Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH PERALATAN LIFE SUPPORT

BUBBLE CPAP

Dosen Pengampu :
Abd. Kholid, S.ST, MT.
19750522 200604 1 006

Di susun oleh :
Aviliana Kusuma Bintari P27838119043
Dwi Siti Nurhayati P27838119047
I Dewa Made Wirayuda P27838119051
Ichwan Syahrul P27838119054
Nelson Sianturi P27838119058
Sri Wahyuni Dwi L. P27838119061

PROGRAM STUDI ALIH JENJANG DIPLOMA IV


JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
SURABAYA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Bubble CPAP”. Makalah ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan perkuliahan pada program Alih
Jenjang D-IV di Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Surabaya.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini tidak akan selesai tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
memberikan saran dan doa untuk kelancaran makalah.
Penulis menyadari makalah ini tidak luput dari berbagai kekurangan.
Penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikannya
sehingga akhirnya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi bidang pendidikan
dan penerapan dilapangan serta bisa dikembangkan lagi lebih lanjut.

Surabaya, 21 Mei 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
DAFTAR TABEL..................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................1
1.3 Tujuan......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Definisi Bubble CPAP.............................................................................3
2.2 Perkembangan Bubble CPAP................................................................4
2.3 Manfaat Bubble CPAP...........................................................................4
2.4 Komplikasi Bubble CPAP......................................................................6
2.5 Jenis-Jenis Bubble CPAP.......................................................................7
2.6 Komponen Utama Bubble CPAP..........................................................7
2.7 Bagian-bagian Bubble CPAP...............................................................10
2.8 Prinsip Kerja Bubble CPAP.................................................................11
2.9 Standar Operasional Prosedur Bubble CPAP...................................12
2.10 Troubleshooting.................................................................................13
2.11 Kalibrasi.............................................................................................15
BAB III PENUTUP..............................................................................................18
3.1 Kesimpulan............................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................19

iii
DAFTAR GAMBAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Gambar 2. 1 Bubble CPAP Sederhana [7]...............................................................4
Gambar 2. 2 A. Erosi septum nasi; B. Nasal snubbing akibat CPAP....................6
Gambar 2. 3 nCPAP interface................................................................................8
Gambar 2. 4 Macam-macam Patient Interfaces untuk CPAP................................8
Gambar 2. 5 Daftar Ukuran Prongs........................................................................9
Gambar 2. 6 Macam-macam ukuran prongs..........................................................9
Gambar 2. 7 Bagian-bagian dari Bubble CPAP Merk Fisher & Paykel..............10
Gambar 2. 8 Aksesoris untuk meletakan prongs ke bayi.....................................11
Gambar 2. 9 Blok Diagram Bubble CPAP...........................................................11
Gambar 2. 10 Pemasangan prongs pada bayi.......................................................12
Gambar 2. 11 Cek fungsi bubble..........................................................................14
Gambar 2. 12 Instalasi Kalibrasi CPAP...............................................................16

iv
DAFTAR TABEL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tabel 2. 1 Troubleshooting CPAP........................................................................13

