Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PERUBAHAN EKUITAS PEMEGANG SAHAM

(disusun untuk memenuhitugas mata kuliah Teori Akuntansi)

Dosen pengampu : Erly Sherlita, S.E., M.Si., Ak., C.A.

Disusun oleh :

Putri Azzahra Rosadi 0117101239

M. Dany Ramadhan 01171012

Mochammad Rizal M 0117101228

Eva

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas

makalah yang berjudul “Perubahan Ekuitas Pemegang Saham” dengan baik.

Berbagai sumber referensi sengaja kami pilih dan gunakan untuk memperkuat

pembahasan dan membangun kerangka penyajian yang komperehensif, agar mudah

dipahami dan dapat memenuhi harapan pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan baik dari segi teknis

maupun isi, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi pembuatan makalah selanjutnya. Oleh karena itu, kami berharap agar

makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan bermanfaat bagi

pembacanya

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................ii

DAFTAR ISI..................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................4

1.1 Latar Belakang....................................................................................................4

1.2 Identifikasi Masalah............................................................................................5

1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................6

1.4 Kegunaan Penulisan............................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................7

2.1 Pengertian Ekuitas..............................................................................................7

2.2 Komponen Ekuitas Pemegang Saham................................................................10

2.3 Tujuan Penyajian Ekuitas....................................................................................15

2.4 Laporan Ekuitas Pemegang Saham.....................................................................16

2.5 Analisis Ekuitas Pemegang Saham.....................................................................16

2.6 Penyajian Modal Pemegang Saham....................................................................19

BAB III PENUTUP.......................................................................................................20

3.1 Kesimpulan.........................................................................................................20

3.2 Saran...................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA 21

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk perusahaan perseorangan, ekuitas sering disebut modal. Untuk perseroan,

istilah ekuitas (ekuitas pemegang saham atau stockholders’ equity) lebih

merefleksi makna yang ingin dikandungnya. Istilah modal sering digunakan pula

sebagai padan kata equity walaupun modal lebih dekat maknanya dengan istilah

capital. Karena ekuitas mengandung unsur pemilikan (ownership), untuk

organisasi nonprofit ekuitas disebut sebagai aset bersih (net assets) untuk

menghindari kesan adanya pemilikan (Suwardjono, 2010:513).

Karena konsep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen dan

pemilikan, informasi tentang ekuitas pemegang saham menjadi sangat penting

karena hal tersebut menunjukan hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan

pemegang saham. Dari sudut pemegang saham, ekuitas pemegang saham

merupakan hak atas kekayaan atau nilai yang tertanam dalam perseroan. Kalau

dipandang dari sudut kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham merupakan

“utang” perseroan kepada para pemegang saham. Oleh karena itu, ekuitas

pemegang saham dapat juga dipandang sebagai gambaran hubungan yuridis

antar perseroan dan pemegang saham. Dengan kedudukannya yang demikian

persoalannya adalah bagaimana melaporkan atau menyajikan informasi elemen

ini agar hubungan tanggung jawab yuridis dapat dipertahankan (Suwardjono,

2010:513).

4
Karena konsep kesatuan usaha menuntut artikulasi antar statment keuangan,

tidak terdapat masalah sematik atau definisional dalam pembahasan ekuitas

seperti halnya elemen pendapatan, biaya, dan laba. Teori ekuitas yang bersifat

sematik adalah teori sudut pandang atau teori entitas. Teori ini sangat erat

kaitannya dengan laba, sehingga teori ini pasti dibahas pada pembahasan

makalah tentang laba. Oleh karena itu, teori tentang ekuitas pemegang saham

dalam makalah ini berfokus pada bagaimana informasi ekuitas pemegang saham

beserta perubahannya disajikan dalam statment keuangan. Ekuitas pemegang

saham itu sendiri terdiri atas dua komponen penting yaitu modal setoran (paid-

in atau contributed capital) dan laba ditahan (retained earnings). Sebagai

pasangan modal setoran, laba ditahan dapat disebut sebagai modal bentukan atau

ciptaan (earned capital) (Suwardjono, 2010:513).

Berdasarkan pembahasan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk

mengambil judul makalah mengenai ekuitas.

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam pembuatan makalah ini adalah :

1) Apa pengertian ekuitas ?

2) Apa saja komponen ekuitas pemegang saham?

3) Apa tujuan penyajian ekuitas?

4) Apa saja laporan Ekuitas Pemegang Saham?

5) Apa saja Analisis Ekuitas Pemegang Saham?

6) Bagaimana penyajian Modal Pemegang Saham.

5
1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

1) Untuk mengetahui pengertian Ekuitas.

2) Untuk mengetahui komponen Ekuitas Pemegang Saham.

3) Untuk mengetahui tujuan penyajian Ekuitas.

4) Untuk mengetahui apa saja laporan Ekuitas Pemegang Saham.

5) Untuk mengetahui Analisis Ekuitas Pemegang Saham.

6) Untuk mengetahui penyajian Modal Pemegang Saham.

1.4 Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah

sebagai berikut :

1) Kegunaan Teoritis

Makalah ini diharapkan menjadi bahan rujukan bagi penulis lain ketika

akan membuat makalah dengan judul yang sama.

2) Kegunaan Praktis

Makalah ini diharapkan menjadi tambahan pengetahuan bagi para

pengamat ekuitas, dan manajer perusahaan dalam konteks pengetahuan

mengenai konsep ekuitas perusahaan.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekuitas

FASB (Statment of Financial Accounting Concepts No.6) mendefinisikan ekuitas

sebagai “Hak sisa terhadap aktiva suatu entitas setelah dikurangi hutang’. Dari

definisi tersebut dapat dikatakan bahwa dua karakteristik ekuitas adalah sebagai

berikut :

1) Ekuitas sama dengan aktiva neto, yaitu selisih antara aktiva perusahaan

dengan hutang perusahaan.

2) Ekuitas dapat bertambah atau berkurang karena kenaikan atau penurunan

aktiva neto yang berasal dari sumber bukan pemilik (pendapatan dan

biaya) maupun investasi oleh pemilik atau distribusi kepada pemilik

(Chariri & Gozali, 2001:231)

Pengertian ekuitas menurut Rudianto adalah kewajiban perusahaan kepada

pemegang saham (pemilik) perusahaan. Ekuitas merupakan salah satu unsur dari

laporan posisi keuangan perusahaan yang menunjukan salah satu sumber aset

yang dimiliki sebuah badan usaha, yaitu dari pemilik perusahaan dan dari

akumulasi laba yang diperoleh selama beberapa tahun. Secara umum antara satu

entitas lainnya akan memiliki komposisi ekuitas yang tidak jauh berbeda, yang

berdeda hanyalah jumlahnya. Ekuitas yang dimiliki sebuah entitas umumnya

terdiri dari :

1) Modal saham

2) Laba Ditahan

3) Agio Saham (Rudianto, 2012:48).

7
Menurut Horngren, ekuitas pemilik adalah jumlah aktiva yang tersisa setelah

dikurangi kewajiban (Horngren, 1997:48). Sedangkan menurut Reeve dkk

Ekuitas pemilik adalah hak pemilik terhadap aset perusahaan (Reeve dkk, 2011:

G6).

Menurut Sofyan Syafri Harahap Equity adalah suatu hak yang tersisa atas aktiva

suatu lembaga (entity) setelah dikurangi kewajibannya. Dalam perusahaan,

equity adalah modal pemilik. Definisi ini cenderung mengaut proprietory theory

(Harahap, 2012:213).

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002) pasal 49, Ekuitas adalah hak

residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas

didefinisikan sebagai hak residual untuk menunjukan bahwa ekuitas bukan

kewajiban. Ini berarti juga bahwa ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomi

masa mendatang (Suwardjono, 2010:514).

Godfrey, Hodgson, dan Holmes (1997) membedakan ekuitas dan kewajiban atas

dasar kriteria berikut :

1) Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim

Atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan pemegang saham sama-

sama mempunyai klaim atau hak untuk dilunasi atas dana yang

ditanamkan dalam perusahaan. Ada 2 karaktersitik yang melekat pada

hak kreditur, yaitu:

8
a. Penyelesaian klaim mereka pada tanggal tertentu melalui transfer

asset.

b. Prioritas diatas pemilik dalam penyelesaian klaim mereka dalam

hal likuidasi.

Jadi intinya:

a. Klaim kreditor terbatas jumlahnya dan harus diselesaikan pada

tanggal tertentu.

b. Klaim pemegang saham merupakan jumlah residual dan tidak

harus diselesaikan atau dilunasi pada tanggal tertentu

(Suwardjono, 2010:514).

2) Hak penggunaan aset dalam operasi

Hak kreditor dan pemilik (pemegang saham) juga berbeda dalam hal

penggunaan asset. Perbedaanya adalah :

1. Kreditor tidak mempunyai akses dan kendali dalam penggunaan

aset perusahaan. Mereka juga tidak memiliki hak dalam

pengambilan keputusan operasi perusahaan secara langsung.

2. Pemilik mempunyai akses, hak dan autoritas untuk menjalankan

perusahaan dan menggunakan atau mengendalikan aset

(Suwardjono, 2010:514).

3) Substansi ekonomik perjanjian

Substansi ekonomik perjanjian antara kreditor dengan perusahaan

berbeda dengan antara pemegang saham dan perusahaan dalam hal

resiko terhadap rugi. Perbedaanya adalah :

9
1. Kreditor diprioritaskan dalam penuntasan kewajibannya sehingga

resiko mereka lebih kecil dibanding pemegang saham

2. Pemegang saham menanggung segala resiko yang berkaitan

dengan operasi perusahaan.

Oleh karena itu hak kreditur berbeda dengan hak pemegang saham :

1. Kreditor berhak atas pelunasan.

2. Pemegang saham berhak atas pembagian laba (residual).

Jadi secara substansi ekonomi dapat disimpulkan bahwa :

1. Kreditor menanggung risiko lebih kecil dan dengan demikian

mendapat imbalan tetap berupa bunga dan pokok pinjaman.

2. Pemegang saham menanggung risoko lebih besar sehingga

berhak atas kembalian (rate of return) yang bervariasi melalui

pembagian laba (participatiom in profits) (Suwardjono,

2010:515).

2.2 Komponen Ekuitas Pemegang Saham

Dari segi riwayat terjadinya dan sumbernya, ekuitas pemegang saham

diklasifikasi atas dasar dua komponen penting yaitu modal setoran dan laba

ditahan. Modal setoran dipecah menjadi modal saham (capital stock) sebagai

modal yuridis (legal capital) dan modal setoran tambahan (additional paid-in

capital), dan komponen lain yang merefleksi transaksi pemilik (misalnya saham

treasuri atau modal sumbangan) (Suwardjono, 2010:515). Gambar 2.1

melukiskan komponen modal ekuitas pemegang saham dan pos-pos yang

mempengaruhinya (sumber perubahan).

BAGAN EKUITAS PEMEGANG SAHAM

10
Ekuitas Pemegang saham

Modal
Modal Setoran Bentukan atau lain-lain
Laba Ditahan

Modal Yuridis
Modal Setoran - Laba atau rugi
atau
Lain - Dividen
Modal Saham
- Rekapitalisasi
- Defisit
- koreksi
- Penerbitan
- Premium modal - Perubahan
saham baru
saham Akuntansi
- Kapitalisasi laba
Penjualan saham
ditahan
treasury
-Dividen saham
-Penyeraan defisit
-Konversi obligasi
-deklarasi dividen
atau saham
likuidasi
istimewa
terkonversi -Restrukturisasi
Kapital
- Stock
Subscription -Revaluasi aset

Komponen lain-lain terdiri atas pos-pos yang tidak tepat dimasukan dalam

komponen modal setoran lainnya atau laba ditahan tetapi sering diklasifikasikan

sebagai pos ekuitas pemegang saham. Pos-pos ini misalnya adalah untung

penahanan belum terealisasi (unrealized holding gains), penyesuaian kapital

belum terealisasi lainnya, selisih revaluasi, dan hak pemegang saham minoritas

(Suwardjono, 2010:516).

11
Dalam berbagai literature :

1) Modal setoran disebut juga invested capital, original capital, atau bahkan

original investment.

2) Modal yuridis (legal capital) sering disebut sebagai formal capital,

restricted capital, stated capital, atau capital stock.

3) Modal setoran lain sering disebut secara spesifik sebagai paid in surplus,

unrestricted capital, paid in capital in excess of capital stock, capital in

excess of Par (stated value) capital surplus, atau stock premium

(Suwardjono, 2010:516).

Sedangkan Menurut (Harahap:2012) dalam perusahaan perseroan, nilai modal

ini merupakan modal pemiliknya sendiri. Sementara itu, dalam perusahaan

perseroan perlu dibedakan antara modal setor dengan modal karena pendapatan

(retained earning). Dividen hanya dibayar dari laba ditahan bukan dari modal

setor. Modal setor atau contributet capital dapat dibagi menjadi: modal statuter

(legal capital) dan modal lainnya. Modal statuter adalah jumlah batas kewajiban

pemilik. Modal statuter ini dinilai sebesar harga pari atau harga nominal.

Disamping modal statuter ini, ada lagi modal lainnya seperti agio saham, modal

donasi, modal dari pengeluaran kembali treasury stock, stock option, dan

sebagainya. Di indonesia mungkin juga harus dimasukan kenaikan modal akibat

revaluasi (Harahap, 2012: 213-214). Berikut ini penjelas beberapa

akun/komponen yang terdapat dalam modal :

1) Laba Ditahan

Laba ditahan terdiri dari laba tahunan, penyesuaian atau koreksi tahun

sebelumnya, dan besaran dividen. Komponen berikutnya dari modal

12
saham ini adalah laba rugi yang belum direalisasi. Dalam bebrapa hal

perubahan aset perusahaan tidak dilaporkan di laba rugi, tetapi langsung

dilaporkan di neraca, misalnya rugi dari perubahan surat berharga jangka

panjang, laba rugi dari transaksi luar negeri dalam mata uang asing

(Harahap, 2012:214).

2) Cadangan (Reserve)

Dalam laporan keuangan di indonesia sering kita melihat istilah

cadangan ini dan terlihat salah dalam menggunakannya. Dalam arti

umum cadangan berarti sesuatu yang disimpan untuk maksud tertentu.

Dalam akuntansi sering juga dianggap sebagai pos penilaian atau

taksiran kewajiaban, misalnya cadangan piutang ragu-ragu, cadangan

penghapusan, cadangan utang pajak, dan lain sebagainya. Pengertian

dalam akuntansi yang sebaiknya, cadangan merupakan laba ditahan yang

ditetapkan untuk maksud tertentu, jadi tidak boleh digunakan untuk

tujuan lain. Atau bisa juga istilah cadangan ini digunakan untuk

menjelaskan dana tertentu yang dicadangkan dan diperuntukan bagi

maksud tertentu. Misalnya cadangan untuk membayar obligasi, cadangan

dana untuk membeli aktiva tetap, dan sebagainya. Kalau ini yang

dimaksud, maka cadangan ini harus dimasukan ke dalam pos harta dan

dikelompokan sebagai aktiva tidak lancar. Fungsinya seperti kas atau

bank yang dibatasi penggunaanya untuk maksud tertentu (Harahap,

2012:214).

3) Pengakuan dan Penilaian Modal

13
Transaksi modal dapat dibagi dua, transaksi modal dan transaksi yang

berkaitan dengan laba. Transaksi golongan pertama menyangkut

transaksi langsung dari pemilik dengan perusahaan, misalnya

pembayaran atau pengambilan modal. Golongan kedua mnyangkut

transaksi yang berkaitan dengan laba, misalnya transaksi laba rugi,

koreksi tahun lalu dan sebagainya.

Penilaian terhadap transaksi modal ini sama dengan penilaian terhadap

pada harta dan kewajiban yaitu berdasarkan harga pasar pada saat

terjadinya transaksi. Dalam hal ini pencatatan modal saham harus

dipisahkan nilai parinya dengan nilai jualnya. Laba ditahan dicatat

sebagai akumulasi laba dari tahun-tahun sebelumnya (Harahap,

2012:214).

Dalam Ghozali dan Chariri (2007) dijelaskan bahwa ekuitas pemegang

saham terdiri dari Modal Setoran, Laba Ditahan, dan Penyesuaian Modal

Belum Terealisasi. Modal Seroran mencangkup modal yuridis dan modal

setoran lainya. Modal yuridis yang dihitung berdasarkan nilai nominal

saham menunjukan aktiva neto yang tidak dapat didistribusikan ke

pemegang saham. Kelebihan nilai diatas nilai nominal diakui sebagai

agio saham (Ghozali & Chariri, 2007:271).

Laba ditahan terdiri dari laporan laba/rugi, penyesuaian periode

sebelumnya, dan dividen. Oleh karena Laporan Laba Rugi merupakan

14
bagian dari laba ditahan, maka dapat dikatan bahwa ada hubungan saling

terkait atau artikulasi antara laporan laba rugi dan neraca (Ghozali dan

Chariri, 2007:272).

2.3 Tujuan Penyajian Ekuitas

Pada umunya tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah :

1) Menyediakan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi

dan kepengurusan manajemen.

2) Menyediakan informasi tentang riwayat serta prospek investasi pemilik

dan pemegang ekuitas lainnya.

3) Menyediakan informasi tentang kewajiban yuridis perseroan terhadap

para pemegang saham dan pihak lainnya (Suwardjono, 2010:516).

Untuk memenuhi tujuan tersebut, informasi yang harus disampaikan tentang

ekuitas pemegang saham tersebut minimal adalah:

1) Sumber ekuitas pemegang saham beserta riwayatnya

2) Peraturan yuridis yang membatasi pembagian dividen dan pengembalian

modal setoran kepada pemegang saham.

3) Priritas beberapa golongan pemegang saham atau pemegang ekuitas

lainnya (urutan proteksi) (Suwardjono, 2010:516).

2.4 Laporan Ekuitas Pemegang Saham

Laporan ekuitas pemegang saham biasanya disajikan dalam format sebagai

berikut :

1) Saldo pada awal periode

2) Penambahan

3) Pengurangan

15
4) Saldo pada akhir periode

2.5 Analisis Ekuitas Pemegang Saham

Beberapa rasio menggunakan jumlah yang berkaitan dengan ekuitas pemegang

saham untuk mengevaluasi profitabilitas dan solvensi jangka panjang terdiri

dari:

1) Rasio Pengembalian atas ekuitas saham biasa (ROE)

Pengembalian ekuitas atau ROE (Return On Equity) adalah salah satu

perhitungan yang masuk dalam rasio profitabilitas. ROE merupakan

perhitungan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba bersih dengan menggunakan modal sendiri dan

menghasilkan laba bersih yang tersedia bagi pemilik atau investor.

Rasio ini menunjukkan daya untuk menghasilkan laba atas investasi

berdasarkan nilai buku para pemegang saham, dan sering kali digunakan

dalam membandingkan dua atau lebih perusahaan atas peluang investasi

yang baik dan manajemen biaya yang efektif. ROE sangat menarik bagi

pemegang maupun calon pemegang saham , dan juga bagi manajemen,

karena rasio tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari

16
shareholders value creation, artinya semakin tinggi rasio ROE , semakin

tinggi pula nilai perusahaan, hal ini tentunya merupakan daya tarik bagi

investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Berikut

merupakan rumus dari ROE :

2) Rasio pembayaran Dividen (Dividen Payout Ratio)

Rasio pembayaran dividen merupakan hubungan antara Dividen

perusahaan dengan Laba Bersihnya. Rasio pembayaran dividen

perusahaan membandingkan jumlah yang dibayarkan perusahaan dalam

dividen dengan laba bersihnya. Semakin banyak ia membayar

dibandingkan dengan pendapatannya, semakin tinggi rasionya.

Perusahaan dengan rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi

mengembalikan lebih banyak kepada pemegang saham mereka.

Perusahaan dengan rasio yang lebih rendah menyimpan lebih banyak

uang tunai untuk investasi, sebagai jaring pengaman, atau untuk tujuan

lain. Kamu dapat menemukan rasio pembayaran dividen menggunakan

salah satu dari rumus berikut :

3) Rasio harga laba (Price Earnings Ratio)

17
Price to Earning Ratio atau biasanya disingkat dengan singkatan PER

(P/E Ratio) adalah rasio harga pasar per saham terhadap laba bersih per

saham. Rasio Price to Earning ini adalah rasio valuasi harga per saham

perusahaan saat ini dibandingkan dengan laba bersih per sahamnya. Price

to Earning Ratio ini merupakan rasio yang sering digunakan untuk

mengevaluasi investasi prospektif. Rasio ini juga digunakan untuk

membantu investor dalam pengambilan keputusan apakah akan membeli

saham perusahaan tertentu. Umumnya, para trader atau investor akan

memperhitungkan PER atau P/E Ratio untuk memperkirakan nilai pasar

pada suatu saham. Berikut rumus PER :

4) Rasio nilai buku per saham (Book Value per Share)

Nilai buku per lembar saham atau Book Value Per Share adalah jumlah

rupiah yang menjadi milik tiap-tiap lembar saham dalam modal

perusahaan. Nilai buku ini adalah jumlah yang akan dibayarkan kepada

para pemegang saham pada waktu pembubaran (likuidasi) perusahaan

bila aktiva dapat dijual sebesar nilai bukunya. Book value per share dan

pendapatan per lembar saham (Earnings Per Share/EPS) digunakan

sebagai salah satu alat pengukuran terhadap kemampuan perusahaan.

Berikut Rumus dari Book Value per Share :

18
2.6 Penyajian Modal Pemegang Saham

Urutan penyajian kewajiban dan modal pemegang saham dalam neraca

sebenarnya menggambarkan urutan perlindungan dalam kondisi perusahaan

mengalami defisit dan dalam kondisi perusahaan dilikuidasi. Dalam terjadi

defisit, urutan penyajian menggambarkan urutan penyerapan rugi (sequence of

charges) sedangkan dalam kondisi likuidasi urutan penyajian menggambarkan

urutan perlindungan yuridis (legal sequence of protection) bagi para penyedia

dana dalam hal terjadi likuidasi. Jadi, berbagai hak atas asset disajikan atas dasar

urutan siapa dahulu yang memikul rugi dalam hal terjadi defisit dan siapa dahulu

menerima distribusi asset dalam hal terjadi likuidasi (Suwardjono, 2010:552).

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ekuitas pemegang saham menggambarkan hubungan yuridis antara

perseroan dengan para pemegang saham. Ekuitas pemegang saham terdiri

atas dua komponen yaitu modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran

dipecahkan menjadi modal yuridis dan modal setoran lain.

Ekuitas didefinisikan secara sintatik sebagai hak residual atas aset

perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas terpaksa didefinisi

secara sintatik bukan semantik karena keperluan untuk memprtahankan

artikulasi statemen keuangan. Ekuitas mengandung makna pemilikan. Oleh

karena itu, untuk organisasi nonbisnis ekuitas sering disebut sebagai aset

bersih.

Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal, yaitu hak atas

penyelesaian klaim, hak penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis).

Walaupun demikian, atas dasar konsep kesatuan usaha kreditor dan investor

dipandang sebagai pihak luar perusahaan yang terpisah dari manajemen.

3.2 Saran

Bagi penulis selanjutnya yang akan melakukan pembuatan makalah yang

sama diharapkan melakukan pembuatan makalah dengan pembahasan yang

lebih jelas dan lengkap, misalnya saja dengan mencantumkan lebih banyak

referensi.

Berdasarkan penarikan kesimpulan yang didapatkan dari hasil pembahasan

pada Bab II, maka saran yang diberikan penulis adalah bagi para pengamat

20
ekuitas dan manajer perusahaan agar lebih paham mengenai teori akuntansi

mengenai ekuitas, agar dalam parktik nyata tidak ada kesalahan dalam

penafsiran teroritis mengenai ekuitas.

21
DAFTAR PUSTAKA

Chariri, Anis & Ghozali, Imam. 2001. Teori Akuntansi. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponogoro.

Gozali, Imam & Cahriri, Anis. 2007. Teori Akuntansi. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponogoro.

Harahap, Sofyan Syafri. 2012. Teori Akuntansi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Horngren dkk. 1997. Akuntansi di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.

Reeve dkk. 2011. Pengantar Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat.

Rudianto. 2012. Pengantar Akuntansi: Konsep dan Teknik Penyusunan Laporan


Keuangan. Jakarta : Erlangga.

Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta:


BPFE Yogyakarta.

22