Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

“ PENGAMATAN JARINGAN EPIDERMIS DAN DERIVATNYA”

Dosen Pengampu:

Dr. Evika Sandi Savitri, M.P

Ruri Siti Remisari, M.Si

Disusun oleh:

Nama : Nur Azizah

NIM : 200602110160

Kelas : Biologi D

Asisten : Lintang Harum Zulvadina

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

JURUSAN BIOLOGI

2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Epidermis merupakan lapisan sel-sel paling luar dan menutupi permukaan daun, bunga,
buah, biji, batang dan akar (Metcalfeet al., 1950). Jaringan epidermis berfungsi melindungi
jaringan dari lingkungan luar, berperan dalam pengaturan pertukaran gas pada daun dan bagian
permukaan luarnya dilapisi oleh kutikula (Nurul, 2013). Sel epidermis berbentuk tubular dengan
susunan rapat tanpa ruang interseluler. Permukaan daun yang menghadap ke atas dikenal dengan
epidermis atas (sisi adaksial) dan permukaan yang lain dikenal dengan epidermis bawah (sisi
abaksial) (Nurul, 2013)

Derivat epidermis adalah bentuk spesifik atau struktur tambahan pada epidermis yang
memiliki fungsi tertentu (Hidayat, 1995). Menurut Sumardi (1992), derivat epidermis dapat
berupa sel kipas, epidermis ganda dan litosis.

Hal ini selaras dengan ayat dalam Al-Quran pada surat Al-Qamar ayat 49 yang berbunyi:

‫اِنَّا ُك َّل ش َْي ٍء َخلَ ْق ٰنهُ بِقَ َد ٍر‬

Yang artinya: “ Sesungguhnya kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT tuhan maha pencipta telah menciptakan
sesuatu sesuai dengan fungsi dan ukurannya masing-masing tidak lebih maupun kurang. Seperti
halnya pada bagian-bagian tubuh tumbuhan, khususnya jaringan epidermis. Jaringan epidermis
mempunyai struktur dan fungsinya sendiri yaitu sebagai pelindung jaringan di bawahnya. Sama
halnya pada derivate epidermis, yang menjadi bentuk spesialisasi atau struktur tambahan dari
jaringan epidermis agar dapat menjelaskan fungsi sesuai dengan perannya masing-masing.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini adalah:

1. Mengamati penampang melintang dan membujur bentuk sel penyusun epidermis.


2. Mengamati macam-macam bentuk sel penutup stomata berdasarkan penampang
membujurnya.

3. Mengamati berbagai tipe stomata pada daun.

4. Mengamati berbagi macam bentuk trikomata.

5. Mengamati derivat epidermis yang lain selain stomata dan trikomata misalnya; sel-sel silica,
sel-sel kipas dan litokis serta sel gabus
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Epidermis

Jaringan Epidermis merupakan lapisan sel-sel paling luar dan menutupi permukaan daun,
bunga, buah, biji, batang dan akar (Cutler dkk, 2007). Berdasarkan ontogeninya, epidermis
berasal dari jaringan meristematik yaitu protoderm (Sumardi dan Pudjoarinto 1994 dalam
Rompas dkk, 2011). Jaringan epidermis berfungsi melindungi jaringan dari lingkungan luar,
berperan dalam pengaturan pertukaran gas pada daun dan bagian permukaan luarnya dilapisi
oleh kutikula (Nurul, 2013) .

Jaringan epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel yang masih hidup dan terletak
pada permukaan luar organ tumbuhan. Bentuk selnya bermacam-macam dan susunannya rapat
sehingga tidak terdapat ruang-ruang antarsel (non intercellular spaces). Vakuolanya yang besar
terdapat di bagian tengah, berisi cairan sel yang berwarna (antosianin) atau dapat pula tidak
berwarna.

Perbedaan struktur sel epidermis dapat berupa bentuk dan susunan sel epidermis, jumlah
sel epidermis, dan panjang sel epidermis . Menurut fungsi, bentuk, ukuran dan susunan sel-sel
epidermis tidak sama atau berbeda pada berbagai jenis tumbuhan (Fahn, 1991 dalam Haryanti,
2010). Walaupun berbeda epidermisnya, semua epidermis tersusun rapat satu sama lain dan
membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel (Cutler dkk, 2007).

