Anda di halaman 1dari 22

METABOLISME KOMPONEN PANGAN

MINERAL MAKRO

DOSEN PENGAMPU : Mursyid, S.Gz., M.Si.

ANGGOTA KELOMPOK 3 :

1. Choryn Lorensa (J1A120006)


2. Andini Prastia Darmala (J1A120038)
3. Windika Pebryanti (J1A120022)
4. Andre Sigit Budiarjo (J1A120060)
5. Siti Sofia Purnama (J1A120076)

KELAS : R002

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani
sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Sholawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan kita nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang sempurna dan menjadi
rahmat bagi seluruh alam.

Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas
matakuliah Metabolisme Komponen Pangan dengan judul “ Mineral Makro ”. Disamping itu,
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.

Akhir kata, penulis memahami jika makalah ini tentu jauh dari kesempurnaan maka kritik dan
saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya kami di waktu-waktu mendatang.

Jambi, 17 November 2021

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . i

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii

BAB I PENDAHULUAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1

1. Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 1
2. Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
3. Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1

BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masalah Pendidikan . . . . . . . . . . . . . 2

Permasalahan Aktual Pendidikan di Indonesia . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi . . . . . . . .. . . . . . . . . . 5

Upaya Penanggulangan Permasalahan Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5

BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . 7

Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh
makhluk hidup di samping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin, juga dikenal
sebagai zat anorganik atau kadar abu. Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam
bentuk abu dalam bentuk senyawa anorganik sederhana.
Berbagai unsur anorganik (mineral) terdapat dalam bahan biologi, tetapi tidak
atau belum semua mineral tersebut terbukti esensial, sehingga ada mineral esensial
dan nonesensial. Mineral esensial yaitu mineral yang sangat diperlukan dalam proses
fisiologis makhluk hidup untuk membantu kerja enzim atau pembentukan organ.
Mineral nonesensial adalah mineral yang perannya dalam tubuh makhluk hidup belum
diketahui dan kandungannya dalam jaringan sangat kecil. Beberapa contoh mineral
esensial yaitu natrium, klor, kalsium, fosfor, magnesium, dan belerang, sedadankan
mineral non ensensial yaitu aluminium, boron, dan vanadium.
Ketersediaan mineral dalam tubuh dapat dipenuhi melalui konsumsi buah-
buahan, sayuran, daging, susu dan lain-lain. Selain melalui konsumsi makanan alami
tersebut, kebutuhan mineral juga dapat dipenuhi melalui konsumsi suplemen dalam
bentuk pil atau kapsul.
2. Rumusan Masalah
1. Apa itu mineral makro secara umum?
2. Kenapa mineral makro harus dikelompokkan?
3. Apa saja macam-macam mineral makro?
4. Bagaimana proses pencernaan mineral makro?
5. Bagaimana proses penyerapan mineral makro bagi tubuh?
6. Apa saja masalah yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan penyerapan
mineral makro?
7. Apa saja kelebihan dan kekurangan mineral makro?
3. Tujuan

Tujuannya adalah untuk mengetahui mineral makro, macam-macam mineral makro.


Untuk mengetahui proses pencernaan mineral makro, proses penyerapan mineral
makro, mmasalah yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan penyerapan
mineral makro.
BAB II

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN MINERAL MAKRO (sumber : buku ajar dasar ilmu gizi)

Mineral merupakan unsur kimia yang yang diperlukan tubuh dan berada dalam bentuk
elektrolit anion atau bermuatan negatif dan kation atau bermuatan positif (Azrimaidaliza
dkk, 2020). Secara garis besar mineral dikelompokkan menjadi 2, yaitu mineral makro
dan mineral mikro. Pengelompokkan tersebut didasarkan pada kebutuhan dan
ketersediannya dalam tubuh.

Mineral makro merupakan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah lebih
dari 100 mg/hari dan menyusun ≥ 0,05% BB tubuh total atau menyusun ≥ 6 gram pada
tubuh dengan BB 60 kg.

2. MACAM-MACAM MINERAL MAKRO (sumber PEBI4424 M1)


a. Kalsium (Ca)

Kalsium merupakan mineral dengan kandungan tertinggi dalam tubuh dan menyusun
1,5-2% berat badan orang dewasa. Hampir semua kalsium tubuh (99%) terdapat pada
jaringan keras seperti tulang dan gigi, dan hanya 1% kalsium yang ada pada jaringan
lunak. Tingkat penyerapan kalsium sangat dipengaruhi oleh status kalsium tubuh, apabila
kadar kalsium tubuh rendah maka penyerapannya akan tinggi. Pada usia muda
penyerapan kalsium lebih besar dibandingkan pada usia tua. Penyerapan kalsium juga
dapat meningkat dengan adanya vitamin C, vitamin D, dan protein. Sebaliknya,
penyerapan kalsium akan menurun dengan adanya zat inhibitor yaitu asam oksalat yang
umum terdapat pada bayam serta asam fitat yang banyak ditemukan pada dedak.
Cadangan kalsium terdapat pada tulang bagian ujung yang dinamakan simpanan labil.
Apabila kadar kalsium darah atau jaringan rendah maka simpanan tersebut akan dipakai.
Kalsium berfungsi untuk pembentukan tulang dan gigi, mengatur kontraksi otot termasuk
denyut jantung, berperan dalam proses pembekuan darah, dan sebagai katalis reaksi
bioligis (Azrimaidaliza dkk, 2020).

