Anda di halaman 1dari 38

1.

Abortus
A. Definisi
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis. Namun kehamilan yang normal dapat
berubah menjadi patologi. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan menjadi
masalah. Beberapa wanita pada awal kehamilanya berjalan normal tetapi cenderung
berkembang menjadi komplikasi yang berisiko dan atau telah memiliki risiko sejak awal
kehamilan (Yeyeh, 2010: 3). Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah
terjadinya perdarahan. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan
muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Prawirohardjo, 2009).
Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang
tidak dilaporkan. Terkadang seorang wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui
bahwa ia hamil, dan tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai
menstruasi yang terlambat (siklus memanjang), kecuali bila sudah terjadi komplikasi
(Sastrawinata, 2005: 2). Abortus spontan 60-80% terjadi pada trimester pertama, yakni
disebabkan karena kelainan kromosom 50%, gangguan fungsi endokrin 23%, kelainan
rahim 15% dan gangguan pada perkembangan embrio 12%.
Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar rahim
yaitu usia kurang dari 20 minggu usia kehamilan dengan berat janin kurang dari 500 gram
(Bennett & Brown, 1997; Enkin, 2000; Wiknjosastro, 2002). Menurut kamus umum Bahasa
Indonesia abortus didefinisikan sebagai terjadi keguguran janin; melakukan abortus sebagai
melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tak menginginkan bakal bayi yang
dikandung itu). Secara umum istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan,
yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak.
Biasanya dilakukan saat janin masih berusia muda (sebelum bulan ke empat masa
kehamilan) (Badudu & Zain, 1996).
Angka abortus sulit ditetapkan, sekitar 15 – 20 % kehamilan yang diketahui secara
klinis berakhir menjadi abortus spontan, dan 80 % terjadi pada trimester pertama dan satu
dari tujuh wanita mengalami abortus sekitar minggu ke-14 usia gestasi (Bennett & Brown,
1997). Seorang wanita yang mengalami abortus akan memperlihatkan emosi yang sama
seperti wanita yang hamil dan melahirkan, termasuk juga respon depresi postpartum.
Respon wanita yang mengalami aborsi bervariasi tergantung apakah kehamilannya
diinginkan dan direncanakan atau kehamilan akibat perkosaan. Sikap wanita yang
mengalami abortus akan sangat dipengaruhi pada dukungan yang ditunjukkan oleh teman,
keluarga, serta tenaga kesehatan (Bobak, 2005).

B. Jenis Abortus
Berdasarkan kejadiannya abortus dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1) Abortus spontan terjadi secara alamiah tanpa interfensi luar (buatan) untuk mengakhiri
kehamilan tersebut. Berdasarkan gambaran kliniknya abortus dapat dibagi menjadi
(Prawirohardjo 2010):
a) Abortus completus (keguguran lengkap) adalah pengeluaran semua hasil konsepsi
[Type text]
dengan umur kehamilan > 20 minggu
b) Abortus insipiens adalah perdarahan intrauterin sebelum kehamilan lengkap 20 minggu
dengan dilatasi serviks berlanjut tetapi tanpa pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi
pengeluaran sebagian atau seluruhnya.
c) Abortus incomplit adalah pengeluaran sebagian tetapi tidak semua hasil konsepsi pada
umur >20 minggu kehamilan lengkap.
d) Abortus imminens adalah perdarahan intrauteri pada umur < 20 minggu kehamilan
lengkap dengan atau tanpa kontraksi uterus, tanpa dilatasi serviks dan tanpa pengeluaran
hasil konsepsi. Hasil kehamilan yang belum viabel berada dalam bahaya tetapi
kehamilannya terus berlanjut.
e) Missed abortion (keguguran tertunda) adalah kematian embrio atau janin berumur < 20
minggu kehamilan lengkap tetapi hasil konsepsi tertahan dalam rahim selama ≥ 8 minggu.
f) Abortus habitualis adalah kehilangan 3 atau lebih hasil kehamilan secara spontan yang
belum viable secara berturutturut.
g) Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi genetalia interna sedangkan
abortus sepsis adalah abortus terinfeksi dengan penyebaran bakteri melalui sirkulasi ibu.
2) Abortus Provocatus
Abortus provocatus adalah tindakan abortus yang disengaja dilakkukan untuk
menghilangkan kehamilan sebelum umur 28 minggu atau berat janin 500 gram, abortus ini
dibagi lagi menjadi sebagai berikut (Manuaba, 2010):
a) Abortus medisinalis adalah abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital ibu hamil
jika diteruskan kehamilannya akan lebih membahayakan jiwa sehingga terpaksa dilakukan
abortus buatan. Tindakan itu harus disetujui oleh paling sedikit tiga orang dokter.
b) Abortus kriminalis adalah abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan,
diantaranya akibat perbuatan yang tidak bertanggung jawab, sebagian besar dilakukan oleh
tenaga yang tidak terlatih sehingga menimbulkan komplikasi.
c. Etiologi Abortus Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi
terdapat beberapa faktor sebagai berikut (Nanny, 2011)
C. Etiologi
Faktor penyebab terjadinya abortus dibagi menjadi beberapa faktor yaitu :
1) Faktor janin
Kelainan pertumbuhan pada janin sebagai hasil konsepsi merupakan kelainan yang
paling umum sebagian penyebab pada abortus pada trimester pertama. Hal ini disebabkan
karena kelainan kromosom seperti trisomi autosom, triploidi, tetraploidi, atau monosomi
45X. Kelainan kromosom ini merupakan penyebab lebih dari 90 % keguguran pada
kehamilan kurang dari 8.Penyebab abortus karena kelainan kromosom pada umumnya tidak
diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh (1) kelainan genetik seperti mutasi tunggal, (2)
berbagai penyakit dan (3) mungkin beberapa faktor ayah (Cuningham, et al., 2005).

[Type text]
2) Faktor ibu
a) Usia ibu
Wanita hamil mempunyai resiko untuk mengalami abortus sebesar 10 – 25%, semakin
meningkatnya usia akan meningkatkan resiko abortus. Resiko abortus sebesar 15 % pada
usia di bawah 35 tahun, 20 – 35% pada usia 35 – 45 tahun, dan,resiko lebih dari 50 % pada
pada usia lebih dari 45 tah (Anonym, 2007).
Usia ayah juga beresiko terhadap kejadian abortus, Insiden abortus meningkat 12 – 20
% pada ayah yang berusia lebih dari 40 tahun. Usia ayah yang tua bisa menyebabkan
translokasi kromosom pada sperma dimana hal tersebut dapat menyebabkan abortus
(Cuningham, et al., 2005).
b) Paritas
Risiko abortus semakin tinggi dengan bertambahnya paritas ibu, hal ini mungkin karena
adanya faktor dari jaringan parut pada uterus akibat kehamilan berulang. Jaringan parut ini
mengakibatkan tidak adekuatnya persedian darah ke plasenta yang dapat pula berpengaruh
pada janin.

c) Infeksi
Adanya infeksi pada kehamilan dapat membahayakan keadaan janin dan ibu. Infeksi
dapat menyebabkan abortus, dan apabila kehamilan dapat berlanjut maka dapat
menyebabkan kelahiran prematur,

d) Anemia
Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada metabolisme ibu dan janin karena
dengan kurangnya kadar hemoglobin maka berkurang pula kadar oksigen dalam darah. Hal
ini dapat memberikan efek tidak langsung pada ibu dan janin antara lain kematian janin,
meningkatnya kerentanan ibu pada infeksi dan meningkatkan risiko terjadinya prematuritas
pada bayi.

e) Faktor aloimun
Kematian janin berulang pada sejumlah wanita didiagnosis sebagai akibat faktor-
faktor aloimun. Diagnosis faktor aloimun berpusat pada beberapa pemeriksaan yaitu
perbandingan HLA ibu dan ayah, pemeriksaan serum ibu untuk mendeteksi keberadaan
antibodi sitotoksik terhadap leukosit ayah dan pemeriksaan serum ibu untuk mendeteksi
faktor-faktor penyekat pada reaksi pencampuran limfosit ibu-ayah.

f) Faktor hormonal
Salah satu dari penyakit hormonal ibu hamil yang dapat menyebabkan abortus
adalah penyakit diabetes mellitus. Diabetes mellitus pada saat hamil dikenal dengan
diabetes meliitus gestasional (DMG). DMG didefinisikan sebagai intoleransi glukosa yang
terjadi atau pertama kali ditemukan pada saat hamil. Dinyatakan DMG bila glukosa plasma

[Type text]
puasa ≥ 126 mg/dl atau 2 jam setelah beban glukosa 75 gram ≥ 200 mg/dl atau toleransi
glukosa terganggu.