2.2 Susunan jaringan Epidermis

2.2.1 Dinding Sel

Dinding sel epidermis beragam tebalnya pada pertumbuhan yang berbeda dan ditemukan
di bagian yang berlainan pada tumbuhan yang sama. Pada biji, sisik dan beberapa daun tertentu
seperti coniferae, dinding sel epidermis amat tebal serta berlignin. Lapangan noktah primer
tedapat terutama pada dinding radial dan sinding sebelah dalam. Pada dinding sebelah luar
kadang-kadang terlihat antar ruang antar fibril lebar yang juga disebut ektodesmata (Sutrian,
2004)
2.2.2 Protoplas

Protoplas pada epidermis kebanyakan tumbuhan mengandung leukoplas dan tidak


memiliki kloroplas. Pada beberapa pteridophita, tumbuhan air, serta tumbuhan yang hidup
ditempat teduh, bisa ditemukan kloroplas. Antosian terdapat di vakuola sel epidermis sejumlah
besar tumbuhan seperti zebrine pendula dan batang, tangkai daun ricinus communis. Selain itu,
tanin, lender dan kristal dapat pula ditemukan di sel epidermis (Loveless, 1987)

2.3 Derivat epidermis

Derivat epidermis adalah bentuk spesifik atau struktur tambahan pada epidermis yang
memiliki fungsi tertentu (Hidayat, 1995). Menurut Sumardi (1992), derivat epidermis dapat
berupa sel kipas, epidermis ganda dan litosis. Sel kipas, litosis dan epidermis ganda ditemu kan
pada tumbuhan monokotil dan sebagian kecil tumbuhan dikotil, sedangkan trikoma dan stomata
ditemukan pada sebahagian besar tumbuhan yang memiliki klorofil.

2.3.1 Stomata

Stomata merupakan celah dalam epidermis yang dibatasi oleh dua sel epidermis yang
khusus, yakni sel penutup (Hidayat, 1995). Sel yang me ngelilingi stomata dapat berbentuk sama
atau berbeda dengan sel epidermis lainnya. Berdasarkan susunan sel epidermisnya, stomata dapat
dikelompokkan menjadi 6 tipe: tipe anomositik, anisositik, parasitik, diasitik, aktinositik dan tipe
siklositik (Evert, 2006). Berdasarkan letak stomata pada permukaan daun, stomata dapat
dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu: tipe amfistomatik, hipostomatik dan epi stomatik (Setjo
dkk.,2004).

2.3.2 Trikoma

Trikoma adalah rambut-rambut yang tumbuh dari sel-sel epidermis dengan bentuk,
susunan serta fungsinya bervariasi (Sutrian, 1992). Trikoma biasanya muncul pada permukaan
luar hampir seluruh organ tumbuhan baik organ vegetatif seperti daun, cabang, daun pelindung
dan akar maupun organ reproduksi seperti sepal, petal, stamen, ginosium, biji dan buah (Werker,
2005 dan Adedeji et al., 2007).
Trikoma dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu trikoma non glandular yang
tidak mempunyai sekresi dan trikoma glandular yang mempunyai hasil sekresi (Werker, 2005).
Berdasarkan jumlah sel yang membangunnya, trikoma dapat dibedakan menjadi uniseluler dan
multiseluler. Trikoma uniseluler merupakan trikoma yang terdiri dari satu sel, sedangkan
multiseluler merupakan trikoma yang bersel banyak (Sutrian, 1992).

2.3.3 Litokis

Litokis merupakan sel yang mengandung sistolit. Litosis terpadat pada erpidermis daun
beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun atas tangkai selulosa
dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat) yang membentuk bangunan seperti sarang lebah
yang disebut sistolit. Velamen merupakan lapisan sel mati di bagian dalam jaringan epidermis
pada akar gantung (akar udara) tumbuhan anggrek dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan
air. Sel silica/sel gabus merupakan sel epidermis seperti serat pada pteridophita tertentu,
gymnospermae, dan beberapa gramineae, dan dicotyledonae tertentu. Pada Gramineae diantara
sel epidermis batang ada yang panjang ada 2 tipe sel pendek, yaitu sel silika dan sel gabus
(Anjani, 2014).