Kalsium banyak terdapat pada susu dan produk susu, seperti keju, es krim, yoghhurt,
dan sebagainya. Sumber kalsium lain juga terdapat pada ikan yang dimakan dengan
tulangnya (misalnya ikan kering). Pada pangan nabati kalsium banyak ditemukan pada
serealia dan kacang-kacangan. Sayuran hijau juga banyak mengandung kalsium, tetapi
bahan pangan ini juga mengandung fitat dan oksalat yang dapat menghambat penyerapan
kalsium.

Tabel 6.4. Nilai Kalsium Berbagai Bahan Makanan (mg/100 gram)

Bahan Makanan Mg Bahan Makanan Mg


Tepung Susu 904 Tahu 124
Keju 777 Kacang Merah 80
Susu Sapi Segar 143 Kacang Tanah 58
Yogurt 120 Oncom 96
Udang Kering 1209 Tepung kacang kedelai 195
Ten Kening 1200 Bayam 265
Sardines 354 Sawi 220
Telur Bebe, Telur
56 Daun Melinjo 219
Ayam
Ayam 54 Katuk 204
Daging Sapi 14 Salada Air 182

b. Fosfor (P)

Fosfor merupakan mineral terbanyak kedua setelah kalsium, yaitu menyusun 1 % dari
berat tubuh orang dewasa. Penyerapan fosfor terjadi pada usus halus terutama di bagian
jejunum sebagai ion bebas, dengan tingkat penyerapan ±70% dari fosfor yang
dikonsumsi. Sama halnya dengan kalsium fosfor merupakan zat utama pembentuk tulang
dan gigi. Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan pengendapan fosfor pada matriks
tulang. Fosfor juga berperan dalam pembentukan nukleoprotein yang menyusun bahan-
bahan nukleus dari sel-sel dan sitoplasma yang berfungsi dlaam pembelahan, reproduksi
dan pemindahan ciri-ciri yang turun-temurun. Fosfor merupakan bagian dari asam nukleat
DNA dan RNA. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komonen penyusun struktutal
dinding sel, dan sebagai fosfat organik, fosfor berperan penting dalam reaksi metabolisme
penghasil energi yaitu dalam bentuk AdeninTrifosfat (ATP). Pangan sebagai sumber
fosfor adalah pangan yang juga merupakan sumber protein, seperti daging, ayam, ikan,
telur, susu dan hasil olahannya, dan kacang-kacangan.
Tabel 6.5. Nilai Fosfor berbagai bahan makanan (mg/100 gram)

Bahan Makanan Mg Bahan Makanan Mg


Ayam 200 Kacang hijau 320
Daging sapi 170 Kelapa Tua 98
Telur ayam 180 Tahu 63
Telur bebek 175 Jagung kuning, pipil 256
Beras Setengah
Tepung susu 694 221
Giling
Susu kental manis 209 Tepung Terigu 106
Susu Sapi 60 Ros Putih 95
Keju 338 Biskuit 87
Ted Kering 1500 Kentang 56
Sardin (kaleng) 434 Mie Kering 47
Udang segar 170 Ketela Pohon 40
Ikan segar 150 Gula Kelapa 37
Kacang kedelai kering 585 Bayam 67
Kacang Merah 400 Daun Singkong 54
Kacang tanah terkelupas 335 Wortel 37
Tempe Kacang Kedelai Murni 154 Pisang Ambon 28

c. Sulfur (S)

Sulfur merupakan komponen semua jaringan tubuh, terutama jaringan yang tinggi
protein seperti keratin kulit, otot, rambut dan kuku. itu, sulfur juga merupakan unsur dari
hormon insulin, vitamin B, biotin, saliva, empedu, dan heparin dalam darah. Sulfur dalam
bentuk ikatan merupakan penyusun asam-asam amino metionin, sistin, dan sistein. Sulfur
merupakan penyusun asam amino esensial dan enzim, sehingga fungsi sulfur erat
kaitannya dengan fungsi protein. Sulfur juga merupakan penyusun insulin yang berperan
dalam mengatur gula darah. Bersama-sama dengan kalsium dan fosfor, sulfur juga
merupakan bahan penyusun tulang dan gigi.

