Anda di halaman 1dari 9

Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 

Yogyakarta, 24 November 2007 
 

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BELIMBING WULUH


(Averrhoa bilimbi, L.) TERHADAP 1,1-DIPHENYL-2-
PICRYLHIDRAZYL (DPPH)

Ilham Kuncahyo, Sunardi


D-III Teknologi Farmasi Fakultas Teknik Universitas Setia Budi
e-mail : nardi_usb@yahoo.com

ABSTRACT

Sour carambola (Averrhoa bilimbi, L.) constitute one of plants than can be used as an
antioxidant. This research aims to find out the potential antioxidant activity of ether fraction and
methanolic extract liquid of sour carambola leaves on the free radical DPPH. The Sour carambola
leaves powder was extracted using soxhlet tool with petroleum ether solvent followed with
methanol solvent. The methanolic extract obtained was suspended with water and partitioned with
ether. The ether and aqueous fraction were made in various concentrations: 10, 20, 40, 80 and 160
ppm. Then DPPH solution was added to it. Absorbance reading was conducted with
spectrophotometry at the wave length of 517 nm after 30 minutes. The control used was routine.

The result of research shows the potential as antioxidant scavenging free radical with ether
fraction value IC50 of 50.36 ppm and liquid fraction of 44.01 ppm. With routine as the control it is
obtained IC50 value of 7.00 ppm. The one-way Anava statistic test was conducted on the IC50 values
of those three tested solution to find out the significant differences.

Keywords: Antioxidant, sour carambolas, ether fraction, aqueous, DPPH.

1. PENDAHULUAN

Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih elektron
kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut dapat diredam (Suhartono, 2002).
Berdasarkan sumber perolehannya ada 2 macam antioksidan, yaitu antioksidan alami dan
antioksidan buatan (sintetik) (Dalimartha dan Soedibyo, 1999). Tubuh manusia tidak mempunyai
cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih maka
tubuh membutuhkan antioksidan eksogen. Adanya kekhawatiran akan kemungkinan efek samping
yang belum diketahui dari antioksidan sintetik menyebabkan antioksidan alami menjadi alternatif
yang sangat dibutuhkan (Rohdiana, 2001; Sunarni, 2005).
Antioksidan alami mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang disebabkan spesies
oksigen reaktif, mampu menghambat terjadinya penyakit degeneratif serta mampu menghambat
peroksidae lipid pada makanan. Meningkatnya minat untuk mendapatkan antioksidan alami terjadi
beberapa tahun terakhir ini. Antioksidan alami umumnya mempunyai gugus hidroksi dalam
struktur molekulnya (Sunarni, 2005).
Belimbing wuluh berkhasiat sebagai obat encok, obat penurun panas dan obat gondok.
Kandungan kimia yang terdapat pada daun belimbing wuluh antara lain saponin, flavonoid dan
tanin (Anonim, 2001). Fraksi air daun belimbing wuluh terbukti sebagai antiinflamasi (Effendi,
1998). Oksigen aktif dan radikal bebas berhubungan dengan beberapa kasus secara fisiologi dan
patologis seperti peradangan, kekebalan, penuaan, mutagenik dan karsinogenik (Rohdiana, 2001).
Proses peradangan diperantarai oleh sintesis prostaglandin yang dikatalisasi oleh siklooksigenase.
Zat antara pada proses sintesis ini adalah terbentuknya radikal bebas (Lautan, 1997).

E ‐ 1 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 
Salah satu uji untuk menentukan aktivitas antioksidan penangkap radikal adalah metode
DPPH (1,1 Diphenyl-2-picrylhidrazyl). Metode DPPH memberikan informasi reaktivitas senyawa
yang diuji dengan suatu radikal stabil. DPPH memberikan serapan kuat pada panjang gelombang
517 nm dengan warna violet gelap. Penangkap radikal bebas menyebabkan elektron menjadi
berpasangan yang kemudian menyebabkan penghilangan warna yang sebanding dengan jumlah
elektron yang diambil (Sunarni, 2005).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari fraksi eter dan air
ekstrak metanolik belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap radikal DPPH dan bagaimana
potensi aktivitas antioksidan yang dinyatakan dalam nilai IC50.

2. LANDASAN TEORI

Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang mampu menghilangkan, membersihkan, menahan


pembentukan ataupun memadukan efek spesies oksigen reaktif (Lautan,1997). Penggunaan
senyawa antioksidan juga anti radikal saat ini semakin meluas seiring dengan semakin besarnya
pemahaman masyarakat tentang peranannya dalam menghambat penyakit degeneratif seperti
penyakit jantung, arteriosclerosis, kanker, serta gejala penuaan. Masalah-masalah ini berkaitan
dengan kemampuan antioksidan untuk bekerja sebagai inhibitor (penghambat) reaksi oksidasi oleh
radikal bebas reaktif yang menjadi salah satu pencetus penyakit-penyakit di atas (Tahir dkk, 2003).
Fungsi utama antioksidan digunakan sebagai upaya untuk memperkecil terjadinya proses
oksidasi dari lemak dan minyak, memperkecil terjadinya proses kerusakan dalam makanan,
memperpanjang masa pemakaian dalam industri makanan, meningkatkan stabilitas lemak yang
terkandung dalam makanan serta mencegah hilangnya kualitas sensori dan nutrisi. Lipid
peroksidasi merupakan salah satu faktor yang cukup berperan dalam kerusakan selama dalam
penyimpanan dan pengolahan makanan (Hernani dan Raharjo, 2005). Antioksidan tidak hanya
digunakan dalam industri farmasi, tetapi juga digunakan secara luas dalam industri makanan,
industri petroleum, industri karet dan sebagainya (Tahir dkk, 2003).
Antioksidan dalam bahan makanan dapat berasal dari kelompok yang terdiri atas satu atau
lebih komponen pangan, substansi yang dibentuk dari reaksi selama pengolahan atau dari bahan
tambahan pangan yang khusus diisolasi dari sumber-sumber alami dan ditambahkan ke dalam
bahan makanan. Adanya antioksidan alami maupun sintetis dapat menghambat oksidasi lipid,
mencegah kerusakan, perubahan dan degradasi komponen organik dalam bahan makanan sehingga
dapat memperpanjang umur simpan (Rohdiana, 2001).
Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, tetapi jumlahnya sering kali tidak cukup
untuk menetralkan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh (Sofia, 2006; Hernani dan Rahardjo,
2005). Sebagai contoh, tubuh manusia dapat menghasilkan Glutathione, salah satu antioksidan
yang sangat kuat, hanya tubuh memerlukan asupan vitamin C sebesar 1.000 mg untuk memicu
tubuh menghasilkan glutathione ini. Kekurangan antioksidan dalam tubuh membutuhkan asupan
dari luar. Bila mulai menerapkan pola hidup sebagai vegetarian akan sangat membantu dalam
mengurangi resiko keracunan akibat radikal bebas. Keseimbangan antara antioksidan dan radikal
bebas menjadi kunci utama pencegahan stress oksidatif dan penyakit-penyakit kronis yang
dihasilkan (Sofia, 2006).
Antioksidan terbagi menjadi antioksidan enzim dan vitamin. Antioksidan enzim meliputi
superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase (GSH.Prx). Antioksidan vitamin
lebih populer sebagai antioksidan dibandingkan enzim. Antioksidan vitamin mencakup alfa
tokoferol (vitamin E), beta karoten dan asam askorbat (vitamin C) yang banyak didapatkan dari
tanaman dan hewan (Sofia, 2006).
Sebagai antioksidan, betakaroten adalah sumber utama vitamin A yang sebagian besar
terdapat pada tumbuhan. Selain melindungi buah-buahan dan sayuran berwarna kuning atau hijau
gelap dari bahaya radiasi matahari, betakaroten juga berperan serupa dalam tubuh manusia.
Betakaroten terkandung dalam wortel, brokoli, kentang dan tomat. Senyawa lain yang memiliki

E ‐ 2 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 
sebagai antioksidan adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang terdapat pada
teh, buah-buahan, sayuran, anggur, bir dan kecap (Sofia, 2006).
Kekurangan salah satu komponen tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan status
antioksidan secara menyeluruh dan berakibat perlindungan tubuh terhadap serangan radikal bebas
melemah, sehingga terjadilah berbagai macam penyakit. Pemeriksaan status antioksidan tubuh
sekarang menjadi suatu piranti diagnostik yang penting. Pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui
pengukuran yaitu Status Antioksidan total, Superoksida Dismutase dan Glutation Peroksidase
sekaligus untuk memeriksa status selenium (Wijaya, 1997).

3. METODE PENELITIAN

3.1 Bahan

Bahan sampel yang digunakan adalah belimbing wuluh yang diambil dari daerah
Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bahan penyari dan fraksinasi adalah:
metanol, eter, aqua destilata. Bahan kimia lainnya DPPH dan rutin. Bahan kimia yang digunakan
adalah berderajad kualitas (Pro Analisis).

3.2 Alat

Alat penyarian dan fraksinasi adalah alat soxletasi hot plate, alat soxhlet, batu didih, corong
pisah, rotavapor, alat gelas. Spektrofotometer UV-Vis, timbangan analitis, labu ukur 25ml; 50ml;
100ml. Alat lain yang digunakan adalah Moisture Balance, oven, botol coklat, stopwatch,
timbangan milligram, timbangan analitik, beaker glass, pipet volume, pipet ukur.

3.3 Jalannya Penelitian

Persiapan Bahan

Belimbing wuluh dipanen dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran dan cemaran,
dikeringkan dengan oven pada suhu 40° C sampai kering dan dibuat serbuk yang diayak dengan
ayakan nomor 100 dan serbuk yang didapatkan digunakan untuk penelitian.

Pembuatan fraksi eter dan air ekstrak metanolik daun belimbing wuluh

Serbuk belimbing wuluh ditimbang sebanyak 50 gram dimasukkan dalam kantong dari kertas
saring dan diikat dengan tali lalu dimasukkan dalam labu alas bulat ditambahkan pelarut petroleum
eter sebanyak 300 ml menggunakan metode soxhletasi. Ampas yang dihasilkan diangin-anginkan
sampai kering dan tidak berbau petroleum eter, kemudian disari lagi dengan pelarut metanol
sebanyak 350 ml menggunakan metode soxhletasi diatur pada suhu 65° C. Soxhletasi dihentikan
sampai diperoleh larutan penyari yang jernih. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan vacum
evaporator dengan suhu 600 C hingga pekat, selanjutnya disebut ekstrak metanolik. Ekstrak
metanolik yang diperoleh disuspensi dengan 100 ml air dan dipartisi dengan 100 ml eter sebanyak
tiga kali menggunakan corong pisah. Lapisan eter dipisahkan dan dipekatkan diperoleh fraksi eter
kemudian dilarutkan dengan metanol. Dibuat berbagai konsentrasi. Fraksi air dipekatkan dan
dilarutkan dengan metanol. Fraksi air dibuat berbagai konsentrasi.

Pengukuran absorbansi peredaman radikal bebas DPPH

Larutan uji dengan berbagai konsentrasi (10 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 80 ppm, 160 ppm)
sebanyak 4 ml ditambahkan 1 ml larutan pereaksi DPPH dimasukkan dalam vial dikocok.
Didiamkan pada suhu kamar selama 30 menit, kemudian dibaca serapan aktivitasnya pada panjang
gelombang maksimum. Blangko yang digunakan metanol dan rutin sebagai kontrol positif.

E ‐ 3 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 

Analisa data

Data aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH (%) fraksi eter, air dan rutin dianalisis dan
dihitung dengan nilai IC50 melalui analisis probit. Hasil nilai IC50 dilakukan uji statistik yaitu uji
Anava satu jalan.

4. HASIL Dan DISKUSI

Pembuatan fraksi eter dan air ekstrak

Serbuk belimbing wuluh sebanyak 50 gram dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan
dengan alat soxhletasi, ditambah pelarut Petroleum Eter sebanyak 300 ml kemudian dipanaskan
menggunakan hot plate. Proses penyarian dihentikan setelah cairan penyari menjadi jernih. Ampas
yang dihasilkan diangin-anginkan, kemudian disoxhletasi dengan pelarut metanol sebanyak 350 ml.
Proses penyarian bertingkat ini dilakukan sebanyak 2 kali. Ekstrak yang dihasilkan dipekatkan
sehingga diperoleh ekstrak kental metanolik daun belimbing wuluh. Hasil ekstrak metanolik dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil ekstrak metanolik daun belimbing wuluh
No. Berat Serbuk Berat Wadah Ekstrak kental (g)

(g) Cawan kosong (g) Cawan + ekstrak (g)

1. 50,05 78,39 98,58 9,01

2. 50,00 73,21 91,30 8,09

Ekstrak kental sebanyak 17,10 g kemudian dipekatkan di waterbath dan diperoleh ekstrak
kering sebanyak 9,66 g. Ekstrak kering metanolik daun belimbing wuluh ditimbang sebanyak 8 g
dan disuspensi dengan 100 ml aqua selanjutnya dipartisi dengan eter 100 ml sebanyak tiga kali.
Lapisan eter yang diperoleh dimasukkan cawan dan diuapkan diatas waterbath sampai kental
sehingga diperoleh fraksi eter sebanyak1,35 g. Lapisan air juga dipekatkan diatas waterbath
diperoleh fraksi air sebanyak 3,07 g. Hasil randemen dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil randemen fraksi eter dan air ekstrak metanolik daun belimbing wuluh
Berat ekstrak Fraksi Berat wadah Fraksi kental Randemen
metanolik(g) (g) (%)
Kosong (g) + Fraksi (g)

8,00 Fraksi eter 10,21 11,56 1,35 1,35

Fraksi air 96,45 99,52 3,07 3,07

Hasil fraksi eter sebesar 1,35 gram dan fraksi air yang dihasilkan sebesar 3,07 gram. Hal ini
menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh memiliki kandungan senyawa polar yang lebih besar,
karena pelarut air yang bersifat polar.

E ‐ 4 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 

4.2 Hasil pengujian aktivitas antioksidan fraksi eter, air dan rutin.

Aktivitas antioksidan fraksi eter.

Pengujian absorbansi peredaman radikal bebas DPPH dilakukan terhadap fraksi eter dibuat
dengan berbagai konsentrasi kemudian diukur serapan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm
dengan waktu reaksi 30 menit. Pengujian ini dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Absorbansi
yang diperoleh dihitung aktivitas (% peredaman). Hasil dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil aktivitas pengujian fraksi eter ekstrak daun belimbing wuluh
Konsentrasi Absorbansi Aktivitas (% peredaman)
No
(ppm) 1 2 3 1 2 3

1. 10 0,845 0,818 0,836 15,42 18,12 16,32

2. 20 0,725 0,728 0,738 27,43 27,43 26,13

3. 40 0,647 0,625 0,623 35,24 37,44 37,64

4. 80 0,431 0,470 0,475 56,86 52,95 52,45

5. 160 0,142 0,156 0,151 86,79 84,38 84,88

Aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH fraksi eter ekstrak metanolik daun belimbing
wuluh ditunjukkan pada gambar 1.

Aktivitas Antioksidan Penangkap Radikal DPPH Fraksi Eter Ekstrak


Metanolik Daun Belimbing Wuluh

100
90
Absorbansi (% Peredaman)

80
70
60 Replikasi 1
50 Replikasi 2
Replikasi 3
40
30
20
10
0
10 20 40 80 160
Konsentrasi (ppm)

Gambar 1. Aktivitas Antioksidan Penangkap radikal DPPH Fraksi Eter ekstrak metanolik daun
Belimbing wuluh

Aktivitas antioksidan fraksi air.

Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan terhadap fraksi air dibuat dengan berbagai
konsentrasi kemudian diukur serapan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm dengan waktu
reaksi 30 menit. Pengujian ini dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Absorbansi yang diperoleh
dihitung aktivitas (% peredaman). Hasil dapat dilihat pada tabel 4.

E ‐ 5 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 

Tabel 4. Hasil aktivitas pengujian fraksi air ekstrak daun belimbing wuluh
Konsentrasi Absorbansi Aktivitas (% peredaman)

No (ppm) 1 2 3 1 2 3

1. 10 0,837 0,811 0,826 16,22 18,81 17,32

2. 20 0,719 0,739 0,723 28 26,04 27,63

3. 40 0,636 0,635 0,651 36,34 36,44 34,83

4. 80 0,432 0,417 0,451 56,76 58,26 54,86

5. 160 0,091 0,094 0,081 90,89 90,59 91,89

Berdasarkan tabel 4, aktivitas antioksidan fraksi air ekstrak metanolik daun belimbing wuluh
dapat dibuat grafik seperti pada gambar 2.

Aktivitas Antioksidan Penangkap Radikal DPPH Fraksi Air Ekstrak


Metanolik Daun Belimbing Wuluh

100
90
80
Aktivitas (% Peredaman)

70
60 Replikasi 1
50 Replikasi 2
40 Replikasi 3

30
20
10
0
10 20 40 80 160
Konsentrasi (ppm)

Gambar 2. Aktivitas Antioksidan Penangkap radikal DPPH Fraksi Air ekstrak metanolik
daun Belimbing wuluh

Aktivitas rutin.

Pengujian peredaman radikal bebas DPPH dilakukan terhadap pembanding yaitu rutin dengan
berbagai konsentrasi kemudian diukur serapan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm dengan
waktu reaksi 30 menit. Pengujian ini dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Absorbansi yang
diperoleh dihitung aktivitas (% peredaman). Hasil dapat dilihat pada tabel 5. Pengujian aktivitas
antioksidan rutin dapat ditunjukkan pada gambar 3.
Tabel 5. Hasil aktivitas pengujian rutin.
Konsentrasi Absorbansi Aktivitas (% peredaman)

No (ppm) 1 2 3 1 2 3

E ‐ 6 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 
1. 0,5 0,916 0,921 0,912 10,90 10,41 11,28

2. 1 0,892 0,899 0,894 13,23 12,55 13,04

3. 2,5 0,780 0,791 0,789 24,13 23,06 23,25

4. 5 0,670 0,661 0,676 34,83 35,70 34,24

5. 10 0,333 0,336 0,333 67,61 67,32 67,61

Aktivitas Antioksidan Peredam Radikal DPPH


Rutin

80
Aktivitas (% Peredaman)

70
60
50 Replikasi 1
40 Replikasi 2
30 Replikasi 3
20
10
0
0.5 1 2.5 5 10
Konsentrasi (ppm)

Gambar 3. Aktivitas Antioksidan Penangkap radikal DPPH rutin

Data hasil pengujian fraksi eter , fraksi air dan rutin dilakukan analisis probit untuk
mendapatkan IC50, yaitu konsentrasi yang diperlukan antioksidan untuk menangkap 50% radikal
DPPH. Nilai IC50 dari masing-masing senyawa antioksidan terlihat pada tabel 6 dan gambar 4.

Tabel 6. Nilai IC50 hasil pengujian aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH.
No Zat uji IC50 (ppm)

1. Rutin 7,00

2. Fraksi eter 50,36

3. Fraksi air 44,01

E ‐ 7 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 

Aktivitas Antioksidan

60

Aktivitas (% Peredaman)
50

40
IC 50 Rutin
30 IC 50 Fraksi Eter
IC 50 Fraksi Air
20

10

0
Zat uji

Gambar 4. Aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH

Nilai rata-rata IC50 yang diperoleh dari masing-masing larutan uji kemudian dianalisis dengan
pengujian anova satu jalan untuk melihat perbedaan yang signifikan atau nyata dari fraksi eter, air
dan rutin. Hasil analisa Nilai IC50 dari ketiga larutan uji dilakukan uji statistik secara Anava satu
jalan menunjukkan bahwa ketiga perlakuan dalam penelitian tersebut ada perbedaan yang
bermakna atau beda signifikan. Pengujian ini terlihat ada perbedaan yang signifikan antara fraksi
eter, air adan rutin dengan nilai signifikan lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan ketiga
larutan uji tersebut ada perbedaan yang bermakna.

5. KESIMPULAN

Pengujian aktivitas antioksidan fraksi eter dan fraksi air ekstrak metanolik daun belimbing
wuluh dalam penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Belimbing wuluh memiliki aktivitas antioksidan.
2. Fraksi eter dan air memiliki aktivitas antioksidan terhadap radikal DPPH dengan nilai
IC50 50,36 ppm dan 44,01 ppm. Rutin sebagai pembanding memiliki nilai IC50 sebesar
7,00 ppm.

Saran

Perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi, memurnikan serta mengidentifikasi


senyawa aktif yang terdapat dalam belimbing wuluh.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2000). Parameter Standart Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Direktorat jendral
Pengawasan Obat dan makanan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 10-11.
Anonim, (2001). Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I), jilid 2, Departemen Kesehatan dan
Kesejahteraan social Republik Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembnagan Kesehatan,
Jakarta, hal 37-38.
Dalimartha, S. dan Soedibyo, M. (1999). Awet Muda Dengan Tumbuhan Obat dan Diet Supleme.,
Trubus Agriwidya, Jakarta. hal. 36-40.
Effendi, (1998). Uji Daya Antiinflamasi Fraksi Petroleum Eter, Etil Asetat, dan Fraksi Air Daun
Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) pada Tikus Putih, skripsi, Fak. Farmasi UGM,
Yogyakarta.

E ‐ 8 
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007)    ISSN : 1978 – 9777 
Yogyakarta, 24 November 2007 
 
Hernani, Raharjo, M., (2005). Tanaman berkhasiat Antioksidan, Penebar Swadya, Jakarta,.
Lautan, J., (1997). Radikal Bebas Pada Eritrosit dan Leukosit, Cermin Dunia Kedokteran, (116),
hal : 49-52.
Rohdiana, D.(2001). Aktivitas Daya Tangkap Radikal Polifenol Dalam Daun Teh, Majalah Jurnal
Indonesia 12, (1), 53-58.
Siswanto, Y.W. (2005). Seminar Peluang Obat Tradisional Menuju Pasar Bebas 2010, 16 Januari
2005.
Sofia, D. Antioksidan dan Radikal bebas, situs Web Kimia Indonesia (online), (http: www.chemis-
try.org, diaksess 28 November 2006.
Sudarsono, P., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I.A., Purnomo, (2002). Tumbuhan Obat
Indonesia, Yogyakarta.
Suhartono, E., Fujiati, Aflanie, I. (2002). Oxygen toxicity by radiation and effect of glutamic
piruvat transamine (GPT) activity rat plasma after vitamine C treatmen, Diajukan pada
Internatinal seminar on Environmental Chemistry and Toxicology, Yogyakarta.
Sunarni,T., (2005). Aktivitas Antioksidan Penangkap Radikal Bebas Beberapa kecambah Dari Biji
Tanaman Familia Papilionaceae, Jurnal Farmasi Indonesia 2 (2), 2001, 53-61.
Tahir, I., Wijaya, K., Widianingsih, D., (2003). Seminar on Chemometrics- Chemistry Dept Gadjah
Mada University, Terapan Analisis Hansch Untuk Aktivitas Antioksidan senyawa Turunan
Flavon/Flavonol, 25 Januari.
Wijaya, A., (1997). Oksidasi LDL, Aterosklerosis dan Antioksidan, Medika 3, hal: 1-15.

E ‐ 9