D. Patofisiologi
Abortus biasanya disertai oleh perdarahan ke dalam desidua basalis dan nekrosis di
jaringan dekat tempat perdarahan. Ovum menjadi terlepas, dan hal ini memicu kontraksi
uterus yang menyebabkan ekspulsi. Sebelum minggu ke-10, ovum biasanya dikeluarkan
dengan lengkap. Hal ini disebabkan karena sebelum minggu ke-10 vili korialis belum
menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua, hingga ovum mudah terlepas
keseluruhannya. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan vili
korialis dengan desidua makin erat, hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisa korion
(plasenta) tertinggal jika terjadi abortus.
Mola karneosa atau darah adalah suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul bekuan
darah. Kapsul memiliki ketebalan bervariasi, dengan vili korionik yang telah berdegenarsi
tersebar diantaranya. Rongga kecil didalam yang terisi cairan tampak menggepeng dan
terdistorsi akibat dinding bekuan darah lama yang tebal.
Pada abortus tahap lebih lanjut, terdapat beberapa kemungkinan hasil. Janin yang
tertahan dapat mengalami maserasi. Cairan amnion mungkin terserap saat janin tertekan
dan mengering untuk membentuk fetus kompresus.

E. Penatalaksanaan medis
Pada abortus imminens bila kehamilan dirasa masih bisa dipertahankan maka cukup
dilakukan istirahat rebah (bed rest) dan diberikan obat-obatan untuk menurangi kerentanan
otot-otot rahim. Untuk abortus selain abortus imminens sebaiknya segera dilakukan
kuretase agar tidak terjadi komplikasi yang akan memperparah keadaan ibu.

F. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan,perforasi, infeksi, syok,
dan gagal ginjal akut.
1) Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat
terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2) Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiper retrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada
tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung dari luas dan bentuk
perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.
3) Infeksi Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya
ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan
tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar lebih jauh,
terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh syok.

[Type text]
4) Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syokhemoragik) dan infeksi berat
(syok endoseptik).

5) Gagal ginjal akut Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus abortus biasanya berasal dari
efek infeksi dan hipovolemik yang lebih dari satu. Bentuk syok bakterial yang sangat berat
sering disertai dengan kerusakan ginjal intensif. Setiap kali terjadi infeksi klostridium yang
disertai dengan komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal ginjal pasti terjadi. Pada
keadaan ini, harus sudah menyusun rencana untuk memulai dialysis yang efektif secara dini
sebelum gangguan metabolik menjadi berat (Cunningham, 2005).
B. KEHAMILAN EKTOPIK
A. Pengertian
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi dimana telur yang telah dibuahi
berimplantasi diluar rongga uterus. Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi dituba,
jarang terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk
uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus (Yulianingsih, 2009).
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi dengan implantasi blatosis di luar
tempat endometrium normal. Dikenalnya hamil di luar kandungan berarti bawah terjadi
implantasi dari blatosis di luar uterus (Manuaba, 2005).
Kehamilanektopiktergangguadalahimplantasidanpertumbuhan hasil konsepsi di luar
endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan dengan ovum
yang dibuahi,berimplantasi dan tumbuh tidak pada tempat yang normal yakni dalam
endometrium kavum uteri (Nugroho,2012).
Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa
Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar
tempat yang semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi arbortus atau pecah,
dalam hal ini dapat.
B. Etiologi

Etiologi kehamilan ektopik terganggu pada dasarnya disebabkan segala hal yang
menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Menurut Sukarni dan Margareth
(2013), faktor–faktor yang diperkirakan sebagai penyebabnya antara lain:
1. Riwayat operasituba
2. Salpingitis (infeksi salurantelur)
3. Perlekatan tuba akibat operasinon-gynekologis
4. Alat kontrasepsi dalamrahim
5. Perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor hormonal
6. Cacat bawaan tuba, seperti tuba yang sangatpanjang
7. Kelainanzigot
8. Bekas radang padatuba
9. Operasi plastik padatuba
10. Kehamilan ektopiksebelumnya
[Type text]
11. Abortusbuatan

C. Tanda danGejala
Menurut Prawirohardjo (2007), gambaran kehamilan ektopik terganggu yang belum
terganggu tidak khas dan penderita maupun dokter biasanya tidak mengetahui adanya
kelainan dalam kehamilan. Secara umum menurut Saifudin (2006) gejala kehamilan
ektopik sebagai berikut:
a. Amenorhoe
b. Nyeri perutmendada
c. Perdarahanpervaginamberwarnacoklattua Gejalakehamilanektopiktergangguantaralain:
1. Nyeri abdomen90%-100%
2. Amenorhoe75%-95%
3. Perdarahan50%-80%
4. Pusing dan lemah20%-35%
5. Gejala hamil10%-25%
6. Keluar jaringan5%-10%
Tanda kehamilan ektopik terganggu yaitu:
a. Ketegangganadneksa
b. Ketegangganabdomen
c. Adneksatumor
d. Pembesaranrahim

D. Patofisiologi
Menurut Fauziyah (2012), sebagian besar kehamilan ektopik terganggu hanya
berumur kehamilan 6-10 minggu, karena pertumbuhan hasil konsepsi kehamilan ektopik
terganggu, sehingga janin tidak mungkin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus.
Mengena nasib kehamilan ektopik terganggu menurut Prawirohardjo (2007), terdapat
beberapakemungkinan:
1. Hasil konsepsi mati dandiresorbsi
Pada implantasi secara kolumner,ovum yang di buahi cepat mati karena vaskularisasi
kurang dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak
mengeluh apa-apa hanya haid nya terlambat untuk beberapa hari.
2. Abortus ke dalam lumentuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh darah oleh villi koriales pada
dinding tuba ditempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut sama-
sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau
seluruhnya tergantung pada derajat perdarahan perdarahan yang timbul.
3. Ruptur dindingtuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismusdan biasanya ada
kehamilan muda, sebaiknya ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang
lebih lanjut. Faktor utamayangmenyebabkanrupturialahpenembusanvillikorialeske dalam
[Type text]
lapisan muskularis tuba terus ke perineum. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau
karena trauma ringan seperti coitusdan pemeriksaanvaginal
E. Diagnosis KehamilianEktopik
Menurut Yulianingsih (2009), menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu
tentunya dengan melakukan anamnesa,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
yaitu sebagaiberikut:
1. Anamnesatentangtriaskehamilanektopikterganggu:
a. Terdapatamenorrhea(terlambatdatangbulan)
b. Terdapatrasanyerimendadakdisertairasanyerididaerahbahu dan seluruhabdomen
c. Terdapatperdarahanmelaluivaginalatauspotting/bercak.
d. Perdarahan pervaginam umumnya perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua.
1) PemeriksaanFisik
Keadaan umum dan tanda vital dapat baik sampai buruk seperti:
a. Keadaanumum
1. Ibu tampak anemis dansakit
2. Kesadaran bervariasi dari baik sampai komatidak sadar
3. Terdapat tanda-tandasyok:

b. Hipotensi (penurunan diastolic sekitar15mmHg)


