Anda di halaman 1dari 37

KEPERAWATAN KELUARGA

Identifikasi Data Keluarga : Stres, Koping dan Adaptasi Keluarga

Oleh

Kelompok 5
1. SUCI RAHMADHANI PUTRI : 1711312047
2. NOVA SAFITRI : 1711312049
3. VIANNY PERMATA AUDINA : 1711313009
4. SARAH OKTAVIANI CINTYA : 1711313011
5. PUTRI ANNELYDIA : 1711313013
6. MUTIARA SALAM : 1711313017
7. MAWADDAH TURRAHMAH : 1711313019
8. NAFHANIA NUR EFNIYATI : 1711313023
9. DHEANA MUTIA : 1711313025

ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena
atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat membuat dan menyelesaikan makalah kami
yang berjudul “Identifikasi Data Keluarga : Stres, Koping dan Adaptasi Keluarga”
adapun makalah ini kami tampilkan hasil diskusi kami, kami juga mengambil
beberapa kesimpulan dari hasil diskusi yang kami lakukan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini, diantaranya:
1. Yang terhormat dosen mata kuliah Keperawatan Keluarga
2. Pihak-pihak lain yang ikut membantu dalam pelaksanaan maupun proses penyelesaian
makalah ini.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi
para pembaca dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam proses
pembelajaran.
Namun, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
maupun pembahasan dalam makalah ini, sehingga belum begitu sempurna.Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut sehingga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Padang, 15 Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................

ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................. 1

1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………... 2


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Keluarga…………………………………………... 3

2.2 Konsep Stres dan Koping…………………………………. 4

2.3 Fase Waktu Stres dan Strategi Koping……………………. 12

2.4 Teori Stres Keluarga………………………………………. 12


2.5 Stressor dan Dampaknya…………………………………. 15
2.6 Strategi Koping Keluarga................................................... 17
2.7 Strategi Koping Disfungsional ……................................... 21

2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Koping……………….. 26

2.9 Proses Keperawatan…………………………….…………. 27


BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................... 33
3.2 Saran..................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 34

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman modern sekarang ini semua orang dalam hidupnya pernah mengalami
stres. Stres dalam bentuk apa pun adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Melihat
kenyataaan bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke kota-kota besar sebagai dampak
modernisasi, berpengaruh pula pada taraf kesehatan penduduk. Kehidupan kota besar yang
lebih keras dan individualistis amat berbeda dengan pola kehidupan di pedesaan. Konflik
psikososial yang sering terjadi dan merupakan stres kehidupan, ialah antara harapan (high
expectation) dengan kenyataan hidup (reality if life) amat berbeda jauh.

Stres Keluarga Seseorang atau keluarga dikatakan sehat tidak hanya terlepas dari
penyakit saja, tetapi juga perasaan tentram, tenang dan harmonis yang ditunjukkan oleh
adanya kemampuan dalam menggunakan koping yang efektif dalam mengadapi stressor baik
yang bersumber dari dalam maupun dari luar. Secara umum, stres terjadi jika individu dihadapkan
dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman kesehatan fisik atau psikologis.

Setiap individu dapat menggunakan beberapa jenis koping yang dirasa sesuai dengan
konsekuensi dan masalah yang sedang dihadapi. Penggunaan mekanisme koping sering
dipengaruhi oleh latar belakang budaya individu, pengalaman individu dalam menghadapi
masalah, faktor lingkungan; kepribadian, konsep diri indlvidu, faktor sosial dan lain-lain, dan
itu sangat berpengaruh pada kemampuan individu dalam menyelesaikan masalahnya.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa itu konsep keluarga ?


b. Apa itu konsep stress dan koping ?
c. Apa saja fase waktu stress dan strategi koping ?
d. Apa teori sstres daam keluarga ?
e. Apa itu stressor dan bagaimana dampaknya ?
f. Bagaimana strategi koping keluarga ?
g. Bagaimana strategi koping disfungsional ? 1
h. Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Koping ?
i. Bagaimana proses keperawatannya ?
1.3 Tujuan

a. Mengetahui apa itu konsep keluarga


b. Mengtahui apa itu konsep stress dan koping
c. Mengetahui apa saja fase waktu stress dan strategi koping
d. Mengtahui teori sstres daam keluarga
e. Mengetahui stressor dan dampaknya
f. Mengetahui strategi koping keluarga
g. Mengetahui strategi koping disfungsional
h. Mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Koping
i. Mengetahui proses keperawatannya

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keluarga

Pengertian keluarga menurut UU Nomor 10 Tahun 1992 adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami, istri atau suami istri dan anaknya atau ayah dan
anaknya atau ibu dan anaknya. Keluarga adalah suatu kelompok dari orang-orang yang
disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan adopsi dan berkomunikasi satu sama lain
yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami dan istri, ayah, dan ibu, anak laki-
laki dan perempuan, saudara laki-laki dan perempuan serta merupakan pemeliharaan
kebudayaan bersama (Puspitawati 2009).

Keluarga merupakan sumber daya penting dalam pernberian layanan kesehatan, baik
bagi individu rnaupun keluarga. Saat perawatan difokuskan pada keluarga, efektifitas
perawatan terbukti meningkat (Gilliss & Davis, 1993). U.S Bureau of the Census
menggunakan definisi keluarga yang berorientasi tradisional, yaitu sebagai berikut:
Keluarga terdiri atas individu yang bergabung bersama oleh ikatan pernikahan, darah,
atau adopsi dan tinggal di dalam suatu rumah tangga yang saran.

Definisi tambahan keluarga di bawah ini disajikan untuk memfasilitasi pemahaman


mengenai kepustakaan keluarga.

 Keluarga inti (terkait dengan pernikahan)-Keluarga yang terbentuk karena


pernikahan, peran sebagai orang tua, atau kelahiran; terdiri atas suami, istri, dan
anak~anak mereka-biologis, adopsi, atau keduanya.
 Keluarga orientasi (keluarga asal)-Unit keluarga tempat seseorang dilahirkan.
 Extelldedfamily-Keluarga inti dan individu terkait Jainnya (oleh hubungan darah),
yang biasanya merupakan anggota keluarga asal dari salah satu pasangan keluarga
inti. Keluarga ini terdiri atas "sanak saudara" dan dapat mencakup nenek/kakek,
bibi, paman, keponakan, dan sepupu.

Dalam kehidupan manusia, keluarga memiliki beberapa fungsi dasar yaitu:


3
 Fungsi pendidikan moral dan akhlak anak
 Fungsi sosialisasi kehidupan untuk anak
 Fungsi perlindungan untuk setiap anggota keluarga
 Fungsi perasaan dan pemberi kasih sayang antar sesame anggota keluarga
 Fungsi pendidikan dan juga penanaman ilmu dan praktik agama
 Fungsi penyedia kebutuhan ekonomi untuk anggota keluarga yang belum dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri
 Fungsi biologis sebagai sebuah bagian untuk memperbanyak keturunan atau
generasi penerus
 Fungsi kasih sayang, rasa aman dan perhatian antar sesame anggota keluarga
 Fungsi rekreatif untuk setiap anggota keluarga dari berbagai macam aktivitas
seharian

