Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

DIARE
Disusun Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Dosen pembimbing : Trina Kurniawati M.Kep
Pembimbing klinik : Ns. Noor Faizah, S.Kep

LAILI HIKMAWATI
(202102040014)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
2021
A. DEFINISI
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak
seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi buang
air besar lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau
tanpa lendir darah. (Depkes, RI, 2011).
Diare adalah perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan
air di dalam tinja melebihi normal (10ml/kg/hari) dengan peningkatan frekuensi defekasi
lebih dari 3 kali dalam 24 jam dan berlangsung kurang dari 14 hari (Tanto dan Liwang,
2014). Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa diare adalah buang air
besar dengan bertambahnya frekuensi yang lebih dari biasanya 3 kali sehari atau lebih
dengan konsistensi cair.

B. ETIOLOGI
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 (enam) golongan
besar, tetapi yang sering ditemukan dilapangan klinis adalah diare yang disebabkan
infeksi atau keracunan. Enam golongan besar penyakit diare adalah infeksi,
ketidakmampuan melabsorbsi, alergi, keracunan, immune defesiensi (kegagalan system
imun), (Depkes RI, 2011). Beberapa etiologi yang potensial yang menimbulkan kejadian
luar biasa (KLB) diare adalah: Virus cholera, virus parahaemoylticus, stapilacocus,
streptococcus faecalis dan enterococcus (Depkes RI, 2011).

C. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan Lama Diare (Ernawati, 2012)
a) Diare Akut
Diare akut yaitu dimana akan terjadi sewaktu-waktu dan berlangsung selama 14
hari dengan pengeluaran tinjak linak/cair yang bisa tanpa disertai lendir/darah.
Diare akut bisa menyebabkan dehidrasi bila kurang mengomsumsi makanan.
b) Diare Kronik
Diare kronik yaitu diare yang berlangsung secara terus menerus selama lebih dari 2
minggu/ lebih dari 14 hari secara umum bisa diikuti kehilangan berat badan.
c) Diare Persisten
Diare persisten yaitu diare akut dengan atau tanpa disertai dengan darah berlanjut
sampai 14 hari atau lebih. Diare persisten mengakibatkan kehilangannya berat
badan karena adanya pengeluaran volume faces dengan jumlah yang banyak dan
berisiko mengalami diare.
d) Diare Malnutrisi berat
Diare malnutrisi berat yaitu disebabkan karena adanya infeksi. Infeksi bisa
mengakibatkan pasien mengalami manultrisi karena selama sakit, pasien akan
mengalami infeksi.
2. Diare Berdasarkan Patofisiologik
a) Diare Sekresi
Diare sekresi disebabkan karena infeksi virus baik apatogen maupun patogen,
keracunan makanan atau minuman disebabkan oleh adanya bahan-bahan kimia,
selain itu juga bisa disebabkan defisiensi imun dan penurunan daya tahan tubuh.
b) Diare Osmotik
Diare osmotik disebabkan karena tekanan osmotik intralumen meningkat dari
mulai usus halus yang bisa disebabkan oleh adanya zat kimia/obat-obatan,
permen, makanan diet.

