Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rizal Ardiansyah

NIM : 40011220060036
Prodi : D3 Hubungan Masyarakat PSDKU
UNDIP K. Batang
Matakul: Teknik Reportase Dan Penulisan
Berita

Media Sosial, Pembunuh Karakter Generasi Z

Media sosial sebagai simbol komunikasi Kehausan akan validasi


global menjadi alat regresif atau Kemunduran generasi Z ini terjadi karena
kemunduran karakter yang menyedihkan munculnya sarana mencari validasi yang
bagi pemuda calon penerus bangsa. Karakter salah. Validasi atau kebutuhan untuk diakui
dalam cara berpikir, mental, ketergantungan, oleh orang-orang adalah kebutuhan pokok
dan empati mengalami kemunduran, semua manusia untuk mempertahankan
terutama bila menyempatkan diri untuk keberadaannya dalam hidup. Namun,
melihat buruknya cara beretika di dunia berbeda dengan dulu, orang-orang mencari
maya oleh para pemuda kelahiran tahun validasi dengan berusaha meraih prestasi,
1990-an sampai 2000-an yang lazim disebut mempunyai ambisi besar, atau aktif dalam
sebagai “generasi Z”. kegiatan kemanusiaan. Sekarang, pencarian
validasi dilakukan dengan mencari kuantitas
Media sosial, salah satu keajaiban teknologi jumlah antara likes, comments, dan views.
komunikasi, merupakan salah satu media
terbesar untuk berkomunikasi. Namun, juga Narsisme menjadi cara utama mengatasi
dapat menjadi perusak karakter terbesar rasa perlunya untuk dibutuhkan melalui
dalam waktu yang sama bagi para pemuda validasi media sosial. “Hubungan dengan
Indonesia. Tidak perlu sampai lima menit, media sosial dan smartphones melepaskan
mudah sekali menemukan hujatan, ejekan, dopamine (rangsangan saraf), itulah
bahkan ancaman pembunuhan pada kolom mengapa saat kamu mendapatkan pesan,
komentar berita sehari-hari seperti breaking kamu akan merasa puas,” jelas Simon Sinek,
news, terutama politik. seorang TED Speaker dan penulis terkenal.
Studi Harvard tahun 2012 juga melaporkan,
membicarakan tentang diri sendiri melalui dengan pihak keamanan setempat. Namun,
media sosial mengaktifkan sensasi bila ada orang yang menghina orang lain
kenikmatan di otak yang terkait dengan yang tidak dikenalnya di media sosial, tidak
makanan, uang, dan seks. akan terjadi apa-apa karena dilakukan via
media sosial. Melalui media sosial, kata-kata
Sensasi kenikmatan tersebut sangat adiktif “dungu”, “bodoh”, “goblok” dan “bahasa
dan merusak. Sebab, sama halnya seperti binatang” lainnya mudah sekali dilontarkan
barang adiktif lainnya seperti rokok dan kepada sesama manusia .
minuma keras, sensasi kenikmatan media
sosial akan membenarkan segala cara agar Bahkan, anak-anak dibawah umur tidak
“diakui” oleh orang lain. Yang terpenting luput dari hinaan dan hujatan Generasi Z.
adalah likes, comments, dan views, bukan Contohnya Bowo Alpenliebe, anak SMP
makna dan pesan dari konten yang diunggah kelahiran tahun 2005 yang menerima
oleh pengguna media sosial. ratusan pelecehan verbal melalui hujatan
dan penghinaan yang menggunakan istilah
Sarana Menghina Sesama Manusia alat kelamin dan bahasa binatang melalui
Instagram. Hal itu disebabkan kegemaran
Media sosial telah menjadi sarana sebagian Bowo menggunakan aplikasi musik Tik Tok
generasi Z untuk menghina orang lain yang sehingga muncul para penggemar Bowo
bahkan tidak dikenal hanya karena yang terkenal karena berlebihan dan disebut
mempunyai opini yang berbeda. Facebook, “alay”. Namun, perlu ditegaskan, ratusan
Instagram, dan Twitter yang menjadi sarana orang beramai-ramai menghujat anak SMP
penghubung kehidupan sosial orang-orang di media sosial adalah gejala yang sakit dan
yang berbeda telah berubah menjadi pemuas lebih menjijikkan dibanding penggemar
narsisme yang tidak mengindahkan aplikasi musik itu sendiri.
keberadaan orang lain sebagai sesama
manusia.
Bayangkan, bila ada orang yang menghina
orang lain yang tidak dikenalnya di jalan
umum, akan terjadi masalah seperti
kericuhan yang dapat berujung pada urusan Penghancur Kesehatan Mental
yang rendah dalam kepercayaan diri dan
Penelitian dari Universitas Houston dan motivasi untuk berjuang dalam hidup.
Universitas Palo Alto dari Amerika
menghasilkan jurnal sosial dan psikologi Kesimpulan
berjudul “Seeing Everyone Else’s Highlight Kehausan akan validasi, gejala adiktif,
Reels: How Facebook Usage is Linked to pembenaran hujatan, dan gangguan
Depressive Symptoms” yang jika kesehatan mental menjadi ancaman dalam
diterjemahkan berarti ‘Menyoroti Gulungan media sosial. Kesadaran diri sendiri dan
Kehidupan Semua Orang: Bagaimana disiplin menjadi solusi yang bertahap dan
Penggunaan Facebook Terhubung dengan tidak instan. Pertama, kesadaran diri sendiri
Gejala Depresi’. akan ancaman-ancaman media sosial untuk
menegakkan rasa disiplin. Kedua, disiplin
Studi yang dihasilkan memberikan bukti untuk bertindak dengan mengontrol
bahwa orang-orang mengalami depresi penggunaan media sosial; seperti membatasi
setelah mengonsumsi Facebook dalam frekuensi penggunaan media sosial menjadi
waktu lama. Gejala Depresi ini disebabkan maksimal lima kali seminggu, menjaga jarak
kemudahan untuk membandingkan smartphone dan tempat tidur saat mengisi
kehidupan diri sendiri dengan orang lain. baterai, atau hapus media sosial yang lebih
Orang-orang melihat kumpulan foto dan memiliki pengaruh negatif.
video yang diedit untuk memperlihatkan
citra terbaik untuk dibandingkan dengan Namun, solusi terbaik adalah berfokus pada
proses kehidupan nyata seperti kegagalan, pengembangan diri sendiri daripada sibuk
penolakan, dan titik terendah dalam hidup. mengurusi orang lain. Karena pada
akhirnya, hidup kita berada di tangan diri
Perbandingan ini sangat berbahaya karena sendiri masing-masing.
dapat merusak mental dalam menilai konsep
dan nilai diri generasi Z selaku pengguna
sosial media terbanyak. Lebih jauh,
rusaknya kemampuan dalam menilai diri
tersebut akan menyebabkan generasi
penerus bangsa cenderung menjadi generasi