Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TITRASI PEMBENTUKAN KOMPLEKS

(KOMPLEKSOMETRI)

Tugas Makalah
Disusun Sebagai Syarat Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Dasar-dasar Kimia Analitik di Program Studi Pendidikan Kimia

DISUSUN OLEH:

1. SAKINAH (A25120021)
2. IREN ANATASYA MONTOLU (A25120030)
3. ALDI (A25120057)
4. TRISA (A25120058
5. STEVANI SALINDEHO (A25118042)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU
FEBRUARI, 2021

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat
dan Hidayahnya sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat, dan kami sebagai
penyusun bisa menyelesaikan makalah kami tentang Titrasi Pembentukan
Kompleks (Kompleksometri).

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kata sempurnah.Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis sangat
mengharapkan kritikan dan saran yang membangun demi menyempurnakan makalah
ini.

Palu, 2 November 2021

Penulis,

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

SAMPUL

KATA PENGANTAR...........................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................iii

A. Latar Belakang...........................................................................................iii
B. Rumusan Masalah.....................................................................................iv
C. Tujuan........................................................................................................iv

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................1

A. Pengertian titrasi kompleksometri.............................................................1


B. Jenis-jenis titrasi kompleksometri.............................................................2
C. Indikator titrasi kompleksometri...............................................................4

BAB III PENUTUP...............................................................................................7

A. Kesimpulan................................................................................................7
B. Saran..........................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Titrasi kompleksometri adalah suatu titrasi pembentukan senyawa kompleks
yang dimana menggunkan indikator logam dan larutan baku kompleks yang dimana
untuk menetukan kemurnian atau kadar suatu logam (Khopkar,2002).

Dalam kimia farmasi kuantitatif untuk zat-zat organik yang mengandung ion-
ion logam seperti aluminium, bismut, magnesium dan zink dengan cara
kompleksometri. Dimana kita akan menentukan kemurnian atau kadar daripada salah
satu logam tersebut yang dilakukan dengan cara titrasi kompleksometri (Harjadi,
1993).

Kompleks yang terbentuk dari suatu reaksi ion logam, yaitu kation dengan
suatu anion atau molekul netral. Ion lohgam didalam kompleks disebut atom pusat
dan kelompok yang terikat pada atom pusat disebut ligan. Jumlah ikatan terbentuk
oleh atom logam pusat disebut bilangan koordinasi dari logam. Dari kompleks diatas
perak merupakan atom logam dengan koordinasi dua, dan sianidanya merupakan
ligannya. Reaksi membentuk kompleks dapat dianggap sebagai asam-basa lewis
dengan ligan bekerja sebagai basa dengan memberikan sepasang elektron, kepada
kation yang merupakan suatu asam (Roth, 1998).

Dalam penentuan ion-ion logam secara titrasi kompleksometri umumnya


digunakan III (EDTA) sebagai zat pembentuk kompleks khelat dimana EDTA
bereaksi denagn ion logam yang polivalen membentuk senyawa atau kompleks khelat
yang stabil dalam larutan air (Khopkar, 2002).

Keuntungan dari metode kompleksometri adalah waktu pengerjaannya lebih


sederhana , sedangkan kerugiannya adalah penentuan titik akhir susah ditentukan,
karena sangat dipengaruhi pH dan bahan yang digunakan cukup banyak dibandingkan

iii
dengan metode lain yaitu larutan bak, indikator, larutan dapar, dan larutan asam atau
basa (Roth, 1998)

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari titrasi kompleksometri?
2. Apa saja jenis-jenis titrasi kompleksometri?
3. Apa saja indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari titrasi kompleksometri
2. Untuk mengetahui jenis-jenis titrasi kompleksometri
3. Untuk mengetahui indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri

iv
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian titrasi kompleksometri

Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan


kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion) Kompleksometri
merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks membentuk
hasil berupa kompleks. Reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut
kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak tidak hanya dalam titrasi.
Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks sekalipun disini
pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.

Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik
melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun
sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk
melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral
(Basset, 1994).

Titrasi kompleksometri sangat dipengaruhi oleh pH hanya pada hargaharga


pH lebih besar kira-kira 12, kebanyakan EDTA ada dalam bentuk tetraanion y’- .
pada harga pH yang lebih rendah zat yang berproton HY3- dan seterusnya ada dalam
jumlah berlebihan. Jelas bahwa kecenderungan yang sebenarnya untuk membentuk
khelonat logam pada sembarang pH tidak dapat di bedakan langsung dari kabs
(Underwood, 2002).

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi


pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian
adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal
pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang
menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut

1
ligan,dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan : M(H2O)n+ L =
M(H2O)(n-1)L + H2O.

Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA,
merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah
ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua
nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang
mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2- diamino
etana tetra asetat (asam etilena diamina tetra asetat, EDTA) yang mempunyai dua
atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul
(Rival, 1995).

Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan


sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif.Dalam
larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan
sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila
beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasidengan EDTA akan
menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalamlarutan tersebut (Harjadi,
1993). EDTA adalah reagensia yang sangat selektif karena ia berkompleks dcngan
banyak sekali kation di-, tri-, dan tetra-valen.

B. Jenis-jenis titrasi dalam titrasi kompleksometri

Hal yang penting dalam prosedur titrasi ion logam dengan EDTA adalah
(Basset, dkk, 1994).

1. Titrasi langsung
Larutan yang mengandung ion logam yang akan ditentukan adalah buffer
dengan pH yang diinginkan (misalnya untuk pH = 10 dengan NH:- aq. NH,) dan
dititrasi langsung dengan larutan EDTA standar. Mungkin perlu untuk mencegah
pengendapan hidroksida logam (atau garam dasar) dengan penambahan beberapa

2
bahan pengompleks tambahan, seperti tartrat atau sitrat atau trietanolamina. Pada titik
ekivalen besarnya konsentrasi ion logam yang ditentukan menurun tibatiba. Hal ini
umumnya disebabkan oleh perubahan dalam warna dari indikator logam atau dengan
amperometri, spektrofotometri, atau potensiometri metode.

2. Titrasi balik
Banyak logam tidak bisa dititrasi karena berbagai alasan, dititrasi secara
langsung; sehingga mereka mungkin mengendap di larutan dalam kisaran pH yang
diperlukan untuk titrasi, atau mereka mungkin membentuk kompleks inert, atau
indikator logam yang tidak cocok tersedia. Dalam kasus seperti kelebihan pemberian
larutan EDTA standar, menghasilkan larutan dengan pH buffer yang diinginkan, dan
kelebihan EDTA di titrasi balik dengan larutan ion logam standar, dengan larutan
seng klorida atau sulfat atau magnesium klorida atau sulfat sering digunakan untuk
tujuan ini. Titik akhir dideteksi dengan bantuan indikator logam yang merespon
dengan ion seng atau magnesium diperkenalkan dalam titrasi balik.

3. Titrasi alkalimetri
Ketika larutan ethylene diamine tetra acetate dinatrium, Na2H2Y,
ditambahkan ke dalam larutan yang mengandung ion logam, kompleks akan
terbentuk dengan pembebasan dua ekivalen ion hidrogen: Ion hidrogen sehingga
dibebaskan dapat dititrasi dengan larutan standar natrium hidroksida menggunakan
indikator asam-basa atau titik akhir potensiometri; alternatif, campuran iodatiodida
ditambahkan bersama larutan EDTA dan iodin yang dibebaskan dititrasi dengan
larutan tiosulfat standar. Larutan dari logam yang akan ditentukan harus akurat
dinetralkan sebelum titrasi, ini sering merupakan hal yang sulit karena hidrolisis.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca,Cr, dan Ba
dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri
mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja
kompleks logamnya mempunyai warna yang berbed adengan pengompleksnya
sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini

3
contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit;
1-(2-piridil-azonaftol), PAN,zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue
(Khopkar, 2002). Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam
pemeriksaankimia adala ion sianida, CN- , karena sifatnya yang dapat membentuk
kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida
membentuk senyawa kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion nilkel
membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian
ionsianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara
bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu (Rival,1995)
C. Indikator titrasi kompleksometri

Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikatoryang juga


bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna
yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator
metalokromat. Indikator metalokromat visual yang penting dapat masuk dalam tiga
golongan utama, yaitu :

a) Senyawaan hidroksiazo
b) Senyawaan fenolat dari trifenilmetana yang tersubtitusi oleh hidroksi
c) Senyawaan yang mengandung suatu gugus aminometildikarboksimetil.
Banyak dari indikato-indikator ini juga merupakan senyawaan-senyawan trifenil
metana.

Beberapa indikator metalokromat yang dapat digunakan, yaitu :

1) Mureksida
Mureksida merupakan garam amonium dari asam purpurat dan anionnya.
Dapat digunakan untuk titrasi langsung dengan EDTA terhadap kalsium pada pH =
11, perubahan warna pada titik akhir adalah dari merah menjadi violet biru, tetapi
jauh dari ideal. Perubahan warna pada titrasi langsung dari nikel pada pH 10-11

4
adalah dari kuning menjadi violet biru. Perubahan warna untuk kalsium adalah hijau
zaitun melalui abu-abu, menjadi biru mendadak.
2) Hitam solokrom (hitam eriokrom T)

