Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

TRAUMA MUSKULOSKELETAL

Disusun Guna Memenuhi Tugas Praktik Klinik Komprehensif

Dosen Pembimbing : Aida Rusmariana S.Kep.,Ns., MAN

Disusun Oleh :

Hibatul Aliyah

17.1326.S

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

2021
A. Definisi

Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, persendian, otot dan

tendon. Secara fisiologis, sistem muskuloskeletal memungkinkan

perubahan pada pergerakan dan posisi. Otot terbagi atas tiga bagian yaitu ;

otot rangka, otot jantung dan otot polos. (Joyce M Black, 2014). Trauma

muskuloskeletal adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera

pada tulang, sendi dan otot karena salah satu sebab. Kecelakaan lalu lintas,

olahraga dan kecelakaan industri merupakan penyebab utama dari trauma

muskuloskeletal. Sedangkan tulang dapat diklasifikasikan berdasarkan

bentuknya, yaitu :

1. Tulang panjang

Merupakan tulang yang lebih panjang dari lebarnya dan ditemukan di

ekstermitas atas dan bawah. Seperti humerus, radius, ulna, femur,

tibia, fibula, metatarsal, metakarpal dan falangs merupakan tulang

panjang.

2. Tulang pendek

Misalnya karpal dan tarsal yang tidak memiliki axis yang panjang

serta berbentuk kubus.

3. Tulang pipih

Misalnya rusuk, kranium, skapula dan beberapa bagian dari pelvis

girdle dimana tulang ini melindungi bagian tubuh yang lunak dan

memberikan permukaan yang luas untuk melekatnya otot.


4. Tulang irregular

Memiliki berbagai macam bentuk, seperti tulang belakang, osikel

telinga, tulang wajah dan pelvis. Tulang ireguler mirip dengan tulang

lain dalam struktur dan komposisi. (Joyce M Black, 2014)

Ada beberapa jenis dari trauma muskuloskeletal dimana tergantung

letak dari trauma. Trauma muskuloskeletal yang umum terjadi yaitu

fraktur, strain, sprain, dislokasi dan amputasi.

1. Fraktur

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau

tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut serta keadaan

tulang dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah

fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur adalah

gangguan dari kontinuitas yang normal dari suatu tulang. Jika terjadi

fraktur, maka jaringan lunak disekitarnya juga akan terganggu. (Joyce

M Black, 2014)

a. Fraktur terbuka

Fraktur terbuka dicirikan oleh robeknya kulit diatas cedera

tulang. Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai

hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan

jaringan lunak sehingga terjadi kontaminasi bakteri

b. Fraktur tertutup

Fraktur tertutup adalah fraktur dimana kulit tidak ditembus

oleh fragmen tulang. Jadi pada fraktur tertutup kulit masih

utuh diatas lokasi cedera. (Brunner, 2001)


2. Strain

Strain merupakan suatu puntiran atau tarikan, robekan otot dan

tendon. Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan,

peregangan berlebihan atau stres yang berlebihan. (Brunner, 2001)

3. Sprain

Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan

mengepit atau memutar. Fungsi ligamen adalah menjaga stabilitas

namun masih menmungkinkan mobilitas. Ligamen yang robek akan

kehilangan kemampuan stabilitasnya. Sprain merupakan peregangan

atau robekan ligamen, fibrosa dari jaringan ikat yang menggabungkan

ujung satu tulang dengan tulang lainnya. (Joyce M Black, 2014)

B. Etiologi

Penyebab umum dari truma muskuloskeletal adalah kecelekaan lalu lintas,

olahraga, jatuh dan kecelakaan industri.

1. Fraktur

Etiologi atau penyebab dari fraktur adalah kelebihan beban mekanis

pada suatu tulang, saat tekanan yang diberikan pada tulang terlalu

banyak dibandingkan yang mampu ditanggunya. (Joyce M Black,

2014)

a. Trauma langsung

Tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah

tekanan misalnya benturan pada lengan bawah yang

menyebabkan patah tulang radius dan ulna.

b. Trauma tidak langsung


Trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah

fraktur dimana pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap

utuh. Misalnya, jatuh bertumpu pada tangan yang

menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

2. Strain

Penyebab dari strain bisa dari trauma langsung maupun tidak langsung

misalnya (jatuh dan tumbukan pada badan) yang mendorong sendi

keluar dari posisinya kemudian meregang. (Joyce M Black, 2014)

