Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dokumen Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Propinsi DKI Jakarta adalah
dokumen kerja Gubernur Propinsi DKI Jakarta untuk masa kerja lima tahun mendatang.
Dokumen ini menjadi penting karena dalam masa lima tahun tersebut, Gubernur
berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya sesuai dengan
dokumen Perencanaan ini di hadapan DPRD.
Kepemimpinan dan pelaksanaan tugas seorang Gubernur Propinsi DKI Jakarta
dalam lima tahun ke depan memerlukan persetujuan DPRD. Dan Sesuai PP No. 108
tahun 2000, pada periode tertentu (tahunan atau lima tahunan) apa yang telah
dilaksanakan akan dievaluasi, sehingga seorang Gubernur dapat dinilai berhasil atau tidak
oleh DPRD. Evaluasi ini penting agar Pembangunan dapat berjalan secara lebih
sistematis, komprehensif dan tetap fokus pada pemecahan masalah-masalah mendasar
yang dihadapai Propinsi DKI Jakarta.
Dokumen Renstrada ini bersifat jangka pendek dan menengah namun tetap
diletakkan pada jangkauan jangka panjang, sehingga rumusan visi, misi dan arah
kebijakan pembangunan Propinsi DKI Jakarta untuk lima tahun mendatang menjadi
sangat penting dan strategis.
Usaha mewujudkan visi, misi dan arah kebijakan diatas perlu didukung dengan
strategi umum, yang kemudian diterjemahkan ke dalam program-program pembangunan
diuraikan kedalam kegiatan-kegiatan yang mendukung masing-masing program tersebut.
Strategi pembangunan Propinsi DKI Jakarta disusun dan disesuaikan dengan setiap
bidang di dalam Propeda Propinsi DKI Jakarta yang memiliki 8 bidang pembangunan
yaitu:
(1). Hukum, Ketentraman Ketertiban Umum dan Kesatuan Bangsa;
(2). Pemerintahan;
(3). Ekonomi;
(4). Pendidikan dan Kesehatan;
(5). Kependudukan dan Ketenagakerjaan;
(6). Sosial dan Budaya;
(7). Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup;
(8). Sarana dan Prasarana Kota.
Dokumen Renstrada memuat program-program strategis yang dibuat berdasarkan
strategi setiap bidang. Program-program strategis ditentukan semata-mata oleh strategi
dimana program itu dimasukkan dan tidak dipengaruhi oleh anggaran dibidang tersebut.
Hal ini disebabkan karena sebuah program disebut strategis tidak ditentukan oleh
kebutuhan anggaran yang besar, tetapi lebih ditentukan karena nilai strategis program
tersebut menurut kajian manajemen strategik, seperti melalui analisis SWOT.

1.2. Tujuan Dan Sasaran Penyusunan Renstrada


Tujuan dan sasaran penyusunan Renstrada adalah tersedianya suatu dokumen yang
strategik dan komprehensif yang menjamin adanya konsistensi perumusan kondisi atau
masalah daerah, perencanaan arah kebijaksaan, pembuatan strategi hingga pemilihan
program strategis yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Dengan demikian ini dapat
dijadikan acuan dan pegangan Gubernur Propinsi DKI Jakarta dan seluruh penyelenggara
pemerintahan daerah dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan.

1.3. Landasan Hukum Penyusunan Renstrada


Pelaksanaan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mulai
diberlakukan pada tahun 2001 menghendaki arah dan tujuan kebijakan pembangunan
daerah lebih banyak diletakkan pada kewenangan dan tanggungjawab pemerintah daerah
beserta masyarakatnya. Adanya pendelegasian tugas dan kewenangan penyelenggaraan
pemerintahan dari pusat ke daerah, secara inheren juga akan diikuti dengan pengaturan
dalam aspek pembiayaannya. Sehingga seringkali muncul istilah yang dikenal sebagai
hubungan keuangan antara pusat dan daerah, yang pelaksanaannya diatur oleh UU No.25
Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan
akan sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh proporsi tingkat pendelegasian tugas dan
kewenangan pemerintahan dari pusat kepada daerah.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah sebagai penyelenggara
pemerintahan memegang peranan penting dalam melaksanakan pembangunan bagi
kepentingan rakyatnya. Untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang mampu
menjalankan fungsi dan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab,
perlu diletakkan asas-asas penyelenggaraan negara. Landasan hukum yang diberikan
adalah UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, sehingga pemerintah daerah memiliki pedoman dalam
menjalankan tugas-tugasnya dan terhindar dari praktek-praktek korupsi, kolusi dan
nepotisme yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.
Jakarta sebagai Ibukota Negara memiliki peranan yang penting dalam mendukung
penyelenggaraan pemerintahan negara, oleh karena itu perlu diberikan kedudukan yang
khusus dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Hal ini diatur dalam UU No. 34 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia
Jakarta. Aspek-aspek pemerintahan yang diatur dalam Undang-Undang ini meliputi
kedudukan, pembagian wilayah, kewenangan pemerintahan, bentuk dan susunan
pemerintahan, pembiayaan dan kerjasama antar daerah.
Landasan hukum lainnya adalah Inpres No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah, Perda No. 3 Tahun 1997 tentang Teguh Beriman sebagai
motto Propinsi DKI Jakarta, Perda No.3 Tahun 2001 tentang Bentuk Susunan Organisasi
dan Tatat Kerja Perangkat Daerah dan Sekretariat DPRD Propinsi DKI Jakarta, Perda No.
8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi DKI Jakarta,
Perda No. Tahun 2002 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi DKI Jakarta,
Perda No. 9 Tahun 2002 tentang Program Pembangunan Daerah Propinsi DKI Jakarta.
Keseluruhan Perundang-undangan tersebut saling melengkapi dan bersama-sama
diletakkan sebagai landasan hukum Renstrada.
Renstrada merupakan dokumen perencanaan taktis-strategis yang menjabarkan
potret permasalahan pembangunan untuk memcahkan permasalahan daerah secara
terencana dan bertahap melalui sumber pembiayaan APBD setempat, dengan
mengutamakan kewenangan yang wajib disusun sesuai dengan prioritas dan kebutuhan
daerah. Penjelasan ini berdasarkan PP No. 108 Tahun 2000. Status Hukum Renstrada
sesuai Peraturan Pemerintah No. 108 Tahun 2000 pasal 4 (3). Ditetapkan dengan
Peraturan Daerah (Perda).
Renstrada memiliki sejumlah indikator sebagai berikut :
(1) Analisis tentang situasi, yang meliputi antara lain analisis potensi konflik
horisontal, gangguan kamtibmas serta dinamika dan friksi sosial politik yang
berkembang ditengah-tengah masyarakat;
(2) DRB dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, baik sektor-sektor ekonomi primer
yang membutuhkan kebijakan yang kondusif bagi pertumbuhannya maupun sektor-
sektor ekonomi kerakyatan yang menumbuhkan intervensi kebijakan berupa
pelaksanaan program dan kegiatan yang memihak pada masyarakat kurang mampu;
(3) Indeks Regional, seperti misalnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM),
tingkat pengangguran, angka kemiskinan, angka putus sekolah, gejala kerusakan
ekosistem, lingkungan hidup dan tata ruang;
(4) Kebijakan daerah jangka menengah, sebagaimana dijabarkan didalam Properda.
Rencana Strategis Daerah (Renstrada) berfungsi sebagai perencanaan taktis
strategis, yang disusun sesuai dengan kebutuhan daerah dengan mengacu pada Properda
serta indikator sebagaimana disebutkan diatas. Arah kebijakan penyelenggaraan daerah
dituangkan dalam Renstrada yang ditetapkan oleh Kepala Daerah bersama Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam lima tahunan. Selanjutnya, Renstrada dirinci
dalam Rencana Pemabangunan Tahunan Daerah (Repetada) yang memuat Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan ditetapkan oleh Kepala Daerah bersama
DPRD setiap tahun.

