Anda di halaman 1dari 35

Kasus ENRON (2001)

Author:
Padlah Riyadi., CIFRS., Asean CPA.
Rodi Firmansyah., AK., CA., Asean CPA

Kejatuhan Enron
Dalam terbitannya bulan April 2001, majalah Fortune menyebut Enron, yang menjadi perusahaan
terbesar ke tujuh di Amerika Serikat, sebagai perusahaan paling inovatif di Amerika. Enam bulan
kemudian, pada tanggal 2 Desember 2001, Enron membukukan kebangkrutannya, suatu hasil yang
telah disebut sebagai kecurangan akuntansi terbesar dalam abad ke 20. Duabelas ribu karyawan tidak
hanya kehilangan pekerjaan tetapi juga seluruh tunjangan hidup dan pensiunnya, yang telah
diinvestasikan ke saham Enron. Pemilik saham Enron lainnya-termasuk ribuan warga Amerika biasa
yang memiliki dana pensiun yang juga diinvestasikan di saham Enron-kehilangan sekitar 70 milyar
dollar AS ketika nilai saham mereka jatuh sampai menjadi nol.

Dalam Enron sendiri, Sherron Watkins, Wakil Presiden Enron, melihat kisah horor dimana
perusahaan yang ia telah berusaha untuk menyelamatkannya dengan memperingatkan rekannya
mengenai apa yang sedang terjadi, meskipun demikian kejatuhan tetap terjadi. Kenneth Lay, seorang
pengamat ekonomi dan mantan wakil menteri pada Departemen Interior Amerika Serikat,
membangun Enron di tahun 1985 dengan melakukan penggabungan dua perusahaan gas alam yang
memiliki sistem pipanisasi terpadu, ketika bergabung bersama, membentuk untuk pertama kalinya
sistem nasional yang dapat mendistribusikan gas alam ke pabrik-pabrik seluruh negeri.

Lay mengembangkan perusahaannya dengan mendapatkan pinjaman untuk membeli perusahaan


lain, dan di tahun 1987 hutang yang dimiliki Enron sudah sebesar 75% dari nilai pasar sahamnya,
yang berakibat menciptakan masalah yang berlarut-larut dalam perusahaan. Di tahun 1989, Lay
mengangkat seorang profesional muda bergelar MBA lulusan Harvard bernama Jeffrey Skilling
untuk menjadi pimpinan di Departemen Keuangan Enron. Pemerintah AS saat itu telah tidak
mengatur bisnis energi dengan mencabut banyak regulasi yang membuat harga energi tetap.

Dengan mencabut peraturan itu, harga gas mulai berfluktuasi secara lebar, membuat pasar gas alam
menjadi sangat berisiko baik bagi pembeli maupun penjual. Produsen gas skala kecil, terutama,
mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk eksplorasi dan pengeboran karena pasar yang berisiko
membuat penyandang dana lari.

Skilling datang dengan gagasan yang inovatif dengan menjadikan Enron sebagai makelar antara
pembeli dan penjual yang akan mengurangi risiko yang timbul akibat deregulasi dijalankan. Enron
akan menandatangani kontrak dengan penjual untuk membeli gas mereka sebanyak jumlah yang
telah ditentukan di masa yang akan datang pada harga yang pasti yang telah ditentukan juga dan
kemudian menandatangani kontrak dengan pembeli untuk menjual gas selama waktu tersebut pada
harga yang sama, ditambah keuntungan untuk Enron. Karena kontrak jangka panjang ini membuat
harga tetap untuk beberapa tahun, mereka menghilangkan risiko baik untuk pembeli dan penjual,
sehingga kedua kelompok mulai bertransaksi dengan Enron dan Enron segera menjadi perusahaan
terdepan dalam bisnis perdagangan energi yang menguntungkan. Skilling membentuk sebuah tim
dagang yang berisi kebanyakan dari lulusan MBA yang bisa ia pekerjakan dengan keras sehingga
setiap tahunnya ia memecat karyawan di 10% performa terbawah dan memberikan penghargaan
pada karyawan dengan performa terbaik.
Skilling sekarang memutuskan untuk membuat Enron memasuki pasar komoditas lain dengan
gagasan perdagangan yang sama, dan alhasil karyawan Enron yang bersemangat kemudian membeli
dan menjual dengan kontrak jangka panjang untuk listrik, batu bara, bubur kertas, aluminium, baja,
kimia, kayu, air, broadband, dan plastik-bersamaan dengan total 1,800 jenis barang yang berbeda.
Kontrak dalam komoditas ini juga mengurangi risiko dengan menetapkan harga komoditas yang
berlaku di manapun untuk 1 sampai 12 tahun mendatang.
Tahun 1990, Skilling merekrut Andrew Fastow, seorang ahli keuangan, untuk membantu
menjalankan bisnis perdagangan ini, dan keduanya telah datang dengan gagasan yang pandai dalam
melaporkan nilai dari kontrak jangka panjang yang mereka beli atau jual.
Mereka membujuk Komisi Bursa Saham dan Surat Berharga (SEC) AS untuk membolehkan mereka
memakai metode “menilai pada harga pasar” (mark to market) untuk diberlakukan pada kontrak
mereka. Dalam metode “mark to market”, nilai dari suatu aset dinilai (dilaporkan) dalam laporan
keuangan perusahaan sebagai “nilai pasar” saat ini dari aset tersebut, yaitu, sejumlah nilai yang akan
didapat bila aset secara teoritis akan dijual pada pasar terbuka. Untuk menghitung nilai pasar dari
suatu kontrak, karyawan Enron akan meramal harga akan datang dari komoditas yang
diperjualbelikan (seperti gas, listrik, batu bara, dan lain-lain) sepanjang kontrak berlaku. Memakai
peramalan ini, mereka kemudian akan menambahkan arus kas masa datang secara teoritis kontrak
tersebut, menerapkan tingkat diskonto, dan menghitung nilai saat ini bersih (net present
value=NPV) dari kontrak tersebut. NPV ini yang kemudian dilaporkan sebagai “nilai sebenarnya”
dari kontrak. Jika NPV lebih tinggi dari yang Enron bayarkan, lalu selisihnya dapat dilaporkan
sebagai sebuah “laba” pada laporan keuangan Enron. Karyawan Enron ditekan untuk meramalkan
arus kas masa datang yang tinggi dan tingkat diskonto yang rendah pada kontrak mereka, membuat
Enron melaporkan nilai aset (kontrak) dan laba yang tinggi pada investor. Tahun 1996, Skilling
diangkat menjadi Presiden Direktur Enron, dan Fastow menjadi Direktur Keuangan.
Awalnya, Enron menghadapi suatu masalah. Untuk memasuki beberapa pasar yang ia perdagangkan, ia harus
meminjam sejumlah uang yang sangat besar untuk membeli infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengangkut,
menyimpan, dan mengirimkan komoditas yang diperdagangkan. Tetapi bila Enron mengambil hutang yang besar,
menambah hutang yang sudah tinggi sebelumnya, pembeli dan penjual akan enggan untuk menandatangani
perjanjian dengan perusahaan karena tingkat hutang yang tinggi akan meningkatkan kemungkinan perusahaan
akan bangkrut. Tingkat hutang yang tinggi juga akan menurunkan peringkat investasi dan mungkin juga akan
membuat bank menarik pinjamannya kembali. Untuk mengatasi masalah ini, Enron harus menemukan cara
untuk tetap mendapatkan pinjaman hutang tanpa harus melaporkan hutangnya dalam laporan keuangannya.
Andrew Fastow menemukan suatu cara yang pintar untuk menyelesaikan masalah seputar hutang
tersebut dan sekaligus membersihkan banyak kontrak yang dinilai terlalu tinggi pada pembukuan
Enron di saat yang sama tetap menghasilkan “pendapatan” tambahan. Membayar mahal (beberapa
juta dolar AS) untuk konsultasi yang diberikan oleh divisi konsultasi keuangan Arthur Andersen
(AA), Fastow, bersama konsultan AA, menyiapkan sebuah “perseroan terbatas” yang disebut
“entitas tujuan khusus” (Special Purpose Entities).

Aturan akuntansi membolehkan suatu perusahaan mengeluarkan pencatatan entitas tujuan khusus
dari laporan keuangannya bila ada pihak independen yang memiliki kendali atas entitas tujuan khusus
tersebut, dan bila pihak independen ini memiliki paling tidak 3 persen dari seluruh saham entitas
tujuan khusus. Untuk memenuhi syarat tersebut, Fastow menunjuk dirinya sendiri dan karyawan
Enron lainnya untuk menjadi para pimpinan di entitas ini. Individu-individu ini kemudian
menginvestasikan dengan cukup uang mereka sendiri di entitas ini untuk memenuhi peraturan 3
persen, dan Fastow mentransfer cukup saham Enron ke dalam entitas untuk membuat 97% lainnya.
Entitas ini kemudian meminjam sangat banyak uang, memakai saham Enron mereka sebagai
jaminan. Uang yang dipinjam kemudian dibayarkan kepada Enron untuk “membeli” kontrak yang
dinilai terlalu tinggi pada pembukuan Enron dan investasi gagal lainnya, dan Enron dapat mencatat
uang itu sebagai “pendapatan”, bukan hutang. Entitas ini juga setuju untuk mengambil alih hutang
berjalan Enron yang sangat besar dan sebaliknya, Enron mentransfer lebih banyak sahamnya ke
entitas yang dibentuk itu. Fastow memberi entitas tersebut nama yang tak lazim seperti “Chewco”,
“Jedi”, “Talon”, “Condor”, dan “Raptor”, dan ia dan orang-orang Enron lainnya menggaji diri
mereka sendiri jutaan dolar AS sebagai gaji dan pendapatan dari kepemilikan saham 3% mereka di
entitas.

Hasil akhirnya adalah entitas khusus tersebut dibiarkan memiliki hutang, dijamin oleh saham Enron,
dan juga memegang kontrak yang dinilai terlalu tinggi dan investasi gagal lainnya sebagai “aset”.
Karena hutang dan aset yang dibeli dari Enron oleh entitas tujuan khusus tidak harus dilaporkan
pada laporan keuangan Enron, pemegang saham percaya bahwa hutang yang dimiliki Enron tidak
meningkat, bahwa perusahaan mendapatkan laba yang tinggi dari penjualan kontrak dan aset lain
kepada entitas ini, dan bahkan pendapatan meningkat setiap tahunnya. Sebagai auditor perusahaan
dan akuntan “luar”, divisi audit Arthur Andersen memberikan penilaian bahwa laporan keuangan
perusahaan telah menyajikan akuntansi yang akurat.

Sherron Watkins, seorang yang jujur, bicara terbuka, dan apa adanya yang mulai bekerja di Enron
sejak 1993 dan saat itu sebagai wakil presiden di bawah Fastow, mulai curiga pada praktek akuntansi
yang diperkenalkan Fastow. Sepanjang harga saham Enron cukup tinggi, nilainya akan mencukupi
untuk menutup saldo hutang yang dipegang oleh entitas khusus dan hutang tersebut tetap di luar
pembukuan Enron. Tetapi dia mengetahui bahwa jika harga saham jatuh , ini akan memicu aturan
yang akan memaksa perusahaan untuk membubarkan entitas khusus dan membawa hutang dan aset
yang dinilai terlalu tinggi kembali pada laporan keuangan Enron.

Sayangnya, di semester ke dua tahun 2001, saham Enron mulai jatuh dari tingkat 80 dolar AS per
saham, sebagian hasil dari artikel di majalah Fortune edisi 5 Maret 2001 yang membantah bahwa
laporan keuangan Enron “hampir tidak dapat ditembus” dan bahwa harga saham Enron terlampau
tinggi. Karena harga sahamnya jatuh, akuntan Enron berjuang untuk menghimpun hutang dan aset
pada entitas khusus sehingga dapat menghindari pencatatan hal tersebut di laporan keuangan
perusahaan. Sherron Watkins ngeri melihat baik risiko yang meningkat akibat jatuhnya harga saham
maupun usaha Fastow untuk menyembunyikannya.

Di bulan Juli 2001, karena para investor mulai lebih curiga dan harga saham perusahaan jatuh sampai
47 dolar AS per saham, Skilling tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan Presiden Direktur dengan
“alasan pribadi”. Sekarang semakin yakin bahwa perusahaan mengarah ke dalam bencana, Sherron
Watkins pada tanggal 22 Agustus secara pribadi menemui Ken Lay departemen legal dan memegang
sebuah surat enam halaman yang menggambarkan pelanggaran akuntansi berhubungan dengan
entitas tujuan khusus dan memperingatkan mereka pada apa yang ia sebut sebagai “kecurangan
akuntansi terburuk yang pernah saya lihat”. “Saya gugup luar biasa”, ia tulis, “bahwa kita akan
meledak dalam sebuah gelombang skandal akuntansi”. Lay dan pengacaranya, bagaimanapun,
memutuskan tidak ada yang salah meskipun entitas tujuan khusus mungkin harus dibongkar akhirnya
jika saham Enron berlanjut jatuh. Di depan umum, Lay mengumumkan kepada para karyawan dan
investor bahwa pertumbuhan perusahaan di masa datang “telah menjadi lebih tidak pasti” dan
mendesak mereka dan investor lain untuk melanjutkan investasi di saham Enron. Namun, Lay dan
pimpinan lainnya secara diam-diam mulai menjual banyak saham mereka di Enron. Watkins
menghubungi juga seorang temannya di Arthur Andersen yang membicarakan perhatiannya pada
pimpinan auditor yang mengaudit Enron. Namun, tak ada hasilnya.