Sulfur merupakan mineral yang secara alamiah ditemukan dalam berbagai bentuk di
dalam makanan. Sulfur juga digunakan dalam bentuk sulfat dan sulfit sebagai zat aditif
dalam berbagai pangan olahan (Azrimaidaliza dkk, 2020). Pada umumnya pangan sumber
sulfur juga merupakan pangan sumber fosfor, banyak terdapat pada kecambah, gandum,
dan kacang-kacangan, daging, jeroan, ayam, ikan, telur, serta susu dan produk susu.

d. Kalium (K)

Kalium merupakan integral sel yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yaitu setiap
pertambahan berat badan 0,5 kg diperlukan 1050 mg kalium (Azrimaidaliza dkk, 2020).
Kalium banyak terdapat di dalam sel. Kalium dalam sel berperan sebagai bagian dari
enzim, mempertahankan tekanan osmotik dan memelihara keseimbangan asam basa
dalam tubuh. Selain itu, kalium juga berperan dalam transmisi impuls saraf, pelepasan
insulin dan pankreas, dan bersama magnesium berperan sebagai pelemas atau pengendor
otot. Di dalam tubuh, kalium berada dalam bentuk ion bebas sel dan dalam enzim piruvat
kinase. Sumber kalium dapat diperoleh dari sayuran (kacang panjang dan mentimun) dan
buah-buahan (pisang, belimbing), kacang-kacangan dan biji-bijian, susu, ikan, kerang-
kerang.an, daging sapi, ayam, dagimg kalkun dan roti.

Tabel 3. Kandungan Kalium beberapa Bahan makanan (mg/100 gram)

Bahan Makanan Mg Bahan Makanan Mg


Beras Giling 241 Pepaya 221
Singkong 394 Mangga 214
Kentang 396 Durian 601
Kacang Tanah 421 Anggur 111
Kacang Merah 1152 Jeruk Mariis 162
Kacang Hijau 1132 Nenas 125
Kacang Kedelai 1504 Semangka 102
Jambu Monyet/biji 420 Selada 254
Kelapa 555 Bayam 461
Apokat 278 Tomat 235
Pisang 435 Wortel 245

e. Natrium (Na)

Natrium merupakan ion positif (Na+) utama dalam cairan ekstra seluler yang
menimbulkan tekanan osmotik untuk menjaga agar air tidak keluar dari darah dan masuk
ke dalam sel (Azrimaidaliza dkk, 2020). Adapun sumber utama natrium dalam pangan
adalah garam dapur (NaCl) dan sumber lainnya adalah penyedap makanan yaitu MSG
(monosodium glutamat) dan soda kue yaitu natrium bikarbonat. Secara alamiah natrium
ditemukan dalam jumlah yang kecil pada semua makanan, tetapi dalam jumlah besar
ditambahkan pada bahan makan olahan seperti daging, sereal, keju, roti, dan berbagai
macam makanan selingan atau snack.

Bahan Makanan Mg Bahan Makanan Mg


Daging 93 Margarin 950
Saping 11 Susu Kacang Kedelai 15
Hati 0 Roti Cekolat 500
Sapi 20 Roti Putih 530
Ginjal 0 Kacang Merah 19
Sapi 19 Kacang Mende 26
Telur 1 Jambu Monyet, Biji 26
Bebek 15 Selada 14
Telur 8 Pisang 18
Ayam 59 The 50
Ikan 13 Cokelat Manis 33
Ekor 1 Ragi 610

Tabel 6.2. Kandungan Natrium Dalam Bahan Makanan (mg/100g)

f. Clor (Cl)

Klor banyak terdapat di dalam cairan serebrospinal (mengalir di sekeliling otak) dan
cairan sekresi ke saluran pencernaan. Garam dapur merupakan sumber utama clor bagi
tubuh. Beberapa sayuran dan buah jugan mengandung klor. Sebagai bagian dari HCl, Cl
berfungsi menjaga keasaman lambung. Bersama dengan S dan P, Cl juga berperan dalam
mempertahankan keseimbangan asam basa dan cairan elektrolit dalam cairan
ekstraseluler tubuh, memelihara suasan asam dalam lambung sebagai bagian dari HCl,
dan diperlukan untuk bekerjanya enzim-enzim pencernaan.