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare adalah yang pertama gangguan
osmotic, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran
air dan elektrolit dalalm rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan
merangsang usus, isi rongga usus yang berlebih ini akan merangsang usus usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya
toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan air dan elektrolit ke dalam rongga
usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadi hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare
sebaliknya bila peristaltic usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan
yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup kedalam
usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut
berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin tersebut terjadi hipersekresi yang
selanjutnya akan menimbulkan diare.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Menurut Kusuma (2016) Manifestasi klinis dapat di jadikan dua yaitu diare akut dan
diare kronis:
a. Diare akut
1) Buang air besar encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak dan nyeri perut
2) Nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi pada perut
3) Demam biasanya dalam menanggapi infeksi seperti virus atau infeksi bakteri
atau peradangan karena penyakit
b. Diare kronik
1) Penurunan berat badan dan napsu makan
2) Demam biasanya dalam menanggapi infeksi seperti virus atau infeksi bakteri
atau peradangan karena penyakit
3) Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardi, denyut lemah
2. Menurut derajat dehidrasinya manifestasi klinis dibedakan menjadi :
a. Diare dengan dehidrasi berat
Pada diare dengan dehidrasi berat terdapat dua atau lebih dari tanda dibawah ini:
1) Letargis/tidak sadar
2) Mata cekung
3) Tidak bisa minum atau malas minum
4) Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥ 2 detik)
b. Diare dehidrasi ringan/sedang
Jika pasien memiliki dua atau lebih tanda berikut, pasien menderita dehidrasi
ringan/sedang:
1) Gelisah
2) Haus dan minum dengan lahap
3) Mata cekung
4) Cubitan kulit perut kembalinya lambat
c. Diare tanpa dehidrasi
Diare tanpa dehidrasi adalah apabila pasien tidak mempunyai tanda yang
dicirikan sebagai dehidrasi ringan/sedang atau berat.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pada pasien yang dengan diare akan di perlukan pemeriksaan penunjang yaitu antara
lain: pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin, hematokrit, leukosit, jumlah
leukosit), kadar elektrolit serum, ureum dan kreatinin, pemeriksaan tinja (makroskopis
dan mikrokopis, Ph dan kadar gula dalam tinja, Biakan dan resistensi feses (colok
dubur)) dan foto x-ray abdomen.
2. Pasien dengan diare karena virus biasanya mempunyai jumlah dan hitung jenis
leukosit yang normal atau limfositosis.
3. Pasien dengan infeksi bakteri terutama bakteri yang invasi ke mukosa, memiliki
leukositosis dengan kelebihan darah putih. Neutropenia dapat timbul pada
samnellosis. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui adanya kekurangan
volume cairan dan mineral tubuh. Pemeriksaan tinja di lakukan untuk melihat adanya
leukosit dalam tinja yang menunjukan adanya infeksi bakteri, adanya telur cacing dan
parasit dewasa.
4. Pasien yang telah mendapatkan pengobatan antibiotik dalam 12 tiga bulan
sebelumnya atau yang mengalami diare di rumah sakit sebaiknya di periksa tinja
untuk pengukuran toksin slostridium difficile.
5. Rektoskopi atau sigmoidoskopi perlu di pertimbangkan pada pasien-pasien yang
toksik, pasien dengan diare berdarah atau pasien dengan diare akut perristen. Pada
sebagian besar, sigmoidoskopi mungkin adekuat sebagai pemeriksaan awal (Wong,
2011)

G. PENATALAKSANAAN
1. Diare dengan dehidrasi berat
Pasien dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena secara cepat yang
diikuti dengan terapi rehidasi oral. Mulai berikan cairan intravena segera. Pada saat
infus disiapkan, beri larutan oralit jika pasien bisa minum Catatan: larutan intravena
terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula larutan Hartman untuk
penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika larutan Ringer Laktat tidak
tersedia, larutan garam normal (NaCl 0.9%) dapat digunakan.
2. Diare dengan dehidrasi ringan
Pada 3 jam pertama, beri pasien larutan oralit dengan perkiraan jumlah sesuai dengan
berat badan pasien (atau umur pasien jika berat badan pasien tidak diketahui), seperti
yang ditunjukkan dalam bagan 15 berikut ini. Namun demikian, jika pasien ingin
minum lebih banyak, beri minum lebih banyak. Tunjukkan pada ibu cara memberi
larutan oralit pada pasien, satu sendok teh setiap 1 – 2 menit jika pasien berumur di
bawah 2 tahun; dan pada pasien yang lebih besar, berikan minuman oralit lebih sering
dengan menggunakan cangkir. Lakukan pemeriksaan rutin jika timbul masalah.

H. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi adalah kekurangan cairan, dehidrasi terjadi karena kehilangan air
(output) lebih banyak dari pemasukan (input) merupakan penyebab terjadinya
kematian.
2. Hipokalemia adalah merupakan suatu kekurangn kalium serum dibawah normal
akibat pengeluaran kalium melalui gastrointestinal karena diare.
3. Syok hipovelemik adalah kekurangan volume darah 15-25% berat badan (BB)
akan menyebabkan tekanan darah menurun.
4. Kejang
5. Malnutrisi
6. Hingga kematian

