Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS III

Pengkajian dan Tindakan Khusus Pada Kegawatan Persalinan dan Pemeriksaan


Labor (Hb, Ht, dll, Manual Plasenta, Kompresi Bimanual Uterus, Ruptur
Perineum: Episiotomi, Bantuan Pernafasan)

Oleh: Kelompok 8

Putri Dwi Rusmayanti (1711311006)

Serly Aprilia Nst (1711312006)

Shania Yolanda (1711312032)

Fildzatil Arifa (1711313036)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kita panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah-Nya kepada kita, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengkajian dan Tindakan Khusus Pada
Kegawatan Persalinan dan Pemeriksaan Labor (Hb, Ht, dll, Manual Plasenta,
Kompresi Bimanual Uterus, Ruptur Perineum: Episiotomi, Bantuan
Pernafasan)”.

Makalah ini telah kami susun dan kerjakan dengan semaksimal mungkin.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritikan dari
Ibu/Bapak Dosen dan saudara pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Padang, 10 September 2019

Kelompok 8

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang 1
I.2 Rumusan Masalah 1
I.3 Tujuan Penulisan 2
BAB II ISI 3
II.1 Pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit 3
II.1.1 Prinsip pemeriksaan hemoglobin 3
II.1.2 Pemeriksaan Hemoglobin (Hb)3
II.1.3 Batas Normal Kadar Hemoglobin pada ibu Hamil Menurut WHO
4
II.1.4 Prinsip pemeriksaan hematokrit 4
II.1.5 Prinsip pemeriksaan Eritrosit 4
II.2 Manual Plasecta 5
II.2.1 Indikasi Manual Plasenta 5
II.2.2 Tanda dan Gejala Retensi Plasenta 6
II.2.3 Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan 7
II.2.4 Teknik Manual Plasenta 9
II.2.5 Komplikasi 9
II.3 Kompresi Uterus Bimanual 9
II.3.1 Kompresi Bimanual Eksterna (KBE) 10
II.3.2 Kompresi Bimanual Interna (KBI) 10
II.4 Ruptur Perineum: Episiotomi 11
II.4.1 Tujuan 12
II.4.2 Waktu Pelaksanaan Episiotomi 12
II.4.3 Kontraindikasi Episiotomi 13
II.4.4 Jenis - Jenis Episiotomi 14
II.4.5 Penyembuhan Luka Episiotomi 15
II.4.6 Komplikasi 15
II.5 Bantuan Pernapasan 16
II.5.1 Perubahan pernapasan terkait kelahiran 16
II.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Pernapasan 17
II.5.3 Indikasi 17
II.5.4 Prinsip Pengkajian Pernapasan 18
II.5.5 Tindakan Terapi Oksigen 18
BAB III ANALISIS JURNAL 21
III.1 Jurnal terkait dengan Epsiotomi 21
III.2 Jurnal terkait dengan Bantuan Pernapasan 24
III.3 Jurnal terkait dengan Manual Plasenta 26
III.3 Jurnal terkait dengan Pemeriksaan HB, Ht 27
BAB IV PENUTUP 31
IV.1 Kesimpulan 31
III.2 Saran 31
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Automate dhematology analyzer digunakan untuk memeriksa hemoglobin,
hematokrit, jumlah eritrosit dengan cara kerja berikut ini : Alat automate
dhematology analyzer dikalibrasi, diprogram, kemudian sample darah EDTA
dibuat homogen, tabung sampel tersebut diletakkan pada tempat pengambilan
sampel. Alat penghisap akan mengambil darah, ditunggu selama 60 detik, maka
kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit akan tercetak pada kertas print
out.
Manual plasecta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara
manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong
persalinan yang dimasukkan langsung ke dalam kavum uteri. Kompresi bimanual
adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan segera homorrage post partum.
Dinamakan demikian karena secara literature melibatkatkan kompresi uterus
diantara duatangan. (varney,2004). Menekan rahim diantara keduatangan dengan
maksud merangsang rahim untuk berkontraksi dan mengurangi perdarahan
(depkesRI,1996-1997).

Episiotomi adalah insisipu dendum/perineum untuk melebarkan orifisium


(lubang/muara) vulva sehingga mempermudah jalan keluar bayi (Benson dan
Pernoll,2009). Penulisan ini dilatar belakangi untuk mengetahui tindakan khusus
apa saja yang dilakukan pada kegawatan dalam persalinan dan pemeriksaan labor.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah Pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah
eritrosit?
2. Apakah yang dimaksud dengan Manual Plasenta?
1
3. Apakah yang dimaksud dengan Kompresi uterus bimanual?
4. Apakah yang dimaksud dengan Episiotomi?
5. Bagaimana Bantuan Pernafasan dalam kegawatan persalinan?
6. Bagaimankah Analisis Jurnal dari berbagai tindakan?

I.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui Pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah
eritrosit.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Manual Plasenta.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Kompresi uterus bimanual
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Episiotomi.
5. Untuk mengetahui bagaimana Bantuan Pernafasan pada kegawatan
persalinan.
6. Untuk Mengetahui hasil Analisis Jurnal.

2
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit


Automated hematology analyzer digunakan untuk memeriksa hemoglobin,
hematokrit, jumlah eritrosit dengan cara kerja berikut ini: Alat automated
hematology analyzer dikalibrasi, diprogram, kemudian sample darah EDTA
dibuat homogen, tabung sampel tersebut diletakkan pada tempat pengambilan
sampel. Alat penghisap akan mengambil darah, ditunggu selama 60 detik, maka
kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit akan tercetak pada kertas print
out.

II.1.1 Prinsip pemeriksaan hemoglobin


Membran sel darah merah dilisis oleh stromatolyser WH-KX-21, kemudian
molekul hemoglobin dilepas. Ion ferro dalam molekul hemoglobin oleh sodium
lauryl sulfate (SLS) dirubah menjadi ferri yang disebut methemoglobin.
Methemoglobin dengan SLS membentuk komplek disebut SLS-Hb, komplek
tersebut dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 555.