g. Magnesium

Magnesium merupakan penyusun utama klorofil daun. Di dalam tubuh, sekitar 60%
magnesium berada pada tulang, 26% berada dalam otot, dan sisanya berada pada jaringan
lunak dan cairan tubuh. Magnesium merupakan kation terbanyak kedua setelah kalium
dalam cairan intraseluler. Magnesium memiliki peran dalam aktivasi enzim-enzim tubuh
pada reaksi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak menjadi energi. Magnesium
juga berperan dalam aktivasi enzim pada reaksi asam nukleat yang berfungsi dalam
sintesis, degradasi, dan stabilitas bahan gen DNA dalam sel. Fungsi lain dari magnesium
adalah mencegah kerusakan gigi. Magnesium berperan dalam menahan kalsium dalam
email gigi sehingga kebutuhan kalsium tetap terjaga. Dalam cairan ekstraseluler,
magnesium berperan dalam melemaskan saraf, relaksasi otot dan mencegah pembekuan
darah. Adapun sumber utama magnesium terdapat pada sayuran hijau, serealia, biji-bijian,
dan kacang-kacangan, serta daging, susu dan hasil olahannya

3. Proses Pencernaan pada Tubuh

Setiap makluk hidup membutuhkan makanan untuk bertahan hidup.


Makanan yang dikonsumsi tidak secara langsung bisa dimanfaatkan oleh
tubuh. Makanan akan melewati sistem pencernaan terlebih dahulu. Sistem pencernaan
adalah sistem tubuh yang terdiri dari saluran dan organ yang memecah molekul
makanan dari yang besar atau kompleks menjadi molekul makanan lebih kecil atau
sederhana sehingga dapat diserap ke dalam cairan plasma darah yang dimulai dari
mulut dan berakhir di anus. Berikut gambaran sistem pencernaan;

Gambar 1. Sistem pencernaan manusia

Saluran pencernaan terdiri dari: mulut, pangkal kerongkongan atau faring,


esofagus atau kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.
Masing-masing saluran pencernaan memiliki fungsi masing-masing dalam proses
pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Berikut gambaran saluran pencernaan;
Gambar 2. Saluran pencernaan manusia

1. Mulut

Proses pencernaan sudah dimulai di mulut. Di dalam mulut makanan secara


mekanik dipotong-potong menjadi bagian lebih kecil dengan bantuan gigi. Kemudian
lidah mencampur makanan dengan saliva atau air ludah yang membuat makanan
kasar menjadi lunak sehingga mudah untuk ditelan. Selain itu, saliva juga
mengandung enzim amilase yang membantu memecah pati atau karbohidrat. Di
dalam mulut terdapat katup epiglottis, yaitu katup antara tenggorokan dan
kerongkongan yang berfungsi untuk mencegah makanan masuk ke tenggorokan atau
paru. Makanan yang sudah ditelan dari mulut dan sampai ke esophagus dinamakan
bolus.

2. Esopagus

Esofagus memiliki panjang kurang lebih 20 cm. Esofagus akan membasahi


makanan yang masuk dari mulut dengan mucus atau lendir dan mendorongnya sampai
ke lambung dengan gerakan peristaltik. Gerakan peristaltik adalah gerakan (kontraksi
dan relaksasi) yang terjadi pada otot-otot saluran pencernaan secara terus-menerus
yang menimbulkan gerakan semacam gelombang sehingga menimbulkan efek
mendorong makanan ke bawah.

3. Lambung
Gambar 3. Sistem pencernaan manusia pada lambung

Lambung mirip bentuk huruf J terletak di sebelah kiri bagian perut. Sekat
antara esofagus dan lambung dinamakan katup kardiak, dan antara lambung dan usus
halus dinamakan katup pilorus. Katup ini berfungsi untuk mengontrol masuk dan
keluarnya makanan dari lambung. Bolus yang masuk dari esofagus akan ditahan
sebentar oleh lambung dibagian atas dan sedikit demi sedikit akan dicampur dengan
getah lambung dan menggilingnya menjadi semi cair. Bolus yang sudah menjadi semi
cair ini dinamakan kimus. Getah lambung mengandung enzim yang akan memecah
protein dan lemak. Enzim pencernaan karbohidrat (amilase) yang ikut tertelan
bersama makanan dari mulut tidak berfungsi di lambung karena PH lambung sangat
rendah atau asam. Asam lambung (HCL) berguna untuk membunuh sebagian besar
bakteri yang masuk bersama makanan.

4. Usus Halus

Umumnya pencernaan karbohidrat, protein, dan lemak terjadi di usus halus.