I. PENGKAJIAN FOKUS
1. Anamnesis:
Pengkajian mengenai nama lengkap, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, tempat
lahir, asal suku bangsa, nama orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan.
2. Keluhan Utama
Biasanya pasien mengalamin buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali sehari, BAB
< 4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi
ringan/ sedang), atau BAB > 10 kali (dehidrasi berat). Apabila diare berlangsung
3. Riwayat Kesehatan
Sekarang biasanya pasien mengalami:
a. Bayi atau pasien menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, dan kemungkinan timbul diare.
b. Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja
berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.
c. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan sifatnya
makin lama makin asam.
d. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
e. Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan eletrolit, maka gejala
dehidrasi mulai tampak
f. Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi dehidrasi. Urine
normal pada diare tanpa dehidrasi. Urine sedikit gelap pada dehidrasi ringan
atau sedang. Tidak ada urine dalam waktu 6 jam (dehidrasi berat)
4. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kemungkinan pasien tidak dapat imunisasi campak diare lebih sering
terjadi pada pasien-pasien dengan campak atau yang baru menderita campak
dalam 4 minggu terakhir, sebagai akibat dari penuruan kekebalan tubuh pada
pasien. Selain imunisasi campak, pasien juga harus mendapat imunisasi dasar
lainnya seperti imunisasi BCG, imunisasi DPT, serta imunisasi polio.
Adanya riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik),
makan makanan basi, karena faktor ini merupakan salah satu kemungkinan
penyebab diare.
5. Pemeriksaan Fisik
Kepala : pasien berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi, ubun-
ubunnya biasanya cekung
Mata : pasien yang mengalami diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak matanya
normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan atau sedang kelopak matanya
cekung (cowong). Sedangkan apabila mengalami dehidrasi berat, kelopak
matanya sangat cekung.
Mulut dan Lidah :
- Diare tanpa dehidrasi: Mulut dan lidah basah
- Diare dehidrasi ringan: Mulut dan lidah kering
- Diare dehidrasi berat: Mulut dan lidah sangat kering
Jantung : pada pasien biasanya iktus kordis tampak terlihat. (b) Auskultasi Pada
diare tanpa dehidrasi denyut jantung normal, diare dehidrasi ringan
atau sedang denyut jantung pasien normal hingga meningkat, diare
dengan dehidrasi berat biasanya pasien mengalami takikardi dan
bradikardi.
Paru-paru : Diare tanpa dehidrasi biasanya pernapasan normal, diare dehidrasi
ringan pernapasan normal hingga melemah, diare dengan dehidrasi
berat pernapasannya dalam.
Abdomen :
- Pasien akan mengalami distensi abdomen, dan kram,
- Turgor kulit pada pasien diare tanpa dehidrasi baik, pada pasien diare
dehidrasi ringan kembali < 2 detik, pada pasien dehidrasi berat kembali > 2
detik.
- Biasanya pasien yang mengalami diare bising ususnya meningkat
Ektremitas : Pasien dengan diare tanpa dehidrasi Capillary refill (CRT) normal,
akral teraba hangat. Pasien dengan diare dehidrasi Poltekkes
Kemenkes Padang 38 ringan CRT kembali < 2 detik, akral dingin.
Pada pasien dehidrasi berat CRT kembali > 2 detik, akral teraba
dingin, sianosis.
Genitalia : Pasien dengan diare akan sering BAB maka hal yang perlu di lakukan
pemeriksaan yaitu apakah ada iritasi pada anus.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. D.0023 Hipovolemia bd kehilangan cairan aktif

