Anda di halaman 1dari 10

REFERAT AUDIOMETRI

Oleh :

dr. Ad’ha Yulina Nurtika Sari

Pembimbing : dr. M. Arman Amar, Sp.THT-KL

RSUD PANGLIMA SEBAYA

KABUPATEN PASER - KALIMANTAN TIMUR

2016
Definisi Audiometri
Audiometri berasal dari kata audire dan metrios yang berarti mendengar
dan mengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk
mengukur ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk
menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan
pendengaran.
Audiometer nada murni merupakan prosedur uji sensitivitas masing
masing telinga dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi
nada-nada murni dari frekuensi bunyi yang berbeda beda, yaitu 250, 500, 1000,
2000, 4000 dan 8000 Hz dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan desibel
(dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui ear phone atau melalui bone
conductor ke telinga orang yang diperiksa pendengarannya. Hasilnya akan
diperiksa secara terpisah, untuk bunyi yang disalurkan melalui ear phone
mengukur ketajaman pendengaran melalui hantaran udara, sedangkan melalui
bone conductor telinga mengukur hantaran tulang pada tingkat intensitas nilai
ambang. Dengan membaca audiogram yang dihasilkan kita dapat mengetahui
jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata
sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 18-30 tahun
merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni.
Tujuan pemeriksaan adalah menentukan tingkat intensitas terendah dalam
dB dari tiap frekuensi yang masih dapat terdengar pada telinga seseorang, dengan
kata lain ambang pendengaran seseorang terhadap bunyi.
Manfaat Audiometri
1. Untuk kedokteran klinik , khususnya menentukan penyakit telinga
2. Untuk kedokteran kehakiman, sebagai dasar tuntutan ganti rugi
3. Untuk kedokteran pencegahan, mendeteksi ketulian pada anak-anak dan
pekerja beresiko
Tujuan Audiometri

1. Kegunaan diagnostik penyakit telinga


2. Mengukur kemampuan pendengaran dalam menangkap percakapan sehari-hari
atau validitas sosial pendengaran seperti untuk tugas dan pekerjaan, apakah
butuh alat bantu dengar, ganti rugi seperti dalam bidang kedokteran
kehakiman dan asuransi.
3. Skrining pada anak balita dan sekolah dasar
4. Monitor pekerja yang bekerja di tempat bising.
Cara Pemeriksaan Audiometri Nada Murni:
1. Manual audiometry, juga dikenal sebagai conventional audiometry
2. Automatic audiometry, juga dikenal sebagai Békésy audiometry
3. Computerized audiometry
Syarat pemeriksaan Audiometri Nada Murni
1. Alat Audiometer
Audiometer yang tersedia di pasaran terdiri dari enam komponen utama
yaitu;
a. Oksilator yang menghasilkan berbagai nada murni,
b. amplifier untuk menaikkan internsitas nada murni hingga dapat
terdengar,
c. pemutus (interrupter) yang memungkinkan pemeriksamenekan dan
mematikan tombol nada murni secara halus tanpa tedengar bunyi lain,
d. attenuator agar pemeriksa dapat menaikkan dan menurunkan intensitas
ke tingkat yang dikehendaki,
e. earphone yang mengubah gelombang listrik menjadi bunyi yang dapat
didengar,
f. sumber suara pengganggu (masking) yang sering diperlukan untuk
meniadakan bunyi ke telinga yang tidak diperiksa. Narrow band
masking noise atau garis selubung suara sempit merupakan suara putih
atau white noise (sejenis suara mirip aliran uap atau deru angin) yang
sudah disaring dari enegi suara yang tidak dubutuhkan uantuk
menyelubungi bunyi tertentu yang sedang digarap. Ini adalah bunyi
masking yang paling efektif untuk audiometerik nada murni.
Pada audiometri terdapat pilihan nada dari oktaf yaitu 125, 250,
500, 1000, 2000, 4000 dan 8000 Hz yang memungkinkan intensitas lebih
dari 110 dB. Standar alat yang digunakan berdasarkan BS EN 60645-
1(IEC 60645-1).
Alat audiometer harusnya selalu dapat dikalibrasi dengan
exhaustive electroacoustic calibrations oleh badan pengkalibrasian
nasional. Pemeriksaan termasuk pemeriksaan cara pakai, dan penyesuaian
bioakustik seharusnya dilakukan tiap hari sebelum digunakan, sesuai
standar BS EN ISO 389 series.
2. Lingkungan Pemeriksaan yang Baik
Orang yang diperiksa seharusnya dapat dilihat sepenuhnya oleh
pemeriksa. Orang tersebut tidak boleh melihat atau mendengar pemeriksa
dan audiometernya. Pemeriksaan dilakukan di dalalam ruangan dengan
tingkat kebisingan terendah sehingga kepekaan pendengaran pasien tidak
terganggu. Suara tambahan tidak boleh lebih dari 38 dB. Pemeriksaan ini
sesuai standard BS EN ISO 8253-1.
3. Kontrol Infeksi
Alat yang telah terkena kontak dengan pasien harus dilakukan
prosedur kontrol infeksi. Alat yang dipakai harus dibersihkan dan
disinfeksi setiap kali pemakaian. Pemakaian disposable ear phone sangat
direkomendasikan. Pemeriksa harus cuci tangan dengan sabun ataupun
alkohol sebelum menyentuh pasien.
Teknik Pemeriksaan
Sebelum dilakukan pemeriksaan, anamnesis mengenai riwayat penyakit
harus telah didapatkan dan pemeriksaan otoskopi telah dilakukan. Tanyakan
apakah menderita tinnitus atau apakah tidak tahan suara keras. Tanyakan pula
telinga yang mendengar lebih jelas. Usahakan pasien lebih kooperatif.
1. Pemeriksaan liang telinga
Hanya untuk memastikan kanal tidak tersumbat. Telinga harus bebas dari
serumen. Alat bantu dengar harus dilepas setelah instruksi pemerisa sudah
dijalankan.
2. Pemberian instruksi
Berikan perintah yang sederhana dan jelas. Jelaskan bahwa akan terdegar
serangkaian bunyi yang akan terdengar pada sebelah telinga. Pasien harus
memberikan tanda dengan mengangkat tangannya, menekan tombol atau
mengatakan “ya” setiap terdengar bunyi bagaimanapun lemahnya.
3. Pemasangan earphone atau bone conductor
Lepaskan dahulu kacamata atau giwang, regangkan headband, pasangkan
di kepalanya dengan benar, earphone kanan ditelinga kanan kemudian
kencangkan sehingga terasa nyaman. Perhatikan membrane earphone tepat
di depan liang telinga di kedua sisi.
4. Seleksi telinga
Mulailah dengan telinga yang sehat dahulu.
5. Urutan frekuensi
Prosedur dasar pemeriksaan ini adalah, a) dimulai dengan signal nada yang
sering didengar (familiarization), b) pengukuran ambang pendengaran.
Dua cara menentukan nada familiarization:
1. Dengan memulai dari 1000 Hz, dimana pendengaran paling stabil, lalu
secara bertahap meningkatkan oktaf lebih tinggi hingga terdengar.
2. Pemberian nada 1000 Hz pada 30 dB. Jika terdengar, lakukan
pemeriksaan ambang pendengaran. Jika tidak terdengar nada awal di
tinggkatkan intensitas bunyi hingga 50 dB, dengan menaikkan tiap 10
dB hingga tedengar.
Familiarization tidak selalu dilakukan pada setiap kasus. Terutama pada
kasus forensic atau pasien dengan riwayat ketulian.
Interpretasi Audiogram
Terdapat ambang dengar menurut konduksi udara (AC) dan menurut
konduksi tulang (BC). Apabila ambang dengar ini dihubungkan dengan garis, baik
AC maupun BC, maka akan didapatkan didalam audiogram. Simbol dan istilah
yang akan muncul dalam audiogram ini :
a. Hertz : standar pengukuran untuk frekuensi suara, pada audigram biasanya
berkisar antara 250 Hz - 8000Hz
b. Desibel (dB HL) : standar pengukuran untuk amplitudo atau kekerasan
(intensitas) suara, biasanya berkisar antara 0-110 dB HL
c. warna merah dan biru : jika yang diperiksa adalah telinga kiri maka titik
dan garisnya berwarna biru, sebaliknya jika telinga kanan yang diperiksa
maka titik dan garis berwarna merah.
d. o dan x : kedua simbol untuk pemeriksaan hantaran udara (air
conduction/AC), o untuk telinga kanan, dan x untuk telinga kiri.
e. < and > : Kedua simbol untuk pemeriksaan hantaran tulang (bone
conduction/BC), < untuk telinga kanan dan > untuk telinga kiri
f. AC : Air conduction, suara yang dihantarkan melalui udara
g. BC : Bone conduction, suara yang dihantarkan melalui tulang,
pemeriksaan dengan bagian headset khusus yang dipasang di belakang
daun telinga.
Audiogram Normal
Secara teoritis, bila pendengaran normal, ambang dengar untuk hantaran
udara maupun hantaran tulang tercatrat sebesar 0 dB. Pada anakpun keadaan ideal
seperti ini sulit tercapai terutam pada frekuensi rendah bila terdapat bunyi
lingkungan (ambient noise). Pada keadaan tes yang baik, audiogram dengan
ambang dengar 10 dB pada 250, 500 Hz 0 dB pada 1000, 2000,4000, 10000 Hz
pada 8000 Hz dapat dianggap normal.

Gambar 3. Gamban audiogram pada orang normal


Gangguan dengar Konduktif
Diagnosis gangguan dengar kondukstif ditegakkan berdasarkan prinsip
bahwa gangguan konduktif (telinga tengah) menyebabkan gangguan hantaran
udara yang lebih besar daripada hantaran tulang. Pada keadaan tuli konduktif
murni, keadaan koklea yang baik (intak) menyebabkan hantaran tulang normal,
yaitu 0 dB pada audiogram.
Pengecualian adalah pada tuli konduktif karena fiksasi tulang stapes
(misalnya pada otosklerosis). Disini terdapat ambang hantaran tulang turun
menjadi 15 dB pada 2000Hz. Diperkiran keadaan ini bukan karena ketulian
sensorineural, tapi belum diketahui sebabnya. Penyebab ketulian koduktif seperti
penyumbatan liang telinga, contohnya serumen, terjadinya OMA, OMSK,
penyumbatan tuba eustachius. Setiap keadaan yang menyebabkan gangguan
pendengaran seperti fiksasi kongenitalm fiksasi karena trauma, dislokasi rantai
tulang pendengaran, juga akan menyebabkan peninggian amabang hantaran udara
dengan hantaran tulang normal. Gap antara hantran tulang dengan hantaran udara
menunjukkan beratnya ketulian konduktif.
Derajat ketulian yang disebabkan otitis media sering berfluktuasi.
Eksarsebasi dan remisi sering terjadi pada penyakit telinga tenga terutama otitis
media serosa. Pada orang tua sering mengeluhkan pendengaran anaknya
bertambah bila sedang pilek, sesudah berenang atau sedang tumbuh gigi. dapat
juga saat perubahan pada musim tertentu karena alergi.
Penurunan Pendengaran akan menetap sekitar 55-60 dB pada pasien otitis
media. Selama koklea normal, gangguan pendengaran maksimum tidak melebihi
60 dB. Konfigurasi audiogram pada tuli konduktif biasanya menunjukkan
pendengaran lebih pada frekuensi rendah. Dapat pula berbentuk audiogram yang
datar.

Gambar 4. Audiogram tuli konduktif


Gangguan dengar Sensorineural (SNHL)
Tuli sensorineural terjadi bila didapatkan ambang pendengaran hantaran
tulang dan udara lebih dari 25 dB. Tuli sensorineural ini terjadi bila terdapat
gangguan koklea, N.auditorius (NVIII) sampai ke pusat pendengaran termasuk
kelainan yang terdapat didalam batang otak.2 Kelainan pada pusat pendengaaran
saja (gangguan pendengaran sentral) biasanya tidak menyeababkan gangguan
dengar untuk nada murni, namun tetap terdapat gangguan pendengaran tertentu.
Gangguan pada koklea terjadi karenadua cara, pertama sel rambut didalam koklea
rusak, kedua karena stereosilia dapat hancur. Proses ini dapat terjadi karenainfeksi
virus, obat ototoxic, dan biasa terpapar bising yang lama, dapat pula terjadi
kongenital. Istilah retrokoklea digunakan untuk sistem pendengaran sesudah
koklea, tetapi tidak termasuk korteks serebri (pusat pendengaran), maka yang
termasuk adalah N.VIII dan batang otak.
Berdasarkan hasil audiometrik saja tidak dapat membedakan jenis tuli
koklea atau retrokoklea. Maka perlu dilakukan pemeriksaan khusus. Pada ketulian
Meniere, pendengaran terutama berkurang pada frekuensi tinggi. Tuli
sensorineural karena presbikusis dan tuli suara keras biasanya terjadi pada nada
dengan frekuensi tinggi.
Apabila tingkat konduksi udara normal, hantaran tulang harusnya normal
pula. Bila konduksi udara dan konduksi tulang keduaduannya abnormal dan pada
level yang sama, maka pastilahnya masalah terletak pada koklea atau N. VIII,
sedangkan telinga tengah normal.

Gambar 5. Audiogram tuli sensorineural


Gangguan Dengar Campuran
Kemungkinan tarjadinya kerusakan koklea disertai sumbatan serumen yang
padat dapat terjadi. Level konduksi tulang menunjukkan gangguan fungsi koklea
ditambah dengan penurunan pendengaran karena sumbatan konduksi udara
mengambarkan tingkat ketulian yang disebabkan oleh komponen konduktif.
Perbedaan anatara level hantaran udara dan tulang dikenal sebagai “jarak
udara-tulang” atau “air-bone gap”. Jarak udara-tulang merupakan suatu ukuran
dari komponen konduktif dari suatu gangguan pendengaran. Level hantaran udara
menunjukkan tingkat patologi koklea, kadang disebut sebagai “cochlear reserve”
atau cabang koklea.

Gambar 6. Audiogram tuli campuran


Audiogram Nonorganis
Pasien dapat berpura-pura tuli dalam pemeriksaaan, ada yang secara sadar
atau tidak sadar melebih-lebihkan derajat ketuliannya. Pada keadaan ganti rugi
atau kompensasi misalnya, hal ini dapat menguntungkan. Indikasi adanya keadaan
ini adalah bila terdapat ketidakseusaian antara diagnosis klinis dan hasil
pemeriksaan audiometri. Bila tes diulang akan tampak perbedaan nilai ambang.
Pemeriksa sebaikya mengulang pemeriksaan audiometri dan menerangkan
ambang yang tidak tetap dan tidak dapat dipercaya.

Derajat Ketulian
Derajat ketulian berdasarkan ISO
Ambang pendengaran Interpretasi
0-25 dB Normal
26-40 dB Tuli ringan
41-60 dB Tuli sedang.
61-90 dB Tuli berat
>90 dB Tuli sangat berat
DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Ilmu THT FK UI, 2007

Adams, George. 1997. Boies : Buku Ajar Penyakit THT Ed 6. Jakarta: ECG