Usus halus memiliki panjang kurang lebih 7 meter, yang terdiri dari: Duodenum (usus
12 jari), Yeyenum (usus kosong), dan Ileum (usus penyerapan). Getah pangkreas yang
dialirkan ke usus halus yang mengandung sodium bikarbonat akan menetralkan
kembali pH makanan yang masuk dari lambung. Usus halus menghasilkan getah usus
yang mengandung enzim pencernaan:

● Peptidase, merupakan kelompok enzim yang memecah


● polipeptida menjadi asam amino.
● Maltase, lactase, dan sukrase merupakan enzim yang memecah disakarida
(maltosa, laktosa dan sukrosa) menjadi monosakarida enzim – enzim tersebut
disebut juga disakase.
● Lipase usus, merupakan enzim yang memecah lemak menjadi asam lemak dan
gliserol.
● Erepsinogen, merupakan proenzim yang diaktifkan oleh enterokinase menjadi
erepsin yang mengubah peptone menjadi asam amino
● Enterokinase, merupakan enzim yang mengaktifkan tripsinogen menjadi
tripsin dan erepsinogen menjadi erepsin.
5. Usus Besar

Usus besar memiliki panjang kurang lebih 1,5 meter. Ileocecal valve adalah
katup antara usus halus dan usus besar. Usus besar akan menyerap kembali air dan
garam-garam mineral yang masih dibutuhkan tubuh. Usus besar merupakan tempat
berkembangnya bakteri pencernaan dan memfermentasikan serat atau merombak sisa-
sisa makanan sehingga membentuk feses. Proses perombakan sisa makanan ini
dibantu oleh bakteri usus Escherichia coli. Apabila jumlah bakteri tersebut melebihi
kondisi normal, maka akan dapat menimbulkan penyakit, seperti diare. Dengan
adanya perombakan sisa makanan oleh bakteri ini, maka dapat dihasilkan beberapa
vitamin seperti vitamin K, yang diperlukan dalam proses pembekuan darah. Usus
besar juga akan menyerap lebih banyak air agar feses sisa pencernaan tidak keras.

6. Rektum dan Anus

Rektum berfungsi untuk menyimpan sisa makanan/kotoran sebelum


dikeluarkan melalui anus.

4. Proses Penyerapan Mineral Makro

1. Natrium (Na)
Hampir seluruh natrium yang dikonsumsi (3 hingga 7 gram sehari) diabsorpsi,
terutama di dalam usus halus. Natrium diabsorpsi secara aktif (membutuhkan energi).
Natrium yang diabsorpsi dibawa oleh aliran darah ke ginjal. Disini natrium disaring
dan dikembalikan ke aliran darah dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan
taraf natrium dalam darah. Kelebihan natrium yang jumlahnya mencapai 90-99% dari
yang dikonsumsi, dikeluarkan melalui urine. Pengeluaran natrium ini diatur oleh
hormon aldosteron, yang dikeluarkan kelenjar adrenal bila kadar natrium darah
menurun. Aldosteron merangsang ginjal untuk mengabsorpsi kembali natrium. Dalam
keadaan normal, natrium yang dikeluarkan melalui urine sejajar dengan jumlah
natrium yang dikonsumsi. Jumlah natrium dalam urin tinggi bila konsumsi tinggi dan
rendah bila konsumsi rendah.
2. Klorida (Cl)
Klor hampir seluruhnya diabsorpsi di dalam usus halus dan diekskresi melalui
urin dan keringat. Kehilangan klor mengikuti kehilangan natrium. Kebanyakan
keringat dihalangi oleh aldosteron yang secara langsung berpengaruh terhadap
kelenjar keringat.
3. Kalium (K)
Kalium diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Sebanyak 80-90 %
kalium yang dimakan diekskresi melalui urin, selebihnya dikeluarkan melalui feses
dan sedikit melalui keringat dan cairan lambung. Taraf kalium normal darah
dipelihara oleh ginjal melalui kemampuannya menyaring, mengabsorpsi kembali dan
mengeluarkan kalium dibawah pengaruh aldosteron. Kalium dikeluarkan dalam
bentuk ion dengan menggantikan ion natrium melalui mekanisme pertukaran didalam
tubula ginjal.
4. Kalsium (Ca)
Dalam keadaan normal sebanyak 30-50 % kalsium yang dikonsumsi
diabsorpsi tubuh. Kemampuan absorpsi lebih tinggi pada masa pertumbuhan dan
menurun pada proses menua. Kemampuan absorpsi pada laki-laki lebih tinggi
daripada perempuan pada semua golongan usia. Absorpsi kalsium terutama terjadi di
bagian atas usus halus yaitu duodenum. Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat
berada dalam keadaan terlarut. Absorpsi kalsium terutama dilakukan secara aktif
dengan menggunakan alat angkut protein-pengikat kalsium. Absorpsi pasif terjadi
pada permukaan saluran cerna. Banyak faktor mempengaruhi absorpsi kalsium,
kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut-air dan tidak
mengendap karena unsur makanan lain, seperti oksalat. Kalsium yang tidak diabsorpsi
dikeluarkan melalui feses. Jumlah kalsium yang di ekskresi memalui urin
mencerminkan jumlah kalsium yang diabsorpsi. Kehilangan kalsium melalui urin
meningkat pada asidosis dan pada konsumsi fosfor tinggi. Kehilangan kalsium juga
terjadi melalui sekresi cairan yang masuk kedalam saluran cerna, dan melalui
keringat.
a. Faktor – faktor yang meningkatkan Absorpsi Kalsium
Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah persediaan kalsium dalam
tubuh semakin efisien absorpsi kalsium. Peningkatan kebutuhan terjadi pada
pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik
yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi
absorpsi kalsium. Penyerapan akan meningkat bila kalsium yang dikonsumsi
menurun.

Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium


melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi pada mukosa
usus dengan cara merangsang produksi protein-pengikat kalsium. Absorpsi kalsium
paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung
membantu absorpsi dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam
amino tertentu meningkatkan pH saluran cerna, dengan demikian memberi waktu
lebih banyak untuk absorpsi kalsium. Absorpsi kalsium lebih baik bila dikonsumsi
bersamaan dengan makanan.

b. Faktor – faktor yang menghambat Absorpsi Kalsium

Kekurangan vitamin D dalam bentuk aktif menghambat absorpsi kalsium.


Asam oksalat yang terdapat dalam bayam, sayuran lain dan kakao membentuk garam
kalsium oksalat yang tidak larut, sehingga menghambat absorpsi kalsium. Asam fitat,
ikatan yang mengandung fosfor yang terutama terdapat didalam sekam serealia,
membentuk kalsium fosfat yang juga tidak dapat larut sehingga tidak dapat
diabsorpsi.

Serat menurunkan absorpsi kalsium, diduga karena serat menurunkan waktu


transit makanan didalam saluran cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk
absorpsi. Stres mental atau stres fisik cenderung menurunkan absorpsi dan
meningkatkan ekskresi. Proses menua menurunkan efisiensi absorpsi kalsium. Orang
yang kurang bergerak atau lebih lama tidak bangkit dari tempat tidur karna sakit atau
usia tua bisa kehilangan sebanyak 0,5% kalsium tulang dalam sebulan dan tidak
mampu menggantinya. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya dekalsifikasi
tulang pada manusia lanjut usia (manula) yang dinamakan osteoporosis. Dalam
suasana basa bersama fosfor, kalsium membentuk kalsium fosfat yang tidak larut-air,
sehingga menghambat absorpsi. Obat-obatan tertentu dapat berpengaruh terhadap
kesediaan biologik kalsium atau meningkatkan ekskresi yang dapat menyebabkan
penurunan densitas tulang. Rasio fosfor terhadap kalsium yang tinggi dalam makanan
semula diduga dapat menurunkan absorpsi kalsium, karena pembentukan garam
kalsium fosfat yang tidak larut-air. Namun, bukti nyata terhadap anggapan ini hingga
sekarang belum ada.

5. Fosfor (P)
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus
setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85 – 90 % fosfor
berasal dari ASI. Sebanyak 65 – 70 % fosfor berasal dari susu sapi dan 50 – 70 %
berasal dari makanan dapat diabsorpsi oleh anak-anak dan orang dewasa. Bila
konsumsi fosfor rendah, taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor.
Fosfor dibebaskan dari makanan oleh enzim alkalin fosfatase di dalam mukosa
usus halus dan di absorpsi secara aktif dan difusi pasif. Absorpsi aktif dibantu oleh
bentuk aktif vitamin D. Sebagian besar fosfor didalam darah terutama terdapat
sebagai fosfat anorganik atau sebagai fosfolida. Kadar fosfor didalam darah diatur
oleh hormon paratiroid (PTH) yang dikeluarkan oleh kelenjar paratiroid dan oleh
hormon kalsitonin. Kedua hormon tersebut berinteraksi dengan Vitamin D untuk
mengontrol jumlah fosfor yang diserap, jumlah yang ditahan oleh ginjal, serta jumlah
yang dibebaskan dan disimpan didalam tulang. PTH menurunkan reabsorpsi fosfor
oleh ginjal. Kalsitonin meningkatkan ekskresi fosfat oleh ginjal. Konsumsi fosfor
yang relatif tinggi terhadap kalsium sehingga diperoleh perbandingan P : Ca yang
tinggi dalam serum akan merangsang pembentukan PTH yang mendorong
pengeluaran fosfor dari tubuh.
Fosfor sebagai bagian dari asam folat yang terutama terdapat didalam serealia
tidak dapat dihidrolisis, oleh karena itu tidak dapat diabsorpsi. Faktor-faktor makanan
lain yang menghalangi absorpsi fosfor adalah 𝐹𝑒 ++ , 𝑀𝑔 ++ , asam lemak tidak jenuh
dan antasid yang mengandung aluminium, karena membentuk garam yang tidak larut
air.
6. Magnesium (Mg)
Magnesium terutama diabsorpsi di dalam usus halus, kemungkinan dengan
bantuan alat angkut aktif dan secara difusi pasif. Pada konsumsi magnesium yang
tinggi hanya sebanyak 30% magnesium diabsorpsi, sedangkan pada konsumsi rendah
sebanyak 60%. Absorpsi magnesium dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama yang
mempengaruhi absorpsi kalsium kecuali vitamin D tidak berpengaruh. Bila kalsium
dalam makanan turun, absorpsi magnesium meningkat.
Didalam darah sebagian besar magnesium terdapat dalam bentuk ion bebas,
atau dalam bentuk molekul kompleks hingga molekul kecil. Keseimbangan
magnesium didalam tubuh terjadi melalui penyesuaian ekskresi magnesium melalui
urin. Seperti halnya fosfor, ekskresi magnesium meningkat oleh hormon tiroid,
asidosis, aldosteron serta kekurangan fosfor dan kalsium. Ekskresi magnesium
menurun karena pengaruh kalsitonin, glukagon dan PTH terhadap resorpsi tubula
ginjal. Demikian pula halnya pada hiperkalsemia dan hipermagnesemia. Karena
cairan lambung banyak mengandung magnesium, muntah berlebihan menyebabkan
kekurangan magnesium dalam jumlah besar.
7. Sulfur (S)
Sulfur diabsorpsi sebagai bagian dari asam amino atau sebagai sulfat
anorganik. Selain sebagai bagian dari asam amino metionin dan sistein, sulfur juga
merupakan bagian dari enzim glutation serta berbagai koenzim dan vitamin, termasuk
koenzim A. Dalam bentuk teroksidasi sulfur dihubungkan dengan mukopolisakarida
yang berperan dalam melarutkan sisa metabolisme sehingga bisa dikeluarkan melalui
urin (terutama sisa metabolisme hormon steroid dan obat-obat tertentu).