2.2 Konsep Stres dan Koping

1. Pengertian Stres
Stres is define as a challenging event that requires physiological, cognitive, or
behavioral adaptation (Oltaman & Emery, 2004).Para peneliti juga memperdebatkan
apakah stres didefinisikan sebagai peristiwa kehidupan itu sendiri atau penilaian
tentang peristiwa kehidupan, peristiwa itu ditambahn reaksi individu terhadapnya.
Stres adalah keadaan yang bersifat internal, yang disebabkan oleh tuntutan
fisik (badan) atau lingkungan, dan situasi social yang berpotensi merusak dan tidak
terkontrol (Morgan &King , dalam Umam, 2010). Stres juga dapat berarti respon dari
diri seseorang terhadap tantangan fisik maupun mental yang datang dari dalam atau
luar dirinya (Nasrudin, 2010). Stress merupakan tanggapan seseorang terhadap
perubahan di lingkungan yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya
terancam baik secara fisik maupun mental. Dari definisi-definisi yang dikemukakan
oleh (Atwater & Duffy, 1999), dan Feldman (1989), dapat dikatakan bahwa stres
adalah peristiwa yang dipersepsikan seseorang sebagai peristiwa yang menekan dan
menuntut penyesuaian respon adaptif. Setiap orang memiliki tingkatan toleransi
tertentu pada tekanan disetiap waktunya, yaitu kemampuan untuk mengatasi atau
tidak mengatasinya (Anoraga, 2009)
Menurut Diana faktor kunci dari stres adalah persepsi seseorang atau penilaian
4
terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari
situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, reaksi terhadap stres dipengaruhi oleh
bagaimana pikiran dan tubuh individu mempersepsi suatu peristiwa. Hal ini
sependapat dengan Sellye bahwa stressor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda,
yaitu dapat menjadi peristiwa positif dan tidak berbahaya atau menjadi peristiwa yang
berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu sangat berpengaruh terhadap
respon yang akan muncul (Umam, 2010).
2. Model – Model Stres
Definisi-definisi stres dapat digolongkan menjadi tiga kategori (Bartlett, 1998;
Goetsch & Fuller, 1995) :
 Stres sebagai stimulus
Stres sebagai Stimulusmenurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang
ada dalam lingkungan (environment).Individu mengalami stres bila dirinya
menjadi bagian dari lingkungan tersebut.Dalam konsep ini stres merupakan
variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat.
 Stres sebagai respon
Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon
atau reaksi individu terhadap stressor.Dalam konteks ini stress merupakan
variable tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variable
bebas atau independent variable.
 Stres sebagai interaksi antara organisme dan lingkungannya.
Menurut pandangan ketiga, stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor
dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan
lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi
disebut sebagai hubungan transaksional. Di dalam proses hubungan ini termasuk
juga proses penyesuaian. (Bart Smet, 1994 : 111). Dalam konteks stres sebagai
interaksi antara individu dengan lingkungan, stres tidak dipandang sebagai
stimulus maupun sebagai respon saja, tetapi juga suatu proses di mana individu
juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat mempengaruhi stressor
melalui strategi perilaku kognitif dan emosional.
3. Klasifikasi Stres dengan tiga model diatas
a. Engineering model melihat stres eksternal memunculkan reaksi stres, atau strain ,
pada individu. Stres terletak dalam ciri-ciri stimulus lingkungan : stres adalah apa
yang terjadi pada seseorang (bukan apa yang terjadi dalam diri seseorang). Stres
5
dapat dihindari dan dapat dapat di toleransi, dan tingkat moderat stres bahkan
dapat menguntungkan (eustress: Selye, 1956). Tanpa stres, seperti yang diukur
oleh kecemasan atau rangsangan fisiologis, bisa mengakibatkan detrimental.
Sebagai contoh, saat anda dalam kondisi relaks anda tidak melihat mobil yang
melaju kearah anda pada saat anda menyebrang jalan.Stres membantu membuat
kita tetap alert (waspada), memberikan energi yang dibutuhkan untuk
mempertahankan interes pada lingkungan kita, untuk mengeksplorasinya dan
beradaptasi dengannya. Akan tetapi, jika kita “direnggangkan melampaui batas-
batas elastisitas kita”, stres akan merugikan.
b. Physiological model terutama menyangkut apa yang terjadi dalam diri seseorang
sebagai akibat stres (aspek-aspek “respon” dari engeering model), khususnya
perubahan-perubahan fisiologis. Impetus untuk pandangan stres ini adalah definisi
Selye (1956) bahwa “Stres adalah respon nonspesifik tubuh terhadap tuntutan
yang dialamatkan kepadanya”. Selama menjadi mahasiswa kedokteran, Selye
melihat sebuah sindrom umum yang diasosiasikan dengan “being ill” (sakit),
telepas dari apa sakitnya, yang ditandai dengan (i) hilanganya nafsu makan; (ii)
kehilangan berat badan dan kekuatan yang berkaitan dengannya; (iii) hilangnya
ambisi; dan (iv) ekspresi wajah tipikal yang diasosiasikan dengan sakit.
c. Transactional model merepresentasikan semacam percampuran antara kedua
model yang pertama dan banyak mengacu pada penelitian Lazarus (1966). Bagi
Lazarus dan Folkman (1984) stres adalah hubungan tertentu antara seseorang dan
lingkungan yang nilai oleh orang itu sebagai hal yang berat atau melampaui
sumber dayanya dan membahayakan kesejahteraannya. Oleh karena persepsi
seseorang tentang mismatch anatara tuntutan dan kemampuanlah yang
menyebabkan stres, model memungkinkan perbedaan-perbedaan individual
penting yang daoat menghasilkan stres dan seberapa besar stres yang dialami.
Demikian juga ada perbedaan besar antara bagaimana orang berusaha mengatasi
stres, secara psikologis maupun perilaku.Engeering model terutama menyangkut
pertanyaan “apa yang menyebabkan stres?”, dan model psikologis dengan
pertanyaan “apa efek stres ?”. Model transaksional menyangkut keduan
pertanyaan tersebut, ditambah “bagaimana kita menanggulangi stres ?”.
4. Respon Psikological terhadap Stress
 Respon Fisiologis 6
Didalam otak hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) diaktifkan oleh stres dan
hal ini yang akhirnya mendorong sekresi hormon. Ketika ancaman yang
dipersepsi tercatat di korteks, ia memberi sinyal pada amigdala, struktur otak yang
terutama bertanggung jawab untuk mengaktifkan respon stres, yang menyekresi
corticotrophin-releasing factor (CRF). CRF menstimulasi batang otak untuk
mengaktifkan sistem saraf simpatik.Dalam merespons rangsangan simpatik,
kelenjar adrenal melepaskan dua hormon.Yang pertama adalah epinephrine (yang
lazim dikenal sebagai adrenalin) yang bertindak sebagai suatu neuromodulator
dan menyebabkan dilepaskannya nerophinephrine dan lebih banyak epinephrine
ke dalam aliran darah yang mengaktifkan system saraf simpatetik dalam tubuh.
Pada saat yang sama, hipotalamus mensekresi CRF yang menyebabkan
pituitary mensekresi hormone ACTH (adrenocorticotrophic hormone) dan hal ini
menyebakan korteks adrenal mensekresi hormone yang kedua, Cortisol. Kortisol
yang sering disebut “hormone stres” karena pelepasannya berkaitan erat dengan
stres.Kortisol memiliki tindakan yang kurang cepat dibanding adrenalin, tetapi
kortisol itu berfungsi dengan cepat untuk membantu tubuh melakukan perbaikan
dalam merespon cedera atau infeksi. Salah satu fungsi kortisol adalah
“penahanan” patogen dalam tubuh.
 Respon Psikologis
Situasi stres menghasilkan reaksi emosional mulai dari kegembiraan (jika
peristiwa menuntut tetapi dapat ditangani) sampai emosi umum seperti
kecemasan, kemarahan, kekecewaan, dan depresi.Jika situasi stres terus terjadi,
emosi kita mungkin berpindah bolakbalik diantara emosi-emosi tersebut,
tergantung pada keberhasilan kita bagaimana bisa menyelesaikannya.
1. Anxiety (Kecemasan)
Kecemasan yang dimaksud adalah emosi yang tidak menyenangkan yang
dikenal dengan beberapa istilah seperti ‘kekhawatiran’, ‘kegelisahan’,
‘ketegangan‘, dan ‘ketakutan’, semuanya kita alami dalam taraf yang
berbeda. Orang yang mengalami peristiwa-peristiwa dibawah batas normal
‘ambang penderitaan manusia’ terkadang memiliki pola yang kuat atas
anxiety-related symptoms yang disebut postraumatik stress disorder. Adapun
gejalanya adalah sebagai berikut:
a. Mati rasa terhadap dunia, kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas
7
sebelumnya dan perasaan asing kepada orang lain.
b. Pelepasan (lessen) trauma dalam ingatan dan mimpi yang berulang kali
c. Gangguan tidur, susah berkonsentrasi, dan overalertness.
d. Beberapa orang merasa bersalah jika bisa selamat sementara yang lain
tidak selamat.
2. Anger and Aggression (Marah dan Depresi)
Kemarahan memicu dan membawa kepada agresi.Anak-anak
seringkali menjadi marah dan menunjukkan perilaku agresi ketika mengalami
frustrasi.Asumsi frustrationaggression hypothesis, bahwa ketika upaya
seseorang dalam mencapai tujuannya terhambat, maka dorongan agresif
menyebabkan motif berperilaku menyakiti -objek atau pun orang-
menyebabkan frustrasi.Agresi secara langsung terhadap sumber frustrasi
tidaklah selalu baik, kadangkadang sumber tersebut ‘samar’ dan ‘kasat’.
Seseorang tidak mengetahui apa yang harus dilawan tetapi merasa marah dan
mencari objek untuk melepaskan perasaan ini. Ketika keadaan tidak
mengizinkan untuk ‘direct attack’ terhadap sumber frustrasi, agresi
‘displaced’: Aksi agresi menjadi tertuju pada objek atau orang yang tidak
bersangkutan daripada sumbernya langsung.
3. Apathy and Depression
Apati adalah respon pasif agresi terhadap frustrasi. Jika kondisi stress
terus berlangsung dan individu tidak berhasil mengatasinya, maka apati akan
berkembang menjadi depresi. Teori learned-helplessness (Seligman, 1975)
menjelaskan bahwa ‘aversive experience’, ‘uncontrollable events’ membawa
kepada apati dan depresi; yang dapat membantu kita memahami mengapa
orang pasrah dan menyerah pada peristiwa sulit. Gejala learned-helplessness,
antara lain: apati, penarikan diri, dan diam. Seperti korban Nazi percaya
bahwa tak ada yang dapat dilakukan, menyerah, dan tidak mencoba untuk
melarikan diri.
4. Cognitive Impairment
Gejalanya:
a. sukar berkonsentrasi
b. sukar mengorganisasikan pikiran secara logis
c. mudah terganggu 8
performa mereka pada tugas kompleks kurang memuaskan/buruk
5. Pengertian Coping
Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan coping sebagai mengubah secara
konstan upaya kognitif dan perilaku untuk menjawab tuntutan internal dan atau
eksternal yang dinilai menyita atau melampaui sumber daya yang dimiliki oleh orang
yang bersangkutan.
Mekanisme koping adalah berbagai usaha yang dilakukan individu untuk
menanggulangi stres yang dihadapinya (Stuart, 1984). Mekanisme koping merupakan
suatu perubahan yang konstan dari usaha kognitif dan tingkah laku untuk menata
tuntutan eksternal dan internal yang dinilai sebagai ha1 yang membebani atau
melebihi surnber daya individu (Lazarusdan Folkman, 1984).
Perilaku koping menurut Lazarus (1976) diacu dalam Lukman (2002) sebagai:
 Perilaku tindakan yang langsung melawan ancaman atau lari dari ancaman
(melawan atau lari) dan di desain untuk mengubah hubungan stress dengan
lingkungan fisik atau sosial
 Bentuk intrapsychic koping merupakan mekanisme pertahanan (misalnya
penolakan) yang lebih didesain untuk mengurangi munculnya emosi
dibandingkan untuk mengubah situasi. Tindakan dan pikiran dapat membuat
seseorang lebih baik jika mereka tidak dapat mengubah sumber stres.
Dua strategi alternative yang sangat penting adalah coping terfokus-masalah dan
terfokus-emosi (Lazarus & Folkaman, 1984) :
a. Emotion-focused coping (EFC)
Emotion-focused coping melibatkan usaha mengurangi emosi-emosi negatif
yang menjadi bagian dari pengalaman stres. Sebelum menjalani sebuah ujian
besar, yang anda lakukan adalah duduk dengan tenang dan bernapas dalam-dalam
untuk menenangkan diri.
b. Problem-focused coping (PFC)
Problem-focused coping (PFC) melibatkan mengambil tindakan langsung untuk
mengatasi masalahnya, atau mencari informasi yang relevan dengan solusinya.
Jika pekerjaan yang dihadapi stressful, tindakan selanjutnya mencari pekerjaan
baru. 9
c. Psychological resources for coping with stress
 Memikirkan Kembali Masalah
Berikut ini 3 cara yang efektif untuk melakukan metode cognitive coping :
 Menilai atau meninjau kembali situasinya. Walaupun anda tidak dapat
menghilangkan masalah yang membuat stres, anda dapat memilih untuk
memikirkan masalah itu secara berbeda proses yang disebut sebagai
reappraisal (menilai/meninjau kembali). Masalah dapat diubah menjadi
tantangan dan kehilangan dapat diubah menjadi keuntungan yang tidak
terduga. Cara anda berpikir mengenai suatu situasi atau provokasi,
memepengaruhi emosi yang anda rasakan mengenai situasi atau provokasi
tersebut. Reappraisal dapat mengubah kemarahan menjadi simpati,
kecemasan menjadi determinasi, dan perasaan kehilangan menjadi
perasaan memiliki kesempatan (Folkman & Moskowitz, 2000).
 Belajar dari pengalaman. Banyak korban dari kejadian traumatis dan
penyakit yang mengancam nyawa melaporkan bahwa pengalaman
membuat mereka lebih kuat, lebih tegar, dan bahkan mereka menjadi
manusia yang lebih baik karena bertumbuh dan belajar dari kejadian
tersebut (Mc Farlan & Alvaron, 2000).
 Membuat perbandingan sosial. Dalam situasi sulit, orang yang sukses
bertahan seringkali membandingkan kondisi mereka dengan orang lain
yang (mereka rasakan) kurang beruntung dibandingkan mereka. Separah
apapun kondisi mereka, bahkan jika mereka memiliki penyakit mematikan,
mereka menemukan orang lain yang keadaannya jauh lebih parah (Taylor
& Lobel, 1989; Wood, Michaela, & Giordano, 2000).
 Mendapatkan Dukungan Sosial
Sejauh ini kita telah membahas strategi coping individual, hal-hal yang
dapat anda lakukan bagi diri anda sendiri. Namun seringkali strategi individual
tidak cukup, dan perlu bagi kita untuk mendapatkan bantuan dan dukungan
sosial dari orang lain yang berada dalam lingkaran keluarga, teman, tetangga,
dan rekan kerja.
 Saat Teman Membantu Anda Menghadapi Masalah. Memiliki teman
adalah hal yang menyenangkan, dan hal ini bahkan dapat meningkatkan
kesehatan anda. Orang yang hidup di dalam jejaring hubungan yang dekat,
hidup lebih lama dibandingkan orang yang tidak memiliki hal tersebut.
10
Dalam dua penelitian yang mengikuti perkembangan ribuan orang dewasa
selama sepuluh tahun, orang yang memiliki banyak teman, kenalan, atau
keanggotaan dalam kelompok keagamaan atau yang lainnya, secara rata-
rata hidup lebih lama, dibandingkan denganmereka yang hanya memiliki
sedikit teman.
 Dukungan sosial meningkatkan kesehatan sebagian karena, seperti
memiliki locus of control internal dan perasaan optimism, hal tersebut
meningkatkan sistem kekbalan. Orang yang merasa kesepian memiliki
fungsi kekebalan yang lebih buruk dibandingkan dengan orang yang tidak
kesepian.
 Coping terhadap Teman. Tentu saja, terkadang orang lain tidak
membantu. Seringkali justru merekalah yang menyebabkan
ketidakbahagiaan, stress, dan kemarahan dalam diri kita. Dalam hubungan
dekat, orang yang sama dapat menjadi sumber dukungan dan juga
sekaligus sumber stress, terutama jika kedua belah pihak saling bertengkar.
Selain menjadi sumber konflik, teman dan kerabat juga terkadang tidak
memberikan dukungan saat bencana atau sakit hanya karena mereka
memnag tidak peduli atau merasa canggung.
 Sembuh Dengan Membantu Orang Lain
Cara terakhir untuk menghadapi stress, kehilangan, dan tragedy adalah
dengan memberikan dukungan bagi orang lain, dan bukannya selalu menerima
dukungan dari orang lain. Orang mendapatkan kekuatan, menurutnya, dengan
mengurangi focus terhadap kesulitan mereka sendiri dan lebih banyak
menolong orang lain yang juga berada dalam kesulitan. Oran yang sering
menolong teman dan keluarga mereka dengan bantuan praktis dan dukungan
emosional juga hidup lebih panjang daripada orang yang mementingkan diri
sendiri dan jarang membantu orang lain (Brown dkk., 2003).
Kemampuan untuk melihat hal-hal di luar diri sendiri, untuk peduli dan
membantu orang lain, berhubungan dengan hamper semua mekanisme coping
yang berhasil dan telah kita bicarakan.Kemampuan ini menstimulasi
optimisme dan mengembalikan perasaan memiliki kendali. Kemampuan ini
juga mendorong untuk memecahkan masalah sendiri dan bukan menyalahkan
orang lain. 11
2.3 Fase waktu stress dan strategi koping

