Anda di halaman 1dari 8

Tugas Kelompok “Pelaksanaan Pembangunan Desa Karang Endah”

Modul 8 - Belanja Modal Pusat dan Daerah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Manajemen Keuangan Organisasi Publik

Dosen Pengampu: Hilda Siregar

Disusun oleh:

Imza Ramadhan Putra (19/440907/SV/16259)


M. Abdi Munsyii J. (19/446884/SV/16603)
Willy Wijaya (19/447181/SV/16875)

SARJANA TERAPAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2020
Pelaksanaan Pembangunan Desa Karang Endah

Gambar 1. Papan Informasi Pembangunan Desa

I. Identifikasi

PEMERINTAH KABUPATEN LAHAT

DESA KARANG ENDAH

KECAMATAN MERAPI BARAT

KABUPATEN LAHAT

BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA

KEGIATAN PEMBANGUNAN SIRING DRAINASE (T.70CM x LA 60 CM


x LB 40CM x 450M)*

PEMBANGUNAN TEMBOK PENAHAN (1M X 10CM - T20


CM X P42 M)

PEMBANGUNAN SPAL (LL 80CM - LD 40CM - T 60CM -


120CM)

PAGU ANGGARAN Rp 504.531.700,00


SUMBER DANA DANA DESA (APBN)

TAHUN ANGGARAN 2016

WAKTU PELAKSANA HARI

ALOKASI DESA KARANG ENDAH

PELAKSANA SWAKELOLA

II. Perencanaan

Perencanaan Pengadaan Barang/Jasa adalah proses perumusan kegiatan yang dimulai dari
identifikasi kebutuhan, penetapan barang/jasa, cara Pengadaan Barang/Jasa, jadwal Pengadaan
Barang/Jasa, anggaran Pengadaan Barang/Jasa. Perencanaan ini dimaksud disusun dalam
rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga/satuan kerja pemerintah daerah dengan
memperhatikan kebutuhan BMN dan berpedoman pada standar barang, standar kebutuhan dan
standard harga yang ditetapkan oleh pengelola barang, setelah berkoordinasi dengan instansi atau
dinas teknis terkait. Pengadaan Barang/Jasa melalui swakelola atau Swakelola adalah cara
memperoleh barang/jasa yang dikerjakan sendiri oleh Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah,
Kementerian/ Lembaga/Perangkat Daerah lain, organisasi kemasyarakatan, atau kelompok
masyarakat.

Pembangunan Aset milik negara haruslah direncanakan dengan matang sesuai dengan
Peraturan Presiden Nomor 16 tahun 2018. Sesuai dengan peraturan tersebut. Perencanaan di
dalam pengadaan aset haruslah meliputi,

1. Identifikasi kebutuhan

2. Penetapan barang dan jasa

3. Cara akan pengadaan aset tersebut

4. Jadwal atau rentang waktu

5. Anggaran untuk pengadaan atas barang dan jasa tersebut.


Tujuan dari Perencanaan di dalam pengadaaan aset negara ini supaya diperolehnya
barang maupun jasa negara dan daerah dengan kualitas yang diinginkan. Selain itu, dengan
adanya perencanaan di dalam pengadaan ini, juga diharapkan terjaminnya atas kelancaran proses
pengadaan.

Perencanaan di dalam pengadaan aset negara bersumber dari dana APBN yang mana
harus dilakukan dengan bersamaan proses penyusunan dari Rencana Kerja Kementerian dan
Lembaga setelah telah ditetapkan adanya pagu indikatif. Namun, jikalau pengadaan aset tersebut
bersumber dari APBD diikuti dengan proses penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
Perangkat Daerah setelah dilakukan adanya nota kesepakatan Kebijakan Umum APBD serta
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS).

Selain itu, pengadaan aset negara maupun daerah juga harus mempertimbangkan akan
kriteria aset tersebut. Pengadaan aset tersebut seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut.

1. Berkaitan dengan entitas tertentu.

2. Adanya pengorbanan ekonomi untuk memperoleh aset.

3. Menunjukkan proses akuntansi.

4. Adanya karakteristik manfaat di masa mendatang.

5. Berkaitan dengan karakteristik keterukuran.

6. Berkaitan dengan dimensi waktu.

Pada proses perencanaan pengadaan aset negara, pejabat setempat perlu mengadakan
adanya batasan di dalam perencanaan pengadaan aset negara dan daerah tersebut. Batasan itu
dapat dilakukan dengan:

1. Besaran anggaran yang ditetapkan, tidak melampaui jumlah pengeluaran.

2. Jadwal kegiatan berlangsung dalam kurun waktu yang ditentukan

3. Mutu dan kualitas dari aset yang diadakan harus memenuhi standar kualitas dari Standar
minimal yang ditentukan.
Namun, pada pengadaan proyek tersebut masih belum adanya kelengkapan perencanaan
yang matang seperti halnya pekerjaan proyek pembuatan sumur bor dan jalan setapak yang saat
ini dalam pelaksanaan tidak terdapat pada papan nama dan sesuai aturan juklak dan juknis setiap
proyek yang didanai APBN Pusat dana desa yang diawasi KPK. Hal-hal seperti ini harus
dihindari pada tahap perencanaan sehingga nantinya proses pelaksanaan, pengendalian dan juga
transparansi kepada publik dapat dipertanggung jawabkan.

III. Pengendalian

Pada pengadaan proyek tersebut di Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumsel,
mendapatkan Dana Desa APBN 2016 senilai lebih kurang Rp 500 juta lebih. Dana anggaran
tersebut saat ini dibangunkan sumur bor dan jalan setapak. Dalam pekerjaan proyek pembuatan
sumur bor dan jalan setapak yang saat ini dalam pelaksanaan tidak ada papan nama, hal ini tidak
sesuai dengan aturan juklak dan juknis setiap proyek yang didanai APBN Pusat dana desa yang
diawasi KPK harus transparan untuk bisa dibaca oleh masyarakat setempat, dan masyarakat
harus tahu berapa anggaran dari pemerintah dalam pembangunan proyek tersebut, sehingga
masyarakat tahu nilai proyek tersebut. Proyek dana desa yang sumber dana APBN Pusat di desa
telatang saat ini dalam pekerjaan tidak ada papan nama dan patut diduga ada indikasi kerugian
negara terutama dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dalam Penyusunan
RAB, terutama sumber dana yang berasal dari APBN, harus disusun secara jelas dan terinci, baik
dari administrasi maupun fisik harus jelas yang mana disinilah perlunya pengawasan dari pihak
masyarakat.

Sesuai dengan kasus yang ada yakni pada pengadaan proyek di Kecamatan Merapi Barat,
Kabupaten Lahat, Sumsel, pemasangan plang informasi dana mengenai pembangunan proyek
merupakan salah satu bentuk pengendalian. Dalam kasus tersebut, masyarakat tahu nilai proyek
tersebut dikarenakan transparansi dari pemerintah mengenai informasi berapa anggaran dari
pemerintah dalam pembangunan proyek tersebut. Transparansi tersebut merupakan salah satu
bentuk dari pengendalian yang dapat dilakukan. Dalam hal tersebut sudah sesuai dengan Perpres
Nomor 16 Tahun 2008 pada pasal 77 tentang pengaduan masyarakat, dengan penjelasan sebagai
berikut:
1. Masyarakat menyampaikan pengaduan kepada APIP disertai bukti yang faktual, kredibel,
dan autentik.

2. Aparat Penegak Hukum meneruskan pengaduan masyarakat kepada APIP untuk


ditindaklanjuti.

3. APIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menindaklanjuti pengaduan
sesuai kewenangannya.

4. APIP melaporkan hasil tindak lanjut pengaduan kepada menteri/kepala lembaga/kepala


daerah.

5. Menteri/ kepala lembaga/ kepala daerah melaporkan kepada instansi yang berwenang,
dalam hal diyakini adanya indikasi KKN yang merugikan keuangan negara.

6. Menteri/kepala lembaga/kepala daerah memfasilitasi masyarakat dalam melakukan


pengawasan terhadap pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.

7. LKPP mengembangkan sistem pengaduan Pengadaan Barang/Jasa.

Kegiatan Transparansi Informasi dana pembangunan proyek tersebut dapat diawasi oleh
masyarakat untuk menilai proyek tersebut dan apabila terdapat ketidaksesuaian dapat dilaporkan
kepada APIP sesuai dengan penjelasan pasal 77 di atas.

Hal tersebut sejalan dengan Perpres nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang
atau Jasa Pemerintah, hal mengenai pengendalian diatur di bagian kesatu pasal 76 dengan
penjelasan sebagai berikut:

1. Menteri/kepala lembaga/kepala daerah wajib melakukan pengawasan Pengadaan


Barang/Jasa melalui aparat pengawasan internal pada Kementerian/Lembaga/Pemerintah
Daerah masing-masing.

2. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui kegiatan audit,
reviu, pemantauan, evaluasi, dan/atau penyelenggaraan whistleblowing system.
3. Pengawasan Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sejak
perencanaan, persiapan, pemilihan Penyedia, pelaksanaan Kontrak, dan serah terima
pekerjaan.

4. Ruang lingkup pengawasan Pengadaan Barang/Jasa meliputi;

a. pemenuhan nilai manfaat yang sebesar-besarnya;

b. kepatuhan terhadap peraturan;

c. pencapaian TKDN;

d. penggunaan produk dalam negeri;

e. pencadangan dan peruntukan paket untuk usaha kecil; dan

f. pengadaan berkelanjutan. (Ini masih double)

5. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dilakukan bersama dengan
kementerian teknis terkait dan/atau lembaga yang mempunyai tugas menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pengawasan keuangan negara/ daerah dan pembangunan
nasional.

6. Hasil pengawasan digunakan sebagai alat pengendalian pelaksanaan Pengadaan


Barang/Jasa.

IV. Akuntabilitas
Pada setiap pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan Pemerintahan Desa, diperlukan adanya
transparansi dan akuntabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa keuangan desa harus dikelola secara
terbuka, dapat dipertanggungjawabkan, serta sesuai dengan peraturan yang ada. Penerapan
asas-asas tersebut digunakan untuk mengantisipasi terjadinya fraud dalam proses pengelolaan
keuangan desa. Penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik (Good Governance) terkait
pengelolaan Anggaran Dana Desa (ADD) memerlukan sistem akuntabilitas dan transparansi,
sehingga masyarakat dapat mengetahui secara jelas mengenai perencanaan, pelaksanaan,
pertanggungjawaban penatausahaan, dan pelaporan ADD.
Adapun tahapan pertanggungjawabannya yakni:

1. Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan


APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap tahun anggaran.

2. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud


pada poin (1), terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan.

3. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud


pada poin (2) ditetapkan dengan Peraturan Desa.

Rincian laporan keuangan yang harus dibuat oleh Pemerintah Desa yakni Format
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa, Buku Pembantu Kas Kegiatan. Buku Bank, Buku
Pajak, Neraca. Rencana Anggaran Biaya dan Surat Permintaan Pembayaran serta pernyataan
Tanggungjawab Belanja, Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa pada semester pertama dan
semester akhir tahun serta Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa.
Disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Perencanaan Menteri.

Akuntabilitas pada penggunaan dana oleh Pemerintah Desa Karang Endah dinilai sangat
rendah. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya data atau informasi berupa laporan
pertanggungjawaban terkait pelaksanaan pembangunan di desa tersebut. Rendahnya tingkat
informasi ini yang seharusnya bersifat transparan bagi masyarakat dikarenakan beberapa temuan
seperti adanya rangkap jabatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan, banyaknya
faktor kepentingan pribadi, dan penyalahgunaan jabatan. Pengendalian internal yang lemah ini
dinilai menjadi sebab utama rendahnya transparansi di desa tersebut.

Inspektorat Daerah sebagai Aparat Pengawasan Internal Pemerintah Daerah yang


bertugas mengawasi pelaksanaan program desa dinilai memiliki kualitas yang sangat rendah
sehingga pelanggaran-pelanggaran yang terjadi tidak terlalu ditindaklanjuti. Lemahnya
pengawasan ini menyebabkan desa-desa di Kabupaten Lahat bertindak tanpa mengikuti
prosedur-prosedur yang berlaku dan bahkan menyalahgunakan uang-uang rakyat. Hal-hal inilah
yang menyebabkan susahnya tercipta lingkungan yang sehat dan bersih di lingkungan
Pemerintah Daerah.