Anda di halaman 1dari 13

“E-learning pada Masa Pandemi Covid-19 Di Indonesia”

Roy Pratama

044205659
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan
banyak nikmat sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik. Makalah ini berisi tentang
uraian dan pembahasan “E-learning pada Masa Pandemi Covid-19 Di Indonesia” . Makalah ini
kami susun secara cepat dengan bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu kami
sampaikan terima kasih atas waktu, tenaga dan pikirannya yang telah diberikan oleh pihak yang
membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa hasil makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Sehingga kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca sekalian.

Akhir kata Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk pembaca.

16 November 2021

Roy Pratama

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................................................1

A. Latar belakang.............................................................................................................................1

B. Rumusan masalah........................................................................................................................2

C. Tujuan...........................................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................................................3

BAB III PENUTUP.................................................................................................................................7

A. Kesimpulan...................................................................................................................................7

B. Saran.............................................................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................................8

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

. COVID-19, krisis kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia,


diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Januari 2020 sebagai
wabah penyakit virus corona baru dan dilaporkan sebagai pandemi pada Maret 2020.
(WHO, 2019). Pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa sekolah dan perguruan
tinggi di berbagai negara diharuskan ditutup sementara. Pendidikan tatap muka telah
berakhir di berbagai sekolah, universitas, dan perguruan tinggi. Ini akan berdampak
negatif pada kegiatan pendidikan, karena jarak sosial sangat penting pada tahap ini.
(Lestari, 2020)
Kemudian, instansi pendidikan berusaha mencari alternatif cara untuk
mengatasi keadaan sulit ini. (Dhawan, 2020). Ditutupnya kegiatan tatap muka dalam
belajar ini mendorong tumbuhnya kegiatan pendidikan Online untuk menjaga
kegiatan pembelajaran tetap berjalan dan tidak ada gangguan pendidikan. Banyak
fakultas telah terlibat dalam cara terbaik untuk menawarkan materi kursus Online,
melibatkan mahasiswa, dan melakukan evaluasi. (Mukhtar et al, 2020). Masalah ini
akan membuat teknologi baru diterima oleh organisasi yang sebelumnya resisten
untuk beradaptasi. Ini adalah waktu yang sulit bagi sektor pendidikan untuk
menghadapi situasi saat ini. (Kaur, 2020)
E-learning digambarkan sebagai pengalaman belajar menggunakan berbagai
perangkat elektronik (misalnya komputer, laptop, smartphone, dll) dengan
ketersediaan internet dalam kondisi lingkungan sinkron atau asinkron. E-learning bisa
menjadi platform yang membuat proses pendidikan lebih berpusat pada siswa, kreatif,
dan fleksibel. (Singh, 2019 ; Rusman, 2011 ; Mungania, 2003). E-learning dipandang
oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan WHO sebagai alat yang berguna untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan, terutama di negara-negara berkembang. (Colace,
2006)
Pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia telah menerapkan
berbagai strategi kreatif untuk memerangi krisis, menggunakan berbagai perangkat
lunak/aplikasi seperti Google Classroom, Zoom, dan Microsoft Teams untuk

1
mengikuti kegiatan pembelajaran Online. Agar tidak hanya menyelesaikan kursus
tetapi juga untuk tetap berhubungan dengan para pembelajar, kelas virtual E-learning
ini digagas untuk menumbuhkan kepastian dan kepercayaan diri para pelajar di
tempat mereka belajar selama pandemi COVID-19. (Kaur, 2020)
Diharapkan dengan penerapan E-learning, peran pengajar akan berubah dari
model tradisional teacher-centric menjadi student-centric yang sesuai dengan
kurikulum baru yang diterapkan di dunia pendidikan. Oleh karena itu, dalam makalah
ini akan dibahas lebih dalam terkait perkembangan E-learning pada masa pandemi
covid-19 di Indonesia disertai hambatan-hambatannya
B. Rumusan masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:

1. Bagaimana perkembangan E-learning pada masa pandemi covid-19 di Indonesia?


2. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam penerapan E-learning pada
masa pandemi Covid-19 di Indonesia
C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan disusunnya makalah ini


yaitu:

1. Untuk mengetahui perkembangan E-learning pada masa pandemi covid-19 di


Indonesia
2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penerapan E-
learning pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia

2
BAB II
PEMBAHASAN
Corona Virus Disease atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 merupakan jenis
virus corona baru yang menyerang sistem pernapasan manusia (Pratiwi, 2020;
Wijayanengtias & Claretta, 2020). Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada Desember
2019 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei China, dan sejak itu menyebar secara global ke
seluruh dunia tanpa kecuali. Kondisi ini mempengaruhi setiap sektor kehidupan manusia
dengan sangat cepat. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan kerusakan yang belum pernah
terjadi sebelumnya pada sistem pendidikan di seluruh dunia.