Zat ini adalah natrium 1-(1-hidroksi-2-naftilazo)-6-nitro-2-naftol-4-sulfonat


(II) dan mempunyai acuan indeks warna C.I.14645. Dalam larutan yang sangat asam,
zat warna ini cenderung untukbberpolimerisasi menjadi produk yang berwarna
coklat-merah, akibatnya indikator ini jarang digunakan dalam titrasi EDTA dengan
menggunakan larutan yang lebih asam daripada pH = 6,5. Gugus asam sulfonatdalam
indikator ini akan menyerahkan protonnya sebelum range pH 7-12, yang merupakan
perhatian paling utama bagi penggunaan indikator ion logam. Kedua nilai pak untuk
atom-atom hidrogen ini masing-masing adalah 6,3 dan 11,5. Dibawah pH = 5,5
larutan hitam solokrom (hitam eriokrom T) adalah merah (disebabkan oleh H2D-),
antara pH 7 dan 11 warnanya biru (disebabkan oleh HD2-) dan diatas pH 7-11,
penambahan garam logam menghasilkan perubahan warna yang cemerlang dari biru
menjadi merah.

3) Indikator Patton dan reeder

Indikator Patton dan reeder adalah asam 2-hidroksil-1-(2-hidroksi-4-sulfat-1-


naftilazo)-3-nafloat (III); nama ini boleh disingkat menjadi HHSNNA.
Penggunaannya yang utama adalah dalam titrasi langsung dari kalsium, terutama
dengan adanya magnesium. Perubahan warna yang tajam dari merah anggur menjadi
biru murni diperoleh bila ion-ion kalsium dititrasi dengan EDTA pada nilai pH antara
12 dan 14.

4) Biru tua solokrom

Biru tua solokrom atau kalkon kadang-kadang disebut hitam eriokrom RC, zat
ini sebenarnya adalah natrium 1-(2-hidroksi-1-naftilazo)-2-nafto-4-sulfonat. Zat
warna ini mempunyai 2 atom hidrogen fenolat yang dapat terionisasi, proton-proton

5
ini terionisasi secara bertahap dengan pak masing-masing 7,4 dan 13,5. Suatu
penerapan pentuh dari indikator ini adalah titrasi kalsium secara kompleksometri
dengan adanya magnesium, titrasi ini harus dilakukan pada pH kira-kira 12,3
(misalnya yang diperoleh dengan suatu buffer dietilamina). Pada kondisi-kondisi ini,
magnesium diendapkan secara kuantitatif sebagai hidroksidasinya. Perubahan warna
adalah dari merah jambu menjadi biru murni.

5) Kalmagit

Kalmagit merupakan asam 1-(1-hidroksil-4-metil-2-fenilazo)-2-naftol-4-


sulfonat (V), mempunyai perubahan warna yang sama seperti hitam solokrom (hitam
eriokrom T), tetapi perubahan warnanya agak lebih jelas dan tajam. Kelebihan
indikator ini adalah tetap stabil hampir tanpa batas waktu. Zat ini juga digunakan
sebagai ganti hitam solokrom (hitam eriokrom T) tanpa mengubah eksperimen untuk
titrasi kalsium ditambahagnesium.

6
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari materi diatas yaitu : Titrasi kompleksometri yaitu


titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam
yang sukar mengion) Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat
saling mengkompleks membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang
kompleks sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.

Jenis-jenis titrasi kompleksometri yaitu titrasi tidak langsung, titrasi balik dan
titrasi alkalimetri. Sedangkan indikator yang terdapat titrasi kompleksometri yaitu
mureksida, hitam solokrom (hitam eriokrom T), indikator patton dan reeder, biru tua
solokrom, kalmagit.

B. Saran

Kami menerima saran dan kritikan dari teman-teman mahasiswa untuk


menambah makalah ini semakin bermanfaat dan memberikan tambahan wawasan dan
pengetahuan kami. Dan tak lupa, kami mohon kepada Dosen Penyaji materi untuk
meluruskan dan memperjelas paparan makalah kami.

7
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J., Denney, R. C., Jeffery, G. H., Mendham, J. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia
Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Basset, J., Denney, R. C., Jeffery, G. H., Mendham, J. 1994. Buku Ajar Vogel:Kimia
Analisis Kuantitatif Anorganik Terjemahan A. Hadyana Pudjaatmaka dan L.
Setiono. Penerbit Buku KedokteranEGC. Jakarta.

Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar . Gramedia. Jakarta.

Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik . UI Press. Jakarta.

Rival, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press. Jakarta

Roth, J.H., dan Blaschke, G. 1998. Analisis Farmasi Cetakan III, diterjemahkan oleh
Kisman, S., dan Ibrahim, S. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Underwood, R. A., Day, J. R. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 6, Gramedia.


Jakarta.