a. Periode Antistres
Periode stress sebelum benar-benar melawan stressor, antisipasi kadang
mungkin terjadi, terdapat ksadaran terhadap bahaya yang mengancam atau ancaman
situasi yang dirasakan. Jika keluarga atau orang yang membantu dapat
mengidentifikasi stressor yang akan datang, bimbingan antisipasi serta strategi koping
pencegahan dapat dicari atau diberikan.
b. Periode Stres Aktual
Strategi koping selama periode stress biasanya berbeda intensitas dan jenisnya
dari strategi yang digunakan seblum awitan stressor dan stress. Mungkin terdapat
strategi defensive dan bertahan yang sangat dasar digunakan selama periode ini jika
stress dalam keluarga sangat berat.
c. Period Pasca Stres
Stratgi koping yang diterapkan setelah periode stress akut, diseebut fase
pascatrauma yang terdiri dari strategi untuk mngembalikan keluarga ke keadaan yang
seimbang. Untuk mningkatkan kesejahteraan keluarga selama fae ini, keluarga perlu
saling bekerja sama, saling mengungkapkan perasaan dan memecahkan masalah atau
mencari dukungan keluarga untuk memperbaiki situasi penuh stress.
Ada empat kemungkinan hasil akhir dari pascatrauma ini, yaitu :
 Keluarga berfungsi pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya
 Keluarga berfungsi pada tigkat yang lebih rendah dari yang sebelumnya
 Keluarga berfungsi pada tingkat yang sama dengan prastres
 Perpecahan keluarga (seperti : perpisahan, perceraian dan pengabaian)

2.4 Teori Stres dalam Keluarga

Konsep Stres Keluarga Seseorang atau keluarga dikatakan sehat tidak hanya terlepas
dari penyakit saja, tetapi juga perasaan tentram, tenang dan harmonis yang ditunjukkan oleh
adanya kemampuan dalam menggunakan koping yang efektif dalam mengadapi stressor baik
yang bersumber dari dalam maupun dari luar.

1. Pengertian Stres dalam Keluarga 12


Pengertian stres menurut Lazarus & Folkman (1984) adalah reaksi spesifik antara
individu dan lingkungan yang dinlai individu membebani atau melebihi kapasitasnya dan
membahayakan kesejahteraannya. Sedangkan Selye (1982) membatasi stres sebagai
respon yang spesifik pada tubuh terhadap berbagai jenis tuntutan, dimana respon yang
non spesifik Selye (1983) membatasi stres sebagai respon yang non-spesifik pada tubuh
terhadap berbagai jenis tuntutan. Respon yang non-spesifik disebut GAS (General
Adaptation Syndrome), dimana tubuh melepaskan hormon-honnon adaptif, yang
kemudian mengiubah struktur dan komposisi kimia pada tubuh.

