi seiring juga

disebut keabsahan, yakni keyakinan anggota-anggota masyarakat bahwa wewenang

yang ada pada seseorang, kelompok atau penguasa adalah wajar dan patut dihormati.

Konsep yang selalu dibahas dengan kekuasaan adalah pengaruh. Ada yang mengatakan

bahwa kekuasaan dan pengaruh adalah dua konsep yang berbeda.

Kekuasaan social menurut Ossip K. Flechtheim adalah keseluruah dari

kemampuan, hubungan-hubungan dan proses-proses yang menghasilkan ketaatan dari

pihak lain untuk tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh pemegang kekuasaan (Social power

is the sum total of all the capacities, relationship, and process by which compliance of

others is secured for ends determinded by the power holder).

Ossip K. Flechtheim membedakan dua macam kekuasaan politik, yakni :

1. bagian dari kekuasaan sosial yang terwujud dalam Negara (state power), seperti

lembaga-lembaga pemerintahan DPR, Presiden, dan sebagainya.


2. bagian dari kekuasaan sosial yang ditujukan kepada Negara.

Definisi yang dieberikan oleh Robert M. Maciver : Kekuasaan social adalah

kemampuan untuk mengendalikan tingakah-laku orang lain, baik dengan cara langsung

dengan memberi perintah, mamupun tidak langsung dengan mempergunakan segala alat

dan cara yang tersedia (Social power is the capacity to control the behavior of others

either directly by fiat or indirectly by manipulation of available means).

Robert M. Maciber mengemukakan bahwa kekuasaan dalam suatu masyarakat

berbentuk piramida. Ini terjadi karena kenyataan bahwa kekuasaan yang satu

membuktikandirinya lebih unggul dari pada yang lain, yang berarti bahwa kekuasaan

yang satu itu lebih kuat dengan jalan mengkoordinasi keuasaan yang lain.

Kekuasaan yang paling penting adalah kekuasaan politik. Pengertian kekuasaan politik

adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik

terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujun-tujuan pemegang kekuasaan

sendiri.