2.3.4 Sel kipas

Sel-sel ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan sel epidermis, berbentuk seperti
kipas,berdinding tipis dan mempunyai vakuola yang besar. Dindingnya terdiri dari bahan-bahan
selulosadan pektin, dinding paling luar mengandung kutin dan diselubungi kutikula. Plasma sel
berupaselaput yang melekat pada dinding sel dan berfungsi menyimpan air. Jika udara panas, air
dalam selkipas akan menguap, sel kipas akan mengerut sehingga luas permukaan atas daun akan
lebih kecildari luas permukaan bawah. Oleh karenanya daun akan menggulung dan akan
mengurangi penguapan lebih lanjut.

2.3.5 Velamen

Velamen merupakan beberapa jenis sel mati yang terdapat di sebelah dalam epidermis
akar gantung atau akar udara pada tanaman Anggrek. Velamen berfungsi untuk menyimpan air
atau menyimpan udara. Epidermis beserta velamen ada yang menyatakan sebagai epidermis
ganda atau multiple epidermis.
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

1. Mikroskop cahaya

2. Gelas benda dan penutup

3. kuas

4. Pinset kecil

5. Jarum preparat

6. Pipet tetes

7. Silet

8. Kobokan

9. Lap

3.1.2 Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

1. Air
2. Daun Rhodeoscalar
3. Preparat awetan Zea mays (jagung)
4. Daun Dendrobium sp
5. Daun Terong (Solanum melongena)
6. Daun Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)
7. Daun Waru (Hibiscus tiliaceus)
8. Preparat aweten irisan melintang daun Ficus elastica (ki karet)

3.2 Langkah Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu:

1. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon nordus (sere) atau Oryza sativa
(padi) diamati di bawah mikroskop. Dicari epidermis atas atau bawah dengan perbesaran 10
x 10, jika kurang besar pergunakan perbesaran 10 x 45, kemudian digambar dan beri
keterangan. Dapatkah Anda menunjukkan stomata?
2. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Ficus elastica dan diamati di bawah
mikroskop. Perhatikan litosit dan sistolit dengan menggunakan perbesaran 10 x 10, jika
kurang jelas maka pergunakan perbesaran 10 x 45. Diperhatikan lapisan 1-4 mulai dari luar!
Apakah mempunyai bentuk dan ukuran yang sama? Pada lapisan sel itu ada satu sampai
beberapa sel yang mempunyai ukuran lebih besar dari yang lain dan di dalamnya ada
bentukan seperti sarang lebah. Digambarlah terutama lapisan sel 1-4 tersebut. Sel yang lebih
besar tadi dinamakan litosit dan bentukan seperti sarang lebah itu dinamakan sistolit,
digambar juga litosit dan sistolit !
3. Diambil daun Rhoeo discolor, dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di
bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya.
Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran
10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
4. Diambil daun Dendrobium sp. dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2. Diamati di
bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan trikomatanya.
Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran
10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
5. Diambil daun Solanum melongena (terong), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2.
Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata dan
trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka
pergunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
6. Diambil daun Hibiscus rosasinensis (bunga sepatu), dibuat preparat sayatan daun seperti
kegiatan 2. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan stomata
dan trikomatanya. Digambar bagaimana bentuk sel penutupnya! Jika kurang jelas maka
digunakan perbesaran 10 x 45. Digambar dan diberi keterangan!
7. Diambil daun Hibiscus tiliaceuss (waru), dibuat preparat sayatan daun seperti kegiatan 2.
Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10. Diperhatikan adanya trikomata!.
Digambar bagaimana bentuk trikomata! Jika kurang jelas maka digunakan perbesaran 10 x
45. Digambar dan diberi keterangan!
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Rhoe Discolor

4.1.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan Rhoe discolor yaitu:

4.1.2 Gambar Pengamatan

Gambar hasil Gambar Literatur

c
a
b
c

(Khairani, 2020)
Keterangan: Keterangan:
a. Sel tetangga a.Sel tetangga
b. Sel penjaga b. Sel penutup/ penjaga
c. Celah c. Celah
Perbesaran 400x

4.1.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae

Divisi :Spermatophyta

Kelas :Monocotyledoneae
Ordo :Rhizophorales

Famili :Rhizophoraceae

Genus :Rhoeo

Spesies : Rhoeodiscolor

(Dalimartha, 2003, dalam Kandowangko, 2011)

4.1.4 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada Rhoe discolor dengan perbesaran 400x
maka terlihat stomata pada epidermis daun. Stomata yang diamati berupa celah sempit yang
diapit oleh dua sel yang dapat disebut sel penjaga atau sel penutup. Pada masing-masing sel
penjaga dikelilingi oleh sel epidermis yang disebut sel tetangga. Dengan adanya stomata maka
dapat dibuktikan bahwa pada Rhoe discolor ini terdapat sebagian bentuk khusus dari epidermis
(derivate epidermis).