General Adaptatin Syndrome (GA), terdiri dari tiga tahap yaitu:

 Alarm Reaction (AR), Tanda-tanda reaksi tubuh disebut alarm reaction, yaitu
sistem pertahanan tubuh untuk mengatasi stresor. Menurut Seyle pada alarm
reaction ini dibag dua tahap yaitu fase shock dan fase counter shock. Selama fase
shock, penyebab stres dapat diamati pada orang sadar maupun yang tidak sadar.
Respon ini berlangsung dalam waktu pendek, lebih kurang satu menit sampai 24
jam. Selama fase counter shockperubahan yang dihasilkan tubuh berlawanan
dengan fase shock, pada fase ini penderita mengadakan reaksi perbaikan.
 Stage of resistance (Tingkat perlawanan), Apabila stresor bisa diimbangi oleh
daya tahan tubuh maka akan timbul kekuatan untuk melawan. Tanda-tanda dari
reaksi alarm akan hilang bahkan daya melawan ini bisa melebih batas-batas
normal.
 Stage of Exhaustion (Tingkat kelelahan), Apabila tubuh dihadapkan pada
stresor yang lama dan waktu yang terlalu lama, maka energi untuk beradaptatsi
akan habis, sehingga akan timbul kembali reaksi- reaksi alarm tetapi ini bersifat
irreversibel.
2. Model yang akan dibahas berkaitan dengan model krisis dari adanya stres
keluarga
a. Teori Stres Keluarga dari Hill (1949) adalah model yang menggambarkan faktor-
faktor yang menghasilkan krisis atau non knsis dalam keluarga. Berdasarkan riset
dari Hill tentang perpisahan akibat perang dan reuni, ia mengembangkan sebuah
teori stres keluarga yang disebut ABCX, &mana ia mengidentifikasikan satu set
variabel utama dan hubungannya yang menimbulkan krisis keluarga. Secara teoritis,
ia menggambarkan determinan-determinan krisis keluarga, yaitu: "faktor A
(kejadian atau stresor) yang berinteraksi dengan B (sumber-sumber koping
13
keluarga, selanjutnya berinteraksi dengan C (persepsi keluarga terhadap kejadian),
yang akhirnya menghasilkan X (knsis)."
b. Model ABCX dari McCubbin dan Patterson (1980) merupakan bentuk
pengembangan dari teori ABCX-nya Hill. Mengingat teori Hill meliputi variabel-
variabel krisis, teori McCubbin dan Patterson menjelaskan perbedaan dalam
adaptasi keluaiga pasca krisis. Setiap variabel asli (ABCX) 'diuji kembali dan
definisi-definisinya dimodifikasi. Setiap variabel dalam model digambarkan secara
ringkas sebagai berikut :
 Faktor aA, setumpuk stresor keluarga. McCubbin dan Patterson (1980)
menyatakan bahwa ada lebih dari satu stresor utama, yang berturnpuk menjadi
stresor keluarga", dan ini berpengaruh penting dalam tingkat adaptasi keluarga.
 Faktor bB: Sumber-Sumber Koping Keluarga. Faktor ini adalah surnber-sumber
keluarga untuk dapat memenuhi tuntutan-tuntutan yang dihadapi keluarga. Faktor
tersebut terdiri dari sumber-sumber pribadi angota keluarga (pendidikan,
kesehatan dan karakteristik kepribadian), dan sumber-sumber internal dari
system keluarga (peran-peran yang fleksibel, kekuasaan bersama, komunikasi,
dan ikatan keluarga serta dukungan sosial).
 Faktor cC: DeJinisi dun makna keluarga atau persepsi keluarga terhadap stresor.
Definisi faktor ini pada pokoknya menyangkut penilaian dari konseptualisasi
tentang definisi situasi keluarga yang dibuat oleli Hill.
 Faktor xX: Adaptasi Keluarga. Dalam model ABCX Ganda, terdapat tiga tingkat
analisa: anggota keluarga (individu), unit keluarga clan komunitas dimana
keluarga menjadi bagannya. Masing-masing unit ini digambarkan memiliki
tuntutan dan kemampuan.
c. Model Stres Keluarga dari Boss (1983). Ia telah mengembangkan teori stres dari
Hill untuk menerangkan pengaruh konteks keluarga. Keluarga tidak hidup dalarn
isolasi tetapi mereka merupakan bagian dari konteks yang lebih besar yang
mempengaruhi variabel-variabel model dari Hill. Dua konteks berbeda yang
menjadi media bagi stres keluarga adalah konteks internal dan eksternal.
 Konteks Internal keluarga terdiri dari tiga elemen yang dikontrol oleh keluarga
dan dapat diubah. Ada elemen-elemen psikologs, struktural dan filosofi.
 Konteks eksternal dari keluarga adalah konteks yang tidak dikontrol oleh
keluarga. Konteks tersebut termasuk lingkungan dimana keluarga berada,
14
terdiri dari batas- batas genetik dan perkembangan, dan konteks "tempat dan
waktu" (sejarah, ilmu, ekonomi, kebudayaan).
2.5 Stressor dan Dampaknya

Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan


perubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, ataud ewasa), sehingga orang itu
terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua
mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbulah keluhan-
keluhan kejiwaan, antara lain depresi. Pada umumnya jenis stressor psikososial dapat
digolongkan sebagai berikut:

a. Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stress yang dialami
seseorang; misalnya pertengkaran, perpisahan (separation), perceraian, kematian salah
satu pasangan, ketidaksetiaan, dan lain sebagainya. Stressor perkawinan ini dapat
menyebabkan seseorang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
b. Problem Orang Tua
Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak,
kebayankan anak, kenakalan anak, anak sakit; hubungan yang tidak baik dengan
mertua, ipar, besan, dan lain sebagainya. Permasalahan tersebut diatas merupakan
sumber stress yang pada gilirannya seseorang dapat jatuh dalam depresi dan
kecemasan.
c. Hubungan Interpersonal
Gangguan ini dapat berupa hubungan dengan kawan dekat yang mengalami
konflik, konflik dengan kekasih, antara atasan dan bawahan, dan lain sebagainya.
Konflik hubungan interpersonal ini dapat merupakan sumber stress bagi seseorang,
dan yang bersangkutan dapat mengalami depresi dan kecemasan karenanya,
d. Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan yang buruk besar pengaruhnya bagi kesehatan seseorang,
misalnya soal perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup dalam
lingkungan yang rawan (kriminalitas) dan lain sebagainya.
e. Perkembangan
Masalah perkembangan baik fisik maupun mental seseorang, misalnya masa
remaja, masa dewasa, menopause, usia lanjut dan lain sebagainya. Kondisi setia15
pperubahan fase-fase tersebut di atas, untuk sebagaian individu dapat menyebabkan
depresi dan kecemasan, terutama pada mereka yang mengalami menopause atau usia
lanjut.
f. Faktor Keluarga
Faktor stress yang dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan karena
kondisi keluarga yang tidakbaik (yaitu sikap orangnya) misalnya:
1. Hubungan kedua orang tua yang dingin, atau penuh ketegangan, atau acuh tak
acuh
2. Kedua orang tua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk bersama dengan
anak-anak.
3. Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak baik
4. Kedua orang tua berpisah atau bercerai
5. Salah satu orang tua menderita gangguan jiwa/kepribadian
6. Orang tua dalam pendidikan anak kurang sabar, pemarah, kerasa, dan otoriter.
g. Lain – lain
Stressor kehidpuan lainnya juga dapat menimbulkan depresi dan kecemasan adalah
antara lain, bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan di luar nikah, dan lain
sebagainya.

Berikut adalah berbagai macam penyakit serta gangguan kesehatan akibat stres mental
yang bisa terjadi yaitu :
1. Penyakit Jantung.
Kita tahu bahwasannya stres akan meningkatkan hormon tubuh yang bernama
"adrenaline" kedalam saluran darah kita. Hormon ini bersama-sama dengan beberapa hormon
yang lain akan menyebabkan beberapa perubahan terjadi di dalam tubuh kita sebagai
persiapan untuk melindungi kita. Di antara perubahan-perubahan itu ialah denyut jantung
akan meningkat dan tekanan darah akan meningkat pula.
Bila hal ini dibiarkan, maka hal ini akan bisa berakibat buruk terhadap kesehatan
jantung kita serta juga kesehatan pembuluh darah juga. Stress juga akan meningkatkan
tekanan darah di samping juga akan memudahkan proses pembekuan darah. Semua ini
merupakan perubahan-perubahan yang bisa menyebabkan serangan jantung. (Health
Education Associates, 1996; Stress and Heart Disease).
2. Kegemukan (Obesitas).
Banyak manusia ketika sedang dalam tekanan yang berat maka tindakan yang
16
dilakukannya, atau pun mekanisme koping terhadap stres yang dilakukannya adalah banyak
makan. Dan yang lebih membahahayakan lagi adalah bila makan ini adalah banyak
mengkonsumsi makanan yang kurang sehat.
Terlalu banyak makan junk food, camilan tinggi garam dan gula atau minuman
berpengawet dan berperisa buatan secara terus-menerus dalam waktu lama bisa
mengakibatkan berat badan berlebih atau obesitas. Selain itu juga akan memberikan dampak
yang buruk lainnya yaitu menumpuknya kolesterol jahat dalam tubuh dan akan banyak lagi
penyakit yang bisa tmbul akibat dari obesitas serta kolesterol jahat ini.
3. Depresi.
Depresi adalah gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan
gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang
bersangkutan. Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen
psikologik seperti halnya rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta
komponen somatik contohnya: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan
darah dan denyut nadi sedikit menurun. Inilah yang dimaksud dengan pengertian depresi.
Dan ini juga termasuk dalam penyakit yang disebabkan stres juga.
Maka gangguan akibat depresi serta stres seperti tersebut di atas lah yang akan bisa
mengganggu kesehatan diri seseorang. baik itu secara fisik maupun mentalnya. Bila dibiarkan
berkelanjutan, maka depresi akan berpengaruh terhadap penurunan kondisi tubuh secara fisik,
gangguan kesehatan mental akut bahkan sampai bisa terjadi resiko kematian.
4. Tubuh Mudah Terkena Sakit.
Beberapa ilmuwan yang telah melakukan penelitian mengenai hubungan stres dengan
penyakit ini juga bahwasannya stress akut akan bisa menurunkan daya tahan tubuh manusia.
Beberapa studi kasus telah menunjukkan bahwa beberapa hormon stres yang dikeluarkan
tubuh ketika beban berlebihan datang, hal ini akan bisa memengaruhi kemampuan kelenjar
thymus untuk menstimulasi dan mengatur aktivitas leukosit (sel darah putih).
Terganggunya aktifitas sel darah putih ini lah yang akan bisa menurunkan imunitas dan daya
tahan tubuh akan menurun. Kita tahu bahwa salah satu fungsi leukosit ini adalah memerangi
berbagai jenis virus bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Bila terganggu maka otomatis tubuh
akan lebih mudah untuk terserang berbagai jenis penyakit yang berkaitan denan imunitas
tubuh sendiri.
2.6 Strategi Koping Keluarga

