Anda di halaman 1dari 16

Nama : Rahmita Ira

NIM : 2012020010
Prodi : Hukum Ekonomi Syariah
Unit/Semester : 1/3
Mata Kuliah : Fiqh Muamalah
Dosen : Dr. Early Ridho Kismawadi, S.E.I, MA.

1. Fatwa DSN-MUI No: 02/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Tabungan


a. Klasifikasi:
Tabungan ada dua jenis: 1. Tabungan yang tidak dibenarkan secara
syari’ah, yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. 2.
Tabungan yang dibenarkan secara syari’ah, yaitu tabungan yang
berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.
b. Pengertian
Dalam Bahasa Arab Mudharabah berasal dari kata dharaba-yadhribu-
dharaban yang berarti memukul atau berjalan ini lebih tepatnya yaitu
proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha.1
Mudharabah atau qiradh2 termasuk dalam kategori syirkah3 atau
kerjasama dengan cara sistem bagi hasil. Secara istilah, Mudharabah
adalah akad kerja sama antara shahibul mal (pemilik modal) dengan
mudharib (yang mempunyai keahlian atau keterampilan) untuk mengelola
suatu usaha yang produktif dan halal. Hasil dari penggunaan dana tersebut
dibagi bersama berdasarkan nisbah yang disepakati, jika terjadi kerugian
ditanggung shahibul mal.4 Mudharabah dalam perspektif fiqih merupakan
kontrak yang melibatkan antara dua kelompok, yaitu pemilik modal
1 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema
Insani, 2001), h. 95.
2 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis
dan Praktis, Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 71
3 Syirkah adalah kerja sama dengan prinsip bagi hasil, produk pembiayaan syariah
yang didasarkan atas prinsip bagi hasil yaitu pembiayaan musyarakah dan mudharabah.
Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: IIIT Indonesia, 2003), h.
90.
4 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan
Praktis..., h. 72.
(investor) yang mempercayakan modalnya kepada pengelola (mudharib)
untuk digunakan dalam aktifitas perdagangan. Sedangkan keuntungan
dagang itu dibagi menurut kesepakatan bersama.5
Contoh dari akad mudharabah yaitu seperti, shahibul maal yang
bermitra dengan mudharib untuk usaha percetakan selama 9 bulan.
Shahibul maal memberikan uang untuk modal usaha sebesar Rp
20.000.000. Kedua belah pihak sepakat dengan nisbah bagi hasil 40 :
70 (40% keuntungan untuk shahibul maal). Kemudian setelah
mudharib menjalankan usaha selama 9 bulan maka modal usaha telah
berkembang menjadi Rp 35.000.000, sehingga diperoleh keuntungan
sebesar Rp 15.000.000. Maka shahibul maal berhak mendapatkan
keuntungan sebesar Rp 3.000.000 (40% x Rp 6.000.000) dan sisanya
sebesar Rp 9.000.000 menjadi hak mudharib.
“Wadi’ah diambil dari akar kata lafaz wad’ al-sya’i yang bermakna
menitipkan sesuatu dengan makna meninggalkannya.”Secara bahasa,
wadi’ah berarti”sesuatu yang diletakkan pada selain pemiliknya agar
dipelihara dan dijaga.”Wadi’ah merupakan istilah yang berlawanan antara
memberikan harta untuk dipelihara dengan penerimaan yang merupakan
mashdar dari awda’a yang berarti titipan dan membebaskan atas barang
yang”dititipkan.6”Mazhab hanafi memberikan definisi bahwa wadi’ah
yaitu“mengikut sertakan orang lain dalam memelihara harta, baik dengan

ungkapan yang jelas, melalui tindakan, maupun”melalui isyarat.7 Menurut
ulama Syafi’i dan Maliki wadi’ah merupakan gambaran penjagaan
kepemilikan barang pribadi yang penting dengan cara tertentu.8
Contoh dari akad wadiah yaitu Save Deposit Box. Nasabah menitipkan
barang kepada Bank Syariah. Sejak awal transaksi disepakati adanya

5 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, ( Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003), h. 169.
6“Yadi Janwari, Fikih Lembaga Keuangan Syariah, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005), h. 34.”

