Anda di halaman 1dari 28

RESUME MATERI KE 2 DAN KE 3 BAHASA INDONESIA

Kedudukan Bahasa Indonesia. 1. Bahasa Indoneisa sebagai Bahasa Nasional 2. Bahasa


Indonesia sebagai Bahasa Negara. Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa
Indonesia Baku dan Tidak Baku

BAHASA INDONESIA

Dosen Pengampu : Drs. Agus Setyonegoro, M.Pd.

Nama : Siti Sofia Purnama ( J1A120076 )

Tugas : Resume Pertemuan 2

Kelas : R002

Prodi Teknologi Hasil Pertanian

Falkutas Pertanian

Universitas Jambi

Tahun Ajaran 2021/2022


A. Kedudukan Bahasa Indonesia

1. Bahasa Indoneisa sebagai Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional berarti


bahasa Indonesia tidak mengikat pemakaiannya untuk sesuai dengan kaidah dasar.
Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Yang terpenting di
pergaulan dan perhubungan antar warga adalah makna yang disampaikan. Pemakai
Bahasa Indonesia dalam konteks bahasa nasional dapat dengan bebas menggunakan
ujaran baik lisan, tulis, maupun lewat kineksinya. Kebebasan penggunaan ujaran itu
juga di tentukan oleh konteks pembicaraan. Manakala bahasa Indonesia di gunakan di
bus antar kota, ragam yang digunakan adalah ragam bus kota yang cenderung
singkat, cepat, dan bernada keras.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara, sebagai bahasa Negara berarti


bahasa Indonesia adalah bahasa resmi. Dengan begitu bahasa Indonesia harus
digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia
perlu mendapatkan perhatian khusus terutama bagi pembelajaran bahasa Indonesia
sumber garda guru posisi pembelajaran bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia
tidak akan terpinggirkan oleh bahasa asing karena dalam sejarah bangsa Indonesia
sendiri, bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan.

 Fungsi Bahasa Nasional :


1. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional.
Kedudukan pertama dari kedudukan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam
bulir-bulir sumpah pemuda. Yang bunyinya sebagai berikut :
“ Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah
darah satoe, Tanah air Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia
mengakoe berbangsa satoe, Bangsa Indonesia. Kami poetera dan poeteri
Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.”
2. Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa.
Kedudukan kedua dari kedudukan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dibuktikan dengan masih digunakannya Bahasa Indonesia
sampai sekarang ini. Berbeda dengan Negara-negara lain yang terjajah,
mereka harus belajar dan menggunakan bahasa Negara
pesermakmurannya. Contoh saja India, Malaysia, dan lain-lain yang harus
bisa menggunakan bahasa inggris.
3. Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi
Kedudukan ketiga dari kedudukan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam
berbagai macam media komunikasi. Misalnya saja buku, Koran, acara
pertelevisian, siaran radio, Website, dan lain-lain. Karena Indonesia adalah
Negara yang memiliki beragam bahasa dan budaya, maka harus ada
bahasa pemersatu diantara semua itu. Hal ini juga berkaitan dengan
kedudukan keempat dari kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional sebagai alat pemersatu bangsa yang berbeda Suku, Agama, Ras,
adat istiadat dan Budaya.
4. Bahasa indoensia sebagai alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku,
Agama, Ras, Adat istiadat dan Budaya.

 Peran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan, identitas, dan


alat pemersatu bangsa. Lambang kebanggan, bahasa Indonesia merupakan bahasa
yang tumbuh dan berkembang di negara Indonesia. Tidak semua negara memiliki
bahasa sendiri. Masyarakat Indonesia harus berbagangga mempunyai bahasa
nasional sendiri dan selalu berkembang.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bentuk identitas karena berasal


dari negara Indonesia dan tidak dimiliki oleh negara lain. Bahasa Indonesia resmi
dijadikan bahasa nasional di negara Indonesia sejak dulu kala dan tidak ada negara
lain yang mempunyai kesamaan dengan bahasa Indonesia sehingga menjadi bukti
identitas bangsa Indonesia. Bahasa sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia dari
berbagai pulau. Jika tidak ada bahasa Indonesia masyarakat tidak akan
berkomunikasi dengan baik dan akhirnya menimbulkan perpecahan.

2. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Sedangkan pada tanggal 25-28 Februari 1975, Hasil perumusan seminar polotik
bahasa Nasional yang diselenggarakan di jakarta. Dikemukakan Kedudukan bahasa
Indonesia sebagai bahasa Negara adalah :
1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan.
2. Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.
3. Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan
4. Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan
Teknologi.

Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara


dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi
kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala
upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.

Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara


dibuktikan dengan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga
pendidikan dari taman kanak-kanak, maka materi pelajaran yang berbentuk media
cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan
menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau menyusunnya sendiri. Cara ini
akan sangat membantu dalam meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai
bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).

Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara


dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam hubungan antar badan
pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan
itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media
komunikasi massa. Tujuan agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat
dan tepat diterima oleh masyarakat.

Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara


dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, baik melalui buku-
buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak
lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu buku yang menjelaskan tentang
suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan
menyebabkan orang lain belum tentu akan mengerti.

Bahasa Indonesia yang baik dan benar

Tahun 2019, Presiden menerbitkan Peraturan Presiden nomor 63 tahun 2019


tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Apa kiranya yang diatur dan apa imbasnya kepada
komunikasi kita dalam kehidupan sehari-hari? Inti peraturan tersebut ada pada Bab II, Bagian
1, Pasal 2, tentang “Ketentuan Penggunaan Bahasa Indonesia”. Dicantumkan dalam Bab II,
Bagian 1, bahwa “Penggunaan Bahasa Indonesia harus memenuhi kriteria Bahasa Indonesia
yang baik dan benar”. Berikut akan dibahas kriteria bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Berbahasa Indonesia yang baik berarti bahwa kita harus menggunakan bahasa
Indonesia sesuai dengan konteks berbahasa yang selaras dengan nilai sosial masyarakat.
Peraturan ini berkaitan penggunaan ragam bahasa secara tulis dan lisan untuk kebutuhan
berkomunikasi. Ragam bahasa dari sisi penggunaan bahasa ada dua, yaitu ragam formal dan
ragam nonformal. Ada dua hal yang kita perhatikan dalam kalimat ini. Pertama, berbahasa
sesuai dengan konteksnya dan, kedua, berbahasa selaras dengan nilai sosial masyarakat. Hal
itu yang menjadi alasan mengapa Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan berbasis teks
dalam pengajaran berbahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Bahasa
diperkenalkan kepada siswa dalam konteksnya dan tidak sebagai satuan-satuan kata yang
berdiri sendiri. Dengan demikian, siswa dihadapkan dengan konsep-konsep bahasa sejak
awal. Misalnya, perbedaan penggunaan kata cuma dan hanya. Adapun, bahasa Indonesia
yang baik berkaitan dengan nilai sosial masyarakat. Artinya, pada saat menggunakan bahasa,
wajib diperhatikan kepada siapakah kita berkomunikasi. Berkomunikasi dengan teman tentu
akan berbeda dengan berkomunikasi dengan orang tua. Kata aku digunakan kepada teman-
teman dan kata saya digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Dalam hal
ini, kesantunan berbahasa mulai diajarkan.
Berbahasa Indonesia yang benar berarti bahwa harus digunakan bahasa Indonesia
yang sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia meliputi
kaidah tata bahasa, kaidah ejaan, dan kaidah pembentukan istilah. Kaidah tata bahasa dan
kaidah pembentukan istilah berkaitan dengan bahasa Indonesia lisan dan tulis. Penggunaan
bahasa yang tidak memperhatikan kaidah tata bahasa akan membingungkan. Misalnya,
kesalahan tata bahasa dalam kalimat “Karena sering kebanjiran, gubernur melarang
pembangunan gedung di sana”.  Apakah “gubernur” yang sering kebanjiran atau “suatu
daerah”? Kesalahan seperti itu sering terjadi dalam kalimat majemuk. Kaidah
ketatabahasaannya adalah “Dalam kalimat majemuk bertingkat, subjek dalam anak kalimat
dapat dihilangkan jika induk kalimat dan anak kalimat mengandung subjek yang sama”.
Dalam kalimat contoh, subjek pada induk kalimat tidak sama dengan subjek pada anak
kalimat. Akibatnya, subjek pada anak kalimat wajib hadir. Kaidah pembentukan istilah
berkaitan penggunaan kata serapan. Seringkali, ditemukan ucapan “Selamat pagi. Selamat
menjalankan  aktifitas hari ini”.