1. Takhikardia (nadi meningkat 20—25 denyut per menit)
2. Pucat, ekstermitasdingin
Pada pemeriksaanabdomen:
a. Ditemukan tanda-tanda rangsangan peritoneal (nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas,
difensemusculaire), ini disebabkan karena darah yang masuk kedalam rongga
abdomen akan merangsangperitoneum.
b. Tanda cairan bebas dalamabdomen
c. Perutkembung
d. Pemeriksaan khusus melalui vagina (pemeriksaangynekologi)
e. Nyeri goyang pada pemeriksaanserviks
f. Serviks terlalu lunak dan nyeritekan
g. Korpus uteri normal atau sedikit membesar, kadang-
kadangsulitdiketahuikarenanyeriabdomenyanghebat
h. Kavum Douglas menonjol oleh karena tensi darah dan nyeri
PemeriksaanPenunjang
a. PemeriksaanLaboratorium
Kadar Haemoglobin dan Eritrosit menurun atau Leukosit meningkat menunjukan
adanya perdarahan yang terjadi padakehamilanektopikterganggudapatterjadi
padakehamilanektopikterganggudapatterjadileukositas.
b. Tes Kehamilan (Urine danβHCG)
Teskehamilanbiasanyapositif,walauhasilnegativetidak menyingkirkan kemungkinan

[Type text]
kehamilan ektopik terganggu karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas
dapat menyebabkam produksi βHCG menurun sehingga menyebabkan tes kehamilan
menjadi negatif. Oleh karena itu, umumnya yang paling diperiksa adalah HCG kualitatif
untuk diagnosis cepatkehamilan.
c. Pemeriksaan Ultrasonografi(USG)
PadapemeriksaanUSGdapatdijumpaikantongkehamilan diluar kavum uteri disertai
atau tanpa adanya genangan cairan (darah) di kavum Douglas pada kehamilan ektopik
terganggu.
a.Pemeriksaan USGTrans-Vaginal
Dapat mendeteksi tuba ring (massa berdiameter 1-3 cm dengan pinggir ekhogenik
yang mengelilingi pusat yang hipoekhoik),gambaraninicukupspesifikuntukkehamilan
ektopik.
b. Pemeriksaan Kuldosentesis (DouglasPunki)
Menurut Sastrawinata (2005), pemeriksaanKuldosentesis (Douglas Punki) untuk
mengetahui adanya cairan atau darah dalam kavum Douglas dengan cara jarum besar
yangdihubungkandenganspuitditusukankedalamkavumDouglas, di tempat kavum
Douglas menonjol ke fornik posterior. Jika terhisap darah, ada 2 kemungkinan yang
akan terjadi yaitu:
1. Adanya darah dalam kavum Douglas, yang mengakibatkan terjadinya perdarahan
dalam rongga perut.
2. Tertusuknya vena dan terisapnya darah vena dari daerahtersebut.
Olehkarenaitu,untukmengatakanbahwaDouglasPunksi
positif,artinyaadanyaperdarahandalamronggaperutdan darah yang diisap
mempunyai sifat darah berwarnamerah
tua,tidakmembekusetelahdihisap,danbiasanyadidalam terdapat gumpalan-gumpalan
darah yang kecil. Jikadarah kurang tua warnanya dan membeku, darah itu
berasaldari vena yangtertusuk.
i. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan SecaraUmum
MenurutSaifuddin(2006),penatalaksanaanataupenangananuntuk
kasuskehamilanektopikterganggusecaraumum,antaralainadalah sebagaiberikut:
a. Setelah diagnosis ditegakkan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif
gawatdarurat.
b. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan
operatif, karena sumber perdarahanharus dihentikan.
c. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan
kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2 L dalam dua jam
pertama (termasuk selama tindakanberlangsung).
d. Biladarahpenggantibelumtersedia,berikanautotransfusion

berikut ini:
[Type text]
(1) Pastikan darah yang dihisap dari rongga abdomen telah melalui alat penghisap dan
wadah penampung yang sterilil.
(2) Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung
darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas
cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10
ml untuk setiap 90 ml darah.
(3) Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian
tabungtetesan.
21
e. Atasianemiadengantabletbesi(SF)600mgperhari.
f. Konseling pascatindakan:
(1) Resiko hamil ektopikulangan
(2) Kontrasepsi yangsesuai
(3) Asuhan mandiri selama dirumah

2) PenatalaksanaanBedah
Menurut Yulianingsih (2009), penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-
pasien dengan kehamilan tuba yang belum terganggu maupun yang sudah terganggu.
Tentu ajapada kehamilan ektopik terganggu, pembedahan harus dilakukan secepat mungkin,
antara lain:
a. Salpingostomi
Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter
kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi
linearsepanjang10-15mmpadatubatepatdiatashasilkonsepsi, di perbatasan antime senterik.
Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan kemudian di keluarkan dengan hati-hati.
Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. Insisi
kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. Prosedur ini
dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. Metode per laparoskopi saat ini
menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belumterganggu.
b. Salpingotomi
Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi,kecuali bahwa pada salpingotomi
insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna
dalam hal prognosis, patensi dan perlekatan 23 tuba pasca operatif antara salpingostomi
dansalpingotomi.
c. Salpingektom
Salpingektomi merupakan reseksi tuba, yang dapat dikerjakan baik pada kehamilan ektopik
terganggu maupun yang belum terganggu. Indikasi dilakukannya salpingektomi adalah sebagai
berikut:

d. Kehamilan ektopik mengalami ruptur(terganggu),


e. Pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
f. Terjadi kegagalansterilisasi,
g. Telahdilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya,
h. Pasien meminta dilakukansterilisaisi
[Type text]
i. Perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
j. Kehamilan tubaberulang,
k. Kehamilanheterotopik,danmassagestasiberdiameterlebih dari 5 cm. Reseksi massa hasil
konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada kehamilan pars ismika yang
belum terganggu. Pada kehamilan pars interstitialis, sering kali dilakukan pula histerektomi
untuk menghentikan perdarahan yang masih terjadi. Pada salpingektomi, bagian tuba antara
uterus dan massa hasil konsepsi diklem, digunting, dan kemudian sisanya (stump) diikat
dengan jahitan ligasi. Arteria tubo ovarikadiligasi, sedangkan arteria utero ovarika
dipertahankan. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping.
l. Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi, bila terjadi kehamilan difimbrae, massa hasil konsepsi
dapat dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Dengan menyemburkan
cairan di bawah tekanan dengan alat aqua disektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat
terdorong dan lepas dari implantasinya. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil
konsepsiberdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan
(Manuaba,2005).

j. Komplikasi Kehamilan Ektopik


Komplikasi yang dapat timbul akibat kehamilan ektopik terganggu yaitu: ruptur tuba atau
uterus (tergantung lokasi kehamilan) dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan, syok, dan
kematian. Komplikasi yang timbul akibat pembedahan antara lain: perdarahan, infeksi, kerusakan
sekitar ogan (Fauziyah, 2012).
k. Prognosis
Kematianibuyangdisebabkanolehkehamilanektopikterganggu turun sejalan dengan ditegakannya
diagnosis dini dan persediaandarah yang cukup. Kehamilan ektopik terganggu pada
umumnyabersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril (tidak dapat mempunyai keturunan)
setealah mengalami keadaan tersebut diatas, namun dapat juga mengalami kehamilan ektopik
terganggu lagi pada tuba yanglain
a. Perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
b. Kehamilan tubaberulang,
c. Kehamilanheterotopik,danmassagestasiberdiameterlebih dari 5 cm. Reseksi massa hasil
konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada kehamilan pars ismika yang
belum terganggu. Pada kehamilan pars interstitialis, sering kali dilakukan pula histerektomi
untuk menghentikan perdarahan yang masih terjadi. Pada salpingektomi, bagian tuba antara
uterus dan massa hasil konsepsi diklem, digunting, dan kemudian sisanya (stump) diikat
dengan jahitan ligasi. Arteria tubo ovarikadiligasi, sedangkan arteria utero ovarika
dipertahankan. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping.
d. Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi, bila terjadi kehamilan difimbrae, massa hasil konsepsi
dapat dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Dengan menyemburkan
cairan di bawah tekanan dengan alat aqua disektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat
terdorong dan lepas dari implantasinya. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil
konsepsiberdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan
(Manuaba,2005).

