Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI

SISTEM SARAF

DISUSUN OLEH :

NAMA : ANISAH NOVITA DEWI

NIM : 2102090007

KELAS : 1A-TLM

MATA KULIAH : ANATOMI FISIOLOGI

DOSEN PENGAMPU : dr.Dicky Yuswardi Wiratma M,Kes

PROGRAM STUDI VOKASI

FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum :


1. Menentukan komponen-komponen sistem saraf

2. Menentukan mekanisme gerak refleks

3. Menentukan fungsi dari sistem saraf otonom

4. Menentukan susunan sistem saraf

1.2 Prinsip :
Sistem syaraf merupakan suatu jalinan jaringan syaraf yang kompleks, sangat khusus
dan berhubungan satu dengan yang lain. System syaraf mengkoordinasi, menafsirkan dan
mengatur interaksi antar individu dan lingkungan sekitarnya. System ini bertanggung jawab
sebagai pengatur kebanyakan aktivitas system tubuh lainnya.

BAB II
TEORI DASAR

Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri
terutama dari jaringan saraf. Sistem saraf berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapi
dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh (Pearce, 2011).

Sistem saraf bersama-sama dengan sistem endokrin, melakukan bagian terbesar dalam
pengaturan tubuh. Pada umumnya Sistem saraf mengatur kegiatan tubuh yang cepat, seperti
kontraksi otot, peristiwa viseral yang berubah dengan cepat, dan bahkan kecepatan sekresi
beberapa kelenjar endokrin (Harun, 2011).

Sistem saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang-tindih: input sensoris, integrasi,
dan output motoris. Input adalah penghantaran atau kondisi sinyal dari reseptor sensoris, misalnya
sel-sel pendeteksi cahaya mata, kepusat integrasi. Integrasi adalah proses penerjemahan informasi
yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon
tubuh yang sesuai. Sebagian besar integrasi dilakukan dalam sistem saraf pusat (SSP) atau
centralnervoussystem, CNS), yaitu otak dan sumsum tulang belakang (pada vertebrata). Output
motoris adalah penghantaran sinyal dari pusat integrasi, yaitu SSP, ke sel-sel, efektor (effectorcells),
sel-sel otot atau kelenjar yang mengaktualisasikan respons tubuh terhadap stimulasi tersebut. Sinyal
tersebut dihantarkan oleh saraf (nerve), berkas mirip tali yang berasal dari penjuluran neuron yang
terbungkus dengan ketat dalam jaringan ikat (Campbell, 2004).

Sistem saraf ialah salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama
yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan pertolongan saraf dapat kita
menerima suatu rangsangan dari luar pengendalian pekerjaan otot. Pembagian susunan saraf yaitu;
susunan saraf pusat, yang terdiri dari medula spinalis dan otak (otak besar, otak kecil, dan batang
otak);

susunan saraf perifer, yang terdiri dari susunan saraf somatik dan susunan saraf otonom
(susunan saraf simpatis dan susunan saraf parasimpatis) (Syaifuddin, 2006).
Susunan saraf dibagi atas dua bagian penting: (1) Susunan Saraf Pusat atau Sistem
Serebrospinal dan (2) Susunan Saraf Otonom, yang mencakup Susunan Saraf Simpatis dan Susunan
Saraf Parasimpatis. Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, dan urat-urat
saraf atau saraf cabang yang tumbuh dari otak dan sumsum tulang belakang tadi, yang disebut urat
saraf periferi (urat saraf tepi). Jaringan saraf membentuk salah satu dari empat kelompok jaringan
utama pada tubuh (Pearce, 2004).

Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan
makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan
luar maupun dalam. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh
sistem saraf, yaitu: reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang
bertindak sebagai reseptor adalah organ indera. Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri.
Saraf tersusun dari berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel
khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron. Efektor, adalah bagian yang
menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting
pada manusia adalah otot dan kelenjar (Pearce, 2004).

Sistem saraf merupakan sistem koordinasi yang berfungsi sebagai penerima dan
penghantar rangsangan ke semua bagian tubuh tersebut. Jadi daringan saraf merupakan jaringan
komunikasi dalam tubuh. Sistem saraf merupakan sistem yang berhubungan dengan seluruh bagian
tubuh pada umumnya. Sistem saraf mengatur aktivitas alat-alat tubuh yang mengalami perubahan
relatif cepat, seperti pergerakan otot rangka, pergerakan otot polos dan sekresi kelenjar (Raven,
1981).

Jaringan paling rumit dalam tubuh kita adalah jaringan saraf. Kerumitan ini berasal dari
kemampuan sel-sel saraf untuk berkomunikasi satu sama lain dengan jenis-jenis sel-sel lain (sel otot,
sel-sel kelenjar). Semua sel yang membentuk satu kesatuan kelompok itu berada dalam komunikasi
satu sama lain melalui sinyal elektris dan peranan kimiawi yang membentuk dan memelihara
kesatuan sel ini sebagai keseluruhan sistem saraf dapat dibagi dalam satu sisotem (Bevalender,
1998).

Sistem saraf volunter (saraf sadar) terdiri atas saraf pusat dan saraf tepi. Saraf pusat
terdiri atas otak (otak kecil dan otak besar) dan sumsum lanjutan, serta sumsum tulang punggung.
Sedangkan saraf tepi terdiri atas 12 pasang urat saraf otak dan 31 pasang urat saraf sumsum tulang
belakang (Irianto, 2008).

Neuron sensori dapat meneruskan impulsnya langsung ke neuron motor sambungannya


terdapat di sistem saraf pusat. Tetapi seringkali impuls dari neuron sensoris melewati satu atau
banyak interneuron sebelum akhirnya mencapai neuron motor. Sistem saraf pusat terdiri dari jutaan
interneuron. Kemampuan suatu organisme untuk beraksi terhadap perubahan di dalam
lingkungannya memerlukan tiga komponen yang berlainan. Pertama, reseptor rangsangan. Reseptor
rangsangan ini merupakan struktur yang mampu mendeteksi sejenis perubahan tertentu di dalam
lingkungan dan mengawali suatu isyarat yaitu impuls saraf, pada sel saraf yang melekat padanya.
Komponen kedua adalah respon saraf dan koordinasi saraf yang terdiri atas penghantar impuls, yaitu
saraf itu sendiri, saraf tersusun atas dua macam neuron yaitu neuron sensorik dan neuron motorik.
Komponen ketiga adalah koordinasi saraf yang terdiri atas efektor. Efektor merupakan struktur yang
melaksanakan aksi sebagai respon terhadap impuls yang sampai kepadanya melalui neuron motorik.
Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar (baik eksokrin maupun endokrin)
(Kimball, 1983).
Peregangan otot secara tiba-tiba merangsang “muscule spindle” dan sebaliknya ini
menyebabkan refleks kontraksi dari otot yang sama. Karena alasan yang jelas, refleks yang sering
disebut suatu refleks regang mempunyai suatu komponen dinamik dan suatu komponen statik.
Refleks regang dinamik disebabkan oleh isyarat dinamik yang kuat dari muscle spindle. Refleks
regang statik dibangkitkan oleh isyarat kontinu reseptor statik yang dihantarkan melalui ujung
primer dan sekunder muscle spindle (Guyton, 2008).

Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot atau kelenjar) yang bersifat otomatis atau
tanpa sadar, terhadap situasi stimulus rtertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang
terdiri atas sekurang-kurangnya dua neuron, membentuk suatu busur reeflkeksa (reflex are). Dua
neuron penting dalm suatu busur reflex adalah neuron aferen, sensori atau reseptor dan neuron
eferen motoris atau efektor. Umumnya diantara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun
reflex dapat melibatkan berbagai bagian otak dan system saraf otonom, refleks yang paling
sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang ( strets refleks)
yang digambarkan dengan pemukulan ligamentum patella (suatu tendon) sehingga melibatkan otot
lutut terentang. (Raven, 1981).

Refleks rentang memainkan sesuatu peranba penting namun agak sederhana dalam
pereilaku. Suatu otot rentang dan bereaksi dengan berkontraksi. Mesin refleks rentang memberikan
mekanisme pengendalian yang teratur dengan baik yang mengarahkan kontraksi otot-otot antagonis
dan secara terus-menerus memonitor keberhasilan dengan perintah-perintah dari otak yang
diteruskan dan dengan cepat mampu melakukan penyesuaian (Campbell, 2002).

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Nama Alat : Pensil Penggaris Pensil warna Alat gelas Lampu senter Benang Aplikator Klem dan statif
Batang pengaduk Pengukur pupil Kapas Stopwatch Stetoskop Gelas.

Nama Bahan : Katak hidup Larutan adrenalin 5% Larutan asetilkolin 5% Larutan garam 0,7% Asam
asetat 2% Mata katak Bubuk kopi Potongan buah nanas Tehh Cuka Air matang.

3.2 Prosedur
1. Anatomi Otak Digunakan buku rujukan yang tersedia, kemudian dipelajari gambar otak pada
manusia, digambarkan anatominya lalu dijelaskan bagian-bagiannya.
2. Refleks pada manusia

2.1 Deep Reflex


a. Knee-jerk reflex

Duduklah di atas bangku yang cukup tinggi yang memungkinkan kaki tergantung bebas.
ditutuplah mata kemudian dibiarkan seorang teman untuk memukul lembut ligamen lutut Anda
(persis di bawah tempurung lutut) beberapa kali. Dicatat respon yang terjadi beserta kekuatannya.
Dijelaskan bagian mana dari sistem saraf Anda yang bertanggung jawab atas respon kemudian
diulangi prosedur di atas sambil mengepalkan tangan kuat-kuat di punggung dan dengan
menghitung (tanpa menulis) suatu soal Matematika. Lalu hasil dicatat dan respon.
b. Babinski’s Sign
Diminta seorang teman untuk menekan sepanjang telapak kaki menggunakan benda tumpul.
Kemudian diamati respon yang terjadi. Tanda positif ditunjukkan dengan fleksi ibu jari (ke arah
telapak). Lalu dijelaskan Bbgian sistem saraf manakah yang bertanggung jawab untuk kemunculan
tanda ini.

c. Refleks Achilles
Dibuka alas kaki kemudian diposisikan kaki sedikit demi sedikit dorsofleksi untuk meningkatkan
tekanan otot gastroknemius. Diintalah seorang teman untuk memberikan pukulan singkat pada
tendon Achilles menggunakan prekursor.

d. Refleks biseps
Diletakan lengan atas di atas meja sedemikan sehingga siku membentuk sudut 90 derajat.
Kemudian diketuklah tendon bisep dan dicatat respon yang terjadi.

e. Refleks triseps
Diposisikan lengan horizontal terhadap dada. Kemudian diberikan ketukan pada tendon triseps
dan diamati respon yang terjadi.

2.2 Superficial reflex


a. Refleks plantar Dengan memakai benda agak tajam, diketuklah tepi lateral telapak kaki subjek
mulai dari tumit dan diteruskan ke arah ibu jari, kemudian dicatat hasil yang teramati

b. Refleks abdominal Diberikan ketukan singkat pada abdomen, tepat di bawah tulang dada
menggunakan kunci dan kulu Kemudian dicatat respon yang teramati.

c. Refleks kornea Disentuhlah kornea dengan menggunakan kapas, kemudian dicatat respon yang
terjadi.

d. Refleks faring Disentuh uvula dan fauces dengan batang pengaduk bersih, kemudian dicatat
respon yang terjadi.

e. Refleks kutan Digerakan objek tumpul sepanjang permukaan kulit dan diamati perubahan pada
warna kulit. Diamati apakah yang mungkin menyebabkan perubahan dan apakah beda dari refleks
ini dengan refleks lainnya.

f. Refleks pilomotor dibelailah kulit secara lembut, kemudian dicatat respon yang terjadi.

2.3 Visceral reflex


a. Refleks photo-pupil Dipejamkan mata kemudian dibiarkan seorang teman untuk menyinari
kelopak mata. Segera setelah itu, dibuka mata dan dibandingkan diameter pupil terhadap ukuran
sebelum disinari.lalu dicatat respon yang terjadi. Saraf-saraf kranial mana yang terlibat dalam respon
ini.

b. Refleks konsensual Sementara salah satu mata disinari, diamati respon yang ditunjukkan pada
mata yang lain. Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari respon ini.

c. Refleks akomodasi Dilihatlah objek yang berjarak jauh, dan dimintalah seorang teman untuk
mengukur diameter pupil. Lalu diulangi prosedur yang sama pada saat melihat objek dekat, sekitar
25cm. Kemudian dibandingkan diameter pupil pada dua kondisi di atas. Hasil dicatat dan dberikan
penjelasan.

d. Refleks siliospinal Diusaplah bagian kanan leher dengan peniti. Kemudian dimintalah seorang
teman untuk mengukur diameter pupil sebelum dan sesudah leher diusap. Hasil dicatat dan
dijelaskan.

e. Refleks sfinkter kardiak Ditempatkan stetoskop pada xiphistrenum (perpanjangan xiphoid)


seorang teman. Dimintalah dia menelan air. Kemudian dicatat waktu yang diperlukan untuk
terbukanya sfinkter secara reflex (waktu setelah menelan sampai terdengar bunyi melalui
stetoskop).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

5.1 Anatomi Otak Manusia

5.2 Refleks Pada Manusia


5.2.1 Deep Reflex

1. Knee-jerk reflex Respons sambil mengepalkan tangan : ekstensi tungkai bawah Respons sambil
menghitung : kaki bergerak kedepan

2. Babinski’s Sign Respons : dorsofleksi ibu jari kaki dan gerakan mekar jari-jari kaki

3. Reflex Achillse Respons : plantar fleksi pada kaki

4. Reflex Biseps Respons : Fleksi lengan dan tampak kontraksi otot biseps

5. Reflex Triseps Respons : Ekstensi lengan dan tampak kontraksi otot triseps
5.2.2 Superficial Reflex

1. Reflex plantar Respon : fleksi plantar kaki dan fleksi semua jari kaki

2. Reflex Abdominal Respon dengan kunci : berupa otot berkontraksi dan pusar bergerak ke arah
otot yang berkontraksi. Respon dengan kuku : otot berkontarksi dan sedikit terasa sakit

3. Refleks kornea Respons : memejamkan mata

4. Refleks Faring Respon : serasa ingin muntah

5. Refleks Kutan Respon : tidak terjadi perubahan warna kulit

6. Refleks Pilomotor Respon : berdirinya bulu kuduk

5.2.3 Viseral Reflex

1. Refleks Photo-Pupil Respon : menunjukan adanya perbedaan diameter, sebelum diberi perlaku

diameternya 3 mm dan setelah diberi perlakuan melebar menjadi 3,5 mm


2. Refleks konsensual Respon : kedua pupil mengecil secara bersamaan walaupun hanya

1 mata yang disinari cahaya


3. Refleks Akomodasi Respon : Pada saat objek menjauh, pupil melebar sedikit. Sedangkan saat

objek dalam keadaan dekat pupil menyempit dan kembali normal.

4. Refleks Siliospinal Respon : sebelum leher diusap pupil berdiameter 3,5 mm dan setelah leher

diusap diameternya mengecil menjadi 3 mm

5. Refleks Sfinkter Kardiak Respon : waktu yang didapat adalah selama 3 detik

5.3 Saraf Kranial


No Aktivitas Saraf kranial yang terlibat
1 Membedakan sejumlah aroma (kopi, nanas, teh, cuka) Saraf olfsktorius
Menggunakan kedua lubang hidung
2 Membaca buku Saraf optic
3 Menyinari mata Saraf optic
4 Menggerakan mata mengikuti pergerakan telunjuk vertical dan Saraf abdusen
horizontal
5 Mengunyah Saraf troklearis
6 Menyentuh dengan lembut keseluruhan bagian wajah dengan Saraf trigeminus
kapas
7 Menggerakan mata dari satu sisi ke sisi lainnya Saraf okulomotor
8 Mengkerutkan dahi Saraf motoric
9 Tersenyum Saraf motoric
10 Bersiul Saraf glosofaringeal
11 Berbisik kepada teman anda, kemudian memintalah dia untuk Saraf vestibulokoklaris
mengulangi perkataan anda
12 Berjalan Saraf vestibulokoklaris
13 Mempertahankan keseimbangan sementara anda berdiri di atas Saraf vestibulokoklaris
satu kaki
5.4 Saraf Otonom

1) Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum
tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan
masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf
yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung
ganglion disebut urat saraf post ganglion.