II.1.2 Pemeriksaan Hemoglobin (Hb)


1. Pemeriksaan Otomatis
Hemoglobin biasanya diukur sebagai bagian dari tes rutin complete blood
count (CBC) dari sampel darah. Beberapa metode yang ada untuk mengukur
hemoglobin, yang sebagian besar dilakukan saat ini oleh mesin otomatis yang
dirancang untuk melakukan tes yang berbeda pada darah. Dalam mesin, sel-sel
darah merah dipecah untuk mendapatkan hemoglobin kedalam sebuah larutan.
Hemoglobin bebas dikarenakan bahan kimia yang mengandung sianida yang
mengikat erat dengan molekul hemoglobin untuk membentuk
cyanomethemoglobin. Dengan penyinaran cahaya yang melalui larutan dan diukur
seberapa banyak cahaya yang diserap (khusus pada panjang gelombang 540
nanometer), jumlah hemoglobin dapat ditentukan.
2. Hb Meter (Pocket)
Hb meter merupakan alat praktis yang dapat digunakan oleh siapa saja,
namun tingkat keakuratan dan sensitifitasnya masih jauh dibawah laboratorium
klinik yang sudah terstandarisasi dengan baik. Penggunaan Hb meter yaitu dengan
memasang stik Hb pada alat, kemudian alat akan menyala secara otomati, setelah
itu buat luka pada jari yang sebelumnya sudah di beri antiseptik.
Luka yang dibuat akan mengeluarkan darah, kemudian darah tersebut
diteteskan pada Hb meter. Setiap alat memerlukan waktu yang berbeda tergantung
alat yang dipakai. Jika sudah selesai akan muncul angka pada layar Hb meter,
itulah nilai Hb Anda.

II.1.3 Batas Normal Kadar Hemoglobin pada ibu Hamil Menurut WHO
Menurut WHO, anemia pada ibu hamil di bagi menjadi tiga kriteria yaitu :
 Normal > 11 gr/dl
 Anemia ringan 8 - 11 gr/dl
 Anemia berat < 8 gr/dl
Bagi ibu hamil, sebaiknya lakukan kontrol rutin kepada perawat ketika sudah
mengalami telat datang bulan. Periksakan secara teratur untuk mengontrol
pertumbuhan janin dan kesehatan ibu hamil.

II.1.4 Prinsip pemeriksaan hematokrit


Sampel darah EDTA dihisap, kemudian dicampur dengan reagen cellpack,
kemudian dilewatkan tabung yang dilengkapi dengan Iranducer dan sensor starl-
sensor stop. Tranduser akan mengukur tinggi pulsa yang sesuai dengan volume sel
darah merah, Start sensor-stop sensor mengukur volume whole blood. Kemudian
data diolah di komputer dibandingkan volume sel darah merah dan volume darah.

II.1.5 Prinsip pemeriksaan Eritrosit


Sampel darah EDTA diisap, kemudian dicampur dengan reagen cellpack.
Campuran dilewatkan dalam tabung bersekat yang dihubungkan dengan apertura
yang diapit dengan internal elektroda dan eksternal elektroda. Kedua elektroda ini
berfungsi mendeteksi perubahan potensial eritrosit yang melewati apertura.
Perbedaan potensial yang terjadi diolah komputer, maka jumlah eritrosit yang
terhitung disajikan dalam kertas print out.

II.2 Manual Plasecta


Manual plasecta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara
manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong
persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Pada umumnya
ditunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta secara spontan atau dengan
tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bila setelah 30 menit plasenta
belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu
terjadi perdarahan yang banyak, plasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera.

II.2.1 Indikasi Manual Plasenta


Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan
pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan
uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah
persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan
dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus. Hampir sebagian
besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oeh gangguan kontraksi uterus.
Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan
dengan:
1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus dikarenakan:
a. Plasenta adhesive yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk
melepaskan plasenta
b. Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga
memasuki sebagian lapisan miometrium
c. Plasenta inkreta, yaitu implantasi jonjot korion placenta hingga
mencapai/memasuki miometrium
d. Plasenta perkreta, yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding
uterus.
e. Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta di dalam kavum uteri
yang disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.
2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi
perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya
3. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
4. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan
5. Darah penderita terlalu banyak hilang
6. Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.
Manual plasenta dapat segera dilakukan apabila :
a. Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang.
b. Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc
c. Pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
d. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.
Manual plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas
400 cc dan terjadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). Seandainya masih
terdapat kesempatan, penderita retensio plasenta dapat dikirim ke puskesmas atau
rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat. Dalam melakukan
rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infus dan memberikan
cairan dan dalam persalinan diikuti oleh tenaga yang dapat memberikan
pertolongan darurat.

II.2.2 Tanda dan Gejala Retensi Plasenta


a) Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta
informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya,
paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat
pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau
timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b) Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam
kanalisservikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam
uterus.
c) Perdarahan yang lama > 400 cc setelah bayi lahir.
d) Placenta tidak segera lahir > 30 menit.
II.2.3 Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan
Sebelum melakukan tindakan sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu
dengan sabun dan air yang mengalir untuk mencegah infeksi. Mengeringkan
tangan dengan handuk bersih lalu pasang sarung tangan DTT/ steril.

II.2.4 Teknik Manual Plasenta


Untuk mengeluarkan plasenta yang belum lepas jika masih ada waktu dapat
mencoba teknik menurut Crede yaitu uterus dimasase perlahan sehingga
berkontraksi baik, dan dengan meletakkan 4 jari dibelakang uterus dan ibu jari
didepannya, uterus dipencet di antara jari-jari tersebut dengan maksud untuk
melepaskan plasenta dari dinding uterus dan menekannya keluar. Tindakan ini
tidaklah selalu berhasil dan tidak boleh dilakukan secara kasar. Sebelum
mengerjakan manual plasenta, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan
umum penderita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer
Laktat. Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan
suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi
rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu
tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat, tangan yang lain (tangan kanan)
dengan jari-jari dikuncupkanmembentuk kerucut.

Gambar 1.Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut


Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu
melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring),
ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan
yangmembentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus
uteri dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke
bawah. Setelah tangan yang di dalam sampai ke plasenta, telusurilah permukaan
fetalnya ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada
bagian pinggir plasenta yang terlepas.

Gambar 2.Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundus

Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di
dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu.
Dengan gerakan tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya
(kalau mungkin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri
supaya jangan ikut terdorongke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus
(perforasi) dapat dihindarkan.