[Type text]
B. ABRUPSIO PLASENTA.
A. Pengertian Abrupsio Plasenta
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah terlepasnya
plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan
22 minggu / berat janin di atas 500 gr Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang
memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu ke janin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang
hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh
karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak
ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak
pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih
berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

B. Etiologi

Etiologi dari solusio belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah
hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi
alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua

C. Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian
terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk
hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran
plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan
memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan
mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak
mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang
mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

Pohon masalah
Trauma

Perdarahan ke dalam desidualbasalis

Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium

Terbentuk hematoma desidual
[Type text]

Penghancuran plasenta

Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua

Hematoma retroplasenta

Pelepasan plasenta lebih banyak

Uterus tidak mampu berkontraksi optimal

Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

Syok hipovolemik

D. Klasifikasi

1. Menurut derajat lepasnya plasenta

a. Solusio plasenta partsialis


b. Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.
c. Solusio plasenta totalis
d. Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.
e. Prolapsus plasenta
f. Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2. Menurut derajat solusio plasenta dibagi menjadi :

a)      Solusio plasenta ringan


Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah
banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut
terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba. perdarahan
kurang 500 cc, plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian fibrinogen di atas 259 mg%

b)      Solusio plasenta sedang


 Dinding uterus teraba tegang.
 bagian janin masih teraba,
 perdarahan antara 500 – 1000 cc
 ,terjadi fetal distress.
 plasenta lepas sekitar 1/3 bagian

[Type text]
c)      Solusio plasenta berat
 abdomen nyeri – palpasi janin kurang
 janin telah meningal
 Penderita jatuh ke dalam syok.
 Plasenta lepas di atas 2/3 bagian
 Terjadi gangguan pembekuan darah

E. Manifestasi Klinis

1. Anamnesis

Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-


hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut,
uterus tegang perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.

2. Pemeriksaan fisik
Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.
3. Pemeriksaan obstetri
Nyeritekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin
sulit dinilai / tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu
protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan
elektrolit plasma.
b. Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.
c. USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

F. Penatalaksanaan

1. Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .


2. Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri ,
tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .
3. Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan, berikan cairan peroral .
4. Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya
hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .
5. Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak
teratasi , upayakan penyelamatan optimal dan bila teratsi perhatikan keadaan janin .
6. Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau
persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat
diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

[Type text]
7. Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan
ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .
8. Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin
kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a)      Solusi plasenta ringan .

 Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin
hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan
spontan .
 Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat
mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin
bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama
, lakukan seksi sesarea

b)      Solusio plasenta sedang / berat .

 Resusitasi cairan .
 Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .
 Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila
tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih ,
pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama

G. Prognosis
1. Terhadap ibu
Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.
1. Terhadap anak
Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 % hal ini tergantung derajat pelepasan dari
plasenta
1. Terhadap kehamilan berikutnya
Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan
berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih hebat

D. PLASENTA PREVIA
A. Pengertian Plasenta Previa
Plasenta previa adalah penutup lengkap atau sebagian os internal serviks dengan plasenta.
Ini adalah faktor risiko utama untuk perdarahan postpartum dan dapat menyebabkan
morbiditas dan mortalitas ibu dan neonatus. Situasi ini mencegah persalinan pervaginam
yang aman dan mengharuskan persalinan neonatus melalui persalinan sesar. Sebagian besar
kasus didiagnosis sejak awal kehamilan melalui sonografi dan yang lain mungkin datang ke
[Type text]
ruang gawat darurat dengan perdarahan vagina tanpa rasa sakit pada trimester kedua atau
ketiga kehamilan. Kehadiran plasenta previa juga dapat meningkatkan risiko wanita untuk
mendapatkan plasenta akreta spektrum (PAS). Spektrum kondisi ini termasuk plasenta
akreta, increta, dan percreta. Perdarahan postpartum yang tidak terkontrol dari plasenta
previa atau PAS mungkin memerlukan transfusi darah, histerektomi sehingga
meninggalkan pasien infertil, masuk ke ICU, atau bahkan kematian.
B. Etiologi
Penyebab mendasar dari plasenta previa tidak diketahui. Namun, ada hubungan antara
kerusakan endometrium dan jaringan parut uterus. Faktor risiko yang berkorelasi dengan
plasenta previa adalah usia ibu lanjut, multiparitas, merokok, penggunaan kokain, hisap
sebelumnya, dan kuretase, teknologi reproduksi terbantu, riwayat bedah sesar, dan plasenta
previa sebelumnya. Implantasi zigot (telur yang dibuahi) membutuhkan lingkungan yang
kaya akan oksigen dan kolagen. Lapisan terluar zigot pemecah, blastokista, terdiri dari sel-
sel trofoblas yang berkembang menjadi plasenta dan selaput janin. Trofoblas melekat pada
desidua basalis endometrium, membentuk kehamilan normal. Bekas luka rahim
sebelumnya menyediakan lingkungan yang kaya akan oksigen dan kolagen. Trofoblas
dapat menempel pada bekas luka rahim yang mengarah ke plasenta yang menutupi os
serviks atau plasenta yang menyerang dinding miometrium.
C. Epidemiologi
Placenta previa memengaruhi 0,3% hingga 2% kehamilan pada trimester ketiga dan
menjadi lebih jelas akibat meningkatnya angka seksio sesarea.
D. Gejala klinis
Perdarahan adalah gejala primer dari plasenta previa dan terjadi pada mayoritaS (70-
80%) dari wanita-wanita dengan kondisi ini. Perdarahan vagina setelah minggu ke20
kehamilan adalah karakteristik dari plasenta previa. Biasanya perdarahan tidak
menyakitkan, namun ia dapat dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan dan
nyeri perut. Perdarahan mungkin mencakup dalam keparahan dari ringan sampai parah.
Pemeriksaan ultrasound digunakan untuk mencegah diagnosis dari plasenta previa.
Evaluasi ultrasound transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau
transvaginal (dengan probe yang dimasukkan kedalam vagina namun jauh dari mulut
serviks) mungkin dilakukan, tergantung pada lokasi dari plasenta. Adakalanya kedua tipe-
tipe dari pemeriksaan ultrasound adalah perlu. Adalah penting bahwa pemeriksaan
ultrasound dilakukan sebelum pemeriksaan fisik dari pelvis pada wanita-wanita dengan
plasenta previa yang dicurigai, karena pemeriksaan fisik pelvic mungkin menjurus pada
perdarahan yang lebih jauh.
Gejala paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan pervaginam tanpa nyeri pada
umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan plasenta previa pada umumnya
asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan pervaginam. Biasanya
perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna merah segar. Pada umumnya
perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus, meskipun latigan fisik dan hubungan

[Type text]
seksual dapat menjadi faktor pencetus. Perdarahan terjadi karena perbesaran dari rahim
sehingga menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim.
Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. Jika didapatkan kecurigaan terjadinya
plasenta previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan Vagina Tousche (pemeriksaan dalam
vagina) oleh dokter tidak boleh dialkukan kecuali di meja operasi menginat risiko
perdarahan hebat yang mungkin terjadi.

E. Patofisiologi
Placenta previa adalah penutup serviks lengkap atau sebagian. Plasenta letak rendah adalah
tempat tepi berada dalam jarak 2 hingga 3,5 cm dari os internal. Marginal placenta previa
adalah tempat tepi plasenta berjarak 2 cm dari os internal. Hampir 90% dari plasenta yang
diidentifikasi sebagai "dataran rendah" pada akhirnya akan sembuh pada trimester ketiga
karena migrasi plasenta. Plasenta itu sendiri tidak bergerak tetapi tumbuh menuju peningkatan
suplai darah di fundus, meninggalkan bagian distal plasenta di segmen rahim bawah dengan
suplai darah yang relatif buruk untuk mengalami kemunduran dan atrofi. Migrasi juga dapat
terjadi dengan segmen rahim bawah yang tumbuh sehingga meningkatkan jarak dari margin
bawah plasenta ke serviks.
segmen bawah uterus untuk  berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.
klasifikasi Plasenta Previa :
a. Plasenta Previa totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta
b. Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
c. Plasenta previa parsialis, apabila sebagian pembukaan (ostium internus servisis) tertutup oleh
jaringan plasenta.
d. Plasenta previa marginalis, apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan
(ostium internus servisis).
e. Plasenta letak rendah, apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus
belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir atau plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir
permukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.

