Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN GANGGUAN


KEBUTUHAN DASAR FISIOLOGIS: CAIRAN Dan
ELEKTROLIT

Dosen Pengampu :

IBU RINA TAMPAKE,S,Kep.Ns.M.Med.Ed

Disusun Oleh Kelompok :

Dian Reski Rahayu (PO7120320074)

Ananda Putri (PO7120320048)

Dea Riski Amanda (PO7120320041)

Rizka Rahmadani (PO7120320037)

Moh.Fathoni Nur Rizki (PO7120320036)

Yani Anggraini (PO7120320046)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KEMENKES PALU PRODI D IV KEPERAWATAN

2020

1
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Anak mengenai
“Asuhan keperawatan pada dengan gangguan kebutuhan dasar fisiologis: Cairan dan Elektrolit”
ini tepat waktu.

Makalah yang berjudul “Asuhan keperawatan pada dengan gangguan kebutuhan


dasar fisiologis: Cairan dan Elektrolit ” disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata
Kuliah Kep.Anak jurusan D IV Keperawatan. Adapun makalah Kep.Anak ini telah
penulis usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak,sehingga dapat memperlancar penyusunan makalah. Semoga makalah ini dapat
membantu pembaca untuk lebih memahami lagi tentang Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

Dengan ini penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari
kesempurnaan,dan masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan maupun
pemilihan kata yang kurang tepat. Untuk itu segala kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu penulis nantikan.

Palu, 26 Oktober 2021

( Kelompok )

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... 2
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................4
B. Rumusan Masalah......................................................................................4
C. Tujuan........................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Kebutuhan Dasar
Cairan dan Elektrolit.......................................................................................6

B. Volume dan Distribusi Cairan Tubuh.......................................................6

C. Mekanisme Pergerakan Cairan dan Elektrolit..........................................7

D. Pengaturan Volume Cairan Tubuh...........................................................8

E. Gangguan Keseimbangan Cairan: Dehidrasi...........................................9

F. Pengkajian................................................................................................10

G. Analisa Data............................................................................................12

H. Diagnosis Keperawatan...........................................................................14

I. Rencana Tindakan Keperawatan….........................................................15

J. Asuhan Keperawatan..............................................................................20

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan..............................................................................................37

B. Kritik dan Saran.......................................................................................37

DAFTAR PUSTAKA…......................................................................................39

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara


fisiologis (physiological needs). Kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian
tubuh dengan hampir 90% dari total berat badan. Cairan tubuh ini sangat penting
perannya dalam menjaga keseimbangan (Homeostasis) proses kehidupan. Peranan
tersebut dikarenakan air memiliki karakteristik fisiologis (Asmadi, 2008).

Cairan dalam tubuh manusia normalnya adalah seimbang antara asupan (input)
dan haluaran (output). Jumlah asupan cairan harus sama dengan jumlah cairan yang
dikeluarkan dari tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan
kehilangan cairan antara lain melalui proses penguapan ekspirasi penguapan kulit,
ginjal (urine), ekskresi pada proses metabolisme (defekasi) (Rosdahl dkk, 2014).

Dalam tubuh, fungsi sel bergantung pada keseimbangan cairan dan elektrolit.
Keseimbangan ini diurus oleh banyak mekanisme fisiologik yang terdapat dalam tubuh
sendiri. Akan tetapi, jika terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan haluaran,
tentunya akan menimbulkan dampak bagi tubuh manusia. Keseimbangan cairan
dan elektrolit saling bergantung satu sama lainnya, jika salah satu terganggu maka
akan berpengaruh dengan lainnya. Ph cairan tubuh. Hal itu dikarenakan anak
mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya dehidrasi.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah mampu melakukan tahap pengkajian asuhan keperawatan dengan
gangguan kebutuhan dasar fisiologis: cairan dan elektrolit?

b. Apakah mampu menegakkan diagnosa keperawatan dengan gangguan kebutuhan


dasar fisiologis: cairan dan elektrolit?

c. Apakah mampu merencanakan tindakan keperawatan dengan gangguan


kebutuhan dasar fisiologis: cairan dan elektrolit?

d. Apakah mampu melakukan implementasi keperawatan dengan gangguan


kebutuhan dasar fisiologis: cairan dan elektrolit?
4
e. Apakah mampu melakukan evaluasi dengan gangguan kebutuhan dasar
fisiologis: cairan dan elektrolit?

C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas dapat dibuat tujuan penulisan
sebagai berikut:

a. Mampu melakukan tahap pengkajian asuhan keperawatan dengan gangguan


kebutuhan dasar fisiologis: cairan dan elektrolit.

b. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan dengan gangguan kebutuhan dasar


fisiologis: cairan dan elektrolit.

c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan dengan gangguan kebutuhan


dasar fisiologis: cairan dan elektrolit.

d. Mampu melakukan implementasi keperawatan dengan gangguan kebutuhan


dasar fisiologis: cairan dan elektrolit.

e. Mampu melakukan evaluasi dengan gangguan kebutuhan dasar fisiologis:


cairan dan elektrolit.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Kebutuhan Dasar Cairan


dan Elektrolit
Cairan dan elektrolit sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan
atau homeostasis tubuh. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat
memengaruhi fungsi fisiologis tubuh. Sebab, cairan tubuh terdiri atas air yang
mengandung partikel-partikel bahan organic dan anorganik yang vital untuk hidup.
Elektrolit tubuh mengandung komponen-komponen kimiawi. Elektrolit tubuh ada
yang bermuatan positif (anion) dan bermuatan negative (kation).
Elektrolit sangat penting pada banyak fungsi tubuh, termasuk fungsi neuromuscular
dan keseimbangan asam basa. Pada fungsi neuromuscular, elektrolit memegang
peranan penting terkait dengan transmisi impuls saraf (Asmadi, 2008).

B. Volume dan Distribusi Cairan Tubuh

1.) Volume cairan

Total jumlah volume cairan tubuh (total body water-TBW) kira- kira 60%
dari berat badan pria dan 50% dari berat badan wanita. Jumlah volume ini
tergantung pada kandungan lemak, badan dan usia. Lemak jaringan sangat sedikit
menyimpan cairan, dimana lemak pada wanita lebih banyak daripada pria sehingga
jumlah volume cairan lebih rendah dari pria. Usia juga berpengaruh terhadap TBW
dimana makin tua usia makin sedikit kandungan airnya. Sebagai contoh, bayi baru
lahir memiliki TBW 70%-80% dari BB; usia 1 tahun 60% dari BB; usia pubertas
sampai dengan 39 tahun untuk pria 60% dari BB dan wanita 52% dari BB; usia 40-
60 tahun untuk pria 55% dari BB dan wanita 47% dari BB; sedangkan pada usia
diatas 60 tahun untuk pria 52% dari BB dan wanita 46% dari BB (Tarwoto &
Wartonah, 2010).

6
2.) Distribusi cairan

Cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen, yaitu pada


intraseluler dan ekstraseluler. Cairan intraseluler (CIS) kira-kira 2/3 atau 40% dari
Universitas Sumatera Utara BB. Ion utama di dalam CIS adalah kalium,
magnesium dan fosfat (serta protein). Sedangkan cairan ekstraseluler (CES) 20%
dari BB, cairan ini terdiri atas plasma (cairan intravascular) 5%, cairan interstisial
(cairan disekitar tubuh seperti limfa) 10-15%, cairan transselular (misalnya, cairan
serebrospinalis, cairan sinovial, cairan dalam peritonium, cairan akueus dalam
rongga mata, dan lain-lain) 1-3%.
Terutama karena kesulitan dalam memperoleh cairan intraseluler, maka relative
sedikit diketahui tentang pengendalian volume cairan intraseluler dalam keadaan
sehat maupun sakit, maka haruslah terdapat mekanisme tertentu yang mencegah
masuknya air secara tidak terkendali ke dalam sel dan mengakibatkan
pembengkakan sel, yang berbeda dengan sel tanaman, sel tubuh tidak dilindungi
oleh membran yang kuat (Tarwoto & Wartonah, 2010).

C. Mekanisme Pergerakan Cairan dan Elektrolit


Menurut Tarwoto & Wartonah (2010), mekanisme pergerakan cairan tubuh
melalui tiga proses, yaitu:

1.) Difusi

Difusi merupakan proses perpindahan partikel cairan dari konsentrasi tinggi


ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dak elektrolit idifusikan
menembus membran sel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul,
konsentrasi larutan dan temperatur.

2.) Osmosis

Osmosis merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui


membran semipermiabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke
konsentrasi yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.

3.) Transpor Aktif

7
Partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karena adanya daya aktif
dari tubuh seperti pompa jantung.

D. Pengaturan Volume Cairan Tubuh

Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari jumlah cairan yang masuk
dikurangi dengan jumlah cairan yang keluar. Catatan asupan dan haluaran yang akurat
serta berat badan harian sangat penting untuk merawat klien yang Universitas
Sumatera Utara mengalami kekurangan atau kelebihan cairan.

1.) Asupan Cairan

Asupan merujuk pada air dan cairan lain yang masuk kedalam tubuh setiap
hari. Air diperoleh dari dua sumber yaitu : asupan cairan (melalui mulut atau metode
lain seperti IV), dan sebagai hasil metabolisme makanan. Pengaturan mekanisme
keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus
dalam rangka mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi
ketidak seimbangan volume cairan tubuh dimana asupan cairan kurang atau adanya
perdarahan, maka curah jantung akan menurun, menyebabkan terjadinya penurunan
tekanan darah (Alimul Hidayat, 2006).

Umur Kebutuhan Air


( Behrman dkk, 2000 )
Jumlah air dalam 24 jam Ml/kg berat badan
3 hari 250-300 80-100
1 thn 1150-1300 120-135
2 thn 1350-1500 115-125
4 thn 1600-1800 100-110
10 thn 2000-2500 70-85
14 thn 2200-2700 50-60
18 thn 2200-2700 40-50
Dewasa 2400-2600 20-30

2.) Pengeluaran cairan


Banyak faktor memengaruhi kehilangan cairan. Individu yang sakit
membutuhkan lebih banyak cairan karena mengalami drainase berlebihan dari luka,
muntah atau perdarahan. Demam dapat menyebabkan individu menggunakan
sekitar empat kali lipat jumlah cairan yang ia biasanya ia butuhkan. Masing-masing
8
bentuk kehilangan cairan juga akan mengubah konsentrasi elektrolit tubuh
(Rosdahl dkk, 2014). Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan
memerlukan Universitas Sumatera Utara pengawasan asupan dan pengeluaran
cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernafasan, keringat dan
diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan. Kondisi lain yang
dapat menyebabkan kehilangan cairan berlebihan adalah muntah secara terus
menerus (Alimul Hidayat, 2006).

Keseimbangan Asupan dan Haluaran Air Normal


(Rosdahl dkk, 2014)

Asupan Haluaran
Sumber jumlah sumber jumlah
Cairan 1200 ml Urine 1500 ml
Makanan 1000 ml Kulit 500 ml
Metabolisme 300 ml Paru 300 ml
Feces 200 ml
Tota 2500 ml Total 2500 ml

E. Gangguan Keseimbangan Cairan: Dehidrasi


Dehidrasi adalah kehilangan air dari tubuh atau jaringan atau keadaan yang
merupakan akibat kehilangan air yang abnormal. Menurut Guyton, dehidrasi adalah
hilangnya cairan dari semua pangkalan cairan tubuh. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa dehidrasi merupakan keadaan kehilangan cairan tubuh.

Pada dehidrasi, haluaran air lebih besar dibanding asupan air. Dehidrasi dapat
disebabkan oleh kehilangan natrium atau larutan elektrolit lainnya seperti kalium.
Penyebab eksternal dehidrasi meliputi pajanan sinar matahari berlebihan, anoreksia
atau bulimia menyebabkan dehidrasi. Penurunan asupan cairan, demam, pengisapan
gastrointestinal, obat tertentu dan hemoragi juga dapat menyebabkan dehidrasi.
Gangguan tertentu seperti disfungsi elektrolit dan penyakit Addison juga dapat
menyebabkan dehidrasi.

Pada tahap awal dehidrasi, individu merasa haus dan minum lebih banyak
cairan. Jika asupan cairan tidak dapat mengimbangi kehilangan cairan, dehidrasi
semakin parah. Tubuh mengompensasi dengan mengurangi haluaran urin dan

9
keringat.air bergerak dari kompartemen CIS ke dalam cairan intravaskular. Jika
Universitas Sumatera Utara dehidrasi tidak segera dikoreksi, jaringan tubuh akan
mongering dan mengalami malfungsi. Sel otak paling rentan terhadap dehidrasi; salah
satu tanda dehidrasi berat adalah konfusi mental. Jika tidak ditangani segera, maka
kondisi tersebut akan berkembang menjadi koma (Guyton, 1995).

Penilaian derajat dehidrasi erdasarkan tanda dan gejala

(Mansjoer dkk, 2003)

Penilaian A B C
Keadaan umum Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai,
tidak sadar
mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut dan Basah Kering Sangat kering
lidah
Rasa haus Minum biasa, Haus, ingin Malas minum atau
tidak haus minum banyak tidak bias minum

Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat


lambat
Hasil Tanpa dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi berat
pemeriksaan ringan/sedang

F. Pengkajian

Untuk mengidentifikasi masalah gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit serta mengumpulkan data guna menyusun suatu rencana keperawatan,
perawat perlu melakukan pengkajian keperawatan. Berdasarkan Manajemen Terapi
Balita Sakit (2010), anak yang menderita diare dinilai dalam hal:

a. Berapa lama anak menderita diare

b. Adakah darah dalam tinja untuk menentukan apakah anak menderita


disentri

c. Adakah tanda-tanda dehidrasi

10
Klasifikasi Dehidrasi Dengan Konsep MTBS, 2010

A. Klasifikasi diare untuk dehidrasi :

1. Balita diklasifikasikan mengalami diare dehidrasi berat apabila


terdapat Universitas Sumatera Utara dua atau lebih tanda-tanda berikut ini :

a.) Letargi atau tidak sadar b.) Mata cekung


c.) Tidak bisa minum atau malas minum

d.) Cubitan kulit perut kembali sangat lambat

2. Balita diklasifikasikan mengalami diare dehidrasi ringan/sedang


apabila terdapat dua atau lebih tanda-tanda berikut ini :

a.) Gelisah, rewel (mudah marah) b.) Mata cekung


c.) Haus, minum dengan lahap

d.) Cubitan kulit perut kembali lambat

3. Balita diklasifikasikan mengenai diare tanpa dehidrasi terdapat


cukup tanda- tanda untuk diklasifikasikan sebagai diare dehidrasi berat atau
ringan/sedang.

4. Klasifikasi diare jika 14 hari atau lebih :

a.) Balita diklasifikasikan mengalami diare persisten berat apabila terdapat


gejala dehidrasi

b.) Balita diklasifikasikan mengalami diare persisten apabila tanpa gejala


dehidrasi

5. Klasifikasi diare, jika ada darah dalam tinja :


Gejala/derajat Diare tanpa Diare dehidrasi Diare dehidrasi
dehidrasi dehidrasi ringan/sedang berat
Bila terdapat dua Bila terdapat dua Bila terdapat dua
tanda atau lebih tanda atau lebih tanda atau lebih
Keadaan umum Baik, sedang Gelisah, rewel Lesu,
lunglai/tidak

11
sadar
Mata Tidak cekung Cekung Cekung
Keininan untuk Normal ,tidak ada ingin minum terus, Malas minum
minum rasa haus ada rasa haus
Turgor Kembali segar Kembali lambat Kembal sangat
i
lambat

Terkait dengan gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit, maka ada


beberapa aspek yang perlu dikaji oleh perawat, antara lain:

1. Aspek biologis, seperti:

a. Usia Usia memengaruhi distribusi cairan dan elektrolit dalam tubuh. Oleh
karena itu, pada saat mengkaji klien, perawat perlu menghitung adanya
perubahan cairan yang berhubungan dengan proses penuaan dan
perkembangan

b. Berat badan Perlu dikaji berat badan sebelum sakit dengan berat badan saat
sakit. Pengkajian ini diperlukan untuk mengukur persentase penurunan
berat badan dalam menentukan derajat dehidrasi.

c. Riwayat kesehatan Hal yang perlu dikaji antaraa lain riwayat penyakit atau
kelainan yang dapat menyebabkan gangguan dalam homeostasis cairan dan
elektrolit.

d. Tanda vital meliputi suhu, respirasi, nadi, dan tekanan darah. Peningkatan
suhu dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit karena
peningkatan insensible water loss (IWL). Sebaliknya, penurunan suhu tubuh
akan mengakibatkan penurunan IWL.

2. Aspek psikologis Pada aspek psikologis ini, perlu dikaji adanya masalah-
masalah perilaku atau Universitas Sumatera Utara emosional yang dapat
meningkatkan risiko gangguan cairan dan elektrolit (Tarwoto & Wartonah, 2010).

G. Analisa Data

Data dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan
pasien, kemampuan pasien mengelolah kesehatan terhadap dirinya sendiri dan hasil
konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainya. Data fokus adalah data tentang
12
perubahan-perubahan atau respon pasien terhadap kesehatan dan masalah
kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap
klien (Kozier, 2010).

Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang


dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah serta kebutuhan
keperawatan dan kesehatan lainya. Pengumpulan informasi merupakan tahap awal
dalam proses keperawatan. Dari informasi yang terkumpul didapat data dasar
tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selajutnya data dasar itu digunakan
untuk menetukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta
tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien (Kozier, 2010).

Pengumpulan data dimulai sejak dilakukan pengkajian. Tujuan


pengumpulan data adalah untuk memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan
klien, membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah
berikutnya. Tipe data terbagi dua, yaitu data subjektif dan data objektif. Data
subjektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap
suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat,
mencakup persepsi, perasaan, ide klien terhadap status kesehatan lainya. Sedangkan
data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh
menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, sentuh/ raba) selama pemeriksaan
fisik. Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, berat badan dan tingkat
kesadaran.

Dalam menganalisa data yang sistematik diperlukan 3 komponen yaitu


masalah (problem), penyebab (etiology), dan tanda dan gejala (symptom). Data
yang sudah dikumpulkan dikelompokkan menurut tipe data, yaitu data subjektif
Universitas Sumatera Utara dan data objektif. Setelah data terbagi, data perlu
disertakan dengan tanda dan gejala untuk lebih memperkuat data. Selama dan
setelah pengumpulan data, data tersebut akan diperiksa kembali untuk menentukan
relevansinya dengan masalah klien dan hubungannya dengan potongan informasi
lain. Melalui analisis data yang sistematif, maka akan didapatkan mengenai
masalah kesehatan klien.

Dari masalah kesehatan tersebut maka akan didapatkan diagnosa

13
keperawatan yang sesuai dengan masalah kesehatan klien. Setelah diagnosa
keperawatan ditegakkan maka langkah selanjutnya adalah merencanakan asuhan
keperawatan klien berdasarkan masalah atau diagnosis yang telah di identifikasi.

H. Diagnosis Keperawatan

Kekurangan Volume Cairan (Nanda International, 2012-2014)

1. Defenisi : Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan atau


intraselular. Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan
pengeluaran sodium.

2. Kemungkinan berhubungan dengan :

a. Kehilangan cairan secara berlebihan

b. Berkeringat secara berlebihan


c. Menurunnya intake oral
d. Penggunaan diueretik

e. Pendarahan

f. Kemungkinan data yang ditemukan

g. Hipotensi

h. Takikardia

i. Pucat

j. Kelemahan

k. Konsentrasi urin pekat

3. Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :

a.) Penyakit Addison

b.) Koma

c.) Ketoasidosis para diabetik

d.) Anoreksia nervosa Universitas Sumatera Utara e.) Pendarahan

gastrointestinal

14
f.) Muntah, diare

g.) Intake cairan tidak adekuat

h.) AIDS

i.) Ulcer kolon

4. Tujuan yang diharapkan :

a.) Mempertahankan keseimbangan cairan

b.) Menunjukan adanya keseimbangan cairan seperti output urin adekuat,


tekanan darah stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik

c.) Secara verbal pasien mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat teratasi

I. Rencana Tindakan Keperawatan

Terapi Dehidrasi Dengan Konsep MTBS (2010)

A. Rencana terapi A : penanganan diare di rumah :

a. Pengertian dan hal-hal berkaitan dengan rencana terapi A :

Terapi A, yaitu terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi,


dimana anak yang tanpa tanda gejala dehidrasi membutuhkan ekstra cairan air dan
elektrolit yang hilang selama diare.

b. Cairan yang biasa diberikan dalam pengobatan ini :

1.Cairan yang bisa diberikan, yaitu cairan dehidrasi oral dari gula dan
garam, sayuran dan sop ayam yang mengandung garam

2.Cairan yang diberikan kapada anak sebanyak anak mau sampai diare
berhenti, atau :

 Anak < 2 tahun, sebanyak 50 – 100 ml

 Anak 2 – 10 tahun, sebanyak 100 – 200 ml

 Anak > 10 tahun, diberikan cairan sebanyak anak mau

c. Dalam hal ini, yang paling utama ditekankan pada rencana terapi A ini adalah
15
menjelaskan kepada ibu mengenai empat aturan perawatan di rumah sakit, berikut
ini :

a. Pemberian cairan tambahan

Dalam rencana terapi pemberian cairan tambahan sebanyak anak mau ini,
perlu dilakukan hal-hal berikut ini :

1.) Berikan penjelasan kepada ibu, hal-hal berikut ini :

a.) Untuk menberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
pemberian.

b.) Untuk memberikan oralit atau matang sebagai tambahan, apabila anak
memperoleh ASI tambahan.

c.) Untuk memperoleh susu cairan atau lebih, apabila anak tidak memperoleh
ASI eksklusif. (cairan-cairan tersebut, misalnya oralit, cairan makanan, atau
air matang)

d.) Jelaskan juga kepada ibu bahwa anak harus diberikan larutan oralit di
rumah, apabila :

 Anak telah diberikan pengobatan dengan rencana terapi B atau C


dalam kunjungan ini

 Anak tidak dapat kembali ke klinik apabila diare pada anak


bertambah parah
 Ajarkan kepada ibu tentang cara mencampur dan memberikan oralit
serta berikan ibu 6 bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan di
rumah
 Tunjukan kepada ibu tentang berapa banyak oralit/cairan lain yang
harus diberikan setiap kali anak buang air besar Universitas
Sumatera Utara
 Untuk anak umur sampai 1 tahun, banyaknya oralit/cairan lain yang
harus diberikan adalah 60 sampai 100 ml setiap kali anak buang air
besar (berak)
 Untuk anak umur 1 sampai 5 tahun, banyaknya oralit/cairan lain
16
yang harus diberikan adalah 100 sampai 200 ml setiap kali anak
buang air besar

2.) Jelaskan kembali atau katakan kepada ibu mengenai hal-hal berikut ini :

a. Apabila anak yang diberikan minuman muntah, tunggu sebentar


yaitu sekitar 10 menit. Kemudian, lanjutkan lagi pemberian minum lebih
lambat.

b. Untuk melanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

 Pemberian tablet zinc selama 10 hari

 Melanjutkan pemberian makan

 Penjelasan kapan harus kembali

B. Terapi B : penanganan dehidrasi ringan/sedang dengan oralit

1.) Rencana terapi B, yaitu terapi dehidrasi oral untuk anak dehidrasi sedang
adalah dengan pemberian CRO (cairan oralit).

2.) Hal yang paling utama ditekankan pada rencana terapi B ini, antara lain:

a. Pemberian oralit di klinik sesuai yang dianjurkan selama 3 hari, antara lain :

 Anak umur ≤ 4 bulan dan berat badan < 6 kg, cairan oralit yang diberikan
sebanyak 200-400 ml
 Anak umur 4-12 bulan dan berat badan 6-10 kg, cairan oralit Universitas
Sumatera Utara yang diberikan sebanyak 400-700 ml
 Anak umur 1-2 tahun dan berat badan 10-12 kg, cairan oralit yang
diberikan sebanyak 700-900 ml
 Anak umur 2-5 tahun dan berat badan 12-19 kg, cairan oralit yang
diberikan sebanyak 900-1400 ml

b. Penentuan jumlah oralit untuk 3 jam pertama : Ketentuan :

 Jumlah oralit yang diperlukan dihitung dengan rumus: berat badan (dalam
17
kg) x 75 ml
 2) Penggunaan umur digunakan hanya apabila berat badan anak tidak
diketahui

c. Jumlah oralit dapat diberikan lebih banyak dari pedoman yang ditentukan di atas,
apabila anak masih menginginkannya : Selama periode ini, dapat diberikan juga
100-200 ml air matang pada anak yang berumur kurang dari 6 bulan yang tidak
menyusu ASI.

d. Penjelasan kepada ibu cara pemberian larutan oralit :Berikut ini adalah hal-hal
yang perlu ditunjukan pada ibu Dalam memberikan larutan oralit:

 Larutan oralit dapat diminumkan sedikit demi sedikit tetapi sering dengan
menggunakan cangkir atau gelas
 Apabila anak muntah, pemberian larutan oralit dapat ditunggu sebentar,
yaitu selama 19 menit, untuk selanjutnya dapat diberikan kembali dengan
lebih lambat
 ASI dapat diberikan selama anak mau

e. Pemberian tablet zinc

f. Penanganan selama 3 jam :

 Lakukan penilaian ulang dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasi pada


anak
 Setelah itu, pilih rencana terapi yang sesuai dengan penilaian dan
klasifikasi tadi untuk melanjutkan pengobatan
 Selanjutnya, anak bisa mulai diberikan makan

g. Penanganan apabila ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai :

1.) Peragakan atau tunjukan kepada ibu cara menyiapkan cairan oralit di rumah

2.) Peragakan atau tunjukan kepada ibu banyaknya oralit yang harus diberikan
kepada anak di rumah untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan

3.) Untuk mencukupi kebutuhan rehidrasi, maka berikan oralit yang cukup dengan
menambahkan 6 bungkus lagi sesuai anjuran pada rencana terapi A

4.) Empat aturan perawatan di rumah berikut ini seperti yang terdapat pada
rencana terapi A, perlu dijelaskan kembali :
 Pemberian cairan tambahan
 Melanjutkan pemberian tablet zinc sampai 10 hari
 Memberikan pemberian makanan d) Memberitahukan kapan harus kembali

C. Rencana terapi C: penanganan dehidrasi berat dan cepat :

a. Terapi C adalah pengobatan untuk pasien dengan dehidrasi berat, dengan


18
pemberian cairan rehidrasi intravena secara cepat

b. Hal yang paling utama ditekankan pada rencana terapi C ini, antara lain:

 Lakukan pemberian cairan intravena secepatnya


 Pada anak yang bisa minum, sementara mempersiapkan infus berikan oralit
melalui minum

c. Cairan infus yang diberikan yaitu cairan ringer laktat (apabila tidak tersedia, bisa
diberikan cairan NaCl) dengan pemberian 100 ml/kg, dengan pembagian sebagai
berikut :

1.) Untuk bayi dibawah 12 bulan, diberikan cairan cairan sebanyak:

 30 ml/kg selama 1 jam (ulangi sekali lagi apabila denyut nadi


sangat lemah atau tidak teraba)
 70 ml/kg selama 5 jam

2.) Untuk anak usia 12 bulan sampai 5 tahun, diberikan cairan sebanyak:

 30 ml/kg selama 30 menit (ulangi sekali lagi apabila denyut nadi


sangat lemah atau tidak teraba)
 70 ml/kg selama 2 1 /2 jam

3.) Lakukan pemeriksaan kembali pada anak setiap 15-30 menit :

 Segera setelah anak minum, berikan oralit (dengan dosis/takaran


kira-kira 5 ml/kg/jam
 Oralit ini bisa diberikan pada bayi sesudah 3-4 jam dan pada anak
sesudah 1-2 jam
 Disamping oralit, juga perlu diberikan tablet zinc.

4.) Lakukan pemeriksaan kembali, yaitu sesudah 6 jam pada bayi dan sesudah
3 jam pada anak

5.) Dalam hal ini dilakukan klasifikasi dehidrasi

6.) Kemudian pilihlah rencana terapi yang sesuai untuk meneruskan


pengobatan.

19
J. Asuhan Keperawatan Kasus

Pengkajian

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI LINGKUNGAN VI


KELURAHAN SARI REJO KEC. MEDAN POLONIA

I. BIODATA

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. G
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 2 Tahun
Agama : Kristen Protestan
Suku : Batak Toba
Alamat : Jalan Pipa 4 Lingkungan VI Kelurahan Sari Rejo
Kecamatan
Medan Polonia
Tempat, Tgl lahir : Medan, 09 April 2015
Tanggal Pengkajian : 22 Mei 2017
Diagnosa Keperawatan : Kekurangan Volume Cairan

IDENTITAS ORANGTUA

1. IBU
Nama : Ny. M
Umur : 28 Tahun
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jalan Pipa 4 Lingkungan VI Kelurahan Sari Rejo Kecamatan
Medan Polonia
2.AYAH
Nama : Tn. B
Umur : 30 Tahun
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jalan Pipa 4 Lingkungan VI Kelurahan Sari Rejo Kecamatan
Medan Polonia

II. KELUHAN UTAMA

20
1. BAB lebih dari 4 ×/hari dengan konsitensi cairan lebih banyak dari ampas, sudah
dialami sejak 1 hari yang lalu 2. Muntah sejak kemarin malam sebanyak 2 kali

III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

A. Provocatif /palliative

1. Apa penyebabnya:

Anak mengalami diare karena diberi makan ikan mas arsik oleh ayahnya, diduga
makanannya kurang terjaga kebersihannya dan perut anak belum terbiasa dengan
bumbu makanan tersebut

2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan:

Ibunya menghentikan pemberian makanan yang keras dan diganti dengan bubur.

B. Quantity/quality

1. Bagaimana dirasakan: Anak rewel dan gelisah

2. Bagaimana dilihat: Anak selalu menangis, mukosa bibir kering, badan semakin
kurus, kulit kering, turgor kulit kembali lambat

C. Region

1. Dimana lokasinya:
Hanya daerah abdomen.

1. Apakah menyebar:
Tidak menyebar
D. Severity

Anak terlihat lemah dan tidak aktif beraktivitas

E. Time

Hal ini dialami anak sejak 1 hari yang lalu

IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

A. Penyakit yang pernah dialami

Anak pertama kali mengalami penyakit demam setelah mendapat imunisasi DPT

B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan


21
Pengobatan yang dilakukan oleh keluarga tidak ada hanya memberikan ASI
C. Pernah dirawat/dioperasi

Anak tidak pernah dirawat dan tidak pernah mengalami operasi.

D. Lama dirawat

Anak tidak pernah di rawat di rumah sakit.

E. Alergi

Anak tidak ada mengalami alergi karena obat maupun makanan.

F.Imunisasi

N Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi


o
1 BCG 1x -
2 DPT 3x Demam
3 POLIO 4x -
4 CAMPAK - -
5 HEPATITIS B 3x -

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

A. Orang tua

Ayah An. G pernah dirawat di Rumah Sakit Mitra Sejati karena sakit hipertensi.
Ibu An. G memiliki riwayat sakit anemia dan tekanan darah rendah

B. Saudara kandung

Kakak An.G, 4 tahun, pernah dirawat di Rumah Sakit Boloni karena mengalami
demam tinggi sampai 42°C

C. Penyakit keturunan yang ada

Riwayat penyakit hipertensi dan jantung

D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

Anggota kelurga pasien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa

E. Anggota keluarga yang meninggal

Anggota keluarga pasien ada yang meninggal yaitu kakek An. G

F. Penyebab meninggal

Meninggal dunia karena riwayat penyakit jantung


22
G. Genogram

Keterangan:

VI. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL

A. Persepsi pasien tentang penyakit

Persepsi orangtua tentang penyakit saat ini adalah diare itu penyakit biasa yang
dialami oleh anak-anak

B. Keadaan emosi

Anak mudah menangis dan gelisah saat perutnya sakit

C. Hubungan sosial

1. Orang yang berarti: orangtua


2. Hubungan dengan keluarga: klien sebagai anak dikeluarga
3. Hubungan dengan orang lain: hubungan dengan orang lain sebagai tetangga di
lingkungan
4. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: An. G sudah bisa bersosialisasi
kepada teman di lingkungannya dan bisa mengikuti aktivitas dan kegiatan
dilingkungannya dalam dampingan orangtua

D. Spiritual
23
Nilai dan keyakinan: klien mengikuti dan menaati nilai sesuai keyakinan dan
peraturan yang ada ditengah-tengah keluarga klien. Dan itu masih di lakukan oleh kedua
orang tuanya karena klien masih belum bisa melakukan peraturan yang ada di
keyakinannya. Kegiatan ibadah: klien sudah diperkenalkan dengan kegiatan ibadah
sekolah minggu di gereja dengan didampingi oleh orangtua.

VII. PEMERIKSAAN FISIK

A. Keadaan umum

Anak terlihat lemas, gelisah, rewel dan berat badan semakin menurun

B. Tanda-tanda vital

1. Suhu tubuh : 37,1 ºC


2. Pernafasan : 23×/menit
3. Nadi : 108×/menit
4. TB : 79,7 cm
5. BB : 9,8 kg

C. Pemeriksaan Head to toe


1. Kepala dan rambut
a. Bentuk : bentuk oval, tidak ada massa atau benjolan
b. Ubun-ubun : ubun-ubun sudah menutup
c. Kulit kepala : kulit kepala bersih, tidak ada lesi
2. Rambut
a. Penyebaran dan keadaan rambut: rambut anak tipis dan hitam, rambut lurus
b. Bau : tidak ada bau dari rambut
3. Wajah
a. Warna Kulit : warna kulit putih pucat
b. Struktur wajah : struktur wajah oval
4. Mata
a. Kelengkapan dan kesimetrisan: mata lengkap dan simetris
b. Mata: cekung
c. Konjungtiva : anemis
d. Pupil : isokor

24
5. Hidung
a. Tulang hidung dan posisi septum nasi: lengkap dan simetris
b. Lubang hidung: simetris dan bersih tidak ada sinusitis
c. Cuping hidung: tidak ada pernafasan cuping hidung
6. Telinga
a. Bentuk telinga: bentuk telinga normal, simetris antara telinga kanan dan kiri
b. Ukuran telinga: ukuran telinga kanan dan kiri sama besar
d. Lubang telinga: kedua lubang telinga pasien bersih
a. Ketajaman pendengaran: anak dapat mendengar suara dengan baik
7. Mulut dan faring

a. Keadaan bibir : mukosa bibir kering


b. Keadaan gusi dan gigi : gusi bersih
c. Keadaan lidah : bersih dan tidak ada putih-putih karena ASI
8. Leher

a. Posisi trachea: posisi trakea berada di tengah


b. Suara: anak sudah bisa mengucapkan namanya dengan jelas
c. Denyut nadi karotis : dapat teraba dengan jelas
d. Kelenjar limfe: tidak ada pembengkakan kelenjar limfe
e. Tyroid: tidak ditemukan adanya pembengkakan thyroid
9. Pemeriksaan integumen

a. Kebersihan : kulit bersih


b. Kehangatan : suhu tubuh normal
c. Turgor : kering, bila dicubit kulit kembalinya lambat > 2 detik

10. Pemeriksaan paru

a. Palpasi getaran suaran: tidak ada suara tambahan


b. Perkusi : resonan diseluruh lapang paru
c. Auskultasi : bunyi nafas bronkovesikuler pada daerah bronkus

11. Pemeriksaan abdomen

a. Inspeksi : tidak ada benjolan atau massa pada abdomen


b. Auskultasi: bising usus 20x/menit

25
c. Palpasi (tanda nyeri tekan, benjolan, ascites, hepar, lien): tidak ada nyeri tekan
pada semua kuadran abdomen
d. Perkusi : perut kembung

12. Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya

a. genitalia (rambut pubis, lubang uretra): lubang uretra ada


a. anus dan perineum (lubang anus, kelainan pada anus, perineum): ada lubang anus,
perineum bersih

VIII. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

1. Pola makan dan minum

a. Frekuensi makan/ hari: makan 3×/hari


b. Nafsu/selera makan: kurang selera makan saat sakit
c. Mual dan muntah: anak ada muntah 2x
d. Waktu pemberian makan: 08.00 pagi, 12.30 siang, 19.00 malam
e. Jumlah dan jenis makan : nasi halus, sayur dan lauk untuk satu kali porsi makan
f. Waktu pemberian minum : saat anak haus

2. Perawatan diri/ personal hygiene

a. Kebersihan tubuh: anak masih didampingi orangtua saat mandi


b. Kebersihan gigi dan mulut : gigi tidak ada yang berlubang, anak sikat gigi 3x
sehari
c. Kebersihan kuku kaki dan tangan : kuku anak tidak panjang dan bersih, biasanya
kuku dipotong 1x seminggu

3. Pola kegiatan/aktivitas

a. anak biasanya menonton kartun di televisi di pagi hari


b. tidur siang pada pukul 13.00-15.00
c. mandi sore pada pukul 17.00
d. bermain dengan teman-teman di lingkunganya bersama kakaknya
4. Pola eliminasi
1. BAB
a. Pola BAB : 4x/hari
b. Karakter feses : bau khas, konsistensi encer
26
2. BAK.
a. Pola BAK : 4-5x/hari
b. Karakter urin : warna kuning terang
Analisa Masalah

No Data Etiologi Masalah


Data Subjektif : Makanan Kekurangan
 Ny. M mengatakan erkontaminasi Volume
bahwa An. G BAB Cairan
lebih dari 4x/hari Peradangan
dengan konsistensi saluran cerna
cair dan muntah
kemarin malam ekanan osmotic
sebanyak 2 kali dalam usus
 Ny. M mengatakan meningkat
bahwa 2 hari yang Hiperperistaltik
lalu anak makan ikan
arsik yang dibawa Sari makanan
oleh ayahnya sulit diserap

Data Objektif : Air dan garam


 Turgor kulit kembali mineral terbawa
lambat >2 detik ke usus
 Mata cekung
 Mukosa bibir kering ngeluaran
 Warna urin kuning yangberlebihan
terang
 Peristaltik usus ehidrasi ringan
20x/menit
 Tanda-tanda vital : Kekurangan
RR : 23x/menit volume cairan
Nadi : 108x/menit
Suhu : 37,1°C

Data Subjektif : Diare Nutrisi


 Ny. M mengatakan Kurang dari
bahwa An. G kurang Distensi abdomen Kebutuhan
nafsu makan sejak
sakit Mual, muntah
 Ny. M mengatakan
An. G kebanyakan Nafsu makan
hanya minum teh menurun
manis saja

Data Objektif : Berat badan


 Berat badan 9,8 kg menurun
(sebelum diare, berat
badan An. G 10,5 Nutrisi kurang
kg) dari kebutuhan
27
 Konjungtiva anemis
 Badan An. G tampak
kurus
 Perut kembung

Rumusan Masalah

a. Masalah Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan
b. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan pengeluaran cairan berlebih
melalui feses
b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
yang tidak adekuat

Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Tujuan Kriteria Rencana Rasional


Keperawata Hasil Tindakan
n
Kekurangan 1. Mencegah 1. Tinja 1. Kaji 1. Untuk
cairan tubuh Dan meringankan lunak tandatanda mengetahui
berhubunga diare daberbentuk2. vital, turgor keadaan umum
n 2. Meningka- Membramukos kulit, membran dan tanda
dengan tkan a mukosa dan dehidrasi
pengeluaran keseimbangan lembab status mental
cairan cairan dan 3. Mata
berlebih elektrolit, dan tidak 2. 2. Untuk
melalui feses mencegah cekung Kajiabdomen mengetahui
komplikasi 4. Elastiitas (inspeksi, keadaan sistem
yang diakibatkan turgor palpasi, perkusi gastrointestinal
oleh kadar cairan kulit bai5. Dan auskultasi)
dan serum Tidak arasa 3. Untuk
elektrolit hausberlebih6. 3. Kenali memberikan
yang abnormal Tidak terjadi penyebab penanganan
atau tidak demam diare (misal, medikasi yang
diharapkan makanan,hewa tepat
n
3.Mempertahanka peliharaan, 4. Untuk
n integritas kulit bakteri) mengganti
dan membran cairan tubuh
Mukosa agar tetap 4.Berikan
lembab cairan terapi 5. Mencegah
Larutan dehidrasi
rehidrasi berulang
28
Oral (oralit) 6. Untuk
5.Pertahankan mengevaluasi
Intake cairan, keefektifan
Sedikit tapi intervensi
sering
7. Untuk
6. Catat intake mendapatkan
Dan output data yang akurat

7. Ajarkan 8. Untuk
Dan mempertahanka
instruksikan n terapi cairan
keluarga
untuk mencatat
warna, volume, 9. Untuk
frekuensi dan menambah
konsistensi pengetahuan
feses

8. Ajarkan
keluarga untuk
membuat
larutan
rehidrasi oral

9. Berikan
pendidikan
kesehatan pada
keluarga
tentang
diare dan
perilaku hidup
bersih dan
sehat

Perubahan 1. Meningka- 1. Adanya 1. Kaji alergi 1. Untuk


nutrisi: tkan nutrisi peningkatan makanan mengkaji
kurang dari yang tersedia berat badan toleransi
kebutuhan untuk sesuai pemberian
tubuh memenuhi dengan makanan
berhubunga kebutuhan berat badan
n metabolism ideal 2. Observasi 2. Sebagai tolak
dengan tubuh 2. Tidak ada dan ukur pemberian
masukan 2. Memperta- tanda-tanda catat respon terapi
yang tidak hankan status malnutrisi terhadap selanjutnya
adekuat nutrisi yang 3. Tidak ada pemberian
adekuat mual, makanan
muntah 3. Mempertaha-
3. Pantau nkan intake
asupan yang adekuat
29
nutrisi (jumlah,
jenis dan pola
makan) 4. Mencegah
timbul rasa
4. Beri mual
makanan akibat perut
dalam porsi terlalu penuh
sedikit tapi
sering, suapi
jika perlu 5. Diet yang
tepat penting
5. Manajemen untuk
nutrisi: berikan mempertahanka
makanan n kadar nutrisi
bergizi dalam tubuh
tinggi protein
dan tinggi 6.
kalori. Hindari Meningkatkan
pemberian kepatuhan
pisang, beras, terhadap
apel, roti dan program
teh terapeutik
karena terlalu
tinggi
karbohidrat 7. Mengawasi
dan rendah penurunan berat
elektrolit badan

6. Tentukan 8. Untuk
kemampuan mencegah salah
keluarga untuk pemberian
memenuhi makanan pada
kebutuhan anak
nutrisi

7. Timbang
berat badan
anak
tiap hari

8. Berikan
pendidikan
kesehatan pada
keluarga
tentang
pemberian diet
pada anak yang
mengalami
diare
dan tentang

30
gizi
seimbang pada
anak

Pelaksanaan dan Evaluasi Keperawatan

Hari/Tanggal No. Implementasi Evaluasi (SOAP)


Dx Keperawatan
Senin, 1 1. Mengkaji tanda-tanda S:
22 Mei vital Ny. M mengatakan
2017 (suhu, nadi dan bahwa sehari yang
pernafasan), turgor kulit lalu anak sudah
dan membran mukosa BAB lebih dari
4x/hari dengan
2. Melakukan pengkajian konsistensi
abdomen dengan feses encer, Ny. M
inspeksi, palpasi, perkusi menduga hal
dan auskultasi) tersebut terjadi
karena An. G diberi
3. Mengobservasi makan dengan lauk
penyebab ikan arsik oleh
diare pada An. G bapaknya

4. Menginstruksikan ibu O : An. G tampak


untuk mencatat warna, lemas Suhu :
volume, frekuensi dan 37,1°C
konsistensi feses An. G Nadi : 108x/menit
Pernafasan :
5. Mengajarkan ibu 23x/menit
untuk membuat larutan Turgor kulit kembali
rehidrasi oral >2
detik
6. Menganjurkan ibu Mata cekung
untu mempertahankan Mukosa bibir kering
pemberian cairan, sedikit Peristaltik usus
tapi sering (Intake : 1300 20x/menit
ml) air putih : 500 ml Perut kembung
larutan rehidrasi : 500 ml
susu formula : 300 ml A:
Ny. M sudah paham
dan mampu
membuat larutan
rehidrasi oral secara
mandiri

P: Intervensi
dilanjutkan
1. Meningkatkan
pemberian cairan
31
Intake : 1300 ml
air putih : 500 ml
larutan rehidrasi :
500 ml
susu formula : 300
ml
2. Mencatat intake
dan output
2 1. Mengkaji ada tidaknya S : Ny. M
alergi makanan, mual mengatakan An. G
dan tidak ada alergi
muntah, serta respon makanan
lainnya saat pemberian Ny. M mengatakan
makanan pada An. G An. G tidak selera
makan
2. Memantau asupan Ny. M mengatakan
nutrisi bahwa
pada An. G (jumlah, semalam An. G ada
jenis muntah sebanyak 2
dan pola makan) kali

3. Menimbang berat O : Suhu : 37,1°C


badan Nadi : 108x/menit
An. G Pernafasan :
4. Menjelaskan pada 23x/menit Berat
keluarga tentang badan : 9,8 kg
pemberian diet pada anak Konjungtiva anemis
yang mengalami diare Badan An. G ampak
Kurus Perut
kembung
Pola makan 3x/hari
Asupan ntrisi An. G
dalam satu kali porsi
makan:
1. Bubur halus
2. Telur mata sapi
3. Kuah sop

A : Ny. M sudah
mengetahui
diet pada anak yang
mengalami diare
Sudah ada daftar
makanan yang akan
diberikan pada An.
G

P : Intervensi
dilanjutkan :
1. Mengkaji respon
32
saat pemberian
makanan
2. Menimbang berat
badan An. G
3. Memantau asupan
nutrisi An. G

Selasa, 1 1. Mengkaji tanda-tanda S : Ny. M


23 Mei vital (suhu, nadi, dan mengatakan bahwa
2017 pernafasan), turgor kulit semalam anak sudah
dan membran mukosa BAB
2. Melakukan auskultasi 4 kali dengan
abdomen untuk konsistensi
mengetahui peristaltik feses encer dan 1
usus kali
BAB di pagi ini
3. Mencatat intake
(jumlah dan jenis) dan O : Suhu : 37,6°C
output (warna, volume, Nadi : 113x/menit
frekuensi
dan konsistensi) Pernafasan :
25x/menit
4. Menganjurkan ibu Turgor kulit kembali
untuk mempertahankan <2
pemberian cairan, sedikit detik
tapi sering Mukosa bibir
lembab
5. Menjelaskan pada Peristaltik usus
keluarga tentang diare 18x/menit
dan perilaku hidup bersih Perut kembung
dan Intake : 1300 ml
sehat air putih : 500 ml
larutan rehidrasi :
500 ml
susu formula : 300
ml
Output : 500 ml
(urin) dan
±550 ml (feses)

A:
Ny. M sudah paham
penjelasan tentang
diare
dan perilaku hidup
bersih
dan sehat
Ny. M mampu
menjawab
pertanyaan materi
33
tentang
diare dan perilaku
hidup
bersih dan sehat

P: Intervensi
dilanjutkan
1. Mempertahankan
pemberian cairan
2. Mencatat intake
dan output
2 1. Mengkaji ada tidaknya S : Ny. M
mual, muntah dan respon mengatakan An. G
lainnya saat pemberian tidak ada mual
makanan pada An. G muntah lagi
Ny. M mengatakan
2. Mencatat dan An. G sudah ada
emantau asupan nutrisi selera makan
pada An. G (jumlah, sedikit
jenis dan pola
makan) O:
Suhu : 37,6°C
3. Menjelaskan kepada Nadi : 113x/menit
ibu untuk memberi Pernafasan :
makan anak sedikit tapi 25x/menit
sering Berat badan : 10 kg
Badan An. G
4. Menimbang berat tampak kurus
badan An. G Perut kembung
Pola makan 6x/hari
5. Menjelaskan pada Asupan nutrisi An.
keluarga tentang gizi G dalam satu kali
seimbang pada anak porsi
makan:
1. Bubur setengah
padat dengan
cacahan wortel dan
kentang
2. Ikan kuah kuning

A : Ny. M sudah
memahami
materi tentang gizi
pada
anak dan mampu
menjawab
pertanyaan
mengenai materi
tersebut
Ny. M sudah
34
menerapkan
arahan memberi
makanan
sedikit tapi sering

P : Intervensi
dilanjutkan :
1. Mengkaji respon
saat pemberian
makanan
2. Menimbang berat
badan An. G
3. Memantau asupan
nutrisi An. G
Rabu, 1 1. Mengkaji tanda-tanda S : Ny. M
24 Mei vital (suhu, nadi, dan mengatakan bahwa
2017 pernafasan), turgor kulit semalam anak sudah
dan membran mukosa BAB 3 kali dengan
konsistensi
2. Melakukan auskultasi feses lunak dan 1
abdomen untuk kali BAB di pagi ini
mengetahui peristaltik Ny. M mengatakan
usus anak sudah aktif
kembali dan sudah
3. Mencatat intake mau bermain
(jumlah dan jenis) dan
output (warna, volume, O : Suhu : 37,5°C
frekuensi dan Nadi : 123x/menit
konsistensi) Pernafasan :
27x/menit
4. Menganjurkan ibu Turgor kulit kembali
untuk mempertahankan <1
pemberian cairan, sedikit detik
tapi sering Mukosa bibir
lembab
Peristaltik usus
15x/menit
Perkusi abdomen :
timpani
Intake : 1300 ml
air putih : 500 ml
larutan rehidrasi :
500 ml
susu formula : 300
ml
Output : ±500 ml
(urin dan feses)

A : masalah sudah
teratasi
35
P: Intervensi
dihentikan
2 1. Mengkaji ada tidaknya S : Ny. M
mual, muntah dan respon mengatakan An. G
lainnya saat pemberian tidak ada mual
makanan pada An. G muntah lagi
Ny. M mengatakan
2. Mencatat dan An. G sudah makan
memantau asupan nutrisi bias makan seperti
pada An. G (jumlah, biasa
jenis dan pola makan)
O : Suhu : 37,5°C
3. Menjelaskan kepada Nadi : 123x/menit
ibu untuk memberi Pernafasan :
makan anak sedikit tapi 27x/menit
sering Berat badan : 10,2
kg Badan An. G
4. Menimbang berat tampak kurus
badan Pola makan 5x/hari
An. G Asupan nutrisi An.
G dalam satu kali
porsi
makan:
1. Bubur setengah
padat dengan sayur
sawi rebus
2. Ikan goreng

A : Masalah
sebagian teratasi
karena berat badan
An. G belum
mencapai berat
badan ideal yaitu
11,8 kg

P : Intervensi
dilanjutkan :
1. Mempertahankan
selera makan An.
G
2. Menaikkan berat
badan agar BB An.
G menjadi ideal

36
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Diare pada anak merupakan penyakit yang umumnya diakibatkan oleh infeksi
atau dapat disebabkan oleh faktor makanan maupun psikologis pada anak yang dapat
menyebabkan dehidrasi, syok, dan kematian. Berdasarkan pada hasil pembahasan dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a. Pengkajian yang dilakukan kepada Anak G didapatkan data subjektif yaitu: ibu
klien mengatakan bahwa anaknya BAB 4x/hari, rewel, tidak nafsu makan.
Sedangkan data objektif didapatkan hasil dari tanda-tanda vital dan pengamatan
langsung
b. Diagnosa keperawatan yang muncul setelah dilakukan pengkajian yaitu:
Kekurangan volume cairan dan Nutrisi kurang dari kebutuhan
c. Intervensi keperawatan yaitu dapat memenuhi asupan cairan dan nutrisi oral
secara adekuat sehingga pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi dapat terpenuhi
d. Implementasi yang dilakukan yaitu mengobservasi tanda-tanda vital, memantau
intake dan output, memantau masukan nutrisi, melakukan pendidikan kesehatan
pada keluarga
e. Evaluasi setelah dilaksanakan intervensi selama tiga hari, masalah keperawatan
kekurangan cairan tubuh sudah teratasi karena klien sudah mencukupi asupan
kebutuhan cairan secara adekuat , namun masalah keperawatan nutrisi kurang dari
kebutuhan teratasi sebagian karena berat badan An. G belum memenuhi berat
badan ideal

B. Saran
Pada kasus diare pada anak, sebaiknya diperhatikan dengan benar intake maupun
output serta tanda-tanda vital pada anak dan pelaksanaan yang utama yaitu redehidrasi
yang benar.
a. Bagi penulis

37
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien anak dengan gangguan cairan dan elektrolit.
a. Bagi Institusi
Memberikan kemudahan dalam pemakaian sarana dan prasarana yang merupakan
fasilitas mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui praktek
klinik.
b. Bagi para orang tua
Selalu memantau intake serta output anak, misalkan jenis asupan makan dan
minum serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Segera melakukan
pertolongan pertama yang sudah diajarkan jika anak mengalami diare kembali.

38
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan

Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.

Behrman, Kliegman, & Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Ed.15, Vol. 2. Jakarta:
EGC

Departemen Kesehatan. 2010. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI.

Guyton. 1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia 2. Jakarta: Salemba Medika.

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Snyder, S. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC.

Mansjoer, A., Suprohalita, W. I. Wardhani, dan W. Setiowulan. 2003. Kapita Selekta


Kedokteran Edisi Ke-3 Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

Maslow, A. 2004. Psikologi Sains. Terjemahan dari Psychology Science. Jakarta:


Taraju. Nanda International. 2012. Diagnosa Keperawatan : Defenisi dan
Klasifikasi 2012-2014 Edisi 10. Jakarta: EGC

Perry. A. G., Peterson, V. R., & Potter, P. A. 2005. Buku Saku Keterampilan dan
Prosedur Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Potter, P. A. dan A. G. Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,


Proses dan Praktik. Jakarta: EGC.

Rosdahl, Bunker C., dan Kowalski, T., Marry. 2014. Buku Ajar Keperawatan Dasar
Edisi10 Volume 1. Jakarta: EGC.

Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal dan


Hepatobilizer. Jakarta: Salemba Medika.

Sodikin. 2011. Keperawatan Anak: Gangguan Pencernaan. Jakarta: EGC.

Tarwonto & Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.

39
Hari/ Waktu No. Implementasi Evaluasi
Tanggal Dx Keperawatan (SOAP)
Senin, 09.00 1 7. Mengkaji tanda-tanda S:
22 Mei 10.00 vital (suhu, nadi dan Ny. M mengatakan bahwa
2017 pernafasan), turgor sehari yang lalu anak
kulit dan membran sudah BAB lebih dari
mukosa 4x/hari dengan konsistensi
feses encer, Ny. M
8. Melakukan pengkajian menduga hal tersebut
abdomen dengan terjadi karena An. G diberi
inspeksi, palpasi, perkusi makan dengan lauk ikan
dan auskultasi) arsik oleh bapaknya

9. Mengobservasi O:
penyebab diare pada An. G tampak lemas
An. G Suhu : 37,1°C
Nadi : 108x/menit
10. Menginstruksikan ibu Pernafasan : 23x/menit
untuk mencatat warna, Turgor kulit kembali > 2
volume, frekuensi dan detik
konsistensi feses An. G Mata cekung
Mukosa bibir kering
11. Mengajarkan ibu untuk Peristaltik usus 20x/menit
membuat larutan Perut kembung
rehidrasi oral
A:
12. Menganjurkan ibu Ny. M sudah paham dan
untuk mempertahankan mampu membuat larutan
pemberian cairan, rehidrasi oral secara
sedikit tapi sering mandiri
(Intake : 1300 ml) P: Intervensi dilanjutkan
air putih : 500 ml
larutan rehidrasi : 500 3. Meningkatkan
ml pemberian cairan
susu formula : 300 ml Intake : 1300 ml air putih :
500 ml
larutan rehidrasi : 500 ml
susu formula : 300
ml

4. Mencatat intake dan


output
10.00 2 5. Mengkaji ada tidaknya S:
11.15 alergi makanan, mual Ny. M mengatakan An. G
dan muntah, serta tidak ada alergi makanan
respon lainnya saat Ny. M mengatakan An. G

40
tidak selera makan
pemberian makanan Ny. M mengatakan bahwa
pada An. G semalam An. G ada
6. Memantau asupan muntah sebanyak 2 kali
nutrisi pada An. G
(jumlah, jenis dan pola O:
makan) Suhu : 37,1°C
7. Menimbang berat Nadi : 108x/menit
badan An. G Pernafasan : 23x/menit
8. Menjelaskan pada Berat badan : 9,8 kg
keluarga tentang Konjungtiva anemis
pemberian diet pada Badan An. G tampak
anak yang mengalami kurus
diare Perut kembung
Pola makan 3x/hari
Asupan nutrisi An. G
dalam satu kali porsi
makan:
4. Bubur halus
5. Telur mata sapi
6. Kuah sop

A:
Ny. M sudah mengetahui
diet pada anak yang
mengalami diare
Sudah ada daftar makanan
yang akan diberikan pada
An. G

P : Intervensi dilanjutkan :
4. Mengkaji respon
saat pemberian
makanan
5. Menimbang berat
badan An. G
6. Memantau asupan
nutrisi An. G
Selasa, 10.00 1 6. Mengkaji tanda-tanda S:
23 Mei 11.00 vital (suhu, nadi, dan Ny. M mengatakan bahwa
2017 pernafasan), turgor semalam anak sudah BAB
kulit dan membran 4 kali dengan konsistensi
mukosa feses encer dan 1 kali
BAB di pagi ini
7. Melakukan auskultasi
abdomen untuk O:
mengetahui peristaltik Suhu : 37,6°C
usus Nadi : 113x/menit

8. Mencatat intake Pernafasan : 25x/menit


41
(jumlah dan jenis) dan Turgor kulit kembali < 2
output (warna, volume, Detik Mukosa bibir
frekuensi dan lembab Peristaltik usus
konsistensi) 18x/menit
Perut kembung
9. Menganjurkan ibu Intake : 1300 ml
untuk mempertahankan air putih : 500 ml
pemberian cairan, larutan rehidrasi : 500 ml
sedikit tapi sering susu formula : 300 ml
Output : 500 ml (urin) dan
10. Menjelaskan pada ±550 ml (feses)
keluarga tentang diare
dan perilaku hidup A:
bersih dan sehat Ny. M sudah paham
penjelasan tentang diare
dan perilaku hidup bersih
dan sehat
Ny. M mampu menjawab
pertanyaan materi tentang
diare dan perilaku hidup
bersih dan sehat

P: Intervensi dilanjutkan
3. Mempertahankan
pemberian cairan
4. Mencatat intake
dan output
13.00 2 6. Mengkaji ada tidaknya S:
14.00 mual, muntah dan respon Ny. M mengatakan An. G
lainnya saat tidak ada mual muntah lagi
pemberian makanan Ny. M mengatakan An. G
pada An. G sudah ada selera makan
sedikit
7. Mencatat dan
memantau asupan O:
nutrisi pada An. G Suhu : 37,6°C
(jumlah, jenis dan pola Nadi : 113x/menit
makan) Pernafasan : 25x/menit
8. Menjelaskan kepada Berat badan : 10 kg
ibu untuk memberi Badan An. G tampak
makan anak sedikit tapi kurus
sering Perut kembung
Pola makan 6x/hari
9. Menimbang berat Asupan nutrisi An. G
badan An. G dalam satu kali porsi
makan:
10. Menjelaskan pada 3. Bubur setengah padat
keluarga tentang gizi dengan
seimbang pada anak cacahan wortel dan
kentang
42
4. Ikan kuah kuning

A:
Ny. M sudah memahami
materi tentang gizi pada
anak dan mampu
menjawab pertanyaan
mengenai materi tersebut
Ny. M sudah menerapkan
arahan memberi makanan
sedikit tapi sering

P : Intervensi dilanjutkan :
4. Mengkaji respon
saat pemberian
makanan
5. Menimbang berat
badan An. G
6. Memantau asupan
nutrisi An. G
Rabu, 10.00 1 5. Mengkaji tanda-tanda S:
24 Mei – vital (suhu, nadi, dan Ny. M mengatakan bahwa
2017 11.00 pernafasan), turgor semalam anak sudah BAB
kulit dan membran 3 kali dengan konsistensi
mukosa feses lunak dan 1 kali
BAB di pagi ini
6. Melakukan auskultasi Ny. M mengatakan anak
abdomen untuk sudah aktif kembali dan
mengetahui peristaltik sudah mau bermain
usus
O:
7. Mencatat intake Suhu : 37,5°C
(jumlah dan jenis) dan Nadi : 123x/menit
output (warna, volume, Pernafasan : 27x/menit
frekuensi dan Turgor kulit kembali < 1
konsistensi) detik
Mukosa bibir lembab
8. Menganjurkan ibu Peristaltik usus 15x/menit
untuk mempertahankan Perkusi abdomen : timpani
pemberian cairan, Intake : 1300 ml
sedikit tapi sering air putih : 500 ml
larutan rehidrasi : 500 ml
susu formula : 300 ml
Output : ±500 ml (urin dan
feses)
A : masalah sudah teratasi

P: Intervensi dihentikan
13.30 – 2 5. Mengkaji ada tidaknya S:
14.15 mual, muntah dan respon Ny. M mengatakan An. G
43
lainnya saat tidak ada mual muntah lagi
pemberian makanan Ny. M mengatakan An. G
pada An. G sudah makan bias makan
seperti biasa
6. Mencatat dan
memantau asupan O:
nutrisi pada An. G Suhu : 37,5°C
(jumlah, jenis dan pola Nadi : 123x/menit
makan) Pernafasan : 27x/menit
Berat badan : 10,2 kg
7. Menjelaskan kepada Badan An. G tampak
ibu untuk memberi kurus
makan anak sedikit tapi Pola makan 5x/hari
sering Asupan nutrisi An. G
dalam satu kali porsi
8. Menimbang berat makan:
badan An. G 3. Bubur setengah
padat dengan sayur
sawi rebus
4. Ikan goreng
A:
Masalah sebagian teratasi
karena berat badan An. G
belum mencapai berat
badan ideal yaitu 11,8 kg

P : Intervensi dilanjutkan :
3. Mempertahankan
selera makan An. G
4. Menaikkan berat
badan agar BB An.
G menjadi ideal

44