Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS VERTIGO

DI RUANG IGD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA

Oleh :

NITA SULASTIA W.
069 STYC 17

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG S.1
MATARAM
2021
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KASUS VERTIGO


DI RUANG IGD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA

ASKEP ini di sahkan pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

.
1. KONSEP DASAR VERTIGO
A. Definisi
Vertigo adalah ilusi gerakan, yaitu pasien merasa bahwa ia sedang berputar dialam
raya.(vertigo subyektif) atau bahwa sekelilingnya berputar disekitar dirinya ( vertigo
objektif).kata vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.
Vertigo penderita merasaatau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak
terhadap lingkungannya. Dan gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang
berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada
penderita vertigo kadang'kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus
yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata selain itu juga pada penderita
vertigo mengalami mual, muntah, dan pusing. (lumban, tobing 2003).
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita
sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita tiba'tiba semuanya serasa berputar atau
bergerak naik turun dihadapannya. keeadaan ini sering disusul dengan muntah -
muntah, bekringat, dan kolaps. tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. sering kali
disertai gejala - gejala penyakit telinga lainnya. (major dkk, 2002 )
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan batang otak yang
serius, misalnya skelerosis multiple, infark, dan tumor. (mutaqqin 2002)
B. Etiologi
Menurut ( burton 1990 : 170 ) adalah :
a. Lesi vestibular : fisiologi, meniere, obat : misalnya quinine, salisilat, otitis media
b. Lesi saraf vestibularis : neuroma akustik, obat : misalnya steptomancin,
c. Lesi batang otak, seremblem atau lobus temporal : infark atau perdarahan
d. Penyakit sistem vestibuler perifer :
a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing
b. Telinga bagian tengah : retrasi membrane timpani, otitis media, rudapaksa
dengan perdarahan.
c. Nervus : infeksi, trauma, tumor.
e. Penyakit SPP
a. Hipoksia iskemia otak
b. Infeksi : menimgitis, lues.
c.Trauma kepala
d. Tumor
e.Migren.
f. Kelainan endokrin : hipotiroid, hipoglikemi, hipoparathiroid, keadaan mestruasi
dan menopause.
g. Kelainan psikiatrik : depresi cemas.
h. Kelainan pada mata.
C. Patofisiologi.
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan
kepusat kesadaran. susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan
vestibuler atau keseimbangan, yang setara terus menerus menyampaikan impulsnya
ke pusat keseimbangan.susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro
-prioseptik, jaras - jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N.
III, IV dan V1. Susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis. informasi yang
berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual,
dan proprioseptik. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih
dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya
adalah proprioseptik. Balam kondisi fisiologis / normal,informasi yang tiba di pusat
integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan
proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan
sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. respons yang muncul berupa
penyesuaian otot - otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. di
samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar.
jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak
normal; tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka
proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan
gejala otonom di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat
sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness,
ataksia saat berdiri, berjalan dan gejala lainnya.
Patway

Trauma Ukuran lensa mata Aliran darah Infeksi pada


cerebelum tidak sama ke otak telinga dalam

vertigo

Penurunan funsi Tekanan intra cranial Stress meningkat Tekanan pada otot
kognitip meningkat leher.

cemas Nyeri Gangguan poa tidur

D. Menifestasi klinis
Perasaan berputar yang kadang - kadang disertai gejala sehubungan dengan reaksi
dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah
pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (diFFiness), nyeri kepala,
penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah
merah dengan selaput tipis.(zer dan b, 2002).
a. Pandangan gelap
b. Rasa lelah dan stamina Menurun
c. Jantung berdebar wajah
d. Hilang keseimbangan
e. Tidak mampu berkonsentrasi
f. Perasaan seperti mabuk
g. Otot terasa sakit
h. Mual dan muntah – muntah