Saat Watkins dari dalam terus melanjutkan mencoba membuat perusahaan bertindak, harga saham
Enron terus jatuh. Tanggal 16 Oktober 2001, Enron mengumumkan bahwa pihaknya telah
memutuskan untuk mengambil alih hutang dan aset pada entitas, memaksanya untuk menanggung
544 juta dolar AS dengan labanya saat ini dan mengurangi nilai ekuitas sebesar 1,2 milyar dolar AS,
tepat seperti yang Sherron Watkins telah peringatkan terjadi.

Satu minggu kemudian, tanggal 22 Oktober, SEC mengumumkan nahwa mereka sedang menyelidiki
entitas tujuan khusus yang dimiliki Enron. Sehari kemudian Fastow dipecat. Tanggal 8 November
2001, perusahaan mengumumkan bahwa mereka dipaksa untuk menyajikan kembali seluruh laporan
keuangannya dari tahun 1997 karena dipaksa untuk menggabungkan entitas tujuan khususnya ke
dalam laporan keuangan perusahaan. Penyajian kembali dibuat untuk mengurangi ekuitas pemegang
saham sebesar 1,2 milyar dolar AS dan untuk menambah hutang perusahaan sebesar 2,6 milyar dolar
AS. Bulan November 2001, harga saham jatuh sampai 1 dolar AS per saham, dan perusahaan jatuh
ke dalam kebangkrutan.

Tanggal 22 Februari 2002, Sherron Watkins menghadap anggota kongres dan di hadapan umum
mengutarakan apapun yang ia tahu tentang praktek akuntansi perusahaan. Disebut sebagai “peniup
peluit yang berani” oleh surat kabar, dia mencatat bahwa Andrew Fastow telah mencoba
memecatnya dan merampas komputernya ketika ia tahu bahwa dia mencoba memperingatkan
atasannya tentang masalah yang akan terjadi.

Sementara itu, karyawan Arthur Andersen, dalam usahanya menutupi peran mereka dalam
membentuk entitas khusus dan kemudian menyatakan opini atas laporan keuangan perusahaan,
ditangkap sedang menghancurkan dokumen-dokumen tentang keterlibatan Andersen dengan Enron.
Bulan Juni 2001, kantor akuntan tersebut dinyatakan bersalah telah menghalangi proses pengadilan
karena menghancurkan dokumen dan dipaksa untuk menghentikan operasinya sebagai kantor
akuntan, secara efektif menghancurkan karir ribuan karyawannya.

Pertanyaan:

1. Apa saja masalah sistemik, korporasi, dan individu yang timbul dalam kasus ini?
2. Jika nilai saham Enron tidak jatuh, entitas tujuan khusus mungkin dapat melanjutkan
operasinya sampai kapanpun. Misalkan saham Enron tidak jatuh, dan umpamakan bahwa
praktek akuntansinya mengikuti peraturan prinsip akuntansi yang diterima umum
(umpamakan praktik akuntansi Enron diperbolehkan oleh peraturan akuntansi diterima
umum). Dalam kasus ini, dalam pandangan anda, adakah kesalahan yang Enron lakukan?
Terangkan.
3. Siapa, menurut penilaian anda, secara moral bertanggung jawab atas kejatuhan Enron?

Jawaban:
Isu-isu yang timbul dalam kasus ini:

 Masalah sistemik
Pertama dalam kasus ini adalah ketika pemerintah AS mencabut peraturan-peraturan yang menjaga
harga gas alam tetap stabil. Ketika harga komoditas stabil, risiko usaha dapat ditekan dan membuat
perusahaan tidak ingin berspekulasi. Namun, kenyataannya lain, pemerintah justru mencabut aturan
itu dan membiarkan harga gas dan komoditas lain mulai berfluktuasi secara lebar, membuat pasar gas
alam menjadi sangat berisiko baik bagi pembeli maupun penjual. Produsen gas skala kecil, terutama,
mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk eksplorasi dan pengeboran karena pasar yang berisiko
membuat penyandang dana lari.
Masalah sistemik lain adalah aturan akuntansi membolehkan suatu perusahaan mengeluarkan
pencatatan entitas tujuan khusus dari laporan keuangannya bila ada pihak independen yang memiliki
kendali atas entitas tujuan khusus tersebut, dan bila pihak independen ini memiliki paling tidak 3
persen dari seluruh saham entitas tujuan khusus. Hal ini seharusnya tetap dicatat dan dilaporkan
dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan induk supaya para pemangku kepentingan
mengetahui secara benar kondisi keuangan yang dialami perusahaan. Dalam kasus Enron hal ini
tidak berlaku.

1. Masalah di tingkat korporasi

Masalah yang pertama adalah hutang Enron yang sudah cukup tinggi, sampai 75% dari nilai pasar
sahamnya, sebelum ada kasus yang bisa disebut kecurangan akuntansi terbesar dalam sejarah. Seperti
di dalam artikel telah diterangkan bahwa semakin tinggi tingkat hutang maka semakin besar
kemungkinan perusahaan itu bangkrut, juga semakin rendah peringkat investasinya.

Masalah kedua ialah pada saat karyawan Enron ditekan untuk membuat ramalan arus kas masa
datang yang sangat tinggi (cenderung fiktif) dan tingkat diskonto yang rendah pada kontrak mereka,
sehingga membuat Enron melaporkan nilai aset (kontrak) dan laba yang tinggi pada investor.
Padahal kenyataannya Enron menilai terlampau tinggi nilai ramalan arus kas masa depannya, hal ini
bertujuan untuk mengelabui investor supaya selalu menanamkan modalnya di saham Enron. Dengan
begitu, harga saham Enron akan naik dan nilai pasarnya meningkat sehingga dapat menutupi nilai
hutangnya.

Masalah ketiga, Enron harus meminjam sejumlah uang yang sangat besar untuk membeli
infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengangkut, menyimpan, dan mengirimkan komoditas yang
diperdagangkan. Namun Enron tidak bisa begitu saja mencari pinjaman tambahan lagi dari pihak
bank karena akan menjadi tambahan hutang yang besar di laporan keuangannya dan itu tidak baik
bagi Enron karena akan menurunkan peringkat investasinya. Oleh karena itu Enron membentuk
anak perusahaan dengan tujuan khusus, yaitu digunakan untuk mencari pinjaman dari bank seolah-
olah bukan Enron yang meminjam tetapi anak perusahaannya. Jadi laporan keuangan Enron tetap
“bersih”.

Masalah lainnya adalah keterlibatan Arthur Andersen dalam merekayasa laporan keuangan Enron.
Andersen yang seharusnya hanya bertindak sebagai auditor dari Enron, telah melacurkan diri untuk
terlibat dalam operasional akuntansi sehari-hari seperti layaknya akuntan luar, hal ini telah melanggar
independensi dan obyektivitas yang harus dimiliki oleh auditor yang melakukan pemeriksaan pada
suatu perusahaan.

2. Masalah di tingkat individu


1. Ken Lay adalah pendiri Enron namun kemudian ia membangunnya dengan banyak hutang.
Lalu pada saat Enron sudah berada di jurang kehancuran, ia masih saja menyatakan tidak ada
yang salah dalam perusahaannya, tetapi secara diam-diam mulai menjual saham yang ia miliki
ke pasar. Sungguh perbuatan yang licik dan curang, dimana menggunakan pengetahuannya
untuk menangguk keuntungan atau menghindar dari kejatuhan secara sendiri saja tanpa
mempedulikan pihak lain.

2. Individu kedua adalah Jeffrey Skilling, perannya adalah membuat Enron menjadi perusahaan
perdagangan yang sangat ekspansif namun mengesampingkan rambu-rambu aturan yang
berlaku baik itu aturan dari SEC maupun juga prinsip akuntansi yang berlaku umum. Ia
bersama Fastow juga merayu pihak SEC untuk menerima metode akuntansi yang
menguntungkan Enron. Praktek-praktek pendekatan kepada pejabat seperti ini sangat
diharamkan dalam bisnis modern karena hanya menguntungkan segelintir pihak namun
merugikan sebagian besar pelaku pasar.

3. Selanjutnya adalah Andrew Fastow, inilah pelaku utama kecurangan ini yaitu dengan penuh
manipulasi membentuk entitas khusus yang hanya dipakai untuk menampung hutang Enron
sedemikian rupa sehingga laporan keuangan Enron bersih dari hutang dan mencatatkan laba
yang tinggi. Bersama orang Enron lainnya, ia memperkaya dirinya sendiri dari gaji yang tinggi
dan pendapatan dari saham di entitas khusus sampai jutaan dolar AS. Ia pun juga berusaha
memecat Sherron Watkins, si peniup peluit kasus ini, dan juga berusaha merampas
komputernya untuk menghilangkan bukti-bukti.

4. Beberapa orang dari Arthur Andersen juga terlibat dalam kecurangan terbesar ini karena juga
ikut memanipulasi pembentukan entitas khusus dan memberikan opini yang menyatakan
laporan keuangan Enron telah dilaporkan dengan akurat dan wajar. Mereka juga berusaha lari
dari tanggung jawab dengan berusaha menghancurkan dokumen-dokumen yang merupakan
bukti keterlibatannya. Untunglah mereka segera ditangkap juga.

Meskipun nilai saham Enron tidak jatuh sehingga entitas tujuan khusus mungkin dapat
melanjutkan operasinya, juga prinsip akuntansi yang diterima umum membolehkan praktik
akuntansi Enron, menurut pandangan kami tetap saja Enron melakukan kesalahan yaitu:

a. Hutang Enron yang sudah tinggi sebelum kasus ini muncul. Semakin tinggi tingkat hutang
maka semakin besar kemungkinan perusahaan itu bangkrut, juga semakin rendah peringkat
investasinya.
b. Enron menekan karyawannya untuk memanipulai ramalan arus kas masa datang dengan
sangat tinggi (cenderung fiktif) dan tingkat diskonto yang rendah pada kontrak mereka,
sehingga membuat Enron melaporkan nilai aset (kontrak) dan laba yang tinggi pada investor,
padahal kenyataannya tidak demikian. Hal ini bertujuan untuk mengelabui investor supaya
selalu menanamkan modalnya di saham Enron. Dengan begitu, harga saham Enron akan
naik dan nilai pasarnya meningkat sehingga dapat menutupi nilai hutangnya.
c. Enron melakukan praktek-praktek yang rakus, licik, dan menghalalkan segala cara untuk
meraih keuntungan setinggi-tingginya. Jelas praktek tersebut melanggar etika walaupun
belum tentu melanggar hukum yang berlaku.

Menurut penilaian kami, secara moral yang bertanggung jawab atas kejatuhan Enron adalah:
1. Pemerintah AS, dalam hal ini SEC, yang sangat tidak menjaga kepentingan investor untuk
mendapatkan iklim investasi yang sehat dan aman. Malah pejabat SEC terlibat dalam
mempermudah Enron untuk mempraktekan kecurangannya dengan membiarkan Enron
“menggoreng” laporan keuangannya.
2. Para pemimpin Enron, baik Kenneth Lay, Jeffrey Skilling, apalagi Andrew Fastow, dan juga
beberapa karyawan Enron lainnya yang secara sadar dan sengaja terlibat dalam manipulasi
nilai aset dan laba perusahaan yang membuat investor tertarik menanamkan modalnya
padahal mereka baru saja membakar banyak uangnya.
3. Arthur Andersen, sebagai auditor seharusnya mereka memeriksa dengan obyektivitas dan
independensi yang tinggi, namun karena terbujuk oleh uang mereka malah terlibat dalam
manipulasi laporan keuangan Enron yang pada akhirnya merugikan banyak pihak sampai
milyaran dolar AS. Sungguh luar biasa kecurangan ini sampai-sampai disebut sebagai
kecurangan akuntansi terbesar dalam abad ke 20.

Permasalahan Akuntansi Keuangan dan Manajemen

1. Kompetensi, Kerahasiaan, Integritas dan Objektivitas dari Akuntan Manajemen

KompetensiAkuntansi manajemen mempunyai tanggung jawab untuk:

a. Mempertahankan kompetensi professional pada level yang semestinya


b. Melaksanakan tugas-tugas professional sesuai dengan hokum, peraturan dan standar
teknis yang relevan
c. Menyiapkan laporan secara lengkap dan jelas serta memberi rekomendasi setelah
melakukan analisis yang layak terhadap informasi yang relevan dan handal

Kerahasian
Akuntansi manajemen mempunyai tanggung jawab untuk:
a. Tidak mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh dalam menjalankan
pekerjaannya kecuali mendapat wewenang atau karena adanya kewajiban hokum untuk
mengungkapkan hal tersebut
b. Menginformasikan kepada bawahannya tentang kerahasiaan informasi yang diperoleh
selama menjalankan pekerjaan dan mengawasi aktivitas mereka untuk meyakinkan bahwa
mereka tetap menjaga kerahasiaan
c. Tidak memanfaatkan atau mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh selama
menjalankan pekerjaannya demi ke untungan illegal dan tidak etis, baik bagi dirinya
sendiri atau pihak ketiga

Integritas
Akuntansi manajemen mempunyai kewajiban untuk:
a. Menghindari adanya kepentingan dan member nasehat kepada pihak yang
berkepentingan terhadap konflik-konflik yang potensial yang terjadi
b. Menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan keraguan terhadap kemampuan
mereka untuk melakukan tugasnya secara etis
c. Menolak segal bentuk hadiah, tanda mata atau keramahan yang dapat mempengaruhi
tindakan mereka
d. Tidak menumbangkan baik secara efektif maupun pasif hasil-hasil yang dicapai
organisasi yang sah serta tujuan-tujuan etis
e. Mengenalkan dan mengkomunikasikan batasan-batasan professional atau kendala
lain yang akan menghambat kebijakan-kebijakan yang bertanggung jawab atau
kesuksesan kinerja dari suatu aktivitas
f. Mengkomunikasikan informasi dan kebijakan-kebijakan atau opini-opini, baik yang
bersifat menguntungkan ataupun yang tidak menguntungkan
g. Tidak melakukan atau mendukung aktivitas yang dapat mengkreditkan profesi

Objektivitas
Akuntansi manajemen bertanggung jawab untuk:
a. Mengkomunikasikan informasi secara wajar dan objektif
b. Mengungkapkan seluruh informasi yang diharapkan relevan untuk mempengaruhi
pemakai untu memahami laporan, komentar dan rekomendasi yang disajikan

Contoh :
kasus penyimpangan pajak yang melibatkan anak perusahaan PT BHI, pejabat pajak, dan
kantor akuntan publik terkemuka yang merupakan salah satu dari the big five yang terungkap
baru-baru ini dan terancam undang-undang anti suap perusahaan Amerika yang beroperasi di
luar negeri. Contoh lainnya adalah kasus ENRON, HIH, dan perlunya audit ulang PT
Telkom karena ditolaknya laporan keuangan auditan PT Telkom oleh Security Exchange
Commission (SEC).