Pengguna bahasa tidak secara cermat membedakan


penulisan aktif dan aktivitas karena dalam bahasa Indonesia bunyi [f] dan [v] tidak
membedakan arti. Contoh lainnya, dalam kalimat Pengakuannya menunjukkan
sisi  gentle dari dirinya. Seharusnya, istilah yang digunakan adalah gentlemen. Kedua kata
sifat ini berbeda arti. Kata gentle berarti ‘lemah lembut’, sedangkan gentlemen berarti ‘lelaki
yang memiliki etika, moral, dan berbudi bahasa halus’. Penggunaan istilah asing, sebaiknya,
disertai dengan pengetahuan tentang bahasa asing yang digunakan.

Adapun kaidah ejaan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia tulis dan
berkaitan dengan dua hal. Pertama, kaidah ejaan berkaitan dengan penulisan kata,
misalnya sekadar bukan *sekedar; di antara bukan *diantara sebaliknya ditonton bukan *di
tonton. Kedua, kaidah ejaan berkaitan dengan penggunaan tanda baca. Misalnya, “Yuk, kita
makan, Eyang” akan berbeda artinya dengan “Yuk, kita makan Eyang”. Kalimat pertama
‘mengajak eyang untuk makan bersama’, sedangkan kalimat kedua berarti ‘mengajak kita
untuk memakan eyang’. Penggunaan koma yang kecil menghasilkan perbedaan arti yang
besar. 
 
Lalu, apakah itu berarti bahwa kita harus selalu berbahasa ragam formal? Pada saat
kita berbicara dengan tukang sayur atau kepada teman, kita tentu tidak perlu menggunakan
ragam formal. Permasalahannya adalah apakah pada saat berbahasa ragam nonformal, kita
harus tetap mengindahkan kaidah berbahasa? Jawabannya adalah ya! Menggunakan kaidah
dalam ragam nonformal berarti menggunakan pilihan kata yang sesuai dan tepat serta
menggunakan kaidah tata bahasa yang benar. Misalnya, pada saat membeli bakso, jangan
mengatakan, “*Bang, saya bakso pake bihun.” Kalimat itu bukan kalimat yang benar. Saya
bukan bakso, saya orang. Untuk menjadi kalimat yang baik dan benar, hanya dibutuhkan satu
kata, yaitu “mau” menjadi “Bang, saya mau bakso pake bihun.”   
Jadi, berbahasa Indonesia yang baik dan benar berarti menyampaikan pikiran dengan
informasi yang lengkap secara teratur. Ragam bahasa yang digunakan dapat berupa ragam
bahasa formal atau nonformal, bergantung pada konteksnya. 

Contoh menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar

Bahasa indonesia yang baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang
serasi dengan sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul.

Berikut contoh pada undang-undang 1945:


Undang- undang dasar 1945, pembukaan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah
hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.Dari beberapa kalimat pada undang-
undang dasar tersebut menunjukkan bahasa yang sangat baku dan merupakan bahasa yang
baik dan benar.

Penggunaan kata yang baku dan lafal baku pada ragam konsultatif, santai, dan akrab
dapat berakib at bahasa menjadi tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi. Hal seperti ini
menyebabkan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak tepat tempatnya.

a. Contoh berbahasa yang baik tetapi tidak benar


Berbahasa yang baik Percakapan terjadi di kantin
A: Bu, kopi satu, gulanya dikit aja.
B: Pakai susu ?
C: Ndak usah.

b. Contoh berbahasa yang benar tetapi tidak baik


Percakapan terjadi di pasar
A : Ibu, berapakah harga satu kilo daging sapi ?
B : 100 ribu.
A : Bolehkah saya menawar 85 ribu ?
c. Contoh berbahasa yang baik dan benar
 Percakapan terjadi di dalam rapat
A : Kami belum dapat memberi keputusan karena kami harus melaporkan terlebih
dahulu masalah itu kepada pimpinan.
B : Kalau demikian kami akan menunggu keputusan dari tim Bapak.

Bahasa Indonesia Baku dan Tidak Baku

1.Pengertian Bahasa Indonesia Baku


Bahasa baku adalah bahasa yang menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar
dan acuan yang digunakan sehari-hari dalam masyarakat. Bahasa baku mencakup pemakaian
sehari-hari pada bahasa percakapan lisan maupun bahasa tulisan. Bahasa Indonesia baku
adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk bahasanya telah dikodifikasi, diterima,
dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas.
Ciri – Ciri Ragam Bahasa Baku
Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.

1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat
yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang
dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa
Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti
aturan ini.
4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal
baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah
lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya:
/atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa
bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi
efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca
persis sesuai maksud aslinya.

Ciri – Ciri Bahasa Indonesia Baku

1. Pelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.

2. Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- sebagai bagian bahasa Indonesia baku ditulis
atau diucapkan secara jelas dan tetap didalam kalimat.

3. Partikel lah- kah- dan pun- ditulis jelasndan tetap dalam kalimat.Preposisi atau kata
depan ditulis secara jelas.

4. Bentuk kata ulang ditulis sesuai fungsi dan tempatnya.Pola kelompok kata
kerja+agen+kata kerja, kontruksi atau bentuk sintesis, fungsi gramatikal, struktur kalimat
diucapkan dengan jelas dan tetap dalam kalimat.

Fungsi Bahasa Indonesia Baku


Penggunaan bahasa baku lazim dipakai dalam situasi dan konsidi sebagai berikut di
bawah ini :
1. Komunikasi Resmi (Tertulis) Contoh : Surat-menyurat resmi, pengumuman resmi,
undang-undang, peraturan, dan lain-lain.
2. Pembicaraan Formal Di Depan Umum (Lisan).

Contoh : Pidato, ceramah, khotbah, mengajar sekolah, mengajar kuliah, dan lain
sebagainya.

3. Wacana Teknis (Tertulis).

Contoh : Karangan ilmiah, skripsi, tesis, buku pelajaran, laporan resmi, dan lain-lain

4. Pembicaraan Formal (Lisan)

Contoh : Murid kepada guru, bawahan kepada atasan, layanan pelanggan kepada
pelanggan, menteri kepada presiden, dsb. Tidak hanya terbatas kepada orang yang
dihormati saja karena presiden umumnya berbicara pada rakyat jelata dengan bahasa
forma

Kontek Pemkaian Bahasa Indonesia Baku

Bahasa Indonesia baku dipakai di dalam beberapa konteks.

(1) Dalam komunikasi resmi, yaitu dalam surat-menyurat resmi atau dinas,
pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi,
perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi.

(2) Wacana teknis, yaitu dalam laporan resmi dan karangan ilmiah berupa
makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan hasil penelitian.

(3) Pembicaraan di depan umum, yaitu ceramah, kuliah, khotbah.

(4) Pembicaraan dengan orang yang dihormati, yaitu atasan dengan


bawahan di dalam kantor, siswa dan guru di kelas atau di sekolah, guru dan
kepala sekolah di pertemuan-pertemuan resmi, mahasiswa dan dosen di
ruang perkuliahan.

2. Pengertian Bahasa Indonesia Tidak Baku

Kata tidak baku merupakan kebalikan dari kata baku, yang penggunaanya
tidak sesuai aturan dan kaidah berbahasa Indonesia yang sudah ditentukan
sebelumnya. Ketidakbakuan sebuah bahasa tak hanya ditentukan dari penulisan
yang tidak sesuai pedoman, tetapi juga bisa terjadi karena salah penulisan,
pengucapan yang salah, dan susunan kalimat yang tidak sesuai.
Kalimat tidak baku lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari
karena terkesan lebih santai dan tidak kaku. Kata tidak baku juga dapat
digunakan saat berdiskusi membahas suatu hal bersama teman atau keluarga.

Ciri-Ciri Kata Tidak Baku :

1. Umumnya digunakan dalam bahasa sehari-hari.


2. Dipengaruhi bahasa daerah dan bahasa asing tertentu.
3. Dipengaruhi dengan perkembangan zaman.
4. Bentuknya dapat berubah-ubah.
5. Memiliki arti yang sama, meski terlihat beda dengan bahasa baku.
Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

1. Abjad (kata baku) - Abjat (kata tidak baku)


2. Akhirat – Akherat
3. Aksesori – Asesoris
4. Aktif – Aktip
5. Akuarium – Aquarium
6. Aluminium – Almunium
7. Ambulans – Ambulan
8. Analisis – Analisa
9. Antena – Antene
10. Antre - Antri
Ejaan Bahasaa Indonesia dalam Teks 1. Pemakaian huruf 2. Penulisan kata

BAHASA INDONESIA

Dosen Pengampu : Drs. Agus Setyonegoro, M.Pd.

Nama : Siti sofia purnama ( J1A1200076 )

Kelas : R002

Tugas : Resume Pertemuan 3

Program Studi Teknologi Hasil Pertanian

Falkutas Pertanian

Universitas Jambi

Tahun Ajaran 2021/2022


Ejaan Bahasaa Indonesia dalam Teks 1. Pemakaian huruf 2. Penulisan kata

A. Ejaan Bahasa Indonesia dalam Teks

1. Pengertian Ejaan

Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang


distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek fonologis
yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad.
Aspek morfologi yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis dan
aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca (Haryatmo Sri,
2009).

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dinyatakan, ejaan adalah cara atau
aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Misalnya kata “huruf” dahulu adalah
“hoeroef”. Kata itu telah diatur dengan ejaan yang sesuai dan sekarang yang
dipergunakan adalah “huruf”.

Ejaan ada dua macam, yakni ejaan fenetis dan ejaan fomenis. Ejaan fenotis
merupakan ejaan yang berusaha menyatakan setiap bunyi bahasa dengan huruf,
serta mengukur dan mencatatnya dengan alat pengukur bunyi bahasa (diagram).

Dengan demikian terdapat banyak lambing atau huruf yang dipergunakan


untuk menyatakan bunyi-bunyi bahasa itu. Ejaan fonemas adalah ejaan yang
berusaha menyatakan setiap fonem dengan satu lambing atau satu huruf, sehingga
jumlah lambing yang diperlukan tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan
jumlah lambing dalam ejaan fonetis (Barus Sanggup, 2013).

2. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia


Sampai saat ini dalam Bahasa Indonesia telah di kenal tiga nama ejaaan yang pernah
berlaku. Ketiga ejaan yang pernah ada dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

 Ejaan Van Ophuysen


Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa
Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang
dibantu oleh Engku NawawiGelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib
Soetan Ibrahim.

 Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, ejaan Van Ophuijsen


mengalami beberapa perubahan.Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van
Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tahun 1938 di Solo.

KemudianPada tanggal 19 Maret 1947, Mr. Soewandi yang pada saat


itu menjabat sebagai Menteri Pengadjaran, Pendidikan, dan Kebudajaan
Republik Indonesia melalui sebuahPutusan Menteri Pengadjaran Pendidikan
dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru.meresmikan
ejaan baru yang dikenal dengan nama Ejaan Republik, yang menggantikan
ejaan sebelumnya.

Pada Kongres II Bahasa Indonesia tahun 1954 di Medan, Prof. Dr.


Prijono mengajukan Pra-saran Dasar-Dasar Ejaan Bahasa Indonesia dengan
Huruf Latin. Isi dasar-dasar tersebut adalah perlunya penyempurnaan kembali
Ejaan Republik yang sedang dipakai saat itu. Namun, hasil penyempurnaan
Ejaan Republik ini gagal diresmikan karena terbentur biaya yang besar untuk
perombakan mesin tik yang telah ada di Indonesia.

 Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)


Usaha penyempurnaan ejaan terus dilakukan, termasuk bekerja sama
dengan Malaysia dengan rumpun bahasa Melayunya pada Desember 1959.
Dari kerjasama ini, terbentuklah Ejaan Melindo yang diharapkan
pemakaiannya berlaku di kedua negara paling lambat bulan Januari 1962.
Namun, perkembangan hubungan politik yang kurang baik antar dua negara
pada saat itu, ejaan ini kembali gagal diberlakukan.

Pada awal Mei 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) yang
sekarang menjadi Pusat Bahasa kembali menyusun Ejaan Baru Bahasa
Indonesia. Namun, hasil perubahan ini juga tetap banyak mendapat
pertentangan dari berbagai pihak sehingga gagal kembali.

 Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan


Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia
meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu
berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokanpemakaian ejaan itu.

Karena penuntutan itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa


Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 12
Oktober 1972, No. 156/P/1972, menyusun buku Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan
yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat
putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedomaan Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurkan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi


dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987. Beberapa hal yang perlu
dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan

Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen sesuai


dengan namanya diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang
berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga
munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang
pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih bernama
bahasa Melayu. Dan ini menjadi dasar dan asal terbentuknya Bahasa
Indonesia.

Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan sendiri-


sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh karena itu, dapat
dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi. Akibatnya, tulisan-tulisan
mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan itu terjadi karena belum ada
ejaan  yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penulisan. Dengan
demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson merupakan hal yang sangat
bermanfaat pada masa itu.

Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan


diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa perlu
menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah ada. Ejaan
baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada tanggal 19 Maret
tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku Menteri PP&K
(Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu disebut Ejaan
Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian hari


dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena itu,
dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun 1972 ejaan
itu selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal
16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(EYD).

Hingga sekarang EYD menjadi dasar dan kaidah Bahasa Indonesia


terutama dalam penulisan. Semua kalangan menggunakan EYD sebagai ejaan
yang benar dalam setiap tulisan ataupun karya tulis. Dan sering kita lihat kalau
setiap syarat suatu karya tulis adalah sesuai dengan EYD. Berikut tabel
dibawah adalah perbedaan ketiga ejaan diatas dalam aspek penghurufan.

B. Pemakaian Huruf Ejaan Bahasa Indonesia


a. Abjad
Jenis huruf dan nama yang digunakan dalam sistem EYD ialah sebagai berikut
:

EYD menggunakan 26 huruf dan setiap huruf melambangkan fonem tertentu.ke-26 huruf ini
dapat digolongkan ke dalam dua bagian yaitu vocal dan konsonan.

b. Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas
huruf a, e, i, o, dan u.

Keterangan:
* Untuk keperluan pelafalan kata yang benar, tanda aksen (ˊ) dapat digunakan jika
ejaan kata menimbulkan keraguan.
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah.
c. Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas


huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Keterangan:
* Huruf k melambangkan bunyi hamzah.
** Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan
keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).

d. Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au,


dan oi.
e. Huruf Kapital

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal
kalimat.
Misalnya :
- Dia membaca buku
- Apa maksudnya?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung
Misalnya :
- Adiknya bertanya, ‘’ kapan kita pulang?’’
- Orang itu menasihati anaknya, ‘’ Berhati-hatilah, Nak!’’.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan. Termasuk kata ganti
untuk Tuhan.
Misalnya :
- Islam
- Kristen
- Hindu
- Alllah
- Yang Maha kuasa
- Yang Maha pengasih
4. a. Huruf kapital dibagai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,
keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya :
- Mahaputra Yamin
- Sultan Hasanuddin

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar


penghormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikui nama orang.

Misalnya :

- Dia baru saja diangkat menjadi sultan.


- Pada tahun ini dia pergi naik haji.
5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama
orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya :
- Wakil Presiden Adam Malik
- Perdana Menteri Nehru

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan
pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya :

- Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.


- Kegiatan itu sudah di rencanakan oleh Departemen.
c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan
pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama
tempat tertentu.

Misalnya :

- Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?


- Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
6. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya :
- Amir Hamzah
- Dewi Sartika

Dengan Catatan :

1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van,
dan der ( dalam nama Belanda ), Von ( dalam nama Jerman ), da
( dalam nama Portugal ).
Misalnya :
- J. J de Hollander
- H. van Bruggen
2) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk
menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.
Misalnya :
- Abdul Rahman bin Zaini
- Ibrahim bin Adham

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang
digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya :

- Pascal second pas


- N Newton

c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya :

- Mesin diesel
- 10 volt
7. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa,
dan bahasa.
Misalnya :
- bangsa Eskimo
- suku Sunda

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan
bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya :
- pengindonesiaan kata asing.
- Kejawa-jawaan.
8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari
raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
- tahun Hijriah
- bulan Agustus
- hari Jumat

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama peristiwa


sejarah.

Misalnya :

- Perang Candu
- Perang Dunia I

c. Huruf kapial tidak dipakai sebagai hururf pertama peristiwa sejarah yang
tidak digunakan sebagai nama.

Misalnya :

- Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.


- Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri
geografi.
Misalnya :
- Banyuwangi
- Cirebon

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi


yang diikuti nama diri geografi.

Misalnya :

- Bukit Barisan
- Dataran Tinggi Dieng

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri
geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.

Misalnya :

- ukiran Jepara
- tari Melayu

d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang
tidak diikuti oleh nama diri geografi.

Misalnya :

- berlayar ke teluk
- menyeberangi selat
e.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang
digunakan sebagai penjelas nama jenis.

Misalnya :

- nangka Belanda
- kunci Inggris
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi
Negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen
resmi, kecuali kata tugas, seperti, dan, oleh, atau, untuk.
Misalnya :
- Republik Indonesia
- Departemen Keuangan

b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama
resmi Negara, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.

Misalnya :

- beberapa badan hukum.


- kerja sama antara pemerintah dan rakyat.
Catatan :
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga
ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu,
misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya :
- pemberian gaji di bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
- Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang
sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan,
badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Misalnya :
- Perserikatan Bangsa-Bangsa
- Rancangan Undang-Undang kepegawaian
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua
unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan
makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang
tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya :
- Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
- Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar,
pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Misalnya :
- Dr doktor
- S. E. sarjana ekonomi
14. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang
digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya :
- Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
- Besok Paman akan datang.
b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau
penyapaan.
Misalnya :
- Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
- Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.
Misalnya :
- Sudahkah Anda tahu?
- Surat Anda telah kami terima.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam
penyapaan.
Misalnya :
- Sudahkah Anda tahu?
- Siapa nama Anda?
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan,
catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti
oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh
pada I B, I C, I E, dan II F15).

f. Gabungan Huruf Konsonan


Di dalam Bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang
melambangkan konsonan yaitu, kh, ng, ny, dan sy.

Gabungan Huruf Contoh Pemakaian Dalam Kata


Konsonan
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir

Kh khusus Akhir tarikh

Ng ngilu Bangun Senang

Ny nyata Banyak -

Sy syarat Isyarat arasy

g. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah,
dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
- Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan
Prapanca.
- Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.
Catatan:
Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam
tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
- Huruf pertama kata abad adalah a.
- Dia bukan menipu, melainkan ditipu.
3. a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan
yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya:
- Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
- Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.
b. Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia
penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.
Misalnya:
- Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
- Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak
miring digaris bawahi.

h. Pemenggalan kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika di tengah kata ada vocal yang berurutan, pemenggalan itu
dilakukan di antara kedua huruf vocal itu.
Misalnya :
- ma-in
- sa-at
- bu-ah
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga
pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya :
- au-la bukan a-u-la
- sau-da-ra bukan sa-u-da-ra
- am-boi bukan am-bo-i
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf
konsonan, di antara dua buah huruf vocal, pemenggalan dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Misalnya :
- ba-pak
- ba-rang
- de-ngan
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan
huruf konsonan tidak pernah di ceraikan.
Misalnya :
- man-di
- som-bong
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan
huruf konsonan yang kedua.
Misalnya :
- in-stru-men
- in-fra
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang
mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis
serangkai dengan kata dasarnya, dapat di penggal pada pergantian baris.
Misalnya :
- makan-nan
- mem-bantu
catatan :
a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak di penggal.
b. Akhiran –I tidak dipenggal.
c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan
sebagai berikut.
Misalnya :
- te-lun-juk
- si-nam-bung
3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu
dapat bergabung dengan unsur lain, pmenggalan dapat dilakukan (1) di
antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan
kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas .
Misalnya :
- bio-gra-fi
- foto-grafi
Keterangan :
Nama orang, badan hokum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan
Ejaan Bahasa Indonesia yang di sempurnakan kecuali jika ada
pertimbangan khusus.

C. Penulisan Kata Ejaan Bahasa Indonesia


a. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kata kesatuan.
Misalnya :
- Ibu percaya bahwa engkau tahu.
- Kantor pajak penuh sesak.
b. Kata Turunan
1. Imbuhan ( awalan, sisipan, akhiran ) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya :
- bergelar
- dikelola
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis
serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya :
- bertepuk tangan
- menganak sungai
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
- menggarisbawahi
- dilipatgandakan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
- mahasiswa
- narapidana
Catatan :
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah
huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya :
- non-indonesia
- pan-Afrikanisme
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata yang
bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya :
- Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
- Marilah kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
c. Bentuk Ulang
Bentuk ulang di tulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya :
- anak-anak
- biri-biri
- buku-buku
d. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus,
unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya :
- duta besar
- orang tua
- kambing hitam
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan
kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan
pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya :
- alat pandang-dengar
- buku sejarah-baru
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya :
- adakalanya
- Alhamdulillah
e. Kata Ganti –ku, kau-, -mu, dan -nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya : -ku,
-mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
- Apa yang kumiliki boleh kauambil.
- Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
f. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di
dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada
dan dari pada.
Misalnya :
- Kain itu terletak di dalam lemari.
- Bermalam semalaman di sini.

Catatan :

Kata-kata yang bercetak miring di bawah ini di tulis serangkai.

Misalnya :

- Si Amin lebih tua dari pada Si Ahmad.


- Kami percaya sepenuhnya kepada kakaknya.
g. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya :
- Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.
- Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
h. Partikel
1. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya :
- Bacalah buku itu dengan baik-baik
- Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
- Apa pun yang di makannya, ia tetap kurus.
- Hendak pulang pun sudah taka da kendaraan.

Catatan :

Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya, adapun, andaipun, ataupun,


bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun,
sungguhpun, dan walaupun ditulis serangkai.

Misalnya :

- Adapun sebab-sebabnya belum di ketahui


- Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
3. Partikel per yang berarti ‘ mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’, ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya :
- Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 april.
- Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
i. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pnagkat diikuti
degan tanda titik.
Misalnya :
- A.S. Kramawijaya
- M.B.A master of business administration
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau
organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata
ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
- DPR ( Dewan Perwakilan Rakyat )
- PT ( Perseroan Terbatas )
c. Singkatan umum yang terdiri dari tiga kata atau lebih diikuti satu tanda
titik.
Misalnya :
- dll. ( dan lain-lain )
- dsb. ( dan sebagainya )
tetapi :
- a.n ( atas nama )
- d.a ( dengan alamat )
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata
uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
- Cu ( kuprum )
- TNT ( trinitrotoluene )
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlukan
sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
- ABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia )
- LAN ( Lembaga Administrasi Negara )
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf
dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya :
- Akabri ( Akademik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia )
- Bappenas ( Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ).
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,
ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya di tulis
dengan huruf kecil.
Misalnya :
- pemilu ( Pemilihan umum )
- rudal ( peluru kendali )
Catatan :
Jika di anggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-
syarat berikut :
1. jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang
lazim pada kata Indonesia.
2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vocal
dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

j. Angka dan Lambang Bilangan


1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam
tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
- Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
- Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII,VIII, IX, X, L (50), C (100), D
(500), M (1000), V (5000), M (1.000.000).

Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, lebar, berat, luas, da
nisi. (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya :
- 0,5 sentimeter
- 5 kilogram
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apatermen,
atau kamar pada alamat.
Misalnya :
- Jalan Tanah Abang I No. 15
- Hotel Indonesia, kamar 169
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya :
- Bab X, Pasal 5, halaman 252
- Surah yasin : 9
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh
Misalnya :
- dua belas 12
- dua puluh dua 22
b. Bilangan pecahan
Misalnya :
- setengah 1/2
- tiga perempat ¾
6. penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut.
Misalnya :
- Paku Buwono X
- Paku Buwono ke-10
- Paku Buwono sepuluh
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang
berikut.
Misalnya :
- tahun 50-an atau tahun lima puluhan
- uang 5000-an atau uang lima ribuan.
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata di tulis
dengan huruf kecuali jika beberapa lambing bilangan dipakai secara berurutan,
seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya :
- Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
- Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan
kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat di nyatakan dengan satu
atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
- Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
- 250 orang tamu di undang pak Darno.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah di baca.
Misalnya :
- Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
- Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks
kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya :
- Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
- Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan :
- Kantor kami mempunyai 20 ( dua puluh ) orang pegawai.
- Di lemari itu tersimpan 805 ( delapan ratus lima ) buku dan majalah.
12. Jika bilangan di lambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus
tepat.
Misalnya :
- Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp 999,75 ( Sembilan ratus
Sembilan puluh Sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah ).
Daftar Pustaka

https://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurna
kan.

https://luk.staff.ugm.ac.id/ta/Suwardjono/EYD.pdf.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompasiana.com/sam_last_voice/5517d8bf81331146699de41e/bahasa-indonesia-
sebagai-bahasa-nasional-dan fungsinya#:~:text=Bahasa%20indonesia%20sebagai%20bahasa
%20nasional.,warga%20adalah%20makna%20yang%20disampaikan.

file:///C:/Users/ACER/Downloads/Amaylia%20Galuh_%201_K1216008_B.pdf.

https://www.mentarigroups.com/jendela-bahasa/view.php?i=7.