1. Pengertian Koping Keluarga


17
Pearlin & Schooler (1978;1982) diacu dalam Puspitawati (1992) mendefinisikan
koping sebagai tingkah laku yang melindungi seseorang dari pengalamannya akibat dari
psikologis yang merugikan.
Sedangkan menurut Mc Cubbin et al. (1980) dalam Puspitawati (1992), koping
merupakan manajemen dari dimensi-dimensi kehidupan keluarga termasuk memelihara
organisasi keluarga (secara internal), mempertahankan keutuhan keluarga peningkatan
kebebasan dan penghargaan pada diri kita sendiri, mempertahankan hubungan dengan
masyarakat dan mengontrol pengaruh kuat dari sumber stres yang menjadi suatu proses
pencapaian keseimbangan dalam sistem keluarga.
Selain itu, menurut Folkman & Lazarus (1984) strategi koping merupakan suatu
perubahan dari suatu kondisi ke lainnya sebagai cara untuk menghadapi situasi tak
terduga, yang mana secara empirical disebut sebagai sebuah proses dan Friedman (1998)
mendefinisikan koping keluarga sebagai respon perilaku positif yang digunakan keluarga
dan sistemnya untuk memecahkan masalah atau mengurangi stres yang diakibatkan oleh
peristiwa tertentu.
Koping keluarga didefenisikan sebagai manajemen kelompok terhadap kejadian
atau situasi yang penuh ketegangan (McCubbin, 1979). Harus ditambahkan bahwa
keluarga sebagai sebuah kelompok bukanlah koping, jika hanya ada satu anggota
keluarga yang menunjukkan gejala tidak stres. Walaupun jika keluarga sebagai satu
kesatuan kelihatan seolah-olah mengelola efek kejadianpenyebab stres khusus, namun
terhadap pengujian yang lebih dekat dapat ditemukan bahwa ibu mengalami depresi,
remaja mengalami masalah psikosomatik atau ayah mengalami tekanan darah tinggi yang
sangat berbahaya. Secara ringkas, koping keluarga adalah manajemen kejadian stres oleh
keluarga dan oleh tiap individu dalam keluarga.
2. Tipe Strategi Koping Keluarga
Menurut Friedman (1998), terdapat dua tipe strategi koping keluarga, yaitu internal
atau intrafamilial dan eksternal atau ekstrafamilial.
a) Ada tujuh strategi koping internal, yaitu:
1) Mengandalkan kemampuan sendiri dari keluarga. Untuk mengatasi berbagai
masalah yang dihadapinya, keluarga seringkali melakukan upaya untuk menggali
dan mengandalkan sumberdaya yang dimiliki. Keluarga melakukan strategi ini
dengan membuat struktur dan organisasi dalam keluarga, yakni dengan membuat
jadwal dan tugas rutinitas yang dipikul oleh setiap anggota keluarga yang lebih
ketat. Hal ini diharapkan setiap anggota keluarga dapat lebih disiplin dan patuh,
18
mereka harus memelihara ketenangan dan dapat memecahkan masalah, karena
mereka yang bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.
2) Penggunaan humor. Menurut Hott diacu dalam Friedman (1998), perasaan humor
merupakan aset yang penting dalam keluarga karena dapat memberikan perubahan
sikap keluarga terhadap masalah yang dihadapi. Humor juga diakui sebagai suatu
cara bagi seseorang untuk menghilangkan rasa cemas dan stres.

3) Musyawarah bersama (memelihara ikatan keluarga). Cara untuk mengatasi


masalah dalam keluarga adalah: adanya waktu untuk bersama-sama dalam
keluarga, saling mengenal, membahas masalah bersama, makan malam bersama,
adanya kegiatan bersama keluarga, beribadah bersama, bermain bersama, bercerita
pada anak sebelum tidur, menceritakan pengalaman pekerjaan maupun sekolah,
tidak ada jarak diantara anggota keluarga. Cara seperti ini dapat membawa
keluarga lebih dekat satu sama lain dan memelihara serta dapat mengatasi tingkat
stress, ikut serta dengan aktivitas setiap anggota keluarga merupakan cara untuk
menghasilkan suatu ikatan yang kuat dalam sebuah keluarga.

4) Memahami suatu masalah. Salah satu cara untuk menemukan koping yang efektif
adalah menggunakan mekanisme mental dengan memahami masalah yang dapat
mengurangi atau menetralisir secara kognitif terhadap bahaya yang dialami.
Menambah pengetahuan keluarga merupakan cara yang paling efektif untuk
mengatasi stressor yaitu dengan keyakinan yang optimis dan penilaian yang positif.
Menurut Folkman et al. diacu dalam Friedman (1998), keluarga yang
menggunakan strategi ini cenderung melihat segi positif dari suatu kejadian yang
penyebab stres.

5) Pemecahan masalah bersama. Pemecahan masalah bersama dapat digambarkan


sebagai situasi dimana setiap anggota keluarga dapat mendiskusikan masalah yang
dihadapi secara bersama-sama dengan mengupayakan solusi atas dasar logika,
petunjuk, persepsi dan usulan dari anggota keluarga yang berbeda untuk mencapai
suatu kesepakatan.

6) Fleksibilitas peran. Fleksibilitas peran merupakan suatu strategi koping yang kokoh
untuk mengatasi suatu masalah dalam keluarga. Pada keluarga yang berduka,
fleksibilitas peran adalah sebuah strategi koping fungsional yang penting untuk
membedakan tingkat berfungsinya sebuah keluarga.
19
7) Normalisasi. Salah satu strategi koping keluarga yang biasa dilakukan untuk
menormalkan keadaan sehingga keluarga dapat melakukan koping terhadap sebuah
stressor jangka panjang yang dapat merusak kehidupan dan kegiatan keluarga.
Knafl dan Deatrick diacu dalam Friedman (1998), mengatakan bahwa normalisasi
merupakan cara untuk mengkonseptualisasikan bagaimana keluarga mengelola
ketidakmampuan seorang anggota keluarga, sehingga dapat menggambarkan
respons keluarga terhadap stres.

b) Strategi Koping Eksternal ada empat yaitu:


1) Mencari Informasi
Keluarga yang mengalami masalah memberikan respons secara kognitif
dengan mencari pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan stressor.
Hal ini berfungsi untuk mengontrol situasi dan mengurangi perasaan takut terhadap
orang yang tidak dikenai dan membantu keluarga menilai stressor secara lebih
akurat.
2) Memelihara Hubungan Aktif Dengan Komunitas
Koping berbeda dengan koping yang menggunakan sistem dukungan sosial.
Koping ini merupakan suatu koping keluarga yang berkesinambungan, jangka
panjang dan bersifat umum, bukan sebuah koping yang dapat meningkatkan
stressor spesifik tertentu. Dalam hal ini anggota keluarga adalah pemimpin
keluarga dalam suatu kelompok, organisasi, dan kelompok komunitas.
3) Mencari Pendukung Sosial
Mencari pendukung sosial dalam jaringan kerja sosial keluarga merupakan
strategi koping keluarga eksternal yang utama. Pendukung sosial ini dapat
diperoleh dari sistem kekerabatan keluarga kelompok professional, para tokoh
masyarakat dan lain-lain yang didasarkan pada kepentingan bersama. Menurut
Caplan diacu dalam Friedman (1998), terdapat tiga sumber umum dukungan sosial
yaitu penggunaan jaringan dukungan sosial informal, penggunaan sistem sosial
formal, dan penggunaan kelompok-kelompok mandiri. Penggunaan jaringan sistem
dukungan sosial informal yang biasanya diberikan oleh kerabat dekat dan tokoh
masyarakat. Penggunaan sistem sosial formal dilakukan oleh keluarga ketika
keluarga gagal untuk menangani masalahnya sendiri, maka keluarga harus
dipersiapkan untuk beralih kepada profesional bayaran untuk memecahkan
masalah. Penggunaan kelompok mandiri sebagai bentuk dukungan sosial dilakukan
melalui organisasi. 20
4) Mencari Dukungan Spiritual
Beberapa studi mengatakan keluarga berusaha mencari dukungan spiritual
anggota keluarga untuk mengatasi masalah. Kepercayaan kepada Tuhan dan berdoa
merupakan cara paling penting bagi keluarga dalam mengatasi stres.
2.7 Strategi Koping Disfungsional

Sementara keluarga fungsional mengalami stress cenderung bertindak dengan arahan


yang mengurangi stres, keluarga disfungsional cenderung menggunakan strategi defensif
habitual yang cenderung tidak menghapuskan atau menghilangkan atau melemahkan stresor (
Epstein et al., 1993; White, 1974 ). Strategi koping yang disfungsional secara temporer
mengurangi stresor, tetapi stres tersebut kembali karena stresor yang mendasari tidak
dihadapi. Strategi penurun stres dapat fungsional dan disfungsional. Perbedaannya adalah
bahwa strategi disfungsional memiliki efek membahayakn jangka panjang bagi anggota
keluarga dan keluarga.

Keluarga menggunakan berbagai strategi disfungsional khusus dalam upaya


mengatasi masalah mereka. Pada sebagian besar kasus, straategi ini dipilih secara tidak sadar,
sering kali sebagai respons yang digunakan keluarga asal mereka dalam upaya beradaptasi.

