Anda di halaman 1dari 112

ILMU RESEP

RESEP
RESEP ???....
Resep adalah permintaan tertulis dari seorang
dokter, dokter gigi, dokter hewan yang diberi
izin berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku kepada apoteker
pengelola apotek untuk menyiapkan dan atau
membuat, meracik serta menyerahkan obat
kepada pasien.
Ukuran dan Lembaran Resep
Lembaran resep umumnya berbentuk empat
persegi panjang, ukuran ideal lebar 10-12 cm
dan panjang 15-20 cm.
Jenis-Jenis Resep
1. Resep standar (R/. Officinalis), yaitu resep yang
komposisinya telah dibakukan dan dituangkan ke
dalam buku farmakope atau buku standar
lainnya. Penulisan resep sesuai dengan buku
standar.
2. Resep magistrales (R/. Polifarmasi), yaitu resep
yang sudah dimodifikasi atau diformat oleh
dokter, bisa berupa campuran atau tunggal yang
diencerkan dalam pelayanannya harus diracik
terlebih dahulu.
3. Resep medicinal. Yaitu resep obat jadi, bisa
berupa obat paten, merek dagang maupun
generik, dalam pelayanannya tidak mangalami
peracikan. Buku referensi : Organisasi
Internasional untuk Standarisasi (ISO), Indonesia
Index Medical Specialities (IIMS), Daftar Obat di
Indonesia (DOI), dan lain-lain.

4. Resep obat generik, yaitu penulisan resep obat


dengan nama generik dalam bentuk sediaan dan
jumlah tertentu. Dalam pelayanannya bisa atau
tidak mengalami peracikan.
Penulis Resep
Menurut Jas (2009) yang berhak menulis resep
adalah :
Dokter Umum.
Dokter gigi, terbatas pada pengobatan gigi dan
mulut.
Dokter hewan, terbatas pada pengobatan
pada hewan/ pasien hanya hewan.
Latar Belakang Penulisan Resep
• Demi keamanan penggunaan, obat dibagi dalam
beberapa golongan.
• Secara garis besar dapat dibagi dalam dua
golongan, yaitu obat bebas (OTC = Other of the
counter) dan Ethical (obat narkotika, psikotropika,
dan keras),
• Harus dilayani dengan resep dokter. Jadi sebagian
obat tidak bisa diserahkan langsung pada pasien
atau masyarakat tetapi harus melalui resep
dokter (on medical prescription only).
Dalam sistem distribusi obat nasional,
peran dokter sebagai “medical care” dan alat
kesehatan ikut mengawasi penggunaan obat oleh
masyarakat,
apotek sebagai organ distributor terdepan berhadapan
langsung dengan masyarakat atau pasien, dan
apoteker berperan sebagai “pharmaceutical care” dan
informan obat, serta melakukan pekerjaan kefarmasian
di apotek.
Di dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat,
kedua profesi ini harus berada dalam satu tim yang
solid dengan tujuan yang sama yaitu melayani
kesehatan dan menyembuhkan pasien (Jas, 2009).
Kerahasiaan Dalam Penulisan Resep
Resep menyangkut sebagian dari rahasia jabatan
kedokteran dan kefarmasian, oleh karena itu
tidak boleh diberikan atau diperlihatkan
kepada yang tidak berhak. Resep diperlukan
untuk menjaga hubungan dan komunikasi
kolegalitas yang harmonis di antara
profesional yang berhubungan, antara lain:
medical care, pharmaceutical care & nursing
care.
Rahasia dokter dengan apoteker menyangkut
penyakit penderita, khusus beberapa
penyakit, dimana penderita tidak ingin orang
lain mengetahuinya. Oleh karena itu
Kerahasiaannya dijaga, kode etik dan tata cara
(kaidah) penulisan resep.
Menurut Syamsuni (2007) dan Jas (2009), resep asli
harus disimpan di apotek dan tidak boleh
diperlihatkan kecuali oleh yang berhak, yaitu :
1. Dokter yang menulis atau merawatnya.
2. Pasien atau keluarga pasien yang bersangkutan.
3. Paramedis yang merawat pasien.
4. Apoteker yang mengelola apotek bersangkutan.
5. Aparat pemerintah serta pegawai (kepolisian,
kehakiman, kesehatan) yang ditugaskan untuk
memeriksa.
6. Petugas asuransi untuk kepentingan klem
pembayaran.
Dalam Resep harus memuat
• Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan
dokter hewan, tanggal penulisan resep (inscriptio)
• Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap
obat atau komposisi obat (invocatio)
• Nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan yang diinginkan
(Prescriptio/Ordonatio)
• Aturan pemakaian obat yg tertulis (signatura)
• Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dg
perundang-undangan yg berlaku (subscriptio)
• Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep
dokter hewan (Pro)
• Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yg mengandung obat
yg jumlahnya melebihi dosis maksimal
Format Penulisan Resep
Resep terdiri dari 6 bagian :

1. Inscriptio :

Nama dokter, no. SIP, alamat/ telepon/HP/kota/tempat, tanggal penulisan


resep. Untuk obat narkotika hanya berlaku untuk satu kota provinsi.
Sebagai identitas dokter penulis resep. Format inscriptio suatu resep dari
rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi.