3. Sprain

Penyebab sprain sama dengan strain yaitu trauma langsung dan

trauma tidak langsung. (Joyce M Black, 2014)

C. Manifestasi klinis

1. Fraktur

a. Deformitas

Pembengkakkan dari perdarahan lokal dapat menyebabkan

deformitas pada lokasi fraktur. Deformitas adalah perubahan

bentuk, pergerakan tulang jadi memendek karena kuatnya

tarikan otot-otot ekstermitas. (Joyce M Black, 2014)

b. Nyeri

Nyeri biasanya terus menerus menigkat jika fraktur tidak

diimobilisasi. (Brunner, 2001)

c. Pembengkakkan atau edema


Edema terjadi akibat akumulasi cairan serosa pada lokasi

fraktur serta ekstravasasi cairan serosa pada lokasi fraktur

ekstravasi darah ke jaringan sekitar.

d. Hematom atau memar

Memar terjadi karena perdarahan subkutan pada lokasi fraktur.

e. Kehilangan fungsi dan kelainan gerak. (Joyce M Black, 2014)

2. Strain

a. Nyeri

b. Kelemahan otot

c. Pada sprain parah, otot atau tendon mengalami ruptur secara

parsial atau komplet bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan

pasien akibat hilangya fungsi otot. (Joyce M Black, 2014)

3. Sprain

a. Adanya robekan pada ligament

b. Nyeri

c. Hematoma atau memar. (Joyce M Black, 2014)

D. Patofisiologi

1. Fraktur

Keparahan dari fraktur bergantung pada gaya yang menyebabkan

fraktur, jika ambang fraktur suatu tulang hanya sedikit terlewati, maka

tulang mungkin hanya retak saja dan bukan patah. Jika gayanya sangat

ekstrem, seperti tabrakan mobil, maka tulang dapat pecah berkeping-

keping. Saat terjadi fraktur, otot yang melekat pada ujung tulang akan

terganggu. Otot dapat mengalami spasme dan menarik fragmen


fraktur keluar posisi. Kelompok otot yang besar dapat menciptakan

spasme yang kuat dan bahkan mampu menggeser tulang besar, seperti

femur. Perdarahan terjadi karena cedera jaringan lunak atau cedera

pada tulang itu sendiri. Pada saluran sumsum (medula), hemotoma

terjadi diantara fragmen-fragmen tulang dan dibawah periosteum.

Jaringan tulang disekitar lokasi fraktur akan mati dan menciptakan

respon peradangan yang hebat. Akan terjadi vasodilatasi, edema,

nyeri, kehilangan fungsi, esudasi plasma dan leukosit. (Joyce M

Black, 2014)

2. Strain

Kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung maupun trauma

tidak langsung, cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang

salah, kontraksi otot yang berlebihan, otot yang belum siap terjadi

pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha) dan otot guadriceps.

Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera

memar dan membengkak.

3. Sprain

Adanya tekanan eksternal yang berlebihan menyebabkan suatu

masalah yang disebut sprain yang terutama terjadi pada ligamen.

Ligamen akan mengalami robek dan kemudian akan kehilangan

kemampuan stabilitasnya. Hal tersebut akan membuat pembuluh darah

pecah dan akan menyebabkan hemotama serta nyeri.

E. Pemeriksaan Penunjang

1. X-ray menentukan lokasi atau luasnya fraktur


2. Scan tulang : mempelihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi

kerusakan jaringan lunak.

3. Arteriogram : dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan

vaskuler pada perdarahan; penigkatan lekosit sebagai respon terhadap

peradangan.

4. Kretinin : trauma otot menigkatkan beban kretinin untuk kliens ginjal

5. Profil koagulas : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,

transfusi darah atau cedera. (Amin Huda Nurarif, 2015)

F. Penatalaksanaan

1. Fraktur

a. Imobilisasi

Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksternal dan

internal mempertahankan dan mengembalikan fungsi status

neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri,

perabaan dan gerakan. Perkiraan waktu untuk imobilisasi yang

dibutuhkan untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur

adalah sekitar 3 bulan. (Amin Huda Nurarif, 2015).

