Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

POST PARTUM DENGAN SECTION CAESARIA

INDIKASI LETAK SUNGSANG

Disusun Oleh

 Leski Candra, Am.Kep


PO 71202210054

Dosen Pembimbing
Netha Damayantie, Ners, M.Kep.

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN JAMBI
JURUSAN PROFESI NERS
JAMBI 2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Istilah sectio caesarea (SC) berasal dari bahasa latin caedere yang berarti memotong
atau menyayat. Dalam ilmu obstetrik, istilah tersebut mengacu pada tindakan
pembedahan yang bertujuan melahirkan bayi dengan membuka dinding perut dan rahim
ibu (Todman, 2007; Lia et.al, 2010). Menurut Amru sofian, (2011) SC adalah suatu cara
melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan
perut; seksio sesarea juga dapat didefinisikan sebagai suatu histerotomia untuk
melahirkan janin dari dalam rahim.
Tindakan SC dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan
resiko pada ibu ataupun pada janin seperti proses persalinan normal lama atau kegagalan
proses persalinan normal, plasenta previa, panggul sempit, distosia serviks, pre eklamsi
berat, ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini, janin letak
lintang, letak bokong, fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Menurut
Solehati & kosasih, (2013), masalah yang biasanya muncul setelah dilakukannya operasi
SC antara lain: terjadinya aspirasi (25-50%), emboli pulmonari, perdarahan, infeksi pada
luka, infeksi uterus, infeksi pada traktus urinarius, cedera pada kandung kemih,
tromboflebitis dan gangguan rasa nyaman nyeri. Apabila masalah-masalah tersebut tidak
segera diatasi, maka masalahnya menjadi panjang dan dapat menimbulkan masalah baru
seperti: pembentukan adhesion (perlengkatan), obstruksi usus, kesulitan penggunaan
otot untuk sit-up, dan nyeri pelvik.
Pada kasus post SC masalah yang sering muncul setelah tindakan operasi SC adalah
nyeri. Rasa nyeri adalah pengalaman sensori tidak menyenangkan. (Smeltzer, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Mutia Anwar dkk (2018) pada pasien post
SC sesudah pemberian aromatherapi lavender mengalami penurunan skala nyeri dari
rerata 6.92 menjadi 3.83, dan dengan min-max 3- 5. Salah satu metode untuk mengatasi
nyeri secara nonfarmakologi adalah terapi relaksasi autogenik).
BAB II
KONSEP PENYAKIT

A. DEFINISI

Seksio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut ( Nurarif. 2015)
Sectio Caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu
insisi dinding depan perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh
serta berat janin diatas 500 gram ( Sarwono. 2012)
Sectio caesaria adalah tindakan untuk melahirkan bayi melalui pembedahanabdomen
dan dinding uteru ( Nugroho, Taufan. 2012)

B. ETIOLOGI SECTIO CAESAREA


1. Etiologi yang berasal dari ibu
yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan letak
ada disporposri sefolo paluk 9 disproposri janin/panggul) ada sejarah kehamilan dan
persalinan yang buruk terdapat kesempitan panggul) ada sejarah kehamilan dan
persalinan yang buruk terdapat kesempatan panggul plasenta prena terutama pada
primagravia, solustio atas permintaa I-II komplikkasi kehamilan yaitu preeklasia-
esklamia atas permintaan kehamilan yang disertai penyakit ( Jantung Dm) Gangguan
perjalanan persalianan ( KistaOvarium, Miomi Uteri dan Sebagainya)
2. Etiologi yang berasal dari janin
Fatal distress/gawat janin mal preesentasi dan mal posisi kedudukan janin,prolupus
tali pusat dengan pembukaan kecil kegagalan persalinan vakum atau forsep
ekstrasksi ( Nurarif. 2015)
C. KLASIFIKASI