Stomata pada jaringan epidermis daun Rhoeo Discolor ini mempunyai dua sel penutup
yang sejajar dengan sel tetangganya. Oleh sebab itu, jenis stomata pada daun Rhoeo Discolor ini
yaitu termasuk jenis parasitic. Menurut Haryanti (2010), Parasitik/Rubiaceous yaitu tiap sel
penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya sejajar dengan
sumbu sel tetangga dan apertur, terdapat pada Rubiaceae dan Magnoliaceae

4.2 Zea mays

4.2.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan terhadap derivat epidermis Zea mays yaitu:

4.2.2 Gambar pengamatan

Gambar hasil Gambar literature


(Juarez, Twigg, & Timmermans, 2004)
Keterangan: Keterangan:
a. Sel kipas a. Bulliform cells Zea mays
Perbesaran 400x

4.2.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae

Divisi :Magnoliophyta

Kelas :Liliopsida

Ordo :Cyperales

Famili :Poaceae

Suku :Andropogoneae

Genus : Zea

Species : Zeamays

(Shah et al., 2016)

4.2.4 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada epidermis Zea mays dengan perbesaran
400 kali, maka dapat ditemukan adanya derivate epidermis berupa sel kipas. Hal ini didukung
dengan adanya penyataan bahwa rumput-rumputan dan banayak monokotil mempunyai
epidermis daun yang mempunyai sel dengan bentuk sel kipas. Sel kipas merupakan sederet sel
yang lebih besar daripada sel epidermis lainnya, berdinding tipis, bervakuola besar dan berisi air.
Fungsi sel kipas sendiri adalah melindungi jaringan di bawahnya agar tidak mengalami
kerusakan akibat kehilangan air yang lebih besar serta membuka dan menutupnya daun dalam
proses penggulungan daun (Zou et al. 2011)

Sel kipas ini mengandung banyak air, tanpa atau hampir tidak mengandung kloroplas dan
hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak ada kutikula. Oleh sebab itu sel ini akan kehilangan
air melalui transpirasi lebih cepat daripada sel epidermis lainnya. Saat terjadi kekurangan air,
tekanan turgor pada sel ini menurun dan memungkinkan daun menggulung ke dalam (Salisbury
dan Ross 1992; Kurniasih dan Wulandhany 2009)

4.3 Dendrobium sp

4.3.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan pada derivat epidermis Dendrobium sp yaitu:

4.3.2 Gambar pengamatan

Gambar pengamatan Gambar literature

a
a

(Joca et al., 2017)


Keterangan: Keterangan:
a. Velamen a. Velamen
Pembesaran 400x Pcort : Cortical parenchyma
4.3.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Devisi :Spermatophyta
Kelas :Monocotyledoneae
Ordo :Orchidales
Suku :Epidendreae
Genus :Dendrodium
(Yubu et al., 2018)

4.3.4 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan derivate epidermis pada Dendrobium sp dengan perbesaran 400


kali, dapat ditemukan adanya velamen. Velamen adalah derivat epidermis yang terdapat pada
epidermis akar gantung tumbuhan epifi t, seperti anggrek. Velamen tersusun dari sel-sel mati.
Velamen beserta epidermisnya disebut epidermis ganda. Fungsi dari velamen adalah untuk
menimbun air yang diperolehnya dan mengikat oksigen.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Sari (2017) bahwa akar anggrek mempunyai velamen
yang terdiri dari beberapa lapis sel yang berongga dan transparan serta merupakan lapisan
pelindung pada sistem saluran akar. Velamen berfungsi melindungi akar dari kehilangan air
dalam proses transpirasi. Akar anggrek terutama yang epifit, diselubungi velamen, yaitu lapisan
sel berdaging yang berperan dalam penyerapan dan penyimpanan air (Arditti, 1992, dalam
Sugiyarto, Ummiyatie, & Henuhili, 2016)

4.4 Solanum melongena

4.4.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan derivat epidermis pada Solanum melongena yaitu:

4.4.2 Gambar pengamatan

Gambar pengamatan Gambar literature


a

(Dewi, Hindun, & Wahyuni, 2015)


