Anda di halaman 1dari 2

Pendahuluan

Variasi struktur tulang rahang dan jaringan lunak yang menutupinya terkadang salah
diidentifikasi menjadi tumor, tapi variasi ini sangat mudah dikenali karena berada dalam kisaran
variasi normal rongga mulut. Contoh varian struktural tersebut adalah tori. 1 Tonjolan tulang
umum yang terjadi di atas palatum durum terkadang disalah artikan sebagai keganasan, terutama
jika ukurannya besar. Ini terjadi paling sering dalam beberapa bentuk bilateral, dan sering
terletak di area kaninus hingga premolar. Pengetahuan dasar tentang asesmen dan
penatalaksanaan Torus penting dilakukan, terutama bagi dokter keluarga lini pertama untuk
memastikan informasi yang benar diberikan kepada pasien.5

Tori sebagai tonjolan tulang atau pertumbuhan tulang terlokalisasi berasal dari bahasa
latin yang berarti “menonjol” atau “benjolan”. Tori terdiri dari kortikal padat dan jumlah
sumsum tulang yang lebih sedikit dengan lapisan mukosa yang tipis dan vaskularisasi buruk.
Tori asimtomatik ditemukan pada dekade kedua dan ketiga kehidupan dan menunjukkan
pertumbuhan yang lambat dikortikal lingual mandibula yang merupakan kondisi non-patologis
dan dalam banyak kasus tetap asimtomatik. 2 Orang Asia dan Eskimo memiliki prevalensi tori
yang lebih tinggi secara signifikan.3

Castro Reino dkk. mendefinisikannya sebagai tonjolan tulang kongenital dengan


karakteristik jinak, yang mengarah ke "overworking" osteoblas dan peningkatan deposit tulang
sepanjang garis perpaduan palatum. Prevalensi terjadinya torus menurut penelitian oleh Al-
Bayaty et al adalah 12,3%, sangat dekat dengan hasil yang didapatkan oleh Bruce et al. 14,6%,
sementara Jainkittivong et al. menunjukkan prevalensi terjadinya 26,9%.1 Pada populasi Melayu,
prevalensi Torus palatinus ditemukan berkisar antara 38% hingga 63% dengan rasio perempuan-
laki 10: 1.5 Sebagian besar torus tidak menunjukkan gejala, tidak mengganggu kegiatan sehari-
hari pasien dan biasanya ditemukan selama pemeriksaan klinis di klinik gigi. Keluhan yang
terkadang mucul biasa disebabkan oleh gangguan fonetori, keterbatasan mekanisme
pengunyahan, ulserasi mukosa di atas torus, deposit makanan, periodontitis, ketidakstabilan
prostetik dan beberapa pasien mungkin memiliki fobia adanya kanker. 6
Penyebab pasti pembentukan tori mandibula tidak jelas, tetapi faktor genetik dan
lingkungan diduga terlibat. Faktor lingkungan termasuk pola makan, letak gigi, tekanan oklusal,
bruxisme dan clenching.3 Ada banyak etiologi yang dikaitkan dengan perkembangannya seperti
fungsi hiper pengunyahan (bruxism, clenching), faktor yang berhubungan dengan stres yang
melibatkan gigi, faktor lingkungan dan genetika. Meskipun tori bisa multifaktorial, penelitian
menunjukkan bahwa genetika memainkan peran utama Kemunculannya dianggap bervariasi
dengan jenis kelamin biasanya tori tidak menunjukkan gejala, namun dalam keadaan tertentu
dapat menimbulkan masalah.4

Daftar Pustaka

1. Greenberg MS, Michael G, Jonathan A. Burket’s Oral Medicine 11th Edition. USA: BC
Decker Inc Hamilton. 2008: 129
2. Santosh, et al. (2016). Prevalence of oral tori among medical and dental Students at the
University of the West Indies. Dentistry 3000. 2016; (4).
3. Kumar Rajesh, Mamta Malik, Laller Sanjeev, Priti. Bilateral torus mandibularis: A case
report with mini review. International Journal of Clinical and Diagnostic Pathology 2018;
1(1): 27-2.
4. Kalaignan P, Mohan J.S, Jayakumar A. Determination of Grading for Maxillary and
Mandibular Tori- an in Vivo Study. Biomed Pharmacol J 2018;11(2).
5. Che Ibrahim NH, Md Shukri N. Is it as dangerous as it looks? Malays Fam Physician.
2017;12(1);35–36.
6. Pradhan Manjusha S, Patil Swapnil N, Uttarwar Varsha S, Mokhade. Multiple
Mandibular Tori: Three Case Reports And Review. IOSR Journal of Dental and Medical
Sciences. 2017;(16)6.