1.4. Pendekatan Dalam Penyusunan Renstrada


Dokumen Renstrada bersifat partisipatif yang penyusunannya melibatkan
stakeholders : wakil rakyat, masyarakat, pemerintahan kota, pengusaha, LSM dan lain-
lain. Metode partisipatif dinilai efektif dalam menjamin komitmen pemerintah daerah
terhadap kesepakatan program dan kegiatan pembangunan daerah. Partisipasi
stakeholders dalam penyusunan dokumen Renstrada dilakukan hingga saat
menjabarkannya ke dalam Repetada dan RAPBD. Dengan demikian, setiap program dan
kegiatan yang akan diselenggarakan dalam setiap tahun anggaran harus sesuai dengan
visi, misi dan arah kebijakan yang termaktub di dalam Renstrada. Dokumen Renstrada
juga dipakai untuk memperkuat landasan penentuan program dan kegiatan tahunan
daerah secara strategis dan berkelanjutan. Rencana Strategis Daerah dapat dikategorikan
sebagai dokumen manajerial wilayah yang bersifat komprehensif karena mampu
memberikan program-program strategis sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidang.
Penjelasan proses partisipatif dalam penyusunan Renstrada.
Guna mendukung pembuatan dokumen Renstrada, perlu dilakuakan pengkajian
analisis tentang situasi dan kondisi Propinsi DKI Jakarta, seperti potensi konflik
horisontal antar etnis, gangguan kamtibmas, masalah pendidikan, kesehatan,
pembangunan sarana dan prasarana daerah dan lain-lain. Disamping itu juga dilakukan
analisis tentang ekonomi Propinsi DKI Jakarta melalui analisis terhadap sektor-sektor
ekonomi di daerah yang bersangkutan. Analisis ini memberikan gambaran tentang
seberapa besar kebutuhan akan kebijakan yang kondusif bagi perekonomian, terutama
kebijakan yang mendukung pembangunan sektor-sektor ekonomi kerakyatan. Kebijakan
ekonomi kerakyatan ini membutuhkan intervensi kebijakan pemerintah seperti
pelaksanaan program dan kegiatan yang memihak pada masyarakat kurang mampu. Oleh
karena itu diperlukan perhitungan terhadap indeks-indeks ekonomi regional, seperti
misalnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tingkat pengangguran, angka
kemiskinan, angka putus sekolah, gejala kerusakan ekosistem, lingkungan hidup dan tata
ruang.
Keberhasilan usaha pemerintah daerah untuk mempertemukan antara keinginan
masyarakat dengan fakta kondisi daerah diukur melalui indikator perencanaan strategis
dari program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renstrada dievaluasi melalui
evaluasi kinerja Kepala daerah sesuai dengan PP No. 108 tahun 2000, dengan
memperhatikan indikator evaluasi kinerja yang disosialisasikan secara nasional melalui
modul pelatihan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). LAKIP
merupakan penjelasan dari Inpres No. 7 tahun 1999 tentang AKIP. Dalam mendukung
usaha ini, indikator perlu disepakati bersama antara pemerintahan. Hal ini menjadi
penting karena indikator pengukuran kinerja akan digunakan oleh DPRD untuk
mengukur kinerja tahunan Gubernur Propinsi DKI Jakarta di akhir masa jabatannya.

Adapun prinsip-prinsip dalam pembuatan perencanaan strategik yang juga


digunakan sebagai dasar penyusunan Renstrada adalah sebagai berikut :
1. Proaktif, bukan reaktif.

Dengan adanya perubahan dalam lingkungan yang semakin kompleks, maka perlu
melakukan perencanaan atas perubahan tersebut secara proaktif dan bukan reaktif.

2. Berorientasi output, bukan input .

Untuk mencapai keberhasilan dalam pengelolaan, maka perencanaan strategik


diperlukan agar dapat menuntun diagnosa organisasi kepada pencapaian hasil yang
diinginkan secara obyektif.

3. Visioner.

Perencanaan strategik yang dibuat harus berorientasi pada masa depan, sehingga
memungkinkan organisasi untuk memberikan komitmen pada aktivitas dan kegiatan di
masa mendatang.

4. Adaptif dan akomodatif.

Perencanaan strategik yang dibuat harus mampu melakukan penyesuaian terhadap


perkembangan yang muncul, sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada.

5. Berorientasi pelayanan prima.

Kepuasan pelanggan merupakan faktor penentu keberhasilan supaya tetap dapat


diterima masyarakat dan pelayanan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat.