Gambar 3. Mengeluarkan plasenta

Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, lakukan eksplorasi untuk mengetahui


kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa.
Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah plasenta
keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan uterotonik
(oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus. Lakukan
inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina
atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit. Jika setelah plasenta
dikeluarkan masih terjadi perdarahan karena atonia uteri maka dilakukan
kompresi bimanual sambil mengambil tindakan lain untuk menghetikan
perdarahan dan memperbaiki keadaan ibu bila perlu. Jika tindakan manual
plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam)
abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta
dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan dirumah sakit dengan hati-
hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengankuretase pada abortus.
Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian
obat uterotonika melalui suntikan atau per-oral. Pemberian antibiotika apabila ada
tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

II.2.5 Komplikasi
Kompikasi dalam pengeluaran plasenta secara manual selain infeksi/
komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan, multiple
organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi
organ dan sepsis, ialah apabila ditemukan plasenta akreta. Dalam hal ini villi
korialis menembus desidua dan memasuki miometrium dan tergantung dari
dalamnya tembusan itu dibedakan antara plasenta inakreta dan plasenta perkreta.
Plasenta dalam hal ini tidak mudah untuk dilepaskan melainkan sepotong demi
sepotong dan disertai dengan perdarahan. Jika disadari adanya plasenta akreta
sebaiknya usaha untuk mengeluarkan plasenta dengan tangan dihentikan dan
segera dilakukan histerektomi dan mengangkat pula sisa-sisa dalam uterus.

II.3 Kompresi Uterus Bimanual


Kompresi bimanual adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan segera
homorrage postpartum. Dinamakan demikian karena secara literature
melibatkatkan kompresi uterus diantara dua tangan.(varney,2004).
Menekan rahim diantara kedua tangan dengan maksud merangsang rahim
untuk berkontraksi dan mengurangi perdarahan (depkes RI,1996-1997)

II.3.1 Kompresi Bimanual Eksterna (KBE)


Kompresi bimanual eksterna merupakan tindakan yang efektif untuk
mengendalikan perdarahan misalnya akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini
diteruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan perdarahan dapat
dihentikan.ini dapat di uji dengan melepaskan sesaat tekanan pada uterus dan
kemudian mengevaluasi konsistensi uterus dan jumlah perdarahan.
Penolong dapat menganjurkan pada keluarga untuk melakukan kompresi
bimanual eksterna sambil penolong melakukan tahapan selanjutnya untuk
penatalaksanaan atonia uteri. Dalam melakukan kompresi bimanual eksterna ini,
waktu sangat penting, demikian juga kebersihan. sedapat mungkin ,gantillah
sarung tangan atau cucilah tangan sebelum memulai tindakan ini.
KBE menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling
mendekatkan kedua beah telapak tangan yang melingkupi uterus.Pantau aliran
darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang,kompresi diteruskan , pertahankan
hingga uterus dapat kembali berkontraksi. Bila belum berhasil diakukan kompresi
bimanual internal.

II.3.2 Kompresi Bimanual Interna (KBI)


Ada kalanya setelah kelahiran plasenta terjadi perdarahan aktif dan uterus
tidak berkontraksi walaupun sudah dilakukan menajemen aktif kala III.Dalam
kasus ini uterus tidak berkontraksi dengan penatalaksanaan menajemen aktif kala
III dalam waktu 15 detik setelah plasenta lahir. Tindakan atau penanganan yang
dapat dilakukan adalah melakukan tindakan kompresi bimanual interna,kompresi
bimanual eksterna atau kompresi aorta abdominalis. Sebelum melakukan tindakan
ini harus dipastikan bahwa penyebab perdarahan aadalah atonia uteri,dan pastikan
tidak ada sisa plasenta.
Proses penanganan atonia uteri ini merupakan suatu rangkaian tindakan
dalam proses persalinan. Kompresi Bimanual adalah serangkaian proses yang
dilakukan untuk menghentikan perdarahan secara mekanik. Proses mekanik yang
digunakan adalah aplikasi tekanan pada korpus uteri sebagai upaya pengganti
kontraksi miometrium ( yang untuk sementara waktu tidak dapat berkontraksi).
Kontraksi miometrium dibutuhkan untuk menjepit anyaman cabang-cabang
pembuluh darah besar yang berjalan diantaranya.
Kompresi bimanual interna dilakukan saat terjadi perdarahan. Perdarahan
postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak
lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta.
Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600
cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH,
1998).
Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam
24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998)HPP biasanya kehilangan
darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001).
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
 Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
 Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir
Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan
komplikasi perdarahan post partum :
a. Menghentikan perdarahan
b. Mencegah timbulnya syok
c. Mengganti darah yang hilang.Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 %
dari seluruh persalinan.

II.4 Ruptur Perineum: Episiotomi


Episiotomi adalah insisi pudendum/perineum untuk melebarkan orifisium
(lubang/muara) vulva sehingga mempermudah jalan keluar bayi (Benson dan
Pernoll, 2009). Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang
menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan
pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan
perineum (Prawirahardjo, 2008).

II.4.1 Tujuan
Tujuan dilakukannya episiotomi yaitu :
 Membentuk insisi bedah yang lurus, sebagai pengganti robekan tak
teratur yang mungkin terjadi akibat rupture perineum.
 Mencegah vagina robek secara spontan, karena jika robeknya tidak
teratur maka menjahitnya akan sulit dan hasil jahitannya pun tidak rapi.
 Mempersingkat waktu ibu dalam mendorong bayinya keluar
atau dengan kata lain mempercepat persalinan dengan melebarkan jalan
lahir lunak atau mempersingkat kala II.
 Mengurangi tekanan kepala anak sehingga dapat mencegah trauma
kepala pada janin akibat jalan lahir yang sempit dan juga mencegah
kerusakan pada spintcher ani akibat desakan kepala bayi (Williams,
2009).

II.4.2 Waktu Pelaksanaan Episiotomi


Episiotomi sebaiknya dilakukan ketika kepala bayi meregang perineum pada
janin matur, sebelum kepala sampai pada otot-otot perineum pada janin matur
(Benson dan Pernoll, 2009). Bila episiotomi dilakukan terlalu cepat, maka
perdarahan yang timbul dari luka episiotomi bisa terlalu banyak, sedangkan bila
episiotomi dilakukan terlalu lambat maka laserasi tidak dapat dicegah. Sehingga
salah satu tujuan episiotomi itu sendiri tidak akan tercapai. Episiotomi biasanya
dilakukan pada saat kepala janin sudah terlihat dengan diameter 3 - 4 cm pada
waktu his. Jika dilakukan bersama dengan penggunaan ekstraksi forsep, sebagian
besar dokter melakukan episiotomi setelah pemasangan sendok atau bilah forsep
(Williams, 2009).

II.4.3 Indikasi Episiotomi


 Pada persalinan anak besar, sehingga  untuk mencegah robekan
perineum yang dapat terjadi akibat tidak mampu beradaptasi terhadap
regangan yang berlebihan.
 Pada Perineum yang akan robek dengan sendiri (menipis dan pucat),
sehingga mencegah ruptur perini yang dapat menyebabkan  robekan
yang tidak teratur sehingga menyulitkan penjahitan dan hasil
jahitannya pun tidak rapi.
 Pada persalinan prematur, dimana untuk melindungi kepala janin yang
prematur dari perineum yang ketat sehingga tidak terjadi cedera dan
pendarahan intracranial.
 Pada  perineum kaku, sehingga di harapkan dengan melakukan
epistomi dapat mengurangi   luka yang lebih luas diperineum atau
labia (lipatan disisi kanan dan kiri alat kelamin) jika tidak dilakukan
episiotomi.
 Jika terjadi gawat janin dan persalinan mungkin harus diselesaikan
dengan bantuan alat (ekstraksi cunam atau vakum), dimana episiotomi
merupakan bagian dari persalinan yang dibantu dengan forsep atau
vakum.
 Pada kasus letak / presentasi abnormal (bokong, muka, ubun-ubun
kecil di belakang) dengan menyediakan tempat yang luas untuk
persalinan yang aman untuk mencegah kerusakan jaringan pada ibu
dan bayi 
 Adanya  Jaringan parut pada perineum atau vagina yang
memperlambat kemajuan persalinan
Menurut Sarwono, 2006 : Episiotomi dilakukan untuk persalinan dengan
tindakan atau instrument (persalinan dengan cunam, ekstraksi dan vakum); untuk
mencegah robekan perineum yang kaku atau diperkirakan tidak mampu
beradaptasi terhadap regangan yang berlebihan, dan untuk mencegah kerusakan
jaringan pada ibu dan bayi pada kasus letak / presentasi abnormal (bokong, muka,
ubun-ubun kecil di belakang) dengan menyediakan tempat yang luas untuk
persalinan yang aman.

II.4.3 Kontraindikasi Episiotomi


 Bila persalinan tidak berlangsung pervaginam
 Bila terdapat kondisi untuk terjadinya perdarahan yang banyak seperti
penyakit kelainan darah maupun terdapatnya varises yang luas pada
vulva dan vagina.
II.4.4 Jenis - Jenis Episiotomi
Sebelumnya ada 4 jenis episiotomi yaitu; Episiotomi medialis, Episiotomi
mediolateralis, Episiotomi lateralis, dan Insisi Schuchardt. Namun menurut
Benson dan Pernoll (2009), sekarang ini hanya ada dua jenis episiotomi yang di
gunakan yaitu:
a. Episiotomi median
Sayatan yang di buat di garis tengah, dimana Insisi atau sayatan dimulai dari
ujung terbawah introitus vagina atau pada garis tengah komissura
posterior sampai batas atas otot- otot sfingter ani (tidak sampai mengenai serabut
sfingter ani).
Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah: Perdarahan yang timbul dari
luka episiotomi lebih sedikit oleh karena daerah yang relatif sedikit mengandung
pembuluh darah. Sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan
kembali lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan.

Kerugian dari episiotomi medialis ini adalah: dapat terjadi ruptur perinei
tingkat III inkomplet (laserasi median sfingter ani) atau komplit (laserasi dinding
rektum).

b. Episiotomi mediolateral
Sayatan di sini dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah
belakang dan samping kanan  ditengah antara spina ischiadica dan anus. Arah
sayatan dapat dilakukan ke arah kanan ataupun kiri, tergantung pada kebiasaan
orang yang melakukannya. Panjang sayatan kira-kira 4 cm. Sayatan di sini sengaja
dilakukan menjauhi otot sfingter ani untuk mencegah ruptura perinea tingkat III.
Perdarahan luka lebih banyak oleh karena melibatkan daerah yang banyak
pembuluh darahnya. Otototot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih
sukar. Penjahitan dilakukan sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai
hasilnya harus simetris (Benson dan Pernoll, 2009).
Keuntungan dari epistomi mediolateral adalah Perluasan laserasi akan lebih
kecil kemungkinannya mencapai  otot sfingter ani dan rektum sehingga dapat
mencegah  terjadinya laserasi perinei tingkat III ataupun laserasi perineum yang
lebih parah yang sampai pada rectum.
Kerugian episiotomi mediolateral adalah Perdarahan luka lebih banyak oleh
karena melibatkan daerah yang banyak pembuluh darahnya.  Daerah insisi kaya
akan fleksus venosus, otot-otot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih
sukar dan penyembuhan terasa lebih sakit dan lama, Insisi lateral akan
menyebabkan distorsi (penyimpangan) keseimbangan dasar pelvis, otot – ototnya
agak lebih sulit untuk disatukan secara benar (aposisinya sulit), sehingga
terbentuk jaringan parut yang kurang baik.