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Respiratory distress syndrome (RDS) adalah penyakit yang disebabkan kekurangan
surfaktan pada paru-paru. Surfaktan paru melingkupi permukaan alveoli pada paru-
paru.Yang berfungsi menurunkan tekanan dan mencegah kolapsnya alveoli.Kurangnya
surfaktan menyebabkan atelektasis dari alveoli,menurunnya compliance paru,gagal nafas dan
kerusakan pada paru- paru. Sejak ditemukan bahwa peran defisiensi surfaktan dalam
patogenesis dari RDS,berbagai percobaan acak menunjukkan pemberian surfaktan
bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan RDS. Sampai saat ini lebih dari 33 percobaan
yang melibatkan 6000 bayi telah dilaporkan.Hasil percobaan menunjukkan bila dibandingkan
dengan terapi konvensional,terapi dengan pemberian surfaktan menunjukkan terjadi
penurunan yang signifikan terhadap penurunan angka kejadian pneumothorax dan kematian
Dibalik keberhasilan terapi surfaktan,terdapat angka kejadian cedera paru yang
signifikan.Maka CPAP adalah terapi yang tidak begitu invasif untuk mempertahankan
volume kapasitas paru-paru dan meningkatkan oksigenasi. Menurut penelitian penggunaan
CPAP pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah dapat menurunkan angka penyakit
paru-paru kronis.
Sistem CPAP terdiri dari 3 komponen: sirkuit untuk meneruskan udara inspirasi,alat
untuk menghubungkan sirkuit dan jalan nafas bayi,dan metode untuk menghasilkan tekanan
positif pada alat cpap. Keberhasilan dalam penggunaan cpap bergantung dengan: sistem
harus terpasang dengan benar, bahan yang digunakan harus ringan dan fleksibel, harus
mudah dipasang, dilepas, dan dihubungkan, dan harus nyaman digunakan dan menyebabkan
trauma yang seminimal mungkin terhadap bayi.Banyak teknik untuk menggunakan cpap
terdiri dari nasal canule,masker,tabung nasopharynx,head box with neck seal atau
endotrakeal tube.
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang alat life support dan life saving
lanjut bubble CPAP yang digunakan untuk mempertahankan tekanan positif pada jalan
napas. Makalah bubble CPAP ini juga dibuat untuk memenuhi tugas peralatan life support
dan life saving lanjut dari bapak dosen Abdul Kholiq, S.Tr.Em.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun batasan masalah yang dibuat agar penelitian ini dapat berjalan dengan baik
adalah sebagai berikut :
1. Apa itu bubble CPAP?
2. Apa saja kegunaan bubble CPAP?
1
3. Bagaimana sistem kerja dari bubble CPAP?
4. Apa saja standar operasional perosedur penggunaan dari bubble CPAP?

1.3 Tujuan
1. Meningkatkan wawasan dan pengetauan mahasiswa teknik elektromedik mengenai
peralatan life support khususnya bubble CPAP
2. Mempermudah pekerja tenaga kesahatan, khususnya teknisi RS untuk melakukan
perbaikan bubble CPAP

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Bubble CPAP
Bubble CPAP (Continuous Positive Airways Pressure) adalah salah satu cara atau
metode pemberian CPAP di mana tekanan positif dibuat dengan memasukkan pipa ekspirasi
ke dalam air dengan kedalaman tertentu.
Bubble CPAP (Continuos Positif Airways Pressure) merupakan suatu alat yang dapat
digunakan untuk memberikan tekanan positif kepada bayi baru lahir. Yang sudah bisa
bernapas spontan tetapi masih rentan mengalami apnea. Tujuan dari Bubble CPAP adalah
memeberikan tekanan udara positif kepada pasien melalui nasal prong.[4]
CPAP adalah bantuan pernapasan dengan cara meningkatkan tekanan pulmoner secara
artifisial pada saat fase ekspirasi pada bayi yang bernapas secara spontan.[3]
Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) adalah suatu mode ventilasi pernafasan
non-invasive yang memberikan tekanan positif konstan pada saluran nafas sepanjang siklus
pernapasan. Saat ekshalasi CPAP menciptakan tekanan positif pada paru yang akan
memperbaiki recruitment dan stabilitas alveoli sehingga dapat mencegah kolapsnya alveoli,
memperbaiki kapasitas residu fungsional dan memperbaiki oksigenasi. CPAP biasa
digunakan sebagai terapi untuk obstructive sleep apnea (OSA), pasien dengan gagal nafas,
pasien dengan edema paru kardiogenik, pasien dengan gagal jantung kongestif, dan bayi
prematur. Pada pasien-pasien tersebut, ventilasi jenis ini dapat mencegah penggunaan
intubasi, atau dapat memungkinkan ekstubasi lebih cepat.[2]
Pernapasan spontan dengan tekanan positif yang dipertahankan selama siklus respirasi
disebut dengan continuous positive airway pressure (CPAP). Pada mode ventilasi ini, pasien
tidak perlu menghasilkan tekanan negative untuk menerima gas yang diinhalasi. Hal ini
dimungkinkan oleh katup inhalasi khusus yang membuka bila tekanan udara di atas tekanan
atmosfer. CPAP harus dibedakan dengan PEEP spontan. Pada PEEP spontan, tekanan
negative jalan napas dibutuhkan untuk inhalasi. PEEP spontan telah digantikan oleh CPAP
karena dapat menurunkan work of breathing. Penggunaan klinis CPAP adalah pada pasien-
pasien yang tidak diintubasi. CPAP dapat diberikan melalui sungkup wajah khusus yang
dilengkapi dengan katup pengatur tekanan. Sungkup wajah CPAP (CPAP mask) telah
terbukti berhasil untuk menunda intubasi pada pasien dengan gagal napas akut, tetapi
sungkup wajah ini harus dipasang dengan tepat dan kuat dan tidak dapat dilepas saat pasien
makan, sehingga hanya dapat digunakan sementara. Sungkup hidung khusus lebih dapat

3
ditoleransi oleh pasien terutama pada pasien dengan apnea obstruktif saat tidur, juga pada
pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi akut.[5].

