Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)


DI RSUD dr. SOEDIRMAN

Disusun Oleh:

Iqbal Maulana Ibrahim


2111040054

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2021/2022
DEMAM BERDARAH DENGUE

I. DEFINISI
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk
setelah dua hari pertama.

II. ETIOLOGI
Virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arbovirus)
yang sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, familio flavivisidae dan
mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu : DEN – 1 , DEN – 2 , DEN – 3, DEN – 4. Di
Indonesia pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa
Rumah Sakit menunjukkan keempat serotipe di temukan dan bersirkulasi
sepanjang tahun. Serotipe DEN – 3 merupakan serotipe yang dominan dan
diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat.

III. EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue di Indonesia pertama kali dicurigai terjangkit di
Surabaya pada tahun 1968, tetapi kepastian virologiknya baru diperoleh pada
tahun 1970. Demam berdarah dengue pada orang dewasa dilaporkan pertama kali
oleh Swandana (1970) yang kemudian secara drastis meningkat dan menyebar ke
seluruh Dati I di Indonesia(2). Faktor yang mempengaruhi peningkatan dan
penyebaran kasus Demam Berdarah Dengue sangat kompleks, yaitu (1)
Pertumbuhan penduduk yang tinggi (2) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak
terkendali (3) Tidak ada kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis
dan (4) Peningkatan sarana transportasi. Di Indonesia, karena suhu udara dan
kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola terjadinya penyakit agak
berbeda untuk setipa tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi
mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada
sekitar bulan April – Mei setiap tahun.

IV. CARA PENULARAN

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus
dengue, yaitu mausia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada
manusia melalui nyamuk Aedes Aegypti. Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis
dan beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun
merupakan vektor yang kurang berperan. Aedes tersebut mengandung virus
dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian
virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8 – 10 hari
(extrinsic incubation period) sebelum dapat di tularkan kembali pada manusia
pada saat gigitan berikutnya. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di
dalam tubuh nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya
(infektif). Ditubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4 – 6 hari
(intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari
manusia kepada nyamuk dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang
sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah
demam timbul.

V. PATOGENESIS
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama
mungkin memberi gejala sebagai demam dengue. Reaksi yang amat berbeda akan
tampak bila seseorang mendapat infeksi yang berulang dengan tipe virus dengue
yang berlainan. Hipotesis infeksi sekunder (the secamdary heterologous infection/
the sequential infection hypothesis) menyatakan bahwa demam berdarah dengue
dapat terjadi bila seseorang setelah terinfeksi dengue pertama kali mendapat
infeksi berulang dengue lainnya. Re
– infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi amnestif antibodi yang akan terjadi
dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limsofit dengan
menghasilkan titik tinggi antibodi Ig G antidengue. Disamping itu replikasi virus
dengue terjadi juga dalam limsofit yang bertransformasi dengan akibat
terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya
virus kompleks antigen – antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya
akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen pelepasan C3a dan C5a akibat
aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitis dinding pembuluh
darah dan merembesnya plasing dari ruang intravascular ke ruang ekstravascular.

VI. PATOFISIOLOGI
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan
demam dengue dengan demam berdarah dengue ialah meningginya permeabilitas
dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktoksin, histamin dan serothin sert
aktivasi sistim kalikrein yang berakibat ekstravasosi cairan intravascular. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi,
hemokonsentrasi, hipeproteinemia, efusi dan syok. Plasma merembes selama
perjalanan penyakit mulai dari saat permulaan demam dan mencapai puncaknya
pada saat syok.

VII. GEJALA UTAMA


1. Demam
Demam tinggi yang mendadak, terus – menerus berlangsung selama 2 – 7 hari,
naik turun (demam bifosik). Kadang – kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai
40 C dan dapat terjadi kejan demam. Akhir fase demam merupakan
fase kritis pada demam berdarah dengue. Pada saat fase demam sudah mulai
menurun dan pasien seajan sembuh hati – hati karena fase tersebut sebagai awal
kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.
2. Tanda – tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada pasien demam berdarah adalah vaskulopati,
trombosipunio gangguan fungsi trombosit serta koasulasi intravasculer yang
menyeluruh. Jenis perdarahan terbanyak adalah perdarahan bawah kulit seperti
purpura, ekimosis dan perdarahan conjuctiva. Muncul pada hari pertama demam
tetepai dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam. Perdarahan lain yaitu,
epitaxis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis.
3. Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit bervariasi dari haya
sekedar diraba sampai 2 – 4 cm di bawah arcus costa kanan. Derajat hepatomegali
tidak sejajar dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan pada daerah tepi hepar
berhubungan dengan adanya perdarahan.
4. Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah
demam turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan
darah, akral teraba dingin disertai dengan kongesti kulit. Perubahan ini
memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan
plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan
umum pasien mendadak menjadi buruk setelah beberapa hari demam pada saat
atau beberapa saat setelah suhu turun, antara 3 – 7, terdapat tanda kegagalan
sirkulasi, kulit terabab dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki,
sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai
tidak teraba. Pada saat akan terjadi syok pasien mengeluh nyeri perut.

Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DHF, gambaran lain
yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah :
a. Keluhan pada saluran pernapasan seperti batuk, pilek, sakit waktu
menelan.
b. Keluhan pada saluran pernapasan : mual, muntah, tidak nafsu makan
(anoreksia), diare, konslipasi.
c. Keluhan sistem yang lain : nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang
dan sendi, (break bone fever), nyeri otot abdomen, nyeri uluhati, pegal-pegal pada
seluruh tubuh, kemerahan pada kulit, kemerahan (flushing) pada muka,
pembengkakan sekitar mata, lakrinasi dan fotopobia, otot-otot sekitar mata sakit
bila disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal.

VIII. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


1. Darah
Pada demam berdarah dengue umum dijumpai trobositopenia (<100.000) dan
hemokonsentrasi uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan penting.
Masa pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya
memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan masa perdarahan biasanya
memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX,
dan X. Pada pemeriksaan kimia darah hipoproteinemia, hiponatremia, dan
hipokloremia.
2. Urine
Ditemukan albuminuria ringan
3. Sumsum Tulang
Gangguan maturasi
4. Serologi
a. Uji serologi memakai serum ganda.
Serum yang diambil pada masa akut dan masa konvalegen menaikkan antibodi
antidengue sebanyak minimal empat kali termasuk dalam uji ini pengikatan
komplemen (PK), uji neutralisasi (NT) dan uji dengue blot.
b. Uji serologi memakai serum tunggal.
Ada tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue uji dengue yang mengukur
antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya uji Ig M antidengue
yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas Ig M.

I. DIAGNOSIS
Diagnosis demam berdarah ditegakkan berdasarkan
kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997
terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.
A. Kriteria Klinis
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung
terus menerus selama 2 – 7 hari.
2. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
 Uji tourniquet positif
 ekomosis, epitaksis, perdarahan gusi.
 Hemetamesis dan atau melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan
tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit
lembab dan pasien tampak gelisah.
B. Kriteria Laboratoris
1. Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang)
2. Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih
Dua kriteria pertama ditambah trombositopemia dan
hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit cukup untuk
menegakkan diagnosis klinis demamberdarah dengue. Derajat
Penyakit (WHO, 1997) Derajat I Demam disertai gejala tidak
khas dan satu – satunya manifestasi ialah uji tourniquet positif.
Derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit
dan atau perdarahan lain. Derajat III Didapatkan kegagalan
sirekulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan mulut, kulit
dingin atau lembab dan penderita tampak gelisah. Derajat IV
Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.

II. DIAGNOSA BANDING


1. Demam thyphoid
2. Malaria
3. Morbili
4. Demam Chikungunya
5. Leptospirosis
6. Idiophatic Thrombocytopenia Purpura (ITP)

III. PENATALAKSANAAN
Pengobatan demam berdarah dengue bersifat simptomatik dan
suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi.
Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena muntah atau
nyeri perut yang berlebihan maka cairan intravenaperlu diberikan.
Medikamentosa yang bersifat simptomatis :
 Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak,
inguinal.
 Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron.
 Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder.
 Cairan pengganti :
Larutan fisiologis NaCl, Larutan Isotonis ringer
laktat, Ringer asetat, Glukosa 5% (1,2,3)

IV. PROGNOSIS
Kematian akibat demam berdarah dengue cukup tinggi.

V. PENCEGAHAN
Memutuskan rantai penularan dengan cara :
1. Menggunakan insektisida :
Malathion (adultisida) dengan pengasapan, Temephos
(larvasida) dimasukkan ketempat penampungan air bersih.
2. Tanpa Insektisida :
Menguras bak mandi dan tempat penampungan air bersih
minimal 1x seminggu, Menutup tempat penampungan air rapat
– rapat, Membersihkan halaman rumah dari kaleng – kaleng
bekas, botol – botol pecah dan benda lain yang memungkinkan
nyamuk bersarang.

VI. ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
1. Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering
menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa
2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati,
mual dan nafsu makan menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri
otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah,
panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
5. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang
lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit
yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
6. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air
bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum
burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang
dibersihkan.
7. Riwayat Tumbuh Kembang
8. Pengkajian Per Sistem
a. Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal,
epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada
auskultasi terdengar ronchi, krakles.
b. Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan
kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS
c. Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet
positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi
kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis
sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak
teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
d. Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada
epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen
teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat
menelan, dapat hematemesis, melena.
e. Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam,
akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing
berwarna merah.
f. Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I
terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada
grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus
dengue
b. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya
ciran
intravaskuler ke ekstravaskuler
c. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan
perdarahan yang
berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler
d. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak
adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
e. Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan
factor-fakto
pembekuan darah ( trombositopeni )
f. Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang
memburuk dan
perdaahan
g. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya
informasi.

3. Rencana Asuhan Keperawatan.


a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal.
Kriteria hasil : Suhu tubuh
antara 36 – 37
Nyeri otot
hilang
Intervensi :
 Beri komres air kran
Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan
panas secara
konduksi
 Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-
2000 cc/hari
( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang
hilang akibat
evaporasi.
 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian
yang tipis dan
mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang
tipis mudah
menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan
suhu tubuh.
 Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi,
tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta
mengetahui keseimbangan cairandan elektrolit
dalam tubuh. Tanda
vital
merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien.
 Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian
obat sesuai
program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi
pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat
khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

b. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan


pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi
devisit voume cairan Kriteria
: Input dan output
seimbang
Vital sign
dalam batas
normal
Tidak ada
tanda
presyok
Akral
hangat
Capil
arry refill < 3
detik Intervensi :
 Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi
fluktuasi cairan
intravaskuler
 Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
 Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi,
BJ Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan
peningkatan BJ
diduga dehidrasi.
 Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (
sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi
kabutuhan cairan tubuh peroral
 Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh,
untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.
c. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan
perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok
hipovolemik Kriteria : Tanda
Vital dalam batas normal
Intervensi :
 Monitor keadaan umum pasien
Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama
perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat
segera mengetahui tanda-tanda
presyok / syok
 Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi
vital sign untuk
memastikan tidak terjadi presyok / syok
 Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan,
dan segera
laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka
tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan
tindakan yang cepat dan tepat
dapat segera diberikan.
 Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi
kehilangan
cairan tubuh secara hebat.
 Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran
pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan
melakukan tindakan lebih lanjut.

d. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan
kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada
tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :

 Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai


Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga
kemungkinan
intervensi
 Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas
kekurangan konsumsi
makanan
 Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas
intervensi.
 Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan
diantara waktu
makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan
kelemahan dan
meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.
 Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan
peroral
 Hindari makanan yang merangsang dan
mengandung gas. Rasional : Menurunkan
distensi dan iritasi gaster.
e. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan
factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler,
pulsasi kuat Tidak ada tanda perdarahan lebih
lanjut, trombosit meningkat
Intervensi :
 Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai
tanda klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan
tanda adanya kebocoran
pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat
menimbulkan tanda- tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
 Monitor trombosit setiap hari
Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari,
dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah
dan
kemungkinan perdarahan
yang dialami pasien.
 Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan
terjadinya perdarahan.
 Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk
melaporkan jika
ada tanda perdarahan spt : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat
membantu untuk
penaganan dini bila terjadi perdarahan.
 Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang
lunak, pelihara
kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai
ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut

Daftar Pustaka

Hadinegoro. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Depkes &


Kesejahteraan Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan
Lingkungan Hidup. 2001. Hal 1 – 33.

Hendrawanto. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi Ketiga
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Hal 417 – 426.

Janus, Centrin net.id/ binprog.www.plasa.com.2003.

Mansjoer. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Fk – Ui Edisi Ketiga Jilid I. Media


Aesculapius. Jakarta Widodo.Www. Penyakit Menular Info. Depkes. 4 Januari
2002.