7“Sutan Remi Sjahdeni, Perbankan Syariah: Produk dan Aspek Hukumnya, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2014), h. 351.”
8“Ellys T, Daftar Kontributor Penelaah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 319.”
jual beli manfaat barang (sewa penyimpanan) dan atau jual beli manfaat
perbuatan (jasa penjagaan atau pemeliharaan) barang titipan tersebut,
sehingga Bank Syariah boleh menggunakan fee kepada nasabah.

DIAGRAM AKAD MUDHARABAH

Perjanjian Bagi Hasil

Mudharib Bank Syariah

Keahlian Modal 100%


Keterampilan
Proyek Usaha

Nisbah x%
Nisbah y%
Pembagian Keuntungan

Modal

DIAGRAM AKAD WADIAH

Titip barang
BANK Nasabah (penitip /
(Penyimpanan / muwadi’)
Mustawda’ atau
Penerima
Biaya penitipan
titipan/wadi’)
2. Fatwa DSN-MUI No: 03/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito
a. Klasifikasi:
Deposito ada dua jenis: 1. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah,
yaitu deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. 2. Deposito yang
dibenarkan, yaitu deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah.
b. Pengertian:
Secara istilah, Mudharabah adalah akad kerja sama antara shahibul mal
(pemilik modal) dengan mudharib (yang mempunyai keahlian atau
keterampilan) untuk mengelola suatu usaha yang produktif dan halal.
Hasil dari penggunaan dana tersebut dibagi bersama berdasarkan nisbah
yang disepakati, jika terjadi kerugian ditanggung shahibul mal.9
Mudharabah dalam perspektif fiqih merupakan kontrak yang melibatkan
antara dua kelompok, yaitu pemilik modal (investor) yang
mempercayakan modalnya kepada pengelola (mudharib) untuk digunakan
dalam aktifitas perdagangan. Sedangkan keuntungan dagang itu dibagi
menurut kesepakatan bersama.10

DIAGRAM DEPOSITE PRINSIP AKAD MUDHARABAH

BANK NASABAH

MODAL 100% SKILL

PROYEK

KEUNTUNGAN

9 Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan
Praktis..., h. 72.
10 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, ( Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003), h. 169.
3. Fatwa DSN-MUI No: 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Murabahah
a. Klasifikasi:
Masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank
berdasarkan pada prinsip jual beli. Untuk itu maka guna melangsungkan
dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan, bank syari’ah
perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya, yaitu
menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli
dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba.
b. Pengertian
Jual beli (‫ )البيع‬secara bahasa merupakan masdar dari kata ‫بعت‬ diucapkan
‫ب???اء‬-‫ي???بيع‬ bermakna memiliki dan membeli. Kata aslinya keluar dari
kata ‫اع‬EEEE‫الب‬ karena masing-masing dari dua orang yang melakukan
akad meneruskannya untukmengambil dan memberikan sesuatu. Orang
yang melakukan penjualan dan pembelian disebut ‫ن‬ ‫البيعا‬. Menurut syara’
Pengertian jual beli (‫ )البيع‬secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan
harta untuk memiliki dan memberi kepemilikan.11 Menurut Muhammad
Syafi’i Antonio, pengertian Bai’al Murabahah adalah jual beli barang
pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati.12
Sedangkan menurut Imam Nawawi: “Jual beli adalah pertukaran harta
dengan harta yang lain untuk dimiliki”. Dan Ibnu Qudamah,
mendefinisikan jual beli sebagai pertukaran harta dengan harta yang lain
untuk dimilikkan dan dimiliki.13 Dari definisi murabahah atau jual beli
tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa inti jual beli tersebut adalah,
untuk penjual mendapatkan manfaat keuntungan dan bagi pembeli
mendapat manfaat dari benda yang dibeli.