2. Invocatio : permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = resipe”


artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan
apoteker di apotek.
3. Prescriptio/ Ordonatio : nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan
yang diinginkan.

4. Signatura : yaitu tanda cara pakai, regimen dosis pemberian, rute


dan interval waktu pemberian harus jelas untuk keamanan
penggunaan obat dan keberhasilan terapi.

5. Subscrioptio : yaitu tanda tangan/ paraf dokter penulis resep


berguna sebagai legalitas dan keabsahan resep tersebut.

6. Pro (diperuntukkan) : dicantumkan nama dan umur pasien.


Teristimewa untuk obat narkotika juga hatus dicantumkan alamat
pasien (untuk pelaporan ke Dinkes setempat).
Yang harus diperhatikan
• Resep dokter hewan hanya ditujukan untuk
penggunaan pada hewan
• Resep yg mengandung narkotika harus ditulis
tersendiri yaitu tidak boleh ada iterasi
(ulangan); ditulis nama pasien tidak boleh m.i
= mihi ipsi = untuk dipakai sendiri; alamat
pasien dan aturan pakai (signa) yg jelas, tidak
boleh ditulis sudah tahu pakainya (usus
cognitus)
Resep Yang Mengandung Narkotika
• Tidak boleh diulang
• Nama pasien tidak boleh ditulis m.i (mihi ipsi) atau u.p
(usus propium) atau pemakaian sendiri
• Alamat pasien harus jelas
• Aturan pakai harus jelas, tidak boleh ditulis u.c (usus
cognitus) atau sudah tahu cara pakai
• Apoteker hanya boleh memberikan obat narkotika jika
ada resep asli dari dokter
• Jika obat narkotika belum diserahkan semuanya, maka
apotek dapat memberi copy resepnya, sisa obat
narkotika yang belum diserahkan hanya dapat dibeli di
apotek yang mengeluarkan copy resep tersebut
• Apotek tidak boleh memberikan obat
narkotika berdasarkan copy resep apotek lain
• Resep narkotika dipisahkan dari resep lainnya
(diberi garis merah dibawah nama obatnya)
• Morfin, heroin, petidin  harus diberikan
oleh dokter spesialis
• Codein, doveri  boleh diberikan oleh dokter
umum
Untuk penderita yg segera memerlukan obatnya, dokter
menulis di bagian kanan atas resep : Cito, Statim, Urgent
= segera, P.I.M = periculum in mora = berbahaya bila
ditunda. Resep ini harus dilayani dulu.

Bila dokter tidak ingin resepnya yg mengandung obat


keras tanpa sepengetahuannya diulang, dokter akan
menulis tanda N.I = Ne iteretur = tidak boleh diulang
Jadi resep yg tidak boleh diulang adalah : Resep yg
mengandung narkotika atau obat lain yg ditetapkan
oleh Menkes c.q. Dirjen POM harus dg resep baru
Apotek adalah suatu tempat tertentu untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.

Pengelolaan apotek meliputi :


• Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan
bentuk, pencampuran, penyimpanan dan
penyerahan obat dan bhn obat
• Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan
penyerahan perbekalan farmasi lainnya
• Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi
Pelayanan Apotek
 Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat dari pukul
8.00-22.00
 Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter
hewan. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab APA
 Salinan resep harus ditanda tangani oleh Apoteker
 Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dg baik dlm
jangka waktu 3 tahun. Resep atau salinan resep hanya boleh
diperlihatkan kp Dokter penulis resep atau yg merawat
penderita, penderita yg bersangkutan, petugas kesehatan atau
petugas lain yg berwenang menurut peraturan perundang-
undangan yg berlaku
Pengelolaan Resep Yang telah
dikerjakan
• Resep yg telah dibuat disimpan menurut urutan
tanggal dan nomor penerimaan/pembuatan resep
• Resep yg mengandung narkotika harus dipisahkan
dari resep lainnya, tandai garis merah di bawah nama
obatnya
• Resep yg telah disimpan melebihi 3 thn dpt
dimusnahkan dan cara pemusnahannya adl dg cara
dibakar atau dg cara lain yg memadai
• Pemusnahan resep dilakukan oleh APA bersama dg
sekurang-kurangnya seorang petugas apotek
Apotek memperoleh obat dan perbekalan farmasi
harus bersumber dari pabrik farmasi, pedagang besar
farmasi dan apotek lainnya atau alat distribusi yg sah.
Obatnya harus memenuhi ketentuan wajib daftar obat.

