Anda di halaman 1dari 6

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

KEGIATAN INHOUSE TRAINING BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)


===========================================================

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala bidang tentunya
sangat berpengaruh pula pada keadaan sosial setiap masyarakat akan tuntutan akan
pelayanan kesehatan yang komprehensif, masyarakat makin sadar akan kualitas sehingga
dibutuhkan mutu pelayanan kesehatan yang komprehensif dan berorientasi pada
kepuasan pasien. Standar Akreditasi menuntut Rumah Sakit menjaga kualitas pelayaanan
dan patient safety disetiap aspek termasuk pelayanan kegawatdaruratan pada pasien
didalam rumah sakit.
Kondisi kegawatan pada setiap orang dapat terjadi kapanpun dan dimanapun,
didalam maupun diluar rumah sakit. Salah satu kondisi kegawatan yang paling
mengancam nyawa adalah terjadinya henti nafas dan henti jantung. Jika kondisi
kegawatan ini terjadi didalam rumah sakit, maka harus ada sistem penanganan yang
cepat dan tepat untuk meningkatkan angka harapan hidup. Penanganan awal pada pasien
dengan kegawatan harus dapat dilakukan oleh seluruh karyawan yang bekerja di RSUD
Aji Muhammad Parikesit baik tenaga kesehatan maupun tenaga non kesehatan.
Kemampuan dalam melakukan penanganan awal pada pasien dengan henti nafas
dan henti jantung ini harus dilakukan oleh personil yang terlatih melakukan Bantuan
Hidup Dasar (BHD). Jika pada suatu keadaan ditemukan korban dengan penilaian dini
terdapat gangguan tersumbatnya jalan nafas, tidak ditemukan adanya nafas dan atau tidak
ada nadi, maka penolong harus segera melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bantuan
Hidup Dasar adalah Serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernafasan
dan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti nafas dan atau henti jantung
(cardiacarrest).

1
Sebagai bagian persiapan akreditasi versi baru, rumah sakit memperbaiki sistem
triase di Instalasi Rawat Darurat (IRD). Kondisi IGD yang padat dan tidak terprediksi
kerap menjadikan sumber daya yang ada terbenam dalam kepadatan pasien yang masuk.
Kepadatan pasien UGD selain harus tetap mengupayakan keselamatan pasien, juga
menjaga privasi pasien, sehingga proses triase dirasa sebagai kebutuhan dan bukan
sekedar pemenuhan standar.
Triase adalah tingkatan klasifikasi pasien berdasarkan penyakit, keparahan,
prognosis, dan ketersediaan sumber daya. Definisi ini lebih tepat diaplikasikan pada
keadaan bencana atau korban masal. Dalam kegawatdaruratan sehari-hari, triase lebih
tepat dikatakan sebagai metode untuk secara cepat menilai keparahan kondisi,
menetapkan prioritas, dan memindahkan pasien ke tempat yang paling tepat untuk
perawatan. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia masih menggunakan sistem triase
"klasik". Sistem triase ini sebenarnya mengadaptasi sistem triase bencana, dengan
membuat kategori cepat dengan warna hitam, merah, kuning, dan hijau. Hitam untuk
pasien meninggal, merah untuk pasien gawat (ada gangguan jalan nafas, pernafasan, atau
sirkulasi), kuning untuk pasien darurat, dan sisanya hijau. Sistem tiga level ini tidak
cocok bagi UGD rumah sakit modern yang perlu mempertimbangkan evidence-based
medicine atau kedokteran berbasis bukti.
Terdapat beberapa sistem triase berbasis bukti yang bisa diacu. Sistem tersebut
antara lain Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS) dari Canada, Manchester Triage
Scale (MTS) dari Inggris, Austraian Triage Scale (ATS) dari Australia, dan Emergency
Severity Index (ESI) dari Amerika Serikat. Berbeda dengan sistem triase "klasik",
sistem-sistem ini mengelompokkan pasien ke dalam lima level berjenjang. Sistem
penjenjangan lima level ini lebih terpercaya dibanding dengan pengelompokan tiga level
seperti pada sistem triase "klasik".
Selain Triase manajemen penanganan pasien yang mengalamai kegawatan diruang
rawat inap pun perlu menjadi perhatian khusus. Sejauh ini pelayanan pasien yang
membutuhkan pelayanan kegawatdaruratan melalui sistem pengaktifan code blue
diRSUD Aji Muhammad Parikesit telah berjalan, namun seiring dengan perkembangan
ilmu dan teknlogi terkini perlu adanya permbaharuan-pembaharuan demi peningkatan
kualitas pelayanan di RSUD Aji Muhammad Parikesit.

2
B. Tujuan
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu melakukan langkah-langkah
BHD pada kondisi seseorang yang ditemukan mengalami henti nafas dan henti jantung
dengan tepat

C. Ruang lingkup Kegiatan


Kegiatan pelatihan ini merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilan tenaga kesehatan dan non kesehatan dalam
memberikan penanganan BHD yang berkualitas untuk mencapai tujuan meningkatkan
angka harapan hidup bagi pasien dengan kondisi henti nafas dan henti jantung.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh bidang keperawatan bekerjasama dengan sub bagian
diklat dan kerjasama RSUD. AM. Parikesit.

D. Produk yang diharapkan


Selutuh karyawan RSUD Aji Muhammad Parikesit memiliki kemampuan melakukan
BHD yang berkualitas

E. Metode
1. Pemaparan materi
2. Praktek (Pemaparan contoh dan simulasi)
3. Tanya Jawab

F. Materi dan Narasumber:


Materi yang diberikan dalam kegiatan ini adalah :
Bantuan Hidup Dasar (BHD) : Tim perawat ICU/ICCU, UGD dan AGD

G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Pelatihan ini dilaksanakan selama 8 (delapan) hari dibagi dalam 16 (enam belas)
kelas, pada tanggal 24 September 2019 s/d 3 Oktober 2019 di auditorium gedung merak
lt. 3.

H. Narasumber dan Peserta


Narasumber yang akan memberikan materi adalah Perawat yang kompeten
dibidangnya.
3
Peserta yang akan mengikuti kegiatan ini adalah Karyawan RSUD Aji
Muhammad Parikesit yang terdiri dari staf Farmasi, Gizi, Fisioterapis, Tenaga Teknis
Medis, Psikolog, seluruh tenaga non kesehatan dan tenaga Outsourching.
Pelatihan ini dibagi menjadi 16 (enam belas) kelas dalam 8 (delapan) hari, jumlah
peserta sebanyak 41- 42 peserta setiap kelasnya, dengan total peserta adalah sebanyak
667 orang.

I. Jadwal Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan Inhouse Training ini sebagaimana terlampir

J. Sumber Dana dan Perkiraan Biaya


DPA RSUD Aji Muhammad Parikesit Kabupaten Kutai Kertanegara tahun 2019
kegiatan : In house Training.
Perkiraan Biaya sebagaimana terlampir

Tenggarong, 10 September 2019


Direktur,

dr. Martina Yulianti, Sp.PD, FINASIM,MARS


NIP. 19710712 200012 2002

4
Lampiran

Jadwal Kegiatan Inhouse Training BHD RSUD AM Parikesit


Tanggal 24 September s/d 3 Oktober 2019

Selasa, 24 September 2019 s/d Kamis, 3 Oktober 2019 (Kelas Pagi)

No Tanggal/ Jam Materi Pembicara Penaggung jawab


1 08.00-08.30 Pembukaan Panitia
2 08.30-09.00 Pre Test Panitia
3 09.00-09.30 Materi Tim ICU/ICCU,
UGD/AGD
4 09.30-11.30 Praktek dan simulasi Tim ICU/ICCU,
UGD/AGD
5 11.30-11.45 Post Test Panitia

Selasa, 24 September 2019 s/d Kamis, 3 Oktober 2019 (Kelas siang)

No Tanggal/ Jam Materi Pembicara Penaggung jawab


1 13.00-13.30 Pre Test Panitia
2 13.30-14.00 Materi Tim ICU/ICCU,
UGD/AGD
3 14.00-15.30 Praktek dan simulasi Tim ICU/ICCU,
UGD/AGD
4 15.30-15.45 Post Test Panitia

SUSUNAN PANITIA
IN HOUSE TRAINING BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

5
Ketua panitia : Ipandi Lukman, S.Kep.,Ns
Sekretaris : Andriani, S. Kep,Ns
Seksi Ilmiah : 1. Ns.Nurlely Tri wahyuni, S. Kep
2. Aji Rini Frianty, ST. Kep

Seksi Acara : 1. Fika Febriana, SKM


2. Sub. Diklat Rumah Sakit

Seksi Perlengkapan : Yonatan Sakti, S. Kep.,Ns

Seksi Dokumentasi : Humas Rumah Sakit

RINCIAN BIAYA IN HOUSE TRAINING BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

No Uraian Biaya Satuan Volume Harga Jumlah


Satuan
1. Konsumsi Snack 730 2000.- 1.460.000.-

2. Biaya Sertifikat Lembar 667 3000,- 2.001.000.-

Jumlah 3.461.000 ,-