F. Perbedaan diagnosa
Pendarahan vagina selama kehamilan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Berdasarkan
trimester kehamilan, diagnosis banding dapat sangat bervariasi. Pada trimester pertama dan
kedua, perdarahan pervaginam dapat disebabkan oleh hematoma subchorionic, servisitis,
kanker serviks, aborsi yang terancam, kehamilan ektopik, atau kehamilan mola. Pada trimester
ketiga, perdarahan vagina dapat disebabkan oleh persalinan, solusio plasenta, vasa previa, atau
plasenta previa.
Penyebab perdarahan vagina yang paling mengancam jiwa pada kehamilan yang harus
disingkirkan adalah solusio plasenta, yang merupakan pemisahan plasenta sebelum persalinan,
komplikasi pada sekitar 1% kelahiran. Solusio plasenta datang dengan nyeri perut yang parah,
perdarahan vagina, dan pemantauan janin elektronik dapat menunjukkan takikistol dan

[Type text]
pelacakan jantung janin yang tidak meyakinkan; ini juga dapat menyebabkan morbiditas
mortalitas yang tinggi pada janin dan ibu yang mengalami perdarahan.
Vasa previa adalah bagian atasnya os serviks internal dengan pembuluh janin yang
mengalir melalui membran. Ini tidak biasa dan terjadi pada 1 dari 2.500 hingga 1 hingga 5.000
kehamilan.[6] Hal ini dapat menyebabkan perdarahan janin-neonatal dan exsanguination jika
pembuluh janin robek oleh ketuban pecah secara spontan atau buatan.
G. Prognosa
Prognosis Neonatal
Ada peningkatan mortalitas dan morbiditas neonatal tiga kali lipat hingga empat kali lipat
dengan plasenta previa terutama dari persalinan prematur. Neonatus berisiko lebih tinggi
untuk kelahiran prematur, berat lahir rendah, skor APGAR yang lebih rendah, dan
peningkatan risiko sindrom gangguan pernapasan.
Prognosis Ibu
Sekitar 90% kasus plasenta previa sembuh melalui persalinan. Jing et al. menemukan
bahwa wanita dengan plasenta anterior memiliki faktor prognostik yang lebih buruk dan
lebih cenderung mengalami kehilangan darah masif dan tingkat histerektomi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan lokasi lain. Hasil ini adalah sekunder dari plasenta yang
menempel pada sayatan uterus sebelumnya yang menyebabkan PAS dan sayatan melewati
plasenta. Pasien dengan plasenta previa yang dikonfirmasi berisiko terhadap transfusi darah,
cedera pada organ-organ terdekat, histerektomi sesar (0,2%), perawatan intensif, dan
kematian. Ada juga peningkatan risiko pada kehamilan berikutnya.
H. Komplikasi
a. Plasenta abruption. Pemisahan plasenta dari dinding rahim.
b. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi
(operasi pengangkatan rahim)
c. Plasenta akreta, plaseta inkreta, plasenta perkreta
d. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (<37 minggu)
e. Kecacatan pada bayi
Perdarahan vagina sekunder akibat plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan
postpartum yang membutuhkan transfusi darah, histerektomi, perawatan rawat inap ibu,
septikemia, dan kematian ibu. Perdarahan postpartum adalah kehilangan darah lebih dari
atau sama dengan 1000 ml disertai dengan tanda atau gejala hipovolemia yang terjadi
dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, terlepas dari rute pengirimannya. Kondisi ini
mungkin memerlukan transfusi darah, uterotonik, embolisasi arteri uterin, ligasi arteri
iliaka, tamponade balon, dan histerektomi. Plasenta previa yang tidak terdiagnosis cukup
awal atau dikelola dengan tidak tepat dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas untuk
ibu dan janin. Placenta previa juga dikaitkan dengan kelahiran prematur, berat lahir rendah,
skor APGAR yang lebih rendah, durasi rawat inap yang lebih lama, dan tingkat transfusi
darah yang lebih tinggi. Wanita dengan plasenta previa dan riwayat operasi caesar
sebelumnya berisiko lebih tinggi mengalami PAS. Risiko plasenta akreta adalah 3%, 11%,

[Type text]
40%, 61%, dan 67%, masing-masing untuk sesar pertama, kedua, ketiga, keempat, dan
kelima atau lebih.
Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan darah : hemoglobin, hematokrit
b. Pemeriksaan ultrasonografi, dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan plasenta atau
jarak tepi plasenta terhadap ostium
c. Pemeriksaan inspekkulo secara hati-hati dan benar, dapat menentukan sumber
perdarahan dari karnalis servivis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan,
laserasi/troma)

Perawatan / Manajemen
Dengan diagnosis plasenta previa, pasien dijadwalkan untuk melahirkan elektif pada 36
hingga 37 minggu melalui operasi caesar. Namun, beberapa pasien dengan plasenta previa
datang dengan komplikasi dan memerlukan operasi sesar segera pada usia kehamilan
sebelumnya.
Pasien yang memiliki riwayat plasenta previa dan perdarahan vagina yang diketahui harus
menjalani pemeriksaan vital, dan harus melakukan pemantauan janin secara elektronik.
Pasien harus menerima dua jalur intravena besar dengan jumlah, jenis, dan skrining darah
lengkap, dan digulung. Jika ia mengalami perdarahan hebat, maka 2-4 unit darah harus
disilangkan dan dicocokkan.
Pasien dengan perdarahan vagina yang berlebihan atau terus menerus harus diberikan
melalui operasi caesar tanpa memandang usia kehamilan. Jika perdarahan mereda maka
manajemen hamil diperbolehkan jika usia kehamilan kurang dari 36 minggu. Jika pada atau
lebih dari 36 minggu kehamilan maka kelahiran sesar dianjurkan. Pasien harus dirawat dan,
jika memenuhi syarat, menerima magnesium sulfat untuk pelindung saraf janin dan steroid
untuk kematangan paru janin. Bedrest, mengurangi aktivitas, dan menghindari hubungan
intim biasanya diamanatkan, meskipun tidak ada manfaat yang jelas. Jika perdarahan
vagina mereda selama lebih dari 48 jam dan janin dinilai sehat, maka pemantauan rawat
inap dilanjutkan, atau pasien dapat keluar untuk manajemen rawat jalan. Manajemen rawat
inap vs rawat jalan tergantung pada stabilitas pasien, jumlah episode perdarahan, kedekatan
dengan rumah sakit, serta kepatuhan.
I. Penatalaksanaan
a. Penatalaksaan medis
Episode perdarahan signifikan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien, dan biasanya
tidak berat. Pasien harus dirawat dirumah sakit dan tidak dilakukan pemeriksaan vagina,
karena akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat. Dirumah sakit TTV pasien
diperiksa, dinilai jumlah darah yang keluar, dan dilakukan close match. Kehilangan darah
yang banyak memerlukan tranfusi. Dilakukan palpasi abdomen untuk menentukan umur
kehamilan janin, presentasi, dan posisinya.
Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan segera setealh masuk, untuk mengkonfirmasi
diagnosis. Penatalaksanaan selanjutnya tergantung pada perdarahan dan umur kehamilan
[Type text]
janin. Dalam kasus perdarahan hebat, diperlukan tindakan darurat untuk melahirkan bayi
tanpa memperhitungkan umur kehamilan janin. Jika perdarahan tidak hebat, perawatan
kehamilan dapat dibenarkan jika umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu. Wanita yang
memiliki derajat plasenta previa minor dapat memilih menunggu kelahiran sampai term atau
dengan induksi persalinan, asalkan kondisinya sesuai. Plasenta previa derajat mayor
ditangani dengan seksio seksarae pada waktu yang ditentukan oleh pasien atau dokter,
meskipun biasanya dilakukan sebelum tanggal yang disepakati, karena perdarahan berat
dapat terjadi setiap saat.
Meningkatkan Hasil Tim Kesehatan
Plasenta previa dapat menyebabkan konsekuensi serius dan membutuhkan perhatian segera
pada presentasi perdarahan vagina. Pendekatan tim multidisiplin harus diambil untuk
memberikan perawatan terbaik bagi pasien. Pasien yang didiagnosis dengan plasenta previa
sebelum pendarahan vagina harus melakukan beberapa diskusi dengan OB / GYN
mengenai manajemen dan harapan. Pasien harus menyetujui kemungkinan transfusi darah,
embolisasi arteri uterin, dan kemungkinan histerektomi sesar. Berbagai disiplin ilmu, yang
berpartisipasi dalam pendekatan tim interprofesional harus mewaspadai pasien termasuk,
dokter persalinan dan persalinan, ahli anestesi, ahli radiologi intervensi, ahli bedah
vaskular, ahli bedah urologi, dan perawat bedah dan neonatal.
Penatalaksanaan keperawatan
Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak
melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (missal batuk, mengedan
karena sulit buang air besar). Pasang infuse NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan
peroral, pantau tekanan darahdan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk
mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula DJJ dan pergerakan janin.
Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah bila tidak teratasi, upaya
penyelamatan optimal, bila teratasi, perhatikan usia kehamilan. Penanganan di RS dilakukan
berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjatan, usia gestasi kurang dari minggu, taksiran berat
janin kurang dari 2500g, maka :
- Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi
bertahap, beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3 hari.
- Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO kolaborasi (Pemeriksaan Dalam Di atas Meja
Operasi), bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm.

