Anda di halaman 1dari 7

KEHADIRAN teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran merupakan

tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan. TIK bukan hanya sebatas bagaimana
mengoperasikan komputer tetapi bagaimana menggunakan teknologi dalam pembelajaran. TIK
memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung keterampilan abad ke-21. Salah satu
keterampilan abad ke-21 adalah keterampilan memecahkan masalah, keterampilan
berkomunikasi efektif, dan keterampilan berkolaborasi. Oleh karena itu dalam proses
pembelajaran, guru dituntut dapat mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran.
Mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dimana
peserta didik berpikir kritis, peningkatan keterampilan, bekerja sama, dan membangun interaksi
antar kelompok serta ada suatu agenda tersembunyi (hidden agenda) penting yang dapat dicapai,
yaitu keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICTs Literacy), sebagai
contoh peserta didik dapat mencari informasi melalui internet, berkomunikasi menggunakan
surat elektronik (email), membuat laporan dengan aplikasi pengolah data, dan mempresentasikan
laporan dengan aplikasi presentasi.

Pembelajaran yang mengintegrasikan TIK adalah bukan pada kecanggihan teknologi yang
digunakan tetapi pendayagunaan TIK sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran,
apalagi pada masa pandemi seperti saat ini, pemerintah telah menerapkan kegiatan belajar dari
rumah (BDR), untuk menghindari interaksi secara langsung antara murid, guru, dan orang tua.
Pelaksanaan BDR inipun sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti,
variasi antar guru, antar sekolah, dan antar lingkungan rumah yang juga mempunyai peran dalam
menunjang atau menghambat pelaksanaan BDR. Pembelajaran tatap muka pada semua jenjang
pendidikan dialihkan menjadi pembelajaran dalam jaringan (online).
Dalam pelaksanaan pembelajaran, sarana TIK dapat digunakan sebagai sarana untuk
meningkatkan kreativitas peserta didik. Mereka dapat memanfaatkan sarana-sarana teknologi
informasi dan komunikasi atau aplikasi-aplikasi komputer dalam aktivias pembelajarannya
seperti Teknologi Internet yang dapat dimanfaatkan peserta didik sebagai sumber belajar.
Dengan menggunakan teknologi internet, dapat mengakses sumber-sumber belajar yang ada di
dalamnya dengan memanfaatkan halaman-halaman situs web yang menyediakan informasi-
informasi yang dibutuhkan, peserta didik juga dapat mengakses berbagai informasi yg
dibutuhkan sesuai dengan materi pembelajaran yang dibahas dalam pembelajaran, sehingga
melatih kemandirian dalam mencari kebutuhan informasi serta meningkatkan kreativitas dalam
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang dapat dijadikan sumber pembelajaran.
Dengan memiliki keterampilan kecakapan abad 21 khsusnya penggunakan teknologi
informasi dan komunikasi dapat membantu dalam mengembangkan pembelajaran siswa dalam
upaya mencapai kecakapan abad 21 seperti kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, kreativitas,
inovasi, kemandirian dan sebagainya. Sarana-sarana atau perangkat-perangkat teknologi sudah
tersedia banyak di dunia ini yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran siswa di kelas
seperti teknologi jaringan internet, aplikasi jejaring social, aplikasi presentasi dan sebagainya.
Pemanfaatan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan,
khususnya di Indonesia seringkali hanya digunakan untuk membantu kegiatan administrasi di
sekolah saja, tak ubahnya menggantikan mesin ketik konvensional. Bahkan banyak pula sekolah-
sekolah maju, yang memiliki laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai,
hanya memanfaatkan perangkat TIK yang ada untuk mengajarkan keterampilan teknologi
informasi saja seperti pelatihan Internet, perangkat perkantoran kepada para siswanya, tak
ubahnya seperti kelas kursus komputer pada umumnya.
Seharusnya perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dimanfaatkan lebih
jauh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas dengan cara mengintegrasikannya
ke dalam kurikulum yang ada. Penggunaan teknologi berbeda dengan maksud dari Integrasi Tek
nologi. Kegiatan mengajarkan penggunaan teknologi seperti kegiatan diatas, sangat berbeda
dengan kegiatan Integrasi Teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Integrasi teknologi adalah
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam wilayah konten secara umum dalam
pendidikan untuk memungkinkan mereka belajar keterampilan komputer dan teknologi. Secara
umum, kurikulumlah yang mengendalikan penggunaan teknologi bukan sebaliknya (Edutopia,
2008).
The International Society for Technology in Education (ISTE) telah membuat standar
teknologi untuk siswa, guru dan pengelola kelas dasar (K-12) di Amerika. ISTE, merupakan
pemimpin dalam membantu guru-guru disana menjadi pengguna teknologi yang efektif, mereka
berpendapat bahwa “Integrasi kurikulum dengan pemanfaatan teknologi melibatkan infusi dari
teknologi sebagai perangkat untuk meningkatkan pembelajaran dalam sebuah wilayah konten
atau dalam setting multi-disiplin… Integrasi teknologi yang efektif akan tercapai ketika siswa
mampu untuk memilih perangkat teknologi untuk membantu mereka memperoleh informasi
dengan cara yang tepat, melakukan analisa dan sintesa informasi, serta menyajikannya secara
profesional“. Teknologi harus menjadi sebuah bagian integral dari fungsi kelas seperti perangkat
pengajaran lain yang mudah untuk diakses. Fokusnya adalah pada setiap pelajaran, bukan
teknologinya (NETS, 2008).
Konstruktivisme merupakan komponen terpenting dari integrasi teknologi. Konstruktivisme
merupakan suatu pandangan mengenai bagaimana seorang belajar, yaitu menjelaskan bagaimana
manusia membangun pemahaman dan pengetahuannya mengenai dunia sekitarnya melalui
pengenalan terhadap benda-benda di sekitarnya yang direfleksikan melalui pengalamannya
(Piaget, 1967). Untuk mengimplementasikan konstruktifisme di dalam kelas, guru harus
berkeyakinan bahwa peserta didik ketika datang ke kelas otaknya tidak kosong dengan
pengetahuan. Mereka datang kedalam situasi belajar dengan pengetahuan, gagasan, dan
pemahaman yang sudah ada dalam pikiran mereka. Jika sesuai, pengetahuan awal inilah yang
merupakan materi dasar untuk pengetahuan baru yang akan mereka kembangkan.
Prinsip-prinsip dari konstruktivisme adalah :
1. Siswa membawa pengetahuan awal yang khas dan keyakinan-keyakinan pada situasi
pembelajaran.
2. Pengetahuan dibangun secara unik dan individu/personal, dalam berbagai cara, lewat
berbagai perangkat, sumber-sumber, dan konteks.
3. Belajar merupakan proses yang aktif dan reflektif.
4. Belajar adalah proses membangun. Kita dapat mempertimbangkan keyakinan dengan
mengasimilasi, mengakomodasi, atau bahkan menolak informasi baru.
5. Interaksi sosial mengenalkan perspektif ganda pada pembelajaran.
6. Belajar dikendalikan secara internal dan dimediasi oleh siswa.
Dalam kelas konstuktivisme para siswa adalah bintang dalam kelas-kelas mereka yang
berpusat pada siswa (learner/student centered). Mereka mengungkap pengetahuan dan informasi
pengalaman masa lalu, dari apa yang mereka dengar dan diskusikan. Pemahaman yang mereka
peroleh sebelumnya adalah fondasi dari pembelajaran dalam kelas. Seperti detektif yang
memecahkan misteri kriminalitas, para siswa bertanggung jawab atas pemecahan masalah-
masalah dalam pelajaran.  Para detektif memulai dari apa yang mereka ketahui dari berbagai
sumber — sidik jari, bukti-bukti DNA, dan saksi-saksi mata.   Seperti itu pulalah siswa ternyata
dalam kehidupan mereka sehari-hari telah melakukan riset (informal maupun formal) dari
berbagai sumber — artikel koran, wawancara dengan para ahli, buku, dan video — untuk
menyelesaikan masalah mereka. Seperti seorang detektif yang memerlukan lebih dari satu barang
bukti untuk memecahkan kejahatan, para siswa dapat menggunakan beragam sarana (komputer,
teks (buku), informasi dari wawancara, dsb.) sebagai pendekatan terhadap masalah
pembelajaran. Seperti seorang detektif (reserse) dari kepolisian yang bekerja dalam tim, siswa
membutuhkan kolega dan mentor atau supervisor untuk berdiskusi, melakukan refleksi, dan
berkonfrontasi untuk membantu mereka bekerja mencapai solusi.
Kalau siswa berperan sebagai detektif yang serba bisa, maka apa yang dilakukan para guru?
Pendeknya, guru berperan sebagai pemimpin dalam pembelajaran kelas. Guru tidaklah
memberikan seluruh jawaban atau mengendalikan materi, tetapi guru menetapkan struktur yang
mendorong eksplorasi siswa. Struktur ini meliputi pengaturan kelas (setting), pencapaian tujuan
kurikulum, mengases apakah proses belajar telah terjadi di antara siswa, mengelola aktivitas
kelas yang seimbang untuk mengakomodasi ketrampilan-ketrampilan siswa, dan menciptakan
nuansa eksploratif di awal kegiatan sehingga siswa termotivasi untuk memenuhi tugasnya. Guru-
guru dalam kelas seperti ini bergantung pada ketrampilan bertanya yang baik, memonitor diskusi
siswa, dan menetapkan peraturan yang memberi peluang bagi siswa untuk terlibat dalam
percakapan dan kolaborasi. Mereka memberi contoh/model dalam berlogika dan melakukan
proses berpikir, mengidentifikasi dan mengungkapkan kembali pemahaman dan keyakinan
siswa, mendukung dialog antara guru dengan siswa dan antar-siswa, serta memberi umpan balik.
Komputer merupakan perangkat yang baik bagi siswa untuk dapat berekspresi secara
individual, dapat digunakan untuk bereksplorasi serta meningkatkan.  Jika teknologi digunakan
secara efektif sebagai perangkat untuk berkreasi, maka siswa akan menjadi memiliki keleluasaan
lebih, menjadi kolaboratif, dan reflektif dibanding dengan di dalam kelas tanpa teknologi (SEDL,
1998). Penggunaan dan integrasi secara efektif di dalam kelas akan mampu menghadirkan
lingkungan belajar yang konstruktif (sesuai dengan teori konstruktivisme).
Selain akan menarik siswa untuk belajar, pemanfaatan dan integrasi teknologi di dalam kelas,
akan membuat siswa lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran. Selain itu, integrasi
teknologi informasi dalam ruang kelas, mampu juga memberikan siswa pengalaman baru kepada
para siswa untuk dapat mengenalkan penggunaan teknologi untuk membantu mereka dalam
menyelesaikan permasalahan atau problem solving (Wallace, 1993) yang mereka hadapi di
kehidupan sebenarnya. Manfaat lainnya, penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran
akan membuat siswa senang dan lebih rileks dalam belajar, hal ini tentu saja akan membuat
siswa mudah dalam menyerap pembelajaran yang disampaikan.
Sekaranglah saatnya para guru berfikir bagaimana teknologi dapat membantu mereka,
khususnya dalam pemanfaatannya untuk mendukung pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan (PAKEM) di dalam kelas. Dalam integrasi teknologi informasi dalam ruang
kelas, teknologi informasi harus diposisikan sebagai “alat” yang mampu membantu/menolong
guru secara efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Teknologi bukan memegang peranan yang paling penting dalam proses pembelajaran. Dalam
ruang kelas yang mengintegrasikan teknologi, para siswa dapat menggunakan Internet untuk
mencari informasi, menganalisa tentang suatu hal, mempresentasikan hasil analisanya dalam
bentuk tabel dan grafik serta merekam apa yang telah mereka pelajari dalam komputer.
Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran seperti diatas akan membuat siswa lebih aktif,
lebih baik dibandingkan mereka hanya pasif, hanya menerima informasi dari guru saja. Mereka
juga mampu menghasilkan pengetahuan dan mempresentasikan pengetahuan yang telah
didapatkan dalam berbagai format. Sudah barang tentu, bahwa pembelajaran yang aktif (active
learning) bukanlah sesuatu yang rapi dalam prosesnya. Para siswa sangat sibuk mengerjakan
sesuatu, menghasilkan keberisikan suara dalam kelas dan menghasilkan ruang kelas yang kotor.
Aktifitas dan lingkungan belajar haruslah secara seksama mendapatkan panduan dan terstruktur,
sehingga siswa benar-benar terlibat dalam aktifitas pembelajarannya.
Para siswa harus belajar bahwa eksplorasi tidak berarti hanya berkeliling mengerjakan
sesuatu sesuai dengan yang mereka inginkan dan berakhir tanpa tahu maksud kegiatannya. Guru
harus memastikan bahwa para siswa melakukan investivigasi dan mengajukan pertanyaan,
menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, dan mengerjakan sesuatu dalam konteks yang
sebenarnya, kemudian mereka belajar untuk membaca, menulis dan berfikir.
Dalam ruang kelas yang kaya akan teknologi, para siswa tidak belajar tentang teknologi,
meskipun secara tidak langsung kegiatan ini akan memberikan pengalaman menggunakan
teknologi informasi dalam menyelesaikan permasalahan sehar-hari.  Jadi, teknologi hanyalah
sebuah tujuan, namun bukan segalanya.
Menyiapkan Siswa untuk Menghadapi Abad Ke-21
Tugas seorang guru adalah mempersiapkan siswa siswi kita agar mampu menghadapi
tantangan yang ada di masa yang akan datang, yaitu di Abad Ke-21 ini. Dalam abad ini telah
terjadi perubahan yang begitu besar yang sangat berbeda dengan masa-masa ketika para guru
belajar dahulu. Saat ini merupakan era digital, dalam era ini para siswa lah yang menjadi
penduduk aslinya. Teknologi digital telah ada ketika mereka lahir. Merekalah warga asli dalam
era digital ini (digital natives). Sedangkan para guru yang baru saja menikmati era digital disebut
sebagai warga pendatang (digital immigrant). Sebagai warga asli di era digital ini, tentu saja
mereka telah sangat terbiasa dengan penggunaan teknologi digital seperti komputer,  handphone,
Internet, multimedia player, game equipment seperti x-box, nintendo wii, dan teknologi digital
lainnya. Mereka akan beradaptasi dengan sangat cepat terhadap hadirnya teknologi baru. Lihat
saja, para siswa pasti akan dengan cepat mampu mengoperasikan  handphone yang baru saja
ditemuinya dibandingkan dengan kita. Ya, hal itu sangat wajar terjadi, karena ini dunia mereka,
dunia digital!. Sebagai seorang guru dan pendatang di era digital tentu saja kita harus
menyesuaikan diri, menyesuaikan cara mendidik mereka sesuai dengan cara mereka hidup di era
digital, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang.
Untuk membangun kecakapan/keterampilan siswa di abad 21 (21st century skills), para siswa
perlu menguasai beberapa keterampilan berupa kreatifitas dan inovasi, komunikasi dan
kolaborasi, kemampuan meneliti dan melek informasi, berfikir kritis, pemecahan masalah
(problem solving) dan membuat keputusan, kewarganegaraan digital (digital citizenship) serta
konsep dan pengoperasian teknologi (NETS, 2007).
Sudah saatnya para guru menyesuaikan cara dan materi pembelajaran yang mereka berikan
dengan cara hidup para siswa di era digital serta kebutuhan keterampilan di masa yang akan
datang untuk menghadapi dunia kerja. Di tempat kerja saat ini dan yang akan datang, para
pekerja melakukan analisa, merubah dan membuat informasi. Mereka juga berkolaborasi dengan
rekan kerjanya untuk menyelesaikan permasalahan dan membuat keputusan. Mereka juga
mencoba menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan berbagai teknologi yang
dikuasainya. Di rumah dan keluarga saat ini mereka menghibur diri dengan melihat, membuat
dan berperan dalam berbagai media, membuat keputusan dengan melihat informasi di Internet,
tetap terhubung dengan teman dan anggota keluarga lewat berbagai teknologi.
Keterbiasaan para siswa dalam memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi
merupakan potensi yang luar biasa yang ada dalam diri mereka, yang harus dikelola oleh para
guru agar dapat diarahkan untuk hal-hal yang berguna dalam kehidupan mereka nantinya bukan
malah digunakan untuk sesuatu yang membuat diri mereka menjadi tidak produktif dan
cenderung melakukan hal-hal yang dilarang seperti mengakses situs web pornografi, kekerasan,
kejahatan digital, dll. Selain konten ilmu pengetahuan, mereka para siswa harus dibekali
pengetahuan teknologi dan keterampilan-keterampilan sosial untuk dapat menyelesaikan setiap
permasalahan (problem solving) yang mereka hadapi nantinya di dunia nyata.
Integrasi dan pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya
membekali para siswa dengan keterampilan teknologi canggih saja, namun lebih dari itu
pemanfaatan teknologi harus pula mempromosikan berbagai hal seperti mendorong para siswa
untuk berfikir kritis (tingkat tinggi), mendorong kerjasama dan kolaborasi, menggali kreatifitas
dan inovasi, memaksimalkan kemampuan komunikasi, dan yang tak kalah penting adalah
pemanfaatan teknologi dapat membawa suasana yang menyenangkan dalam proses belajar
mengajar. Dalam lingkungan belajar yang menyenangkan, siswa dapat dengan mudah mengingat
apa yang telah dipelajarinya karena proses pembelajaran tersebut memberikan kesan tersendiri
terhadap peserta didik.
Hadirnya tulisan ini semoga dapat memberikan secercah ide bagi para staf pengajar untuk
dapat membawa anak didiknya kearah yang lebih baik, “ sadar akan kebutuhan membekali
anak didik sesuai dengan tuntutan jaman”, yaitu abad ke-21. Agar mereka lebih siap dalam
menghadapi tantangan di masa depan.