1. Penyangkalan masalah keluarga


Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan yang digunakan oleh anggota keluarga
dan keluarga sebagai satu kesatuan. Pada basis jangka pendek, penyangkalan keluarga
sering kali fungsional, karena ini memungkinkan keluarga “membeli waktu” guna
melindungi dirinya sementara secara bertahap menerima peristiwa yang menimbulkan
kepedihan. Tetapi jika berlangsung lama, penyangkalan bersifat disfungsional bagi
keluarga.
 Penyangkalan Dan Ekploitasi Emosional Anggota Keluarga
Terdapat beberapa cara eksploitif terbuka sehingga keluarga dapat
menurunkan ketegangan keluarga sehingga keluarga dapat menurunkan ketegangan
keluarga sebagai kelompok dengan pengungkapan emosional satu atau lebih anggota
keluarga. Dalam kategori luas penyangkalan dan eksploitif emosional ini, dua pola
disfungsional keluarga dibahas secara singkat : mengkambinghitamkan dan
penggunaan ancaman.

Mengkambinghitamkan: mengkambinghitamkan adalah mekanisme koping


21
disfungsional karena walaupun tindakan ini menurunkan tingkat ketegangan sistem
keluarga dan memungkinkan keberlanjutan homeostatis keluarga, namun
mengkorbankan kesehatan emosional satu anggota keluarga-orang yang
dikambinghitamkan atau “pasien yang teridentifikasi” (Fischer & Wampler, 1994;
McCreery, 1981).

Penggunaan Ancaman: ancaman adalah strategi koping disfungsional yang digunakan


guna mempertahankan keluarga tetap bersama dengan pengorbanan kesehatan
emosional anggotanya. Ancaman dapat dianggap sebagai dinamika keluarga berulang
pada banyak keluarga yang bermasalah (Gagne, 1992, smoyak , 1969).

 Penyangkalan Dilihat Dari Sistem Keyakinan Keluarga: Mitos Keluarga


Melalui sistem keyakinan keluarga, mitos dapat diciptakan mengenai keluarga
yang mengaburkan kenyataan dan menyangkat beberapa perkara serta masalah nyata
dalam kelompok. Masalh ini di rasakan baik sebagai hal yang menyakitkan untuk
diungkapkan secara terbuka atau sebagai hal yang tidak perlu didiskusikan karena
dengan melakukannya hanya akan membuat keadaan bertambah buruk (Byng-
Hall,1988).
 Penyangkalan Dilihat Dari Pola Komunikasi : Triangling
Cara lain untuk mengurangi stres baik berbasis jangka pendek maupun
panjang dalam keluarga adalah melalui penggunaan triangling. Konsep ini
dikembangkan Bowen (1976), seorang ahli terapi keluarga yang terkenal, dan
diterapkan dalam hubungan yang bersifat diadik guna mengurangi ketegangan dengan
menambahkan sorang anggota ketiga, yang kemudian terserap dan menyebarkan
ketegangan yang berkelanjutan dalam hubungan diadik (Goldenberg & Goldenberg,
2000). Dengan kata lain, membawa seorang anggota ketiga mengurangi emosionalitas
antara dua orang awalnya dengan memindahkan ketegangan ke anggota diadik yang
baru dan membuat satu dari pasangan semula menjadi “pihak luar”. Keseimbangan
kekuatan dalam triangling bersifat fleksibel dan dapat bergeser baik dalam periode
waktu sering atau lama. Pada saat stres sangat tinggi, sebuah sistem membentuk
segitiga (triangle) dengan lebih banyak pihak luar lagi, yang sekali lagi mengurangu
tekanan dalam keluarga (Goldenberg & Goldenberg; Miller & Winstead-Fry,1982).
Triangling dicantumkan disini sebagai strategi koping disfungsional karena
merupakan cara yang biasa digunakan guna mengurangi ketegangan interpersonal
dalam keluarga tanpa mengatasi situasi buruk yang mendasari (Juni,1995). Walaupun
22
triangling dapat dipandang sebagai fenomena yang terjadi sampai derajat tertentu
dalam semua interaksi yang berlandasan emosional, dan khususnya pada hubungan
diadik yang mengalami tekanan, penggunaan pervasif mekanisme penurunan stres ini
selama periode waktu lama dapat dianggap disfungsional karena tidak melakukan apa
pun untuk mengurangi stresor sehingga mencederai kebutuhan emosional anggota
keluarga dalam jangka panjang.
 Penyangkalan Dipelihara Melalui Penjarakan Emosional : Pseudomutualitas
Pseudomutualitas dapat dipandang sebagai strategi koping disfungsional
karena memelihara homeostatis keluarga dengan membahayakan pemenuhan fungsi
afektif keluarga-yaitu, dengan mengakui dan memberikan repons terhadap kebutuhan
emosional anggotanya (Schreiber, 1992). Masalah yang sebenarnya, ketidakmampuan
untuk meningkatkan dan memelihara hubungan yang akrab, dekat, dan afektif
dibungkus dengan suatu solidaritas serta kohensivitas palsu pada anggota keluarga.
Pseudomutualitas telah diidentifikasi sebagai “suatu tipe keterkaitan yang
ditandai oleh adanya suatu keasyikan keluarga yang bersatu dalam peran formal
dengan mengorbankan identitas individu” (Wynne et al., 1958, hlm.205). Seperti pada
penggunaan ancaman, perpisahan atau individualitas individu tidak diperkenankan.
Perbedaan atau divergensi individu dirasakan sebagai penyebab utama terganggunya
hubungan sehingga harus dihindari. Penggunaan ancaman tersebut kadang digunakan
dalam keluarga yang menerapkan pseudomutualitas.
 Pola Dominansi / Kepatuhan Ekstrem : Otoritarianisme
Patuh kepada dominasi yang menonjol termasuk dalam bagian ini sebagai
strategi koping disfungsional jangka panjang, karena melalui kepatuhan anggota
keluarga terhadap figur yang dominan dan berkuasa, biasanya suami/ayah,
ekuilibrium keluarga tercapai. Hal ini lagi – lagi, mengorbankan emosional orang –
orang yang berada dalam posisi bawah, dan kurang lebih sebagai dominator.
Kedamaian dan keselarasan dapat dicapai baik dengan basis jangka pendek maupun
panjang, tetapi jika kedamaian dan keselarasan dipaksakan , amarah pun merebak di
bawah permukaan – lalu dikuasai baik dengan kepatuhan dan bergantung pada
kedamaian dan keselarasan, maupun diungkapkan dalam bentuk depresi, somatisasi,
atau perilaku menyimpang, tindakan antisosial dan bersifat merusak.
Otoritarianisme adalah kecenderungan seseorang untuk berhenti mandiri
karena ketidakberdayaan dan ketergantungannya, serta keinginan untuk bergabung
23
dengan seseorang atau sesuatu diluar dirinya agar mendapatkan kekuasaan atau
kekuatan yang dirasakan kurang.
2. Perpecahan Dan Kecanduaan Dalam Keluarga

Untuk mengurangi ketegangan atau stres dalam keluarga, anggota keluarga boleh jadi
secara fisik atau psikososial saling berpisah. Perpisahan ini mencakup kehilangan anggota
keluarga karena pengabaian, perpisahan, atau perceraian, dan gangguan psikososial anggota
keluarga lewat keterlibatan anggota dalam kecanduan (mis.,alkohol, obat – obatan, berjudi).
Hanya keluarga yang mengalami kecanduan yang dibahas di sini.

 Keluarga Yang Mengalami Kecanduan


Sementara kebanyakan orang mengenali bahwa kecaduan alkohol dan obat – obatan
adalah penyakit, hanya sedikit sekali yang mengenalinya sebagai “penyakit keluarga”
(Al – Anon Family Groups, 2000). Saat ini, kecanduan anggota keluarga dipahami
sebagai masalah sistem keluarga bukan masalah individu. Alkohol dan obat – obatan
telah ditemukan memiliki pola intergenerasi. Penyalahgunaan minuman pada dewasa
muda telah ditemukan dipengaruhi oleh disfungsi dalam dalam keluarga asal (Fischer &
Wampler,1994).

3. Kekerasan Dalam Keluarga

Menggunakan ancaman, mengkambinghitamkan, dan otoriterianisme yang ekstrem


dapat menyebabkan kekerasan dalam keluarga. Kekerasan dalam keluarga dikenali sebagai
sutu dari empat masalah kesehatan masyarakat utama saat ini (Gelles, 2000; Wallace, 1996).
Literatur profesional mengenai penganiayaan anak, pengabain anak, dan penganiayaan
pasangan meningkatkan jumlah penelitian di bidang ini.

Terdapat enam tipe kekerasan dalam keluarga , yang bergantung pada siapa pelaku
penganiyaan dan siapa korbannya. Enam tipe tersebut adalah: penganiayaan pasangan,
penganiayaan dan pengabaian anak, penganiayaan saudara kandung, penganiayaan lansia,
penganiayaan orang tua, dan penganiayaan homoseksual.