6. Komunikatif dan partisipatif.

Implementasi perencanaan strategik akan dapat memfasilitasi komunikasi dan


partisipasi, mengakomodasi perbedaan kepentingan dan nilai, dan mendorong proses
pengambilan keputusan yang teratur serta keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.
BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Visi Dan Misi Pemprov DKI Jakarta


Guna menyamakan persepsi tentang arah dan kebijakan umum pembangunan, perlu
diketengahkan visi dan misi Propinsi DKI Jakarta. Dengan makin memahami visi dan
misi ini, diharapkan akan terbangun komitmen yang kuat dari pemerintah maupun warga
Jakarta untuk bersama membangun kotanya. Di sisi lain visi dan misi ini juga menjadi
acuan dalam merumuskan progam-program pembangunan baik untuk jangka pendek
(tahunan) maupun jangka menengah (lima tahunan).
2.1.1. Visi
“Terwujudnya Jakarta sebagai ibuktoa negara Republik Indonesia yang manusiawi,
efisien dan berdaya saing global, dihuni oelh masyarakat yang partisipatif, berakhlak,
sejahtera, dan berbudaya, dalam lingkungan kehidupan yang aman dan berkelanjutan”.
Pemahaman terhadap visi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Jakarta sebagai ibukota negara dan kota perdagangan dan jasa hendaknya
memiliki daya saing global dan mampu menjalankan fungsinya secara efisien,
sehingga representatif dipandang dari kepentingan nasional dan internasional.
b. Jakarta hendaknya dihuni warga kota yang sejahtera, berakhlak, berbudaya dan
berdisiplin tinggi, produktif serta memiliki kecintaan dan komitmen untuk
berpartisipasi dalam membangun kotanya.
c. Jakarta hendaknya memiliki penataan kota dan lingkungan yang baik dan
manusiawi, agar dapat lebih menjamin dinamika kehidupan berkelanjutan.

2.1.2. Misi
1. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana kota yang efisien, efektif,
kompetitif dan terjangkau.
2. Mewujudkan pembangunan yang adil, ramah lingkungan dan berbasisi
partispasi masyarakat.
3. Menegakkan supremasi hukum, meningkatkan keamanan, ketentraman dan
ketertiban kota.
4. Meningkatkan kualitas kehidupan dan kerukunan warga kota.
5. Melaksanakan pengelolaan tata pemerintahan kota yang baik.
Pemahaman terhadap misi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Untuk mampu berfungsi sebagai ibukota negara dan pusat perdagangan dan
jasa yang representatif, ketersediaan prasarana dan sarana kota yang memadai,
efisien dan efektif mutlak diperlukan, sekaligus menjamin berlangsungnya
kegiatan ekonomi dan investasi secara produktif.
b. Pada dasarnya pembangunan harus diarahkan secara lebih adil dan merata,
ramah lingkungan serta memberi peluang yang seluas-luasnya bagi partisipasi
masyarakat, agar tumbuh rasa memiliki dan komitmen dalam proses
pembangunan dan hasil-hasilnya.
c. Menegakkan supremasi hukum, keamanan, ketentraman dan ketertiban kota
disadari telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat dan pra-kondisi bagi
berlangsungnya pembangunan dan aktivitas kota yang lebih efisien dan produktif.
d. Kualitas kehidupan kota yang lebih baik dan kerukunan warga kota menjadi
pendorong bagi berlangsungnya berbagai aktivitas masyarakat secara lebih aman,
damai, harmonis dan sinergis.
e. Pengelolaan tata pemerintahan kota yang baik oleh aparatur yang profesional,
memiliki spirit, etos kerja dan komitmen tinggi serta didukung sistem informasi
handal, dapat lebih menjamin kinerja pemerintah dalam meningkatkan pelayanan
masyarakat, menciptakan kepastian hukum, transparansi dan akuntabilitas publik.

2.2. Arah Kebijakan Pemprov DKI Jakarta


Perjalanan pembangunan Propinsi DKI Jakarta mengalami pasang surut yang cukup
panjang. Berdasarkan penggalan waktu (periodisasi), perjalanan pembangunan tersebut
dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Periode 2001, masa penyembuhan kehidupan sosial, politik dan ekonomi
masyarakat, dengan program utama perbaikan infrastruktur dasar yang mendukung
bergeraknya kembali roda perekonomian Propinsi DKI Jakarta, disebut juga
Rescue-Recovery Program.
b. Periode 2002-2004, masa pemulihan kehidupan sosial, politik dan ekonomi
masyarakat, peningkatan kualitas SDM, penegakan supremasi hukum dan
peningkatan ketertiban umum, dengan program utama perbaikan infrastruktur
sosial-ekonomi dan peningkatan pelayanan publik, disebut juga Recovery Program.
c. Periode 2005-2007, masa pemantapan kehidupan sosial, politik dan ekonomi
masyarakat, peningkatan kualitas SDM dengan program utama penguatan
fundamental sosial dan ekonomi menuju pada kemandirian, kesejahteraan dan
berkelanjutan, disebut juga Stabili zation Program.

2.3. Strategi Pemprov DKI Jakarta


Strategi diperlukan untuk memperjelas arah dan tujuan pembangunan Propinsi DKI
Jakarta dalam 5 tahun ke depan. Strategi disusun berdasarkan faktor-faktor internal dan
eksternal daerah. Strategi sebagai pendekatan dasar akan mampu mendongkrak
perubahan pemerintahan secara bermakna. Karena itu, pilihan strategi yang tepat dalam
membangun Propinsi DKI Jakarta menjadi sangat penting. Dalam kaitan ini, digunakan 2
(dua) pendekatan implementasi sebagai “titik angkat” pembangunan Propinsi DKI
Jakarta yang akan dilaksanakan, yaitu :

1. Pendekatan partisipatif : Mewujudkan masyarakat kota yang mandiri dan


sejahtera melalui proses pemberdayaan, dengan mengedepankan prinsip
demokratisasi, kesetaraan dan keberpihakan pada masyarakat.

2. Pendekatan komprehensif, yaitu membentuk struktur ruang kota yang strategis


sesuai denagn kebutuhan dan kondisi wilayah/ kawasan, secara berkeadilan, ramah
lingkungan dan berkelanjutan.

Kedua pendekatan tersebut diimplementasikan secara sinergis, terintegrasi, bertahap


dan berkesinambungan.

Strategi merupakan alat penghubung antara Visi, Misi, Arah Kebijakan dan Pokok-
pokok Kebijakan Pembangunan dalam satu paket dengan strategi di setiap di setiap
bidang pembangunan. Strategi di setiap bidang Renstrada Propinsi DKI Jakarta dapat
dilihat dalam setiap bab dari bab 5 hingga bab 12 yang mencerminkan delapan bidang
Renstrada Propinsi DKI Jakarta. Strategi dilahirkan dari pengamatan setiap bidang
sehingga secara umum bersifat memayungi strategi di setiap bidang pembangunan
Propinsi DKI Jakarta. Strategi tersebut meliputi :

1. Menegakkan supremasi hukum dengan meningkatkan kapasitas kelambagaan,


meningkatkan kualitas individu aparat, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan
peraturan, membangun mentalitas penegak hukum yang profesional, jujur dan tegas
untuk mendukung tercapainya kepastian, keharmonisan kehidupan hukum ditengah-
tengah masyarakat sehingga tercipta keadaaan yang aman, tertib dan tenteram.
(HUKUM dan TRAMTIB).