Alat imobilisasi yang sering digunakan, antara lain :

1) Bidai

Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan

kedudukan atau fiksasi tulang yang patah. Tujuan

pemasangan bidai untuk mencegah pergerakan tulang

yang patah. Syarat pemasangan bidai dimana dapat

mempertahankan kedudukan 2 sendi tulang didekat


tulang yang patah dan pemasangan bidai tidak boleh

terlalu kencang atau ketat, karena akan merusak

jaringan tubuh. (Yanti Ruly Hutabarat, 2016)

2) Gips

Gips merupakan alat fiksasi untuk penyembuhan

tulang. Gips memiliki sifat menyerap air dan bila itu

terjadi akan timbul reaksi eksoterm dan gips akan

menjadi keras.

b. Reduksi

Langkah pertama pada penanganan fraktur yang bergeser

adalah reduksi. Reduksi fraktur berarti mengembalikan

fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi. Reduksi

merupakan manipulasi tulang untuk mengembalikan kelerusan,

posisi dan panjang dengan mengembalikan fragmen tulang

sedekat mungkin serta tidak semua fraktur harus direduksi.

(Joyce M Black, 2014). Reduksi terbagi atas dua bagian,

yaitu :

1) Reduksi tertutup

Pada banyakan kasus fraktur, reduksi tertutup

dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke

posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan

manipulasi dan traksi manual. Reduksi tertutup harus

segera dilakukan setelah cedera untuk menimilkan efek

deformitas dari cedera tersebut. (Brunner, 2001)


2) Reduksi terbuka

Reduksi terbuka merupakan prosedur bedah dimana

fragmen fraktur disejajarkan. Reduksi terbuka sering

kali dikombinasikan dengan fiksasi internal untuk

fraktur femur dan sendi. Alat fiksasi internal dalam

bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan

logam dapat digunakan untuk mempertahankan

fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan

tulang. (Brunner, 2001)

c. Traksi

Traksi adalah pemberian gaya tarik terhadap bagian tubuh

yang cedera, sementara kontratraksi akan menarik ke arah

yang berlawanan. Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan

efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya trasi disesuaikan

dengan spasme otot yang terjadi. (Brunner, 2001).

2. Strain

a. Istirahan, kompres dengan air dingin dan elevasi (RICE)

untuk 24-48 jam pertama.

b. Perbaikan bedah mungkin diperlukan jika robekan terjadi pada

hubungan tendon-tulang.

c. Pemasangan balut tekan

d. Selama penyembuhan (4-6 minggu) gerakan dari cedera harus

diminimalkan. (Joyce M Black, 2014)


3. Sprain

a. Istirahat akan mencegah cedera tambahan dan mempercepat

penyembuhan.

b. Meninggikan bagian yang sakit akan mengontrol

pembengkakkan

c. Kompres air dingin, diberikan secara intermiten 20-30 menit

selama 24-48 jam pertama setelah cedera. Kompres air dingin

menyebabkan vasokontriksi akan mengurangi perdarahan dan

edema (Jangan berlebihan nanti akan mengakibatkan

kerusakan kulit). (Brunner, 2001)

G. Pengakjian focus

1. Anamnesa

 Keluhan nyeri

 Riwayat trauma adequate

 Adanya fungsio laesa atau fungsi jaringan terganggu

2. Pemeriksaan fisik

a. Insepksi

 Edema

 Hematoma

 Deformitas

b. Palpasi

 Nyeri tekan

 Kripitasi
H. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Nyeri akut

 Definisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak

atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung

kurang dari 3 bulang.

 Penyebab

Agen pencedera fisik (mis. Amputasi, terbakar, terpotong,

mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik

berlebihan)

 Gejala dan tanda mayor

 Tampak meringis

 Bersikap protektif

 Gelisah

 Frekuensi nadi menigkat. (PPNI, 2016)

2. Gangguan mobilitas fisik

 Definisi

Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstermitas

secara mandiri

 Penyebab

 Kerusakan integritas struktur tulang

 Penurunan kekuatan otot

 Gangguan musculoskeletal
 Nyeri

 Gejala dan tanda mayor

Subjektif : Mengeluh sulit menggerakan ekstermitas

Objektif : kekakuan otot menurun dan rentang gerak

 Gejala dan tanda minor

Subjektif :

 Nyeri saat bergerak

 Enggan melakukan pergerakan

 Merasa cemas saat bergerak

Objektif :

 Sendi kaku

 Gerakan tidak terkoordinasi dan gerakan terbatas. (PPNI,

2016)

3. Kerusakan integritas kulit

 Definisi : Kerusakan pada epidermis atau dermis

 Batas karakteristik

 Benda asing yang menusuk permukaan kulit

 Kerusakan integritas kulit

 Faktor yang berhubungan

Eksternal : faktor mekanik mis. daya gesek, tekanan dan

imobilitas fisik

Internal : Tekanan pada tulang, gangguan turgor kulit dan fraktur

terbuka. (T Heather Herderman, 2015)


I. Fokus Intervensi

1. Nyeri akut b.d agen cedera fisik (mis. Amputasi, terbakar, terpotong,

mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)

 Tujuan : pain level, pain control and comfort level

 Kriteria hasil :

 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu

menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi

nyeri dan mencari bantuan).