E. Pemeriksaan penunjang
1. Pemerikaan fisik :
a. Pemeriksaan mata
b. Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c. Pemeriksaan neurologic
d. Pemeriksaan otologik
e. Pemeriksaan fisik umum
2. Pemeriksaan khusus
a. ENG
b. Audio metri
c. psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan
a. Laboratorium
b. Radiologic
c. EEG, EKG.
F. Penatalaksanaan
Terapi menurut ( dunia kedokteran No 144, 2004 : 48 ) terdiri dari :
1. Terapi kausal
2. Terapi simtomatik
3. Terapi rehabiitatif
G. Pencegahan
1. Melatih posisi duduk. dalam posisi duduk, sih dengan posisi pegang sebuah
benda sejajar dengan mata, lalu meliriklah ke kanan dan kiri masih dengan posisi
yang sama coba untuk menoleh ke kanan dan ke kiri lakukan secara berulang –
ulang.
2. Melatih posisi berdiri dengan posisi berdiri cobalah untuk mengayunkan badan
ke depan dan belakang. Jika belum stabil, bisa juga memamfaatkan tembok
untuk sedikit menompang tubuh. Lakukan cara ini secara rutin.
3. Latihan duduk dengan balance ball. Dengan mengunakan bola keseimbngan
yang biasa di gunakan pada senam pilates, cobalah untuk duduk di atasnya.
Secara perlahan, angkat kaki tak menyentuh tanah sehingga tampak seperti
dalam posisi duduk melayang.
4. Latihan berdiri dan berjalan dengan trampoline. Berdirilah di ata trampoline, dan
ayun tubuh ke depan dan belakang.
5. Latihan melempar dan menangkap bola. Latihan ini sangat membantu
mengembalikan keseimbangan dinamis. Agar lebih menyenangkan, maka latihan
ini bisa bersama anak atau teman.
6. Latihan cross over step. Lakukan kegiatan ini dengan cara menyilangkan kaki di
depan lalu ke samping.
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan, pengkajian keperawatan ini
bertujuan untuk menggali atau mendapatkan data utama tentang kesehatan pasien baik itu fisik, psikologis,
maupun emosional. (Debora, 2013)
Menurut Ardiyansyah, (2012) yang harus dikaji pada klien yang mengalami penyakit vertigo adalah:
1. Identitas
Anamnesis terdiri dari identitas pasien meliputi nama, usia, jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, no. register, tanggal MRS, dan
diagnosa medis.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan pasien kasus
vertigo adalah dengan keluhan pusing kepala berputar putar dan sakit kepala berat
saat perubahan postur tubuh.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Penyakit vertigo di sebabkan karna beberapa faktor misalnya ketengan otot
mata, tomur dan kelainan psikiatrik dan kelainan endokrin. Biasanya terjadinya
tanda dan gejala seperti pusing kepala berputar putar, mabuk, lemah,mual dan
muntah, ketegangan mata, dan sakit kepala berat saat perubahan postur tubuh, saat
bergerak dan karena cuaca.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit terdahulu, baik yang berhubungan dengan system persyarafan
maupun penyakit sistemik lainnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit-penyakit keluarga perlu diketahui terutama yang menular dan
merupakan penyakit turunan. Selain pengkajian riwayat harus bisa diseimbangkan
sesuai dengan kebutuhan seorang pasien. Setiap pola merupakan suatu rangkaian
perilaku yang membantu perawat dalam mengumpulkan suatu data (Wijaya &
Putri, 2013).
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik menurut Ardiyansyah, (2012) adalah :
1) Kesadaran: pada awalnya compos mentis, adalah perasaan tidak berdaya.
2) Respirasi: tidak mengalami gangguan.
3) Kardiovaskuler: hipotensi, takikardia, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambat
(vasokontriksi), warna kulit pucat, sianosis, dan kulit/ membrane mukosa berkeringat (status shock, nyeri
akut).
4) Persarafan: sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu, disorientasi/bingung, dan nyeri
epigastrium.
4. .Pola – pola fungsi menurut Gordon.
1) Pola Persepsi Kesehatan
Persepti terhadap adanya arti kesehatan, penatalaksanaan kesehatan serta
pengatahuantentang praktek kesehatan.
2) Pola nutrisi
Mengidentifikasi masukan nutrisi dalam tubuh, balance cairan serta elektrolit.
Pengkajian meliputi: nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan, mual,
muntah, kebutuhan jumlah zat gizi.
3) Pola eliminasi
Menjelaskan tentang pola fungsi ekskresi serta kandung kemih dan kulit.
Pengkajian yang dilakukan meliputi: kebiasaan defekasi, ada tidaknya masalah
defekasi, masalah miksi (oliguria, disuri), frekuensi defekasi dan miksi. Karakteristik
urine dan feses, pola input cairan, masalah bau badan.
4) Pola latihan-aktivitas
Menggambarkan tentang pola latihan, aktivitas, fumgsi pernapasan. Pentingnya
latihan atau gerak dalam keadaan sehat maupun sakit, gerak tubuh dan kesehatan
berhubungan dengan satu sama lain. Kemampuan klien dalam menata dirinya sendiri
apabila tingkat kemampuannya: 0: mandiri, 1: dengan alat bantu,2: dibantu orang
lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4: tergantung dalam melakukan ADL, kekuatan
otot dan
ROM, riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama dan kedalaman napas, bunyi
napas, riwayat penyakit paru.
5) Pola kognitif perseptual
Menjelaskan tentang persepsi sendori dan kognitif. Pola ini meliputi pengkajian
fungsi penglihatan, pendengaran, perasaan, pembau dan kompensasinya terhadap
tubuh. Dan pola kognitif memuat kemampuan daya ingat klien terhadap peristiwa
peristiwa yang telah lama atau baru terjadi.
6) Pola istirahat dan tidur
Menggambarkan pola tidur serta istirahat pasien. Pengkajian yang dilakukan pada
pola ini meliputi: jam tidur siang dan malam pasien, masalah selama tidur, insomnia
atau mimpi uruk, penggunaan obat serta mengaluh letih.
7) Pola konsep diri-persepsi diri
Menggambarkan sikap tentan diri sendiri serta persepsi terhadap kemampuan diri
sendiri dan kemampuan konsep diri yang meliputi: gambaran diri, harga diri, peran,
identitas dan ide diri sendiri.
8) Pola peran dan hubungan
Menggambarkan serta mengatahui hubungan pasien serta peran pasien terhadap
anggota keluarga serta dengan masyarakat yang berada dalam lingkungan sekitar
tempat tinggalnya.
9) Pola reproduksi atau seksual
Menggambarkan tentang kepuasan yang dirasakan atau masalah yang dirasakan
dengan seksualitas. Selain itu dilakukan juga pengkajian yang meliputi: dampak
sakit terhadap seksualitas, riwayat haid, pemeriksaan payudara sendiri, riwayat
penyakit hubungan seks, serta pemeriksaan genetalia.
10) Pola koping dan Toleransi Stres
Menggambarkan tentang pola cara menangani stress, yang meliputi dengan cara:
interaksi dengan orang terdekat menangis, dam lain sebagainya.
11) Pola keyakinan dan nilai
Menggambarkan tentang pola nilai dan keyakinan yang dianut. Menerangkan
sikap serta keyakinan yang dianaut oleh klien dalam melaksanakan agama atau
kepercayaan yang dianut.
5. Analisa data
Tabel 3.1 Analisa Data
Symptom Etiologi Problem
DS : Nyeri akut
1. Keluhan nyeri Ukuran lensa mata berhubungan
2. Tampak meringis
tidak sama dengan peningkatan
3. Sikap protektif intracranial

