Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SEJARAH MINAT

“ MASA KOLONIAL DI INDONESIA “

GURU PEMBIMBING
DIAN PURNAMA, S.Pd.I

PENULIS
TIARA DWI FEBRIANTI

KELAS X. IPS 2

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1


MUARA BUNGO
T.A 2021/2022

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmatnya-lah maka kami bisa menyelesaikan
makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah tentang
“Perlawanan Terhadap Kolonialisme Belanda”, yang menurut kami dapat
memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari berbagai sejarah
tentang cikal bakal Bangsa Indonesia dan bisa mengetahui perjuangan dari
rakyat-nya itu sendiri.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Dengan ini, kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa
terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat untuk semua pihak. Amin.
Muara Bungo, 16 Oktober 2021
Penulis,

2i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Rumusam Masalah................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 2
A. Sistem Penyelenggaraan Pemerintah Pada Masa pra
Kemerdekaan........................................................................ 3
B. Masa Pendudukan Tentara Jepang .................................... 3
BAB III PENUTUP................................................................................. 8
A. Kesimpulan............................................................................. 8
B. Saran....................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 9

3ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Reformasi Sistem Penyelengaraan Pemerintahan daerah di Indonesia saat
ini sebelumnya mengalami pasang surut yang dimana ditandai dengan berbagai
kekurangan dan kelemahan praktek pemerintahan daerah di Indonesia
sepanjang sejarah. Kondisi pemerintahan daerah yang ada sekarang terbentuk
melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan, karena itu tidaklah
bijaksana iika kita meninggalkan aspek historis tersebut dalam memajukan
pemerintahan daerah. Minimal melalui pengalaman masa lalu pemerintahan
daerah dengan berbagai kelemahan dan kekurangan akan menjadi acuan dalam
memperbaiki dan menyempurnakan wajah pemerintahan daerah di masa depan.
Selama ini dapat dirumuskan beberapa paradigma pemerintahan daerah
di Indonesia. Paradigma pertama dalam kurun waktu 1903-1922 pengakuan
pemerintahan daerah dalam system pemerintahan Hindia Belanda. Paradigma
kedua dalam kurun waktu 1922-1942 Desentralisasi versi kolonial. Paradigma
ketiga dalam kurun waktu 1945-1959 mencari bentuk desentralisasi menuju
demokrasi. Paradigma keempat dalam kurun waktu 1959-1974 desentralisasi
yang dipaksakan. Paradigma kelima –Orde baru- dalam masa berlakunya UU
No. 5 Tahun 1974 Otonomi terbatas dan kecenderungan sentralistik dalam
pelaksanaannya. Paradigma keenam dalam era Reformasi saat ini yaitu dalam
masa berlakunya UU No. 22 Tahun 1999 yang dapat disebut era arus balik
kekuasaan pusat ke daerah. Dan saat ini dengan berlakunya UU No. 32 tahun
2004.