2. Mengembangkan sistem manajemen kepegawaian, struktur organisasi, dan


adiministrasi pelayanan publik yang efisien, efektif, transparan, akuntabel dan
profesional dengan menjunjung tinggi nilai-nilai good governance untuk
meningkatkan kualitas fungsi pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
(PEMERINTAHAN)

3. Mengembangkan sistem manajemen keuangan yang mendukung peningkatan


potensi penerimaan daerah, pengelolaan, dan pemanfaatan keuangan daerah yang
digunakan sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan
tetap memperhatikan aspek-aspek tertib, efektif, efisien, transparan dan
bertanggung jawab tercipta melalui sistem pengawasan keuangan yang ketat.
(PEMERINTAHAN)

4. Mengembangkan sistem database yang bersifat informatif, aktual, dan mudah


diakses oleh masyarakat untuk mencapai terciptanya pembangunan yang berbasis
pada profesionalisme, terstruktur, sistematis dan akuntabel. (PEMERINTAHAN)

5. Menciptakan pemerataan pendidikan dengan membuka kesempatan sebesar-


besarnya, terutama pada program pendidikan 9 tahun dengan memanfaatkan secara
optimal sarana dan prasarana fisik/ non fisik pendidikan, meningkatkan kuantitas
dan kualitas pengajar, serta menjalin kerjasama dengan pemerintah pusat dab
swasta.
6. Mengatasi permasalahan sosial seperti penggunaan narkoba, tawuran pelajar dan
masalah sosial lainnya yang berpotensi mengganggu jalannya proses belajar
mengajar. (PENDIDIKAN SOSIAL)

7. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan menyediakan dan


memanfaatkan secara optimal sarana dan prasarana kesehatan, agar setidaknya
mencapai standar minimum pelayanan kesehatan. (KESEHATAN)

8. Mengembalikan kepercayaan masyarakat baik domestik maupun internasional


terhadap kehidupan ekonomi Propinsi DKI Jakarta dengan mengembangkan
kebijakan yang pro pasar, membangun infrastruktur ekonomi yang baik, menekan
high cost economy dan menciptakan sistem pelayanan investasi yang simpel untuk
mencapai terciptanya peningkatan investasi di Propinsi DKI Jakarta. (EKONOMI)

9. Mengembangkan usaha-usaha pembangunan ekonomi yang berbasis masyarakat


dengan membangun kemitraan bersama usaha besar untuk menciptakan jaringan
usaha yang kuat, tahan terhadap globalisasi dan liberalisasi ekonomi serta mampu
peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja. (EKONOMI-TENAGA
KERJA)

10. Meningkatkan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan dengan membangun


sektor-sektor unggulan dan meningkatkan peranan sektor-sektor yang non unggulan
dengan memperhatikan dampaknya pada kehidupan sosial dan lingkungan hidup
serta sebesar-besarnya bermanfaat dalam menciptakan lapangan kerja.
(EKONOMI-LINGKUNGAN HIDUP-TENAGA KERJA)

11. Membangun komunikasi antar masyarakat Propinsi DKI Jakarta yang bersifat
heterogen dengan memperhatikan akar budaya masing-masing daerah sehinggak
seminimal mungkin dapat menekan terjadinya konflik-konflik horizontal.
(SOSIAL)

12. Memantapkan arah dan tujuan pembangunan sosial dengan mengoptimalkan


peranan pemerintah, swasta dan dukungan masyarakat untuk menghindari
terjadinya penurunan moral pemerintah dan masyarakat dengan mengoptimalkan
pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehdiupan
sehari-hari. (SOSIAL-AKHLAK)

13. Mengoptimalkan kebijakan yang berkaitan dengan masalah kependudukan


dengan meningkatkan kualitas pelayanan penduduk serta mengendalikan arus
perpindahan penduduk ke DKI Jakarta seperti urbanisasi. (SOSIAL-
KEPENDUDUKAN)

14. Meminimalisir dampak negatif pembangunan infrastruktur terhadap daya


dukung lingkungan dan sumber daya alam. (SARANA-PRASARANA-
LINGKUNGAN HIDUP)

15. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana fisik sehingga mampu


mengatasi persoalan-persoalan seperti kemacetan, banjir, pemukiman kumuh,
ledakan pedagang kaki lima dan lain-lain. (SARANA-PRASARANA-SOSIAL)

2.4. Perkembangan Pemprov DKI Jakarta 2002 - 2007

2.4.1. Peran Provinsi DKI Jakarta Dalam Perspektif Nasional


Permasalahan Propinsi DKI Jakarta pada prinsipnya berakar dari tuntutan peran dan
fungsinya yang sedemikian besar, baik dalam lingkup nasional maupun daerah. Peran
Propinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota negara dan fungsi Propinsi DKI Jakarta sebagai
Kota Jasa (service city) mendorong pemerintah daerah menyusun visi, misi, tujuan dan
strategi pembangunan yang mampu mengakomodir berbagai kepentingan.

2.4.2. Peran Propinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara.


Peran Propinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota negara, pusat pemerintahan dan kota
internasional dalam perkembangannya menghadapi berbagai masalah. Untuk
menampilkan citra bangsa dan negara bagi dunia luar, serta sebagai tempat kedudukan
hampir keseluruhan perangkat pemerintahan tingkat nasional, perwakilan negara-negara
asing, pusat-pusat perusahaan multi nasional, dan gerbang utama wisatawan manca
negara, Propinsi DKI Jakarta dituntut terus berbenah diri. Sarana dan prasarana yang
belum memadai, daya dukung lingkungan yang makin terbatas, serta kemajuan
masyarakat metropolitan menjadi ciri umum permasalahan pembangunan yang dihadapi.
Selama ini, kebijakan dan arahan pembangunan yang ditempuh pemerintah daerah selalu
berorientasi pada 2 hal pokok yakni :

1. Mempercepat pembangunan untuk mengatasi dan mengantisipasi berbagai


masalah.

2. Mempercepat pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang


lebih baik.

Akan tetapi kemakmuran yang dicapai diatas pondasi masalah yang masih
besarseringkali akan menimbulkan permasalahan baru, terlebih dalam masa pemulihan
pasca krisis sekarang ini.