Peningkatan
intracranial

Nyeri akut

Ketidakseimbangan Gag
cairan telinga
Gangguan pola tidur.
tengah

Pembengkakan
rongga
enolimfatikus

Sistem
keseimbangan
tubuh terganggu

Tekanan pada otot


leher

Gangguan pola
tidur

Sumber : SDKI (2016)


B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan intracranial
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan tekanan otot leher.

C. Intervensi Keperawatan.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN: NYERI AKUT
Diagnosa Keperawatan SLKI
Tindakan
Nyeri Akut Dalam x24 jam setelah  Identifikasi
dilakukan tindakan lokasi,
Batasan karakteristik keperawatan tingkat karakteristik,
 Keluhan nyeri nyeri klien durasi, frekuensi,
 Meringis menunjukkan : kualitas,
 Sikap protektif
1=menurun intensitas nyeri
 Gelisah 2=cukup menurun  Indikasi skala
 Kesulitan tidur
3=sedang nyeri
 Menarik diri 4=cukup meningkat  Identifikasi skala
 Berfokus 5=meningkat
pada nyeri non verbal
diri sendiri  Identifikasi
 Diaphoresis 1=meningkat faktor yang
 Perasaan depresi
2=cukup meningkat memperberat dan
(tertekan) 3=sedang meringankan
 Perasaan 4=cukup
takut menurun nyeri
mengalami cedera
5=menurun  Identifikasi
berulang pengetahuan dan
 Anoreksia 1=memburuk keyakinan
 Perineum terasa
2=cukup memburuk tentang nyeri
tertekan 3=sedang  Identifikasi
 Uterus teraba
4=cukup membaik pengaruh budaya
membulat 5=membaik terhadap respon
 Ketegangan otot nyeri
 Pupil dilatasi  Identifikasi
 Mual pengaruh nyeri
 Muntah pada kualitas
 Frekuensi nadi hidup
 Pola nafas  Memantau
 Tekanan darah keberhasilan
 Proses berfikir terapi
 Fokus komplementer
 Fungsi berkemih yang sudah
 Prilaku diberikan
 Nafsu makan  Memantau efek
 Pola tidur samping
Faktor yang berhubungan penggunaan
 Kondisi analgetik
pembedahan  Berikan tehnik
 Cedera traumatis non
 Infeksi farmakologis
 Sindrom koroner untuk
akut mengurangi rasa
 Glaucoma visual nyeri (mis.
analogue scale TENS, hypnosis,
atau numeric akupresur, terapi
rating scale untuk music,
usia diatas 7 biofeedback,
tahun terapi pijat,
aromaterapi,
teknik imajinasi
terbimbing,
kompres
hangat/dingin,
terapi bermain)
 Control
lingkungan yang
memperberat
rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
 Fasilitasi
istirahat tidur
 Pertimbangkan
jenis dan sumber
nyeri dalam
memilihkan
strategi
meredakan nyeri
 Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
 Jelaskan strategi
meredakan nyeri
 Anjurkan
memantau nyeri
secara mandiri
 Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat
 Ajarkan tehnik
nonfarmakologis
untuk
mengurangi rasa
nyeri
 Kolaborasi
pemberian
analgetik, jika
perlu