1. Nyeri akibat dari luka pembedahan


2. adanya luka insisi pada bagian abdomen
3. fundur uterus kontaksi kuat dan terletak di lemitikus
4. aliran trakea sedang batas beluan berlebih ( clehea tidak banyak)
5. kekurangan darah selama proses pembedahan kira 600-800 ml
6. terpasang kateter urinania
7. auskultasi bising usus
8. pengaruh anastesi dapat menimbulkan mual dan muntah
9. pada kelahiran sc tidak direncakan maka biasanya kurang paham
10. banding 1 attcachemen pada anak yang baru dilahirkan ( Green,2012)
D. PATOFISIOLOGI

Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 20 minggu dan mulai menurun
setal 40 minggu.hal ini dapat dibulatkan dengan penurrunan esi-roll dan
plasenta.rendahnya fungsi plasenta getaran dengan peningkatan kejadian gawat janin
dengan resiko 3 x permasalhan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup
memberikan nurtsisi dan 02 /CO2 akibat tidak timbul His sehingga pemasukan nurisi O2
menurun menujujanin berisiko asfiksia dapat mengakibatkan pertumbuhan janin makin
lambat dan penuruanan bb akibat dimatur sebagianjanin bertambah besar sehingga
memerlukan tindakan operasi persalinan, terjadi perubahan metabolisme janin. jumlah
air ketuban berkurang dan semakin kental menyebabkan perubahan abnormal jantung
janin. (Winkjasoro.2016
E. PATHWAY
F. KOMPLIKASI
1. Infeksi Pcireperalis
komplikasi ini besifat ringan seperti kehamilan suhu selama beberapa hari dalam masa
nifas atray dapat juga bersifat sepsi dll, infeksi post sc terjadi apabila sebelum
pembedahan sudah ada gejala infeksi interpartum atau faktor yang merupakan
prediposisi terjadap kelahiran itu lama khusunya setelah ketuban pecah tindakan
vaginal sebelumnya ) bahasa infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotik
tetapi hal ini lebih berbahaya dari pada sctranus premotertis prorida
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul waktu pembedahan jika cabang insfeksi uteri ikut
terbuka atau karena atomi uterus
3. Luka kandung kemih
4. embolisme paru-paru
5. suartu komplikasi yang baru kemudian tampak bayi kurang kuatnya perut pada
dinding uterus sehingga pada kehamilan bisa terjadi ruptur uteri. ( Green. 2012)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemantauan terhadap kesehatan janin
2. pemantuan ekg
3. elektrolit
4. hemaglobin /hematokit
5. golongan darah
6. urinitalis
7. amonisoentari terhadap paru janin sesuai indikasi
8. pemeriksaan sinar x sesuai dengan indikasi
9. ultraound sesuai pesanan. ( Nurarif. 2015)

H. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medias
a. Analegetik diberikan setiap 3-4 jam bila diperlukan seperti asam mefenamat,
ketoralac tramadol
b. pemberian tranfuse darah bisa terjadi pastum yang hebat
c. pemberian antibiotik seperti cefotamin cefotiaxon dill
2. Konteresinsasi
3. pengaturan diet
4. penatalaksanaan keperawatan
a. Periksa cepar TTV setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit berikutnya
b. perdarahan dan urin dipantai secara ketat
c. mobilisasi
d. pada hari pertama op pasien harus turun tempat tidur
e. perawatan luka (Moctar. 2012)

I. Konsep Dasar Letak Sungsang


 Pengertian
Letak sungsang adalah janin yang letaknya memanjang membujur dalam rahim
kepala berada di fundus dan bokong berada di bawah (Reny, 2017). Letak
sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di
fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (Prawirohardjo,
2009)

 Etiologi
Bobot janin yang relative rendah hal ini menyebabkan janin bergerak bebas,
rahim yang sangat elastis membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga
minggu ke-37 dan seterusnya, hamil kembar, hidroamnion, hidrosefalus, plasenta
previa, panggul sempit.

 Klasifikasi
Letak bokong murni (frank breech) adalah letak bokong dengan kedua
tunkai terangkat keatas, letak sungsang sempurna (complete breech) adalah letak
bokong dimana kaki ada di samping bokong, letak sungsang tidak sempurna
(incomplete breech) adalah dimana selain bokong bagian yang terendah juga
kaki atau lutut, terdiri dari: kedua kaki: letak kaki sempurna (24%), satu kaki:
letak kaki tidak sempurna, kedua lutut: letak lutut sempurna (1%) satu lutut
tidak sempurna.