 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan

manajemen nyeri.

 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan

tanda nyeri).

 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

 Intervensi

Pain management

 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termaksud

lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor

presipitas.

 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan .

 Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri pasien.

 Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.

 Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan

dukungan.
 Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti

suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

 Kurangi faktor presipitasi nyeri.

 Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi,

nonfarmakologi dan interpersonal).

 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi .

 Ajarkan tentang tehnik nonfarmakologi.

 Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri.

 Evaluasi ketidakefektifan kontrol nyeri.

 Tingkatkan istirahat.

 Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan

nyeri tidak berhasil.

 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesik manajemen

 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri

sebelum pemberian obat.

 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi.

 Cek riwayat alergi.

 Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari

analgesik ketika pemberian lebih dari satu.

 Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya

nyeri,

 Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian dan dosis

optimal.
 Pilih rute secara IV, IM, untuk pengobatan nyeri secara

teratur.

 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik

pertama kali.

 Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat.

 Evaluasi efektifitas analgesik, tanda dan gejala. (Amin Huda

Nurarif, 2015)

2. Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang,

penurunan kekuatan otot, gangguan muskuloskeletal dan nyeri

 Tujuan : Joint movement (active), mobility level, self care (Adls)

 Kriteria hasil :

 Klien meningkatkan dalam aktivitas fisik

 Mengerti tujuan dan peningkatan mobilitas

 Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan

dan kemampuan berpindah

 Memperagakan penggunaan alat

   Intervensi :

 Monitoring vital sign sebelum atau sesudah latihan dan lihat

respon pasie saat latihan.

 Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi

sesuai dengan kebutuhan.

 Bantu pasien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan

cegah terhadap cedera.


 Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang tehnik

ambulasi.

 Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi .

 latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan Adls secara mandiri

sesuai kemampuan.

 Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi

kebutuhan pasien.

 Berikan alat bantu jika klien memerlukan .

 Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan

bantuan jika diperlukan. (Amin Huda Nurarif, 2015)

3. Kerusakan integritas kulit b.d tekanan pada tulang, gangguan turgor

kulit dan fraktur terbuka

 Tujuan : Tissue integrity (skin and mucous), membranes and

hemodyalis akses

 Kriteria hasil :

 Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi,

elastisitas, temperatur, hidrasi dan pigmentasi) tidak ada luka

atau lesi pada kulit dan perfusi jaringan baik.

 Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan

mencegah terjadinya cedera berulang.

 Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan

kulit dan perawatan alami.

 Intervensi :

 Pressure management
 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

 Hindari kerutan pada tempat tidur

 Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

 Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

 Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

 Monitor status nutrisi pasien

 Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

Insision site care

 Membersihkan, memantau dan menigkatkan proses

penyembuhan pada kulit luka yang ditutup dengan jahitan,

klip atau straples.

 Monitor proses kesembuhan area insisi.

 Monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi.

 Bersihkan area sekitar jahitan atau staples, menggunakan lidi

kapas steril dan gunakan preparat antiseptic sesuai program.

 Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan

luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program.


DAFTAR PUSTAKA

Burner dan Sudarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah. Jakarta; EGC
Herdman Heather T dan Shigemi Kamitsuru. 2015. Nanda Internasional Defining
The Knowledge Of Nursing Diagnosa Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2015- 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3. No 2 Desember 2015
M Black Joyce dan Jane Hokanson Hawks. 2014. Keperawatan Medical Bedah
Manajemen Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan. Jakarta; CV Pentasada
Media Edukasi
Nuririf Huda Amin dan Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Jilid 2.Jogjakarta;
Medication Jogja
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
Definisi Indikatator Diagnostik. Edisi 1. Jakarta Selatan; Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia
Yanti Ruly Hutabarat dan Chandra syah Putra. 2016. Asuhan Keperawatan
Kegawatdaruratan. Bogor; IN MEDIA