Selain dampak ekonomi yang terukur dalam jangka pendek dan jangka panjang,
terjadi keruntuhan yang tidak berwujud pada lembaga pendidikan (Basilaia & Kvavadze,
2020). Secara khusus, pendidik, sumber daya intelektual paling kritis dari organisasi
pendidikan mana pun, harus menghadapi berbagai jenis kesulitan, termasuk keuangan, fisik,
dan mental, karena COVID-19. Pandemi Covid-19 mengharuskan hampir seluruh aktivitas
manusia beralih ke media digital, termasuk layanan pendidikan. Kini, layanan pendidikan
harus beradaptasi dengan metode pembelajaran Online. Perubahan ini menjadi tantangan bagi
pendidikan Indonesia, yang juga harus mempersiapkan peserta didik untuk beradaptasi
menghadapi tantangan era Society 5.0.

E-learning tidak dianggap sebagai fenomena baru, ada tren global yang meningkat
dalam penggunaan pembelajaran elektronik atau E-learning dalam dekade terakhir dan
beberapa lembaga pendidikan di negara berkembang telah mengadopsi tren ini baru-baru ini.
(Hannafin, 2003 ; Horner, 2018 ; Bates, 2003 ; Munir, 2009). Namun, teknologi ini belum
tersebar merata di semua bangsa dan budaya. (Prasojo, 2011) Lebih dari sembilan bulan telah
berlalu sejak WHO mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemi, dengan pergeseran
mendadak ke pengajaran Online dan pembelajaran elektronik. Selanjutnya, ketidakpastian
masa depan tentang kembali ke kehidupan normal dan menghentikan pandemi ini
mengakibatkan ketergantungan pada E-learning terutama di pendidikan tinggi.

Seperti negara-negara lain, Indonesia jua menghadapi tantangan yang signifikan


dalam pendidikan tinggi dan mengubah sistem pendidikan tatap muka ke pembelajaran
virtual. Tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan

3
sebuah kebijakan melalui Surat Edaran Nomor 3 tahun 2020 (Kemendikbud, 2020) terkait
dengan tingkat resiko penyebaran Covid-19 dan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020
(Kemendikbud, 2020) terkait dengan kebijakan pendidikan pada masa darurat Covid-19.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud tersebut dilakukan guna mencegah siklus
penularan Covid-19. Kedua kebijakan Mendikbud tersebut terkait dengan pencegahan Covid-
19 oleh satuan pendidikan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan serta pembelajaran keluarga
selama masa darurat Covid-19. Kebijakan pembelajaran di rumah disebut kebijakan
pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau biasanya pembelajaran Online (Online).

Potret tiga bulan pertama pembelajaran berbasis Online menangkap variasi praktik
pembelajaran siswa Indonesia. Akses yang tidak merata terhadap sarana dan prasarana,
perbedaan kemampuan mengajar jarak jauh, jenis dan lokasi sekolah, serta lingkungan siswa
di rumah berkontribusi terhadap variasi tersebut. (Alifia, 2020) Pembelajaran jarak jauh
sangat bergantung pada jangkauan jaringan, namun data menunjukkan bahwa jangkauan
sangat bervariasi antar wilayah. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 lebih banyak
desa di Jawa yang mendapat sinyal kuat dibandingkan wilayah lain di Indonesia, disusul
masing-masing di Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Kalimantan. Hanya 25 persen Maluku dan
Papua yang mendapat sinyal kuat. (Alifia, 2020)

Karena akses Internet yang tidak merata dan jangkauan jaringan yang buruk, banyak
guru tidak dapat mengajar dengan kemampuan terbaik mereka. Sekitar 30 persen guru di
Jawa tidak mengajar setiap hari kerja. Proporsinya bahkan lebih tinggi untuk guru di luar
Jawa, di mana sebanyak 50 persen tidak mengajar setiap hari. (Alifia, 2020)