 Pengananiayaan Pasangan
Walaupun penggunaan paksaan fisik oleh seorang pasangan terhadap
24
pasangannya (kebanyakan suami terhadap istri) baru – baru ini telah dikenali oleh
media massa dan profesional sebagai masalah sosial yang signifikan (Gelles, 2000;
Straus & Gelles, 1990), hal ini merupakan taktik yang telah biasa digunakan guna
mengatasi frustasi dan stresor di sepanjang sejarah negara kita dan, hal semacam ini,
telah dikenakan sanksi secara sosial di masa lalu. Walaupun wanita umumnya adalah
korban dari penganiayaan pasangan, mereka dapat juga menjadi pelaku. Beberapa studi
telah menunjukkan bahwa pria yang menjadi korban penganiayaan pasangan lebih
sering terjadi daripada yang orang bayangkan (Wallace, 1996). Akan tetapi,
penganiayaan yang diderita wanita lebih sering dan lebih berat dibandingkan
penganiayaan yang dialami pria dalam hubungan pasangan.
 Penganiyaan Dan Pengabaian Anak
Penganiayaan anak dapat berupa fisik, emosional atau seksual, atau kombinasi
kedua atau ketiganya. Sementara penganiayaan anak mencakup cedera fisik, pengabaian
anaka meliputi anak tidak adekuatnya pemberian asuhan fisik dan emosionalnya
esensial pada anak. Penganiayaan fisik pada anak telah didefinisikan sebagai “tindakan
apa pun yang menyebabkan cedera fisik yang sengaja dilakukan oleh seseorang yang
mengasuh, menjaga, atau mengendalikan anak.” (Wallace, 1996, hlm.29).
 Penganiayaan Saudara Kandung
Penaniayaan saudara kandung telah didefinisikan sebagai “setiap bentuk
penganiayaan fisik, mental, atau seksual yang disebabkan oleh satu anak dalam sebuah
unit keluarga terhadap anak lain” (Wallace, 1996, hlm. 101). Sering kali, penganiayaan
saudara kandung terjadi saat anak yang lebih besar atau lebih berkuasa memiliki kendali
terhadap anak yang lebih kecil (si korban). Selain itu, penganiyaan saudara kandung
telah ditemukan lebih banyak dalam keluarga yang mengalami penganiyaan anak atau
penganiayaan pasangan (Straus & Gelles, 1990)
 Penganiyaan Lansia
Penganiayaan dan pengabain lansia adalah masalah yang telah meningkat secara
nasional (Larsen, 1989) dan hanya baru – baru ini saja diteliti (Gelles, 2000; Steinmetz,
1987). Diperkirakan lebih dari dua juta lansia dianiaya setiap tahunnya di Amerika
Serikat (Lynch, 1997).
 Penganiayaan Orang Tua
Bentuk penganiayaan tersembunyi lainnya yaitu anak yang cukup besar saat ini
melakukan kekerasan terhadap orang tua mereka. Anak pada satu pihak adalah korban
penganiayaan , dan melalui pemodelan peran, belajar bahwa pemakaian kekerasan
25
merupakan cara mengungkapkan marah yang mudah dan dapat diterima. Dalam studi
yang meneliti fenomena ini, anak – anak tersebut adalah remaja dan biasanya remaja
putra (Gelles, 2000).

 Penganiayaan Homoseksual

Kekerasan dalam keluarga homoseksual diyakini oleh beberapa peneliti sama


jumlahnya dengan kekerasan di antara pasangan heteroseksual atau sekitar 25 sampai
35% (Wallace, 1996). Akan tetapi, bentuk kekerasan ini belum diteliti secara luas.
Keluarga homoseksual berbagi emosi dan tanggung jawab finansial dalam hubungan
mereka yang menyebabkan situasi konflik. Umumnya, pelaku penganiayaan
homoseksual menggunakan tipe kekerasan yang serupa pada korban mereka seperti
pasangan heteroseksual.

2.8 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Koping

a. Perbedaan Gender dalam Koping


Pria dan wanita menggunakan strategi koping yang berbeda. Wanita lebih
menganggap lebihbermamfaat berkumpul bersama orang lain, berbagi kekhawatiran
dan kesulitan merekadengan kerabat atau teman dekat, mengungkapkan perasaan dan
emosi yang positif dannegatif secara terbuka, dan menghabiskan waktu guna
mengembangkan diri dan hobi. Disilain pria cenderung menggunakan strategi yang
lebih menarik diri seperti menyimpanperasaannya, mencoba menjaga orang lain
mengetahui seberapa buruk kejadiannya danmengkonsumsi alkohol lebih banyak.
b. Variasi Sosial Budaya Dalam Koping Keluarga
Variasi kelas sosial dalam koping keluarga juga ada. Misalnya keluarga ynag
lebih kaya danberpendidikan khasnya memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk
mengatur danmengendalikan peristiwa kesehatan mereka sehingga menggunakan
lebih banyak strategikoping keluarga dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan.
Keluarga miskin juga dapatmerasakan kurang percaya diri akan kemampuan mereka
untuk mengendalikan takdirnya,dan dalam kasus ini dapatmenggunakan pengendalian
makana denganpenelaian pasif.
c. Dampak Gangguan Kesehatan
26
Seperti yang telah disebutkan, tipe koping yang digunakan individu yang
bergantung pada situasi. Dengan lebih sedikit tuntutan yang diminta oleh keluarga
(misalnya; semua berjalandengan baik dan anggota keluarga sehat), tipe pola koping
tertentu yang bertahan lama dapat secara khas diterapkan, seperti memelihara jalinan
aktif dengan komunitas. Akan tetapidengan semakin banyaknya kemalangan (baik
stressor kesehatan maupun tipe stressorlainnya seperti ekonomi, lingkungan dll), cara
koping yang umum biasanya tidak cukup, dansemakin luas susunan strategi koping
keluarga dihasilkan guna menghadapi tantangan.
2.9 Proses Keperawatan

A. AREA PENGKAJIAN KELUARGA


Terdapat skala koping keluarga yang terstruktur dan teruji, yang digunakan untuk
penelitian dan praktik klinis serta pertanyaan pengkajian yang disertakan, dan informasi
yang dikumpulkan dari anggota keluarga melalui wawancara, serta laporan atau data dari
sumber lain. Pertanyaan yang menyertai relevan untuk dipertimbangkan saat menilai
stressor,kekuatan, persepsi, strategi koping dan adaptasi.
1. Stressor, Kekuatan, dan Persepsi Keluarga
 Stersor (baik jangka panjang maupun pendek) apa yang dialami oleh keluarga?
Lihat family inventory of life scale untuk contoh stressor yang signifikan.
Pertimbangkan stressorlingkungan dan sosioekonomi. Bagaiman kekuatan dan
durasi dari stressor ini?
 Kekuatan apa yang menyebabakan stressor? Apakah keluarga mampu mengatasi
stress biasa dan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari keluarga? Sumber apa
yang dimiliki keluarga untuk mengatasi stressor?
 Apa definisi keluarga mengenai situasi tersebut? Apakah dilihat sebagai tantangan
secara realistic dan penuh harapan? Apakah keluarga mampu bertindak bardasarka
penilaianrealistik dan objektif mengenai situasi dan peristiwa penuh stress? Apakah
stressor utamadilihat sangat membebani, mustahil untuk diatasi, atau sedemikian
rupa mengganggu?
2. Strategi Koping Keluarga
 Bagaiman keluarga bereaksi terhadap stressor yang dialaminya? Strategi koping
apa yang digunakan? Strategi koping apa yang diterapkan keluarga dan untuk
mengatasi tipe masalahapa? Apakah anggota keluarga berada dalam cara koping
mereka saat ini? Jika demikian,bagaimana keluarga mengatasi perbedaan itu?
27
 Sejauh mana keluarga menggunakan strategi koping internal:
o Mengandalkan kelompok keluarga
o Berbagi perasaan, pemikiran, dan aktivitas
o Fleksibilitas peran
o Normalisasi
o Mengendalikan makn masalah denagn pembimbing ulang dan penilaian pasif
o Pemecahan masalah bersam
o Mendapatkan informasi dan pengetahuan
o Terbuka dan jujur dalam komunikasi keluarga
o Menggunakan humor dan tawa
 Sejauh man keluarga menggunakan keluarga menggunakan strategi koping
eksternal dansistem dukungan informal berikut:
o Memelihara jalinan aktif dengan komunitas
o Menggunakan dukungan spiritual
o Menggunakan sistem dukungan sosial
o Apakah keluarga memiliki ikatan yang bermakna dengan teman, kerabat,
tetangga, kelompok sosial dan organisasi komunitas yang memberikan
dukungan dan bantuan jikadibutuhkan?
o Jika demikian, siapa mereka dan bagaimana sifat hubungan mereka? Apakah
keluargamemiliki sedikit atau tidak memiliki teman, tetangga, kerabat,
kelompok sosial atauorganisasi komunikasi? Jika demikian, mengapa? Apakah
keluarga mempunyaiketidakpuasan atau kemarahan terhadap sumber
dukungan sosial yang ada?
o Apa layanan dan petugas kesehatan yang membantu keluarga?
o Apa fungsi dan kekuatan dari hubungan ini?
 Strategi koping disfungsional apa yang telah digunakan keluarga atau apa yang
sedang digunakan? Apakah ada tanda-tanda disfungsionalitas berikut? Jika
demikian, catat keberadaannya dan seberapa ekstensif digunakannya?
o Mengambinghitamkan
o Penggunaan ancaman
o Orang ketiga
o Psedumutualitas
o Otoriterianisme 28

o Perpecahan keluarga
o Penyalahgunaan alcohol dan atau obat-obatan
o Kekerasan dalam keluarga
o Pengabaian anak

3. Adaptasi
 Bagimana pengelolaan dan fungsi keluarga? Apakah stressor atau masalah
keluarga dikelola secara adekuat oleh keluarga? Apa dampak dari stressor pada
fungsi keluarga?
 Apakah keluarga berada dalam krisis? Apakah masalah yang ada bagian
ketidakmampuan kronik menyelesaikan masalah?
4. Mengidentifikasi Stresor, Koping dan Adaptasi
Ketika perawat keluarga bekerja dengan keluarga sepanjang waktu, akan
sangat bermanfaatuntuk mengidentifikasi atau memantau bagaimana keluarga bereaksi
terhadap stressor,persepsi, koping dan adaptasi. Apakah keluarga mulia pulih,
menghasilkan proses koping.yang berguna, atau apakah tetap pada tingkat adptasi yang
sama atau menunjukkan tanda-tanda penurunan daptasi?