Surat pesanan obat dan perbekalan kesehatan di


bidang farmasi lainnya harus ditanda tangani oleh APA
dg mencantumkan nama dan nomor SIK

Obat dan bahan obat disimpan dlm wadah yg cocok


dan harus memenuhi ketentuan pembungkusan dan
penandaan sesuai dg FI edisi terbaru atau yg ditetapkan
Dirjen POM
Resep yang rasional  memenuhi 6 T
:
1.Tepat diagnosis
2.Tepat obat
3.Tepat dosis
4. Tepat cara dan waktu pemberian
5. Tepat bentuk sediaan yang dipilih
6.Tepat penderita
Penyimpanan Resep

• Resep disimpan menurut urutan tanggal dan


no. Resep penerimaan atau pembuatan resep
• Resep narkotika dipisahkan (tandai dengan
garis merah di bawah nama obatnya)
• Resep disimpan selama 3 tahun, lewat 3 tahun
dapat dimusnahkan dengan cara dibakar atau
cara lain
Penyerahan Obat dan perbekalan
farmasi
• Penyerahan obat atas dasar resep harus dilengkapi
dg etiket berwarna putih untuk obat dalam dan
untuk obat luar dg warna biru.
• Yang dimaksud dg obat dlm ialah obat yg digunakan
melalui mulut masuk kerongkongan terus ke perut
• Obat luar yaitu obat yg digunakan secara lainnya,
yaitu melalui mata, telinga, vagina, rektum dan
termasuk pula obat parenteral dan obat kumur
Etiket

Harus dicantumkan :
• Nama dan alamat apotek
• Nama dan nomor SIPA APA
• Nomor dan tanggal pembuatan
• NAma pasien
• Aturan pemakaiannya
• Tanda lain yg diperlukan misalnya : Kocok dahulu,
tidak boleh diulang tanpa resep dokter
Copi Resep = Apograph = Salinan
Resep
Diberikan jika :
• Pasien memintanya/menginginkannya
• Pasien baru mengambil separuh obatnya
• Pasien harus mengulang obatnya (tercantum
iter)
Copy Resep = Apograph = Salinan
Resep
• Kopi resep adalah salinan tertulis dari suatu resep.
• Kopi resep harus memuat semua keterangan yg
termuat dlm resep asli. Selain itu harus memuat pula
:
• Nama dan alamat apotek
• Nama dan Nomor SIPA APA
• Tanda tangan atau paraf APA
• Tanda det = detur untuk obat yg sudah diserahkan,
atau tanda ne det = ne detur untuk obat yg belum
diserahkan
• Nomor resep dan tanggal pembuatan
Kekurangan/masalah dalam resep
• Kekurangan tulisan dalam resep  masih
dapat diterima seperti tidak ada no., tidak ada
bentuk sediaan, signa tidak baku (1-0-1)
• Penulisan yang dapat menyulitkan dalam
pelayanan
• Salah baca : chloramphenicol 
chlorpropamid
• Bentuk sediaan yang tidak tepat 
tablet/kapsul enterik digerus
• Satuan pecahan yang menyulitkan  R/
Cortidex 4/5
• Satuan yang tidak ditulis  R/ Amoxycillin
250
• Signa yang kurang lengkap
- Obat simptomatis perlu p.r.n  antipiretik,
anti muntah
- Sifat absorbsi yang kurang diperhatikan 
signa perlu a.c, d.c dan p.c
Contoh etiket putih

Apotek HR MEDIKA
Jl. Perdos Blok C5 No. 28 Telp 0451123456
Ririen Hardani.,S. Farm.,.M.Si.,Apt
No. SIPA : 95/24.7/DINKES/II/2015

Palu, 26 Mei 2016


No Resep : 11

Cantik
Sehari 3 x 1 bungkus sesudah makan
Contoh etiket biru

Apotek HR MEDIKA
Jl. Perdos Blok C5 No. 28 Telp 0451123456
Ririen Hardani.,S. Farm.,.M.Si.,Apt
No. SIPA : 95/24.7/DINKES/II/2015

Palu, 26 Mei 2016


No Resep : 11

Nn.Cantik
Sehari 3 x 2 tetes untuk mata kanan dan kiri
Contoh Resep

Dr. Hermanto
SIP. No. 363/K/83
Jl. Basuki Rahmat No. 72 Telp.56789
Palu
Palu, 3 Juni 2008
R/ Acetosal 30 mg
Codein HCl 15 mg
CTM 4 mg
SL q.s
m.f. pulv.dtd.No.XV
da in caps.
S.t.d.d caps I

Paraf/ttd dokter
Pro : Nn.Cantik
Jl. Banteng No 31 Palu
Contoh Kopi resep
Apotek HR MEDIKA
Jl. Perdos Blok C5 No. 28 Telp 0451123456
Ririen Hardani.,S. Farm.,.M.Si.,Apt
No. SIPA : 95/24.7/DINKES/II/2015
Palu, 5 Juni 2008
Salinan Resep
Resep untuk : Ny. Cantik
Resep dari : Dr. Herman
Tgl : 3 Juni 2016

