Anda di halaman 1dari 9

KEPERAWATAN KRITIS

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMONIA PADA ANAK

DISUSUN OLEH

INTAN DELIA PUSPITA SARI 171I311024

MERRY CHRISTIANY 1711311026

DELLA SILVIANA 1711311028

FEBRI YENI SUSILAWATI 1711311030

NADIRAH 1711311032

PUTRI MULYANI 1711311034

ASRA DEWITA 1711312004

SERLY APRILIA NST 1711312006

AINUL FITRI 1711312008

MIFTAHUL ILMI 1711312010

FADILAH LUKVIANTI 1711312012

FAKULTAS KPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS

2020

Kelompok 2-3
Seorang laki-laki, usia 2.5 tahun dibawa kerumah sakit karena keluhan sesak nafas dan
batuk-batuk sejak 3 minggu yang lalu. Pada saat dilakukan pengkajian, klien terlihat letih,
lemah batuk-batuk dan aktivitas dibantu oleh keluarga. Hasil pemeriksaan fisik TD: 78/70
mmHg, RR: 68x/menit dan auskultasi bunyi nafas ronkhi. Klien terlihat sesak, terlihat
retraksi dinding dada ke dalam. Suara nafas klien terdengar serak dan klien gelisah. Menurut
ibu klien berat badan anak menurun sejak sakit.
Pertanyaan soal:

1. Apakah klasifikasi penyakit anak.


Dari kasus di atas di dapat kan data bahwa

 Anak mengalami sesak nafas


 Batuk sejak 3 minggu yang lalu
 Terlihat letih, lemah, batuk-batuk
 TD : 78/70 mmHg, RR: 66 kali per menit
 Bunyi nafas ronki
 Terlihat retraksi dinding dada ke dalam
 Suara nafas klien terdengar serak dan klien gelisah
 Berat badan menurun
 Dari tanda dan gejala kasus di atas dapat di klasifikasiakan bahwa anak mengalami
pneumonia berat karena memiliki tanda dan gejala yang sama dengan pneumonia
berat seperti di bawah ini.

Pneumonia berat Jika anak menunjukkan tanda batuk dan atau kesulitan bernafas
ditambah minimal salah satu tanda berikut : kepala teranggung angguk, pernafasan cuping
hidung,tarikan dinding dada bagian bawah kedalam,foto dada menunjukkan gambaran
pneumonia (infiltrasi luas konsolidasi ,dll) ,maka anak mengalami pneumonia berat. Selain
gejala tersebut,didapatkan pula tanda tanda :

 Nafas cepat
 Suara merintih (grunting) pada bayi muda
 Pada auskultasi terdengar Krekel (ronkhi), suara pernafasan menurun, dan suara
pernafasan bronchial.
Dalam keadaan sangat berat dapat dijumpai:

 Tidak dapat menyusu atau makan.minum,atau memuntahkan semuanya


 Kejang, letargi atau tidak sadar
 Sianosis
 Distress pernafasan berat

2. Apa saja pemeriksaan diagnostik yang tepat untuk menentukan penyakit anak?
Pemeriksaan Diagnostik

 pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada orang dengan masalah pneumonia
adalah:
 Sinar X : Identifikasi distribusi Struktural dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat,
empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau
penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada
mungkin bersih.
 GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
 Pemeriksaan garam / kultur, Sputum dan darah:untuk dapat mengidentifikasi semua
organisme yang ada
 Pemeriksaan serologi: Membantu dalam membedakan diagnose is organisme khusus.
 Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspari
 Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.
 JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
 LED : meningkat
 Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
 Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
 Bilirubin : mungkin meningkat
 Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan
keterlibatan sitoplasmik(CMV)

3. Apakah kemungkinan stadium penyakit pada anak?


Dari kasus di atas di dapat kan data bahwa
1. Anak mengalami sesak nafas
2. Batuk sejak 3 minggu yang lalu
3. Terlihat letih, lemah, batuk-batuk
4. TD : 78/70 mmHg, RR: 66 kali per menit
5. Bunyi nafas ronki
6. Terlihat retraksi dinding dada ke dalam
7. Suara nafas klien terdengar serak dan klien gelisah
8. Berat badan menurun
Dari tanda dan gejala kasus di atas didapatkan bahwa bahwa anak mengalami stadium 2.
Stadium 2 (Hepatisasi merah), terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel-sel darah merah,
eksudat, dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu sebagai bagian dari proses peradangan

4. Jelasakan penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada anak?


Penatalaksanaan
Pneumonia berat
Jika anak menunjukkan tanda batuk dan atau kesulitan bernafas ditambah minimal salah satu
tanda berikut: kepala teranggung-angguk, pernafasan cuping hidung, tarikan dinding dada
bagian bawah kedalam, foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrasi luas
konsolidasi, dll), maka anak mengalami pneumonia berat. Selain gejala tersebut, didapatkan
pula tanda-tanda:
1. Nafas cepat
2. Suara merintih (grunting) pada bayi muda
3. Pada auskultasi terdengar krekel (ronkhi), suara pernafasan menurun, dan suara
pernafasan bronchial.
Dalam keadaan sangat berat dapat dijumpai:
 Tidak dapat menyusu atau makan.minum, atau memuntahkan semuanya
 Kejang, letargi atau tidak sadar
 Sianosis
 Distress pernafasan berat

Tata laksana anak dirawat dirumah sakit

1. Terapi antibiotik
a. Beri ampisilin/amoksilin (25-50mg/kg BB/kali IV atau IM setiap 6 jam) yang harus
dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama. Bila anak memberikan respon yang
baik, maka diberikan selama 5 hari. Selanjutnya terapi dilajutkan dengan amoksisilin
oral (15 mg/kgBB/ tiga kali sehari) untuk 5 hari berikutnya.
b. Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam, atau terdapat keadaan berat (tidak
dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya, kejang, letargis
atau tidak sadar, sianosis, distress pernafasan berat) maka ditambahkan kloramfenikol
(25 mmg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam).
c. Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat, segera berikan oksigen dan
pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin,
d. Sebagai alternatif, beri sefriakson (80-100 mg/kgBB IM atau IV sekali sehari).
e. Bila anak tidak membaik, maka bila memungkinkan dilakukan foto dada.
f. Apabila diduga pneumonia stafilokal, antibiotic dengan gentamisin (7,5 mg/kgBB IM
sekali sehari) dan kloksasilin (50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam) atau klindamisin
(15 mg/kgBB/hari – 3 kali pemberian). Bila keadaan anak membaik, lanjutkan
kloksasilin (atau (dikloksasilin) secara oral 4 kali sehari sampai secara keseluruhan
mencapai 3 minggu atau klindamisin secara oral selama 2 minggu.

2. Terapi oksigen
a. Beri oksigen pada semua anak dengan pneumonia
b. Bila tersedia pulse oximetry, gunakan sebagai panduan untuk terapi oksigen.
c. Lanjutkan pemberian oksigen sampai tanda hipoksia (seperti tarikan dinding dada
d. bagian bawah kedalam yang berat atau nafas ≥ 70 kali/menit tidak ditemukan lagi.

5. Apakah hal yang perlu dikaji pada anak?


Hal yang perlu dikaji pada anak :

1. Riwayat Kesehatan

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit pernapasan, pengobatan yang dilakukana dirumah dan penyakit yang
menyertai. Apakah bayi lahir prematur, memiliki riwayat penyakit degeneratif.

2. Pemeriksaan Fisik

 Inspeksi : observasi warna kulit anak (sentral dan Perifer) sianosis dapat terjadi.
Observasi adanya nyeri dada.
 Palpasi : Kaji taktil fremitus apakah teraba saat palpasi , Kaji bagian hepar apakah
kemungkinan mengalami pembesaran.
 Perkusi : Adanya bunyi redup pada area paru yang mengalami kondolidasi
 Auskultasi : Bunyi nafas apakah ada bunyi Romli atau mengi.
Komponen tambahan pemeriksaan fisik :

Evaluasi neurologis : evaluasi tingkat kesadaran anak seperti meminta anak menyebutkan
namanya, orientasi waktu dan tempat. Perhatikan bentuk dan kesimetrisan. Palpasi tengkorak
akan adanya nodus atau pembengkakan yang nyata Periksa hygine kulit kepala, ada tidaknya
lesi , kehilangan rambut, perubahan warna
 Evaluasi kulit dan ekstremitas
 Pengkajian nyeri
 Kaji apakah ada Faring hiperemis, pembesaran tonsil dan sakit menelan
 Sistem muskuloskeletal : Lemah, cepat lelah, Tonus otot menurun , nyeri otot
/normal, retraksi paru . Ambulasi dan sensitivitas

3. Faktor perkembangan :
Kebiasaan sehari-hari anak - anak, mekanisme koping

6. Apakah masalah keperawatan yang muncul dan jelaskan apa saja intervensi yang
dapat dilakukan.
Analisa data Etiologi Masalah Keperawatan
DO : Mukus yang berlebihan Ketidakefektifan bersihan
 Frekuensi nafas jalan nafas b.d sekresi yang
68x/menit tertahan
 Bunyi nafas ronkhi
 Suara nafas klien
terdengar serak
DS :
 Klien mengeluh sesak
nafas dan batuk sejak
3 minggu yang lalu
 Klien tampak letih
dan lemah
 Klien tampak gelisah

DO : Keletihan otot pernafasan Ketidakefektifan pola nafas


 Frekuensi nafas b.d hiperventilasi
68x/menit
 Tekanan Darah 78/70
mmHg
 Retraksi dinding dada
ke dalam
DS :
 Klien tampak sesak
nafas
 Klien tampak letih,
lemah dan gelisah

Diagnose NOC NIC


1. Ketidakefektifan Status pernafasan ; Manajemen jalan nafas
bersihan jalan napas Kepatenan jalan nafas Aktivitas :
b.d sekresi yang  Frekuensi pernafasan  Posisikan pasien
tertahan ditingkatkan ke 5 untuk
 Irama pernafasan memaksimalkan
ditingkatkan ke 5 ventilasi dan
 Kedalaman inspirasi meringankan sesak
ditingkatkan ke 5 nafas.
 Suara nafas tambahan  Kelola udara atau
ditingkatkan ke 5 oksigen yang
 Dispnea saat istirahat dilembabkan
ditingkatkan ke 5 sebagaimana
 Batuk ditingkatkan 5 mestinya.
 Lakukan fisioterapi
Status pernafasan : dada sebagaimana
Ventilasi mestinya.
 Frekuensi pernafasan  Regulasi asupan
ditingkatkan ke 5 cairan untuk
 Irama pernafasan mengoptimalkan
ditingkatkan ke 5 keseimbangan cairan.
 Suara nafas tambahan  Buang sekret dengan
ditingkatkan ke 5 memotivasi pasien
 Penggunaan otot untuk melakukan
bantu nafas batuk atau menyedot
ditingkatkan ke 5 lendir.
 Retraksi dinding dada  Gunakan teknik yang
ditingkatkan ke 5 menyenangkan untuk
memotivasi bernafas
dalam kepada anak-
anak (misalnya:
meniup gelembung,
meniup kincir, peluit,
harmonika, balon,
meniup layanknya
pesta; nuat lomba
meniup dengan bola
ping pong, meniup
bulu).
 Monitor status
pernafasan dan
oksigenasi
sebagaimana
mestinya.
2. Ketidakefektifan pola Status pernafasan : Monitor pernafasan
nafas b.d ventilasi Aktivitas :
hiperventilasi  Frekuensi pernafasan  Monitor kecepatan,
ditingkatkan ke 5 irama, kedalaman dan
 Irama pernafasan kesulitan bernafas.
ditingkatkan ke 5  Monitor saturasi
 Suara nafas tambahan oksigen.
ditingkatkan ke 5  Catat perubahan pada
 Penggunaan otot saturasi oksigen,
bantu nafas volume tidal akhir
ditingkatkan ke 5 CO2, dan perubahan
 Retraksi dinding dada nilai AGD dengan
ditingkatkan ke 5 tepat.
 Monitor kelelahan
Status pernafasan : pada pasien
kepatenan jalan nafas
 Frekuensi pernafasan Terapi oksigen
ditingkatkan ke 5 Aktivitas
 Irama pernafasan  Berikan oksigen
ditingkatkan ke 5 tambahan seperti
 Kedalaman inspirasi yang diperintahkan
ditingkatkan ke 5  Monitor aliran
 Suara nafas tambahan oksigen
ditingkatkan ke 5  Monitor peralatan
 Dispnea saat istirahat oksigen untuk
ditingkatkan ke 5 memastikan bahwa
 Batuk ditingkatkan 5 alat tersebut tidak
mengganggu upaya
pasien untuk
bernafas.
 Konsultasi dengan
tenaga kesehatan lain
mengenai
penggunaan oksigen
tambahan selama
kegiatan dan/tidur.
Daftar pustaka

DepkesRI.(2008).Bukusakupelayanankesehatananakdirumahsakit.DepartemenkesehatanRI,J

Muttaqin.Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta:


Salemba Medika.

Doenges, Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.

Ball, J. W, and bindler, R. C., (2003). Pediatric of nursing: caring for children. Pearson
Education, Inc: New Jersey, America.
Biddulph dan Stace. 1999. Kesehatan Anak untuk Perawat, Petugas Penyuluhan Kesehatan
dan Bidan Desa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Corwin, E.J. (2001). Buku saku patofisiologi/ Elizabeth J. Corwin, alih bahasa brahm U.
pendi;editor, Endah P. Jakarta, EGC.
Dahlan dalam Sudoyo dkk. (2006). Pneumonia, Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta:
EGC.