2.4.3. Fungsi Propinsi DKI Jakarta Sebagai Kota Jasa (service city)

Untuk mendukung fungsi Propinsi DKI Jakarta sebagai Kota Jasa (service city)
pembangunan yang dilakukan harus dapat mendukung fungsi-fungsi pelayanan kota baik
untuk kepentingan lokal, nasional maupun internasional. Penjabaran sebagai Kota Jasa
(service city) adalah menjadikan Propinsi DKI Jakarta sebagai :

1. Pusat Pelayanan Masyarakat

2. Pusat Perdagangan dan Distribusi

3. Pusat Keuangan

4. Pusat Pariwisata

5. Pusat Pelatihan dan Informasi

Pemenuhan Keseluruhan fungsi tersebut memerlukan upaya pembangunan yang


sangat besar, dan tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh pemerintah daerah, oleh
karena itu diperlukan keterlibatan Pemerintah Pusat, Sektor Swata dan Masyarakat.
2.5. Perkembangan Makro Sosoal – Ekonomi 2002 - 2007

Dinamika politik nasional dalam lima tahun terakhir telah menjadi proses
pembelajaran berarti bagi kehidupan masyarakat dalam berdemokrasi. Diharapkan ke
depan, masyarakat akan menjadi lebih dewasa dan menyikapi reformasi dan tidak
terjebak pada kebebasan yang tidak terkendali yang dapat mematahkan dan mengabaikan
supremasi hukum yang telah menjadi komitmen bersama. Dengan kata lain, terbentuknya
masyarakat madani dan tata pemerintahan yang baik (good governance) untuk menjamin
berlangsungnya kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang lebih baik.

Dibidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi Propinsi DKI Jakarta sampai dengan


tahun 2007 diharapkan akan tetap positif sebagaimana pertumbuhan yang dicapai pada
tahun 2000 dan 2001. Sebelum krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi Propinsi DKI
Jakarta mencapai rata-rata 7 hingga 8 persen per tahun, kemudian selama puncak krisis
tahun 1998 dan 1999, pertumbuhan mangalami kontraksi masing-masing sebesar minus
17,5 persen dan minus 0,29 persen. Kinerja ekonomi mulai menunjukkan pertumbuhan
positif pada tahun 2000 dan 2001 yaitu mencapai masing-masing 3,98 persen dan 3,64
persen. Diharapkan untuk tahun 2002 sampai dengan 2007 tetap akan tercapai
pertumbuhan positif antara 4 hingga 6 persen per tahun. Inipun masih akan tergantung
pada seberapa jauh stabilitas politik, penegakan hukum dan ketertiban masyarakat dapat
dicapai dan diperlukan untuk mendukung aktivitas ekonomi secara kondusif lima tahun
kedepan.

Selanjutnya inflasi diharapkan dapat ditekan dibawah 2 digit per tahun selama lima
tahun kedepan. Seperti telah diketahui, pada tahun 1998 telah terjadi hiper-inflasi yang
mencapai 74,4 persen, walaupun kemudian dapat ditekan menjadi sebesar 1,80 persen
pada tahun 1999, karena pengalaman hiper-inflasi tahun sebelumnya. Sedangkan untuk
tahun 2000 dan 2001 inflasi mencapai masing-masing 10,29 dan 11,52 persen, cukup
tinggi namun tidak dapat dihindari karena kebijakan nasional menaikkan harga BBM dan
tarif listrik untuk mengurangi subsidi, serta merosotnya nilai tukar rupiah.

Dengan pertumbuhan ekonomi positif, diharapkan angka pengangguran tahun 2002-


2007 terus akan menurun dan dapat ditekan tidak lebih besar dari 10 persen mulai tahun
2003. Seperti diketahui pada tahun 1999 angka pengangguran mencapai angka tertinggi
sebesar 13,2 persen kemudian turun pada tahun 2000 dan 2001 menjadi 12,08 persen dan
11, 32 persen. Hal ini ditandai pula oleh mulai bergeraknya kembali sektor dunia usaha
terutama pada industri, perdagangan dan jasa, sebagai pilar utama perekonomian Propinsi
DKI Jakarta.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,28 persen per tahun selama periode 2003-2007
tentunya diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru guna mengatasi
pengangguran. Jumlah kesempatan kerja yang disediakan dalam periode ini adalah 470
ribu atau mencapai 94 ribu per tahun. Dengan jumlah tambahan kesempatan kerja sebesar
ini maka tingkat pengangguran dapat direndam untuk tidak bertambah tinggi yaitu dari
10,34 persen tahun 2003 menjadi 6, 59 persen pada akhir tahun 2007.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5,28 persen per
tahun dalam periode lima tahun kedepan, tentunya diperlukan investasi yang tidak
sedikit, baik bersumber dari pemerintah daerah sendiri, pemerintah pusat, masyarakat
maupun dunia usaha. Sumber dana investasi ini tidak terbatas dari sumber dana dalam
negeri yang biasanya berasaldari tabungan domestik maupun pinjaman domestik,
melainkan tidak tertutup kemungkinan (dalam sistem perekonomian yang terbuka saat
ini) sumber dana dari pinjaman luar negeri.

Dengan target pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5,28 persen per tahun, total
nilai investasi yang dibutuhkan selama periode 2003-2007 diperkirakan akan mencapai
Rp. 516,29 triliun atau perlu disediakan dana sebesar Rp. 103,26 triliun setiap tahunnya.
Perhitungan ini didasarkan pada angka Incremental Capital-Output ratio (ICOR) dengan
besaran yang bergerak antara 4,5 - 5,5 (asumsi bahwakegiatan ekonomi berjalan secara
efisien). Rasio ini didasari pemikiran bahwa pembiayaan investasi juga akan semakin
sulit karena (a) baik APBN maupun APBD diperkirakan tidak akan bertambah secara
tajam karena pemulihan ekonomi yang mendorong potensi pajak dam retribusi belum
dapat dicapai dalam satu atau dua tahun mendatang, (b) dunia usaha juga masih akan
mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber-sumber pembiayaan investasi, (c)
tabungan masyarakat diperkirakan akan sedikit menurun karena pendapatan nyaris tidak
bertambah sementara kebutuhan konsumsi terus meningkat karena kenaikan harga, (d)
pinjaman luar negeri pemerintah maupun swasta akan bertambah sulit karena krisis
kepecayaan luar negeri terhadap kemampuan Indonesia dalam mengembalikan pinjaman
terutama dikaitkan dengan depresiasi rupiah, dan (e) penanaman modal asing akan
tersendat karena keraguan investor asing atas berbagai krisis dan instabilitas yang dialami
Indonesia.

Di bidang sosial-kemasyarakatan, kualitas kehidupan penduduk juga diharapkan


akan lebih baik dan mulai memasuki tahap-tahap pemulihan. Seiring dengan bergeraknya
kembali roda perekonomian, jumlah penduduk keseluruhan, angka kematian bayi (IMR)
menurun di bawah 20 per 1000 kelahiran mulai tahun 2004, angka harapan hidup (Eo)
meningkat diatas 72 tahun, angka partisipasi sekolah SD menjadi 100 persen, angka
partisipasi SLTP mencapai 95 persen dan SLTA mencapai 75 persen. Ini semua dapat
dicapai bila struktur penduduk tidak banyak dipengaruhi oleh pendatang baru yang
kebanyakan merupakan golongan usia kerja dengan pendidikan dan ketrampilan yang
rendah.

Berkaitan dengan kemampuan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dalam


menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, diperkirakan bahwa kenaikan APBD
DKI Jakarta untuk lima tahun kedepan akan tumbuh antara 10-15 persen masih
dimungkinkan apabila ada terobosan baru, seperti kenaikan luar biasa yang dialami pada
tahun 2001 karena adanya penerapan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Perkiraan
peningkatan APBD ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kinerja perekonomian akan
jauh lebik baik yang memberi optimisme baru pada penerimaan daerah baik dari pajak
dan retribusi maupun penerimaan non-pajak.

Di lain pihak perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka otonomi
daerah akan terus diperbaiki dan memberi sinyal positif pada penguatan struktur
keuangan daerah, terutama yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU). Dengan
kebijakan pengeluaran anggaran yang lebih efisien dan efektif, serta berorientasi pada
transparansi dan akuntabilitas publik maka peningkatan pelayanan masyarakat,
pemulihan ekonomi, serta rehabilitasi prasarana dan sarana kota.
2.6. Perkembangan Dengan Ekonomi Nasional

Menilai perkembangan dan potensi ekonomi Propinsi DKI Jakarta sebagaimana


yang digambarkan diatas, akan lebih lengkap lagi bila membandingkannya juga dengan
ekonomi nasional atau rata-rata ekonomi seluruh propinsi di Indonesia digunakan sebagai
patokan untuk mengukur apakah perkembangan ekonomi Propinsi DKI Jakarta sendiri
sebagai bagian dari ekonomi nasional, dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Propinsi
DKI Jakarta tersebut, dapat dikatakan baik atau sebaliknya. Ekonomi Propinsi DKI
Jakarta sendiri sebagai bagian dari ekonomi nasional, dipengaruhi oleh perkembangan
ekonomi nasional. Tetapi hal sebaliknya juga terjadi yaitu ekonomi nasional juga
dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Propinsi DKI Jakarta.

Pada bagian ini akan dilakukan Analisa “Location Quotient” (LQ), “Revealed
Comparative Advantage (RCA)” dan Analisa “Shift-Share”.

2.7. Tantangan Dan Permasalahan Pemprov DKI Jakarta

Jakarta dari waktu ke waktu terus menaglami perubahan. Begitu pula tantangan dan
permasalahan yang dihadapi. Pembangunan Propinsi DKI Jakarta masih menyisakan
aneka persoalan di berbagai bidang kehidupan warga kota, baik sosial, ekonomi maupun
menyangkut sarana prasarana kota dan tata pemerintahan. Semua masalah itu hanya dapat
dicarikan solusinya dengan tepat apabila mampu mengenalinya dengan teliti dan jeli.
Berdasarkan data dari hasil jajak pendapat dan evaluasi hasil forum pengkajian,
pembangunan Propinsi DKI Jakarta di masa mendatang meliputi:

2.7.1. Tantangan di bidang Sosial

Masalah sosial merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat dalam


penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan yang menimbulkan problema sosial,
yaitu ketidaksesuaian antar unsur-unsur dalam masyarakat yang dapat mengganggu tertib
sosial. Problema sosial biasanya sangat dimesional, namun yang menonjol dan
memerlukan perhatian adalah :

1. Dampak Urbanisasi yang belum terkendali

Urbanisasi yang terus menerus berlangsung menyebabkan ketidakseimbanan tenaga


kerja dengan lapangan kerja yang tersedia, dan ketidakseimbangan penduduk dengan
daya dukung fasilitas perkotaan. Kualitas sumber daya pendatang tidak sesuai dengan
kebutuhan kota. Implikasinya adalah meningkatnya pengangguran, semakin meluasnya
pemukiman kumuh dan padat, kesenjangan antar penduduk, sektor informal yang tidak
terkendali dan meningkatnya kejahatan.

2. Kesenjangan dan konflik sosial yang masih tinggi

Kesenjangan adalah masalah kota yang cukup menonjol, baik kesenjangan antar
golongan penduduk yang tampak dari distribusi pendapatan, maupun kesenjangan sektor
ekonomi golongan penduduk yang tampak dari kesenjangan produktivitas, akses terhadap
pasar, akses terhadap modal dan manajemen. Kesenjangan yang semakin meluas pasca
krisis ekonomi telah menimbulkan ekses disharmoni sosial yang mengarah pada konflik
antar golongan penduduk.

3. Peran aktif kelembagaan masyarakat yang belum optimal

Kegagalan lembaga-lembaga kemasyarakatan menjalankan peranan dalam


memelihara keselarasan sosial, menjaga moralitas dan harmoni sosial, tampak dari
semakin maraknya konflik antar warga kota, tawuran pelajar dan berbagai bentuk
gangguan ketentraman sosial lainnya. Akumulasi masalah-masalah perkotaan dan
kealpaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam menjalankan peranannya secara
bertanggung jawab menyebabkan eskalasi gangguan terhadap ketentraman dan ketertiban
menjadi semakin meluas.

4. Pengguna narkoba, judi, prostitusi dan PMKS

Kasus penyalahgunaan narkoba telah meluas ke berbagai lapisan masyarakat dan


dunia pendidikan dan mencapai semua tingkat pendidikan. Seperti fenomena gunung es,
kasus yang tampak hanya kecil (hanya 10 persen dari mereka yang menyalahgunakan
narkoba mencari pengobatan ke rumah sakit). Penyalahgunaan narkoba yang semakin
marak telah menimbulkan banyak korban dan mengancam masa depan bangsa.
Kecenderungan yang sama juga tampak dalam kasus perjudian dan prostitusi terutama
pada masyarakat lapisan bawah yang kemudian menimbulkan ekses melemahkan etos
kerja dan meningkatnya kejahatan. Meningkatnya penyandang masalah kesejahteraan
sosial (PMKS) yang tampak dari banyaknya gelandangan, pengemis, pengamen dan
sebagainya, memperburuk wajah kota dan begitu pula gangguan keamanan

2.7.2. Tantangan di bidang Ekonomi

Perkembangan ekonomi di Propinsi DKI Jakarta tidak terlepas dari situasi ekonomi
nasional. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 yang diawali dengan depresiasi
mata uang rupiah terhadap dolar AS, telah membawa implikasi buruk pada perekonomian
Indonesia. Inflasi yang tinggi, suku bunga bank yang meningkat mengakibatkan
merosotnya kinerja lapangan usaha di sektor riil. Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi
merasakan dampak krisis ekonomi yang besar dibanding daerah lainnya, bahkan
mengalami kontraksi yang sangat tajam dengan pertumbuhan minus 17,49 persen pada
tahun 1998, dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi sebesar 74,4 persen. Peristiwa Mei
1998 yang mengakibatkan kerusakan prasarana dan sarana kota.

1. Pemulihan perekonomian daerah yang belum optimal

2. Pedagang kaki lima yang belum terkendali

3. Partisipasi usaha kecil, menengah dan koperasi belum optimal

4. Pengangguran di bidang Sarana Prasarana Kota

2.7.3. Tantangan di bidang Sarana Prasarana Kota

Keterbatasan sarana dan prasarana kota menjadi persoalan klasik. Pertumbuhan


penduduk yang pesat perlu diikuti dengan serangkaian program investasi perkotaan,
dalam bentuk memperluas pelayanan dan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan di
seluruh wilayah kota. Keterbatasan dana yang cukup untuk membangun dan memelihara
prasarana kota, keterbatasan pemerintah kota dalam penyesuaian prosedur dan
mekanisme pengelolaan prasarana kota, dan penerapan metode pengembalian biaya (cost
recovery) yang belum efektif dan konsisten, serta belum efektifnya penegakan hukum
menyangkut pengaturan kota telah menimbulkan berbagai problema prasarana dan sarana
perkotaan :

1. Ruang terbuka hijau dan keindahan kota yang belum optimal


2. Kualitas lingkungan yang belum memadai

3. Penataan ruang yang belum efektif memenuhi dinamika kebutuhan masyarakat

4. Lalu lintas dan transportasi umum yang belum memadai

5. Pengelolaan sampah dan air limbah yang belum tertangani dengan baik

6. Jangkauan fasilitas air bersih yang terbatas

7. Sistem pengendalian banjir, pemeliharaan sungai dan drainase kota yang belum
baik

8. Perumahan dan penanganan daerah kumuh yang belum optimal

9. Areal interaksi publik yang masih terbatas

2.7.4. Tantangan di bidang Pengelolaan Tata Pemerintahan

Efektivitas penyelenggaraan pemerintahan adalah kemampuan pemerintah dalam


menjalankan fungsi utamanya yaitu menjamin ketentraman dan ketertiban,
menyelenggarakan pelayanan masyarakat dan mendorong partisipasi masyarakat dalam
pembangunan. Problema dalam mengoptimalkan efektifitas pemerintahan adalah
akseptabilitas atau kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang cenderung merosot
setelah reformasi. Lemahnya legitimasi menyebabkan kurang efektifnya pemerintah
sebagai institusi pengatur yang berwibawa. Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan
pemerintah adalah :

1. Keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat serta partisipasi masyarakat


yang belum optimal

2. Peraturan perundang-undangan daerah yang belum memadai

3. Spirit dan etos kerja aparat yang perlu ditingkatkan

4. Kinerja pelayanan masyarakat yang belum optimal

5. Kualitas aparatur dan penanganan KKN yang masih perlu ditingkatkan

6. Pendelegasian wewenang kepada wilayah belum optimal


2.8. KEBIJAKAN ANGGARAN

Perlu disadari bahwa terciptanya Otonomi Daerah memerlukan suatu proses


transformasi paradigma dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan di daerah
Paradigma penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Propinsi DKI Jakarta
telah mengalami pergeseran yang cukup berarti, dari pelaksanaan oleh pemerintah daerah
kepada pemberian peluang yang lebih besar bagi peran serta masyarakat.

Salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan


adalah sistem pengelolaan keuangan sebagai realisasi dari kebijakan anggaran, yang
menjamin adanya semangat efisiensi dan efektivitas anggaran, transparansi dan
akuntabilitas publik, rasa keadilan masyarakat, serta pencapaian kinerja yang optimal.
Seiring dengan Otonomi Daerah, maka semangat desentralisasi, demokratisasi,
transparansi dan akuntabilitas mewarnai proses penyelenggaraan pemerintahan,
khususnya dalam proses pengelolaan keuangan daerah.

Untuk menghindarI timbulnya in-efisiensi pengguna anggaran, dibangun struktur


anggaran baru menurut bidang, fungsi, dan program yang diharapkan dapat memberikan
ukuran kinerja yang jelas dan terukur. Dengan diberlakukannya Perda Nomor 8 Tahun
2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah, diharapkan pengelolaan
keuangan dan pelaksanaan anggaran akan sejalan dengan aspirasi masyarakat.

2.8.1. Kebijakan alokasi anggaran

Untuk mengatasi ketidakseimbangan pengalokasian anggaran dilakukan langkah-


langkah sebagai berikut :

1. Untuk belanja periodik, khususnya belanja pegawai dan TAL (telepon,air, dan
listrik) dialokasikan pada setiap unit kerja.

2. Untuk belanja aktivitas, seiring dengan pendelegasian kewenangan oleh propinsi,


maka alokasi anggaran bagi wilayah akan meningkat sesuai dengan tanggung jawab
yang didelegasikan. Besarnya alokasi anggaran kepada suatu unit kerja akan sangat
tergantung pada prioritas program pembangunan dan misi yang akan dilaksanakaan
oleh pemerintah Propinsi DKI Jakarta.
3. Perlu diperhatikan program prioritas yang menjadi instrumen pemecahan
mendasar antara lain : penanganan masalah banjir, kebersihan, perumahan dan
transportasi.

2.8.2. Strategi Pengelolaan Pendapatan

1. Pendapatan Asli Daerah

a. Identifikasi potensi jenis pajak-pajak daerah baru khususnya yang berbasiskan


pada kegiatan jasa.

b. Kewenangan yang lebih luas bagi suku dinas dalam pemungutan pajak dan
retribusi daerah.

c. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pelaksanaan, pengawasan dan


pengendalian.

d. Peningkatan profesionalisme dari SDM unit pengelola pendapatan.

e. Sosialisasi untuk membangun dukungan masayarakat terhadap kebijakan baru


di bidang pendapatan.

2. Dana Perimbangan

a. Meningkatnya komunikasi dengan Pemerintah Pusat.

b. Perluasan dasar bagi hasil pajak sehingga mencakup pajak penghasilan


perorangan dan badan, serta pajak penjualan dan jenis-jenis pajak nasional
lainnya.

c. Penentuan dasar bagi hasil bukan pajak yang tidak semata-mata didasarkan
pada ketersediaan dan pemanfaatan sumber daya alam.

3. Penerimaan Lain – lain

a. Pemberdayaan BUMD sebagai institusi yang mapu memberikan kontribusi


berbentuk hasil dividen.

b. Pengelolaan alternatif yang lebih proaktif atas surplus anggaran yang dimiliki
oleh Pemerintah Propinsi. a. Meningkatnya komunikasi dengan Pemerintah Pusat.
2.9. Evaluasi Kinerja

Bagian penting dalam pengelolaan pembangunan adalah evaluasi yang mantap atas
pelaksanaan rencana pembangunan. Evaluasi dilakukan untuk memperoleh umpan balik
agar dapat dikenali secara dini penyimpangan-penyimpangan pelaksaan dari rencana
pembangunan,dan kemudian dapat dirumuskan langkah-langkah perbaikan yang tepat
sasaran dan tepat waktu. Evaluasi dilakukan dengan merujuk pada lintasan sebab akibat,
melalui penetapan indikator kinerja.

2.9.1. Indikator Dan Standar Kinerja

Dalam rangka memilih indikator kinerja, perlu diupayakan pengukuran yang dapat
dilakukan secara mudah dan murah. Untuk itu, pengukuran kinerja tersebut sadapat
mungkin merupakan kegiatan yang melekat pada proses penyelenggaraan pembangunan
sehingga tidak menimbulkan biaya berlebihan. Laporan Dinas, BPS dan pihak-pihak
ketiga (Konsultan dan pusat-pusat kajian) dapat digunakan sebagai alat penilaian.

2.9.2. Kerangka Pengukuran Kinerja

1. Penetapan Indikator Kinerja

a. Masukan (input)

b. Keluaran (output)

c. Hasil (outcome)

d. Manfaat (benefit)

`e. Dampak (impact)

2. Penetapan Capaian Kinerja

Untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan,


program dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan dalam renstra.

3. Formulir Pengukuran Kinerja

2.9.3. Evaluasi Kinerja

1. Formulir Evaluasi Kinerja Kegiatan (Formulir EK-1)

2. Formulir Evaluasi Kinerja Program (Formulir EK-2)


3. Formulir Evaluasi Kinerja Kebijaksanaan (Formulir EK-3)

2.10. Analisis Pencapaian Akukntabilitas Kinerja


Pelaporan akuntabilitas kinerja tidak hanya berisi tingkat keberhasilan/ kegagalan
yang dicerminkan oleh hasil evaluasi indikator-indikator kinerja sebagaimana yang
ditujukkan oleh pengukuran dan penilaian kinerja, tetapi juga harus menyajikan data dan
informasi relevan lainnya bagi pembuat keputusan agar dapat menginterpretasikan
keberhasilan/ kegagalan tersebut secara lebih luas dan mendalam.
Oleh karena itu, dari kesimpulan hasil evaluasi perlu dilakukan analisis
pencapaian akuntabilitas kinerja instansi secara keseluruhan. Analisis tersebut meliputi
uraian keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dan program dengan kebijakan dalam
rangka mewujudkan sasaran.

Analisis tersebut antara lain dilakukan dengan cara membandingkan indikator


kinerja dengan realisasi, seperti :

1) Perbandingkan antara kinerja nyata dan kinerja yang direncanakan.

2) Perbandingan antara kinerja nyata dan tahun-tahun sebelumnya.

3) Perbandingan kinerja suatu instansi dengan instansi lain yang unggul


dibidangnya atau dengan sektor swasta.

4) Perbandingan kinerja nyata dengan kinerja di negara-negara lain atau dengan


standar internasional.

Penilaian kinerja yang didasarkan pada indikator-indikator : masukan, keluaran,


hasil dampak dan manfaat, akan melengkapi Laporan Pertanggungjawaban Gubernur
yang terdiri atas :

1) Laporan perhitungan APBD

2) Nota perhitungan APBD

3) Laporan Aliran Kas

4) Neraca Daerah .
BAB IV
PENUTUP

Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Propinsi DKI Jakarta 2002-2007


merupakan suatu dokumen perencanaan yang bersifat taktis strategis sesuai dengan
kebutuhan daerah dengan mengacu pada poldas dan propeda. Dokumen renstrada ini
memuat hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan dan strategi daerah.

Dokumen renstrada memiliki jangka waktu lima tahunan dan merupakan


pedoman bagi Gubernur Propinsi DKI Jakarta terpilih dalam melaksanakan program
pembangunan yang bersumber dari APBD.

Program pembangunan yang tertuang dalam renstrada di kelompokkan ke dalam 8


(delapan) bidang pembangunan yang mencakup bidang hukum, ketentraman ketertiban
umum dan kesatuan bangsa, bidang pemerintahan, bidang ekonomi, bidang pendidikan
dan kesehatan, bidang kependudukan dan ketenagakerjaan, bidang sosial dan budaya,
bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup serta bidang sarana dan prasarana kota,
kedelapan bidang pembangunan tersebut masing-masing memiliki 8 fungsi dan program
yang jelas dan rasional, dimaksudkan agar kegiatan pembangunan tertata rapi, tidak
tumpang tindih dan fokus pada permasalahan yang dihadapi Propinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan hal-hal diatas, Renstrada Propinsi DKI Jakarta 2002-2007


diharapkan dapat menjadi acuan dan pedoman bagi seluruh penyelenggaraan
pemerintahan daerah dalam pelaksanaan pembangunan dan pemecahan masalah
mendasar di Propinsi DKI Jakarta, sehingga hasilnya dapat dinikmati secara lebih merata
dan lebih adil bagi seluruh masyarakat.
TUGAS TEORI PERENCANAAN

PROSES PENYUSUNAN RENSTRA

“ Renstra Pemprov DKI Jakarta “

Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyarataan

kelulusan Mata Kuliah Teori Perencanaan

Disusun Oleh :

RISKI ALQI GUNTARA

D.0710140

JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK DAN
ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS DJUANDA BOGOR
2010
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah tugas “PROSES
PENYUSUNAN RENSTRA “, yang disusun dengan judul “ Renstra Pemprov DKI
Jakarta “.
Adapun yang di maksud dan tujuan dari tugas ini adalah untuk memenuhi salah
satu syarat tugas mata kuliah Teori Perencanaan. Di samping itu penyusunan tugas ini
juga merupakan sarana agar mahasiswa sebagai kaum intelektual bisa lebih peka terhadap
bagaimana penyusunan renstra yang membuat sebuah organisasi bisa berjalan dengan
baik dan terencana.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas
ini, Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini merupakan hasil dari usaha optimal
yang tidak luput dari kesalahan terutama disebabkan karena keterbatasan pengalaman,
waktu, tenaga, serta pengetahuan dari penulis sendiri.
Semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis dan mahasiswa khususnya
serta pihak lain pada umumnya.

Terima kasih.

Bogor, februari 2010

Penulis,