II.4.5 Penyembuhan Luka Episiotomi


Menurut Walsh (2008) proses penyembuhan terjadi dalam tiga fase, yaitu:
a. Fase 1 : Segera setelah cedera, respons peradangan menyebabkan
peningkatan aliran darah ke area luka, meningkatkan cairan dalam
jaringan,serta akumulasi leukosit dan fibrosit. Leukosit akan memproduksi
enzim proteolitik yang memakan jaringan yang mengalami cedera.
b. Fase 2 : Setelah beberapa hari kemudian, fibroblast akan membentuk
benang – benang kolagen pada tempat cedera.
c. Fase 3 : Pada akhirnya jumlah kolagen yang cukup akan melapisi jaringan
yang rusak kemudian menutup luka.
Proses penyembuhan sangat dihubungani oleh usia, berat badan, status nutrisi,
dehidrasi, aliran darah yang adekuat ke area luka, dan status imunologinya.
Penyembuhan luka sayatan episiotomi yang sempurna tergantung kepada
beberapa hal. Tidak adanya infeksi pada vagina sangat mempermudah
penyembuhan. Keterampilan menjahit juga sangat diperlukan agar otot-otot yang
tersayat diatur kembali sesuai dengan fungsinya atau jalurnya dan juga dihindari
sedikit mungkin pembuluh darah agar tidak tersayat. Jika sel saraf terpotong,
pembuluh darah tidak akan terbentuk lagi (Walsh, 2008).

II.4.6 Komplikasi
 Nyeri post partum dan dyspareunia.
 Nyeri pada saat menstruasi pada bekas episiotomi dan terabanya massa .
 Gangguan dalam hubungan seksual, Bagi beberapa wanita akan merasakan
nyeri saat berhubungan seksual selama beberapa bulan setelah melahirkan.
 Resiko terjadinya perdarahan yang lebih besar pada saat proses persalinan
 Proses penyembuhan biasanya lebih nyeri dan lebih lama dibandingkan
robekan spontan. Nyeri biasa dirasakan pada saat berjalan atau duduk. Apabila
robekan yang terjadi sangat besar, maka proses penyembuhan dapat
berlangsung lebih lama lagi.
 Meningkatkan resiko terjadinya infeksi
 Bagi wanita yang sudah menjalani episiotomi maka kemungkinan untuk
terjadinya robekan pada persalinan berikutnya lebih besar.
 Inkontinensia anus, dimana wanita tidak dapat mengontrol pengeluran fesesnya
sendiri.

II.5 Bantuan Pernapasan

II.5.1 Perubahan pernapasan terkait kelahiran

1. Kehamilan
Ketika ibu hamil, kebutuhan tubuh akan oksigen mengalami peningkatan.
Fungsi dan anatomi saluran pernapasan juga berubah. Sebagian besar pernapasan
dilakukan secara diafragmatik, diafragma terdorong ke atas sedangkan tulang
rusuk menonjol. Progesteron merilekskan otot polos alveoli dan meskipun uterus
menahan diafragma dari bawah, pernapasan berlangsung lebih dalam.

2. Persalinan
Jumlah dan kekuatan kontraksi memengaruhi pola dan kedalaman
pernapsan selama persalinan. Ketika persalinan ibu tidak boleh menahan napas,
ibu dianjurkan untuk bernapas dalam diantara dua kontraksi guna
mempertahankan oksigenasi yang diperlukan oleh aktivitas otot. Latihan
pernapasan dapat membantu ibu baik secara fisik maupun psikologis. Janin juga
cenderung mengalami distres bila ibu mengalami distres
(Blackburn&Loper,1992).

3. Periode Pascanatal-maternal
Begitu persalinan selesai, pernapsan kembali ke pola sebelum hamil.
II.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Pernapasan
1. Latihan fisik : Peningkatan kebutuhan oksigen menyebabkan
peningkatan pernapasan.
2. Emosi : Frekuensi dan kedalaman pernapasan dapat dikendalikan
secara sadar dan dapat bermanfaat, misalnya pada pola pernapasan
dalam persalinan. Cemas, kegelisahan, stres, kegembiraan, ketakutan
dan emosi lainnya juga dapat mempengaruhi pernapasan.
3. Nyeri : Hipersentilasi merupakan respons fisiologi tehadap nyeri.
4. Cedera : Komplikasi, seperti emboli atau emboli cairan amnion dapat
menyebabkan infark pada jaringan paru-paru dan pernapasan dapat
terhenti.
5. Penurunan jumlah sel darah merah
6. Obat-obatan

II.5.3 Indikasi
1. Maternal
Meskipun merupakan bagian dari pengakajian tanda-tanda vital, frekuensi
napas biasanya dihitung hanya bila ditemukan kondisi abnormal dalam frekuensi,
kedalaman atau keteraturan napas pada saat observasi awal. Pengkajian pernapasn
dilakukan saat:
a. Masuk rumah sakit dengan keluhan pernapasan, misalnya asma, nyeri
dada, tuberkulosis.
b. Selama dan setelah pembedahan
c. Adanya tanda-tanda perubahan pola napas yang berkaitan dengan
kesedihan psikologis.
2. Bayi
a. Pada saat lahir, sebagai bagian dari Skor Apgar
b. Adanya tanda-tanda sianosis, retraksi strenum, pernapasan cuping
hidung, bunyi napas bising, misalnya mendengkur atau pernapasan yang
berat/sulit, saat bayi menggunakan energi yang besar untuk bernapas.
c. Setelah pengeluaran cairan ketuban yang disertai mekonium atau
pemberian nalokson pada saat kelairan.
II.5.4 Prinsip Pengkajian Pernapasan
1. Maternal
Prosedur ini mungkin satu-satunya prosedur yang tidak memerlukan
persetujuan tindakan dari ibu karena jika ibu diberitahu bahwa
pernapasannya sedang dihitung, hal tersebut akan mengakibatkan ibu
berpikir tentang hal itu dan kemudian mengakibatkan hasil perhitungan
yang salah (Hinchliff et al, 1996). Pengkajian pernapasan dilakukan
secara bersamaan dengan perhitungan nadi.
2. Bayi
Bayi yang menangis harus ditenangkan terlebih dahulu sebelum
pernapasannya dihitung secara akurat. Pada saat menghitung frekuensi
napas bayi, akan lebih baik jika dada dan abdomen dipajankan,
kemudian observasi, dengarkan dan hitung selama satu menit, bila
pernapasan tidak teratur. Persetujuan tindakan didapat dari orang tua
dan hasilnya juga didiskusikan dengan mereka.

