Anda di halaman 1dari 9

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Tinjauan Teori


1.1.1 Definisi
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk
bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (Hidayat, 2012).
Mobilitas dan mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak
secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (Aziz, 2009).
Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari
satu atau lebih ekstremits secara mandiri. (SDKI, 2016).
Hambatan mobilitas fisik yaitu suatu suatu keterbatasan pada
pergerakan fisik tubuh baik satu ataupun lebih pada ekstremitas secara
mandiri dan terarah, seperti kelemahan otot dan kerusakan fungsi ekstremitas
yang disebabkan oleh suatu penyakit, dan faktor yang berhubungan dengan
hambatan mobilitas yaitu gangguan neuromuskuler (Hermand, 2012).

1.1.2 Etiologi
1. Paralisis parsial atau total
2. Tumor sistem sistem saraf pusat
3. Peningkatan tekanan intrakranial
4. Kerusakan muskuloskeletal
a) Fraktur
b) Penyakit jaringan ikat
5. Keletihan
6. Edema atau peningkatan cairan synovial

1.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi


Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor ,diantaranya:
1. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas
seseorang karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan
sehari-hari.

1
2. Proses Penyakit atau cedera
Proses penyakit dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas karena
dapat mempengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang
menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam
ekstremitas bagian bawah.
3. Kebudayaan
Kemampuan melakukan mobilitas dapat juga dipengaruhi
kebudayaan.contoh, orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh,
memiliki kemampuan mobilitas yang kuat sebaliknya ada orang yang
mengalami gangguan mobilitas karena adat dan budaya tertentu dilarang
untuk beraktivitas.
4. Tingkat Energi
Energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas. Agar seseorang
dapat melakukan mobilitas yang baik dibutuhkan energi yang cukup.
5. Usia dan Status Perkembangan
Terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat usia yang
berbeda.hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi alat
gerak sejalan dengan perkembangan usia

1.1.4 Fisiologis
Pergerakan merupakan rangkaian yang terintegrasi antara sistem
muskuloskeletal dan sistem persarafan. Ada tiga faktor penting proses
terjadinya pergerakan atau kontraksi yaitu adanya stimulasi dari otot motorik,
transmisi neuromuskulor dan eksitasi kontraksi coupling.
1. Stimulasi saraf motorik
Kontraksi otot dimulai karena adanya stimulasi dari saraf motorik
yang dikontrol oleh korteks serebri, cerebellum, batang otak, dan basal
ganglia. Upper motor Neuron merupakan saraf yang berjalan dari otak ke
sinaps pada bagian anterior horn medula spinalis, sedangkan Lower Motor
Neuron merupakan saraf – saraf yang keluar dari medula spinalis menuju
ke otot rangka. Signal listrik dan potensial aksi terjadi sepanjang mealin
sepanjang akson saraf motorik yang berjalan secara Saltatory Conduction.
Impuls listrik berjalan dari saraf motorik ke sel otot melalui sinaps dengan
bantuan neutransmitter asetilkolin.
2. Tranmisi Neuromuskular
Asetilkolin dihasikan dari vesikel pada akson terminal. Adanya
depolarisasi dan pontesial aksi pada akson terminal merangsang ion

2
kalsium dari cairan ektraseluler kemudian terjadi perpindahan ke
membran akson terminal. Bersaman dengan itu,molekul asetilkolin masuk
ke celah sinaps yang selanjutnya akan ditangkap oleh reseptor maka
terjadilah pontesial aksi pada sel otot dan terjadilah kontraksi. Setelah
asetilkolin terpakai selanjutnya dipecah atau dihidrolisis oleh enzim
asetilkolinesterase menjadi kolin yang kemudian ditranspor kembali ke
akson untuk bahan pembetukan asetilkolin.
3. Eksitasi-Kontraksi Couplin
Merupakan mekanisme molekular peristiwa kontraksi. Adanya implus
di neuron motorik menimbulkan ujung akson melepaskan asetikolin dan
menimbulkan potensial aksi di serat otot. Potensial aksi menyebar
keseluruh serat otot sampai ke sistem T. Keadaan ini mempengaruhi
retikulum sarkoplasma melepaskan ion kalsium yang kemudian diikat oleh
troponin C, sehingga ikatan troponin 1 dengan aktin terlepas. Lepasnya
ikatan troponin 1 dengan aktin menimbulkan tropomiosin bergeser dan
terbukalah celah atau biding site aktin sehingga terjadi ikatan antara aktin
dan miosin serta kontraksi otot terjadi.

1.1.5 Klasifikasi
Jenis Imobilitas diklafikasikan menjadi 4 :
1. Imobilitas fisik merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan
tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada
pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di
daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk
mengurangi tekanan.
2. Imobilitas intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami
keterbatasan daya fikir, seperti pada pasien mengalami kerusakan otak akibat
suatu penyakit.
3. Imobilitas emosional, keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan
secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam
menyesuaikan diri. Sebagai contoh, keadan stres berat dapat disebabkan
karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami kehilangan bagian
anggota tubuh atau kehilangan suatu yang paling dicintai.
4. Imobilitas sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan dalam
melakukan intraksi sosial karena keadaan penyakitnya sehingga dapat
memengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.

3
1.1.6 Manifetasi Klinis
1. Gangguan Muskuloskeletal
a. Osteoporosis
b. Atropi
c. Kontraktur
d. Kekuatan dan sakit sendi
2. Gangguan Kardiovaskuler
a. Postural hipotensi
b. Vasodilatasi vena
c. Peningkatan pengguna valsova manuver
3. Gangguan sistem respirasi
a. Penurunan gerak pernapasan
b. Bertambahnya sekresi paru
c. Atelektalis
d. Hipostatis pneumonia

1.1.7 Pemeriksaan Penunjang


Untuk menentukan diagnostik OA selain melalui pemeriksaan fisik juga
diperlukan pemeriksaan penunjang seperti radiologis dan pemeriksaan
laboratorium. Foto polos dapat digunakan untuk membantu penegakan
diagnosis OA walaupun sensivitasnya rendah terutama pada OA tahap awal.
USG juga menjadi pilihan untuk menegakkan diagnosis OA karena selain
murah, mudah diakses serta lebih aman dibanding sinar-X, CT-scan atau MRI
(Amoako dan Pujalte, 2014)

1.1.8 Penatalaksaan
1. Mengobservasi tanda-tanda vital
2. Pengaturan posisi dalam posisi fowler, sim, tredelenburg, dorsal recumbent,
lithotomi dan genu pectoral.
3. Mengkaji skala gerakan (MMT)
4. Berkolaborasi dengan Fisioterapi

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan


1.2.1 Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat keperawatan sekarang
a. Penyebab terjadinya keluhan/gangguan dalam mobilitas dan imobilitas,
seperti adanya nyeri, kelemahan otot, kelelahan.

4
b. Daerah terganggunya mobilitas dan imobilitas.
c. Lama terjadinya gangguan imobilitas.

2. Riwayat keperawatan penyakit yang pernah diderita


a. Adanya riwayat penyakit sistem neurologis (kecelakaan cerebrovaskular,
trauma kepala, miastenia gravis, cedera medula spinalis, dan lain – lain.)
b. Adanya riwayat penyakit sistem kardiovaskular (infark miokard, gagal
jantung kongestif)
c. Adanya riwayat penyakit sistem muskuloskeletal (osteoporosis, fraktur,
artritis)
d. Adanya riwayat penyakit sistem pernapasan (penyakit paru obstruksi
menahun, pneumonia, dan lain – lain)

3. Kemampuan fisik motorik


Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan kanan dan kiri, kaki kanan
dan kiri untuk menilai ada atau tidaknya kelemahan, kekuatan, atau spastis.

4. Kemampuan mobilitas
Tingkat 0 : mampu merawat diri sendiri secara penuh
Tingkat 1 : memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 : memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Tingkat 3 : memerlukan bantuan, pengawasan orang lain, dan peralatan.
Tingkat 4 : sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau
berpatisipasi dalam perawatan.

5. Kemampuan rentang gerak


Pengkajian rentang gerak (range of motion – ROM) dilakukan pada daerah
seperti bahu, siku, lengan, panggul, dan kaki.

6. Perubahan intoleran aktivitas

7. Kekuatan otot dan gangguan koordinasi

8. Perubahan psikologis

1.2.2 Diagnosa Keperawatan (SDKI)


Gangguan Mobilitas Fisik D. 0054

5
Kategori : Fisiologis
Sub kategori : Aktivitas/Istirahat
Definisi : Keterlambatan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstermitas secara
mandiri

Penyebab :
1. Kerusakan integritas struktur tulang
2. Perubahan metabolism
3. Ketidakbugaran fisik
4. Penurunan kendali otot
5. Penururnan masaa otot
6. Penurunan kekuatan otot
7. Keterlambatan perkembangan
8. Kekakuan sendi
9. Kontraktur
10. Malnutrisi
11. Gangguan musculoskeletal
12. Gangguan neuromuscular
13. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
14. Efek agen farmakologis
15. Program pembatasan gerak
16. Nyeri
17. Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
18. Kecemasan
19. Gangguan kognitif
20. Keengganan melakukan pergerakan
21. Gangguan sensoripersepsi
Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif Objektif
1. Mengeluh sulit menggerakkan 1. Kekuatan otot menurun
ekstremitas 2. Rentang gerak (ROM) menurun
Gejala dan Tanda Minor

Subjektif Objektif
1. Nyeri saat bergerak 1. Sendi kaku
2. Enggan melakukan pergerakan 2. Gerakan tidak terkoordinasi
3. Merasa cemas saat bergerak 3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah
Kondisi Klinis Terkait
1. Stroke
2. Cedera medula spinalis
3. Trauma
4. Fraktur
5. Osteoarthritis
6. Ostemalasia
7. Keganasan

1.2.3 Intervensi Keperawatan (SIKI)


Dukungan Ambulasi (I.06171)

Definisi : Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas berpindah

Tindakan Edukasi
Observasi : 1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan 2. Anjurkan melakukan ambulasi dini
fisik lainnya 3. Ajarkan ambulasi sederhana yang

6
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan harus dilakukan (mis. berjalan dari
ambulasi tempat tidur ke kursi roda, berjalan
3. Monitor frekuensi jantung dan tekanan dari tempat tidur ke kamar mandi,
darah sebelum memulai ambulasi berjalan sesuai toleransi)
4. Monitor kondisi umum selama
melakukan ambulasi
Terapeutik
1. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat
bantu (mis. tongkat, kruk)
2. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik,
jika perlu Libatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam meningkatkan
ambulasi

Dukungan Mobilisasi (I.05173)

Definisi : Memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas pergerakan fisik

Tindakan Edukasi
Observasi : 1. Jelaskan tujuan dan prosedur
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan mobilisasi
fisik lainnya 2. Anjurkan melakukan mobilisasi dini
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan 3. Ajarkan mobilisasi sederhana yang
Ambulasi harus dilakukan (mis.duduk di tempat
3. Monitor frekuensi jantung dan tekanan tidur, duduk di sisi tempat tidur,
darah sebelum memulai ambulasi pindah dari tempat tidur ke kursi)
4. Monitor kondisi umum selama
melakukan ambulasi
Terapeutik
1. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan
alat bantu (mis. Pagar tempat tidur)
2. Fasilitasi melakukan pergerakan jika
perlu
3. Libatkan keluarga untuk membantu
pasien dalam meningkatkan pergerakan

1.2.4 Kriteria Hasil (SLKI)


Mobilitas Fisik L.05042
Definisi : Kemampuan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstermitas secara mandiri
Ekspetasi Meningkat
Kriteria hasil

Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat


Menurun Meningkat
Pergerakan ekstermitas 1 2 3 4 5
Kekuatan Otot 1 2 3 4 5
Rentang gerak (ROM) 1 2 3 4 5
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
Nyeri 1 2 3 4 5
Kecemasan 1 2 3 4 5
Kaku Sendi 1 2 3 4 5
Gerakan tidak terkoordinasi 1 2 3 4 5
Gerakan terbatas 1 2 3 4 5
Kelemahan fisik 1 2 3 4 5

1.2.5 Evaluasi

7
1. Pasien mampu melakukan mobilitas di tempat tidur
2 Pasien dapat melakukan ADL secara mandiri
3 Pasien kooperatif selama mengikuti latihan

8
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. A. Aziz Alimul. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi


Konsep dan Proses Keperawatan Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.

http://eprints.ums.ac.id/37962/3/BAB%202.pdf. Diakses tanggal 4 Mei 2020


Wartonah, Tarwoto (2016). Kebutuhan dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPD PPNI
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPD PPNI
PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPD PPNI