R/ Acetosal 30 mg
Codein HCl 15 mg
CTM 4 mg
SL
m.f. pulv.dtd.No.XV
da in caps.
S.t.d.d caps I
det pcc
Ririen Hardani.,S.Farm.,M.Si.,Apt
Tanda-Tanda Dalam Resep
1. Tanda Segera, yaitu:
Bila dokter ingin resepnya dibuat dan dilayani segera,
tanda segera atau peringatan dapat ditulis sebelah
kanan atas atau bawah blanko resep, yaitu:
Cito! = segera
Urgent = penting
Statim = penting sekali
PIM (Periculum in mora) = berbahaya bila ditunda
Urutan yang didahulukan adalah PIM, Statim, dan Cito!.
2. Tanda resep dapat diulang.
Bila dokter menginginkan agar resepnya dapat
diulang, dapat ditulis dalam resep di sebelah
kanan atas dengan tulisan iter (Iteratie) dan
berapa kali boleh diulang. Misal, iter 1 x,
artinya resep dapat dilayani 2 x. Bila iter 2 x,
artinya resep dapat dilayani 1+ 2 = 3 x. Hal ini
tidak berlaku untuk resep narkotika, harus
resep baru.
3. Tanda Ne iteratie (N.I) = tidak dapat diulang.
Bila dokter menghendaki agar resepnya tidak
diulang, maka tanda N.I ditulis di sebelah atas
blanko resep (ps. 48 WG ayat (3); SK Menkes
No. 280/Menkes/SK/V/1981). Resep yang
tidak boleh diulang adalah resep yang
mengandung obat-obatan narkotik,
psikotropik dan obat keras yang telah
ditetapkan oleh pemerintah/ Menkes Republik
Indonesia.
4. Tanda dosis sengaja dilampaui.
Tanda seru diberi di belakang nama obatnya jika
dokter sengaja memberi obat dosis maksimum
dilampaui.
5. Resep yang mengandung narkotik.
Resep yang mengadung narkotik tidak boleh ada
iterasi yang artinya dapat diulang; tidak boleh ada
m.i. (mihipsi) yang berarti untuk dipakai sendiri;
tidak boleh ada u.c. (usus cognitus) yang berarti
pemakaiannya diketahui. Resep dengan obat
narkotik harus disimpan terpisah dengan resep
obat lainnya.
Persyaratan Menulis Resep dan
Kaidahnya
Syarat – syarat dalam penulisan resep mencakup :
1. Resep ditulis jelas dengan tinta dan lengkap di
kop resep, tidak ada keraguan dalam
pelayanannya dan pemberian obat kepada
pasien.
2. Satu lembar kop resep hanya untuk satu pasien.
3. Signatura ditulis dalam singkatan latin dengan
jelas, jumlah takaran sendok dengan signa bila
genap ditulis angka romawi, tetapi angka
pecahan ditulis arabik.
4. Menulis jumlah wadah atau numero (No.)
selalu genap, walaupun kita butuh satu
setengah botol, harus digenapkan menjadi Fls.
II saja.
5.Setelah signatura harus diparaf atau
ditandatangani oleh dokter bersangkutan,
menunjukkan keabsahan atau legalitas dari
resep tersebut terjamin.
6. Jumlah obat yang dibutuhkan ditulis dalam
angka romawi.
7. Nama pasien dan umur harus jelas.
8. Khusus untuk peresepan obat narkotika, harus
ditandatangani oleh dokter bersangkutan dan
dicantumkan alamat pasien dan resep tidak boleh
diulangi tanpa resep dokter.
9. Tidak menyingkat nama obat dengan singkatan
yang tidak umum (singkatan sendiri),karena
menghindari material oriented.
10. Hindari tulisan sulit dibaca hal ini dapat
mempersulit pelayanan.
11. Resep merupakan medical record dokter dalam
praktik dan bukti pemberian obat kepada pasien
yang diketahui oleh farmasi di apotek,
kerahasiaannya dijaga.
Prinsip Penulisan Resep Di Indonesia
Berikut ini prinsip penulisan resep yang berlaku di
Indonesia
1. Obat ditulis dengan nama paten/ dagang, generik,
