Anda di halaman 1dari 29

Dunia telah berubah.

Dewasa ini kita hidup dalam


era informasi/global.
Dalam era informasi, kecanggihan teknologi
informasi dan komunikasi
telah memungkinkan terjadinya pertukaran
informasi yang cepat tanpa
terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden &
Voss, 1999). Berbeda
dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu
bangsa dalam era
informasi sangat tergantung pada kemampuan
masyarakatnya dalam
memanfaatkan pengetahuan untuk
meningkatkan produktivitas.
Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan
istilah masyarakat
berbasis pengetahuan (knowledge-based
society). Siapa yang
menguasai pengetahuan maka ia akan mampu
bersaing dalam era
global.
Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk
mengintegrasikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk
semua aspek kehidupan
berbangsa dan bernegaranya untuk untuk
membangun dan
membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan
agar dapat bersaing
dalam era global. Apa akibatnya? Negara yang telah
maju dan mampu
mengintegrasikan teknologi tersebut secara
sistemik/holistik, melompat
berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang
telah maju dan jauh
meninggalkan Indonesia di antaranya adalah
Singapura, Jepang, dan
Korea. Sementara itu, negara-negara berkembang
lain yang belum
mampu mengintegrasikan teknologi tersebut
secara komprehensif
semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi
seperti ini dinamakan
kesenjangan digital (digital divide).
Indonesia, perlu segera mengurangi kesenjangan
digital ini dengan
mengintegrasikan (TIK) secara sistemik
untuk semua sektor
pemerintahan seperti perdagangan/bisnis,
administrasi publik,
pertahanan dan keamanan, kesehatan dan
termasuk pendidikan.
Dalam makalah ini, penulis ingin mengupas
masalah pengintegrasian
TIK dalam pendidikan. Tapi, penulis membatasi
pembahasan hanya
pada masalah yang lebih mikro, yaitu
pengintegrasian TIK dalam
lingkup pembelajaran (ruang kelas). Sementara itu,
yang dimaksud
Dunia telah berubah. Dewasa ini kita hidup dalam
era informasi/global.
Dalam era informasi, kecanggihan teknologi
informasi dan komunikasi
telah memungkinkan terjadinya pertukaran
informasi yang cepat tanpa
terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden &
Voss, 1999). Berbeda
dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu
bangsa dalam era
informasi sangat tergantung pada kemampuan
masyarakatnya dalam
memanfaatkan pengetahuan untuk
meningkatkan produktivitas.
Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan
istilah masyarakat
berbasis pengetahuan (knowledge-based
society). Siapa yang
menguasai pengetahuan maka ia akan mampu
bersaing dalam era
global.
Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk
mengintegrasikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk
semua aspek kehidupan
berbangsa dan bernegaranya untuk untuk
membangun dan
membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan
agar dapat bersaing
dalam era global. Apa akibatnya? Negara yang telah
maju dan mampu
mengintegrasikan teknologi tersebut secara
sistemik/holistik, melompat
berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang
telah maju dan jauh
meninggalkan Indonesia di antaranya adalah
Singapura, Jepang, dan
Korea. Sementara itu, negara-negara berkembang
lain yang belum
mampu mengintegrasikan teknologi tersebut
secara komprehensif
semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi
seperti ini dinamakan
kesenjangan digital (digital divide).
Indonesia, perlu segera mengurangi kesenjangan
digital ini dengan
mengintegrasikan (TIK) secara sistemik
untuk semua sektor
pemerintahan seperti perdagangan/bisnis,
administrasi publik,
pertahanan dan keamanan, kesehatan dan
termasuk pendidikan.
Dalam makalah ini, penulis ingin mengupas
masalah pengintegrasian
TIK dalam pendidikan. Tapi, penulis membatasi
pembahasan hanya
pada masalah yang lebih mikro, yaitu
pengintegrasian TIK dalam
lingkup pembelajaran (ruang kelas). Sementara itu,
yang dimaksud
Dunia telah berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi,
kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi
yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era
agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan
masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas. Karakteristik
masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based
society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global. Oleh
karena itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
untuk semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegaranya untuk untuk membangun dan
membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Apa
akibatnya? Negara yang telah maju dan mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara
sistemik/holistik, melompat berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang telah maju dan jauh
meninggalkan Indonesia di antaranya adalah Singapura, Jepang, dan Korea. Sementara itu, negara-
negara berkembang lain yang belum mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara komprehensif
semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi seperti ini dinamakan kesenjangan digital (digital divide).
Indonesia, perlu segera mengurangi kesenjangan digital ini dengan mengintegrasikan (TIK) secara
sistemik untuk semua sektor pemerintahan seperti perdagangan/bisnis, administrasi publik, pertahanan
dan keamanan, kesehatan dan termasuk pendidikan. Dalam makalah ini, penulis ingin mengupas
masalah pengintegrasian TIK dalam pendidikan. Tapi, penulis membatasi pembahasan hanya pada
masalah yang lebih mikro, yaitu pengintegrasian TIK dalam lingkup pembelajaran (ruang kelas).
Sementara itu, yang dimaksud dengan teknologi informasi dan komunikasi di sini meliputi teknologi
cetak maupun non-cetak (seperti teknologi audio, audio-visual, multimedia, internet, dan pembelajaran
berbasis web). Beberapa permasalahan yang penulis ingin coba dibahas dalam makalah ini meliputi:
1) apa yang dimaksud dengan pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran?
2) seperti apakah contoh bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran?;
3) mengapa TIK perlu diintegrasikan dalam pembelajaran?;
4) pendekatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses
pembelajaran?; dan
5) pertimbangan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses
pembelajaran?

Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan
menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK
(learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai
obyek belajar atau mata pelajaran. Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK
dalam pembelajaran kedalam empat tahap sebagai berikut:
1. Tahap emerging, baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya
untuk menerapkannya.
2. Tahap applying, satu langkah lebih maju di mana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk
dipelajari (mata pelajaran).
3. Pada tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran).
4. Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal di mana TIK telah menjadi katalis bagi
perubahan/evolusi pendidikan.
TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun
untuk administrasi (administrational purpose). Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-
negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran.
Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah.
Bahkan di tingkat perguruan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan
TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain-lain. Secara ideal,
kondisi yang seharusnya terjadi adalah TIK sudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sebagai
contoh, mari kita perhatikan salah satu bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran yang
ditunjukkan dalam oleh suatu rencana pembelajaran (lesson plan) yang pernah dibuat oleh beberapa
guru SMA sebagai berikut: Tabel 1: Contoh Rencana Pembelajaran yang Mengintegrasikan TIKY Rencana
pembelajaran di atas menunjukkan secara jelas bahwa melalui pengintegrasian TIK ke dalam proses
pembelajaran, di samping tujuan pembelajaran tercapai, ada suatu agenda terselubung (hidden agenda)
penting yang dapat dicapai pula, yaitu ICTs Literacy, seperti siswa dapat melakukan browsing informasi
melalui internet, berkomunikasi melalui e-mail, membuat laporan dengan aplikasi pengolah kata
(MSWord), atau mempresentasikan sesuatu dengan MSPowerpoint. Inilah yang dimaksud dengan
mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK
dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara
mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata
pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan
hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.

Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?


Jawabannya sangat berkaitan erat dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia
untuk siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun 2020
Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu, masyarakat Indonesia harus
memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan menggunakannya untuk meningkatkan
produktifitas (knowledge-based society). Pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat
meningkatkan ICT literacy, membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-
based society) pada diri siswa, di samping dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses
pembelajaran itu sendiri.
UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki
tiga tujuan utama, yaitu:
(1) untuk membangun “knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah
(problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi,
mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada oranglain;
(2) untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan
(3) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Mengapa demikian? Karena
secara teoretis TIK memainkan peran yang sangat luar biasa untuk mendukung terjadinya proses belajar
yang:
- Active; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan
bermakna.
- Constructive; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ideide baru kedalam pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini
ada dalam benaknya.
- Collaborative; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama,
berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota
kelompoknya.
- Intentional; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
- Conversational; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan
dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun
luar sekolah.
- Contextualized; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-
world) melalui pendekatan “problem-based atau case-based learning”.
- Reflective; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa
yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh
Norton et al (2001)).
Dengan kata lain, TIK memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai
modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). TIK
memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif dan simulatif sehingga memungkinkan siswa
belajar secara aktif. TIK juga memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti
problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung meningkatkan “ICT literacy”
(Fryer, 2001).
Dari rencana pembelajaran di atas terlihat jelas bahwa melalui mata pelajaran Fisika, Biologi
atau Bahasa Inggris misalnya, secara tidak langsung ICT literacy siswa berkembang. Di samping itu,
dengan metode pembelajaran yang lebih bersifat konstruktif (contructivisme) secara tidak langsung
keterampilan berpikir tingkat tinggi (seperti berpikir kritis, problem solving, dll.) dan keterampilan
berkomunikasi dengan TIK pada diri siswa juga meningkat. Dengan kata lain, pengintegrasian TIK ke
dalam proses pembelajaran dapat membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan
(knowledge-based society) pada diri siswa. Jika pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran
dilakukan sejak saat ini, maka siswa-siswi tahun 2005 misalnya, akan siap menjadi bagian dari
masyarakat global pada masa diberlakukannya AFTA tahun 2020 mendatang. Penulis merasa bahwa
pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran merupakan masalah yang “urgent” untuk
mempersiapkan sumber daya manusia berbasis pengetahuan (knowledge-based human resources) yang
sangat diperlukan di abad ke-21 ini. Tidaklah heran kalau seorang futurolog, Eric Ashby (1972) seperti
dikutip oleh Miarso (2004) menyatakan bahwa perkembangan TIK yang semakin mutakhir saat ini telah
membawa revolusi pendidikan yang keempat. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan
pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika diguanakannya tulisan untuk
keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga
materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya
perangkat elektronik seperti radio, televisi komputer dan internet untuk pemerataan dan perluasan
pendidikan.
Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?
Dari sisi pendekatan, Fryer (2001) menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan guru
ketika merencanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu:
1) pendekatan topik (theme-centered approach); dan
2) pendekatan software (software-centered approach).
1 Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach);
Pada pendekatan ini, topik atau satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana
langkah yang dilakukan adalah:
1) menentukan topik;
2) menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan
3) menentukan aktifitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program audio, VCD/DVD, CD-
ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Rencana pembelajaran yang dicontohkan di atas merupakan salah satu contoh penggunaan
pendekatan ini.
1 Pendekatan Software (Software-centered Approach); menganut langkah yang sebaliknya. Langkah
pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD,
CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian
menyesuaikan dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada tersebut.
Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin CD-ROM tertentu yang
relevan untuk suatu topik tertentu, maka guru merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk
mengajar hanya topik tertentu tersebut. Topik yang lainnya terpaksa dilaksanakan dengan cara
konvensional.
Sedangkan dari sisi strategi pembelajaran, ada beberapa pendekatan yang disarankan untuk
membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, diantaranya adalah:
1) resource-based learning;
2) case-based learning;
3) problem-based learning;
4) simulation-based learning; dan
5) collaborative-based learning.
2. Resources-based learning
memiliki karakteristik dimana siswa diberikan/disediakan berbagai ragam dan jenis bahan
belajar baik cetak (buku, modul, LKS, dll) maupun non cetak (CD/DVD, CDROM, bahan belajar online)
atau sumber belajar lain (orang, alat, dll) yang relevan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai. Kemudain siswa diberikan tugas untuk melakukan aktifitas belajar tertentu dimana semua
sumber belajar yang mereka butuhkan telah disediakan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai adalah siswa dapat membandingkan beberapa teori penciptaan alam semesta. Untuk dapat
mencapai tujuan pembelajaran tersebut, guru telah mengidentifikasi dan menyiapkan berbagai bentuk
dan jenis sumber belajar yang berisi informasi tentang teori penciptaan alam semesta berupa buku,
VCD, CDROM, alamat situs di internet dan mungkin seorang narasumber ahli astronomi yang diundang
khusus ke kelas. Kemudian siswa ditugaskan untuk mencari minimal dua teori tentang penciptaan alam
semesta secara individu atau kelompok baik dari buku, VCD, maupun internet sesuai dengan seleranya.
Siswa juga diminta untuk menganalisis perbedaan dari berbagai segi tentang teori-teori tersebut dan
membuat laporannya dalam MSWord yang kemudian dikirim ke guru dan teman lainnya melalui e-mail.
1 Case-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diberikan suatu permasalahan terstruktur
untuk dipecahkan. Dengan casebased learning solusi pemecahan masalahnya sudah tertentu karena
skenario sudah dibuat dengan jelas. Tapi, dalam problembased learning kemungkinan solusi pemecahan
masalahnya akan berbeda. Misal, dua orang siswa diberikan satu permasalahan dengan pendekatan
problem-based learning. Maka solusi yang diberikan oleh siswa yang satu dengan siswa yang lain
mungkin berbeda.
3. Simulation-based learning
memiliki karakteristik dimana siswa diminta untuk mengalami suatu peristiwa yang sedang
dipelajarinya. Sebagai contoh, siswa diharapkan dapat membedakan perubahan percampuran warna-
warna dasar. Maka, melalui suatu software tertentu (misal virtual lab) siswa dapat melakukan berbagai
percampuran warna dan melihat perubahanperubahannya. Dan ia dapat mencatat laporannya dalam
bentuk tabel dengan menggunakan MSExcell atau MSWord. Atau kalau perlu mempresentasikan
hasilnya dengan menggunakan MSPowerpoint.
4. Colaborative-based learning
memiliki karakteristik dimana siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, melakukan tugas yang
berbeda untuk menghasilkan satu tujuan yang sama. Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan
pembelajaran dimana siswa dapat membedakan beberapa teori penciptaan alam semesta, siswa dibagi
ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok ditugas kan mencari satu teori penciptaan alam
semesta. Kemudian ketiga kelompok tersebut berkumpul kembali untuk mendiskusikan perbedaan teori
tersebut dari berbagai segi dan membuat laporannya secara kolektif. Salah seorang siswa dapat ditunjuk
untuk menyajikan hasilnya.
Beberapa Pertimbangan yang Perlu Diperhatikan dalam Mengintegrasikan TIK ke dalam proses
pembelajaran Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK
untuk pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah:
1) penolakan/keengganan untuk berubah (resistancy to change) khususnya dari policy maker (kepala
sekolah dan guru);
2) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru);
3) ketersedian fasilitas TIK;
4) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan
5) keberlangsungan (sustainability) karena keterbatasan dana.
Penolakan atau keengganan untuk berubah, khususnya dari para pembuat kebijakan sekolah
dan guru merupakan hal yang wajar mengingat TIK masih dapat dikatakan sebagai suatu inovasi (hal
baru). Sikap para pengambil kebijakan atau guru terhadap TIK sebagian besar masih rendah disebabkan
karena kurangnya pengetahuan terhadap TIK dan peran pentingnya bagi pembelajaran. Disamping itu,
sikap keengganan/penolakan inipun didukung oleh karena redahnya melek teknologi (ICT literacy).
Sehingga, kesiapan guru dan komptensi guru untuk memanfaatkan TIK dalam pembelajaran menjadi
lemah. Walhasil, fasilitas TIK di sekolahpun menjadi terbatas sehingga keberlangsungan pemanfaatan
TIK di sekolah juga masih dipertanyakan. Terlebih-lebih, ketersediaan bahan belajar berbasis aneka
sumber (resources-based learning packages), seperti modul, buku paket, VCD pembelajaran, CD-ROM
pembelajaran, maupun bahan belajar online masih terbatas. Sebagai sumbang saran, dalam rangka
mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran (kelas), penulis merekomendasikan beberapa hal
berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan:
- Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian TIK
untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencananagan visi, misi, peraturan dan rencana induk/rencana
strategis sekolah ke depan.
- e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah menyadari penuh
pentingnya peran TIK untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya
di sekolah.
- Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kompetensi guru dalam
mengintegrasikan TIK kedalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode pembelajaran yang
efektif). Bila perlu guru mengadopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif
dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dpat dilakukan
melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan
sekolah dan lain-lain. Disamping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK
untuk pembelajaran.
- Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar berbasis aneka
sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer
yang terhubung dengan LAN, koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang
kelas. - Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul,
LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara
membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
- Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga
teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memlihara peralatan tersebut.
REFERENSI
- Dryden, Gordon; dan Voss, Jeanette; (1999), “the Learning Revolution: to Change the Way the World
Learn”, the Learning Web, Torrence, USA, http://www.thelearningweb.net. Fryer, Wesley A.; (2001),
“Strategy for effective Elementary Technology Integration”,
http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/ powerpointoutline.pdf NIE, Singapore, “General
Typology of Teaching Strategies in Integrated Learning System”, http://www.microlessons.com. Norton,
Priscilla; dan Spargue, Debra; (2001), “Technology for Teaching”, Allyn and Bacon, Boston, USA. UNESCO
Institute for Information Technologies in Education (2002), “Toward Policies for Integrating ICTs into
Education” Hig-Level Seminar for Decision Makers and Policy-Makers, Moscow 2002. Yusufhadi Miarso;
(2004). “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan” Prenada Media, Jakarta.

D.
Konsep komunikasi dunia maya
Dunia maya atau cyberspace merupakan media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai
untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung).Dunia
maya atau cyberspace ini merupakan integrase dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan
jaringan computer (sensor,tranduser,koneksi,transmisi,prosesor,signal,kontroler) yang dapat
menghubungkan peralatan komunikasi (computer,telepon genggam,instrumentasi,elektronik dan lain-
lain) yang tersebar diseluruh penjuru dunia secara interaktif yang termediasi oleh internet. Dalam hal ini
bisa dibilang bahwa dunia maya atau cyberspace merupakan media yang tetap mengandalkan control
penuh dari user atau penggunanya.Di dalam dunia maya sendiri terdapat 3 bentuk komunikasi yaitu
komunikasi antara mechine-mechine,people-mechine,people-people. Hal ini selaras dengan aspek
komunikasi yang dijelaskan dalam teori CMC (Computer mediated communications),bahwa computer
mampu menjadi media dalam proses komunikasi,Marc smith mengatakan bahwa jarak tidak
mempengaruhi proses komunikasi dan interaksi,sebab interaksi yang terjadi melalui jaringan computer
pada dasarnya dapat diwakilkan dengan teks (Dalam Nasrullah,2012:95) 2 Pesatnya perkembangan
teknologi dan kecanggihan internet saat ini,telah menjadi suatu bagian penting di kehidupan
masyrakat.Dengan munculnya internet ini banyak yang berharap akan munculnya orang-orang
cerdas,berani dan kreatif yang mampu memanfaatkan dunia maya sebagai wadah untuk membangun
kesadaran publik untuk masa depan yang lebih baik. Bagi individu yang sadar diri, mereka menggangap
dunia maya yang disediakan internet jelas bisa digunakan sebagai medan pertempuran virtual bahkan
dapat menjadi sesuatu yang individu inginkan. Semakin berkembang pesatnya bidang teknologi,
semakin berkembang pula informasi-informasi baru yang bermuncul. Teknologi internet menyebabkan
munculnya media-media sosial yang memudahkan khalayak dalam berinteraksi. Komunikasi yang
biasanya secara tatap muka kini dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Williamson sebagimana
dikutip Widjajanto (2013: 143) menyatakan bahwa media sosial adalah media yang didesain untuk
menyebarkan pesan melalui interaksi sosial dan dibuat dengan teknik-teknik publikasi yang sangat
mudah diakses dan berskala besar. Popularitas media sosial telah mengubah lanskap industri media
secara signifikan. Media sosial memungkinkan penggunanya menjadi produsen konten di berbagai topik,
termasuk infotainment.Setiap media sosial mempunyai fenomenafenomena.Baik dikalangan
penggunanya itu sendiri maupun diluar pengguna media sosial tersebut.

Teori Komunikasi Dunia Maya

Cybercommunity saat ini sangat mempengaruhi kehidupan nyata manusia. Kebanyakan individu menjadi tergantung
kepada jejaring sosialnya. Dimulai dari menjalin komunikasi kembali dengan sahabat-sahabat lama, karena dengan
bantuan internet di jejaring sosial kita bisa “bertemu” dengan orang-orang di masa lalu dan di masa sekarang. Di
jejaring sosial kita juga bisa menemukan teman baru untuk memperluas pergaulan kita dalam masyarakat maya.
Saat ini kebanyakan orang lebih memilih “aktif bergaul” di media sosial. Mereka dapat berkomunikasi dengan
chatting seperti menggunakan yahoo messenger, blackberry messenger dan sebagainya. Dalam dunia komersil,
semua aktivitas dapat dilakukan dalam dunia maya. media sosial juga bisa digunakan menjadi media dalam
berbisnis. Masyarakat saat ini membutuhkan sesuatu yang cepat dan praktis. Sehingga media sosial dan jaringan
internet saat ini sangat dibutuhkan untuk membuka dan memperlancar peluang bisnis. Tanpa harus bertatap muka
secara langsung melalui media sosial bisnis tetap bisa berjalan dengan lancer. Oleh karena itu di dalam media sosial
Universitas Sumatera Utara sangat dibutuhkan rasa kepercayaan dan kejujuran, agar bisnis dapat berjalan dengan
lancar. Istilah dunia maya memiliki beberapa makna berbeda. Dalam novel Willian Gibson 19841994, Neuromancer,
istilah dunia maya muncul pertama kalinya untuk merujuk pada jaringan informasi luas yang oleh para penggunanya
disebut dengan console cowboys akan “muncul”, atau koneksi langsung dengan sistem-sistem syaraf mereka.
Berikut adalah sebuah definisi lebih formal yang dikembangkan dari konsep Gibson tetapi memberikan keterkaitan
langsung dengan sistem syaraf: Dunia maya adalah realita yang terhubung secara global, didukung komputer,
berakses komputer, multidimensi, artifisial atau virtual. Dalam realita ini, di mana setiap komputer adalah sebuah
jendela, terlihat atau terdengar objek-objek yang bukan bersifat fisik dan bukan representasi objek-objek fisik, namun
lebih merupakan gaya, karakter dan aksi pembuatan data serta pembuatan informasi murni. Benedikt dalam Severin
dan Tankard, 2008: 445. Dalam pemakaian umum saat ini, dunia maya adalah istilah komprehensif untuk world wide
web, Internet, milis elektronik, kelompok-kelompok dan forum diskusi, ruang ngobrol chatting, permainan interaktif
multi-player dan bahkan e- mail. Burhan Bungin 2006: 290-291 menyatakan teori komunikasi dunia maya atau yang
sering dikenal teori cybercommunity merupakan teori paling akhir dalam pengembangan ilmu komunikasi atau
sosiologi komunikasi karena telah lahir sebuah kajian ilmiah mengenai cybercommunity, di mana cybercommunity ini
memiliki struktur yang menyerupai kehidupan sosial masyarakat nyata, sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah
teori cybercommunity. Teori ini lebih menekankan kelompok sosial yang berkembang di dalam dunia maya.
Bagaimana terciptanya kelompok-kelompok, bagaimana komunikasi kelompok dan bagaimana sebuah media
kelompok di dunia maya mengonstruksi pesan penggunanya. 1. Severin dan Tankard 2008 dalam bukunya teori
komunikasi menjelaskan tentang teori komunikasi dunia maya, meliputi aspek aspek penting teori Universitas
Sumatera Utara komunikasi dunia maya, yaitu konsep dasar komunikasi digital, cyber space, virtual reality VR,
komunitas maya virtual community, chat room, multi user domain MUD, interaktivitas, hypertext dan multimedia. 2.
Gagasan McLuhan tentang perkembangan media baru new media melibatkan kesenjangan pengetahuan kredibilitas
media penentuan agenda manfaat dan gratifikasi, pembauran inovasi dan lain-lain. 3. Riset-riset baru pada
komunikasi dunia maya yaitu mediamorfosis, riset tentang hypertext, riset multimedia, riset desain antar muka
komunikasi dua arah, riset eros digital atau cinta online, riset kecanduan internet dan depresi. Konsep virtualitas
dipandang sebagai sifat kemayaan yang tercipta akibat mekanisme jaringan komputer cyberspace, akan tetapi
melingkupi konsep maya dalam pengertian yang lebih luas yang tercipta dalam ruang-ruang yang lebih luas. Teori
cybercommunity dianggap penting karena merumuskan sejauh mana teknologi informasi seperti sosial networking
berperan serta menciptakan konsep nasionalisme kekinian dengan pembentukan kelompok dalam dunia maya.
Dalam kelompok dunia maya banyak faktor yang membuat seseorang menikmati kelompok, antara lain unsur
ketidaksengajaan individu serta proses pencarian kelompok.

PERKEMBANGAN MEDIA SOSIAL Dewasa ini perkembangan sosial media kian hari kian meningkat, pada
tahun 1997 awalnya sosial media ini lahir berbasiskan kepercayaan, namun mulai dari tahun 2000-an
hingga tahuntahun berikutnya media sosial mulai diminati semua orang hingga mencapai masa
kejayaannya. Perkembangan media sosial membuat kinerja menjadi lebih cepat, tepat, akurat sehingga
dapat meningkatkan produktivitas yang dihasilkan. Adapun media sosial yang sering digunakan pada
saat ini adalah Facebook, Twitter, Instagram, Path, Tumblr, dan media sosial yang lainnya. Salah satu
pengguna media sosial sekarang adalah pelajar, karena dengan menggunakan media sosial pelajar dapat
dengan mudah berkomunikasi jarak dekat maupun jarak jauh tanpa harus bertatap muka atau bertemu.
Media sosial bagi para pelajar merupakan hal yang penting tidak hanya sebagai tempat memperoleh
informasi yang menarik tetapi juga sudah menjadi lifestyle atau gaya hidup. Banyak pelajar yang tidak
ingin di anggap jadul karena tidak memiliki akun media sosial.Media sosial bagi para pelajar biasanya di
gunakan untuk mengekspresikan diri, berbagai segala tentang dirinya kepada banyak orang terutama
teman-teman dan media sosial juga bisa di jadikan sebagai tempat untuk menghasilkan uang. Kini sosial
media sudah menjadi faktor penting interaksi bagi manusia. Ditambah lagi dengan munculnya
smartphone yang menyediakan kebebasan bersosial media dan provider yang menyediakan murahnya
layanan media sosial. Hal ini jelas mengakibatkan remaja khususnya para pelajar melupakan akan
batasan-batasan pergaulan yang seharusnya mereka ketahui. Besarnya dampak media sosial tidak hanya
memberikan dampak postif tetapi juga memberikan dampak negatif kepada manusia terutama
dampaknya bagi interaksi sesama manusia yang saat ini telah di pengaruhi media sosial. Media sosial
sedikit demi sedikit membawa kita ke suatu pola budaya yang baru dan mulai menentukan pola pikir
kita. Media sosial dapat membuat seseorang menjadi ketergantungan terhadap media sosial.
Kondisi Pendidikan Remaja Indonesia Pada dunia pendidikan remaja kini, proses belajar tidak lagi
terfokus pada penyampaian informasi yang dibatasi dinding-dinding kelas. Ledakan ilmu pengetahuan
dan teknologi membawa jejaring sosial sangat popular pada perkembangan komunikasi saat ini (Rasmita
Kalasi, 2014). Sosial media menciptakan sebuah budaya baru di mana para pengajar dan para peserta
didiknya tidak hanya dapat melakukan proses belajar di dalam konteks ruangan secara fisik, namun
karena munculnya media sosial memungkinkan proses pendidikan dilakukan dalam ruang lain secara
maya. Penggunaan sosial media secara formal dapat diartikan sebagai kombinasi antara belajar secara
analog maupun secara online. Komunikasi media sosial yang terintegrasi dengan baik melahirkan
lingkungan belajar yang baru, peran guru perlahan berubah karena adanya teknologi media yang
berkembang. Rasmita Kalasi (2014) mengungkapkan bahwa peran guru yang awalnya merupakan
pemberi pengetahuan, kini berubah menjadi pihak yang menfasilitasi pembagian pengetahuan karena
informasi dan ilmu yang didapat oleh para peserta didik tidak lagi hanya didapat dari guru saja.
Penggunaan media sosial sebagai pembangun kualitas pendidikan mulai digalakkan. Berdasarkan
penelitian Rasmita Kalasi pada tahun 2014, diperoleh hasil bahwa 90 persen peserta didik yang duduk di
tingkatan fakultas menggunakan sarana media sosial dalam belajar dan mengerjakan tugasnya atau
menggunakan media sosial untuk membangun karier di luar dunia kelas formal. Pembangunan
pendidikan remaja lewat media sosial dapat membuktikan bahwa setiap individu pada dasarnya butuh
berkomunikasi dan terlibat di dalam sebuah komunitas, terlepas dari apapun bentuk komunitas yang
ada (Rasmita Kalasi, 2014). Setiap siswa remaja maupun mahasiswa yang terdorong untuk menggunakan
media sosial sebagai salah satu media belajar perlu memiliki pemikiran yang kritis sebelum
menggunakannya, serta dapat menyaring informasi yang diperoleh dalam internet dan media sosial.
Pendidikan dengan tingkat yang lebih tinggi di Indonesia telah menerapkan sedikit demi sedikit
pemanfaatan media sosial dan internet dalam ruang lingkup didikannya. Kehadiran Media sosial telah
menjadi pelengkap dalam proses penyampaian informasi secara digital, namun kehadirannya tidak serta
merta menggantikan posisi media belajar lain yang sifatnya analog seperti media cetak. Penggunaannya
terbatas pada kemampuan pengguna yang belum mempuni, seperti jaringan internet yang masih sulit
didapatkan pada daerah-daerah tertentu di Indonesia.

8. Media sosial dalam dunia pendidikan


Media sosial adalah sebuah media yang isinya diciptakan dan didistribusikan melalui sebuah interaksi
sosial[1]. Media sosial merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya berinteraksi dan
memberikan timbal balik dengan sesama pengguna; membuat, mengedit dan membagikan informasi
dalam berbagai bentuk (Prof. Neil Selwyn[2] ,2012). Pertumbuhan media sosial selama beberapa tahun
terakhir telah membawa perubahan cara pemanfaatan internet bagi penggunanya dalam dunia
pendidikan. Media sosial dalam dunia pendidikan secara fungsinya dikondisikan sebagai bentuk
kolaborasi, keramahan, dan kreativitas penggunanya. kondisi yang terjadi kini, banyak kalangan
masyarakat belum menyadari pentingnya kebutuhan sosial media dan internet dalam dunia pendidikan.
Halpin dan Tuffield (2010)[3] mengatakan pentingnya untuk menyadari bahwa dari sisi luar sebuah web
dalam internet selalu bersifat sosial. Penggunaan media sosial dalam dunia pendidikan dirasakan belum
dipandang istimewa. Penggunaan media sosial dalam dunia pendidikan sebagai media belajar telah
dipandang penting pada pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi, karena sebagai bagian dalam
dunia ber-jaringan sosial, pengguna media telah melampaui diri mereka sendiri dan menjadi bagian
dalam suatu jaringan yang lebih luas. Proses pendidikan yang merupakan sebuah proses terstruktur
dalam menyerap informasi dan ilmu pengetahuan.

9. Pemanfaatan media sosial dalam proses belajar


Proses belajar merupakan sebuah proses penyampaian informasi, ilmu pengetahuan, informasi yang
secara formal dan informal sering terjadi di sekeliling kita. Proses belajar merupakan sebuah kondisi
mengenai kapasitas individu untuk mengetahui lebih luas. Melalui sebuah media sosial, pengetahuan
dan proses belajar tidak lagi hanya berfokus pada akumulasi pengetahuan individu sebelumnya.
Terlepas dari baik ataukah buruk, menggunakan media tersebut sebagai media dalam proses belajar,
maka jelas bahwa aplikasi dan perangkat media sosial telah berhasil menyediakan sebuah konsep
tantangan baru dalam pembentukan pendidikan formal yang telah ada saat ini. Pemanfaatan media
sosial sebagai media belajar telah menunjang sebuah teori klasik mengenai teori pembelajaran sosial.
Teori ini mengatakan bahwa proses belajar sosial berfokus pada bagaimana seorang individu belajar
dengan menjadikan orang lain sebagai subjek belajarnya (Bandura, 2001). proses belajar ini telah
ditunjang oleh media digital seperti bagaimana seseorang belajar menggoreng telur dengan melihat
video orang lain menggoreng telur (Grant and Meadows, 2010: 53). Selain belajar mengenai sebuah
perilaku sederhana mengenai keahlian seseorang, dalam media sosial dapat pula ditemukan bagaimana
seorang individu belajar dan mulai memikirkan konsekuensi yang akan timbul dari perilaku yang
dilakukan oleh subjek belajarnya. Media sosial pada kelanjutannya tidak hanya mengajarkan bagaimana
sebuah teknologi komunikasi dan informasi memberikan dampak, tetapi juga mengajarkan bagaimana
sebuah teknologi komunikasi diserap dan diadopsi (Bandura, 2001). Pemanfaatan Media sosial kini
banyak terjadi pada proses pendidikan jarak jauh (e-learning) di mana proses belajar mengajar tidak lagi
terbatas pada ruang kelas, jarak, dan waktu.

10. Manfaat Media Sosial Bagi Pelajar


Media sosial memiliki daya tariknya sendiri bagi setiap kalangan, begitupula dengan kalangan remaja.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kementrian Kominfo dalam penelusuran para pengguna
aktivitas online pada anak usia remaja tahun 2014, ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media sosial
sangat melekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Dalam studi ini ditemukan bahwa dari 98 persen
remaja yang di survei tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet.
Daya tarik internet dan media sosial inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam
membangun kemampuan berkomunikasi seseorang. Remaja saat ini begitu peka dengan perubahan
yang terjadi dalam teknologi sosial, mereka mengikuti perkembangan tersebut dan menguasainya
dengan proses belajar menggunakan metode “Trials and Error” (Rasmita Kalasi, 2014). Jaringan sosial
seperti Facebook, Twitter dan YouTube telah cepat menjadi bagian dari kehidupan Anda sehari-hari.
Salah satu alasan mengapa media sosial sangat populer adalah karena memungkinkan pengguna untuk
mengubah pengalaman mereka dan berinteraksi dengan jaringan internet. Dengan banyaknya teknologi
baru dan perkembangan jaringan sosial saat ini, ada banyak manfaat dan alasan bagi semua orang,
termasuk pelajar atau mahasiswa untuk menggunakan media sosial. Sebuah penelitian menemukan
hasil bahwa 70% pelajar merasa bahwa teknologi yang mereka gunakan untuk belajar harus disesuaikan
dengan diri mereka sebagai pengguna media sosial. Berikut sejumlah manfaat penggunaan media sosial
untuk pendidikan : 1. Menciptakan Komunitas Banyak pelajar ditantang untuk bisa menyesuaikan diri
dengan konsep pembelajaran yang baru dan tugas-tugas khusus. Media sosial membantu memusatkan
pengetahuan kolektif seluruh kelas untuk membuat kegiatan belajar dan berkomunikasi menjadi lebih
efisien. Contohnya : a. Memulai daftar kontak kelas untuk berkolaborasi dan saling membagikan tips-tips
pelajaran tertentu b. Mengundang guru yang menggunakan media sosial untuk bergabung dengan
kelompok belajar sehingga bisa memberi masukan Anda harus ingat bahwa jutaan pelajar dimanapun
mereka berada sedang mempelajari hal yang sama saat ini. Jaringan kelompok belajar tak harus terbatas
pada lingkup sekolah yang sama. Dalam hal ini, pelajar terdorong untuk menjadi ‘ahli’ dalam
keterlibatan aspek internet. Tidak hanya belajar untuk berinteraksi dengan banyak orang, pelajar juga
belajar cara penggunaan media sosial tersebut. 2. Melanjutkan Pembahasan Pelajaran Memulai jaringan
kelompok belajar kolaboratif bisa menghemat waktu dan tenaga banyak orang. Bagi pelajar yang tak
dapat menghadiri kelas tertentu, tak perlu khawatir ketinggalan pelajaran karena saat ini media sosial
seperti Periscope, Skype atau SnapChat bisa membantu pelajar. Para pelajar dapat menggunakan
Google Hangout untuk memfasilitasi mereka ketika belajar kelompok. Pelajar yang ingin mengajukan
pertanyaan kepada ahli, dapat memanfaatkan Twitter atau Jelly yang dirancang untuk membangun
koneksi melalui pertukaran pertanyaan atau jawaban antar pengguna. 3. Mengatur Sumber
Pembelajaran Media sosial dapat membantu untuk menjaga semua informasi agar terorganisir dan
mudah diakses. Dengan media sosial, maka data yang pelajar miliki akan aman, akurat dan bisa saling
dibagikan menggunakan tools seperti Pinterest atau Tumblr. Jika dokumen yang dibutuhkan tidak atau
belum diposting ke media sosial, gunakan Google Drive, Box atau Dropbox untuk mengumpulkan materi
pembelajaran. Selain itu, pelajar juga bisa menggunakan layanan berbagi konten seperti Google Docs
untuk tugas kelompok. Fitur tersebut membantu pelajar dalam mengorganisir kelompok dan tugas
menjadi lebih mudah. 4. Mendukung Materi Pembelajaran Media sosial dapat membantu
mengidentifikasikan konten tambahan untuk memperkuat atau memperluas pembelajaran pelajar.
Misalnya saja YouTube membantu menyediakan video bagi pelajar secara audio visual ketika dibutuhkan
untuk memperjelas materi pembelajaran. Media sosial memungkinkan pelajar mengirimkan bermacam-
macam dokumen seperti video, reminder, voice note, gambar, data dan lainnya. 5. Bertambahnya
Wawasan Para pelajar yang merupakan pengguna media sosial secara langsung saling memberikan dan
menerima beragam informasi. Mereka membagikan tips dan trik, proyek DIY (Do It Yourself) dan
informasi yang berguna untuk bahan pelajaran. Kemampuan mereka untuk mengakses, menganalisa,
menahan dan berbagi informasi kian meningkat seiring berjalannya waktu. Bahkan mereka tak sadar
sudah mengembangkan kemampuan mereka tersebut. 6. Kemampuan Marketing Media Sosial
Berkembangnya media sosial menciptakan ‘dunia’ marketing yang baru, dimana membutuhkan para
profesional atau ahli untuk membangun lapangan bisnis. Ketika para pengguna media sosial bergabung
dalam lingkup tersebut, maka secara langsung mereka memberikan keahlian mereka.

Dampak Negatif Media Sosial


a. Depresi untuk sisi buruknya jejaring sosial bisa dianggap sebagai pencipta depresi bagi penggunanya .
b. Ketergantungan Bahkan , hal ini juga menjadi sebuah penyakit baru seperti misalnya facebook
depression . Penyakit ini awal nya terlihat sama seperti kecemasan, kelainan psikis, ketergantungan atau
kebiasaan buruk lainnya. Meskipun hanya terlihat di facebook maka penyakit ini pun mendapatkan
perhatian serius. c. Tidak Bisa Mengontrol Diri Pengguna adiktif media sosial dinilai tak bisa mengontrol
dirinya. Bagi mereka yang mengalami kecanduan akut, bahkan memiliki kontrol diri rendah. Menurut
peneliti pengguna terlalu peduli akan citra mereka di media sosial, khususnya harga diri pada teman-
teman terdekat. d. Sisi negatif menjadi dominan jika pemakai salah menggunakannya, diantaranya
sebagai berikut: Sebagai penipuan di antaranya pemerkosaan yang kesemuanya cenderung ke arah
kriminallits Sebagai dalih meminta pulsa dengan memanfaatkan jejaring facebook. e. Dampak negatifnya
adalah semakin maraknya penipuan, pencemaran nama baik /penggunaan,kejahatan seksual(pornoaksi
dan pornografi),judi online dan dampak kejahatan lainnya yang sangat marak terjadi akhir-akhir ini.
Pelaku kejahatan menggunakan media sosial sebagai alat untuk menjaring korban. Dari media sosial
korban akan dideteksi selanjutnya tinggal menciduknya saja. f. Seorang pelajar biasanya akan menjadi
lebih malas belajar . g. Banyak para remaja yang kecanduan menggunakan media sosial tanpa mengenal
waktu sehingga menurunkan produktifitas dan rasa sosial di antara remaja pun berkurang. h. Membuat
waktu terbuang sia-sia i. Menambah beban pengeluaran j. Menggangu konsentrasi belajar k.
Mengancam kesehatan

b. Manfaat komunikasi virtual


Terdapat beragam pengertian komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi.
Diantaranya, menurut Himstreet dan Baty dalam Business Communications : Principle and
Methods, komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu
sistem yang biasa, baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
Sementara itu menurut Bovee, komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan
pesan. Dari pengertian komunikasi diatas bisa kita pahami bahwa pertama, dalam proses
komunikasi selalu melibatkan dua pihak atau lebih, pemberi pesan dan penerima pesan. Kedua,
adanya pesan yang disampaikan bisa dalam berbagai bentuk: kata, gambar, teks, simbol, dan
sebagainya. Apa pun bentuknya, inti yang diharapkan adalah adanya kesamaan pemahaman
antara komunikator dan komunikan atas pesan tersebut. Agar leih jelas, dibawah ini tergambar
bagan proses komunikasi.

Makna yang bisa kita pahami dari bagan proses komunikasi diatas adalah bahwa
komunikasi terjadi dalam hubungan interaksi antara pihak yang satu dengan pihak lainnya.
Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi manusia.Seiring dengan
perkembangan zaman, muncullah kebutuhan untuk dapat berkomunikasi secara langsung
walaupun terpisah jarak yang jauh. Didukung dengan perkembangan teknologi informasi,
komunikasi di dunia maya akhirnya menjadi salah satu solusi untuk kebutuhan tersebut dan
menjadi salah satu aktivitas yang sering dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memahami lebih jelas mengenai konsep komunikasi virtual dikutip dari jurnal
Kajian Teoritis Komunikasi Virtual oleh Edwi Arief Sosiawan dijelaskan tentang perbedaan
internet dari media komunikasi klasik dalam penggunaannya oleh komunikator dan komunikan.
a. Pertama  ; penggunaan internet sebagai medium untuk berkomunikasi menuntut penggunanya
memiliki pengetahuan cara menggunakan software komputer secara umum dan software aplikasi
internet secara khusus. Disini berarti terdapat penggunaan dan pengembangan kognitif dari
pengguna internet. Semula penggunaan media komunikasi klasik oleh pengguna bersifat pasif
sedangkan penggunaan internet memaksakan penggunanya memiliki kemampuan intelegensi
dalam menggunakan internet.
b. Kedua, komunikasi dalam internet memiliki konteks komunikasi massa tetapi juga
membentuk komunikasi personal dalam jumlah banyak yaitu: bahwa pengguna internet dalam
melakukan komunikasi berhadapan dengan pengguna lain dalam jumlah banyak yang masing-
masing berperan sebagai komunikator dan komunikan.
c. Ketiga, sifat dan bentuk pesan-pesan yang disampaikan melalui semua media komunikasi
klasik, dimiliki oleh medium internet; artinya dalam internet pengiriman pesan menggunakan
berbagai bentuk seperti teks, grafis, video dan suara.
d. Keempat, dalam komunikasi melalui internet dimungkinkan terjadinya komunikasi antar
berbagai personal yang rentang perbedaan baik secara sosiologis maupun budaya sangat berbeda.
Komunikator maupun komunikan adalah person-person yang mungkin sekali berbeda bahasa,
budaya , ras, bangsa latar belakang sosial ekonomi, pendidikan dan sebagainya.
Dari perbedaan tersebut internet memilki karakteristik diantaranya pengguna internet harus
memiliki pengetahuan tentang penggunaan internet, komunikasi dalam internet memiliki konteks
komunikasi massa tetapi juga membentuk komunikasi personal dalam jumlah banyak, internet
pengiriman pesan menggunakan berbagai bentuk seperti teks, grafis, video dan suara.
Komunikasi melalui internet dimungkinkan terjadinya komunikasi antar berbagai personal yang
rentang perbedaan baik secara sosiologis maupun budaya sangat berbeda.

Perkembangan media teknologi informasi dan komunikasi pada era sekarang ini menunjukan betapa
semakin banyak media komunikasi yang beredar dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan sangat
banyak inovasi dan metamorphosis dari pada media komunikasi yang sedang mewabah dalam
masyarakat sekarang ini. Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah masyarakat cendrung
menggunakan telephon genggam untuk menjadi media komunikasi antara satu orang kepada orang
lain yangberada di tempat lain. Kenyataan telah menjadi sebuah fenomena yang sudah lazim
ditengah masyarakat dunia.
Namun tidak hanya sampai disitu hal lain yang menjadi perhatian adalah yang mana bersama
berjalannya waktu telefon genggam yang sering digunakan sudah berinovasi menjadi telephone
pintar “smartphone”.
Masyarakat kini beramai-ramai menggunakan berbagai jenis Smarphone khususnya Android.
Hal itu seturut dengan kemampuan, motivasi, keinginan serta kebutuhan masyarakat terhadap
kegunaan dari pada media tersebut.
Kini banyak masyarakat yang beralih menggunakan Smartphone android untuk dijadikan sebagai
media untuk mengakses informasi secara mudah dan cepat. Salah satu bentuk pemanfaatan yang
perlu kita ambil untuk dunia pendidikan khususnya untuk kalangan mahasiswa adalah dalam
mengakses informasi edukatif, alasannya karena perkembangan ini juga seturut dengan
perkembangan sistem informasi akademik pada universitas –universitas seperti Portal
Akademik,digital liberary dan perkembangan dunia internet yang kini menyediakan ribuan hingga
jutaan link dan Laman web ( situs) yang memuat hal –hal yang bersifat pendidikan seperti riset,
ejournal, ebook, ensiklopedi, digital liberary yang dapat diakses secara online. Aktivitas ini
merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan menggunakan smartphone android.
Untuk itu android dimanfaatkan sebagai media oleh mahasiswa untuk mengakses informasi edukasi.
Semakin banyak mahasiswa yang menggunakan smartphone android, namun belum tentu dalam
pemanfaatan media tersebut dimanfaatkan juga untuk mengakses informasi edukasi.

Dalam konteks pendidikan pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi komunikasi virtual adalah
guru dengan siswa. Dibawah ini adalah bagan proses komunikasi guru dengan siswa di dunia
maya.

Menurut Rusman, dkk. dalam bukunya Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi menjelaskan ada sejumlah manfaat  berkomunikasi yang dilakukan secara virtual,
diantaranya:
1.      Cepat, komunikasi atau pertukaran informasi bisa dilakukan dengan cepat. Meskipun jarak jauh,
tidak perlu menunggu waktu lama.
2.      Mudah, apabila sudah menguasai teknis operasioanal komputer dan fasilitas pendukung, proses
komunikasi dapat dilakukan dengan mudah.
3.      Bisa dilakukan secara real time  dan un real time. Secara real time artinya komunikasi dilakukan
secara langsung, yaitu komunikator dan komunikan berinteraksi dengan waktu yang sama tanpa
adanya penundaan waktu untuk memberi respons  pesan yang diterima. Sedangkan un real
time yaitu kebalikan dari real tme. Ada penundaan waktu untuk memberi respons pesan yang
diterima.
4.      Bisa individual atau grup sesuai keperluan.
5.      Jumlah dan jenis pesan besar dan beragam. Bentuk pesan dalam komunikasi virtual diantaranya:
teks, suara dan gambar atau gabungan diantaranya ketiganya.

Menurut Lies Sudibyo (2012) dalam jurnal Peranan dan Dampak Teknologi Informasi dalam
dunia Pendidikan di Indonesia menjelaskan dampak positif yang timbul dari pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan meliputi : a) Informasi yang
dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah diakses untuk kepentingan pendidikan, b) Inovasi
dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-learning  yang semakin
memudahkan proses pendidikan, c) Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga akan
memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis teleconference yang tidak
mengharuskan pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan, d) Sistem administrasi
pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem
teknologi informasi ini. Dengan adanya manfaat dari komunikasi virtual diharapkan berbagai
manfaat dan dampak positif yang ditimbulkan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam dunia
pendidikan.

Daftar Pustaka:
Bovee, Courtland L,  Thill, John V. 1998. Bussiness Comunication Today. Ed. 5. Upper Saddle
River: New Jersey. Prentice Hall International.
Himstreet, William C, Baty, Wayne Murlin. 1990. Bussines Comunicationss : Principles and
Metodhs. Boston: PWS-Kent Publishing Company.
Rusman, dkk. 2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung:
Raja Grafindo Persada.
Sudibyo, Lies. 2011. Teknologi Informasi Pendidikan. Peranan dan Dampak Teknologi
Informasi dalam dunia Pendidikan di Indonesia.  2(20): 175-185.
Sosiawan, Arief Edwi. 2002. Internet dalam Prespektif Ilmu Komunikasi. Kajian Teoritis
Komunikasi Virtual. 6(11): 1-12

omunikasi memang menjadi hal yang utama dalam kehidupan manusia, baik dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, juga
pemerintahan. Untuk menjalin komunikasi, banyak cara serta media yang bisa kita gunakan untuk membantu proses komunikasi agar
bisa mendapatkan respons dan feedback dari komunikan. Hal ini bisa dilakukan melalui ruang virtual/daring maupun luring. Namun,
seperti yang kita ketahui dalam beberapa bulan terakhir, tentunya ketika COVID-19 sudah menjadi pandemi di Indonesia. Komunikasi
luring yang seharusnya dilakukan secara langsung mengalami hambatan, karena virus yang dengan cepatnya menular dari satu orang ke
orang lain. Hal ini mengharuskan kita untuk tidak bertatap muka terlebih dahulu. Akibat dari keadaan tersebut, banyak sektor yang
terdampak mengalami kesulitan, karena belum mampu menyesuaikan dengan keadaan pandemi ini. Oleh karena itu, ruang virtual
menjadi salah satu alternatif yang dianggap efektif dalam menghadapi keadaan seperti ini. Seluruh sektor di dalam masyarakat mau tidak
mau harus segera menyesuaikan diri dengan ruang virtual, jika ingin bisa tetap bertahan di hiruk pikuknya pandemi yang belum ada
kepastian kapan ia akan berakhir ini. Walaupun Presiden Indonesia, Joko Widodo sudah mengumumkan era baru, akan tetapi dalam
artikel yang dimuat indonesia.go.id, beliau menjelaskan bahwa era baru ini adalah hidup berdampingan di tengah-tengah virus yang
belum ditemukan vaksinnya, memang akan menjadi tatanan baru. Masyarakat harus tetap melawan penyebaran virus itu sambil
beraktivitas seperti sediakala. Tentu, aktivitas yang dilakukan bukan seperti sebelum adanya pandemi corona ini. Beberapa penyesuaian
dalam memahami aplikasi virtual yang harus dilakukan oleh masyarakat di new normal era yakni memahami aplikasi virtual.
Komunikasi Virtual dan Cara Kerjanya Komunikasi virtual adalah proses komunikasi yang menggunakan teknologi sebagai sarana
komunikasi antara satu orang dengan orang lain. Hal ini juga membantu feedback yang akan diterima secara langsung melalui ruang
internet yang interaktif. Baca Juga  Siti Walidah, Pejuang Emansipasi dari Muhammadiyah Saat ini sudah banyak developer yang
membuat aplikasi untuk membantu kita dalam berkomunikasi melalui ruang virtual, seperti google meet, zoom, skype, microsoft teams,
dan masih banyak lagi. Untuk mengetahui cara kerjanya, yang paling utama tentunya kita harus memiliki aplikasi pertemuan virtual,
seperti yang sudah disebutkan di atas. Aplikasi ini dapat dilakukan dengan jumlah partisipan yang lebih banyak. Aplikasi ini bisa
digunakan untuk meeting dan pengumpulan berkas, bahkan presentasi. Keunggulan aplikasi-aplikasi ini juga cukup banyak, seperti bisa
melakukan penjadwalan, obrolan tim, rekam, dan masih banyak lagi. Manfaat serta Kelebihan Aplikasi Komunikasi Virtual Komunikasi
virtual ini memang memiliki banyak manfaat, apalagi di era new normal sekarang ini, yang mengharuskan untuk mengurangi pertemuan
secara tatap muka dan menjaga jarak. Kita bisa memanfaatkannya untuk bersosialisasi dengan orang lain, sekolah daring (e-learning),
rapat kerja, pertemuan keluarga, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Apa saja kelebihan jika menggunakan aplikasi virtual? Pertama,
kelebihan dari aplikasi virtual ialah bisa digunakan dengan cepat walaupun dalam jarak jauh dan dengan peserta yang banyak. Akan
lebih mudah jika kita sudah memahami fitur-fitur serta fasilitas pendukungnya yang ada di dalam aplikasi. Kedua, jika menggunakan
aplikasi virtual untuk agenda pertemuan, kita bisa membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran virus corona tanpa merubah
hubungan sosial. Dalam era new normal ini, menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku
Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tetapi ditambah dengan penerapan
protokol kesehatan, guna mencegah terjadinya penularan COVID-19. Oleh karena itu, mengikuti apa yang diserukan oleh Ketua Tim
Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang mengharuskan agar tetap berhati-hati dalam beraktivitas, sehingga
pertemuan ruang virtual harus tetap kita kuasai untuk menunjang pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas sosial. Baca Juga   Perhelatan
Pernikahan, Bagaimana Tata Caranya di Era New Normal? Saat ini memang banyak masyarakat yang sudah menggunakan aplikasi
virtual. Contohnya, hampir seluruh universitas di Indonesia menggunakan aplikasi ini untuk mengganti perkuliahan luring. Perusahaan,
organisasi, bahkan dalam pemerintahan pun menggunakan aplikasi virtual ini untuk melakukan pertemuan/meeting. Sayangnya, tidak
sedikit juga masyarakat yang belum bisa beradaptasi dalam penggunaan aplikasi virtual ini..

c. Jenis-jenis komunikasi dunia maya

Kata komunikasi berarti melakukan hal tertentu yang berkaitan dengan penggunaan informasi yang
seragam agar bisa menyampaikan maksud kepada orang lain secara jelas. Sedangan daring berarti berada
dalam dunia maya atau dunia semu.

Sehingga komunikasi daring berarti sebuah metode hubungan dengan orang lain yang dilakukan melalui
dunia maya agar bisa menyampaikan suatu maksud tertentu. Selain itu, juga dapat diartikan sebagai
proses pemindahan informasi dari orang satu ke orang lain melalui jaringan internet. Jenis komunikasi
yang satu ini juga sering disebut dengan cyberspace.

Kelebihan Komunikasi Online


 

Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, tidak heran jika cyberspace lebih
diminati terutama bagi kaum millenial. Berbagai kelebihan di bawah ini menjadi latar belakangnya :

 Sangat menghemat waktu dan biaya


 Memudahkan proses interaksi jarak jauh
 Sebagai sarana perdagangan online
 Sebagai sarana riset bagi para ilmuan
 Menjadi media hiburan yang cukup interaktif

 
Jenis Komunikasi Daring

Jenis komunikasi daring


Dan masih ada banyak lagi manfaat dari komunikasi online yang terjadi hingga kini. Lalu apa saja
jenis komunikasi daring itu?

1.Komunikasi daring secara sinkron


Sinkron adalah istilah yang berkaitan dengan ketepatan antara suatu hal dengan yang lainnya.
Komunikasi online yang bersifat sinkron memiliki arti sebagai jenis komunikasi yang real time,
bersamaan dengan orang lain.

Jadi, waktu yang digunakan oleh kedua pihak untuk melakukan komunikasi atau pemindahan informasi
terjadi bersamaan. Kedua pihak tersebut pun bisa langsung bercakap-cakap dengan atau tanpa bertatap
muka.

2. Komunikasi daring secara asinkron


Jika komunikasi online secara sinkron mampu menyuguhkan fasilitas real time, berkebalikan dengan
komunikasi online secara asinkron. Pada jenis komunikasi yang satu ini, orang-orang melakukan
pemindahan informasi dalam waktu yang berbeda.

Biasanya, informasi akan disimpan terlebih dahulu oleh pemberi informasi pada fasilitas yang disediakan
oleh internet sebelum akhirnya diterima oleh penerima informasi.

Contoh Komunikasi Daring Yang Perlu Anda Tahu


 

Anda sudah mengetahui jenis-jenis komunikasi daring yang terdiri dari komunikasi sinkron dan
asinkron. Namun, walaupun sudah mengetahui berbagai hal tersebut, tidak sah rasanya jika anda tidak
mengetahui tentang contoh komunikasi tersebut.

Teknologi yang semakin berkembang ternyata sangat berdampak positif pada sektor komunikasi. Ingin berinteraksi
dengan orang yang berjarak ribuan kilometer pun kini sudah bukan masalah lagi. Coba bayangkan, pada zaman dulu
komunikasi hanya mengandalkan surat yang dikirim dengan tenaga manusia yang membutuhkan waktu berhari-hari
untuk bisa sampai di tujuan. Belum lagi saat harus menerima balasannya, masih harus menunggu lama lagi.

Kini komunikasi jarak jauh pun semakin mudah berkat kehadiran internet. Jenis komunikasi menggunakan media
internet ini disebut juga dengan komunikasi daring. Ternyata jenis komunikasi ini terbagi dalam dua tipe dan memiliki
banyak jenis. Apa saja? Simak ulasannya di bawah ini:

Tipe Komunikasi Daring


Komunikasi daring terbagi dalam dua tipe, yaitu:

 Komunikasi Sinkron (Serempak): adalah komunikasi yang dilakukan pada waktu yang bersamaan (real
time) memakai media perantara berupa komputer, smartphone, atau alat sejenisnya.
 Komunikasi Asinkron (Tidak Serempak): adalah jenis komunikasi yang dilakukan pada waktu yang
berlainan.
Jenis-jenis Komunikasi Daring
Berikut adalah jenis-jenis komunikasi daring yang sering dipakai di kehidupan sehari-hari:
1. Komunikasi Sinkron Chat
Jenis komunikasi sinkron chat bisa dibilang menjadi cara berkomunikasi yang sudah umum dilakukan oleh sebagian
besar orang. Komunikasi dilakukan dengan pesan berbentuk tulisan yang dikirim ke lawan bicara. Diawali dengan
SMS (Short Message Service), kini pengguna bisa berbicara (chatting) dengan platform yang menyediakan jasa
komunikasi obrolan yang bisa digunakan di smartphone dan komputer. Beberapa jenis aplikasi chat yang umum
digunakan antara lain WhatsApp, Line Chat, WeChat, dan lainnya.
2. Komunikasi Sinkron Call
Untuk berkomunikasi sinkron call, pengguna menggunakan aplikasi yang di-install pada smartphone yang terhubung
dengan internet. Cara berkomunikasi ini tidak akan memakai pulsa atau tagihan telepon, melainkan kuota internet.
3. Komunikasi Sinkron Video Call
Sesuai dengan namanya, jenis komunikasi daring ini memakai video call (panggilan video) sebagai penghubung.
Dengan komunikasi sinkron video call, Anda bisa melihat lawan bicara Anda melalui layar komputer atau
smartphone. Jenis komunikasi semacam ini sekarang semakin diminati banyak pengguna teknologi karena tidak
hanya bisa mendengar suara, tapi juga bertatap muka dengan lawan bicaranya.
4. Komunikasi Asinkron Video
Meski sama-sama memakai video, tapi jenis ini berbeda dengan komunikasi sinkron video call. Pada komunikasi
asinkron video, Anda hanya bisa berbagi rekaman video pada lawan bicara Anda. Jadi Anda tidak bisa melihat
secara langsung keadaan orang tersebut.

5. Komunikasi Asinkron Chat


Memiliki metode yang sama seperti asinkron video, komunikasi asinkron chat memungkinkan penggunanya untuk
berbagi pesan singkat memakai pilihan platform yang ada. Hanya saja jenis komunikasi yang terjalin adalah
komunikasi tunda.
6. Komunikasi Jaringan Kerja
Komunikasi jaringan kerja bersifat pribadi dan tentunya berkaitan dengan urusan pekerjaan. Biasanya sebuah
perusahaan mempunyai alat komunikasi sendiri yang hanya bisa digunakan oleh para pegawai perusahaan tersebut,
seperti email atau platform khusus.

7. Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok dilakukan secara berkelompok atau grup yang terdapat beberapa orang di dalamnya.
Biasanya jenis komunikasi ini terbentuk dalam platform. Komunikasi kelompok memudahkan dalam menyebarkan
informasi yang dikhususkan untuk sebuah kelompok, sehingga langsung diterima oleh orang-orang yang tergabung
di dalamnya.

8. Komunikasi Formal
Sesuai dengan namanya, jenis komunikasi daring ini dilakukan saat acara formal (resmi). Tujuannya adalah untuk
menyampaikan informasi yang berkaitan dengan sebuah kepentingan. Beberapa cara untuk melakukan komunikasi
formal adalah memakai video conference, surat perintah, atau komunikasi pada sebuah rapat.

9. Komunikasi Non Formal


Jenis komunikasi non formal dapat terjadi di acara resmi maupun tidak resmi. Saat dilakukan di acara resmi, jenis
komunikasi ini lebih kepada bersifat pribadi.

10. Komunikasi Informal


Berkebalikan dengan jenis komunikasi formal, jenis komunikasi informal bertujuan untuk menjaga hubungan sosial.
Pesan atau obrolan yang dikirim pun tidak direncanakan.

Dengan berkembangan teknologi saat ini, maka untuk urusan komunikasi pun tak perlu lagi dibuat bingung. Saat ini pun
banyak aplikasi yang menyediakan jasa komunikasi. Tentu saja hal ini bisa dengan mudah kamu dapatkan dengan
menginstall aplikasi tersebut.

Jika kamu menggunakan aplikasi untuk menjalin sebuah komunikasi, maka ini disebut dengan komunikasi daring atau
dalam jaringan. Hal ini dikarenakan cara berkomunikasi untuk menyampaikan ataupun menerika pesan dilakukan dengan
atau melalui jaringan internet. Menggunakan internet sebagai salah satu media berkomunikasi bukan lagi hal yang mustahil
untuk dilakukan.

Beberapa aplikasi yang sering digunakan komunikasi dalam jaringan ini antara lain WhatsApp, Skype, dan juga Line.
Melakukan komunikasi dalam jaringan ini tentu saja bisa mempermudah kamu untuk menjalin komunikasi dengan orang
lain, dimana saja dan juga kapan saja.
Ternyata terdapat dua jenis komunikasi daring, antara lain ialah komunikasi sinkron dan juga komunikasi asinkron. Biar
kamu makin paham apa itu komunikasi daring dan juga jenis komunikasi daring, Liputan6.com telah merangkumnya dari
berbagai sumber, Rabu (6/3/2019). Berikut ini pengertian dan juga jenis komunikasi daring yang perlu kamu ketahui.