Anda di halaman 1dari 182

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

KAJIAN KETAKTERJEMAHAN PADA SUBTITLE BAHASA INDONESIA

DVD FILM THE SIMPSONS MOVIE

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan

Oleh:

M. ZAINAL MUTTAQIEN

S130907005

PROGRAM STUDI LINGUISTIK - MINAT UTAMA PENERJEMAHAN

PROGRAM PASCASARJANA - UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tesis dengan judul:

KAJIAN KETAKTERJEMAHAN PADA SUBTITLE BAHASA INDONESIA

DVD FILM THE SIMPSONS MOVIE

oleh:

M. Zainal Muttaqien
NIM: S130907005

telah disetujui dan disahkan oleh dosen pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D
NIP: 19600328 198601 1 001

Mengetahui

Ketua Program Studi Linguistik S2


Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Prof. Drs. MR. Nababan, M.Ed, M.A, Ph.D


NIP: 19630328 199201 1 001

commit to user

ii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PENGESAHAN OLEH TIM PENGUJI TESIS

Tesis yang berjudul:

KAJIAN KETAKTERJEMAHAN PADA SUBTITLE BAHASA INDONESIA


DVD FILM THE SIMPSONS MOVIE

Oleh:
M. Zainal Muttaqien
NIM: S130907005

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji Tesis:

Tanggal ............................
Tanda tangan

Ketua : Prof. Drs. MR. Nababan, M.Ed, M.A, Ph.D ..................................

Sekretaris: Dr. Tri Wiratno, M.A ..................................

Anggota 1: Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd ..................................

Anggota 2: Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D ..................................

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Linguistik S2


Universitas Sebelas Maret Universitas Sebelas Maret

Prof. Drs. Suranto, M.Sc, Ph.D Prof. Drs. MR. Nababan, M.Ed, M.A, Ph.D
NIP: 19570820 198503 1 004 NIP: 19630328 199201 1 001

commit to user

iii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama : M. Zainal Muttaqien

NIM : S130907005

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul KAJIAN

KETAKTERJEMAHAN PADA SUBTITLE BAHASA INDONESIA DVD FILM

THE SIMPSONS MOVIE ini adalah benar-benar merupakan karya saya sendiri.

Bagian-bagian di dalam tesis ini yang bukan merupakan karya saya, telah diberi

tanda/anotasi dan disebutkan sumbernya di halaman Daftar Pustaka. Apabila di

kemudian hari terbukti pernyataan saya ini tidak benar, maka saya bersedia

menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Surakarta, 9 September 2011

Yang membuat pernyataan

M. Zainal Muttaqien

commit to user

iv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

MOTTO

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi


pena dan lautan menjadi tinta, ditambahkan kepadanya
tujuh lautan lagi setelah keringnya, niscaya tidak akan
habis-habisnya dituliskan kalimat-kalimat Allah.
(QS Luqman: 27)

commit to user

v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN

Dengan tulus ikhlas kupersembahkan tesis ini untuk:

- Bapak dan Ibuku yang telah merawat dan membesarkanku

- Saudara-saudaraku yang telah menemaniku dalam suka maupun duka

- Istri dan anakku yang telah melengkapi hidupku.

commit to user

vi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt karena

dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul

Kajian Ketakterjemahan pada Subtitle Bahasa Indonesia DVD Film The

Simpsons Movie ini dengan baik dan lancar.

Terselesaikannya penulisan tesis ini tak lepas dari saran, bimbingan,

bantuan, dorongan dan dukungan dari berbagai pihak, baik moral maupun

material, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada

kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang

setinggi-tinginya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. H. Syamsul Hadi Sp.K.J (K), mantan Rektor UNS,

Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi M.S sebagai Rektor UNS, dan Bapak

Prof. Drs. Suranto, M.Sc, Ph.D selaku Direktur Program Pascasarjana

UNS yang telah berkenan memberi kesempatan kepada penulis untuk

mengikuti perkuliahan di Program Pascasarjana Program Studi

Linguistik S2 Minat Utama Penerjemahan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

2. Bapak Prof. Drs. MR. Nababan M.Ed, M.A, Ph.D selaku Ketua Program

Studi Lingustik S2 yang telah banyak memberikan motivasi edukatif dan

bantuan administratif kepada penulis, terutama rekomendasi untuk

mendapatkan bantuan biaya pendidikan.

commit to user

vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3. Bapak Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd selaku Dosen

Pembimbing I dan Bapak Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D selaku Dosen

Pembimbing II yang dengan sabar dan teliti telah memberikan petunjuk,

saran, dan masukan pada proses perencanaan, pelaksanaan, maupun

penulisan laporan penelitian.

4. Ibu Hj. Lilik Untari, S.Pd, M.Hum, Bapak Drs. Rombe Mustajab,

M.Hum, dan Bapak Danial Hidayatullah, S.S, M.Hum, masing-masing

selaku narasumber penelitian yang telah berkenan untuk mengisi

kuesioner dan meluangkan waktu untuk diwawancara dalam proses

pengumpulan data penelitian ini.

5. Bapak dan Ibu dosen Program Pascasarjana UNS yang telah berkenan

mendidik dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada penulis

selama menempuh studi S2.

6. Segenap staf administrasi Program Pascasarjana UNS yang dengan sabar

dan telaten telah membantu melayani penulis menyelesaikan berbagai

urusan administrasi perkuliahan.

7. Semua teman-teman kuliah terutama dari Program Studi Linguistik S2

angkatan 2007 yang telah banyak membantu dalam memahami materi,

mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, dan memberikan dorongan kepada

penulis untuk menyelesaikan penulisan tesis ini.

8. Bapak dan Ibu dosen serta rekan-rekan mahasiswa angkatan 2007 dan

2008 yang telah menghadiri seminar proposal dan memberikan saran-

saran untuk perbaikan rancangan penelitian ini.

commit to user

viii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

9. Istri dan anakku tercinta yang telah memberikan dorongan dan motivasi

kepada penulis untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini.

10. Semua pihak yang telah membantu selesainya penulisan tesis ini yang

tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran

dari semua pihak demi perbaikan hasil penelitian ini.

Wassalamualaikum wr. wb.

Surakarta, 9 September 2011

Penulis

M. Zainal Muttaqien

commit to user

ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

Judul/Subjudul Halaman

Persetujuan Pembimbing ii

Pengesahan oleh Tim Penguji Tesis iii

Pernyataan iv

Motto v

Persembahan vi

Kata Pengantar vii

Daftar Isi x

Daftar Bagan xiii

Daftar Tabel xiv

Daftar Lampiran xvi

Daftar Singkatan xvii

Abstrak xviii

Abstract xix

BAB I : PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 8

1.3 Pembatasan Masalah 8

1.4 Tujuan Penelitian 9

1.5 Manfaat Penelitian 9

BAB II : KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR PENELITIAN 12

2.1 Penerjemahan 12

commit to user

x
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

2.1.1 Kesepadanan dan Ketidaksepadanan 15

2.1.2 Ketakterjemahan 20

2.2 Tata Cara Penerjemahan 24

2.2.1 Metode Penerjemahan 24

2.2.2 Prosedur Penerjemahan 26

2.2.3 Teknik Penerjemahan 28

2.3 Penerjemahan Dialog Film 34

2.3.1 Dubbing (Sulih Suara) 34

2.3.2 Subtitling 36

2.4 Media Simpan Film 42

2.4.1 Rol Film dan Videotape 42

2.4.2 Laserdisc dan VCD 43

2.4.3 DVD 44

2.5 Film Animasi 46

2.5.1 Serial The Simpsons 48

2.5.2 Film The Simpsons Movie 50

2.6 Kerangka Pikir Penelitian 53

2.7 Penelitian yang Relevan 55

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 58

3.1 Rancangan Penelitian 58

3.2 Alat Penelitian 59

3.3 Sumber Data 60

3.4 Teknik Cuplikan 63

3.5 Teknik Pengumpulan Data 63

commit to user

xi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3.6 Validasi Data 66

3.7 Analisis Data 67

3.8 Prosedur Penelitian 70

BAB IV : TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 72

4.1 Temuan Penelitian 72

4.1.1 Tabulasi Data Ketakterjemahan Leksikal 75

4.1.2 Tabulasi Data Ketakterjemahan Struktural 82

4.1.3 Tabulasi Data Ketakterjemahan Budaya 86

4.2 Pembahasan 91

4.2.1 Analisis Data Ketakterjemahan Leksikal 91

4.2.2 Analisis Data Ketakterjemahan Struktural 123

4.2.3 Analisis Data Ketakterjemahan Budaya 131

BAB V : PENUTUP 159

5.1 Simpulan 159

5.2 Implikasi 161

5.3 Saran 161

Daftar Pustaka 164

Lampiran 1: Klasifikasi Data Ketakterjemahan

Lampiran 2: Rekapitulasi Data dari Narasumber

commit to user

xii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR BAGAN

Bagan Halaman

1: Proses penerjemahan menurut Nida dan Taber 12

2: Proses penerjemahan menurut Zuchridin dan Sugeng 13

3: Metode penerjemahan menurut Newmark 16

4: Alur penelitian ketakterjemahan 57

5: Pengkodean data penelitian 70

commit to user

xiii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1: Klasifikasi Data Ketakterjemahan 74

2: Jenis Ketakterjemahan 75

3: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan 75

4: Data Ketakterjemahan Leksikal 1 77

5: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 1 77

6: Data Ketakterjemahan Leksikal 2 78

7: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 2 78

8: Data Ketakterjemahan Leksikal 3 79

9: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 3 79

10: Data Ketakterjemahan Leksikal 4 80

11: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 4 80

12: Data Ketakterjemahan Leksikal 5 80

13: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 5 81

14: Data Ketakterjemahan Leksikal 6 81

15: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 6 82

16: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Leksikal 82

17: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 83

18: Data Ketakterjemahan Struktural 1 84

19: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural 1 85

20: Data Ketakterjemahan Struktural 2 85

21: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural 2 86

22: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Struktural 86


commit to user

xiv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

23: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural 86

24: Data Ketakterjemahan Budaya 1 87

25: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 1 88

26: Data Ketakterjemahan Budaya 2 88

27: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 2 88

28: Data Ketakterjemahan Budaya 3 89

29: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 3 89

30: Data Ketakterjemahan Budaya 4 90

31: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 4 91

32: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Budaya 91

33: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 92

commit to user

xv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1: Klasifikasi Data Ketakterjemahan 6 hlm

2: Rekapitulasi Data dari Narasumber 9 hlm

commit to user

xvi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR SINGKATAN

BSu : Bahasa Sumber

BSa : Bahasa Sasaran

L1 ... : (Ketakterjemahan) Leksikal 1 ...

S1 ... : (Ketakterjemahan) Struktural 1...

B1 ... : (Ketakterjemahan) Budaya 1...

No : Nomor

Mcm : Macam

Frek : Frekuensi

Prsn : Persentase

Jml : Jumlah

S : Setuju

N : Netral

TS : Tidak Setuju

V : Validitas

Y : Ya

T : Tidak

commit to user

xvii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

M. Zainal Muttaqien. NIM: S130907005. Kajian Ketakterjemahan pada Subtitle


Bahasa Indonesia DVD Film The Simpsons Movie. Tesis. Surakarta: Minat Utama
Penerjemahan, Program Studi Linguistik, Program Pascasarjana, Universitas
Sebelas Maret, September 2011
Ketakterjemahan merupakan kejadian yang umum dan bisa dikatakan
sebagai masalah utama dalam proses penerjemahan dari bahasa satu ke bahasa
yang lain. Catford membedakan ketakterjemahan menjadi ketakterjemahan
linguistik dan ketakterjemahan budaya Kemudian, ketakterjemahan lingustik
masih bisa dibedakan lagi menjadi ketakterjemahan leksikal dan ketakterjemahan
struktural. Newmark, Baker, dan Zuchridin/Sugeng juga berpendapat bahwa ada
sejumlah istilah/ungkapan tertentu dari satu bahasa yang tidak bisa diterjemahkan
secara tepat ke dalam bahasa lain baik karena perbedaan tata bahasa maupun
perbedaan budaya.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif dengan studi kasus
terpancang yang bertujuan mendeskripsikan kejadian ketakterjemahan dalam
penerjemahan dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia pada subtitle DVD
film The Simpsons Movie berdasarkan teori-teori di atas. Secara lebih rinci,
penelitian ini berupaya menemukan jenis-jenis, faktor-faktor penyebab, dan teknik
penerjemahan yang diterapkan berkaitan dengan ketakterjemahan pada subjek
penelitian tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ketakterjemahan muncul
pada subjek penelitian. Data yang diperoleh (kata, frasa, dan kalimat) kemudian
dikelompokkan ke dalam ketakterjemahan leksikal, ketakterjemahan struktural,
dan ketakterjemahan budaya sesuai dengan landasan teori. Selain itu ditemukan
pula berbagai faktor penyebab pada masing-masing jenis ketakterjemahan.
Ketakterjemahan linguistik leksikal dan struktural masing-masing dipengaruhi
oleh enam dan dua faktor penyebab, sedangkan ketakterjemahan budaya memiliki
empat faktor penyebab. Hasil penelitian juga menunjukkan diterapkannya
berbagai teknik penerjemahan oleh penerjemah untuk menerjemahkan
istilah/ungkapan yang mengandung ketakterjemahan. Dalam hal ini penerjemah
menggunakan setidaknya sebelas teknik penerjemahan sebagaimana
diklasifikasikan oleh Molina dan Albir.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan andil dalam
memperkaya kajian ilmu penerjemahan dan bermanfaat bagi semua pihak
terutama bagi yang berminat dan yang berkecimpung di bidang penerjemahan.

commit to user

xviii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRACT

M. Zainal Muttaqien. NIM: S130907005. An Analysis of Untranslatability in the


Indonesian Subtitle of The Simpsons Movie Film DVD. Thesis. Surakarta:
Postgraduate Program in Linguistics Majoring in Translation, Sebelas Maret
University, September 2011
Untranslatability is a common phenomenon in translation. It may be the
main problem in the process of translation from one language to the other. Catford
distinguishes untranslatability into two types i.e. linguistic and cultural
untranslatability. The former is further be subdivided into lexical and structural
untranslatability. Newmark, Baker, dan Zuchridin/Sugeng also state that certain
terms/utterances may be untranslatable from a language to the other due to the
grammatical or cultural differences between the two.
This research applies descriptive-qualitative method with an embedded
case-study design aimed at describing the occurrence of untranslatability in the
translation from English into Indonesian in the subtitle of The Simpsons Movie
DVD film based on the theories above. It specifically attempts to find out the
types appearing, the factors influencing, and the translation technique applied
dealing with the untranslatability in the research subject.
Research findings show that all the types of untranslatability appear on the
research subject. Here, the researcher classifies all the data found (words, phrases,
and sentences) into three typess i.e. lexical, structural, and cultural
untranslatability in line with the underlying theories. There are also different
factors causing the untranslatability within each type. Lexical and structural
linguistic untranslatability are caused by six and two factors respectively.
Meanwhile, cultural untranslatability has four causal factor. Another finding
proves that the translator uses various translation techniques to translate the
linguistic units indicating untranslatability. In this case, the translator applies at
least eleven kinds of translation techniques as classified by Molina and Albir.
The result of this research is expected to give contribution in enriching the
studies on translation and be beneficial to all parties concerning with and
involving in the translation field.

commit to user

xix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial, setiap manusia

terdorong untuk melakukan interaksi dengan sesamanya, baik yang dari dalam

kelompok maupun dari luar kelompoknya. Akan tetapi adanya perbedaan bahasa

yang merupakan konsekuensi dari adanya pengelompokan di dalam masyarakat

telah mengakibatkan timbulnya hambatan antarkelompok masyarakat yang

berbeda untuk berinteraksi satu sama lain. Hal ini karena proses interaksi

memerlukan komunikasi di mana bahasa menjadi instrumen utamanya,

sebagaimana diutarakan oleh Keraf (1984) bahwa bahasa ialah sistem tanda bunyi

yang disepakati untuk dipergunakan oleh anggota kelompok masyarakat tertentu

dalam bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

Sesungguhnya hambatan dalam berinteraksi tersebut dapat diatasi

apabila masing-masing atau salah satu pihak yang berkomunikasi tersebut

menguasai bahasa lawan komunikasinya. Atau dengan kata lain menguasai dua

atau lebih bahasa (bilingual/multilingual). Harimurti (2005: 4) menyatakan bahwa

keberadaan suatu bahasa sebagai alat komunikasi dilatarbelakangi adanya

kesepakatan di antara para pemakainya. Apabila ada orang di luar kelompok

pemakai bahasa ini ingin ikut menggunakan maka ia harus mempelajarinya.

Namun, cara demikian ini tidak dapat diharapkan sepenuhnya mengingat begitu

banyak dan beranekaragamnya bahasa yang ada, atau yang harus dikuasai,

sehingga tidak banyak orang yang mampu untuk mencapainya. Bahasa

mempunyai variasi-variasi karena bahasa itu dipakai oleh kelompok manusia


commit to user

1
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

untuk bekerja sama dan berinteraksi dan karena kelompok manusia itu banyak

ragamnya yang berinteraksi dalam berbagi lapangan kehidupan dan

mempergunakan bahasa untuk berbagai keperluan (Harimurti, 2005: 5).

Cara lain yang lebih efektif dalam upaya mengatasi masalah dalam

komunikasi antar bahasa adalah dengan penerjemahan (translation), yaitu suatu

proses pengubahan ucapan atau tulisan dari bahasa satu (bahasa sumber) ke

bahasa lain (bahasa sasaran) (Richards dkk, 1985: 299). Penerjemahan ini bisa

diibaratkan sebagai suatu jembatan komunikasi antara dua pihak yang berbeda

bahasa. Proses komunikasi melalui perjemahan ini selain melibatkan dua pihak

yang berkomunikasi juga melibatkan pihak ketiga, yaitu penerjemah, sebagai

mediator. Melalui penerjemahan proses komunikasi tetap bisa berlangsung, di

mana penerima pesan dapat menangkap isi pesan meskipun yang bersangkutan

tidak menguasai bahasa yang dipakai oleh pengirim pesan. Hal demikian bisa

terjadi ini karena peranan penerjemah yang telah mengubah bahasa pesan dari

bahasa pengirim pesan ke bahasa penerima pesan.

Keberadaan penerjemahan sebagai suatu cara mengatasi masalah

komunikasi antarbahasa ini dimungkinkan karena adanya kesemestaan bahasa

(language universals), yaitu kesamaan sifat antara bahasa yang satu dengan

bahasa yang lain, sehingga unsur-unsur di antara bahasa-bahasa tersebut dapat

saling dipadankan atau digantikan. Chomsky (1965) berpendapat bahwa manusia

di dunia ini pada dasarnya mempunyai bahasa yang sama. Setidaknya pada waktu

manusia diciptakan pertama kali, bahasanya hanyalah satu. Setelah manusia

berpencar dan mendiami tempat yang berlainan di dunia, maka bentuk dan tata

bahasa mereka jadi berlainan. Bukti-bukti adanya kesemestaan bahasa ini tampak

commit to user

2
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

pada kesamaan tahap serta alat pemerolehan bahasa pada setiap anak manusia dan

memungkinkannya pernyataan dari satu bahasa untuk diungkapkan

(diterjemahkan) ke dalam bahasa yang lain. (Soepomo, 2008:3).

Namun di sisi lain tiap-tiap bahasa juga memiliki perbedaan atau

keunikan sendiri-sendiri yang diistilahkan dengan keberagaman bahasa (language

variation). Secara garis besar ragam bahasa dapat dibedakan menurut pemakai

(the uses) dan pemakaiannya (the users) dan dipengaruhi oleh aspek-aspek di luar

bahasa, seperti kelas sosial, jenis kelamin, etnisitas, adan umur (Suhardi dan

Sembiring, 2005: 48). Keberagaman bahasa ini ditandai dengan adanya unsur-

unsur dari bahasa satu yang tidak memiliki padanan pada bahasa lain. Kondisi

semacam ini menimbulkan masalah dalam proses penerjemahan, karena inti dari

penerjemahan adalah menemukan padanan kata dari bahasa satu ke bahasa yang

lain. Jadi dapat dikatakan bahwa kendala dalam berkomunikasi sebagai dampak

dari adanya perbedaan bahasa memang tidak dapat secara mutlak diatasi dengan

penerjemahan karena ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan suatu unsur

bahasa (kata, frasa, atau kalimat) tidak dapat diterjemahkan secara tepat ke dalam

bahasa yang lain. Keadaan semacam ini dinamakan ketakterjemahan

(untranslatability).

Sejalan dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, proses

penerjemahan pun ikut berkembang pada berbagai bidang. Penerjemahan tidak

lagi hanya dilakukan pada komunikasi yang sifatnya langsung, tetapi sudah

diterapkan pada berbagai media, seperti film. Di bidang perfilman penerjemahan

sangat bermanfaat dalam membantu proses pemasaran dan pendistribusian karya

film ke seluruh penjuru dunia. Apabila dilengkapi dengan terjemahan dialognya,

commit to user

3
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

film yang diproduksi di suatu negara atau wilayah tertentu dengan dialog bahasa

setempat akan dapat dinikmati oleh penonton dari negara atau wilayah lain yang

bahasanya yang berbeda. Penerjemahan dialog dalam film setidaknya bisa

dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama berupa sulih suara (dubbing), yaitu

mengganti suara asli dalam bahasa sumber (BSu) dengan suara pengganti dalam

bahasa sasaran (BSa). Kemudian cara yang kedua adalah subtitling, yaitu

menerjemahkan dialog dalam film dengan tulisan atau teks pada bagian bawah

layar. Kini, seiring dengan perkembangan teknologi dalam satu keping disc dapat

disimpan subtitle dari beberapa bahasa sekaligus.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penerjemahan secara

umum seringkali juga ditemui dalam penerjemahan khusus film ini. Keadaan bisa

dimaklumi karena film sendiri merupakan refleksi atau penggambaran dari

kehidupan nyata (Monaco, 2000: 262). Oleh karena itu masalah-masalah yang ada

dalam kehidupan nyata dengan sendirinya juga akan muncul di dalam adegan

film. Masalah ketakterjemahan yang banyak dihadapi oleh penerjemah umum

juga dihadapi oleh penerjemah film. Apabila yang pertama berhadapan dengan

teks, buku, pidato ataupun percakapan sehari-hari maka yang kedua berhadapan

dengan ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh karakter-karakter di dalam film.

Pada intinya masalah ketakterjemahan, baik pada penerjemahan secara

umum maupun penerjemahan film, dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu

perbedaan tata bahasa antara BSu dengan BSa dan perbedaan budaya antara

penutur BSu (karakter di film) dan penutur BSa (penonton film). Perbedaan tata

bahasa pada pokoknya terletak pada perbedaan struktur kalimat dan

perbendaharaan kata pada tiap-tiap bahasa, sedangkan perbedaan budaya tampak

commit to user

4
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dengan adanya ungkapan-ungkapan khas pada satu bahasa yang tidak dapat

ditemukan pada bahasa yang lain. Munculnya ungkapan-ungkapan semacam ini

sifatnya situasional dan kondisional, yaitu terkait dengan pengalaman dan

lingkungan hidup penutur bahasa bersangkutan.

Film-film yang diproduksi pada masa sekarang ini pada umumnya telah

dilengkapi dengan subtitle, terutama apabila pemasarannya sampai ke luar negeri.

Salah satu film yang memanfaatkan teknologi subtitle adalah film The Simpson

Movie. The Simpson Movie adalah film animasi yang merupakan versi layar lebar

dari serial televisi The Simpsons yang sangat populer pada dekade 90-an. Serial ini

menceritakan kehidupan sebuah keluarga kelas menengah Amerika yang terdiri

dari suami istri Homer dan Marge beserta ketiga anak mereka, yaitu Bart, Lisa,

dan Maggie.

Tema-tema yang diangkat The Simpsons banyak mewakili isu-isu sosial

yang sedang hangat sehingga membuat serial ini menjadi sangat popular

sekaligus kontroversial. Kepopularan serial ini ditandai banyaknya stasiun televisi

yang ikut menayangkan, sementara di sisi lain ada sebagian episode yang dicekal

di Negara-negara tertentu karena dikhawatirkan akan memicu kontroversi. Serial

ini mengetengahkan hampir semua aspek kehidupan masyarakat Amerika, dari

persoalan lingkungan, politik, kehidupan rumah tangga, ras, kesehatan, agama,

kapitalisme, manipulasi media, psikologi, kekerasan, agen rahasia, mafia, bahkan

masalah homoseksualitas (Danial, 2009). Kompleksitas tema ini menjadikan serial

The Simpsons berbeda dengan film kartun lain yang biasanya ditujukan bagi anak-

anak. The Simpsons lebih cocok untuk konsumsi orang dewasa.

commit to user

5
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Aktualitas serial The Simpsons (maupun The Simpsons Movie) dengan

kehidupan nyata tidak hanya terletak pada tema ceritanya saja, namun juga

tercermin pada bahasa yang digunakan. Dialog-dialog yang berlangsung

antarkarakter dalam film tersebut juga merepresentasikan bahasa percakapan yang

banyak dipakai masyarakat setempat pada saat itu. Dialog-dialog dalam film ini

kadangkala menggunakan ragam bahasa Inggris-Amerika informal sehingga di

dalamnya banyak terlontar ungkapan-ungkapan khas Amerika yang tidak baku,

bahkan cenderung kasar, seperti misalnya: If you ask me, everybody in this theater

is a giant sucker! atau Excuse me. My heinie is dipping. Ungkapan seperti giant

sucker dan heinie ini tidak akan kita temukan dalam Bahasa Inggris baku.

Pemakaian ragam bahasa yang tidak baku seperti di atas menimbulkan

masalah tersendiri dalam pengisian subtitle film The Simpsons Movie dalam

bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia, karena adanya ungkapan-ungkapan yang

sulit atau bahkan tidak bisa diterjemahkan sama sekali sebagai akibat tidak

ditemukannya kata atau ungkapan yang sepadan pada bahasa sasaran. Untuk

menerjemahkan kata heinie misalnya, penerjemah akan mengalami kesulitan

karena di kamus umum tidak ada entri untuk kata ini. Begitu pula untuk frasa

giant sucker, meskipun terdapat padanan untuk masing-masing kata penyusunnya,

apabila keduanya digabung artinya, yaitu pengisap raksasa, justru tidak berterima

dalam bahasa sasaran. Demikianlah, dalam subtitle film ini terlihat adanya

berbagai bentuk ketakterjemahan. Dalam hal ini, penerjemah biasanya

menggunakan teknik penerjemahan tertentu untuk menyelesaikan masalah

ketakterjemahan tersebut. Hal ini akan tampak apabila kita membandingkan

commit to user

6
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

subtitle film ini dengan bahasa sumbernya, yaitu dialog antarkarakter di film

tersebut.

Adanya fenonema di atas membuat penulis merasa tertarik dan

memandang perlu untuk melakukan penelitian mengenai aspek-aspek

ketekterjemahan pada subtitle Bahasa Indonesia film The Simpsons Movie. Sesuai

dengan tema yang diambil, penelitian ini penulis beri judul Kajian

Ketakterjemahan pada Subtitle Bahasa Indonesia DVD Film The Simpsons

Movie.

Alasan lain yang mendasari pemilihan tema di atas adalah masih

sedikitnya penelitian yang mengkaji masalah ketakterjemahan. Dari penelitian

sebelumnya yang mengkaji masalah serupa pada terjemahan buku The Forgotten

Queens of Islam karya Fatima Mernessi, ditemukan adanya fenomena

ketakterjemahan linguistik dan budaya sebagaimana diungkapkan Catford. Dalam

penelitian ini, peneliti berupaya mendeskripsikan ketakterjemahan dengan subjek

yang berbeda, yaitu subtitle film. Selain itu, dalam penelitian ini juga akan

ditelusuri hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketakterjemahan secara lebih

terperinci berikut cara-cara yang ditempuh oleh penerjemah untuk menyelesaikan

masalah-masalah ketakterjemahan tersebut. Kedua hal ini belum diungkap pada

penelitian tersebut.

Selain itu ada juga penelitian mengenai teknik penerjemahan pada

subtitle yang dilakukan oleh Fenty Kusumastuti dengan judul Analisis Kontrastif

Subtitling dan Dubbing dalam film kartun Dora The Explorer: Kajian Teknik

Penerjemahan dan Kualitas Terjemahan. Meskipun sama-sama mengkaji teknik

penerjemahan pada subtitle, berbeda dengan penelitian ini, penelitian tersebut

commit to user

7
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

tidak mengkaji masalah ketakterjemahan dan lebih fokus pada perbandingan

kualitas terjemahan antara subtitle dan dubbing.

1.2 Rumusan Masalah

Pokok-pokok permasalahan yang menjadi pertanyaan dalam penelitian

mengenai ketakterjemahan pada subtitle Bahasa Indonesia DVD film The

Simpsons Movie ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis-jenis ketakterjemahan apa sajakah yang terdapat pada subtitle

Bahasa Indonesia DVD film The Simpsons Movie?

2. Teknik penerjemahan apakah yang diterapkan penerjemah untuk

berkaitan dengan adanya ketakterjemahan pada subtitle Bahasa

Indonesia DVD film The Simpsons Movie?

3. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya ketakterjemahan

pada subtitle Bahasa Indonesia DVD film The Simpsons Movie?

1.3 Pembatasan Masalah

Agar penelitian mengenai ketakterjemahan pada subtitle Bahasa

Indonesia DVD film The Simpsons Movie ini terfokus dan terjaga validitasnya

maka diperlukan pembatasan terhadap permasalahan yang akan diteliti. Dalam

penelitian ini, yang dijadikan objek penelitian adalah masalah ketakterjemahan di

dalam penerjemahan. Penerjemahan yang dimaksud di sini adalah penerjemahan

dari Bahasa Inggris, sebagai bahasa sumber (BSu), ke dalam Bahasa Indonesia,

sebagai bahasa sasarannya (BSa). Kemudian jenis materi terjemahan yang diteliti

adalah subtitle, yaitu teks atau tulisan yang ditampilkan di bagian bawah layar

sebagai hasil penerjemahan dari ucapan-ucapan karakter yang ada pada gambar.

commit to user

8
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian atau sumber data penelitian ini

adalah DVD film The Simpsons Movie keluaran tahun 2007 yang diedarkan di

Indonesia oleh Magix Eyes/PT Magix Tama Etika.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian mengenai ketakterjemahan pada subtitle Bahasa Indonesia

DVD film The Simpsons Movie ini bertujuan untuk menjawab berbagai

permasalahan sebagaimana telah disebutkan dalam rumusan masalah. Tujuan

penelitian ini selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi adanya ketakterjemahan pada subtitle Bahasa

Indonesia DVD film The Simpsons Movie.

2. Menjelaskan teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah

berkaitan dengan adanya ketakterjemahan pada subtitle Bahasa

Indonesia DVD film The Simpsons Movie.

3. Menunjukkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya

ketakterjemahan pada subtitle Bahasa Indonesia DVD film The

Simpsons Movie.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian mengenai ketakterjemahan pada subtitle Bahasa Indonesia

DVD film The Simpsons Movie diharapkan bermanfaat, baik secara teoretis

maupun praktis, bagi ilmu pengetahuan, pembaca, maupun masyarakat pada

umumnya umum.

commit to user

9
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah

ilmu penerjemahan, khususnya kajian mengenai ketakterjemahan, dengan

kontribusi sebagai berikut:

1. Menambah referensi kajian penerjemahan, khususnya untuk pokok

bahasan ketakterjemahan, dengan subjek berupa subtitle film di samping

kajian dengan subjek buku-buku terjemahan yang sudah ada. Secara

spesifik, referensi yang disumbangkan oleh penelitian ini berupa dengan

contoh kasus ketakterjemahan dengan pokok bahasan mengenai jenis,

teknik penerjemahan, dan faktor-faktor penyebabnya

2. Memberikan paparan yang lebih luas, terperinci, dan mendalam

mengenai hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketakterjemahan dalam

penerjemahan untuk melengkapi beberapa yang sudah ada pada teori-

teori terdahulu mengenai ketakterjemahan.

3. Memberikan gambaran mengenai hubungan antara ketakterjemahan,

sebagai masalah, dengan teknik penerjemahan sebagai cara untuk

menyelesaikannya (solusi) dalam proses penerjemahan.

Kemudian, secara praktis, hasil penelitian ini juga diharapkan

bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkaitan dan berkepentingan dengan bidang

penerjemahan, sebagai berikut:

1. Memberikan panduan kepada praktisi penerjemah untuk lebih berhati-

hati dan teliti dalam menerjemahkan sehingga masalah-masalah

ketakterjemahan dapat dihindari atau diselesaikan dengan baik.

commit to user

10
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

2. Memberikan bahan acuan atau perbandingan pada peneliti lain yang

akan melakukan penelitian dengan topik yang sama sehingga bisa

mendapatkan hasil penelitian yang lebih komprehensif.

3. Menjadi pelengkap atau penambah materi pembelajaran, khususnya

pada pokok bahasan mengenai penerjemahan, yang dapat dimanfaatkan

baik oleh pendidik maupun peserta didik dalam proses belajar-

mengajar.

commit to user

11
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR PENELITIAN

2.1 Penerjemahan

Istilah penerjemahan atau translation bukan lagi merupakan sesuatu

yang asing. Telah banyak definisi dikemukakan untuk menjelaskan arti kata

angat kompleks. Secara

ringkas, Catford (1980: 20) mengartikan penerjemahan sebagai penggantian

materi teks dari suatu bahasa dengan materi teks yang sepadan dari bahasa lain.

Senada dengan Catford, Newmark (1995: 5) mendefinisikan penerjemahan

sebagai suatu kegiatan mengubah makna suatu teks ke dalam bahasa lain sesuai

dengan maksud pengarang. Dari kedua definisi ini dapat kita simpulkan bahwa

penerjemahan itu adalah suatu aktivitas mengubah bahasa teks dari bahasa satu ke

bahasa yang lain.