B. Rumusan Masalah
1. Sistem Penyelenggaraan Pemerintah Pada Masa Pra Kemerdekaan.
2. Masa Pendudukan Tentara Jepang

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Penyelenggaraan Pemerintah Pada Masa Pra Kemerdekaan
a. Sistem pemerintahan sentralis
Pada Tahun 1854 Staten General (Parlemen Kerajaan Belanda ) telah
menetapkan Regerings Reglement (disingkat R.R.), semacam UUD bagi
indonesia pada masa waktu itu. Berdasarkan R.R. tersebut pemerintahan
jajahan di Indonesia disusun secara sentralistis yang mana bahwa segala urusan
pemerintahan jajahan di Indonesia dipegang oleh Gubernur jenderal yang
bersemayam di Bogor atau oleh pejabat pemerintah Hindia Belanda yang
kuasakan oleh Gubernur Jenderal. System ini disusun sedemikian rupa,
sehingga segala urusan pemerintahan dikerjakan dan diatur oleh pegawai–
pegawai pemerintah Hindia Belanda yang bertanggungjawab kepada Gubernur
Jenderal yang bertindak selaku Mahkota Kerajaan Belanda.
Pada waktu ini daaerah Hindia Belanda dibagi atas Daerah-daerah
administrative yang dinamakan :
a. Gewest
b. Afdeling
c. Onderafdeling
d. Regentschap
e. District
f. Onderdistrikt
Masing-masing daerah tersebut dikepalai oleh pegawai Pamong Praja
Belanda yakni : Gouvernur atau Resident, Assisten Resident, Controleur,
gezaghebber, atau dikepalai oleh pegawai Pamong Praja Indonesia ; Regent,
wedana, assistant Wedana di jawa dan Madura, kepala distrik, kepala
onderdistrik di luar Jawa dan Madura. “daerah dikuasai langsung” tidak
mengenal Pesekutuan Bawahan yang mempunyai hak mengatur dan mengurus
rumah tangganya sendiri. Hanyalah Desa di jawa dan Madura dan persekutuan
Hukum Adat yang mempertahankan kedudukannya sebagai Persekutuan
Hukum Adat yang otonom. Pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis dalam
suatu daerah yang luas telah mengakibatkan terbelengkainya urusan-urusan

2
pemerintahan yang jauh dari pusat pemerintahan (Bogor) dan menyuburkan
tumbuhnya birokrasi dalam pemerintahan.
b. Sistem pemerintahan desentralisasi
Pada tahun 1893, untuk pertama kalinya rancangan undang-undang
desentralisasi diajukan oleh menteri Van Dedem kepada Tweede dari Staten
General yang mana akhirnya pada tahun 1903 berhasil diadakan perubahan
dalam pasal 68 R.R. atas usul Menteri Idenburg. Dengan Undang-undang
Desentralisasi tanggal 23 Juli 1903 (Staatsblad 1903 no. 329
“Decentralisatiewest”) telah merubah terhadap pasal 68 Regeringsreglement
(yang mengatur pembagian wilayah Hindia Belanda atas Gewesten dan
Gedeelten vab Gewesten ) dengan menambah 3 pasal baru (pasal 68a, 68b dan
68c)
Pasal-pasal baru tersebut memungkinkan untuk diadakannya Dewan-
Dewan Perwakilan Rakyat Lokal (Locale Raad) yang terdiri dari :
1. Gewstelijke Raad
2. Plaatselijike Raad
3. Gemeenteraad
Dewan–Dewan tersebut diberi hak untuk mengatur dan mengurus rumah
tangga wilayahnya masing-masing. Dalam perkembangannya desentralisasi
yang berdasarkan “decentralisatietwet”- 1903 tidak memuaskan maka dengan
Undang-Undang tanggal 6 Februari 1922 (Staatsblad 1922 No. 2216 tentang
Wetr op de bestuursher Vorming) telah diberi kemungkinan untuk
dekonsentrasi dan desentralisasi kekuasaan secara besar-besaran. Sejak tahun
1925, mula-mula diselenggarakn di Jawa–Madura kemudian di luar Jawa–
Madura diselenggarakan reorganisasi sistem pemerintahan local seluruhnya.
c. Alat Perlengkapan Pemerintahan Di Indonesia Pada Masa Penjajahan
I. Penjajahan Belanda
Alat – alat Perlengkapan Hindia Belanda menurut Indische Staatsregeling :
a. Gouverneur General (Gubernur Jenderal)
b. Pegawai tertinggi di Hindia Belanda adalah Gubernur Jenderal, selaku
wakil Raja (Onderkoning) mewakili pemerintah Belanda, disebut juga
Wali Negara (LandVoogd).

3
c. Diangkat oleh Raja atau Ratu Belanda dan mendapat usulan atau
pertimbangan Pengangkatan Gubernur Jenderal ditentukan Pula oleh
Menteri Penjajahan.
d. Masa jabatannya 5 Tahun
e. Gubernur Jenderal Harus Orang Belanda berumur ± 30 Tahun.
f. Memegang Sumpah Setia kepada Raja menurut segala perintahnya.
II. Pertanggungjawaban Gubernur Jenderal
a. Gubernur Jenderal hanya mempunyai pertanggungjawaban administrasi,
yaitu pertanggungjawaban sebagai pegawai negeri dalam menjalankan
pemerintahan.
b. Tidak mempunyai pertanggungjawaban politik terhadap Volkraad,
artinya Gubernur Jenderal tidak menentukan haluan politik Negara
sendiri. (hal ini tidak berlaku lagi setelah dikeluarkan sejak perubahan
Grondwet 1922)
III. Kekuasaan Gubernur Jenderal
a. G.J mempunyai 2 kekuasaan yaitu :
1. Uitvoerende (bestuurende) macht : yaitu kekuasaan untuk
menjalankan perundang-undangan.
2. Wetgevende (Regelende) macht, yaitu kekuasaan untuk membentuk
atau mengatur perundangan-undangan. Perundang-undangan seperti :
a. Wet
b. A.M.V.B (Algemene Maatregeling Van Bestuur)
c. Ordonannantic
d. Regerings Verordeningen
Sehubungan dengan itu termuat banyak pasal-pasal yang mengatur tugas
menjalankan pemerintahan yang tersimpul dalam (I.S) bagi Gubernur
Jenderal.
IV. Hak- hak Gubernur Jenderal.
1. Memberikan grasi (Recht Van Gratie) setelah mendapat nasehat dari
Hooggreeshof (Mahkamah Aagung Hindia Belanda).
2. Hak Exorbitant (hak luar biasa) dengan persetujuan Raad Van Indie
(semacam DPA) untuk melakukan hak-hak yang luar biasa yaitu :

4
a. Verbaning (Pembuangan)
b. Interneering (Pengasingan dalam Negeri)
c. Eksterneering (Pengasingan keluar Negeri)
Pelaksaan hak-hak ini dilakukan tanpa sepengetahuan hakim terlebih
dahulu. Orang-orang yang bersangkutan dengan tidak diadakan penuntutan
dimuka pengadilan dapat dibuang (diasingkan keluar negeri) oleh G.J.

B. Masa Pendudukan Tentara Jepang


Kemudian runtuhnya Hindia Belanda, yang ditandai dengan pendudukan
Jepang, Pemerintah Pendudukan Jepang di Indonesia pada tanggal 7 Maret
1942 mengeluarkan Undang-undang Nomor 1 tentang Pemerintahan yang akan
dilaksanakan Balatentara Jepang. Undang-undang ini merupakan peraturan
pokok tentang ketatanegaraan pada masa Pendudukan Jepang yang mengatur
bahwa Balatentara Jepang melaksanakan pemerintahan Militer untuk
sementara waktu di daerah yang dikuasainya agar ketertiban dan keamanan
segera tercipta. Pembesar Bala Tentara Jepang memegang kekuasaan militer
tertinggi dan juga segala kekuasaan yang dahulu berada di tangan Gubernur
Jendral. Semua badan Pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan undang-
undang dari pemerintah yang dahulu tetap diakui syah untuk sementara waktu
asalkan tidak berten-tangan dengan aturan Pemerintah Militer. Balatentara
Jepang juga akan menghormati kedudukan dan kekuasaan pegawai yang setia
kepada penguasa Jepang, begitu pula harta benda, jiwa yang syah dan agama
sekalian rakyat yang tidak berdosa.
Berdasarkan ketentuan tersebut nyatalah bahwa Balatentara Jepang akan
melanjutkan ketentuaan pemerintahan lama dengan alat-alat perlengkapannya
seperti Pangreh Praja tentu saja berjalan terus. Hal yang sama berlaku untuk
Jawatan vertikal seperti Jawatan pos, Polisi, Kereta Api, Pegadaian, dan
Pekerjaan Umum hanya saja pimpinan jawatan tersebut berada di tangan
militer Jepang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Wilayah Indonesia
dibagi atas tiga wilayah pemerintahan yaitu Pemerintah Militer Angkatan Darat
untuk Jawa dan Madura yang berkedudukan di Jakarta, pemerintahan Militer
Angkatan laut untuk Sumatra yang berkedudukan di Sumatra yang