II.5.5 Tindakan Terapi Oksigen


1. Definisi
Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru
melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. (Standar
Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005). Menurut Titin, 2007, terapi
oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada
inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara:
a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik )
b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)
2. Teknik Pemberian Oksigen
a. Kateter nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara
kontinyu dengan aliran 1-6 liter/menit dengan konsentrasi 24%-44%. Prosedur
pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai
nasofaring. Keuntungannya: pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak,
makan, berbicara, dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.
Dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kerugiannya: tidak dapat
memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%, tehnik memasukan kateter
nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat kateter melewati nasofaring,
dan mukosa nasal akan mengalami trauma.
b. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu


dengan aliran 1-6 liter/menit dengan konsentrasi oksigen yaitu 24%-44%. Pada
pemberian oksigen dengan nasal kanul jalan nafas harus paten, dapat digunakan
pada pasien dengan pernafasan mulut. Keuntungannya: pemberian oksigen stabil
dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah
dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, klien bebas makan, minum,
bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. Kerugiannya:
tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen
berkurang saat klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul
hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal.

c. Rebreathing mask
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35-60%
dengan aliran 6-15 liter/menit, serta dapat meningkatkan nilai PaCO 2. Udara
ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi, sesuai dengan aliran O2,
kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu inspirasi.
Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang
antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir.

II.5.6 Resiko Terapi Oksigen


Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat
terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus selama
1-2 hari. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen
yang merangsang sel PMN dan H 2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim
lisosom yang dapat merusak alveoli. Sedangkan resiko yang lain seperti retensi
gas karbondioksida dan atelectasis.
BAB III
ANALISIS JURNAL

III.1 Jurnal terkait dengan Epsiotomi


1. Judul Penelitian
Pengaruh Terapi Ice Pack Terhadap Perubahan Skala Nyeri Pada Ibu Post
Episiotomi
2. Kata Kunci
Nyeri post episiotomi; terapi icepack
3. Pengarang / Author
Wenniarti, Putri Widita Muharyani, Jaji
4. Tanggal Publikasi
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Volume 3, No. 1, Januari 2016: 377-
382
5. Kesimpulan
Rerata skala nyeri post episiotomi sebelum dilakukan terapi ice pack
sebesar 7,60. Rerataskala nyeri post episiotomi setelah dilakukan terapi ice
pack sebesar 4,27. Ada perbedaan rerata yang bermakna skala nyeri post
episiotomi sebelum dan setelah dilakukan terapi ice pack, dengan hasil p
value =0,001 <α yang berarti ada pengaruh yang signifikan terapi ice pack
terhadap perubahan skala nyeri post episiotomi.
6. Critical Apraisal
a. Why was this study done?
 Nyeri post episiotomi merupakan bentuk ketidaknyamanan
yang menjadi masalah kesehatan pada ibu. Nyeri
mengakibatkan ibu mengalami insomnia, sulit buang air besar,
dan buang air kecil setelah melahirkan.Kasus nyeri post
episiotomi di Puskesmas Belinyu meningkat setiap bulannya
sehingga diperlukan manajemen nyeri post episiotomisecara
nonfarmakologi yakni dengan terapi ice pack.
 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi ice
pack terhadap perubahan skala nyeri pada ibu post
episiotomi.Peneliti sudah menuliskan dengan jelas tujuan
dilakukan penelitian.
 Kata kunci yang digunakan peneliti sudah sesuai
 Fakta dan teori dituliskan kutipannya. Sehingga meningkatkan
nilai kebenarannya.
b. What is sample of size ?
Populasi penelitian yaitu ibu post episiotomi diPuskesmas
Belinyu Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan
Juni 2014. Sampel didapat sebanyak 15 ibu post episiotomi dengan
menggunakan metode nonprobability sampling melalui accidental
sampling. Desain penelitian menggunakan praexperimental dengan
rancangan one group pretest and posttest design. Data penelitian
diambil dengan cara pengukuran langsung skala nyeri post
episiotomi sewaktu sebelum dan setelah dilakukan terapi ice pack
menggunakan kuesioner Numerical Rating Scales (NRS). Data
dianalisis menggunakan uji paired sample t-test.
c. Are the measurements of major variables valid &reliable?
Instrumen yang digunakan untuk penilaian variabel sudah
valid/tepat.
d. Were there any untoward events during the conduct of the
study?
Persetujuan diperoleh dari Instansi terkait studi. Seorang
peneliti menjelaskan penelitian ini kepada calon peserta, dan
informed consent tertulis telah diperoleh sebelumnya. Identitas
pribadi subjek dilindungi karena semua data diidentifikasi
hanya berdasarkan jumlah kasus, sehingga kerahasiaan
terjamin. Mereka diberi kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan, dan diberi tahu bahwa mereka dapat menarik diri
dari penelitian ini kapan pun tanpa efek samping pada
perawatan mereka selanjutnya. Semua hasil untuk penelitian ini
dilaporkan sebagai agregat. Selain itu, jika subjek mendeteksi
efek merugikan dari penelitian yang tidak diinginkan atau tidak
diantisipasi, maka penelitian segera dihentikan.
e. How do the results fit with previous search in the area?
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti
pada Februari2014 di Puskesmas Belinyu sebanyak 55 dari 126
persalinan normal menggunakan tindakan episiotomi dengan
jenis medio-lateral selama bulan Desember 2013 sampai
dengan Februari 2014. Hasil wawancara dengan 10 ibu post
episiotomi diperoleh data bahwa seluruh klien mengalami
ketidaknyamanan akibat nyeri di area jahitan episiotomi,
kondisi tersebut menyebabkan sebanyak 6 orang ibu sulit untuk
berkemih, 8 orang ibu takut untuk melakukan defekasi serta 5
orang ibu mengalami insomnia. Hasil wawancara dengan
petugas kesehatan juga diketahui bahwa belum ada metode
nonfarmakologis seperti terapi ice pack yang digunakan untuk
mengatasi nyeri pada jahitan tersebut.

f. What does this research mean for clinicalpractice?


Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah bahan
bacaan atau referensi bagi Perawat, sehingga diharapkan
perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan pada ibu post
episiotomy dengan memperkenalkan terapi ice pack sebagai
salah satu upaya mengatasi nyeri post episiotomy, sehingga ibu
dapat menerapkan secara mandiri di rumah dengan bantuan
keluarga.
III.2 Jurnal terkait dengan Bantuan Pernapasan

1. Judul Penelitian
Penggunaan Nesting dengan Fiksasi Mampu Menjaga Stabilitas Saturasi
Oksigen, Frekuensi Pernafasan, Nadi dan Suhu pada Bayi Prematur
dengan Gawat Napas:Studi Kasus
2. Kata Kunci
Nesting, fiksasi, gawat nafas, TTV.
3. Pengarang / Author
Murniati Noor, Oswati Hasanah, Rumina Ginting
4. Tanggal Publikasi
Jurnal Ners Indonesia, Vol.6 No.1, September 2016
5. Kesimpulan
 Penelitian dilakukan pada tiga responden yaitu dua responden bayi
prematur dengan diagnosa NKB SMK (neonatus kurang bulan sesuai
masa kehamilan) dan NKB KMK (neonatus kurang bulan kecil masa
kehamilan) serta satu responden yang matur yaitu NCB SMK (neonatus
cukup bulan sesuai masa kehamilan).
 Penggunaan nesting dengan fiksasi pada development care
menunjukkan rata-rata saturasi oksigen dari ketiga responden lebih
stabil. Rata-rata suhu tubuh dari ketiga responden mengalami
eningkatan setiap harinya tetapi masih dalam batas normal.
 Hasil pengamatan yang di lakukan pada frekuensi nadi, frekuensi
pernafasan, pemakaian alat bantu pernafasan serta dampak terhadap
berat badan, di dapatkan bahwa ada kaitan antara peningkatan berat
badan dengan stabilnya frekuensi nadi dan pernafasan, lama pemakaian
alat bantu pernafasan lebih singkat.
 Pemakaian alat bantu nafas pada bayi yang menggunakan nesting
dengan fiksasi terdapatperbedaan yang cukup besar. Dari beberapa
penelitian pemakaian alat bantu nafas dapat di lihat dari posisi bayi.
Posisi bayi yang terbaik dengan memakai alat bantu nafas adalah posisi
prone. Tetapi dalam studi kasus ini peneliti tidak melakukan posisi
tersebut.
6. Critical Apraisal
a. Why was this study done?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
penerapan nesting dengan fiksasi pada development care terhadap
stabilitas saturasi oksigen, frekuensi pernafasan, nadi dan suhu
pada bayi prematur dengan gawat napas.
b. What is sample of size ?
Metode yang di gunakan adalah case study dengan
menggunakan 3 responden yang di rawat di ruangan NICU
perinatologi RSUD Arifin Ahmad Propinsi Riau yang dipilih
dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria
responden dalam penelitian ini adalah bayi premature (<37
minggu), mengalami gawat nafas (down score 4 – 7), berat badan
lahir rendah (< 2500 gram), dan memakai alat bantu pernafasan.
Hasil pengamatan setelah dilakukan penerapan penggunaan nesting
dengan fiksasi menunjukkan rata-rataPemantauan dilakukan pada
bayi selama 3 – 7 hari. Pengamatan pemakaian nesting dengan
fiksasi ini dilakukan pada tanggal 18 Mei 2015 sampai dengan 20
Juni 2015.
c. Are the measurements of major variables valid &reliable?
Instrumen yang digunakan untuk penilaian variabel sudah
valid/tepat.
d. What does this research mean for clinicalpractice?
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah bahan bacaan
atau referensi bagi Perawat, sehingga diharapkan perawat dapat
menerapkan tindakan yaitu menggunakan nesting dengan fiksasi
untuk menjaga stabilitas saturasi oksigen, frekuensi pernafasan,
nadi dan suhu pada bayi prematur dengan gawat napas
III.3 Jurnal terkait dengan Manual Plasenta

1. Judul Jurnal
Tanda bahaya serta penatalaksanaan perdarahan post- partum
2. Author
Dewa Gde Windu Sanjay
3. Hasil Analisis
Berdasarkan jurnal Penanaganan dari pendarahan post partum dimulai dengan
pemeberian uterotonik, pemijatan uteri, kompresi bimanual, transfusi darah,
pemberian faktor pembekuan darah dan atau mengambil sisa plasenta secara
manual setra manajemen trauma. Kompresi uterine bimanual dilakukan
dengan cara meletakkan satu tangan di vagina dan menekan badan uterus
sementra tangan lainnya menekan fundus dari dinding abdominal diatas.
Bagian posterior uterus dipijat oleh tangan di abdominal dan bagian anterior
oleh tangan di vagina.
III.4 Jurnal terkait dengan Pemeriksaan Hb, Ht

1. Judul Penelitian
Gambaran Kelengkapan Pemeriksaan Laboratorium Pada Ibu Hamil Untuk
Mencegah Komplikasi Pada Massa Persalinan Di Puskesmas
2. Kata Kunci
Kelengkapan laboratorium, kehamilan, komplikasi persalinan
3. Pengarang/Author
Dhanik Dwi Istiyarini
4. Tanggal Publikasi
3 Mei 2019
5. Kesimpulan
 Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak semua persalinan dapat
dicegah apabila mendapat penanganan yang adekuat difasilitasi pelayanan
kesehatan serta faktor waktu dan pemeriksaan Laboratorium merupakan
hal yang sangat penting untuk deteksi Dini mencegah kematian dan
kesakitan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan dan persalinan di
Puskesmas Gatak pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah 100
responden dengan teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian
menunjukan bahwa Kejadian komplikasi postpartum di Puskesmas gatak
pada bulan januari sampai oktober 2018 didapatkan data tertinggi
persalinan normal sebanyak 86 responden dan sebanyak 15 komplikasi
persalinan dan Kelengkapan pemeriksaan laboratorium jika menurut
kemenkes sudah mencapai target yaitu 88%, sedangkan tambahan
pemeriksaan laboratorium yang ada di Puskesmas Gatak pada ibu hamil
hanya didapatkan 45% yang dilakukan pemeriksaan lengkap.
6. Critical Apraisal
a. Why was this study done?
 Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu target
pembangunan. Upaya penurunan AKI (hamil, melahirkan,dan
nifas) sangat dibutuhkan pelayanan antenatal care yang
berkualitas sesuai standar kebijakan Pemerintah, yaitu
sekurang-kurangnya empat kali selama kehamilan, satu kali
pada trisemester kedua, dan dua kali pada trisemester ketiga.
 Penelitian bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan
laboratorium lengkap dan tidak lengkap terhadap kejadian
komplikasi postpartum di Puskesmas Gatak. Peneliti sudah
menuliskan dengan jelas tujuan dilakukan penelitian.
 Kata kunci yang digunakan peneliti sudah sesuai
 Fakta dan teori dituliskan kutipannya. Sehingga meningkatkan
nilai kebenarannya.
b. What is sample of size?
Populasi adalah keseluruhan objek dalam suatu penelitian yang
dikaji karateristiknya, populasi adalah wilayah generalisi yang
terdiri dari objek dan subjek yang mempunyai karakteristik tertentu
dan ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
sumber daya manusia ibu hamil yang sudah melahirkan dan sudah
melakukan pemeriksaan Laboratorium di Puskesmas Gatak.
Penelitian ini dilakukan pada 100 ibu yang melahirkan di
Puskesmas Gatak selama Januari 2018 hingga Oktober 2018. Hasil
penelitian ini berupa karakterisktik hasil pemeriksaan laboratorium
berdasarkan komplikasi postpartum dengan analisis univariat dan
deskriptiv untuk mengetahui mean,modus,dan median.
c. Are the measurements of major variables valid & reliable?
Instrumen yang digunakan untuk penilaian variabel sudah
valid/tepat.
d. Were there any untoward events during the conduct of the study?
Persetujuan diperoleh dari Instansi terkait studi. Seorang
peneliti menjelaskan penelitian ini kepada calon peserta, dan
informed consent tertulis telah diperoleh sebelumnya. Identitas
pribadi subjek dilindungi karena semua data diidentifikasi hanya
berdasarkan jumlah kasus, sehingga kerahasiaan terjamin. Mereka
diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, dan diberitahu
bahwa mereka dapat menarik diri dari penelitian ini kapanpun
tanpa efek samping pada perawatan mereka selanjutnya. Semua
hasil untuk penelitian ini dilaporkan sebagai agregat. Selain itu,
jika subjek mendeteksi efek merugikan dari penelitian yang tidak
diinginkan atau tidak diantisipasi, maka penelitian segera
dihentikan.
e. How do the results fit with previous search in the area?
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukan
bahwa dari 101 responden yang melakukan pemeriksaan
Hemaglobin yang diperiksa adalah 98 responden dan yang tidak
diperiksa 3 responden hal ini untuk menunjukan apakah ibu
Anemia atau tidak pemeriksaan haemoglobin sangat penting untuk
ibu hamil, Haematokrit yang diperiksa 69 responden dan yang
tidak 32 Responden hal ini menunjukan ukuran dan warna sel
darah merah yang menyebabkan anemia, Thrombosit yang
diperiksa 67 responden dan yang tidak 34 responden, Eritrosit yang
diperiksa 51 dan yang tidak 50 responden, Leukosit yang diperiksa
39 dan yang tidak diperiksa 62 responden untuk menunjukan
apakah ada infeksi atau tidak, HBSAG yang diperiksa 39
responden dan tidak 62 responden untuk mendeteksi Virus hepatits
karena penyakit ini menular sehingga petugas kesehatan dan ibu
hamil lebih menjaga keamaan saat persalinan, kemudian
pemeriksaan Urinalisa yang diperiksa 21 responden dan yang tidak
diperiksa 80 responden untuk mendeteksi apakah ada infeksi
saluran kemih hal ini untuk mencegah kelahiran prematur,
Golongan darah yang diperiksa 73 responden dan yang tidak
diperiksa 28 responden hal ini diperlukan untuk ikompalitas
golongan darah yang memerlukan tindakan ada bayi dan untuk ibu
jika memerlukan tranfusi darah, pemeriksaan HIV yang diperiksa
adalah 27 responden dan yang tidak diperiksa 74 responden karena
HIV berpotensi menular pada janin hal ini untuk menentukan
proses kelahiran bayi biasanya yang terinfeksi HIV persalinannya
dilakukan dengan operasi caesar, Pemeriksaan Gula darah sewaktu
yang diperiksa 7 responden dan yang tidak diperiksa 97 responden
untuk mendeteksi kemungkinan adanya diabetes Gestational pada
ibu hamil, yang terakhir pemeriksaan infeksi menular seksual yang
diperiksa 2 responden dan yang tidak adalah 99 responden untuk
mendeteksi apakah ada sifilis atau tidak karena berpotensi untuk
cacat sejak dalam kandungan.
f. What does this research mean for clinical practice?
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan
bagi pelayanan kesehatan agar lebih memperhatikan kelengkapan
laboratorium pada ibu hamil dengan kompliakasi yang terjadi pada
masa post partum dan sebagai upaya menurunkan komplikasi pada
Ibu melahirkan.
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Pemeriksaan hematokrit,, hemoglobin dan jumlah eritrosit penting
dilakukan saat dalam kehamilan maupun saat akan persalinan. Pemeriksaan secara
teratur penting untuk mengontrol pertumbuhan janin dan kesehatan ibu hamil.
Manual plasecta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat
implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara
manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong
persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Manual plasenta
dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan dengan beberapa
keadaan. Manual plasenta harus dilakukan dengan teknik yang benar agar tidak
terjadi infeksi ataupun komplikasi.
Kompresi bimanual adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan
segera homorrage postpartum. Kompresi bimanual terdiri dari kompresi bimanual
interna maupun eksterna.
Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan
terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum
rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum.
Bantuan pernapasan dapat diberikan kepada ibu hamil yang membutuhkan
bantuan pernapasan.

IV.2 Saran

Dalam memberikan tindakan dan perawatan khusus kepada ibu hamil kita
harus memperhatikan teknik-teknik dan faktor yang dapat mempengaruhi
tindakan agar tidak membahayakan ibu dan janin serta mencegah terjadinya
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

F. Gary Cunningham, Norman F. Gant, Kenneth J. Leveno, et all. (2004).


ObstetriWilliams, Vol. 1. Jakarta: EGC

Modul “Safe Motherhood” Dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di


Indonesia. Jakarta: Konsorsium Ilmu Kesehatan Depdikbud & Depkes
&WHO; 1997. Hal: IID-7 – IID-10.

Prawirohardjo, Sarwono. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.

Supono. (1986). Ilmu Kebidanan. Palembang: FK Unsri.