resmi atau kimia.
2. Karakteristik nama obat ditulis harus sama dengan
yang tercantun di label kemasan.
3. Resep ditulis dengan jelas di kop resep resmi.
4. Bentuk sediaan dan jumlah obat ditentukan dokter
penulis resep.
5. Signatura ditulis dalam singkatan bahasa latin.
6. Pro atau peruntukan dinyatakan umur pasien.
Menulis Resep
Resep ditulis pada kop format resep resmi dan
harus menepati ciri-ciri yang berikut:
1. Penulisan resep sesuai dengan format dan
kaidah yang berlaku, bersifat pelayanan medik
dan informatif.
2. Penulisan resep selalu dimulai dengan tanda
R/ yang berarti ambillah atau berikanlah.
3. Nama obat, bentuk sediaan, dosis setiap kali
pemberian dan jumlah obat kemudian ditulis
dalam angka Romawi dan harus ditulis dengan
jelas.
a. Penulisan resep standar tanpa komposisi, jumlah
obat yang diminta ditulis dalam satuan mg, g, IU
atau ml, kalau perlu ada perintah membuat
bentuk sediaan (m.f. = misce fac, artinya
campurlah, buatlah).
b. Penulisan sediaan obat paten atau merek
dagang, cukup dengan nama dagang saja dan
jumlah sesuai dengan kemasannya.
4. Dalam penulisan nama obat karakter huruf nama
obat tidak boleh berubah, misal: Codein, tidak
boleh menjadi Kodein Pharmaton F tidak boleh
menjadi Farmaton F.
5. Signatura ditulis dengan jelas, tutup dan paraf.
6. Pro atau peruntukkan obat dan umur pasien
ditulis, misalnya Tn. Amir, Ny. Supiah, Ana (5
tahun).
7. Untuk dua sediaan, besar dan kecil. Bila
dibutuhkan yang besar, tulis volume sediaan
sesudah bentuk sedíaan.
8. Untuk sediaan bervariasi, bila ada obat dua atau
tiga konsentrasi, sebaiknya tulis dengan jelas,
misalnya: pediatric, adult, dan forte (Jas, 2009).
Permasalahan Dalam Menulis Resep
Banyak permasalahan yang timbul dalam penulisan resep,
karena hal ini menyangkut dengan pelayanan
kesehatan yang bersifat holistik. Kesalahan yang dapat
timbul berupa :
1. Kesalahan dalam penulisan resep, dimana dokter gagal
untuk mengkomunikasikan info yang penting, seperti :
Meresepkan obat, dosis atau rute bukan yang
sebenarnya dimaksudkan.
Menulis resep dengan tidak jelas/ tidak terbaca
Menulis nama obat dengan menggunakan singkatan
atau nomenklatur yang tidak terstandarisasi
Menulis instruksi obat yang ambigu
Meresepkan satu tablet yang tersedia lebih
dari satu kekuatan obat tersebut
Tidak menuliskan rute pemberian untuk obat
yang dapat diberikan lebih dari satu rute.
Meresepka obat untuk diberikan melalui infus
intavena intermitten tanpa menspesifikasi
durasi penginfusan.
Tidak mencantumkan tanda tangan penulis
resep.
2. Kesalahan dalam transkripsi
Saat datang ke rumah sakit, secara tidak sengaja
tidak meresepkan obat yang digunakan pasien
sebelum ke rumah sakit.
Meneruskan kesalahan penulisan resep dari
dokter yang sebelumnya ketika menuliskan resep
obat untuk pasien saat datang ke rumah sakit.
Menyalin instruksi obat dengan tidak benar ketika
menulis ulang did aftar obat pasien.
Untuk resep yang dibawa pulang tanpa sengaja
berbeda dengan daftar obat yang diresepkan
untuk pasien rawat inap (Cahyono, 2008).
SKRINING RESEP
• Harus Teliti
Dr. Kuncoro
SIP: 123/SP/2004
Alamat Praktek Alamat Rumah
Jl. Kusumanegara 12 Jl. Gondang 23
Tlp 343434 Tlp 543456