Namun apabila kita kaji dari sudut pandang yang lebih luas,

sesungguhnya penerjemahan tidak sesederhana itu. Menurut Nida dan Taber

(1974: 33) penerjemahan itu terdiri dari tiga tahap yaitu analisis, transfer, dan

restrukturisasi, sebagaimana tampak pada diagram berikut ini:

A (SUMBER) B (PENERIMA)

(ANALISIS ) (RESTRUKTURISASI)

X Y
(TRANSFER )

Bagan 1: Proses penerjemahan menurut Nida dan Taber

commit to user

12
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Oleh Zuchridin dan Sugeng (2003: 19), pendapat Nida dan Taber

tersebut disempurnakan dengan ditambah satu tahapan lagi, yaitu evaluasi dan

revisi, sehingga proses penerjemahan tersebut menjadi seperti di bawah ini:

EVALUASI DAN REVISI

TEKS ASLI DALAM TEKS TERJEM AHAN


BSU DALAM BSA

ANALISIS / PROSES EKSTERNAL RESTRUKTURISASI/


PEMAHAMAN PENULISAN KEMBALI
PROSES INTERNAL

KONSEP , MAKNA, TRANSFER KONSEP , MAKNA,


PESAN DARI TEKS BSU PESAN DALAM BSA
PADANAN

Bagan 2: Proses penerjemahan menurut Zuchridin dan Sugeng

Dari beberapa definisi di atas terdapat kesan bahwa penerjemahan adalah

aktivitas yang berkaitan dengan tulisan atau teks saja. Akan tetapi sesungguhnya

media yang digunakan untuk mengalihkan pesan di dalam penerjemahan selain

berupa tulisan bisa juga berbentuk ucapan atau lisan sebagaimana dinyatakan oleh

Brislin (1976:1), yaitu penerjemahan adalah suatu pemindahan pikiran dan

gagasan dari satu bahasa (sumber), ke bahasa lain (sasaran), baik dalam bentuk

atau translation dipakai untuk menunjuk penerjemahan secara umum dan

penerjemahan tulis, sedangkan penerjemahan lisan diistilahkan dengan

interpreting . Oleh Shuttleworth

dan Cowie (1997: 83) istilah interpreting dipakai untuk menyebut penerjemahan

yang dilakukan secara lisan dari sumber yang berbentuk ucapan ataupun tulisan.
commit to user

13
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Sementara Nababan (1999: 140) membedakan penerjemahan (tulis) dan

pengalihbahasaan dari sifat hasilnya, yaitu terjemahan untuk dibaca sedangkan

alihbahasaan untuk didengarkan. Jadi yang digunakan sebagai acuan untuk

membedakan suatu kegiatan penerjemahan itu tulis dan lisan adalah cara atau

hasil penerjemahannya atau dengan kata lain menurut caranya secara garis besar

penerjemahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu penerjemahan tulis (translation)

dan pengalihbahasaan (interpreting).

Selain menurut caranya, penerjemahan juga dapat dibedakan menurut

bahasa yang digunakan. Pada umumnya, proses penerjemahan melibatkan dua

bahasa yang berbeda. Akan tetapi hal ini sebetulnya tidak mutlak, sebagaimana

pendapat Jakobson dalam Munday (2001: 5) tentang adanya tiga jenis

penerjemahan, yaitu:

1. Penerjemahan intrabahasa (rewording), yaitu penggantian antartanda

verbal dalam satu bahasa.

2. Penerjemahan antarbahasa (translation proper), yaitu penggantian

antartanda verbal dari dua bahasa yang berbeda.

3. Penerjemahan intersemiotik (transmutation), yaitu penerjemahan antara

tanda verbal dengan tanda non-verbal.

Di sini Jakobson memandang penerjemahan dari sudut pandang yang lebih luas

dengan melibatkan unsur-unsur non-verbal dan seperti tampak pada poin dua di

tas, penerjemahan yang kita pahami selama ini hanyalah merupakan salah satu

dari tiga jenis penerjemahan.

Meskipun penerjemahan itu berada dalam ruang lingkup bahasa, dalam

prosesnya unsur-unsur di luar bahasa seringkali juga berpengaruh. Bassnett-

commit to user

14
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

McGuire (1991: 13) menyatakan bahwa selain pengalihan makna secara linguistik

dengan menggunakan alat berupa kamus dan aturan-aturan tata bahasa, proses

penerjemahan juga melibatkan unsur-unsur lain di luar bahasa. Lebih lanjut

dinyatakan bahwa selain kesamaan isi (content) pesan, dalam penerjemahan juga

harus dipertimbangkan kesesuaian gaya (style) atau bentuk (form) bahasa.

Berkaitan dengan hal ini, Shi (2005) berpendapat bahwa di dalam bidang

penulisan, istilah style dibedakan dengan content, di mana style lebih menekankan

pada bentuk atau format. Dengan kata lain style

content

menerjemahkan juga dikemukakan oleh Nida (dalam Shi, 2005) yang menyatakan

bahwa penerjemahan adalah pengungkapan kembali pesan dari bahasa sumber ke

dalam bahasa sasaran dengan padanan yang sedekat dan sealamiah mungkin,

pertama dalam hal makna dan kedua dalam kaitannya dengan gaya.

2.1.1 Kesepadanan dan Ketidaksepadanan

Apabila kita pahami berbagai definisi penerjemahan di atas, maka

tampak bahwa kesepadanan (equivalence) antara materi sumber dengan materi

sasaran merupakan salah satu unsur penting dalam penerjemahan, sebagaimana

dinyatakan oleh Barnstone dalam Nababan (1999: 2003) bahwa masalah padanan

merupakan bagian inti dari teori penerjemahan dan praktek menerjemahkan

sebagai realisasi dari proses penerjemahan selalu melibatkan pencarian padanan.

Dapat dikatakan bahwa tercapainya kesepadanan merupakan tujuan penerjemahan

dan menjadi ukuran keberhasilan suatu proses penerjemahan. Kenny (dalam

Munday, 2001: 49) bahkan menyatakan bahwa kesepadanan adalah definisi dari

penerjemahan, begitu pula sebaliknya penerjemahan juga merupakan definisi dari


commit to user

15
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

kesepadanan. Meskipun demikian, definisi kesepadanan ini sesungguhnya masih

merupakan suatu hal yang diperdebatkan dan menimbulkan dikotomi

sebagaimana di dalam teori penerjemahan ada penerjemahan harfiah yang

mengutamakan kesepadanan dengan BSu dan ada penerjemahan bebas yang lebih

menekankan pada pemahaman pembaca BSa.

Perbedaan tingkat kesepadanan hasil terjemahan ini sangat bergantung

pada metode penerjemahan yang diterapkan. Menurut Newmark (1995: 45),

metode penerjemahan dapat dibagi ke dalam dua kutub, yaitu yang berpihak

kepada BSu dan yang berpihak pada BSa, sebagaimana tampak pada diagram di

bawah ini:

B ERPIHAK PADA BSU BERPIHAK PADA BSA


PENERJEMAHAN KATA-PER-KATA ADAPTASI

PENERJEMAHAN HARFIAH PENERJEMAHAN BEBAS

PENERJEMAHAN SETIA PENERJEMAHAN IDIOMATIS

PENERJEMAHAN SEMANTIS PENERJEMAHAN KOMUNIKATIF

Bagan 3: Metode penerjemahan menurut Newmark

Pada satu sisi, dengan mengacu pada kesemestaan bahasa, kesepadanan

dalam penerjemahan adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, sisi lain adanya

keberagaman bahasa menimbulkan anggapan bahwa kesepadanan yang mutlak

antarbahasa itu tidak ada sama sekali. Dari sini muncul berbagai pendapat

mengenai kesepadanan yang berujung pada mengemukanya berbagai teori

mengenai kesepadanan.

Dalam konteks penerjemahan bibel, Nida (dalam Hatim, 2001: 19),

membagi kesepadanan menjadi dua, yaitu kesepadanan formal (formal

equivalence) dan kesepadanan dinamis (dynamic equivalence). Kesepadanan


commit to user

16
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

formal menunjuk pada suatu kecenderungan di mana penerjemahan terfokus pada

isi dan bentuk pesan saja, sedangkan kesepadanan dinamis merujuk pada suatu

prosedur di mana pesan sumber disesuaikan sedemikian rupa dalam bahasa

sasaran sehingga apa yang dirasakan pembaca hasil terjemahan akan sama persis

dengan apa yang dirasakan oleh pembaca pesan asli.

Lebih lanjut Nida menyatakan bahwa prosedur dalam kesepadanan

dinamis mencakup:

1. Menggantikan unsur-unsur teks asli yang sulit dipahami dengan unsur-

unsur yang lebih mudah diterima dalam budaya pembaca teks sasaran

2. Memberikan keterangan tambahan untuk memperjelas bagian teks

sumber yang sifatnya implisit.

3. Menyederhanakan penyampaian pesan untuk mempermudah

pemahaman.

Salah satu contoh penerapan kesepadanan dinamis ini misalnya pada penggantian

istilah Lamb of God dengan Seal of God pada penerjemahan dari Bahasa Inggris

ke dalam Bahasa Eskimo.

Sementara itu dari sudut pandang yang agak berbeda, Popovich

membagi kesepadanan menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Kesepadanan linguistik, yaitu homogenitas (kesamaan) pada tataran

kebahasaan pada kedua teks (BSu dan BSa), misalnya terjemahan kata

per kata.

2. Kesepadanan paradigmatik, yaitu kesepadanan dalam unsur-unsur

ungkapan paradigmatik, misalnya kesepadanan unsur-unsur garamatikal,

yang dianggap lebih tinggi tingkatannya daripada kesepadanan leksikal.

commit to user

17
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3. Kesepadanan stilistik, yaitu kesepadanan fungsional antara unsur-unsur

bahasa sumber dengan bahasa sasaran.

4. Kesepadanan tekstual, yaitu kesepadanan dalam penyusunan suatu teks

secara sintagmatik (Bassnet-McGuire, 1991: 25).

Pendapat yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Koller melalui

istilah kerangka kesepadanan (framework of equivalence). Koller dalam Hatim

(2001: 28) berpendapat bahwa kesepadanan dalam penerjemahan dapat dicapai

apabila kata bahasa sumber dan kata bahasa sasaran memenuhi kriteria sebagai

berikut:

1. memiliki kesamaan ciri dalam penulisan ataupun pengucapan (formal

equivalence)

2. menunjuk pada benda yang sama di dunia nyata (referential/denotative

equivalence)

3. menimbulkan asosiasi yang sama pada benak penutur kedua bahasa

(connotative equivalence)

4. digunakan dalam konteks yang sama pada masing-masing bahasa (text-

normative equivalence)

5. memiliki pengaruh yang sama pada masing pembacanya

(pragmatic/dynamic equivalence).

Sementara itu, dalam bukunya In Other Words, Baker (1995)

membedakan kesepadanan secara struktural menjadi kesepadanan pada tingkat

kata (equivalence at the world level) dan kesepadanan di atas tingkat kata

(equivalence above the world level). Selain itu, Baker juga mengemukakan

adanya kesepadanan gramatikal, tekstual, dan pragmatik dalam penerjemahan.

commit to user

18
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Ketidaksepadanan yang terkait dengan perbedaan tata bahasa BSu dan BSa

banyak terjadi pada aspek jumlah (tunggal/jamak), gender (laki-laki/perempuan),

kata ganti (pronomina), dan kala (tense). Sementara kesepadanan tekstual

berkaitan dengan kohesi, yaitu rangkaian hubungan leksikal, gramatikal, dan lain-

lain yang menyatukan bagian-bagian teks, sedangkan kesepadanan pragmatik

merujuk pada koherensi, yaitu rangkaian hubungan konseptual yang

melatarbelakangi apa yang tampak pada teks.

Oleh Zuchridin dan Sugeng (2003: 108), ketidaksepadanan disebut

dengan istilah suatu keadaan di mana

padanan dalam bentuk satu kata atau ungkapan (one-to-one equivalent) tidak bisa

ditemukan dalam bahasa sasaran. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa kasus

tanpadan ini sering hadir dalam penerjemahan kata majemuk, lakuran, penggalan,

dan akronim.

Dalam penerjemahan kata majemuk misalnya, ketiadaan padanan sering

terjadi pada kata majemuk buram, yaitu kata majemuk yang maknanya tidak bisa

ditelusuri dari kata-kata penyusunnya. Misalnya kata hotdog yang tidak mungkin

grasshopper

blending)

misalnya terjadi pada kata-kata motel (motorway hotel), brunch (breakfast lunch)

dan smog (smoke fog). Kemudian kata-kata penggalan (clipping) seperti pub

(public bar), dorm (dormitory) serta akronim yang sudah umum semacam CIA,

VIP dan AIDS cenderung tidak memiliki padanan tertentu dalam bahasa

Indonesia.

commit to user

19
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Sementara itu berkenaan dengan penerjemahan yang terkait dengan

kebudayaan, Newmark (1995: 95) menemukan banyaknya ketidaksepadanan

istilah pada bidang-bidang berikut:

1. Ekologi, misalnya flora dan fauna

2. Budaya materi (artefak), meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, alat

transportasi

3. Budaya sosial, seperti pekerjaan dan pariwisata

4. Organisasi, kebiasaan, aktifitas, prosedur, konsep, termasuk politik,

administrasi, dan seni

5. Gestur dan adat istiadat.

Banyak istilah pada bidang-bidang tersebut di atas yang memiliki ciri khas

budaya lokal sehingga sulit ditemukan padanan istilahnya dalam bahasa lain.

Nama pakaian, sari (India) dan kimono (Jepang) contohnya, tidak ada istilah

untuk menyebutnya dalam bahasa lain.

2.1.2 Ketakterjemahan

(untranslatability). Menurut Nababan (1999: 93), pencarian padanan dalam proses

penerjemahan akan menggiring penerjemah ke dalam konsep keterjemahan

(translatability) dan ketakterjemahan (untranslatability). Hubungan antara

ketakterjemahan dengan keterjemahan sendiri bersifat antonimi atau berlawanan.

Apabila keterjemahan didefinisikan sebagai sejauh mana suatu kata, frasa, atau

teks secara keseluruhan dapat dialihkan dari satu bahasa ke bahasa lain, seperti

pendapat Shuttleworth dan Cowie (1997: 179), maka secara analogi

commit to user

20
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ketakterjemahan dapat kita artikan sejauh mana suatu kata, frasa, atau teks tidak

dapat diterjemahkan secara utuh dari satu bahasa ke bahasa lain.

Dalam bukunya A Linguistic Theory of Translation, Catford (1980: 94-

99) membagi ketakterjemahan ini secara lebih spesifik menjadi dua yaitu,

ketakterjemahan linguistik (linguistic untranslatability) dan ketakterjemahan

budaya (cultural untranslatability).

Ketakterjemahan linguistik terjadi karena adanya perbedaan antara

bahasa sumber dan bahasa sasaran. Hal ini terjadi misalnya pada kasus ketaksaan

(ambiguitas), polisemi, dan oligosemi. Ketakterjemahan yang berkaitan dengan

ketaksaan bisa terjadi secara struktural dan leksikal. Dalam tataran struktur,

misalnya terjadi pada penambahan akhiran -s dalam tata bahasa Inggris untuk

bentuk jamak (plural) dan kata kerja (verb) simple present dengan subjek orang

ketiga tunggal, seperti pada kata cats (kucing-kucing) dan eats (makan). Secara

umum, kesamaan pembentukan kata ini tidak menimbulkan masalah. Tetapi pada

situasi tertentu, hal ini bisa menimbulkan ketakterjemahan, misalnya pada kalimat

Time flies. Tanpa melihat konteksnya, kita tidak akan tahu makna kalimat

lalat-lal

Sementara itu ketaksaan pada tataran leksikal misalnya terjadi pada kata

bank dalam Bahasa Inggris yang menunjuk pada dua hal yang berbeda, yaitu

ke dalam Bahasa Prancis, tanpa melihat konteksnya dalam suatu kalimat tidak

dapat diterjemahkan. Ini karena dalam Bahasa Prancis terdapat dua kata yang

berbeda untuk merujuk kedua makna di atas, yaitu banque dan rive.

commit to user

21
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kemudian ketakterjemahan yang disebabkan polisemi contohnya pada

istilah Bahasa Rusia s verxu

Istilah ini dalam Bahasa Inggris artinya bisa bermacam-macam, misalnya from

above, from upstairs, from upriver dan seterusnya, tergantung konteks situasinya

dan tidak mungkin diterjemahkan secara lepas.

Lebih lanjut, Catford mencontohkan ketakterjemahan linguistik leksikal

karena faktor oligosemi pada istilah Bahasa Rusia prisla yang memiliki

padanan yang sesuai, sehingga kata tersebut hanya dapat diterjemahkan secara

umum menjadi came atau arrived saja.

Sementara itu, ketakterjemahan budaya muncul apabila ada suatu unsur

fungsional di dalam BSu yang tidak terdapat di dalam budaya BSa. Contohnya

pada kata sauna yaitu sejenis tempat untuk mandi dalam budaya masyarakat

Finlandia, yang tidak bisa diterjemahkan secara tepat ke dalam Bahasa Inggris

baik dengan kata bath, bathhouse maupun bathroom. Selain itu ketakterjemahan

budaya juga terjadi pada istilah Bahasa Jepang yukata yang bisa dideskripsikan

-laki maupun

perempuan dan disediakan oleh penginapan atau hotel Jepang, dipakai pada

malam hari di dalam atau di luar rumah, di jalan dan di kafe, dipakai saat tidur...

mencakup keseluruhan makna tersebut, sehingga istilah yukata dapat dikatakan

mengalami ketakterjemahkan karena faktor budaya. Dalam hal ini, De Pedro

(1999: 552) juga sependapat, bahwa ketekterjemahan budaya sering terjadi dalam

penerjemahan nama-nama lembaga, pakaian, dan makanan.

commit to user

22
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Oleh Popovic (dalam Bassnet-McGuire 1991: 34) ketakterjemahan juga

dibedakan menjadi dua. Pertama ketakterjemahan didefinisikan sebagai suatu

keadaan di mana unsur-unsur linguistik dari bahasa sumber tidak dapat digantikan

secara tepat baik secara struktural, linier, fungsional ataupun semantik sebagai

akibat tidak adanya ungkapan untuk menyebutnya pada bahasa sasaran. Meski

tidak disebutkan secara eksplisit, definisi yang pertama ini paralel dengan

ketakterjemahan linguistiknya Catford. Kemudian, definisi yang kedua lebih

berkaitan dengan unsur non-linguistik. Di sini ketakterjemahan diartikan sebagai

suatu keadaan di mana hubungan antara subjek dengan ungkapannya dalam

bahasa sumber tidak dapat dinyatakan secara lengkap di dalam bahasa sasaran.

Selain pendapat Cartford dan Popovic, ada pula pendapat lain yang

bertentangan mengenai ketakterjemahan sebagaimana diungkapkan oleh Keenan

dan Wilss. Keenan (dalam Nababan, 1999: 94) mengajukan hipotesis yang

bunyinya sesuatu yang dapat diungkapkan dalam satu bahasa dapat diterjemahkan

secara tepat ke dalam bahasa yang lain. Hipotesis ini secara tidak langsung

didukung oleh Wilss (1982: 49) yang berpendapat bahwa yang menyebabkan

terjadinya ketakterjemahan semata-mata adalah ketidakmampuan penerjemah.

Kesemestaan bahasa (language universals) dalam sintaksis, semantik, dan logika

alamiah menjamin bahwa semua teks dapat diterjemahkan. Kalaupun proses

penerjemahan ternyata gagal, penyebabnya bukan karena ketiadaan padanan

leksikal maupun sintaksis pada bahasa sasaran, melainkan karena

kekurangmampuan penerjemah dalam menerjemahkan teks terkait.

commit to user

23
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

2.2 Tata Cara Penerjemahan

Di dalam ilmu penerjemahan dikenal ada beberapa cara yang dapat

dipakai oleh penerjemah untuk untuk mendapatkan hasil penerjemahan yang baik

dan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam proses

penerjemahan. Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan tata cara

menerjemahkan, yaitu metode penerjemahan, prosedur penerjemahan, strategi

penerjemahan, dan teknik penerjemahan. Beberapa ahli penerjemahan berbeda

pendapat mengenai penggunaan ketiga istilah ini, sehingga kadangkalan terjadi

tumpang tindih dan kerancuan antara satu dengan yang lain.

2.2.1 Metode Penerjemahan

Menurut Newmark (1988: 81), metode penerjemahan adalah cara

menerjemahkan yang berlaku pada keseluruhan teks. Metode penerjemahan ini

dapat dibedakan menjadi:

1. Penerjemahan kata-per-kata (word-for-word translation)

Penerjemahan kata-per-kata adalah suatu metode penerjemahan di mana

urut-urutan kata dipertahankan dan setiap kata diterjemahkan sendiri-

sendiri dengan arti yang paling umum tanpa memperhatikan konteks.

2. Penerjemahan harfiah (literal translation)

Dalam penerjemahan harfiah struktur tata bahasa sumber diubah menjadi

sedekat mungkin dengan struktur tata bahasa sasaran, namun kata-kata

penyusunnya masih diterjemahkan satu per satu tanpa memperhatikan

konteks.

3. Penerjemahan setia (faithful translation)

commit to user

24
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Metode penerjemahan setia berupaya menghasilkan makna kontekstual

setepat mungkin dengan aslinya dengan menggunakan struktur tata

bahasa sasaran.

4. Penerjemahan semantik (semantic translation)

Metode ini hampir sama dengan penerjemahan setia, hanya saja dalam

penerjemahan semantik nilai estetik dari Bsu dipertimbangkan secara

lebih mendalam.

5. Adaptasi (adaptation)

Adaptasi merupakan metode penerjemahan yang paling bebas, biasanya

diterapkan pada naskah drama (komedi) atau puisi. Tema, tokoh, dan

jalan cerita biasanya dipertahankan, budaya sumber diubah ke dalam

budaya sasaran dan teks asli ditulis ulang.

6. Penerjemahan bebas (free translation)

Metode penerjemahan bebas mengasilkan terjemahan yang

menghilangkan gaya, bentuk maupun isi teks sumber.

7. Penerjemahan idiomatis (idiomatic translation)

Pada penerjemahan idiomatis ada kecenderungan distorsi makna dari teks

sumber ke dalam teks sasaran karena digunakannya bentuk-bentuk

kolokial dan idiom yang tidak dimiliki BSu.

8. Penerjemahan komunikatif (communicative translation)

Metode ini bertujuan untuk menghasilkan makna kontekstual setepat

mungkin dari teks sumber, sehingga baik isi maupun bahasanya dapat

terima dan dipahami oleh pembaca.

commit to user

25
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Metode penerjemahan ini biasanya sudah ditentukan sebelum penerjemah

mulai melakukan proses penerjemahan.

2.2.2 Prosedur Penerjemahan

Berbeda dengan metode penerjemahan, ruang lingkup prosedur

penerjemahan hanya terbatas pada kalimat dan unsur-unsur di bawahnya

(Newmark, 1995: 81). Prosedur penerjemahan ini meliputi:

1. Transferensi (transference), yaitu proses pengalihan suatu kata BSu ke

dalam teks sasaran. Transliterasi juga termasuk dalam kelompok ini.

2. Naturalisasi, yaitu penyesuaian kata BSu dengan lafal BSa kemudian

disusul dengan penyesuaian morfologinya.

3. Padanan budaya (cultural equivalent), yaitu mengganti kata yang

bernuansa budaya dari BSu ke BSa, meskipun hasilnya tidak akurat.

4. Padanan fungsional (functional equivalent), yaitu penggunaan kata yang

tidak terkait budaya

5. Padanan deskriptif (descriptive equivalent), yaitu prosedur di mana

makna istilah yang terikat budaya BSu diterangkan dengan beberapa kata

6. Analisis komponensial (componential analysis), yaitu membandingkan

kata BSu dengan kata BSa yang maknanya sama namun bukan

merupakan padanan yang tepat, dengan cara menunjukkan persamaan

dan perbedaan unsur masing-masing

7. Sinonimi, yaitu penggunaan kata yang sedekat mungkin dengan

padanannya pada BSa.

commit to user

26
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

8. Penerjemahan menyeluruh (through-translation), yaitu penerjemahan

harfiah untuk kolokasi, nama-nama organisasi, kata majemuk. Istilah

lainnya adalah calque atau loan translation.

9. Transposisi atau shift, yaitu prosedur yang melibatkan perubahan bentuk

gramatikal dari BSu ke BSa, misalnya dari jamak menjadi tunggal.

10. Modulasi, yaitu penyesuaian dengan aturan yang berlaku pada bahasa

sasaran dalam pengalihan pesan karena adanya perbedaan sudut pandang

antara BSu dengan BSa.

11. Penerjemahan baku (recognized translation), yaitu penggunaan istilah-

istilah kelembagaan yang sudah resmi (baku) atau diterima secara umum

12. Kompensasi, yaitu apabila hilangnya makna pada suatu bagian diganti

pada bagian lain

13. Parafrase, yaitu perosedur menerangkan makna istilah yang berkaitan

dengan budaya namun dengan cara yang lebih rinci daripada padanan

deskriptif

14. Couplet, yaitu penggunaan dua prosedur penerjemahan yang berbeda

15. Catatan (notes), yaitu pemberian keterangan tambahan pada hasil

terjemahan (Newmark 1995: 82-86).

Zuchridin dan Sugeng juga beranggapan bahwa prosedur penerjemahan

juga berlaku pada tataran kata dan kalimat, meskipun mereka menyebutnya

dengan istilah strategi penerjemahan. Prosedur penerjemahan menurut Zuchridin

dan Sugeng (2003: 67) adalah taktik penerjemah untuk menerjemahkan kata atau

kelompok kata atau mungkin kalimat penuh bila kalimat tersebut tidak bisa

dipecah lagi menjadi unit yang lebih kecil untuk diterjemahkan.

commit to user

27
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari sudut pandang yang lain, Nida (dalam Zainurrahman, 2009: 120)

memandang prosedur penerjemahan sebagai langkah-langkah yang harus diiikuti

oleh penerjemah dalam proses penerjemahan yang mencakup dua hal, yaitu:

1. Prosedur teknik (technical procedure), meliputi menganalisis bahasa

sumber dan bahasa sasaran, mengkaji teks sumber secara menyeluruh

sebelum mulai menerjemahkan, dan menilai kesesuaian makna dan

susunan kalimat.

2. Prosedur organisasional (organizational procedures), meliputi

mengevaluasi secara terus menerus hasil penerjemahan,

membandingkannya dengan hasil terjemahan penerjemah lain untuk teks

yang sama, dan menguji keefektifan komunikasi teks dengan cara

meminta pembaca bahasa sasaran untuk menilai keakuratan dan

keefektifannya serta mempelajari bagaimana reaksi mereka.

2.2.3 Teknik Penerjemahan

Dari pembahasan mengenai metode dan prosedur penerjemahan di atas

terlihat adanya kesamaan antara metode dan prosedur penerjemahan, yaitu

keduanya bersifat normatif. Hal ini berbeda dengan teknik penerjemahan yang

cenderung bersifat praktis, yaitu berkaitan langsung dengan permasalahan

penerjemahan dan pemecahannya daripada dengan norma pedoman penerjemahan

tertentu. (Rochayah, 2000: 77).

Melihat adanya kesimpangsiuran dalam pemahaman dan pemakaian

istilah metode, strategi, dan teknik penerjemahan, Molina dan Hurtado (2002)

berupaya mempertegas perbedaan di antara ketiganya, dengan tekanan khusus

pada teknik penerjemahan.


commit to user

28
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Menurut keduanya, metode penerjemahan adalah cara yang ditempuh

oleh penerjemah dalam melakukan suatu proses penerjemahan sesuai dengan

tujuan penerjemahan. Metode penerjemahan ini berdampak pada keseluruhan teks

terjemahan. Beberapa contoh metode penerjemahan misalnya penerjemahan

interpretatif-komunikatif, penerjemahan literal, penerjemahan bebas, dan

penerjemahan filologis. Sementara strategi penerjemahan adalah cara yang

digunakan oleh penerjemah untuk menyelesaikan masalah penerjemahan karena

metode apapun yang diterapkan oleh penerjemah tidak menjamin suatu proses

penerjemahan terbebas dari masalah. Kemudian, teknik penerjemahan sendiri

merupakan implementasi dari strategi penerjemahan. Jika strategi penerjemahan

terjadi pada proses penerjemahan, maka teknik penerjemahan tampak pada hasil

penerjemahan.

Secara ringkas, teknik penerjemahan dapat didefinisikan sebagai suatu

prosedur dalam menganalisis dan mengklasifikasi sejauh mana kesepadanan

penerjemahan bisa tercapai. Teknik penerjemahan ini memiliki lima karakteristik

utama, yaitu:

1. mempengaruhi hasil penerjemahan

2. dikelompokkan berdasarkan perbandingan dengan teks sumber

3. berlaku pada satuan-satuan kecil dari teks

4. bersifat kontekstual dan dengan sendirinya tidak saling terkait

5. memiliki fungsi tertentu.

Bentuk-bentuk teknik penerjemahan selengkapnya menurut Molina dan

Albir (2002: 510-511) adalah sebagai berikut:

commit to user

29
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1. Adaptasi

Yaitu mengganti unsur budaya teks sumber dengan unsur budaya teks

sasaran, misalnya pada penggunaan istilah kasti untuk menggantikan

kata baseball pada penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa

Indonesia. Istilah lain adaptasi adalah padanan budaya.

2. Amplifikasi

Yaitu memberikan perincian yang tidak dirumuskan dalam teks sumber,

berupa keterangan atau penjelasan, misalnya untuk kata Halloween,

dalam teks sasaran diberi tambahan keterangan sehingga menjadi

Halloween, malam tanggal 31 Oktober di mana orang-orang berpakaian

Amplifikasi ini merupakan kebalikan dari reduksi.

3. Peminjaman (borrowing)

Yaitu mengambil kata atau ungkapan dari bahasa lain secara langsung.

Kata atau ungkapan yang diambil ini bisa dipertahankan seperti aslinya

atau diubah sesuai dengan karakteristik bahasa sasaran. Apabila

dilakukan perubahan maka istilahnya adalah naturalisasi. Bentuk

peminjaman tanpa mengubah kata asli misalnya pada penggunaan istilah

computer.

4. Calque

Yaitu penerjemahan harfiah suatu kata atau frasa asing, baik leksikal

mauapun struktural, misalnya kata elementary school diterjemahkan

commit to user

30
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5. Kompensasi

Yaitu menempatkan aspek informasi atau gaya dari teks sumber di

bagian lain teks sasaran karena aspek tersebut tidak dapat diungkapakan

pada bagian yang sama seperti pada teks sumber. Pada ungkapan Thou

shalt hear their advice, contohnya, dapat diterjemahakan menjadi

Sebaiknya engkau mendengarkan nasihat mereka wahai Sang

Pemimpin thou yang bernuansa lampau dikompensasi

dengan frasa wahai Sang Pemimpin. Nama lain dari kompensasi adalah

konsepsi.

6. Deskripsi

Yaitu menggantikan suatu istilah atau ungkapan dengan penjelasan

mengenai bentuk dan/atau fungsinya, contohnya kata kilt yang dapat

diterjemahkan menjadi -kotak yang biasa

dipakai pria

7. Discursive creation

Menciptakan padanan sementara untuk penerjemahan tertentu di mana

padanan tersebut tidak berlaku sama sekali di luar konteks, contohnya

pemadanan tokoh Don Juan dengan Arjuna dalam suatu ungkapan cinta.

8. Padanan baku (established equivalent)

Menggunakan suatu istilah atau ungkapan yang terdapat di dalam kamus

atau dalam penggunaan sehari-hari sebagai padanan pada teks sasaran,

misalnya istilah memorandum of understanding yang selalu

commit to user

31
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

9. Generalisasi

Yaitu menggunakan istilah yang lebih umum atau netral. Generalisasi

merupakan kebalikan dari partikularisasi. Contoh teknik ini misalnya

pada penerjemahan kata cap dan hat

10. Amplifikasi linguistik

Yaitu menambahkan unsur-unsur linguistik, misalnya ungkapan Nothing

is impossible! diterjemahkan m mustahil di dunia

dan

dubbing. Amplifikasi linguistik merupakan lawan dari kompresi

linguistik.

11. Kompresi linguistik

Yaitu menyerasikan unsur-unsur linguistik pada teks sasaran, misalnya

Teknik ini banyak dipakai dalam pengalihbahasaan simultan dan

subtitling.

12. Penerjemahan harfiah

Yaitu menerjemahkan suatu kata atau ungkapan kata per kata, misalnya

kalimat Every morning my mother goes to the market to buy vegetables

pergi ke pasar itu untuk

membeli sayur-

13. Modulasi

Yaitu mengubah sudut pandang, fokus atau kategori kognitif bekaitan

dengan teks sumber baik secara leksikal ataupun struktural, misalnya

commit to user

32
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ungkapan You are going to have a child diterjemahkan menjadi

14. Partikularisasi

Yaitu menggunakan istilah yang lebih spesifik atau konkret, contohnya

pada pemadanan kata rice

Partikularisasi merupakan lawan dari generalisasi.

15. Reduksi

Yaitu mengurangi informasi yang ada pada teks sumber pada teks

sasaran, misalnya pada ungkapan mitoni, a ceremony for celebrating

seventh month of pregnancy Teknik ini

merupakan kebalikan dari amplifikasi.

16. Substitusi (linguistik, paralinguistik)

Yaitu mengubah unsur linguistik menjadi unsur paralinguistik (intonasi,

gestur) atau sebaliknya, contohnya menggelengkan kepala diterjemahkan

goodbye disimbolkan dengan

melambaikan tangan dan seterusnya.

17. Transposisi

Yaitu mengubah kelas kata dalam penerjemahan. Dalam penerjemahan

frasa deadly sting

sifat (adjective) deadly

18. Variasi

Yaitu mengubah unsur linguistik atau paralinguistik (intonasi, gestur)

yang berpengaruh pada aspek variasi bahasa, seperti perubahan nada,

commit to user

33
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

gaya bicara dan dialek. Contoh penerapan teknik ini misalnya pada

penerjemahan naskah dalam pementasan drama.

Penjelasan dari Molina dan Albir ini tampaknya sudah cukup mewakili

dan mengakomodasi berbagai silang pendapat mengenai teknik penerjemahan.