2. Whistle Blower

Whistle Blower merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa
orang karyawan untuk membocorkan kekurangan yang dilakukan oleh perusahaan atau
atasannya kepada pihak lain. Whistle blowing berkaitan dengan kecurangan yang merugikan
perusahaan sediri maupun pihak lain.

Hal ini merupakan isu yang penting dan dapat berdampak buruk, baik kepada individu
tersebut maupun organisasi yang dilaporkan (Vinten, 1994). Menurut Vardi dan Wiener
(1996), tindakan ini termasuk tindakan menyimpang karena menyalahi aturan inti pekerjaan
dalam perusahaan yang harus dipatuhi oleh semua pekerja. Sedangkan menurut Moberg
(1997) tindakan ini dikategorikan sebagai pengkhianatan terhadap perusahaan.

Whistle Blowing dalam perusahaan (misalnya atasan) dapat disebut sebagai perilaku
menyimpang tipe O jika termotivasi oleh identifikasi perasaan yang kuat terhadap nilai dan
misi yang dimiliki perusahaan, dengan kepedulian terhadap kesuksesan perusahaan itu
sendiri. Sedangkan tindakan whistle blowing yang bersifat ”pembalasan dendam”
dikategorikan sebagai perilaku menyimpang tipe D karena ada usaha untuk menyebabkan
suatu bahaya.

Sementara itu, beberapa peneliti menganggap whistle blowing sebagai suatu bentuk tindakan
kewarganegaraan yang baik (Dworkin & Nera, 1997), harus didorong dan bahkan
dianugerahi penghargaan. Namun, whistle blowing biasanya dipandang sebagai perilaku
menyimpang. Para atasan menganggapnya sebagai tindakan yang merusak yang kadang
berupa langkah pembalasan dendam yang nyata (Near & Miceli, 1986). Para atasan
berpendapat bahwa pada saat tindakan yang tidak etis terungkap, maka mereka harus
berhadapan dengan pihak intern mereka sendiri. Penelitian Near & Miceli mengungkapkan
bahwa whistle blower lebih memilih melakukan aksi balas dendam apabila mereka tidak
mendapat dukungan yang mereka inginkan dari atasannya, insiden yang terjadi tergolong
serius, dan menggunakan sarana eksternal untuk melaporkan kesalahan yang ada.
Kita dapat mengidentifikasi pola tingkatan dari OMB, yaitu sebuah tindakan tidak pantas
yang dilakukan di dalam organisasi/perusahaan dan anggota dalam perusahaan memutuskan
untuk menentang norma loyalitas kepada perusahaan dan mengungkapkan tindakan tidak
pantas tadi kepada pihak luar. Dampaknya, organisasi/perusahaan akan melakukan tindakan
menyimpang lebih jauh dengan mengambil aksi balas dendam kepada whistle blower tadi.

Perilaku whistle blowing berkembang atas beberapa alasan. Pertama, pergerakan dalam
perekonomian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pendidikan, keahlian, dan
kepedualian sosial dari para pekerja. Kedua, keadaan ekonomi sekarang telah memberi
informasi yang intensif dan menjadi penggerak informasi. Ketiga, akses informasi dan
kemudahan berpublikasi menuntun whistle blowing sebagai fenomena yang tidak bisa
dicegah atas pergeseran perekonomian ini (Rothschild & Miethe, 1999).

Tidaklah mudah untuk memastikan terjadinya whistle blowing. Rothschild & Miethe (1999)
mendapatkan informasi yang menarik tentang hal ini. Dengan menngunakan sampel pekerja
dewasa di US, ditemukan bahwa 37% dari mereka menemukan tindakan menyimpang di
dalam lingkungan kerja mereka dan 62% dari porsi ini melakukan tindakan whistle blowing.
Namun hanya 16% yang melaporkan ke pihak eksternal, sisanya hanya melapor kepada pihak
internal yang memiliki kuasa lebih tinggi.

Miceli & Nera (1997) memandang whistle blowing sebagai antisocial OB. Antisocial OB
adalah tindakan intens yang bersifat membahayakan yang dilakukan anggota organisasi
terhadap individu, kelompok, atau organisasi. Untuk perilaku whistle blowing yang
diklasifikasikan kedalam golongan ini harus dipastikan tingkat bahaya yang dihasilkan.
Perilaku ini sejalan dengan OMB tipe D, yang juga dianggap sebagai aksi balas dendam.

De George (1986) menetapkan tiga kriteria atas whistle blowing yang adil. Pertama organisasi
yang dapat menyebabkan bahaya kepada para pekerjanya atau kepada kepentingan publik
yang luas. Kedua, kesalahan harus dilaporkan pertama kali kepada pihak internal yang
memiliki kekuasaan lebih tinggi, dan ketiga, apabila penyimpangan telah dilaporkan kepada
pihak internal yang berwenang namun tidak mendapat hasil, dan bahkan penyimpangan terus
berjalan, maka pelaporan penyimpangan kepada pihak eksternal dapat disebut sebagai
tindakan kewarganegaraan yang baik.

Menurut James (1984), whistle blower dalam for-profit organization akan dikenakan
pemutusan kerja. Mereka juga akan masuk dalam blacklist yang tidak mendapat surat
rekomendasi. Sementara itu, dalam non-for-profit organization, whistle blower biasanya
dipindahkan, diturunkan posisinya, dan tidak akan mendapat promosi.
Perilaku whistle blowing dapat terjadi sebagai akibat dari penanaman nilai yang kuat atas
suatu organisasi, mencakup bagaimana dan apa nilai-nilai serta budaya yang terdapat dalam
organisasi tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengaruh sosial dan budaya
organisasi merupakan pengaruh yang kuat terhadap terjadinya whistle blowing.
Whistle bowing dibedakan menjadi 2 yaitu whistle blowing internal dan whistle blowing
eksternal.

Whistle blowing internal terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang
dilakukan karyawan kemudian melaporkan kecurangan tersebut kepada atasannya.
Whistle blowing eksternal terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang
dilakukan oleh perusahaan lalu membocorkannya kepada masyarakat karena kecurangan itu
akan merugikan masyarakat.

Contoh:
Contoh kasus di negara lain Jeffrey Wigand adalah seorang Whistle Blower yang
sangat terkenal di Amerika Serikat sebagai pengungkap sekandal perusahaan The Big
Tobbacoh. Perusahaan ini tahu bahwa rokok adalah produk yang gaddictiveh dan
perusahaan ini menambahkan bahan gcarcinogenich di dalam ramuan rokok tersebut. Kita
tahu bahwa gcarcinogenic adalah bahan berbahaya yang dapat menimbulkan kanker. Yang
perlu diingat bahwa Whistle Blower tidak hanya pekerja atau karyawan dalam bisnis
melainkan juga anggota di dalam suatu institusi pemerintahan (Contoh Khairiansyah adalah
auditor di sebuah institusi pemerintah benama BPK).

3. Creative accounting

Creative accounting adalah usaha yang dilakukan manajemen perusahaan dalam


mendongkrak laba perusahaan dengan melakukan modifikasi data keuangan yang ada pada
laporan keuangan melalui cara-cara yang kreatif. Cara-cara tersebut dapat berupa manipulasi
terhadap data akuntansi atau mencari celah-celah yang ada pada standar akuntansi keuangan
yang berlaku.

Akuntansi kreatif, bisa juga disebut akuntansi yang agresif, adalah manipulasi angka-angka
finansial, biasanya dalam surat hukum dan standar akuntansi, namun sangat menentang
semangat mereka dan tentunya tidak menyediakan "benar dan adil" pandangan perusahaan
yang seharusnya rekening untuk.

Tujuan khas akuntansi kreatif akan mengembang angka keuntungan. Beberapa perusahaan
juga dapat mengurangi melaporkan laba di tahun-tahun yang baik untuk hasil yang halus.
Aktiva dan kewajiban juga dapat dimanipulasi, baik untuk tetap dalam batas-batas seperti
perjanjian utang, atau untuk menyembunyikan masalah.

Khas trik akuntansi kreatif meliputi keseimbangan pembiayaan lembar, terlalu optimis
pengakuan pendapatan dan penggunaan berlebihan non-berulang item. Istilah "window
dressing" memiliki arti yang sama bila diterapkan ke account, namun istilah yang lebih luas
yang dapat diterapkan ke daerah lain. Di Amerika Serikat sering digunakan untuk
menggambarkan manipulasi angka-angka kinerja investasi portofolio. Dalam konteks
rekening, "window dressing" lebih mungkin dibandingkan "akuntansi kreatif" untuk
menyiratkan praktek-praktek ilegal atau penipuan, tapi perlu melakukannya.
Teknik-teknik perubahan akuntansi kreatif dari waktu ke waktu. Seiring dengan perubahan
standar akuntansi, teknik yang akan bekerja berubah. Banyak perubahan dalam standar
akuntansi dimaksudkan untuk memblokir rekening tertentu cara memanipulasi, yang berarti
mereka bermaksud akuntansi kreatif perlu menemukan cara-cara baru dalam melakukan
sesuatu. Pada saat yang sama, perubahan lainnya, berniat baik, dalam standar akuntansi
membuka peluang baru untuk akuntansi kreatif (penggunaan nilai wajar adalah contoh yang
baik dari ini).

Banyak (tetapi tidak semua) teknik akuntansi yang kreatif mengubah angka utama
ditunjukkan dalam laporan keuangan, tapi membuat diri mereka terlihat di tempat lain, paling
sering dalam catatan ke rekening. Pasar telah terkejut oleh berita buruk sebelum tersembunyi
dalam catatan, sehingga pendekatan rajin dapat memberikan keuntungan.

Contoh:
Di Indonesia terdapat beberapa kasus creative accounting seperti kasus manipulasi penjualan
Kimia Farma, Great River dan lain-lain. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bagaimana
manipulasi laporan keuangan dapat dijadikan cara untuk menipu investor, petugas pajak,
pemilik perusahaan, kreditor dan lain-lain.

Para akuntan publik, auditor internal perusahaan dan aparat penegak hukum sering tidak
mampu mendeteksi teknik-teknik creative accounting yang semakin canggih yang dilakukan
para penjahat kerah putih. Skill dan keahlian para penegak hukum di Indonesia sangatlah
minim apalagi dalam bidang akuntansi keuangan. Sisi lain, para penyusun laporan keuangan
tidak memahami apa saja konsekuensi dari tindakan manipulasi laporan keuangan yang
mereka lakukan.

Oleh Karena itu kami Stufen International menyelenggarakan pelatihan terkait dengan trik-
trik manipulasi laporan keuangan yang mungkin dilakukan oleh para penyusun laporan
keuangan dan aspek legal creative accounting.

4. Fraud Accounting

Menurut Alison (2006) dalam artikel yang berjudul Fraud Auditing mendefinisikan
kecurangan (Fraud) sebagai bentuk penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan
kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi
pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan
penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya
pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut.

5. Karakteristik Kecurangan Akuntansi

Menurut Alison (2006) dalam artikel yang berjudul Fraud Auditing, dilihat dari pelaku Fraud
maka secara garis besar kecurangan dapat digolongkan menjadi dua jenis di pihak
perusahaan, yaitu :

Manajemen untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan
pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting). Kecurangan
pelaporan keuangan biasanya dilakukan karena adanya dorongan dan ekspektasi terhadap
prestasi kerja manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan terhadap pelaporan
keuangan lebih dikenal dengan istilah irregulatities (ketidakberesan). Bentuk kecurangan
seperti ini seringkali dinamakan kecurangan manajemen (management fraud), misalnya
berupa : manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen
pendukung yang merupakan sumber penyajian laporan keuangan, kesengajaan dalam salah
menyajikan atau sengaja menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi, kejadian,
atau informasi penting dari laporan keuangan

Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva
(misstatements arising from misappropriation of assets). Kecurangan jenis ini biasanya
disebut kecurangan karyawan (employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan
aktiva meliputi penggelapan aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan keuangan tidak
disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penggelapan aktiva
umumnya dilakukan oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan
kartena melihat adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan serta
pembenaran terhadap tindakan tersebut. Contoh salah saji jenis ini adalah :

a. Penggelapan terhadap penerimaan kas.


b. Pencurian aktiva perusahaaan.
c. Mark-up harga.
d. Transaksi tidak resmi.
e. Oleh pihak diluar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha dan pihak asing yang dapat
menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Kecurangan akuntansi telah berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di USA


kecurangan akuntansi telah berkembang secara luas. Spathis (2002) menjelaskan bahwa di
USA kecurangan akuntansi menimbulkan kerugian yang sangat besar di hampir seluruh
industri. Kerugian dari kecurangan akuntansi di pasar modal adalah menurunnya
akuntabilitas manajemen dan membuat para pemegang saham meningkatkan biaya
monitoring terhadap manajemen. Pada umumnya kecurangan akuntansi berkaitan dengan
korupsi. Dalam korupsi, tindakan yang lazim dilakukan diantaranya adalah memanipulasi
pencatatan, penghilangan dokumen, dan mark-up yang merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara. Tindakan ini merupakan bentuk kecurangan akuntansi.