 Manifestasi Klinis
Pergerakan anak teraba oleh ibu dibagian perut bawah, dibawah pusat dan
ibu sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga. Pada saat dipalpasi
akan teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri, punggung anak
dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian-bagian kecil pada pihak yang
berlawanan. Di atas simfisis, teraba bagian yang kurang bundar dan lunak. Bunyi
jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat.

 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa letak sungsang
menurut Maryunani (2013) yaitu: USG (Ultrasonografi) untuk mengetahui
keadaan letak janin.
1. Anamnesa
Pergerakan anak terasa oleh ibu bagian perut bawah, ibu sering merasa
ada benda keras yang mendesak tulang iga dan rasa nyeri pada tulang iga
karena kepala janin.

2. Palpasi
Teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus, punggung dapat
teraba pada salah satu sisi perut bagian kecil pada sisi yang berlawanan di atas
sympisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.

3. Auskultasi
Denyut jantung janin (DJJ) sepusat atau ditemukan paling jelas pada
tempat yang lebih tinggi (sejajar atau lebih tinggi dari pusat).

4. Vagina toucher
Terbagi 3 tonjolan tulang yaitu tubera os ischii dan tulang os sacrum, anus
genetalia anak jika odema tidak terlalu besar dan dapat diraba.

5. Perbedaan antara letak sunsang dan kepala pada pemeriksaan


Jika anus posisi terendah maka akan teraba lubang kelic, tidak ada tulang,
tidak menghisap. Jika presentasei kaki maka akan teraba patella dan politeal.
Pada presentasi mulut maka akan teraba hisapan dijari, teraba rahang dan
lidah. Presentasi tangan dan siku : terasa jari panjang, tidak rata, patella (+)
(Rukiyah dan Yulianti, 2010)
 Penatalaksanaan
Persalinan Per Vaginam mempunyai syarat yang harus dipenuhi yaitu tidak
ada suspek panggul sempit, tidak ada kelainan jalan lahir, pembukaan harus
benar-benar lengkap, kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat
janin <3600 gram (Saifuddin, 2011). Terdapat tiga metode umum persalinan
presentasi bokong yaitu, metode bracht, manual aid (partial breech extraction),
ekstrasi sungsang (total breech extraction). Persalinan Per Abdominal (sectio
caesarea), sebelum dilakukan tindakan sectio caesarea lakukan pemeriksaan
USG untuk memastikan bahwa presentasi masih bokong.
Mengingat bahaya-bahayanya, sebaiknya persalinan dalam letak sunsang harus
dihindarkan. Untuk ibu bila pada waktu pemeriksaan antenatal dijumpai letak
sunsang menjadi letak kepala. Upaya-upaya tersebut adalah :
 Posisi knee chest
Tujuan nya untuk Membenarkan posisi sungsang janin ke arah posisi presentase
kepala secara alamiah, dengan pertimbangan kepala lebih berat dari bokong
sehingga dengan hukum alam akan mengarah kepintu atas panggul.

 Persiapan alat
a. Lantai beralas
b. Satu bantal tipis 24

 Pelaksanaan
a. Sikap
Posisikan tubuh tengkurap dengan bertumpu pada lutut dan lengan, rebahkan
dada sampai menyentuh lantai, kepala dimiringkan di atas lantai.
b. Anjuran
 Pada kehamilan sekitar 7-8 bulan
 Dilakukan 3-4 kali sehari selama 10 menit, seminggu kemudian periksa
ulang
 Bila letak janin berubah, posisi knee chest diulangi, bila berhasil perlu
difiksasi (diikat) dengan gurita atau stagen agar posisi janin tak berubah
kembali
J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
 Fokus Pengkajian
1. Pengkajian dasar : Anamnesia
2. Sirkulasi : kehilangan darah selama pembedahan
3. Sistem reproduksi
a. Abdomen : luka insisi, proses penyembuhan luka
b. Uterus : TFU, kontraksi letak fundus uteri
c. lochkea : jumlah warna, bau kaji adanya bekuan/tidak
d. vulva laktasi pengeluaran ASI kesulitan menyusui
4. Sistem gastrointestinal
bising usus diobservasi setiap 1-8 jam post sc
5. Sistem kardivaskuler
Ukur TD,N,S,Leukosit
6. Sistem geniforunaia
vesikurihas,usin warna bau
7. Ssitem muskulus kletata;
Kemampuan bergerak, respon terhadap rangsanganb, ambulasi dini
8. Sistem respirasi
Kasji RR, pola Serta jenis pernafasan
9. Psikologis
Penerimaan ibu terhadap bayi,IMD
10. Pemeriksaan Terhadap bayi baru lahir
11. Apgar SCORE. (Moctar.2012)

K. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b/d Agen Pencedera Fisik (D0077).
b. Resiko infeksi b/d Efek Prosedur Invasif (D0142)
c. Anxietas b/d Krisis Situasional (D0080)
L. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri akut b/d Agen Pencedera Fisik.
Tujuan : Nyeri dapat teratasi
Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan Keperawatan Selama 3x24 jam, diharapkan klien
dapat mengontrol nyeri, dengan KH :
1. Klien dapat mengetahui penyebab nyeri, onset nyeri.
2. Klien mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,
dan tindakan pencegah nyeri.
3. Klien melaporkan nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
4. Klien melaporkan nyeri dan pengaruhnya pada tubuh.
5. Klien mampu mengenal skala, intensitas, frekuensi dan lamanya episode
nyeri.
6. Klien mengatakan rasa nyaman setalah nyeri berkurang.
7. Tanda-tanda vital dalam batas normal.
8. Ekspresi wajah tenang.
Intervensi:
Manajemen nyeri :
1. Kaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi: Lokasi, karakteristik,
dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan
faktor-faktor presipitasi.
2. Ajarkan menggunakan teknik nonfarmakologi (misalnya: Nafas dalam,
teknik distraksi, atau massage).
3. Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan dari nyeri yang telah
digunakan.
4. Tingkatkan istirahat yang cukup.
5. Pemberian analgetik (Analgetic Administration):
 Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum
pengobatan.
 Berikan obat dengan prinsip 6 benar.
 Cek riwayat alergi obat.
b. Resiko infeksi Efek Prosedur Invasif
Tujuan: untuk mencegah dan mengatasi terjadinya infeksi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam resiko infeksi dapat
diatasi dengan kriteria hasil :
Kriteria Hasil:
1. Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
2. Suhu tubuh normal (36,5-37 C).
3. Nadi normal (70-80x/menit).
4. Tekanan darah normal (120/70 mmHg)
Intervensi:
Pengendalian infeksi
1. Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya: suhu tubuh, keadaan luka post
operasi, kondisi vulva, kelelahan dan malaise).
2. Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi (misalnya: usia lanjut,
status imun menurun, dan malnutrisi).
3. Pantau hygiene personal untuk perlindungan terhadap
infeksi.
4. Kolaborasi dalam pemberian terapi analgetik.
c. Anxietas b/d Krisis Situasional
Tujuan: Menurunkan tingkat kecemas pasien terhadap situasi yang dihadapi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan tingkat ansietas
menurun:
Kriteria Hasil :
1. Konsetrasi Meningkat
2. Pola tidur meningkat
3. Perilaku gelisah menurun
4. Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda ansietas
2. Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan
3. Pahami situasi yang membuat ansietas
4. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien
5. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
M. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah
direncanakan, mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah
tindakan keperawatan bedasarkan analisis dan kesimpulan perawat dan bukan atas
petunjuk tenaga kesehatan lain.Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan
yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas
kesehatan lain

N. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman
kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.
BAB III
TINJAUAN KASUS
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN JAMBI
JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI PRODI NERS
Jl. Dr. Tazar Buluran Kenali Telanai Pura Jambi. Telp. (0741) 65816

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PADA MASA INTRANATAL /PERSALINAN


TANGGAL PENGKAJIAN: 07/10/2021 NAMA MAHASISWA/I:Leski Candra
TANGGAL MASUK RS : 05/10/2021 NIM :PO71202210054
JAM MASUK : 23.00 TANDA TANGAN :
NO.REGISTER : 200975
NO. KAMAR : Melati II
RUANGAN : Kebidanan
DIAGNOSA MEDIS : G1 P0 A0 Post Sectio Caesarea Indikasi Letak Sungsang
A. PENGKAJIAN
I. BIODATA
1. Nama Ibu : Ny. J
2. Umur : 20 th
3. Agama : Islam
4. Pendidikan : SMA
5. Pekerjaan : IRT
6. Suku/Bangsa : Melayu
7. Alamat Rumah: Desa Teluk Panjang
8. Nama Suami : Tn. D
9. Umur : 22 th
10. Agama : Islam
11. Pendidikan : SMA
12. Pekerjaan : Petani
13. Alamat Rumah: Desa Teluk Panjang

II. Riwayat Kesehatan Sekarang


1. Keluhan Utama :
mengeluh Nyeri yang dirasakan oleh klien seperti disayat-sayat pada bagian abdomen,
kuadran kanan bawah dan kuadran kiri bawah, regio inguinalis dextra (region kanan
bawah) dan region inguinalis sinistral (region kiri bawah) dan nyeri pada bagian
abdomen tidak menyebar. klien merasakan nyeri yang menganggu kegiatan untuk
melakukan aktivitasnya. Nyeri muncul saat bergerak, hal yang memperbaiki
keadaanya adalah dengan berbaring dan istirahat. Skala nyeri 5
2. Pemeriksaan Awal :
a. Tanda – tanda vital :
TD: 120/90 mmHg, S: 36,4°C, RR: 22 x/i, N: 86 x/i
b. Pemeriksaan palpasi abdomen :
Terdapat luka jahitan SC ± 13 cm secara horizontal di kuandran kanan atas dan
kiri bawah, regio kanan bawah dan regio kiri bawah dan masih ditutup kassa,
pada saat di palpasi ada nyeri tekan, Tinggi fundus hasilnya adalah 2 jari di atas
umbilikus
c. Periksa dalam :
d. Pengeluaran pervaginam :
Terdapat lochea dengan Jumlah sedikit, Jenis rubra, Bau tidak sedap/ amis dan
daerah vulva tampak bersih
e. Kontraksi uterus :
Keras
f. Denyut Jantung Janin :
g. Status Janin :

Masalah Keperawatan : Nyeri akut b/d Agen Pencedera Fisik

III.Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

Kehamilan Persalinan Keadaan Anak Nifas KET


N JK/ ASI
O Kompli Umur Waktu Umur Kompli K
ANC Imunisasi Penolong TB/ S/d
kasi Kehamilan lahir Sekarang kasi B
BB Umur
               

       

G : 1, P :0, A : 0
IV. Riwayat Penyakit dan Operasi yang Dialami
-

V. Riwayat Kesehatan Keluarga (Ya/Tidak)


1. Penyakit DM :-
2. Penyakit Jiwa :-
3. Penyakit Asma :-
4. Kelainan Darah :.-

VI. Kelainan Psikolog Ibu (Ya/Tidak)


1. Kelahiran ini diharapkan : Ya
2. Dukungan dari suami dan keluarga : Ya

VII. Latar Belakang Budaya (Kepercayaan yang Berhubungan dengan Persalinan)


Suku Melayu, Agama Islam

VIII. Nutrisi
1. Nafsu Makan :.............................................................................
2. Makanan Pantang :.............................................................................
3. Banyak cairan yang masuk :.............................................................................
4. Komposisi makanan :.............................................................................
5. Masalah nutrisi :.............................................................................
IX. Eliminasi
1. BAB : Sudah/Belum, Konsistensi :...............................Frekuensi.......... kali
2. BAK : Frekuensi........................................................................................kali
3. Masalah Eliminasi :..........................................................................................................
B. Data Objektif (Pemeriksaan)
I. Umum
1. Kesadaran : Composmentis
2. Tanda Vital :
a. Tekanan Darah :120/90
b. Nadi :86x/i
c. Suhu :36.40c
d. Pernafasan :22x/i
3. Keadaan jantung dan paru-paru : Normal
4. BB 65. Kg TB 157cm

II. Rambut
1. Distribusi : Merata
2. Kelainan :-
3. Kebersihan : Bersih
III. Mata
1. Konjungtiva : Pucat
2. Sklera : Normal (putih)
IV. Mulut dan Gigi : Bersih
V. Leher : Tidak Ada pembesaran kelenjar
VI. Buah Dada :.................................................................................................................
1. Putting susu : Menonjol
2. Bentuk : Simetris
3. Hyperpigmentasi : -
4. Kolostrum :-
VII. Abdomen
1. Hyperpigmentasi : -
2. Palpasi secara leopold I :.........................................................................................
Palpasi secara leopold II :.........................................................................................
Palpasi secara leopold III :.........................................................................................

Palpasi secara leopold IV :.........................................................................................

3. Mc. Donald :.....................................................................................................


4. Auskultasi :
Kontraksi........................................................Lamanya.............................................

Intensitas..........................................................Frekuensi...........................................

VIII. Genetalia
Edema...........................................................Varises.......................................................
Tanda-tanda infeksi................................Pengeluaran pervaginam..................................

Warna..........................................Banyaknya...............................Bau..............................

IX. Pemeriksaan dalam jam...........................................................................................


1. Keadaan portio :.............................................................................
2. Keadaan ketuban :.............................................................................
3. Presentasi anak :.............................................................................
4. Petunjuk presentasi :.............................................................................
5. Penurunan bagian terendah :.............................................................................
6. Keadaan yang ditemukan
pada waktu pemeriksaan dalam :.............................................................................

..............................................................................

X. Pemeriksaan Panggul Dalam


1. Promontium :.........................................................................................
2. Conjuggata Diagonalis :.........................................................................................
3. Conjuggata Vera :.........................................................................................
4. Conjuggata obstetrica :.........................................................................................
5. Areus pubis :.........................................................................................
XI. Ekstremitas : Refleks............................................................Edema............................
XII.Pola Koping Mekanisme ...............................................................................................
XIII. Pemeriksaan Penunjang :
1. Darah :.................................................................................................................
HB :........................... Golongan
darah..................................HT.............................

WR/VDRE:.................................................................................................................

2. Urine :.................................................................................................................
Reduksi :.................................................Albumin.................................................

3. Pemeriksaan Diagnostic
USG :.................................................................................................................

RO :.................................................................................................................

XIV. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


APGAR SCORE

N Score Menit 1 Score Menit V KET


Yang Dinilai
O 0 1 2 0 1 2
1 Frekuensi Jantung              
2 Usaha Bernafas              
3 Tonus Otot              
4 Warna Kulit              
Reaksi Terhadap
5 Rangsangan              
TOTAL              

Yang Melakukan Pengkajian

(LESKI CANDRA)
PO 71202210054
Nama Mahasiswa : Leski Candra
NIM : PO 71202210054
Mata Kuliah : Maternitas
ANALISA DATA
KEMUNGKINAN
NO DATA MASALAH
PENYEBAB

1 Ds : Agen Pencedera Fisik Nyeri Akut


Pasien mengeluh Nyeri seperti disayat-sayat pada
bagian abdomen, Nyeri muncul saat bergerak
Do :
- Meringis sambil memegang bagian luka
operasi
P : Nyeri disebabkan luka bekas operasi
Q : Nyeri terasa seperti disayat - sayat
R : Nyeri dirasakan pada bagian abdomen
S : Skala nyeri 7 (sedang)
T : Nyeri lebih terasa ketika bergerak

- Terdapat luka jahitan SC ± 13 cm tertutup


kassa
- TTV
 TD :120/90mm/hg
 Nadi :86x/i
 Suhu :36.40c
 Pernafasan :22x/i
2 Ds : Prosedur Invasif Resiko Infeksi
Pasien mengatakan ada luka jahitan SC ± 13 cm
secara horizontal di kuandran kanan atas dan kiri
bawah, regio kanan bawah dan regio kiri bawah
dan masih ditutup kassa
Do :
- Terdapat luka jahitan SC ± 13 cm
- Nyeri tekan pada luka
- Luka tampak merah
- Luka bengkak
- Ada pus/nanah pada luka
- TTV
 TD :120/90mm/hg
 Nadi :86x/i
 Suhu :36.40c
 Pernafasan :22x/i
DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO TGL/JAM DIAGNOSA KEPERAWATAN PARAF

