Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PRAKTIKUM FARMASI RUMAH SAKIT

PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI

Disusun oleh :

Berkah olya safitri DF18020


Elsita Claudya Mentari DF18015
Evi Rasuanti Aprillia DF18022
Prilla Rahmatika DF18018
Putri Noor Julia Dita DF18017
Ryan Saputra DF18007

D-III FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BORNEO LESTARI

BANJARBARU

2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, obat adalah bahan
atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Selain itu menurut Katzung (1997),
obat dalam pengertian umum adalah suatu substansi yang melaui efek kimianya
membawa perubahan dalam fungsi biologi.
Pada umumnya, molekul obat berinteraksi dengan molekul khusus dalam
sistem biologik, yang berperan sebagai pengatur, disebut molekul reseptor. Untuk
berinteraksi secara kimia dengan reseptornya, molekul obat harus mempunyai
ukuran, muatan listrik, bentuk, dan komposisi atom yang sesuai. Selanjutnya, obat
sering diberikan pada suatu tempat yang jauh dari tempatnya bekerja , misalnya,
sebuah pil ditelan peroral untuk menyembuhkan sakit kepala. Karena itu obat
yang diperlukan harus mempunyai sifat-sifat khusus agar dapat dibawa dari
tempat pemberian ke tempat bekerja. Akhirnya, obat yang baik perlu
dinonaktifkan atau dikeluarkan dari tubuh dengan masa waktu tertentu sehingga
kerjanya terukur dalam jangka yang tepat (Katzung, 1997).
Keberadaan obat merupakan kondisi pokok yang harus terjaga
ketersediaannya karena ketersediaan obat merupakan salah satu hal yang
mempengaruhi pelayanan kesehatan, dan dengan persepsi masyarakat tentang
hasil dari pelayanan kesehatan adalah menerima obat setelah berkunjung ke
sarana kesehatan. Bila diumpamakan, tenaga medis adalah tentara yang sedang
berperang di medan tempur, maka obat adalah amunisi yang mutlak harus
dimiliki untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Oleh karena vitalnya obat dalam
pelayanan kesehatan, maka pengelolaan yang benar, efektif dan efisien sangat
diperlukan oleh petugas di Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota (Depkes RI, 2007).
Manajemen pengelolaan obat merupakan suatu siklus kegiatan yang
dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pengendalian, pencatatan dan pelaporan, penghapusan, sampai monitoring dan
evaluasi yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Dalam siklus tersebut,
perencanaan merupakan tahap awal dan sebagai tahap yang penting dan
menentukan, karena perencanaan kebutuhan obat akan mempengaruhi pengadaan,
pendistribusian dan penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan. Apabila lemah
dalam perencanaan maka akan mengakibatkan kekacauan dalam siklus
manajemen secara keseluruhan, yang menimbulkan dampak seperti pemborosan,
tidak tersedianya obat, tidak tersalurnya obat, obat rusak, dan lain sebagainya
(Kemenkes RI, 2010).

1.2 Rumusan Masalah


Makalah ini membahas tentang pengimpanan dan distribusi obat, rumusan
masalah dalam makalah ini adalah
1. Bagaimana cara penyimpanan obat – obatan yang membutuhkan perhatian
khusus seperti obat higt alert, obat LASA
2. Bagaimana cara penyimpanan obat seperti sitostatika, tablet, sirup,
suppositoria, injeksi, dan sebagainya
3. Bagaimana konsep distribusi obat agar obat yang di distribusikan dari depo
dapat terdistribusi dengan baik

1.3 Tujuan Makalah


Makalah ini memiliki tujuan yaitu
1. mengetahui tentang cara penyimpanan obat – obatan yang membutuhkan
perhatian khusus seperti obat higt alert, obat LASA
2. Mengetahui cara penyimpanan obat seperti sitostatika, tablet, sirup,
suppositoria, injeksi, dan sebagainya
3. mengetahui konsep distribusi obat agar obat yang di distribusikan dari depo
dapat terdistribusi dengan baik
1.4 Manfaat Makalah
Makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut
1. Bagi Penulis
Manfaat yang di dapatkan bagi penulis di antaranya adalah dapat menambah
wawasan dan pengetahuan dan menyelesaikan tugas akhir dari mata kuliah
Prak Farmasi Rumah Sakit
2. Bagi Pembaca
Menambah ilmu pengetahuan tentang distribusi obat dalam rumah sakit
BAB II
PENYIMPANAN DAN PENDISTRIBUSIAN OBAT
2.1 Penyimpanan obat
Proses penyimpanan merupakan proses yang sangat penting pada
kegiatan manajemen obat. Penyimpanan merupakan suatu kegiatan pengamanan
terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin (Soerjono et al.,
2004). Proses penyimpanan yang tidak sesuai, maka akan terjadi kerugian seperti
mutu sediaan farmasi tidak dapat terpelihara (tidak dapat mempertahankan mutu
obat dari kerusakan, rusaknya obat sebelum masa kadaluwarsanya tiba)
(Palupiningtyas, 2014), potensi terjadinya penggunaan yang tidak bertanggung
jawab, tidak terjaganya ketersediaan dan mempersulit pengawasan terhadap
inventoris (Aditama, 2003). Indikator yang dapat digunakan untuk menganalisis
proses penyimpanan adalah jumlah obat kadaluwarsa, stok obat mati dan nilai
stok akhir obat (Satibi, 2014).
Metode penyimpanan obat yaitu :
1. First In First Out (FIFO) adalah penyimpanan obat berdasarkan obat yang
datang lebih dulu dan dikeluarkan lebih dulu.
2. First Expired First Out (FEFO) adalah penyimpanan obat berdasarkan obat
yang memiliki tanggal kadaluarsa lebih cepat maka dikeluarkan lebih dulu.
Penyimpanan dengan cara FIFO dilakukan dengan menempatkan obat pada
rak paling depan, artinya jika dalam 1 rak tersebut terdapat 5 obat dengan nama
dan sediaan yang sama maka obat yang datang lebih dahuu ditempatkan paling
terluar dari susunan dan obat yang baru datang dari pembelian (distributor/pbf)
ditempatkan pada bagian terdalam susunan tersebut atau dengan kata lain obat
yang lebih dahulu datang dikeluarkan duluan. Namun cari FIFO saja tidak cukup
mengingat kita ketahui obat memiliki tanggal kadaluarsa / expired date (ED) yang
mana tanggal ED ini berbeda-beda setiap kemasan obat tergantung tanggal
manufacturing (MD) atau tanggal produksi. Untuk itu perlu adanya pemahaman
mengenai FEFO sehingga kita dapat menentukan apakah obat yang pertama
masuk ke apotek memiliki tanggal ED yang juga lebih cepat atau bahkan
sebaliknya bisa saja obat yang baru saja kita beli dari Pbf justru memiliki tanggal
ED yang jauh lebih dekat/cepat daripada obat yang sama yang sudah kita beli
sebelumnya. Sehingga, FEFO memiliki peran vital dimana obat yang memiliki
tanggal ED lebih cepat harus kita tempatkan disusunan paling depan supaya
paling cepat bisa dikeluarkan dan dapat mengantisipasi adanya stok rusak akibat
ED. Kasus dimana obat yang datang belakangan/terakhir justru memiliki tanggal
ED yang lebih cepat biasa menggunakan metode LIFO. Sehingga kombinasi
FIFO, FEFO dan LIFO patut dipahami dengan benar oleh farmasis yang
bertanggung jawab dalam pelayanan kefarmasian di apotek konvensional, RS,
puskesmas dan pusat pelayanan kesehatan lainnya.
Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan Obat
emergensi untuk kondisi kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus mudah
diakses dan terhindar dari penyalahgunaan dan pencurian.
Pengelolaan Obat emergensi harus menjamin:
 Jumlah dan jenis Obat sesuai dengan daftar Obat emergensi yang telah
ditetapkan.
 Tidak boleh bercampur dengan persediaan Obat untuk kebutuhan lain.
 Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti.
 Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa dan.
 Dilarang untuk dipinjam untuk kebutuhan lain.
Ada beberapa cara penempatan obat yang dapat dilakukan yaitu:
 Jenisnya.
 Abjad.
 Pabrik.
 Farmakoterapi.

2.2 Pendistribusian Obat


Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu.
Rumah Sakit harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin
terlaksananya pengawasan dan pengendalian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai di unit pelayanan.(Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016).
Distribusi merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di
rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap
dan rawat jalan. Distribusi merupakan proses yang dimulai dari pemahaman
permintaan, pengendalian stok, pengelolaan penyimpanan serta penyaluran ke
depo obat. Proses penyimpanan didahului dengan penerimaan obat dan barang
farmasi di gudang obat. Obat yang sudah diterima dicatat dalam buku
penerimaan dan kartu stok.(Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 72 Tahun 2016).
Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara:
1. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)
a. Pendistribusian sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan untuk
persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh Instalasi Farmasi.
b. Sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang disimpan di ruang rawat
harus dalam jenis dan jumlah yang sangat dibutuhkan.
c. Dalam kondisi sementara di mana tidak ada petugas farmasi yang
mengelola (di atas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan
kepada penanggung jawab ruangan.
d. Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor stock
kepada petugas farmasi dari penanggung jawab ruangan.
e. Menyediakan informasi, peringatan dan kemungkinan interaksi Obat pada
setiap jenis Obat yang disediakan di floor stock.
2. Sistem Resep Perorangan (Individual Prescription)
Pendistribusian sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan berdasarkan
resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
3. Sistem Unit Dosis
Pendistribusian sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan berdasarkan
resep perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk
penggunaan satu kali dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk
pasien rawat inap. Sistem unit dosis dapat menggunakan metode unit dose
dispensing (UDD) untuk satu unit dosis penggunaan (sekali pakai) atau once
daily dose (ODD) untuk dosis satu hari diberikan.
4. Sistem Kombinasi Sistem
Pendistribusian sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan bagi pasien
rawat inap dengan menggunakan kombinasi a + b atau b + c atau a + c. Sistem
distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat
inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian Obat dapat
diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem floor stock
atau resep individu yang mencapai 18%.
5. Sistem Pelayanan Terbagi (Desentralisasi)
Desentralisasi adalah sistem pendistribusian sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan yang mempunyai cabang di dekat unit
perawatan/pelayanan. Bagian ini dikenal dengan istilah depo farmasi/satelit
farmasi. Pada desentralisasi, penyimpanan dan pendistribusian perbekalan
farmasi ruangan tidak lagi dilayani oleh pusat pelayanan farmasi. Instalasi
farmasi dalam hal ini bertanggung jawab terhadap efektivitas dan keamanan
perbekalan farmasi yang ada di depo farmasi.
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien
dengan mempertimbangkan:
a. Efisiensi dan efektivitas sumber daya yang ada dan.
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi.
c. Metode sentralisasi. Sentralisasi adalah sistem pendistribusian perbekalan
farmasi yang dipusatkan pada satu tempat yaitu instalasi farmasi. Pada
sentralisasi, seluruh kebutuhan perbekalan farmasi setiap unit pemakai
baik untuk kebutuhan individu maupun kebutuhan barang dasar ruangan
disuplai langsung dari pusat pelayanan farmasi tersebut. Resep orisinil
oleh perawat dikirim ke IFRS, kemudian resep itu diproses sesuai dengan
kaidah cara dispensing yang baik dan obat disiapkan untuk didistribusikan
kepada penderita tertentu. Keuntungan sistem ini adalah:
a. Semua resep dikaji langsung oleh tenaga farmasi, yang juga dapat
memberi informasi kepada perawat berkaitan dengan perbekalan
farmasi pasien.
b. Memberi kesempatan interaksi profesional antara tenaga farmasi-
dokterperawat-pasien.
c. Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat atas persediaan.
d. Mempermudah penagihan biaya pasien.
Permasalahan yang terjadi pada penerapan tunggal metode ini di suatu rumah
sakit yaitu sebagai berikut.
a. Terjadinya delay time dalam proses penyiapan obat permintaan dan
distribusi obat ke pasien yang cukup tinggi.
b. Jumlah kebutuhan personel di Instalasi Farmasi Rumah Sakit meningkat.
c. Tenaga farmasi kurang dapat melihat data riwayat pasien (patient records)
dengan cepat.
Terjadinya kesalahan obat karena kurangnya pemeriksaan pada waktu
penyiapan komunikasi. Sistem ini kurang sesuai untuk rumah sakit yang
besar, misalnya kelas A dan B karena memiliki daerah pasien yang menyebar
sehingga jarak antara Instalasi Farmasi Rumah Sakit dengan perawatan pasien
sangat jauh
Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) diatur oleh Pemerintah melalui
Peraturan Kepala Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan), dan Petunjuk
Pelaksanaan Pedoman Teknis Pedoman CDOB yang diterbitkan oleh Badan
POM RI sebagai salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen yang telah
ditetapkan untuk menjalankan fungsi Pengawasan Obat dan Makanan.
Prinsip Umum Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) :
1. Prinsip-prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) berlaku untuk aspek
pengadaan, penyimpanan, penyaluran termasuk pengembalian obat dan/atau
bahan obat dalam rantai distribusi.
2. Semua pihak yang terlibat dalam distribusi obat dan/atau bahan obat
bertanggungjawab untuk memastikan mutu obat dan/atau bahan obat dan
mempertahankan integritas rantai distribusi selama proses distribusi.
3. Prinsip-prinsip CDOB berlaku juga untuk obat donasi, baku pembanding dan
obat uji klinis.
4. Semua pihak yang terlibat dalam proses distribusi harus menerapkan prinsip
kehati-hatian (due diligence) dengan mematuhi prinsip CDOB, misalnya
dalam prosedur yang terkait dengan kemampuan telusur dan identifikasi
risiko.
5. Harus ada kerja sama antara semua pihak termasuk pemerintah, bea dan cukai,
lembaga penegak hukum, pihak yang berwenang, industri farmasi, fasilitas
distribusi dan pihak yang bertanggung jawab untuk penyediaan obat,
memastikan mutu dan keamanan obat serta mencegah paparan obat palsu
terhadap pasien.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Apotekmerupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan dimana


merupakan tempat bagi Apoteker untuk melakukan praktek kerja
kefarmasiandemimeningkatkan kualitas hidup dari masyarakat.

Apoteker memiliki dua tanggung jawab yaitu tanggung jawab


secara managerial dan tanggung jawab pelayanan kefarmasian. Tanggung
jawab managerial adalah tanggung jawab terkait perencanaan dan
pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, pendistribusian, dan
pelaporan obat. Sedangkan tanggung jawab pelayanan kefarmasian adalah
tanggung jawab terkait dengan hubungan Apoteker dengan pasien, seperti
pengkajian resep, compounding dan dispensing, serta pemberian KIE.

Manajemen pengelolaan obat merupakan suatu siklus kegiatan yang


dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan pelaporan, penghapusan,
sampai monitoring dan evaluasi yang saling terkait antara satu dengan yang
lain. Dalam siklus tersebut, perencanaan merupakan tahap awal dan sebagai
tahap yang penting dan menentukan, karena perencanaan kebutuhan obat akan
mempengaruhi pengadaan, pendistribusian dan penggunaan obat di unit
pelayanan kesehatan.

Distribusi Obat di Indonesia telah diatur keabsahnnya dalam UU dan


SK kementerian kesehatan dengan pasal yang jelas. Pelenggaran yang
dilakukan berhubungan dengan distribusi obat memiliki sanksi yang
memberatkan bagi pelaku.

B. SARAN
1. Mahasiswa

Mahasiswa diharapkan lebih mendalami kembali tentang distribusi


Obat di Indonesia agar dapat memberikan pemahaman yang tepat dan efektif.
2. Institusi

Institusi diharapkan menyediakan sumber-sumber pustaka yang


terbaru sehingga mahasiswa dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan terutama dalam bidang kesehatan

Anda mungkin juga menyukai