Yogyakarta, 23-4-15

R/ Amoksisilin 500 No XV
S. t dd tab 1 pc

R/ Paracetamol sirup Btl I


S. t dd cth 1 pc Bila panas

Nama : Anton Usia : 15 th


Alamat : Jl. Maron 23 yk
Skrining resep.
Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
1. Persyaratan administratif :
- Nama,SIP dan alamat dokter.
- Tanggal penulisan resep.
- Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
- Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat
badan pasien.
- Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta.
- Cara pemakaian yang jelas.
- Informasi lainnya.
2. Kesesuaian farmasetik:
bentuk sediaan,
dosis,
potensi,
stabilitas,
inkompatibilitas,
cara dan lama pemberian
3. Pertimbangan klinis:
adanya alergi,
efek samping,
interaksi,
kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-
lain).

Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya


dikonsultasikan kepada dokter penulis resep
dengan memberikan pertimbangan dan alternatif
seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan
setelah pemberitahuan.
Farmasetika

POSOLOGI
Posologi adalah ilmu yang membahas tentang
bentuk sediaan obat, cara pemberian obat,
perhitungan dosis dan frekuensi pemberian
obat.
Paramedik perlu mempelajari posologi agar
dapat membantu dalam pemberian obat yang
rasional ke pada pasien. Rasional yaitu
pemberian obat yang tepat pasien, tepat obat,
tepat waktu, tepat dosis, tepat rute dan tepat
dokumentasi.
Bentuk Sediaan Obat
1. Sediaan Padat
2. Sediaan Setengah Padat
3. Sediaan Cair
Sediaan Padat
1. Pulvis/ Pulveres / Serbuk
Pulvis (serbuk) ialah campuran kering bahan
obat atau zat kimia yang dihaluskan ditujukan
untuk obat atau zat kimia yang dihaluskan
ditujukan untuk pengobatan dalam atau luar.
Pulveres adalah serbuk yang di bagi-bagi
dalam bobot yang diperkirakan sama,
masing-masing dibungkus dengan pengemas
yang cocok untuk 1 kali minum.
2. Tablet
Sediaan padat mengandung bahan obat
dengan atau tampa bahan pengisi. Zat
tambahan berfungsi sebagai pengisi, pengikat,
pelicin pembasah atau fungsi lain yang cocok.
Tablet berbentuk bulat dan pipih dengan berat
antara 50 mg – 2 g, umumnya sekitar 200 –
800 mg.
Jenis tablet : tablet salut, tablet effervescent,
tablet sublingual, tablet lepas lambat dan
lozenge.
3. Kapsul
Kapsul ialah sediaan padat yang terdiri dari
obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Cangkang kapsul terbuat dari
gelatin, pati atau bahan lain yang cocok.
4. Suppositoria
Sediaan padat dalam berbagai bobot dan
bentuk yang diberikan melalui rektal dan
vagina. Sediaan ini meleleh, melunak atau
melarut pada suhu tubuh.
5. Kaplet
Tablet berbentuk kapsul yang pembuatannya
melalui kempa cetak.
6. Pellet
Sediaan tablet kecil, silindris dan steril yang
pemakaiannya ditanam (inflantasi) ke dalam
jaringan.
7. Lozenge
Sediaan tablet yang rasanya manis dan baunya
enak yang penggunaanya dihisap dalam
mulut.
Sediaan Setengah Padat
1. Salep
Sediaaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.
2. Krim
Sediaan setengah Padat yang berupa emulsi
mengandung air tidak kurang atau sama
dengan 60% dan dimaksudkan untuk obat
luar.
3. Pasta
Sediaan berupa massa lembek yang digunakan
untuk pemakaian luar. Biasanya dibuat dengan
mencampurkan serbuk dalam jumlah > 50%
bagian vaselin atau parafin cair atau debgab
bahan dasar yang tidak berlemak.
4. Jelli
Sediaan suspensi setengah padat dari bahan
organik atau anorganik, mengandung air, dan
digunakan pada kulit yang peka atau berlendir
(mukosa).
Sedian Cair
1. Larutan
Sedian cair yang mengandung bahan kimia terlarut.
Kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air
suling. Larutan bersifat homogen atau serba sama.
2. Sirup
Suatu sediaan yang mengandung gula atau sukrosa.
Kecuali dinyatakan lain, kadar gula tidak kurang dari
64% atau tidak lebih dari 66%. Sirup dengan kadar
gula sekitar 65% disebut sirup simpleks yang
digunakan sebagai origen saporis (pemanis).
3. Elixir
Sedian larutan yang mempunyai bau dan rasa
sedap. Elixir digunakan sebagai obat dalam.
Pelarut yang digunakan umumnya etanol karena
dapat meningkatkan kelarutan zat aktifnya.
4. Guttae (Obat tetes)
Berupa larutan emulsi atau suspensi digunakan
baik untuk oabt luar atau obat dalam. Dilengkapai
alat penetes berskala (untuk obat dalam) dan
tidak berskala untuk obat luar. Jika disebut
5. Injeksi
Sediaan steril dan bebas pirogen yang berupa
larutan, emulsi, suspensi, serbuk yang dilarutkan
atau disuspensikan lebih dahulu sebelum
digunakan. Penggunaan sediaan injeksi di
suntikkan menggunakan spoit ke dalam kulit,
bawah kulit, otot atau intravena.
6. Enema
Suatu larutan yang penggunaanya memalui
rektum (anus). Kegunaan sedian enema antara
lain untuk memudahkan buang air besar,
mencegah kejang atau mengurangi nyeri lokal.
7. Gargarisma
Sediaan berupa larutan relatif pekat dan harus
diencerkan sebelum digunakan. Gargarisma
umumnya digunakan untuk pencegahan atau
pengobatan infeksi tenggorokan.
8. Douche
Larutan yang digunakan secara langsung pada
lubang tubuh, bermanfaat sebagai pembersih
atau antiseptik. Contoh douche adalah vagina
douche, eye douche, pharingeal douche dan
nasal douche.
ENEMA

Douche
9. Suspensi
Sediann cair yang mengandung bahan obat
berupa partikel halus yang tidak larut dan
terdispersi dalam cairan pembawa. Dalam
kemasan sediaan suspensi disertai etiket
bertuliskan kocok dahulu sebelum digunakan.
Tujuannya supaya partikel yang mengendap
terdispersi merata.
10. Emulsi
Sedian yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat (minyak-air), terdispersi dalam
cairan pembawa dan distabilkan dengan
emulgator yang sesuai.
Sediaan Gas
1. Aerosol
Sediaan yang mengandung satu atau lebih zat
berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan,
digunakan untuk obat luar atau obat dalam.
Pemakaiannya disedot melalui hidung atau
mulut atau disemprotkan dalam bentuk kabut ke
saluran pernapasan.
2. Gas
Biasanya berupa oksigen, obat anestesi atau zat
yang digunakan untuk sterilisasi.
PERHITUNGAN DOSIS
Istilah Keterangan
Dosis Jumlah obat yang digunakan untuk
mencapai efek terapeutik yang
diharapkan. Dosis Lazim (DL), Dosis
Maksimal (DM).

Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan


dalam keadaan biasa dan dapat
menyembuhkan si sakit.
Dosis maksimum (DM) adalah dosis (takaran) yang terbesar
yang dapat diberikan kepada orang
dewasa untuk pemakaian sekali dan
sehari tanpa membahayakan.
Dosis lazim (DL) Dosis yang biasa digunakan dalam
keadaan normal
L.D.50 adalah dosis (takaran) yang
menyebabkan kematian pada 50%
hewan percobaan.
L.D.100 adalah dosis (takaran) yang
menyebabkan kematian pada 100 %
hewan percobaan
Istilah Keterangan

Dosis Letal Dosis ( takaran ) yang menyebabkan


kematian pada hewan percobaan.
Loading dose Dosis muatan sebagai dosis awal sehingga
tercapai kadar dalam darah yang cukup
untuk menghasilkan efek terapeutik.