Contoh:
Terungkapnya kasus mark-up laporan keuangan PT. Kimia Farma yang overstated,
yaitu adanya penggelembungan laba bersih tahunan senilai Rp 32,668 miliar (karena laporan
keuangan yang seharusnya Rp 99,594 miliar ditulis Rp 132 miliar). Kasus ini melibatkan sebuah
Kantor Akuntan Publik (KAP) yang menjadi auditor perusahaan tersebut ke pengadilan,
meskipun KAP tersebut yang berinisiatif memberikan laporan adanya overstated (Tjager dkk.,
2003). Dalam kasus ini terjadi pelanggaran terhadap prinsip pengungkapan yang akurat (accurate
disclosure) dan transparansi (transparency) yang akibatnya sangat merugikan para investor,
karena laba yang overstated ini telah dijadikan dasar transaksi oleh para investor untuk berbisnis.

6. Fraud Auditing

Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah
kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat melakukan audit kecurangan
terhadap pembukuan dan transaksi komersial memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu
sebagai auditor yang terlatih dan kriminal investigator.

Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya kita bahas dulu mengenai kecurangan itu sendiri.
Kecurangan (fraud) perlu dibedakan dengan kesalahan (Errors). Kesalahan dapat
dideskripsikan sebagai “Unintentional Mistakes” (kesalahan yang tidak di sengaja). Kesalahan
dapat terjadi pada setiap tahapan dalam pengelolaan transaksi terjadinya transaksi,
dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal, pencatatan debit kredit, pengikhtisaran proses
dan hasil laporan keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis. Kritikal, atau
dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat kesalahan jabatan atau kesalahan karena
penghilangan / kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi fakta. “ Commission ”
merupakan kesalahan prinsip (error of principle), seperti perlakuan pengeluaran pendapatan
sebagai pengeluaran modal. Sedangkan “ Omission ” berarti bahwa suatu item tidak
dimasukkan sehingga menyebabkan informasi tidak benar.

Apabila suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan
(fraudulent). Istilah “Irregulary” merupakan kesalahan penyajian keuangan yang disengaja
atas informasi keuangan. Auditor terutama tertarik pada pencegahan, deteksi, dan
pengungkapan kesalahan-kesalahan karena alasan berikut ;

Eksistensi kesalahan dapat menunjukan bagi auditor bahwa catatan akuntansi dari kliennya
tidak dapat dipercaya dan dengan demikian tidak memadai sebagai suatu dasar untuk
penyusunan laporan keuangan. Adanya sejumlah besar kesalahan dapat mengakibatkan
auditor menyimpulakan bahwa catatan akuntansi yang tepat tidak dilakukan. Apabila auditor
ingin mempercayai pengendalian intern, ia harus memastikan dan menilai pengendalian
tersebut dan melakukan pengujian ketaatan atas operasi. Apabila pengujian ketaatan
menunjukan sejumlah besar kesalahan, maka auditor tidak dapat mempercayai pengendalian
intern. Apabila kesalahan cukup material, kesalahan tersebut dapat mempengaruhi kebenaran
(truth) dan kewajaran (fairness) laporan tersebut.

Penyebab Terjadinya Kecurangan J.S.R. Venables dan KW Impley dalam buku “Internal
Audit” (1988, hal 424) mengemukakan kecurangan terjadi karena :

Penyebab Utama:

Penyembunyian (concealment), Kesempatan tidak terdeteksi. Pelaku perlu menilai kemungkinan dari
deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.

Kesempatan/Peluang (Opportunity), Pelaku perlu berada pada tempat yang tpat, waktu yang tepat
agar mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam system dan juga menghindari deteksi.
Motivasi (Motivation), Pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan aktivitas demikian suatu
kebutuhan pribadi seperti ketamakan/kerakusan dan motivator yang lain.
Daya tarik (Attraction), Sasaran dari kecurangan yang dipertimbangkan perlu menarik bagi pelaku
Keberhasilan (Success)Pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat diukur baik menghindari
penuntutan atau deteksi. .
Penyebab Sekunder

a. “A Perk”Kurang pengendalian, mengambil keuntungan aktiva organisasi dipertimbangkan


sebagai suatu tunjangan karyawan.

b. Hubungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelek Yaitu saling kepercayaan dan penghargaan
telah gagal. Pelaku dapat mengemukakan alasan bahwa kecurangan hanya menjadi
kewajibannya.

c. Pembalasan dendam (Revenge) Ketidaksukaan yang hebat terhadap organisasi dapat


mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi tersebut

d. Tantangan (Challenge) Karyawan yang bosan dengan lingkungan kerja mereka dapat mencari
stimulasi dengan berusaha untuk “memukul sistem”, sehingga mendapatkan suatu arti
pencapaian (a sense of achievement), atau pembebasan frustasi (relief of frustation)

e. Tanda-Tanda Peringatan Untuk Kecurangan Meskipun pada suatu kesempatan pemeriksa


intern melakukan penugaan langsung dalam penyelidikan kecurangan yang dicurigai atau
aktual, bagian yang lebih besar dari usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu
bagian yang integral dari penugasan audit yang lebih luas. Usaha yng berorientasi pada
kecurangan ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam program audit yang
lebih luas. Usaha yang berorientasi kecurangan tersebut dapat termasuk seluruh dari
kesiapsiagaan umum dari pemeriksa intern ketika ia melaksanakan seluruh bagian dari
penugasan audit ini. Kesiapsiagaan ini termasuk berbagai area, kondisi dan pengembangan
yang memberikan tanda-tanda peringatan. 2.4 Area – Area yang Sensitif Pemeriksaan intern
khususnya harus waspada terhadap area yang sensitive untuk penelaahan yang dalam.

Berikut ini beberapa contoh yang mengungkapkan ketidakberesan :

1. Modal kerja yang tidak cukup Hal ini dapat menunjukkan masalah seperti ekspansi yang
berlebihan, penurunan pendapatan, transfer atau pemindahan dana ke perusahaan yang lain,
kredit yang tidak memadai, dan pengeluaran yang berlebihan. Pemeriksa intern berhati-hati
terhadap pengalihan dana ke penggunaan pribadi melalui metode-metode seperti penjualan yang
tidak tercatat dan pengeluaran yang fiktif.
2. Perputaran yang cepat dalam posisi keuangan
3. Kehilangan personil akuntansi dan keuangan dan yang penting dapat menandai kinerja yang
tidak memadai dan mengakibatkan kelemahan dalam pengendalian intern. Akuntabilitas untuk
dana dan sumber daya yang lain harus ditetapkan ketika pemberhentian kerja.
4. Penggunaan procuremen pemasokan sendiri (sole-source procurement)
Praktik-praktik procuremen yang baik mendorong kompetisi untuk memastikan bahwa
organisasi memperoleh material atau peralatan yang diperlukan dengan harga yang paling baik.
Procuremen pemasokan sendiri, apabila tidak cukup dijustifikasi menunjukkan favoritisme atau
pembayaran kembali (kickbacks) yang potensial.
5. Biaya perjalanan yang berlebihan Dalam menelaah perjalanan, auditor perlu berhati-hati untuk
perjalanan yang tidak diotorisasi atau pribadi, dan perjalanan atau biaya-biaya lain yang tidak
disokong.
6. Pemindahan dana antara perusahaan afiliasi atau divisi Suatu pola pemindahan dana antar
perusahaan atau divisi mungkin menunjukkan pinjaman yang tidak diotorisasi, penutupan
kekurangan, atau pengendalian yang tidak memadai atas dana.

Dibawah ini adalah beberapa daftar yang disusun oleh American Institute of Certified Public
Accountants (AICPA) pada tahun 1979 mengenai kondisi-kondisi atau kejadian-kejadian yang
dapat menandai adanya kecurangan:
5. Manajemen senior yang sangat menguasai/mendominasi dan terdapat satu atau lebih kondisi
berikut atau yang sama :

6. Dewan direksi dan/atau panitia audit yang tidak efektif Indikasi dari penolakan manajemen atas
pengendalian akuntansi internal yang penting Kompensasi atau opsi saham yang signifikan yang
berkaitan dengan kinerja yang dilaporkan atau terhadap transaksi khusus, yaitu manajemen senior
mempunyai pengendalian nyata atau penuh
Indikasi kesulitan keuangan pribadi dari manajemen senior Perebutan perwalian yang
melibatkan pengendalian perusahaan atau status dari manajemen senior.

7. Kemerosotan atau kemunduran dari mutu pendapatan yang dibuktikan oleh :

3. Penurunan dalam volume atau mutu penjualan (misalnya, risiko kredit yang meningkat atau
penjualan sama dengan atau dibawah harga pokok)
4. Perubahan yang signifikan dalam praktik usaha
5. Kepentingan yang berlebihan oleh manajemen senior dalam laba per saham (EPS/Earnings
per Share) yang dipengaruhi oleh pilihan akuntansi.

7. Kondisi usaha yang dapat menciptakan tekanan yang tidak biasa :

8. Modal kerja yang tidak memadai

Kelenturan/fleksibilitas yang kecil dalam pembatasan hutang, seperti rasio modal kerja dan
keterbatasan dalam pinjaman tambahan.

Perluasan atau ekspansi yang cepat dari suatu produk atau lini usaha yang menyolok sekali dengan
melebihi rata-rata industri Investasi yang besar dari sumber daya pemisahan dalam suatu industri
yang mengalami perubahan cepat,seperti suatu industri yang bertekhnologi tinggi. Menurut
Statement on auditing Standars (SAS) No.1, tanggungjawab dari auditor independent untuk
kegagalan mendeteksi kecurangan (yang tanggungjawabnya berbeda seperti klien dari pihak lain)
timbul hanya apabila kegagalan tersebut secara jelas berakibat dari ketidaktaatan terhadap standar
auditing yang berlaku. Karena litigasi yang meningkat terhadap akuntan dan perhatian auditor
eksternal bahwa mungkin terdapat pernyataan salah yang material sebagai hasil dari kecurangan,
profesi di Amerika Serikat mengembangkan SAS 16. pernyataan ini menggantikan SAS No. 1 yang
berkaitan dengan tanggungjawab auditor terhadap kecurangan. SAS No.16 menyatakan : Sebagai
konsekuensinya menurut standar auditing yang berlaku umum, auditor independen mempunyai
tanggungjawab dengan keterbatasan yang melekat pada proses auditing, untuk merenjanakan
pengujiannya untuk mencari kesalahan atau ketidakberesan yang akan mempunyai pengaruh yang
material atas laporan keuangan, dan melakukan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama
dalam melakukan pengujian.

Dengan demikian pernyataan ini mensyaratkan auditor khususnya mencari ketidak beresan yang
mempunyai suatu pengaruh yang meterial atas laporan keuangan. Perubahan penekanan diatas oleh
auditor eksternal pada gilirannya membantu membereskan auditor interen dari tanggungjawab
langsung terhadap kecurangan dalam organisasi.

Contoh kasus kecurangan audit:

Pada penelitian terbaru yang dilakukan oleh the Committee of Sponsoring Organizations of the
Treadway Commission (COSO), kecurangan (fraud) dalam pelaporan keuangan oleh perusahaan-
perusahaan publik di Amerika Serikat memberikan konsekuensi negatif yang signifikan terhadap para
investor dan eksekutif.