5. Masalah Yang Ditimbulkan Jika Kekurangan Atau Kelebihan Mineral Makro

Ada tujuh jenis mineral makro yang diuraikan di bawah ini, ketujuh mineral tersebut ialah
kalsium (Ca), fosfor (P), sulfur (S), kalium (K), natrium (Na), klor (Cl), dan magnesium
(Mg).

● Kalsium (Ca)

Kekurangan atau kelebihan konsumsi kalsium akan menyebabkan terjadinya metabolisme


yang tidak normal. Defisiensi kalsium dapat menyebabkan osteomalasia, sedangkan
kelebihan kalsium dapat menyebabkan hiperkalsemia, tetani, rigor kalsium. Osteoporosis
disebabkan oleh penurunan massa tulang akibat absorpsi kalsium yang kurang baik,
kurangnya jumlah kalsium dalam makanan yang berlangsung lama, peningkatan proses
resorpsi tulang (keluarnya kalsium dari tulang), dan terhambatnya proses klasifikasi
(masuknya kalsium kedalam matriks tulang). Penyebab terjadinya kondisi ini adalah
abnormalitas kinerja kelenjar paratiroid dalam resorpsi tulang, kegagalan sintesis matriks
kolagen dan imobilitas atau kehilangan stimulus estrogen dalam klasifikasi tulang.
Osteomalasia merupakan kondisi penurunan kualitas tulang. Keadaan ini biasanya terjadi
pada wanita yang tinggal di daerah sub tropis dengan intensitas sinar matahari rendah.
Mengkonsumsi obat-obatan anti konvulsif, atau kekurangan cadangan mineral kalsium akibat
kehamilan, dan menyusui dalam waktu yang lama. Hiperkalsemia ditandai dengan kadar
kalsium dalam darah yang sangat tinggi. Hal ini dapat terjadi jika asupan vitamin D yang
terlalu tinggi atau makanan dengan rasio Ca:P yang sangat tinggi. Hiperkalsemia dapat
ditanggulangi dengan cara mengurangi asupan vitamin D dibandingkan dengan menurunkan
jumlah kalsium dalam makanan.

● Fosfor (P)

Defisiensi fosfor sangat jarang terjadi. Namun terjadi karena menggunakan obat antacid
untuk menetralkan asam lambu ng, yang dapat mengikat fosfor sehingga tidak dapat
diabsorpsi. Kekuran gan fosfor juga terjadi pada penderita yang kehilangan banyak cairan
mel alui urin. Kekurangan fosfor mengakibatkan kerusakan tulang dengan gej ala lelah,
kurang nafsu makan dan kerusakan tulang.Bila kadar fosfor dar ah terlalu tinggi, ion fosfat
akan mengikat kalsium sehingga dapat menim bulkan kejang. Sementara itu, mengonsumsi
suplemen fosfor dosis tinggi dalam waktu singkat dapat mengakibatkan diare atau nyeri
lambung. Konsumsi fosfor dosis tinggi dalam waktu lama dapat menurunkan jumlah kalsium
dalam tubuh sehingga tulang lebih berisiko mengalami fraktur.