Keterangan: Keterangan:
a. Trikoma a. Trikoma
Perbesaran 100x

4.4.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
Ordo :Solanales
Famili :Solanaceae
Genus :Solanum
Spesies : Solanum melongena L.
(USDA, dalam Sahetapy, 2012)

4.4.4 Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada struktur permukaan daun Solanum


melongena dengan perbesaran 100 kali, ditemukan adanya rambut-rambut halus yaitu trikoma.
Trikoma yang ditemukan pada permukaan daun Solanum melongena memiliki bentuk
menyerupai bintang atau bercabang banyak tanpa terlihat adanya kelenjar (non-glandular).
Pernyataan ini diperkuat dengan hasil penelitian Dewi, Hindun, dan Wahyuni (2015) bahwa
Spesies Solanum melongena atau biasa disebut tanaman terong ini memiliki jenis trikoma non
glandular berbentuk stellata dengan banyak lengan pada daunnya, dimana rata-rata terdiri dari 7-
8 lengan.

4.5 Hibiscus rosa-sinensis

4.5.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan derivate epidermis pada Hibiscus rosasinensis yaitu:

4.5.2 Gambar pengamatan

Gambar pengamatan Gambar literature

b
a

(Nickrent, 2013)

Keterangan: Keterangan:
a. Trikoma (non-grandular) a. Trikoma (non grandular)
b. Stomata b. Stomata
Perbesaran 400x

4.5.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae

Divisi :Spermatophyta

Kelas :Dicotyledoneae
Ordo :Malvales

Famili :Malvaceae

Genus : Hibiscus

Spesies : Hibiscus rosa sinensis L.

(Chintiayusuf, 2019)

4.5.4 Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derivate epidermis pada Hibicus rosa-sinensis


dengan perbesaran 100 kali, dapat ditemukan adanya trikoma dan stomata. Trikoma pada
Hibiscus rosa-sinenis ini berbentuk menyerupai bintang dan tidak adanya kelenjar (non
grandular). Trikoma non glandular umumnya dikenal sebagai sel-sel yang tidak menghasilkan
sekret yang berfungsi sebagai pelindung fisik dengan melindungi tanaman dari kerusakan akibat
serangga, mengurangi atau menjaga suhu daun, dan mencegah penguapan (Parker et al., 2014)

Selain trikoma, terdapat juga stomata. Stomata pada Hibiscus rosa-sinensis ini tidak
terlihat jelas sehingga susah untuk diamati. Namun, kita dapat mengidentifikasi tipe stomata
melalui gambar literature. Pada gambar literatur dapat diketahui bahwa stomata pada Hibiscus
rosa sinensis memiliki tipe Anisositik. Pernyataan ini didukung oleh penelitian (Hidayat, 2013)
bahwa pada species H. acetocella mempunyai tipe stomata yang sama pada bagian abaxial dan
adaxial epidermis daun yaitu anisositik. dimana setiap sel penutup dikelilingi oleh tiga buah sel
tetangga yang ukurannya tidak sama besar (Fahn, 1995). Begitu juga tipe stomata yang
ditemukan pada bagian abaksial H. rosa-sinensis L., sedangkan pada bagian adaksial tidak
ditemukan stomata.

4.6 Hibiscus tiliaceus

4.6.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan derivate epidermis pada Hibiscus tiliaceus yaitu:

4.6.2 Gambar Pengamatan


Gambar pengamatan Gambar literature

(Hidayat, 2013)

Keterangan: Keterangan:
a. Trikoma (berbentuk bintang atau bercabang a. Trikoma (Berbentuk bintang atau bercabang
banyak) banyak)
Perbesaran 100x

4.6.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae

Divisio :Magnoliophyta

Classis :Magnoliopsida

Ordo :Malvales

Familia :Malvaceae

Genus : Hibiscus

Spesies : Hibiscus tiliaceus L.

(Hairiani et al., 2018)

4.6.4 Pembahasan
Berdasar hasil pengamatan derivat epidermis pada Hibiscus tiliaceus dengan pembesaran 100
kali dapat ditemukan adanya trikoma. Trikoma pada permukaan daun Hibiscus tillaceus ini
berbentuk menyerupai bintang dan termasuk trikoma non grandular.

Hal ini sesuai dengan penelitian Hidayat (2013) bahwa Adapun tipe trikoma yang dimiliki H.
tiliaceus yaitu trikoma non-glandular dengan tipe bintang. Trikoma non-glandular berfungsi
sebagai pelindung fisik tanaman terhadap tekanan biotik dan abiotik, membentuk penghalang
mekanis terhadap kelembaban rendah, intensitas cahaya tinggi dan suhu tinggi, serta aktivitas
makan serangga dan oviposisi serangga (Tozin et al., 2016)

4.7 Ficus elastica

4.7.1 Hasil pengamatan

Hasil pengamatan derivat epidermis dari Ficus elastica yaitu

4.7.2 Gambar Pengamatan

Gambar hasil Gambar literature

(Bagi, 2016)
Keterangan: Keterangan:
a. Litokis a. Trikoma
Perbesaran 400x
4.7.3 Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Division :Tracheophyta
Class :Magnoliopsida
Ordo :Rosales
Family :Moraceae
Genus :Ficus
Spesies : Ficuselastica
(Ginting, 2020)

4.7.4 Pembahasan

Dari hasil pengamatan derivate epidermis pada Ficus elastica dengan perbesaran 400
kali, maka dapat ditemukan litokis. Litokis merupakan derivat epidermis yang terdapat di dalam
mesofil daun. Sel yang lebih besar dari epidermis normal dengan pertumbuhan khusus ke arah
dalam. Sel ini berisi kristal calsium karbonat yang disebut sistolis. Litokis dapat ditemukan
dalam bentuk papilla atau terlihat seperti rambut dan sebagian besar terjadi di lapisan epidermis
daun (Hani & Noraini, 2013).

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa spesies tanaman, dapat
disimpulkan bahwa epidermis merupakan jaringan terluar pada tumbuhan yang berfungsi dalam
proteksi maupun transportasi. Epidermis seringkali mengalami spesialisasi membentuk turunan
yang disebut dengan derivat epidermis yang memiliki fungsinya masing-masing. Derivat
epidermis diantaranya yaitu stomata, sel kipas, trikoma, litokis, velamen dan sebagainya.

Stomata pada spesies tanaman yang diamati memiliki perbedaan jenis atau tipe stomata,
yaitu parasitik pada tanaman Rhoeo discolor dan anisositik pada Hibiscus rosa sinensis.
Sedangkan pada trikoma, ditemukan jenis atau tipe trikomata yang sama yaitu berbentuk bintang
(stellate) yang memiliki banyak cabang serta tidak memiliki kelenjar (non-glandular) seperti
pada spesies tanaman Hibiscus tiliaceus, Hibiscus rosa sinensis dan Solanum melongena.
Sedangkan sel kipas dapat ditemukan pada Zea mays, litokis pada Ficus elastica serta velamen
pada Dendrobium sp.

5.2 Saran

Pada pengamatan yang dimana hanya menggunakan metode dengan mencari gambar
literature dan sumber dari asisten praktikum, sangat diperlukan adanya modul sebagai bahan ajar
praktikum yang lengkap dan jelas dan juga diperlukan adanya sumber literature yang akurat agar
bisa memahami praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi Veni Puspita, dkk. 2015. Studi Trikoma Daun Pada Famili Solanaceae Sebagai Sumber

Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia. 1(2) : 209-218


Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM press

Fajri Laila, 2013, Tipe Trikoma dan Stomata Pada Beberapa Species Hyptis (Labiatae),

Universitas Negeri Padang

Hidayat Zul. 2013. Tipe Trikoma Dan Stomata Pada Daun Dari Beberapa Species Hibiscus

(Malvaceae). Universitas Negeri Padang

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji . Bandung: ITB

Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung: ITB

Kalemullah, M., Jiyauddin, K., dkk. 2017. Development and Evaluation of Ketoprofen Sustained

Release Matrix Tablet using Hibiscus Rosa-Sinensis Leaves Mucilage. Saudi

Pharmaceutical Journal. 25 (5) : 770-779

Loveless A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik Jilid I. Jakarta:PT

Gramedia Utama

Shakir, Hassan M., Baji S. H. 2016. Anatomical Study Of Some Characters In certain Species of

Genus Ficus L. Growing in Iraq. Jurnal Of Biology, Agriculture, and Healthcare. 6(12) :

98-105

Venkateshwar C., Rao S. Gangadhar, Kumar R. Suman. 2013. Epidermal Study Of Medicinal

Plants With Special Reference To Identification, Adulteration, and Authentification Of

Crude Leaf Drugs. India: Osmania University. Annals Of Phytomedicine an

International Jurnal. 2(1) : 115-125


LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai