Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ABORTUS INKOMPLIT

Dosen Pembimbing :

Dwining Handayani, S.Kep.Ns, M.Kes

Pembimbing Lahan :

Noor Ariesta A S. Tr. Keb

Disusun Oleh :

Bunga Faradista

202303102086

Kelas 2-A

PRODI D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER KAMPUS KOTA PASURUAN
TAHUN 2021/2022
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN

Dengan Judul :
LAPORAN PENDAHULUAN
ABORTUS INKOMPLIT

Telah disahkan pada : 16 September 2021

Pembimbing Institusi Dosen Pembimbing Lahan

Dwining Handayani, S. Kep. Ns., M.Kep Noor Ariesta A S. Tr. Keb

Mahasiwa

Bunga Faradista
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada
atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu
untuk hidup di luar kandungan dengan berat badan janin kurang dari 500
gram(Ratnawati, 2018).
Abortus inkomplit adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggaldalam uterus (Pitriani,
2013).Abortus Inkompitberkaitan dengan retensi sebagian produk pembuahan (hampir
seluruh plasenta) yang tidak begitu mudah terlepas pada kehamilan dini seperti halnya
kehamilan aterm.Dalam keadaan ini perdarahan tidak segera berkurang sementara
servikstetap terbuka (Hutapea M. , 2017).

B. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti nerloisi jaringan
yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus.
Sehingga menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Apabila pada kehamilan kurang dari 8 minggu, nilai khorialis belum menembus desidua
serta mendalam sehingga hasil konsepsi dapat keluar seluruhnya. Apabila kehamilan 8-
14 minggu villi khoriasli sudah menembus terlalu dalam hingga plasenta tidak dapat
dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan dari pada plasenta.

Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka dia dapat
diliputi oleh lapisan bekuan darah. Pada janin yang telah meninggal dan tidak
dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi janin mengering dan karena cairan amion
menjadi kurang oleh sebab diserap. Ia menjadi agak gepeng. Dalam tingkat lebih lanjut
ia menjadi tipis. Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah
terjadinya maserasi, kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena
terasa cairan dan seluruh janin bewarna kemerahmerahan (Ai Yeyeh, 2010).
C. Pathway AB-Imminen
Perdarahan Nekrosis

Hasil konsepsi terlepas dari uterus

Uterus berkontraksi

Hasil konsepsi keluar

Hail konsepsi keluar sempurna Merasa kehilangan Hasil konsepsi keluar


Tidak sempurna

Stress

Nyeri

Gangguan rasa nyaman Gangguan istirahat dan tidur

D. Etiologi
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat
beberapa faktor sebagai berikut:
1. Kelainan Pertumbuhan Hasil Konsepsi Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat
menyebabkan kematian janin dan cacat bawahan yang menyebabkan hasil konsepsi
dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena :
a. Faktor kromosom, gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk
kromosom seks.
b. Faktor lingkungan endometrium
 Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.
 Gizi ibu kurang karena anemia atau jarak kehamilan terlalu pendek.
c. Pengaruh luar
 Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.
 Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil
konsepsi terganggu.
2. Kelainan Pada Plasenta
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat
berfungsi.
b. Gangguan pada pembuluh darah plasenta yang diantaranya pada penderita
diabetes mellitus
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga
menimbulkan keguguran.
3. Penyakit Ibu Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifiis,
anemia dan penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati,
dan penyakit diabetesmilitus.
4. Kelainan yang terdapat dalam rahim. Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya
janin dijumpai keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus
septus, retrofleksia uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi,
amputasi serviks), robekan serviks postpartum (Manuaba, 2010).
E. Tanda dan gejala
1. Abortus inkomplit ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi
dari uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis sebagai berikut:
a. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
b. Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis
c. Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
d. Terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi
e. Dapat terjadi degenerasi ganas/koriokarsinoma (Manuaba, 2010).
2. Gejala lain dari abortus incomplit antara lain:
a. Perdarahan biasa sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah .
b. Rasa mules (kontraksi) tambah hebat.
c. Perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium
bau busuk dari vulva
d. Ostium uteri eksternum atau serviks terbuka.
e. Pada pemeriksa an vaginal, jaringan dapat diraba dalam cavum uteri atau
kadang- kadang sudah menonjol dari eksternum atau sebagian jaringan keluar.
f. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat
menyebabkan syok

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
Kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11
gr % dan TM II 10,5 gr %).
Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia
Hb 9-10 gr% : anemia ringan
Hb 7-8 gr% : anemia sedang
Hb ≤ 7 gr% : anemia berat
2. Urine
Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan
dan persalinan normal protein dan glukosa urine negatif.
3. USG
Untuk memeriksa apakah kantong gestasi masih utuh dan cairan amnion
masih ada

G. Penatalaksanaan

1. Pemeriksaan umum:
 Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien, termasuk tanda-
tanda vital.
 b)Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik
kurang 90 mmHg, nadi lebih 112 kali per menit).
 Jika dicurigai terjadi syok, segera lakukan penanganan syok. Jika tidak
terlihat tanda-tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong
melakukan evaluasi mengenai kondisi wanita karena kondisinya dapat memburuk
dengan cepat. Jika terjadi syok, sangat penting untuk memulai penanganan syok
dengan segera.
 Jika pasien dalam keadaan syok, pikirkaan kemungkinan kehamilan ektopik
terganggu.
 Pasang infus dengan jarum infus besar (16 G atau lebih), berikan larutan garam
fisiologik atau ringer laktat dengan tetesan cepat 500 cc dalam 2 jam pertama
(Syaifuddin, 2006).

2. Penanganan Abortus Inkomplit


 Menentukan besar uterus, kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan
hebat, syok dan sepsis)
 Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan < 16 minggu,
evakuasi sisa hasil konsepsi dengan:
 Aspirasi Vacum Manual merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi
dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika AVM tidak tersedia.
 Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrium 0,2 mg
im (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat
diulangi setelah 4 jam jika perlu).

3. Jika kehamilan > 16 mingguan


 Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologis arau
RL ) dengan kecepatan 40 tetes / menit sampai terjadi ekspulsi konsepsi.
 Jika perlu berikan misoprostol 200 mg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi
ekspulsi hasil konsepsi(maksimal 80 mg)
 Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus

4. Bila tidak ada tanda-tanda infeksi beri antibiotika profilaksis


(sulbenisillin 2 gram/IM atau sefuroksim 1 gram oral).
5. Bila terjadi infeksi beri ampicillin 1 gram dan Metrodidazol 500mg setiap 8jam.
6. Bila pasien tampak anemik, berikan sulfasferosus 600 mg/hari selama 2 minggu
(anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat).
7. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
a. Keluhan Utama: Sakit perut, perdarahan, nyeri pada luka jahitan, takut bergerak.
b. Riwayat Kesehatan, terdiri dari:
-Kesehatan sekarang
-Kesehatan masa lalu
c. Riwayat Pembedahan
d. Riwayat penyakit yang pernah dialami
e. Riwayat kesehatan keluarga
f. Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,
lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji
kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
g. Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak klien
mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan
anaknya.
h. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluahn yang menyertainya.
i. Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral,
obat digitalis dan jenis obat lainnya.
j. Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna,
perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap
kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan
ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.

b. Palpasi
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban
dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
 Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati
turgor.
 Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon
nyeri yang abnormal

c. Perkusi
 Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
 Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut
apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
d. Auskultasi
Mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.(Johnson &
Taylor, 2005 : 39).

3. Pemeriksaan psikososial
a. Respon dan persepsi keluarga
b. Status psikologis ayah, respon keluarga terhadap bayi

B. Diagnosa Keperawatan
1.) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik
2.) Gangguan Rasa Aman Nyaman
3.) Gangguan pola tidur

C. Konsep Diagnosa keperawatan


 Nyeri Akut
Definisi
Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual
atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga
berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan
Penyebab
 Agen pencedera fisiologis (mis. Inflmasi, iskemia, neoplasma)
 Agen pencedera kimiawi (mis. Terbakar bahan kimia iritan)
 Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar)
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
 Mengeluh nyeri
Objektif
 Tampak meringis
 Bersikap protektif
 Gelisah
 Frekuensi nadi meningkat
 Sulit tidur
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
-
Objektif
 Tekana darah meningkat
 Pola napas berubah
 Nafsu makan berubah
 Proses berpikir terganggu
 Menarik diri
 Berfokus pada diri sendiri
 Diaphoresis
Kondisi Klinis Terkait
 Kondisi pembedahan
 Cedera traumatis
 Infeksi
 Sindrom koroner akut
 Glaucoma
 Gangguan Rasa Nyaman
Definisi
Perasaan kuarang senang,lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual,
lingkungan dan sosial
Penyebab :
 Gejala penyakit
 Kurang pengendalian situasional/lingkungan
 Ketidak adekuatan sumber daya
 Kurangnya privasi
 Gangguan stimulus lingkungan
 Efek samping terapi
 Gangguan adaptasi kehamilan
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
 Mengeluh tidak nyaman
Objektif
 Gelisah
Gejala dan tanda minor
Subjektif
 Mengeluh sulit tidur
 Tidak mampu rileks
 Mengeluh kedinginan/kepanasan
 Merasa gatal
 Mengeluh mual
 Mengeluh lelah
Objektif
 Menujukkan gejala distress
 Tampak merintih/menangis
 Pola eliminasi berubah
 Postur tubuh berubah
 Iritabilitas
Kondisi klinis terkait
 Penyakit kronis
 Keganasan
 Distres psikologis
 Kehamilan

 Gangguan pola tidur


Definisi
Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal
Penyebab
 Hambatan lingkungan
 Kurang kontrol tidur
 Kurang privasi
 Restrain fisik
 Ketiadaan teman tidur
 Tidak familiar dengan peralatan tidur
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
 Mengaluh sulit tidur
 Mengeluh sering terjaga
 Mengeluh tidak puas tidur
 Mengeluh pola tidur berubah
 Mengeluh istirahat tidak cukup
Objektif
(Tidak tersedia)
Gejala dan tanda minor
Subjektif
 Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun
Objektif
( Tidak tersedia)
Kondisi klinis terkait
 Nyeri/kolik
 Hipertirioidisme
 Kecemasan
 Penyakit paru obstruksi kronis
 Kehamilan
 Periode pasca partum
 Kondisi pasca oprasi
D. Intervensi

N DIAGNOSA LUARA INTERVEN


O. N SI
1. Nyeri akut b.d agen Tingkat Nyeri Manajemen
pencedera fisik Setelah dilakukan intervensi Nyeri
selama 1 x 24 jam maka Observasi
tingkat nyeri menurun 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
dengan kriteria hasi : frekuensi, kualitas, internsitas nyeri
1. Keluhan nyeri menurun 2. Indentifikasi skala nyeri
2. Tampak 3. Identifikasi factor yang memperberat
meringis dan memperingan nyeri
menurun 4. Identifikasi respon nyeri non verbal
3. Kesulitan tidur menurun 5. Monitor efek samping penggunaan analgesic
4. Mual menurun
Terapeutik
1. Berikan Teknik nonformakologis untuk
mengurangi nyeri
2. Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan monitor nyeri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgetic secara tepat
5. Ajarkan Teknik nonformakologis untuk
mengurangi nyeri

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetic, jika perlu
2. Gangguan Rasa Nyaman Status Kenyamanan Manajemen
Setelah dilakukan intervensi Nyeri
Observasi
selama 1 x 24 jam maka 6. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
status kenyamanan frekuensi, kualitas, internsitas nyeri
meningkat dengan kriteria 7. Indentifikasi skala nyeri
hasil : 8. Identifikasi factor yang memperberat
1. Gelisah menurun dan memperingan nyeri
2. Mual menurun 9. Identifikasi respon nyeri non verbal
3. Keluhan sulit 10. Monitor efek samping penggunaan analgesic
tidur menurun
4. Menangis menurun Terapeutik
5. Pola tidur membak 4. Berikan Teknik nonformakologis untuk
mengurangi nyeri
5. Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri
6. Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi
6. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
7. Jelaskan strategi meredakan nyeri
8. Anjurkan monitor nyeri secara mandiri
9. Anjurkan menggunakan analgetic secara tepat
10. Ajarkan Teknik nonformakologis untuk
mengurangi nyeri

Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetic, jika perlu
3. Gangguan Pola Tidur Pola Tidur Dukungan
Setelah dilakukan intervensi Tidur
selama 1 x 24 jam maka Observasi
pola tidur membaik dengan 1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
kriteria hasil : 2. Indentifikasi factor pengganggu tidur
1. Keluhan sulit 3. Identifikasi makanan dan minuman
tidur menurun mengganggu tidur
2. Keluhan pola tidur 4. Identifkasi obat tidur yang dikomsumsi
berubah membaik Terapeutik
3. Keluhan istirahat tidak 1. Modifikasi lingkungan
cukup menurun 2. Batasi waktu tidur siang
3. Fasilitasi menghilang stress sebelum tidur
4. Tetapkan jadwal tidur rutin
5. Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
6. Sesuaikan jadwal pemberian obat Tindakan
untuk menunjang siklus tidur terjaga

Edukasi
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2. Anjurkan menepati kebiasaann waktu tidur
3. Anjurkan menghindari makanan/minuman
yang mengganggu tidur
D. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang
telah dibuat oleh untuk mencapai hasil yang efektif dalam pelaksanaan implementasi
keperawatan, penguasaan dan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap
perawat sehingga pelayanan yangdiberikan baik mutunya. Dengan demikian rencana yang
telah ditentukan tercapai.

E. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian menentukan seberapa jauh
keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Penilaian proses menentukan
apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan proses mulai dari pengkajian, diagnose,
perencanaan, tindakan dan evaluasi itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI.
W. Sudoyo. Aru. 2006 Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta.
Zulkoni Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Aru W, Sudoyo, dkk ; editor ; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Jilid III, edisi IV;Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Jakarta : 2007
Brunner & Suddath, Buku ajar keperawatan medical bedah, Buku 3, Edisi 4 Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Tahun 2002.
Doenges, Rencana asuhan keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Tahun 2000.
Mansjoer Arif, Kapita selekta kedokteran, Penerbit Media Aesculapius FK-UI 2000, Jakarta.
Smeltzer, Zusanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth ed.8
Vol. 2. EGC. Jakarta
Sylvia, Patofisiologi, Buku 1, Edisi 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Cetakan I, Tahun 1995.
Waspadji dkk, Buku ajar ilmu penyakit dalam, Jilid I, Edisi ketiga, Penerbit FK-UI Jakarta,
Tahun 1999.
Wilkinson Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA, Intervensi
NIC, Kriteria Hasil NOC ed.9. EGC. Jakarta