Penelitian COSO tersebut, dengan menelaah tuduhan kecurangan laporan keuangan yang diselidiki
oleh Securities and Exchange Commission (SEC) dalam kurun waktu sepuluh tahun antara tahun
1998 – 2007, menemukan fakta bahwa berita dugaan kecurangan telah mengakibatkan penurunan
abnormal harga saham rata-rata 16,7% dalam dua hari setelah diumumkan. Perusahaan-perusahaan
yang terlibat dalam kecurangan seringkali mengalami kebangkrutan, delisting dari bursa efek, atau
harus menjual aset, dan sembilan dari sepuluh kasus-kasus SEC tersebut menyebutkan CEO
dan/atau CFO perusahaan yang bersangkutan diduga terlibat dalam kecurangan.
Chairman COSO, David Landsittel, mengatakan bahwa analisis mendalam dalam penelitian tersebut
terkait tentang sifat, jangkauan, dan karakteristik dari kecurangan pelaporan keuangan memberikan
pemahaman yang sangat membantu tentang isu-isu baru dan berkelanjutan yang perlu segera
ditangani. ”Semua pihak yang terlibat dalam proses pelaporan keuangan harus terus berfokus pada
cara-cara untuk mencegah, menghalangi, dan mendeteksi kecurangan pelaporan keuangan,” kata
Landsittel. ”COSO berencana untuk mensponsori penelitian lanjutan mengenai kecurangan
pelaporan keuangan, serta pengembangan lebih lanjut pedoman pengendalian internal, untuk
membantu pihak-pihak yang terlibat dalam proses pelaporan keuangan.”
Etika Dalam Akuntansi Keuangan Dan Manajemen

Akuntan manajemen mempunyai peran penting dalam menunjang tercapainya tujuan perusahaan,
dimana tujuan tersebut harus dicapai melalui cara yang legal dan etis, maka paraakuntan manajemen
dituntut untuk bertindak jujur, terpercaya, dan etis (Anshori,2002). Dalam hubungannya dengan
kesadaran etika, disebutkan bahwa masalah ini seringmencuat sebagai salah satu persoalan yang
sering menghinggapi akuntan lokal. Menurut SriMulyani seperti dikutip dari Islahuddin dan Soesi
(2002) menyatakan bahwa akuntan lokalsudah terbiasa dengan kondisi hitungan seimbang, yang
dipaksa melindungi perusahan klien dari kebobrokan keuangan. Akibatnya dengan adanya kesadaran
etis yang rendah memberigambaran kekurangsiapan akuntan lokal menghadapi pasar global.Untuk
itu perlu lagi bagi para akuntan manajemen maupun para lulusan jurusanakuntansi yang kelak
mengambil profesi sebagai akuntan akuntan manajemen untuk meninjau standar etika bagi akuntan
manajemen yang dikeluarkan oleh Institute of Management Accountants, agar menampilkan
karakteristik akuntan yang berkualitas dan mampu menjaga profesionalismenya di era globalisasi ini.
Standard Etik Untuk Akuntan Manajemen. (Standars of Ethical Conduct for Management
Accountants).

A. Kompetensi (Competence)

Auditor harus menjaga kemampuan dan pengetahuan profesional mereka pada tingkatan yang
cukup tinggi dan tekun dalam mengaplikasikannya ketika memberikan jasanya.

Akuntan manajemen memiliki tanggung jawab untuk :

1. Mempertahankan tingkat yang memadai kompetensi profesional dengan pengemban


pengetahuan dan keterampilan,
2. Melakukan tugas mereka sesuai dengan hukum yang berlaku, peraturan, standar profesional
dan standar teknis,
3. Membuat laporan yang jelas dan komprehensif untuk memperloleh informasi yang relevan
dan dapat diandalkan.

B. Kerahasiaan (Confidentiality) Auditor harus dapat menghormati dan menghargai kerahasiaan


informasi yang diperoleh dari pekerjaan dan hubungan profesionalnya. Akuntan manajemen
memiliki tanggung jawab untuk :
1. Merahasiakan informasi yang diperoleh dalam pekerjaan, kecuali bila diizinkan oleh
berwenang atau diperlukan secara hukum.
2. Berdasarkan sub ordinat informasi mengenai kerahasiaan informasi adalah sebagai bagian
dari pekerjaan mereka untuk memantau dan mempertahankan suatu kerahasiaan informasi.
3. Tidak menggunakan informasi rahasia yang diperoleh dalam pekerjaan untuk mendapatkan
keuntungan ilegal atau tidak etis melalui pihak ketiga.

C. Kejujuran (Integrity)

Auditor harus jujur dan bersikap adil serta dapat dipercaya dalam hubungan profesionalnya.
Tanggung jawab akuntan manajemen :

1. Menghindari konflik kepentingan yang tersirat maupun tersurat.


2. Menahan diri dan tidak terlibat dalam segala aktivitas yang dapat menghambat
kemampuan.
3. Menolak hadiah, permintaan, keramahan atau bantuan yang akan mempengaruhi segala
macam tindakan dalam pekerjaan
4. Mengetahui dan mengkomunikasikan batas-batas profesionalitas.
5. Mengkomunikasikan informasi yang baik maupun tidak baik
6. Menghindari diri dalam keikutsertaan atau membantu kegiatan yang akan mencemarkan
nama baik profesi

D. Obyektivitas Akuntan Manajemen (Objectivity of Management Accountant)


Auditor tidak boleh berkompromi mengenai penilaian profesionalnya karenadisebabkan
prasangka, konflik kepentingan dan terpengaruh orang lain. Akuntan manajemen memiliki
tanggung jawab untuk

1. Mengkomunikasikan informasi secara adil dan obyektif.


2. Sepenuhnya mengungkapkan semua informasi yang relevan yang dapat diharapkan untuk
menghasilkan suatu pemahaman dari penggunaan laporan, pengamatan dan rekomendasi
yang disampaikan.

WHISTLE BLOWING Merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang
karyawan untuk membocorkan kekurangan yang dilakukan oleh perusahaan atau atasannya kepada
pihak lain, berkaitan dengan kecurangan yang merugikan perusahaan sendiri maupun pihak lain.
Whistle bowing dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Whistle blowing internal Terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan
karyawan kemudian melaporkan kecurangan tersebut kepada atasannya

2. Whistle blowing eksternal Terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang
dilakukan oleh perusahaan lalu membocorkannya kepada masyarakat karena kecurangan itu akan
merugikan masyarakat.
Contoh Kasus : Kasus Mulyana W Kusuma tahun 2004. Menjabat sebagai sebagai seorang anggota
KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan berkaitan dengan
pengadaan logistic pemilu. Dalam kasus ini ICW melaporkan tindakan Mulyana W Kusuma kepada
Majelis Kehormatan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan sekaligus meminta supaya dilakukan
tindakan etis terhadap anggotanya yang melanggar kode etik profesi akuntan.

CREATIVE ACCOUNTING Semua proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan


pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk di dalamnya standar, teknik, dll) dan
menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999). Di
dalam creative accounting ada pendapat yang mengatakan creative accounting di bagi dua jenis, yaitu
yang legal dan illegal. Maksud dari legal di sini adalah yang sesuai dengan perundang-undangan atau
sesuai peraturan yang berlaku, sedangkan yang illegal adalah yang menyalahi peraturan atau
perundang-undangan ayang berlaku. Contoh kasus (Legal) :

Perusahaan PT. ABC lebih menggunakan metode FIFO dalam metode arus persediaannya. Karena
dari sisi FIFO akan menghasilkan profit lebih besar dibandingkan LIFO, atau Average. Hal ini
dilakukan karenaAsumsi Inflasi Besar. FIFO dapat dianggap sebagai sebuah pendekatanyang logis
dan realistis terhadap arus biaya ketika penggunaan metodeidentifikasi khusus tidak memungkinkan
atau tidak praktis.

FIFO mengasumsikan bahwa arus biaya yang mendekati parallel dengan arus fisik yang terjual.
Beban dikenakan pada biaya yang dinilai melekat pada barang Jika perusahaan dengan tingkat
persediaan yang tinggi sedang mengalami kenaikan biaya persediaan yang signifikan, dan
kemungkinan tidak akan mengalamipenurunan persediaan di masa depen, maka LIFO memberikan
keuntungan arus kas yang substansial dalam hal penundaan pajak. Ini adalah alasan utama dari
penerapan LIFO oleh kebanyakan perusahaan. Bagi banyak perusahaan dengan tingkat persediaany
ang kecil atau dengan biaya persediaan yang datar atau menurun, maka LIFO hanyamemberikan
keuntungan kecil dari pajak. Perusahaan seperti ini memilih untuk tidak menggunakan LIFO.

FRAUD ( Kecurangan ) Secara umum fraud merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh orang-orang dari dalam dan atau luar organisasi, dengan maksud untuk mendapatkan
keuntungan pribadi atau kelompoknya yang secara langsung merugikan pihak lain. Orang awam
seringkali mengasumsikan secara sempit bahwa fraud sebagai tindak pidana atau perbuatan korupsi.
FRAUD AUDITING ( Kecurangan Audit )

Upaya untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk
dapat melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi komersial memerlukan
gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor yang terlatih dan kriminal investigator.
Contoh Kasus : Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO).
Penelitian COSO menelaah hampir 350 kasus dugaan kecurangan pelaporan keuangan oleh
perusahaan-perusahaan publik di Amerika Serikat yang diselidiki oleh SEC. Diantaranya adalah

1. Kecurangan keuangan memengaruhi perusahaan dari semua ukuran, dengan median


perusahaan memiliki aktiva dan pendapatan hanya di bawah $100juta.
2. Berita mengenai investigasi SEC atau Departemen Kehakiman mengakibatkan penurunan
tidak normal harga saham rata-rata 7,3 persen.

3. Dua puluh enam persen dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam kecurangan
mengganti auditor selama periode yang diteliti dibandingkan dengan hanya 12 persen dari
perusahaan-perusahaan yang tidak terlibat.

DAMPAK DARI KASUS ANDERSEN-ENRON TERHADAP ASPEK BISNIS


DAN AKUNTANSI SECARA UNIVERSAL

PENDAHULUAN

Maraknya kejahatan akuntansi korporat yang terjadi akhir-akhir ini membuat kepercayaan
para pemakai laporan keuangan khususnya laporan keuangan auditan terhadap auditor mulai
menurun. Akibat kejahatan tersebut, para pemakai laporan keuangan seperti investor dan
kreditur mulai mempertanyakan kembali eksistensi akuntan publik sebagai pihak indepeden
yang menilai kewajaran laporan keuangan. Beberapa kasus manipulasi yang merugikan
pemakai laporan keuangan melibatkan akuntan publik yang seharusnya menjadi pihak
independen.
Kondisi ini membuat masyarakat mempertanyakan kredibilitas profesi akuntan publik. Erosi
kepercayaan terhadap profesi akuntansi semakin meningkat, padahal eksistensi profesi sangat
bergantung pada kepercayaan masyarakat sebagai pengguna jasa profesi. Perdagangan opini
auditor menjadi hal yang “wajar” ketika independensi dan objektivitas sudah terabaikan.

Kepercayaan masyarakat perlu dipulihkan dan hal itu sepenuhnya tergantung pada praktek
profesional yang dijalankan para akuntan. Profesionalisme mensyaratkan tiga hal utama yang
harus dimiliki oleh setiap anggota profesi yaitu: keahlian, pengetahuan, dan karakter.
Karakter menunjukkan personality (kepribadian) seorang profesional yang diantaranya
diwujudkan dalam sikap etis dan tindakan etis (Mar’ie, [2002] dalam Chrismastuti dan
Purnamasari,[2003]). Sikap dan tindakan etis akuntan publik akan sangat menentukan
posisinya di masyarakat pemakai jasa profesionalnya (Machfoed, [1997]).

ARTHUR ANDERSEN

Arthur Andersen adalah sebuah perusahaan jasa akuntansi yang berbasis di Chicago, Illinois,
Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan oleh Arthur Andersen pada tahun 1913. Arthur
Andersen termasuk kedalam kelompok The Big Five, yang terbentuk sejak bulan juli 1998.
Arthur Andersen juga menjadi auditor beberapa perusahaan raksasa seperti perusahaan
energi terbesar dunia (Enron), Merck,WorldCom, KPNQwest, dan sejumlah rekanan besar
lainnya. Arthur Andersen juga menjalankan bisnis assurance service.

PERMASALAHAN

Kasus manipulasi pembukuan yang tetrbesar adalah kasus Enron Corp. Laporan keuangan
Enron sebelumnya dinyatakan wajar tanpa pengecualian oleh kantor akuntan Arthur
Anderson dan secara mengejutkan dinyatakan pailit pada 2 Desember 2001. Beberapa
indicator permasalahan tersebut, akan diuraikan sebagai berikut :

Special Purpose Vehicle (SPV/SPE) & Laporan Konsolidasi

Suatu perusahaan harus menentukan apakah mengerjakan suatu pekerjaan sendiri atau
menyewa pihak lain (outsourcing). Asset yang digunakan dengan cara menyewa tidak perlu
dimasukkan ke dalam neraca. Akibatnya, hal ini sering disebut off-balance-sheet financing
atau pendanaan diluar neraca. Contoh transaksi yang paling umum digunakan adalah sewa
guna usaha.

Perusahaan dapat mendirikan perusahaan kecil yang terpisah, yang bertugas melayani
kebutuhan outsourcing ini. Perusahaan kecil ini yang disebut sebagai SPE. Untuk keperluan
akuntansi, SPE dapat merupakan perusahaan yang terpisah dan independen, sehingga tidak
perlu dikonsolidasi dengan perusahaan induknya.

Berkaitan dengan Enron, beberapa SPE yang dibentuknya tidak independen, karena dimiliki
dan dikelola oleh CFO Enron. Selain itu, ada beberapa transaksi yang tidak mungkin
dilakukan antara Enron dengan pihak independen, seperti menjual dan membeli aktiva saat
melaporkan posisi keuangan.

Conflict of Interest

KAP Arthur Andersen telah mengaudit Enron sejak 1985 dan selalu memberikan opini wajar
tanpa syarat sampai tahun 2000. Arthur Andersen juga memberikan jasa konsultasi mengenai
pembentukan SPE-SPE tersebut diatas. Dengan berperan sebagai auditor merangkap
konsultan management, Andersen menerima fee dobel, yaitu dari konsultasi menerima US$
27 juta dan dari jasa audit mendapat US$ 25 juta.

