Anda di halaman 1dari 18

DASAR-DASAR ILMU POLITIK

Dosen: Drs. Tri Joko Waluyo, M. Si

BAB I

SIFAT, ARTI, DAN HUBUNGAN ILMU


POLITIK DENGAN ILMU PENGETAHUAN
LAINNYA

Diringkas Oleh : Muhammad Ryansyah Zandra


NIM : 1701114121

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2017

0
RESUME BAB 1

SIFAT, ARTI, DAN HUBUNGAN ILMU POLITIK DENGAN

ILMU PENGETAHUAN LAINNYA

Perkembangan dan Definisi Ilmu Pengetahuan

Apabila ilmu politik dipandang semata-mata sebagai salah satu cabang

dari ilmu-ilmu sosial yang memiliki dasar, rangka, fokus, dan ruang lingkup yg

jelas, maka dapat dikatakan bahwa ilmu politik masih muda usianya karena

baru lahir pada akhir abad ke-19. Di Yunani Kuno misalya, pemikiran mengenai

negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M seperti terbukti dalam karya-karya

ahli sejarah Herodotus, atau filsuf-filsuf seperti Plato, Aristoteles, dan

sebagainya. Di Asia ada beberapa pusat kebudayaan, anatara lain India dan

China , yang telah mewariskan berbagai tulisan politik yg bermutu. Tulisan-

tulisan dari India terkumpul antara lain dalam kesusastraan Dharmasastra dan

Arthasastra yang berasal dari masa kira-kira 500 S.M. Diantara filsuf China

yang terkenal ialah Confucius, Mencius, dan mazhab Legalist antara lain Shang

Yang .

Di Indonesia kikta mendapati beberapa karya tulis yang membahas

masalah sejarah dan kenegaraan, seperti misalnya Negarakertagama yang

ditulis pada masa Majapahit sekitar abad ke-13 dan ke-15 Masehi dan Babad

Tanah Jawi. Sayangnya di negara-negara Asia tersebut kesusastraan yang

mencakup bahasan politik mulai akhir abad ke-19 telah mengalami kemunduran

karena terdesak oleh pemikiran Barat yang dibawa oleh negara-negara seperti

1
Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Belanda dalam rangka imperialisme. Di

negara-negara benua Eropa seperti Jerman, Austria, dan Prancis bahasan

mengenai politik dalam abad ke-18 dan ke-19 banyak dipengaruhi oleh ilmu

hukum dan karena itu fokus perhatiannya adalah negara semata-mata.

Bahasan mengenai negara termasuk kurikulum Fakultas Hukum sebagai mata

kuliah Ilmu Negara (Staatslehre). Di Inggris permasalahan politik dianggap

termasuk filsafat, terutama moral philosophy dan bahasannya dianggap tidak

dapat terlepas dari sejarah. Akan tetapi dengan didirikannya Ecole Libre des

Scienses Politiques di Paris (1870) dan London School of Economics and

Political Science (1895), ilmu politik untuk pertama kali di negara-negara

tersebut dianggap sebagai disiplin tersendiri yang patut mendapat tempat

dalam kurikulum perguruan tinggi. Namun demikian, pengaruh dari ilmu hukum,

filsafat, dan sejarah sampai Perang Dunia II masih tetap terasa.

Sesudah Perang Dunia II perkembangan ilmu politik semakin pesat lagi.

Di negeri Belanda, dimana sampai saat itu penelitian mengenai negara

dimonopoli oleh Fakultas Hukum, didirikan Faculteit deer Sociale en Politieke

Wetenschaappen (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) pada tahun 1947 (sekarang

namanya Faculteit der Sociale Wetenschappen – Fakultas Ilmu Sosial) di

Amsterdam. Di Indonesia pun didirikan fakultas-fakultas yang serupa, yang

dinamakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) seperti di

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Disini ilmu politik menjadi jurusan

tersendiri dengan nama Ilmu Pemerintahan. Selain itu ada juga Fakultas Ilmu-

Ilmu Sosial kemudian berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

2
Politik (FISIP) seperti Universitas Indonesia, Jakarta, di mana ilmu politik

merupakan jurusan tersendiri. Akan tetapi, karena pendidikan tinggi ilmu hukum

sangat maju, tidaklah mengherankan apabila pada awal perkembanganny, ilmu

politik di Indonesia terpengaruh secara kuat oleh ilmu itu. Namun demikianlah,

dewasa ini konsep-konsep ilmu politik yang baru berangsur-angsur mulai

dikenal, dan sudah diterima baik oleh masyarakat.

