Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOKINETIKA DASAR

JUDUL PERCOBAAN : “DISTRIBUSI OBAT”

DISUSUN OLEH : KELOMPOK III (TIGA)

1. SUKMAWATI (O1A117067)

2. WA ODE FAATIMA (O1A117070)

3. WA ODE FITRIANI (O1A117071)

4. WA ODE HALMIATI (O1A117072)

5. WA ODE NURHAIRANI (O1A117073)

6. WA ODE SITTI ROSMAWATI (O1A117074)

Nilai Laporan Tanggal dan Paraf Asisten

FREDY TALEBONG, S.Farm.

LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

2019

PERCOBAAN III
“DISTRIBUSI OBAT”

A. Tujuan

Tujuan pada percobaan ini, yaitu :

1. Untuk menjelaskan konsep ikatan protein-plasma

2. Untuk memahami efek penggeseran obat pada protein plasma

B. Tinjauan Pustaka

Farmakokinetik adalah studi tentang penyerapan, distribusi, metabolisme, dan

ekskresi obat ketika obat diberikan secara oral atau ekstravaskular. Penyerapan harus

dilakukan untuk obat molekul untuk mencapai sirkulasi sistemik. Ketika diserap

molekul obat harus melewati beberapa hambatan fisiologis sebelum mencapai sistem

vaskular[1].

Distribusi obat melalui berbagai rute pemberian obat, serta faktor-faktor yang

mempengaruhi penyerapan obat dalam setiap kasus. Distribusi obat ke berbagai

kompartemen atau volume distribusi yang dapat dianggap terdiri dari tubuh manusia.

Setelah penyerapan atau injeksi obat ke dalam aliran darah, obat didistribusikan ke

cairan intestinal dan seluler yang berinteraksi dengan makromolekul yang ada dalam

berbagai cairan dan jaringan tubuh. Proses difusi obat ke dalam cairan dan pengikatan

obat pada makromolekul memengaruhi farmakodinamik dan farmakokinetik obat[2].

Mencit pada dasarnya adalah sama dengan mamalia lainnya. Untuk keperluan

penelitian biologi dilaboratorium mencit sering digunakan sebagai model terutama

untuk pengaruh bahan kimia atau obat-obatan sebelum diperlakukan kepada manusia.

Mencit memiliki waktu siklus spermatogenesis di tubuli seminiferi sekitar 35,5 hari atau

lebih kurang 5 minggu[3]. Sekitar 40-80 % penggunaan mencit sebagai hewan model

laboratorium karena siklus hidupnya yang relatif pendek, jumlah anak per kelahiran
banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi, mudah ditangani, dan sifat anatomis dan

fisiologinya terkarakterisasi dengan baik[4].

Darah merupakan jaringan ikat khusus yang beredar di seluruh tubuh, berperan

dalam pengangkutan gas-gas pernafasan, hasil pencernaan, komponen-komponen

fungsional seperti enzim, hormon, dan berbagai molekul lainnya serta pembuangan

limbah metabolisme. Darah tersusun dari komponen sel dan cairan yang disebut plasma.

Sel-sel darah terdiri atas eritrosit, leukosit, dan trombosit. Masing-masing sel memiliki

tugas yang penting untuk menunjang aktivitas tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan

darah dapat menunjukkan kondisi fisiologis suatu individu sebagai bentuk tanggapan

terhadap perubahan status fisiko-kimia di lingkungannya. Karena alasan ini, maka darah

menjadi salah satu parameter pokok dalam penelitian praklinik/biomedik. Hematologi

adalah ilmu yang mempelajari pemeriksaan kondisi sel-sel darah perifer dalam kondisi

normal maupun patologi[5].

Warfarin merupakan obat antikoagulan oral yang sering digunakan untuk

mengobati atau mencegah terbentuknya bekuan darah (trombus).Warfarin

dimetabolisme oleh isoenzim sitokrom yang diinduksi oleh antikonvulsan termasuk

rifampisin fenobarbital, fenitoin, karbamazepin, glutethimide, dan griseofulvin.

Pemberian bersama obat-obatan ini meningkatkan pembersihan warfarin dan

meningkatkan dosis yang diperlukan untuk antikoagulasi yang kuat. Metabolisme

warfarin juga dapat dihambat oleh banyak obat yang berpotensi membutuhkan

pengurangan dosis obat[6].

C. Alat dan Bahan


1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :

a) Gelas kimia 100 mL

b) Gelas ukur 50 mL

c) Gunting

d) Hot plate

e) Kaca preparat

f) Spoit 1 mL

g) Stopwatch

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :

a) Akuades

b) Aspirin® 300 mg

c) Handscoon

d) Label

e) Masker

f) Na CMC 0,5%

g) Tisu

h) Warfarin® 2 mg

D. Skema Kerja
Dioleskan ujung ekor mencit dengan alkohol 70%

Dipotong ujung ekor mencit

Diletakkan 2-3 tetes darah pada objek glass dan nyalakan stopwatch

Diperiksa pembentukan benang-benang fibrin setiap 30 detik

Dihentikan stopwatch setelah benang fibrin terbentuk dan dicatat clothing time

Dibandingkan dengan hasil kelompok lain

E. Hasil Pengamatan
No Kelompok Hasil Waktu Gambar BB

(Menit)
1. Normal

Mencit I Menggumpal 2’53’’ 21,5 gram

Mencit II Menggumpal 3’26” 20,15 gram

2. Na-CMC 0,5 %

Mencit I Menggumpal 4’20” 17,40 gram

Mencit II - - - -

3. Warfarin - - - -

Mencit I

Mencit II Menggumpal 12’55” 30 gram


Mencit III Menggumpal 13’25” 24,08 gram

4. Warfarin +

Aspirin

Mencit I Menggumpal 15’55” 32,48 gram

Mencit II Menggumpal 17’35” 30,57 gram

Mencit III Menggumpal 17’56” 22,52 gram

F. Pembahasan

Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan

dan cairan tubuh. Distribusi obat yang telah diabsorpsi tergantung aliran darah,

permeabilitas kapiler dan ikatan protein. Setelah obat sampai ke aliran darah dan akan

terdistribusikan ke organ berdasarkan jumlah aliran darahnya, organ dengan aliran darah
terbesar yaitu jantung, hepar, ginjal dan distribusi ke organ kulit, lemak dan otot lebih

lambat.

Percobaan kali ini mengenai distribusi obat yang bertujuan untuk dapat

mengetahui konsep ikatan plasma dan untuk mengetahui efek penggeseran obat pada

protein plasma. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengukur distribusi

obat dalam tubuh adalah volume distribusi. Parameter ini dapat menilai proses distribusi

obat yang terjadi dalam tubuh apakah hanya berfokus pada jalur sirkulasi utama atau

bahkan dapat menembus jaringan-jaringan dalam tubuh lainnya.

Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode slide. Tetapi ada

metode lain juga yang dapat digunakan yaitu metode duke. Perbedaan antara metode

keduanya yaitu pada metode slide yang akan ditentukan yaitu Clotting Time nya,

sedangkan pada metode duke yang ditentukan yaitu Bleeding Time nya. Clotting time

adalah waktu yang diperlukan darah untuk membeku atau waktu yang diperlukan saat

pengambilan darah sampai saat terjadi pembekuannya sedangkan Bleeding Time adalah

waktu lamanya berdarah atau waktu yang diperlukan untuk berhentinya darah mengalir.

Hewan coba yang digunakan pada percobaan ini adalah mencit (Mus musculus L) yang

didiamkan selama 15 menit setalah pemberian obat. Penggunaan mencit sebagai hewan

uji dikarenakan ukurannya yang kecil, mudah disimpan dan dipelihara dan dapat

beradaptasi dengan lingkungan baru, harga mencit relatif murah dan mencit mudah

ditangani serta 99% anatomi tubuhnya mirip dengan manusia. Alasan didiamkan 15

menit setelah pemberian obat agar obat tersebut dapat terabsorbsi dengan baik masuk ke

dalam darah.

Percobaan ini digunakan 10 mencit yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu

kelompok mencit tidak diberikan perlakuan khusus atau mencit normal, mencit yang
diberikan kontrol negatif yaitu Na CMC 0,5%. Alasan penggunaan Na CMC 0,5%

karena sistem pencernaan mencit tidak memiliki enzim sesulase sehingga tidak akan

berpengaruh pada kadar glukosa. Mencit yang diberikan obat warfarin, alasan

digunakan warfarin karena memiliki karakteristik indeks terapeutik sempit, sehingga

perbedaan dosis yang sedikit pun akan memberikan perbedaan respon yang signifiikan

dan digunakan sebagai antikoagulan. Obat antikoagulan adalah obat yang bekerja untuk

mencegah penggumpalan darah. Warfarin bekerja dengan menghambat kerja protein

yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Mekanisme kerja warfarin dengan

menghambat kerja vitamin K di dalam darah, di mana jika kerja vitamin K sehingga

memengaruhi faktor-faktor pembekuan II, VII, IX dan X, dengan mengubah residu

asam glutamat menjadi residu asam gama-karboksiglutamat sehingga darah akan

membutuhkan waktu lama untuk membeku dan digunakan pula aspirin yang berfungsi

meredakan rasa sakit yang bekerja menghambat enzim yang memproduksi

prostaglandin. Adapun mekanisme pembekuan darah adalah trombosit pecah lalu

mengeluarkan trombokinase lalu masuk ke dalam plasma darah, plasma darah

mengubah prothrombin menjadi thrombin dengan bantuan vitamin K dan Ca 2+,

thrombin yang terbentuk akan merubah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin, dan

benang-benang fibrin inilah yang menyebabkan luka tertutup. Mencit yang diberikan 2

jenis obat yaitu warfarin dan aspirin, alasan kombinasi antara warfarin dan aspirin

karena dapat menimbulkan interaksi yang sinergis atau menguntungkan karena aspirin

dapat meningkat kinerja antikoagulan dari warfarin. Jika aspirin diberikan bersama

warfarin, aspirin dapat menggantikan warfarin dari tempat ikatan pada protein dan

meningkatkan konsentrasi efektif warfarin di dalam tubuh, sehingga menyebabkan

penurunan waktu bekuan dan perdarahan.


Hasil percobaan yang diperoleh adalah untuk mencit normal Bleeding Time nya

untuk mencit I yaitu 2 menit 53 detik dan mencit II 3 menit 26 detik. Hasil yang

diperoleh untuk mencit yang diinjeksikan Na CMC 0,5% sebagai kontrol negatif yaitu 4

menit 20 detik. Untuk kelompok mencit yang diinjeksikan warfarin diperoleh hasil

untuk mencit I yaitu 12 menit 55 detik dan mencit II yaitu 13 menit 25 detik.

Sedangkan hasil yang diperoleh untuk mencit yang diberikan kombinasi antara warfarin

dan aspirin pada mencit I yaitu 15 menit 55 detik, mencit II yaitu 17 menit 35 detik dan

pada mencit III yaitu 17 menit 56 detik.

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa terdapat perbandingan waktu yang

cukup besar antara kelompok mencit yang mendapatkan perlakuan sebagai kontrol dan

kelompok mencit yang mendapatkan injeksi obat warfarin. Pemberian warfarin sangat

mempengaruhi Bleeding Time sebab prosesnya menyebabkan darah menggumpal lebih

lama dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa warfarin

dapat menghambat proses pembekuan darah. Sedangkan untuk waktu penggumpalan

tercepat didapatkan dari kelompok mencit normal hanya membutuhkan waktu 2 menit,

hal ini jelas terjadi karena proses pembekuan darah pada mencit terjadi secara normal.

Hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan literatur dimana antikoagulan warfarin dapat

menghambat proses penggumpalan pada darah

Manfaat dalam bidang farmasi yaitu agar dapat mengetahui proses awal mula

kerja awal sampai obat tidak berefek dalam tubuh dan agar sediaan obat yang diberikan

dapat diketahui proses distribusi dan volume distribusinya secara intravena di dalam

tubuh.
G. Kesimpulan

Kesimpulan pada percobaan ini yaitu :

1. Ikatan protein plasma dapat mempengaruhi waktu paruh biologis obat dalam tubuh.

Bagian yang terikat dapat bertindak sebagai reservoir yang kemudian obat
perlahan-lahan dilepaskan sebagai bentuk yang tidak terikat. Karena bentuk yang

tidak terikat akan dimetabolisme atau diekskresikan dari tubuh, sedangkan yang

terikat juga akan dilepaskan untuk menjaga kesetimbangan. Misalnya fraksi terikat

dari obat warfarin adalah 97%. Ini berarti bahwa 97% warfarin dalam darah terikat

pada protein plasma. Sisanya 3% adalah fraksi yang tidak terikat adalah sebagian

kecil yang benar-benar aktif dan dapat diekskresikan.

2. Berdasarkan beberapa perlakuan yang telah dilakukan, efek pada mencit I dan II

lama waktu yang digunakan sampai terbentuknya benang-benang fibrin adalah 2

menit 53 detik dan 3 menit 26 detik. Pada mencit dengan perlakuan pemberian Na-

CMC 0,5% diperoleh lama waktu yang dibutuhkan hingga terbentuknya benang-

benang fibrin pada mencit adalah 4 menit 20 detik. Selanjutnya perlakuan pada

pemberian obat warfarin diperoleh hasil lama waktu yang dibutuhkan hingga

terbentuknya benang-benang fibrin yaitu pada mencit II ialah 12 menit 55 detik dan

pada mencit III ialah 13 menit 25 detik. Sedangkan pada perlakuan dengan

pemberian kombinasi obat warfarin dan aspirin, diperoleh hasil dengan lama

waktunya yaitu pada mencit I ialah 15 menit 55 detik, pada mencit II ialah 17 menit

35 detik dan pada mencit III ialah 17 menit 56 detik. Dari hasil diatas menunjukkan

bahwa waktu yang paling lama hingga terbentuknya benang-benang fibrin yaitu

pada perlakuan dengan pemberian obat warfarin dan aspirin. Ini menunjukan bahwa

aspirin dan warfarin berefek sinergis yang mana pada aspirin dapat meningkatkan

kerja pada warfarin.


DAFTAR PUSTAKA

[1] Bauker, L. A., 2008, Applied Clinical Pharmacokinetics, Departements Of

Pharmacy and Laboratory Medicine, Washington.

[2] Ionescu, C., dan Mino R. C., 2005, Drug Metabolism, Springer, New Delhi.
[3] Putra, Y., 2014, Pengaruh Rokok Terhadap Jumlah Sel Spermatozoa Mencit Jantan

(Mus Musculus, Strain Jepang, Jurnal Saintek, Vol. 6 (1).

[4] Tolistiawaty I., Junus W., Phetisya P.F., Sumolang, dan Octaviani, 2014, Gambaran

Kesehatan pada Mencit (Mus musculus) di Instalasi Hewan Coba, Jurnal

Vektor Penyakit, Vol. 8 (1).

[5] Fitria L., Lia L. I., dan Indah R. D., 2016, Pengaruh Antikoagulan dan Waktu

Penyimpanan terhadap Profil Hematologis Tikus Galur Wistar, Jurnal Biosfera,

Vol. 33 (1).

[6] Mozayani, A., dan Lionel P. R.,2004, Drug Interactions A Clinical and Forensic

Guide, Springer, New Delhi.

LAMPIRAN

Perhitungan Dosis

1. Aspirin

Dosis=300 mg
Berat rata−rata tablet Aspirin=375 mg

Faktor konversi dosis manusia ( 70 kg ) ke mencit (20 g)=0,0026

Berat rata−rata dewasa Indonesia adalah 60 kg

70
Se h ingga dosis aspirin= x 300 mg=350 mg
60

0,0026 x 350 mg
Dosis Aspirin untuk mencit ( 20 g )=
20 g BB

0,78 mg
¿
20 g BB

¿ 0,039 mg/ g BB

¿ 39 mg/kg BB

20 mL
Larutan stok 20 mL= x 0,78 mg
1 mL

¿ 15,6 mg

15,6 mg
Berat yang ditimbang= x 375 mg
300 mg

¿ 19,5 mg

¿ 0,0195 g

2. Warfarin

Dosis=2 mg

Berat rata−rata tablet Warfarin=120 mg


Faktor konversi dosis manusia ( 70 kg ) ke mencit (20 g)=0,0026

Berat rata−rata dewasa Indonesia adalah 60 kg

70
Se h ingga dosis aspirin= x 2 mg=2,33mg
60

0,0026 x 2,33 mg
Dosis Aspirin untuk mencit ( 20 g )=
20 g BB

0,006 mg
¿
20 g BB

¿ 0,0003 mg/ g BB

¿ 0,3 mg/kg BB

20 mL
Larutan stok 20 mL= x 0,006 mg
1 mL

¿ 0,12 mg

0,12 mg
Berat yang ditimbang= x 120 mg
2 mg

¿ 7,2 mg

¿ 0,0072 g

Anda mungkin juga menyukai