Ethical Issue

KAP Arthur Andersen memiliki kebijakan pemusnahan dokumen yang tidak menjadi bagian
dari kertas kerja audit formal. Selain itu, jika Arthur Andersen sedang memenuhi panggilan
pengadilan berkaitan dengan perjanjian audit tertentu, tidak boleh ada dokumen yang
dimusnahkan. Arthur Andersen memusnahkan dokumen pada periode sejak kasus Enron
mulai mencuat ke permukaan, sampai dengan munculnya panggilan pengadilan. Walaupun
penghancuran dokumen tersebut sesuai kebijakan internal Andersen, tetapi kasus ini
dianggap melanggar hukum dan menyebabkan kredibilitas Arthur Andersen hancur.

Selain kasus Enron, ada beberapa kasus pelanggaran terhadap standar akuntansi yang
dilakukan oleh perusahaan rekanan Andersen, yang lolos audit dengan opini unqualified.
Contohnya seperti Merck (menggelembungkan pendapatan—dan pengeluaran—mereka
hingga sekitar US$14 milyar selama tiga tahun terakhir), WorldCom (keliru membukukan
biaya perusahaan sebesar US$3,8 milyar dan laba yang diraup selama 5 catur wulan terakhir
sejak awal 2001 sudah raib), KPNQwest (perusahaan pailit karena jumlah kerugian yang
sebenarnya mancapai jumlah yang lebih besar sebesar 60% dari jumlah yang dilaporkan) dan
runtuhnya Bank Summa yang dinyatakan bangkrut beberapa bulan setelah KAP Arthur
Anderson menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangannya.

DAMPAKNYA

Terhadap Enron Corporation

Pada february 2001, nilai saham Enron terus melonjak menjadi US$ 90. Tetapi Pada tanggal
2 Desember 2001, Enron, sebuah perusahaan beromzet US$ 100 miliar, menyatakan dirinya
bangkrut, setelah sebelumnya sempat dinobatkan Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke
delapan, dan tidak mampu membayar utang-utangnya serta menanggung kerugiaan sebesar
US$ 50 miliar. Dan pada hari itu juga harga saham Enron, ikut anjlok sampai dengan 26 sen.

Terhadap Arthur Andersen

Kebangkrutan Enron menyeret akuntan publik Arthur Andersen karena memanipulasi


labanya. Padahal Arthur Andersen berdiri sejak tahun 1913 dengan mencetak laba pada
tahun 2008 sebesar 8,4 miliar dolar AS. Akhirnya pada pada tahun 2001 Arthur Andersen
harus membayar utang 32 miliar dolar AS sehingga perusahaan ini tidak bisa diselamatkan.
Melalui putusan yang dipimpin oleh Hakim Melinda Harmon, Arthur Anderson
mendapatkan hukuman percobaan 5 tahun, denda US$ 500.000 dan dicabut kewenangannya
untuk mengaudit perusahaan publik di AS. Atas dasar US Securities and Exchange
Commission Rules (SEC Rules), akibat dari perbuatannya yang telah menghilangkan dan
menghancurkan dokumen-dokumen penting Enron. Pada tahun 2002, perusahaan ini secara
sukarela menyerahkan izin praktiknya sebagai Kantor Akuntan Publik setelah dinyatakan
bersalah dan terlibat dalam skandal Enron dan menyebabkan 85.000 orang kehilangan
pekerjaannya, yang dilakukan dengan menonaktifkan 7.000 pegawainya, menjual praktiknya
di Amerika Serikat, kehilangan ratusan kliennya dan merumahkan ribuan pegawai di seluruh
dunia.

Terhadap Publik dan Lembaga2 Publik


Merosotnya kepercayaan publik terhadap kejujuran, transparansi, baik dari direksi
perusahaan, Perusahaan Audit dan bahkan kredibilitas pasar modal sendiri. Banyak lembaga
keuangan internasional juga ikut menderita kerugian akibat bangkrutnya Enron, sehingga
membuat mereka semakin berhati-hati dalam membidik peluang investasi. Perusahaan-
perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal diharuskan memenuhi
persyaratan pembeberan (disclosure) yang luar biasa ketat.

Terhadap Profesi Akuntansi

Sarbanes Oxley Act

Akibat dari dari kasus Enron dan Arthur Andersen, pemerintah AS menerbitkan Sarbanes-
Oxley Act (SOX) untuk melindungi para investor dengan cara meningkatkan akurasi dan
reabilitas pengungkapan yang dilakukan perusahaan publik. Sarbanes Oxley adalah nama lain
dari undang-undang reformasi perlindungan investor (The Company Accounting Reform
and Investor Protection Act of 2002) yang ditandatangani George Bush bulan Juli tahun
2002 lalu. Selain itu, dibentuk pula PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board)
yang bertugas:

mendaftarkan KAP yang mengaudit perusahaan public menetapkan atau mengadopsi standar
audit, pengendalian mutu, etika, independensi dan standar lain yang berkaitan dengan audit
perusahaan public menyelidiki KAP dan karyawannya, melakukan disciplinary hearings, dan
mengenakan sanksi jika perlu melaksanakan kewajiban lain yang diperlukan untuk
meningkatkan standar professional di KAP meningkatkan ketaatan terhadap SOX,
peraturan-peraturan PCAOB, standar professional, peraturan pasar modal yang berkaitan
dengan audit perusahaan publik.

Terhadap Investor

Para pemegang saham (Investor) Enron melakukan gugatan class action terhadap para
biggest players di Wall Street Enron dengan tuduhan melakukan penipuan (Fraud). Gugatan
itu perlu dilakukan untuk melindungi kepentingan public. Kolapsnya Enron juga
mengguncang neraca keuangan para kreditornya yang telah mengucurkan milyaran dolar (JP
Morgan Chase dan Citigroup adalah dua kreditor terbesarnya).

Terhadap Karyawan

Ribuan pegawai Enron tidak hanya mereka kehilangan pekerjaan, tetapi juga tabungan
pensiunan mereka. Dalam hukum perpajakan Amerika, setiap pekerja bisa menabung
sebanyak-bayaknya 12,000 dolar AS setahun dan tidak akan dikenai pajak. Baru ketika
pekerja menginjak usia 60, ia berhak mengambil dana tersebut dan membayar pajak seperti
layaknya penghasilan biasa. Selama berada dalam tabungan pensiunan, uang tersebut akan
ditanamkan dalam bentuk saham dan obligasi dengan harapan si penabung akan meraup
bunga sebanyak-banyaknya bila ia siap pensiun. Karena biasanya perusahan sendiri yang
mengadministrasi tabungan pegawai-pegawai mereka, perusahaan akan menanamkan uang
tersebut dalam bentuk saham dan perusahaan-perusahaan tersebut. Regulasi tabungan masa
tua ini dikenal dengan nama 401(k), sesuai dengan pasal yang mengatur masalah hukum
perpajakan untuk pensiunan. Enron juga menerapkan sistem ini dan menanamkan seluruh
tabungan pensiunan dari pegawai-pegawainya dalam bentuk saham perusahaan. Yang
menyedihkan adalah kenyataan saham Enron bernilai 80 dolar AS per lembar pada bulan
Februari 2001 tetapi berharga hanya 26 sen per lembarnya saat perusahaan itu
mengumumkan kepailitan Enron. Berarti, tabungan dari para pegawai yang bekerja keras
selama hidupnya bernilai kosong sekarang ini.

KESIMPULAN

Fungsi auditor independen tak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah
perusahaan sesuai dengan aturan dan standar akutansi, tapi juga memberi investor maupun
kreditor gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang terjadi. Perlunya nilai pada bisnis
karena pada hakikatnya manusia membutuhkan tiga modal yakni modal material berupa
kecerdasan (IQ), modal sosial dan emosional (EQ), dan modal spiritual (SQ).
Banyak contoh perusahaan dunia yang akhirnya hancur karena tidak mengindahkan aspek
spiritualis dalam bisnis misalnya Enron, Worldcom, dan Arthur Andersen. Padahal, ketiga
perusahaan itu memiliki aset ratusan triliun, namun dalam sekejap ambruk akibat
mengesampingkan nilai-nilai dalam berbisnis. Di lain pihak banyak perusahaan yang bangkit
dari keterpurukan setelah menerapkan nilai-nilai universal dalam berbisnis. Contohnya David
Maxwell yang diangkat menjadi Dirut Fannie Mae tahun 1981 saat perusahaan rugi 1 juta
dolar AS per harinya. Maxwell berhasil mengubah Fannie Mae menjadi perusahaan
berbudaya dan berkinerja tinggi dengan laba 1 juta dolar AS per hari. Maxwell menyerahkan
hak sisa pensiunnya sebesar 5,5 juta dolar AS kepada Yayasan Fannie Mae untuk
membangun perumahan bagi warga berpenghasilan rendah
Enron dan Arthur : Cermin yang retak.
- Enron dan Arthur : Cermin yang retak. Latar Belakang Enron
Enron pertama kali didirikan di Houston Texas, dan dibentuk dari merger dari Gas and
Pipeline Companies pada tahun 1985. Perusahaan ini menggunakan teknik yang inovatif
misalnya, kontrak pertukaran energi dan kebijakan akuntansi yang agresif dan derivatif untuk
mencapai laba yang luar biasa. Pada tahun 1997 Enron membuka unit bisnis baru yaitu
peralatan elektrik. Tahun 1999 memasuki e-business (on line trading).
Enron merupakan sebuah bisnis perusahaan raksasa berbasis bisnis energi kebanggaan
masyarakat Amerika Serikat. Jumlah tenaga kerja yang dimiliki adalah sebanyak 21.000 orang
dan merupakan perusahaan terkemuka dalam listrik, gas alam, dan perusahaan komunikasi.
Pada tahun 2000 Enron meraih penghargaan sebagai perusahaan terbesar ke 7 menurut
majalah Fortune dan Enron masih memberikan keuntungan 101 miliar dolar. Namun, dalam
laporan keuangan 2001 perusahaan raksasa tersebut mendadak bangkrut, karena ditemukan
adanya kecurangan dalam akuntansi.

- Hal-hal yang Terjadi di Perusahaan Enron

1. Dari Pihak Manajemen Manajemen Fraud :

Terjadinya kecurangan atau fraud pada Enron Corp merupakan kejadian yang
disebabkan oleh lemahnya Sistem Pengendalian Internal perusahaan dan masih
lemahnya peraturan yang ada. & Off-Balance Sheet Financing

- Andrew Fastow adalah CFO (Chief Financial Officer) yang menciptakan dan
mengatur hubungan kerjasama off-balance sheet untuk Enron, yang juga
memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri (Selama tendernya di Enron, Fastow
mendapatkan $30 juta dollar sebagai imbalan dari berbagai partnership).
- Enron melakukan pengalihan aktiva yang memiliki potensi penurunan nilai dan
kewajiban dari neraca kepada SPE atau partnership yang dipimpin oleh para
eksekutif Enron sendiri.
- Mencatat laba akibat pengalihan tersebut hingga mendongkrak laba dan
menyehatkan rasio keuangan.
- Agar partnership dan SPE tersebut tidak dikonsolidasi, investor dari luar
menginvestasikan sejumlah uang sehingga laporan keuangan perusahaan
patungan tersebut tidak dikonsolidasi.
- Terakhir dilaporkan bahwa dana yang diinvestasikan oleh pihak luar pada
beberapa kasus adalah dana Enron sendiri.
- Bank kemudian memberikan pinjaman kepada partnership dan SPE tersebut
dengan jaminan saham Enron sendiri.

Menggunakan instrumen derivatif dan kemitraan untuk menyembunyikan kinerja buruk


kegiatan usaha tertentu dan menyembunyikan kinerja buruk kegiatan usaha tertentu dan
menyembunyikan utang dari kegiatan usaha yang merugi. & Special Purpose Entitie

- Dari tahun 1990an sampai 2001, Enron menggunakan SPE dalam banyak aspek
bisnisnya.
- Transaksi sewaguna usaha, dimana termasuk penjualan pada seorang SPE dari suatu
aktiva dan daftar sebelumnya dari aktiva (seperti gedung pusat Enron di
Houston);Penjualan pada SPE dari asset keuangan (hutang atau ekuitas kepentingan
pemilik oleh Enron).
- Penjualan property SPE dari saham Enron dan kontrak untuk penerimaan saham
Enron dan transfer dari aktiva lain pada kesatuan yang memiliki ekuitas di luar.
- Enron juga menciptakan instrumen keuangan yang disebut “Raptors”, yang didesain
untuk mengurangi resiko yang berhubungan dengan portofolio investasi kepemilikan
dan didukung oleh saham Enron. Raptor menjamin kerugian potensial atas investasi
Enron selama harga pasar saham Enron baik.

2. Insider Trading

Kenneth Lay menjual bagian sahamnya di Perusahaan Enron sebelum harga


sahamnya lebih jatuh lagi. Lay mengambil keuntungan yang besar dari saham
tersebut. Lay menjual 93.000 sahamnya untuk keuntungan lebih dari $2 juta pada
Agustus 2001.

3. Whistle Blower

- Sherron Watskins adalah Vice President of Corporate Development Enron.


- Beliau mengirimkan surat kaleng kepada Kenneth Lay (Chief Executive Officer).
- Memperingatkan Lay akan timbul skandal akuntansi besar di Enron

4. Tidak tercipta Good Corporate Governance

- Kenyataan bahwa hampir seluruh anggota Senat dan Kongres dari kedua partai di
Amerika menerima sumbangan dari Enron.
- Besarnya sumbangan Enron dan perusahaan-perusahaan energi kepada Bush
membuka informasi kepada publik tentang bagaimana perusahaan-perusahaan
tersebut mempengaruhi kebijakan Bush yang kemudian menunda dilaksanakannya
Undang-undang mengenai Udara Bersih yang mewajibkan perusahaan pembangkit
tenaga listrik untuk memakai teknologi terbaru yang bersih

5. Hal-hal yang dilakukan oleh KAP Arthur Andersen


- Tidak independent Adanya peran ganda selain menyediakan jasa konsultasi keuangan
(jasa non-audit) sekaligus memberikan jasa audit.
- Menerima fee audit tahun 2001 sebesar 13,5 kali lipat biaya audit tahun 2000 ($ 52
juta terdiri dari $ 25 juta untuk pekerjaan audit laporan keuangan dan $ 27 juta untuk
jasa konsultasi keuangan).
Kebohongan Publik
- KAP tersebut mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh Enron, satu tahun
sebelum kejatuhan Enron, tetapi tidak mengungkapkannya.
- Memusnahkan dokumen-dokumen bukti audit Enron.

Jawaban Pertanyaan :
1. Resiko bisnis yang dihadapi oleh Enron adalah :

Enron bergerak dalam bidang usaha energi dimana harga enerji di pasar sangat berfluktuatif
dan tidak dapat diramalkan.Hubungan resiko bisnis dengan kemungkinan salah saji material
dalam laporan keuangan Enron, yaitu karena harga jual enerji berfluktuatif, maka akan
berpengaruh terhadap laba, dimana laba akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga
pasar energi turun, maka laba akan berkurang sehingga menyebabkan investor cenderung
enggan untuk menanamkan modal pada Enron. Karena resiko yang tinggi, kemungkinan
salah saji material dalam laporan keuangan Enron juga besar karena Enron cenderung akan
melakukan income smoothing untuk menjaga stabilitas harga sahamnya di pasar.

2. Tanggung jawab Dewan Direksi perusahaan yaitu mengawasi kinerja direktur dan
manajemen dalam menjalankan praktek bisnis. Dewan Direksi, terutama Komite Audit
sebenarnya dapat mencegah kejatuhan Enron dengan menerapkan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance karena dapat membantu terciptanya hubungan yang kondusif dan
dapat dipertanggungjawabkan diantara elemen dalam perusahaan (Dewan Komisaris, Dewan
Direksi, dan para pemegang saham). Pembentukan komite audit merupakan salah satu bagian
untuk memaksimalkan pengendalian dan pengarahan kepada Dewan Direksi untuk bekerja
sesuai dengan tujuan organisasi. Komite Audit merupakan perpanjangan tangan dari Dewan
Komisaris, Dewan Komisaris dengan Dewan Auditnya berfungsi sebagai arbitrase diantara
para manajer tersebut. Dewan Direksi seharusnya sudah mengerti mengenai risiko dan
ketidakindependenan dari SPE karena transaksi tersebut cukup material terhadap laporan
keuangan sehingga seharusnya hal ini sudah dirapatkan dan disetujui oleh Dewan Direksi.
Yang seharusnya dilakukan oleh Dewan Direksi adalah meminta manajemen untuk
memaparkan secara transparan laporan keuangannya kepada publik, tanpa melakukan off-
balance sheet financing melalui SPE.

3. Enron menggunakan SPE untuk menyembunyikan hutang perusahaan, dengan jalan :


Enron melakukan pengalihan aktiva yang memiliki potensi penurunan nilai dan kewajiban
dari neraca kepada SPE atau partnership yang dipimpin oleh para eksekutif Enron sendiri.
Enron mencatat laba akibat pengalihan tersebut hingga mendongkrak laba dan menyehatkan
rasio keuangan. Agar partnership dan SPE tersebut tidak konsolidasi, investor dari luar
menginvestasikan sejumlah uang sehingga laporan keuangan perusahaan patungan tersebut
tidak dikonsolidasi. Enron menggunakan instrumen derivatif dan kemitraan untuk
menyembunyikan kinerja buruk kegiatan usaha tertentu dan menyembunyikan kinerja buruk
kegiatan usaha tertentu dan menyembunyikan utang dari kegiatan usaha yang merugi. Dari
tahun 1990an sampai 2001, Enron menggunakan SPE dalam banyak aspek bisnisnya :

 Transaksi sewaguna usaha, dimana termasuk penjualan pada seorang SPE dari suatu
aktiva dan daftar sebelumnya dari aktiva (seperti gedung pusat Enron di Houston);

 Penjualan pada SPE dari asset keuangan (hutang atau ekuitas kepentingan pemilik oleh
Enron), yaitu dengan perusahaan LJM2 sebagai SPE.

 Penjualan property SPE dari saham Enron dan kontrak untuk penerimaan saham Enron
dan transfer dari aktiva lain pada kesatuan yang memiliki ekuitas di luar.

 Enron juga menciptakan instrumen keuangan yang disebut “Raptors”, yang didesain
untuk mengurangi resiko yang berhubungan dengan portofolio investasi kepemilikan dan
di dukung oleh saham Enron. “Raptors” menjamin kerugian potensial atas investasi
Enron selama harga pasar saham Enron baik.

4. Berdasarkan SPAP, Standar Umum no. 2 menyatakan “Dalam semua hal yang berhubungan
dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”. Maka
sesuai dengan ketentuan tersebut Auditor tidak boleh menerima klien yang sama untuk jasa
audit dan non-audit, karena akan mengurangi independensi.
Argumen bahwa auditor seharusnya diijinkan untuk melakukan jasa-jasa tersebut pada klien
yang sama, karena selain jasa audit eksternal auditor juga dapat memberikan jasa atestasi
berupa review atas laporan keuangan, jasa atestasi lainnya, jasa penjaminan lainnya, jasa
bukan penjaminan termasuk jasa konsultasi manajemen. Tidak ada aturan jelas yang tidak
memperbolehkan auditor untuk memberikan jasa-jasa tersebut pada satu klien. Selama
auditor dapat menjaga independensi, maka auditor diperbolehkan untuk melaksanakan jasa-
jasa tersebut kepada satu klien.
Argumen bahwa auditor tidak diperbolehkan untuk melaksanakan jasa non-audit untuk klien
auditnya karena berdasarkan SPAP, pada Standar Umum No 2 auditor harus menjaga sikap
independen. Jika auditor berperan ganda sebagai pelaku audit dan non-audit maka
kemungkinan besar akan menurunkan tingkat independensi auditor.

5. Rules-based accounting standards standards pada dasarnya merupakan daftar yang memuat
peraturan-peraturan secara detail yang harus diikuti ketika mempersiapkan laporan keuangan.
Rules-based accounting standards memiliki standar yang lebih panjang dan lebih kompleks
dan menuntun pada kriteria yang berubah-ubah untuk perlakuan akuntansi yang
memperbolehkan perusahaan untuk membentuk transaksi untuk mengelak dari pelaporan
yang tidak menguntungkan. Principles-based accounting standards menyediakan dasar
konseptual yang harus diikuti oleh para akuntan sebagai ganti dari daftar peraturan yang
detail. Principles-based accounting standards dimulai dengan menetapkan tujuan kunci
pelaporan dan kemudian menyediakan panduan untuk menjelaskan tujuan dan
menghubungkannya dengan beberapa contoh. Ketika aturan tidak dapat dihindari, tujuannya
tidak mencoba untuk menyediakan panduan atau aturan spesifik untuk setiap situasi yang
mungkin. Jika terjadi keraguan, pembaca akan dituntun kembali ke prinsip-prinsip yang ada.
Principles-based accounting standards lebih umum dan lebih luas dibandingkan rules-based
accounting standards. Principles-based accounting standards dapat mencegah terjadinya
kasus seperti Enron di kemudian hari karena principles-based accounting standards dapat
menyediakan laporan akuntansi yang merefleksikan kinerja aktual perusahaan dengan lebih
akurat dan mengurangi peraturan-peraturan yang bersifat manipulasi. Bahaya dari
menghilangkan bright line rules adalah tidak adanya ketentuan secara detail mengenai
pertimbangan profesional dalam mempertimbangkan perlakuan akuntansi yang terbaik
sehingga akan menimbulkan pertimbangan yang berbeda-beda. Kesulitan yang dialami atas
perubahan itu adalah priciples-based accounting standards hanya merupakan panduan umum
sehingga dapat menghasilkan informasi yang tidak andal dan tidak konsisten yang dapat
menyulitkan apabila membandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.

6. Kronologi “run on the bank” sesuai untuk Enron dan Andersen karena kepercayaan publik
terhadap Enron dan KAP Arthur Andersen memudar / menghilang sejak kasus ini terangkat
ke permukaan. Pada kasus Enron orang beramai-ramai menjual sahamnya sehingga harga
saham Enron jatuh dan menyebabkan kesulitan finansial yang menyebabkan kebangkrutan
Enron. Sedangkan pada kasus Andersen, publik mulai tidak percaya terhadap opini yang
dikeluarkan Andersen sehingga memutuskan kontrak kerja dengan Andersen dan
mengakibatkan KAP Arthur Andersen tidak beroperasi lagi.

7. Banyak perusahaan mengakhiri kontrak kerjanya dengan pihak Andersen karena setelah
kasus Enron terbongkar, kepercayaan publik akan kredibilitas Andersen menghilang. Hal ini
membuktikan bahwa Andersen telah melakukan kebohongan publik dengan menghancurkan
bukti-bukti pendukung audit dan tingkat independensinya dipertanyakan.

8. Prinsip-prinsip yang dapat dipelajari dari kasus ini :


- Sikap independensi auditor harus dijunjung tinggi

- Bisnis yang dilaksanakan sesuai dengan prinsip good corporate governance akan
sustainable.

- Internal control perusahaan yang baik dapat meningkatkan keandalan dari laporan
keuangan.

Contoh konkret : Arthur Andersen sebagai auditor tidak menjunjung tinggi sikap
independensi dan membantu Enron melakukan management fraud sehingga ketika kasus
ini tercium oleh publik, kepercayaan masyarakat terhadap Arthur Andersen hilang.
Akibatnya klien-klien Arthur Andersen yang lain memutuskan hubungan kerja samanya
dan akhirnya Arthur Andersen tidak beroperasi lagi.

Konsekuensi yang mungkin apabila orang lain mempertanyakan integritas adalah : akibat
kasus Enron kepercayaan publik terhadap auditor berkurang. Profesi auditor tidak lagi
dipandang sebagai profesi yang menjunjung tinggi etika profesi.
Yang dapat dilakukan untuk menjaga reputasi dan karir sebagai auditor :

- Menjaga tingkat independensi

- Melaksanakan tugas auditor sesuai dengan etika profesi.

9. Audit partners berjuang membuat keputusan akuntansi yang sulit yang mungkin berlawanan
dengan posisi klien mereka dalam persoalan karena audit ialah proses sistematis untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan
peristiwa ekonomi dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut
dengan kriteria yang ditetapkan serta penyampaian hasil kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, sehingga apapun hasil audit baik yang bertentangan atau tidak dengan posisi
klien tetap harus disampaikan secara jujur kepada pihak yang berkepentingan.
Perubahan yang sebaiknya dibuat profesi untuk mengurangi rintangan ini adalah auditor
sebaiknya memberikan pemahaman kepada klien mengenai tugas auditor yang bukan hanya
sekedar mencari kesalahan pihak manajemen tetapi juga untuk menjadikan perusahaan klien
labih baik di kemudian hari.

10. Yang telah dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi
dan sistem pelaporan keuangan negara adalah :

- Adanya perubahan format laporan auditor independen dimana sekarang auditor tidak
hanya memberikan opini terhadap laporan keuangan perusahaan tetapi juga
memberikan opini terhadap efektivitas sistem pengendalian internal perusahaan.

- Dikeluarkannya Sarbanes Oxley Act untuk mengatasi fraud yang terjadi dalam
manajemen dan dewan direksi serta untuk mewujudkan terciptanya Good Corporate
Governance.

Kesimpulan :

Berdasarkan kasus Enron, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :


Untuk menampilkan laporan keuangan yang dapat meyakinkan para stakeholder, manajemen dapat
melakukan berbagai praktik rekayasa, baik yang bersifat positif (tidak melanggar ketentuan) maupun
yang bersifat negatif (sengaja melanggar ketentuan). Hal ini menjadi pelajaran bagi para investor
untuk berhati-hati dalam menjalankan investasi. Untuk meminimalisasi praktik rekayasa akuntansi
perlu diterapkan good corporate governance yang konsisten. Good Corporate Governance
merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan manajemen dengan pemodalnya, yang
memuat 4 unsur penting yaitu fairness, transparency, accountability, dan responsibility. Untuk
melaksanakan GCG diperlukan peran dewan komisaris, audit eksternal, dan audit internal. Dewan
komisaris melalui komite audit menjaga fungsi-fungsi akuntansi, laporan keuangan, dan masalah
finansial perusahaan. Para akuntan perusahaan menangani kegiatan keuangan, accounting, dan
internal auditing. Akuntan publik yang melakukan pemeriksaan harus bersifat independen, dan
menjunjung kode etik profesi. Dengan demikian laporan yang dihasilkan akan memberikan
keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan akan good corporate governance suatu perusahaan.

SPC, SPV, atau SPE didefinisikan sebagai suatu lembaga atau perusahaan yang dibentuk dengan
tujuan atau focus tertentu. SPC dibentuk oleh perusahaan sponsor untuk melakukan kegiatan yang
spesifik (misalnya financial technique) atau untuk sebuah kegiatan yang bersifat sementara.
Biasanya perusahaan sponsor memiliki kepemilikan mayoritas (> 51% kepemilikan) pada SPC
dengan tujuan untuk dapat melakukan control sehingga tidak jarang sebuah SPV adalah subsidiary
dari perusahaan sponsor.

A special purpose company (SPC) (sometimes, especially in Europe, "special purpose vehicle") is a body
corporate (usually a limited company of some type or, sometimes, a limited partnership) created to fulfill narrow, specific
or temporary objectives, primarily to isolate financial risk, usually bankruptcy but sometimes a specific taxation or
regulatory risk.

Secara umum hal-hal yang memjadi pertimbangan yang mendasari didirikannya sebuah SPC adalah,
antara lain:

1. Melakukan pekerjaan yang beresiko (termasuk resiko hokum) tanpa membebankan resiko
kepada perusahaan sponsor.
2. Untuk menghindari pengenaan atas beban pajak.
3. Untuk melakukan aktivitas pendanaan (financing) seperti sekuritisasi asset, mengeluarkan
surat hutang, dll.)
4. Melakukan pekerjaan yang spesifik dalam jangka waktu yang terbatas.

Untuk mengoptimalkan tujuan-tujuan dari didirikannya SPC, biasanya SPC didirikan diluar wilayah
yuridiksi dari perusahaan sponsor yang mendirikannya atau biasanya dikenal dengan istilah “offshore
company”

Berikut ini beberapa criteria yang lazim digunakan untuk tempat berdirinya SPC antara lain:

1. Yuridiksi dengan insentif pajak yang menarik (tax free or lower tax)
2. Yuridiksi yang stabil dengan system keuangan, hokum, yudisial dan peraturan yang telah
maju dan berkembang.
3. Infrastruktur yang lengkap termasuk sarana telekomunikasi dan transportasi.
4. Sovereign risk rating yang kondusif bagi iklim berinvestasi.

Pendirian SPC biasanya memakan waktu yang relative cepat dan dengan biaya yang murah.
Umumnya biaya yang dikeluarkan hanya berkisar antara US $ 800 - $1.500. Yuridiksi negara yang
menjadi favorot untuk didirikannya SPC misalnya adalah Hongkong, British Virgin Island, Cayman
Island, Mauritius, Dominica, Bahamas, dll.

Dalam aplikasinya, biasanya SPC dijadikan entitas yang bankruptcy remote entity membuat
perusahaan yang mengalihkan asetnya (originator) terbebas dari kemungkinan diajukannya gugatan
pailit oleh pihak ke tiga karena resiko tersebut beralih kepada SPC. Dengan terjadinya pengalihan
asset dengan tujuan tertentu atau khusus seperti untuk melakukan sekuritisasi asset, mengeluarkan
surat hutang, akuisisi asset, dll. Selain itu SPC memiliki beragam manfaat diantaranya adalah sebagai
sarana untuk melakukan financial engineering atau financial technique, untuk meminimalisasikan
pembayaran pajak hingga yang paling ekstrim adalah menyembunyikan kewajiban.

Berdasarkan uraian diatas dapat dibaratkan SPC sebagai pisau bermata ganda. Dimana SPc dapat
dibunakan dengan niat positif atu negative.

Kasus penggunaan SPC yang mendunia, misalnya adalah pada Enron Corporation sebuah
perusahaan energy kelas dunia di America Serikat. Adalah suatu contoh dimana SPC didirikan untuk
tujuan negative. Mereka menggunakan SPC untuk tujuan financial engineering dengan melakukan
off balance sheet terhadap kewajiban dan kerugiannya sehingga laporan keuangannya terlihat bagus
(Financial Statement Windowdressing). Dengan menyembunyikan ratusan juta dollar dari
kewajibannya (hutang atau debt) kepada investor dan untuk menghindari pengakuan kerugian dari
investasi yang dilakukan oleh Enron. Bahkan hal yang terburuk adalah pada saat Enron
menggunakan SPC untuk menjadi counterpartiesnya untuk melakukan aktivitas hedging. Dengan
menggunakan SPC ini, maka Enron dapat melindungi investasinya dari terjadinya penurunan nilai.
Semenjak SPC digunakan sebagai kedok, SPC dimange oleh para Eksekutif dari Enron, Enron
menjadi dapat memaskitkan bahwa mereka dapat menutupi tindakan yang dilakukannya ini.

Kebobrokan Enron ini akhirnya terungkap karena kewajiban dan kerugian terkait dengan hanya
dipindahkannya waktu pelaporan dari kerugian tersebut dari pembukuan Enron, tapi tidak akan
menjadikan kewajiban tersebut hilang.
Biasanya SPE digunakan sebagai kedok atau shell companies yang untuk menutupi kecurangan (fraud)
yang dilakukan oleh manajemen (management fraud). Kemudian Enron memanfaatkan SPE untuk
melakukan penjualan assetnya pada tingkat harga yang berinflasi. Dimana kondisi ini dapat
menyebabkan terjadinya prop up earnings.

Sebagian besar alasan penggunaan SPE adalah untuk tujuan menghalalkan penggunaan financial
technique, yang menjadi hal yang sangat sering digunakan pada saat ini. Misalnya banyak retailer yang
menggunakaan SPE untuk melakukan penjualan private label credit card receivable (piutang) nya untuk
kemudian SPE membeli receivable tersebut untuk kemudian mendapatkan dana dari SPE tersebut.
Atau misalnya SPE melakukan pembelian obligasi (bonds) perusahaan induknya yang dijual untuk
public. Dengan cara ini maka investor dapat memperoleh investasi yang berkualitas, sedangkan
perusahaan dapat dengan cepat mendapatkan uang kas. SPE merupakan salah satu financing tool
yang dapat digunakan oleh perusahaan. Di Amerika, beberapa perusahaan yang menggunakan SPE
untuk mendapatkan dana misalnya adalah Target, Capital One, General Motor, Citigroup, dan Dell.

Bagaimanapun kesalahan yang dilakukan oleh Enron memberikan pelajaran bagi berbagai pihak
bahwa harus dibuat aturan yang lebih keras dan jelas mengenai hal ini. Kongres AS misalnya melalui
Sarbanes-Oxley, dua anggota kongres AS yang mengusulkan untuk membuat aturan yang lebih jelas
mengenai Good Corporate Governance. Aturan-aturan tersebut misalnya adalah The Sarbanes-Oxley
(Sox) Act dan FASB (Financial Accounting Standard Board, atau di Indonesia dikenal dengan nama
PSAK Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) lewat FIN 46. Secara lebih lanjut FIN 46
mensyaratkan dilakukannya konsolidasi pada SPE oleh perusahaan induk (sponsoring company) nya.
Atau yang kemudian diterjemahkan sebagai perusahaan yang mendapat keuntungan terbesar dari
berdirinya SPE tersebut.

Dengan kejadian Enron ini ternyata telah memukul industry jasa akuntansi dan keuangan tidak hanya
di AS saja namun juga di dunia, misalnya saja dengan ditutupnya Arthur Andersen yang saat itu
menjadi Akuntan Publik dari Enron, karena dipertanyakannya kredibilitas dari Laporan Audit yang
mereka sajikan, setelah terjadinya subsequent event (kejadian setelah tanggal neraca) pada Enron

1. Resiko bisnis yang dihadapi oleh Enron adalah: Enron bergerak dalam bidang usaha energi
dimana harga enerji di pasar sangat berfluktuatif dan tidak dapat diramalkan. Hubungan
resiko bisnis dengan kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan Enron, yaitu
karena harga jual enerji berfluktuatif, maka akan berpengaruh terhadap laba, dimana laba
akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga pasar energi turun, maka laba akan
berkurang sehingga menyebabkan investor cenderung enggan untuk menanamkan modal
pada Enron. Karena resiko yang tinggi, kemungkinan salah saji material dalam laporan
keuangan Enron juga besar karena Enron cenderung akan melakukan income smoothing
untuk menjaga stabilitas harga sahamnya di pasar.
Tidak, karena dalam pelaporan keuangan yang dihasilkan Andersen, dilaporkan meningkat,
ada konplik kepentingan disini, dimana Andersen mendapatkan imbal jasa yang berganda
dari hasil rekayasa laporan yang dibuatnya.
2. Tujuan khas akuntansi kreatif akan mengembang angka keuntungan. Beberapa perusahaan
juga dapat mengurangi melaporkan laba di tahun-tahun yang baik untuk hasil yang halus.
Aktiva dan kewajiban juga dapat dimanipulasi, baik untuk tetap dalam batas-batas seperti
perjanjian utang, atau untuk menyembunyikan masalah.
3. Aturan akuntansi membolehkan suatu perusahaan mengeluarkan pencatatan entitas tujuan
khusus dari laporan keuangannya bila ada pihak independen yang memiliki kendali atas
entitas tujuan khusus tersebut, dan bila pihak independen ini memiliki paling tidak 3 persen
dari seluruh saham entitas tujuan khusus. Untuk memenuhi syarat tersebut, Fastow
menunjuk dirinya sendiri dan karyawan Enron lainnya untuk menjadi para pimpinan di
entitas ini. Individu-individu ini kemudian menginvestasikan dengan cukup uang mereka
sendiri di entitas ini untuk memenuhi peraturan 3 persen, dan Fastow mentransfer cukup
saham Enron ke dalam entitas untuk membuat 97% lainnya. Entitas ini kemudian meminjam
sangat banyak uang, memakai saham Enron mereka sebagai jaminan. Uang yang dipinjam
kemudian dibayarkan kepada Enron untuk “membeli” kontrak yang dinilai terlalu tinggi pada
pembukuan Enron dan investasi gagal lainnya, dan Enron dapat mencatat uang itu sebagai
“pendapatan”, bukan hutang. Entitas ini juga setuju untuk mengambil alih hutang berjalan
Enron yang sangat besar dan sebaliknya, Enron mentransfer lebih banyak sahamnya ke
entitas yang dibentuk itu. Fastow memberi entitas tersebut nama yang tak lazim seperti
“Chewco”, “Jedi”, “Talon”, “Condor”, dan “Raptor”, dan ia dan orang-orang Enron lainnya
menggaji diri mereka sendiri jutaan dolar AS sebagai gaji dan pendapatan dari kepemilikan
saham 3% mereka di entitas.
Berdasarkan SPAP, Standar Umum no. 2 menyatakan “Dalam semua hal yang berhubungan
dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”. Maka
sesuai dengan ketentuan tersebut Auditor tidak boleh menerima klien yang sama untuk jasa
audit dan non-audit, karena akan mengurangi independensi. Argumen bahwa auditor
seharusnya diijinkan untuk melakukan jasa-jasa tersebut pada klien yang sama, karena selain
jasa audit eksternal auditor juga dapat memberikan jasa atestasi berupa review atas laporan
keuangan, jasa atestasi lainnya, jasa penjaminan lainnya, jasa bukan penjaminan termasuk jasa
konsultasi manajemen. Tidak ada aturan jelas yang tidak memperbolehkan auditor untuk
memberikan jasa-jasa tersebut pada satu klien. Selama auditor dapat menjaga independensi,
maka auditor diperbolehkan untuk melaksanakan jasa-jasa tersebut kepada satu klien.
Argumen bahwa auditor tidak diperbolehkan untuk melaksanakan jasa non-audit untuk klien
auditnya karena berdasarkan SPAP, pada Standar Umum No 2 auditor harus menjaga sikap
independen. Jika auditor berperan ganda sebagai pelaku audit dan non-audit maka
kemungkinan besar akan menurunkan tingkat independensi auditor.
4. Kronologi “run on the bank” sesuai untuk Enron dan Andersen karena kepercayaan publik
terhadap Enron dan KAP Arthur Andersen memudar / menghilang sejak kasus ini terangkat
ke permukaan. Pada kasus Enron orang beramai-ramai menjual sahamnya sehingga harga
saham Enron jatuh dan menyebabkan kesulitan finansial yang menyebabkan kebangkrutan
Enron. Sedangkan pada kasus Andersen, publik mulai tidak percaya terhadap opini yang
dikeluarkan Andersen sehingga memutuskan kontrak kerja dengan Andersen dan
mengakibatkan KAP Arthur Andersen tidak beroperasi lagi.
5. Banyak perusahaan mengakhiri kontrak kerjanya dengan pihak Andersen karena setelah
kasus Enron terbongkar, kepercayaan publik akan kredibilitas Andersen menghilang. Hal ini
membuktikan bahwa Andersen telah melakukan kebohongan publik dengan menghancurkan
bukti-bukti pendukung audit dan tingkat independensinya dipertanyakan
6. Prinsip-prinsip yang dapat dipelajari dari kasus ini :
- Sikap independensi auditor harus dijunjung tinggi
- Bisnis yang dilaksanakan sesuai dengan prinsip good corporate governance akan
sustainable.
- Internal control perusahaan yang baik dapat meningkatkan keandalan dari laporan
- keuangan.
Contoh konkret : Arthur Andersen sebagai auditor tidak menjunjung tinggi sikap
independensi dan membantu Enron melakukan management fraud sehingga ketika
kasus ini tercium oleh publik, kepercayaan masyarakat terhadap Arthur Andersen
hilang. Akibatnya klien-klien Arthur Andersen yang lain memutuskan hubungan kerja
samanya dan akhirnya Arthur Andersen tidak beroperasi lagi. Konsekuensi yang
mungkin apabila orang lain mempertanyakan integritas adalah: akibat kasus Enron
kepercayaan publik terhadap auditor berkurang. Profesi auditor tidak lagi dipandang
sebagai profesi yang menjunjung tinggi etika profesi. Yang dapat dilakukan untuk
menjaga reputasi dan karir sebagai auditor:
- Menjaga tingkat independensi
- Melaksanakan tugas auditor sesuai dengan etika profesi.
-

Anda mungkin juga menyukai