Dalam banyak kasus, siswa mereka tidak memiliki smartphone atau akses internet.
Guru-guru ini mengunjungi siswanya dan biasanya hanya membagikan tugas (tanpa mengajar
sama sekali). Praktek ini biasa terjadi di sekolah-sekolah umum di daerah pedesaan,
khususnya di luar Jawa. Guru di bidang ini sering tidak dapat menilai tugas siswa mereka
atau memberikan kesempatan untuk sesi tanya jawab. (Alifia, 2020)

Di bawah pembatasan jarak sosial COVID-19 yang memaksa orang untuk tinggal di
rumah, orang tua memainkan peran penting dalam mendukung pembelajaran anak-anak
mereka. Tetapi tidak semua orang tua memiliki kapasitas untuk memberikan dukungan ini.
Mereka yang berasal dari keluarga miskin mengalami kesulitan dalam mendukung
pembelajaran berbasis rumah anak-anaknya karena keterbatasan fasilitas seperti tidak
memiliki smartphone atau data internet. (Alifia, 2020) Situasinya rumit jika keluarga hanya

4
memiliki satu smartphone tetapi lebih dari satu anak belajar dari jarak jauh. Sedangkan siswa
dengan kinerja di atas rata-rata di kelas cenderung memiliki lingkungan rumah yang
mendukung. Mereka tinggal di daerah perkotaan, dengan akses yang lebih baik ke fasilitas
selama pembelajaran jarak jauh. Orang tua mereka yang terdidik secara aktif berpartisipasi
dalam membimbing mereka belajar dari rumah serta berkomunikasi dengan guru mereka
secara teratur. (Alifia, 2020)

Anak-anak dengan orang tua berpendidikan rendah, dan yang tinggal di daerah
pedesaan, cenderung menghabiskan waktunya untuk bermain daripada belajar. Orang tua
mereka biasanya tidak mengetahui pendidikan anak-anak mereka dan mereka cenderung
kurang berpartisipasi dalam pembelajaran anak-anak karena mereka tidak tahu bagaimana
mengisi peran itu. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa anak-anak dari latar belakang sosial
ekonomi yang lebih rendah menderita kerugian yang lebih besar secara proporsional karena
penutupan sekolah COVID-19. Pendidikan dan pembelajaran yang mereka lewatkan
memiliki dampak negatif yang dramatis dalam jangka panjang. (Alifia, 2020)

Kebijakan pemerintah 'satu ukuran untuk semua' gagal mengatasi masalah karena
situasinya bervariasi untuk guru, siswa, dan orang tua. Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) perlu mempertimbangkan intervensi khusus yang lebih baik untuk
guru dan siswa di daerah dengan infrastruktur terbatas. Ini harus melibatkan penjadwalan
kunjungan guru tambahan atau mendirikan lebih banyak sekolah terbuka. Sekolah juga dapat
menilai kebutuhan siswa dan orang tua untuk dukungan belajar seperti pedoman yang lebih
rinci untuk orang tua, dukungan pulsa telepon dan pelatihan bagi guru untuk beradaptasi
dengan lingkungan belajar yang baru. (Alifia, 2020)

Untuk menghindari kesenjangan lebih lanjut dalam pendidikan, guru perlu


mengetahui tingkat kemampuan siswa mereka selama periode pembelajaran berbasis rumah
sampai sekolah dibuka kembali sepenuhnya. Sekolah, dengan bantuan dinas pendidikan
kabupaten, dapat melakukan penilaian berkala untuk mengidentifikasi tingkat belajar siswa.
Guru perlu menerapkan pendekatan pengajaran yang berbeda berdasarkan kebutuhan siswa
mereka. Kemdikbud dapat mengembangkan pedoman praktis untuk pendekatan ini bagi guru,
bersama dengan memberikan dukungan atau platform bagi guru untuk meningkatkan
kemampuan mereka dalam menerapkannya. Pemerintah juga harus mengembangkan sistem
untuk memantau guru dan siswa selama periode pembelajaran jarak jauh. Dalam jangka
panjang, pemerintah harus mendorong pemerataan pembangunan infrastruktur. Pemerintah

5
juga harus berinvestasi dalam reformasi pendidikan guru seperti mengembangkan kurikulum
khusus untuk pembelajaran jarak jauh dan pendidikan darurat serta penguasaan teknologi
pengajaran