Pencegahan dan Pendidikan Pasien


Placenta previa adalah penutup os serviks internal yang mencegah persalinan pervaginam
yang aman. Persalinan harus dilakukan mulai dari 36 hingga 37 minggu penuh, melalui
operasi caesar, dalam kasus yang tidak rumit.
Dianjurkan beristirahat di tempat tidur, menghindari hubungan seksual, dan menghindari
pemeriksaan digital. Manipulasi plasenta dapat menyebabkan perdarahan.
Pasien dengan plasenta previa harus pergi ke ruang gawat darurat jika mereka memiliki
episode perdarahan vagina.

[Type text]
Riwayat plasenta previa sebelumnya dan riwayat seksio sesaria dapat meningkatkan risiko
plasenta akreta pada pasien.
Jika ada kekhawatiran untuk plasenta akreta, increta, atau percreta, maka histerektomi sesar
mungkin perlu dilakukan.

[Type text]
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. ABORTUS
B. Pengkajian
1. Identitas
Tanggal masuk RS,Jam masuk,Tanggal pengkajian ,Ruangan,Yang Mengkaji,Jam
pengkajian,Nama Pasien,Umur,Suku/Bangsa,Agama ,Pendidikan,Alama,Status
perkawinan
Penanggung Jawab
Nama,Agama,Pekerjaan,Alamat,Hubungan dengan pasien :
2. Riwayat kesehatan sekarang
a. Keluhan utama masuk RS : Nyeri pada perut bagian bawah disertai dengan
keluarnya darah, bercak – bercak
b. Riwayat keluhan utama : Perdarahan dan Nyeri
1) Mulai timbulnya : setelah meminum obat
2) Faktor pencetus : kerusakan jaringan intrauteri
3) Lokasi keluhan : daerah perut bagian bawah
4) Sifat nyeri : seperti tertusuk - tusuk
5) Kuantitas : terus menerus
6) Kualitas : sedang (4)
7) Hal – hal yang memberatkan : saat pasien bergerak & BAK
8) Hal – hal yang meringankan : saat pasien beristirahat
9) Upaya untuk mengatasi : pasien mengusap – usap perutnya

3. Riwayat Reproduksi
1) Riwayat Haid
a. Menarche :
b. Siklus haid :
c. Banyak ganti duk :
d. Lamanya haid :
e. Keluhan Haid :
f. Usia kehamilan saat ini :

2) Riwayat Obstetri
G:P:A:

4. keluarga berencana
1) Apakah pernah memakai kontrasepsi :
2) Jenis kontrasepsi yang dipakai :
3) Sejak kapan :
[Type text]
4) Adakah rencana mengikuti KB :
5) Dimana ibu berencana mengikuti KB :
6) Jenis kontrasepsi apa yang ingin dipakai :

5. Riwayat imunisasi
1) Imunisasi TT1 :
2) Imunisasi TT2 :
3) Berapa kali mengikuti imunisasi :
4) Usia kehamilan saat mengikuti imunisasi :

6. Riwayat penyakit yang diderita


1) Tidak ada riwayat penyakit serius seperti DM, Tumor, Hipertensi, PMS, TBC.
2) Tidak ada penyakit yang menyertai kehamilan seperti sakit kepala hebat, nyeri perut
hebat dan kejang.
3) Tidak ada riwayat ketergantungan obat, alkohol dan merokok.

7. Riwayat kesehatan keluarga


1) Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit kronis, menular, dan turunan

8. Aspek psikososial, ekonomi, dan spiritual seperti :


1) Status emosional : Klien mengatakan cemas terhadap keadaan yang dialaminya
sekarang
2) Klien belum memahami tentang penyakitnya
3) Pola interaksi klien : pasien dapat berinteraksi dengan petugas,
4) keluarga maupun lingkungan dengan baik
5) Harapan pasien : pasien berharap bisa segera sembuh dan cepat pulang
6) Pengambil keputusan dalam keluarga adalah Orang tua (ibu)
7) Penghasilan orang tua dapat mencukupi kebutuhan sehari –hari
8) Pasien percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa ia akan segera pulih
9. Pola aktivitas sehari – hari
1. Pola Makan
a. Frekuensi makan sehari
b. Waktu makan
c. Jenis makanan
d. Porsi makan yang dihabiskan
e. Jenis makanan pantangan
f. Keluhan saat makan
2. Pola minum
a. Frekuensi minum sehari
b. Jenis minuman
c. Jumlah
[Type text]
d. Keluhan saat minum
10. Pemeriksaan fisik
11. Pemeriksaan penunjang
12. Tes laboratorium
13. Tanda – tanda vital

C. Diagnosa Keperawatan
Menurut dignosa dari
Diagnosa abotrus adalah :
intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan
1. Kaji kondisi keluaran atau dischart jaringan intrauteri,
yang 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan
keluar, warna dan bau dengan perdarahan, kondisi vulva yang
lembab
3. Cemas berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit

2. Terangkan pada klien pentingnya


perawatan vulva selama masa
perdarahan
3. Lakukan pemeriksaan biakan pada
dischart
4.Lakukan perawatan vulva

5. Terangkan pada klien cara


mengidentifikasi tanda infeksi D. Intervensi keperawatan
1. Diagnosa 1 : nyeri yang berhubungan
dengan kerusakan jaringan intrauteri

6. Anjurkan pada suami untuk tidak Kriteria hasil : ibu bisa melakukan
melakukan hubungan senggama selama teknik relaksasi, tanda – tanda vital
perdarahan dalam batas normal dan ibu tidak
meringis

[Type text]
` Intervensi keperawatan : Kaji kondisi nyeri yang dialami klien Terangkan nyeri yang
dialami klien dan penyebabnya, Kolaborasi pemberian analgetik

2. Diagnosa 2: Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva yang
lembab

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan masalah nyeri


pasien dapat teratasi

Intervensi keperawatan: Kaji kondisi keluaran atau dischart yang keluar, warna dan bau,
Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa Perdarahan, Lakukan
pemeriksaan biakan pada
Dischar, Lakukan perawatan vulva, Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda
infeksi

3. Diagnosa 3 : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan diharapkan pasien dapat mengurangi


cemas yang dialami.

Intervensi keperawatan :

Intervensi
1.Kaji tingkat pengetahuan atau persepsi
ibu dan keluarga terhadap penyakit
2. Kaji derajat kecemasan yang dialami
klien
3. Bantu klien mengidentifikasi penyebab
kecemasan
4. Asistensi klien menentukan tujuan
perawatan bersama
5. Terangkan hal – hal seputar aborsi
yang
perlu diketahui oleh klien dan keluarga

E. Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan atau yang telah direncanakan,
mencangkup pada tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan.

[Type text]
F. Evaluasi keperawatan
Hasil dari perkembangan pasien dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang
akan dicapai.