Ilmu Politik Sebagai Ilmu Pengetahuan (Science)

Adakalanya dipersoalkan apakah ilmu politik merupakan suatu ilmu

pengetahuan (science) atau tidak, dan disangsikan apakah ilmu politik

memenuhi syarat sebagai ilmu pengetahuan. Soal ini menimbulkan pertanyaan:

Apakah yang dinamakan ilmu pengetahuan (science) itu? Karateristik ilmu

pengetahuan (science) ialah tantangan untuk menguji hipotesis melalui

eksperimen yang dapat dilakukan dalam keadaan terkontrol (controlled

circumstances) misalnya laboratorium. Berdasarkan eksperimen-eksperimen itu

ilmu-ilmu eksakta dapat menemukan hukum-hukum yang dapat diuji

kebenarannya. Jika definisi ini dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta

ilmu-ilmu sosial lainnya belum memenuhi syarat, karena sampai sekarang

belum ditemukan hukum-hukum ilmiah seperti itu. Mengapa demikian? Oleh

karena yang diteliti adalah manusia dan manusia itu adalah mahluk yang

kreatif, yang selalu menemukan akal baru yang belum pernah diramalkan dan

malahan tidak dapat diramalkan. Lagipula manusia itu sangat kimpleks dan

perilakunya tidak selalu didasarkan atas pertimbangan rasional dan logis,

3
sehingga mempersukar usaha untuk mengadakan perhitungan serta proyeksi

untuk masa depan. Dengan kata lain perilaku manusia tidak dapat diamati

dalam keadaan terkontrol.

Dalam perkembangan selanjutnya muncul pendapat bahwa pendeketan

behavioralis, dalam usaha meneliti perilaku manusia, terlalu meremehkan

negara beserta lembaga-lembaganya padahal pentingnya lembaga-lembaga itu

tidak dapat dinafikan. Aliran baru ini dipelopori antara lain oleh Theda Skocpol

yang menjadi tersohor karena tulisannya yang berjudul “Bringing the State Back

In: Strategies of Analysis in Current Research.” Selain itu pengaruh ilmu

ekonomi juga berkembang melalui teori pilihan rasional (rational choice theory).

Jadi jelas bahwa dewasa ini ada keterkaitan yang erat antara ilmu politik dan

ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti antropologi, sosiologi, dan ekonomi. Akan tetapi

ada cara yang lebih menonjol lagi ialah penampilan suatu orientasi baru yang

mencakup beberapa konsep pokok. Konsep-konsep pokok para behavioralis

dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Perilaku politik memperlihatkan keteraturan (regularities) yang dapat

dirumuskan dalam generalisasi-generalisasi.

2. Generalisasi-generalisasi ini pada asasnya harus dapat dibuktikan

kebenarannya (verification) dengan menunjuk pada perilaku yang

relevan.

3. Untuk mengumpulkan dan menafsirkan data diperlukan teknik-teknik

penelitian yang cermat.

4
4. Untuk mencapai kecermatan dalam penelitian diperlukan pengukuran

dan kuantifikasi melalui ilmu statistik dan matematika.

5. Dalam membuat analisa politik nilai-nilai pribadi si peneliti sedapat

mungkin tidak main peranan.

6. Penelitian politik mempunyai sifat terbuka terhadap konsep-konsep,

teori-teori, dan ilmu sosial lainnya. Dalam proses interaksi dalam ilmu-

ilmu sosial lainnya misalnya dimasukan istilah baru seperti sistem

politik, fungsi, peranan, struktur, budaya politik, dan sosialisasi politik

disamping istilah lama seperti negara, kekuasaan, jabatan, instituta,

pendapat umum, dan pendidikan kewarganegaraan.

Sementara itu pelopor pendekatan tradisional tidak tinggal diam, dan

terjadilah polemik yang sengit antara pendekatan perilaku dan pendekatan

tradisional. Ilmuwan seperti Erick Voegelin, Leo Strauss, dan Jhon Hallowell

menyerang pendekatan perilaku dengan argumentasi bahwa pendekatan

perilaku terlalu lepas dari nilai dan tidak memberi jawaban atas pertanyaan

yang berdasarkan pandangan hidup tertentu seperti misalnya: sistem politik

apakah yang paling baik, atau masyarakat bagaimanakah yang sebaiknya

dibangun. Juga dilontarkan kritik bahwa tidak ada relevansi dengan politik

praktis dan menutup mata terhadap masalah-masalah sosial yang ada.