6
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
E-learning kurang dimanfaatkan di masa lalu, terutama di negara-negara
berkembang. Namun, krisis pandemi COVID-19 saat ini memaksa seluruh dunia
untuk mengandalkan kegiatan pembelajaran Online untuk menunjang kegiatan
pendidikan. Dalam keberjalanannya selama masa pandemi, E-learning di Indonesia
masih menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Adapun tantangan dan hambatan
tersebut terlihat dari banyak faktor, seperti keterbatasan jaringan di wilayah terpencil,
tidak tersedianya sarana belajar Online yang memadai, latar belakang sosial ekonomi
siswa yang rendah serta tingkat kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran
Online yang rendah.
B. Saran
Dalam jangka panjang, pemerintah Indonesia harus mendorong pemerataan
pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga harus berinvestasi dalam reformasi
pendidikan guru seperti mengembangkan kurikulum khusus untuk pembelajaran jarak
jauh dan pendidikan darurat serta penguasaan teknologi pengajaran. Selain itu, Untuk
menghindari kesenjangan lebih lanjut dalam pendidikan, guru perlu mengetahui
tingkat kemampuan siswa mereka selama periode pembelajaran berbasis rumah untuk
mencapai keiatan pembelajaran yang efektif.
DAFTAR PUSTAKA

Alifia, Ulfah. 2020. COVID-19 is widening Indonesia’s education gap. Economics, Politics
and Public Policy in East Asia and the Pacific

Basilaia, G., & Kvavadze, D. (2020). Transition to Online Education in Schools during a
SARS-CoV-2 Coronavirus (COVID-19) Pandemic in Georgia. Pedagogical Research,
5(4). https://doi.org/10.29333/pr/7937.

Bates, A. W., & Poole, G. (2003). Effective teaching with technology in higher education.
San Fransisco: Jossey Bass.

Colace F, De Santo M, Pietrosanto A. Evaluation Models for E-learning Platform: An AHP


Approach. Frontiers in Education Conference, 36th Annual. San Diego, CA: Institute of
Electrical and Electronics Engineers; 2006:1–6.

Dhawan S. Online learning: A panacea in the time of COVID-19 crisis. J Educ Technol Syst.
2020;49(1):5–22.

Hannafin M, Oliver K, Hill J. R, Glazer E, Sharma P. Cognitive and learning factors in web-
based distance learning environments. In M. G. Moore & W. G. Anderson (Eds.),
Handbook of distance education (pp. 245–260). Mahwah, NJ: Erlbaum. 2003.

Horner S, Classick R, Warren H, Durbin B. A Study on Teaching and Electronic Assessment


Methodologies for the KFIT Project in Rwanda. National Foundation for Educational
Research (NFER), UNESCO. 2018: 1–31.

Kaur N, Dwivedi D, Arora J, Gandhi A. Study of the effectiveness of E-learning to


conventional teaching in medical undergraduates amid COVID-19 pandemic. Natl J
Physiol Pharm Pharmacol. 2020;10(7):1.

Kemendikbud, C. (2020). Edaran Tentang Pencegahan Wabah COVID-19 Di Lingkungan


Satuan Pendidikan Seluruh Indonesia. In Infect Dis Clin North Am (Vol. 33, Pp. 1–5).

Lestari, Fatma. 2020. Pengalaaaman Indonesia Dalam Menangani Wabah Covid-19.


Jakarta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana., 2020
Mukhtar K, Javed K, Arooj M, Sethi A. Advantages, Limitations and Recommendations for
Online learning during COVID-19 pandemic era. Pak J Med Sci Q.
2020;36(COVID19-S4):S27–31. pmid:32582310

Munir. (2009). Pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Bandung: Alfabet

Prasojo, Lantip Diat & Riyanto. (2011). Teknologi informasi pendidikan. Yogyakarta: Gava
Media.

Pratiwi, E. W. (2020). Dampak Covid-19 Terhadap Kegiatan Pembelajaran Online Di


Perguruan Tinggi Kristen Di Indonesia. Perspektif Ilmu Pendidikan, 34(1), 1–8.
https://doi.org/10.21009/pip.341.1.

Rusman, dkk. (2011). Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi,


mengembangkan profesionalitas guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Singh V, Thurman A. How many ways can we define Online learning? A systematic
literature review of definitions of Online learning (1988–2018). Am J Distance Educ.
2019;33(4):289–306

WHO: Coronavirus disease (COVID-2019) situation reports. Available


from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-
reports.

Wijayanengtias, M., & Claretta, D. (2020). Student Perceptions of Online Learning During
the Covid-19 Pandemic. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(1), 16–21.
https://doi.org/10.21070/kanal.v9i1.685

Anda mungkin juga menyukai