● Belerang (S)

Kecukupan sehari sulfur tidak ditetapkan dan hingga sekarang belum diketahui adanya
kekurangan sulfur bila makanan yang kita konsumsi cukup mengandung protein. Dampak
kekurangan sulfur bisa terjadi jika kekurangan protein. Kelebihan sulfur bisa terjadi jika
konsumsi asam amino berlebih pada hewan yang akan menghambat pertumbuhan.

● Kalium (K)

Defisiensi kalium akibat kurangnya konsumsi relatif jarang terjadi. Defisiensi kalium dapat
terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari diare dan muntah-muntah. Gejala yang timbul
adalah otot lemah, perut kembung, dan gangguan jantung. Konsumsi kalium yang berlebihan
dapat menimbulkan hiperkalemia. Pada kondisi ini dapat terjadi gangguan koordinasi otot
dan dalam keadaan berat, jantung dapat berhenti bekerja. Hal tersebut dapat terjadi akibat
ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkan kelebihan kalium dari tubuh.

● Natrium (Na)

Hiponatremia adalah gangguan elektrolit yang terjadi ketika kadar natrium (sodium) dalam
darah lebih rendah dari normalnya. Tidak normalnya kadar natrium ini dapat disebabkan oleh
banyak hal, mulai dari kondisi kesehatan hingga penggunaan obat-obatan tertentu. Konsumsi
garam terlalu banyak dapat meningkatkan tekanan darah dan hal ini berisiko terhadap
terjadinya stroke dan serangan jantung.

● Klor (Cl)

Kebutuhan Klor untuk orang dewasa per hari adalah 750 mg. Kekurangan klor bisa terjadi
pada saat muntah muntah, diare krooni , dan keringat berlebihan. Dan jika kelebihan juga
bisa mengakibatkan muntah.

● Magnesium (Mg)

Defisiensi magnesium dapat mengakibatkan muntah-muntah, waktu transit dalam saluran


cerna cepat, tidak terkontrolnya gerakan otot, (gemetar, kejang-kejang) dan klasifikasi
jaringan lunak. Kelebihan magnesium dalam tubuh di sebut hipermagnesemia, tetapi keadaan
ini jarang terjadi.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Mineral makro merupakan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah
lebih dari 100 mg/hari dan menyusun 0,05% BB tubuh total. Mineral makro terdiri
dari Kalsium (Ca), Fosfor (F), Sulfur (S), Kalium (K), Natrium (Na), Klor (Cl), dan
Magnesium (Mg). Fungsi mineral secara umum adalah mempertahankan
keseimbangan asam basa di dalam tubuh, sebagai komponen senyawa tubuh yang
esensial, sebagai katalisis reaksi reaksi biologis, memelihara keseimbangan air dalam
tubuh, transmisi impuls saraf, mengatur kontraktilitas otot dan pertumbuhan jaringan
tubuh. Mineral makro dibutuhkan bagi tubuh manusia kemudian dicerna pada sistem
pencernaan manusia yang terdiri dari mulut, esofagus, lamhung, usus halus, usus
besar, rektum dan anus. Tiap-tiap komponen mineral makro sebagian besar diserap
oleh usus halus kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui darah yang kemudian
diubah menjadi komponen yang diperlukan. Kekurangan maupun kelebihan mineral
makro pada tubuh manusia akan mengganggu sistem metabolisme tubuh.

2. Saran

Dalam pembahasan kami diatas, mineral merupakan bagian tubuh yang


memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, oleh karena itu perlu
diperhatikan keseimbangan cairan tubuh yang diperlukan dalam beraktifitas sehari-
hari khususnya mineral makro dimana berfungsi sebagai bagian zat yang aktif dalam
metabolisme atau sebagai struktur sel dan jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Azrimaidaliza, Resmiati, Famelia, W., Purnakarya, I., Firdaus, Yasirly, K., 2020. Buku Ajar
Dasar Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat, Journal of Chemical Information and
Modeling.

Furkon, L. A. (n.d). Mengenal zat gizi. Ilmu Kesehatan dan Gizi. Modul.

N, Ratna. Annisa., dkk. (2011). Mineral makro. Makalah. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Semarang.

https://yakestelkom.or.id/serba-serbi-kesehatan/mineral-makro

https://ners.unair.ac.id/site/lihat/read/649/kenali-macam-macam-mineral-yang-dibutuhkan-
oleh-tubuh

https://hellosehat-com.cdn.ampproject.org/v/s/hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/jenis-dan-
fungsi-
mineral/?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&amp=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D
%3D#aoh=16371562159045&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%
20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fhellosehat.com%2Fnutrisi%2Ffakta-
gizi%2Fjenis-dan-fungsi-mineral%2F