Maintenance dose Dosis pemeliharaan untuk


mempertahankan kadar obat dalam
darah agar tetap menghasilkan efek
terapeutik

Dosis toksik Dosis (takaran) yang menyebabkan


keracunan .
Pertimbangan Pengaturan Dosis
Khusus untuk pasien geriatrik dan pediatrik
• Geriatrik: berhubungan dengan penurunan fungsi
fisiologis terkait usia
• Pediatrik: memiliki bobot lebih kecil dari pasien
dewasa dan sistem tubuh tertentu belum
berkembang sepenuhnya
– Usia
– Bobot
– Luas permukaan tubuh
Berdasarkan Usia
• Kurang akurat karena tidak mempertimbangkan
sangat beragamnya bobot dan ukuran anak-anak
dalam satu kelompok usia
• Obat bebas untuk Pediatrik: dosis dikelompokkan
atas usia seperti: 2-6 tahun, 6-12 tahun dan
diatas 12 tahun. Kecil dari 2 tahun, dinyatakan
dengan: atas pertimbangan dokter
• Persamaan yang digunakan:
– Rumus Young (anak di bawah 8 tahun)
– Rumus Dilling (anak di atas 8 tahun)
– Rumus Cowling
– Rumus Fried (khusus untuk bayi)
Rumus Young
Rumus: Usia (tahun) / (Usia + 12) X DL/DM
• Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk
dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 7 tahun?
• Jawab :
7 / (7+12) X 500 mg = 184 mg
Jadi dosis parasetamol untuk 1 kali pakai ialah
184 mg.
Rumus Dilling
• Rumus: Usia (tahun) / 20 X DL/DM
• Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk
dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 11
tahun?
 Jawab :
11 / 20 x 500 mg = 275 mg
Jadi dosis parasetamol untuk 1 kali pakai ialah
275 mg.
Rumus Cowling
Rumus: (Usia dalam tahun) + 1) / 24 X DM/DL
• Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk
dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak usia 11
tahun?
Jawab :
11 + 1 / 24 x 500 mg = 250 mg
Jadi dosis parasetamol untuk 1 kali pakai ialah
250 mg.
Rumus Fried (khusus untuk bayi)
Rumus: Usia (dalam bulan) / 150 X DL/DM
• Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk
dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk bayi usia 5 bulan?
Jawab :
5 / 150 x 500 mg = 16,67 mg
Rumus Gaubius
Rumus:
• 0 – 1 tahun : 1/12
• 1 – 2 tahun : 1/8
• 2 – 3 tahun : 1/6
• 3 – 4 tahun : ¼ – 4
• 7 tahun : 1/3
• 7 – 14 tahun : ½
• 14 – 21 tahun : 2/3
• 21 – 60 tahun : dosis dewasa
Berdasarkan Bobot
Rumus Thremich-Fier :
DM = n (Kg) / 70 X Dosis dewasa
Rumus Clark :
DM = Bobot (dalam pon) / 150 X Dosis Dewasa
Rumus Black :
DM = Bobot (dalam kg) / 62 x Dosis Dewasa

• Dosis lazim obat umumnya dianggap sesuai untuk individu


berbobot 70 kg (154 pon)
• Rasio antara jumlah obat yang diberikan dan ukuran tubuh
mempengaruhi konsentrasi obat di tempat kerjanya
• Oleh karena itu, dosis obat mungkin perlu disesuaikan dari dosis
lazim untuk pasien kurus atau gemuk yang tidak normal
• Persamaan: Rumus Clark (AS), Thremic- Fier(Jerman) dan
Black(Belanda)
• Contoh: Dosis lazim parasetamol untuk
dewasa adalah 500 mg untuk 1 kali pakai.
Berapa dosis obat ini untuk anak berbobot 40
kg?
• Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah
500 mg untuk 1 kali pakai. Berapa dosis obat
ini untuk anak berbobot 40 kg? 1 kg = 2,2 pon
• Dosis lazim parasetamol untuk dewasa adalah
500 mg untuk 1 kali pakai. Berapa dosis obat
ini untuk anak berbobot 40 kg?
Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh
• Disebut juga dengan metode BSA (body surface area)
• Paling akurat karena mempertimbangkan tinggi dan
bobot pasien dengan menggunakan rumus Du Bois dan
Du Bois
• Terutama digunakan untuk :
– pasien kanker yang menerima kemoterapi
– pasien pediatrik untuk pada semua usia kanak-kanak,
kecuali bayi prematur dan bayi normal yang fungsi hati
dan ginjalnya belum sempurna sehingga memerlukan
penilaian tambahan dalam pengaturan dosis
Du Bois dan Du Bois
Rumus: BSA (cm2) = W . 0,425 x H . 0,725x
71,84
keterangan: W = bobot (kg), H = Tinggi (cm)
• Bentuk konversi (dalam m2):
BSA (m2) = √,*tinggi(cm) x bobot(kg)+/3600-
• BSA dewasa rata-rata = 1,73 m2. Beberapa
literatur lain menyebut sekitar 1,75 m2.
• Dosis untuk anak:
BSA anak / 1,73 X Dosis dewasa
UI Jakarta
Luas permukaan tubuh anak / 1.75 x dosis
dewasa.

Rumus Catzel
Luas permukaan tubuh anak x dosis dewasa
Luas permukaan tubuh dewasa
Menentukan persentase DM Obat
Persentase DM sekali :
Takaran obat sekali dalam resep X 100 %
DM sekali

Persentase DM sehari :
Takaran obat sehari dalam resep X 100 %
DM sehari
Hubungan Umur dan Bobot dengan
%Dosis Pemakaian
Menurut buku ISO Indonesia, bayi : 0 - 12 bln, anak : 1 – 15,5 th
Hubungan dosis bayi-anak terhadap dosis dewasa:
• Bayiprematur : 1,13 kg : 2,5-5%
• Bayi baru lahir : 3,18 kg : 12,5%
• 2 bulan : 4,54 kg : 15%
• 4 bulan : 6,35 kg : 19%
• 12 bulan : 9,98 kg : 25%
• 3 tahun : 14,97 kg : 33%
• 7 tahun : 22,68 kg : 50%
• 10 tahun : 29,94 kg : 60%
• 12 tahun : 35,52 kg : 75%
• 14 tahun : 45,36 kg : 80%
• 16 tahun : 54,43 kg : 90%
Perbandingan dosis orang usia lanjut
terhadap dosis dewasa
Umur Dosis
60-70 tahun 4/
5 x dosis dewasa
70-80 tahun ¾ x dosis dewasa
80-90 tahun 2/
3 x dosis dewasa
90 tahun keatas ½ x dosis dewasa
Berdasarkan Jam
• FI ed III – Satu hari dihitung 24 jam sehingga
untuk pemakaian sehari dihitung: 24/n kali
pemakaian sehari semalam – Misalkan, tiap 3
jam, maka pemakaian 24/3 = 8 kali sehari
semalam
• Van Duin – Pemakaian sehari dihitung untuk
16 jam, kecuali antibiotik dihitung sehari
semalam 24 jam
Dosis Gabungan
• Jika dalam satu resep terdapat dua atau lebih zat
aktif (bahan obat) yang kerjanya pada reseptor
atau tempat yang sama maka jumlah obat yang
digunakan tidak boleh melampaui jumlah dosis
obat-obat yang berefek sama tersebut. Baik sekali
pakai ataupun dosis sehari.
• Contoh obat yang memiliki efek yang sama
- Atropin sulfat dengan ekstrak belladonae
- Pulvis opii dengan pulvis overi
- Kofein dan aminofilin
- Arsen trioxida dan Natrii arsenas
• Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak
lampau bila : pemakaian 1 kali zat A +
pemakaian 1 kali zat B, hasilnya kurang dari
100 %, demikian pula pemakaian 1 harinya.
Contoh
• R/ atropin sulfat 2,5 mg (DM 1mg/3mg)
ekstrak belladon 100 mg (20mg/80mg)
Mf pulv No. X
Stdd pulv I
Tentukan apakah resep melebihi DM atau tidak?
SOAL
1. Tentukan apakah resep melebihi DM atau tidak.

R/ Atropin Sulfat o,5 mg (DM 1 mg/3 mg)


Sacchar. Lact. Qs
m.f. pulv. d.t.d. no. X
S. t.d.d. Pulv. I

Pro : Adit (12 thn)


2. Tentukan apakah resep melebihi DM atau
tidak.
R/ Colsancetine caps 250 mg
Trifed ½ tab
M f pulv No IX
Da in caps
Sprn1
Pro: Joyce 12 th ( 25 kg )
3. Tentukan apakah resep melebihi DM atau
tidak
R/ Amoxsan F dry syrup I
M f potio
S t d d I cth
Pro: Laila Magdalena 8 th
BB= 20 kg
4. Tentukan apakah resep melebihi DM atau
tidak
R/ Amoksisilin 200 mg
Pct 250 mg
Mf pulv dtd No XII
S. 3 dd pulv I
Pro : Anita 6 th
5
6
7

Dr. T., Sp.PDSIP. No. 258/K/87Jln. Budi


Kemulyaan No. 8, Telp. (0380) 789101 Palu,
Sulawesi Tengah

4 Mei 2015
R/
Acetosal 0,050
Luminal 0,010
SL q.s
m.f.pulv.dtd. No. XV
S.3.dd. pulv I

Pro : Ali (9 bulan) Jln. Mawar No. 2


8 R/ Paracetamol Syr. Flc I
S…………………………..

Pro : Silvia (10 Tahun)

Soal
1. Bila dosis satu kali untuk anak adalah 6,25
mg/KgBB, maka dosis untuk anak dengan BB
Ket : Volume 1 Flc. Pct 24 Kg adalah….
60 ml. Tiap sendok the 2. Takaran obat dari reep diatas yang sesuai
mengandung 50 mg pct. untuk anak 24 kg adalah…..
3. Bila aturan pakai tiga kali tiga sendok the
sesudah makan maka penulisan signanya
adalah………
4. Bila aturan minum obat sehari empat kali satu
sendok the maka pengobatan berlangsung
selama …..hari
9

R/ Efedrin Hcl O,2 mg


Syrupus simplex 10 ml
m.f. Pot 100 ml
S 2.dd cth I
Pro : Rifki (20 kg)

DM sekali =0,05
DM sehari =015