Perbedaan antara kaum tradisionalis dan kaum behavioralis dapat

dirumuskan sebagai berikut :

5
Tabel 1
Perbedaan Antara Kaum Tradisionalis dan Behavioralis

Para Tradisionalis Para Behavioralis

Menekankan : Menekankan:
Nilai-nilai dan norma-norma Fakta

Filsafat Penelitian empiris

Ilmu terapan Ilmu murni

Historis yuridis Sosiologis-psikologis


Tidak kuantitatif Kuantitatif

Terjadinya konflik antara kaum tradisionalis dan kaun

behavioralis ini lalu mendorong mereka untuk meneliti kembali rangka,

metode, dan tujuan dari ilmu politik itu sendiri, baik di bidang pembinaan teori

(theory building), maupun di bidang penelitian komparatif. Hasilnya, dapat

disimpulkan bahwa kedua pendekatan sama pentingnya. Pendekatan

tradisional dikatakan tetap memainkan peranan pokok dalam politik, tetapi ia

tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan. Sementara

pendekatan tingkah laku dikatakan mempunyai pengaruh yang besar dalam

ilmu politik.

Selain kedua pendekatan ini, ada suatu pendekatan yang diawali

dengan reaksi dari berbagai pihak yang kurang puas dengan semua

pendekatan yang ada. Reaksi ini disebut dengan “revolusi post-

behavioralisme”. Gerakan ini timbul di Amerika dan mencapai puncak saat

berlangsungnya perang Vietnam, serta saat kemajuan teknologi di bidang

persenjataan dan persamaan ras semakin luas. Gerakan ini banyak

6
dipengaruhi oleh tulisan- tulisan berbagai cendekiawan, seperti Herbert

Marcuse, C. Wright Mills, dan Jean Paul Sartre.

Reaksi post-behavioralisme ini terutama disebabkan ketidakpuasan

karena usaha mengubah ilmu politik menjadi suatu ilmu pengetahuan yang

murni, seperti ilmu-ilmu eksakta lainnya. Pokok-pokok dari reaksi post-

behavioralisme adalah sebagai berikut :

1. Karena terlalu berfokus untuk menjadikan ilmu politik sebagai penelitian

yang empiris dan kuantitatif, keberadaan ilmu politik menjadi abstrak dan

tidak relevan dengan situasi sekitar. Padahal, relevansi sifatnya lebih

penting daripada kecermatan dalam penelitian.

2. Ilmu politik tidak boleh kehilangan kontak dengan realitas-realitas sosial,

melainkan ilmu politik harus melibatkan diri dalam usaha mengatasi

masalah- masalah sosial yang timbul.

3. Penelitian mengenai nilai-nilai juga harus dimasukkan dalam kerangka

tugas ilmu politik.

4. Harus adanya komitmen dari para cendekiawan untuk selalu melibatkan

diri, bertanggung jawab, serta mencari jalan keluar dari setiap krisis

sosial yang dihadapi.

Definisi Ilmu Politik

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari politik atau politics atau

kepolitikan. Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Di Indonesia

kita teringat pepatah gemah ripah loh jinawi. Orang Yunani Kuno terutama Plato

dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau the good life. Para

7
sarjana politik cenderung untuk menekankan salah satu saja dari konsep-

konsep ini, akan tetapi selalu sadar akan pentingnya konsep-konsep lainnya.

Dengan demikian sampai pada kesimpulan bahwa politik dalam suatu negara

(state) berkaitan dengan masalah kekuatan (power) pengambilan keputusan

(decision making), kebijakan publik (public policy) dan alokasi atau distribusi

(allocation or distribution). Dewasa ini definisi mengenai politik yang sangat

normatif itu telah terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan

pada upaya (means) untuk mencapai masyarakat yang baik, seperti

kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai, dan sebagainya.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk

menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar

warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang

harmonis. Usaha untuk menggapai the good life ini menyangkutv bermacam-

macam kegiatan yang anatara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari

sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Untuk melaksanakan

kebijakan-kebijakan umum yang menyangkut pengaturan dan alokasi dari

sumber daya alam, perlu dimiliki kekuasaan serta wewenang. Akan tetapi,

kegiatan-kegiatan ini dapat menimbulkan konflik karena nilai-nilai (baik yang

materil maupun yang mental) yang dikejar biasanya langka sifatnya. Di pihak

lain, di negara demokrasi, kegiatan ini juga memerlukan kerja sama karena

kehidupan manusia bersifat kolektif. Singkatnya politik adalah perebutan kuasa

harta dan tahta. Dibawah ini ada dua sarjana yang menguraikan definisi politik

yang berkaitan dengan masalah konflik dan konsesus :

8
1. Menurut Rod Hague : “ politik adalah kegiatan yang menyangkut cara

bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang

bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan

perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya.

2. Menurut Andrew Heywood: “ politik adlah kegiatan satu bangsa yang

bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen

peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti

tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerja sama.

Disamping itu ada definisi-definisi lain yang lebih bersifat pragmatis.

Perbedaan-perbedaan dalam definisi yang kita jumpai disebabkan karena

setiap sarjana meneropong hanya satu aspek atau unsur dari politik. Unsur ini

diperlukannya sebagai konsep pokok yang akan dipakainya untuk meneropong

unsur-unsur lain. Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa konsep-konsep

pokok itu adalah:

1. Negara

Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memilliki

kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.

2. Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk

mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan

keinginan para pelaku. Sarjana yang melihat kekuasaan inti dari politik

beranggapan bahwa politik adalah semua kegiatan yang menyangkut

masalah memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan. Biasanya

9
dianggap bahwa perjuangan kekuasaan (power struggle) ini

mempunyai tujuan yang menyangkut kepentingan seluruh

masyarakat.

3. Pengambilan keputusan

Keputusan (decision) adalah hasil dari membuat pilihan diantara

beberapa alternatif, sedangkan istilah pengambilan keputusan

(decision making) menunjuk pada proses yang terjadi sampai

keputusan itu tercapai.

4. Kebijakan Umum

Kebijakan (policy) adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil

oleh seorang pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih

tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu. Pada prinsipnya, pihak

yang membuat kebijakan-kebijakan itu mempunyai kekuasaan untuk

melaksanakannya.

5. Pembagian atau Alokasi

Pembagian atau alokasi ialah pembagian dan penjatahan nilai-nilai

dalam masyarakat. Sarjana yang menekankan pembagian dan alokasi

beranggapan bawah politik tidak lain dan tidak bukan adalah membagi

dan mengalokasikan nilai-nilai secara mengikat. Yang ditekankan oleh

mereka adalah bahwa pembagian ini sering tidak merata dan karena

itu menyebabkan konflik.

Bidang-bidang Ilmu Politik

10
Dalam Contemporary Political Science, terbitan UNESCO 1950, politik

dibagi dalam empat bidang.

I. Teori Politik

 Teori politk

 Sejarah perkembangan ide-ide politik.

II. Lembaga-lembaga politik:

 Undang-undang Dasar.

 Pemerintah Nasional.

 Pemerintah Daerah dan Lokal.

 Fungsi Ekonomi dan sosial dari pemerintah.

 Perbandingan lembaga-lembaga politik.

III. Partai-partai, Golongan-golongan (groups), dan pendapat umum.

 Partai-partai politik.

 Golongan-golongan dan asosiasi-asosiasi

 Partisipasi warga negara dalam pemerintah dan administrasi

 Pendapat umum

IV. Hubungan Internasional

 Politik Internasional.

 Organisasi-organisasi dan Administrasi Internasional

 Hukum-hukum internasional

Teori politik yang merupakan bidang pertama dari ilmu politik adalah

bahasan sistematis dan generalisasi-generalisasi dari fenomena politik. Teori

politik yang bersifat spekulatif sejauh menyangkut norma-norma untuk kegiatan

11
politik, tetapi juga dapat bersifat menggambarkan (deskriptif) atau

membandingkan (komporatif) atau berdasarkan logika. Perkembangan

penelitian ilmu politik sejak tahun 1950 menunjukan betapa pesatnya

perkembangan teknologi, ekonomi, dan sosial telah mengakibatkan

bertambahnya pengkhususan-pengkhususan. Hubungan dan Politik Luar

Negeri ada kecenderungan untuk berdiri sendiri dari beberapa negara

merupakan fakultas tersendiri.

Selanjutnya dibawah ini ada beberapa contoh dari asosiasi ilmu politik

yang memiliki reputasi dan keanggotaan internasional. Sebut saja International

Political Science Association (IPSA). Asosiasi ini yang pada awal pendiriannya

mendapat pendanaan penuh dari UNESCO, pada tahun 1949 telah

melaksanakan Kongres Dunia IPSA XX di Fukuoka, Jepang. Kongres dunia

yang diadakan tiga tahun sekali ini mengangkat tema dengan judul, Is

Democracy Working? Tema ini dipilih berkaitan dengan perubahan dan

perkembangan yang fundamental dari relasi-relasi politik disetiap tingkatan dan

dibanyak tempat didunia. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang penilaian atas

pelaksanaan demokrasi dan akibat-akibatnya terhadap batas-batas dan

institusi-institusi politik ditingkat global, regional, nasional, dan lokal. Jika dilihat

perjalanan IPSA selama ini sejak pertama kali mereka mengadakan Kongres di

Zurich, Jerman pada tahun 1950, harus diakui bahwa mereka mengalami

perkembangan yang pesat, khususnya dari jumlah keanggotaannya maupun

negara yang terlibat. Dalam Kongres Dunia XX International Political Science

12
Association (IPSA) pada tahun 2006 yang diadakan di Fukuoka, telah diangkat

beberapa tema utama yang antara lain sebagai berikut:

 Liberalisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme.

 Tahap dan Kualitas Demokrasi: Pengalaman dan Kriteria

 Islam dan Demokrasi

 Perbandingan Demokrasi Lokal

Alat Dalam acara seminar internasional American Politic Science

Association (APSA), tahun 2006 di Philadelpia, Amerika Serikat, dan ada

beberapa tema yang dibicarakan, antara lain :

 Metode eksperimental dan Perbandingan Politik

 Organisasi politik dan kekuasaan

 Dimensi Kekuasaan Hegemoni dan Kebijakan Luar Negeri AS

 Konseptualisasi Bahasa Politik Kekuasaan

Hubungan Ilmu Politik dengan Ilmu Pengetahuan Lain

 Sejarah

Seperti diterangkan diatas, sejak dahulu kala ilmu politik erat

hubungannya dengan sejarah dan filsafat. Sejarah merupakan alat yang

paling penting bagi ilmu politik, karena menyumbang bahan, yaitu data

dan fakta dari masa lampau, untuk diolah lebih lanjut. Perbedaan

pandangan antara ahli sarjana sejarah dan sarjana ilmu politik ialah

bahwa ahli sejarah selalu meneropong masa yang lampau dan inilah yang

menjadi tujuannya, sedangkan sarjana ilmu politik biasanya lebih melihat

kedepan (future oriented).untuk kita orang Indonesia mempelajari sejarah

13
dunia dan sejarah indonesia khususnya merupakan salah satu keharusan.

Sejarah kita pelajari untuk ditarik pelajarannya, agar dalam menyusun

masa depan kita tidak terbentur dalam kesalahan-kesalahan yang sama.

Misalnya perlu sekali kita mempelajari revolusi-revolusi yang telah

mengguncangkan dunia.

 Filsafat

Ilmu pengetahuan lain yang erat sekali hubungannya dengan ilmu politik

ialah filsafat. Filsafat ialah usaha untuk secara rasional dan sistematis

mencari pemecahan atau jawaban atas persoalan-persoalan yang

menyangkut alam semesta dan kehidupan manusia. Ilmu politik terutama

sekali erat hubungannya dengan filsafat politik, yaitu bagian dari filsafat

yang menyangkut kehidupan politik terutama mengenai sifat hakiki, asal

mula dan nilai dari negara. Negara dan manusia didalamnya dianggap

sebagai sebagian dari alam semesta. Contoh dari pandangan bahwa ada

hubungan erat antara politik dan etika tercermin dalam karangan filsuf

Yunani Plato, Politeia yang menggambarkan negara yang ideal. Di

negara-negara barat pemikiran politik baru memisahkan diri dari etika

mulai abad ke-16 dengan dipelopori oleh negarawan Itali Niccolo

Macchiavelli. Akan tetapi didunia barat akhir-akhir ini kembali timbul

perhatian baru tentang filsafat dengan munculnya buku A Theoty of

Justice, karangan Jhon Rawls tahun 1971, Rawls memperjuangkan

distribusi kekayaan secara adil bagi pihak yang kurang mampu.

14
Hubungan Ilmu Politik dengan Ilmu-ilmu Sosial Lain

Hubungan-hubungan ilmu politik tidak hanya terbatas pada sejarah dan

filsafat, tetapi juga meliputi ilmu-ilmu sosial lainnya. Ilmu politik merupakan

salah satu dari kelompok besar ilmu sosial dan erat sekali hubungannya

dengan anggota-anggota kelompok lainnya, seperti sosiologi, antropologi, ilmu

hukum, ekonomi, psikolog sosial, dan ilmu bumi sosial. Mengenai ilmu-ilmu apa

yang termasuk ilmu-ilmu sosial tidak ada persesuaian paham. Misalnya,

sarjana-sarjana seperti Bert F, Hoselitz, dan Edwin RA. Seligman menyebut

sejarah sebagai salah satu ilmu sosial, tetapi tidak menyebut ilmu administrasi

atau ilmu komunikasi. Ada juga pihak lain yang menyangkal bahwa sejarah

merupakan suatu ilmu sosial, sentara itu ilmu administrasi dan ilmu komunikasi

diberbagai perguruan tinggi diperlakukan sebagai ilmu sosial. Berhubung ada

perbedaan pendapat ini, ada baiknya disebut disini ilmu-ilmu yang oleh badan

Internasional seperti UNESCO disebut sebagai ilmu sosial, yaitu seperti

sosiologi, psikologi sosial, antropolgi budaya, hubungan internasional, ilmu

hukum, ilmu politik, ekonomi, statistik, kriminologi, demografi, dan ilmu

administrasi. Beberapa dari ilmu sosial ini akan dibahas dibawah ini.

 Sosiologi

Diantara ilmu-ilmu sosial, sosiologi lah yang paling pokok dan umum

sifatnya. Sosiologi membantu sarjana ilmu politik dalam usahanya

memahami latar belakang, susunan dan pola kehidupan sosial dari

berbagai golongan dan kelompok dalam masyarakat. Dengan

menggunakan pengertian-pengertian dan teori-teori sosiologi, sarjana ilmu

15
politik dapat mengetahui sampai dimana susunan dan stratifikasi sosial

mempengaruhi ataupun dipengaruhi oleh misalnya keputusan kebijakan

(policy decision), corak dan sifat keabsahan politik (political legitimacy).

 Antropologi

Apabila jasa sosiologi terhadap perkembangan ilmu politik adalah terutama

dalam memberikan analisis terhadap kehidupan sosial secara umum dan

menyeluruh, maka antrophology menyumbang pengertian dan teori tentang

kedudukan serta peran berbagai satuan sosial-budaya yang lebih kecil dan

sederhana.

 Ilmu Ekonomi

Pada masa silam ilmu politik dan ilmu ekonomi merupakan bidang ilmu

tersendiri yang dikenal sebagai ekonomi politik (political economy), yaitu

pemikiran dan analisis kebijakan yang hendak digunakan untuk memajukan

kekuatan dan kesejahteraan negara Inggris dalam menghadapi saingannya

seperti Portugis, Spanyol, Prancis, dan Jerman, pada abad ke-18 dan ke-

19.

 Psikologi Sosial

Psikologi sosial adalah pengkhususan psikologi yang mempelajari

hubungan timbal balik antara manusia dan masyarakat, khususnya faktor-

faktor yang mendorong manusia untuk berperan dalam ikatan kelompok

sosial, bidang psikologi umumnya memusatkan perhatian pada kehidupan

perorangan.

16
 Geografi

Faktor-faktor yang berdasarkan geografi, seperti perbatasan strategis,

desakan penduduk, daerah pengaruh mempengaruhi politik.

 Ilmu Hukum

Terutama negara-negara Benua Eropa, ilmu hukum sejak dulu kala erat

hubungannya dengan ilmu politik, karena mengatur dan melaksanakan

undang-undang merupakan salah satu kewajiban negara yang penting.

Cabang-cabang ilmu hukum yang khususnya meneropong negara ialah

hukum tata-negara (dan ilmu negara).

17