2.3 Penerjemahan Dialog Film

Dalam hubungannya dengan perfilman dan pertelevisian, dikenal adanya

dua cara untuk menerjemahkan dialog film atau acara, yaitu dubbing dan

subtitling. Kedua bentuk penerjemahan ini memang sering dibandingkan satu

sama lain, karena masing-masing memiliki persamaan dan perbedaan serta

kelebihan dan kekurangan. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa, baik

dubbing maupun subtitling sama-sama merupakan bentuk penerjemahan yang

melibatkan bahasa lisan. Perbedaannya, jika pada dubbing baik sumber maupun

hasil terjemahannya berupa bahasa lisan, maka dalam subtitling hanya sumbernya

saja yang berbentuk lisan, sementara produknya berupa tulisan atau teks.

2.3.1 Dubbing (Sulih Suara)

Dubbing, yang disebut juga dengan istilah looping, dalam Bahasa

Indonesia dikenal dengan nama . Menurut Ameri (2009), dubbing

adalah suatu proses perekaman atau penggantian suara pada gambar bergerak

(film). Dubbing ini biasanya diasosiasikan dengan penggantian suara asli pada

film dengan suara lain dari bahasa yang berbeda. Namun istilah dubbing ini

sebenarnya juga dapat dipakai untuk menyebut proses perekaman atau pengisian

suara pada film oleh pemain film bersangkutan, yang secara teknis dikenal dengan

istilah ADR (Additional Dialog Recording/Automated Dialog Replacement).

commit to user

34
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dalam proses dubbing, gambar-gambar hasil syuting disusun secara

berurutan untuk kemudian diputar secara berulang-ulang di studio rekam suara

sehingga pemain film/pengisi suara dapat menyesuaikan ucapannya dengan

adegan film.(Monaco, 2000: 133).

Teknik dubbing sangat berguna dan telah banyak dimanfaatkan oleh

produsen dalam penerjemahan dialog film karena dengan cara ini penonton

sasaran akan lebih mudah memahami isi film. Penonton dapat berkonsentrasi pada

adegan di layar tanpa harus membaca teks terjemahan secara bersamaan. Bahkan

penonton yang tidak bisa membaca pun tetap akan bisa memahami jalan cerita

film. Hanya saja dialog hasil sulih suara biasanya terdengar kaku dan tidak alami

sehingga mengganggu kenyamanan menonton. Hal ini antara lain disebabkan oleh

adanya unsur bahasa maupun aspek budaya sumber yang tidak bisa digantikan di

dalam bahasa sasaran. Teknik dubbing ini kadangkala juga dimanfaatkan oleh

pemerintah, atau pihak lain yang berkepentingan, sebagai sarana untuk melakukan

sensor pada dialog film, yang dalam ilmu penerjemahan dikenal dengan istilah

lokalisasi (domestication). Dari sisi produksi, proses dubbing ini juga

membutuhkan lebih banyak pekerja maupun biaya jika dibandingkan dengan

proses subtitling.

Secara lebih lengkap, Ameri (2009) memerinci karakteristik dubbing

seperti di bawah ini:

1. mahal

2. dialog asli hilang

3. membutuhkan waktu lebih lama

4. tampak seperti produk lokal

commit to user

35
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5. lebih akrab

6. ucapan pengisi suara kadangkala hanya pengulangan

7. cocok untuk penonton yang berpendidikan rendah

8. mempertahankan gambar asli

9. pemahaman lebih utuh

10. memungkinkan terjadinya overlapping dialog

11. penonton dapat berkonsentrasi pada gambar

12. penonton dapat mengikuti alur meskipun tidak sedang memperhatikan

layar

13. terikat pada gerak bibir pemain film

14. hanya menggunakan satu kode linguistik

15. dapat menimbulkan ilusi sinematis

16. cenderung otoriter

17. menyenangkan

2.3.2 Subtitling

Subtitling sering disebut pula dengan istilah captioning. Istilah subtitling

sendiri berakar dari kata subtitle, yaitu bentuk tertulis atau teks dari ucapan

karakter di dalam film yang ditempatkan pada bagian bawah layar. Bahasa yang

dipakai subtitle bisa sama atau berbeda dengan bahasa sumbernya. Subtitle yang

sebahasa dengan dialognya biasanya digunakan sebagai alat bantu bagi penonton

yang berkebutuhan khusus pada pendengarannya, sedangkan subtitle dengan

bahasa yang berlainan dengan dialognya adalah suatu bentuk penerjemahan.

Dalam hal ini subtitle dapat dianggap sebagai produk penerjemahan sedangkan

subtitling adalah prosesnya.

commit to user

36
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Cikal-bakal subtitle sendiri sebetulnya sudah lebih dulu ada sebelum

teknik dubbing diperkenalkan. Menurut Ivarsson (2004), pada masa film hanya

berupa gambar bergerak tanpa disertai suara, untuk menyampaikan jalan cerita

atau dialog antarkarakter biasanya digunakan teks yang diselipkan di antara

adegan satu dengan adegan yang lain. Teks pengganti dialog film semacam ini

dinamakan intertitle. Teknik intertitle diperkenalkan oleh kartunis sekaligus

pembuat film J. Stuart Blackton dan digunakan pertama kali pada tahun 1903

melalui film garapan Edwin S Porter. Cara intertitling ini

pada awalnya hanya ditujukan untuk menggantikan suara pemain film yang

karena alasan teknis tidak bisa dimunculkan dan bukan untuk keperluan

penerjemahan. Meski demikian, penerjemahan pada era intertitle ini dapat

dilakukan dengan mudah karena tinggal mengganti intertitle yang asli dengan

intertitle bahasa yang diinginkan. Mulai tahun 1909 dan seterusnya secara

perlahan istilah intertitle diganti menjadi sub-title karena letak teksnya dipindah

sehingga menyatu dengan gambar.

Teknik subtitling dalam pengertian modern baru muncul ketika era film

bisu berakhir dan digantikan oleh film-film yang dilengkapi dengan suara sekitar

tahun 1927. Dengan sudah dapat ditampilkannya suara pada film membuat

intertitle tidak dibutuhkan lagi. Akan tetapi di sisi lain, keadaan ini menimbulkan

kesulitan tersendiri dalam proses penerjemahan film. Pada awalnya, ada gagasan

untuk mengganti suara dengan suara pula, yang dikenal dengan istilah dubbing.

Namun mengingat proses dubbing cukup kompleks dan memerlukan biaya besar,

muncullah ide untuk menggunakan teks seperti pada masa film bisu dulu.

Bedanya, kali ini teks ditempatkan pada bagian bawah layar mengikuti pergerakan

commit to user

37
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

adegan film. Jadi tidak berselang-seling dengan adegan seperti pada intertitle. The

Jazz Singer (1927) adalah film pertama yang dilengkapi dengan subtitling era

modern. Film produksi Amerika ini ketika diluncurkan di Paris diberi subtitle

bahasa Prancis.

Jenis subtitle dapat kita bedakan dari segi teknis dan bahasa. Secara

teknis, subtitle dapat dibedakan menjadi subtitle terbuka (open subtitle/hardsubs)

dan tertutup (closed subtitle/softsubs), sedangkan menurut bahasa yang digunakan

ada subtitle intrabahasa dan subtitle antarbahasa (Ameri, 2008). Subtitle terbuka

adalah subtitle yang menyatu atau dengan gambar atau satu paket dengan

produknya sehingga tidak dapat dihilangkan dari layar, sedangkan subtitle tertutup

sifatnya tambahan. Subtitle ini dihasilkan oleh pesawat televisi yang dilengkapi

dengan peralatan tertentu dan hanya bisa ditampilkan apabila penonton

menghendaki.

Menurut Ida (2008: 1), ada sejumlah aturan yang harus ditaati oleh

penerjemah dalam mengerjakan subtitling. Beberapa di antaranya adalah sebagai

berikut:

1. Dalam satu adegan (scene) maksimal terdiri dari 2 baris subtitle.

2. Subtitle ditempatkan pada bagian bawah layar dengan posisi di tengah.

3. Apabila di bagian bawah layar terdapat tulisan (misalnya: credit title,

nama tokoh, nama lokasi atau subtitle bahasa lain), maka letak subtitle

harus dinaikkan agar tidak tumpang tindih dengan tulisan tersebut.

4. Satu baris subtitle maksimum terdiri dari 40 karakter termasuk spasi dan

tanda baca (35 karakter untuk negara-negara Eropa).

commit to user

38
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5. Apabila ada dua baris subtitle di munculkan secara bersama-sama, baris

kedua diusahakan lebih pendek daripada baris pertama.

6. Durasi penayangan 1 baris subtitle minimal 3 detik dan maksimal 5 detik

(2,5-5 detik di negara-negara Eropa); 2 baris subtitle minimal 7 detik dan

maksimal 8 detik (5-6 detik di negara-negara Eropa). Dalam penayangan

subtitle, sinkronisasi dengan gambar dan suara tetap harus

dipertimbangkan.

7. Jika suatu kalimat subtitle harus dipenggal, kalimat penggalan harus

dipahami oleh penonton/pembaca meskipun penggalan tersebut berdiri

sendiri. Dengan demikian penonton/pembaca tetap dapat memahami

maksud pembicaraan.

Kemudian berkaitan dengan bahasa dan penerjemahan, ada beberapa

aturan yang harus ditaati dalam proses subtitling, sebagaimana dinyatakan oleh

Caroll dan Ivarsson (1998):

1. Pengisi subtitle sebaiknya melengkapi diri transkrip dialog dan daftar

kata-kata sukar, nama, dan rujukan khusus

2. Pengisi subtitle bertanggung jawab pada penerjemahan dan penulisan

istilah asing yang diperlukan

3. Hasil penerjemahan harus berkualitas dengan mempertimbangkan unsur

idiomatis dan nuansa budaya

4. Harus menggunakan satuan-satuan semantik yang gamblang (sederhana

dan langsung)

5. Apabila dilakukan pemadatan dialog, hasilnya harus koheren

commit to user

39
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

6. Pedistribusian teks perbaris maupun halaman harus memperhatikan

satuan-satuan gramatikal

7. Tiap-tiap subtitle diusahakan memiliki makna sendiri

8. Register bahasa subtitle harus tepat dan sesuai dengan register dialog

9. Bahasa yang digunakan subtitle

merepresentasikan intelektualitas

10. Seluruh informasi tertulis (misalnya: tanda dan pengumuman) pada

gambar yang dianggap penting sedapat mungkin juga diterjemahkan dan

dirangkaikan

11. Nama dan frase yang sering muncul tidak harus selalu dituliskan pada

subtitle

12. Subtitle harus mencakup ekspresi-ekspresi emosional (misalnya

ketakjuban dan kekagetan)

13. Harus ada kedekatan hubungan antara dialog dengan isi subtitle. Harus

diusahakan agar ada kesesuaian antara BSu dan BSa.

Salah satu kekurangan teknik subtitling adalah terbatasnya ruang dan

waktu untuk menampilkan baris-baris subtitle sebagai hasil transkripsi atau

penerjemahan dialog yang menjadi sumbernya. Oleh karena itu dalam subtitling,

penerjemah dituntut untuk memparafrase, meringkas, atau bahkan menghilangkan

sebagian ucapan pemain. Kovacic (dalam Ameri, 2008) menyatakan bahwa

seorang penerjemah film harus tahu bagian mana yang harus dan yang tidak perlu

diterjemahkan. Subtitle lebih bertujuan untuk menyampaikan apa yang

dimaksudkan oleh pembicara daripada bagaimana ungkapan itu disampaikan.

Atau dengan kata lain makna lebih penting daripada bentuk (Ameri, 2008).

commit to user

40
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dibandingkan dubbing, teknik subtitling lebih murah sekitar

sepersepuluh hingga seperduapuluhnya. Selain itu pengerjaannya juga lebih cepat.

Kelebihan lainnya, keaslian dialog film dan warna suara pemain dapat terjaga.

Namun bagi penonton film, penggunaan subtitle mungkin akan sedikit

mengganggu konsentrasi menonton karena pada saat yang bersamaan mereka

harus menyaksikan adegan film sambil membaca teks terjemahannya.

Jika teknik dubbing dianggap sebagai salah satu bentuk lokalisasi atau

domestication dalam penerjemahan, maka subtitling adalah salah satu bentuk

foreignization, yaitu upaya mempertahankan keaslian aspek-aspek bahasa sumber

dalam penerjemahan. Selain itu masih ada aspek-aspek lain yang membedakan

subtitling dan dubbing, sebagaimana diungkapkan Ameri (2008):

1. murah

2. keutuhan dialog asli tetap terjaga

3. lebih cepat

4. membantu pembelajaran bahasa asing

5. kurang akrab

6. kualitas suara sesuai dengan aslinya

7. cocok bagi para imigran dan yang berkebutuhan khusus dalam

pendengaran

8. mengganggu gambar

9. pemahaman cenderung terputus-putus

10. tidak memungkinkan terjadinya overlapping dialog

11. mengacaukan perhatian

12. penonton tidak akan mengerti apabila tidak memperhatikan layar

commit to user

41
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

13. terbatasi oleh ruang dan waktu

14. melibatkan dua kode bahasa sehingga dapat menimbulkan kerancuan

15. dapat mengurangi ilusi sinematis

16. lebih demokratis

17. menimbulkan kelelahan

2.4 Media Simpan Film

Kemunculan DVD sebagai media simpan/rekam film tidak bisa

dilepaskan dari media simpan film yang lain, karena DVD merupakan

penyempurnaan dari teknologi yang sudah ada sebelumnya. Menurut bentuknya

media simpan film ini secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu pita dan

cakram, sedangkan enurut perkembangannya, yang pertama dapat dibedakan

menjadi rol film dan videotape, sedangkan yang kedua dapat dibedakan menjadi

laserdisc, VCD dan DVD.

2.4.1 Rol Film dan Videotape

Awal mulanya, dalam pembuatan suatu film, media yang dipakai untuk

menyimpan gambar-gambar hasil syuting adalah berupa lembaran pita tipis

ukuran film menurut lebar pitanya, yaitu 16 mm, 35 mm, dan 75 mm. Dari ketiga

jenis ini, pita film berukuran 35 mm yang paling dipakai dalam produksi film.

Untuk satu judul film biasanya dibutuhkan beberapa gulungan (roll) film. Rol-rol

inilah yang didistribusikan ke bioskop-bioskop untuk diputar dan diproyeksikan

ke layar bioskop. Meskipun sudah ditemukan beraneka ragam media

penyimpanan, hingga saat ini pita seluloid masih banyak dipakai dalam

commit to user

42
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

pembuatan film karena dianggap memiliki kelebihan dibandingkan media yang

lain.

Dengan adanya pesawat televisi, kegiatan menonton film tidak lagi

hanya bisa dilakukan di bioskop, namun bisa juga di rumah. Namun tentu saja

peralatan yang dipakai berbeda dengan yang ada di bioskop. Untuk keperluan ini

digunakan alat putar (player) dengan layar televisi sebagai media untuk

menampilkan gambar. Gambar-gambar ini disimpan di atas segulungan pita

magnetis berukuran kurang dari 1 inci yang ditempatkan dalam kotak persegi

panjang. Media simpan film portable ini dinamakan kaset video (video cassette)

sedangkan pemutarnya dinamakan VCP (video cassette player) atau (VCR (video

cassette recorder). Cara kerja video kaset ini mirip dengan dengan kaset audio

dengan tape recorder sebagai alat pemutarnya. Resolusi gambar yang dihasilkan

dari VCR ini kurang dari 250 garis horisontal sehingga masih belum memuaskan.

Sejak diperkenalkan pada pertengahan tahun 1970 ada dua format video yang

popular, yaitu Betamax milik Sony dan VHS keluaran JVC.

2.4.2 Laserdisc dan VCD

Pada perkembangan selanjutnya, media penyimpanan film tidak lagi

hanya berbahan pita seluloid atau magnetis dengan diciptakannya cakram optis

(optical disc). Sesuai namanya, media ini berbentuk piringan dan memanfaatkan

sinar dalam teknologinya. Penggunaan piringan sebagai alat perekam sebenarnya

sudah lama dilakukan, seperti pada piringan hitam, meski hanya terbatas untuk

menyimpan suara saja. Cakram optis yang mula-mula populer adalah laserdisc,

yang muncul sekitar tahun 1978. Berbeda dengan piringan hitam yang masih

menggunakan jarum, laserdisc ini menggunakan teknologi sinar laser untuk


commit to user

43
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

membaca informasi berupa milyaran titik yang tercetak permukaan piringan.

Informasi ini kemudian diubah ke dalam bentuk gelombang dan diproyeksikan

menjadi gambar di layar televisi. Meski diameternya cukup besar (8 dan 12 inci)

laserdisc lebih praktis dan awet dibandingkan kaset video karena bentuknya lebih

tipis, ringan dan permukaannya tidak mudah tergores. Selain itu, gambar yang

dihasilkan laserdisc juga lebih tajam karena sudah tersusun dari 425 garis

horisontal.

Media simpan data berbentuk piringan ini semakin berkembang dengan

diperkenalkannya compact disc read only memory (CD-ROM) pada tahun1985

oleh Sony dan Philips. Cakram padat atau CD ini berbeda dengan pendahulunya

baik dalam hal ukuran maupun teknologi yang diterapkan. Kepingan CD memiliki

diameter 5 inci atau kira-kira setengah ukuran laserdisc.. Meskipun demikian,

kapasitas CD justru lebih besar daripada kapasitas laserdisc. Satu keping CD

dapat memuat file hingga sebesar 750 MB. Selain itu, CD sudah menggunakan

teknologi digital untuk menggantikan sistem analog yang dipakai pada laserdisc.

Menurut isinya, CD dapat dibedakan menjadi audio CD, yang hanya menyimpan

suara saja dan video compact disc (VCD) yang berisi gambar dan suara. VCD

inilah yang kemudian menggantikan peran kaset video dan laserdisc sejak

pertengahan tahun 1990.

2.4.3 DVD

Popularitas VCD mulai menurun sejak diperkenalkankannya DVD pada

tahun 1995. Meski secara fisik, dari segi bentuk dan ukuran tidak ada perubahan

yang mencolok, DVD menawarkan teknologi terbaru yang tidak dimiliki CD

maupun VCD. Dari segi kapasitas, misalnya, sekeping DVD mampu menyimpan
commit to user

44
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

data hingga sebesar 18 GB, atau hampir 24 kali kapasitas CD, karena kedua

sisinya bisa dipakai untuk menyimpan data (double layer disc). Sehingga dalam

satu keping DVD dapat dimuat beberapa judul film sekaligus.

Selain itu, berbeda dengan CD yang banyak dipakai untuk audio, DVD

sangat identik sebagai media penyimpan film. Pada mulanya DVD merupakan

singkatan dari digital video disc. Namun beberapa kalangan menyarankan agar

kepanjangannya diubah menjadi digital versatile disc untuk menunjukkan bahwa

format DVD bukan hanya untuk menyimpan gambar atau video saja. Karena tidak

ada kesepakatan antara kedua belah pihak, akhirnya diputuskan bahwa DVD

hanya sebuah nama dan bukan merupakan singkatan dari apapun (DVD, 2008).

Sebagai pendatang baru, tentu saja DVD memiliki beberapa keunggulan

jika dibandingkan VCD dalam hal kenyamanan untuk menonnton film. Dari segi

tampilan, gambar yang dihasilkan DVD jauh lebih tajam karena resolusinya lebih

tinggi daripada VCD, yaitu sekitar 480 garis horisontal (Monaco, 2000: 456).

Sementara itu untuk tata suara, jika teknologi CD hanya memungkinkan untuk

dua saluran kiri-kanan saja (stereo), maka pada DVD terdapat enam saluran (5.1)

atau surround, masing-masing kiri-kanan depan, kiri-kanan belakang, tengah, dan

subwoofer. juga Yang lebih penting lagi, DVD memberikan keleluasaan kepada

penonton untuk dapat memilih adegan (scene) tertentu maupun subtitle sesuai

keinginan. Jadi berbeda dengan VCD yang hanya dapat menampilkan satu subtitle

saja, film DVD biasanya dilengkapi dengan subtitle dari berbagai bahasa yang

bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa kelebihan DVD sebagaimana diungkapkan Jack dan Tsatsulin

(2000: 97-98) adalah sebagai berikut:

commit to user

45
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1. menampilkan gambar video bermutu tinggi sepanjang lebih dari 2 jam

2. memiliki tak kurang dari 8 jalur suara digital yang masing-masing terdiri

dari 8 saluran

3. memiliki tak kurang dari 32 jalur subtitle/karaoke

4. memungkinkan pencabangan gambar video otomatis dan tanpa

sambungan

5. dilengkapi dengan menu dan fitur interaktif yang mudah

6. dapat memutar maju maupun memutar balik gambar secara cepat

7. dapat menampilkan judul, bab, urutan lagu, dan posisi waktu secara

cepat

8. keluaran suara digital (PCM Stereo dan Dolby Digital)

9. bisa memainkan CD Audio

10. berbiaya rendah.

2.5 Film Animasi

Film atau movie telah menjadi suatu cabang seni dan budaya yang

berkembang pesat pada jaman modern ini. Mula-mula istilah film dipakai untuk

menyebut suatu lembaran tipis (pita) yang terbuat dari seluloid dan digunakan

sebagai media menyimpan gambar dalam bentuk negatif. Apabila gambarnya

berjumlah banyak dan berurutan kemudian diputar dan diproyeksikan pada layar

maka akan jadilah gambar hidup (moving pictures). Gambar hidup inilah yang

kemudian populer dengan sebutan film dalam tataran seni. Monaco (2000: 38)

berpendapat bahwa pada awalnya film dan fotografi bersifat netral, keduanya

merupakan media yang sudah ada sebelum seni terkait muncul dan berkembang.

commit to user

46
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Di jaman modern ini, film bukan hanya merupakan salah satu cabang seni, tetapi

juga suatu bentuk hiburan dan bisnis.

Karakter atau tokoh di dalam film bisa diperankan oleh orang maupun

berupa rekaan gambar. Film yang tokoh maupun latarnya berupa gambar

semacam ini disebut film kartun atau animasi.

(animation

biasanya bergerak, sehingga tampak hidup. cartoon)

erat karena pada dasarnya objek yang bergerak pada film animasi berasal dari

serangkaian gambar dua dimensi secara cepat sehingga menghasilkan bayangan

yang bergerak. Secara teknis Dirks (1996) mendefinisikan film animasi sebagai

serangkaian gambar, lukisan atau ilustrasi yang dipotret dalam frame-frame

terpisah. Gambar-gambar pada frame yang berurutan biasanya sedikit berbeda,

sehingga akan menimbulkan bayangan bergerak apabila frame-frame tersebut

diproyeksikan secara berurutan dengan kecepatan 24 frame per-detik.

dulu eksis untuk menyebut gambar lucu yang terdapat di koran atau majalah

mengenai orang dan peristiwa (Hornby, 1990). Karena menceritakan suatu

kejadian, kartun ini biasanya terdiri dari beberapa gambar berurutan. Dari sini

kemudian muncul istilah komik (comic). Enclycopedia Americana (1975: 370)

menyebut komik sebagai kartun yang diletakkan pada satu atau beberapa bidang

persegi panjang/bujursangkar (yang kemudian disebut comic-strips) yang telah

menjadi sajian popular koran-koran Amerika. Komik dapat dianggap sebagai

commit to user

47
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

nama spesifik untuk kartun. Jika panjang kartun hanya satu atau beberapa kotak

gambar saja dinamakan comic-strips, sedangkan jika panjangnya mencapai satu

jilid disebut buku komik (comic book) atau komik saja.

Dari beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa film

animasi merupakan pengembangan dari kartun atau komik. Jika kartun hanya

berupa gambar mati yang dimuat di media cetak, maka gambar film animasi sudah

bergerak dan menggunakan media mekanik maupun elektronik (bioskop/televisi).

Asal muasal film animasi adalah comic-strips di koran yang muncul pada tahun

1890. Film animasi pertama dibuat oleh J. Stuart Blackton pada tahun1906

dengan judul Humorous Phases of Funny Faces. Jenis film ini kemudian terus

berkembang menjadi industri dan melahirkan figur-figur kartun terkenal semacam

Mickey Mouse, Scooby-Doo, The Flintstone, hingga Superman. Industri film

animasi ini juga telah melahirkan seniman-seniman berbakat seperti Walt

Disney, Hanna-Barbera dan Stan Lee.

2.5.1 Serial The Simpsons

The Simpsons adalah serial kartun ber-genre komedi situasi yang diputar

di saluran televisi Fox dan sangat popular pada dekade tahun 90-an. Film kartun

ini merupakan hasil kreasi Matt Groening yang bercerita tentang sebuah keluarga

kelas menengah Amerika yang tinggal di kota Springfield. Keluarga ini terdiri

dari suami-istri Homer dan Margie Simpson dengan tiga orang anak, masing-

masing Bart, Lisa, dan Maggie.

Keluarga The Simpsons ini memiliki karakter yang unik. Homer, bekerja

sebagai pemeriksa keamanan pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Springfield.

Sesuatu yang aneh mengingat sifatnya yang ceroboh dan konyol. Homer
commit to user

48
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

beristrikan Marge, seorang wanita yang mewakili stereotipe istri dan ibu rumah

tangga Amerika. Bart, anak pertama yang masih berusia 10 tahun, sering

membuat masalah dengan kenakalannya, sedangkan anak kedua, Lisa, yang

berumur 8 tahun, adalah seorang aktivis yang cukup rewel. Kemudian si bungsu

Maggie, meski belum bisa bicara, sudah dapat melakukan komunikasi dengan

Little Helper dan seekor kucing bernama Snowball II.

Yang membedakan serial ini dengan film-film sejenis adalah segmentasi

penontonnya. Jika film kartun pada umumnya ditujukan untuk anak-anak, maka

film The Simpsons ini justru membidik pemirsa dewasa (adult oriented). Oleh

karena itu, film ini banyak mengambil tema isu-isu yang sedang hangat di

Amerika Serikat. Permasalahan- permasalahan yang tidak pernah kita bayangkan

untuk diangkat dalam sebuah film kartun, seperti lingkungan, politik, kehidupan

keluarga, ras, kesehaatan, agama, kapitalisme, kebohongan media, psikologi,

kekerasan, agen rahasia, mafia, dan bahkan homoseksualitas ditampilkan di depan

penonton. Inilah mungkin yang membuat serial ini sangat kontroversial (Danial,

2009).

Sejak diputar pertama kali pada tanggal 17 Desember 1989 serial ini

mendapatkan sambutan yang cukup baik dari penonton. Hingga saat ini telah

tercapai tak kurang dari 19 periode penayangan atau 404 episode dengan durasi

kira-kira 30 menit per-episode . Kesuksesan serial ini juga ditandai dengan

diperolehnya berbagai penghargaan di bidang perfilman/pertelevisian, seperti 23

piala Emmy Award, 26 piala Annie Award dan satu piala Peabody Award. Selain

itu, pada 30 Desember 1999 serial ini juga dinobatkan oleh majalah Time sebagai

commit to user

49
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

serial televisi terbaik abad ke-20 dan dianugerahi satu bintang di Holywood Walk

of Fame pada 14 Januari 2000. The Simpsons juga merupakan serial animasi dan

komedi situasi yang bertahan paling lama di televisi (The Simpson, 2008).

2.5.2 Film The Simpsons Movie

Kesuksesan serial The Simpsons di televisi mengilhami diproduksinya

The Simpsons versi layar lebar. Versi layar lebar ini diberi judul The Simpsons

Movie dengan lama putar sekitar 100 menit. Film ini merupakan produksi bersama

antara 20th Century Fox, Gracie Films dan Film Roman, dengan sutradara David

Silverman dan tim penulis cerita yang terdiri dari Matt Groening, James L Brooks,

Al Jean, George Meyer, Mike Reiss, John Swrtzwelder, John Vitti, David Mirkin,

Mike Scully, Max Selman dan Ian Maxtone Graham.

Mengikuti jejak versi serialnya, The Simpsons versi layar lebar ini juga

menangguk untung cukup besar sejak diluncurkan pada tanggal 26 Juli 2007. Pada

minggu pertama pemutaran, film ini mengumpulkan total pendapatan 74 juta dolar

di Amerika Serikat, menempatkan diri sebagai box office dan memecahkan rekor

sebagai film berbasis serial televisi terlaris mengalahkan Mission Impossible II. Di

luar Amerika film ini juga langsung menjadi box office dengan membukukan

pendapatan awal sebanyak 98 juta dolar dari 71 negara (The Simpsons, 2008).

Kesuksesan The Simpson Movie ini menghasilkan total pendapatan hingga 500

juta dolar di seluruh dunia.

Film The Simpsons Movie sendiri mengangkat tema seputar

penyelamatan lingkungan. Cerita film ini dibuka dengan konser musik rock di

tengah Danau Springfield yang menampilkan grup musik rock Green Day. Konser

ini berakhir tenggelamnya panggung band tersebut akibat banyaknya sampah yang
commit to user

50
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

mencemari danau. Melihat kejadian ini Lisa aktif mengimbau warga Springfield

untuk membersihkan dan menjaga Danau Springfield dari sampah dan kotoran.

Namun imbauan Lisa ini tidak mendapat tanggapan semestinya dari warga.

Pada saat keluarga Simpsons sedang mengikuti kebaktian di gereja

untuk mendoakan anggota band yang baru saja meninggal, tiba-tiba Kakek

mengigau memperingatkan akan terjadinya suatu bencana berkaitan dengan ekor

terpilin, mata seribu, dan terperangkap selamanya. Hal ini membuat Marge

menjadi khawatir. Homer sendiri tidak begitu peduli dengan kejadian yang

menimpa Kakek.

Hari berikutnya, ketika sedang memperbaiki atap rumah, Homer

menantang Bart untuk naik skateboard dengan telanjang ke Krusty Burger. Bart

memenuhi tantangan tersebut, tetapi sebagai akibatnya ia ditangkap polisi dan

mendapatkan hukuman. Alih-alih membantu, Homer justru tampak tidak peduli

dengan keadaan Bart. Sikap Homer ini membuat Bart kecewa dan merasa tidak

diperhatikan oleh ayahnya. Untunglah ada Ned Flanders tetangga yang dengan

sukarela membantu. Bart merasa menemukan figur seorang ayah yang baik pada

Ned dn mereka berdua jadi semakin akrab.

Di restoran Krusty Burger tersebut, Homer melihat seekor anak babi

yang tidak mau disembelih untuk dijadikan hidangan di restoran tersebut. Ia

kemudian menyelamatkan dan membawa pulang anak babi tersebut dan

menamainya Spider Pig. Marge tidak suka Homer memelihara anak babi tersebut

karena membuat rumah jadi kotor. Marge juga memiliki firasat kalau keberadaan

anak babi tersebut ada hubungannya dengan bencana yang diramalkan Kakek

begitu melihat ekor anak babi itu terpilin.. Hanya dalam waktu dua hari, kotoran

commit to user

51
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Spider Pig sudah memenuhi silo. Homer kemudian membuang silo berisi kotoran

ini ke danau sehingga menambah pencemaran.

Keadaan ini membuat Russ Cargill boss EPA, sebuah lembaga

perlindungan lingkungan, berang dan menganggap kota Springfield sudah sangat

membahayakan sehingga harus diambil suatu tindakan. Ia kemudian berhasil

mendesak Presiden Arnold Schwarzennegger untuk menutup kota Springfield

dengan kubah guna mencegah segala sesuatu keluar atau masuk kota tersebut.

Penduduk Springfield menjadi sengsara karena hubungan mereka dengan dunia

luar terputus.

Dalam upaya mencari biang keladi diisolasinya Kota Springfield, tiba-

tiba dari dasar danau ditemukan silo milik Homer. Mengetahui hal ini, warga jadi

marah dan berniat menggantung Homer sekeluarga beramai-ramai. Namun Homer

sekeluarga berhasil melarikan diri keluar dari kubah melalui lubang yang sering

dipakai bermain Maggie.

Merasa sudah kehilangan tempat tinggal, Homer mengajak keluarganya

untuk pindah ke Alaska. Mereka berangkat ke sana dngan menggunakan truk yang

dimenangkan Homer dari sebuah permainan di pasar malam. Mereka merasa

bahagia hidup di Alaska sebelum tiba-tiba mengetahui dari siaran televisi bahwa

Kota Springfield akan segera dihancurkan. Melihat situasi ini, Marge memutuskan

untuk kembali pulang menyelamatkan kota asalnya. Homer tidak setuju dengan

keinginan Marge sehingga ia ditinggal sendirian oleh istri dan kedua anaknya.

Hidup sendiri di Alaska membuat Homer jadi merana hingga sempat tak

sadarkan diri. Dalam keadaan tidak sadar Homer ditolong oleh seorang wanita

Indian yang kemudian membuat Homer menyadari kekeliruannya. Akhirnya

commit to user

52
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Homer memutuskan untuk kembali ke Springfield ikut menyelamatkan kota dari

kehancuran.

Bertemunya kembali Homer dan keluarganya menjadi momen yang

merekatkan kembali hubungan bapak-anak antara Homer dan Bart. Homer

meminta Bart untuk membantunya menyelamatkan kota. Dengan berboncengan

naik sepeda motor, akhirnya Homer dan Bart berhasil melemparkan bom waktu

keluar dari kubah sekaligus menyelamatkan kota mereka dari kehancuran.

Terhindarnya Kota Springfield dari kehancuran sekaligus menandai kembalinya

keharmonisan Keluarga Simpson.

2.6 Kerangka Pikir Penelitian

Pokok permasalahan yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini

adalah adanya ketakterjemahan dalam proses penerjemahan, yaitu suatu keadaan

di mana suatu unsur dari bahasa sumber tidak bisa digantikan secara tepat atau

langsung dengan unsur dari bahasa sasaran, sehingga diperlukan suatu upaya

untuk mengatasinya. Secara garis besar, kerangka pikir penelitian ini dapat

digambarkan sebagai berikut (lihat Bagan 4).

Pertama-tama peneliti membandingkan dialog dan subtitle DVD film

The Simpsons Movie untuk menemukan ketidaksepadanan antara unsur-unsur

pada bahasa sumber (dialog dalam bahasa Inggris) dan unsur-unsur bahasa

sasaran (subtitle dalam bahasa Indonesia). Dalam menentukan ketidaksepadanan

ini penulis melakukan pemeriksaan silang (cross check) dengan narasumber

maupun sumber lain, terutama kamus. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan

adanya ketidaksepadanan maka unsur terkait dijadikan data penelitian sebagai

suatu bentuk ketakterjemahan.


commit to user

53
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Selanjutnya, seluruh data ini diperiksa satu persatu untuk dikenali

karakteristiknya dan dikelompokkan sesuai jenisnya, apakah termasuk

ketakterjemahan linguistik ataukah ketakterjemahan budaya. Khusus untuk

ketakterjemahan linguistik akan dibedakan lagi menjadi ketakterjemahan leksikal

dan ketakterjemahan struktural.

KAM US NARASUMBER

DIALOG SUBTITLE
PADANAN ?
(BSU) (BSA)

LEKSIKAL
×

LINGUISTIK

STRUKTURAL
KETAKTERJEMAHAN

BUDAYA

STRATEGI PENERJEM AHAN

TEKNIK
PENERJEMAHAN

Bagan 4: Alur penelitian ketakterjemahan

Selanjutnya, dengan membandingkan dan menganalisis bahasa sumber

dengan bahasa sasaran dari data tersebut, peneliti berusaha mengetahui teknik

penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah untuk mengatasi masalah


commit to user

54
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ketakterjemahan yang dihadapinya sehingga proses penerjemahan (subtitling) bisa

terselesaikan. Di samping itu, secara terperinci juga akan dicari hal-hal yang

menyebabkan terjadinya berbagai jenis ketakterjemahan tersebut.

2.7 Penelitian yang Relevan

Dari penelusuran pustaka yang dilakukan peneliti, setidaknya ada dua

penelitian dengan topik yang hampir sama dengan penelitian ini. Yang pertama

dilakukan oleh Sri Isnani Setiyaningsih, mahasiswa Program Studi S2 Linguistik

Penerjemahan Pascasarjana UNS pada tahun 2003 dan hasilnya dituliskan dalam

bentuk tesis dengan judul Analisis Kontrastif Ketakterjemahan dalam Buku The

Forgotten Queens of Islam Karya Fatima Mernessi.

Ada beberapa persamaan maupun perbedaan antara penelitian di atas

dengan penelitian ini. Pertama, kedua penelitian sama-sama mengambil tema

ketakterjemahan sebagai objek kajian dan menggunakan teori ketakterjemahan

Catford tentang ketakterjemahan linguistik dan ketakterjemahan budaya sebagai

landasan teori.

Kemudian, berkenaan dengan pendekatan penelitian, meskipun tidak

disebutkan secara spesifik pada judul, seperti penelitian di atas, penelitian ini juga

menggunakan analisis kontrastif sebagai salah satu metode analisis. Meskipun

demikian, pendekatan dalam bentuk lain juga diterapkan sesuai kebutuhan untuk

menyempurnakan hasil penelitian ini.

Berkaitan dengan tujuan penelitian, kedua penelitian bertujuan

mendeskripsikan satuan-satuan linguistik (kata, frasa, dan kalimat) yang tidak

dapat diterjemahkan dan menemukan faktor-faktor penyebabnya. Tetapi, tidak

seperti penelitian pertama yang berupaya menjelaskan pengaruh ketakterjemahan


commit to user

55
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

terhadap pemahaman makna secara keseluruhan, penelitian ini lebih menekankan

pada penjelasan mengenai upaya (strategi dan teknik penerjemahan) yang

dilakukan oleh penerjemah dalam mengatasi masalah ketekterjemahan yang ada.

Sistematika pembahasan yang diterapkan dalam penelitian di atas juga

berbeda jika dibandingkan dengan penelitian ini. Penelitian di atas

mengklasifikasikan pembahasan menurut bahasa sumbernya, yaitu Bahasa

Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab, sementara penelitian ini hanya difokuskan

pada Bahasa Inggris saja. Selain itu, khusus untuk ketakterjemahan linguistik,

pembahasan pada penelitian pertama dikelompokkan dalam tataran leksikal (kata),

frasa, dan klausa, sedangkan dalam penelitian ini sistematika pembahasan

dikelompokkan menurut jenis-jenis ketakterjemahan, yaitu ketakterjemahan

lingustik (leksikal dan struktural) dan ketakterjemahan budaya yang selanjutnya

diperinci berdasarkan faktor-faktor penyebabnya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya ketakterjemahan karena

ketiadaan padanan linguistik sebanyak 2,1% dan tidak adanya padanan budaya

sebanyak 97,9%. Ketakterjemahan budaya lebih dominan karena buku yang

dijadikan subjek penelitian bertemakan agama Islam dan berlatar budaya Arab.

Sementara itu dari sisi kualitas terjemahan, hasil penelitian menunjukkan bahwa

secara umum teks terjemahan buku The Forgotten Queens of Islam karya Fatima

Mernessi bisa dipahami dengan baik oleh pembaca.

Kemudian, penelitian lain yang juga serupa dengan penelitian ini

dilakukan oleh Fenty Kusumastuti, untuk penulisan tesisnya di Program Studi

Linguistik S-2 Minat Utama Penerjemahan Program Pascasarjana UNS pada

tahun 2011 dengan judul Analisis Kontrastif Subtitling dan Dubbing dalam Film

commit to user

56
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kartun Dora the Explorer Seri Wish Upon a Star (Kajian Teknik Penerjemahan

dan Kualitas Terjemahan).

Persamaan penelitian Fenty dengan penelitian ini terletak pada sebagian

permasalahan yang dikaji dan subjek penelitian, di mana kedua-duanya membahas

mengenai teknik penerjemahan pada subtitle film kartun, sehingga kedua

penelitian ini setidaknya memiliki kerangka pikir yang hampir sama. Kemudian

perbedaannya terletak pada fokus utama penelitian, di mana penelitian di atas

berupaya membandingkan kualitas penerjemahan antara subtitling dan dubbing,

sedangkan penelitian ini lebih menekankan pada pendeskripsian masalah

ketakterjemahan pada subtitle saja.

Hasil penelitian di atas menunjukkan adanya 13 teknik penerjemahan

yang diterapkan oleh penerjemah dalam subtitling film Dora The Explorer: Wish

Upon a Star. Selain itu juga ditemukan adanya perbedaan dominasi teknik

penerjemahan yang diterapkan antara versi subtitling dan dubbing dari film di atas

meskipun kedua-duanya sama-sama mengalami reduksi (lingiuistic compression)

dalam proses penerjemahan. Penerjemahan dengan subtitle cenderung memakai

teknik literal, sedangkan dubbing banyak menggunakan teknik peminjaman

(borrowing).

Dari sisi kualitas terjemahan, media subtitling dianggap lebih berkualitas

dibandingkan dubbing, terutama dalam hal keakuratan dan keberterimaan.

Meskipun demikian hasil terjemahan dubbing cenderung lebih mudah dipahami

daripada subtitle.

commit to user

57
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai ketakterjemahan dalam subtitle Bahasa Indonesia

DVD film The Simpsons Movie dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia

ini merupakan penelitan kualitatif dengan jenis penelitian dasar (basic research)

pada tingkat studi kasus tunggal dan terpancang. Penelitian kualitatif adalah

penelitian yang menekankan pada analisis induktif, dengan deskripsi yang kaya

dengan beragam nuansa, dan juga penelitian tentang manusia (Bogdan & Biklen,

1982). Sementara penelitian dasar, atau penelitian akademis, adalah penelitian

murni yang hanya bertujuan untuk memahami suatu masalah yang mengarah pada

manfaat teoretik dan bukan pada manfaat praktis. Rancangan penelitian kualitatif

pada dasarnya adalah studi kasus, yaitu pendeskripsian secara rinci dan mendalam

mengenai potret kondisi dalam suatu konteks, tentang apa yang sebenarnya

terjadi dan menurut apa adanya di lapangan studi. Studi kasus tunggal

mengarahkan sasaran penelitian pada satu karakteristik, sedangkan sifat

terpancang menunjukkan bahwa penelitian bersifat terbatas dan sudah terfokus

pada subjek/objek tertentu (Sutopo, 2006).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mendeskripsikan

masalah-masalah ketakterjemahan yang dijumpai pada subtitle Bahasa Indonesia

DVD film The Simpsons Movie, yaitu bagaimanakah bentuk-bentuk

ketakterjemahan yang terdapat pada subtitle tersebut, mengapa hal itu terjadi, dan

bagaimanakah penyelesaian masalah ketakterjemahan tersebut. Sebagai suatu

commit to user

58
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

penelitan kualitatif, penelitian ini juga melibatkan persepsi manusia, dalam hal ini

persepsi peneliti sendiri dan persepsi narasumber penelitian.

Selanjutnya, metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode etnografi, yaitu suatu metode penelitian yang melibatkan empat

tahap analisis, yaitu analisis domain, taksonomi, komponensial dan tema budaya

(Sadewo, 2008: 192). Kemudian pendekatan yang digunakan adalah pendekatan

semantik, terutama dengan analisis komponen makna, dan pendekatan budaya,

karena objek penelitian berupa fenomena kebahasaan yang dipengaruhi oleh

faktor budaya. Fokus penelitian ini sendiri adalah masalah ketakterjemahan dalam

penerjemahan dengan batasan pada satu judul film di atas.

3.2 Alat Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, dimungkinkan untuk menggunakan alat

pengumpulan data sebagai kelengkapan penunjang. Meskipun demikian, alat

utama penelitian dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Bogdan dan

Bikklen (1982: 27) menyatakan bahwa penelitian kualitatif menggunakan ruang

lingkup netral sebagai sumber data langsung di mana peneliti merupakan alat

penelitian yang utama.

Sesuai dengan pernyataan di atas, karena penelitian ini sifatnya kualitatif

maka di sini peneliti menjadi alat utama penelitian. Di samping itu digunakan pula

alat penelitian lain sebagai penunjang, meliputi keping DVD film The Simpsons

Movie, alat pemutar DVD, laptop, buku-buku acuan (termasuk kamus), lembar

kuesioner, beberapa orang narasumber, alat perekam suara, dan seperangkat alat

tulis menulis.

commit to user

59
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3.3 Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif data yang digunakan juga berupa data

kualitatif. Bogdan dan Biklen (1982: 23) menyatakan bahwa dalam metode

deskriptif kualitatif data yang digunakan berbentuk kata atau gambar dan bukan

berupa angka-angka. Secara lebih spesifik Lexy (2002: 112) membagi data

penelitian kualitatif menjadi kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan

statistik.

Data penelitian diperoleh dari sumber data. Lexy (2002: 112) membagi

sumber data menjadi dua yaitu sumber data utama, berupa kata-kata dan tindakan

orang orang yang diamati dan diwawancarai, dan sumber data tambahan berupa

buku, majalah ilmiah, arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi. Ketepatan

dalam memilih dan menentukan sumber data akan menentukan ketepatan dan

kekayaan data atau kedalaman informasi yang diperoleh. Data tidak akan bisa

diperoleh tanpa adanya sumber data. Sumber data dalam penelitian kualitatif ada

beberapa jenis, bisa berupa manusia, peristiwa, aktivitas, perilaku, tempat, benda,

gambar, rekaman, serta dokumen. Salah satu sumber data yang cukup penting

adalah rekaman baik yang berbentuk audio maupun visual (Sutopo, 2006: 61).

Sebagai suatu bentuk penelitian kualitatif, data penelitian ini berupa

kata, frasa, dan kalimat yang merepresentasikan terjemahan dialog film The

Simpsons Movie. Sementara itu, sumber datanya terdiri dari tiga jenis, yakni:

rekaman, dokumen, dan narasumber.

1. Rekaman

Rekaman menjadi sumber data utama karena subjek penelitian ini berupa

gambar bergerak (animated pictures) yang disimpan atau direkam pada

commit to user

60
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

piringan. Rekaman ini berupa rangkaian gambar dan suara (audiovisual) film

The Simpsons Movie yang disimpan dalam sebuah piringan dengan format

DVD. Baik rekaman gambar maupun suara ini akan dijadikan sumber data

penelitian. Dari rekaman gambar, yang diambil sebagai data adalah bagian

subtitle, sedangkan dari rekaman suara, yang digunakan sebagai data adalah

dialog antarkarakter film. Adegan-adegan di dalam film juga digunakan

sebagai data pelengkap untuk menunjukkan konteks situasi yang melatar

belakangi terjadinya dialog.

2. Dokumen

Penggunaan dokumen dalam penelitian ini ditujukan untuk memberikan data

tambahan untuk melengkapi data yang berasal dari sumber data utama

(rekaman). Dokumen yang dipakai sebagai sumber data di sini berupa buku-

buku acuan, terutama buku-buku teori penerjemahan, naskah-naskah yang

isinya berkaitan dengan topik penelitian, baik dalam bentuk hardcopy maupun

softcopy, dan sejumlah kamus. Penggunaan dokumen-dokumen ini ditujukan

untuk membangun landasan teori dan mendukung validitas penelitian.

Khusus untuk keperluan validasi data, dalam penelitian ini setidaknya

digunakan lima jenis kamus yang berbeda. Masing-masing adalah:

a. Longman Dictionary of American English, terbitan Pearson Education

Limited., Essex, tahun 2008 (selanjutnya disebut Kamus A)

b. Kamus Inggris-Indonesia, karangan John M. Echols dan Hassan Shadily,

terbitan PT Gramedia, Jakarta, tahun 2000 (selanjutnya disebut Kamus B)

c. Kamus Bahasa Indonesia, terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan

Nasional, Jakarta, tahun 2008 (selanjutnya disebut Kamus C)

commit to user

61
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

d. karangan Richard Spears, terbitan

NTC Publishing Group, tahun 2000 (selanjutnya disebut Kamus D)

e. karangan

Richard Spears, terbitan NTC Publishing Group, tahun 2000 (selanjutnya

disebut Kamus E).

3. Narasumber

Fungsi narasumber (informan) hampir sama dengan fungsi dokumen, yaitu

sebagai sumber data pendukung dalam penelitian. Data yang berasal dari

narasumber ini berfungsi untuk menguji dan menilai validitas data yang

diperoleh dari sumber data utama, sehingga akan tercapai kemantapan

penelitian. Narasumber yang akan dilibatkan dalam pengambilan data

tambahan ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, sehingga akan

diperoleh pendapat yang objektif dari berbagai sudut pandang. Pihak-pihak

yang akan dijadikan narasumber penelitian ini meliputi ahli penerjemahan,

praktisi penerjemahan, dan penonton film terkait.

Tiga orang narasumber penelitian ini masing-masing adalah:

a. Lilik Untari, S.Pd, M.Hum, dosen/akademisi penerjemahan dari Jurusan

Bahasa dan Sastra STAIN Surakarta (selanjutnya disebut Narasumber 1)

b. Drs. Rombe Mustajab, M.Hum, praktisi penerjemahan sekaligus kepala

cabang Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris IEC Surakarta (selanjutnya

disebut Narasumber 2)

c. Danial Hidayatullah, SS, MA, penonton film The Simpsons Movie dan

merupakan dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta (selanjutnya disebut Narasumber 3).

commit to user

62
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3.4 Teknik Cuplikan

Cuplikan (sampling) berkaitan dengan pemilihan dan pembatasan jumlah

serta jenis dari sumber data yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam

penelitian kualitatif cuplikan yang diambil lebih bersifat selektif (purposive

sampling). Cuplikan tidak digunakan dalam usaha untuk melakukan generalisasi

statistik atau mewakili populasinya, tetapi lebih mengarah pada generalisasi

teoretis atau mewakili informasinya (Sutopo, 2006: 62-64). Menurut Spradley

(2007), sebagian kriteria dalam pengambilan sampel adalah dengan memilih

situasi sosial yang relatif banyak merangkum informasi tentang domain-domain

yang tercakup dalam topik penelitian (organizing domain) dan berlangsung relatif

sering atau berulang (frequently recurring activities).

Populasi penelitian ini adalah seluruh caption (baris) subtitle Bahasa

Indonesia dari DVD film The Simpson Movie, sedangkan cuplikannya berupa

subtitle yang memperlihatkan adanya ketidaksepadanan arti dengan bahasa

sumbernya, yaitu Bahasa Inggris yang diucapkan oleh karakter-karakter maupun

yang tergambar di dalam film tersebut. Cuplikan ini ditujukan untuk menunjukkan

adanya ketakterjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia pada subtitle

DVD film The Simpson Movie.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Secara umum teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat

dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu interaktif dan non-interaktif. Dalam

teknik interaktif, ada kemungkinan saling mempengaruhi antara peneliti dan

sumber datanya, sedangkan dalam teknik non-interaktif sama sekali tidak ada

saling mempengaruhi antara peneliti adan sumber data (Sutopo, 2006: 66).
commit to user

63
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Sumber data penelitian ini ada dua yaitu sumber data utama (primer) dan

sumber data tambahan (sekunder). Mengingat sumber data utama penelitian ini

berupa benda mati (cakram DVD) maka teknik pengumpulan data utama dalam

penelitian ini bersifat non-interaktif berupa analisis isi (content analysis). Hal ini

juga berlaku pada sumber data tambahan yang berupa dokumen. Kemudian untuk

sumber data tambahan lainnya, yang berupa manusia, digunakan teknik

pengumpulan data interaktif, dalam hal ini digunakan teknik penyebaran

kuesioner (angket) dan melakukan wawancara (interview).

Berikut ini penjelasan mengenai ketiga teknik pengumpulan data

tersebut:

1. Analisis isi

Rekaman yang menjadi sumber data utama penelitian ini memiliki

karakteristik yang sama dengan dokumen, sehingga teknik pengumpulan data

yang digunakan adalah analisis isi (content analysis), yakni mengkaji

dokumen atau arsip untuk memperoleh data. Proses analisis isi rekaman ini

dilakukan secara simultan dengan analisis isi dokumen yang merupakan

sumber data tambahan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam analisis.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data utama ini

selengkapnya adalah sebagai berikut:

a. memutar DVD film The Simpsons Movie dan menyimak dialog beserta

subtitle-nya dengan seksama

b. mentranskrip seluruh dialog beserta subtitle-nya ke dalam tabel secara

berpasangan, dialog sebagai BSu dan subtitle sebagai BSa

commit to user

64
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

c. menyeleksi dialog dan subtitle yang menunjukkan adanya hubungan

ketakterjemahan untuk dijadikan data penelitian.

Setelah data penelitian terkumpul, dilakukan identifikasi untuk mengetahui

karakteristik masing-masing data dan menemukan persamaan dan perbedaan

di antara data-data tersebut. Selanjutnya, berdasarkan persamaan dan

perbedaan ini, data diklasifikasikan dan dianalisis lebih lanjut untuk disajikan

dalam laporan.

2. Menyebar kuesioner

Penggunaan kuesioner dalam penelitian ini merupakan bagian dari proses

validasi data penelitian yang bertujuan untuk menguji reliabilitas

(keterpercayaan) dan validitas (keshahihan) data yang diperoleh dari analisis

isi. Jenis kuesioner yang digunakan di sini berupa kuesioner tak berstruktur

(terbuka), di mana narasumber dapat memberikan jawaban secara bebas dalam

bentuk isian, dan kuesioner berstruktur (tertutup), di mana narasumber tinggal

memilih jawaban yang telah disediakan. Jawaban-jawaban yang diberikan

oleh narasumber melalui kuesioner ini kemudian dibandingkan dengan hasil

analisis atau persepsi peneliti. Apabila terdapat kesamaan maka data yang

diperoleh dinyatakan reliabel dan valid.

3. Melakukan wawancara

Wawancara ini merupakan tindak lanjut dari penyebaran kuesioner dalam

upaya mendapatkan kemantapan jawaban atau data yang berasal dari

kuesioner. Jenis wawancara yang diterapkan di sini adalah wawancara bebas

terpimpin, di mana pertanyaan didasarkan pada jawaban-jawaban tertentu

commit to user

65
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

pada kuesioner dengan kemungkinan pertanyaan yang berbeda antara

narasumber yang satu dengan narasumber yang lain.

3.6 Validasi Data

Validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterpercayaan) data merupakan

jaminan bagi kemantapan simpulan dan tafsir makna sebagai hasil penelitian

(Sutopo, 2006: 92). Agar hasil penelitian sahih dan terpercaya perlu dilakukan

triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu

yang lain di luar data itu untuk keperluan penegecekan atau sebagai pembanding

terhadap data itu. Secara keseluruhan ada empat acuan yang bisa dimanfaatkan

oleh peneliti untuk melakukan triangulasi, yaitu sumber, metode, penyidik, dan

teori (Denzin dalam Moleong, 2002: 178).

Untuk keperluan triangulasi dalam penelitian ini peneliti menggunakan

sumber (data) dan metode sebagai acuan. Triangulasi dengan sumber berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat informasi yang diperoleh melalui

waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif, sedangkan triangulasi

dengan metode pada dasarnya adalah pengecekan derajat kepercayaan penemuan

hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data atau dengan beberapa

sumber data dengan metode yang sama (Patton dalam Moleong, 2002: 178).

Penerapan triangulasi sumber dalam penelitian ini dilakukan dengan cara

membandingkan data inti yang berasal dari sumber data utama (rekaman) dengan

data pendukung yang diperoleh dari sumber data tambahan, terutama dari

beberapa kamus yang relevan. Kemudian, triangulasi dengan metode dilakukan

dengan meminta pendapat beberapa narasumber mengenai kesahihanhan dan

keterpercayaan data tersebut, baik dengan menggunakan kuesioner maupun


commit to user

66
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

melalui wawancara. Jenis kamus yang dipakai dan narasumber yang dilibatkan

dalam proses validasi data penelitian ini selengkapnya dapat dilihat pada subbab

sebelumnya, yaitu bagian Sumber Data.

3.7 Analisis Data

Setelah proses validasi data selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah

analisis data. Menurut Spradley (2007), ada empat tahapan analisis data dalam

penelitian yang berkaitan dengan kebudayaan, yaitu analisis domain, analisis

taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema budaya.

Tahap pertama adalah analisis domain, yaitu menganalisis gambaran

objek penelitian secara umum atau di tingkat permukaan, namun relatif utuh

(Burhan, 2008: 85). Pada tahap ini akan pertama-tama dipisahkan antara

ungkapan yang sepadan dan yang tidak sepadan dari BSu ke BSa. Hubungan

semantik yang digunakan sebagai dasar analisis ini adalah hubungan jenis (strict

inclusion), di mana seluruh ungkapan yang ada akan dikelompokkan ke dalam dua

domain yang berbeda. Ungkapan-

akan direduksi atau tidak dipakai sebagai data penelitian, sedangkan ungkapan-

dan dianalisis lebih lanjut karena ketidaksepadanan mengindikasikan adanya

ketakterjemahan.

Selanjutnya, masih dengan analisis domain, data penelitian yang

diperoleh dianalisis dan dikelompokkan dengan metode hubungan ruang (spatial).

Di sini ungkapan-ungkapan yang menunjukkan adanya ketakterjemahan tersebut

dianalisis dan diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok menurut jenisnya,

yaitu ketakterjemahan linguistik dan ketakterjemahan budaya. Ketakterjemahan


commit to user

67
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

yang pertama kemudian dibedakan lagi menjadi ketakterjemahan linguistik

leksikal dan ketakterjemahan linguistik struktural.

Setelah analisis domain selesai dan diperoleh tiga jenis ketakterjemahan,

dilakukan analisis taksonomi. Teknik analisis taksonomi terfokus pada domain-

domain tertentu, kemudian memilih domain-domain tersebut menjadi sub-

subdomain serta bagian-bagian yang lebih khusus dan terperinci yang umumnya

merupakan rumpun yang memiliki kesamaan (Burhan, 2008: 90). Pada tahap ini

keempat bentuk ketakterjemahan tersebut akan diklasifikasikan menurut teknik

penerjemahan yang diterapkan, misalnya peminjaman, naturalisasi, deskripsi,

generalisasi dan lain-lain.

Tahap analisis selanjutnya adalah analisis komponensial, yaitu teknik

yang digunakan untuk menganalisis unsur-unsur yang memiliki hubungan kontras

satu sama lain dalam domain yang telah ditentukan untuk dianalisis secara

terperinci (Burhan, 2008, 95). Di sini, ketakterjemahan yang sudah

diklasifikasikan menurut jenis dan teknik penerjemahannya dibedakan atau

dipilah-pilah berdasarkan faktor-faktor penyebabnya secara lebih terperinci.

Setelah diperoleh data yang terperinci dari ketiga tahap analisis di atas,

kemudian dilakukan analisis tema budaya, yaitu upaya menemukan hubungan

yang terdapat pada domain-domain yang dianalisis sehingga akan membentuk

satu kesatuan yang holistik yang terpola secara kompleks dan menunjukkan

faktor-faktor atau tema-tema yang dominan dan tidak (Burhan, 2008: 98). Pada

tahap ini akan dicari keterkaitan antara bentuk, teknik penerjemahan, dan faktor

penyebab ketakterjemahan yang ditemukan pada subjek penelitian. Selain itu juga

commit to user

68
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

akan ditemukan nilai atau tema budaya yang melatar belakangi atau melingkupi

peristiwa ketakterjemahan tersebut.

Pada tahap analisis data ini juga dilakukan pemberian kode pada seluruh

data penelitian, sehingga masing-masing dapat diketahui urutan, letak, maupun

kelompoknya. Bentuk pengkodean selengkapnya adalah sebagai berikut:

URUTAN CAPTION KELOMPOK DATA TEKNIK PENERJEMAHAN


URUTAN DATA TIMELINE DATA BSU-BS A

23/49/00:05:02-00:05:04/L1/gay-gay (peminjaman)
Saat kebaktian di gereja, pendeta meminta peserta untuk mengakui
sesuatu. Ned Flanders menanggapi dan ingin mengutarakan sesuatu.
Sebelum Ned mulai bicara, Homer mencoba menebak-nebak perbuatan
apa yang akan diakui oleh Ned.
BSu : Gay, gay, gay, gay, gay, gay, gay...
BSa : Gay, gay, gay (pria homoseks). KONTEKS SITUASI

DIALOG-SUBTITLE

Bagan 5: Pengkodean data penelitian

Contoh di atas menunjukkan data nomor 23 yang merupakan caption ke-

49 dari seluruh subtitle. Data tersebut berada pada posisi waktu antara lima menit

lebih dua hingga empat detik dari durasi film dan termasuk dalam kelompok

ketakterjemahan leksikal yang disebabkan katrena tidak ada istilah BSa untuk

menyebut referen terkait. Kemudian istilah yang dijadikan data tersebut adalah

istilah BSu dalam Bahasa Inggris, gay, yang diterjemahkan ke dalam BSa dalam

Kemudian, konteks situasi kejadian dan ungkapan selengkapnya dapat dilihat di

bawah data.

commit to user

69
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

3.8 Prosedur Penelitian

Penelitian kualitatif dibagai ke dalam empat tahap, yaitu tahap sebelum

ke lapangan, pekerjaan lapangan, analisis data, dan penulisan laporan (Moleong,

2002: 109). Mengacu pada pendapat di tersebut dan disertai dengan sedikit

penyesuaian peneliti membagi kegiatan penelitian ini ke dalam tiga tahapan, yaitu:

persiapan penelitian, pengumpulan dan analisis data, dan penyusunan laporan.

Prosedur penelitian selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Persiapan penelitian

Persiapan penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu penentuan judul dan

penyusunan proposal. Penentuan judul penelitian di mulai dengan menentukan

topik penelitian yang menarik, layak (ilmiah) dan memungkinkan untuk

diteliti. Setelah topik penelitian diperoleh, lengkap dengan subjek maupun

objeknya, dilakukan penentuan judul penelitian. Judul penelitian ini dibuat

sedemikian rupa sehingga bersifat singkat, jelas, ilmiah, dan

merepresentasikan penelitian yang akan dilaksanakan.

Tahap selanjutnya adalah penyusunan proposal. Proposal penelitian disusun

dalam tiga bab dengan mengikuti kaidah-kaidah metodologi penelitian.

Setelah selesai disusun, proposal ini kemudian diajukan kepada dosen

pembimbing untuk dinilai kelayakannya secara ilmiah. Apabila dianggap

layak, penelitian akan dilaksanakan, jika masih dianggap kurang layak, akan

dilakukan perbaikan semestinya.

2. Pengumpulan dan analisis data

Tahap pengumpulan data, secara garis besar meliputi mentranskrip dan

mengelompokkan ucapan-ucapan karakter dan baris-baris subtitle film,

commit to user

70
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

menyebar kuesioner, dan melakukan wawancara dengan narasumber.

Kemudian tahap analisis data mencakup mereduksi, menyajikan,

memverifikasi data dan menarik kesimpulan secara simultan.

3. Penyusunan laporan

Laporan penelitian disusun dalam lima bab sesuai dengan kaidah yang

terdapat pada metode penelitian. Laporan penelitian ini merupakan tindak

lanjut atau pengembangan dari proposal penelitian dan merupakan tahap akhir

dari penelitian. Bersamaan dengan penyusunan laporan juga dilakukan

konsultasi dengan dosen pembimbing untuk memperbaiki kesalahan dan

melengkapi kekurangan yang ada pada laporan.

commit to user

71
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB IV

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Temuan Penelitian

Dari proses pengumpulan data penelitian diperoleh hasil bahwa dari

seluruh 1014 caption subtitle Bahasa Indonesia DVD film The Simpson Movie

ditemukan setidaknya ada 194 caption atau 19% yang memperlihatkan gejala

ketakterjemahan. Dari sini diperoleh data penelitian berupa istilah (kata/frasa) dan

ungkapan (frasa/kalimat) yang tidak dapat diterjemahkan, baik sebagian maupun

seluruhnya.

Kemudian, hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa ketiga

jenis ketakterjemahan, sebagaimana diuraikan pada landasan teori penelitian ini,

seluruhnya muncul atau ditemukan pada subjek penelitian. Masing-masing jenis

ketakterjemahan ini terjadi dengan faktor penyebab yang berbeda-beda.

Penerjemah juga menerapkan berbagai macam teknik penerjemahan untuk

menyelesaikan masalah ketakterjemahan ini. Hasil tabulasi data mengenai jenis,

teknik penerjemahan, dan faktor penyebab ketakterjemahan subtitle Bahasa

Indonesia DVD film The Simpsons Movie ini selengkapnya dapat dilihat pada

tabel-tabel di bawah ini.

commit to user

72
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 1: Klasifikasi Data Ketakterjemahan

Jenis Teknik Faktor Penyebab


Peminjaman
Naturalisasi
(1) Adanya kesenjangan kosa kata antara
Generalisasi
BSu dan BSa
Transposisi
Deskripsi
Naturalisasi (2) Istilah BSu merupakan istilah
Generalisasi teknis/ilmiah
Generalisasi
(3) Istilah BSu merupakan istilah tidak
Leksikal Modulasi
baku
(L) Kompensasi
Generalisasi (4) Tidak ada unsur gender pada istilah
BSa
Peminjaman (5) Istilah BSu berbentuk akronim
Peminjaman
Naturalisasi
Generalisasi (6) Referen merupakan hal/temuan baru
Modulasi
Deskripsi
Reduksi (1) Tidak adanya unsur kala pada
Modulasi struktur kalimat BSa
Struktural Generalisasi
(S) Modulasi (2) Istilah/ungkapan BSu sudah
Deskripsi dimodifikasi
Calque
Peminjaman
(1) Istilah BSu merupakan istilah ekologi
Naturalisasi
di lingkungan penutur BSu
Generalisasi
Peminjaman
Naturalisasi (2) Referen merupakan budaya materi
Amplifikasi penutur BSu
Adaptasi
Budaya Peminjaman (3) Istilah BSu terkait budaya sosial
(B) Naturalisasi penutur BSu
Peminjaman
Naturalisasi
Generalisasi
(4) Istilah/ungkapan BSu merupakan
Deskripsi
budaya tutur penutur BSu
Kompensasi
Calque
Adaptasi

commit to user

73
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari ketiga jenis ketakterjemahan yang ada, apabila kita lihat dari jumlah

kejadiannya, maka akan diperoleh komposisi data sebagai berikut:

Tabel 2: Jenis Ketakterjemahan

No Jenis Mcm Prsn Frek Prsn


1 Ketakterjemahan leksikal 69 51,9 113 55,4
2 Ketakterjemahan struktural 7 5,3 11 5,4
3 Ketakterjemahan budaya 57 42,9 80 39,2
Jml 3 133 100,0 204 100,0

Dari tabel di atas tampak bahwa frekuensi kemunculan ketakterjemahan

leksikal lebih tinggi jika dibandingkan dua jenis ketakterjemahan lainnya.

Meskipun demikian, apabila kita lihat dari macam istilahnya komposisinya cukup

berimbang dengan ketakterjemahan budaya.

Kemudian apabila kita lihat dari teknik penerjemahan yang diterapkan

oleh penerjemah untuk menerjemahkan istilah/ungkapan yang takterjemahkan

tersebut, diperoleh perbandingan sebagaimana tampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 3: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 77 37,7
2 Peminjaman 46 22,5
3 Generalisasi 33 16,2
4 Adaptasi 17 8,3
5 Deskripsi 13 6,4
6 Kompensasi 4 2,0
7 Modulasi 4 2,0
8 Reduksi 4 2,0
9 Calque 3 1,5
10 Amplifikasi 2 1,0
11 Transposisi 1 0,5
Jml 11 204 100,0

commit to user

74
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Seperti tampak pada tabel, teknik penerjemahan yang dipakai untuk

menerjemahkan bagian-bagian yang menunjukkan adanya ketakterjemahkan

didominasi secara berturut-turut oleh teknik naturalisasi, peminjaman, dan

generalisasi.

Selanjutnya, masing-masing jenis ketakterjemahan berikut teknik

penerjemahan di atas masih dapat dikelompokkan lagi secara lebih spesifik

menurut faktor-faktor penyebab kejadiannya sebagaimana dipaparkan di bawah

ini.

4.1.1 Tabulasi Data Ketakterjemahan Leksikal

Ketakterjemahan leksikal adalah suatu bentuk ketakterjemahan dalam

tataran linguistik yang secara umum disebabkan oleh perbedaan bahasa, baik

perbedaan dalam tataran kata maupun struktur kalimat. Ketakterjemahan pada

tingkatan kata disebut ketakterjemahan (linguistik) leksikal. Lebih lanjut,

ketakterjemahan leksikal yang ditemukan pada subjek penelitian dapat dibedakan

menurut hal-hal yang menyebabkannya seperti di bawah ini.

1. Adanya kesenjangan kosa kata antara BSu dan BSa

Salah satu penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal adalah karena

adanya perbedaan jumlah kosa kata BSu dengan BSa. Selisih kosa kata ini

menyebabkan adanya beberapa istilah BSa yang tidak memiliki padanan kata

pada BSa. Bahasa Inggris cenderung lebih kaya kosa kata dibandingkan dengan

Bahasa Indonesia, sehingga banyak istilah dalam Bahasa Inggris yang tidak dapat

diterjemahkan secara leksikal ke dalam Bahasa Indonesia. Data yang ditemukan

commit to user

75
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

untuk kategori ini seluruhnya ada 22 macam istilah dengan jumlah kejadian

sebanyak 37 kali.

Tabel 4: Data Ketakterjemahan Leksikal 1

No Istilah Frek Prsn


1 epiphany/epipha 5 13,5
2 name, jab/jabbity, silo, 3 @ 8,1
agency
3 myth, super, depot 2 @ 5,4
4 preachy, version, gay, 1 @ 2,7
compound, tank, club,
simulation, selfish, mascot,
national, operation,
sponsor, classic, sequel
Jml 22 37 100,0

Kemudian rincian teknik penerjemahan yang diterapkan oleh

penerjemah berkaitan dengan ketakterjemahan yang disebabkan karena

kesenjangan kosa kata ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 1

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 22 59,5
2 Peminjaman 7 18,9
3 Generalisasi 4 10,8
4 Deskripsi 3 8,1
5 Transposisi 1 2,7
Jml 5 37 100,0

Dari komposisi di atas terlihat bahwa penerjemah paling sering

menerapkan teknik naturalisasi untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan

karena kesenjangan kosa kata antara BSu dengan BSa. Sementara teknik lain

digunakan kurang dari separuhnya.

commit to user

76
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

2. Istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis

Ketakterjemahan leksikal juga bisa terjadi karena istilah BSu bersifat

ilmiah atau teknis, yaitu istilah yang hanya digunakan pada bidang tertentu. Data

ketekterjemahan yang termasuk dalam kelompok ini seluruhnya berjumlah 5

macam istilah di mana masing-masing istilah muncul 1 kali.

Tabel 6: Data Ketakterjemahan Leksikal 2

No Istilah Frek Prsn


1 mercury, energy, action, 1 @ 20
potassium, ground
Jml 5 5 100,0

Data di atas juga menunjukkan adanya dua teknik penerjemahan yang

dipakai penerjemah untuk menerjemahkan istilah ilmiah/teknis. Perbandingan

penggunaan kedua teknik tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 7: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 2

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 4 80,0
2 Generalisasi 1 20,0
Jml 2 5 100,0

Dari tabel di atas diketahui bahwa penerjemah lebih sering

menggunakan teknik naturalisasi daripada teknik generalisasi dalam

menerjemahkan istilah ilmiah/teknis.

3. Istilah BSu merupakan istilah tidak baku

Penyebab lain suatu istilah BSu tidak dapat diterjemahkan adalah

apabila istilah tersebut merupakan istilah tidak baku (non-standard). Di sini

ketakterjemahnnya biasanya bersifat parsial atau sebagian, yaitu hanya unsur tidak

commit to user

77
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

bakunya yang tak terjemahkan, sedangkan maknanya masih dapat diterjemahkan.

Data untuk kelompok ini ada sebanyak 8 istilah dan setiap istilah muncul 1 kali.

Tabel 8: Data Ketakterjemahan Leksikal 3

No Istilah Frek Prsn


1 heinie, binge, thou, shalt, thy, 1 @ 12,5
nope, booze, lookie
Jml 8 8 100,0

Untuk menerjemahkan kedelapan istilah tersebut, penerjemah hanya

menggunakan 3 macam teknik penerjemahan dengan perbandingan sebagaimana

tampak pada tabel ini:

Tabel 9: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 3

No Teknik Frek Prsn


1 Generalisasi 5 62,5
2 Kompensasi 2 25,0
3 Modulasi 1 12,5
Jml 3 8 100,0

Di sini terlihat bahwa teknik generalisasi adalah yang paling dominan

dipakai untuk menerjemahkan istilah tidak baku.

4. Tidak ada unsur gender pada istilah BSa

Sejumlah kata Bahasa Inggris memiliki unsur gender yang membedakan

pemakaiannya untuk laki-laki dan perempuan, sedangkan kosa kata Bahasa

Indonesia tidak selalu demikian. Hal ini juga menjadi penyebab terjadinya

ketakterjemahan leksikal, meski sifatnya hanya sebagian saja. Data yang mewakili

kejadian semacam ini hanya terdiri dari 3 macam istilah dengan jumlah kejadian

sebanyak 15.

commit to user

78
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 10: Data Ketakterjemahan Leksikal 4

No Istilah Frek Prsn


1 son 7 46,7
2 boy/boys 6 40,0
3 boyfriend 2 13,3
Jml 3 15 100,0

Kemudian, dalam menerjemahkan istilah yang mengandung unsur

gender ini, penerjemah hanya menerapkan satu teknik penerjemahan saja yaitu

generalisasi.

Tabel 11: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 4

No Teknik Frek Prsn


1 Generalisasi 15 100,0
Jml 1 15 100,0

5. Istilah BSu berbentuk akronim

Pada penerjemahan istilah yang bentuknya akronim (singkatan), pada

umumnya singkatan BSu tersebut diambil apa adanya atau tidak diubah ke dalam

akronim BSa, sehingga bentuk akronim ini juga menjadi salah satu penyebab

terjadinya ketakterjemahan leksikal. Data yang termasuk ke dalam kelompok ini

ada 3 bentuk akronim dengan jumlah kejadian sebanyak 6 kali.

Tabel 12: Data Ketakterjemahan Leksikal 5

No Istilah Frek Prsn


1 VCR 1 16,7
2 TV 2 33,3
3 EPA 3 50,0
Jml 3 6 100,0

commit to user

79
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Penggunaan akronim BSu untuk dipakai pada BSa seperti di atas

termasuk ke dalam teknik peminjaman. Teknik ini merupakan satu-satunya yang

diterapkan oleh penerjemah untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan

karena istilah BSu berupa akronim.

Tabel 13: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 5

No Teknik Frek Prsn


1 Peminjaman 6 100,0
Jml 1 6 100,0

6. Referen merupakan hal/temuan baru

Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal

adalah karena objek atau referen yang dimaksud oleh istilah BSu merupakan hal

atau temuan baru. Data yang termasuk dalam kelompok ini terdiri dari 26 istilah

yang berbeda dengan jumlah kejadian sebanyak 42 kali.

Tabel 14: Data Ketakterjemahan Leksikal 6

No Istilah Frek Prsn


1 movie(s), bomb 4 @ 9,5
2 video 3 7,1
3 planet, book, film, filming of 2 @ 4,8
movie, truck
4 nuclear, cell-phone, antennae, 1 @ 2,4
thermostat, skateboard, bug-
zapper, lift, scissor-lift, glass,
Botox, motor, generator, poster,
alcohol, cam, conductor,
android, card, comic, robot,
wire
Jml 29 42 100,0

Apabila data di atas dikelompokkan menurut teknik penerjemahan yang

digunakan maka akan diperoleh sebaran seperti berikut ini:

commit to user

80
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 15: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 6

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 20 47,6
2 Peminjaman 16 38,1
3 Generalisasi 4 9,5
4 Modulasi 1 2,4
5 Deskripsi 1 2,4
Jml 5 42 100,0

Tabel di atas memperlihatkan seringnya penerjemah menempuh teknik

naturalisasi dan peminjaman untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan

karena referen merupakan hal atau temuan baru.

Selanjutnya, jika seluruh data ketakterjemahan leksikal di atas dihitung

menurut keenam faktor penyebabnya maka akan diperoleh komposisi sebagai

berikut:

Tabel 16: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Leksikal

No Faktor Penyebab Mcm Prsn Frek Prsn


1 Adanya kesenjangan kosa
22 31,4 37 32,7
kata antara BSu dengan BSa
2 Istilah BSu merupakan istilah
5 7,1 5 4,4
ilmiah/teknis
3 Istilah BSu merupakan istilah
8 11,4 8 7,1
tidak baku
4 Tidak ada unsur gender pada
3 4,3 15 13,3
istilah BSa
5 Istilah BSu berbentuk
3 4,3 6 5,3
akronim
6 Referen merupakan
29 41,4 42 37,2
hal/temuan baru
Jml 6 70 100,0 113 100,0

Dari rekapitulasi data di atas diketahui bahwa terjadinya

ketakterjemahan leksikal sebagian besar disebabkan karena referen yang ditunjuk

istilah terkait merupakan hal atau penemuan baru. Jumlah kejadiannya hampir

commit to user

81
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

berimbang dengan ketakterjemahan yang disebabkan karena adanya kesenjangan

kosa kata antara BSu dan BSa. Sementara itu, ketakterjemahan yang paling jarang

ditemui, jika dilihat dari macamnya, adalah yang disebabkan karena karena tidak

adanya unsur gender pada istilah BSa dan istilah BSu berbentuk akronim. Tetapi,

jika dihitung dari frekuensi kemunculannya, ketakterjemahan yang disebabkan

karena istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis adalah yang paling sedikit.

Sementara itu, komposisi teknik penerjemahan yang diterapkan oleh

penerjemah untuk mengatasi ketakterjemahan leksikal ini beserta frekuensi

penerapannya secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 17: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 46 40,7
2 Generalisasi 29 25,7
3 Peminjaman 29 25,7
4 Deskripsi 4 3,5
5 Kompensasi 2 1,8
6 Modulasi 2 1,8
7 Transposisi 1 0,9
Jml 7 113 100,0

Dari data di atas diketahui bahwa penerjemah paling sering

menggunakan teknik naturalisasi untuk menerjemahkan istilah-istilah yang

takterjemahkan secara leksikal. Teknik lain yang juga sering dipakai adalah

generalisasi dan peminjaman.

4.1.2 Tabulasi Data Ketakterjemahan Struktural

Ketakterjemahan struktural adalah bentuk lain ketakterjemahan dalam

ranah linguistik selain ketakterjemahan leksikal. Ketakterjemahan jenis ini

dilatarbelakangi oleh perbedaan struktur atau tata bahasa antara BSu dan BSa.
commit to user

82
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Secara lebih spesifik, sebab-sebab terjadinya ketakterjemahan struktural ini dapat

dibedakan menjadi dua seperti diuraikan di bawah ini.

1. Tidak adanya unsur kala pada struktur kalimat BSa

Salah satu perbedaan struktural antara Bahasa Inggris dan Bahasa

Indonesia adalah tidak adanya unsur kala atau tense dalam struktur kalimat

Bahasa Indonesia. Keadaan ini menyebabkan timbulnya ketakterjemahan pada

proses penerjemahan kalimat-kalimat tertentu di antara kedua bahasa tersebut,

meskipun hanya pada bagian penanda waktunya saja dan bukan maknanya.

Pada beberapa bentuk kalimat, unsur kala pada BSu bisa diakomodasi ke

untuk bentuk past uk continuous. Namun pada beberapa

bentuk kalimat hal ini sulit dilakukan dan bila dipaksakan hasil penerjemahan

akan janggal atau tidak berterima, contohnya pada bentuk perfect tertentu dan

bentuk perfect continuous

Tabel 18: Data Ketakterjemahan Struktural 1

No Kala Frek Prsn


1 Present perfect continuous 3 60,0
2 Present perfect 2 40,0
Jml 2 5 100,0

Dari sejumlah ketekterjemahan yang berkaitan dengan kala ini juga

dijumpai adanya berbagai macam teknik penerjemahan yang dipakai oleh

penerjemah dalam proses penerjemahannya, sebagaimana terlihat pada tabel

berikut ini:

commit to user

83
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 19: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural 1

No Teknik Frek Prsn


1 Reduksi 4 80,0
2 Modulasi 1 20,0
Jml 2 5 100,0

Di sini terlihat dominasi generalisasi dan reduksi sebagai teknik

penerjemahan yang dipakai untuk menerjemahkan bagian kalimat yang

mengandung unsur kala.

2. Ungkapan BSu sudah dimodifikasi

Ada beberapa kejadian di mana istilah BSu merupakan hasil modifikasi

(plesetan) dari istilah tertentu. Istilah hasil modifikasi ini biasanya memiliki

kemiripan struktur morfologi atau fonologi dengan istilah asal. Dalam proses

penerjemahan, kemiripan struktur ini hampir tidak mungkin diakomodasi ke

dalam BSa meskipun makna istilahnya masih memungkinkan untuk

diterjemahkan. Dalam situasi seperti ini dapat dikatakan telah terjadi

ketakterjemahan struktural. Data yang mewakili ketakterjemahan jenis ini ada 4

macam istilah dengan 5 kejadian.

Tabel 20: Data Ketakterjemahan Struktural 2

No Istilah Frek Prsn


1 sop 2 33,3
2 , 1 @16,7
yello,
wiener
Jml 5 6 100,0

Dari kelima data di atas, didapat perbandingan pemakaian yang merata

dari setidaknya 4 teknik penerjemahan, seperti tampak pada tabel:

commit to user

84
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 21: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural 2

No Teknik Frek Prsn


1 Deskripsi 2 33,3
2 Generalisasi 2 33,3
3 Calque 1 16,7
4 Modulasi 1 16,7
Jml 4 6 100,0

Kemudian apabila keseluruhan data ketakterjemahan struktural ini

dikalkulasikan menurut penyebabnya, maka akan diperoleh sebaran data seperti di

bawah ini:

Tabel 22: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Struktural

No Faktor Penyebab Mcm Prsn Frek Prsn


1 Tidak adanya unsur kala
2 28,6 5 45,5
pada struktur kalimat BSa
2 Ungkapan BSu sudah
5 71,4 6 54,5
dimodifikasi
Jml 2 7 100,0 11 100,0

Tabel di atas menunjukkan sedikitnya kejadian ketakterjemahan yang

disebabkan karena perbedaan struktur kalimat atau struktur kata.

Sementara itu, apabila ketakterjemahan struktural ini diklasifikasikan

menurut teknik penerjemahan yang digunakan, maka akan didapatkan sebaran

data seperti di bawah ini:

Tabel 23: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Struktural

No Teknik Frek Prsn


1 Reduksi 4 36,4
2 Deskripsi 2 18,2
3 Generalisasi 2 18,2
4 Modulasi 2 18,2
5 Calque 1 9,1
Jml 5 11 100,0

commit to user

85
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Sebagaimana tampak pada tabel di atas,, penerjemah paling sering

menggunakan teknik reduksi dalam menerjemahkan bagian-bagian kalimat yang

secara struktural tidak bisa diterjemahkan, sedangkan untuk teknik yang lain

penerapannya cenderung merata.

4.1.3 Tabulasi Data Ketakterjemahan Budaya

Ketakterjemahan budaya adalah ketakterjemahan yang timbul akibat

perbedaan budaya antara penutur BSu dan penutur BSa. Secara lebih rinci,

perbedaan budaya yang dimaksud dapat dibedakan seperti di bawah ini:

1. Istilah BSu merupakan istilah ekologi di lingkungan penutur BSu

Objek-objek tertentu yang berkaitan dengan ekologi, seperti flora dan

fauna, cenderung memiliki nama atau sebutan yang khas sesuai dengan

lingkungan hidupnya dan tidak memiliki padanan istilah di tempat lain di mana

objek tersebut tidak hidup atau tidak dapat dijumpai. Dari data yang diperoleh,

setidaknya terdapat 5 nama ekologi di mana masing-masing nama muncul 1 kali.

Tabel 24: Data Ketakterjemahan Budaya 1

No Istilah Frek Prsn


1 strawberry 1 20,0
2 monster 1 20,0
3 hound 1 20,0
4 coffee 1 20,0
5 walrus 1 20,0
Jml 5 5 100,0

Untuk menerjemahkan nama-nama yang berkaitan dengan ekologi di

atas, penerjemah menggunakan 3 teknik penerjemahan yang berlainan, seperti

tampak pada tabel berikut:

commit to user

86
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 25: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 1

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 2 40,0
2 Peminjaman 2 40,0
3 Generalisasi 1 20,0
Jml 3 5 100,0

2. Referen merupakan budaya materi penutur BSu

Salah satu bentuk perbedaan budaya di antara kelompok masyarakat

ditunjukkan dengan adanya materi atau benda tertentu di suatu tempat namun

tidak dijumpai di tempat lain sehingga istilah yang dipakai untuk menyebutnya

pun tidak ada pada setiap bahasa. Data yang menunjukkan kejadian semacam ini

terdiri dari 11 macam dengan total kejadian sebanyak 15 kali.

Tabel 26: Data Ketakterjemahan Budaya 2

No Istilah Frek Prsn


1 waffle, sandwich, donut, ice cream 2 13,3
2 beer, barge, syrup, gallon, bar, 1 @ 6,7
whiskey, pizza
Jml 11 15 100,0

Sementara teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah untuk

menerjemahkan istilah-istilah di atas setidaknya ada 4 macam dengan

perbandingan sebagaimana tampak pada tabel.

Tabel 27: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 2

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 8 53,3
2 Peminjaman 4 26,7
3 Amplifikasi 2 13,3
4 Adaptasi 1 6,7
Jml 4 15 100,0

commit to user

87
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Komposisi di atas memperlihatkan seringnya penerjemah menerapkan

teknik naturalisasi dan peminjaman untuk menerjemahkan istilah yang mewakili

budaya materi penutur BSu.

3. Istilah BSu terkait budaya sosial penutur Bsu

Selain budaya materi, istilah-istilah yang berkaitan dengan budaya sosial

penutur BSu juga seringkali takterjemahkan. Dapat dicontohkan di sini misalnya

istilah-istilah yang berkaitan dengan pekerjaan, pariwisata, organisasi, politik.

administrasi, agama, dan seni. Data yang mewakili ketakterjemahan jenis ini ada

18 macam istilah dengan jumlah kejadian sebanyak 24 kali.

Tabel 28: Data Ketakterjemahan Budaya 3

No Istilah Frek Prsn


1 dollar/$ 4 16,7
2 president 3 12,5
3 school 2 8,3
4 rock band, musician, piano, 1 @ 4,2
trumpet, guitar, bass, drum,
amen, peso, federal,
comedies, general, tic-tac-
toe, baseball, assistant
manager
Jml 18 24 100,0

Kemudian apabila dilihat dari teknik penerjemahan yang diterapkan oleh

penerjemah dalam hal ini diperoleh perbandingan sebagai berikut:

Tabel 29: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 3

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 14 41,7
2 Peminjaman 10 58,3
Jml 2 24 100,0

commit to user

88
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari tabel di atas terlihat bahwa penerjemah secara berimbang

menggunakan dua macam teknik penerjemahan untuk menerjemahkan istilah-

istilah yang berkaitan dengan budaya sosial penutur BSu.

4. Istilah/ungkapan BSu merupakan budaya tutur penutur BSu

Unsur budaya lain yang juga menyebabkan terjadinya ketakterjemahan

adalah adat kebiasaan, dalam hal ini termasuk kebiasaan bertutur. Beberapa

bentuk tuturan yang terkait erat dengan budaya masyarakat penuturnya misalnya

terjadi pada sistem sapaan, seruan (umpatan dan makian), serta idiom. Data yang

menunjukkan ketakterjemahan demikian ini ditemukan sebanyak 23

istilah/ungkapan dengan banyaknya kejadian seluruhnya 36.

Tabel 30: Data Ketakterjemahan Budaya 4

No Istilah/Ungkapan Frek Prsn


1 honey 5 13,9
2 hello, hi 3 @ 8,3
3 suck, why you little, chicken, 2 @ 5,6
what the hell, oh man
4 giant sucker, whoa nelly, piece 1 @ 2,8
of cake, fourth base, officers,
off the hook, whoa mama,
code black, chief, kick some
ass, single handedly, hustle
your bustle, bingo, sweetheart,
hey
Jml 23 36 100,0

Untuk menerjemahkan istilah/ungkapan di atas, ternyata penerjemah

menerapkan berbagai teknik penerjemahan yang sebagian besar berupa adaptasi,

seperti tampak pada tabel di bawah ini:

commit to user

89
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 31: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya 4

No Teknik Frek Prsn


1 Adaptasi 16 44,4
2 Deskripsi 7 19,4
3 Naturalisasi 7 19,4
4 Calque 2 5,6
5 Kompensasi 2 5,6
6 Generalisasi 1 2,8
7 Peminjaman 1 2,8
Jml 7 36 100,0

Setelah seluruh kejadian ketakterjemahan budaya ini dibandingkan

menurut penyebabnya, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:

Tabel 32: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Budaya

No Faktor Penyebab Mcm Prsn Jml Prsn


1 Istilah BSu merupakan istilah
5 8,8 5 6,3
ekologi di lingkungan penutur BSu
2 Referen merupakan budaya materi
11 19,3 15 18,8
penutur BSu
3 Istilah BSu terkait budaya sosial
18 31,6 24 30,0
penutur BSu
4 Istilah /ungkapan BSu merupakan
23 40,4 36 45,0
budaya tutur penutur BSu
Jml 4 57 100,0 80 100,0

Komposisi di atas memperihatkan adanya dominasi ketakterjemahan

budaya yang disebabkan karena istilah/ungkapan merupakan budaya tutur khas di

lingkungan penutur BSu. Sementara kejadian yang paling sedikit adalah

ketakterjemahan yang disebabkan karena istilah BSu merupakan nama unsur

ekologi di lingkungan penutur BSu.

Kemudian, apabila ketakterjemahan budaya ini dilihat dari sudut

pandang teknik penerjemahan yang digunakan, didapatkan perbandingan sebagai

berikut:
commit to user

90
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 33: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Budaya

No Teknik Frek Prsn


1 Naturalisasi 31 38,8
2 Adaptasi 17 21,3
3 Peminjaman 17 21,3
4 Deskripsi 7 8,8
5 Amplifikasi 2 2,5
6 Calque 2 2,5
7 Generalisasi 2 2,5
8 Kompensasi 2 2,5
Jml 8 80 100,0

Dari tabel di atas, terlihat bahwa penerjemah paling sering menggunakan

naturalisasi, kemudian disusul peminjaman, dan adaptasi dalam menerjemahkan

istilah/ungkapan yang tidak bisa diterjemahkan karena pengaruh budaya.

Sementara teknik yang lain jarang diterapkan.

4.2 Pembahasan
Berikut adalah pembahasan atau analisis terhadap data penelitian yang

telah disajikan di atas. Mengingat banyaknya data dan terbatasnya ruang, di sini

hanya akan diuraikan hasil analisis pada data tertentu saja sebagai sampel atau

representasi dari masing-masing kelompok, sedangkan data selengkapanya dapat

dilihat pada halaman Lampiran 1.

4.2.1 Analisis Data Ketakterjemahan Leksikal

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, teori mengenai adanya

ketakterjemahan karena faktor linguistik dikemukakan oleh Catford (1995: 94-

99), di mana ia kemudian membedakannya menjadi dua, yaitu ketakterjemahan

leksikal dan ketakterjemahan struktural.

Ketakterjemahan leksikal berhubungan dengan kosa kata. Pada DVD

film The Simpsons Movie ada berbagai situasi yang menyebabkan suatu kata/frasa
commit to user

91
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dalam Bahasa Inggris tidak bisa digantikan secara tepat dengan kata/frasa asli

Bahasa Indonesia dengan sebab-sebab sebagaimana diuraikan di bawah ini.

1. Adanya kesenjangan kosa kata antara BSu dengan BSa

Adanya perbedaan jumlah dan jenis kosa kata antara bahasa satu dengan

bahasa lain menyebabkan tidak memungkinkannya setiap kata memiliki pasangan

sendiri-sendiri. Ada sebagian kata yang tidak memiliki pasangan, atau dengan

kata lain, tidak memiliki padanan sehingga menimbulkan terjadinya

ketakterjemahan yang sifatnya leksikal dalam penerjemahan. Hal ini terjadi pula

antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, di mana bahasa yang disebut

pertama cenderung memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak dan beragam

dibandingkan dengan bahasa yang kedua.

Ketiga narasumber juga sepakat mengenai hal ini. Mereka membenarkan

bahwa perbedaan perbendaharaan kata antara Bahasa Inggris dengan Bahasa

Indonesia bisa menyebabkan terjadinya ketakterjemahan pada kata-kata tertentu.

Pada subtitle DVD film The Simpsons Movie terdapat beberapa kejadian

semacam ini, sebagaimana dicontohkan di bawah ini.

a. gay

21/49/00:05:02-00:05:04/L1/gay-gay (peminjaman)
Saat kebaktian di gereja, pendeta meminta peserta untuk mengakui
sesuatu. Ned Flanders menanggapi dan ingin mengutarakan sesuatu.
Sebelum Ned mulai bicara, Homer mencoba menebak-nebak perbuatan
apa yang akan diakui oleh Ned.
BSu : Gay, gay, gay, gay, gay, gay, gay...
BSa : Gay, gay, gay (pria homoseks).

Pada penerjemahan di atas terjadi ketakterjemahan leksikal pada kata

gay. Dalam Kamus A (Longman Dictionary of American English, 2008: 424),

commit to user

92
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

kata gay ara seksual tertarik pada orang dengan kelamin

homosexual. Kata gay ini tidak

memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kamus B (Kamus Inggris-

Indonesia, 2000: 264), kata gay

. Padanan terakhir (homoseksuil)

inilah yang dirujuk kata gay di atas. Kata ini bukan merupakan istilah asli Bahasa

Indonesia, tetapi hasil naturalisasi dari istilah Bahasa Inggris homosexual, yang

merupakan sinonim dari kata gay, sebagaimana disebutkan di atas. Dalam Kamus

C (Kamus Bahasa Indonesia, 2008) juga tidak ditemukaan istilah lokal yang

semakna dengan kata ini.

Dari pihak narasumber, ketiga-tiganya sepakat bahwa tidak ada istilah

lokal Bahasa Indonesia untuk menggantikan kata gay. Hal ini dibukatikan dengan

jawaban mereka di mana Narasumber 1 dan 3 menerjemahkannya dengan

mengambil istilah aslinya, sedangkan Narasumber 2 menerjemahkannya secara

ejenis untuk perempuan.

Untuk mengatasi ketakterjemahan ini penerjemah menggunakan dua

teknik, yaitu peminjaman dan deskripsi. Penerjemah mengambil kata BSu (gay)

dan menambahkan keterangan dalam tanda kurung (pria homoseks).

b. epiphany

150/755/00:56:05-00:56:06/L1/epiphany-epifani (naturalisasi)
Dalam upaya menolong Homer, Si Indian Inuit meminta Homer untuk
melakukan nyanyian tenggorokan. Orang Indian itu juga menjawab
pertanyaan Homer mengenai berapa lama Homer harus bernyanyi
tenggorokan.
BSu : -Until you have an epiphany.
-Okay.
BSa : -Sampai kau mengalami epifani.
-Baik
commit to user

93
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tampaknya kata epiphany bukan merupakan kata yang populer dalam

Bahasa Inggris. Hal ini tampak pada konteks cerita di atas, di mana Homer tidak

tahu arti kata tersebut. Dalam Kamus A (176) kata epiphany dimaknai sebagai

munculnya secara tiba-tiba perasaan yang sangat kuat ketika seseorang baru saja

menyadari/memahami sesuatu. Dalam Kamus B maupun Kamus C tidak ada lema

untuk kata ini. sehingga bisa dipastikan kata ini tidak ada padanannya dalam

Bahasa Indonesia.

Secara umum ketiga narasumber juga berpendapat demikian. Namun,

Narasumber 3 menambahkan bahwa kata ini semakna dengan istilah wangsit

dalam Bahasa Jawa.

Jadi telah terjadi ketakterjemahan leksikal pada kata epiphany,

sebagaimana tampak di atas, di mana penerjemah menempuh teknik naturalisasi

untuk menerjemahkan kata tersebut. Selain itu kata epiphany dalam cerita ini

memang seharusnya tidak diterjemahkan mengingat ada satu bagian dialog yang

mempertanyakan arti kata ini, karena apabila diterjemahakan justru akan

mengganggu pemahaman penonton.

Data lain dengan istilah epiphany ini terdapat pada nomor 151, 152, 153,

dan 179.

c. classic

192/953/01:12:00-01:12:01/L1/classic-bagus sekali (deskripsi)


Homer dan Bart berhasil memperdaya Russ yang menodong mereka
dengan senapan.
BSu : Classic.
BSa : Bagus sekali.

commit to user

94
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kata classic dapat berfungsi sebagai kata sifat maupun kata benda. Pada

angka

: 338). Umumnya kata ini dipakai untuk

menerangkan suatu hasil karya (buku, film, dan sebagainya). Jadi selain bermakna

classic

Dalam Kamus B terdapat dua padanan untuk kata ini, yaitu bentuk

Dari berbagai definisi kata classic di atas, setidaknya ada dua unsur yang

melekat pada kata ini yaitu bermutu dan berumur (sudah lama ada). Dalam kosa

kata Bahasa Indonesia tidak ada kata yang memiliki arti demikian. Pada kata

-nya tidak begitu tampak. Jadi kedua kata ini tidak bisa dianggap

sebagai padanan yang sesuai untuk kata classic.

Pendapat ketiga narasumber juga menguatkan ketiadaan padanan kata

classic dalam Bahasa Indonesia, sehingga terjadi ketakterjemahan linguistik

leksikal pada kata ini. Mereka menyatakan bahwa istilah Bahasa Indonesia untuk

Untuk mengatasi ketakterjemahan ini sebenarnya bisa dipakai bentuk

Namun pada contoh di atas penerjemah memilih menggunakan teknik deskripsi

dengan menjelaskan makna kata classic

commit to user

95
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Perbedaan jumlah kata antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain,

sebagaimana diuraikan di atas, kadangkala berkaitan dengan kata umum

(hipernim) dan kata khusus (hiponim). Kata umum pada suatu bahasa seringkali

memiliki kata khusus atau bawahan yang lebih beragam daripada bahasa lain,

sehingga meski istilah umumnya bisa diterjemahkan, tidak demikian dengan

istilah khususnya. Dalam penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia,

hal semacam ini terjadi misalnya pada kata armchair, bench, seat, dan stool

sebagai turunan kata chair. Kata-kata ini akan sulit diterjemahkan secara tepat

karena dalam kosa kata bahasa Bahasa Indonesia hanya ada kata

Adanya situasi demikian ini dibenarkan oleh ketiga narasumber. Bahwa

suatu kata dalam Bahasa Inggris kadangkala tidak dapat diterjemahkan secara

tepat karena tidak adanya istilah khusus yang sepadan, meski istilah umumnya

tersedia.

Pada subtitle DVD The Simpsons Movie ada beberapa contoh kasus

seperti di atas, sebagaimana diuraikan di bawah ini.

d. silo

76/300/00:21:45-00:21:48/L1/silo-gudang (generalisasi)
Marge merasa gusar dengan keberadaan babi peliharaan Homer di dalam
rumah. Dia khawatir kotorannya akan mengganggu. Namun Homer
sudah menyiapkan tempat untuk menampung kotoran babi tersebut dan
ternyata baru dua hari tempat itu sudah penuh. Marge jadi keheranan.
BSu : He filled up the whole silo in just two days?
BSa : Ia memenuhi gudangnya hanya dalam waktu dua hari?

Dalam Kamus A (946) silo g

yang kurang lebih sama dikemukakan dalam Kamus B (527), yaitu silo adalah
commit to user

96
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

tidak terdapat entri untuk kata ini atau dengan kata lain istilah ini belum diserap

ke dalam Bahasa Indonesia. Ketiga narasumber juga tidak ada yang tahu makna

dan terjemahan kata silo ini.

Dalam film ini, kata silo tampaknya telah mengalami pergeseran makna,.

Meskipun silo dalam film ini bentuknya sama dengan yang disebutkan dalam

kamus (tinggi dan bundar) namun bukan merupakan bangunan. Silo ini ukurannya

lebih kecil, terbuat dari bahan semacam seng dan dapat diangkat atau

dipindahkan. Sementara fungsinya juga sama untuk menyimpan, meskipun di sini

yang disimpan bukan makanan ternak tetapi justru kotoran.

Secara umum, kata silo ini mungkin dapat dipadankan dengan

konteks cerita film di atas hal ini tidak berlaku, karena lumbung berbentuk

bangunan yang tidak bisa dipindah-pindahkan. Selain itu lumbung juga tidak

umum untuk menyimpan kotoran. Jadi dapat dikatakan bahwa istilah silo di film

ini tidak memiliki padanan yang sesuai dalam Bahasa Indonesia sehingga terjadi

ketakterjemahan leksikal pada kata ini.

Ketakterjemahan kata silo ini juga tampak dari pendapat ketiga

narasumber di mana tidak ada satupun yang mengetahui terjemahan kata ini.

Oleh penerjemah, ketakterjemahan ini diselesaikan dengan teknik

generalisasi dan deskripsi. Sebagaimana terlihat pada data yang diperoleh,

terdapat terjemahan yang berbeda-beda untuk kata silo

pen

commit to user

97
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Istilah silo ini juga terdapat pada data penelitian dengan nomor 101 dan

111.

e. jab/jabbity

82/330/00:24:29-00:24:31/L1/jab-pukul (generalisasi)
Di tepi Danau Springfield Bart bersama Ned melihat seekor hewan yang
bentuknya aneh (bermata banyak) karena mengalami mutasi sebagai
akibat dari pencemaran danau tersebut. Bart merasa penasaran dan
mencoba memukul-mukul hewan tersebut.
BSu : Jabbity, jabbity, jab, jab, jab!
BSa : Pukul, pukul, pukul!

Secara umum jab

A: 550). Sementara yang dimaksudkan jab pada

kejadian di atas adalah salah satu jenis pukulan yang populer dalam olahraga tinju.

Jab berarti pukulan yang arahnya lurus atau menusuk sebagaimana makna umum

jab di atas. Kata ini merupakan kata khusus (hiponim) dari kata punch atau hit,

hook (pukulan

menyamping) dan upper cut (pukulan dari bawah ke atas). Dalam Bahasa

Indonesia tidak dikenal pembagian jenis-jenis pukulan seperti ini. Dalam Kamus

jab. Kata ini lebih merupakan

hit atau punch.

Berkenaan dengan istilah ini, Narasumber 3 membenarkan bahwa jab

adalah salah satu jenis pukulan dalam olah raga tinju dan dalam penerjemahan

tidak bisa secara tepat diganti dengan istilah lokal, sehingga harus mengambil kata

sumbernya. Sementara dua narasumber lainnya tidak memberikan jawaban

mengenai arti kata jab ini dalam Bahasa Indonesia.


commit to user

98
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan adanya ketakterjemahan

linguistik dalam tataran leksikal pada kata jab. Untuk mengatasi masalah ini

penerjemah menggunakan teknik generalisasi dengan memadankan kata jab

dengan

Setidaknya terdapat dua data lain yang serupa, yaitu data bernomor 81

dan 83.

f. depot

99/405/00:29:53-00:29:55/L1/depot-depot (peminjaman)
Di layar televisi muncul iklan yang menawarkan berbagai kebutuhan
yang berkaitan dengan kubah.
BSu : ...at Dome Depot, located at the 105 and the dome.
BSa : Di depot kubah, terletak di No 105 dan kubah

Menurut Kamus A (271) kata depot salah satunya bera

(Kamus B: 175). Dalam Kamus C (342),

-barang (dagangan

ti

Tampaknya makna yang kedua ini yang dirujuk oleh contoh di atas, yaitu kata

depot

Indonesia tidak terdapat kata yang secara khusus maknanya demikian ini,

sehingga terjadi ketakterjemahan dalam tataran leksikal pada kata ini.

Ketiga narasumber juga memiliki persepsi yang sama bahwa kata depot

tidak memiliki padanan kata dalam Bahasa Indonesia. Ini tampak dari jawaban

yang mereka berikan yang sama dengan istilah aslinya.

commit to user

99
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kata depot

tempat berjualan), sedangkan toko hanya berarti tempat berjualan (bukan tempat

penyimpanan). Depot juga dapat dipandang sebagai suatu jenis tempat berjualan

dan merupakan kata khusus (hiponim) dari store. Istilah lain yang sekelompok

dengan kata ini misalnya outlet, kiosk, dan shop. Bahasa Indonesia tidak memiliki

kosa kata sebanyak ini untuk menyebut jenis-jenis tempat berjualan. Sehingga

seringkali timbul masalah ketakterjemahan apabila kata-kata ini diterjemahkan ke

dalam Bahasa Indonesia.

Untuk mengatasi masalah demikian ini biasanya dilakukan teknik

peminjaman atau naturalisasi. Pada contoh di atas penerjemah menggunakan

teknik peminjaman, yaitu menggunakan kata BSu apa adanya untuk dipakai pada

teks terjemahan dan secara kebetulan ejaannya dapat diterima dalam Bahasa

Indonesia, sehingga tidak diperlukan teknik naturalisasi.

Kesenjangan kosa kata antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

terjadi pada tingkatan jenis atau kelas kata, di mana bahasa yang pertama

cenderung memiliki kelas kata yang lebih bervariasi daripada bahasa yang kedua.

Salah satu contohnya dalam Bahasa Inggris ada perbedaan bentuk untuk kelas

kata yang berbeda, seperti penggunaan akhiran -ly untuk membedakan antara

adverb dengan adjective. Dalam Bahasa Indonesia, perbedaan ini tidak begitu

jelas sehingga satu kata bisa dipakai pada kelas kata yang berlainan, misalnya kata

kerja merangkap kata sifat, kata benda dapat dipakai juga sebagai kata kerja dan

seterusnya.

commit to user

100
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pada subtitle DVD The Simpsons Movie terdapat beberapa bagian yang

menunjukkan adanya ketidaksepadanan pada kelas kata antara BSa dengan BSu

karena situasi di atas, sebagaimana contoh-contoh berikut ini.

Istilah depot ini juga dapat dijumpai pada data dengan nomor 100.

g. preachy

13/26/00:03:24-00:03:27/L1/preachy-berkhotbah (transposisi)
Penonton merasa tidak suka ketika band Green Day berbicara mengenai
lingkungan dalam konser . Sehingga mereka meneriaki band tersebut.
BSu : Preachy!
We're not being preachy!
BSa : Berkhotbah!
Kami tidak sedang berkhotbah.

Pada contoh di atas, kata preachy

Sebenarnya ini kurang tepat me (verb) dan

padanannya adalah preach. Dari asal katanya, secara analogi istilah preachy dapat

preachy adalah

bentuk kata sifat (adjective) tidak baku yang makn

membujuk orang-orang untuk menerima suatu pendapat dengan cara yang agak

(informal) pada kata preachy. Meskipun dalam Bahasa Indonesia padanan akar

kata ini (dalam bentuk kata kerja) ada, bentuk derivatifnya sebagai kata sifat tidak

ada. Dalam Kamus B (442) terdapat entri untuk kata preach, yang diartikan

kata preachy. Begitu pula dalam Kamus C (718), tidak ada keterangan mengenai

Pendapat narasumber dalam hal ini juga berbeda-beda. Narasumber 1

tidak memberikan jawaban, sedangkan jawaban Narasumber 2 sama dengan


commit to user

101
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

endapat yang agak berbeda dinyatakan oleh

Narasuber 3 yang menganggap terjemahan preachy

-ngatai, dsb), banyak mulut,

: 282). Jadi pada kata ini tidak terkandung unsur

menasihati atau atau membujuk.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada padanan untuk kata preachy

dalam Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, telah terjadi ketakterjemahan

linguistik leksikal pada kata ini, setidaknya pada aspek jenis kata dan unsur

informal.

Pada contoh di atas, penerjemah mengatasi masalah ketakterjemahan

pada kata preachy tersebut dengan menggunakan teknik transposisi, yaitu

mengubah jenis kata sumber dari adjective (preachy) menjadi verb (berkhotbah)

pada teks sasaran.

h. national

146/736/00:55:02-00:55:03/L1/national-nasional (naturalisasi)
BSu : NATIONAL SECURITY AGENCY
BSa : DEPARTEMEN KEAMANAN NASIONAL

Kata national bentuk kata sifat dari kata benda nation. Dalam Kamus A

sebenarnya memiliki padanan untuk kata nation Kamus B: 391).

Tetapi padanan untuk istilah national tidak begitu jelas keberadaannya. Pada

commit to user

102
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dan bukan kata sifat. Jadi tidak sepenuhnya bisa dipadankan dengan kata national.

alternatif istilah lokal untuk kata ini.

Kesimpulannya, kata national mengalami ketakterjemahan yang

disebabkan karena tidak adanya padanan dari kelas kata terkait, meskipun terdapat

padanan untuk akar katanya.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan ini, pada contoh di atas

penerjemah menerapkan teknik naturalisasi, yaitu dengan meminjam dan

menyesuaikan kata sumber untuk dipakai pada teks terjemahan.

Data lain yang masuk ke dalam kelompok ketakterjemahan linguistik

leksikal akibat kesenjangan kosa kata ini adalah data dengan nomor: 19, 35, 36,

46, 88, 90, 93, 94, 96, 108, 131, 138, 139, 144, 147, 159, 163, 181, 198, dan 201.

2. Istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis

Beberapa referen tertentu memiliki nama ilmiah yang biasa dipakai

secara khusus di bidang ilmu pengetahuan. Referen-referen demikian ini memiliki

padanan dalam BSa untuk nama umumnya. Namun apabila yang digunakan dalam

BSu adalah nama ilmiahnya, maka nama ini menurut aturan tidak perlu

diterjemahkan. Apabila dipaksakan maka unsur ilmiahnya akan hilang pada hasil

terjemahan. Dapat dicontohkan di sini misalnya pada BSu ada penyebutan

harimau dengan menggunakan nama ilmiahnya dalam Bahasa Latin yaitu

Pantera tigris, maka pada teks terjemahannya, dalam bahasa apapun, tetap harus

menggunakan nama Latin ini karena ada unsur ilmiah yang terkandung di

commit to user

103
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dalamnya. Dengan kata lain, nama atau istilah ilmiah berpotensi menyebabkan

terjadinya ketakterjemahan.

Dalam fim The Simpsons Movie ada beberapa istilah ilmiah yang

diucapkan oleh karakter film, terutama pada bagian-bagian yang berkaitan dengan

lingkungan hidup.

a. mercury

33/108/00:08:44-00:08:48/L2/mercury-merkuri (naturalisasi)
Lisa berupaya untuk membantu menyelamatkan lingkungan dengan
mendatangi rumah warga dan menyampaikan fakta mengenai adanya
pencemaran di Danau Springfield.
BSu : Lake Springfield has higher levels of mercury
BSa : Danau Springfield memiliki kandungan merkuri yang tinggi.

Dalam kalimat di atas terdapat ketakterjemahan linguistik pada kata

mercury. Kata ini termasuk dalam istilah bidang kimia dan secara umum dapat

(Kamus A: 634). Sebenarnya ada padanan untuk kata ini dalam Bahasa Indonesia,

Kamus B: 378). Meskipun demikian ada perbedaan di antara

raksa yang terkandung pada suatu benda. Kemudian, selain merujuk pada satu

jenis zat cair, istilah mercury juga berasosiasi dengan suatu jenis lampu (Kamus

C: 946). Dala

Dari ketiga narasumber, dua orang, yaitu Narasumber 2 dan 3, sepakat

bahwa terjemahan mercury

commit to user

104
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

tidak memungkinkannya mercury

tertentu misalnya: This cosmetic contains mercury

Dalam hal ini, penerjemah menggunakan teknik naturalisasi

menerjemahkan kata mercury di atas. Teknik naturalisasi ini juga merupakan

teknik yang sudah baku atau umum dipakai untuk menerjemahkan istilah tersebut

ke dalam Bahasa Indonesia.

b. potassium

154/766/00:56:55-00:56:58/L2/potassium-potasium (naturalisasi)
Dalam kondisi setengah sadar Homer mengigau.
BSu : Bananas are an excellent source of potassium.
BSa : Pisang adalah sumber potasium yang bagus.

Potassium adalah suatu unsur logam lunak berwarna putih keperakan

yang biasa dipakai untuk membuat sabun dan pupuk (Kamus A: 781). Istilah ini

merupakan istilah ilmiah, tepatnya dalam bidang kimia. Secara khusus tidak ada

istilah Bahasa Indonesia untuk menyebut nama-nama kimia zat atau unsur,

sehingga nama-nama tersebut cenderung takterjemahkan. Kalaupun ada istilah

lokal untuk menyebut suatu zat, biasanya memiliki makna yang bersifat umum

(non-ilmiah), sehingga apabila dipakai untuk menggantikan istilah yang ilmiah,

pada hasil terjemahan unsur ilmiahnya akan hilang. Dalam Kamus B (2000: 440),

kata potassium

tergolong ilmiah.

Narasumber 1 juga berpandangan bahwa kata potassium tidak bisa

diganti dengan istilah lokal, sedangkan Narasumber 2 tidak memberikan jawaban.

Sementara Narasumber 3 berpendapat bahwa kata potassium sama dengan

commit to user

105
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kamus C.

Jadi kata potassium di atas mengalami ketakterjemahan linguistik yang

sifatnya leksikal karena kata tersebut termasuk dalam istilah ilmiah. Untuk

mengatasi ketakterjemahan ini, penerjemah menempuh teknik naturalisasi, yaitu

menyesuaikan kata asli dengan ejaan Bahasa Indonesia untuk kemudian dipakai

pada teks terjemahan.

c. ground

177/896/01:07:07-01:07:11/L2/ground-pangkal (generalisasi)
Dalam upayanya menjinakkan bom, Si robot mencoba mengira-ira kabel
mana yang harus dipotong agar bom tidak jadi meledak.
BSu : Red wire. Blue wire. Black is usually the ground.
BSa : Kabel merah. Kabel biru. Hitam biasanya pangkalnya.

Pada penerjemahan di atas terjadi ketakterjemahan lingustik leksikal

pada kata ground. Secara umum kata ground

Kamus B: 281). Tetapi kata ground di sini merupakan istilah khusus

Kamus A: 453). Kabel ground ini

disebut juga kabel netral atau 0 (jenis kabel selain kabel + dan -). Sebagaimana

umumnya istilah ilmiah, istilah ini tidak memiliki padanan yang spesifik dalam

Bahasa Indonesia, sehingga terjadi ketakterjemahan leksikal pada kata ini.

Dari Narasumber 1 dan 3 juga diperoleh jawaban bahwa terjemahan kata

ground ini sama dengan kata sumbernya, sedangkan Narasumber 2 tidak

memberikan pendapat.

Pada contoh di atas, untuk mengatasi ketakterjemahan pada kata ground

penerjemah menerapkan teknik generalisasi dengan memadankan istilah tersebut


commit to user

106
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dengan ka ground biasanya menuju ke

mewakili makna kata ground. Sebenarnya kata ini bisa diterjemahkan secara lebih

akurat dengan teknik amplifikasi misalny

Data lain yang mewakili ketakterjemahan linguistik leksikal karena

istilah BSu merupakan istilah teknis ada pada nomor 38 dan 59.

3. Istilah BSu merupakan istilah tidak baku

Dalam ilmu bahasa dikenal adanya bentuk bahasa baku (standard) atau

resmi (formal) dan bahasa tidak baku (non-standard) atau tidak resmi (informal).

Kata atau ungkapan tidak baku pada suatu bahasa seringkali mengakibatkan

terjadinya ketakterjemahan dalam penerjemahan. Hal ini karena kata atau

ungkapan tersebut seringkali tidak dapat ditemukan padanan atau artinya di dalam

kamus. Kalaupun ada biasanya hanya terdapat pada kamus-kamus khusus yang

jumlahnya terbatas. Itupun padanan yang ada biasanya dalam bentuk deskripsi

makna atau padanan bentuk bakunya. Apabila bentuk baku ini yang dipakai, maka

pada hasil terjemahan akan hilang unsur informal yang melekat pada kata sumber.

Dalam film The Simpson Movie yang memotret realita kehidupan sehari-

hari masyarakat Amerika, juga seringkali muncul ungkapan-ungkapan tidak baku

atau informal dalam percakapan antarkarakter film.

a. heinie

8/20/00:02:51-00:02:54/L3/heinie-celana (modulasi)
Pada sebuah konser seorang penonton diangkat hingga di atas kepala dan
kemudian dilantur-lanturkan secara beramai-ramai oleh penonton-
penonton lainnya.
BSu : Excuse me, my heinie is dipping!
BSa : Maaf celanaku basah.
commit to user

107
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pada ungkapan di atas terdapat satu kata yang sulit untuk diterjemahkan

secara tepat, yaitu kata heinie. Dalam kamus standar tidak ditemukan entri untuk

kata heinie. Sementara menurut kamus Kamus E (

Slang and Colloquial Expression, 2000: 200) kata ini sama artinya dengan kata

buttock Jadi heinie merupakan istilah slang untuk menyebut pantat

dalam Bahasa Inggris. Namun apabila kata heinie ini diterjemahkan menjadi

dalam Bahasa Indonesia sendiri tidak begitu jelas ada atau tidaknya bentuk tidak

Dari pihak narasumber juga tidak diperoleh padanan yang sesuai, yang

mengakomodasi bentuk slang dari kata heinie ini. Sebagaimana terjemahan kamus

heinie ini,

sedangkan 2 narasumber lainnya tidak memberikan jawaban sama sekali.

Sebenarnya ada istilah yang mungkin cocok sebagai terjemahan kata

buttock (91)

buttock juga d . Begitu pula dalam Kamus C

demikian tidak ada keterangan bahwa kata ini merupakan bentuk slang. Selain itu

kata ini juga bukan istilah asli Bahasa Indonesia tetapi merupakan pinjaman dari

Bahasa Jawa.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan pada kata heinie ini, pada

contoh di atas penerjemah menerapkan teknik modulasi, yaitu dengan

menerjemahkan kata heinie

commit to user

108
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

celana sendiri sesungguhnya merujuk pada sejenis perlengkapan untuk menutup

atau membungkus pantat.

b. thou, shalt, thy

15/31/00:03:56-00:03:59/L3/thou-kau (kompensasi)
16/31/00:03:56-00:03:59/L3/shalt-hendaklah (kompensasi)
18/31/00:03:56-00:03:59/L3/thy-mu (generalisasi)
Di halaman Gereja Spingfield terdapat papan nama bertuliskan:
BSu : First Church of Springfield
THOU SHALT TURN OFF THY CELL PHONE
BSa : Gereja Utama Springfield
HENDAKLAH KAU MATIKAN HP-MU

Kalimat BSa Thou shalt turn off thy cell phone di atas secara harfiah

sudah terjemahkan dengan baik pada kalimat BSa. Namun kalimat tersebut

menggunakan beberapa kata yang tidak baku untuk saat ini, yaitu thou (you), shalt

(shall), dan thy (your). Kata-kata ini berasal dari Bahasa Inggris Kuno (Old

English) yang sudah tidak dipakai lagi pada masa sekarang. Dalam Kamus A juga

sudah tidak ada lagi lema untuk ketiga kata ini. Penggunaan istilah-istilah

demikian ini memberikan nuansa lama, kuno (ancient) dan kesan relijius pada

kalimat BSu. Unsur ini tentu saja tidak dapat diakomodasi ke dalam BSa karena

tidak dikenal adanya Bahasa Indonesia Kuno.

Narasumber 2 dan 3 tidak memberikan jawaban mengenai padanan

untuk ketiga kata di atas, sedangkan Narasumber 2 menerjemahkannya secara

thou shalt thy). Namun

ketiganya sepakat bahwa unsur kuno maupun relijius pada ketiga kata tersebut

tidak bisa diakomodasi ke dalam Bahasa Indonesia.

Untuk mengatasi ketakterjemahan ini, pada contoh di atas penerjemah

menggunakan teknik kompensasi, yaitu menyusun kalimat terjemahan dengan

commit to user

109
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

gaya puitis untuk mengakomodasi kesan kuno yang ada pada kalimat BSu. Gaya

puitis tersebut tampak dari pemilihan kata kau dan hendaklah pada teks sasaran.

c. booze

123/570/00:42:51-00:42:54/L3/booze-minuman (generalisasi)
Ketika listrik menyala setelah padam beberapa saat, Moe baru menyadari
bahwa seluruh minuman keras di barnya telah hilang semua.

BSu : When they come back on, I want all my booze back the way it was.
BSa : Saat lampu menyala aku ingin minumanku tetap seperti semula.

Booze adalah istilah tidak baku untuk minuman beralkohol ( Kamus A,

106). Sementara menurut Kamus E (47) booze adalah istilah slang yang sudah ada

sejak tahun 1500). Dalam Kamus B kata ini diterjemahkan secara umum menjadi

wi penerjemahan ini sudah tepat, tetapi

secara parsial ada unsur yang takterjemahkan di sini, yaitu unsur informal kata

tersebut.

Ketidakbakuan ini menyebabkan kata booze jadi kurang populer,

sehingga dari ketiga narasumber tidak ada satupun yang tahu arti kata ini. Berbeda

dengan istilah bakunya, yaitu alcoholic drink yang sudah cukup dikenal.

Pada kasus di atas penerjemah menggunakan teknik generalisasi untuk

mengatasi masalah ketakterjemahan pada kata booze dengan menggantinya

Istilah lain yang menunjukkan ketakterjemahan leksikal karena istilah

BSu tidak baku dapat dilihat pada data dengan nomor 10, 112, dan 165.

4. Tidak adanya unsur gender pada istilah BSa

Salah satu kelebihan kosa kata Bahasa Inggris jika dibandingkan dengan

Bahasa Indonesia yaitu adanya unsur gender yang melekat pada kata-kata tertentu
commit to user

110
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

sehingga penggunaannya dapat dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal

seperti ini tidak selalu kita jumpai pada kata-kata Bahasa Indonesia. Sehingga

dalam penerjemahan untuk kata-kata yang mengandung unsur gender sering

terjadi ketakterjemahan yang sifatnya parsial di mana sifat laki-laki atau

perempuan tidak terakomodasi pada istilah sasaran. Adanya ketidaksepadanan

dalam penerjemahan istilah yang mengandung unsur gender semacam ini juga

diungkapkan oleh Baker (1995).

Ketakterjemahan unsur gender semacam ini juga banyak terjadi pada

penerjemahan dialog film The Simpsons Movie, seperti dicontohkan oleh kata-kata

berikut ini.

a. boyfriend

7/19/00:02:47-00:02:49/L4/boyfriend-pacar (generalisasi)
Pada konser Green Day, tampak seorang penonton perempuan dipanggul
seorang laki-laki. Perempuan ini membuka jaketnya sehingga tampak
sebuah tulisan pada kaos yang dikenakannya.
BSu : NOT MY BOYFRIEND
BSa : BUKAN PACARKU

Menurut Kamus A (111) boyfriend -laki atau

pemuda di mana seorang perempuan memiliki hubungan romantis .

Secara umum penerjemahan di atas sudah sepadan, karena kata boyfriend memang

Kamus B: 77). Tetapi

sebenarnya ada unsur yang tak terjemahkan pada pasangan kata di atas. Pada kata

boyfriend terkandung unsur makna laki-laki sebagaimana terlihat pada definisi

dari Kamus A

lain, kata ini berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan.

commit to user

111
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Jawaban dari narasumber juga hampir sama. Narasumber 1 dan 2

sepakat bahwa terjemahan kata boyfriend

segi makna lebih akurat, penggunaannya di dalam

kalimat tidak umum atau janggal.

Ketakterjemahan unsur gender di atas cenderung tidak bisa diatasi.

Penerapan teknik amplifikasi, sebagaimana pendapat Narasumber 3 juga tidak

memungkinkan. Oleh karena itu penerjemah menempuh teknik generalisasi

dengan menggunakan kata BSa yang memiliki makna yang lebih umum daripada

kata BSu.

Kata boyfriend ini juga muncul pada data nomor 7.

b. son

58/173/00:13:15-00:13:17/L4/son-nak (generalisasi)
Setelah Bart terbebas dari hukuman karena ber-skateboard telanjang,
Homer mengajaknya untuk makan siang di restoran Krusty Burger.
BSu : Okay son, let's get some lunch.
BSa : Baik nak, mari kita makan siang.

son

pada penerjemahan di atas sudah tepat, karena sebagaimana son

merupakan sapaan untuk anak-anak. Dalam Kamus A (970-971) kata son

lebih tua untuk berbicara secara akrab dengan seorang anak laki-laki atau

son

son, pada kata


commit to user

112
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

berlaku baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Sebenarnya ada

padanan kata sejenis yang di dalam maknanya terkandung pengertian laki-laki,

yaitu Kamus B: 540). Namun kata ini bukan merupakan kata sapaan

atau tidak bisa digunakan untuk menyapa.

kata son. Sementara sebagai kata sapaan, Narasumber 1 menerjemahkannya

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara parsial terdapat

ketakterjemahan linguistik leksikal pada kata son, khususnya yang berfungsi

sebagai sapaan, di mana unsur gender (laki-laki) pada kata sumber tidak dapat

diterjemahkan ke dalam BSa. Dalam hal ini penerjemah menempuh teknik

generalisasi, dengan menggantikan kata yang memiliki makna sepesifik pada BSu

dengan kata yang maknanya lebih umum pada BSa.

Sapaan son ini juga terdapat pada data dengan nomor 63, 116, 137, 173,

182, dan 185. Sementara istilah lain yang termasuk ke dalam ketekterjemahan

linguistik leksikal akibat tidak adanya unsur gender pada BSa ini dapat dilihat

pada data bernomor 31, 48, 53, 172, 188, dan 196.

5. Istilah BSu berbentuk akronim

Pada umumnya akronim atau singkatan tidak bisa diterjemahkan. Ini

sesuai dengan pendapat Zuchridin dan Sugeng (2003: 108), di mana salah satu

bentuk ketidaksepadanan sering terjadi dalam penerjemahan akronim. Dalam

penerjemahan akronim, khususnya yang belum dibakukan dalam BSa, yang

diterjemahkan adalah kepanjangannya atau bentuk lengkapnya, sementara


commit to user

113
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

akronimnya tetap. Membuat akronim baru dari hasil terjemahan juga tidak

dibenarkan. Jadi singkatan adalah salah satu bentuk ketakterjemahan di mana

penerjemah harus mengambil dari BSu apa adanya. Penerjemahan dapat

dilakukan dengan memberi keterangan di dalam kurung pada singkatan terkait.

Singkatan ASEAN

(Perhimpunan Bangsa-

Dalam penerjemahan dialog film The Simpsons Movie juga terdapat

kasus serupa, sebagaimana dicontohkan di bawah ini.

a. EPA

85/333/00:24:45-00:24:48/L5/EPA-EPA (peminjaman)
Untuk membicarakan masalah pencemaran di Danau Springfield, Russ
Cargill menghadap Presiden AS, Arnold Schwarzenegger.
BSu : Russ Cargill, head of the EPA, here to see the president.
BSa : Russ Cargill, kepala EPA datang untuk bertemu Presiden.

Pada ungkapan di atas, meski Environmental Protection Agency dapat

EPA tidak bisa begitu saja diterjemahkan menjadi BPL. Apabila dipaksakan justru

akan menimbulkan kebingungan pembaca. Jadi ada gejala ketakterjemahan

leksikal di sini, di mana singkatan nama lembaga tidak bisa diganti dengan

singkatan yang dibentuk dari terjemahannya.

Dari ketiga narasumber, tidak ada satupun yang memberikan jawaban

berupa singkatan dari istilah lokal untuk menerjemahkan EPA meskipun telah

diberikan pula keterangan mengenai kepanjangan dari singkatan ini..

Pada contoh di atas, penerjemah mengambil singkatan yang ada pada

BSa apa adanya, atau dengan kata lain menerapkan teknik peminjaman.

Penerjemahan singkatan sebenarnya juga dapat dilakukan dengan teknik


commit to user

114
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

amplifikasi linguistik, yaitu menambahkan keterangan di belakang singkatan

terkait. Pada kasus di atas pada penerjemahan EPA yang pertama kali seharusnya

berbentuk

Ketakterjemahan akronim EPA ini juga ditunjukkan pada data dengan

nomor 89 dan 95.

b. VCR

142/705/00:52:16-00:52:18/L5/VCR-VCR (peminjaman)
Sebelum meninggalakan Homer sendirian di Alaska, Marge sempat
meninggalkan pesan dalam bentuk rekaman video.
BSu : Play Me In VCR
BSa : Mainkan di VCR

VCR merupakan singkatan dari video cassette recorder atau alat

perekam atau pemutar video, yaitu alat yang digunakan untuk merekam acara

televisi atau menonton kaset video (Kamus A: 1116). Video sediri termasuk

penemuan baru, sehingga tidak ada istilah lokal Bahasa Indonesia untuk

menyebutnya. Meskipun kepanjangan dari akronim di atas dapat diterjemahkan

tetap saja tidak bisa dibentuk menjadi

singkatan (misalnya PKV) untuk menggantikan istilah VCR karena hasilnya tidak

akan berterima.

Narasumber 1 dan 2 juga berpendapat sama dalam hal ini, bahwa

singkatan VCR tidak bisa diterjemahkan. Narasumber 3 tidak memberikan

jawaban untuk poin ini. Meskipun demikian secara umum ia setuju bahwa

singkatan cenderung tidak bisa diterjemahkan dengan singkatan pula.

commit to user

115
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Jadi kesimpulannya, singkatan VCR di atas tidak bisa diterjemahkan.

Sebagai solusinya, penerjemah melakukan teknik peminjaman, yaitu mengambil

kata sumber apa adanya untuk digunakan pada teks sasaran.

Data lain yang merepresentasikan ketakterjemahan karena istilah BSu

berbentuk akronim adalah data dengan nomor 3 dan 28.

6. Referen merupakan hal/temuan baru

Kemunculan bahasa-bahasa di dunia ini pada umumnya bersamaan

waktunya dengan keberadaan atau peradaban masyarakat penuturnya. Hal ini

karena bahasa tersebut dipakai oleh anggota masyarakat untuk berkomunikasi satu

sama lain. Seiring dengan perkembangan jaman, ada hal-hal baru, yang dialami

oleh masyarakat penutur bahasa ini, misalnya diciptakannya suatu alat tertentu

yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga menuntut diciptakannya istilah atau

kata baru untuk menyebutnya.

Meskipun demikian, penambahan istilah ini tidak selalu diikuti dengan

kejadian serupa pada bahasa-bahasa lain, karena referen istilah tersebut mungkin

tidak atau belum dikenal oleh masyarakat penutur bahasa tersebut. Situasi ini

menimbulkan terjadinya ketakterjemahan leksikal, di mana sejumlah istilah dari

satu bahasa tidak memiliki padanan atau tidak dapat diterjemahkan ke dalam

bahasa lain karena referen kata tersebut merupakan hal/barang baru bagi penutur

bahasa sasaran.

Dalam film The Simpsons Movie terdapat beberapa kasus

ketakterjemahan leksikal semacam ini.

commit to user

116
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

a. nuclear

1/6/00:01:38-00:01:40/L6/nuclear-nuklir (naturalisasi)
Pada bagian awal film divisualisasikan Homer sekeluarga sedang
menonton film di bioskop yang menceritakan mengenai aksi Itchy
(tikus) dan Scratchy (kucing). Pada salah satu adegan tampak Itchy
menghadapi panel kontrol senjata nuklir dengan beberapa perintah di
atasnya.
BSu : NUCLEAR MISSILE LAUNCH
BSa : PELUNCURAN RUDAL NUKLIR

Pada pasangan kalimat di atas terjadi ketakterjemahan yang sifatnya

leksikal pada kata nuclear. Dalam Kamus A (688), nuclear didefinisikan sebagai

sesuatu yang berkaitan dengan senjata, energi, dan inti atom. Istilah ini berkaitan

erat dengan bidang fisika, karena akar katanya adalah nucleus (Bahasa Latin)

. Meskipun sekarang sudah dikenal luas, energi nuklir

termasuk temuan baru. Kajian mengenai energi nuklir ini baru muncul pada 1896,

ketika Henri Becquerel menemukan radioaktifitas (Henri Becquerel, 2011).

Karena merupakan sesuatu yang baru, tidak ada istilah lokal untuk menyebut

nuclear ini, sehingga diperlukan strategi atau teknik tertentu untuk

menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia.

Dalam Kamus B (398) dinyatakan bahwa padanan kata nuclear adalah

Kamus C (1009)

an atau menggunakan

Ketiadaan padanan untuk kata nuclear ini diperkuat oleh pendapat

Kata merupakan hasil naturalisasi dari kata aslinya. Teknik

naturalisasi ini pulalah yang ditempuh oleh penerjemah untuk mengatasi

ketakterjemahan pada satuan terjemahan di atas.

commit to user

117
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

b. planet

34/114/00:09:17-00:09:20/L6/planet-planet (peminjaman)
Untuk menarik perhatian Lisa yang sedang mengimbau warga kota untuk
peduli lingkungan, Milhouse menyatakan pendapatnya.
BSu : Hey! I am very passionate about the planet!
BSa : Hei. Aku sungguh peduli soal planet ini.

Kata planet

berukuran besar di ruang angkasa yang bergerak mengelilingi sebuah bintang,

kosa kata Bahasa

Inggris. Kata planet sebenarnya berasal dari istilah Bahasa Prancis Kuno (1100-

1200M) planete, kemudian dari Bahasa Latin planeta, dan Bahasa Yunani planes

Kamus A: 761).

Jadi, pada awalnya tidak ada istilah untuk menyebut referen yang kini

dikenal dengan nama planet, karena pada awalnya benda ini tidak diketahui

keberadaannya. Ketika kemudian diketahui keberadaannya di alam semesta,

diberikanlah nama untuk benda ini dalam Bahasa Inggris. Nama ini diambil dari

istilah bahasa lain (Prancis Kuno, Latin, dan Yunani) yang sudah ada, yang

meskipun referennya berbeda tetapi memiliki kesamaan sifat. Dapat dikatakan

bahwa istilah planet dalam Bahasa Inggris termasuk istilah baru karana referennya

juga merupakan hasil penemuan baru. Karena merupakan temuan dan istilah baru,

maka bisa dipastikan tidak ada padanan untuk kata planet ini dalam bahasa-bahasa

selain Bahasa Inggris (kecuali apabila diciptakan/diperkenalkan istilah baru untuk

menyebutnya). Dengan kata lain, telah terjadi ketakterjemahan linguistik leksikal

pada kata ini, termasuk dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kamus Indonesia Inggris

Kamus B: 433).

Kata yang pertama merupakan bentuk naturalisasi dari kata aslinya sedangkan
commit to user

118
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

istilah yang kedua lebih merupakan deskripsi yang tidak umum dipakai untuk

menyebut planet.

Ketiga narasumber juga sepakat mengenai tidak adanya istilah lokal untuk

kata planet, di mana mereka memberikan jawaban yang sama untuk terjemahan

Untuk mengatasi ketakterjemahan kata planet ini, dalam Bahasa

Indonesia biasanya diterapkan teknik peminjaman, yaitu mengambil kata sumber

apa adanya untuk dipakai pada hasil terjemahan. Sebagaimana terlihat pada

contoh di atas, penerjemah menggunakan kata yang sama antara teks BSu dan

BSa untuk kata planet.

Istilah planet ini juga muncul pada data dengan nomor 97.

c. thermostat

39/123/00:09:41-00:09:43/L6/thermostat-termostat (naturalisasi)
Ketika sedang berbicara dengan Lisa mengenai lingkungan, Colin
memberikan lagi satu contoh mengenai penghematan energi
BSu : And if we kept our thermostats
BSa : Jika kita nyalakan termostat 68 derajat Fahrenheit di musim

Kata thermostat merujuk pada suatu alat untuk menjaga ruangan, mesin

dan sebagainya berada pada suhu tertentu (Kamus A: 1052). Benda ini termasuk

peralatan modern atau temuan baru karena baru ditemukan di Amerika Serikat

pada tahun 1883 oleh Warren S Johnson (Zwaniecki, 2008). Pada awalnya alat ini

tidak dikenal oleh masyarakat di luar penutur Bahasa Inggris, sehingga tidak ada

pula istilah lokal untuk menyebutnya. Dalam Kamus B (586), tidak ditemukan

istilah lokal untuk thermostat

pengatur/pengimbang pana . Untuk menggantikan kata ini dalam penerjemahan

commit to user

119
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

umumnya ditempuh teknik naturalisasi. Dalam Kamus C (1511), sudah ada lema

bekerja secara otomatis yang bekerja karena perub

Dari ketiga narasumber tidak ada satupun yang menyatakan adanya

istilah Bahasa Indonesia untuk kata thermostat ini. Narasumber 1

memberikan jawaban.

Jadi kesimpulannya, tidak ada istilah lokal yang sesuai untuk kata

thermostat. Dengan kata lain, telah terjadi ketakterjemahan leksikal pada kata ini,

sehingga dibutuhkan teknik tertentu untuk mengatasinya. Pada contoh di atas,

penerjemah menerapkan teknik naturalisasi dengan menyesuaikan ejaan BSu,

thermostat, dan pendapat

Narasumber 1.

d. video

106 /460/00:33:56-00:33:58/L6/video-video (peminjaman)


Ketika akan melarikan diri dari kejaran orang-orang yang marah pada
Homer, Marge merasa ada sesuatu yang ketinggalan dan ia ingin
mengambilnya.
BSu : -What'd you get?
-Our wedding video.
BSa : -Apa yang kau ambil?
-Video pernikahan kita.

Istilah video bisa berarti rekaman film atau acara televisi yang disimpan

pada videotape. Sementara videotape sendiri berupa pita magnetis kecil dan

panjang yang ditempatkan di dalam sebuah kotak plastik dan bisa dipakai untuk

merekam/menyimpan film, acara televisi dan sebagainya (Kamus A: 1120-1121).

commit to user

120
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Jadi yang dimaksudkan dengan istilah video di atas adalah tayangan yang direkam

pada alat videotape.

Videotape ini tergolong peralatan yang masih baru. Alat ini

diperkenalkan oleh Charles Ginsburg pada tahun 1951 dan baru dijual untuk

umum pada tahun 1971 oleh Sony (Video, 2011). Karena merupakan barang baru,

pada awal kemunculannya video ini tidak dikenal di lingkungan penutur Bahasa

Indonesia. Dengan sendirinya tidak ada pula istilah khusus untuk menyebut video

maupun videotape dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kamus B (629), kata video

diartikan sebag

videotape . Dalam Kamus C

yang memancarkan gambar pada pesawat televi

atau program televisi untuk ditayangkan lewat pesawat televisi.

Dari ketiga narasumber, tidak ada yang memberikan alternatif istilah

lokal Bahasa Indonesia untuk kata video ini. Mereka berpendapat bahwa untuk

menerjemahkan kata ini memang kita harus meminjam istilah sumbernya.

Jadi bisa disimpulkan telah terjadi ketakterjemahan linguistik leksikal

pada kata video ini. Untuk mengatasi ketakterjemahan ini dilakukanlah teknik

peminjaman, yaitu mengambil kata asli untuk dipakai pada teks terjemahan.

Sebagaimana terlihat pada contoh di atas, penerjemah menggunakan kata yang

sama dengan BSu pada kata video.

Data lain yang merepresentasikan ketakterjemahan kata video ini adalah

data dengan nomor 107 dan 143.

commit to user

121
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

e. robot

175/895/01:07:03-01:07:07/L6/robot-robot (naturalisasi)
Sejumlah petugas kepolisian mencoba menjinakkan bom waktu yang
ditujukan untuk menghancurkan Kota Springfield. Mereka menggunakan
robot penjinak bom untuk melakukan tugas ini.
BSu : Come on, bomb-disarming robot. You're our last hope.
BSa : Ayo, robot penjinak bom. Kau harapanku yang terakhir.

Robot adalah sejenis mesin yang bisa bergerak serta melakukan beberapa

pekerjaan manusia dan dikendalikan dengan komputer (Kamus A: 879). Definisi

ini memperlihatkan bahwa robot termasuk peralatan modern atau temuan baru

sehingga istilah yang dipakai untuk menyebutnya juga baru. Istilah robot, berasal

dari Bahasa Ceko robota robot ini pertama kali

muncul pada tahun 1920 dalam sebuah drama berjudul R.U.R (

Universal Robots -

(Robot, 2011). Istilah ini kemudian diserap dalam Bahasa Inggris

dengan definisi di atas.

Tidak ada istilah lokal dalam Bahasa Indonesia untuk menyebut robot,

karena objek ini merupakan sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.

Dalam Kamus B (189), kata robot

padanan lokal untuk kata robot. Dalam Kamus C (1215) juga sudah terdapat lema

menjadi padanannya. Pada kamus ini robot didefinisikan sebagai alat dapat berupa

orang-orangan dan sebagainya yang bisa bergerak (berbuat seperti manusia) yang

dikendalikan oleh mesin.

commit to user

122
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tidak adanya padanan untuk istilah robot ini juga dikuatkan dengan

pendapat ketiga narasumber yang memberikan jawaban yang sama dengan

mengambil kata BSu (robot) sebagai terjemahan kata ini.

Jadi secara ringkas dapat dikatakan telah terjadi ketakterjemahan

linguistik dalam tataran leksikal pada kata robot. Untuk mengatasi masalah ini

kemudian dilakukan peminjaman kata sumber untuk dipakai pada teks sasaran

seperti yang dilakukan oleh penerjemah pada contoh di atas.

Istilah lain yang merepresentasikan ketakterjemahan leksikal karena

referen merupakan hal atau temuan baru ini dapat dilihat pada data bernomor 2, 5.

6, 17, 29, 47, 49, 65, 70, 71,72, 98, 117, 118, 121, 125, 126, 130, 132, 134, 145,

160, 167, 169, 170, 171, 174, 176, 183, 187,197, 199, 200, dan 203.

4.2.2 Analisis Data Ketakterjemahan Struktural

Sebagaimana telah disebutkan di atas, ketakterjemahan linguistik

struktural merupakan bentuk lain dari ketakterjemahkan yang disebabkan karena

faktor linguistik selain ketakterjemahan linguistik leksikal dalam teori Catford

(1980: 94-99). Ketakterjemahan ini terjadi karena adanya perbedaan aturan tata

bahasa antara BSu dengan BSa.

Dalam subtitle DVD film The Simpsons Movie ada beberapa kejadian di

mana struktur kalimat maupun struktur morfologi kata Bahasa Inggris tidak dapat

diakomodasi ke dalam Bahasa Indonesia dengan sebab-sebab seperti di bawah ini.

1. Tidak adanya unsur kala pada struktur kalimat BSa

Salah satu perbedaan struktur tata bahasa Bahasa Inggris dan struktur

tata Bahasa Indonesia terletak pada aspek kala atau tense. Dalam setiap kalimat

commit to user

123
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Bahasa Inggris selalu terdapat unsur kala yang menunjukkan waktu kejadian yang

seluruhnya ada 16 macam. Perbedaan kala ini ditandai dengan perbedaan bentuk

verb (kata kerja) atau penambahan auxiliary verb (kata bantu kata kerja).

Sementara dalam Bahasa Indonesia aturan semacam ini tidak ada. Penanda waktu

dalam kalimat Bahasa Indonesia hanya ditunjukkan secara leksikal dengan kata

bantu kata kerja (modal) atau dengan keterangan waktu (adverb of time).

Akibatnya, dalam penerjemahan dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia,

unsur kala ini sering hilang atau mengalami ketakterjemahan.

Ketiga narasumber secara umum membenarkan kemungkinan adanya

ketakterjemahan pada unsur kala dalam penerjemahan kalimat dari Bahasa

Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Meskipun demikian, pada situasi tertentu

penanda waktu pada kalimat BSu ini kadangakala sudah diakomodasi pada bagian

lain kalimat BSa atau konteks situasi yang melatarbelakangi teks.

Ketakterjemahan kala ini juga terjadi pada beberapa bagian subtitle

Bahasa Indonesia DVD film The Simpsons Movie. Unsur-unsur kala yang

mengalami ketakterjemahan struktural ini terutama berlaku pada jenis kala yang

agak kompleks, seperti bentuk perfect tertentu dan bentuk present atau past

perfect continuous tense.

Contoh ketakterjemahan pada kala present perfect dapat dilihat pada

contoh berikut ini.

a. have been

56/164/00:12:41-00:12:44/S1/have ... been-..... (reduksi)


Ketika Nelson sedang menertawai Bart yang dihukum dalam keadaan
telanjang, Mrs Muntz (ibu Nelson) menemuinya.
BSu : Nelson, honey, where have you been?
BSa : Nelson sayang, di mana kau?
commit to user

124
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pada penerjemahan di atas terjadi ketakterjemahan struktural di mana

unsur kala present perfect pada BSu yang diwakili oleh struktur kata kerja have +

past participle tidak terakomodasi pada BSa.

kalimat sumber tidak terserap pada hasil terjemahan. Pada kalimat BSa, penanda

waktunya cenderung bersifat umum dan tidak secara spesifik menunjukkan bahwa

kejadiannya sudah berlangsung.

Dalam menerjemahkan ungkapan di atas, penerjemah tidak

mengakomodasi kala present perfect dari kalimat BSu ke dalam kalimat BSa yang

tindakan ini justru benar karena apabila

sudah

Ketakterjemahan kala present perfect ini juga ditunjukkan oleh data

dengan nomor 186.

b. have been taking

184/927/01:09:07-01:09:12/S1/have been taking-membiarkan (modulasi)


Ketika sedang mencoba menyelamatkan kota Springfield berdua, Bart
mengungkapkan isi hatinya kepada Homer.
BSu : I've been taking your crap all my life!
BSa : Aku telah membiarkanmu mengelabuiku seumur hidupku.

Kalimat BSu pada satuan terjemahan di atas berkala present perfect yang

menyiratkan makna bahwa kejadian sudah dan sedang berlangsung. Namun pada

teks terjemahan makna ini tidak sepenuhnya tercakup. Apabila kita perhatikan,

menyatakan bahwa kejadian masih atau sedang berlangsung.

commit to user

125
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Secara umum, penerjemahan kalimat dengan kala perfect continuous

me

diterima dalam struktur kalimat Bahasa Indonesia, sehingga dalam penerjemahan

kalimat dengan struktur perfect continuous biasanya digantikan dengan kala lain

yang lebih berterima dalam Bahasa Indonesia, yaitu perfect tense yang bermakna

-nya tidak terserap. Pada penerjemahan di

atas, penerjemah menerapkan teknik modulasi dengan mengartikan kata taking

dari sudut pandang yang berbeda menjadi

Selain contoh di atas, data nomor 11 juga menunjukkan ketakterjemahan

kala present perfect continuous.

c. had been talking

178/899/01:07:20-01:07:23/S1/had been talking-telah mengatakan


(reduksi)
Polisi yang bertugas menjinakkan bom merasa menyesal mendapati
robot penjinak bomnya bunuh diri karena merasa kesulitan menentukan
kabel mana yang akan memicu ledakan.
BSu : He'd been talking about it, but I didn't take him seriously.
BSa : Dia telah mengatakannya, tapi aku tak menganggapnya serius.

Struktur kala past perfect continuous yang mengandung makna bahwa

kejadian sudah dan sedang berlangsung pada masa lampau juga cenderung sulit

diakomodasi secara tepat dalam Bahasa Indonesia sehingga menimbulkan

ketakterjemahan yang sifatnya struktural.

Pada contoh di atas, penerjemah menerjemahkan kata kerja had been

talking kala

yang lain, yakni present perfect. Hal ini terjadi karena jika kata kerja BSu

commit to user

126
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

diterjemahkan tepat sesuai kalanya dulu te

terjemahan justru tidak berterima.

Dalam hal ini penerjemah menempuh teknik reduksi dengan tidak

2. Ungkapan BSu sudah dimodifikasi

Salah satu kecenderungan berbahasa yang terjadi akhir-akhir ini adalah

adanya bentuk modifikasi (plesetan). Dengan tujuan untuk menciptakan kelucuan,

para penutur bahasa seringkali memodifikasi suatu kata dengan mengganti

sebagian fonem atau huruf kata tersebut sehingga maknanya berubah namun ejaan

dan pelafalannya masih berasosiasi dengan kata aslinya.

Dalam penerjemahan, bentuk-bentuk modifikasi semacam ini

mengakibatkan terjadinya ketakterjemahan struktural. Hal ini karena selain

mempertimbangkan makna, dalam menerjemahkan ungkapan yang berbentuk

modifikasi penerjemah juga harus mempertimbangkan kemiripan struktur

morfologi atau fonologi ungkapan tersebut dengan ungkapan aslinya. Padahal

untuk mengakomodasi atau mempertahankan kemiripan struktur semacam ini

pada BSa hampir tidak mungkin. Dengan kata lain struktur ungkapan hasil

modifikasi cenderung tidak bisa diterjemahkan secara lengkap. Kejadian ini mirip

dengan pernyataan Zuchridin dan Sugeng (2003: 108) mengenai kecenderungan

tidak adanya padanan pada istilah yang berbentuk penggalan.

Berkenaan dengan hal ini, Narasumber 1 dan 3 setuju dengan pendapat

di atas bahwa ungkapan yang sudah dimodifikasi seringkali tidak bisa

diterjemahkan. Sementara Narasumber 2 berpendapat sebaliknya.

commit to user

127
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pada subtitle film The Simpsons Movie dapat kita jumpai adanya

beberapa kasus demikian ini.

a. nome sweet nome

129//616/00:46:32-00:46:34/S2/nome sweet nome-nome rumah yang


nyaman (deskripsi)
Di dalam kamarnya di Alaska, Marge mengisi waktunya dengan
menyulamkan sebuah tulisan pada selimut.
BSu : NOME SWEET NOME
BSa : NOME RUMAH YANG NYAMAN

Ungkapan nome sweet nome dia atas sulit untuk diterjemahkan karena

merupakan sebuah idiom yang diplesetkan. Ungkapan di atas berasal dari idiom

home sweet home yang memiliki makna bahwa rumah sendiri adalah tempat yang

paling nyaman. Sebenarnya ada ungkapan idiomatis sejenis dalam Bahasa

Tetapi bentuk modifikasi dari ungkapan

home sweet home di atas, yang memiliki struktur rima tertentu, sulit untuk

dipadankan. Tidak jelas apa makna kata nome di atas yang merupakan modifikasi

dari home, karena baik dalam kamus umum maupun kamus slang tidak terdapat

entri untuk kata ini. Yang pasti perubahan struktur dari home ke nome ini sulit

untuk diterapkan pada ungkapan BSa.

Dari tiga orang narasumber juga tidak ada satupun yang memberikan

jawaban mengenai terjemahan idiom modifikasi nome sweet nome ini. Hal ini

semakin menguatkan indikasi ketakterjemahan pada ungkapan tersebut.

Situasi yang sama tampaknya dialami penerjemah, sehingga ia

menggunakan dua teknik penerjemahan sekaligus, yaitu teknik peminjaman pada

kata nome, dan teknik deskripsi pada kata sweet nome (rumah yang nyaman).

commit to user

128
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

b. sop

155/812/01:00:28-01:00:30/S2/sop-berhenti (generalisasi)
Dua orang petugas polisi yang sedang berpatroli dengan mobil
menjumpai rambu-rambu yang tidak seperti biasanya.
BSu : There's something strange about that "sop" sign.
BSa berhenti

Kata sop pada ujaran di atas sebenarnya berasal dari kata stop yang

-nya. Meski arti kata stop

penerjemahan kata sop di atas menimbulkan kesulitan tersendiri, karena kita tidak

makna yang sama dengan kata sop. Jadi dapat dikatakan telah terjadi

ketakterjemahan struktur pada kata sop.

Situasi yang sama tampaknya juga dialami narasumber, sehingga dua

orang narasumber tidak memberikan pendapat mengenai terjemahan kata sop ini.

Tetapi kata ini juga masih sulit diterima sebagai padanan dari sop.

Pada teks terjemahan di atas, tampaknya penerjemah tidak berupaya

untuk menerjemahkan bentuk modifikasi kata stop tersebut, sehingga kata ini

hanya diterjemahkan sesuai dengan makn gan kata

lain, penerjemah menerapkan teknik generalisasi, yaitu menggantikan kata yang

memiliki makna khusus dengan kata yang maknanya lebih umum.

Istilah sop ini juga muncul pada data nomor 156.

commit to user

129
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

c.

191/952/01:11:57-01:11:58/S2/ -aku seorang wiener (calque)


Ketika Homer ditodong senapan oleh Russ, Bart mencoba menghalangi
dengan mengatakan kalau Russ membunuh Homer, ia tidak akan
mengetahui di mana harta karun Imawiener disimpan. Russ ingin tahu
tentang harta karun itu dan bertanya pada Bart, tetapi ternyata ia telah
salah dengar.
BSu : I'm a wiener?
BSa : Aku seorang wiener (=sosis)?

Menurut Kamus B (647), wiener adalah semacam sosis Namun pada

kalimat di atas kata wiener tidak bisa diterjemahkan. Hal ini bukan karena tidak

adanya padanan untuk kata tersebut, tetapi karena konteks pembicaraan di mana

kata wiener berkaitan dengan ucapan sebelumnya yang merujuk pada referen lain.

justru tidak berterima The treasure of lmawiener

Di sini kejadiannya pendengar salah dengar dan salah mengerti karena mengira

nama orang (Imawiener) adalah sebuah kalimat yang bunyinya .

Kalimat ini tidak bisa diterjemahkan secara konvensional, karena

sifat asosiatif dengan nama Imawiener yang disebutkan sebelumnya akan hilang.

Ketiga narasumber juga tidak ada yang dapat menerjemahkan baik

kata/nama Imawiener maupun kalimat mengingat sulitnya

menyesuaikan struktur kedua istilah ini dalam BSa.

Sementara itu, penerjemah sendiri menerjemahkan ungkapan di atas

dengan menerapkan teknik calque, yaitu menerjemahkan kata perkata apa

adanya, kecuali pada kata wiener. Pada kata ini penerjemah menggunakan teknik

commit to user

130
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

peminjaman. Hal ini tentu saja untuk mengakomodasi kesamaan struktur sesuai

konteks situasi yang melatari ungkapan BSu.

Data lain yang memperlihatkan ketakterjemahan linguistik struktural

karena istilah BSu sudah dimodifikasi adalah data dengan nomor 64 dan 77.

4.2.3 Analisis Data Ketakterjemahan Budaya

Selain faktor linguistik, Catford (1980: 94-99) juga menyatakan bahwa

ketakterjemahan juga dapat disebabkan oleh faktor budaya. Jadi perbedaan

budaya antara penutur BSu dan BSa dapat menyebabkan suatu ungkapan tidak

bisa diterjemahkan dengan tepat. Pendapat ini dikuatkan oleh Newmark (1995:

95) yang kemudian membuat perincian mengenai unsur-unsur budaya yang tidak

memiliki padanan atau tidak dapat diterjemahkan.

Pada penerjemahan dialog DVD film The Simpsons Movie ada beberapa

kasus di mana istilah atau ungkapan pada dialog film yang berkaitan erat dengan

budaya penutur BSu (Bahasa Inggris) tidak dapat diterjemahkan dengan tepat

dalam Bahasa Indonesia. Kejadian ini antara lain disebabkan oleh faktor-faktor

berikut ini.

1. Istilah BSu merupakan istilah ekologi di lingkungan penutur BSu

Menurut Newmark (1995: 96-97), istilah ekologi, seperti nama-nama

flora dan fauna, cenderung khas pada tiap-tiap daerah sehingga menyebabkan

terjadinya ketakterjemahan budaya. Apalagi jika objek tersebut hanya terdapat di

lingkungan terkait. Nama-nama bunga tertentu, seperti tulip, edelweiss, dan

sakura, misalnya, cenderung tidak memiliki padanan di luar wilayah di mana

bunga-bunga tersebut tumbuh. Kejadian semacam ini juga terdapat pada beberapa

commit to user

131
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

bagian subtitle Bahasa Indonesia film The Simpsons Movie. Beberapa contohnya

dapat dilihat di bawah ini.

a. strawberry

25/71/00:06:19-00:06:20/B1/strawberry-strawberi (naturalisasi)
Selain kue wafel Bart dan Lisa juga menginginkan minuman.
BSu : I want syrup!
I want strawberry!
BSa : Aku mau sirup!
Aku mau strawberi!

Kata strawberry merupakan gabungan antara kata straw dan berry. Berry

sendiri adalah sejenis buah yang berukuran kecil, lunak, dan berbintik-bintik

(Kamus A: 86). Jadi strawberry adalah salah satu jenis buah berry. Jenis-jenis

yang lain di antaranya cranberry, blueberry, redberry dan raspberry. Jadi, kata

strawberry memiliki hubungan hiponimi dengan kata berry.

Menurut Kamus Inggris-Indonesia, kata berry ini berpadanan dengan

Kamus B: 61). Namun, nama-nama khusus untuk buah berry, termasuk

strawberry, tidak memiliki sebutan yang spesifik dalam Bahasa Indonesia. Ini

karena, buah berry tidak secara alami tumbuh di Indonesia sehingga tidak ada

istilah lokal untuk menyebut masing-masing jenis buah berry. Bahkan nama

nan besar juga diambil dari nama aslinya, karena ada

kemiripan di antara keduanya.

Ketakterjemahan kata strawberry ini dapat dimasukkan ke dalam

ketakterjemahan budaya, karena istilah terkait merupakan istilah ekologi, atau

tepatnya nama tumbuhan, yang hidup di lingkungan penutur BSu dan tidak begitu

dikenal di lingkungan penutur BSa, sehingga tidak terdapat istilah lokal untuk

menyebutnya.

commit to user

132
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Ketiga narasumber juga sepenuhnya sepakat bahwa tidak ada istilah lokal

untuk kata strawberry. Hanya mereka berbeda pendapat mengenai ejaan untuk

kata ini dalam Bahasa Indonesia. Narasumber 1 menyatakan ejaannya sama persis

dengan ejaan BSu, sedangkan Narasumber 2 dan 3 masing-masing menjawab

kata strawberry.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan ini, pada contoh di atas

penerjemah menempuh teknik naturalisasi dengan memodifikasi kata BSu agar

bentuk naturalisasi ya .

b. hound

124/590/00:44:22-00:44:27/B1/hound-anjing (generalisasi)
Russ memberitahukan mengenai cara kerja sebuah alat di ruang kerjanya.
BSu : One will supply your town with power, the other releases the
hounds.
BSa : Satu untuk mencukupi listrik di kotamu, yang lain untuk
melepaskan anjing.

Anjing merupakan binatang yang umum dijumpai di berbagai tempat,

termasuk di Indonesia. Oleh karena itu sudah ada istilah lokal untuk hewan ini.

Namun adanya perbedaan persepsi masyarakat terhadap anjing telah

menyebabkan munculnya nama-nama lain yang lebih spesifik untuk menyebut

binatang ini. Masyarakat penutur Bahasa Inggris cenderung menganggap istimewa

hewan ini, sehingga terdapat banyak istilah spesifik untuk menyebut anjing,

misalnya herder, puddle, bulldog, dan dalmatian. Ini berbeda dengan masyarakat

penutur Bahasa Indonesia yang cenderung menganggap anjing sebagai hewan

yang najis dan menjijikkan. Oleh karena itu, sebutan untuk hewan ini dalam

commit to user

133
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Bahasa Indonesia juga tidak sebanyak yang dari Bahasa Inggris. Situasi ini

menimbulkan ketakterjemahan budaya yang berkaitan dengan istilah ekologi yang

merujuk pada anjing. Salah satu di antaranya adalah kata hound.

Dalam Kamus A (498) hound diartikan sebagai

berb karena

alasan uyang telah dikemukakan di atas. Tetapi sebenarnya ada sebutan khusus

untuk untuk hound (dog)

istilah ini tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena istilah ini lebih

merupakan hasil strategi penerjemahan dengan menggunakan teknik deskripsi,

yaitu menerjemahkan kata atau frasa dengan menjelaskan maknanya. Kata hound

Dari pihak narasumber tidak diperoleh pendapat apapun berkaitan dengan

terjemahan kata hound ini karena ketiga-tiganya mengosongkan kolom jawaban

yang disediakan.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan pada kata ini, penerjemah tidak

menggunakan teknik deskripsi sebagaimana dijelaskan di atas, tetapi lebih

memilih menggunakan teknik generalisasi, yaitu mengganti kata hound dengan

c. walrus

141/702/00:51:41-00:51:43/B1/walrus-walrus (peminjaman)
Di Alaska Homer meluangkan waktunya untuk bermain video game. Di
layar video game terlihat judul permainan yang akan dimainkan Homer.
BSu : GRAND THEFT WALRUS
BSa : WALRUS PENCURI BESAR

commit to user

134
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

inatang laut berbadan besar dengan dua gading yang

Kamus A: 1130). Hewan ini hanya hidup di

wilayah yang memiliki musim dingin, khususnya di laut es, sehingga tidak

dikenal di wilayah Indonesia yang hanya memiliki musim panas dan musim

hujan. Oleh karena itu, tidak ada istilah lokal untuk menyebut binatang ini. Dalam

Kamus B

. Sementara dalam Kamus C (1615) kata ini sudah diserap dan

diterangkan seb

Jadi dapat kita tarik kesimpulan bahwa telah terjadi ketakterjemahan

budaya kata walrus. Ketakterjemahan ini disebabkan karena referen merupakan

anggota ekologi (fauna) di lingkungan penutur BSu yang tidak dikenal oleh

masyarakat penutur BSa, sehingga tidak terdapat istilah untuk menyebutnya.

Ketiga narasumber memberikan pendapat yang berbeda mengenai

terjemahan untuk istilah walrus ini. Narasumber 2 menerjemahkan kata ini dengan

mengambil istilah aslinya, sedangkan Narasumber 3 berpendapat walrus sepadan

Pendapat Narasumber 3 mungkin didasari persamaan bentuk antara kedua hewan

yang dimaksud. Tetapi sesungguhnya walrus berbeda dengan anjing laut yang

dalam Bahasa Inggris disebut dengan istilah seal

juga lebih merupakan deskripsi daripada nama lokal untuk seal.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan pada kata walrus ini

penerjemah menerapkan teknik peminjaman. Sebagaimana terlihat pada contoh di

atas, penerjemah menggunakan kata BSu apa adanya untuk dipakai pada teks

terjemahan.

commit to user

135
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dua data lain yang mewakili ketakterjemahan budaya karena istilah BSu

merupakan istilah ekologi di lingkungan penutur BSu adalah data dengan nomor

103 dan 133.

2. Referen merupakan budaya materi penutur BSu

Ada benda-benda atau hal-hal yang hanya terdapat di wilayah tertentu,

sehingga menjadi semacam budaya khas dari masyarakat setempat. Pada

umumnya, benda atau hal semacam ini diberi nama dengan bahasa setempat dan

karena tidak dikenal dalam budaya lain, maka tidak ada pula istilah untuk

menyebutnya pada bahasa lain. Oleh Newmark (1995: 97-98), benda-benda

semacam ini diistilahkan sebagai materi budaya setempat, yang bentuknya bisa

berupa makanan, minuman, pakaian dan lain sebagainya.

Yang termasuk dalam materi budaya ini, dapat dicontohkan di sini

misalnya, steak, yang merupakan makanan khas orang barat. Makanan ini tidak

ada sebutannya dalam Bahasa Indonesia sehingga istilah ini tidak dapat

diterjemahkan. Meskipun pada perkembangan selanjutnya benda atau hal tersebut

dikenal dan popular di tempat lain, tidak berarti kemudian diciptakan istilah lokal

untuk menyebutnya. Untuk mengatasi masalah ketiadaan padanan demikian ini,

biasanya kemudian dilakukan peminjaman kata baik secara mentah-mentah

(borrowing) ataupun dengan penyesuaian (naturalisasi).

Dari tiga orang narasumber, dua di antaranya setuju dengan pendapat

adanya ketakterjemahan yang disebabkan oleh perbedaan budaya, sedangkan

seorang lagi (Narasumber 2) tidak memberikan pendapat.

commit to user

136
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dalam subtitle Bahasa Indonesia DVD film The Simpsons Movie

terdapat banyak contoh kata atau frasa yang membuktikan adanya kejadian di

atas.

a. beer

9/21/00:03:01-00:03:03/B2/beer-bir (naturalisasi)
Ketika konser Green Day sedang berlangsung, terlihat ada balon sponsor
melayang di udara.
BSu : Duff BEER
BINGE RESPONSIBLY
BSa : BIR Duff
MINUM DENGAN BERTANGGUNG JAWAB

Dalam Kamus A (81) kata beer ejenis minuman

beralkohol yang terbuat dari biji- beer

adalah salah satu di antara berbagai jenis minuman beralkohol atau minuman

keras yang memabukkan. Minuman keras hampir dikenal di setiap negara dengan

nama dan ciri khasnya masing-masing, misalnya vodka (Rusia), sake (Jepang),

materi budaya setempat dan cenderung tidak memiliki sebutan yang sesuai dalam

bahasa lain.

Dalam Kamus B, tidak ditemukan istilah lokal untuk kata ini. Yang ada

Kamus B: 59). Begitu pula dalam Kamus C

(2

alkohol yang dibuat dengan peragian lambat dan dapat

Ketiga narasumber juga setuju bahwa kata beer ini tidak dapat diganti

dengan istilah lokal. Mereka menyatakan bahwa terjemahan untuk istilah tersebut

commit to user

137
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan kata beer ini, pada contoh di

atas penerjemah menempuh teknik naturalisasi dengan mengambil kata asli dan

menyesuaikannya dengan ejaan BSa.

b. waffle

23/68/00:06:14-00:06:16/B2/waffle-kue wafel (amplifikasi)


Sepulang dari gereja, di dalam mobil, Homer menawari anggota
keluarganya untuk membeli makanan
BSu : Okay! Who want waffles?
BSa : Baik, siapa mau kue wafel?

Waffle adalah sejenis roti yang bentuknya lebar dan rata memiliki

lubang-lubang persegi empat dan biasa disantap untuk sarapan pagi (Kamus A:

1127). Dari kegunaannya untuk sarapan pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa

waffle ini adalah makanan khas di negara-negara barat yang makanan pokoknya

roti. Makanan ini tidak dikenal atau tidak popular di negara-negara yang makanan

pokoknya selain roti, termasuk di Indonesia. Dalam Kamus B (634), waffle ini

naturalisasi dari istilah aslinya, sedangkan yang pertama, meski istilahnya asli

Bahasa Indonesia, tetapi tidak begitu popular penggunaannya. Bahkan dalam

Kamus C (1323)

direnggangkan (dibuka) dan dijepitkan (seperti

pembuatannya dilakukan dengan cara dipanggang dalam oven, di mana cara


commit to user

138
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

memasukkan dan mengeluarkannya menggunakan sepit atau jepitan. Tetapi sekali

lagi istilah kue sepit tidak baku dan kurang berterima.

Ketidakpopularan kue ini juga dikuatkan oleh narasumber. Dari ketiga

narasumber tidak ada satupun yang tahu arti kata waffle. Narasumber 2 dan 3

tidak memberikan jawaban, sedangkan Narasumber 1 mengartikannya secara

Dari bukti-bukti di atas dapat kita tarik kesimpulan tidak ada padanan

dalam Bahasa Indonesia untuk kata waffle karena referen merupakan materi

budaya, atau lebih spesifiknya, makanan khas di lingkungan penutur BSu yang

tidak dikenal oleh penutur BSa sehingga menimbulkan peristiwa ketakterjemahan

budaya.

Istilah yang umum digunakan untuk menyebut referen tersebut dalam

memilih bentuk kedua yang merupakan kombinasi antara teknik naturalisasi dan

amplifikasi. Di sini selain menyesuaikan ejaan istilah sumber dengan ejaan BSa,

yang dimaksud.

Istilah waffle ini juga muncul pada data bernomor 26.

c. donut

78/311/00:22:34-00:22:38/B2/donut-donat (naturalisasi)
Dalam perjalanan pada waktu akan membuang kotoran babinya, Homer
diberitahu seseorang kalau ada toko donat yang baru saja ditutup oleh
petugas kesehatan.

BSu : The health inspector just shut down the donut store and they're
giving out free donuts!
BSa : Petugas kesehatan menutup toko donat, mereka berikan donat
cuma- cuma!
commit to user

139
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pasangan kalimat BSu dan BSa di atas mengandung ketakterjemahan pada

kata donut. Donut atau doughnut adalah kue bulat kecil yang biasanya berbentuk

seperti cincin (Kamus A: 302). Kue ini adalah makanan khas Amerika yang pada

mulanya tidak dikenal di lingkungan penutur Bahasa Indonesia sehingga tidak ada

istilah lokal untuk menyebutnya. Dengan kata lain, terjadi ketekterjemahan karena

referen merupakan suatu bentuk materi budaya penutur BSu.

Untuk menyebut kata donut ini dalam Bahasa Indonesia kemudian

digunakan teknik naturalisasi dengan menyesuaikan ejaan dengan lafalnya

. Hal ini sesuai dengan yang terdapat pada Kamus B (195) di

mana kata doughnut Kamus

C ( ini yang diartikan sebagai

Ketiga narasumber juga sepakat bahwa kata donut tak terjemahkan dalam

Bahasa Indonesia sehingga harus dilakukan naturalisasi dari kata aslinya menjadi

Ketakterjemahan kata donut ini juga ditunjukkan oleh data bernomor 79.

Sementara data lain yang merepresentasikan ketakterjemahan budaya materi

penutur BSu ini dapat dilihat pada data dengan nomor 14, 24, 37, 60,61, 92, 110,

149, 194 , dan 195.

3. Istilah BSu terkait dengan budaya sosial penutur BSu

Selain dari budaya materi, menurut Newmark (1995: 98-102), istilah-

istilah yang merujuk pada budaya sosial suatu masyarakat juga seringkali tak

commit to user

140
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

terjemahkan. Bidang-bidang yang termasuk ke dalam kelompok ini meliputi

pekerjaan, hiburan, organisasi, politik, administrasi, agama, seni dan lain-lain.

Pada subtitle film The Simpsons Movie terdapat sejumlah

ketakterjemahan istilah yang berkaitan dengan budaya/organisasi sosial

masyarakat semacam ini.

a. rock band

33/00:04:06-00:04:09/B2/rock band-band musik rock (peminjaman)


Pada kebaktian di gereja Springfield, pendeta memimpin para hadirin
untuk memanjatkan doa bagi band musik rock Green Day yang baru saja
tenggelam Danau Springfield.
BSu : For the latest rock band to die in our town.
BSa : Bagi band musik rock terbaru yang mati di kota kami.

Rock adalah salah satu jenis musik populer masa kini dengan hentakan

yang kuat dan keras dan biasa dimainkan dengan gitar dan drum (Kamus A: 879).

Musik rock ini adalah salah satu bentuk budaya khas masyarakat penutur Bahasa

Inggris. Oleh karena itu tidak ada istilah lokal untuk menyebut jenis musik ini.

Dalam Kamus B (489), kata rock, dalam konteks musik, diartikan secara tidak

-ngik- amus C tidak terdapat

entri untuk kata ini.

Sementara kata band dalam konteks frasa di atas menurut Kamus A (71)

ada istilah Bahasa Indonesia untuk menggantikan kata ini. Dalam Kamus B (52)

kata band

pertama dan kedua merupakan hasil naturalisasi dari Bahasa Inggris, sementara

yang terakhir lebih merupakan deskripsi dari kata terkait.

commit to user

141
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari pihak narasumber diperoleh jawaban yang berbeda-beda, tetapi tidak

satupun yang merupakan istilah lokal. Narasumber 1 menerjemahkan rock band

-masing

Dari uraian di atas terlihat adanya ketakterjemahan budaya pada frasa rock

band, karena masing-masing kata penyusunnya tidak memiliki padanan lokal.

Untuk mengatasi ketakterjemahan ini, pada contoh di atas, setidaknya penerjemah

menerapkan tiga teknik penerjemahan, yaitu (1) peminjaman (mengambil kata

sumber apa adanya), (1) transposisi (menukar posisi kata sesuai dengan kaidah

at kita lihat

pada contoh di atas.

b. amen

54/159/00:12:15-00:12:16/B3/amen-amin (naturalisasi)
Ned dan anak-anaknya mengakhiri doa sebelum makan.
BSu : Amen.
BSa : Amin.

Amen

ungkapan persetujua

(Kamus A: 31). Dalam kamus ini juga disebutkan bahwa kata ini bukan

merupakan kata asli Bahasa Inggris, tetapi merupakan pinjaman dari istilah

pada awalnya kata

amen merupakan suatu bentuk ketakterjemahan dari Bahasa Ibrani ke dalam

Bahasa Inggris.

commit to user

142
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Di lingkungan penutur Bahasa Indonesia kata ini juga sering dipakai,

tetapi Kamus B:

26). Dalam Kamus C (53) dinyatakan bahwa makna dan fungsi ungkapan ini pun

juga sama dengan di atas,

kemiripan, tetapi versi Bahasa Indonesia ini tidak berasal dari Bahasa Inggris,

Islam.

Ketiga narasumber juga sepakat dalam hal ini, yaitu tidak ada istilah lokal

untuk menggantikan kata amen. Mereka memberikan pendapat yang sama bahwa

Jadi telah terjadi ketakterjemahan pada kata amen, di mana istilah ini tidak

dapat digantikan dengan istilah lokal. Hal ini disebabkan karena ungkapan amen

ini berkaitan erat dengan budaya sosial khususnya religi di mana istilah-istilah

yang dipakai cenderung menggunakan bahasa di mana agama tersebut berasal.

Meskipun ada istilah lokal yang maknanya mirip amen

isa dipakai untuk menggantikan dan apabila

dipaksakan aspek religi pada istilah BSu akan hilang pada teks BSa.

Pada contoh di atas penerjemah juga menempuh teknik naturalisasi untuk

menerjemahkan istilah amen.

c. federal

84/331/00:24:31-00:24:33/B3/federal-federal (peminjaman)
Petugas kepolisian memperingatkan Bart akan perbuatannya memukuli
hewan aneh di dekat Danau Springfield.
BSu : Hey! Jab one more eye and it's a federal crime.
BSa : Hei, memukul satu mata lagi maka merupakan kejahatan federal.
commit to user

143
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kata federal merupakan bentuk adjective atau kata sifat dari federation.

Kata federal merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan pusat

yang terdiri dari negara-negara bagian, sedangkan federation adalah sekumpulan

negara bagian, negara, atau organisasi yang secara bersama-sama bergabung

membentuk satu kelompok (Kamus A: 372).

Sesungguhnya federation merupakan suatu bentuk organisasi

(pemerintahan) modern yang diciptakan dan berkembang di negara-negara maju

(barat). Kamus C

perhimpunan yang bekerjasama seakan-akan satu badan, tetapi setiap

dikoordinasi oleh pemerintah pusat yang mengurus hal-hal mengenai kepentingan

nasion

bagian membentuk kesatuan dan setiap negara bagian memiliki kebebasan dalam

mengurus persoalan di dalam n

Karena merupakan suatu bentuk organisasi atau administrasi pemerintahan

dalam budaya barat, pada mulanya sistem ini tidak dikenal oleh masyarakat

penutur Bahasa Indonesia. Sebenarnya di lingkungan mereka juga terdapat

berbagai bentuk perkumpulan atau organisasi, tetapi sifatnya berbeda. Situasi ini

menyebabkan tidak adanya satu kata atau istilah lokal untuk menyebut federation

atau federal, sehingga menyebabkan terjadinya ketakterjemahan karena faktor

budaya pada kata ini.

Dua di antara tiga orang narasumber (Narasumber 1 dan 2) juga sepakat

bahwa istilah federal tidak memiliki padanan istilah dalam Bahasa Indonesia,
commit to user

144
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

sehingga untuk menerjemahkan kata ini kita harus mengambil istilah aslinya.

Sementara Narasumber 3 tidak memberikan jawaban.

Untuk mengatasi ketakterjemahan ini, dilakukan naturalisasi pada kata

federation dan teknik peminjaman untuk kata federal, sebagaimana terdapat

dalam Kamus B (236) di mana federation

istilah federal tetap atau tidak berubah. Khusus untuk kata federasi sendiri pada

lebih merupakan deskripsi daripada padanan lokal untuk istilah terkait.

Pada contoh di atas, penerjemah juga menerapkan teknik peminjaman

untuk menerjemahkan kata federal.

d. president

86/333/00:24:45-00:24:48/B3/president-presiden (naturalisasi)
Russ datang untuk menemui Presiden Arnold.
BSu : Russ Cargill, head of the EPA, here to see the president.
BSa : Russ Cargill, kepala EPA datang untuk bertemu Presiden.

Dalam Longman Dictionary of American English (2009: 792) istilah

president

yan president bisa dianggap

sebagai salah satu sebutan untuk kepala negara, sejajar dengan king (raja) dan

queen (ratu).

Dalam kosa kata Bahasa Indonesia istilah president ini tidak dikenal

karena sistem pemerintahan republik merupakan suatu bentuk organisasi dalam

budaya barat. Dengan kata lain, kata president ini dapat diklasifikasikan ke dalam

ketakterjemahan sosial budaya, khususnya berkaitan dengan administrasi

commit to user

145
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

pemerintahan masyarakat penutur BSu. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan

naturalisasi istilah. Dalam Kamus B (445) juga dinyatakan bahwa terjemahan

untuk president rganisasi bisa berarti

Ketakterjemahan kata president ini juga dibenarkan oleh ketiga

narasumber, di mana tidak ada satupun narasumber yang memberikan alternatif

Teknik naturalisasi

ini pula yang diterapkan oleh penerjemah dalam menerjemahkan kata president

pada contoh di atas.

Ketakterjemahan istilah president ini juga ditunjukkan data dengan nomor

87 dan 162.

e. tic-tac-toe

166/871/01:05:3701:05:42/B2/tic-tac-toe-tik-tak-to (naturalisasi)
Upaya Russ menurunkan bom dari helikopter ke dalam kubah gagal
karena Homer tiba-tiba menyerobot turun melalui tali sehingga bom
terlepas. Russ menjadi jengkel dan merasa dikerjai oleh seorang idiot.
Cletus yang sedang berusaha keluar dari kubah kemudian
menanggapinya.
BSu : Hey, I know how you feel. I was beat in tic-tac-toe by a chicken.
BSa : Aku tahu perasaanmu, aku pernah kalah bermain tik-tak-to
dengan cewek.

Pada kalimat di atas terjadi ketakterjemahan pada kata tic-tac-toe. Tic-

tac-toe adalah suatu jenis permainan anak-anak di mana dua pemain menuliskan

tanda X atau O pada sebuah pola yang terdiri dari sembilan bujur sangkar dan

dengan tujuan membuat tiga tanda yang sama secara berurutan (Kamus A: 1060).

Permainan ini adalah permainan khas masyarakat penutur Bahasa Inggris dan

tidak begitu dikenal oleh masyarakat penutur Bahasa Indonesia. Oleh karena itu,

tidak ada istilah lokal untuk menyebutnya. Dalam Kamus B (591), istilah tic-tac-
commit to user

146
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

toe -tebakan dengan an

Sementara dalam Kamus C tidak terdapat lema untuk kata ini.

Ketiga narasumber tampaknya juga tidak begitu mengenal permainan

tic-tac-toe ini, sehingga mereka tidak memberikan pendapat mengenai nama

permainan ini dalam Bahasa Indonesia.

Kesimpulannya, telah terjadi ketakterjemahan yang disebabkan oleh

faktor sosial budaya, khususnya berkaitan dengan leisure (aktivitas di waktu

senggang/permainan) pada kata tic-tac-toe ini, sehingga diperlukan strategi

khusus untuk menerjemahkannya. Pada contoh di atas, penerjemah menerapkan

teknik naturalisasi, yaitu menyesuaikan ejaan BSu untuk dipakai pada teks

sasaran. Ia mengambil kata asli tic-tac-toe dan menyesuaikan ejaannya menjadi

-tak- pada BSa.

Ketakterjemahan yang berkaitan dengan budaya sosial penutur BSu ini

juga dapat dilihat pada data dengan nomor 40, 41, 42, 43, 45, 54, 75, 84, 119, 129,

127, 128, 135,161,168, 190, 202 dan 204.

4. Ungkapan BSu merupakan budaya tutur penutur BSu

Unsur budaya lain yang berpotensi menyebabkan terjadinya

ketakterjemahan, menurut Newmark (1995: 102), adalah gestur (bahasa tubuh)

dan adat kebiasaan. Beberapa kebiasaan dalam bertutur atau berbicara masyarakat

penutur bahasa tertentu cenderung tak terjemahkan karena sifatnya yang khas dan

unik serta dipengaruhi oleh pandangan atau budaya masyarakat bersangkutan. Hal

ini terjadi misalnya pada kebiasaan menyapa, mengumpat dan membuat

perumpamaan (idiom). Berbagai bentuk sapaan, seruan, dan idiom dalam Bahasa

Inggris tidak dapat diterjemahkan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia


commit to user

147
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

karena adanya perbedaan pandangan atau budaya di antara penutur kedua bahasa

tersebut.

Pada dialog film The Simpsons Movie juga terdapat sejumlah sapaan,

seruan dan maupun idiom khas penutur Bahasa Inggris yang dilontarkan oleh

karakter-karakter dalam film tersebut. Beberapa di antaranya yang berupa sapaan

seperti terlihat di bawah ini.

a. hello

32/106/00:08:31-00:08:34/B4/hello-halo (naturalisasi)
Dalam upayanya menyelamatkan Danau Springfield dari pencemaran,
Lisa mendatangi tiap-tiap rumah penduduk untuk memberikan saran-
saran.
BSu : Hello
BSa : Halo,

Meski sudah umum digunakan di lingkungan penutur Bahasa Indonesia,

( merupakan sapaan atau ucapan salam khas

dalam budaya penutur Bahasa Inggris. Menurut Kamus A (479), kata hello adalah

seruan yang diucapkan pada saat bertemu dengan seseorang atau menyapa

seseorang. Sementara hi adalah bentuk informal dari hello (483). Sapaan hi ini

kadangkala juga dieja dengan hey. Sementara itu, dalam Kamus B (296-297), kata

hello sebagai kata be

Arab) dan juga sebagai suatu bentuk kata seru bersama-sama dengan kata hi.

Sebenarnya dalam budaya asli masyarakat Indonesia tidak ada sapaan

ketakterjemahan budaya

pada kedua kata ini. Ketiga Narasumber juga berpendapat sama. Mereka tidak

menemukan terjemahan untuk hallo dan hi kecuali dengan mengambil istilah

aslinya. Untuk menyapa orang pada waktu bertemu, orang Indonesia cenderung

commit to user

148
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

menggunaka Sapaan

Indonesia hanya dipakai pada situasi informal.

Untuk menerjemahkan sapaan hello ini, penerjemah menerapkan teknik

naturalisasi dengan mengambil dan mengubah ejaan BSu agar sesuai dengan ejaan

BSa.

Data lain yang menunjukkan ketakterjemahan sapaan hello ini ada pada

nomor 136 dan 189.

b. honey

55/164/00:12:41-00:12:44/B4/honey-sayang (adaptasi)
Ketika Nelson sedang menertawai Bart yang dihukum dalam keadaan
telanjang, Mrs Muntz (ibu Nelson) menemuinya.
BSu : Nelson, honey, where have you been?
BSa : Nelson sayang, di mana kau?

Setiap bahasa pada umumnya memiliki sapaan yang menunjukkan

ungkapan kasih sayang. Sapaan ini kadangkala berupa metafora atau kiasan,

sebagaimana ungkapan honey di atas. Makna dasar kata ini sebenarnya adalah

kata ini dalam kemudian dipakai untuk menyapa orang yang dicintai (Kamus A:

494). Dalam Bahasa Indonesia kata honey Kamus

B:

lingkungan penutur Bahasa Indonesia. Bahkan kata ini bisa memiliki arti yang

berlawanan, yaitu

C:

892).

commit to user

149
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Dari uraian di atas ternyata untuk makna kiasan atau makna konotatif,

kata honey dan inan dan tidak bisa saling

menggantikan. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya di antara penutur

kedua bahasa dalam membuat perumpamaan. Jadi ungkapan honey sebagai sapaan

mengalami ketakterjemahan karena faktor budaya, di mana kata ini tidak dapat

diganti secara langsung dengan padanannya (madu).

Pendapat narasumber juga menguatkan pernyataan di atas, di mana

ketiganya menyatakan bahwa kata yang tepat untuk menggantikan sapaan honey

-sama sebagai sapaan untuk orang

sebagaimana terdapat pada kata honey.

Dalam hal ini penerjemah sepaham dengan narasumber, dengan

menerapakan teknik adaptasi dalam menerjemahkan kata honey yaitu

menggantinya dengan istilah BSa yang miliki fungsi yang sama, meski makna

asalnya berbeda sebagaimana terlihat pada contoh di atas.

Data lain yang merepresentasikan ketakterjemahan budaya pada sapaan

honey ini ada pada nomor 66, 69, 104, dan 115.

c. officers

57/165/00:12:48-00:12:51/B4/officers-bapak-bapak (adaptasi)
Pada saat Bart mendapat hukuman dari polisi karena telanjang di tempat
umum. Homer datang untuk menanyakan pokok permasalahannya.
BSu : -Dad!
-What seems to be the problem, officers?
BSa : -Yah!
-Ada masalah apa Bapak-bapak?

commit to user

150
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Ungkapan di atas memperlihatkan adanya ketakterjemahan pada kata

officers. Menurut Kamus B (403), secara umum officer

police officer). Kata ini

juga berfungsi sebagai sapaan. Dalam budaya masyarakat Indonesia, menyapa

dengan menggunakan jenis profesi tidak umum. Hanya profesi-profesi tertentu

yang bisa digunakan untuk menyapa misalnya dokter dan profesor. Untuk profesi-

profesi lain apabila dipakai untuk menyapa har

dipakai untuk berbagai situasi. Oleh karena itu apabila kata officers di atas

hasilnya

tidak akan berterima.

Masih dalam Kamus B (403), selain beberapa istilah yang telah

disebutkan di atas, juga terdapat alternatif makna untuk kata officer

. Pernyataan ini didukung oleh pendapat

narasumber di mana Narasumber 1 dan 2 juga beranggapan bahwa ungkapan

officer. Sementara Narasumber 3 tidak

memberikan pendapat dalam hal ini.

Teknik adaptasi demikian ini pula yang diterapkan oleh penerjemah di

atas untuk mengatasi ketaktejemahan karaena perbedaan budaya antara penutur

BSu dan BSa. Penerjemah menggunakan ungkapan - untuk

menggantikan kata officers. Meskipun maknanya berbeda, kedua kata ini memiliki

kesamaan secara fungsional sebagai ungkapan untuk menyapa.

commit to user

151
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kemudian beberapa bentuk ketakterjemahan yang disebabkan karena

ungkapan BSu berupa seruan, termasuk umpatan dan makian, dapat dilihat pada

contoh di bawah ini.

d. giant sucker

4/12/00:02:08-00:02:11/B4/giant sucker-sungguh payah (adaptasi)


Ketika sedang menonton film di dalam gedung bioskop, Homer merasa
tidak puas dengan film yang diputar. Ia kemudian berdiri dan berkata
kepada penonton di sekelilingnnya.
BSu : If you ask me everyone in this theatre is a giant sucker.
BSa : Jika kau tanya aku, semua orang di teater ini sungguh payah.

Pada ungkapan di atas terdapat ketidaksepadanan yang sangat mencolok

antara frasa giant sucker Giant sucker

adalah suatu bentuk makian khas Amerika yang apabila diterjemahkan secara

kata-per-kata, tidak akan berterima pada BSa.

Dalam kamus tidak terdapat lema untuk frasa giant sucker. Tetapi

khusus untuk kata sucker terdapat makna informal atau slang yang berarti

Kamus A: 1018)

Kamus E: 410). Dalam Kamus B (567) kata sucker juga dinyatakan

giant

sucker di atas, yaitu Homer mengata-ngatai bahwa para penonton sudah ditipu

oleh pembuat film dan mereka hanyalah orang-orang yang kecanduan menonton

film.

Karena ungkapan giant sucker bentuknya tidak baku dan maknanya

konotatif, maka tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke dalam Bahasa

Indonesia karena memang maknanya berbeda dengan kata-kata penyusunnya.

commit to user

152
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Kejadian semacam ini adalah salah satu bentuk ketakterjemahan budaya, di mana

jenis makian di satu negara (Amerika) berbeda dengan umpatan di negara lain

(Indonesia), sehingga penerjemahannya tidak bisa dilakukan dengan mengacu

pada makna kata-kata penyusunnya.

Ketiga narasumber penelitian juga tidak ada yang mengenal ungkapan

ini, sehingga mereka tidak memberikan pendapat mengenai terjemahan ungkapan

ini dalam Bahasa Indonesia.

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan ini, penerjemah

menggunakan teknik adaptasi dengan mengganti ungkapan BSu dengan ungkapan

BSa yang secara kultural memiliki fungsi sama sebagai suatu bentuk makian,

meskipun makna katanya berbeda sama sekali.

e. whoa nelly

22/57/00:05:30-00:05:31/B4/whoa nelly-minta ampun (adaptasi)


Ketika mengikuti kebaktian di gereja tiba-tiba Kakek kesurupan dan
berteriak-teriak tak karuan.
BSu : Whoa, nelly!
BSa : Minta ampun!

Ungkapan Whoa nelly! adalah suatu bentuk seruan personal orang

Amerika. Kata-kata penyusun ungkapan ini tidak dapat kita temukan di dalam

kamus standar, sehingga ungkapan ini tidak memiliki makna tertentu kecuali

berfungsi sebagai seruan. Ketidakjelasan makna kata ungkapan ini menyebabkan

tidak adanya padanan yang spesifik dalam Bahasa Indonesia dan menimbulkan

ketakterjemahan yang terkait dengan aspek budaya.

Dari ketiga narasumber juga tidak ada satupun yang mengetahui

terjemahan dari seruan Whoa nelly! Ini, sehingga ketiganya mengosongkan

jawaban untuk terjemahan ungkapan ini.


commit to user

153
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Untuk mengatasi masalah ketakterjemahan ini, pada contoh di atas

penerjemah menerapkan teknik adaptasi, yaitu mengganti ungkapan BSu Whoa

nelly! ungsi sama

meski makna kata-kata penyusunnyanya berlainan.

f. bingo

113/523/00:39:43-00:39:45/B4/bingo-bingo (peminjaman)
Setelah berpikir agak lama, Homer menemukan ide bagus tentang ke
mana mereka harus pergi untuk menghindari kemarahan penduduk
Springfield.
BSu : Bingo.
BSa : Bingo.

Dalam Kamus A (91) kata bingo hanya diartikan sebagai suatu

permainan untuk mendapatkan uang atau hadiah di mana pemenangnya adalah

yang serangkaian angka tebakannya sama dengan satu baris angka pada kartunya.

Begitu pula dalam Kamus B (65)

atau menang biasanya langsung berteriak Bingo!.

Dalam budaya penutur Bahasa Inggris, seruan Bingo! ini kemudian

berkembang menjadi ungkapan untuk mengekspresikan keberhasilan dalam

melakukan sesuatu dan tidak hanya terbatas pada permainan bingo saja. Dalam

Kamus E (32), seruan Bingo! Dianggap sepadan dengan ungkapan Yes! dan

dan seruan tersebut dinyatakan berasal dari permainan bingo.

Karena perbedaan budaya penutur, di mana permainan bingo kurang

dikenal oleh masyarakat Indonesia, seruan semacam ini tidak dapat kita temukan

padanan istilahnya dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu terjadi

ketakterjemahan budaya dalam hal ini.

commit to user

154
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Pendapat narasumber dalam hal ini berbeda-beda. Narasumber 1

berpendapat bahwa kata bingo

Narasumber 2 beranggapan untuk menerjemahkan kata tersebut adalah dengan

mengambil kata aslinya. Sementara Narasumber 3 tidak memberikan jawaban.

, makna kedua kata terakhir ini sifatnya lebih umum karena

tidak secara spesifik merujuk pada permainan tertentu. Oleh karena itu, pada

satuan terjemahan di atas, penerjemah menerapkan teknik peminjaman dengan

mengambil kata asli apa adanya untuk dipakai pada teks terjemahan guna

mempertahankan keseluruhan makna kata BSu.

Sementara itu, ketakterjemahan yang berkaitan dengan kebiasaan

membuat perumpamaan atau idiom misalnya terdapat pada ungkapan-ungkapan di

bawah ini.

g. piece of cake

30/98/00:07:57-00:07:59/B4/piece of cake-sepotong kue (calque)


Bart meladeni tantangan Bapaknya untuk melakukan suatu pekerjaan
yang sulit. Dengan mudah ia memanjat antena.
BSu : -Piece of cake.
-Earthquake! Earthquake!
BSa : -Sepotong kue.
-Gempa bumi!

Dalam Kamus D ( , 2000: 313) piece

of cake adalah suatu bentuk idiom slang dalam budaya penutur Bahasa Inggris

yan . Berdasarkan maknanya, ungkapan ini dapat

Tetapi jika demikian, unsur idiomatis dari ungkapan tersebut hilang atau tak

terjemahkan. Agar hasil terjemahan sempurna, seharusnya ungkapan BSa juga


commit to user

155
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dalam bentuk idiom. Tetapi permasalahannya tidak ada idiom serupa dalam

budaya masyarakat penutur Bahasa Indonesia, sehingga ungkapan tersebut hanya

bisa diterjemahkan menurut maknanya saja, sedangkan secara idiomatis terjadi

ketakterjemahan.

Pendapat narasumber mengenai hal ini juga berbeda-beda, namun tidak

ada satupun yang menyatakan adanya idiom serupa dalam Bahasa Indonesia.

Narasumber 3 menerjemahkan piece of cake

Narasumber 1 mengartik

sedangkan Narasumber 2 tidak memberikan jawaban.

Sebagaimana terjadi pada Narasumber 1, pada contoh di atas, idio m

piece of cake telah mengakibatkan terjadinya kesalahan penerjemahan, di mana

penerjemah mengartikannya Ini karena penerjemah

menggunakan teknik calque, yaitu menerjemahkan suatu ungkapan berdasarkan

makna tiap-tiap kata, yang sebenarnya tidak cocok untuk diterapkan dalam

penerjemahan idiom.

h. off the hook

62/209/00:15:34-00:15:36/B4/off the hook-lepas dari persoalan


(deskripsi)
Ketika memperkenalkan babi yang baru saja dibawanya pulang sebagai
anggota baru Keluarga Simpson, Homer melihat Marge tersenyum
sehingga ia merasa tidak ada masalah dengan keberadaan babi tersebut
di rumah.
BSu : You smiled, I'm off the hook!
BSa : Tersenyum dan aku lepas dari persoalan.

Frasa off the hook

Kamus D: 289). Dalam Bahasa

Indonesia tidak ada idiom semacam ini. Dalam Kamus B (303) idiom ini hanya

commit to user

156
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

makna ungkapan off the hook ini dapat diterjemahkan, unsur idiomatis yang

melekat di dalamnya tidak dapat diterjemahkan. Ketakterjemahan ini berkaitan

erat dengan faktor budaya, di mana dalam budaya tutur Bahasa Indonesia tidak

ada perumpamaan dengan makna serupa.

Ketiga narasumber juga tidak ada yang menyatakan adanya idiom yang

searti dengan off the hook. Pendapat mereka mengenai terjemahan dari idiom ini

berbeda sama sekali dengan maknanya. Narasumber 1 mengartikannya sebagai

sekali.

Penerjemah sendiri pada contoh di atas menerapkan teknik deskripsi

dengan menjelaskan makna off the hook dan mengabaikan unsur idiomatis

ungkapan ini. Ini dilakukan, sekali lagi, karena tidak adanya idiom yang serupa

dalam budaya penutur BSa.

i. hustle your bustle

105/453/00:33:09-00:33:11/B4/hustle your bustle-bergegaslah (deskripsi)


Ketika sedang berusaha keluar dari rumah untuk menghindari kejaran
massa yang sedang marah, tiba-tiba Ned muncul dan memberikan
pertolongan.
BSu : Point taken. Now, hustle your bustles.
BSa : Paham. Sekarang bergegaslah.

Pada penerjemahan di atas terdapat ketidaksepadanan antara hustle and

bustle idiom diterjemahkan

menurut maknanya. Hustle and bustle adalah satu ungkapan yang bermakna

504). Frasa ini juga merupakan suatu idiom yang

commit to user

157
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dalam Kamus D (215) diartikan sebagai 'ramai, ruwet, buru-buru, dan

semacam ini, sehingga tidak mungkin untuk menerjemahkan ungkapan di atas

secara idiomatis.

Dari pihak narasumber, hanya Narasumber 3 yang mengenal idiom

hustle your bustle ini. Tetapi di sini idiom tersebut juga hanya diartikan menurut

dua narasumber lain tidak

memberikan jawaban sama sekali.

Dari bukti-bukti di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa secara parsial

telah terjadi ketakterjemahan budaya pada frasa hustle your bustles karena tidak

adanya idiom sejenis, dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, untuk satuan

terjemahan di atas, mau tidak mau penerjemah harus menerapkan teknik deskripsi,

yaitu menerjemahkan kata sumber menurut maknanya saja dengan mengabaikan

unsur idiomatis yang dikandungnya.

Data lain yang termasuk ke dalam ketakterjemahan budaya karena

istilah/ungkapan BSu merupakan budaya tutur khas penutur BSu adalah data

dengan nomor 12, 27, 50, 51, 52, 67, 68, 73, 74, 80, 91, 102, 114, 122,140, 148,

157, 158, 164,180, dan 193.

Demikianlah beberapa contoh analisis ketakterjemahan yang terdapat

pada subtitle DVD film The Simpsons Movie. Data selengkapanya mengenai

ketakterjemahan ini dapat dilihat pada Lampiran 1.

commit to user

158
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis data penelitian sebagaimana diuraikan pada Bab IV,

dapat kita tarik kesimpulan bahwa pada subtitle DVD film The Simpsons Movie

terdapat bentuk-bentuk ketakterjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia

yang disebabkan karena faktor linguistik (baik leksikal maupun struktural) dan

budaya sebagaimana dinyatakan Catford.

Selain itu, dari hasil analisis juga ditemukan berbagai faktor penyebab

terjadinya tiap-tiap jenis ketakterjemahan tersebut. Penyebab ketakterjemahan

lingustik dalam tataran leksikal dapat diperinci sebagai berikut:

1. Adanya kesenjangan kosa kata antara BSu dengan BSa

2. Istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis

3. Istilah BSu merupakan istilah tidak baku

4. Tidak ada unsur gender pada istilah BSa

5. Istilah BSu berbentuk akronim

6. Referen merupakan hal/temuan baru

Kemudian pada tataran struktural, ketakterjemahan linguistik yang

terjadi dapat dibedakan berdasarkan dua sebab, yaitu:

1. Tidak adanya unsur kala pada struktur kalimat BSa

2. Istilah/ungkapan BSu sudah dimodifikasi

Sementara itu, untuk kejadian ketakterjemahan yang berkaitan dengan

faktor budaya, setidaknya terdapat empat hal yang menjadi penyebabnya, yaitu

karena:
commit to user

159
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

5. Istilah BSu merupakan istilah ekologi di lingkungan penutur BSu

6. Referen merupakan budaya materi penutur BSu

7. Istilah BSu terkait budaya sosial penutur BSu

8. Istilah/ungkapan BSu merupakan budaya tutur penutur BSu

Dari sudut pandang yang berbeda, ketakterjemahan-ketakterjemahaan

tersebut juga dapat dibedakan menjadi ketakterjemahan menyeluruh (total) dan

ketakterjemahan sebagian (parsial). Ketakterjemahan dikatakan menyeluruh yaitu

apabila seluruh makna kata BSu tidak dapat diakomodasi ke dalam istilah lokal,

sedangkan ketekterjemahan sebagian terjadi jika hanya sebagian dari unsur makna

BSu yang tidak bisa diterjemahkan. Temuan-temuan di atas pada umumnya

merupakan ketakterjemahan menyeluruh, kecuali pada istilah/ungkapan yang

mengandung unsur tidak baku, gender, kala, dan idiom.yang dapat dikategorikan

ke dalam ketekterjemahan sebagian. Pada istilah/ungkapan jenis ini hanya

pesannya saja yang dapat diterjemahkan, sedangkan unsur-unsur lain yang

menyertainya tidak dapat diakomodasi ke dalam bahasa sasaran.

Khusus dari sudut pandang budaya, tema budaya tampak dari kasus

ketakterjemahan pada subtitle The Simpsons Movie ini ialah bahwa perbedaan

budaya antara penutur Bahasa Inggris sebagai BSu, dan penutur Bahasa Indonesia

sebagai BSa, berpotensi menyebabkan terjadinya ketakterjemahan pada istilah-

istilah atau ungkapan-ungkapan tertentu, sehingga diperlukan teknik-teknik

khusus untuk menerjemahkannya.

Untuk mengatasi masalah-masalah ketakterjemahan tersebut,

penerjemah (subtitler) telah menerapkan berbagai teknik penerjemahan

sebagaimana diklasifikasikan oleh Molina dan Albir, dari teknik peminjaman

commit to user

160
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

(borrowing), naturalisasi, generalisasi, transposisi, modulasi, amplifikasi,

deskripsi, calque, kompensasi, adaptasi, hingga reduksi.

5.2 Implikasi

Dengan adanya temuan-temuan di atas, maka ada beberapa hal baru

yang layak dipertimbangkan untuk ditambahkan dalam pembahasan mengenai

masalah ketakterjemahan dalam penerjemahan, khususnya berkaitan dengan

faktor-faktor penyebab terjadinya ketakterjemahan

Dalam buku-buku yang membahas ketakterjemahan atau

ketidaksepadanan sudah banyak diungkap mengenai berbagai hal yang

menyebabkan terjadinya ketakterjemahan seperti teori Newmark serta pendapat

Zuchridin dan Sugeng. Dalam penelitian ini telah ditemukan adanya faktor-faktor

lain penyebab ketakterjemahan yang belum disebutkan dalam teori-teori tersebut,

seperti pada situasi di mana istilah BSu berupa istilah tidak baku, istilah BSu

sudah dimodifikasi, referen merupakan hal/temuan baru, serta istilah/ungkapan

BSu merupakan budaya tutur penutur BSu.

Dengan adanya temuan tersebut, maka dipandang perlu untuk

memperbarui teori yang sudah ada dengan menambahkan keempat faktor

penyebab ketakterjemahan di atas yang belum pernah diungkapkan sebelumnya.

5.3 Saran

Dari penelitian ini, ada beberapa hal yang menurut peneliti layak untuk

dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak-pihak berikut ini:

commit to user

161
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1. Akademisi

Baik para pendidik maupun peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan

hasil penelitian ini sebagai salah satu materi dalam proses belajar-

mengajar untuk memperkaya dan melengkapi materi yang sudah ada.,

khususnya pada pokok bahasan yang berkaitan dengan ketakterjemahan,

dalam penerjemahan.

2. Peneliti lain

Bagi pihak lain yang bermaksud melakukan penelitian dengan topik yang

sama dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai acuan sehingga

memperoleh gambaran yang lebih luas, lebih beragam dan lebih lengkap

mengenai fenomena ketakterjemahan dalam penerjemahan.

3. Praktisi penerjemahan

Dalam proses penerjemahan apabila memungkinkan hendaknya

penerjemah memprioritaskan penggunaan istilah lokal pada teks BSa

sehingga inti dari kegiatan menerjemahkan itu sendiri tidak hilang. Baru

kemudian apabila tidak ditemukan adanya istilah lokal, bisa diterapkan

teknik penerjemahan yang sesuai.

4. Masyarakat umum

Masyarakat umum, terutama yang memiliki minat di bidang

penerjemahan, juga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai sarana

untuk lebih mengenal dan memahami konsep ketakterjemahan dalam

penerjemahan berikut contoh-contoh kejadiannya.

commit to user

162
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Demikian kesimpulan, implikasi, dan saran sebagai penutup dari laporan

penelitian ini. Mudah-mudahan hasil penelitian ini membawa manfaat baik bagi

ilmu pengetahuan maupun bagi masyarakat luas.

commit to user

163