Berdasarkan jurnal dengan judul faktor resiko kejadian abortus spontan tahun
2017, disana menjelaskan bahwa, abortus pelepasan produk konsepsi dengan alasan
tertentu pada atau sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat badan janin kurang
dari 500 gram yang terjadi secara tidak sengaja ataupun di sengaja.
Adapun berbagai faktor yang dapat diduga sebagai penyebab dari abortus ialah faktor
ibu seperti usia, mempunyai riwayat keguguran sebelumnya, penyakit kronis yang
pernah di derita ibu,
Diagnosis dari abortus spontan dapat dilakukan dengan cara seperti anamnesis.
Penanganan pada abortus spontan yang dilakukan seperti terapi intravena atau transfusi
darah dapat dilakukan bila diperlukan. Pada kasus abortus inkomplet diusahakan untuk
mengosongkan uterus melalui pembedahan. Begitu juga dengan kasus missed abortion
jika janin tidak keluar spontan. Jika penyebabnya adalah infeksi, evakuasi isi uterus
sebaiknya ditunda sampai mendapat penyebab yang pasti untuk memulai terapi
antibiotik (Mitayani, 2009).

Hasil analisis bivariat yang dilakukan pada variable bebas riwayat status gizi
menunjukkan bahwa secara statistic riwayat status gizi tidak berhubungan dengan
kejadian abortus spontan

B. KEHAMILAN EKTOPIK

a. Pengkajian

1. Menstruasi berakhir
2. Adanya bercak darah yang berasal dari vagina
3. Nyeri abdomen, kejang, tumpul
4. Jenis kontrasepsi
5. Riwayat gangguan tuba sebelumnya
6. Tanda-tanda vital
7. Tes laboratorium : Ht dan Hb menurun

[Type text]
b. Diagnosis keperawatan

Diagnosis gangguan kehamilan ektopik adalah :

1. Devisit volume yang berhubungan dengan rupture pada lokasi implantasi sebagai efek
dari tindakan pembedahan.
2. Adanya nyeri yang berhubungan dengan rupture tuba falopi, perdarahan intraperitoneal
3. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan sumber-sumber informasi.
4. Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi yang ditandai dengan pasien yang
mengatakan bahwa ia sulit tidur.

c. Intervensi keperawatan

1. Diagnosis 1 : defisit volume cairan yang berhubungan dengan ruptur lokasi implantasi
sebagai efek dari tindakan pembedahan.
Kriteria hasil : menunjukkan kestabilan/perbaikan keseimbangan cairan yang
dibuktikan oleh tanda-tanda vital yang stabil, pengisian kapiler cepat,
sensorium tepat, serta frekuensi serta berat jenis urin yang adekuat.
Intervensi keperawatan : merujuk pada intervensi diagnosis yang sama dengan
abortus
2. Diagnosis 2 : nyeri yang berhubungan dengan ruptur tuba falopi, perdarahan
intrapritoneal
Kriteria hasil : ibu dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi, tanda-tanda
vital dalam batas normal, dan ibu tidak meringis (menunjukkan wajah
kesakitan).

Mandiri
Rencana Intervensi
Tentukan sifat, lokasi, dan
durasi nyeri. Kaji kontraksi
uterus hemoragi atau nyeri
tekan abdomen
Kaji stres psikologi ibu/pasangan
dan respons emosional
terhadap kejadian
Berikan lingkungan yang tenang
dan aktivitas untuk
menurunkan rasa nyeri.
Instruksikan klien untuk
menggunakan metode
relaksasi, misalnya : nafas
dalam, visualisasi distraksi,
dan jelaskan prosedur
[Type text]
Kolaborasi
Rencana Intervensi
Berikan narkotik atau sedatif
berikut obat-obat praoperatif
bila prosedur pembedahan
diindikasikan
Siapkan untuk prosedur bedah
bila terdapat indikasi

3. Diagnosis 3 : kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemahaman


dan tidak mengenal sumber-sumber informasi
Kriteria hasil : ibu berpartisipasi dalam proses belajar, mengungkapkan dalam
istilah yang sederhana, mengenai patofisiologi dan implikasi klinis.

Rencana Intervensi

Menjelaskan tindakan
dan rasional yang
ditentukan untuk
kondisi hemoragia
Berikan kesempatan bagi
bu untuk mengajukan
pertanyaan dan
mengungkapkan
kesalahan konsep
Diskusikan kemungkinan
implikasi jangka
pendek pada ibu/janin
dari keadaan
perdarahan
Tinjau ulang implikasi
jangka panjang
terhadap situasi yang
memerlukan evaluasi
dan tindakan
tambahan

d. Implementasi keperawatan

[Type text]
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan,
mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat, bukan atas petunjuk data
petugas kesehatan lain. Sementara itu, tindakan kolaborasi adalah tindakan
keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama seperti dokter atau
petugas kesehatan lainnya.

e. Evaluasi keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada


hasil dan tujuan yang hendak dicapai.

C. ABRUPSIO PLASENTA
2. Pengkajian
 Biodata
 Nama
 Jenis kelamin
 Umur,Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi
penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa
menopause.
 Pendidikan
 Alamat
 Riwayat persalinan
 Status perkawinan
 Agama
 Nama suami
 Pekerjaan
3. Keluhan utama
Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri.Rahim keras seperti papan dan nyeri
tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta,
sehingga rahim tegang.Perdarahan yang berulang-ulang.

4. Riwayat penyakit sekarang


Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darah, darah yang keluar
sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya
biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat
pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

l. Riwayat penyakit masa lalu

[Type text]
Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat
pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

m. Riwayat psikologis
Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui
asal dan penyebabnya.

1. Pemeriksaan fisik
a)      Keadaan umum
 Kesadaran : composmetis s/d coma
 Postur tubuh : biasanya gemuk
 Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
 Raut wajah : biasanya pucat
b)      Tanda-tanda vital
 Tensi : normal sampai turun (syok)
 Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
 Suhu : normal / meningkat (> 370 c)
 RR : normal / meningkat (> 24x/menit)
c)      Pemeriksaan cepalo caudal
 Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya
rontok / tidak rontok.
 Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma
 Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung
 Mata : conjunctiva anemis
 Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi
aerola.
  Abdomen
o Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
o Palpasi rahim keras, fundus uteri naik
o Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.
 Genetalia
Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah
kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.
 Ekstimitas
Akral dingin, tonus otot menurun.
d)     pemeriksaan penunjang
 Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.
 USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin

B. Diagnosa Keperawatan
[Type text]
1)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan
conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .

2)      Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke
plasenta berkurang .

3)      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di


tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .

4)      Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .

C.   Intervensi Keperawatan

1)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan


conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

– Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

– Kriteria hasil

Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb normal muka tidak pucat, tida lemas.

– Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

3.Monitor tanda-tanda vital

4.Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

5.Catat intake dan output

6.Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik.

7.Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

2)   Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke


placenta berkurang.

– Tujuan : tidak terjadi fetal distress

[Type text]
– Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan
bayi,

bayi lahir selamat.

– Intervensi

1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

3. Observasi tekanan darah dan nadi klien

4.Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

5.Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

3)    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai


terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

– Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

– Kriteria hasil :

* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.

* Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

– Intervensi

1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

2. Kaji tingkat nyeri

3. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.

– Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan

melalui mulut.

– Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

– Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

[Type text]
5)      Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

– Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

– Kriteria hasil :

* Perdarahan berkurang

*  Tanda-tanda vital normal

* Kesadaran kompos metit

– Intervensi

1.Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

2.Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi
dilakukan setiap 30 menit.

3.Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala
pusing.

4.Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

5.Catat intake dan output

6.Berikan cairan sesuai dengan program terapi

Berdasarkan jurnal dengan judul Abruptio placenta: a retrospective study on maternal and
perinatal outcome, tahun 2017,disana menjelaskan bahwa Abruption plasenta bukan
merupakan faktor risiko independen untuk hasil yang buruk di antara bayi yang lahir sebelum
usia kehamilan 32 minggu. Persalinan prematur dapat meningkatkan morbiditas janin dalam
kasus abrupsi.Jadi,dengan dilakukan Pemeriksaan antenatal rutin setiap bulan kehamilan,
koreksi anemia, rujukan tepat waktu, operasi caesar tepat waktu, transfusi darah dan komponen
darah yang baik dan unit perawatan intensif neonatal yang baik akan membantu lebih jauh
untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan ibu.
Studi ini mengungkapkan bahwa pre-eklampsia berat, eklampsia, hipertensi kronis,
paritas tinggi adalah faktor risiko independen untuk abruptio plasenta. Perawatan antenatal
yang mengidentifikasi faktor-faktor risiko seperti PIH memainkan peran penting dalam
mengurangi kejadian abruptio plasenta dan meningkatkan hasil ibu dan janin. Pemeriksaan
antenatal yang teratur, koreksi anemia, diagnosis dini & identifikasi hipertensi gestasional akan
mencegah morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal. Ini harus dikelola di pusat-pusat di mana
[Type text]
fasilitas ibu dan bayi baru lahir tersedia. Meskipun morbiditas ibu berkurang dengan
penatalaksanaan abruptio plasenta modern, diagnosis dan intervensi tepat waktu diperlukan.
Deteksi dini dan manajemen aktif akan mengurangi morbiditas. Upaya tim oleh dokter spesialis
kebidanan, intensivists dan neonatologis diperlukan untuk hasil ibu dan janin yang lebih baik.
Selain itu, Menurut sebuah penelitian, wanita menggunakan suplemen asam folat atau
multivitamin selama kehamilanmemiliki risiko 26% lebih rendah untuk mengalami solusio
plasenta dibandingkanwanita yang belum pernah menggunakan suplemen tersebut (6). Jadi
begitulahmungkin layak merekomendasikan suplemen ini kepada wanitadengan solusio
sebelumnya
D. PLASENTA PREVIA
Pengkajian
a.       Pengumpulan data
1)      Anamnesa
a)      Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat,
medicalrecord dll.
b)      Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu/trimester III.
-          Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
-          Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek; terbentuknya SBR,
terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
-          Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan pembuluh
darah dan placenta.
c)              Inspeksi
-                    Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
-                    Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
d)     Palpasi abdomen
-          Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
-          Sering dijumpai kesalahan letak 
-          Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya
kepala masih goyang/floating

2)      Riwayat Kesehatan


a)      Riwayat Obstetri
Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan
sebelumnyaagar  perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada
kehamilansekarang. Riwayat obstetri meliputi:
-          Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)
-          Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
-          Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong persalinan
-          Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
-          Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan perdarahan.
-          Komplikasi pada bayi
-          Rencana menyusui bayi
b)      Riwayat mensturasi
[Type text]
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP
ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP
berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari  ditambah tujuh, bulan
dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
c)      Riwayat Kontrasepsi
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin,
ibu,   a t a u keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat
kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut
pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual
pada janin.
d)     Riwayat penyakit dan operasi:
Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal
bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi,
dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan

3)      Pemeriksaan fisik


a)      Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
(1)   Rambut dan kulit
-          Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
-          Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
-          Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah
(2)   Mata : pucat, anemis
(3)   Hidung
(4)   Gigi dan mulut
(5)   Leher
(6)   Buah dada / payudara
-          Peningkatan pigmentasi areola putting susu
-          Bertambahnya ukuran dan noduler
(7)   Jantung dan paru
-          Volume darah meningkat
-          Peningkatan frekuensi nadi
-          Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
-          Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
-          Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
-          Diafragma meningga.
-          Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
(8)   Abdomen
-          Menentukan letak janin
-          Menentukan tinggi fundus uteri
(9)   Vagina
-          Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
-          Hipertropi epithelium
(10)  System musculoskeletal

[Type text]
-          Persendian tulang pinggul yang mengendur
-          Gaya berjalan yang canggung
-          Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
b)      Khusus
(1)   Tinggi fundus uteri
(2)   Posisi dan persentasi janin
(3)   Panggul dan janin lahir
(4)   Denyut jantung janin
2.      Diagnosa keperawatan
a.       Penurunan cardiac out put berhubungan dengan perdarahan dalam jumlah yang
besar.
b.      Ansietas yang berhubungan dengan perdarahan kurangnya pengetahuan mengenai
efek perdarahan dan menejemennya.
c.       Resiko tinggi cedera (janin) b/d Hipoksia jaringan / organ, profil darah abnormal,
kerusakan system imun.

   Rencana keperawatan

N Diagnosa Tujuan/Kriteria
Intervensi
o Keperawatan Hasil
1 Penurunan Setelah 1.    Kaji dan catat TTV,
kardiak dilakukkanya TD serta jumlah
output tindakan perdarahan.
berhubunga keperawatan 2 X
n dengan 24 jam diharapkan 2.    Bantu pemberian
perdarahan penurunan kardiak pelayanan kesehatan
dalam output tidak terjadi atau mulai sarankan
jumlah yang atau teratasi dengan terapi cairan IV atau
besar kriteria hasil : terapi transfusi darah
o  Volume darah intravaskuler sesuai kebutuhan.
dan kardiak output dapat
diperbaiki sampai nadi,
tekanan darah, nilai
hemodinamik, serta nilai
laboratorium menunjukkan
tanda normal
2 Ansietas Setelah dilakukan tindakan 1.    Terapi bersama
berhubunga keperawatan selama 3 x 24 pasangan dan
n dengan diharapkan ansietas dapat menyatakan perasaan.
kurangnya berkurang dengan kriteria 2.    Menentukan tingkat
pengetahuan hasil : pemahaman pasangan
efek 1.    Pasangan dapat tentang situasi dan
perdarahan mengungkapkan manajemen yang
dan harapannya dengan kata- sudah direncanakan.
manejemen kata tentang manajemen
[Type text]
nya. yang sudah direncanakan, 3.    Berikan pasangan
sehingga dapat mengurangi informasi tentang
kecemasan pasangan. manajemen yang
sudah direncanakan.
3. Resiko Kriteria evaluasi : 1.    Kaji jumlah darah
tinggi Menunjukkan profil darah yang hilang. Pantau
cedera dengan hitung SDP, Hb, dan tanda/gejala syok
(janin) b/d pemeriksaan koagulasi DBN
hipoksia normal. 2.    Catat suhu, hitung
jaringan/ SDP, dan bau serta
organ,profil warna rabas vagina,
darah dapatkan kultur bila
abnormal,ke dibutuhkan.
rusakan 3.    Catat
system masukan/haluaran
imun. urin. Catat berat jenis
urin.
4.    Berikan heparin, bila
diindikasikan

5.    Berikan antibiotic
secara parenteral

  Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana


yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan
kesehatan klien.
   Evaluasi

Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang
kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan
dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.
Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencan kegiatan klien
secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.
Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan
perawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien.
Evaluasi dapat berupa : masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian.
  Penkes

Plasenta previa merupakan perdarahan di trimester ketiga dan jika tidak mendapat penanganan
yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan
komplikasi Plasenta previa dikategorikan pada asuhan keperawatan pada lingkup emergensi
obstetri. Maka untuk meminimalkan keterlambatan tahap III yaitu tidak adekuatnya penanganan di

[Type text]
fasilitas kesehatan diperlukan perawat yang sudah melalui pendidikan formal seperti perawat
spesialis keperawatan maternitas.

Berdasarkan jurnal Successful resuscitation of a patient with pernicious placenta


previa and placenta accreta who had massive life-threatening bleeding during cesarean
section, tahun 2019 menjelaskan pernicious placenta accreta adalah komplikasi yang
berhubungan dengan perdarahan yang mengancam jiwa, yang merupakan salah satu
penyebab utama kematian ibu diseluruh dunia. Histerektomi caesar adalah metode
yang efektif untuk mengendalikan perdarahan intraoperatif untuk pasien yang berisiko
tinggi. Namun ini adalah tantangan yang dalam hal ini menentukan waktu yang optimal
untuk histerektomi, karena secara langsung akan menentukan hasil ibu. Walaupun
mengikat segmen uterus bagian bawah dengan torniquet nyata mengurangi perdarahan
di bidang bedah setelah persalinan, perdarahan besar yang mengancam kehidupan
dengan jumlah kehilangan darah vagina dalam 10 menit adalah sebanyak 3000 ml. Jadi
mengikat segmen uterus bagian bawah dengan torniquet secara nyata mengurangi
perdarahan di bidang bedah setelah melahirkan sesar pada pasien berisiko tinggi
dengan PPP. Jika tidak, strategi yang disukai adalah stratei sebelumnya histerektomi
dan tteknik pemulihan serta tranfusi juga penting dalam memastikan keberhasilan
resusitaspasien.

[Type text]
[Type text]