Anda di halaman 1dari 21

DASAR KEBIJAKAN

PERMENKES 31 TAHUN 2016


Tentang Perubahan atas Permenkes No 889/2011 Registrasi, Izin Praktek dan
Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.
TINJAUAN PRAKTIK KEFARMASIAN
Transformasi Apoteker dari dispensing sediaan farmasi menjadi penyedia pelayanan
kefarmasian dan informasi obat :

• Obat sebagai • Terapi obat


sebuah produk • Care giver
• Dispensing • Tim tenaga
• Solo (bekerja kesehatan
sendiri) • Informasi
• Pengetahuan bagi disampaikan
diri sendiri pada pasien

Peningkatan outcome terapi pasien dalam


rangka peningkatan keselamatan pasien
2
APOTEKER DALAM PELAYANAN KESEHATAN

▪ Apoteker adalah tenaga kesehatan


yang keahliannya adalah obat

▪ Apoteker berkolaborasi dengan pasien,


dokter dan tenaga kesehatan lainnya

▪ Apoteker mengoptimalkan
manajemen pengobatan dalam
rangka meningkatkan outcome
kesehatan yang positif
▪ Apoteker adalah anggota tim kesehatan
yang bertanggung jawab terhadap
outcome terapi obat
3
PELAYANAN KEFARMASIAN SEBAGAI BAGIAN
DARI PELAYANAN KESEHATAN

PELAYANAN KEFARMASIAN
(PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian)

Pelayanan langsung dan


bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang
pasti untuk meningkatkan
mutu kehidupan pasien
LATAR BELAKANG DITERBITKANNYA
PERMENKES 31/2016

Bahwa Peraturan Menteri Kebutuhan hukum dan


Kesehatan Nomor perkembangan yang ada,
889/Menkes/Per/V/2011 tentang khususnya dengan diterbitkannya
Registrasi, Izin Undang-Undang Nomor 36 Tahun
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga 2014 tentang Tenaga Kesehatan,
Kefarmasian perlu yang mensyaratkan semua tenaga
disesuaikan dengan perkembangan kesehatan yang melakukan praktik
dan kebutuhan hukum wajib memiliki surat izin praktik
UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2014
TENTANG TENAGA KESEHATAN
FILOSOFI, SOSIOLOGI,
TUJUAN PENGATURAN
DAN YURIDIS

• memenuhi kebutuhan masyarakat akan Tenaga


▪ Kesehatan sebagai hak asasi Kesehatan;
manusia.
▪ Penyelenggaraan upaya • mendayagunakan Tenaga Kesehatan sesuai
kesehatan harus dilakukan oleh dengan kebutuhan masyarakat;
tenaga kesehatan yang • memberikan pelindungan kepada masyarakat
bertanggung jawab, dalam menerima penyelenggaraan Upaya
▪ Ketentuan mengenai tenaga Kesehatan;
kesehatan masih perlu
disempurnakan • mempertahankan dan meningkatkan mutu
penyelenggaraan Upaya Kesehatan yang
diberikan oleh Tenaga Kesehatan; dan
• memberikan kepastian hukum kepada
masyarakat dan Tenaga Kesehatan.
PENYELENGGARAAN KEPROFESIAN
TENAGA KESEHATAN
(UU Nomor 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan)

Dilakukan sesuai dengan kewenangan berdasar Kompetensi

Mematuhi Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan SOP

Wajib membuat rekam medis Penerima Pelayanan Kesehatan

Wajib menyimpan rahasia kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan


KELOMPOK DAN JENIS TENAGA KESEHATAN
1. Tenaga medis
2. Tenaga Psikologi Klinis
3. Tenaga Keperawatan
4. Tenaga Kebidanan
5. Tenaga Kefarmasian APOTEKER
6. Tenaga Kesehatan Masyarakat TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN
7. Tenaga Kesehatan Lingkungan
8. Tenaga Gizi
9. Tenaga Keterapian Fisik
10.Tenaga Keteknisian Medis
11.Tenaga Teknik Biomedika
12.Tenaga Kesehatan Tradisional
13.Tenaga Kesehatan Lainnya
PROFESIONALISME NAKES MELALUI PROSES
SERTIFIKASI, REGISTRASI & LISENSI

INSTITUSI PENDIDIKAN
dan
ORGANISASI PROFESI

SERTIFIKASI KFN
DINAS KESEHATAN
KAB/KOTA
REGISTRASI
Lulus
Pendidikan
Uji Kompetensi
LISENSI

Ijazah Sertifikat STRA SIPA


Kompetensi
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU APOTEKER

RegulasiSDM Kurikulum/Pelatihan

Fasilitas Penerimaan profesi lain

10
OPTIMALISASI PROFESI

Peningkatan Kompetensi Apoteker


1 -
-
Pendidikan Inter Professional
Pendidikan yang memenuhi kebutuhan stakeholders
- Update kurikulum yang mengakomodir perkembangan saat ini

2 -
-
Peningkatan Regulasi di Bidang Farmasi
Menjadi dasar hukum sekaligus melindungi apoteker dalam melaksanakan profesinya
Menjadi acuan dalam melaksanakan praktik profesi

Perbaikan Sumber Daya Kefarmasian


3 -
-
Pemenuhan fasilitas dan sarana dalam melaksanakan praktik kefarmasian
Kecukupan tenaga kefarmasian sesuai dengan beban kerja

11
PERAN STAKEHOLDER

Perguruan Tinggi KFN

Organisasi Profesi (IAI) Pemerintah

12
PERUBAHAN PADA
PERMENKES NOMOR 31 TAHUN 2016

1
Nomenklatur yang berbunyi SURAT IZIN KERJA dalam
PMK No. 889/2011, harus dibaca dan dimaknai
sebagai SURAT IZIN PRAKTIK

2 Mengubah Pasal 17, Pasal 18 dan Pasal 19


PMK No. 889/2011
SURAT IZIN PRAKTIK

 Setiap Tenaga Kefarmasian yang akan menjalankan


pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai
tempat Tenaga Kefarmasian bekerja.

SIPA bagi Apoteker

SIPTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian


LINGKUP PEKERJAAN
( PASAL 18)
• SIPA bagi Apoteker di fasilitas kefarmasian hanya diberikan untuk 1 (satu)
tempat fasilitas kefarmasian.
• Dikecualikan dari ketentuan tersebut, SIPA bagi Apoteker di fasilitas
pelayanan kefarmasian dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga)
tempat fasilitas pelayanan kefarmasian.

FASILITAS PRODUKSI DAN FASILITAS PELAYANAN


DISTRIBUSI KEFARMASIAN

• Sarana Produksi • Rumah Sakit


• Sarana Distribusi • Puskesmas
• Apotek
• Klinik

SIPA diberikan SIPA diberikan


Paling banyak untuk Paling banyak untuk
1 tempat 3 tempat
▪ Dalam hal Apoteker telah memiliki Surat Izin Apotek, maka Apoteker yang
bersangkutan hanya dapat memiliki 2 (dua) SIPA pada fasilitas pelayanan
kefarmasian lain.
▪ SIPTTK dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas kefarmasian.
▪ Dalam rangka permohonan untuk memperoleh SIA, Apoteker dapat menggunakan
SIPA Kesatu, SIPA Kedua atau SIPA Ketiga

SIPA + SIA

Waktu pelayanan
APOTEKER SIPA
yang berbeda
SIPA
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian hanya dapat
memberikan pelayanan kefarmasian sepanjang
Apoteker berada di tempat dan memberikan
pelayanan langsung kepada pasien.

Sesuai PP Nomor 51 tentang Pekerjaan Kefarmasian


yang dipertegas dalam SE Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.01/MENKES/24/2017 Tentang Juklak PMK
31/2016
Pengajuan SIPA
Pengajuan SIPA
Ketiga
Kedua
 melampirkan
 melampirkan
fotocopy SIPA
fotocopy SIPA
Kesatu dan SIPA
Kesatu
Kedua

Apoteker yang telah memiliki SIPA atau SIKA berdasarkan PMK 889/2009,
SIPA dan SIKA berlaku sebagai SIPA sampai habis masa berlakunya.
PASAL 19
▪ SIPA atau SIPTTK sebagaimana dimaksud dalam pasal
17 diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
atas rekomendasi pejabat kesehatan yang berwenang di
kabupaten/kota tempat Tenaga kefarmasian
menjalankan prakteknya.

Dengan demikian pasal lainnya masih berlaku di


Permenkes 889/2011.
IMPLIKASI PERMENKES 31/2016
Memenuhi kebutuhan Apoteker di fasilitas pelayanan, terutama di
daerah terpencil.

Apoteker dituntut untuk bertanggung jawab terhadap


pelayanan pada jam praktik sesuai tercantum dalam SIPA

Institusi pendidikan harus mencetak para Apoteker yang


memiliki jiwa profesional dan bermartabat.
Peran serta dan koordinasi antara Dinas Kesehatan dan
Organisasi Profesi untuk melaksanakan fungsi pembinaan dan
pengawasan menjadi semakin kuat

Anda mungkin juga menyukai