Gambar 2. 1 Bubble CPAP Sederhana [7]

2.2 Perkembangan Bubble CPAP


Deskripsi tentang ventilasi tekanan positif pertama kali dikemukakan olehVesalius sejak
400 tahun yang lalu, namun penerapan konsep tersebut dalam penatalaksanaan pasien
dimulai pada tahun 1955, saat epidemi polio terjadi hampir di seluruh dunia. Pada saat itu
dibutuhkan suatu bentuk bantuan ventilasi yang dapat bertindak sebagai tangki ventilator
bertekanan negatif yang dikenal dengan istilah iron lung. Di Swedia, seluruh pusat
pendidikan kedokteran tutup, dan seluruh mahasiswanya bekerja selama 8 jam sehari sebagai
human ventilator, yang memompa paru pada pasien-pasien dengan gangguan ventilasi.
Demikian pula di Boston, Amerika Serikat, Emerson Company berhasil membuat suatu
prototipe alat inflasi paru bertekanan positif yang kemudian digunakan di Massachusetts
General Hospital dan memberikan hasil yang memuaskan dalam waktu singkat. Sejak saat
itu, dimulailah era baru penggunaan ventilasi mekanik bertekanan positif serta ilmu
kedokteran dan perawatan intensif.[5]

2.3 Manfaat Bubble CPAP


CPAP telah banyak digunakan untuk memperbaiki insufisiensi pernapasan.CPAP telah
digunakan untuk terapi orang dewasa pada 1936 sedangkan untuk RDS pada bayi digunakan
mulai 1971 CPAP berfungsi mempertahankan tekanan positif pada jalan nafas pada nafas
spontan,sehingga meningkatkan functional residual capacity dan meningkatkan oksigenasi
pada bayi dengan RDS. Berbagai kegunaan CPAP antara lain:
1. Meningkatkan tekanan transpulmonary
2. Meningkatkan Functional residual capacity

4
3. Mencegah alveoli kolaps
4. Menurunkan shunt intrapulmo
5. Meningkatkan compliance paru
6. Meningkatkan diameter jalan napas
7. Menstimulasi pertumbuhan paru-paru.[6]
Ada beberapa kriteria terjadinya respiratory distress pada neonatus yang merupakan
indikasi penggunaan CPAP. Kriteria tersebut meliputi :
1. Frekuensi nafas > 60 kali permenit
2. Merintih ( Grunting) dalam derajat sedang sampai parah
3. Retraksi nafas
4. Saturasi oksigen < 93% (preduktal)
5. Kebutuhan oksigen > 60%
6. Sering mengalami apnea
Semua bayi cukup bulan atau kurang bulan, yang menunjukkan salah satu kriteria
tersebut diatas, harus dipertimbangkan untuk menggunakan CPAP.
Pada penggunaan CPAP, pernapasan spontan dengan tekanan positif dipertahankan
selama siklus respirasi, hal ini yang disebut disebut dengan continuous positive airway
pressure. Pada mode ventilasi ini, pasien tidak perlu menghasilkan tekanan negatif untuk
menerima gas yang diinhalasi. Hal ini dimungkinkan oleh katup inhalasi khusus yang
membuka bila tekanan udara di atas tekanan atmosfer. Keistimewaan CPAP adalah dapat
digunakan pada pasien-pasien yang tidak terintubasi. Beberapa gangguan nafas atau
respiratory distress yang dapat diatasi dengan mempergunakan CPAP antara lain :
1. Bayi kurang bulan dengan Respiratory Distress Syndrom
2. Bayi dengan Transient Takipneu of the Newborn (TTN)
3. Bayi dengan sindroma aspirasi mekoneum
4. Bayi yang sering mengalami apneu dan bradikardia karena kelahiran kurang bulan
5. Bayi yang sedang dalam proses dilepaskan dari ventilator mekanis
6. Bayi dengan penyakit jalan nafas seperti trakeo malasia, dan bronchitis
7. Bayi pasca operasi abdomen
Adapun beberapa kondisi respiratory distress pada neonatus, tetapi merupakan
kontraindikasi pemasangan CPAP antara lain :
1. Bayi dengan gagal nafas, dan memenuhi kriteria untuk mendapatkan
support ventilator
2. Respirasi yang irregular
3. Adanya anomali kongenital
4. Hernia diafragmatika
5. Atresia choana
5
6. Fistula tracheo-oeshophageal
7. Gastroschisis
8. Pneumothorax tanpa chest drain
9. Trauma pada nasal, yang kemungkinan dapat memburuk dengan pemasangan nasal
prong
10. Instabilitas cardiovaskuler, yang akan lebih baik apabila memdapatkan support
ventilator
11. Bayi yang lahir besar, yang biasanya tidak dapat mentoleransi penggunaan CPAP,
sehingga menimbulkan kelelahan bernafas, dan meningkatkan kebutuhan oksigen.[1]