1 07-10-21 Nyeri Akut b/d Agen Pencedera Fisik


1530
2 07-10-21 Resiko Infeksi b/d Prosedur Infasif
1530

PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

NO DX TGL/JAM TINDAKAN KEPERAWATAN PARAF

1 07-10-21 Manajemen nyeri :


1600
 Mengkaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi:
Lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor
presipitasi.
 Mengajarkan menggunakan teknik nonfarmakologi
(misalnya: Nafas dalam, teknik distraksi, atau massage).
 Mengevaluasi tentang keefektifan dari tindakan dari nyeri
yang telah digunakan.
 Meningkatkan istirahat yang cukup.
 Berkolaborasi pemberian analgetik

2 07-10-21 Pengendalian infeksi


1630
 Memantau tanda/gejala infeksi (misalnya: suhu tubuh,
keadaan luka post operasi, kondisi vulva, kelelahan dan
malaise).
 Mengkaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi
(misalnya: usia lanjut, status imun menurun, dan
malnutrisi).
 Memantau hygiene personal untuk perlindungan terhadap
infeksi.
 Berkolaborasi dalam pemberian terapi analgetik.

EVALUASI

MASALAH TGL/JA
CATATAN PERKEMBANGAN PARAF
KEPERAWATAN M

Nyeri Akut b/d Agen 07-10-21 S : Klien mengatakan nyeri berkurang LC


1730
Pencedera Fisik O : wajah tampak tenang, dan bisa
beraktivifitas sendiri sedikit-sedikit

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan
Resiko Infeksi b/d 07-10-21 S : Klien mengatakan bekas luka nya masih LC
1800 tampak merah dan bengkak
Prosedur Infasif
O : Luka tampak baik, tanda – tanda infeksi
berkurang

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

MASALAH TGL/JA CATATAN PERKEMBANGAN PARAF


KEPERAWATAN M
Nyeri Akut b/d Agen 08-10-21 S : Klien mengatakan sudah tidak terasa nyeri,
1530 skala nyeri 2
Pencedera Fisik
O : wajah tampak tenang, dan bisa
beraktivifitas sendiri

A : Masalah teratasi

P : Intervensi selesai
Resiko Infeksi b/d 08-10-21 S : Klien mengatakan bekas luka nya sudah LC
1600 tidak tampak merah dan bengkak lagi
Prosedur Infasif
O : Luka membaik, tanda – tanda infeksi tidak
ada

A : Masalah teratasi

P : Intervensi Selesai
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN
INHALANSI AROMA TERAPI
A. PENGERTIAN
Pemberian inhalasi uap dengan obat/tanpa obat
B. TUJUAN
 Mengencerkan sekret agar mudah dikeluarkan
 Melonggarkan jalan nafas
C. Tahap Persiapan
 Persiapan Pasien
a. Memberi salam dan memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan
c. Menjelaskan langkah/prosedur yang akan dilakukan
d. Menanyakan persetujuan pasien untuk diberikan tindakan
e. Meminta pengunjung/keluarga meninggalkan ruangan
 Persiapan Lingkungan
Menutup pintu dan memasang sampiran
 Persiapan Alat
a. Alat Inhlasi
b. Air panas
c. Gelas 1 buah
d. tisu
 Tahap Pelaksanaan
a Mencuci tangan dan memakai handscoon
b Mengatur pasien dalam posisi duduk atau semifowler
c Mendekatkan peralatan Inhalasi ke bed pasien
d Mengisi gelas dengan air poanas dan teteskan 2 tetes aroma terapi ke dalam
gelas yang berisi air panas
e Menghidupkan dari alat inhalasi
f setelah sudah 20 menit stop menghirup aroma terapi
g Bersihkan mulut dan hidung dengan tissue
h Bereskan alat dan mencuci tangan
 Tahap Terminasi
a Evaluasi perasaan pasien
b Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
c Dokumentasi prosedur dan hasil observasi