2. D.0130 Hipertermia bd dehidrasi

3. D.0037 Risiko ketidakseimbangan elektrolit bd diare

4. D.0032 Risiko defisit Nutrisi bd ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien

5. D.0139 Risiko gangguan integritas kulit/jaringan bd kekurangan volume cairan

J. FOKUS INTERVENSI

Dx Tujuan Intervensi

D.0023 Hipovolemia bd L.03028 Status Cairan I.03116 Manajemen


kehilangan cairan aktif Setelah diberikan tindakan Hipovolemia
Gejala dan Tanda Mayor keperawatan selama 3x24 Observasi
Subjektif jam diharapkan status cairan 1. Periksa tanda dan gejala
(tidak tersedia) membaik, dengan kriteria hipovolemia (mis. frekuensi
Objektif hasil : nadi meningkat, nadi teraba
1. Frekuensi nadi 1. Kekuatan nadi lemah, tekanan darah
meningkat meningkat menurun, tekanan nadi
2. Nadi teraba lemah 2. Turgor kulit meningkat menyempit,turgor kulit
3. Tekanan darah 3. Output urin meningkat menurun, membrane
menurun 4. Frekuensi nadi membaik mukosa kering, volume
4. Tekanan Nadi 5. Membran mukosa urine menurun, hematokrit
menyempit membaik meningkat, haus dan lemah)
5. Turgor kulit 6. Kadar Hb membaik 2. Monitor intake dan output
menyempit 7. Kadar Ht membaik cairan
6. Membran mukosa 8. Intake cairan membaik Terapeutik
kering 9. Suhu tubuh membaik 1. Hitung kebutuhan cairan
7. Voluem urin menurun 2. Berikan posisi modified
8. Hemtokrit meningkat trendelenburg
Gejala dan Tanda Minor 3. Berikan asupan cairan oral
Subjektif
1. Merasa lemah
2. Mengeluh haus Edukasi
Objektif 1. Anjurkan memperbanyak
1. Pengisian vena asupan cairan oral
menurun 2. Anjurkan menghindari
2. Status mental berubah perubahan posisi
3. Suhu tubuh meningkat mendadak
4. Konsentrasi urin Kolaborasi
meningkat 1. Kolaborasi pemberian
3. Berat badan turun cairan IV issotonis (mis.
tiba-tiba cairan NaCl, RL)
2. Kolaborasi pemberian
cairan IV hipotonis (mis.
glukosa 2,5%, NaCl
0,4%)
3. Kolaborasi pemberian
cairan koloid (mis.
albumin, plasmanate)
4. Kolaborasi pemberian
produk darah
D.0130 Hipertermia bd L.14134 Termoregulasi I.15506 Manajemen
dehidrasi Setelah diberikan tindakan Hipertermia
Gejala dan Tanda Mayor keperawatan selama 3x24 Observasi
Subjektif jam diharapkan 1. Identifkasi penyebab
(tidak tersedia) termoregulasi membaik, hipertermi (mis. dehidrasi
Objektif dengan kriteria hasil : terpapar lingkungan panas
1. Suhu tubuh diatas nilai 1. Menggigil menurun penggunaan incubator)
normal 2. Vasokontriksi perifer 2. Monitor suhu tubuh
Gejala dan Tanda Minor menurun 3. Monitor kadar elektrolit
Subjektif 3. Kutis memorata 4. Monitor haluaran urine
(tidak tersedia) menurun Terapeutik
Objektif 4. Pucat menurun 1. Sediakan lingkungan yang
1. Kulit merah 5. Dasar kuku sianolik dingin
2. Kejang menurun 2. Longgarkan atau lepaskan
3. Takikardi 6. Suhu tubuh membaik pakaian
4. Takipnea 7. Suhu kulit membaik 3. Basahi dan kipasi
5. Kulit terasa hangat permukaan tubuh
4. Berikan cairan oral
5. Ganti linen setiap hari
atau lebih sering jika
mengalami hiperhidrosis
(keringat berlebih)
6. Lakukan pendinginan
eksternal (mis. selimut
hipotermia atau kompres
dingin pada dahi, leher,
dada, abdomen,aksila)
7. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
8. Batasi oksigen, jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
1. Kolaborasi cairan dan
elektrolit intravena, jika
perlu
D.0037 Risiko L.03021 Keseimbangan I.03122 Pemantauan elektrolit
ketidakseimbangan elektrolit Observasi
elektrolit bd diare Setelah diberikan tindakan 1. Identifkasi kemungkinan
keperawatan selama 3x24 penyebab
jam diharapkan ketidakseimbangan
keseimbangan elektrolit elektrolit
meningkat, dengan kriteria 2. Monitor kadar eletrolit
hasil : serum
1. Serum natrium 3. Monitor mual, muntah
meningkat dan diare
2. Serum kalium 4. Monitor kehilangan
meningkat cairan, jika perlu
3. Serum klorida 5. Monitor tanda dan gejala
meningkat hypokalemia (mis.
4. Serum kalsium Kelemahan otot, interval
meningkat QT memanjang,
5. Serum magnesium gelombang T datar atau
meningkat terbalik, depresi segmen
6. Serum fosfor meningkat ST, gelombang U,
kelelahan, parestesia,
penurunan refleks,
anoreksia, konstipasi,
motilitas usus menurun,
pusing, depresi
pernapasan)
6. Monitor tanda dan gejala
hyperkalemia (mis. Peka
rangsang, gelisah, mual,
munta, takikardia
mengarah ke bradikardia,
fibrilasi/takikardia
ventrikel, gelombang T
tinggi, gelombang P datar,
kompleks QRS tumpul,
blok jantung mengarah
asistol)
7. Monitor tanda dan gejala
hipontremia (mis.
Disorientasi, otot berkedut,
sakit kepala, membrane
mukosa
kering, hipotensi postural,
kejang, letargi, penurunan
kesadaran)
8. Monitor tanda dan gejala
hypernatremia (mis. Haus,
demam, mual, muntah,
gelisah, peka rangsang,
membrane mukosa kering,
takikardia, hipotensi,
letargi, konfusi, kejang)
9. Monitor tanda dan gejala
hipokalsemia (mis. Peka
rangsang, tanda
IChvostekI [spasme otot
wajah], tanda Trousseau
[spasme karpal], kram otot,
interval QT memanjang)
10.Monitor tanda dan gejala
hiperkalsemia (mis. Nyeri
tulang, haus, anoreksia,
letargi, kelemahan otot,
segmen QT memendek,
gelombang T lebar,
kompleks QRS lebar,
interval PR memanjang)
11. Monitor tanda dan gejala
hipomagnesemia (mis.
Depresi pernapasan, apatis,
tanda Chvostek, tanda
Trousseau, konfusi,
disritmia)
12. Monitor tanda dan gejala
hipomagnesia (mis.
Kelemahan otot,
hiporefleks, bradikardia,
depresi SSP, letargi, koma,
depresi)
Terapeutik
1. Atur interval waktu
pemantauan sesuai dengan
kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
D.0032 Risiko defisit L.03031 Status nutrisi bayi I.03119 Manajemen nutrisi
Nutrisi bd Setelah diberikan tindakan Observasi
ketidakmampuan keperawatan selama 3x24 1. Identifikasi status nutrisi
mengabsorbsi nutrien jam diharapkan status nutrisi 2. Identifikasi alergi dan
bayi membaik, dengan intoleransi makanan
kriteria hasil : 3. Identifikasi makanan yang
1. Berat badan meningkat disukai
2. Panjang badan 4. Identifikasi kebutuhan
meningkat kalori dan jenis nutrient
3. Membran mukosa 5. Identifikasi perlunya
kuning menurun penggunaan selang
4. Bayi cengeng menurun nasogastric
5. Pucat menurun 6. Monitor asupan makanan
6. Kesulitan makan 7. Monitor berat badan
menurun 8. Monitor hasil pemeriksaan
7. Pola makan membaik laboratorium
8. Tebal lipatan kulit
membaik
9. Proses tumbuh Terapeutik
kembang membaik 1. Lakukan oral hygiene
10. Lapisan lemak sebelum makan, jika perlu
membaik 2. Fasilitasi menentukan
pedoman diet (mis.
Piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang
sesuai
4. Berikan makan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
5. Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
6. Berikan suplemen
makanan, jika perlu
7. Hentikan pemberian
makan melalui selang
nasigastrik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk,
jika mampu
2. Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
(mis. Pereda nyeri,
antiemetik), jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis
nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu
D.0139 Risiko gangguan L.14125 Integritas kulit dan I.11353 Perawatan integritas
integritas kulit/jaringan bd jaringan kulit
kekurangan volume cairan Setelah diberikan tindakan Observasi
keperawatan selama 3x24 1. Identifikasi penyebab
jam diharapkan integritas gangguan integritas kulit
kulit dan jaringan (mis. Perubahan sirkulasi,
meningkat, dengan kriteria perubahan status nutrisi,
hasil : peneurunan kelembaban,
1. Kerusakan jaringan suhu lingkungan ekstrem,
menurun penurunan mobilitas)
2. Kerusakan lapisan kulit Terapeutik
menurun 1. Ubah posisi setiap 2 jam
3. Kemerahan menurun jika tirah baring
4. Hematoma menurun 2. Lakukan pemijatan pada
5. Suhu kulit membaik area penonjolan tulang,
jika perlu
3. Bersihkan perineal dengan
air hangat,
terutama selama periode
diare
4. Gunakan produk
berbahan petrolium atau
minyak pada kulit kering
5. Gunakan produk
berbahan ringan/alami
dan hipoalergik pada
kulit sensitif
6. Hindari produk berbahan
dasar alkohol pada kulit
kering

Edukasi
1. Anjurkan menggunakan
pelembab (mis. Lotin,
serum)
2. Anjurkan minum air yang
cukup
3. Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
4. Anjurkan meningkat
asupan buah dan saur
5. Anjurkan menghindari
terpapar suhu ektrime
6. Anjurkan menggunakan
tabir surya SPF minimal
30 saat berada diluar
rumah
7. Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya

K. PATHWAYS
Terlampir
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. RI.. 2011. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta: Ditjen PPM dan
PL.
Depkes RI. 2009 Buku saku pelayanan kesehatan pasien di rumah sakit. WHO. 2009.
Jakarta.
Ernawati. 2012. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan
Tentang Diare Pada Pasien Jalanan Di semarang. Karya Tulis Ilmiah.
Universitas Diponegoro Semarang.
Kusuma Hardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Jilid 1. Jogjakarta
Liwang F, T. C. (2014). Kapita Selekta Kedokteran.Edisi Ke 4. Jakarta : Media
Octa, D. R. L., Maita, E., Maya S. & Yulfiana,R., 2014.Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi/Balita dan Pasien Prasekolah Untuk Para Bidan. Yogyakarta :
CV Budi Utama.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi
1. Jakarta : PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1.
Jakarta : PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi
1. Jakarta : PPNI