Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

TUMOR
DI RUANG STROKE CENTER
RSUD ULIN BANJARMASIN
Untuk Menyelesaikan Tugas Profesi Keperawatan Medikal Bedah
Program Profesi Ners

Disusun Oleh:
Agung Wicaksono 11194692110090
Eka Shandika Ade Pratiwi 11194692110099
Sinta Dewi Febriani 11194692110122
Rahmat Maulida 11194692110122

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2021
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya yang telah dilimpahkan sumber kekuatan hati dan peneguhan iman sampai
akhirnya kelompok 3 dapat menyelesaikaan Penyusunan Laporan Asuhan keperawatan
dengan Brain Metastase pada Ny.A di ruang stroke Center RSUD Ulin Banjarmasin.
Penyusunan laporan Asuhan Keperawatan ini tidak lepas dari bimbingan dan dukungan
dari semua pihak yang telah meluangkan waktu dan tenaga dalam memberikan bantuan
dan bimbingan kepada kelompok, oleh karena itu pada kesempatan ini kelompok 1
menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya terutama kepada Kedua
pembimbing akademik dan pembimbing Klinik.

Banjarmasin, November 2021

Kelompok 1
DAFTAR ISI
Cover……………………………………………………………………………………… i
Lembar Perrsetujuan………………………………………………………………….… ii
Lembar Pengesahan………………………………………………………………….... iii
Kata Pengantar…………………………………………………………………………. iv
Daftar Isi…………………………………………………………………………………. v
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang…………………………………………………………………. 1
B. Tujuan…………………………………………………………………………… 2
C. Manfaat………………………………………………………………….………. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………. 4
A. Anatomi fisiologi………………………………………………………………... 4
B. Definisi………………………………………………………………………...… 7
C. Etiologi…………………………………………………………………….…….. 8
D. Patofisiologi……………………………………………………………………... 8
E. Pathway………………………………………………………………………..... 9
F. Manifestasi klinik……………………………………………………………... 11
G. Pemeriksaan penunjang…………………………………………………...... 12
H. Klasifikasi……………………………………………………………………… 13
I. Komplikasi………………………………………………………………...…… 14
J. Penatalaksanaan medis……………………………………………...……… 14
K. Penatalaksanaan keperawatan……………………………………...……… 15
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN………………………………………………… 25
A. Pengkajian…………………………………………………………………….. 25
B. Analisis data…………………………………………………………………... 29
C. Intervensi, Implementasi, evaluasi…………………………….………...…. 30
D. Proses Hemodialisis………………………………………………………….. 40
BAB IV PEMBAHASAN…………………………………………………………….... 46
BAB V PENUTUP………………………………………………………………...…… 49
A. Kesimpulan……………………………………………………………….…… 49
B. Saran…………………………………………………………………………... 49
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….. 51
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumor merupakan pertumbuhan sel-sel yang tidak normal

dalam tubuh yang tumbuh secara terus-menerus, tidak terbatas, dan

tidak terkoordinasi dengan jaringan di sekitarnya, serta tidak berguna

bagi tubuh. (Kemenkes RI, 2015). Tumor Abdomen adalah

pembengkakan atau adanya benjolan yang disebabkan oleh

neoplasma dan infeksi yang berada di abdomen berupa massa

abnormal di sel-sel yang berpoliferasi yang bersifatautonom (tidak

terkontrol), progresif (tumbuh tidak beraturan), tidak berguna. Seiring

dengan pertumbuhan dan perkembang biakannya, sel tumor dapat

membentuk suatu massa dari jaringan yang ganas dan kemudian dapat

menjadi dan dapat bermetastasis keseluruh tubuh sehingga dapat

menyebabkan kematian. Tumor intra abdomen antara lain tumor hepar,

tumor limpa, tumor lambung atau usus halus, tumor kolon, tumor ginjal

(hipernefroma), tumor pankreas. Pada anak-anak dapat terjadi tumor

ginjal (Oswari, 2009). Tumor/kanker adalah suatu penyakit yang

bersifat tidak menular, atau NCD (Non communicable diseases) yang

menjadi penyebab kematian terbesar manusia diseluruh dunia apabila

tidak segara dilakukan tindakan. Sampai saat ini, tumor merupakan

salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia

(Oktavionita, 2017).

Tumor disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat seperti


konsumsi makanan yang diasinkan, diasapi dan jarang mengkonsumsi

buah-buahan serta sayuran. Gejala pada penyakit Tumor abdomen

sangat sulit untuk dideteksi karena sangat sedikit gejala yang terjadi.

Gejala tumor abdomen dapat dideteksi cenderung pada saat mencapai

stadium lanjut seperti nafsu makan menurun, penurunan berat badan,

cepat kenyang, mules atau gangguan pencernaan, mual, muntah

darah, pembengkakan pada perut karena penumpukan cairan, dan

anemia (Oktavionita, 2017).

Tumor/kanker adalah salah satu penyebab morbiditas dan

kematian di seluruh dunia, dengan sekitar 14 juta kasus baru di tahun

2018. Jumlah kasus baru diperkirakan meningkat sekitar 70% selama 2

dekade ke depan. Kanker adalah penyebab utama kematian kedua di

dunia (Kemenkes RI, 2015).

Menurut (WHO, 2018), angkah kejadian tumor atau kanker

adalah penyebab utama kematian kedua di dunia, sekitar 8,8 juta

kematian pada tahun 2015. Data kematian tumor abdomen sebesar

754.000 kematian. Salah satu faktor resiko terjadinya kematian akibat

tumor adalah penggunaan tembakau sekitar 22%.

Data Globocan menyebutkan di tahun 2018 terdapat 18,1 juta

kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian, dimana

1 dari 5 laki- laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami tumor.

Data tersebut juga menyatakan dari 8 laki-laki dan 1 dari 11

perempuan, meninggal karena tumor. Angka kejadian penyakit tumor

di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 81 di Asia

Tenggara, sedangkan Asia urutan ke 23 (Kemenkes, 2018). Prevalensi


kejadian tumor di Indonesia menunjukan adanya peningkatan dari 1.4

per 1000 penduduk tahun 2013 menjadi 1,79 per 100.000 penduduk

pada tahun 2018. Prevalensi tumor tertinggi adalah pada Propinsi DI

Yogyakarta 4;86 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian

13,9 per 100.000 penduduk (Riskesdas, 2018).

Berdasarkan Data dari Nusa Tenggara Timur (2017), penderita

tumor/kanker secara keseluruhan berjumlah 960 orang dan sampai

pada tahun 2018 terus bertambah berkisar hingga 1050 orang.

Berdasarkan data distribusi penderita tumor tahun 2018 (Profil

Kesehatan NTT, 2018)

Terdapat beberapa pendekatan yang telah banyak digunakan

untuk mengobati Tumor yaitu pembedahan, radiasi dan kemoterapi.

Penggunaan metode tersebut tergantung pada jenis tumor dan

stadium perkembangannya. Pembedahan adalah suatu penanganan

medis secara invasive yang dilakukan untuk mendiagnosa atau

mengobati penyakit, injuri, atau deformitas tubuh. Pembedahan

merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan cara

invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan

ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan

membuat sayatan. Setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan,

selanjutnya dilakukan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan

penjahitan luka.

Perawat harus mempunyai bekal untuk mendukung pasien dan

keluarga melewati rentang krisis, emosional, sosial, budaya, dan

spiritual yang luas. Pencapaian hasil-hasil yang di inginkan meliputi


pemberian dukungan yang realistik pada mereka yang menerima

asuhan keperawatan dan dengan menggunakan standar-standar praktik dan

proses keperawatan sebagai dasar asuhan yang diberikan (Nainggolan, 2013).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat

dirumuskan sebagai berikut :

Perawat mampu mendukung pasien dan keluarga dalam melewati

rentang krisis, emosional, sosial, budaya, dan spiritual yang luas.

Dengan memberikan asuhan keperawatan dan standar-standar praktik

sebagai dasar asuhan yang diberikan.

1.3 Tujuan

1. Umum

Tujuan umum laporan ini untuk menmpelajari tentang penyakit


Brain Metastase dan menggambarkan asuhan keperawatan pada
pasien dengan Brain Metastase Ny.A di ruang perawatan Stoke
Center RSUD Ulin Banjarmasin.
2. Khusus

Tujuan khusus pada laporan ini untuk memberi gambaran sebagai


berikut:
a. Mempelajari perjalanan penyakit Brain Metastase
b. Pengkajian keperawatan pasien pada kasus Brain Metastase
pada Ny.A di ruang perawatan Stroke Center RSUD Ulin
Banjarmasin.
c. Diagnosa keperawatan pasien pada kasus Brain Metastase
pada Ny.A di ruang perawatan Stroke Center RSUD Ulin
Banjarmasin.
d. Rencana keperawatan pasien dengan Brain Metastase pada
Ny.A di ruang perawatan Stroke Center RSUD Ulin
Banjarmasin.
e. Implementasi keperawatan pasien pada kasus Brain Metastase
pada Ny.A di ruang perawatan Stroke Center RSUD Ulin
Banjarmasin.
f. Evaluasi keperawatan pasien pada kasus Brain Metastase pada
Ny.A di ruang perawatan Stroke Center RSUD Ulin
Banjarmasin.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Otak

Konsep Bagian-Bagian Otak


Otak melaksanakan semua fungsi yang disadari. Otak bertanggung jawab
terhadap pengalaman-pengalaman berbagai macam sensasi atau rangsangan
terhadap kemampuan manusia untuk melakukan gerakan-gerakan yang
menuruti kemauan (disadari), dan kemampuan untuk melaksanakan berbagai
macam proses mental, seperti ingatan atau memori, perasaan emosional,
intelegensia, berkomunikasi, sifat atau kepribadian dan ramalan.
1. Otak besar (serebrum)
Otak besar merupakan bagian terbesar dan terdepan dari otak manusia.
Otak besar mempunyai fungsi dalam mengatur semua aktivitas mental,
yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensia), ingatan (memori),
kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar terdiri atas Lobus Oksipitalis
sebagai pusat penglihatan, Lobus temporalis yang berfungsi sebagai
pusat pendengaran, dan Lobus frontalis yang berfungsi sebagai pusat
kepribadian dan pusat komunikasi.
2. Otak kecil (serebelum)
Otak kecil (serebelum) mempunyai fungsi utama dalam koordinasi terhadap
otot dan tonus otot, keseimbangan dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan
yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak
mungkin dilaksanakan. Otak kecil juga berfungsi mengkoordinasikan
gerakan yang halus dan luwes.
3. Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Otak tengah
berfungsi penting pada refleks mata, tonus otot serta fungsi posisi atau
kedudukan tubuh.
4. Otak depan (diensefalon)
Otak depan terdiri atas dua bagian, yaitu thalamus yang berfungsi
menerima semua rangsang dari reseptor kecuali bau, dan hipothalamus
yag berfungsi dalam pengaturan suhu, pengaturan nutrien, penjagaan agar
tetap bangun, dan penumbuhan sikap agresif.
5. Jembatan varol (pons varoli) Jembatan varol merupakan serabut saraf
yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan. Selain itu,
menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
B. Konsep Dasar Medis

a. Definisi

Tumor merupakan pertumbuhan sel-sel yang tidak normal dalam

tubuh yang tumbuh secara terus-menerus, tidak terbatas, dan tidak

terkoordinasi dengan jaringan di sekitarnya, serta tidak berguna bagi tubuh.

(Kemenkes RI, 2015). Tumor/kanker adalah suatu penyakit yang bersifat

tidak menular, atau NCD (Non communicable diseases) yang menjadi

penyebab kematian terbesar manusia diseluruh dunia apabila tidak segara

dilakukan tindakan. Sampai saat ini, tumor merupakan salah satu masalah

kesehatan di dunia termasuk Indonesia (Oktavionita, 2017).

Tumor/kanker adalah salah satu penyebab morbiditas dan

kematian di seluruh dunia, dengan sekitar 14 juta kasus baru di tahun

2018. Jumlah kasus baru diperkirakan meningkat sekitar 70% selama 2


dekade ke depan. Kanker adalah penyebab utama kematian kedua di dunia

(Kemenkes RI, 2015).

b. Etiologi

Menurut Ngoerah (2016) faktor-faktor yang berperan

dalam timbulnya suatu tumor adalah:

a) Genetik

Riwayat tumor ( tumor paru,tumor otak, tumor tulang belakang, tumor

abdomen dll) dalam satu anggota ( Mehta, 2018).

b) Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-

bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi

dalam tubuh. Ada kalanya sebagian dari bangunan embrional

tertinggal dalam tubuh menjadi ganas dan merusak bangunan di

sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada

Kraniofaringioma, terotoma intracranial dan kordoma (Keating, 2016).

c. Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat

mengalami perubahan degenerasi namun belum ada bukti radiasi

dapat memicu terjadinya suatu glioma. Meningioma pernah

dilaporkan terjadi setelah timbulnya suatu radiasi (Petrovich, et al.,

2018).

d. Virus

Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan

besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran


infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma tetapi hingga saat ini

belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan

perkembangan tumor pada sistem saraf pusat (Kauffman, 2017).

e. Substansi-substansi karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas

dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik

seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan

percobaan yang dilakukan pada hewan (Stark-Vance, et al., 2017).

c. Patofisiologi

Menurut Price (2018) tumor menyebabkan gangguan neurologik

yang disebabkan oleh gangguan neurologis. Gejala- gejala terjadi

berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam

pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan dalam suatu

perspektif waktu. Gejala neurologik pada tumor biasanya disebabkan

oleh 2 faktor gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan

intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila penekanan pada jaringan

otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak dengan

kerusakan jaringan neuron.

Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang

tumbuh paling cepat. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang

ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak.

Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai

kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan

gangguan cerebrovaskuler primer.


Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro

dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai darah ke

jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan

parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis

fokal. Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh

beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya

oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi cerebrospinal.

Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa, karena tumor

akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku.

Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaringan otak.

Mekanisme belum seluruhnya dipahami, namun diduga disebabkan

selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan

oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya

menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan

serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid

menimbulkan hidrocepalus.

Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila

terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan

sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-

hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak

berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme

kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intra

kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan

mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati

mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus


medialis lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial

oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan menensefalon

menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf ketiga. Pada

herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen

magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan

henti nafas terjadi dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah

bradicardi progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi dan

gangguan pernafasan).
Pathway kasus
Generik Radiasi Bahan Kimia Trauma Infeksi

Tumbuh dan berkembang sel tumor

Tumor Otak Metastasis Tumor

- Nyeri Kepala Riwayat tumor sebelumnya


- Hemiparese
- Gg kognitifdan tingkah
laku Menginvasi organ lain
- Kejang
- Ataksia
- Asimtomatis Metastase
-

Hb menurun
Kelemahan Skala morse 45
fisik (Resiko tinggi)
Kunjungtiva
anemis
Bedrest Resiko

Kulit Pucat Tidak mampu


memenuhi ADL
Mengeluh
pusing
N. XI Tidak
mampu
Akral teraba mengangkat bahu
dingin
Defisit
perawatan diri
Gangguan
Perfusi mobilitas fisik
perifer tidak
efektif
f. Manifestasi Klinis

Gejala tumor bervariasi dari satu penderita ke penderita lain

tergantung pada ukuran dan bagian yang terjangkit. Tumor bisa

membuat area yang terjangkiti tidak berfungsi dengan baik dan menekan

jaringan sehingga menyebabkan sakit serta kejang-kejang. Berikut ini

tanda dan gejala umum tumor berupa (Schiff, 2018.) :

1) Muncul sakit pada bagian yang terjangkit

2) Sakit pada bagian yang terjangkit secara bertahap menjadi makin

sering dan makin parah

3) Mual atau muntah tanpa sebab

4) Masalah penglihatan, seperti penglihatan kabur, dan lain- lain


5) Secara bertahap hilang sensasi atau gerakan tangan atau kaki

6) Sulit menjaga keseimbangan

7) Sulit berbicara

8) Kebingungan terhadap persoalan sehari-hari

9) Perubahan kepribadian atau kebiasaan

10) Kejang khususnya pada seseorang yang tidak pernah mengalami

kejang

11) Masalah pendengaran

5) Penatalaksanaan Medis

Pemeriksaan neuroradiologis yang dilakukan bertujuan untuk

mengidentifikasi ada tidaknya kelainan intra kranial, adalah dengan:

a) Rontgen foto (X-ray) kepala lebih banyak sebagai screening test,

jika ada tanda-tanda peninggian tekanan intra kranial, akan

memperkuat indikasi perlunya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

b) Angiografi suatu pemeriksaan dengan menyuntikkan bahan

kontras ke dalam pembuluh darah leher agar dapat melihat

gambaran peredaran darah (vaskularisasi) otak.


c) Computerized Tomography (CT-Scan kepala) dapat

memberikan informasi tentang lokasi tumor tetapi MRI telah

menjadi pilihan untuk kebanyakan karena gambaran jaringan

lunak yang lebih jelas (Schober, 2020).

d) Magnetic Resonance Imaging (MRI), bisa membuat diagosa

yang lebih dini dan akurat serta lebih defititif. Gambar otak

tersebut dihasilkan ketika medan magnet berinteraksi dengan

jaringan pasien itu ( Satyanegara, 2020., Freedman, 2019).

e) Radiotherapi

Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak

jarang pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping :

kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi

pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorokan.

f) Chemotherapy

Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam

aliran darah. Efek samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu

makan, kerontokan membuat, mudah terserang penyakit

g) Manipulasi hormonal.

Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang

sudah bermetastase.

6) Komplikasi

Adapun komplikasi yang dapat kita temukan pada pasien yang

menderita tumor ialah :


a) Gangguan fisik neurologist

b) Gangguan kognitif

c) Gangguan tidur dan mood

d) Disfungsi seksual.

7) Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Satyanegara (2005) pemeriksaan diagnostik yaitu :

1) Arterigrafi atau Ventricolugram : untuk mendeteksi kondisi

patologi pada sistem ventrikel dan cisterna.

2) CT – SCAN : Dasar dalam menentukan diagnosa.

3) Radiogram : Memberikan informasi yang sangat berharga

mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi, posisi kelenjar

pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.

4) Elektroensefalogram (EEG) : Memberi informasi mengenai

perubahan kepekaan neuron.

5) Ekoensefalogram : Memberi informasi mengenai pergeseran

kandungan intra serebral

8) Pengkajian

Menurut Smeltzer (2017) pengkajian keperawatan berfokus pada

bagaimana klien berfungsi, bergerak dan berjalan, beradaptasi terhadap

kelemahan atau paralisis dan untuk melihat dan kehilangan kemampuan

bicara dan adanya kejang.

Pengkajian dibuat terhadap gejala-gejala yang menyebabkan

distress bagi klien. Terdiri dari nyeri, masalah pernapasan, masalah

eliminasi dan berkemih, gangguan tidur dan gangguan integritas kulit,


keseimbangan cairan, dan pengaturan suhu. Masalah-masalah ini dapat

disebabkan oleh invasi tumor.

Perawat dapat bekerja sama dengan pekerja sosial untuk mengkaji

dampak penyakit klien pada keluarga dalam hal perawatan di rumah,

perubahan hubungan, masalah keuangan, keterbatasan waktu dan

masalah-masalah dalam keluarga

Informasi ini penting dalam membantu keluarga menguatkan ketrampilan

koping mereka. Pengumpulan data dibagi menjadi 3 yaitu:

a) Anamnesa adalah pertanyaan terarah yang ditunjukkan kepada

pasien, untuk mengetahui keadaan pasien dan faktor yang

dimiliknya. Anamnesa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

• Autoanamnesa adalah anamnesa yang dilakukan

langsung kepada pasien. Pasien sendirilah yang

menjawab semua pertanyaan dan menceritakan

kondisinya.

• Allonamnesa adalah anamnesa yang dilakukan dengan

orang lain guna mendapatkan informasi yang tepat

tentang kondisi pasien.

Adapun pengkajian yang perlu diperhatiakan dalam pengkajian

pada pasien dengan diagnosa medis Tumor Otak (Astrocytoma) adalah

sebagai berikut: Identitas Pasien yang meliputi nama, umur, alamat

status perkawinan, agama, pendidikan, pekerjaan, suku, tanggal masuk

RS, tanggal pengkajian dan diagnosa medis.

a. Neurosensori
Gejala: Pusing, sakit kepala, kelemahan,

hilangnya rangsangan sensorik

kontralateral, gangguan rasa

pengecapan, penciuman dan penglihatan,

penurunan kesadaran sampai dengan koma.

b. Sirkulasi

Gejala: Nyeri dada (angina)

Tanda: Distritmia (Vibrilasi Atrium), irama gallop, mur-mur,

peningkatan darah dengan tekanan nada yang kuat, takikardi

saat istirahat, sirkulasi kolaps (krisis tirotoksikosi)

c. Pernafasan

Gejala: Frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea,

edema paru (pada krisis tirotoksikosis).

d. Nyeri/Ketidaknyamanan.

Gejala: Adanya nyeri derajat bervariasi, misalnya

ketidaknyamanan ringan sampai nyeri hebat (dihubungkan

dengan proses penyakit).

e. Makanan/cairan

Gejala: Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan

Faringeal), nafsu makan hilang, kehilangan sensasi pada lidah,

pipi dan tenggorokan, kehilangan berat badan yang

mendadak, kehausan, mual, muntah, kebiasaan diet buruk

(misalnya rendah serat, tinggi lemak, adiktif, bahan pengawet

rasa).
f. Eliminasi

Gejala: Perubahan pola berkemih dan buang air besar

(Inkontinensia) misalnya nyeri, bising usus negatif.

g. Seksualitas

Gejala : Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan

seksualitas, Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas.

Tanda: Perubahan pola respons seksual.

h. Aktivitas / Istirahat

Gejala: Perubahan pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam

hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri,

ansietas, dan keringat malam.

i. Integritas Ego

Gejala: Faktor stress, merokok, minum alcohol, menunda mencari

pengobatan, keyakinan religious, atau spiritual, masalah tentang

lesi cacat, pembedahan, menyangkal diagnosa, dan perasaan

putus asa.

j. Interaksi Sosial

Gejala : Menarik diri, tidak percaya diri, menyendiri.

k. Penyuluhan/Pembelajaran

Gejala: Riwayat tumor pada keluarga, sisi prime, penyakit primer,

riwayat pengobatan sebelumnya.


l. Keamanan

Gejala: Tidak toleransi terhadap aktifitas, keringat berlebihan,

alergi, (mungkin digunakan pada pemeriksaan). Tanda: Suhu

meningkat 37, 40o C, diaphoresis kulit halus, hangat dan

kemerahan.

m. Perencanaan Pulang

Gejala: Mungkin membutuhkan bantuan untuk perawatan

diri dan aktivitas.

9) Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,

memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon

terhadap masalah aktual dan resiko tinggi, Label dari diagnosa

keperawatan memberi format untuk mengekspresikan bagian

identifikasi masalah dari proses keperawatan (Dongoes, Gelssier,

Moorhouse, 2010).

a. Perfusi Perifer Tidak Efektif

b. Gangguan Mobilitas Fisik

c. Defisit Perawatan Diri

d. Resiko Jatuh
10) Intervensi
DIANGOSA
NO SLKI SIKI
KEPERAWATAN

1. Perfusi Perifer Tidak Perfusi Perifer Meningkat (L.02011) Perawatan Sirkulasi (I.02079)
Efektif Kriteria Hasil : Observasi
Setelah dilakukan intervensi selama 3 1. Periksa
x 24 jam menunjukkan status sirkulasi, sirkulasi perifer(mis. Nadi
yang dibuktikan dengan : perifer, edema, pengisian
1. Tekanan darah dalam batas kalpiler, warna, suhu,
normal Kekuatan nadi dalam angkle brachial index)
batas normal 2. Identifikasi
2. Rata – rata tekanan darah dalam faktor resiko gangguan
batas normal sirkulasi (mis. Diabetes,
3. Tekanan vena sentral dalam batas perokok, orang tua,
normal hipertensi dan kadar
4. Tidak ada hipotensi ortostatik kolesterol tinggi)
5. Tidak ada bunyi jantung tambahan 3. Monitor panas,
6. Tidak ada angina kemerahan, nyeri, atau
7. Tidak ada hipotensi ortostatik bengkak pada ekstremitas
8. AGD dalam batas normal Terapeutik
9. Perbedaan O2 arteri dan vena 1. Hindari
dalam batas normal pemasangan infus atau
10. Tidak ada suara nafas tambaha pengambilan darah di area
11. Kekuatan pulsasi perifer keterbatasan perfusi
12. Tidak pelebaran vena 2. Hindari
13. Tidak ada edema perifer pengukuran tekanan darah
pada ekstremitas pada
keterbatasan perfusi
3. Lakukan
hidrasi
Edukasi
 Anjurkan
menggunakan obat
penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolesterol, jika perlu
 Anjurkan
minum obat pengontrol
tekakan darah secara
teratur
 Anjurkan
program diet untuk
memperbaiki
sirkulasi( mis. Rendah
lemak jenuh, minyak ikan,
omega3)
 Informasikan
tanda dan gejala darurat
yang harus
dilaporkan( mis. Rasa
sakit yang tidak hilang
saat istirahat, luka tidak
sembuh, hilangnya rasa)

2 Gangguan mobilitas Mobilitas Fisik (L.05042) Dukungan mobilisasi


fisik (D.0054) Kriteria Hasil : (1.05173)
Setelah dilakukan intervensi selama 3 Observasi :
1. Identifikasi adanya nyeri
x 24 jam menunjukkan mobilitas
atau keluhan fisik lainnya
membaik, yang dibuktikan dengan : 2. Identifikasi toleransi fisik
melakukan pergerakan
 Pergerakan ekstremitas dari skala 2 3. Monitor frekuensi jantung
(cukup menurun) menjadi skala 5 dan tekanan darah
(meningkat) sebelum memulai
 Nyeri dari skala 3 (sedang) menjadi mobilisasi
skala 5 (menurun) Terapeutik
1. Gerakan terbatas dari skala 2 (cukup) 1. Fasilitasi klien dalam
menjadi skala 5 (menurun) melakukan mobilisasi
2. Libatkan keluarga dalam
membantu mobilisasi klien
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur mobilisasi
2. Ajarkan mobilisasi
sederhana yang harus
dilakukan (mis; duduk
ditempat tidur, )
3 Defisit Perawatan Diri Perawatan Diri Dukungan perawatan diri :
(L.11103) Setelah dilakukan tindakan keperawatan mandi
diharapkan perawatan diri meningkat Observasi
dengan kriteria hasil : 1. Identifikasi usia dan
1. Kemampuan mandi meningkat budayadalam membantu
2. Mempertahan kan kebersihan diri kepersihan diri
meningkat 2. Identifikasi jenis
bantuanyang dibutuhkan
3. Monitor kebersihan tubuh
4. Monitor integritas kulit
Terapeutik
1. Sediakan peralatan mandi
2. Sediakan lingkungan yang
amandan nyaman
3. Fasilitasi mandi sesuai
kebutuhan
4. Pertahankan kebiasaan
kebersihandiri
5. Berikan bantuan
sesuaitingkat kemandirian
Edukasi
1. Jelaskan manfaat mandi
dandampak tidak mandi
terhadapkesehatan
2. Ajarkan kepada
keluargacaramemandikan
pasien (jika perlu)
4 Resiko Jatuh Tingkat Jatuh Pencegahan Jatuh
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi
selama 1x24 jam, diharapkan tingkat Identifikasi faktor resiko jatuh
jatuh pasien menurun dengan kriteria (mis; usia, penurunan tingkat
hasil : kesadaran, defisit kognitif,
-Tidak jatuh dari tempat tidur gangguan keseimbangan dll)
-Tidak jatuh saat berdiri Identifikasi faktor lingkungan
-Tidak jatuh saat dipindahkan yang meningkatkan resiko
Tingkat Delirium jatuh (mis; lantai licin,
Setelah dilakukan tindakan keperawatan penerangan kurang)
selama 1x24 jam, diharapkan tingkat Hitung resiko jatuh dengan
delirium pasien menurun dengan kriteria menggunakan skala (Fall
hasil : Morse scale/humpty dumpty
-Tingkat kesadaran meningkat scale)
-Kemampuan mengikuti perintah Monitor kemampuan berpindah
meningkat dari tempat tidur ke kursi roda
-Tingkat gelisah menurun dan sebaliknya
Terapeutik
Orientasikan ruangan pada
pasien dan keluarga
Pastikan roda tempat tidur dan
kursi roda selalu dalam
keadaan terkunci
Pasang handrail tempat tidur
Atur tempat tidur mekanis pada
posisi terendah
Tempatkan pasien beresiko
tinggi jatuh dekat dengan
pantauan perawat dari nurse
station
Gunakan alat bantu berjalan
(mis; kursi roda,walker)
Edukasi
Anjurkan memanggil perawat
jika membutuhkan bantuan
untuk berpindah
Anjurkan menggunakan alas
kaki yang tidak licin
Anjurkan berkonsentrasi untuk
menjaga keseimbangan tubuh
Anjurkan melebarkan jarak
kedua kaki untuk
meningkatkan keseimbangan
saat berdiri
Ajarrkan cara menggunakan
bel pemanggil untuk
memanggil perawat

Orientasi Realita
Observasi
Monitor perubahan orientasi
Monitor perubahan kkognitif
dan perilaku
Terapeutik
Perkenalkan nama saat
memulai interaksi
Orientasikan orang tempat dan
waktu
Hadirkan realita (mis; beri
penjelasan alternative, hindari
perdebatan)
Sediakan lingkungan dan
rutinitas secara konsisten
Atur stimulus sensorik dan
lingkungan (mis; kunjungan,
pemandangan, suara,
pencahayaan, bau dan
sentuhan)
Gunakan symbol dan
mengorientasikan lingkungan
(mis; tanda, gambar, warna)
Libatkan dalam terapi
kelompok orientasi
Berikan waktu istirahat dan
tidur yang cukup
Fasilitasi akses informasi (mis;
televise, surat kabar, radio) jika
perlu
Edukasi
Anjurkan perawatan diri secara
mandiri
Anjurkan penggunaan alat
bantu (mis; kacamata, alat
bantu dengar)
Ajarkan keluarga dalam
perawatan orientasi realita
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2016. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8
volume 2. Jakarta: EGC
Carpenito, L.J., 2016, Rencana asuhan dan pendokumentasian keperawatan
(Edisi 2). Jakarta : EGC.
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2017. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika
Nahas, Meguid El & Adeera Levin.2020. Chronic Kidney Disease: A Practical
Guide to Understanding and Management. USA : Oxford University
Press.
PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator
Diagnostik Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI
PPNI. 2016. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Tindakan
Keperawatan Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI
PPNI. 2016. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI
Syaifuddin. 2016. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Watson. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 4. Jakarta: EG