2.4 Komplikasi Bubble CPAP


Pemasangan nasal CPAP pada beberapa kasus dapat mengakibatkan komplikasi.
Komplikasi pemasangan CPAP antara lain :
1. Cedera pada hidung, misalnya erosi pada septal nasi, dan nasal snubbing. Penggunaan
nasal prong atau masker CPAP dapat mengakibatkan erosi pada septal nasi, sedangkan
penggunaan CPAP dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan snubbing
hidung
2. Pneumothorak. Kejadian Pneumothorak dapat terjadi karena proses penyakit dari
Respiratory Distress Syndrom (karena alveolar yang over distensi), dan angka
kejadian tersebut meningkat dengan penggunaan CPAP.
3. Impedasi aliran darah paru. Terjadi karena peningkatan resistensi vaskularisasi paru, dan
penurunan cardiac output, yang disebabkan oleh peningkatan tekanan inthorakal karena
penggunaan CPAP yang tidak sesuai.
4. Distensi abdomen. Pada kebanyakan neonatus tekanan spingkter oeshiphagus bagian
bawah cukup baik untuk dapat menahan distensi abdomen karena tekanan CPAP. Tetapi
distensi abdomen dapat terjadi sebagai komplikasi dari pemaangan CPAP. Resiko
terjadinya distensi abdomen dapat berkurang dengan pemasangan orogastric tube (OGT)
5. Nasal prong atau masker pada CPAP dapat menyebabkan ketidaknyamanan bayi, yang
dapat menyebabkan agitasi dan kesulitan tidur pada bayi.[1]

Gambar 2. 2 A. Erosi septum nasi; B. Nasal snubbing akibat CPAP


6
2.5 Jenis-Jenis Bubble CPAP
Jenis antara dua bubble CPAP berikut yang membedakan hanyalah digunakan atau
tidaknya kompressor. Ada dua jenis Bubble CPAP yaitu sebagai berikut:
1. Bubble CPAP tanpa kompressor.
2. Bubble CPAP dengan kompressor.
Kompresor adalah alat mekanik yang digunakan untuk memampatkan gas atau udara
sehingga memiliki tekanan yang lebih tinggi. Kedua jenis ini dapat di pakai dengan di
sesuaikan dengan kebutuhan pihak Rumah Sakit.

2.6 Komponen Utama Bubble CPAP


Komponen yang paling penting dari sebuah mesin CPAP adalah wadah udara. Udara di
dalam wadah dipertahankan pada tingkat yang konstan. Udara dipompa melalui tabung tipis
ke masker ketat dikenakan di atas hidung. Udara membangun tekanan di dalam masker dan
mendorong ke dalam lubang hidung, sehingga proses pernapasan tetap terjadi secara otomatis
setiap kali pasien mendapat serangan sleep apnea. Masker untuk mesin CPAP tersedia dalam
bentuk yang berbeda. Ada wajah penuh masker, masker CPAP hidung, hidung bantal. Bantal
hidung yang paling kompak, karena dirancang untuk memiliki kontak setidaknya dengan
wajah (Gregory et al. 1971). Beberapa mode CPAP dapat menghantarkan aliran adekuat yang
dapat digunakan pada gagal napas akut yaitu sungkup muka penuh (full face mask), total face
mask, sungkup nasal, keping mulut (mouthpiece), bantalan hidung (nasal pillow) atau plugs
dan helmet. Sungkup muka yang paling sering digunakan dan lebih menguntungkan bila
dibandingkan dengan sungkup nasal adalah kemampuan untuk mencapai tekanan jalan napas
lebih tinggi, respirasi melalui mulut, kebocoran udara lebih kecil dan memerlukan kerjasama
penderita yang minimal. Kekurangannya adalah perasaan kurang nyaman, penderita tidak
dapat berbicara, makan atau minum selama ventilasi dan terdapat kemungkinan aspirasi bila
penderita muntah.
Baru-baru ini diperkenalkan media pemberian nCPAP yaitu sebuah helmet pediatric.
Data awal menunjukkan bahwa helm memiliki beberapa keuntungan diantaranya meningkat
kenyamanan dan penurunan lesi kulit dan kebocoran udara. nCPAP diberikan melalui
interface yang berbeda.

7
Gambar 2. 3 nCPAP interface

Sistem CPAP sendiri terdiri dari 3 komponen yaitu:


1. Sebuah sirkuit yang mengalirkan gas terus menerus, untuk diisap. Sumber oksigen dan
udara bertekanan yang menghasilkan gas untuk dihirup. Pencampuran oksigen yang
memungkinkan gas dapat diberikan sesuai FiO2 yang sesuai. Sebuah flow meter yang
mengkontrol kecepatan aliran terus menerus dari gas yang dihirup (biasanya
dipertahankan pada kecepatan 5-7 liter). Sebuah humidifier yang melembabkan dan
menghangatkan gas yang dihirup.
2. Sebuah alat untuk menghubungkan sirkuit ke saluran nafas neonatus. Dalam prosedur
ini, nasal prong merupakan metode yang paling banyak digunakan. Berikut adalah
macam-macam patient interfaces untuk bubble CPAP:
a. Hudson’s prongs
b. Bi-nasopharyngeal prongs
c. ET tube
d. Short bi-nasal prongs
e. Argyle prongs

Gambar 2. 4 Macam-macam Patient Interfaces untuk CPAP

8
3. Sebuah alat untuk menghasilkan tekanan positif pada alat sirkuit. Tekanan positif dalam
sirkuit dapat dicapai dengan memasukkan pipa ekspirasi bagian distal dalam larutan
asam asetat 0,25% sampai kedalaman yang diharapkan (5cm) atau katup CPAP.[1]

Gambar 2. 5 Daftar Ukuran Prongs

Gambar 2. 6 Macam-macam ukuran prongs

9
2.7 Bagian-bagian Bubble CPAP
Berikut ini adalah bagian-bagian dari alat bubble CPAP merk Fisher & Paykel:
1. Humidifier = Terdiri dari control dan display panel, heater plate, finger guard, colour
coded sockets (penghubung probe sensor dan adaptor). Humidifier berfungsi untuk
menghangatkan dan melembabkan udara.
2. Humidification Chamber = Tempat untuk menahan udara.
3. Expiratory Limb (breathing circuit) = Untuk membawa udara ekspirasi ke CPAP
generator.
4. Inspiratory Limb (breathing circuit) = Untuk membawa gas yang telah dilembabkan dan
dihangatkan ke pasien.
5. Infant Interface = Alat yang melekat ke hidung pasien berupa nasal prong.
6. CPAP Generator = Untuk mempertahankan tekanan rata-rata dari CPAP
7. Oxygen Blender (mixer) = Untuk mencampur oksigen sesuai dengan yang dibutuhkan.
8. Oxygen Tubing = Untuk membawa oksigen ke humidifier.
9. Pressure Manifold = Untuk membatasi tekanan 17 cm udara 8 liter permenit.

Gambar 2. 7 Bagian-bagian dari Bubble CPAP Merk Fisher & Paykel

10
Gambar 2. 8 Aksesoris untuk meletakan prongs ke bayi

2.8 Prinsip Kerja Bubble CPAP

Gambar 2. 9 Blok Diagram Bubble CPAP

Tabung oksigen sebagai sumber dari gas oksigen. Kompresor akan menghasilkan gas
atau udara bertekanan. Kemudian terjadi pencampuran oksigen untuk menghasilkan gas yang
dapat dihirup. Udara campuran ini akan dipantau kecepatan aliran udaranya oleh flow meter.
Sebelum diberikan ke pasien udara campur ini akan dilembabkan dan dihangatkan oleh
humidifier. Suhu gas pada humidifier akan dipantau oleh sensor suhu, ini untuk membantu
humidifier mengontrol suhu output gas ke pasien. Udara dari humidifier akan disalurkan ke
pasien melalui breathing circuit inspiratory limb menuju nasal prong. Suhu udara di breathing
circuit akan terus dipantau oleh sensor suhu. Kemudian udara ekspirasi dari pasien akan
disalurkan melalui expiratory limb menuju CPAP generator. Tekanan yang dihantarkan ke
pasien dapat dinaikkan atau diturunkan dengan mengubah kedalaman expiratory limb di
dalam CPAP generator. Saat udara bergerak melalui sistem, udara ekspirasi keluar dari
expiratory limb dan menghasilkan gelembung udara di dalam CPAP generator.

11
2.9 Standar Operasional Prosedur Bubble CPAP
Setiap alat pada dasarnya memiliki standar operasional agar alat cukup awet dan dapat
terpelihara dengan baik. Berikut adalah standar prosedur bubble CPAP:
1. Persetujuan Tindakan Medis
2. Persiapan
a. Unit CPAP (Humidifier system, Generator CPAP, Blended Oxygen, Interface)
b. Penderita/neonates
c. Tenaga medis
3. Langkah Klinis
a. Mempersiapkan sistem CPAP
b. Pasang selang oksigen dan udara ke pencampur dan flow meter lalu hubungkan ke
pengatur kelembaban.
c. Hubungkan alat pencampur ke FiO2 yang sesuai.
d. Pasang flow meter antara 5-10 liter/mnt.
e. Tempelkan satu selang ringan, lemas dan berkerut ke alat pengatur kelembaban.
f. Hubungkan probe kelembaban dan suhu ke selang kerut yang masuk ke bayi. Atur
suhu pada 36°C
g. Pastikan probe suhu tetap di luar inkubator atau tidak di dekat sumber panas
h. Siapkan satu botol air steril di dekat alat pengatur kelembaban.

Gambar 2. 10 Pemasangan prongs pada bayi

4. Pemantauan
a. Periksa fungsi seluruh sistem CPAP
b. Apakah alat pencampur diatur pada persentasi yang sesuai (FiO2)
c. Apakah flow meter diatur antara 6-10 liter/menit?
d. Apakah alat pengatur kelembaban berisi jumlah air yang tepat?
e. Apakah suhu gas yang dihirup sudah tepat?
f. Apakah selang kerut tidak terisi air?
g. Apakah ujung pipa di botol outlet ada pada tanda 5 cm?

12
h. Apakah permukaan asam asetat ada pada tanda 0 cm?
i. Apakah botol outlet terlihat ada gelembungnya?
j. Jaga jangan sampai kanula CPAP menyentuh septum nasal
k. Ubah posisi bayi setiap 6-8 jam untuk drainase postur semua sekresi paru
l. Bayi harus diperiksa setiap 2-4 jam (Respirasi, Circulasi, Gastrointestinal,
Hematologi, Infeksi, Metabolik, Neurologi)
m. Hisap lendir setiap 6-8 jam, atau seperlunya pada rongga hidung, mulut, faring dan
lambung
n. Hisap lendir sesuai kebutuhan. Meningkatnya upaya napas, kebutuhan oksigen dan
apnea/bradikardi mungkin.
o. Hisap lendir menggunakan kateter ukuran paling besar yang bisa masuk ke hidung
tanpa kesulitan yang berarti. Catat jumlah, konsistensi dan warna sekresi. Untuk
melunakkan sekresi, gunakan beberapa tetes salin steril (Nacl) 0,9%.
5. Perawatan
a. Jangan menggunakan spritus, thinner atau Ethanol ketika membersihkan permukaan
alat.
b. Jangan merendam mesin atau probe kedalam cairan detergent.
c. Gulung atau gantung kable – kabel dengan baik setelah pemakaian. Ganti binasal
prongs setelah pemakaian.
d. Periksa bagian dalam alat setiap enam bulan sekali. Apabila ada komponen atau
kabel yang rusak silakan diganti.
e. Setelah pemakaian, pastikan alat siap digunakan pada
penggunaan selanjutnya.
f. Lakukan kalibrasi alat minimal satu kali dalam setahun.
2.10 Troubleshooting
Berikut adalah tabel troubleshooting bubble CPAP:
Tabel 2. 1 Troubleshooting CPAP

Keluhan Analisa Solusi


Alat tidak menyala, padahal Saklar power belum dalam Perhatikan posisi saklar power
kabel supply sudah terpasang posisi ON. Dalam kondisi ON atau OFF.
Saklar power atau kabel supply Cek keadaan saklar power dan
dalam keadaan rusak. kabel supply apakah dalam
keadaan rusak atau
tidak.
Fuse dalam keadaan putus. Cek fuse dalam
keadaan putus atau tidak.
Air tidak bergelembung ketika Air tidak bergelembung ketika Hubungkan tubing dengan
prongs ditutupi dengan jari prongs ditutupi dengan jari benar
Flow meter tidak cukup tinggi Naikkan flow meter sedikit demi
sedikit hingga air mulai
bergelembung
Air bergelembung ketika prongs Tubing botol dan tubing pasien Cek dan hilangkan
tidak ditutupi tertekan atau tersumbat sumbatan
Flow meter terlalu tinggi Turunkan flow meter sedikit
13
demi sedikit hingga air berhenti
bergelembung
Tidak ada aliran oksigen Tubing oksigen tidak Perbaiki konsntrator tubing
terhubung dengan benar oksigen
Konsentrator tidak Pastikan konsentrator
terhubung dengan tepat dan nozzle terpasang
Air tidak bergelembung ketika Prongs terlalu kecil Ganti dengan prongs yang
prongs dipasang ke pasien berukuran lebih
besar
Prong tidak dalam posisi Posisikan kembali
yang benar prongs
Udara bocor keluar dari mulut Tutup mulut bayi dengan hati-
hati selama beberapa saat untuk
mendorong pernapasan melalui
hidung
Pasien tidak cocok dengan Prongs terlalu kecil dan menjepit Ganti dengan prongs yang
prongs septum pasien berukuran lebih
besar
Prongs menekan septum Tambahkan celah antara prongs
dan septum
Pasien bergerak Setelah prongs di tempatkan,
tunggu selama beberapa saat
hingga pasien diam.

Gambar 2. 11 Cek fungsi bubble

14
2.11 Kalibrasi
1. Siapkan alat Bubble CPAP yang akan dikalibrasi dan periksa kelengkapan
aksesori
2. Persiapan alat uji/kalibrasi
a. Siapkan alat ukur keselamatan listrik
b. Siapkan alat ukur gas flow analyzer
c. Siapkan thermohygrometer
3. Siapkan Lembar Kerja Pengujian
4. Pendataan administrasi alat yang diuji/kalibrasi di lembar kerja yang minimal
terdiri dari :
a. Catat identitas penguji
b. Catat nama alat
c. Catat merek
d. Catat model
e. Catat nomor seri
f. Catat ruangan
g. Catat tanggal pelaksanaan
h. Catat identitas fasyankes/pelanggan
5. Pengukuran Kondisi Lingkungan
a. Siapkan & hidupkan thermohygrometer b.
b. Catat suhu & kelembaban awal
c. Catat suhu & kelembaban akhir Kerja
d. Catat tegangan Jala-jala
6. Lakukan pemeriksaan pengamatan fisik dan fungsi CPAP
a. Badan dan permukaan alat, periksa bagian luar unit, pastikan bersih,
terpasang ketat satu dan lainnya dan tidak ada bekas tertimpa cairan
ataupun gangguan lainnya.
b. Kotak kontak alat, periksa apakah ada gangguan pada kotak kontak (AC-
Power). Gerak-gerakkan kotak kontak untuk memastikan keamanannya.

15
Goyang-goyangkan kotak kontak untuk memastikan tidak ada baut atau
mur yang longgar.
c. Kabel catu utama, Periksa kabel, apakah terlihat ada kerusakan atau
bagian isolasi yang terkelupas
d. Sekering pengaman, Periksa sekering yang terdapat pada bagian luar
rangkaian, apakah nilai tahanan dan tipenya sesuai dengan spesifikasi
yang tertulis pada alat. Sekering pengaman harus berfungsi baik.
e. Tombol, saklar dan kontrol, Sebelum mempergunakan/ mengubah-ubah
tombol kontrol, periksa posisinya, jika terlihat tidak berada pada
posisinya (periksa dengan menggunakan mode pemeriksaan Oxygen
Analyzer). Bandingkan dengan posisi control. Ingat pengaturan tersebut
dan jangan lupa untuk mengembalikan pada setting awal jika sudah
selesai menggunakan.
f. Tampilan dan indikator, Selama pengecekan fungsi, pastikan lampu
indikator dan tampilan berfungsi seluruhnya, yakinkan bahwa bagian
tampilan digital berfungsi
7. Lakukan Pengujian Keslamatan Listrik (Mengacu pada MK Pengujian
Keselamatan Listrik Nomor MK 001)
8. Lakukan Pengujian Pengukuran untuk masing-masing paramter
a. Lakukan koneksi CPAP dan oxygen analyzer sesuai gambar

Gambar 2. 12 Instalasi Kalibrasi CPAP

b. Kalibrasi Konsentrasi Oksigen


1) Seting mixer sesuai pengukuran yang diinginkan
2) Lakukan pengukuran dengan cara memasang sensor oxygen analyzer
pada CPAP
3) Catat nilai konsentrasi oksigen yang ditampilkan pada alat oxygen
analyzer

16
4) Lakukan pengukuran konsentrasi oksigen sampai 5 kali data
pengukuran.
c. Kalibrasi Flowmeter
1) Pasangkan selang konektor pada outlet flow CPAP.
2) Hubungkan konektor pada alat oxygen analyzer.
3) Seting flow sesuai pengukuran yang diinginkan
4) Catat nilai flow yang ditampilkan pada alat oxygen analyzer
5) Lakukan pengukuran flow sampai 5 kali data pengukuran
9. Kemudian catat hasilnya pada lembaran kerja.

17
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

CPAP adalah metode atau alat yang mempertahankan tekanan positif pada
saluran napas neonatus selama pernapasan spontan. Berbagai keunggulan
didapat dari penggunaan CPAP.
Indikasi penggunaan CPAP antara lain gangguan napas serta penyapihan
dari ventilatasi mekanik
Nasal CPAP tidak dapat digunakan pada kelainan saluran napas atas, hernia
diafragma, napas spontan (-) .
Bahaya dari Nasal CPAP adalah distensi paru, lambung, kerusakan hidung,
dan PVR.

18
DAFTAR PUSTAKA

[1] Effendi, Syarif Hidajat. (2014). Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
(Online).http://documents.tips/documents/CPAP55cf8569550346484b8dbe67.
html. Diakses tanggal 16 Maret 2017.

[2] Hans, Nessie Edgina. (2016). Ventilator Continuous Positive Airway Pressure
(Online). https://www.scribd.com/document/321582614/presentasi-CPAP. Diakses
tanggal 16 Maret 2017.

[3] Kosim, M. Sholeh. (2010). Deteksi Dini Gangguan Napas pada Neonatus dan
Aplikasi Ponek (Online). https://www.slideshare.net/msholehkosim/deteksi-dini-
gangguan-napas-pada-neonatus-dan-aplikasi-ponek Diakses tanggal 16 Maret
2017.

[4] Rahmatsah. (2016). Bubble CPAP(Online).


https://rahmatsah.wordpress.com/2016/02/04/bubble-CPAP/ Diakses tanggal 16
Maret 2017.

[5] Wijayanti,Viana. (2014). Ventilasi Mekanik


(Online).
https://ebookduniakesehatan.files.wordpress.com/2014/11/ventilasi- mekanik.pdf
. Diakses tanggal 16 Maret 2017.

[6] .( ). Bubble Nasal CPAP Manual (Online).


https://www.scribd.com/doc/232775706/Bubble-Nasal-CPAP-Manual . Diakses
tanggal 16 Maret 2017.

[7] .( ). Infant Nasal CPAP Assembly (Online). http://www.i-


ma.com/Respiratory/CPAP-Bubble-CPAP.html. Diakses tanggal 17 Maret 2017.

19
20