5
berkedudukan di bukititnggi dan pemerintahan militer Angkatan laut untuk
Sulawesi, Borneo, Sunda Kecil, Maluku, dan Irian Barat yang berkedudukan di
Makasar. Pemerintahan Balatentara Jepang tidak dapat memikirkan tentang
penyelenggaraan pemerintahan lokal sebab perhatian mereka tercurah pada
mensukseskan perang Asia Timur Raya. Segala sesuatu yang mengangkut
pemerintahan diarahkan pada tujuan mereka yaitu mensukseskan perang
tersebut. Dalam menghadapi peperangan balatentara Jepang yang sedang
memuncak maka pemerintahan harus sentralistis oleh karena itu desentralisasi
harus ditiadakan.
Reorganisasi yang dilaksanakan oleh Balatentara Jepang adalah
melaksanakan Perubahan Tata Pemerintahan Daerah yang termuat dalam
Undang-undang tahun 1942 nomor 27. Menurut Undang-undang tersebut Pulau
Jawa dan Madura dibagi menjadi Daerah Syuu setaraf Karesidenan, Setiap
Syuu dibagi menjadi Ken atau Kabupaten dan Si setaraf Styadsgemeente.
Disamping itu ada Tokubetsu Si atau Stadsgemeente Luar Biasa, kota yang
istimewa yang ditunjuk oleh Gunseikan, Panglima Balatentara Jepang, yang
mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan
kebudayaan. Pada tingkat bawah ada Gun atau Distrik, Son atau Onder-Distrik,
dan Ku atau Desa. Daerah Swapraja atau berpemerintahan sediri seperti
Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta disebut Kooti. Selanjutnya
wilayah Propinsi dengan gubernurnya dihapus. Demikian pula Afdeeling dan
Asisten Residen.
Pada tahun 1943 ditetapkan bahwa Kentyoo atau Bupati sebagai Kepala
Wilayah di Kabupaten diwajibkan mengganti dan memegang kekuasaan yang
dahulu dipegang oleh Regentschaapraad dan College van Gecoominteerden san
Sityoo diwajibkan mengganti dan memegang kekuasaan yang dahulu dipegang
oleh Gemeenteraad dan College van Burgemeester en Wethouders. Hal ini
berarti bahwa kekuasaan dalam daerah yang mengurus rumahtangganya sendiri
yaitu Kabupaten dan kota diserahkan kepada seorang pejabat saja dan Dewan
yang ada dibekukan. Dengan demikian yang terjadi adalah pemerintahan
tunggal. Pemerintah Militer Jepang hanya menyelenggarakan bidang
dekonsentrasi. Syuutjoo kekuasaannya lebih besar dari seorang Residen pada

6
masa Kolonial Belanda. Karena ia mengerjakan tugas pemerintahan militer
sehari-hari di bawah pengawasan dan atas nama Gunseikan. Syuutjokan juga
diwajibkan membuat undang-undang yang terkenal dengan sebutan Syuurei
yang mengatur segala urusan di wilayahnya baik ketataprajaan, militer,
kepolisian, dan ekonomi. Sistem pemeintahan tunggal semacam itu
berlangsung sampai September tahun 1943. Pada tahun itu dibentuk dewan
baik di Pusat dan daerah yang bertugas memberi nasihat kepada pejabat
tunggal tersebut. Karena sebatas penasihat maka kebijakan Syuutyokan tak
bergeser karena ia menjalankan tugas atas nama Gunseikan. Terlebih lagi masa
itu situasi peperangan semakin memuncak. Dengan menyerahnya Balatentara
Jepang kepada Sekutu lenyaplah kekuasaan Balatentara Jepang yang
meninggalkan akibat buruk pada lapangan penge-tahuan dan pengurusan
rumah tangga daerah.
Maka secara mendadak pribumi menggantikan posisi-posisi yang semula
dipegang orang belanda. Mengingat Jepang yang sedang menghadapi perang
dengan sekutu maka sitem pemerintahannya pun disesuaikan dengan keadaan
perang. Perubahan fundamental terjadi di Jawa yaitu ketika Gunseireikan atau
Penguasa Militer di Jawa mengeluarkan Osamu Serei atau undang-undang
nomor 27 tahun 1942 tentang Pemerintahan Daerah, dengan Pembagian
Daerah, Karesidenan, yang membawahi beberapa Kabupaten/Regent. Dibawah
kentyoo terdapat pada Kepala GUN/Distrik, kemudian kepala Son/Onder
Distrik, kemudian Ku/Desa. Istilah RW dan RT merupakan unsur masyarakat
lokal (tidak di gaji) yang pertama kali di perkenalkan oleh Jepang Indonesia
dibagi dalam 3 wilayah besar yakni :
1. Daerah Jawa dan Madura yang dikuasai oleh Gunseikanbu jawa di Jakarta
2. Daerah Sumatera di kuasai Gunseikanbu Sumatera di Bukit tinggi
3. Daerah lainnya yang dikuasai oleh Minseibu yang bermarkas di Makasar
Semua daerah otonom dihapuskan oleh segala pemerintahan di daerah,
Kabupaten diserahkan kepada Kentyo – Kentyo dan shityo-shityo

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia tidak dapat lepas dari
pengaruh Hindia Belanda, sebagai negara modern pertama yang
memperkenalkan atau mewariskan sistem pemerintahan dan lembaga-lembaga
modern pada republik ini. Sejarah yang akan diuraikan dibawah ini, hanyalah
bersifat ringkasan realita pelaksanaan Pemerintahan Daerah sebagai pelaksana
tugas-tugas Pembantuan. Sekalipun telah terjadi beberapa kali pembaharuan
sistem pada birokrasi Pemerintahan Kolonial, secara substansial sebenarnya
tidak mengubah corak birokrasi pemerintah dalam berhubungan dengan publik.
Kecenderungan semakin tingginya peran pemerintah pusat (sentralisasi
kekuasaan) dalam profesi formulasi kebijakan pemerintah masih sangat
mewarnai sistem pemerintahan yang terbentuk.
Tumpang tindih antara fungsi eksekutif, legislatif, dan judikatif sangat
nyata dalam pemerintahan lokal pada masa kolonial. Ketidak jelasan fungsi
antara berbagai lembaga tersebut tampaknya memang disengaja agar
kederadaan dewan lokal yang di dalamnya terdapat Bumi Putera yang sudah
barang tentu menyuarakan kepentingan Bumi Putera dapat ditekan oleh
penguasa Eropa agar kemungkinan munculnya bibit gejolak dapat diredam.
Duduknya Gubernur dalam Provinciale Raden dan College van Gedeputeerden
membuat lembaga Perwakilan tersebut sekedar pelengkap saja bukan sebagai
lembaga perbantuan atau medebewind sebagaimana diinginkan. Mentalitas
kolonial dari penguasa ternyata masih menunjukkan bekasnya pada masa
kemerdekaan di mana lembaga legislatif seringkali justru menjadi alat
eksekutif dalam rangka memperkokoh posisinya agar tetap kokoh seperti yang
terjadi pada masa Orde Baru.

8
DAFTAR PUSTAKA

Nasution, S., Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika Offset, 1995

Suminto, Aqib, Politik Islam Hindia Belanda, PT Pustaka LP3ES, Jakarta, 1996

Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1997,

Pulung Septyoko. 2008. Pendidikan Pada Masa Kolonial


http://pikokola.files.wordpress.com/2008/11/pendidikan-masa-kolonial-
dan-sekarang.pdf diakses pada tanggal 16 November 2011