11  Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalat, 2010

12 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, Cet. I (Jakarta :


Tazkia Institute, 1999), hal. 145.
13 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu, yang diterjemahkan oleh Tim
Counterpart Bank Muamalat, “Fiqh Muamalah Perbankan Syari’ah”, (Jakarta : PT. Bank
Muamalah Perbankan Syari’ah”, (Jakarta : PT.Bank Muamalah Indonesia, 1999), hal, 2 s/d 13
Adapun contoh dari akad murabahah seperti seorang pengusaha kecil-
kecilan yang meminta bantuan kepada Bank Syariah untuk membelikan
sebuah komputer. Bank kemudian memberitahukan pengusaha tersebut,
bahwa komputer yang ia inginkan tersedia dengan harga Rp 6.000.000,00
Kemudian pihak Bank akan menjual komputer tersebut sesuai harga
aslinya dan menjelaskan bahwa Bank akan mengambil margin keuntungan
sebesar Rp 200.000,00. Jika pengusaha tersebut menyetujui, maka ia dapat
membeli laptop tersebut dengan harga Rp6.200.000,00 secara tunai
maupun kredit dan dilakukan dalam ijab kabul.

DIAGRAM AKAD MURABAHAH

Negoisasi

Akad Jual Beli

BANK 6. Bayar NASABAH

5. Terima
Beli Barang
Barang dan
SUPPLIER PENJUAL Dokumen

4. Kirim
4. Fatwa DSN-MUI No : 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam
a. Klasifikasi:
Jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih
dahulu dengan syarat-syarat tertentu, disebut dengan salam, dan dewasa
ini telah merambah ke perbankan. Fatwa tentang salam sangat diperlukan
agar penerapannya sesuai dengan prinsip syari’ah dan dijadikan pedoman
oleh lembaga keuangan syariah.
b. Pengertian:
Salam secara terminologis adalah menjual suatu barang yang
penyerahannya ditunda atau menjual suatu barang yang cirri-cirinya jelas
dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan barangnya diserahkan
kemudian hari. Menurut Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah mendefinisikan
salam adalah akad yang disepakati untuk membuat sesuatu dengan ciri-ciri
tertentu dengan membayar harganya lebih dahulu, sedangkan barangnya
diserahkan kepada pembeli kemudian hari. Sedangkan Ulama Malikiyah
mendefinisikan salam ialah jual beli yang modalnya diayar dahulu,
sedangkan barangnya diserahkan sesuai dengan waktu yang telah
disepakati. 14
Contoh dari akad salam yaitu seorang ayah membeli laptop dengan
kualitas yang tinggi sebesar Rp 8.000.000 melalui toko online, dimana si
ayah memesan kepada owner online shop, setelah memesan sebuah laptop,
ia langsung membayar uangnya terlebih dahulu kepada owner tersebut,
sedangkan laptopnya akan diserahkan kepada si ayah pada waktu yang
telah disepakati diawal oleh kedua belah pihak.

14 Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), h. 147.
DIAGRAM AKAD SALAM

Bank

Pemesanan barang Bayar Negosiasi pesanan


nasabah dan bayar dengan kriteria
tunai

Kirim dokumen
Produsen penjual nasabah
Kirim pesanan

5. Fatwa DSN-MUI No: 06/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Istishna’


a. Klasifikasi:
Kebutuhan masyarakat untuk memperoleh sesuatu, sering memerlukan
pihak lain untuk membuatkannya, dan hal seperti itu dapat dilakukan
melalui jual beli istishna’ , yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan
pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang
disepakati.
b. Pengertian
Istishna’ secara etimologis adalah meminta membuat sesuatu. Yakni
meminta kepada seorang pembuat untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan
secara terminologis istishna’ adalah transaksi terhadap barang dalam
tanggungan yang disyaratkan untuk mengerjakannya. Objek transaksinya
adalah barang yang harus dikerjakan dan pekerjaan pembuatan barang
tersebut. 15
Contoh dari akad istishna’ yaitu seperti pembeli memesan barang, pembeli
melakukan akad salam kepada penjual sembari melunasi pembayaran atau

15 Gita Dana Pranata, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta: Salemba Empat, 2013),
h. 112.
DP, setelah pembayaran dilunasi atau di-DP, barulah penjual mengirim
barang tersebut.