Sistem saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf perifer yang sebagian besar bertindak
independen dari kontrol sadar (sengaja) dan terdiri dari saraf di otot jantung, otot polos, eksokrin
dan kelenjar endokrin. Sistem saraf otonom bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi pemeliharaan
yang memiliki reputasi untuk menjadi di luar kendali sadar. Pembagian utama lain dari sistem saraf
perifer, sistem saraf somatik, terdiri dari tengkorak dan saraf tulang belakang yang menginervasi
jaringan otot rangka dan lebih di bawah kontrol sengaja.

Sistem saraf otonom berfungsi untuk mempertahankan keadaan tubuh dalam kondisi terkontrol
tanpa pengendalian secara sadar. Sistem saraf otonom bekerja secara otomatis tanpa perintah dari
sistem saraf sadar. Sistem saraf otonom juga disebut sistem saraf tak sadar, karena bekerja diluar
kesadaran. Struktur jaringan yang dikontrol oleh sistem saraf otonom yaitu otot jantung, pembuluh
darah, iris mata, organ thorakalis, abdominalis, dan kelenjar tubuh. Secara umu, sistem saraf
otonom dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis.

Sistem saraf otonom bekerja secara tidak sadar. Ada 3 hal yang membedakan antara saraf motorik
somatik dan otonom yaitu:

a. Efektor; saraf motorik somatik akan menstimulasi otot skeletal, sedangkan saraf otonom akan
menginervasi organ viseral seperti otot jantung, usus, dll.

b. Jaras eferen dan ganglion; badan sel saraf somatik terletak pada SSP membentuk nukleus (inti
saraf) dan aksonnya menuju otot skeletal dan akson tersebut memiliki karakteristik tebal dan
bermielin yang menghantar impuls saraf secara cepat.
c. Neurotransmiter; semua saraf motorik somatik akan melepaskan neurotransmiter asetilkolin
(ACh) yang memberikan efek eksitasi yang menyebabkan otot skeletal untuk melakukan kontraksi
sedangkan saraf otonom akan melepaskan neurotransmiter pada postganglion berupa norepinefrin
pada sinaps akson postganglion saraf simpatis dan asetilkolin pada sinaps akson postganglion saraf
parasimpatis yang dapat menyebabkan eksitasi atau inhibisi pada target organ tergantung pada
reseptor yang dimiliki.

2) a. Adrenergik Sistem adrenergic dikenal sebagi sistem saraf simpatis, diperkirakan bahwa
adrebalin merupakan norepinefrin. Obat-obat yang mempunyai efek dari norepinefrin disebut
sebagai obat-obat adrenergic atau simpatomimetik. Obatobat itu juga dikenal dengan nama agonis
adrenergic karena memulai respons pada tempat reseptor adrenergic. Obat-obat yang menghambat
efek norepinefrin disebut sebagai penghambat adrenergic. Obat-obat ini dikenal dengan nama
adrenergic karena mencegah respons pada tempat reseptor. Ada tiga jenis sel-sel organ reseptor
adrenergic yaitu, alfa, beta dan beta. Noripenefrin dilepaskan dari ujung saraf terminal dan
merangsang reseptor sel untuk menghasilkan suatu respons.

b. Kolinergik Sistem kolinergik dikenal sebagai sistem saraf parasimpatis, neurotransmitter terdapat
pada ujung saraf neuron yang mempersarafi otot yaitu asetilkolin. Obatobat yang menyerupai
asetilkolin disebut sebagai obat-obat kolinergik atau parasimpatik. Obat-obat ini dikenal juga dengan
nama agonis kolinergik karena memulai respon kolinergik, sedangkan obat-obat yang mengahmbat
efek asetilkolin disebut antikolinergik. Obat-obat ini dikenal juga dengan nama antagonis kolinergik
karena menghambat efek asetilkolin pada organ. Reseptorreseptor kolinergik pada sel-sel organ
dapat bersifat nikotinik atau muskarinik yang berarti dirangsang oleh alkaloid nikotin atau muskarin.
Asetilkolin merangsang reseptor untuk menghasilkan suatu respons, tetapi enzim asetilkolinesterase
dapat menginaktivasi asetilkolin sebelum mencapai sel reseptor.

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini, dilakukan percobaan terhadap sistem saraf. Sistem saraf adalah serangkaian
organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Sistem saraf
berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapi dalam organisasi dan koordinasi kegiatan
tubuh. Pada praktikum ini, dibagi menjadi 2 prosedur. Yaitu anatomi dan refleks pada manusia. Pada
prosedur anatomi, digunakan buku rujukan yang ada kemudian digambarkan anatomi otak manusia
dan dijelaskan bagianbagiannya dengan nama bagian yang sesuai. Pada prosedur refleks pada
manusia, prosedur ini dibagi menjadi 3 subprosedur refleks. Yaitu deep refleks, superficial refleks
dan visceral refleks. Deep refleks yaitu refleks pada tendon, superficial refleks yaitu refleks pada kulit
dan visceral refleks adalah organik refleks. Pada subprosedur deep refleks, ada percobaan knee-jerk
reflek. Knee-jerk refleks adalah refleks pada tendon patella. Pada refleks ini, respons yang terjadi
saat mengepalkan tangan yaitu ekstensi tungkai bawah dan respons saat sambil menghitung adalah
kaki bergerak kedepan. Hal ini dikarenakan pukulan pada tendon ini akan secara pasif meregangkan
otot-otot kuardriseps dan mengaktifkan reseptor-reseptor gelendongnya, refleks ini juga
menghasilkan kontraksi otot-otot ekstensor sehingga mengalami ekstensi tungkai bawah. Pada
waktu lutut dipukul, maka lutut memberikan respon dengan adanya gerakan refleks yaitu dengan
menggerakan lututnya. Refleks pada lutut ini disebut refleks sumsum tulang belakang, karena saraf
penghubungnya terletak di dalam sumsum tulang belakang. Pada percobaan Babinski sign, Babinski
sign adalah refleks yang timbul ketika telapak kaki dirangsang dengan instrumen tumpul. Pada
refleks ini, respon yang terjadi adalah dorsofleksi ibu jari kaki dan gerakan mekar jari-jari kaki.
Gerakan dorsofleksi ibu jari tersebut disebabkan adanya kontraksi pada m. Ekstensor hallusis longus.
Pada percobaan refleks Achilles, refleks ini adalah refleks pada tendon Achilles. Respon yang
terjadi adalah plantar fleksi pada kaki, hal ini disebabkan berkontraksinya m. triceps surae dan
memberikan gerak plantar fleksi pada kaki. Pada percobaan refleks biseps, refleks biseps adalah
refleks lengkung C5 dan busur refleks C6 dengan menenkan secara cepat pada tendon biseps brachii.
Respon yang terjadi adalah fleksi lengan dan kontraksi otot biseps, hal ini dikarenakan mengaktifkan
reseptor peregangan di dalam otot biceps brachii yang berkomunikasi terutama dengan saraf tulang
belakang C5 dan sebagian dengan saraf tulang belakang C6 untuk menginduksi kontraksi refleks otot
biseps dan sentakan lengan bawah. Pada refleks triseps, refleks triseps adalah refleks karena
timbulnya kontraksi paksa dari otot triseps barkii. Respon yang terjadi adalah ekstensi lengan. Hal ini
disebabkan karena kontraksi yang mendadak pada otot trisep menyebabkan ekstensi. Pada
subprosedur superficial reflex, ada refleks plantar. Refleks plantar adalah refleks yang timbul ketika
telapak kaki dirangsang dengan instrumen tumpul atau agak tajam.

Respon yang terjadi adalah fleksi plantar kaki dan semua jari kaki. terjadinya plantar fleksi dari jari-
jari kaki. (pusat lumbar (L)5 – sacral (S)1 - saraf perifer n. tibialis). Pada refleks abdominal, adalah
refleks yang timbul say dinding perut digores dengan menggunakan benda agak runcing seperti
kunci. Respon yang terjadi adalah berupa otot berkontraksi dan pusar bergerak ke arah otot yang
berkontraksi. Hal ini disebabkan karena otot (m. rectus abdominis) berkontraksi. Pada refleks
kornea, refleks kornea adalah refleks yang mengakibatkan mata kedip. Respon yang terjadi adalah
refleks mengakibatkan dipejamkannya mata (m.orbicularis oculi). Dan sensibilitas kornea
dipengaruhi oleh N.V sensorik cabang oftalmik. Pada refleks faring, refleks faring adalah
kontraksi refleks pada bagian belakang tenggorokan. Respon yang terjadi adalah refleks muntah, hal
ini dikarenakan kontraksi dari otot konstriktor di faring karena adanya stimulasi dari reseptor sensori
di soft palate oleh rasangan fisik, refleks ini mencegah benda asing melintasi tenggorokan diluar cara
menelan normal dan membantu mencegah tersangkutnya benda asing tersebut di tenggorokan.
Pada refleks kutan, refleks kutan adalah refleks yang terjadi ketika daerah kulit tertentu ditepuk dan
diraba. Respon yang terjadi adalah tidak ada perubahan warna kulit. Pada refleks pilomotor, refleks
pilomotor adalah ini terjadi karena saat kulit diraba dengan ringan dan otak akan langsung
mengaktifkan mode siap siaga terhadap ancaman. Respon yang terjadi adalah berdirinya bulu kuduk,
hal ini disebabkan oleh kontraksi otot piloerektor yang melekat pada setiap rambut.

Setiap otot yang berkontraksi menciptakan depresi dangkal pada permukaan kulit, yang
menyebabkan area di sekitarnya menonjol. Pada subprosedur visceral refleks ada percobaan refleks
photopupil, refleks photopupil adalah refleks cahaya. Respon yang terjadi adalah adanya perbedaan
diameter, sebelum diberi perlakuan diameternya 3 mm dan setelah diberi perlakuan melebar
menjadi 3,5 mm. Hal ini disebabkan karena otot sirkuler relaksasi dan otot radier berkontraksi untuk
mengatur cahaya yang masuk. Pada refleks konsensual, refleks konsensual adalah refleks perubahan
pupil saat salah satu mata disinari. Respon yang terjadi adalah saat salah satu mata disinari, pupil
secara bersamaan mengecil. Hal ini disebabkan perubahan pupil terlepas dari mata mana yang
terpapar cahaya, ketika cahaya menyinari satu mata refleks yang terjadi kedua pupil mata akan tetap
mengecil bersamaan karena setiap ekstremitas aferen memiliki dua ekstremitas eferen, satu
ipsilateral dan satu kontralateral. Tungkai eferen ipsilateral mentransmisikan sinyal saraf untuk
refleks cahaya langsung dari ipsilateral dan ekstremitas eferen kontralateral menyebabkan refleks
cahaya konsensual pupil kontralateral.

Pada percobaan refleks akomodasi, refleks akomodasi adalah respons terhadap pemfokusan pada
objek yang dekat, kemudian melihat objek yang jauh (dan sebaliknya), yang terdiri dari perubahan
terkoordinasi dalam vergensi ,bentuk lensa ( akomodasi ) dan ukuran pupil. Respon yang terjadi
adalah pada saat objek menjauh, pupil melebar sedikit. Sedangkan saat objek dalam keadaan pupil
menyempit dan kembali normal. Hal ini terjadi karena daya akomodasi mata diatur melalui saraf
parasimpatis, perangsangan saraf

Saraf kranial, saraf kranial adalah 12 pasang saraf pada manusia yang mencuat dari otak, saraf
kranial merupakan bagian dari sistem saraf sadar. Namanama saraf tersebut berasal dari urutan
letak mereka mulai dari atas sampai ke bawah. Fungsi utama dari saraf-saraf ini adalah mengatur
segala fungsi organ-organ yang berada di daerah kepala mulai dari kesadaran, fungsi berkomunikasi,
fungsi mengunyah hingga fungsi menelan. Saraf kranial memiliki 3 macam fungsi yakni motoric,
sensoris dan otonom dan berbeda pada masing-masing saraf. Pada aktivitas pertama, membedakan
sejumlah aroma, saraf yang terlibat adalah saraf olfaktorius atau saraf kranial I yang merupakan
saraf pertama dari 12 saraf kranial, saraf ini penting dalam penciuman. Kedua, membaca buku dan
menyinari mata melibatkan saraf optikus atau saraf optic, saraf ini mengirimkan informasi
penglihatan dari retina ke otak. Ketiga, melalukan kegiatan dengan menggerakan mata mengikuti
pergerakan telunjuk vertical dan horizontal, saraf yang terlibat adakah saraf abdusen, saraf ini
memasok salah satu otot pada mata. Keempat, mengunyah melibatkan saraf troklearis, saraf ini
terletak dibagian ventral dari gray matter periaqueductal dan berada langsung dibawah kompleks
inti oculomotor di tingkat colliculli rendah. Kelima menyentuh wajah dengan lembut dengan
menggunakan kapas, saraf yang terlibat adakah saraf trigeminus, saraf ini berperan dalam
mengirimkan sensai dari kulit bagian anterior kepala, rongga mulut, hidung, gigi dan meninges.
Keenam, menggerakan mata dari satu sisi ke sisi lain, saraf yang terlibat adalah okulomotor, saraf ini
berperan mwngontrol sebagian besar gerakan mata, konstriksi pupil dan mempertahankan
terbukanya kelopak mata. Ketujuh, mengerutkan dahi dan tersenyum melibatan fasialis saraf
mototik dan berperan dalam persarafan otot ekspresi wajah. Kedelapan, bersiul melibatkan saraf
glosofaringeal yang memiliki peran dalam gag refleks. Kesembilan, berbisik kepada teman dan
mengulangi perkataan, berjalan dan mempertahankan keseimbangan dan berdiri pada satu kaki
melibatkan saraf vestibulokoklaris yang berperan dalam proses mendengar dan menjaga
keseimbangan tubuh. Kesepuluh, berbicara kemudian menelan dan amati bila ada kelainan
melibatkan saraf glosofaringeal. Kesebelas mengangkat pundal sambil ditekan dan putar kepala
kearah dimana tekanan diberikan melibatkan saraf aksesorius yang berperan dalam memberikan
persyarafan otot-otot leher. Kesebelas, menjulurkan lidah, melibatkan saraf hipoglossus yang
berperan smemberikan persyarafan pada otot-otot lidah.

KESIMPULAN
1. Ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu: Reseptor, Penghantar impuls,
Efektor. 2. Mekanisme gerak reflek dapat disederhanakan dengan skema sebagai berikut : Stimulus -
neuron sensori - tali spinal interneuron - neuron motorik – efektor 3. Sistem saraf otonom
bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi pemeliharaan (metabolisme, aktivitas kardiovaskular,
pengaturan suhu, pencernaan) yang memiliki reputasi untuk menjadi di luar kendali sadar. 4.
Susunan sistem saraf manusia dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf sadar dan sistem saraf tidak
sadar (otonom).

DAFTAR PUSTAKA
Bevalender, 1998. Dasar-Dasar Histologi. Erlangga. Jakarta. Campbell.1994. Biologi Edisi
Kelima. Erlangga. Jakarta. Campbell. 2002. Biologi Edisi Pertama. Erlangga. Jakarta. Campbell. 2004.
Biologi Edisi Ketiga. Erlangga. Jakarta. Guyton, Athur., 2008. Fisiologi Manusia dan Mekanisme
Penyakit. EGC. Jakarta. Irianto, K., 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Yrama
Widya. Bandung. Kimball, J. W., 1983. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai