Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

KEUTAMAAN TAHFIZ DAN TADABBUR QUR’AN

Disusun Oleh :
Dea Silvia
Kelas : XI

PONDOK PESANTREN
DARUSSALAM KOPOSARI
CILEUNGSI
KATA PENGANTAR

Teriring puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena

berkat rahmat dan limpah-Nya jualah sehingga makalah yang berjudul

“BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA” ini dapat diselesaikan.

Tak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu, baik moril, materil, kontribusi ilmu. Terutama kepada Dosen

mata kuliah Hadist dan Ilmu Hadist yang telah memberikan tugas demi

tercapainya tujuan proses belajar mengajar yang telah digariskan. Di dalam

makalah ini membahas tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua sebagai bahan

pelajaran khusus juga untuk menambah pengetahuan bagi penyusun maupun bagi

pembaca pada umumnya.

Terlepas dari hal di atas kami menyadari makalah ini masih mempunyai

banyak kekurangan. Untuk itu, kami meminta kritik dan saran yang sifatnya

membangun untuk memperbaiki makalah selanjutnya. Kami menyadari bahwa

bagaimanapun kami berusaha menyempurnakannya tidak akan tercapai karena

kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.

Cileungsi, 2 Januari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan .................................................................................. 2
D. Manfaat ..................................................................................................... 3
E. Metode Penelitian...................................................................................... 3
F. Sistematika Pembahasan ........................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Berbakti Kepada Kedua Orang tua .......................................... 4
B. Pengertian Berbuat Baik dan Durhaka ...................................................... 5
C. Wajibnya berbakti dan Haramnya Durhaka .............................................. 6
D. Kutamaan Berbakti Kepada Orang Tua dan Pahalanya ............................ 12
E. Bentuk-bentuk Berbakti Kepada Orang Tua ............................................. 16
F. Bentuk-bentuk Durhaka Kepada Orang Tua............................................. 20
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................... 23
B. Saran.......................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................xxv

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Islam mengajarkan kita untuk berbakti terhadap orang tua, karena

dengan perantara orang tualah kita dapat merasakan kenyamanan hidup

yang sekarang ini. Selain itu mengingat betapa mulianya, betapa kerasnya

dan betapa banyaknya pengorabanan yang telah mereka lakukan demi

anaknya. Jasanya untuk menghidupi, memelihara dan mendidik kita

dengan semua kasih sayang yang mereka miliki, bahkan marah merekapun

merupakan suatu bentuk sayang yang terhadap kita. sehingga dapat

tumbuh besarlah kita seperti sekarang ini. Semua karena kasih sayang

yang meraka limpahkan untuk kita.

Mereka melakukan semuanya tanpa mengharap balasan dari kita,

mereka melakukannya semata-mata untuk membuat kiat menjadi yang

terbaik. Perhatian mereka terhadap kita tidak akan pernah luntur, meskipun

nanti kita sudah bisa hidup mandiri. Bahkan dalam hadits ditegaskan

bahwa keridhoan Allah tergantung pada keridhoan orang tuanya.

Allah SWT. sudah cukup menegaskan wacana ‘berbakti’ itu, dalam

banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah SAW. dalam banyak

sabdanya dengan memberikan bingkai-bingkai khusus bahwa Berbakti

Kepada kedua Orang Tua, lebih dari sekedar berbuat ihsan (baik) kepada

keduanya. Namun Birrul Walidain memiliki nilai- nilaitambah yang

semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi

sebuah’bakti’. Bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara

1|Page
untuk dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah

dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.

Imam An-Nawawi menjelaskan, “Arti Berbakti Kepada kedua

Orang Tua yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik

kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka

bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang di atas penulis akan merumuskan dasar

masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian dari Berbakti Kepada kedua Orang Tua?


2. Apa pengertian berbuat baik dan durhaka?
3. Apa yang dimaksud wajibnya berbakti dan haramnya durhaka?
4. Apa keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan pahalanya?
5. Bagaimana contoh bentuk-bentuk berbakti kepada kedua orang tua?
6. Bagaimana contoh bentuk-bentuk durhaka kepada orang tua?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan dan memahami pengertian dari Birrul Walidain


2. Menjelaskan dan memahami pengertian berbuat baik dan durhaka
3. Menjelaskan dan memahami wajibnya berbakti dan haramnya durhaka
4. Menjelaskan dan memahami keutamaan berbakti kepada kedua orang
tua dan pahalanya
5. Menjelaskan dan memahami bentuk-bentuk berbakti kepada kedua
orang tua
6. Menjelaskan dan memahami bentuk-bentuk durhaka kepada orang tua
D. Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini merupakan sumber kajian bagi

penulis dalam rangka turut serta meningkatkan kualitas penulis serta

pengaplikasian pembaca sebagai sumber pembacanya.

E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah

metode qualitative research. Pada pengumpulan data-data dalam

penenlitian ini penyusun menggunakan study kepustakaan (library

research).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Birrul Walidain ditinjau secara bahasa Abu Faaris berkata: Huruf

“baa” dan “raa” yang ditasydidkan, memiliki empat arti dasar:

Kejujuran , ungkapan suara , lawan dari kata bahr dan jenis tanaman

(gandum). Adapun kejujuran, diambil dari perkataan mereka: “Fulan

telah berlaku jujur”. Ia telah jujur dalam sumpahnya, yaitu

melakukannya dan menunaikannnya dengan kejujuran. Adapun

ungkapan suara, orang-orang arab mengatakan: “Tidak bisa dibedakan

antara hirr dan birr. Hirr adalah suara untuk memanggil kambing dan

birr adalah suara ketika mengiringnya”. Makna ketiga, yaitu lawan

dari kata bahr (lautan), dikatakan: “Seorang lelaki terdampar didaratan

dan seorang pelaut berada dilautan”. Adapun nama jenis tanaman,

diantaranya adalah burr yaitu gandum, bentuk tunggalnya adalah

burrah1. Sedangkan Berbakti Kepada kedua Orang Tuaditinjau secara

Syar’I yaitu berbuat baik kepada orang tua, menunjukan kasih saying

dan kelemah lembutan terhadap keduanya, memperhatikan keadaan

mereka berdua dan tidak melakukan perbuatan buruk terhadap

keduanya. Memulaikan teman-teman keduanya sesudah keduanya

wafat2.

1
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Kitab Berbakti Kepada kedua Orang Tuaedisi Indonesia Berbakti Kepada
Kedua Orang Tua, (Jakarta: Darul Qolam), hlm. 5

2
Yazid, op. cit., hlm.5
B. Pengertian Berbuat Baik Dan Durhaka

Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana-

yuhsinu-ihsanan. Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan dalam

pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu

menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan

bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut

Ibnu Athiyah, kita wajib juga menaati keduanya dalam hal-hal yang

mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan

menjauhi apa-apa yang dilarang3.

Sedangkan ‘uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu

memotong kambing). ‘Uququl Walidain adalah gangguan yang

ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa

perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dariseorang anak

kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan

mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau

menyakitkan hati, menggertak, mencuri dan yang lainnya. Sedangkan

yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan

tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh

untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan,

tidak bersilaturahmi atau tidak memberikan nafkah kepada kedua

orang

tuanya yang miskin4.

3
Yazid, op. cit., hlm 8
4
Yazid, op. cit., hlm 8
C. Wajibnya Berbakti dan Haramnya Durhaka
Di dalam al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia

untuk bertauhid kepada-Nya, Allah SWT. memerintahkan untuk

berbakti kepada orang tuanya. Mengenai wajibnya seorang anak

berbakti kepada orang tua diantaranya5

Dalam surat Al-Isra ayat 23-24, Allah berfirman:

َ ‫بر‬U‫ايإ إَّل اودبعت أَّل ك‬U‫يلِولٱبو ه‬U‫۞كدنع نغلبي امإ ۚ انسحإ ن‬


‫ضقو‬

‫هدحأ بكلٱ‬U‫مه ِكل وأ ام‬U‫قو امهرهنت لَّو فأ امهل لقت لَف ا‬U‫هل ل‬U‫لَّوق ام‬

‫ك‬U‫ و امه ۡحرٱ ام‬U‫نم للذٱ ة ۡحرلٱ بر لق‬ ‫ اميرك ضفخٱو حانج امهل‬٢٣

‫ ايرغص نايبر‬٢٤

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia

beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik

kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu

dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka

janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu

membentak keduanya”. [Al-Isra: 23] “Dan katakanlah kepada

keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap

keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-

ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di

waktu kecil”. [Al-Isra: 24]

5
Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, Cet.I (Maktabah Daarus Salam, 1413 H) hlm. 39-40.
Perintah Berbakti Kepada kedua Orang Tuajuga tercantum dalam
surat An-Nisa ayat

36, Allah SWT berfirman:

‫يذبو انسحإ برقلٱ‬ ‫يش‬U‫نيِلولٱبو ۖ ا‬ ‫۞اودبعٱو لٱّل ۦهب اوك ۡشت لَّو‬

‫ۡلٱو‬U‫لٱو مت‬U‫ۡلٱو يكسم‬U‫ۢن ۡلٱب بحاصلٱو بن ۡلٱ راۡلٱو برقلٱ يذ را‬U‫ب‬

‫ي َّل ٱّلل نإ مكنميأ تكلم امو ليبسلٱ نبٱو‬


ُ ‫ك نم ب‬ ُ ‫وخف لَّات‬U‫ار‬
َ ‫من‬

٣٦

“Dan sembahlah Allah dan jangnlah menyekutukan-Nya dengan

sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum

kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada

tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan

hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

sombong dan membanggakan dirinya”. [An-Nisa: 36]

Juga terdapat dalam surat Luqman ayat 14-15.

‫و‬U‫نيصو‬U‫فۥهلصفو نهو عَل انهوۥهمأ هتل ۡح هيِلوب نسنۡلٱ ا‬


ِ ‫أ يم َع‬U‫ن‬

‫يِلولو ِل ركشٱ‬U‫لٱ ِلإ ك‬U‫ يرصم‬١٤ Uِ‫وإ‬Uَ U‫شت نأ عَل كادهج ن‬


ۡ ‫بك‬
ِ ‫سيل ام‬
‫نم ليبس‬ ‫رعم‬U‫مهعطت َلف ملع عبتٱو ۖ افو‬U‫ا‬Uۖ ‫حاصو‬U‫مهب‬U‫ف ا‬
ِ ‫اينلِٱ‬ ‫ۦهب كل‬

‫ نولمعت متنك امب مكئبنأف مكعجرم ِلإ مث ۚ ِلإ بانأ‬١٥

“Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang

tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang


bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah

kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku

lah kalian kembali”. [Luqman: 14] “Dan jika keduanya memaksamu

mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu

tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan

pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan

orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku

lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu

kerjakan”. [Luqman: 15] Atau seperti yang tercantum dalam surat Al-

Ankabut ayat 8, tidak

boleh mematuhi orang tua yang kafir, apabila mengajak pada kekafiran.

‫و‬U‫نيصو‬U‫ادهج ن َوإِ ۖ انسح هيِلوب نسنۡلٱ ا‬U‫تل ك‬Uۡ‫ب كش‬


ِ ‫ل سيل ام‬U‫ۦهب ك‬

‫هعطت َلف ملع‬U‫ب مكئبنأف مكعجرم ِلإ ۚ ام‬U‫ نولمعت متنك ام‬٨

“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada

kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk

mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu

tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya

kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang

telah kamu kerjakan”. [Al-Ankabut: 8]

Serta surat Al-Ahqaaf ayat 15-16.

‫هرك‬U‫و ا‬U‫و ۥهمأ هتل ۡح ۖ انسحإ هيِلوبۥهل ۡحو ۖ اهرك هتعضو‬U‫نيصو‬U‫نسنۡلٱ ا‬

‫وأ بر لاق ةنس يعبرأ غلبوۥهدشأ غلب اذإ تَّح اۚ رهش نوثلثۥهلصفو‬U‫نِعز‬
‫تمعن ركشأ نأ‬U‫معنأ تَّلٱ ك‬U‫هىضرت احلص لمعأ نأو يِلو َعلو عَل ت‬

‫ف ِل حلصأو‬ ِ ‫تَّيرذ‬Uۖٓ‫كلإ تبت نإ‬


ۡ ِ‫ يملسملٱ نم ن َوإ‬١٥‫بقتن نيلذٱ كئلوأ‬U‫ل‬
‫ف مهتايس نع زواجتنو اولمع ام نسحأ مهنع دعو ۖٓةن ۡلٱ‬ ِ ‫أ‬U‫حص‬U‫ب‬

‫ نودعوي اون َك يلذٱ قدصلٱ‬١٦

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada

dua orang ibu bapaknya, ibunyaa mengandungnya dengan susah

payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,

sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh

tahun, ia berdo’a “Ya Rabb-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri

nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku kedua orang

tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau

ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memeberi kebaikan)

kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan

sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang erserah diri”. [Al-

Ahqaaf: 15] “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari

mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni

kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga,

sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka”. [Al-

Ahqaaf: 16]
Sedangkan tentang anak durhaka kepada kedua orang tuanya

dintaranya6

Terdapat di dalam surat Al-Ahqaaf ayat 17-20

‫رخأ نأ نِنادعتأ امكل فأ هيِلول لاق يلذٱو‬U‫ٱ تلخ دقو ج‬U‫نم نورقل‬

‫قيف قح ٱّلل دعو نإ نماء كليو للٱّ ناثيغتسي امهو لِبق‬U‫إ اذه ام لو‬Uَّ‫ل‬

‫ۡلٱ يرطسأ‬U‫ يلو‬١٧ ‫ قح نيلذٱ كئلوأ‬U‫ف لوقلٱ مهيلع‬


ِ ‫نم تلخ دق ممأ‬
ٓ ۖ ‫سخ اون َك مهنإ‬
‫س‬ ِ ‫ ني‬١٨ ‫جرد كلو‬U‫اۖو لمع امم ت‬ ‫نۡلٱو نٱۡل نم مهلبق‬

‫ نوملظي َّل مهو مهلمعأ مهيفوۡلو‬١٩ ‫رفك نيلذٱ ضرعي مويو‬U‫رالنٱ عَل او‬

‫ف مكتبيط متبهذأ‬ ُ ‫ب اذ ع نو ز‬
ِ ‫ح‬U‫متسٱو اينلِٱ مكتاي‬U‫ت‬U‫ت موۡلٱف اهب متع‬

‫بكتست متنك امب نوهلٱ‬U‫ف نو‬


ِ ‫غب ضۡرۡلٱ‬U‫ نوقسفت متنك امبو قۡلٱ ير‬٢٠

“Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, ‘cis (ah)’

bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan

kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu

beberapa umat sebelumku? Lalu kedua orang tua itu memohon

pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu,

berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”.Lalu dia berkata,

“Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”. [Al-Ahqaaf:

6
Yazid, Kitab Berbakti Kepada kedua Orang Tuaedisi Indonesia Berbakti Kepada Orang Tua, (Jakarta:
Darul Qalam, 2003)
hlm.11
17]. “Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (adzab)

atas mereka, bersama-sama umat-umat yang telah berlalu sebelum

mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-

orang yang merugi”. [Al-Ahqaaf: 18]. “Dan bagi masing-masing

mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan da agar Allah

mencukupkan bagi mereka (balasan) apa yang telah mereka kerjakan

sedang mereka tidak dirugikan”. [Al-Ahqaaf: 19]. “Dan (ingatlah) hari

(ketika) orang- orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka

dikatakan), “Kamu telah menghabiskan rizkimu dalam kehidupan

duniawi dan kamu telah bersenang-senang dengannya maka pada hari

ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan. Karena kamu telah

menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak, dan karena kamu telah

berbuat fasik”. [Al- Ahqaaf: 20]

Sedang dalam surat Al-Baqarah ayat 215

‫ق ۖنوقفني اذام كنولسي‬U‫مت ۡلٱو يبرقۡلٱو نيِلوللف يرخ نم متقفنأ ام ل‬

‫لٱو‬U‫لعفت امو ليبسلٱ نبٱو يكسم‬U‫ ميلعۦهب للٱّ نإف يرخ نم او‬٢١٥

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang

mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah

diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-

orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa

saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah Maha

Mengetahui”. [Al-Baqarah: 215]


Didalam ayat-ayat Al-Quran disebutkan tentang bertauhid

kepada Allah selalu diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tua,

ini menunjukan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah

masalah kedua setelah mentauhidkan Allah SWT. Tidak boleh terjadi

bagi seorang yang bertauhid kepada Allah STW tetapi ia durhaka

kepada orang tuanya. Wajib baginya berbakti kepada kedua orang

tuanya.7

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang

wajibnya berbakti kepada kedua orang tua. Dalam surat Luqman,

Allah menyebutkan wajibnya seorang anak berbakti kepada kedua

orang tua dan bersyukur kepadanya serta disebutkan juga tentang

larangan mengikuti orang tua jika orang tua tersebut mengajak kepada

syirik.

D. Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua dan Pahalanya


Diantara fadhilah (keutamaan) berbakti kepada kedua orang tua, yaitu:
1. Merupakan Amal yang Paling Utama
Dengan dasar diantaranya yaitu hadist Nabi Muahmmad

SAW yang disepakati oelh Bukhari dan Muslim,


ْ‫ا ُ؟لَضف‬ َ‫ُِه َّلال ملَسو ْهيَلَعَ َم ع‬ ‫ُوَسر هِ َّلال‬ ‫ ْل َأَس‬:
‫ْلا‬ ‫ّى‬
‫َل‬
‫ْلُق‬: َ ْ‫ا ؟يَأ يَدَالوْلا ِرب‬ ‫ْلُق ت‬: ‫ صلَّ ة َىل َِل اَق اَه‬:
‫ ال‬: ُِ ‫ْتق‬ ‫َال‬
‫يَِبس يف داَه هِ َّلال‬ ‫ْلَا‬: ‫َِل اَق ؟يَأ‬
dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud ra. Dari

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku bertanya kepada Nabi


SAW tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai

Allah? Nabi

SAW menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat

7
Syaikh Imam Al-Albani, Bahjatun Nazhirin Syarah, Riyauds Shalilhin I hal.391
lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada

orang tua, ketiga jihad di jalan Allah”.8

2. Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua


Dalam hadist yang diriwyatkan oleh Imam Bukhari dalam

Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari

sahabat.
‫َالوال‬ ‫ط خْ سُ ىف‬ُ ‫ر ىفِ و َالوال ا رال‬ ‫ض ِر‬
َ ‫ال ا‬
ُ‫س‬
Abdilah bin Amr dikatakan: Dari Abdilah bin Amr bin Ash ra

dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ridha Allah

tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah

tergantung kepada kemurkaan orang tua”9

3. Berbakti Kepada Orang Tua dapat Menghilangkan Kesulitan

yang sedang dialami dengan cara bertawasul dengan amal

shaleh tersebut. Dengan dasar hadist Nabi SAW dari Ibnu

Umar. Rasulullah SAW bersabda, “Pada sutu hari tiga orang

berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di

kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba

sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua.

Sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal

terbaik yang pernah kamu lakukan’. Kemudian mereka

memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut,

dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut.

8
HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9
9
HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)
Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya

aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia

sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih

kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku

selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang

tuaku sebelum orang lain. Suatu hari kau harus berjalan jauh

untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang

telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah

tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya.

Susu tersebut tetap aku pegang lalu kau mendatangi keduanya

namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anaku merengek-

rengek menagis untuk meminta susu ini dan aku tidak

memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun

sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang

tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi

hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada

keduanya. Setelah keduanya minum lalu kberikan kepada nak-

anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan

yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu

yang menutupi pintu gua itupun bergeser”.10

4. Akan Diluaskan Rizki dan Dipanjangkan Umur

10
HR. Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim(2473) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah
Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal)

14 | P a g e
Sebagaimana dalam hadist yang disepakati oleh Bukhari dan

Muslim, dari sahabat Anas ra bahwa Nabi SAW bersabda:


‫هق ْ أَ ِْل صْيَلف هِر َثأ ىف ُه حرَ ُِه‬، ‫ط ىف ُِه نَيو‬ َ ‫َح َأ َنم ْبُي ِْن َأ‬
َ ‫ِر‬
‫س‬ َ
‫س‬

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan

umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”.

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist-hadist Nabi SAW

dianjurkan untuk menyambung silaturahmi. Dalam silaturahmi,

yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua

sebelum kepada yang lain. Sesulit apapun harus tetap

diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua.

Karena dengan dekat kepada keduanaya insya Allah akan

dimudahkan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana

dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi akan

diakhirkannya ajal dan umur seseorang. Walaupun masih

terdapat perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini,

namun pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir

hadist ini bahwa umumnya memang benar-benar akan

dipanjangkan.11

5. Akan Dimasukkan ke Jannah (surga) Oleh Allah SWT


Di dalam hadist Nabi SAW disebutkan bahwa anak yang

durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadist

11
HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693

15 | P a g e
tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada orang tua akan

dimasukkan oleh Allah SWT ke jannah (surga). Dan dosa-dosa

yang Allah SWT segerakan adzabnya di dunia diantaranya

berbuat zhalim, dan durhaak kepada orang tua. Dengan

demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang

tuanya, Allah SWT akan menghilangkannya dari berbagai

malapetaka dengan izin Allah.12.

E. Bentuk-bentuk Berbakti kepada Orang Tua


Bentuk-bentuk berbuat baik kepada kedua orang tua adalah:
1. Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik
Di dalam hadist Nabi SAW disebutkan bahwa memberikan

kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih

utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang

tua kita. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang

meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah

kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan

meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka

Rasulullah SAW bekata, “Kembali dan buatlah keduanya

tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis”.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Berbaktilah kepada kedua orang

tuamu”.

2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut

12
Yazid, Bingkisan Istimewa Menuju keluarga Sakinah, (Bogor: Pustaka A-Taqwa, 2006), hlm 21

16 | P a g e
Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua

dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain.

Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang

tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’, apalagi mencemooh dan

mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan

dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua.

Kita tidak boleh kasar kepada orang tua kita, meskipun

keduanya berbuat jahat terhadap kita. Atau ada hak kita yang

ditahan oleh orang tua atau oang tua memukul kita atau

keduanya belum memenuhi apa yang kita minta walaupun

mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada

keduanya.

3. Tawadhu (rendah diri) dan tidak sombong dihadapan orang tua


Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses

atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita

berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan.

Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan,

minum, pakaian dan semuanya.

Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan

yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin

tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan

sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada

keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut


tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh

adalah
orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita

untuk berbuat baik selagi keduanyamasih hidup.

4. Memberikan infaq (shadaqah) dan nafkah kepada kedua orang


tua
Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah SWT

dalam surat Al-Baqarah ayat 215.

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka

infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah

diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim,

orang- orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam

perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat

sesungguhnya Allah maha mengetahui.

5. Mendo’akan kepada kedua orang tua


Sebagaimana dalam ayat “Robbirhamhuma kamaa

rabbayaani shagiiro” (wahai Rabb-ku kasihinilah mereka

keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di

waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah

yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita harus tetap

berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada

keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo’a

di malam hari, ketika sedang shaum, di hari jum’at dan di

tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan

dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah SWT.


Apabila kedua orang tua itu meninggal maka, yang pertama

kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala

dengan taubat yang nasuh (benar) bila kita pernah berbuat

durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka masih hidup.

Yang kedua adalah mendo’akan kedua orang tua kita.

Dalam sebuah hadist dha’if (lemah) yang diriwayatkan oleh

Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, seseorang pernah bertanya

kepada Rasulullah SAW, “Apakah ada suatu kebaikan yang

harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku sesudah wafat

keduanya?” Nabi SAW menjawab, “Ya, kamu sholat atas

keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu memenuhi

janji keduanya, kamu silaturahmi kepada orang yang pernah

dia pernah silaturahmi kepadanya dan memuliakan teman-

temannya”.

Sedangkan menurut hadist-hadist yang shahih tentang amal-

amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat,

adalah:

a. Mendo’akannya
b. Menshalatkan ketika orang tua meninggal
c. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya
d. Membayarkan hutang-hutangnya
e. Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at
f. Menyambung tali silaturahmi kepada orang yang keduanya
juga pernah menyambungnya.
Sebagaimana hadist Nabi SAW dari sahabat Abdullah bin

Umar ra. “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,


“Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah

menyambung tali silaturahmi kepada teman-teman bapaknya

sesudah bapaknya meninggal”.

6. Menaati perintah orang tua selama tidak bertentangan dengan

syari’at dan aqidah. 13

F. Bentuk-bentuk Durhaka Kepada Orang Tua


Bentuk-bentuk durhaka kepada orang tua ialah:
1. Berbicara dengan kata-kata kasar
Tanda seseorang beradab adalah bertutur kata dengan kata-kata
yang halus karena hal itu menunjukkan bahwa orangnya
berbudi dan tahu kesopanan dan berjiwa halus. Terhadap orang
yang lebih tua, seorang anak harus menunjukkan, dari Ibnu
‘Amir, dari Nabi SAW besabda: “Keridhaan Allah adalah
keridhaan ayah bunda dan kemurkaan-Nya ada dalam
kemurkaan mereka”. (HR. Thabrani)
Kata-kata kasar dan ucapan merendahkan terkadang berupa:

a. Bersuara tinggi atau keras ketika kita berbicara terhadap


orang yang lebih tua
b. Menyuruh orang yang lebih tua dengan kata-kata yang
kasar.
Menyidir
c. Mengumpat
d. Mengata-ngatai seseorang yang lebih tua layaknya mengatai
seorang pembantu
e. Membentak
2. Membuang muka
Membuang muka ketika berbicara dengan orang lain

merupakan perilaku yang merendahkan lawan bicara dan

13
Yazid, Bingkisan Istimewa Menuju keluarga Sakinah, (Bogor: Pustaka A-Taqwa, 2006), hlm. 24
cerminan dari sifat tinggi hati sang pendengar/ pembicara yang

memalingkan muka.

3. Duduk mendahului orang tua


Mendahulukan orang tua mengambil tempat duduk adalah

hak orang tua yang harus dijunjung tinggi oleh anak dimana

pun orang tua dan anak berada.

4. Menghardik
Menghardik berarti membentak atau melontarkan kata-kata

dengan nada suara keras. Menghardik dimaksudkan untuk

menakut-nakuti atau meluruskan sebuah kesalahan bila yang

bersalah lebih muda dalam umur dan statusnya.

5. Berkacak pinggang di depan orang tua


Orang beradab tinggi selalu bersikap rendah hati terhadap

orang lain. Salah satu tanda dari sikap tinggi hati adalah

berkacak pinggang di hadapan orang lain karena merasa dirinya

lebih hebat daripada orang lain. Berpersaan orang lain lebih

rendah derajatnya atau hina daripada dirinya adalah suatu

perbuatan yang sangat tercela dan dimurkai oleh Allah. Contoh

merendahkan derajat orang lain adalah “Saudara ini lulusan SD,

apakah mungkin saudara mengerti benar dan salah dari perkara

yang ada”.

6. Membelakangi
7. Merendahkan
Merendahkan dalam artian memandang orang lain lebih

rendah derajatnya/ kurang di mata kita. Merendahkan bisa


berupa ucapan maupun perbuatan. Contoh kasus anak yang

merendahkan orang tua: “Kalau saya tidak bantu setiap bulan,

tentu ibu bapak tidak bisa hidup”.

Ucapan tersebut jelas-jelas merendahkan martabat orang tua

karena memang sudah menjadi tanggung jawab seorang anak

untuk membantu kehidupan ibu bapaknya.14

14
Yazid, op. cit., hlm.29-30
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Pada hakekatnya seorang anak harus berbuat baik kepada kedua

orang tuanya. Meski orang tua masih dalam keadaan musyrik mereka

tetap mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari

anak-anaknya.

Berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan daripada

fardhu kifayah dan amalan-amalan sunnah lainnya.. berbuat baik

kepada kedua orang tua didahulukan daripada berjihad dan hijrah di

jalan Allah. Berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan daripada

kepada istri dan anak-anak.

Berbuat baik kepada orang tua tidak berarti harus meninggalkan

kewajiban terhadap istri dn anak-anaknya. Kewajiban memberikan

nafkah kepada itri dan anak-anak tetap dipenuhi walaupun kepada

kedua orang tuanya harus didahulukan.

Imam Qurthubi secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti

kepada kedua orang tua hendaknya seorang anak menyetujui apa yang

dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang tua. Fudlail bin

Iyadl berkata, “Janganlah enngkau melayani kedua orang tuamu dalam

keadaan malas”.

Abu Hurairah ra dalam hadist shahih yang diriwayatkan Imam

Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah

ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata,


“Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah

engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum

ia duduk”.

Tidak boleh berbuat baik kepada kedua orang tua dalam

bermaksiat kepada Allah. Apabila orang tua menyuruh melakukan

sesuatu yang haram atau mencegah dari perbuatan yang wajib, maka

tidak boleh ditaati. Bahwa orang yang paling baik untuk kita jadikan

teman dan sahabat karib selama-lamanyaadalah orang tua sendiri.

Harta yang dimiliki seorang anak pada hakekatnya adalah milik

orang tua. Berikan kepada orang tua apa yang ada pada kita yang pada

hakekatnya adalah milik orang tua.karena kita tidak bisa berusaha,

bekerja dan endapat gaji, mendapatkan ma’isyah (mata pencaharian),

karena sebab orang tua yang melahirkan dan mendidik kita.

Kalau keduanya sudah meninggal, tetap berbuat baik dengan

mendo’akan, menyambung tali silaturahmi kepada teman-teman orang

tua yang disambungoleh keduanya.

B. Saran
Membicarakan tentang berbakti kepada orang tua, kita sebagai

seorang anak harus mematuhi apa yang orang tua inginkan, selama hal

tersebut tidak bertentangan dengan aqidah Islam. Hendaklah

memperhatikan kedua orang tua seumur hidup dan jangan merasa

lelah, capek, maupun letih dalam berbakti kepada keduanya,

sebagaimana kita tidak capek dan letih dalam taat kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
- HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9
- HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid),
Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)
- HR. Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) Bab Qishshah
Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal
- HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693
- Syaikh Salim Bin 'Ied Al-Hilali, Imam An Nawawi. (2014). Riyadhus
Shalihin (Terjemahan Bahasa Indonesia). Jakarta: Pustaka Imam Asy Syafii
- Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, Cet.I. Maktabah Daarus Salam, 1413 H.
- Yazid bin Abdul Qadir Jawas. (2006). Bingkisan Istimewa Menuju
keluarga Sakinah. Bogor: Pustaka A-Taqwa.
- Yazid bin Abdul Qadir Jawas. (2003). Kitab Berbakti Kepada kedua
Orang Tuaedisi
Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua. Jakarta: Darul Qolam.

xxv