DIAGRAM AKAD ISTISHNA’

Pesan
Pembeli/Nasabah Bank (penjual)
Konsumen

Pesan/beli
Kirim

Barang Produsen/pembuat
Kirim

6. Fatwa DSN-MUI No: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan


Musyarakah
a. Klasifikasi:
Kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha
terkadang memerlukan dana dari pihak lain yang salah satunya bisa
diwujudkn melalui pembiayaan musyarakah, yaitu pembiayaan
berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana
dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama
sesuai dengan kesepakatan.
b. Pengertian:
Istilah lain dari Musyarakah adalah Syarikah atau Syirkah. Musyarakah
menurut bahasa berarti “al-ikhtilath” yang artinya campur atau
percampuran. Maksud dari percampuran yakni seseorang mencampurkan
hartanya dengan harta orang lain sehingga antara bagian yang satu dengan
lainnya sulit untuk dibedakan. 16 Secara etimologis, Musyarakah adalah
penggabungan, percampuran atau serikat. Musyarakah berarti kerjasama
kemitraan yang dalam bahasa inggris disebut partnership.17 Secara
terminologis dapat diartikan bahwa Musyarakah adalah kerjasama antara
dua orang atau lebih dalam suatu usaha tertentu dimana para pihak
masing-masing memberikan kontribusi dana secara bersama-sama dalam
keuntungan dan kerugian ditentukan sesuai perjanjian yang telah
disepakati.
Contoh dari akad musyarakah seperti pengusaha ternak lele, mampu
memghasilkan 20 kg lele per harinya. Dia berencana menaikan kapasitas
produksinya hingga mencapai 100 kg/hari. Namun keuntungan yang
diperolehnya tidak mencukupi untuk membiayai keseluruhan kebutuhan
penambahan luas kolam lele, pembelian bibit dan pakan lele. Peternak lele
kemudian menawarkan kerjasama usaha kepada investor, dengan
persyaratan modal dari investor 60% dan peternak sisanya. Porsi
keuntungan dapat disepakati, apakah dari keseluruhan kapasitas produksi
100 kg/hari, atau menggunakan hasil penambahan kapasitas produksi
sebesar 50kg/hari.

16 Rahmat Syafei, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 183.


17 Mardani, Hukum Bisnis Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), Cet. Ke-1, h.
142.
DIAGRAM AKAD MUSYARAKAH

Nasabah Bank

Proyek

Usaha

Keuntungan

Bagi hasil keuntungan sesuai


porsi kontribusi modal
(nisbah)

7. Fatwa DSN-MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Ijarah


a. Klasifikasi:
Kebutuhan masyarakat untuk memperoleh manfaat suatu barang sering
memerlukan pihak lain melalui akad ijarah, yaitu akad pemindahan hak
guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan
pembayaran sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
barang. Kebutuhan masyarakat untuk memperoleh jasa pihak lain guna
melakukan pekerjaan tertentu melalui akad ijarah dengan pembayaran
upah (ujrah/fee).
b. Pengertian:
Lafal al-ijarah dalam bahasa arab berarti upah, sewa, jasa atau imbalan.
Al-ijarah merupakan salah satu bentuk muamalah dalam memenuhi
keperluan hidup manusia, seperti sewa-menyewa, kontrak atau menjual
jasa perhotelan dan lain-lain.18 Menurut Muhammad Syafi’i Antonio,
ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui
sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu
sendiri.19
Adapun contoh dari akad ijarah yaitu seperti seseorang menjaminkan
sebuah mobilnya ke Bank untuk mendapatkan pinjaman. Hak guna mobil
tersebut berpindah ke Bank, namun tidak atas kepemilikannya. Setelah
nasabag melunaskan pinjamannya, maka hak guna motor tersebut kembali
ke nasabah.

DIAGRAM AKAD IJARAH

BANK

Beli obyek sewa Pesan obyek


sewa
Sewa beli

PRODUSEN OBYEK SEWA NASABAH

8. Fatwa DSN-MUI No: 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah


a. Klasifikasi:
Ketentuan tentang Wakalah:
Pertama, Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak
untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad)

18 Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), h. 228.
19 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2001), h. 177.
Kedua, Wakalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh
dibatalkan secara sepihak
b. Pengertian:
Wakalah secara etimologis adalah penjagaan, jaminan, tanggungan,
pemberian kuasa. Dan juga akad wakalah bisa diartikan pelimpahan
kekuasaan oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain
sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan (dalam hal ini pihak
kedua) hanya melaksanakan sesuatu sebatas kuasa atau wewenang yang
diberikan oleh pihak pertama, namun apabila kuasa itu telah dilaksanakan
sesuai yang disyaratkan, maka semua resiko dan tanggung jawab atas
dilaksanakan perintah tersebut sepenuhnya menjadi pihak pertama atau
pemberi kuasa.20
Contoh akad wakalah misalnya seperti Novia akan mengajukan
pembiayaan renovasi sebuah toko, maka ketika telah disetujui, maka Bank
(Ba’i) akan memberikan dana yang kemudian dengan sebuah surat kuasa
dari ba’i Novia diberi amanah untuk membeli bahan-bahan bangunan yang
dibutuhkannya dengan syarat dalam 30 hari Novia telah membeli bahan-
bahan bangunan yang ditunjukkan dengan bukti pembelian berupa nota
atau faktur.

20 Abdul Wahab Ibrahim Abu Sulaiman, Banking Cards Syariah Kartu Kredit dan Debit
Dalam Perspektif Fiqh, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006), h. 164.
SKEMA AKAD WAKALAH

Akad Wakalah

Pemberi kuasa Penerima kuasa

Pelaksanaan
wakalah

Obyek yang
dikuasakan

9. Fatwa DSN-MUI No: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah


a. Klasifikasi:
Ketentuan Umum Kafalah:
Pertama, Pernyataan Ijab dan Qabul harus dinyatakan oleh para pihak
untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad)
Kedua, Dalam akad Kafalah, penjamin dapat menerima imbalan (fee)
sepanjang tidak memberatkan.
Ketiga, Kafalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh
dibatalkan secara sepihak.
b. Pengertian:
Al-Kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan), hamalah (beban)
dan za’mah (tanggungan). Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan
oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga yang memenuhi kewajiban
pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain kafalah juga
berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan
berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.21
Contoh dari akad Al-Kafalah misalnya “Rahmita meminjam uang ke bank
Aceh, tetapi Rahmita tidak memiliki assets untuk sebagai penjamin,
akhirnya pak Rahmat menjamin Rahmita, agar pihak Bank Aceh merasa
yakin, karena Pak Rahmat tanggung jawab. Dengan akad Pak Rahmat
yang menjamin Rahmita.

DIAGRAM AKAD AL-KAFALAH

DITANGGUNG

(PEMBERI KERJA)
JAMINAN KEWAJIBAN

AGUNAN
PENANGGUNG TERTANGGUNG

(BANK SYARIAH) (NASABAH)

10. Fatwa DSN-MUI No: 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah


a. Klasifikasi:
Bahwa terkadang seseorang tidak dapat membayar utang-utangnya secara
langsung karena itu, ia boleh memindahkan penagihannya kepada pihak
lain yang dalam hukum Islam disebut dengan hawalah.
b. Pengertian

21 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,


2008), h. 247.
Akad hawalah adalah orang yang berhutang dialihkan hutangnya ke orang
lain yang wajib menanggungnya. Secara istilah, akad hawalah merupakan
pemindahan hutang dari yang berhutang dialihkan ke tanggungan yang
berkewajiban membayar.22
Contoh dari skema akad hiwalahyakni seerti seorang individu P berpiutang
kepada pihak Q sejumlah Rp 2.500.000. Sementara pihak Q berpiutang
kepada pihak R sebesar Rp 2.500.000. Kemudian pihak Q mengalihkan
haknya untk menuntut piutangnya yang ada di pihak R kepada individu P
sebagai ganti pembayaran utang pihak Q kepada P.

DIAGRAM AKAD WAKALAH

BANK
4. INVOIC (Muhal Alaih) 1. BAYAR
E

2. BAYAR 3. TAGIH NASABAH


SUPPLIER

(MuhIL) (Muhal)
5. Suplai Barang

22 Nur Kasanah dan Mohammad Ghozali, Analisis Hukum Terhadap Praktik Produk
Jasa Perbankan Syariah (Fee Based Service), (IAIN Ponorogo: Jurnal Diklat Keagamaan, Vol. 12
No. 2 April-Juni 2018), h. 100.