Anda di halaman 1dari 10

Tinjauan Jabaran

Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional


Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Reasoning
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Metode
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 1.

Seorang analis diminta oleh dokter untuk melakukan pemeriksaan pada pasien yang
didiagnosa menderita Syphilis. Sebagai uji penyaring digunakan metode VDRL dengan
hasil 1+, sehingga perlu dilakukan uji konfirmasi dengan metode TPHA

Pertanyaan soal :
Pada kasus tersebut alasan apakah yang paling tepat sehingga harus dilakukan uji
konfirmasi ?

Pilihan Jawaban :
A. Metode VDRL kurang spesifik untuk menentukan diagnosa penyakit Syphilis
B. Metode VDRL hanya sensitive bila titer reagin dalam serum tinggi
C. Metode VDRL hanya spesifik untuk memantau keberhasilan pengobatan penyakit
Syphilis
D. Metode VDRL hanya sensitive terhadap antibody Treponema pallidum
E. Metode VDRL tidak dapat dipedomani sebagai penentu diagnosa penyakit Syphilis

Kunci Jawaban A
Referensi Depkes RI. 2003. Petunjuk pemeriksaan Imunologi Dirjen Pelayanan
Medik. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Reasoning
Tinjauan 4 Preanalitik
Tinjauan 5 Metode
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 2.

Seorang Analis memeriksa serum pasien atas anjuran Dokter, gejala penyakit yang
dialami penderita adalah suhu 390C selama 2 hari. Pemeriksaan yang disarankan dokter
adalah penetapan titer C-Reaktif Protein (CRP)

Pertanyaan soal :
Alasan apa yang meyebabkan sehingga pemeriksaan yang dibutuhkan adalah penetapan
titer C-Reaktif Protein

Pilihan Jawaban :
A. Titer C-Reaktif akan meningkat pada semua penyakit
B. Titer C – Reaktif Protein sangat spesifik untuk menentukan penyebab demam
C. Penentuan titer C-Reaktif protein relatif mudah dilakukan
D. Titer C-Reaktif protein sangat bermakna dalam menentukan infeksi yang baru
E. Titer C-Reaktif Protein yang meningkat dipakai sebagai indikator pada infeksi bakteri

Kunci Jawaban E
Referensi Depkes RI. 2003. Petunjuk pemeriksaan Imunologi Dirjen Pelayanan
Medik. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Reasioning
Tinjauan 4 Preanalitik
Tinjauan 5 Prosedur
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 3.

Bila seorang Analis melakukan pemeriksaan dengan metode ELISA maka tekhnis
pencucian harus dilakukan dengan baik dan benar

Pertanyaan soal :
Alasan apa yang meyebabkan sehingga pencucian sangat penting pada metode ini.?

Pilihan Jawaban :
A. Agar proses reaksi dapat berjalan dengan baik
B. Agar Hidrolisa Substrat dapat terjadi bila konjugat terikat pada komplek antigen
antibodi
C. Hidrolisa Substrat dapat terjadi bila enzim terikat pada konjugat
D. Hidrolisa Substrat dapat terjadi bila enzim terikat pada fase padat
E. Hidrolisa Substrat dapat terjadi bila enzim bebas didalam larutan

Kunci Jawaban B
Referensi FKUI. 2009. Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium . Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Tinjauan 3 Reasoning
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Metode
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 4.

Tehnik manakah yang paling biasa digunakan untuk konfirmasi Infeksi dengan virus
Imuno Defesiensi Manusia (HIV-I).

Pilihan Jawaban :
A. Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
B. Fiksasi Komplemen
C. Reaksi Rantai Polimerase
D. Uji bekuan western (Imunoblot)
E. Tes pack plus

Kunci Jawaban D
Referensi Robert R Har. 2000. Resensi Ilmu Laboratorium Klinis. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Tinjauan 3 Recall
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Prosedur
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 5.

Pada Jenis-jenis vaksin dibawah ini, manakah vaksin yang berupa mikroorganisme hidup
yang dilemahkan

Pilihan Jawaban :
A. Rabies dan Pertusis
B. Kotipa dan Polio Salk
C. BCG dan Folio Sabin
D. Hepatitis B dan Difteri
E. Tifus dan Tetanus

Kunci Jawaban C
Referensi FKUI. 2009. Imunologi Dasar. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Tinjauan 3 Recall
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Metode
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 6.

Pemeriksaan penyakit Syphilis dengan metode RPR termasuk golongan metode non
Treponemal, disebut Non Treponemal karena :

Pilihan Jawaban :
A. Antigen yang digunakan berupa eritrosit
B. Antigen yang digunakan berupa ekstrak bakteri
C. Metode RPR tidak spesifik untuk mendeteksi antibodi treponema
D. Antigen menggunakan berupa proteus vulgaris
E. Antigen yang digunakan berupa susfensi kardiolipin

Kunci Jawaban E
Referensi Depkes RI. 2003. Petunjuk pemeriksaan Imunologi Dirjen Pelayanan
Medik. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Reasoning
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Prosedur
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 7.

Marker hepatitis B manakah yang merupakan indikator terbaik infeksi akut dini

Pilihan Jawaban :
A. Anti HBS
B. HBS Ag
C. Hbe Ag
D. Anti HBC
E. Anti Hbe

Kunci Jawaban B
Referensi FKUI. 1997. Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Recall
Tinjauan 4 Pascaanalitik
Tinjauan 5 Hasil Tes
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 8.

Bila seorang terinfeksi parasit komponen sistem imun manakah seperti dibawah ini yang
meningkat kadarnya

Pilihan Jawaban :
A. Eosinofil dan IgM
B. Eosinofil dan IgG
C. Basofil dan IgM
D. Eosinofil dan IgE
E. Basofil dan IgG

Kunci Jawaban D
Referensi FKUI. 2009. Imunologi dasar. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Recall
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Prinsip
Tinjauan 6 Imunologi Serologi
Kasus 9.

Prinsip reaksi dari tes widal adalah

Pilihan Jawaban :
A. Aglutinasi antara antigen dalam serum dengan enceran antibodi
B. Reaksi flokulasi antara serum penderita dengan suspensi kuman Salmonella
C. Aglutinasi tidak langsung antara serum penderita dengan antigen Salmonella
D. Presipitasi antara suspensi kuman Salmonella dengan serum yang mengandung
antibodi
E. Aglutinasi langsung antara antibodi dalam serum dan suspensi kuman salmonella

Kunci Jawaban E
Referensi Depkes RI. 2003. Petunjuk pemeriksaan Imunologi Dirjen Pelayanan
Medik. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi
Tinjauan Jabaran
Tinjauan 1 Kompetensi Teknis Profesional
Keterampilan melaksanakan peoses pemeriksaan laboratorium
Tinjauan 2 Kognitif
Psikomotor/Prosedural Knowledge
Tinjauan 3 Reasoning
Tinjauan 4 Analitik
Tinjauan 5 Metode
Tinjauan 6 Bakteriologi
Kasus 10.

Untuk membantu menegakan diagnosa pada penderita yang diduga Rhematoid Arthritis
metode manakah seperti di bawah ini yang tepat digunakan ?

Pilihan Jawaban :
A. CombTest
B. Rose Waaler
C. Paul Bunnel
D. Alfafetoprotein
E. Serum Sick Ness

Kunci Jawaban B
Referensi FKUI. 1997. Imunologi diagnosis dan prosedur laboratorium. Jakarta
Nama Pembuat Tim Imunologi Serologi AAK Provinsi Jambi