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA


Menurut klasifikasi NANDA (NANDA, 2000), terdapat 12 diagnosis keperawatan
yang berhubungan erat dengan masalah stress, koping, dan adaptasi keluarga antara lain:
1. Ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapi keluarga
2. Kesiapan untuk meningkatkan koping keluarga
3. Gangguan koping keluarga
4. Ketidakmampuan koping keluarga
5. Resiko kekerasan terhadap orang lain
6. Gangguan proses keluarga
7. Proses keluarga yang tidak fungsional: alkoholisme
8. Berduka disfungsional
9. Gangguan pemeliharaan rumah
10. Distress spiritual 29
11. Resiko distress spiritual
12. Kesiapan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual
C. INETRVENSI KEPERAWATAN KELUARGA
Intervensi keluarga didasarkan pada data pengkajian keluarga yang terkait dengan
stressor keluarga, persepsi stressor, koping, dan adaptasi. Seperti yang dibahas dalam
pengkajian serta diagnosis keperawatan keluarga yang teridentifikasi.
1. Membantu Keluarga Menurunkan Faktor Resiko
Perawat keluarga dapat, dengan menggunakan persfektif pencegahan, memberikan
konslingpada keluarga mengenai perlunya menurunkan pejanan terhadap atau
kelebihan tekanan.Selain itu penting untuk memberikan penyuluhan antisipasi.
Berkenaan dengan ini, perawatkeluarga dapat membantu keluarga dengan menolong
mereka mengidentifikasi dan siapterhadap situasi yang mengancam. Satu cara
membantu keluarga mengantasipasi apa yangmungkin terjadi adalah dengan
memberikan mereka informasi mengenai peristiwa yangmungkin terjadi (Wlsh, 1998)
2. Membantu Keluarga Beresiko Untuk Mengatasi
a. Dorong semua anggota keluarga terlibat
Merupakan cara untuk melibatkan anggota keluarga mencakup:
o Mendorong perawatan oleh anggota keluarga selama hospitalisasi
o Menyertakan anggota keluarga, bersama dengan pasien terlibat dalam keputusan
o Perawatan kesehatan
o Mendorong anggota keluarga yang lansia memelihara hubungan keluarga yang
dekat
o Member penyuluhan kepada pemberi asuhan
o Mendorong istirahat untuk pemberi perawatan primer dengan meminta anggota
o Keluargalain yang bertugas
o Mendorong anggota keluarga saling berbagi cerita kehidupan mereka
b. Mobilisasi keluarga
Dengan membatu keluarga mengenali, mengidentifikasi, dan memamfaatkan
kekuatan dansumber keluarga guna secar positif mempengaruhi kesehatan keluarga
yang sakit (Johson,2001)
c. Beri pujian pada upaya dan pencapaian keluarga
30
d. Berdasrkan pengakuan dan poenghormatan terhadap nilai, kepentingan, dan tujuan
keluarga serta dukungan keluargaJohson et.al 2001, mencantukan banyak cara umum
yang dapat dilakukan oleh perawatberorientasi keluarga. Beberapa anjuran mereka
yang paling relevan adalah:
o Meningkatkan harapan yang realistik
o Mendengarkan anggota keluarga yang berhububngan dengan persepsi,
perasaan,
o kekhawatiran dan kepentingan mereka
o Memfasilitasi komunikasi antara anggota keluarga
o Mengorientasi anggota keluarga pada linhkungan dan sistem perawatan
kesehatan
o Memberikan informasi yang dibutuhkan
o Memberikan advokasi bagi keluarga
o Memperkenalkan anggota keluarga ke keluarga lain yang mengalami masalah
yang
o serupa
o Merujuk keluarga ke kelompok perawatan dari pendukung
o Berikan keluarga sumber atau referensi literature dan internet
e. Ajarkan keluarga mengenai cara koping yang efektif
Program ini tidak sekedar mengenali kebutuhan keluarga mendapatkan pengetahuan
kesehatan yang dibutuhkan untuk perawatan, tetapi aspek psikososial perawatan dan
kekhawatiran keluarga (Campbell,2000).
f. Dorong keluarga menormalisasi kehidupan keluarga dan distress keluarga sebanyak
mungkin
g. Bantu keluarga membingkai ulang dan member label ulang situasi masalah
h. Bantu keluarga mendapatkan dukungan spiritual yang mereka butuhkan
i. Rujuk keluarga yang mengalami krisis
j. Bantu keluarga meningkatkan dan memamfaatkan sistem dukungan sosial mereka.
3. Pemamfaatan Kelompok Swa-Bantu
Perawat sangatlah menyadari manfaat kelompok swa-bantu bagi anggota keluarga
yang membutuhkan dukungan guna mengatasi atau mengcoping pengalaman hidup
penuh stress. Intervensi khusus dapat sangat memfasilitasi keluarga:
31
a. Mencari informasi tentang kelompok yang memberikan bantuan bagi individu dan
keluarga
b. Kolaborasi dengan kelompok tersebut
c. Memahami bagaimana kelompok ini meningkatkan dan melengkapi layanan
professional
d. Merujuk anggota keluarga dan keluarga ke kelompok yang tepat
e. Menciptakan kelompok baru untuk melakukan saat terjadi kekurangan kelompok
swa-bantu
f. Memberikan konsling anggota keluarga

4. Terapi Keluarga Jaringan Sosial


Terapi jaringan sosial berlangsung di lingkungan rumah dengan keluarga
dan jaringan sosial luasnya, yang dipasangkan untuk menciptakan matriks sosial yang
mengasuh dan sehat.
5. Prinsip-Prinsip Intervensi Krisis Keluarga
a. Mengidentifikasi peristiwa yang mencetuskan dan peristiwa hidup yang
membahayakan
b. Mengkaji interpretasi keluarga terhadap peristiwa
c. Mengkaji sumber keluarga dan metode koping terhadap stressor
d. Mengkaji status fungsi keluarga
6. Pemberdayaan Keluarga
Figley (1989), menyiratkan bahwa pemberdayaan keluarga adalah
sebanyak sikap filosofisterhadap bekerja dengan keluarga trauma saat keluarga terlibat
dalam aktivitas khusustertentu. Ketika ia memandang dan menerapi keluarga yang
bermasalah, pendekatannyadiperlembut oleh penghormatan tulusnya terhadap
kemampuannya bertindak secara alamidan kekuatan keluarga.
7. Melindungi Anggota Keluarga Yang Berisiko Mengalami Kekerasan
Tujuan ini dapat dicapai dengan:
a. Mengenali dan melaporkan penganiayaan anak
b. Mendukung dan merujuk pasangan, lansia, saudara kandung, orang tua,
homoseksual yang dianiaya, pelaku penganiayaan dan unit keluarga
c. Mengkoordinasi perawatan bagi keluarga dan anggota keluarga, bekerja secara
d. Kolaborasidengan petugas kesehatan lain dan pekerja kesejahteraan 32
8. Merujuk Anggota Keluarga Yang Menunjukkan Masalah Koping Dan Disfungsi Yang
Lebih Kompleks Ketika stress dan masalah koping keluarga di luar layanan yang dapat
diberikan perawatkeluarga, perujukan dan tindak lanjut konsling atau terapi keluarga
yang berkelanjutan seringkali diindikasikan. Perujuk kekonselor yang menggunakan
pendekatan sistem keluarga seringkala sangat membantu.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik
terhadap setiap tuntutan atau beban atas nya.

Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh individu untuk menghadapi situasi
yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian diri,namun
koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika
menghadapi tekanan/stress.
            Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian hari,bahkan
sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu yang
bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin matang,dewasa
dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
Banyak perubahan berlansung dimasyarakat kita danberhubungan dengan keluarga
sepanjang waktu. Bagaimana keluarga mengatasi perubahanpenuh stress yang berbeda.
Walaupun begitu rentang respon yang luas terjadi saat kemalangan yang berat. Beberarapa
keluargaberadaptasi sangat baik terhadap stressor dan ketegangan dan mengubah pola
fungsi,menggunakan sumber dan strategi koping yangmembantu mengelola stress
tersebut.Keluarga lain mengguanakan strategi koping yang membahayakan atau
disfungsionalyang hanya dapat mengurangi stress sementara. Hasil akhir bagi keluarga ini
dapat termasukkekerasan dalam keluarga, perpecahan keluarga dan kecanduan. Keluarga dan
33
anggota keluarga menggunakan susunan strategi koping keluarga yangluas guna mengatasi
situasi penuh stress.
3.2 Saran

Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Kami tetap
berharap makalah ini tetap memeberikan manfaat bagi pembaca. Namun, saran dan kritik
yang sifatnya membangun dengan tangan terbuka kami terima demi kesempurnaan di masa
akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta:


Penerbit Andi.

Rubiyanti, Yanti. 2008. Motivasi dan Manajemen Stres. Diakses tanggal 29 Desember 2014
dari,http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/09/pustaka_unpad_motivasi_dan_ma
najemen_stress.pdf

Taylor, S E. 2006. Health Psychology (Sixth Edition).NY: McGraw-Hill Education.

Wade, C & Carol, T. 2007.Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta:Erlangga

Friedman. 2002. Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Buku Kedokteran

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa.EdisiRevisi. Bandung: PT Refika Aditama.

34