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN: GANGGUAN POLA TIDUR.


Diagnosa Keperawatan SLKI
Tindakan
Dalam x24 jam  Identifikasi pola
Gangguan pola tidur setelah dilakukan aktivitas dan
tindakan tidur
Batasankarakteristik: keperawatan  Identifikasi
□ Mengeluh sulit tidur gangguan pola faktor
□ Keluhan sering tidur penganggu tidur
terjaga menunjukkan : (fisik/psikologis
□ Mengeluh tidak 1=menurun
puas )

tidur 2=cukup menurun  Identifikasi

□ Mengeluh pola 3=sedang


tidur makanan dan

berubah 4=cukup meningkat minuman yang

□ Mengeluh 5=meningkat
istirahat menganggu

tidak cukup tidur (mis, kopi,

□ Mengeluh 1=meningkat the, alcohol,


2=cukup meningkat makanan
kemampuan
3=sedang mendekati
beraktivitas menurun
4=cukup menurun waktu tidur,
Faktor yang 5=menurun minum banyak
berhubungan air sebelum
□ Nyeri/kolik 1=memburuk tidur)
□ Hipertiroidisme 2=cukup memburuk  Identifikasi obat
□ Kecemasan 3=sedang tidur yang
□ Penyakit 4=cukup
paru membaik dikonsumsi
obstruksi kronis 5=membaik □ Modifikasi
□ Kehamilan lingkungan (mis,
□ Priodepasca partum pencahayaan,

□ Kondisi pasca operasi kebisingan, suhu,


matras, dan
tempattidur )
□ Tetapkan jadwal
tidur rutin
□ Lakukan prosedur
untuk meningkatkan
kenyamanan (mis,
pijat, pengaturan
posisi, terapi
akupresur)
□ Sesuaikan jadwal
pemberian obat dan
tindakan untuk
menunjang siklus
tidur terjaga
□ Jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit
□ Anjurkan
menempati
kebiasaan waktu
tidur
□ Anjurkan
menghindari kanan/
minuman yang
menganggu tidur
 Ajarkan
relaksasi otot
autogenic atau
cara nonfarma
kologi lainnya.
D. Tindakan Keperawatan
Merupakan tahap ke empat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan
berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam
rencana keperawatan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal diantaranya
bahaya-bahaya fisik dan perlindungn pada pasien, tehnik komunikasi, kemampuan dalam
prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari pasien serta dalam memahami tingkat
perkembngan pasien (Nursalam, 2006)
Menurut Nursalam, (2006) Tindakan keperawatan mencakup tindakan independent
(mandiri), dan kolaborasi.
1. Tindakan mandiri adalah aktifitas keperawatan yang didasarkan pada kesimpulan atau
keputusan sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan
lain.
2. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang didasarkan hasil keputusan bersama seperti
dokter dan petugas kesehatan lain.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya
sudah berhasil dicapai (Nursalam, 2006)
Menurut Nursalam, (2006) evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang
operasional dengan pengertian:
S : Ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara obyektif oleh keluarga setelah
diberikan implementasi keperawatan.
O : Kedaan subyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamat yang
objektif setelah implemnatsi keperawatan.
A : Merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan masalah keluarga
yang dibandingkan dengan krietria dan standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan
rencana keperawatan keluarga.
P : Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis pada tahap ini ada 2
evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat.
Daftar pustaka

William dan wilkns, 2008. Nursing : menafsirkan tanda tanda dan gejala
penyakit,indeksparemati , Jakarta.
Pengobatan vertigo dengan akupuntur, cermin dunia kedokteran, Jakarta.
Mutaqqin,arif. 2008, pengantar asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
persyarafan. Jakarta : salemba medika.
www.scribd.com/doc/52456463/laporan pendahuluan - vertigo.
Carpernito l,j 1999 rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan
Diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif ed.,2. EGC,Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai