Anda di halaman 1dari 6

OLEH : HASNIATUL AINI

NIM : 855764196
RESUME
EVALUASI PEMBELAJARAN DI SD MODUL 1
A. Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan
penilaian. Namun evaluasi tersebut memiliki makna yang berbeda dengan penilaian, pengukuran,
maupun tes. Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan
sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa ( the worth and merit ) dari tujuan yang
dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, pertanggung
jawaban serta meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut, inti
dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dalam mengambil keputusan.
Pengukuran, penilaian dan evaluasi bersifat heirarki. Evaluasi didahului dengan penilaian
sedangkan penilaian didahului dengan pengukuran. Pengukuran diartikan sebagai kegiatan
membandingkan hasil pengamatan dengan criteria, penilaian (assessment) merupakan kegiatan
menafsirkan dan mendeskripsikan hasil pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan pentapan
nilai atau implikasi perilaku.
Dalam penjelasan yang dipaparkan Brinkerhoff (1986:ix) menunjukan bahwa, dalam
melakukan evaluasi, evaluator pada tahap awal harus focus menentukan tahap yang akan
dievaluasi dan desain yang akan digunakan. Hal ini berarti harus ada kejelasan apa yang akan
dievaluasi yang secara implicit menekankan adanya tujuan evaluasi, serta adanya perencanaan
bagaimana melaksanakan evaluasi. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data, menganalisis dan
membuat interpretasi terhadap data yang terkumpul serta membuat laporan. Selain itu, evaluator
juga harus melakukan pengaturan terhadap evaluasi dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan
B. Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran
Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini kearah yang lebih luas.
Konsep- konsep tersebut pada umumnya berkisah pada pandangan bahwa penilaian tidak hanya
diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tetapi juga terhadap tujuan-
tujuan yang tersembunyi termasuk efek samping yang mungkin berdampak pada proses
penilaian. Selain itu penilaian tidak hanya melalui penilaian perilaku siswa tetapi juga
melakukan pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan proses maupun
keluaran dan penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-
tujuan yangb telah ditetapkan tetapi juga untuk mengetahui tujuan-tujuan tersebut penting bagi
siswa dan bagaimana siswa mencapainya. Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian maka
alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes tetapi
juga alat penilaian bukan tes. Atas dasar itu maka lingkup dasar penilaian mencakup 3 sasaran
pokok yaitu program pendidikan, proses pembelajaran dan hasil belajar.

C. Pengertian Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran


Penilaian hasil belajar merupakan komponen yang penting dalam kegiatan pembelajaran
meningkatkan kualitas pembelajaran dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas sistem
penilaian. Menurut Djemari Mardapi (2008:5) kualitas pembelajaran dapat dilihat dari hasil
penilaiannya. Sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi
mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar dengan lebih baik.
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek.
Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau
kriteria. Misalnya untuk dapat mengatakan baik, sedang, kurang, diperlukan adanya ketentuan
atau ukuran yang jelas bagaimana yang baik, yang sedang dan yang kurang. Dari pengertian
tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan
adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya.
Perbandingan bisa bersifat mutlak, bisa pula bersifat relatif. Perbandingan bersifat mutlak artinya
hasil perbandingan tersebut menggambarkan posisi objek yang dinilai ditinjau dari kriteria yang
berlaku. Sedangkan perbandingan bersifat relatif artinya hasil perbandingan lebih
menggambarkan posisi suatu objek yang dinilai terhadap objek lainnya dengan bersumber pada
kriteria yang sama.
Dalam konteks ini penilaian yang di maksud dalam proses evaluasi pembelajaran adalah
penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil
belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang
dinilainya adalah hasil belajar siswa. Pada hakikatnya hasil belajar siswa adalah perubahan
tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang
kognitif, efektif, dan psikomotoris. Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar, peranan tujuan
instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang dikuasai siswa menjadi
unsure penting sebagai dasar dan acuan penilaian.
KEGIATAN BELAJAR 2

A. Jenis Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran


Dibedakan dari fungsinya, ada beberapa macam jenis penilaian, yaitu penilaian formatif,
penilaian sumatif, penilaian diagnostic, penilaian selektif dan penilaian penempatan.
 Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program
pembelajaran untuk melihat tingkat keberhasilan proses pembelajaran itu sendiri.
 Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu
akhir semester dan akhir tahun.Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai
oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan-tujuan kurikuler dikuasai oleh para siswa.
Penilaian ini berorientasi kepada produk, bukan proses.
 Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-
kelemahan siswa serta factor penyebabnya. Penilaian ini di laksanakan untuk untuk
keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial (remedial teaching), menemukan
kasus-kasus, dll. Soal-soal tentunya disusun agar dapat ditemukan jenis kesulitan
belajar yang dihadapi oleh para siswa.
 Penilaian selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya
ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.
 Penilaian penempatan adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui ketrampilan
prasayarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti
yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu. Dengan
perkataan lain, penilaian ini berorientasi kepada kesiapan siswa untuk menghadapi
program baru dan kecocokan program belajar dengan kemampuan siswa.
Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes).
Tes ini ada yang berikan secara lisan (menurut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut
jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan. Soal-
soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian.
Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala,
sosiometri, studi kasus, dll.

B. Contoh Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran

1. Tes Uraian
Secara umum tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam
bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan
bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan
bahasa sendiri.
Kelebihan atau keunggulan tes uraian ini antara lain:
a) Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi.
b) Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan
benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.
c) Dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berpikir logis, analitis, dan
sistematis.
d) Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving).
e) Adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu
yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berpikir siswa.
Kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes ini antara lain:
a) Sample tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang
telah diberikan, tidak seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui
sejumlah pertanyaan.
b) Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam
cara memeriksanya. Guru bisa saja bertanya tentang hal-hal yang menarik baginya, dan
jawabannya juga berdasarkan apa yang dikehendakinya.
c) Tes ini biasanya kurang realibel, mengungkap aspek yang terbatas,
pemeriksaannya memerlukan waktu lama sehingga tidak praktis bagi kelas
yang jumlah siswanya relatif besar.
2. Jenis-jenis tes uraian
a) Uraian Bebas (free essay)
Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada
pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian
bebas sifatnya umum. Melihat karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian
bebas ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk:
a. Mengungkapkan pandangan para siswa terhadap suatu maasalah sehingga
dapat diketahui luas dan intensitasnya.
b. Mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam
sehingga tidak ada satupun jawaban yang pasti
c. Mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari
berbagai segi atau dimensi.
Kelemahan tes ini ialah sukar menilainya karena jawaban siswa bisa bervariasi,
sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru
sebagai penilainya.

b) Uraian Terbatas
Pertanyaan bentuk tes uraian terbatas telah diarahkan kepada hal-hal
tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi: a. ruang
lingkupnya, b. sudut pandang menjawabnya, c. indikator-indikatornya.
Dengan adanya pembatasan tersebut, jawaban siswa akan lebih terarah
sesuai dengan yang diharapkan. Cara memberikan penilaian juga lebih jelas
indikatornya. Kriteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah ditentukan. Oleh
sebab itu, bentuk soal uraian terbatas lebih terarah dan telebih tepat digunakan
daripada bentuk uraian bebas.

c) Uraian Berstruktur
Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan
soal-soal essay. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat
sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya. Soal yang berstruktur
berisi unsur-unsur a. pengantar soal, b. seprangkat data, dan c. serangkaian sub
soal.
Keuntungan soal berstruktur antara lain: a. satu soal bisa terdiri atas
beberapa sub soal atau pertanyaan, b. setiap pertanyaan yang diajukan
mengacu kepada suatu data tertentu sehingga lebih jelas dan terarah, c. soal-
soal berkaitan satu sama lain dan bisa diurutkan berdasarkan tingkat
kesulitannya.
Data yang diajukan dalam berstuktur bisa berupa angka, tabel, grafik,
gambar, bagan, kasus, bacaan tertentu, diagram, model, dll.
Bentuk soal berstruktur bisa digunakan untuk mengukur semua aspek
kognitif seperti ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Tingkat kesulitan soal dapat dibuat sedemikian rupa sehingga berurutan dari
soal yang mudah menuju soal yang sukar.
Kelemahan yang mungkin terjadi berkisar pada: a. bidang yang
diujikan menjadi terbatas, dan b. kurang praktis sebab satu permasalahan
harus dirumuskan dalam pemaparan yang lengkap disertai data yang memadai.

Anda mungkin juga menyukai